Anda di halaman 1dari 34

KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK

INDONESIA
Jl. Raden Patah I No. 1 Kebayoran Baru Jakarta Selatan

KONSEP DISAIN PROTOTIPE


RANCANG BANGUN RUSUNAWA

DAFTAR ISI

I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Maksud dan Tujuan
1.3. Sasaran
1.4. Ruang Lingkup
1.5. Definisi dan Pengertian
II. Kriteria Penentuan Lokasi dan Lahan
2.1. Penentuan Lokasi
2.2. Kondisi Lahan
III. Site Plan, Blok Plan dan Bentuk Bangunan
3.1. Site Plan dan Blok Plan
3.2. Bentuk Bangunan
IV. Arsitektur Bangunan
4.1. Satuan Rumah Susun
4.2. Bagian Bersama dan Benda Bersama
4.3. Standar Satuan Unit Hunian
4.4. Koridor/Selasar
4.5. Tangga
4.6. Jendela
4.7. Selabasah
4.8. Dapur
4.9. Ram
4.10. Bahan Bangunan
4.11. Ruang Dalam
V. Struktur Bangunan
5.1. Struktur Bawah
5.2. Struktur Atas
5.3. Selubung Bangunan
5.4. Detailing
5.5. Metode Konstruksi
VI. Mekanikal, Elektrikal dan Plumbing
6.1. Sistem Pemadam Kebakaran
6.2. Sistem Listrik
6.3. Penangkal Petir
6.4. Sistem Plumbing

VII.

Prasarana, Sarana dan Utilitas


7.1. Jalan
7.2. Penerangan Jalan Umum
7.3. Pengelolaan Persampahan
7.4. Ruang Terbuka Hijau/Taman/Landscape
7.5. Parkir

7.6.

Perhitungan Kebutuhan Luas Parkir

Lampiran-lampiran

I. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Rumah selain sebagai tempat tinggal atau hunian yang merupakan


sarana pembinaan keluarga yang mendukung peri kehidupan dan
penghidupan, juga berfungsi sebagai pusat pendidikan keluarga,
persemaiaman nilai luhur budaya bangsa, dan penyiapan generasi
muda, serta merupakan hak dasar manusia sebagaimana diamanatkan
oleh Pasal 28h UUD 1945 dan Pasal 40 UU No. 39 Tahun 1999 Tentang
Hak Asasi Manusia.
Keterbatasan lahan dan semakin melambungnya harga tanah di
perkotaan, mendorong pilihan pembangunan perumahan ke arah
vertikal dalam bentuk rumah susun sederhana (rusuna/flat) bagi
masyarakat perkotaan, baik dalam bentuk rumah susun sederhana
milik (rusunami) maupun rumah susun sederhana sewa (rusunawa).
Dalam rangka meningkatkan kualitas rusunawa, diperlukan usaha
peningkatan efisiensi dan efektifitas pembangunan rusunawa melalui
Penyusunan
Konsep
Disain
Prototipe
Rancang
Bangun
Rusunawa.
Dengan Konsep Disain Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini,
diharapkan para penyelenggara rusunawa dapat melaksanakan
tugasnya secara profesional sehingga diperoleh suatu tipologi
rusunawa yang sesuai dengan mutu, biaya dan peruntukannya.
1.2.

Maksud dan Tujuan


a. Maksud
Konsep Disain Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini
dimaksudkan sebagai acuan bagi perencana dalam merencanakan
disain rusunawa.
b. Tujuan
Konsep Disain Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini bertujuan
untuk memberikan panduan kepada Penyelenggara Rumah Susun
Sederhana agar tidak menyimpang dari peraturan dan ketentuan
yang berlaku, sehingga diperoleh suatu hasil tepat mutu, tepat
waktu, tepat biaya dan sesuai dengan sasaran.

1.3.

Sasaran
Sasaran Konsep Disain Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini
adalah:
a. Tersosialisasikannya disain prototipe rusunawa dalam pelaksanaan
kegiatan penyelenggaraan rusunawa.
b. Terciptanya kesepahaman antara para stakeholder tentang disain
prototipe rusunawa.

1.4.

Ruang Lingkup
Ruang Lingkup Konsep Disain Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini
meliputi:
a. Kriteria Penentuan Lokasi dan Lahan
b. Site Plan, Blok Plan dan Bentuk Bangunan

c.
d.
e.
f.

Arsitektur Bangunan
Struktur Bangunan
Mekanikal, Elektrikal dan Plumbing
Prasarana, Sarana dan Utilitas

Selain ruang lingkup yang telah disebutkan di atas, Konsep Disain


Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini, adalah untuk bangunan
dengan ketinggian tidak lebih dari 5 (lima) lantai.

1.5. Definisi dan Pengertian

Beberapa definisi dan pengertian yang sering dipergunakan dalam


Konsep Disain Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini, antara lain:
a. Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi semua
orang termasuk penyandang cacat dan lansia guna mewujudkan
kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan
penghidupan.
b. Bahan Bangunan adalah semua olahan yang mempunyai bentuk
beraturan dan ukuran tertentu yang digunakan sebagai bahan
untuk membuat komponen atau elemen bangunan.
c. Bangunan Rumah Susun Sederhana adalah rumah susun yang
berfungsi sebagai tempat hunian bagi masyarakat perpenghasilan
rendah (MBR).
d. Bangunan Bersama merupakan bagian rumah susun sederhana
yang dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama
dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun
sederhana dan dapat berupa ruang untuk umum, struktur dan
komponen kelengkapan rumah susun sederhana, prasarana
lingkungan, dan fasilitas lingkungan yang menyatu dengan
bangunan rumah susun sederhana.
e. Benda Bersama merupakan benda yang terletak diatas tanah
bersama di luar bangunan rumah susun sederhana yang dimiliki
secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama dalam kesatuan
fungsi dengan rumah susun sederhana dan dapat berupa prasarana
lingkungan dan fasilitas lingkungan.
f. Blok

Plan adalah skala kecil rencana bangunan yang


menunjukkan lokasi dan kondisi lingkungannya. Definisi blok
plan dari sisi gambar arsitektur juga dapar diartikan sebagai
tampak dari atas sebuah gubahan masa bangunan beserta
atap dan lingkungan sekitarnya.

