Anda di halaman 1dari 43

UNDANG-UNDANG TENTANG

PEMILIHAN UMUM

ARI DWIPAYANA
Universitas Gadjah Mada

Bimbingan Teknis DPRD

Biodata Ringkas

Nama : AA.GN. Ari Dwipayana


Pekerjaan: Dosen Jurusan Politik dan
Pemerintahan FISIPOL UGM, Dosen Program
Studi Ilmu Politik Pasca Sarjana UGM dan
Program S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah
UGM.
Alamat email: aagndwipayana@yahoo.com
No Kontak: 0274552212 dan 0811282413

Bimbingan Teknis DPRD

Pengantar
Setelah pengambilan keputusan di sidang
paripurna tanggal 12 April 2012, Undangundang tentang Pemilu telah disepakati
bersama antara DPR dan Pemerintah. Saat ini
menunggu proses pengesahan dari Presiden
dan selanjutnya diundangkan dalam lembaran
negara. Menurut info terbaru:
dinomorkan menjadi UU no. 8 Tahun 2012
UU Pemilu tahun 2012 ini menggantikan UU
Pemilu yang berlaku sebelumnya (UndangUndang Nomor 10 Tahun 2008 ).
Bimbingan Teknis DPRD

Perdebatan
UU Pemilu 2012 terdiri dari XXV Bab dan 328 pasal.
Ada 4 (empat) point krusial yang sempat menjadi
perdebatan sengit di DPR, yaitu :
1) Sistem pemilu terbuka atau tertutup,
2) Persyaratan ambang batas parlemen (parliamentary
threshold),
3) Alokasi kursi pada setiap daerah pemilihan (rentang 3-6, 3-8
dan 3-10), serta
4) cara penghitungan suara.

Bimbingan Teknis DPRD

MENUJU PEMILU BERKUALITAS

Bimbingan Teknis DPRD

Tiga Pilar Penting


Ada tiga faktor yang mempengaruhi
pemilihan yang demokratis bisa
terwujud: electoral laws, electoral
process dan electoral management.
Perpaduan tiga pilar ini selanjutnya
secara resultante menghasilkan
electoral outcame.
Seminar BEM Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TIGA PILAR PEMILU MENUJU


BERKUALITAS

Bimbingan Teknis DPRD

Electoral Laws
Electoral laws menyangkut pilihan sistem pemilihan yang
digunakan atau seperangkat metode yang mengatur warga
negara memilih para wakilnya.
Sistem-sistem pemilihan memiliki konsekuensi terhadap
derajat keterwakilan atas hasil-hasil pemilu,sistem
kepartaian (khususnya jumlah partai dalam sistem
kepartaian), jenis kabinet yang terbentuk (satu partai atau
kabinet koalisi),akuntabilitas pemerintahan, dan kohesi partai
politik.
Sistem-sistem pemilihan lebih mudah untuk dimanipulasi
dibanding elemen lain sistem demokrasi; jika seseorang
bermaksud merubah tampilan atau wajah demokrasi di suatu
negara dengan mudah hal itu dilakukan dengan merubah
sistem pemilihannya (Lijphart, 1995:412-413).
Seminar BEM Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Electoral Process
Faktor kedua yakni electoral process. Hal ini menyangkut
bagaimana electoral law yang telah dirumuskan bisa dijalankan,
sejauhmana praktek penyelenggaraan pemilu bisa diajalnkan
sesuai dengan prinsip-prinsip kompetisi yang free dan fair.
Dengan demikian, Electoral process menyangkut kinerja
penyelenggara pemilihan umum, mulai dari pendaftaran dan
verifikasi partai politik peserta pemilu, pendaftaran pemilih,
penetapan calon anggota legislatif, kampanye pemilu, dan
pencarian dana kampanye, pemungutan dan perhitungan suara,
pengiriman dan verifikasi hasil perhitungan suara, penetapan calon
terpilih, netralitas birokrasi terhadap partai dalam pemilu,
pemantau pemilu, dan penegakan peraturan pemilu. (Surbakti,
2000:55) Sehingga, dengan melihat dimensi electoral process maka
kita akan bisa melihat secara lebih tajam perilaku politik (political
behaviour) dari para kotestan, pemilih maupun para penyelenggara
pemilu.
Seminar BEM Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Electoral Management
Faktor ketiga yang sangat menentukkan proses pemilihan yang
demokratis adalah lembaga penyelenggara pemilu yang profesional,
kompeten, kredibel dan tidak berpihak.
KPU sesunggunya sedang mengalami proses kemerosotan kepercayaan,
tidak hanya dari kotestan pemilu, melainkan juga dari publik secara luas.
Oleh karena itu, agenda pertama dan terutama dari reformasi lembaga
penyelenggara pemilu adalah memulihkan kepercayaaan publik dengan:
(1). Membangun kewibawaan personal dengan menghidari kesan
keberpihakan pada salah satu kotestan. (2). Kredibilitas tata kelola.
Membuka diri pada input (masukan) dan kritik berbagai pihak dan tidak
terlalu reaktif dan over percaya diri. Dengan membuka diri, KPU
sesungguhnya bisa membagi beban atas berbagai persoalan yang
dihadapinya. (3). Kredibilitas putusan. Hal ini menyangkut upaya
meningkatkan akurasi dan kredibilitas keputusan yang dihasilkannya.
Hidari pengambilan keputusan yang dibuat secara tertutup, dan berubahubah.

