Anda di halaman 1dari 13

Pendahuluan

Pemberantasan korupsi sangat penting bagi keberlangsungan suatu negara


mengingat korupsi bisa menimbulkan permasalahan yang serius bagi
negara karena membahayakan stabilitas dan keamanan masyarakat;
korupsi bisa merusak nilai nilai demokrasi dan moralitas; dan
membahayakan pembangunan sosial, ekonomi dan politik. Oleh karenanya,
korupsi menjadi issu penting bagi setiap pemimpin negara negara maju
dalam setiap agenda politiknya, agar mendapat dukungan baik dari rakyat
maupun partai politik.
Supremasi hukum dan pemerintahan yang bersih, dalam suatu negara
hukum, merupakan salah satu kunci berhasil tidaknya suatu negara dalam
melaksanakan tugas pemerintahan umum dan pembangunan di berbagai
bidang. Kesibukan negara kita untuk menciptakan good governance mulai
nyata kelihatan, dengan ditandai bersemangatnya lembaga lembaga
negara seperti PPATK dan KPK dalam memerangi korupsi. Penegakan hukum
kasus korupsi perlahan juga menunjukkan kemajuan secara kwalitas,
dengan dibongkarnya kasus-kasus korupsi besar yang melibatkan tokoh elit
politik maupun melibatkan korporasi. Yang terkini adalah kasus korupsi
Wisma Atlit.
Kasus Wima Atlit menjadi hangat dibicarakan karena melibatkan
Nazaruddin, yang merupakan bendahara umum Partai Demokrat, sehingga
memunculkan dugaan, bahwa korupsi tersebut berkaitan dengan
pemenangan pemilu legislative dan pemilu presiden 2009. Dalam
melakukan korupsi yang merugikan keuanagan negara tersebut, tentunya
Nazarudin tidak bekerja sendiri. Menurut penulis ada suatu piranti atau tool
of crime yang digunakan Nazarudin untuk mencuri uang negara, yaitu:
Pertama, ada proyek yang digunakan untuk pengucuran keuangan negara.
Kedua, ada organisasi yang digunakan untuk managemen korupsi. Ketiga,
adanya dukungan birokrasi yang berupa aturan atau kebijakan, dan
Keempat, ada korporasi yang digunakan untuk pengerjaan proyek tersebut.
Sehingga korupsi yang dilakukan Nazaruddin terlihat terstruktur dan
termasuk dalam kategori grand korupsi. Namun yang perlu digaris bawahi,
hingga saat ini penegak hukum belum menindak korporasi jahat yang
terlibat dalam pidana itu, sehingga dikawatirkan bisa merusak kewibawaan
negara, sebab negara dianggap tidak berdaya melawan korporasi.

Dalam kajian teoritis, Koruptor bukan saja harus dihukum tetapi juga harus
dibongkar modus operandi dan sindikasinya sehingga dari situ dapat
ditemukan formula yang tepat untuk mencegah korupsi, serta penegakan
hukum yang telah dilakukan nantinya akan lebih adil dan memberi manfaat
bagi rakyat. Sepintas, kasus korupsi Wisma Atlit tersebut dapat
dikategorikan sebagai kejahatan korporasi karena dilakukan korporasi.
Clinard dalam Koesparmono mengatakan, bahwa kejahatan korporasi adalah
setiap perbuatan yang dilakukan oleh korporasi yang dapat dihukum oleh
negara, tanpa mengindahkan apakah dihukum berdasarkan hukum
administratif, hukum perdata, atau hukum pidana. Selain memiliki perluasan
sanksi, kejahatan korporasi juga unik karena dilakukan oleh orang kaya,
terpelajar atau corporate executive yang oleh Koesparmono dikatakan
melampaui hukum pidana. Oleh karena itu kiranya kajian kejahatan
korporasi dalam kasus korupsi Wisma Atlit menjadi bahasan yang menarik.
Kronologis Kasus Wisma Atlit
Korupsi Wisma Atlit terbongkar setelah dilakukan penyadapan oleh tim
penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan diketahui kronologis
kasus sebagai berikut: Nazaruddin selaku anggota DPR RI telah
mengupayakan agar PT Duta Graha Indah Tbk menjadi pemenang yang
mendapatkan proyek pembangunan wisma atlet dengan mendapat jatah
uang sebesar Rp4,34 miliar dengan nilai kontrak senilai Rp
191.672.000.000. jatah Nazarudin diberikan dalam bentuk empat lembar
cek dari PT DGI yang diberikan oleh Idris. Idris yang mempunyai tugas
mencari pekerjaan (proyek) untuk PT DGI, bersama-sama dengan Dudung
Purwadi selaku Direktur Utama PT DGI. Nazaruddin sendiri lalu bertemu
dengan Sesmenpora Wafid Muharam dengan ditemani oleh anak buahnya
Rosa. Dalam pertemuan yang terjadi sekitar Agustus 2010 di sebuah rumah
makan di belakang Hotel Century Senayan itu, Nazaruddin meminta Wafid
untuk dapat mengikutsertakan PT DGI dalam proyek yang ada di
Kemenpora. Singkat cerita, setelah mengawal PT DGI Tbk untuk dapat ikut
serta dalam proyek pembangunan Wisma Atlet, Rosa dan Idris lalu sepakat
bertemu beberapa kali lagi untuk membahas rencana pemberian success
fee kepada pihak-pihak yang terkait dengan pekerjaan pembangunan
Wisma Atlet. Pada Desember 2010, PT DGI Tbk pun akhirnya diumumkan
sebagai pemenang lelang oleh panitia pengadaan proyek pembangunan

