Anda di halaman 1dari 11

Evaluasi Klinis Longitudinal Sistem Pasak: Kajian Pustaka

Soares CJ, Valdivia ADCM, Silva GRd, Santana FR, Menezes MdS. 2012.
Longitudinal Clinical Evaluation of Post Systems: A Literature Review. Braz Dent
J; 2012 Vol 23(2) : 135-140
ABSTRAK
Studi klinis retrospektif dan prospektif yang membahas pasak dan inti
logam cor serta pasak fiber akan diulas pada survey ini berdasarkan tingkat
ketahanan restorasi dan banyaknya kegagalan yang terjadi. Literatur elektronik
terdapat dalam MEDLINE dengan menggunakan kata kunci: Fiber post and
clinical study, Fiber post and clinical evaluation, Cast post-and-core and
clinical study, dan Root post and retrospective survival study. Periode yang
ditentukan yaitu Desember 1990 hingga akhir Desember 2010. Ulasan literatur
menunjukkan bahwa beberapa faktor biologis, mekanis, dan estetik
mempengaruhi tingkat ketahanan prosedur restoratif pada gigi yang dirawat
endodontik, dan pemilihan pasak harus dapat meningkatkan dan mengoptimalisasi
faktor tersebut. Data berdasarkan penelitian klinis jangka panjang dibutuhkan oleh
praktisi umum untuk membuat keputusan klinis. Pemilihan gigi dan sistem pasak
yang adekuat harus dibuat, dengan jumlah penghilangan substansi gigi seminimal
mungkin. Ferrule harus dibuat sebagai indikator keamanan pasak fiber. Pasak
fiber glass telah menunjukkan ketahanan yang baik dalam penelitian klinis,
dengan hasil yang sama dengan pasak dan inti logam cor. Pasak logam memiliki
ketahanan klinis yang baik, namun kegagalan yang ditimbulkan biasanya bersifat
irreversibel, tidak seperti yang terjadi pada pasak fiber glass.
Kata kunci: pasak dan inti logam cor, pemeriksaan klinis, pasak fiber, evaluasi
longitudinal.

Pendahuluan
Gigi yang telah dirawat endodontik membutuhkan restorasi pasak dan inti
untuk tujuan retensi karena struktur defek yang luas akibat karies dan akses
preparasi kavitas (Heydecke dan Peters, 2002). Upaya mempertahankan struktur
gigi merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menghindari
komplikasi dengan retensi intraradikuler.
Pasak dan inti logam cor merupakan pasak yang paling sering digunakan
pada dekade terakhir, namun memiliki beberapa kerugian. Kerugian tersebut
antara lain hilangnya retensi pasak, fraktur akar, dan resiko korosi. Jumlah dentin
akar yang dikurangi selama preparasi gigi untuk pasak dan inti logam cor lebih
banyak, sehingga meningkatkan resiko fraktur akar. Gigi yang direstorasi dengan
pasak dan inti logam cor serta pasak logam lainnya memiliki konsentrasi tekanan
pasak dan tegangan dentin yang lebih tinggi. Pengenalan sistem pasak karbon atau
fiber glass memberikan alternatif kepada pasak logam cor atau logam pabrikan
sebagai restorasi untuk gigi yang telah dirawat endodontik. Sistem pasak ini
memiliki sifat mekanis yang menyerupai dentin, menghasilkan pola tekanan yang
menyerupai gigi intak. Preparasi saluran akar untuk sistem pasak tipe ini juga
bersifat lebih konservatif.
Penelitian retrospektif dan prospektif yang dilakukan untuk mengevaluasi
tingkat ketahanan beberapa sistem pasak menunjukkan tidak terjadinya fraktur
gigi pada penggunaan pasak fiber sebagai restorasi gigi yang telah dirawat
endodontik. Data berdasarkan penelitian klinis jangka panjang dibutuhkan oleh
praktisi umum untuk membuat keputusan klinis. Penelitian klinis dan percobaan
acak masih dapat digunakan untuk analisis. Fokkinga dkk (2007) menjelaskan
bahwa informasi yang dipilih berasal dari penelitian klinis prospektif komparatif,
terutama percobaan klinis yang random dan terkontrol.
Tingkat ketahanan prosedur restoratif pada gigi yang telah dirawat
endodontik dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengulas penelitian klinis retrospektif dan prospektif, dibatasi pada penerimaan
gigi dewasa terhadap restorasi pasak logam cor atau fiber pada gigi permanen

