Anda di halaman 1dari 13

ANALISA PSIKOLOGI SOSIAL DALAM KASUS

PENGEROYOKAN HINGGA TEWAS TERHADAP 2


(DUA) ORANG ANGGOTA POLRES KUNINGAN
Posted by Jurnal Srigunting on Januari 14, 2012
Posted in: klinik kriminal. Tagged: ANALISA PSIKOLOGI, ANARKHIS, BAKAR, GUSTAVE LE
BON, KEKERASAN,KELOMPOK, KUNINGAN, MAIN HAKIM SENDIRI, PEMBUNUHAN
POLISI, PENGEROYOKAN, perkembangan dan pencegahan kejahatan, SMELSER. 5 Komentar

ANALISA PSIKOLOGI SOSIAL DALAM KASUS


PENGEROYOKAN HINGGA TEWAS
TERHADAP
2 (DUA) ORANG ANGGOTA POLRES KUNINGAN
I. URAIAN KASUS
Pada hari senin tanggal 26 agustus 2002 terjadi pengeroyokan terhadap 2 (dua) anggota Polres
Kuningan berpangkat Bripda, masing-masing Asep Irawan (24) dan Mayan Radiana (24) tewas
dikeroyok massa. Salah seorang diantaranya sempat dibakar hingga hampir gosong. Peristiwa
tragis ini terjadi di Desa Sindangpanji, Kecamatan Cikijing, Majalengka Jawa Barat.
Almarhum Bripda Asep adalah penduduk Desa Pangkalan, Kecamatan Ciawigebang, Kuningan,
yang bertugas di Satuan Lalu Lintas. Sedangkan Bripda Mayan adalah anggota Provost,
penduduk Padalarang Kab. Bandung, sekujur tubuh Bripda Mayan, nyaris gosong.
Kedua petugas yang tengah berpakaian preman itu, dikeroyok setelah sebelumnya dituding
hendak merampok sepeda motor oleh tersangka pencuri sepeda motor yang tengah dikejar
kedua petugas naas tersebut.
Pengeroyokan yang berlangsung di wilayah hukum Polres Majalengka antara pukul 16.00
17.00 WIB. Insiden itu bermula ketika kedua polisi tersebut tengah mengejar sepeda motor yang
dikendarai PLG, warga Desa Sindangpanji. PLG diduga sebagai pencuri sepeda motor. PLG
dikejar dari wilayah Kuningan sampai Sindangpanji, Majalengka.
Di luar perkiraan ke dua polisi naas tersebut, lanjutnya, ternyata PLG lebih dulu tiba di
Sindangpanji. Dia langsung menyebar informasi bahwa dirinya sedang dikejar-kejar pencuri
sepeda motor. Sehingga begitu melihat kedua petugas berpakaian preman yang berboncengan
sepeda motor itu tiba di wilayah perbatasan desanya, puluhan hingga ratusan masa langsung
mencegatnya. Dan tanpa banyak basa basi lagi, mereka langsung mengeroyok keduanya
hingga babak belur dan jatuh tak berdaya.
Ratusan masa yang sudah terprovokasi itu, bahkan terus beramai-ramai memukulinya dengan
batu, potogan kayu dan bambu hingga kedua petugas itu tewas. Selain itu, aksi pembantaian
masa juga diwarnai pembakaran terhadap korban Bripda Mayan. Aksi pembantaian sadis
tersebut baru berakhir setelah pihak kepolisian dari Polres Majalengka dan Polres Kuningan
menerjunkan puluhan petugasnya ke lokasi kejadian. Dari lokasi itu, polisi langsung menyeret

150 warga Desa Sindangpanji ke Mapolres Majalengka untuk dimintai keteranganya .