Wisma Atlet. Kemudian dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Mindo


Rosalina Manulang, eks direktur marketing Permai Group, perusahaan
Nazaruddin mengatakan bahwa Angelina Shondak dan I Wayan Koster juga
menerima uang suap senilai Rp 5 miliar karena juga termasuk pihak-pihak
terkait dalam pemenangan tender.
Korupsi Wisma Atlit Dalam Pandangan Konsep Kejahatan Korporasi
Korupsi Wisma Atilt merupakan kejahatan white-colar crime dimana pelaku
pelakunya merupakan orang cerdik pandai dan bukan orang miskin. Istilah
white-colar crime pertama kali dikemukakan oleh Sutherland, yang merujuk
pada pelaku kelahatan dengan tipe pelaku berasal dari orang orang sosial
ekonomi tinggi yang melakukan pelanggaran pelanggaran terhadap
hukum. Pengertian kreteria pelaku kejahatan, dalam kasus korupsi Wisma
Atilt nampaknya sama dengan pengertian pelaku kejahatan white-colar
crime dari Sutherland yaitu dilakukan oleh kelompok eksekutif.
Konsep kejahatan korporasi atau white-colar crime berbeda dengan
kejahatan konvensional. Dalam konsep kejahatan konvensional yang
dikatakan sebagai penjahat adalah orang yang melakukan kejahatan secara
langsung, sedangkan pelaku kejahatan dalam kejahatan korporasi adalah
korporasi yang melakukan pelanggaran. Walaupun sebetulnya pelakunya
juga orang orang dalam korporasi. Oleh karena itu, tidak gampang
menentukan pelaku dalam kasus tersebut, mengingat korupsi tersebut
dilakukan oleh banyak pihak, terstruktur dan melibatkan birokrasi. Selain itu
hukum pidana kita juga terbiasa hanya menjerat pelaku langsung dimana
biasanya orang-orang di belakang yang mengatur terjadinya kejahatan sulit
tersentuh oleh hukum.
Korporasi yang melakukan kejahatan korupsi melakukan praktek-praktek
illegal sebagai sarana untuk melakukan korupsi, misalnya dengan
melakukan penyuapan kepada pajabat negara atau pemegang kebijakan
lelang, Mark up nilai proyek, pengurangan kwalitas produk dan sebagainya.
Kejahatan kejahatan tersebut sulit diketahui oleh masyarakat karena
memang kejahatan yang terselubung (invincible crime) dan dibungkus
dengan aturan aturan yang bisa dicari alasan pembenarnya. Kejahatan
tersebut baru bisa dikekahui bila ada orang dalam atau seseorang yang
membocorkannya kepada public. Kemudian penegak hukum melakukan
penyelidikan dengan melibatkan auditor keuangan, sehingga kejahtan

tersebut menjadi terang.


