Anda di halaman 1dari 10

DESKRIPSI PROSES PEMBUATAN ETIL ASETAT

DI PT SHOWA ESTERINDO INDONESIA

I. Deskripsi Umum
Proses pembuatan Etil Asetat yang dikembangkan oleh SHOWA DENKO K.K
terdiri atas:
1. Seksi Reaksi
2. Seksi Destilasi
Pada seksi reaksi, Etil Asetat dihasilkan dari reaksi langsung antara Etilen
dengan Asam Asetat serta antara Etanol dan Asam Asetat pada vase uap.
Reaksinya terdiri atas reaksi utama dan reaksi samping dimana reaksi
samping terjadi karena adanya air (water) yang terkandung dalam umpan
yang masuk ke reaktor.
1)

2)

Reaksi Utama
C2H4
+ CH3COOH
Etilen + Asam Asetat

CH3COOC2H5
Etil Asetat

C2H5OH + CH3COOH
Etanol + Asam Asetat

CH3COOC2H5 + H2O
Etil Asetat
+ Air

Reaksi Samping
C2H4
+ H2O
Etilen + Air

C2H5OH
Etanol

2 C2H4
+ H2O
2 Etilen + Air

C2H5OC2H5
Dietil Eter

Asam Asetat dan Etanol diuapkan dan dicampur dengan Etilen di vaporizer
(H-102) kemudian dipanaskan lebih lanjut oleh Steam tekanan medium (MS)
di H-103 sampai mencapai suhu reaksi. Setelah mencapai suhu reaksi,
dimasukkan ke dalam Reaktor. Ada 3 Fixed Bed Reactor (R-101/R-102/R103) yang dipasang seri. Didalam Reaktor Etilen dan Asam Asetat diubah
menjadi Ethyll Acetate. Prosesnya adalah proses eksothermis dimana panas
yang dihasilkan digunakan untuk membuat Steam tekanan rendah (LS).
Gas hasil reaksi yang keluar dari reaktor melewati beberapa alat penukar
panas (Heat Exchanger) dan mengembun sebagian. Etil Asetat, sisa Etanol
dan sisa Asam Asetat berubah menjadi fase cair sedangkan sisa Etilen masih
dalam fase gas. Gas hasil reaksi yang telah didinginkan diumpankan ke
Scrubber (T-111) dimana gas yang tidak mengembun seperti sisa Etilen dan
Ethane dipisahkan dari Etil Asetat, sisa Etanol dan sisa Asam Asetat di T-111.
Ethane terkandung dalam bahan baku (Etilen) dan tidak bereaksi. Setelah
dicuci dengan Asam Asetat. Gas yang tidak mengembun sebagian kecil

dikeluarkan dari sistem untuk menghindari akumulasi Ethane di dalam sistem.


Gas tersebut kemudian dinaikkan tekanannya dengan Cycle Gas
Compressor (C-121), dan dikembalikan ke reaktor.
Cairan hasil kondensasi (Etil Asetat, sisa Etanol dan sisa Asam Asetat)
diumpankan ke V-113 untuk dipisahkan dari gas yang terlarut. Gas yang
keluar dari V-113 dinaikkan tekanannya dengan Flash gas compressor (C201/C-202) dan dikembalikan ke Scrubber (T-111). Sedangkan cairan yang
telah dipisahkan dari gas terlarut kemudian diumpankan ke Azeotropic Tower
(T-211).
Cairan yang diumpankan ke Azeotropic Tower (T-211) dipisahkan menjadi 3
kelompok, yaitu Asam Asetat dan Air sebagai hasil bawah, Dietil Eter sebagai
hasil atas, sedangkan Etil Asetat dan Etanol diambil dari samping (side cut).
Asam Asetat - Air yang terpisah di dasar T-211 dikembalikan ke V-102. Etil
Asetat - Etanol yang keluar dari jalur side cut, kemudian diumpankan ke
Extractive Destillation Tower (T-221). Sedangkan Dietil Eter sebagai hasil atas
diumpankan ke boiler untuk dibakar.
Di Extractive Destillation Tower (T-221) Etil Asetat dipisahkan dari Ethanol
dengan cara diekstraksi oleh air, dimana Etanol akan larut dalam air sebagai
hasil bawah, sedangkan Etil Asetat sebagai hasil atas. Etil Asetat yang telah
dipisahkan, diumpankan ke Product Tower (T-241).
Di Product Tower (T-241) Etil Asetat dimurnikan dari sisa Dietil Eter dan
Etanol, dimana Etil Asetat sebagai hasil bawah sedangkan sisa Dietil Eter dan
Etanol sebagai hasil atas. Sisa Dietil Eter dikembalikan ke T-211 dan sisa
Ethanol dikembalikan ke T-221 sedangkan Etil Asetat sebagai hasil bawah
diumpankan ke Heavy Ends Tower (T-251).
Di Heavy Ends Tower (T-251) Etil Asetat dimurnikan dari Heavy Ends. Etil
Asetat yang telah dimurnikan di kirim ke tangki TK-401.
Sementara itu Etanol dan Air yang keluar sebagai hasil bawah T-221
diumpankan ke Ethanol Recovery Tower (T-231) untuk dipisahkan. Di T-231
Etanol sebagai hasil atas sedangkan air sebagai hasil bawah. Etanol yang
telah dipisahkan kemudian dikirimkan ke Ethanol Recovery Tank (TK-334)
untuk kemudian diumpankan ke IER reactor (Y-334). Sedangkan air yang
telah dipisahkan di T-231 diumpankan ke T-221 untuk menyerap Etanol.