Polres Majalengka sudah menangkap dan mengamankan 150 orang penduduk Desa
Sindangpanji. Delapan orang diantaranya termasuk PLG yang diduga sebagai pelaku utama
pembantaian itu, tertangkap.
Kedua jenazah sempat divisum di rumah sakit Majalengka dan Selasa dinihari disemayamkan di
Mapolres Kuningan. Selasa pagi sekira pukul 09.00 WIB kemarin, kedua jenazah telah
diantarkan pihak Polres Kuningan untuk dikebumikan di alamatnya masing-masing. Pengantaran
jenazah kedua polisi itu, didahului upacara pelepasan jenazah dipimpin Kapolres Kuningan
AKBP Drs. Adios Salova.
Sejumlah warga Desa Sindangpanji yang kebetulan tengah berada di lokasi bekas kejadian,
umumnya mengaku hanya mengetahui kejadiannya saja. Namun mereka menyatakan tidak
mengetahui persis pemicu maupun asal-usul masa pengeroyoknya.
Ada yang menduga aksi pengeroyokan itu dipicu pula oleh kekesalan warga karena di jalan raya
provinsi antara Cipasung Kuningan hingga Sindangpanji Cikijing, akhir-akhir ini sering terjadi aksi
perampasan sepeda motor. Menurut informasi yang ter dengar, pada bulan-bulan tersebut, di
jalur antara Cipasung-Sindangpanji sudah beberapa kali terjadi aksi perampasan sepeda motor.
Bahkan diantaranya pernah terjadi di siang bolong, kata seorang warga yang enggan
menyebutkan namanya.
Sementara itu, Kapolda Jabar Irjen Pol Drs. Sudirman Ail, SH, MBA di Mapolda menyesalkan
aksi main hakim sendiri oleh masyarakat itu. Menurut Kapolda, cara-cara penghakiman seperti
itu seharusnya jangan dibiarkan terjadi karena tidak akan menyelesaikan masalah. Menjelaskan
soal awal mula kejadian itu, Kapolda menduga karena dua aparatnya kurang betul dalam
menerapkan taktik dan teknik penangkapan terhadap pihak yang dicurigainya. Akibatnya,
mereka diteriaki oleh massa.
II. ANALISA KASUS DAN PEMBAHASAN PSIKOLOGI
Dari kasus yang telah kami paparkan diatas, akan kami analisa dengan menggunakan
beberapa teori Psikologi sebagai acuan dalam membahas dan menjawab permasalahan yang
terjadi tersebut.
Adapun teori-teori yang kami gunakan untuk membahas permasalah yang telah kami sampaikan
diatas adalah sebagai berikut :
a. Teori AGRESI (Myers-1996): Perbuatan agresif adalah perilaku fisik atau lisan yang
disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain
Secara sepintas setiap perilaku yang merugikan atau menimbulkan korban pada pihak orang lain
dapat disebut sebagai perilaku agresif.
Termasuk juga yang dapat kita lihat pada permasalahan diatas, dimana perilaku
penduduk/massa dari Desa Sindang Panji, Kecamatan Cikijing kabupaten Majalengka yang
yang melakukan pengeroyokan hingga menewaskan 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan
Jawa Barat tersebut diatas.

