Anda di halaman 1dari 7

MODUL SKDI

VARIKOKEL

Oleh:

ZULFAN
NIM : 1107101010232

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
TAHUN 2015

1. Definisi
Varikokel merupakan dilatasi abnormal pleksus pampiniformis, terjadi kirakira 15%
pria. Beberapa pasien mengalami nyeri skrotal dan pembengkakan, dan menjadi suatu
penyebab potensial infertilitas pada pria. Pada varikokel didapatkan kelainan dilatasi vena
dalam spermatic cord dan yang diklasifikasi menjadi klinis dan subklinis. Varikokel klinis
didiagnosis melalui pemeriksaan fisik dan digolongkan berdasarkan temuan fisik. Varikokel
subklinis pada pemeriksaan fisik tidak teraba dan memerlukan pencitraan radiologi untuk
diagnosis. Selain itu, varikokel terbagi atas varikokel ekstratestikuler dan varikokel
intratestikuler. (1,2)
Pada varikokel didapatkan kelainan dilatasi vena dalam spermatic cord dan yang
diklasifikasi menjadi klinis dan subklinis. Varikokel klinis didiagnosis melalui pemeriksaan
fisik dan digolongkan berdasarkan temuan fisik. Varikokel subklinis pada pemeriksaan fisik
tidak teraba dan memerlukan pencitraan radiologi untuk diagnosis. Selain itu, varikokel
terbagi atas varikokel ekstratestikuler dan varikokel intratestikuler. (1,3)
Varikokel lebih sering terdeteksi pada populasi pria infertil dibandingkan dengan pria
fertil. Adanya varikokel telah dikaitkan dengan kegagalan fungsi testis, sering menyebabkan
kelainan pada parameter semen. Varikokel umum dijumpai pada anak remaja dan pria
dewasa, terdiagnosis pada 20-40% pasien infertil. Penegakan diagnosis cepat dan tepat dari
kelainan ini sangat penting karena pada sebagian besar kasus, penatalaksanaan tepat waktu,
biasanya dilakukan percutaneous sclerotherapy, bisa menghasilkan peningkatan kualitas
semen. (2,3)
2.

Epidemiologi
Varikokel terdeteksi lebih sering pada populasi pria infertil dibanding pada pria fertil.

Sebagian besar varikokel terdeteksi setelah pubertas dan prevalensi pada pria dewasa sekitar
11-15%. Pada 80-90% kasus, varikokel hanya terdapat pada sebelah kiri; varikokel bisa
bilateral hingga 20% kasus, meskipun dilatasi sebelah kanan biasanya lebih kecil. Varikokel
unilateral sebelah kanan sangat jarang terjadi. Varikokel pada remaja pria pernah dilaporkan
sekitar 15% kasus. Varikokel biasanya terdiagnosis pada 20-40% pria infertil. Insidensi
varikokel yang teraba diperkirakan 15% pada populasi umum pria dan 21-39% pria subfertil.
Meskipun varikokel pernah dilaporkan pada pria sebelum remaja, varikokel jarang pada
kelompok usia ini. Pada suatu penelitian oleh Oster (1971) pada 1072 anak sekolah laki laki
di Denmark, tidak ditemui adanya varikokel pada 188 anak laki-laki yang berusia antara 6

sampai 9 tahun. Insidensi varikokel pada anak yang lebih tua (usia 10-25 tahun), bervariasi
antara 9% sampai 25,8% dengan suatu rerata 16,3%. (3,4)
Varikokel ekstratestikular merupakan kelainan yang diketahui umum terjadi, dimana
terdapat pada 15% sampai 20% pria. Varikokel intratestikular sebaliknya suatu kelainan yang
jarang dan sesuatu yang relatif baru dimana dilaporkan kurang dari 2% pada pria yang
menjalani sonografi testis dengan gejala. (4)
3.