Seminar BEM Fakultas Ushuluddin


UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

10

Urgensi Electoral Laws


Dari tiga pilar di atas, electoral laws memiliki posisi
yang penting dan strategis karena desain pemilihan
akan juga sangat menentukan praktek-praktek
politik yang berjalan dalam electoral process.
Dalam kalimat yang lebih sederhana, sistem
pemilihan akan menciptakan struktur peluang
(opportunity structure) bagi parktek-praktek politik
yang demokratis. Struktur peluang seperti apa
yang harus diciptakan? Struktur peluang yang
bersifat ganda: membuka peluang (enabling)
praktek politik demokratis dan membatasi peluang
(constraining) praktek non demokratis.
Seminar BEM Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

11

DIALEKTIKA SISTEM PEMILU


Tidak ada satupun negara yang sistem pemilunya
bersifat ajeg (tidak berubah) (Andrew Reynold)
keputusan memilih sistem pemilu bergantung pada
realitas sejarah, kebutuhan serta kesepakatan para
pembentuk UU, (Lijphart (1994), Cox (1997) dan Katz
(1997). Kesimpulan mereka senada, Tidak ada sistem
pemilihan umum ideal);
Sistem Pemilu yang terbangun selalu merupakan
dialektika dan dinamika dari berbagai situasi, kondisi dan
kebutuhan menata sistem pemerintahan kedepan.
Dengan demikian Pemilu juga ditentukan oleh kondisi para
pemain, pemilih dan penyelenggara.
12

Bimbingan Teknis DPRD

Sistem Pemilu:
Antara Idealita dan Realita
Idealita. keputusan memilih sistem pemilu
merujuk pada norma-norma dasar dan kebutuhan
menata sistem demokrasi ke depan (Lihat Bagian
menimbang UU dan Penjelasan umum).
Realita: keputusan memilih sistem pemilu
bergantung pada realitas sejarah, kebutuhan serta
kesepakatan para pembentuk UU. Lebih tajam lagi:
sistem pemilu tergantung hasil negoisasi
kepentingan antar kekuatan politik pembentuk UU.
Seminar BEM Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

13

POIN-POIN KRUSIAL DALAM


UNDANG-UNDANG PEMILU 2012

Bimbingan Teknis DPRD

14

Tahapan
Penyelenggaraan Pemilu
Tahapan penyelenggaraan Pemilu meliputi:
1. perencanaan program dan anggaran, serta penyusunan peraturan
pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu;
2. pemutakhiran data Pemilih dan penyusunan daftar Pemilih;
3. pendaftaran dan verifikasi Peserta Pemilu;
4. penetapan Peserta Pemilu;
5. penetapan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan;
6. pencalonan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota;
7. masa Kampanye Pemilu;
8. Masa Tenang;
9. pemungutan dan penghitungan suara;
10.penetapan hasil Pemilu; dan
11.pengucapan sumpah/janji anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota.

Tahapan penyelenggaraan Pemilu dimulai paling lambat 22 (dua


puluh dua) bulan sebelum hari pemungutan suara.
Bimbingan Teknis DPRD

15

Partai Politik Peserta


Pemilu
Partai Politik Peserta Pemilu pada Pemilu terakhir
yang memenuhi ambang batas perolehan suara dari
jumlah suara sah secara nasional ditetapkan
sebagai Partai Politik Peserta Pemilu pada Pemilu
berikutnya (pasal 8 ayat 1).
Partai politik yang tidak memenuhi ambang batas
perolehan suara pada Pemilu sebelumnya atau
partai politik baru dapat menjadi Peserta Pemilu
setelah memenuhi persyaratan (pasal 8 ayat 2).
KPU melakukan verifikasi . Partai politik calon
Peserta Pemilu yang lulus verifikasi oleh KPU
ditetapkan sebagai Peserta Pemilu oleh KPU.
Bimbingan Teknis DPRD