2.

Deskripsi Proses Secara Detail

(1) Seksi Reaksi


Kondisi reaksi di fixed bed reactor (R-101/R-102/R-103) adalah sebagai
berikut:
Fase
: Uap
Temperatur : 155oC (SOR) ~ 172oC (EOR)
Tekanan
: 0.85 MPaG (SOR) ~ 0.93 MPaG (EOR)
Air diperlukan agar aktivitas katalis terjaga dalam waktu yang lama.
Katalis dimasukkan ke masing-masing reaktor yang berjumlah tiga dan
tersusun seri. Katalis berdiameter 5.2 mm, dimana SiO 2 sebagai carrier yang
diisi garam lithium tungstophosporic acid.
Temperatur gas yang bereaksi naik karena reaksinya eksotermis. Sehingga
cooler tipe kettle (H-104, H-105) dipasang diantara reaktor untuk mengambil
panas reaksi oleh kondensat (SC2) dimana SC2 akan menguap menjadi
Steam tekanan rendah (LS).
Karena aktifitas katalis semakin lama semakin turun, maka temperatur reaksi
harus dinaikkan untuk menjaga agar jumlah produk tidak turun. Tetapi
selektivitas katalis akan turun dengan semakin naiknya temperatur. Resistensi
katalis terhadap panas adalah 350 oC, tetapi harus dijaga agar temperatur di
katalis tidak lebih dari 200 oC untuk mencegah terjadinya reaksi polimerisasi
dari Etilen. Disamping itu katalis mudah larut dalam air sehingga harus
dihindari bertemunya mist ke lapisan katalis, juga harus dihindari terjadinya
kondensasi uap yang masuk ke reaktor.
Sebagai bahan baku adalah Asam Asetat, Etilen dan Etanol. Asam Asetat
fresh diumpankan dari TK-301 ke Acetic Acid Drum (V-102), sedangkan Asam
Asetat aqueous (mengandung air) diumpankan dari hasil bawah Azeotropic
Tower (T-211). Etanol diumpankan dari Ethanol Tank (TK-333) ke Acetic Acid
Drum (V-102). Etilen diumpankan ke discharge dari Cycle Gas Compressor
(C-121) masuk ke Acetic Acid Vaporizer (H-102) dan bercampur dengan
Asam Asetat aqueous dan Etanol kemudian dipanaskan dan diuapkan oleh
Steam tekanan rendah (LS).
Sejumlah high boiling material (HBM) yang terkandung dalam Asam Asetat
dan Fe akan terakumulasi di V-102, sehingga sebagian cairan dari V-102
diumpankan ke T-131 untuk dipisahkan HBM dan Fe dari Asam Asetat. Di T131 Asam Asetat teruapkan dan menuju T-211, sedangkan HBM dan Fe akan
terkonsentrasi di T-131 btm dan dikirimkan ke Boiler untuk dibakar (disebut
Waste Oil Liquid).
Asam Asetat aqueous dan Etanol yang telah diuapkan di H-102 dan cycle gas
kemudian dipanaskan lebih lanjut sampai temperatur tertentu oleh Steam
tekanan medium (MS) di Super Heater (H-103), setelah sebelumnya

dipisahkan dari mist yang tidak teruapkan dengan demister dan tray yang
dipasang di V-102 sebelah atas. Kemudian diumpankan dari sisi atas reaktor
sebagai reaction feed gas.
Gas yang masuk ke dalam reaktor memiliki komposisi seperti dibawah ini:
Komponen
Etilen
Asam Asetat
Air (water)
Etanol & others