g. Fasiltas Lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi


untuk melayani kebutuhan penghuni rumah susun sederhana yang

berupa bangunan perbelanjaan, lapangan terbuka, prasarana


pendidikan, kesehatan, peribadatan, dan pelayanan umum.
h. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka persentase
perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan rumah
susun sederhana dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah
perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana
tata bangunan dan lingkungan.
i. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah angka persentase
perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan rumah susun
sederhana dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang
dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan
lingkungan.
j. Kaveling Tanah Matang adalah sebidang tanah yang telah
dipersiapkan sesuai dengan persyaratan pembakuan dalam
penggunaan, penguasaan, pemilikan tanah, dan rencana tata ruang
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian untuk
membangun rumah susun sederhana.
k. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka persentase
perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan
rumah
susun
sederhana
yang
diperuntukkan
bagi
pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah
perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana
tata bangunan dan lingkungan.
l. Koridor yaitu ruang penghubung antara dua sisi satuan rumah
susun sederhana.
m. Lingkunan Rumah Susun Sederhana adalah sebidang tanah
dengan batas-batas yang jelas, diatasnya bangunan rumah susun
sederhana termasuk prasarana dan fasilitasnya, yang secara
keseluruhan merupakan kesatuan tempat permukiman.
n. Persyaratan Teknis adalah persyaratan mengenai struktur
bangunan, keamanan, keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan
lain-lain yang berhubungan dengan rancang bangun, termasuk
kelengkapan prasarana dan fasilitas lingkungan, yang diatur
dengan peraturan perundang-undangan serta disesuaikan dengan
kebutuhan dan perkembangan.
o. Perencanaan Teknis adalah proses membuat gambar teknis
rumah susun sederhana dan kelengkapannya yang mengikuti
tahapan prarencana, pengembangan rencana dan penyusunan
gambar kerja yang terdiri atas: rencana arsitektur, rencana
struktur, rencana mekanikal/elektrikal, rencana tata ruang luar,
rencana tata ruang-dalam/interior serta rencana spesifikasi teknis,

rencana anggaran biaya, dan perhitungan teknis pendukung sesuai


pedoman dan standar teknis yang berlaku.
p. Prasarana Lingkungan Rumah Susun Sederhana adalah
kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan
lingkungan rumah susun sederhana dapat berfungsi sebagaimana
mestinya, yang antara lain berupa jaringan jalan dan utilitas umum.
q. Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
r. Ram adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan
tertentu, sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat
menggunakan tangga.
s. Ruang Untuk Umum pada Bagian Bersama dapat berupa ruang
yang dapat berfunggi sebagai ruang tunggu, ruang tamu, koridor,
selasar, dan ruang tangga yang harus disediakan bagi rumah susun
sederhana.
t. Rancang Bangun adalah desain dalam bentuk gambar rumah
susun sederhana dan lingkungannya secara lengkap dengan skala
tertentu beserta uraiannya yang dibuat oleh Perencana Teknik, dan
digunakan sebagai dasar pelaksanaan pembangunan.
u. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota adalah
hasil perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten/Kota yang telah
ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
v. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan (RDTRKP)
adalah
penjabaran
dari
Rencana
Tata
Ruang
Wilayah
kabupaten/kota ke dalam rencana pemanfaatan kawasan
perkotaan.
w. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah
panduan rancang bangun suatu kawasan untuk mengendalikan
pemanfaatan ruang yang memuat rencana program bangunan dan
lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana
investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman
pengendalian pelaksanaan.
x. Rumah Susun Sederhana adalah bangunan gedung bertingkat
yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagianbagian yang ditrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal
maupun vertical dan merupakan suatu satuan yang masing-masing
dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah terutama untuk
tempat hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang
dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah
bersama.

y. Satuan Lingkungan Rumah Susun Sederhana adalah kelompok


rumah susun yang terletak pada tanah bersama sebagai satu
lingkungan yang merupakan satu kesatuan system pelayanan dan
pengelolaan.
z. Sarana Lingkungan adalah fasililas penunjang, yang berfungsi
untuk penyelenggaraan dan penqembangan kehidupan ekonomi,
sosial dan budaya.
aa.
Selasar yaitu ruang penghubung untuk satu sisi satuan rumah
susun sederhana.

Sewa berarti memakai/mempergunakan, dalam hal ini


rumah dalam satu jangka waktu tertentu. Satuan waktu yang
dipakai adalah tahun. Untuk target sasaran pemakai dengan
status lajang (mahasiswa/i, santri, pekerja) umum lebih
singkat dan bersifat tidak permanen, yaitu antara satu sampai
dengan lima tahun

bb.

cc.Site Plan adalah rencana konstruksi tapak yang menunjukkan

posisi dan dimensi bangunan serta kondisi tanahnya seperti


kontur dan lainnya. Definisi site plan dari sisi gambar arsitektur
juga dapar diartikan sebagai gambar denah lantai dasar (1 meter
dari ketinggian 0.00, beserta lingkungan sekitarnya (baik di
dalam maupun di luar tapak).

dd. Standar Teknis adalah standar yang dibakukan sebagai


standar tata cara, standar spesifikasi, dan standar metode uji baik
berupa Standar Nasional Indonesia maupun standar internasional
yang diberlakukan dalam penyelenggaraan rumah susun
sederhana.

Struktur atas adalah bagian bangunan utama yang


berada di atas pondasi.

ee.

ff. Struktur Bawah adalah bagian bangunan yang berada di

bawah struktur utama, yaitu pondasi.


gg. Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan
ruang, baik direncanakan maupun tidak.
hh. Tempat Parkir adalah sarana dasar untuk pelayanan
penyimpanan kendaraan terutama kendaraan roda dua yang dapat
berupa bangunan khusus atau ruang terbuka.
ii. Utilitas Umum adalah sarana penunjang untuk pelayanan
lingkungan yang antara lain berupa jaringan air bersih, saluran
pembuangan air limbah, tempat pembuangan sampah, jaringan
pemadam kebakaran, jaringan listrik, jaringan gas, dan jaringan
telepon serta alat komunikasi lainnya.

II. KRITERIA PENENTUAN LOKASI DAN LAHAN

2.1.