Etiologi / Faktor Resiko


Terdapat beberapa etiologi varikokel ekstratestikular seperti refluks renospermatik,

insufisiensi katup vena spermatika interna, refluks ileospermatik, neoplastik, atau penyakit
retroperitoneal lainnya, sindrom malposisi visceral, dan pembedahan sebelumnya pada regio
inguinal dan skrotum. Varikokel intratestikular sering dihubungkan dengan atrofi testikular
ipsilateral terkait kelainan parenkhimal, tetapi apakah varikokel intratestikular merupakan
suatu penyebab atau akibat dari atrofi testikular tetap belum jelas. Varikokel intratestikular
biasanya, tetapi tak selalu, terjadi berkaitan dengan suatu varikokel ekstratestikular
ipsilateral.
a.

Pekerjaan,

b.

Keuangan dan masalah legalitas,

c.

Pengaturan kehidupan, dan

d.

Perawatan kesehatan. (5)

4.

Patogenesis / Patofisiologi
Varikokel terjadi akibat peningkatan tekanan vena dan ketidakmampuan vena

spermatika interna. Aliran retrograde vena spermatika interna merupakan mekanisme pada
perkembangan varikokel. Varikokel ekstratestikular merupakan suatu kelainan yang umum
terjadi. Sebagian besar kasus asimptomatik atau berhubungan dengan riwayat orchitis,
infertilitas, pembengkakan skrotum dengan nyeri. Varikokel intratestikular merupakan suatu
keadaan yang jarang, ditandai oleh dilatasi vena intratestikular. Varikokel lebih sering
ditemukan pada sebelah kiri karena beberapa alasan berikut ini: (a) vena testikular kiri lebih
panjang; (b) vena testikular sinistra memasuki vena renal sinistra pada suatu right angle; (c)
arteri testikular sinistra pada beberapa pria melengkung diatas vena renal sinistra, dan
menekan vena renal sinistra; dan (d) distensi colon descendens karena feses dapat
mengkompresi vena testikular sinistra. (5,6)

5.

Gambaran Klinis
Beberapa pasien dengan varikokel dapat mengalami nyeri skrotal dan pembengkakan,

namun yang lebih penting, suatu varikokel dipertimbangkan menjadi suatu penyebab
potensial infertilitas pria. Hubungan varikokel dengan fertilitas menjadi kontroversi, namun
telah dilaporkan peningkatan fertilitas dan kualitas sperma setelah terapi, termasuk terapi
oklusif pada varikokel. Varikokel pada remaja biasanya asimptomatik dan untuk itu diagnosis
khususnya diperoleh saat pemeriksaan fisik rutin. Kadang kadang pasien akan datang karena
adanya massa skrotum atau rasa tak nyaman di skrotum, seperti berat atau rasa nyeri setelah
berdiri sepanjang hari. (6,7)
Varikokel ekstratestikular secara klinis berupa teraba benjolan asimptomatik, dengan
nyeri skrotal atau hanya menyebabkan infertilitas dengan perjalanan subklinis. Secara klinis
varikokel intratestikular kebanyakan hadir dengan gejala seperti varikokel ekstratestikuler,
meskipun sering varikokel intratestikuler tidak berhubungan dengan varikokel
ekstratestikuler ipsilateral. Manifestasi klinis paling umum pada varikokel intratestikular
adalah nyeri testikular (30%) dan pembengkakan (26%). Nyeri testis diperkirakan
berhubungan dengan peregangan tunika albuginea. Manifestasi klinis lain yang telah
dilaporkan mencakup infertilitas (22%) dan epididimorchitis (11%). (7,9)
6.