Konsentrasi (% mol)
80 (max)
8
4 ~ 5.5
balance

Konsentrasi air di dalam reaktor adalah faktor penting dan harus dijaga 4 ~
5.5% mol. Jika konsentrasi air terlalu tinggi, adsorbsi katalis akan terganggu
dan Etil Asetat yang dihasilkan akan turun. Disisi lain bila konsentrasi air
terlalu rendah, hasilnya naik namun kecepatan fouling katalis akan naik
menyebabkan aktivitas katalis menurun dan umur katalis menjadi pendek.
Gas hasil reaksi yang yang keluar dari rekator didinginkan sampai 45 oC
melalui beberapa alat penukar panas (Heat Exchanger) berikut ini, dan
sebagian gas dikondensasi (Etil Asetat, sisa Etanol dan sisa Asam Asetat,
dsb) kemudian diumpankan ke Cycle Gas Scrubber (T-111) untuk
memisahkan gas yang tidak terkondensasi (Etilen dan Ethane).
Heat
Media pendingin
Inlet Temperatur (oC)
Exchanger
H-106
Cycle gas
103.0
H-107
Cairan umpan ke T-211
46.0
H-108
Cairan umpan ke T-221
45.0
H-109
Cooling water
33.0
H-110
Cycle gas
83.0
Kondensat turun ke tower bawah dari T-111. Sedangkan gas yang tidak
terkondensasi naik melewati 40 tray sambil kontak dengan Asam Asetat
aqueous dari Azeotropic Tower (T-211) yang diumpankan dari sisi atas T-111
untuk menangkap Etil Asetat yang belum terkondensasi agar konsentrasi Etil
Asetat di T-111 top lebih rendah dari 1000 ppm sehingga tidak mempengaruhi
reaksi. Panas kondensasi yang timbul akan menaikkan suhu T-111, sehingga
sebagian cairan di bottom tower didinginkan oleh cooling water (CW) di H-111
dan kemudian dikembalikan ke T-111 sehingga temperatur T-111 tetap stabil.
Cycle gas yang telah dicuci dengan Asam Asetat, mengandung gas inert
(Ethane) yang terakumulasi di dalam sistem. Untuk mencegah gas inert
terakumulasi, setelah keluar dari T-111 top sebagian kecil gas dikeluarkan dari
sistem. Gas ini dibakar di Flare stack (Y-701) dan sebagian dibakar di Boiler
(waste gas) setelah melalui Blow down tower (T-311). Cycle gas yang keluar
dari T-111 top dipisahkan dari mist di Knock out Drum (V-112), kemudian
dinaikkan tekananya oleh Cycle Gas Compressor (C-121). On-line analyser
dipasang di jalur (line) yang masuk ke C-121 dimana konsentrasi Etilen

dianalisa secara kontinyu, dan digunakan untuk mengatur komposisi gas


yang masuk ke reaktor.
Tekanan Cycle gas di sistem turun karena adanya penurunan tekanan
(pressure drop), sehingga perlu dinaikkan tekanannya sampai 0.95 MpaG di
C-121. Dan untuk menggantikan Etilen yang berkurang karena bereaksi,
Etilen diumpankan ke sisi discharge C-121. Kemudian temperatur gas
dinaikkan di H-106 dan H-110 untuk kemudian diumpankan ke Acetic Acid
Vaporizer (H-102).