Demikian pula pada awal mula kejadian yaitu pada saat pengeroyokan yang dilakukan dimana
PLG yang langsung menyebar informasi bahwa dirinya sedang dikejar-kejar pencuri sepeda
motor. Sehingga begitu melihat kedua petugas berpakaian preman yang berboncengan sepeda
motor itu tiba di wilayah perbatasan desanya, puluhan hingga ratusan masa langsung
mencegatnya. Dan tanpa banyak basa basi lagi, mereka langsung mengeroyok keduanya
hingga babak belur dan jatuh tak berdaya , termasuk juga dalam perbuatan agresi.
Secara umum, Myers (1996) membagi agresi dalam 2 (dua) jenis yaitu :
- Agresi rasa benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression)
Jenis agresi yang pertama (Hostile Aggression) ini merupakan ungkapan kemarahan dan
ditandai dengan emosi yang tinggi, perilaku agresi ini adalah tujuan dari agresi itu sendiri. Jadi,
agresi sebagai agresi itu sendiri. Sering disebut juga agresi jenis panas.
Akibat dari jenis agresi ini tidak dipikirkan oleh pelaku dan pelaku memang tidak peduli jika
perbuatannya lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat yang didapat, dan
- Agresi sebagai sarana untuk mencapai tujuan (Instumental Aggression)
Perbuatan yang dilakukan oleh penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten
Majalengka tersebut dapat dikategorikan kedalam jenis agresi yang pertama yaitu Agresi Rasa
Benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression) yang semata-mata dilakukan untuk melampiaskan
emosi terhadap 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut karena mendapat informasi dar
PLG yang menurutnya sedang dikejar-kejar oleh 2 (dua) orang pencuri kendaraan bermotor,
Penduduk Desa Sindang Panji tidak memikirkan akibat dari perbuatan penganiayaan yang
dilakukan secara beramai-ramai tersebut (agresi-nya) terhadap 2 (dua) orang anggota Polres
Kuningan yang menggunakan pakaian preman tersebut, dan para penduduk Desa Sindang Panji
tersebut memang tidak peduli jika perbuatannya (penganiayaan secara beramai-ramai) akan
menimbulkan kerugian yang lebih banyak daripada manfaat yang didapat oleh mereka, dalam
hal ini tuntutan dilakukannya terhadap pelaku.
b. Teori Lingkungan yaitu Teori Frustrasi-Agresi Baru (Berkowitz, 1978-1989 dan Berkowitz & Le
Page, 1967).
Jika suatu hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan tidak dapat dimengerti alasannya maka
akan timbullah Frustasi, yang akan membuat seseorang menjadi agresif .
Pada contoh kasus diatas, timbulnya rasa frustasi dari penduduk Desa Sindang Panji
kec.Cikijing kab. Majalengka Jawa Barat karena sudah terlalu seringnya terjadi pencurian
(pencurian kendaraan bermotor, pencurian hewan dan pencurian dengan kekerasan,
pembobolan rumah kosong) pada bulan bulan terakhir sebelum kejadian pengeroyokan diatas
Sehingga karena ketidakmengertian tanpa alasan dan penjelasan yang tepat pada mereka itulah
yang dapat memicu perilaku agresif dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing,
Kabupaten Majalengka Jawa Barat.

Berkowitz mengatakan bahwa frustrasi menimbulkan kemarahan dan emosi marah, hal inilah
yang dapat memicu agresi. Marah itu sendiri baru timbul jika sumber frustasi dinilai mempunyai
alternatif perilaku lain dari pada perilaku yang menimbulkan frustrasi itu.
Agresi beremosi benci tidak terjadi begitu saja (tiba-tiba), kemarahan memerlukan pancingan
(cue) tertentu untuk dapat menjadi perilaku agresi yang nyata (Berkowitz & Le Page, 1967).
Sama halnya seperti yang diungkapkan oleh Myers pada teorinya tentang Agresi rasa benci atau
Agresi Emosi (Hostile Aggression), maka hal itupun berlaku pula pada teori Berkowitz dan Le
Page, bahwa frustasi yang menimbulkan kemarahan dan emosi dari para penduduk Desa
Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dapat menimbulkan/memicu
agresi. Apalagi jika ditambah dengan informasi dar PLG yang menurutnya sedang dikejar-kejar
oleh 2 (dua) orang pencuri kendaraan bermotor
Jadi agresi beremosi rasa benci dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing,
Kabupaten Majalengka Jawa Barat tidak dilakukan tiba-tiba saja, tetapi ada pancingan tertentu
PLG yang menginformasikan bahwa dirinya dikejar kejar pelaku pencurian kendaraan bermotor
secara nyata melakukan perbuatan/perilaku agresinya.
c. Teori Pengaruh Kelompok (Staub-1996).
Pengaruh Kelompok terhadap Perilaku Agresif, antara lain akan dapat menurunkan hambatan
dari kendali moral.
Selain karena faktor ikut terpengaruh, juga karena ada perancuan tanggung jawab (tidak merasa
ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai), ada desakan kelompok dan identitas
kelompok (kalau tidak ikut akan dianggap bukan anggota kelompok) dan ada deindividuasi
(identitas sebagai individu tidak akan dikenal).
Bila dilihat dari sisi penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa
Barat yang melakukan penganiayaan secara beramai-ramai terhadap para korban yaitu Bripda
Asep Irawan (24) dan Bripda Mayan Radiana (24) yang menyebabkan hingga tewasnya 2 (dua)
orang anggota Polres Kuningan tersebut, maka dapat kita katakan bahwa kelompok mempunyai
pengaruh terhadap perilaku agresif.
Ketika salah satu orang saja dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten
Majalengka Jawa Barat melakukan pengeroyokan terhadap , Bripda Asep Irawan (24) dan
Bripda Mayan Radiana (24) maka penduduk lainnya (massa) yang tadinya ragu-ragu/tidak
mempunyai niat untuk melakukan penganiayaan akan terpengaruh untuk melakukan perbuatan
yang sama seperti yang dilakukan para pelaku pencurian dengan kekerasan ( yang pada bulan
bulan terakhir sering terjadi di majalengka terhadap para korbannya ) bahkan mungkin dapat
lebih kejam lagi dari perbuatan awal yang disaksikannya.