Penegakan Diagnosis
Diagnosis varikokel ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik,

pemeriksaan radiologi dan analisis semen. Pemeriksaan fisik harus dilakukan dalam posisi
berdiri. Refluks vena dapat dievaluasi dengan cara manuver valsava. Pemeriksaan radiologi
yang dapat digunakan yaitu pemeriksaan ultrasonografi, CT scan, MRI dan angiografi.
Pemeriksaan Utrasonografi merupakan pilihan pertama dalam mendeteksi varikokel.
Pemeriksaan ultrasonografi dan terutama Color Doppler menjadi metode pemeriksaan paling
terpecaya dan berguna dalam mendiagnosis varikokel subklinis. Gambaran varikokel pada
ultrasonografi tampak sebagai stuktur serpiginosa predominan echo free dengan ukuran
diameter lebih dari 2 mm. Pada CT scan dapat menunjukkan gambaran vena vena
serpiginosa berdilatasi menyangat. Pada MRI varikokel tampak sebagai suatu massa dari
dilatasi, serpiginosa pembuluh darah, biasanya berdekatan dengan caput epididimis.
Spermatic canal melebar, dan intrascrotal spermatic cord atau pleksus pampiniformis
prominen. Spermatic cord memiliki intensitas signal heterogen. Spermatic cord memuat
struktur serpiginosa dengan intensitas signal tinggi. Peranan MRI dalam diagnosis varikokel
belum terbukti karena tidak cukupnya jumlah pasien yang telah diperiksa dengan MRI.

Venografi dapat menunjukkan dilatasi vena testikular, dapat menunjukkan aliran retrograde
bahan kontras ke arah skrotum. (8,9)
Sebagian besar varikokel digambarkan sebagai primer atau idiopatik dan diperkirakan
terjadi karena kelainan perkembangan katup dan / atau vena. Varikokel primer jauh lebih
mungkin pada sebelah kiri, dimana setidaknya dijumpai 95%. Sebagian kecil terjadi akibat
tidak langsung dari suatu lesi yang mengkompresi atau mengoklusi vena testikular. Varikokel
sekunder akibat dari peningkatan tekanan pada vena spermatik yang ditimbulkan oleh proses
penyakit seperti hidronefrosis, sirosis, atau tumor abdominal. (9)
Varikokel klinis didefinisikan sebagai pembesaran pleksus pampiniformis yang dapat
diraba, dimana dapat dibagi menjadi derajat 1, 2, 3 menurut klasifikasi Dubin and Amelar.
Varikokel subklinis didefinisikan sebagai refluks melalui vena spermatika interna, tanpa
distensi yang dapat teraba dari pleksus pampiniformis. (7,8)
Dubin and Amelar menemukan suatu sistem penilaian yang berguna untuk varikokel
yang dapat teraba. derajat 1: varikokel dapat diraba hanya pada waktu manuver valsava;
derajat 2: varikokel dapat diraba tanpa manuver valsava; derajat 3: varikokel tampak pada
pemeriksaan sebelum palpasi. Kelainan analisis semen berupa oligozoospermia,
asthenozoospermia dapat disebabkan oleh varikokel. Mac Leod (1965) pertama kali
mengemukakan trias oligospermia, penurunan motilitas sperma, dan peningkatan persentase
sel-sel sperma immatur merupakan karakteristik semen yang khas pada pria infertil dengan
varikokel. Koreksi varikokel sering menghasilkan peningkatan kualitas semen, beberapa
penelitian menghubungkan ukuran dengan efektivitas tatalaksana pembedahan varikokel.
(7,8)
7.

Terapi
Terdapat beberapa pedoman dimana suatu varikokel sebaiknya dikoreksi karena: 1)

pembedahan berpotensi mengubah suatu keadaan patologis; 2) pembedahan meningkatkan


sebagian besar parameter semen; 3) pembedahan memungkinkan meningkatnya fertilitas; 4)
resiko terapi kecil. Suatu varikokel sebaiknya dikoreksi ketika: 1) Varikokel secara klinis
teraba; 2) pasangan dengan infertilitas; 3) istri fertil atau telah dikoreksi infertilitasnya; 4)
paling tidak satu parameter semen abnormal. (8,9)
Keputusan penatalaksanaan sebaiknya terutama berdasarkan pada apakah varikokel
simptomatik atau berhubungan dengan subfertilitas, dan pilihan yaitu antara terapi
pembedahan dan terapi radiologi. Dimana tersedia seorang ahli radiologi terlatih, embolisasi