(2) Seksi Pemurnian


1)

Sistem recovery untuk flash gas

Cairan di T-111 bottom dikirimkan ke Flash Drum (V-113) dengan level control.
Gas yang tidak terkondensasi (non condensable gas) seperti Etilen dan
Ethane terlarut dalam cairan di T-111. Gas-gas tersebut dipisahkan dari cairan
dengan cara penurunan tekanan dari 0.55 MPaG ke 0.02 MPaG di V-113.
Gas tersebut kemudian dinaikkan tekanannya oleh Flash Gas Compressor
(C-201, C-202) dan dikembalikan ke T-111.
Non condensable gas masuk ke C-201 dan dinaikkan tekanannya. Kemudian
masuk ke C-202 setelah sebelumnya dipisahkan dari seal liquid di V-201. Di
C-202, gas dinaikkan tekanannya sampai 0.74 MPaG dan dikembalikan ke
seksi tengah T-111 setelah sebelumnya dipisahkan dari seal liquid di V-202.
Cairan dari T-211 botom digunakan sebagai seal liquid untuk Flash gas
compressor. Seal liquid diumpankan ke V-202 dari T-211 btm setelah
didinginkan di H-217A dan H-217 dan dalam jumlah yang tetap dimasukkan
dari V-202 ke C-202 dengan pompa P-202. Sisanya dikirimkan ke V-201
dengan V-202 level control. Dengan cara yang sama, dalam jumlah yang
tetap dimasukkan dari V-201 ke C-201 dengan pompa P-201 dan sisanya
dikirimkan ke V-113 dengan V-201 level control.
Tekanan di V-113 dijaga pada tekanan 0.02 MpaG agar gas yang terlarut
keluar dan terpisah sempurna. Untuk menjaga agar tekanan stabil di 0.02
MpaG, digunakan split control V-1, V-2 dan V-3. Dengan kata lain, saat
tekanan di V-113 turun, valve V-2 pada jalur C-202 discharge ke C-201
suction akan membuka untuk mencegah tekanan turun dengan cara sirkulasi
gas seperti minimum flow. Bila tekanannya masih turun, valve V-1 akan
membuka sehingga Nitrogen akan masuk untuk mencegah tekanan turun.
Saat tekanan di V-113 naik, valve V-3 akan membuka dan kelebihan gas akan
dibuang ke T-311. Gas yang dibuang ke T-311 akan dibakar di Flare stack (Y701).

2) Sistem Pemisahan Asam Asetat dan recovery Diethyl Ether.


Sistem ini penting untuk seksi reaksi maupun untuk spesifikasi produk.
Azeotropic Tower (T-211) berisi 35 tray dan packing di sisi puncak tower. Di T211 Asam Asetat aqueous keluar dari bawah tower sedangkan azeotrop yang
terbentuk dari Etil Asetat, Air dan Etanol keluar sebagai side cut vapor.
Sedangkan Dietil Eter terkonsentrasi di puncak tower.
Cairan yang telah dipisahkan dari gas yang terlarut di V-113, dikirimkan ke
T-211 feed preheater (H-107) dengan pompa P-113. Cairan dipanaskan oleh
gas yang keluar dari reaktor dan kemudian diumpankan ke seksi tengah
T-211. Tekanan tower T-211 dioperasikan pada 0.147 MPaG. Untuk
mengembunkan Dietil Eter yang mempunyai titik didih rendah dengan
Cooling water (CW) yang bersuhu 33oC. Medium Steam (MS) digunakan
untuk reboiler (H-211) sebagai sumber panas. Cairan yang masuk T-211
didestilasi, dan Azeotrop Etil Asetat, air dan Etanol terbentuk di tray paling
atas, kemudian dikeluarkan dari side cut.
Sebagian uap side cut digunakan sebagai pemanas untuk reboiler (H-246) di
T-241. Kemudian uap tersebut mengembun dan terakumulasi di V-246.
Tekanan V-246 dijaga pada 0.135 MPaG yang lebih rendah dari tekanan di T211 untuk menjaga temperatur yang dibutuhkan untuk destilasi T-241 dan
melancarkan aliran ke H-246. Kondensat di V-246 dikirimkan ke H-213
dengan pompa P-246, kemudian bersama dengan uap yang tersisa,
diembunkan dan didinginkan sampai temperatur 45oC dan terkumpul di V213. Di V-213 kondensat terpisah menjadi dua fase yaitu fase oil dan fase air,
dimana fase oil kaya dengan Etil Asetat berada di sisi atas, sehingga fase oil
akan overflow melewati weir dan terpisah. Untuk menekan konsentrasi Asam
Asetat di side cut kurang dari 100 ppm, semua cairan fase air dan sebagian
cairan fase oil dikembalikan ke T-211 sebagai refluk. Sedangkan fase oil
sisanya dikirimkan ke T-221 feed preheater (H-108) untuk dipanaskan.
Setelah dipanaskan oleh gas hasil reaksi, diumpankan ke Extractive
distillation tower (T-221).
Overhead condenser (H-212) mengembunkan Dietil Eter, yang terakumulasi
di sisi puncak tower. Sebagian cairan dikembalikan ke T-211 sebagai refluk
dan sebagian yang lain dikirim ke V-232 untuk dibakar di boiler. Gas yang
tidak terkondensasi seperti Etilen dikirimkan ke Flare stack (Y-701) melewati
T-311 untuk dibakar.
Tekanan tower dikontrol dengan split control PIC-2202A dengan V1 & V2. Jika
tekanan tower naik, valve V2 membuka untuk membuang kelebihan gas
yang tidak terkondensasi. Jika tekanan tower turun V2 menutup. Bila tekanan
terus turun, valve V1 akan membuka sehingga Nitrogen akan masuk ke
tower.
Sebagian Asam Asetat aqueous dari T-211 btm diumpankan ke V-102 sebagai
bahan baku. Sebagian yang lain didinginkan suhunya sampai 40 oC dengan
CW kemudian diumpankan ke T-111 sebagai cairan untuk mengabsorpsi Etil
Asetat dan juga digunakan sebagai seal liquid untuk flash gas compressor.