Menurut Koesparmono, suatu kejahatan diangap sebagai kejahatan
korporasi jika mengandung unsur unsur sebagi berikut: (1), Tindak pidana
dilakukan oleh orang orang yang bertindak untuk dan atas nama korporasi,
berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain dalam lingkup
usaha korposari tersebut baik sendiri sendiri atau bersama sama. (2),
Perbuatan tersebut termasuk dalam lingkup usahanya sebagaimana
ditentukan dalam anggaran dasar atau ketentuan lain yang berlaku bagi
korporasi yang bersangkutan. (3), Pertanggungjawaban pidana dikenakan
terhadap korporasi dan atau pengurusnya. Pengurus korporasi dibatasi
sepanjang pengurus mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur
organisasi korporasi.
Lebih lanjut Koesparmono juga mengatakan bahwa, berdasarkan rumusan
unsur pertama, yang disebut kejahatan korporasi tidak terbatas pada
kejahatan yang dilakukan oleh pengurus korporasi tetapi juga yang
dilakukan oleh orang orang yang bertindak untuk kepentingan korporasi,
misalnya staf atau tenaga kontrak yang memiliki hubungan kerja dalam
korporasi. Oleh karena itu jika kita memfonis bahwa kejahatan korupsi
Wisma Atlit sebgai kejahatan korporasi, maka unsur unsur kejahatan atau
pidana kejahatan tersebut harus masuk dalam kreteria unsur unsur
kejahatan korporasi. Kemudian berkaitan dengan unsur ketiga, maka selain
pertanggung jawaban perorangan, tanggung jawab hukum kejahatan
korupsi Wisma Atlit juga bisa dibebankan kepada korporasi yang terlibat.
Namun poin ini belum dilakukan oleh penyidik KPK atau penegak hukum
lainnya.
Berdasarkan sumber yang telah diperoleh, kasus korupsi Wiama Atlit
dilakukan secara terstruktur dalam wadah perusahaan dan melibatkan
penyelenggara negara. Kasus penyuapan yang terjadi merupakan upaya
memuluskan agar tender jatuh kepada perusaan tertentu. Penulis meyakini
semua rumusan unsur dalam definisi kejahatan korporasi singkron dengan
kejahatan korupsi Wisma Atlit dengan pertimbangan sebagai berikut:
Pertama Tindak pidana dilakukan oleh orang orang yang bertindak untuk
dan atas nama korporasi, berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan
hubungan lain dalam lingkup usaha korposari tersebut baik sendiri sendiri
atau bersama sama. Pemikirannya adalah, bahwa proyek tersebut

merupakan proyek besar yang memakan biaya senilai Rp 191.672.000.000


yang tidak mungkin struktur tertinggi dalam korporasi tidak mengetahui jika
PT DGI bagi-bagi Suap Wisma Atlet. Bukti tersebut sebetulnya sudah cukup
kuat untuk membuat dugaan bahwa, apa yang dilakukan PT DGI
dikategorikan sebagai kejahatan korporasi karena bagi-bagi uang suap
kepada beberapa pihak diketahui oleh petinggi-petinggi PT tersebut, seperti
Direktur Utama Dudung Purwadi. Bukan hanya itu, fakta lain yang
mendukung tuduhan itu adalah cek yang diberikan PT DGI ke pada pihak
pihak terkait pemenangan tender termasuk yang diberikan kepada Wafid
Muharram ditandatangani bagian keuangan PT DGI.
Kemudian untuk unsur Kedua yaitu: bahwa perbuatan tersebut termasuk
dalam lingkup usahanya sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar
atau ketentuan lain yang berlaku bagi korporasi yang bersangkutan. Dimana
Analoginya adalah proyek tersebut adalah proyek negara, yang tidak
mungkin diberikan kepada perusaan yang tidak legal. Perusahaan yang di
menangkan dalam tender oleh Kementrian Pemuda dan olahraga pasti
mempunyai spesifikasi sesuai dengan kebutuhan proyek, termasuk yang
menyangkut masalah kelengkapan administrasi perusahaan.
Olehkarena itu, rumusan unsur Ketiga yaitu pertanggungjawaban pidana
dikenakan terhadap korporasi dan atau pengurusnya dapat diterapkan
dalam kasus ini. Mengacu pada asumsi demikian, penulis memiliki
pemikiran bahwa seluruh pihak terkait kasus tersebut, dapat dikenakan
pidana berdasarkan rumusan delik pada KUHP atau dengan Undang-Undang
KPK sesuai dengan perannya masing masing. Kemudian untuk korporasi
yang terlibat dapat dijatuhi sanksi sesuai aturan dalam kejahatan korporasi
misalnya digugat perdata ataupun penutupan opersional perusahaan.
Sehingga, seharusnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak memeriksa
para saksi dan tersangka kasus suap wisma atlet dalam kapasitas sebagai
individu, tetapi sebagai pengurus korporasi agar korporasi juga bisa dijatuhi
sanksi karena bentuk penjatuhan sanksi kepada korporasi merupakan
bagian kontrol pemerintah kepada korporasi.
Dalam konteks negara, seharusnya keseriusan negara dalam memberantas
korupsi juga harus dipertanyakan, dimana kejahatan tersebut banyak
melibatkan penyelenggara negara serta kebijakan kebijakan atau regulasi
yang dikeluarkan oleh negara kerap membuat celah terjadinya korupsi. Hal