Disamping faktor ikut terpengaruh, penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten
Majalengka Jawa Barat juga menganggap tidak ada yang bertanggung jawab/kerancuan
tanggung jawab dalam penganiayaan secara beramai-ramai/pengeroyokan tersebut (tidak
merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai). Juga karena adanya desakan
dari para penduduk yang lain (kelompok) untuk ikut melakukan perbuatan itu, dan juga karena
adanya identitas kelompok sehingga jika tidak melakukan penganiayaan secara-beramai-ramai
akan dianggap bukan sebagai bagian dari penduduk . Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing,
Kabupaten Majalengka Jawa Barat
Selain itu, adanya de-individuasi yang menyebabkan pemikiran dari masyarakat Desa Sindang
Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat beranggapan bahwa identitas individunya
tidak akan dikenal oleh orang lain karena perbuatan yang mereka lakukan secara beramairamai.
De-individuasi adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan
pengertian evaluatif terhadap diri sendiri (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang
memungkinkan anonimitas dan mengalihkan (menjauhkan) perhatian dari individu (Festinger,
Pepitone & Newcomb 1952).
d. Teori Keterpaduan Kelompok / Group Cohesiveness (Gustave Le Bon-1975).
Menurut Gustave Le Bon, psikologi massa berbeda sekali dengan psikologi individual.
Massa (crowd) mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan kehendak sendiri yang tidak
sama dengan yang ada pada pribadi. Massa mempunyai jiwa yang tidak sama dengan jiwa
pribadi.
Jadi Le Bon berpendapat bahwa jiwa kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat
membedakan antara kenyataan dan khayalan, serta seolah berada dibawah pengaruh hipnotis.
Jika teori ini dikaitkan dengan permasalahan diatas, maka ;
Pada saat sebelum terjadinya pengeroyokan yang dilakukan oleh massa dari Desa Sindang
Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat, masyarakat tersebut belum dipengaruhi
oleh Psikologi massa, mereka dalam jiwa pribadinya sebagai individual dengan tetap
menjalankan aktifitas sehari-hari mereka, namun dengan adanya informasi dari PLG bahwa
adanya pelaku pencurian kendaraan bermotor yang dianggap telah mengganggu tatanan
keamanan dan ketertiban di , Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa
Barat terlebih dengan PLG (yang menurut dirinya adalah calon korban kejahatan) adalah warga
Sindang Panji, maka perbuatan tersebut memberikan aksi dari warga Desa Lubuk Ruso yang
melakukan perbuatan secara massal yang irasional, implusif, agresi, dengan tidak dapat
membedakan antara kenyataan dan khayalan, hal ini ditunjukkan dengan perbuatan secara
massal mengeroyok 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut dan kemudian secara

beramai-ramai meluapkan rasa kebencian itu dengan melakukan penganiayaan, sehingga