dengan memperhatikan ketahanan restorasi dan kemungkinan terjadinya


kegagalan.
Bahan dan Metode
Strategi Pencarian
Literatur elektronik terdapat dalam MEDLINE and The Cochrane Library
dengan menggunakan kata kunci: Fiber post and clinical study, Fiber post
and clinical evaluation, Cast post-and-core and clinical study, dan Root
post and retrospective survival study (Tabel 1). Periode yang ditentukan yaitu
Desember 1990 hingga akhir Desember 2010. Hanya artikel berbahasa Inggris
yang dipilih.
Pencarian literatur bertujuan untuk menemukan jawaban atas beberapa
pertanyaan berikut:
1. Apakah pasak fiber memiliki ketahanan klinis yang menyerupai pasak logam?
2. Dalam kondisi struktur gigi yang tersisa seperti apakah masing-masing sistem
pasak diindikasikan?
3. Kegagalan seperti apa yang paling sering terjadi pada gigi yang direstorasi
menggunakan pasak fiber atau logam?
Tabel 1. Kombinasi kata kunci yang digunakan untuk strategi pencarian
Kata Kunci
Fiber post and clinical study
Fiber post and clinical evaluation
Cast post-and-core and clinical study
Root post and retospective survival study

Seleksi Penelitian

Jumlah Artikel
252
99
60
25

Artikel yang Dipilih


13
2
5
2

Dua orang reviewer secara independen mengevaluasi judul dan abstrak


penelitian retrospektif dan prospektif yang didapat dari pencarian elektronik
menggunakan kata kunci pada tahap pemeriksaan awal. Artikel yang muncul
kembali menggunakan kata kunci berbeda dihitung sebagai satu artikel. Teks
lengkap artikel kemudian diperoleh dan diulas berdasarkan kriteria sebagai
berikut:
Kriteria inklusi: follow-up klinis setidaknya 1 tahun: jumlah sampel
minimum 30 pasien; prosedur restoratif dan bahan digambarkan dengan detail;
tingkat ketahanan dan karakter pasien disebutkan secara umum dalam penelitian
prospektif; lokasi gigi yang direstorasi disebutkan; merupakan publikasi terbaru
dari penelitian yang sama.
Kriteria eksklusi: laporan kasus; penelitian laboratorium; penggunaan
pasak keramik; artikel ulasan.
Diskusi dilakukan apabila terjadi ketidaksepakatan antara kedua reviewer.
Konsultasi kepada reviewer ketiga dilakukan jika kesepakatan tidak tercapai.
Penelitian yang dipilih harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi satu
pun kriteria eksklusi, serta melalui uji validitas dan ekstraksi data. Sebanyak 22
artikel dari 436 artikel digunakan dalam penelitian ini.
Ekstraksi Data dan Presentasi
Ekstraksi data dilakukan dengan bantuan lembar ekstraksi data yang diuji
coba dalam beberapa artikel. Data yang disimpan yaitu: (i) nama referensi; (ii)
tahun publikasi; (iii) waktu evaluasi dalam hari; (iv) jenis pasak; (v) jumlah
sampel; (vi) lokasi gigi; (vii) komentar mengenai tingkat kesuksesan dan
kegagalan (Tabel 2 dan 3).