Penentuan Lokasi

Penentuan lokasi Rusunawa harus :


a. sesuai dengan peruntukan dan keserasian lingkungan dengan
memperhatikan rencana tata ruang dan tata guna tanah yang ada.

b. fungsi dan klasifikasi Rusuna harus sesuai dengan peruntukan


lokasi yang diatur dalam RTRW kabupaten/kota, RDTR, dan/atau
RTBL.
c. ketinggian maksimum bangunan Rusuna, jumlah lantai/lapis
bangunan di bawah permukaan tanah, KTB, garis sempadan dan
jarak bebas minimum bangunan, KDB maksimum, KLB maksimum,
KDH minimum, KTB maksimum sesuai dengan yang diizinkan pada
daerah masing-masing;
d. memungkinkan
berfungsinya
dengan
baik
saluran-saluran
pembuangan dalam lingkungan ke sistem jaringan pembuangan air
hujan dan jaringan air limbah kota.
e. mudah dicapainya angkutan yang diperlukan baik secara langsung
maupun tidak langsung pada waktu pembangunan maupun
penghunian serta perkembangan di masa mendatang, dengan
memperhatikan keamanan, ketertiban, dan gangguan pada lokasi
sekitarnya, bila lokasi rusuna belum memiliki akses, maka perlu
dikoordinasikan
dengan
PEMDA/Instansi
terkait
untuk
pencapaiannya atau pembuatan jalur transportasi umum yang
baru.
f. sudah dijangkau oleh pelayanan jaringan air bersih dan listrik. (bila
lokasi rumah susun sederhana belum dapat dijangkau oleh
pelayanan jaringan air bersih dan listrik, Penyelenggara
Pembangunan wajib menyediakan secara tersendiri sarana air
bersih dan listrik sesuai dengan tingkat keperluannya)
g. Lokasi lahan siap bangun dalam arti bebas secara fisik maupun non
fisik, serta lahan datar dan rata.
2.2.

Kriteria Pemilihan Lahan


Lahan yang memenuhi persyaratan untuk pembangunan rusunawa
antara lain harus:
a. Bersih secara administrasi maupun fisik di lapangan;
b. Memiliki Kofisien Dasar Bangunan 20 50 % sesuai ketentuan
daerah;
c. Memiliki Koefisien Lantai Bangunan untuk ketinggian 4 lantai,
maksimal 3 (tergantung kepadatan dan keperluannya);
d. Memiliki fasilitas lingkungan berupa ruang atau bangunan untuk
keperluan niaga, belanja, lapangan terbuka, pendidikan, ibadah.
e. Memiliki lapangan terbuka > 20 % terhadap luas lahan;
f. Kepadatan bangunan dalam lingkungan harus memperhitungkan
optimasi daya guna dan hasil guna tanah, sesuai dengan fungsinya,
serta memperhatikan keserasian dan keselamatan lingkungan
sekitarnya, sedangkan tata letak bangunan harus menunjang
kelancaran kegiatan sehari-hari dengan mempertimbangkan
keserasian, keseimbangan, dan keterpaduan.
g. Semua ruang yang dipergunakan untuk kegiatan sehari-hari harus
mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan
udara luar dan pencahayaan langsung maupun tidak langsung
secara alami dalam jumlah yang cukup. Apabila hubungan langsung
maupun tidak langsung dengan udara luar dan pencahayaan
langsung maupun tidak langsung tidak mencukupi atau tidak

memungkinkan, harus diusahakan adanya pertukaran udara dan


pencahayaan buatan yang dapat bekerja terus menerus selama
ruangan tersebut digunakan. Sebaiknya dipertimbangkan konsep
hemat energi pada masa pemanfaatan dan pemeliharaan rusuna.

III. SITE PLAN, BLOK PLAN DAN BENTUK BANGUNAN

3.1.

Site Plan dan Blok Plan


Sebelum merancang bangunan rusunawa, terlebih dahulu disusun Site
Plan atau Blok Plannya, dimana digambarkan situasi letak Rusuna
beserta PSU nya (termasuk fasilitas lingkungan bila diperlukan) dengan
memperhatikan beberapa hal antara lain:

a. Luas lahan yang perlu disediakan untuk satu rusunawa minimal 3


(tiga) kali luas lantai dasar, dan disesuaikan dengan Peraturan
Daerah setempat mengenai KDB/KLB.
b. Pembuatan Site Plan harus memperhatikan bentuk lahan.
c. Khusus untuk asrama mahasiswa, apabila dalam site plan tersebut
direncanakan lebih dari 2 buah rusunawa, maka fasiltas bersama
seperti Kantin, Toko, Wartel dan/atau Warnet,
Laundry, serta
lainnya perlu dibuatkan dalam suatu bangunan tersendiri.
d. Letak bangunan rusunawa memanjang arah dari Barat ke Timur,
demikian juga dengan Fasiltas Olah Raga.
e. Groundtank dan Rumah Pompa diletakkan tidak jauh dari instalasi
masuk jaringan air bersih rusunawa.
f. Pada lahan harus mempertimbangkan pintu masuk utama, service,
pintu darurat.
g. Konsep landscape harus memperhatikan tanaman yang bermanfaat
, tanaman buah, tanaman peneduh, tanaman semak/rumput.

3.2.

Bentuk Masa Bangunan


Terdapat beberapa bentuk massa bangunan, seperti :

Tipe Linier Block

Tipe Linier Kotak

Tipe Linier Double


Block

Tipe Linier Block dan Linier Double Block dapat diterapkan apabila
lahan yang tersedia tidak luas 3.000 m2.

IV. ARSITEKTUR BANGUNAN

Arsitektur bangunan rusunawa harus memenuhi kriteria antara lain:


1. Mencerminkan fungsinya
2. Seimbang, serasi dan slaras dengan lingkungan
3. Indah namun tidak berlebihan
4. Efisien dalam penggunaan sumber daya dalam pemanfaatan, mudah
dalam pemeliharaan
5. Memperhatikan keselamatan dan keamanan
6. Memenuhi tuntutan sosial budaya setempat

7. Ruang harus memenuhi persyaratan penghawaan, pencahayaan, suara,


dan bau untuk melindungi penghuni.
8. Penghawaan alami menggunakan sistem pertukaran udara silang dengan
ukuran lubang angina minimal 1 % dari luas lantai ruang yang
bersangkutan. Dan bila menggunakan penghawaan buatan dengan sietem
mekanis harus bekerja terus menerus.
9. Pencahayaan alami menggunakan satu atau lebih lubang cahaya yang
luasnya diperhitungakan terhadap komponen cahaya langit, refleksi dari
luar, refleksi dari dalam, sedangakan pencahayaan buatan harus
memenuhi persyaratan yaitu minimal 50 linux untuk bekerja dan mini 20
linux untuk ruang lainnya seperti tangga, selasar/koridor.
Pembahasan mengenai arsitektur bangunan terdiri dari:
4.1. Satuan Rumah Susun
Satuan rumah susun harus mempunyai ukuran standar yang dapat
dipertanggungjawabkan, dan memenuhi persyaratan sehubungan
dengan fungsi dan penggunaannya, serta harus disusun, diatur, dan
dikoordinasikan untuk dapat mewujudkan suatu keadaan yang dapat
menunjang kesejahteraan dan kelancaran bagi penghuni dalam
menjalankan kegiatan sehari-hari untuk hubungan ke dalam maupun
ke luar. Satuan rumah susun dapat berada pada permukaan tanah,
diatas atau di bawah permukaan tanah, atau sebagian dibawah dan
sebagian diatas permukaan tanah, mempunyai dimensi dan volume
ruang tertentu sesuai dengan yang telah direncanakan.
4.2.