ini mengisyaratkan bahwa negeri ini belum mampu membuat regulasi dan
sistem yang kebal terhadap korupsi. Romany mengatakan, seharusnya
negara dengan kekuasaan politiknya, bisa menjamin terselenggaranya
kebijakan dan kinerja yang efektif bersih, bukan sebaliknya, melalui pejabat
publiknya dan jajarannya bertindak melawan hukum dan tidak berpihak
pada kepentingan rakyat. Kendati demikian, negara bukan termasuk
korporasi yang tidak bisa dimintai pertanggung jawaban layaknya korporasi,
namun pejabat pejabatnya yang terkait kejahatan bisa dipidana.
Penutup
Kejahatan korupsi merupakan extra-ordinary crime, berdasarkan efek yang
ditimbulkannya. Sehingga pemberantasan korupsi tidak hanya terbatas
kepada menghukum koruptor saja, tetapi juga harus dibongkar modus
operandi dan sindikasinya sehingga dari situ dapat ditemukan formula yang
tepat untuk mencegah korupsi, serta menindak korporasi yang terlibat.
Sehingga supremasi hukum dan pemerintahan yang bersih, dalam suatu
negara hukum yang merupakan salah satu kunci berhasil tidaknya suatu
negara dapat dicapai.
Kemudian, berdasarkan fakta yang ada dan dikaitkan dengan konsep
kejahatan korporasi, maka penulis berpendapat bahwa, kejahatan korupsi
Wisma Atlit masuk dalam kategori kejahatan korporasi. Oleh karena itu
penanganannya tidak cukup kepada individu individu yang melakukan
pidana melainkan perusahan yang terlibat dalam praktek tersebut harus
dikenai sanksi baik sanksi berkaitan dengan administrasi maupun
keperdataan agar kewibawaan negara dapat terjaga.
baca lebih lanjut teori terkait kejahatan korporasi dibawah ini:
law as a tool of crime ( hukum sebagai alat kejahatan) sebagai sebuah
fenomena penegakkan hukum terhadap bentuk kejahatan white collar
crime.
Kejahatan diartikan sebagai suatu perbuataan yang oleh masyarakat
dipandang sebagai kegiatan yang tercela, dan terhadap pelakunya
dikenakan hukuman (pidana). Sedangkan korporasi adalah suatu badan
hukum yang diciptakan oleh hukum itu sendiri dan mempunyai hak dan
kewajiban. Jadi, kejahatan korporasi adalah kejahatan yang dilakukan oleh
badan hukum yang dapat dikenakan sanksi.
Menurut Marshaal B. Clinard kejahatan korporasi adalah merupakan