Tabel 2. Penelitian retrospektif pasak

Penulis
Ferrari dkk, 2000
Balkenhol dkk, 2007

Durasi
4 tahun
10 tahun

N*
200
802

Fokkinga dkk, 2007

17 tahun

307

Jung dkk, 2007

5-10 tahun

72

Ferrari dkk, 2007

7-11 tahun 985

Gomes-Polo dkk, 2010

10 tahun

112

Sistem Pasak
Pasak fiber dan pasak dan inti logam cor
Pasak dan inti logam cor
Pasak dan inti logam cor, pasak logam
pabrikan dan inti komposit resin, pasak
tanpa komposit dan inti keseluruhan
komposit
Pasak dan inti logam cor dan pasak
komposit
Pasak fiber
Pasak dan inti logam cor dan pasak
titanium pabrikan

N = jumlah sampel

Tabel 3. Penelitian prospektif pasak


Penulis

Durasi

N*

Hatzikyriakos dkk, 1992

3 tahun

154

Glazer dkk, 2000


Monticelli dkk, 2003

4 tahun
2-3 tahun

52
225

Ellner dkk, 2003

10 tahun

50

Malferrari dkk, 2003


Grandini dkk, 2005
Naumann dkk, 2005
Mannocci dkk, 2005
Creugers dkk, 2005
Naumann dkk, 2007
Cagidiaco dkk, 2007
Schmitter dkk, 2007

30 bulan
30 bulan
2 tahun
5 tahun
5 tahun
3 tahun
2 tahun
2 tahun

205
100
105
219
319
91
162
100

Salvi dkk, 2007

4 tahun

325

97 bulan
5-79 bulan
32 bulan

69
149
120

Piovesan dkk, 2007


Naumann dkk, 2008
Bitter dkk, 2009
*
N = jumlah sampel
Hasil

Sistem Pasak
Pasak baut atau pasak emas dengan
inti resin dan pasak dan inti logam cor
Pasak fiber karbon
Pasak fiber glass dan karbon
Pasak dan inti logam cor dan pasak
pabrikan
Pasak fiber quartz
Pasak fiber
Pasak fiber
Pasak fiber
Pasak logam
Pasak titanium dan fiber
Pasak fiber
Pasak titanium dan fiber
Pasak dan inti logam cor dan pasak
titanium
Dikuatkan dengan fiber polyethylene
Pasak fiber
Pasak fiber quartz

Dua puluh dua artikel klinis dipilih. Sebagian besar artikel merupakan
penelitian retrospektif (n=16) dan 6 buah artikel merupakan penelitian cohort
retrospektif. Jumlah sampel berkisar antara 31 pasien hingga 911 pasien.
Dua artikel dikeluarkan dari ulasan ini karena merupakan penelitian yang
sama namun dalam waktu evaluasi yang berbeda, dan digunakan survey terbaru.
Satu artikel dikeluarkan karena tidak menjelaskan dengan jelas jumlah pasien,
hanya menyebutkan jumlah pasak. Tingkat pengurangan sampel hanya dilaporkan
oleh beberapa artikel, yaitu 2-3%, 9%, 11-32%, dan 15.55%, pasien ini
diantaranya meninggal atau tidak dapat ditemukan karena alamat rumah atau
nama mereka yang telah berubah atau tidak memenuhi panggilan.
Hasil utama penelitian yang dievaluasi yaitu kegagalan endodontik dan
periodontal, fraktur akar, kehilangan gigi, lepasnya pasak atau restorasi, dan
karies, sesuai dengan yang terdapat pada artikel ulasan dari Goodacre dkk (2003).
Ferrari dkk (2000) membandingkan pasak fiber karbon dengan pasak dan inti
logam cor, dan hasil observasi menunjukkan tingkat kesuksesan klinis masingmasing sebesar 95% dan 84%. Kegagalan yang ditemukan pertama kali yaitu lesi
periapikal (2%) dan fraktur akar terhadap pasak logam cor (9%). Glazer dkk
(2000) dengan cara yang sama menunjukkan 7.7% kegagalan berupa lesi
periapikal terjadi pada sekitar 50% pasak fiber karbon. Grandini dkk (2005),
Ferrari dkk (2007), dan Jung dkk (2007) mengobservasi jenis kegagalan yang
sama pada gigi yang direstorasi dengan pasak fiber selama 30 bulan, 7-11 tahun,
dan 5-10 tahun. Mannocci dkk (2005) melaporkan kegagalan yang melibatkan
karies atau fraktur akar, namun fraktur tersebut ditemukan pada gigi yang
direstorasi dengan amalgam tanpa pasak.
Piovesan dkk (2007) mengevaluasi penggunaan klinis pasak fiber selama
97 bulan dan menemukan fraktur pasak fiber sebagai kegagalan utama. Hasil yang
serupa juga ditemukan oleh Naumann dkk (2005), namun pada penelitian lainnya
Nauman dkk (2007) tidak menemukan kegagalan apapun setelah 24 hingga 36
bulan penggunaan pasak titanium dan fiber glass. Malferrari dkk (2003) dan
Cagidiaco dkk (2007) masing-masing menemukan 1.7% dan 4.3% kasus lepasnya