Bagian Bersama dan Benda Bersama


Bagian bersama yang berupa ruang untuk umum, ruang tangga, lift,
selasar, harus dapat memberikan kemudahan bagi penghuni dalam
melakukan kegiatan sehari-hari baik dalam hubungan sesama
penghuni, maupun dengan pihak-pihak lain, dengan memperhatikan
keserasian, keseimbangan, dan keterpaduan. Benda bersama harus
mempunyai dimensi, lokasi, kualitas, kapasitas yang memenuhi
persyaratan dan dapat memberikan keserasian lingkungan guna
menjamin keamanan dan kenikmatan para penghuni maupun pihakpihak lain, dengan memperhatikan keselarasan, keseimbangan, dan
keterpaduan.

4.3.

Standar Satuan Unit Hunian


Dalam Konsep Disain Prototipe Rancang Bangun Rusunawa ini, standar
satuan unit hunian terdiri dari:
Tabel Standar Unit Hunian
No
1
2

Tipe
Lajang
Keluarga

Standar Luas
1 org
2 org
10 m2
15 m2
2
12 m
18 m2

(m2)/org
3 org
4 org
20 m2
23 m2
2
23 m
28 m2

Standar Satuan Unit Hunian disesuaikan dengan kebutuhan dan


peruntukannya, dengan catatan dapat dipakai tipe bervariasi dalam
satu tower namun berbeda lantai.
Luas sarusun disesuaikan dengan peruntukannya, antara lain: untuk
mahasiswa, pekerja, keluarga muda, keluarga besar
4.4.

Koridor/Selasar
Terdapat dua tipe koridor yaitu :
a.
Koridor/selasar di dalam (internal corridor)
b. Koridor/selasar di luar (outside corridor)
Pemakaian kedua tipe koridor/selasar ini tergantung
peruntukannya dan kebutuhan kepadatan lintasannya.

kepada

Standar koridor/selasar dapat diuraikan sebagai berikut:


Standar koridor untuk single loaded = 1,2 m dan
Standar koridor untuk double loaded = 1,8 m
4.5.

Tangga

Dibagi atas tangga yang dipakai untuk naik dan turunnya penghuni
dan tangga yang khusus dipergunakan saat terjadi kebakaran.
a. Tangga Umum
o
Dalam satu blok bangunan harus terdapat dua buah tangga
pada ujung-ujung bangunan atau satu buah tangga terletak di
pusat bangunan.
o
Lebar tangga berkisar antara 1.20 1.50 meter
o
Ketinggian Railing tangga pada ujung antara + 85.0 cm 120
cm,
o
Pijakan tangga lebar 28.5 30.cm dengan ketinggian antara
17.0 20.0 cm
o
Apabila ketinggian antara dua lantai (a) sebesar 3.00 meter
maka jarak antara kedua titik tangga (b) adalah 5.40 meter,
sedangkan bila jarak antara dua lantai (a) sebesar 4.00 meter
maka jarak antara dua titik lantai (b) adalah 6.00 meter.
o
Tangga hanya dipergunakan untuk bangunan sampai 5 lantai.

Pijakan

Gambar Tangga Umum

b. Tangga Darurat
o
Harus terdapat 2 buah Tangga Darurat, radius dimana jarak
terjauh dari suatu tempat menuju tangga tidak lebih dari 25
meter;
o
Harus terlindung dalam suatu konstruksi yang dapat bertahan
terhadap kebakaran selama 2 jam;
o
Pintu tangga darurat hanya dapat didorong ke satu arah
(menuju tangga) pada lantai 2 keatas, untuk lantai dasar pintu
harus terbuka keluar ke arah luar bangunan.
o
Oprit dan lebar tangga cukup aman saat dipergunakan;
o
Kamar pada tangga darurat mempunyai tekanan lebih besar
agar asap tidak masuk, dan selalu tertutup agar tekanan tetap
terjaga.
o
Tangga darurat tidak boleh diisi atau dijadikan gudang.
o
Harus ada shaft asap (smoke asap) dan shaft udara segar
(fresh air shaft).
o
Pintu darurat untuk bangunan dengan tinggi diatas 4 (empat)
lantai harus tahan api diatas 2,5 jam.

Gambar detail tangga darurat

4.6.

Jendela
Kriteria standar untuk jendela pada konsep disain prototipe rancang
bangun rusunawa ini adalah:
a. Untuk keamanan penghuni digunakan jendela dengan engsel pivot
b. Mudah dibersihkan
c. Bukaan per unit jendela untuk sirkulasi udara maksimal
d. Tinggi dari lantai ke bawah jendela di dinding fasade = 1,2 meter
e. Tinggi dari lantai ke bawah jendela di dinding koridor = 2,05 meter

Gambar Pivoted Window

4.7.

Selabasah
Selabasah terdiri dari kamar mandi dan toilette yang disain nya dapat
ditentukan sebagai berikut:
a. Privasi umumnya terdapat pada sarusun untuk keluarga.
b. Komunal tersebar dapat ditempatkan pada sarusun Pekerja atau
Mahasiswa. Harus diperhatikan jarak antara kamar dengan Toilette
terjauh.
c. Komunal terpusat dapat ditempatkan pada sarusun pekerja atau
Mahasiswa

Kebutuhan Water Closet, Peturasan, Tempat Cuci dan Kamar


Mandi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Setiap 1 - 5 Tempat Tidur (Pria) dibutuhkan 1 Water Closet, 1
Peturasan, 2 Tempat Cuci, 1 Kamar Mandi.
b. Setiap 1 5 Tempat Tidur (Wanita) diibutuhkan 1 Water Closet, 1
Tempat Cuci, 1 Kamar Mandi.
c. Setiap 6 15 Tempat Tidur (Pria) dibutuhkan 2 Water Closet, 2
Peturasan, 3 Tempat Cuci, 2 Kamar Mandi.
d. Setiap 6 15 Tempat Tidur (Wanita) diibutuhkan 2 Water Closet, 3
Tempat Cuci, 2 Kamar Mandi.
e. Setiap penambahan 10 tempat tidur diatas dibutuhkan 1 Water
Closet, 1 Tempat Cuci, dan 1 Kamar Mandi.
Tabel Standar Selabasah
No

Standar Jmlh
Orang

1 5
2 6 15
3 @ 10 orang
Keterangan:
WC : Tempat buang air besar
P
: Peturasan

Wanita
WC TC
K
M
1
1
1
2
3
2
1
1
1

W
C
1
2
1

Pria
P TC
1
2
1

2
3
1

K
M
1
2
1

TC : Tempat cuci tangan


KM : Kamar Mandi

Untuk Wanita,
digunakan Closet
Duduk

Jumlah WC pria dapat diganti dengan peturasan tidak lebih dari 1/3
jumlah WC yang dipersyaratkan.
4.8.