kejahatan kerah putih namun ia tampil dalam bentuk yang lebih spesifik. Ia
lebih mendekati kedalam bentuk kejahatan terorganisir dalam konteks
hubungan yang lebih kompleks dan mendalam antara seorang pimpinan
eksekutif, manager dalam suatu tangan. Ia juga dapat berbentuk korporasi
yang merupakan perusahaan keluarga, namun semuanya masih dalam
rangkain bentuk kejahatan kerah putih.
Kejahatan korporasi yang lazimnya berbentuk dalam kejahatan kerah putih
(white-collar crime), biasanya dilakukan oleh suatu perusahaan atau badan
hukum yang bergerak dalam bidang bisnis dengan berbagai tindakan yang
melanggar hukum pidana. Berdasarkan pengalaman dari beberapa negara
maju dapat dikemukakan bahwa identifikasi kejahatan-kejahatan korporasi
dapat mencakup tindak pidana seperti pelanggaran undang-undang anti
monopoli, penipuan melalui komputer, pembayaran pajak dan cukai,
pelanggaran ketentuan harga, produksi barang yang membahayakan
kesehatan, korupsi, penyuapan, pelanggaran administrasi, perburuhan, dan
pencemaran lingkungan hidup. Kejahatan korporasi tidak hanya dilakukan
oleh satu korporasi saja, tetapi dapat dilakukan oelh dua atau lebih
korporasi secara bersama-sama.
Karena sebuah korporasi memiliki demikian kuat kekuatan dan posisi selaku
pemilik modal yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak maka
korporasi dapat juga memberikan pengaruh kepada legislatif , eksekutif
bahkan yuidikatif untuk merumuskan, merubah, mengganti bahkan
membatalkan sebuah regulasi demi memuluskan kepentingan sebuah
korporasi dalam mencariu keuntungan, bentuk intervensi korporasi dengan
memanfaatkan hukum dan celah celah yang dimiliki hukum adalah dengan :
Tidak bekerjanya hukum dengan efektif untuk menjerat kejahatan korporasi,
selain karena keberadaan suatu korporasi dianggap penting dalam
menunjang pertumbuhan atau stabilitas perekonomian nasional, sering kali
juga disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam melihat kejahatan yang
dilakukan oleh korporasi. Kejahatan yang dilakukan oleh korporasi lebih
dianggap merupakan kesalahan yang hanya bersifat administratif daripada
suatu kejahatan yang serius. Sebagian besar masyarakat belum dapat
memandang kejahatan korporasi sebagai kejahatan yang nyata walaupun
akibat dari kejahatan korporasi lebih merugikan dan membahayakan
kehidupan masyarakat dibandingkan dengan kejahatan jalanan.

Aparat penegak hukum seringkali gagal dalam mengambil tindakan tegas


terhadap berbagai kejahatan yang dilakukan oleh korporasi. Hal ini sangat
mengkhawatirkan, karena dampak kejahatan yang ditimbulkan oleh
korporasi sangat besar. Korbannya bisa berjumlah puluhan, ratusan, bahkan
ribuan orang.
Pada pengadilan atas tindakan kriminalirtas korporasi, keputusan mengenai
hukuman dan sanksi, selalu menjadi hal terakhir untuk diputuskan. Setiap
tuntuan yang terjadi atas kejahatan korporasi selalu dipersulit sehingga
sering tidak dapat direalisasikan. Dengan demikian dapat terlihat bahwa
hukum pun masih tidak dapat diandalkan untuk menindak lanjuti masalah
kejahatan korporasi. Suatu tindakan kejahatan, terjadi karena korporasi
tersebut mendapatkan keuntungan dari tindakan kejahatan yang
dilakukannya.
Korporasi, sebagai suatu badan hukum, memiliki kekuasaan yang besar
dalam menjalankan aktivitasnya sehingga sering melakukan aktivitas yang
bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, bahkan selalu
merugikan berbagai pihak. Dikatakan besar, oleh karena kompleksnya
komponen-komponen yang bekerja dalam satu kesatuan korporasi, sehingga
metode pendekatan yang dilakukan terhadap korporasi tidak bisa lagi
dengan menggunakan metode pendekatan tradisional yang selama ini
berlaku dan dikenal dengan metode pendekatan terhadap kejahatan
konvensional, melainkan harus disesuaikan dengan kecanggihan dari
korporasi itu sendiri, demikian pula dengan masalah yang berkenaan
dengan konstruksi yuridisnya juga harus bergeser dari asas-asas yang
tradisional kearah yang lebih dapat menampung bagi kepentingan
masyarakat luas, yaitu dalam rangka memberikan perlindungan terhadap
masyarakat.

Kejahatan Korporasi Proyek Pusat dan


Pengembangan Prestasi Olahraga
Nasional Hambalang di Bogor, Jawa
Barat.