Adalah sangat penting untuk menjaga konsentrasi air dalam Asam Asetat
aqueous di T-211 btm. Bila konsentrasi air telalu tinggi, hasil reaksi turun. Bila
konsentrasi air terlalu rendah, catalyst fouling akan berlangsung. Oleh karena
pengaturan konsentrasi air sangat penting untuk sistem, konsentrasi air
dimonitor secara terus-menerus dengan on-line analyser yang terpasang
pada jalur outlet dari T-211 btm.
Normalnya, konsentrasi air dijaga antara 17~18% untuk menjaga konsentrasi
air di reaktor tetap. Bila konsentrasi lebih rendah, penambahan air dilakukan
dari Pure water (PW) ke V-113 atau PW ke T-211 atau PW ke P-211 suction.
Jika level T-211 naik karena fluktuasi, kelebihan cairan dikirimkan ke V-113
atau ke Slop tank (V-331) dengan level control. Bila level telah normal
kembali, cairan di V-331 tersebut dikembalikan ke tower T-211.
3)

Sistem Pemurnian Etil Asetat

CAiran fase oil di V-213 diumpankan ke Extractive Distillation Tower (T-221)


yang memiliki 40 tray, setelah sebelumnya dipanaskan oleh gas hasil reaksi di
H-108. Sebagai pelarut (solvent) untuk mengekstraksi digunakan air, dimana
cairan dari V-213 masuk ke tray 15 sedangkan air masuk ke tray 30. Sebagai
pemanas digunakan Low Steam (LS).
Cairan dari V-213 didistilasi dan naik ke puncak tower sedangkan Etanol diekstraksi oleh air dengan aliran lawan arah. Azeotrop Etil Asetat dan air yang
keluar dari puncak tower dikondensasikan dan didinginkan sampai 45 oC
dengan CW terkumpul di V-222. Di V-222 cairan terpisah menjadi fase oil
yang kaya akan Etil Asetat dan fase air. Semua fase air di refluk ke T-221.
Sebagian fase oil di refluk ke T-221 sedangkan sebagain yang lain
diumpankan ke Product Tower (T-241). Cairan di T-221 btm yang terdiri atas
sebagian besar air, sedikit Etanol dan sedikit Asam Asetat diumpankan ke
Ethanol Recovery Tower (T-231).
Ethanol recovery tower (T-231) didalamya terisi packing. Fungsinya adalah
untuk memisahkan Etanol dari air. Cairan T-221 bottom diumpankan ke seksi
tengah dari T-231. LS dimasukkan ke T-231 btm secara langsung untuk menstrip Etanol. dimana Etanol akan naik dan terakumulasi di puncak tower,
kemudian dikondensasi di Overhead Condenser (H-232). Sebagian Etanol di
refluk, sedangkan sebagian yang lain dikirimkan ke Ethanol Recovery Tank
(TK-334) untuk kemudian diumpankan ke IER reactor (Y-334).
Sebagian air di T-231 bottom dibuang ke Y-351A/B karena mengandung
sejumlah kecil Asam Asetat. Sedangkan sebagian besar lainnya dikembalikan
ke T-221 sebagai pelarut (solvent).
Cairan fase oil di V-222 diumpankan ke seksi tengah Product Tower (T-241)
sebagai crude Etil Asetat, dimana sedikit air, Dietl Eter dan Etanol yang
terkandung didalamnya akan dipisahkan dengan Etil Asetat. T-241
dioperasikan pada tekanan atmosfer. Oleh karena itu digunakan packing
untuk memperkecil beda tekanan (differential pressure), dan dipasang Seal