mengakibatkan korban meninggal dunia, perbuatan itu bagaikan dibawah pengaruh hipnotis.
e. Teori Dinamika Kelompok yaitu Theory of Collective Behavior (NJ. Smelser-1963)
Menurut Smelser, dalam perilaku massa ada tahapan-tahapan persyaratan (determinan) yang
secara bertahap harus dipenuhi untuk dapat terjadinya perilaku massa. Secara logis kelima
prasyarat itu berurutan. Artinya, pertama kali diperlukan adanya determinan pertama terlebih
dahulu, kemudian determinan kedua menambah nilai (value added) dari determinan pertama,
determinan ketiga menambah nilai determinan pertama dan kedua, dan seterusnya sehingga
pada akhirnya terjadi kumulasi nilai pada determinan kelima sehingga meletus aksi itu.
Determinan itu berturut-turut adalah sebagai berikut :
1. Situasi sosial (Sosial condusivenness).
2. Kejengkelan atau tekanan sosial ( Structural strain).
3. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) terhadap
suatu sasaran tertentu, yang berkaitan erat dengan faktor pencetus (precipitating factor).
4. Mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action).
5. Kontrol sosial (Social control).
Jika teori ini dikaitkan dengan permasalahan diatas, maka dapat
dicermati sebagai berikut ;
1, Dengan adanya sistem kemasyarakatan yang ada di Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing,
Kabupaten Majalengka Jawa Barat dan adanya saling komunikasi antar warga yang begitu erat
dan kekeluargaan, memberikan suatu ikatan kelompok yang kuat, dimana apabila ada salah
satu warga yang mengalami keadaan yang dirugikan oleh orang lain diluar Desa Sindang Panji,
Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat, yang kemudian mekanisme dan sistem
penyelesaian sengketa tidak dapat terakomodasi maka situasi tersebut memberikan peluang
yang kondusif untuk terjadinya kerusuhan massa (Social Condusiveness). Social Condusiveness
ini merupakan syarat Determinan pertama dalam teori ini.
2. Pada syarat Determinan kedua ini menambah nilai (Value added) pada Determinan pertama,
hal ini ditunjukkan oleh warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa
Barat dengan secara bersama-sama (massal) warga Desa dengan segala rasa kebencian dan
frustasi melakukan tindakan agresi terhadap dengan melakukan penganiayaan secara membabi
buta dan kejam, terhadap Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana (yang disangka
adalah pencuri kendaraan bermotor) sehingga menyebabkan meninggalnya kedua orang

tersebut, dengan tidak mempedulikan sama sekali apapun akibatnya. Hal ini merupakan luapan
kejengkelan dan atau tekanan sosial (Structural strain).
3. Begitu juga pada syarat Determinan Ketiga, memberikan dukungan terhadap determinan
pertama dan determinan kedua, sehingga mewujudkan berkembangnya prasangka kebencian
yang meluas (Generalized hostile belief) yang terbentuk pada warga Desa Sindang Panji,
Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat terhadap para pelaku pencurian, dalam kasus
tersebut dapat kita lihat dengan adanya perubahan situasi yang berkembang melalui prasangka
kebencian warga terhadap Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana yang disangka adlah
kawanan pelaku pencurian sehingga menjadikan faktor pencetus (Precipitating factor),
menjadikan peristiwa itu mengawali dari tindakan warga untuk melakukan penganiayaan secara
massal dengan tidak manusiawi.
4. Pada syarat Determinan keempat ini juga memberikan nilai tambah terhadap Determinan
kesatu, kedua dan ketiga, sehingga terwujudnya determinan keempat ini berupa bentuk
mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action ), Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing,
Kabupaten Majalengka Jawa Barat siap menghadapi masalah yang sewaktu-waktu akan timbul
dengan bentuk pengaktualisasian aksi massa.
5. Akhirnya terbentuknya syarat Determinan kelima dimana tentunya juga determinan kelima ini
menambah nilai terhadap determinan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Determinan kelima
merupakan lawan dari determinan kesatu sampai dengan keempat. Jika determinan kelima ini
kuat, maka kejadian kasus tersebut diatas, tidak akan terjadi, determinan kelima ini adalah
Kontrol sosial (Social control). Dalam hal ini sejauh mana aparat keamanan yang ada/bersiaga
dari tingkat bawahan sampai dengan tingkat atas, dapat melakukan pengendalian situasi di atau
paling tidak menghambat faktor-faktor terhadap pemenuhan determinan-determinan
sebelumnya, sehingga mata rantai determinan sebelumnya dapat putus dari hubungannya.
Semakin kuat Determinan Kontrol sosial ini diwilayah Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing,
Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang masyarakatnya cukup dikenal keras, maka semakin
kecil peluang meletusnya kerusuhan atau penganiayaan massa itu.
Dengan terpenuhinya kelima syarat determinan secara berurutan dan tiap-tiap determinan
menambah nilai determinan sebelumnya secara berurutan, maka Theory of Collective Behavior
oleh N.J. Smelser secara analisa terpenuhi,
III. KESIMPULAN
Dari apa yang sudah kami paparkan diatas, maka kami dapat menarik beberapa kesimpulan
terhadap kasus telah yang terjadi di Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka

Jawa Barat yang mengakibatkan 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yaitu Bripda Asep
Irawan dan Bripda Mayan Radiana meninggal dunia ialah merupakan suatu sebab dan akibat
dari beberapa persoalan/kekecewaan masyarakat Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten
Majalengka Jawa Barat terhadap korban yang disangka adalah pelaku pencurian sehingga
terjadi luapan emosi (yang menyebabkan agresivitas massa) setelah adanya beberapa faktor
pemicu, antara lain :
1. kekesalan Warga karena sering terjadinya pencurian (curat, curas, curanmor)
2. Salah seorang warganya yaitu JPG menginformasikan bahwa dirinya menjadi calon korban
pencurian kendaraan bermotor
Teori-teori Psikologi yang dapat menjelaskan permasalahan seperti yang kami kemukakan pada
analisa kasus diatas, antara lain :
1. Berlakunya Teori AGRESI (Myers) pada saat terjadinya pengeroyokan yang dilakukan karena
ada salah seorang warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat
yaitu PLG menginformasikan bahwa dirinya menjadi calon korban pencurian kendaraan
bermotor dan warga pun melakukan apa yang disebut perilaku agresi.
Perbuatan yang dilakukan oleh penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten
Majalengka Jawa Barat dapat dikategorikan kedalam jenis agresi yang pertama yaitu Agresi
Rasa Benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression) yang semata-mata dilakukan untuk
melampiaskan emosi mereka terhadap2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yaitu Bripda Asep
Irawan dan Bripda Mayan Radiana yang disangka adalah kawanan pencuri kendararaan
bermotor tersebut tidak peduli jika perbuatannya (penganiayaan secara beramai-ramai) akan
menimbulkan kerugian yang lebih banyak daripada manfaat yang didapat oleh mereka.
2. Berlakunya Teori Lingkungan yaitu Teori Frustrasi-Agresi Baru (Berkowitz dan Berkowitz & Le
Page), dengan timbulnya rasa frustasi dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing,
Kabupaten Majalengka Jawa Barat disebabkan karena sering terjadinya pencurian di desanya
Agresi beremosi rasa benci dari para penduduk tidak dilakukan tiba-tiba saja, tetapi ada
pancingan tertentu yaitu informasi adnya pelaku pencurian yang disiarkan oleh PLG
3. Berlakunya Teori Pengaruh Kelompok (Staub) yang dapat terlihat dari penduduk Desa
Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang melakukan penganiayaan
secara beramai-ramai terhadap para korban, maka dapat kita katakan bahwa kelompok
mempunyai pengaruh terhadap perilaku agresif.
Semakin besar jumlah gerombolan pelakunya, maka semakin kejam juga proses pengeroyokan
dan penganiayaannya (Mullen, 1986)
Mereka menganggap tidak ada yang bertanggung jawab/kerancuan tanggung jawab (karena