Dapur
Dapur hanya disediakan dalam Rusuna untuk keluarga, sedangkan
pada Rusuna bagi mahasiswa tidak disediakan, dan pekerja tidak
disediakan (hanya tempat cuci peralatan)

4.9.

Ram

Persyaratan ram pada konsep disain prototipe rancang bangun


rusunawa adalah sebagai berikut:
a. Kemiringan tidak boleh melebihi 70, dengan perbandingan
antara tinggi dan kelandaian = 1: 8. Sedangkan kemiringan
ram yang ada di luar bangunan tidak boleh melebihi 60,
dengan perbandingan antara tinggi dan kelandaian = 1: 10
b. Lebar minimum adalah 95 cm tanpa tepi pengaman dan 120
cm dengan tepi pengaman.
c. Muka datar/bordes harus bebas dan datar, sehingga memungkinkan
sekurang-kurangnya untuk memutar kursi roda dengan ukuran
minimum 160 cm.
d. Lebar tepi pengaman ram/kanstin/low curb 10cm, dirancang
untuk menghalangi roda kursi roda agar tidak terperosok keluar dari
jalur ram.
Ram harus diterangi pencahayaan yang cukup.
Ram harus dilengkapi dengan pegangan rambatan (handrail) yang
dijamin kekuatannya dengan ketinggian yang sesuai. Pegangan
rambat harus mudah dipegang dengan ketinggian 65 80
cm.
1 jalur = 120 cm
2 jalur = 190 cm

Min 120 cm

Maks 900 cm

Min 120 cm

Gambar Denah Ram


Pegangan untuk orang dewasa
Pegangan untuk anak-anak

65
cm

85
cm

Permukaan lantai
harus kasar/tidak
licin
Bordes min 120 cm

Maks 900 cm
Kemiringan maksimal gradien 1: 10 (luar
bangunan)
Maksimal gradien 1 : 8
(dalam bangunan)

Gambar Kemiringan Ram

4.10. Bahan Bangunan

Pemilihan bahan yang akan dipakai disesuaikan pada peruntukannya


dengan
tidak
mengurangi
persyaratan
kesehatan
dan
mempertimbangkan dana yang tersedia, atau tersedianya bahan
dilokasi.
Bahan bangunan yang digunakan untuk rusunawa, dijelaskan dalam
tabel berikut:
Tabel Jenis Bahan Bangunan
Pemakaian
Lantai

Dinding

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
2.
3.

Partisi
Plafond

Kusen pintu &


jendela
Finishing Dinding
Rangka Atap
Atap

4.
5.
1.
2.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.

Jenis
Paving/Aspal
Floor Hardener
Grassblock/screed
Cast in situ/ concrete
block
Buis Beton
Keramik 20/20
Keramik 30/30
Waterproofing
Batubata
Batako kampung
(putih)
Batako pressed
(semen)
Celcon
Hebel
Gypsum (Calciboard,
gypsum, waterproof)
Multipleks
Beton
Gypsum (Calciboard,
gypsum, waterproof)
Multipleks
Alumunium
PVC
Kayu
Cat weathershield
Emulsi
Epoxy
Kayu
Baja siku dan baja pipa
Baja ringan
Keramik
Genteng
Seng
Baja Ringan

Keterangan
Jalan pedestrian
Dibawah kanopi
Kansteen
Saluran terbuka
KM/WC dan Cuci
Ruang hunian & koridor
KM/WC, Atap, GWT
Batas luar unit dan sela
basah

Batas ruang dalam unit


dan sela kering

Bidang jendela: kaca


polos
Bidang luar
Bidang dalam
Sela basah

4.11. Ruang Dalam


Dengan mengacu kondisi ruang pada rumah susun sederhana yang
terbatas baik pada luas dan bentuk serta organisasi ruang, maka dapat
disimpulkan untuk kenyamanan penghuni dapat dilakukan beberapa
hal pada tata ruang dalam (interior) seperti:
a. Perletakkan furniture ditata sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu pergerakan penghuni.

b. Furniture sangat berpengaruh pada fungsi ruang baik pada ruang


umum seperti pada ruang tamu, ruang makan dan pada ruangruang pribadi seperti kamar tidur.
c. Model daripada furniture disarankan memakai bentuk-bentuk
dengan kesan minimalis dengan lebih menitikberatkan pada fungsi
daripada bentuk-bentuk yang berat.
d. Pewarnaan ruang sangat berpengaruh pada penghuni, oleh karena
itu disarankan memakai warna-warna yang terang dan lembut,
sehingga memberikan efek ruang yang lebih luas.
e. Pencahayaan
diusahakan
semaksimal
mungkin
dengan
pencahayaan alami yang didapat dari bukaan-bukaan yang
tersedia.
f. Standar bukaan untuk unit hunian adalah = 1/6 dari luas dinding
g. Standar tinggi ruang dalam (floor to floor) = 3 meter
h. Standar tinggi ruang dalam (floor to ceiling) minimal 2,4 m

V. STRUKTUR BANGUNAN

Rusuna harus direncanakan dan dibangun dengan struktur, komponen, dan


penggunaan bahan bangunan yang relatif lebih sederhana namun tetap
memenuhi persyaratan konstruksi, serta harus memperhitungkan kuat dan
tahan terhadap :
1.
daya dukung tanah;
2.
beban mati dan beban bergerak;
3.
kemungkinan adanya beban tambahan, baik dari arah vertikal maupun
horizontal;
4.
gempa bumi, hujan, angin, dan banjir; kebakaran
5.
gangguan/ perusak lainnya
5.1.