perkutaneus harus menjadi penatalaksanaan lini pertama, dengan pembedahan dilakukan pada
sebagian kecil pasien yang gagal dengan kateterisasi. (9)
Pada pembedahan terdapat tiga tehnik yang umum dilakukan. Ketiga tehnik tersebut
yaitu ligasi sub-inguinal, ligasi inguinal dan ligasi retroperitoneal. Ligasi varikokel
laparoskopi belum membuktikan superior terhadap operasi pembedahan dan mungkin
berhubungan dengan komplikasi yang serius. Varikokel intratestikular berhasil diterapi
dengan skleroterapi perkutaneus. (7,9)
Barbalies et al membandingkan ketiga tehnik pembedahan dengan embolisasi
perkutaneus pada suatu penelitian prospektif, acak. Terdapat angka rekurensi yang sama
dengan semua keempat tehnik. Sebagai tambahan, terdapat peningkatan signifikan pada
motilitas sperma pada semua kelompok, dengan ligasi inguinal secara garis besar
memperoleh hasil paling baik. Setelah prosedur untuk kembali ke aktivitas normal,
bagaimanapun secara signifikan lebih cepat setelah embolisasi dibandingkan dengan
pembedahan. (5,6)
8.

Komplikasi
Beberapa komplikasi dari varikokel diantaranya kenaikan temperatur testis, jumlah

sperma rendah dan infertilitas pria. Hambatan aliran darah, suatu varikokel dapat membuat
temperatur lokal terlalu tinggi, mempengaruhi pembentukan dan motilitas sperma. (1)
Terdapat bukti yang baik dimana lamanya varikokel menyebabkan efek merugikan
yang progresif pada testis. Chehval dan Porcell (1992) melakukan analisis semen pada 13
pria dengan varikokel dan kemudian mengevaluasi kembali semen pria tersebut 9 sampai 96
bulan kemudian. Hasilnya menunjukkan suatu kemerosotan pada follow up analisis semen
mereka. (3)
Potensi komplikasi dari tatalaksana varikokel jarang terjadi dan komplikasi biasanya
ringan. Semua pendekatan pembedahan varikokel berkaitan dengan suatu resiko kecil seperti
infeksi luka, hidrokel, varikokel berulang dan jarang terjadi yaitu atrofi testis. Potensi
komplikasi dari insisi inguinal karena tatalaksana varikokel mencakup mati rasa skrotal dan
nyeri berkepanjangan. (4,5)

REFERENSI
1.

Gauthier S, Reisberg B, Zaudig M. Mild Cognitive Impairment. The Lancet. 2006; 367:
p. 1260-1270

2.

Petersen RC, Smith GE, Waring, Ivnik RJ, Tangalos EG, Kokmen E. Mild Cognitive
Impairment Clinical Characterization and Outcome. Archives of Neurology Journal.
1999; 56: p. 303-307

3.

Sadock BJ and Sadock VA. Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. EGC. 2010; p. 52-53

4.

Petersen RC. Mild Cognitive Impairment. New England Journal of Medicine. 2011;
364(23): p. 2227-2233

5.

Ritchie K and Touchon J. Mild cognitive impairment : comceptual basis and current
nosological status. The Lancer. 2000; 35: p. 225-228

6.

Santoso TB dan Rohmah ASN. Gangguan Gerak dan Fungsi Kognitif pada Wanita
Lanjut Usia. Jurnal Kesehatan. 2011; 4(1): p.41-57

7.

Muzamil MS, Afriwardi, Martini RD. Hubungan Antara Tingkat Aktivitas Fisik dengan
Fungsi Kognitif pada Usila di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur. Jurnal
Kesehatan Andalas. 2014; 3(2): p. 202-205

8.

Silbernagl S dan Lang F. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi : Gangguan memori
dan Alzheimer. EGC. 2006; p. 346-349

9.

Gorelick PB, Scuteri A, Black SE. Vascular contibutions to Cognitive Impairment and
Dementia : a Statement for Association Helath Care Professionals from American
Stroke. American Heart Associaton. 2011; 42: p. 2672-2713