Kejahatan Kerah Putih atau Kejahatan Korporasi adalah kejahatan yang


pelakunya melibatkan kalangan kelas menengah ke atas, baik dalam strata sosial
ekonomi maupun birokrasi, semakin marak terjadi. Jika dicermati, jenis kejahatan yang
dikenal sebagai kejahatan kerah putih (white collar crime) ini dampaknya jauh lebih
besar ketimbang jenis kejahatan konvensional. Dampak kerugiannya bisa menjangkau
skala yang sangat luas, satu negara bahkan seluruh dunia bisa terkena dampaknya.
Umumnya, kejahatan ini menimbulkan kerugian puluhan miliar hingga triliunan rupiah,
dan bisa berdampak sistemik. Bentuk-bentuk kejahatan kerah putih biasanya mencakup
pencucian uang, pembobolan bank, rekayasa laporan keuangan, bidang perpajakan,
transaksi elektronik, dan korupsi anggaran publik. Selain di bidang ekonomi, kejahatan
kerah putih juga dapat berupa kejahatan terhadap lingkungan. Apa yang dilakukan oleh
penjahat kerah putih selalu sejalan dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.
Oleh karenanya, kejahatan kerah putih umumnya baru terbongkar setelah menimbulkan
banyak korban. Sebab, tak mudah mengendusnya, karena sifatnya yang melebur dalam
sistem, sehingga korban dan publik tak bisa melihatnya secara kasat mata.
Terkait dengan maraknya kejahatan kerah putih salah satu contoh yang masih
hangat untuk dibicarakan yaitu mengenai Proyek Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Prestasi Olahraga Nasional Hambalang di Bogor, Jawa Barat. Dalam laporan
investigatif yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan terhadap proyek tersebut, BPK
menyimpulkan ada indikasi penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan dan
penyalahgunaan kewenangan yang menimbulkan kerugian keuangan negara Rp 243,66
miliar. Temuan investigatif ini mengonfirmasi sebuah kejahatan korupsi yang dilakukan
terstruktur dan sistematis. Penyangkalan yang selama ini dilakukan pihak yang dituding
bertanggung jawab terbantah. Puluhan nama dalam laporan itu diduga ikut bertanggung
jawab atas kasus korupsi proyek Hambalang pejabat setingkat menteri, bupati, birokrasi,
hingga pihak swasta atau perusahaan. Dilacak ke belakang, dugaan korupsi dalam
proyek Hambalang adalah efek domino dari pengungkapan korupsi dalam proyek
Wisma Atlet. Kedua kasus ini setidaknya memiliki kemiripan karena berada dalam
ranah korupsi di sektor pengadaan infrastruktur.
Dalam struktur korupsi pengadaan, kelompok bisnis atau korporasi menjadi alat
bagi elite politik untuk menjarah uang rakyat. Motif ekonomi dengan memanfaatkan
ruang politik tampaknya menjadi strategi jitu para koruptor. Hambalang menjadi contoh
konkret pola korupsi yang sangat rapi. Indikasi suap dalam memuluskan pengalokasian
anggaran untuk proyek ini begitu terbuka lebar. Aliran uang yang diduga kepada
beberapa pejabat dan politikus adalah bentuk dari upaya memperkaya diri atau
kelompok secara tidak sah.
Dampak negatif yang ditimbulkan akibat kejahatan ini bagi perekonomian
Indonesia setidaknya berkisar pada dua hal: aspek kerugian keuangan negara dan
buruknya infrastruktur publik yang dihasilkan. Kedua dampak ini harus diterjemahkan
sebagai kerugian bagi publik karena uang yang dikorupsi adalah hasil pajak publik.
Sebagai kejahatan yang struktural, korupsi di pengadaan sesungguhnya bukanlah