pot (Y-242 & Y-245) di V-242 untuk meng-seal tower dengan Nitrogen 1.5
KpaG.
Azeotrop Etil Asetat, air dan sedikit Dietil Eter dan Etanol di puncak tower
diembunkan dan didinginkan sampai 45 oC dengan CW dan diakumulasi ke V242. Di V-242 cairan terpisah menjadi fase oil yang kaya akan Etil Asetat dan
fase air. Sebagian fase oil di refluk ke T-241 sedangkan sebagian yang lain
dikembalikan ke T-211 top karena mengandung sedikit Dietil Eter. Semua
cairan fase air dikembalikan ke T-221 karena mengandung sedikit Etanol. Etil
Asetat di T-241 bottom diumpankan ke T-251 untuk dipisahkan dari Heavy
Ends.
Heavy Ends Tower (T-251) didalamnya terisi packing. T-251 dioperasikan
pada tekanan atmosfer dan dipasang Seal pot (Y-252) di V-252 untuk mengseal dengan Nitrogen 1.5 KpaG. Di T-251 Etil Asetat naik ke puncak tower
kemudian diembunkan dan didinginkan sampai 45 oC dengan CW dan
diakumulasi ke V-252. Produk Etil Asetat di V-252 dikirimkan ke TK-401.
Sedangkan Heavy Ends yang terakumulasi di T-251, akan dibuang ke luar
secara batch bila kemurnian produk di V-252 turun. Bila produk Etil Asetat
menjadi off spec, EA rundown dipindah dari TK-401 ke Etil Asetat Slop Tank
(V-332).
(3) Equipment lain
1)

T-311

Purge gas yang dibuang dari C-121 suction dan cycle gas yang yang
dibuang ke Flare stack (Y-701) saat Shut Down mengandung gas yang
mudah terbakar (flammable gas) seperti Etilen, Ethane dan sejumlah kecil
gas organik seperti Asam Asetat dan Dietil Eter. Sebelum gas tersebut
dibakar di Flare stack (Y-701) dilewatkan ke T-311 dimana senyawa organik
diabsorpsi oleh PW yang dimasukkan ke puncak T-311. PW yang
mengandung senyawa organic dalam jumlah besar diumpankan ke V-232
untuk dibakar di boiler.
Gas yang dibuang ke Flare stack lewat T-311 adalah:
Gas dari C-121 suction, saat shut down
Gas dari C-201 suction (FIC-1334)
Gas dari T-211 top (PIC-2202A)
Gas dari V-242 scrubber
Venting gas dari setiap safety valve (normal close)
Gas dari T-111 top, saat shut down (PIC-12012)
Venting gas dari V-331/V-331 (normal close)
2)

Blow-down tank (V-321)

Cairan dari setiap system harus dikeluarkan bila terjadi Shut Down atau
perbaikan peralatan, tetapi cairan tersebut tidak dapat dibuang ke ruang
terbuka. Oleh karena itu cairan tersebut dikumpulkan di Blow-down tank (V321). Vessel tersebut dipasang pada posisi lebih rendah dari permukaan

tanah (under ground pit) sehingga cairan mudah mengalir secara gravitasi.
Cairan yang terkumpul di V-321 menyebabkan level vessel naik. Saat level
tinggi, cairan ditransfer ke V-331.
V-321 di-seal dengan Nitrogen pada tekanan atmospheric. Jika tekanan naik
oleh uap atau perubahan level, kelebihan gas akan dibuang ke Seal pot (Y321). Jika tekanan turun, Nitrogen akan masuk.
3)

Slop tanks (V-331, V-332)