dikerjakan beramai-ramai). Juga karena adanya desakan dari yang lain (kelompok) untuk ikut
melakukan perbuatan itu, dan juga karena adanya identitas kelompok sehingga jika tidak
melakukan akan dianggap bukan sebagai bagian dari mereka.
Selain itu, adanya de-individuasi yang menyebabkan pemikiran mereka beranggapan bahwa
identitas individunya tidak akan dikenal oleh orang lain karena perbuatan yang mereka lakukan
secara beramai-ramai.
4. Berlakunya Teori Keterpaduan Kelompok/Group Cohesiveness (Gustave Le Bon) yang
menyebutkan bahwa psikologi massa berbeda sekali dengan psikologi individual.
Le Bon juga berpendapat bahwa jiwa kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat
membedakan antara kenyataan dan khayalan, serta seolah berada dibawah pengaruh hipnotis.
5. Berlakunya Teori Dinamika Kelompok yaitu Theory of Collective Behavior (NJ. Smelser) yang
menyebutkan bahwa dalam perilaku massa ada tahapan-tahapan persyaratan (determinan)
yang secara bertahap harus dipenuhi untuk terjadinya perilaku massa dan ke-5 (lima) prasyarat
itu harus berurutan.
Determinan itu berturut-turut adalah sebagai berikut :
a. Situasi sosial (Sosial condusivennes).
b. Kejengkelan atau tekanan sosial ( Structural strain).
c. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) terhadap
suatu sasaran tertentu, yang berkaitan erat dengan faktor pencetus (precipitating factor).
d, Mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action).
e. Kontrol sosial (Social control).
Dengan timbulnya kelima syarat determinan secara berurutan dan tiap-tiap determinan
menambah nilai determinan sebelumnya, maka Theory of Collective Behavior oleh N.J. Smelser
akan dapat terpenuhi, sehingga akhirnya akan dapat menyebabkan gerakan massa/perilaku
massa yang bila tidak dapat terkendali bisa menimbulkan kerugian pada semua pihak.
Daftar bacaan dan referensi :
1. Sarwono, Sarlito Wirawan (1997) : Individu & Teori-Teori Psikologi Sosial.
2. Sarwono, Sarlito Wirawan (1999) : Psikologi Kelompok & Psikologi Terapan.
3. Sunarto, Kamanto (2000) : Pengantar Sosiologi (Edisi Kedua), sebagai bahan bacaan.

TEMPO.CO, Makassar - Kasus pengeroyokan siswa sekolah dasar hingga tewas pada 31 Maret
2014 berakhir dengan perdamaian. Baik keluarga korban, Muhammad Syukur, maupun keluarga
ketiga pelaku sepakat menyelesaikan kasus itu secara kekeluargaan, Rabu, 14 Mei 2014.
"Kami tidak keberatan. Kami tidak akan menuntut dan akan mencabut laporan," kata
Nurdaniyah, ibu Syukur, didampingi suaminya, Sabran, saat kedua belah pihak dipertemukan
dalam gelar perkara di Polrestabes Makassar, Sulawesi Selatan.
Permohonan maaf dari keluarga ketiga tersangka dalam pertemuan yang penuh haru itu diterima
dengan baik oleh kedua orang tua Syukur. "Saya mohon maaf dan saya harap masalah ini tidak
lagi berlarut-larut. Kami tulus minta maaf. Kami tidak pernah mengharap masalah seperti ini,"
ujar Haryani, ibu salah satu tersangka.
Pelaksana Tugas Kepala Sub-Unit PPA Satuan Reskrim Polrestabes Makassar Inspektur Satu
Afriyanti Firman menjelaskan, dalam pengusutan kasus itu, pihaknya menerapkan Undangundang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan anak.
Kepolisian pun turut melibatkan beberapa pihak untuk menyelesaikan kasus ini. "Kami terus
berkoordinasi dengan pihak pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan instansi terkait," ujarnya.
Afriyanti menerangkan, kasus berakhir dengan putusan diversi, atau diselesaikan tanpa melalui
jalur persidangan. Ini adalah kasus pertama yang diselesaikan dengan jalur seperti ini, kendati
penerapan undang-undang ini baru resmi diberlakukan 1 Agustus mendatang. "Ini adalah
putusan diversi. Kita mencoba memakai jalur restorative justice," ucapnya.
Gelar perkara ini, kata dia, adalah bentuk mediasi yang dilakukan bagi kedua pihak yang
beperkara. Pemprov, pemkot, dinas sosial, dan lembaga perlindungan anak turut dihadirkan
dalam gelar perkara itu.
Kepala Bidang Advokasi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indrawati
Baso Rahim mengatakan pihaknya bakal terus melakukan pendampingan kepada kedua pihak.
Terutama bagi ketiga tersangka pengeroyokan.
"Kita wajib mendampingi ketiga anak ini. Ini harus dilakukan untuk menjaga psikologis anak.
Kami akan fasilitasi," ujarnya.