Struktur Bawah
Dalam suatu bangunan gedung dibutuhkan suatu komponen konstruksi
yang dapat menyalurkan beban (beban mati, beban hidup, gempa.
angin dan lainnya) dari struktur bangunan atas ke tanah yang disebut
Pondasi. Dalam perencanaan Pondasi faktor terpenting yang perlu
diperhitungkan yaitu karakteristik tanah.
Pemilihan sistem pondasi, dan alternatif sistem yang dapat dipakai
antara lain adalah :
a. Pondasi Dangkal
Mat foundation hanya baik untuk digunakan pada kondisi tanah
yang berbatu keras
b. Pondasi Dalam
o Driven pile baik untuk dipertimbangkan karena membutuhkan
biaya yang relatif kecil.
o Pressed-in pile cukup mahal, namun bersih dan sesuai untuk
lokasi konstruksi pada lingkungan yang padat.
o Bored pile cukup mahal dan kotor, namun mempunyai kapasitas
besar dan sesuai pula untuk lokasi konstruksi pada lingkungan
yang padat.
Tabel Jenis Pondasi
No

Jenis
Pondasi
Pondasi
Dangkal

Lantai
Bangunan
< 3 lantai

Waktu
Pelaksanaan
Relatif cepat

Pondasi
Menengah

3 6 lantai

Relatif lebih
lama

Relatif
mahal

K 275
K 300

Pondasi
Dalam

> 6 lantai

lama

Mahal

> K 300

5.2.

Biaya
Relatif
Murah

Mutu
Beton
< K 275

Keterangan
Pondasi Plat
setempat,
Pondasi Lajur,
Pondasi Batu
Kali
Pondasi rakit,
Pondasi Sarang
Laba-laba,
Pondasi cakar
Ayam
Pondasi Tiang
Pancang,
Pondasi Tiang
Bor, Pondasi
Franky

Struktur Atas
Organisasi ruang harus mempertimbangkan faktor teknis yang baik.
(konstruksi kokoh dan tahan gempa maupun pengaturan unit, interior,
sirkulasi baik vertikal atau horizontal).

Bentuk bangunan tipe L atau U kurang tepat didaerah yang sering


gempa. Pada daerah yang sering gempa lebih baik tipe kotak (box)
atau kotak persegi panjang (single block) atau twin blok.
Sistem struktur atas dibagi kembali menjadi dua bagian sesuai dengan
sifat pembebanan yang diterima, yaitu :
a. Sistem vertikal (vertical system). Pada sistem ini, struktur dapat
direncanakan menggunakan sistem flat slab maupun kombinasi
kolom, slab dan beam
b. Sistem lateral (lateral system)
c. Untuk sistem lateral, alternatif sistem struktur yang dapat dipilih
adalah sistem portal, dinding (shear wall), maupun kombinasi dari
keduanya.
Hal-hal yang dapat dijadikan pedoman dalam pemilihan sistem
struktur atas adalah sebagai berikut :
a. Memperbesar periode getar bangunan
b. Memperbesar daktilitas
c. Mengupayakan agar elemen struktural dapat juga berfungsi
sebagai elemen arsitektural (contoh : shearwall sebagai dinding).
d. Memperkecil kekakuan lateral namun memperbesar kekakuan torsi.
e. Lendutan arah x, y dan z tetapi juga waktu getar tidak boleh terlalu
kecil.
f. Jangan sampai terjadi resonansi.
5.3.
a.

Selubung Bangunan
Dinding
Dinding sebagai penyalur beban dari atap ke pondasi menggunakan
bahan-bahan material seperti:
o Batubata
o
Batako kampung (putih)
o
Batako pressed (semen)
o
Celcon
o
Hebel
Persyaratan
o
o
o

b.

dinding adalah sebagai berikut:


Merupakan bahan yang ringan
Merupakan bahan yang tahan api
Mudah didapat sebagai bahan bangunan lokal

Penutup Atas
Terdapat dua jenis penutup atas dimana masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Pemakaian penutup
atas dengan atap genteng lebih memungkinkan pengembangan
arsitektur, namun mempunyai kelemahan dalam pemeliharaannya.
(mahal dalam hal perbaikan apabila genteng pecah atau bocor).
Namun demikian dengan suatu teknik perencanaan hal ini masih
bisa diatasi. Sedangkan pemakaian Penutup Atas dengan dak biaya
yang dikeluarkan akan lebih mahal, namun dapat dipergunakan
untuk keperluan lain. (kurang indah namun dalam pemeliharaan

masih lebih mudah dan murah). Penutup atas dengan dak beton
harus dibantu dengan proteksi bahan kedap air / water proofing
Atap Dak

Atap Genteng

Gambar Penutup Atas

5.4.

Detailing
Dalam pelaksanaan detailing, ada beberapa hal yang dapat
diperhatikan untuk menghasilkan penghematan biaya konstruksi. Halhal tersebut antara lain adalah :
a. Detailing tulangan dilakukan sesederhana mungkin sesuai dengan
sistem struktur yang digunakan
b. Menggunakan diameter tulangan yang kecil
c. Menggunakan detailing tulangan yang tipikal
d. Merencanakan pemotongan tulangan dengan cermat dan
disesuaikan dengan memperhatikan panjang tulangan standar (12
m)
e. Melakukan redistribusi momen dengan cara mengurangi tulangan
tumpuan namun menambah tulangan lapangan balok.
(semua hal di atas disesuaikan dengan perhitungan DED)

5.5.

Metode Konstruksi
Metode konstruksi yang dapat diterapkan pada pelaksanaan konstruksi
adalah sebagai berikut :
a. Cast in-situ, yang berarti keseluruhan pelaksanaan konstruksi
dilakukan pada lokasi konstruksi
b. Partial precast, yang berarti sebagian pelaksanaan konstruksi
dilakukan pada lokasi konstruksi dan sebagian lagi dilaksanakan
oleh pihak luar dalam bentuk material precast yang siap pasang.
Untuk precast in situ, perlu diperhatikan:
a. Skema bantuan meja getar agar bisa menekan jumlah pemakaian
semen
b. Skema bantuan cetakan/bekisting
c. Alat angkat/mobil crane

VI. MEKANIKAL, ELEKTRIKAL DAN PLUMBING

6.1.

Sistem Pemadam Kebakaran


Dalam konsep disain prototipe rusunawa, bangunan dilindungi dari
bahaya kebakaran dengan:
a. Alat sensor terhadap panas dan/atau asap yang dihubungkan
dengan fire alarm;

a.