Ada dua slop tank yaitu V-331 dan V-331. V-331 diperuntukkan untuk larutan
Asam Asetat sedangkan V-332 diperuntukan untuk Etil Asetat karena material
V-331 adalah SUS-316 sedangkan V-332 adalah SUS-304. Cairan dari T-211
bottom dan cairan dari V-321 dikirimkan ke V-331 untuk kemudian direcovery
ke T-211. Sedangkan fase oil dari V-213, T-241 dan offspec product dari V252 dikirimkan ke V-332 untuk kemudian direcovery ke T-211 atau ke V-213.
Pompa P-331 digunakan untuk kedua vessel.
Kedua vessel dijaga pada kondisi atmosfer. Jika tekanan naik oleh uap atau
perubahan level, kelebihan gas akan keluar melalui breather valve. Jika
tekanan turun, udara akan masuk.
4) Steam condensate drum
Ada dua macam steam yang dugunakan yaitu Medium Steam (MS) dan Low
Steam (LS). Demikian pula dengan kondensat yang dihasilkan ada dua
macam yaitu SC2 (condensate tekanan 0.2 MPaG) dan SC0 (kondensat
tekanan 0 MPaG). SC2 dikirimkan ke SC2 drum (V-341) dimana uap yang
terbentuk dikembalikan ke LS header.
Dari V-341, dengan menggunakan pompa P-341, SC2 dikirimkan ke:
Jaket R-101, R-102, R-103 (sekarang tidak digunakan)
H-104 dan H-105
Y-341 (untuk desuperheater)
Kelebihan SC2 di V-341 dikirimkan ke SC0 drum (V-342) dengan level control.
Sedangkan SC0 dari V-342 diumpankan ke boiler untuk diubah menjadi
Steam. Alat pengukur konduktivitas dipasang di V-342.
5) Pond (Y-351A/B dan Y-353)
Air buangan dari T-231, T-301, Y-701 dan Y-352 dikirimkan ke Y-351.
Umumnya Y-351A untuk air buangan dari T-231 atau Y-352 dengan
konsentrasi organik tinggi, disamping juga dari T-301 dan Y-701. Sedangkan
Y-351B untuk untuk air buangan dari T-231 atau Y-252 dengan konsentrasi
organik rendah.
Air buangan dari Y-351A atau B diatur konsentrasi organiknya di Y-353 untuk
kemudian diumpankan WWT unit dengan menggunakan pompa P-351A/B.

6) Flare Stack (Y-701)


Gas yang mudah terbakar (flamable gas) dari plant dibuang ke Flare stack
(Y-701) untuk dibakar. Flare stack memiliki seal drum yang diisi dengan air
untuk mencegah back fire. Gas Etilen digunakan sebagai bahan baker untuk
pilot burner, namun bila suplai gas Etilen stop, sebagai bahan bakar
digunakan LPG. Untuk mencegah munculnya asap hitam (black smoke) diinject dengan MS.
(4) Tanki Penyimpanan
1)

Tanki Asam Asetat dan Scrubber

Asam Asetat yang digunakan sebagai bahan baku dimasukkan kedalam AA


stock tank (TK-502) yang berlokasi di PT REDECO, kemudian ditransfer ke
TK-301 dengan pompa P-502. TK-301 di-seal dengan nitrogen pada tekanan
atmosfer. Jika tekanan naik oleh uap yang terbentuk atau perubahan level
cairan, gas akan keluar ke Acetic Acid Scrubber (T-301). Jika tekanan turun,
Nitrogen akan masuk untuk mencegah kondisi vakum. Dari Tk-301 Asam
Asetat diumpankan ke V-102 dengan P-301A.
Acetic Acid Scrubber (T-301) didalamnya terisi packing. FW dimasukkan ke
puncak tower dan mengabsorbsi uap Asam Asetat. Air yang keluar dari T-301
bottom mengandung sedikit Asam Asetat, dikirimkan ke Y-351A untuk diolah
di WWT Unit.
2)

Tanki Ethyl Acetate

Etil Asetat murni dari V-252 dikirimkan ke Product Tank (TK-401). Dari sini,
Etil Asetat diisikan ke lorry dengan pompa P-403 dan dikirim ke TK-501 yang
berlokasi di PT REDECO dengan pompa P-401. Di TK-501 Etil Asetat diisikan
ke kapal untuk diexport dengan pompa P-501. Kedua tanki di-seal dengan
Nitrogen pada tekanan atmosfer. Jika tekanan naik oleh uap yang terbentuk
atau perubahan level cairan, gas akan keluar ke atmosfer. Jika tekanan turun,
Nitrogen akan masuk untuk mencegah kondisi vakum.