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA -- Seorang anggota TNI menjadi


korban pengeroyokan setelah marah-marah dan menantang warga berkelahi.
Kejadian ini berlangsung pada Kamis (15/5/2014) dini hari sekitar pukul 00.30.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan,
peristiwa ini terjadi di depan rumah seorang pemandu lagu karaoke atau
ladies companion (LC), di Kampung Bambu Rt 13 RW 13, Kelurahan Kalibaru,
Jakarta Utara.
"Kopda Eko Waluyo, anggota Kesatuan Kopaskha Pondok Dayung TNI AL
pada Rabu (14/5), sekitar pukul 23.00 bersama temannya bernama Kibung
datang ke rumah Casey, seorang pemandu lagu," ujar Rikwanto.
Kemudian, lantaran Casey tidak ada di rumahnya, Eko pun marah-marah.
Empat orang lain datang dan mencoba meminta Eko tenang. Alih-alih tenang,
Eko semakin kesal. Ia malah menantang warga di sekitar lokasi hingga
dikeroyok.
"Akibatnya Eko mengalami luka-luka dan Kibung atau Waluyo memar-memar.
Sementara tiga orang lainnya melarikan diri," tuturnya.
Eko mengalami luka delapan jahitan di Kepala dan luka bacokan di tangan kiri
lima jahitan, dan pergelangan tiga jahitan. Sementara Kibung yang berprofesi
sebagai sopir Mikrolet mengalami luka pada wajah sebelah kanan dan pelipis
kiri memar dan bengkak.
Belum diketahui alasan Eko marah-marah mencari Casey yang bekerja di
Cafe Koljem tersebut. Polisi sudah memeriksa Ahmad Rifai, yang menjadi
papi atau bos Casey, dan Casey sebagai saksi. "Petugas sudah
mengamankan barang bukti berupa satu buah pedang samurai yang dibawa
Eko," jelas Rikwanto.

Polisi juga masih mencari dan memeriksa saksi-saksi. Selain itu, karena
korban adalah anggota TNI, Polisi juga melakukan koordinasi dengan POM
AL dan Komandan Paska untuk antisipasi berkembangnya situasi. Korban
saat ini dirawat ke RS Koja.

TERASJAKARTA - Seorang Anggota TNI Angkatan Laut dari Kesatuan


Kopashka Pondok Dayung Kopda Eko Waluyo, menjadi bulan-bulanan
massa di Kampung Bambu RT 13 RW 13 Kelurahan Kalibaru, Kecamatan
Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/5) pukul 00.30.
Akibat pengeroyokan itu, Eko mengalami delapan jahitan akibat luka di
kepala, lima jahitan di tangan kiri akibat luka bacokan, serta tiga jahitan di
pergelangan.
Selain itu, seorang sopir mikrolet bernama Kibung (46), rekan Eko, juga
mengalami luka pada wajah sebelah kanan dan pelipis kiri memar serta
bengkak.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menjelaskan
kronologis bermula pada Rabu (14/5) sekitar pukul 23.00, Eko beserta
rekannya, Kibung datang ke rumah seorang perempuan bernama Casey
(20). Diketahui Casey merupakan pemandu tamu di Cafe Koljem, Jakarat
Utara.
Rikwanto menambahkan, karena saat didatangi Casey tidak ada, Eko
marah-marah bersama dengan empat orang lainnya menantang warga
sekitar Tempat Kejadian Perkara. Eko pun dikeroyok warga.
"Akibatnya, saudara Eko mengalami luka-luka dan Waluyo memar-memar.
Sementara tiga orang lainnya melarikan diri," papar Rikwanto, Kamis
(15/5).
Rikwanto menambahkan, polisi sudah menyita sebilah samurai yang
dibawa Eko. Polisi sudah mendatangi dan melakukan olah TKP, mencari

serta memeriksa saksi-saksi. "Melakukan koordinasi dengan Pomal dan


Komandan Paska untuk antisipasi berkembangnya situasi," katanya.
Polisi masih mencari pelaku dan melakukan penyidikan.