Sistem hydrant yang mengacu pada peraturan standar


proteksi kebakaran NFPA Nomor 20 yang dilengkapi dengan:
o Box selang indoor/outdoor.
o Dilengkapi dengan Siamese Connection, alat peyambung
Hydrant yang menghubungkan mobil petugas PMK dengan
instalasi dalam gedung
o Cadangan air untuk memadamkan kebakaran selama 30 menit
sampai dengan 1 jam.
b. Bila memungkinkan disediakan sprinkler yang secara ototmatis
akan menyemburkan air;
Tabel Sistem Hydrant

Tabel Sistem Pemadam Api Ringan

No

LOKASI

JENIS
PORTABLE FIRE

1
2

Ruang Hunian
Ruang Panel Listrik

EXTINGUISHER
(kg)
3,00 5,00
Sesuai Perhitungan

R. Trafo, R. Genset

DED
Sesuai Perhitungan
DED

JUMLAH
UNIT
1
1
1

KETERANG
AN
Dapur

6.2.

Sistem Listrik
Sistem listrik yang digunakan pada konsep disain prototipe rancang
bangun rusunawa terdiri dari 2 (dua) sumber, yaitu PLN dan Genset.
Penggunaan genset adalah sebagai cadangan yang secara otomatis
dapat digunakan jika PLN memgalami gangguan (besarnya daya
genset sesuai dengan kebutuhan)
KWH meter ditempatkan pada satu ruang/lokasi di tiap-tiap lantai,
sedangkan breaker (MCB) sebagai pengaman ditempatkan di masingmasing unit hunian

Gambar Sistem Listrik

6.3.

Penangkal Petir
Pada konsep disain prototipe rancang bangun rusunawa ini, terdapat 2
(dua) sistem penangkal petir yaitu :
a. Konvensional (Faraday)
b. Electro Static
(semua kebutuhan disesuaikan dengan perhitungan DED)
Tabel Sistem Penangkal Petir

6.4.

Sistem Plumbing
a. Sistem Air Bersih
Air Bersih adalah air yang dipakai untuk mandi, mencuci dan
lainnya tetapi belum siap untuk diminum. Sumber air bersih yang
digunakan dalam rusunawa berasal dari:
o PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum)
o Sumur bor dalam (Deep Well)
o Rumah Pompa berikut Pompa
o Tanki Bawah (Ground Water Tank) atau Tangki Atas (roof tank)
harus dapat memenuhi kebutuhan minimal 6 jam.
o WTP (Water Treatment Plan)
Persyaratan sistem air bersih yang perlu diperhatikan adalah
o Tangki air atas dari bahan fiber, dialirkan dengan sistem
gravitasi ke bawah
o Jaringan air bersih sesuai dengan kebutuhan penggunaan sitem
perpiaan yang bertekanan air sekurang-kurangnya 0.5 atm pada
setiap titik aliran keluar.
o Volume harus disesuaikan dengan perhitungan DED
berdasarkan jumlah penghuni

Gambar Sistem Air Bersih Pada Rusunawa Untuk Keluarga (kiri)


dan Mahasiswa/Pekerja (kanan)

b. Sistem Air Kotor

Air kotor adalah air buangan rumah tangga. Sistem pembuangan air
kotor dan air bekas ditampung ke dalam Sewerage Treatment

Plan (STP), sedangkan untuk air hujan dialirkan ke dalam


sumur resapan.
Kapasitas volume STP dan sumur resapan, disesuaikan
dengan perhitungan DED berdasarkan jumlah penghuni.

Gambar Detil Septic Tank (atas) dan Sewage Treatment Plan


(bawah)

Gambar Sistem Air Bekas (kiri) dan Air Kotor (kanan)

Gambar Sistem Air Hujan

VII. PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS

7.1.

Jalan
a.
Jalan Lingkungan : jalan yang berada dalam lingkungan site
rusun
b.
Jalan Setapak (Pedestrian) jalan yang dipergunakan untuk
pejalan kaki, dengan lebar jalan 1 s/d 2 m.
Bagian-bagian Jalan
a. Badan Jalan, merupakan bagian jalan yang diperuntukkan bagi
arus lalu lintas kendaraan.dengan atau tanpa jalur pemisah.
b. Bahu Jalan,merupakan jalur yang berdampingan dengan Badan
Jalan yang berfungsi untuk melindungi perkerasan jalan, menjaga
kebebasan samping pemakai jalan, sebagai jalur pejalan kaki atau
sepeda, atau tempat kendaraan berhenti sementara,
c. Saluran Tepi Jalan,adalah saluran disamping jalan yang
diperuntukkan menampung air dari badan jalan.
d. Konstruksi Perkerasan Jalan,terdiri dari Tanah Dasar, Lapis
Pondasi Bawah, Lapis Pondasi Atas, dan Lapis Permukaan.
No
1
2
3
4

Tabel Kriteria Teknis Jalan


Bagian Jalan
Jalan Lingkungan
Badan Jalan
4.5 5.5 m
Bahu Jalan
0.8 1.0 m
Saluran Tepi
0.6 m 0.8 m
Perkerasan
Aspal beton, penetrasi
makadam, paving block

Jalan Pedestrian
1.2 1.8 m
Paving
block,
cor
semen, paving stone

Jalan

Kendaraan

Pedestrian

7.2.

Penerangan Jalan Umum (PJU) : penerangan yang berada sepanjang


jalan. Pemakaian watt disesuaikan dengan kebutuhan lebar jalan.

7.3.

Pengelolaan Persampahan
Konsep pengelolaan persampahan diarahkan sebagai berikut:
a. Menyingkirkan sampah dari habitat manusia dengan cepat
b. Mengurangi berat dan volume sampah dengan cepat
c. Membuat sampah menjadi tidak berbahaya terhadap lingkungan.
d. Memanfaatkan sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
e. Mengurangi dampak pencemaran udara, tanah dan air akibat
sampah tersebut.

7.4.

Ruang Terbuka Hijau/Taman/Landscape


Bangunan rusunawa diupayakan direncanakan di tengah lahan yang
memiliki kontur relatif datar. Dengan demikian diharapkan akan
diperoleh kawasan yang tetap memperhitungkan kondisi ekologi
alaminya dengan seminimal mungkin tindakan yang memperburuk
kondisi lahan dan sekitarnya.
Konsep ruang terbuka hijau direncanakan mendekati 70% dari luas
kawasan blok Rusunawa dengan 3 (tiga) tahapan hijau yaitu:
a. Tahap 1
: Area inti di dalam area blok bangunan
b. Tahap 2
: Area hijau lingkar 1, di luar bangunan
c. Tahap 3
: Area hijau lingkar 2, dikelilingi batas lahan blok
Pada tahap 1 ditanam pohon-pohon semak yang bersifat hiasan,
diantaranya batang-batang pohon tahap 1, 2 dan 3 ditanam rumput
sebagai pengisi permukaan tanah yang memberikan nuansa hijau.
Pada tahap 2, ditanam beberapa pohon sedang yang bersifat hiasan
yang bisa cepat tumbuh dan juga pohon buah-buahan yang kecil
seperti rambutan, belimbing dsb.