kejahatan yang berdiri sendiri. Tahapan korupsi dilakukan sejak di penganggaran,


lelang, hingga pelaksanaan kegiatan pengadaan. Walaupun audit investigasi BPK hanya
dilakukan terhadap proyek yang telah berjalan, pola dan tahapan korupsinya
mengindikasikan bahwa proyek ini bermasalah sejak di proses penganggaran. Jamak
diketahui bahwa setiap proyek infrastruktur yang dibiayai negara tak pernah luput dari
praktik suap menyuap. Munculnya istilah fee atau uang lelah di kalangan DPR
memperkuat dugaan: praktik ini terjadi.
Korupsi proyek Hambalang adalah korupsi berjemaah: semua pihak yang
disebutkan di dalam audit menjalankan perannya masing-masing. Dimulai dari
penyiapan lahan untuk pembangunan, termasuk perizinan, persetujuan teknis pengadaan
(lelang dan kontrak tahun jamak), pencairan anggaran, hingga penetapan pemenang
lelang yang dilakukan di luar prosedur baku. Korupsi secara bersama-sama dalam
proyek Hambalang menunjukkan tipe korupsi yang terorganisasi. Kelompok penguasa
berkolaborasi dengan kepentingan bisnis melakukan kejahatan. Modus kejahatan
korupsi semacam ini hanyalah modifikasi dan replikasi atas kejahatan korupsi pada
Orde Baru. Dahulu penguasa dan kroninya menggunakan pengaruhnya menjalankan
bisnis dan memperoleh keuntungan: semuanya dikendalikan oleh pusat kekuasaan pada
saat itu.
Di era pasca-Reformasi, kejahatan tetap dilakukan penguasa dan kelompok
bisnisnya. Dengan pola yang agak berbeda, mereka berupaya menyamarkan hubungan
antara penguasa dan kelompok bisnis dengan berbagai cara. Namun, ini akan tetap
terbukti sebagai sebuah persekongkolan manakala bukti-bukti dalam proses hukum
menerjemahkan bahwa kelompok penguasa dan bisnis saling berkolaborasi. Ini tentu
saja tidak memungkiri keberadaan kelompok bisnis yang masih memegang prinsip
bisnis yang bersih. Oleh karena itu, pentingnya peranan perusahaan yang tertib
dilestarikan dan kontribusi kelompok bisnis semacam ini sangat penting tidak hanya
demi pengungkapan kasus tetapi juga mendorong menciptakan proses bisnis yang
bersih. Menertibkan kasus korupsi Proyek Hambalang ini memang tidak semudah yang
kita bayangkan . banyak sekali pihak yang terkait bahkan disebutkan bahwa tindakan
korupsi yang dilakukan secara berjamaah.
Analisis:
Menurut saya, proses penanganan atau penuntasannya yaitu dengan
mengidentifikasi semua pihak yang bertanggung jawab dan menyiapkan bagian khusus
dari KPK sebagai tim ivestigasi terhadap personal yang terlibat tanpa sepengetahuan
dari pihak-pihak yang terkait. Disamping itu, hukum akan tindak korupsi harus benarbenar ditegakkan dan diberi sangsi yang berat, hal ini sangat kurang diterapkan dinegara
ini. Agar masalah korupsi yang terjadi di Indonesia cepat ditindak lanjuti.

Tindakan pencegahan pada kejahatan korporasi


Pandangan masyarakat pada bentuk kejahatan korporasi sangat berbeda dengan
pandangan mereka pada kejahatan jalanan. Hampir pada setiap kejadian, efek dari
kejahatan korporasi selalu lebih merugikan, memakan biaya lebih besar, berdampak
lebih meluas, dan lebih melemahkan daripada bentuk kejahatan jalanan.
Keinginan korporasi untuk terus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya
mengakibatkan terjadinya tindakan pelanggaran hukum/kejahatan korporasi.
Korporasi, sebagai suatu badan hukum, memiliki kekuasaan yang besar dalam
menjalankan aktivitasnya sehingga sering melakukan aktivitas yang bertentangan
dengan ketentuan hukum yang berlaku, bahkan selalu merugikan berbagai pihak.
Motivasi kejahatan yang dilakukan korporasi bukan bertujuan untuk keuntungan
pribadi, melainkan pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keuntungan
organisasional. Tidak menutup kemungkinan motif tersebut ditopang pula oleh norma
operasional (internal) dan sub-kultur organisasional.
Untuk melakukan upaya pencegahan kejahatan korporasi yang dilakukan oleh badan
hukum ini perlu ditinjau dari berbagai sudut pandang. Pada dasarnya pencegahan
merupakan metode yang dialkukan agar tidak terjadi adanya suatu kejahatan atau
menihilkan adanya suatu perbuatan. Sehingga berbagai aspek yang dapat
memunculkan kejahatan/kejadian tersebut harus ditekan semaksimal mungkin
sehingga berpengaruh pada tiadanya suatu kejahatan.
Pertama, pelaku kejahatan korporasi yang dilakukan oleh badan hukum, karena dalam
pembahasan makalah ini dibatasi pada pelaku badan hukum. Agar pelaku yakni badan
hukum tidak melakukan pelanggaran seperti disebutkan diatas yakni pelanggaran
administratif, pelanggaran tata ruang, pelanggaran dibidang keuangan, pelanggaran
dibidang ketenaga kerjaan, pelanggaran dibidang manufacturing dan praktek-praktek
tidak jujur. Untuk menekanya diperlukan pengawasan yang ketat oleh pemerintah dan
aparat hukum.
Pemerintah dan aparat hukum harus memberikan pengawasan yang ketat kepada
badan hukum dan mengambil tindakan yang tegas bila sampai terjadi kejahatan
korporasi. Pengawasan/control yang ketat akan mempersempit ruang gerak dari suatu
badan hukum untuk melakukan pelanggaran. Tindakan yang tegas juga merupakan
suatu bentuk pencegahan yakni pencegahan bagi badan hukum yang lain yang akan
melakukan pelanggaran. Kejahatan korporasi selalu memberikan dampak yang luas
bagi masyarakat dan lingkungan, bahkan dapat mengacaukan perekonomian negara.
Jika hukuman dan sanksi yang dijatuhkan kepada korporasi tidak memiliki
keberartian, perilaku buruk korporasi dengan melakukan aktivitas yang illegal tidak