pasak fiber dalam waktu 30 bulan. Monticelli dkk (2003), setelah 2-3 tahun
menemukan 6.2% kasus lepasnya pasak. Tingkat kegagalan yang sama juga
ditemukan oleh Ellner dkk (2003) dengan membandingkan pasak logam cor
dengan pasak logam pabrikan selama 10 tahun, namun mereka tidak menyebutkan
jenis kegagalannya. Penulis menjelaskan bahwa hilangnya retensi pasak
merupakan jenis kegagalan utama, seperti yang dilaporkan oleh Balkenhol dkk
(2007), yang menggambarkan seringnya terjadi kegagalan selama dua tahun
pertama setelah insersi pasak logam.
Schmitter dkk (2007) menemukan bahwa tingkat ketahanan baut pasak
logam secara signifikan lebih rendah dari pasak fiber glass, dengan ekstraksi gigi
akibat fraktur akar gigi yang tidak direstorasi mencapai 63.63% dari seluruh
kegagalan. Salvi dkk (2007) juga menemukan banyaknya komplikasi yang
melibatkan fraktur akar (6.2%) berhubungan dengan pasak titanium pabrikan.
Hatzikyriakos dkk (1992) tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara
pasak logam setelah tiga tahun.
Pengaruh struktur koronal yang tersisa pada gigi yang bertahan dijelaskan
oleh beberapa penulis. Glazer dkk (2000), Ellner dkk (2003), Naumann dkk
(2007), dan Bitter dkk (2009) telah mengindikasikan setidaknya 2 mm ferrule
dibutuhkan untuk penempatan pasak. Bukti lain yang telah dikonfirmasi
ditunjukkan oleh penulis yang berbeda, yaitu adanya pengurangan kegagalan
restorasi postendodontik ketika meningkatkan jumlah dentin yang tersisa,
sehingga menambah retensi dan memberikan adanya bentuk resistensi, untuk
menambah daya tahan restorasi.
Aspek klinis lain mengenai gigi dengan perawatan endodontik yang juga
relevan namun masih kontroversial yaitu jenis gigi. Gomez-Polo dkk (2010)
menemukan tingkat kegagalan tertinggi (26.78%) terjadi pada premolar maksila.
Naumann dkk (2008) menemukan bahwa penempatan restorasi pada insisivus
atau caninus memiliki tingkat kegagalan sekitar 3 kali lebih besar dibandingkan
pada premolar atau molar. Balkenhol dkk (2007) menyimpulkan bahwa peluang
ketahanan tidak bergantung pada lokasi gigi pada lengkung rahang (anterior,