Pada tahap 3 ditanam pohon-pohon besar yang bersifat peneduh. Yaitu


kombinasi jenis pohon-pohin peneduh awal yang bisa cepat tumbuh
besar dengan pohon buah-buahan yang besar seperti mangga,
nangka, durian dan sebagainya dengan tajuk antara 6 8 meter dan
tinggi maksimal 10 meter yang diharapkan dapat mengundang
burung-burung agar dapat melengkapi suasana ekosistim.
Untuk peletakkan masa bangunan dengan kemiringan sampai dengan
450 atas lahan arah Timur Barat, sebaiknya diberi bantuan terhadap
pengaruh sinar matahari Barat dengan penanaman pohon peneduh
dan sunscreen.
7.7.

Parkir
Parkir untuk kendaraan roda empat dan roda dua disesuaikan dengan
kebutuhannya. Parkir kendaraan roda dua sebaiknya tertutup atap.
Sedangkan parker untuk kendaraan roda empat dapat menyerong 45 o
atau menyerong 90 o atau sejajar dengan jalan.

Sejajar Jalan

Serong 45 o

Tegak Lurus Jalan

Gambar Peletakan mobil di tempat parkir

7.6.

Perhitungan kebutuhan luas parkir


a. Parkir Mobil Untuk Tipe 23 L
Perhitungan parkir mobil didasarkan pada perhitungan standar
bahwa 1 mobil : 5 unit hunian dengan ukuran luasan = 25 m 2.
Untuk Tipe 23 L jumlah unit = 36 x 4 = 144 unit. Kebutuhan parkir
mobil = 144/5 = 29 parkir mobil. Luas parkir = 29 x 25 m 2 = 725
m2.
b. Parkir Motor Untuk Tipe 23 L
Perhitungan parkir motor didasarkan pada perhitungan standar
bahwa 1 motor : 1 unit hunian dengan ukuran luasan = 3,2 m 2.
Untuk Tipe 23 L jumlah unit = 36 x 4 = 144 unit. Kebutuhan parkir
mobil = 144 29 (unit parkir mobil yang sudah dihitung)/1 = 115
parkir motor. Luas parkir = 115 x 3,2 m2 = 368 m2.
c. Parkir Mobil Untuk Tipe 28 K

Perhitungan parkir mobil didasarkan pada perhitungan standar


bahwa 1 mobil : 5 unit hunian dengan ukuran luasan = 25 m 2.
Untuk Tipe 28 K jumlah unit = 16 x 4 = 64 unit. Kebutuhan parkir
mobil = 64/5 = 13 parkir mobil. Luas parkir = 13 x 25 m2 = 325 m2.
d. Parkir Motor Untuk Tipe 28 K
Perhitungan parkir motor didasarkan pada perhitungan standar
bahwa 1 motor : 1 unit hunian dengan ukuran luasan = 3,2 m 2.
Untuk Tipe 28 K jumlah unit = 16 x 4 = 64 unit. Kebutuhan parkir
mobil = 64 13 (unit parkir mobil yang sudah dihitung)/1 = 51
parkir motor. Luas parkir = 51 x 3,2 m 2 = 163,2 m2.
.

Tabel jumlah tempat parkir yang aksesibel yang harus disediakan


pada setiap pelataran parkir umum, berdasarkan Permen PU No.
30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas
Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan adalah sebagai berikut:
Tabel Kebutuhan Parkir Yang Aksesibel
Jumlah Tempat Parkir Yang
Tersedia
1 25
26 50
51 75

Jumlah Tempat Parkir Yang


Aksesibel
1
2
3

Min 120 cm
untuk putaran kursi roda

Ram
Penahan roda mobil

Batas parkir

500 cm

Simbol digambar pada


perkerasan

370 cm

Gambar Lay out Parkir Yang Aksesibel

7.7.

Kelengkapan Rusunawa
Berdasarkan standar perumahan dan permukiman di lingkungan
perkotaan, maka yang harus diperhatikan dalam konsep disain
prototipe rancang bangun rusunawa adalah:

a. jaringan distribusi air bersih, gas, dan listrik termasuk


tangki-tangki air, pompa air, tangki gas , dan gardu-gardu
listrik;
b. saluran pembuangan air ke sistem jaringan pembuangan air kota;
c. saluran pembuangan air limbah dan/ atau tangki septik;
d. tempat pembuangan sampah ;
e. hidrant atau kran-kran air untuk pencegahan dan pengamanan
terhadap bahaya kebakaran;
f. jaringan telepon dan alat komunikasi lain sesuai dengan tingkat
keperluannya;
g. ruangan dan/atau bangunan untuk tempat berkumpul,
melakukan kegiatan masyarakat, tempat bermain bagi anak-anak,
dan kontak sosial lainnya;
h. tempat Olah Raga seperti lapangan volley, basket, bulu tangkis.
i. sarana sosial, ibadah, pendidikan bila telah tersedia dalam jarak
tempuh 500-1000 meter tidak diharuskan dibangun. Namun
untuk TK diwajibkan disiapkan di lokasi.

DAFTAR ACUAN

1. Kepres 22 tahun 2006 tentang Tim Koordinasi Percepatan


Pembangunan Rusun di Kawasan Perkotaan;
2. Permen PU no 60 tahun 1992 tentang Persyaratan Teknis
Pembangunan Rumah Susun;
3. Permen PU no 29 tahun 2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis
Bangunan Gedung,
4. Permen PU no 30 tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan
Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;
5. Permen PU no 05 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Rusuna Bertingkat Tinggi
6. Permen PU no 06 tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata
Bangunan dan Lingkungan.
7. Permenegpera No. 9 Tahun 2008 tentang Pedoman Bantuan
Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Pada Lembaga
Pendidikan Tinggi dan Lembaga Pendidikan Berasrama
8. Peraturan standart proteksi kebakaran NFPA 20 (Nasional Fire
Protection Association No. 20).
9. SNI 03 2846 1992 tentang Tata Cara Kepadatan Bangunan
Lingkungan Rumah Susun Hunian;
10.SNI 03 1733 2004 tentang Tata cara perencanaan lingkungan
perumahan di perkotaan.
11.Dictionary of Architecture & Construction ed. Cyril M. Harris 3 rd edition
McGraw-Hill, NY, 2000, hal 105.
12.Dictionary of Architecture & Construction ed. Cyril M. Harris 3 rd edition
McGraw-Hill, NY, 2000, hal 839.