akan berubah. Korporasi diharapkan tidak lagi melarikan diri dari tanggung jawabnya,
dalam hal ini tanggung jawab pidana.
Kedua, korban kejahatan korporasi, seperti yang dijelaskan bahwa korban kejahatan
korporasi oleh Hagen yang dikutip Prof Koesparmono adalah individu, pekerja dan
korporasi yang lain. Ketiga komponen ini harus berusaha untuk mengindari dari
perilaku korporasi yang melakukan kejahatannnya. Artinya individu dalam
mengahadapi korporasi harus selalu memahami dan mewaspadai kemungkinan yang
timbul dari kegiatanya adalah bentuk kejahatan contohnya produk palsu, penggelapan
pajak, dan lainya. Para pekerja dapat menjadi korban korporasi misalnya pembayaran
gaji yang tidak sesuai, kontrak yang setengah hati dan pelanggaran yang berhubungan
dengan kesehatan pekerja, keamanan pekerja. Sehingga hal ini harus dihindarkan
untuk mencegah terjadinya kejahatan korporasi.
Ketiga, Lingkungan korporasi, yakni peran serta dan kepedulian masyarakat sekitar
lokasi badan hukum melakukan aktivitasnya. Masyarakat yang dimaksud bukan hanya
diluar lingkungan korporasi tapi masyarakat yang berada di dalam korporasi. Menurut
Gobert dan Punch, hal paling utama untuk mencegah terjadinya kejahatan korporasi
adalah dengan adanya pengendalian diri dan tanggung jawab sosial dan moral
terhadap lingkungan dan masyarakat di mana tanggung jawab tersebut berasal dari
korporasi itu sendiri maupun individu-individu di dalamnya. Kadang, kontrol yang
dilakukan pengambil kebijakan tingkat korporasi tidak cukup untuk menghentikan
terjadinya skandal, apalagi hanya lewat kontrol prosedural teknis. Pada gilirannya,
skandal keuangan lebih menyangkut perkara politik tingkat tinggi yang melibatkan
pemain-pemain kelas kakap yang sulit ditunjuk batang hidungnya. Semuanya gelap
karena tiap indikasi ditepis dengan kemampuan berkelit yang luar biasa. Selain
dipengaruhi faktor makro kejahatan korporasi juga amat ditentukan oleh aneka
perangkat mikro yang diciptakan dalam kontrol manajerial (managerial control).
Terutama, korporasi akan dibebani oleh lebih banyak tanggung jawab moral dan sosial
untuk memperhatikan keadaan dan keamanan lingkungan kerjanya, termasuk
penduduk, budaya, dan lingkungan hidup.
Keempat, kerjasama dari perbagai pihak yakni pemerintah, aparat penegak hukum dan
masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap tindak kejahatan korporasi.
Bentuk kerjasama yang dimaksud adalah saling mendukung adanya program yang
diselenggarakan seperti pemerintah membuat suatu peraturan perundangan harus
adanya sosialisasi, sehingga sosialalisasi itu sendiri memerlukan adanya kerjasama
perbagai pihak termasuk kepolisian sebagai aparat penegak hukum dan adanaya
bantuan dari elemen masyarakat yang lain.

Untuk mencegah terjadinya kejahatan korporasi, perlu diadakan aturan dan


penindakan yang tegas dan kontrol yang ketat. Namun penerapan kontrol ketat saja
mungkin juga tidak efektif karena pemerintah dan aparat penegak hukum harus terus
memonitoring setiap aktivitas korporasi, sementara korporasi berusaha untuk
mengambil celah agar aktivitas kejahatannya tidak terpantau oleh mereka. Dengan
demikian, cara yang paling baik untuk melawan kejahatan korporasi adalah dengan
mencegahnya sebelum terjadi yang dapat dilakukan dengan lebih banyak tanggung
jawab moral dan sosial untuk memperhatikan keadaan dan keamanan lingkungan
kerjanya, termasuk penduduk, budaya, dan lingkungan hidup.