premolar, molar) maupun rahang (atas, bawah), meskipun Ferrari dkk (2007)
melaporkan bahwa lengkung gigi dan posisi gigi pada lengkung gigi merupakan
faktor resiko signifikan untuk kegagalan, di mana gigi atas posterior lebih sering
mengalami kegagalan dibandingkan gigi bawah dan gigi anterior.
Jenis sistem pasak dan inti tidak menujukkan adanya pengaruh terhadap
peluang ketahanan, meskipun selama ini diperkirakan tingkat ketahanan kumulatif
akan menurun secara bertahap, menjadi 94.6% setelah 5 tahun, 85.6% setelah 10
tahun, 70.5% setelah 15 tahun, dan akhirnya 60.4% setelah 18 tahun.
Diskusi
Survey ini memeriksa literatur yang telah ada mengenai evaluasi klinis
longitudinal sistem pasak. Hasil observasi menunjukkan hanya sedikit penelitian
klinis yang telah dilakukan, diperkirakan hal ini diakibatkan besarnya kesulitan
dalam melakukan penelitian in vivo yang telah terstandardisasi. Ulasan literatur
ini menyatakan bahwa gigi dengan perawatan endodontik tidak semakin kuat
dengan adanya pasak logam atau fiber. Peran pasak hanya untuk mendukung
bahan abutment dan restorasi final.
Definisi dari kesuksesan klinis didasarkan pada tidak adanya temuan
negatif pada pemeriksaan klinis. Penelitian prospektif menunjukkan banyaknya
varibel berpengaruh yang telah dikontrol pada tahap pemilihan kasus, dan grup
eksperimental dapat dibuat secara homogen pada seluruh variabel yang
berhubungan dengan penelitian. Model studi dapat digunakan dengan membatasi
efek faktor pengganggu, sehingga menghasilkan informasi yang lebih terpercaya,
reliabel, dan berharga. Penelitian klinis retrospektif mengenai sistem pasak dan
inti telah dilakukan, dan hasilnya lebih kuat dibandingkan hasil serupa yang
ditemukan tanpa dapat mengontrol faktor tersebut. Faktor yang telah disebutkan
di atas, menunjukkan hubungan antara prognosis restorasi post endodontik dengan
faktor yang mempengaruhinya, seperti tipe oklusi, posisi gigi pada lengkung
rahang, penempatan mahkota, atau tipe abutment.

Banyak penelitian yang memiliki hasil serupa mengenai perbandingan tipe


sistem pasak, namun pasak logam berhubungan dengan komplikasi yang lebih
tidak menguntungkan, seperti fraktur akar. Pasak sebaiknya memiliki modulus
elastisitas yang serupa dengan dentin agar penyebaran tekanan yang merata
sepanjang pasak. Pasak paralel berulir menghasilkan resistensi pelepasan terhadap
saluran akar yang paling besar, sementara pasak paralel dengan semen diketahui
lebih retentif dibandingkan pasak tapered dengan semen. Tekanan yang
dikonsentrasikan pasak paralel terhadap akar lebih kecil karena berkurangnya
wedging effect; akibatnya, jenis pasak ini menyebabkan lebih sedikit fraktur akar
dibandingkan pasak tapered. Pasak tapered membutuhkan pengurangan dentin
yang lebih sedikit, karena kebanyakan akar berbentuk tapered dan pasak ini
terutama diindikasikan untuk digunakan pada gigi dengan akar sempit dan
morfologi yang kompleks. Pasak bergerigi berbentuk paralel memiliki tingkat
kegagalan yang hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan sistem pasak tapered.
Hubungan antara geometri gigi dan posisi gigi pada lengkung rahang dan
pemilihan tipe retainer yang digunakan pada gigi yang telah dirawat endodontik
cukup diperbincangkan namun masih kontroversial. Penempatan restorasi pada
insisiv atau caninus memiliki tingkat kegagalan sekitar tiga kali lebih tinggi
dibandingkan penempatan restorasi pada gigi premolar atau molar. Temuan ini
dapat dijelaskan dengan lebih tingginya gaya tekan horizontal pada gigi anterior
dibandingkan dengan vektor gaya tekan pada gigi posterior yang lebih tegak lurus.
Penggunaan pasak resin yang diperkuat dengan karbon pada gigi premolar,
terutama pada premolar rahang bawah, dapat dihubungkan dengan tingginya
tingkat kegagalan dan rendahnya daya tahan dibandingkan pada gigi anterior.
King dkk (2003) melaporkan bahwa menurut percobaan mereka, kekuatan pasak
fiber karbon menurun sebanyak sepertiga kali ketika direndam dalam air selama
24 jam. Pasak yang diperkuat dengan carbon fiber menyerap air secara perlahan
dari jaringan sekitar selama fungsi klinis melalui difusi, sehingga mengakibatkan
reduksi pada kekuatan yang dapat turut menyebabkan terjadinya kegagalan klinis.
Jenis restorasi akhir dan adanya gigi yang berdekatan menjadi penentu signifikan

tingkat kegagalan pada gigi yang direstorasi dengan pasak yang diperkuat dengan
fiber glass.
Sebagian besar penelitian klinis menunjukkan bahwa kegagalan yang
terjadi pada pasak dan inti logam cor adalah fraktur berat. Salah satu penyebab
terjadinya fraktur akar yang terdapat pada pasak dan inti logam cor, yaitu adanya
tekanan yang terkonsentrasi pada area yang tidak terkontrol di mana fraktur dapat
terjadi. Penyebab kegagalan lain yaitu karena pasak dan inti logam cor memiliki
retensi (disebabkan gesekan sepanjang dinding akar yang dapat mengantarkan
tekanan langsung ke struktur akar, berhubungan dengan area di mana dinding
dentin lebih tipis dan akibatnya lebih resisten), kemudian fraktur dapat terjadi.
Kegagalan yang terjadi pada pasak yang diperkuat dengan fiber adalah
kegagalan periapikal, lepasnya pasak sebagian besar disebabkan oleh kesalahan
dalam sementasi atau saat penghilangan restorasi sementara. Hal ini dapat diatasi
dengan mudah dengan sementasi baru, sehingga dapat memperpanjang fungsi
untuk jangka waktu yang panjang. Adanya pasak belum tentu menjadi faktor yang
menyebabkan kegagalan endodontik, namun kondisi periapikal terhadap
perawatan, batas apikal, dan kualitas pengisian dapat menjadi faktor utama yang
mempengaruhi kesuksesan perawatan. Perawatan saluran akar dengan kualitas
yang tinggi dan prosedur restorasi yang tepat pada setiap situasi klinis spesifik
berpengaruh tehadap tingginya tingkat ketahanan dan rendahnya tingkat
komplikasi pada saluran akar yang telah diisi.
Kegagalan mekanis pada gigi yang direstorasi dengan pasak yang
diperkuat dengan fiber dapat berhubungan dengan jumlah stuktur koronal
residual. Penelitian prospektif menunjukkan bahwa jenis pasak dan inti tidak
berhubungan dengan ketahanan, namun jumlah dentin yang tersisa setelah
preparasi mempengaruhi usia restorasi pasak dan inti secara signifikan. Desain
preparasi yang melibatkan bagian servikal gigi dapat menahan gaya lateral dengan
lebih baik dibandingkan preparasi shoulder. Ferrule menambahkan retensi, namun
utamanya menyediakan bentuk resistensi dan menambah usia gigi dengan
perawatan endodontik yang direstorasi dengan pasak dan inti. Paling sedikit 1.5-2

mm ferrule dari dentin telah digambarkan secara konsisten sebagai faktor penting
untuk kesuksesan sistem pasak dan inti. Fokkinga dkk (2007) menyarankan untuk
menggunakan pasak dan inti logam cor pada kasus tidak adanya coronal ferrule.
Tabel 2 dan 3 menunjukkan ringkasan penelitian klinis yang dievaluasi
dalam survey ini, terlihat bahwa perbedaan sistem pasak dan inti dapat
memberikan penampilan klinis yang baik. Faktor paling penting yaitu untuk
melakukan pemilihan sistem pasak dan inti yang tepat, penggunaan bahan
sementasi yang akurat, dan mengevaluasi pengisian akar yang tersisa dengan baik.
Pengamatan mengenai ada atau tidak adanya ferrule dan penentuan jenis restorasi
tetap apa yang dibutuhkan dapat meningkatkan usia dan mencegah kegagalan di
kemudian hari.
Ulasan bukti klinis yang tersedia pada penggunaan sistem pasak untuk
restorasi gigi dengan perawatan endodontik mengarah pada simpulan: pemilihan
gigi dan pasak yang adekuat harus dilakukan; jumlah struktur gigi yang dikurangi
minimal; sebaiknya terdapat ferrule untuk indikasi keamanan pasak fiber; pasak
fiber glass menunjukkan ketahanan yang baik dalam penelitian klinis, dengan
hasil serupa dengan pasak logam; pasak logam memiliki ketahanan klinis yang
baik, namun kegagalan yang berhubungan sebagian besar bersifat irreversible,
tidak seperti yang terjadi pada pasak fiber glass.