16

Partai Politik Peserta


Pemilu-2

Persyaratan bagi partai politik baru atau yang tidak memenuhi ambang
batas:
1.
berstatus badan hukum sesuai dengan Undang-Undang tentang
Partai Politik;
2.
memiliki kepengurusan di seluruh provinsi;
3.
memiliki kepengurusan di 75% (tujuh puluh lima persen) jumlah
kabupaten/kota di provinsi yang bersangkutan;
4.
memiliki kepengurusan di 50% (lima puluh persen) jumlah
kecamatan di kabupaten/kota yang bersangkutan;
5.
menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen)
keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat
pusat;
6.
memiliki anggota sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) orang atau
1/1.000 (satu perseribu) dari jumlah Penduduk pada kepengurusan
partai politik sebagaimana dimaksud pada huruf c yang dibuktikan
dengan kepemilikan kartu tanda anggota;
7.
mempunyai kantor tetap untuk kepengurusan pada tingkatan pusat,
provinsi, dan kabupaten/kota sampai tahapan terakhir Pemilu;
8.
mengajukan nama, lambang,
dan tanda
Bimbingan Teknis
DPRD gambar partai politik kepada
17
KPU; dan

Pemilih
Warga Negara Indonesia yang pada hari
pemungutan suara telah genap berumur 17
(tujuh belas) tahun atau lebih atau sudah/pernah
kawin mempunyai hak memilih.
Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) didaftar 1 (satu) kali oleh
penyelenggara Pemilu dalam daftar pemilih.
Untuk dapat menggunakan hak memilih, Warga
Negara Indonesia harus terdaftar sebagai
Pemilih kecuali yang ditentukan lain dalam
undang-undang ini.
Bimbingan Teknis DPRD

18

Data kependudukan
Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan data kependudukan dalam bentuk:
a. data agregat kependudukan per kecamatan sebagai bahan bagi KPU dalam
menyusun daerah pemilihan DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota; Data
kependudukan harus sudah tersedia dan diserahkan paling lambat 16 (enam belas)
bulan sebelum hari pemungutan suara
b.Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu sebagai bahan bagi KPU dalam menyusun
daftar pemilih sementara; Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu harus diserahkan
dalam waktu yang bersamaan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah paling
lambat 14 (empat belas) bulan sebelum hari pemungutan suara dan
c. data Warga Negara Indonesia yang bertempat tinggal di luar negeri sebagai
bahan bagi KPU dalam penyusunan daerah pemilihan dan daftar pemilih sementara.
KPU Kabupaten/Kota menggunakan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu sebagai
bahan penyusunan daftar pemilih. Daftar Pemilih paling sedikit memuat nomor induk
kependudukan, nama, tanggal lahir, jenis kelamin, dan alamat Warga Negara
Indonesia yang mempunyai hak memilih.

Bimbingan Teknis DPRD

19

Alokasi dan Daerah Pemilihan


DPR
Daerah pemilihan anggota DPR adalah provinsi,
kabupaten/kota, atau gabungan kabupaten/kota. (Dalam
hal penentuan daerah pemilihan tidak dapat diberlakukan,
penentuan daerah pemilihan menggunakan bagian
kabupaten/kota.)
Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPR paling
sedikit 3 (tiga) kursi dan paling banyak 10 (sepuluh) kursi.
Daerah pemilihan tercantum dalam lampiran yang tidak
terpisahkan dari Undang-Undang ini.

Bimbingan Teknis DPRD

20

Kursi DPRD Provinsi


Jumlah kursi DPRD provinsi ditetapkan paling sedikit 35 (tiga puluh lima) dan
paling banyak 100 (seratus).
Jumlah kursi DPRD provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
pada jumlah Penduduk provinsi yang bersangkutan dengan ketentuan:
a. provinsi dengan jumlah Penduduk sampai dengan 1.000.000 (satu juta) orang
memperoleh alokasi 35 (tiga puluh lima) kursi;
b. provinsi dengan jumlah Penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) sampai dengan
3.000.000 (tiga juta) orang memperoleh alokasi 45 (empat puluh lima) kursi;
c. provinsi dengan jumlah Penduduk lebih dari 3.000.000 (tiga juta) sampai dengan
5.000.000 (lima juta) orang memperoleh alokasi 55 (lima puluh lima) kursi;
d. provinsi dengan jumlah Penduduk lebih dari 5.000.000 (lima juta) sampai dengan
7.000.000 (tujuh juta) orang memperoleh alokasi 65 (enam puluh lima) kursi;
e. provinsi dengan jumlah Penduduk lebih dari 7.000.000 (tujuh juta) sampai dengan
9.000.000 (sembilan juta) orang memperoleh alokasi 75 (tujuh puluh lima) kursi;
f. provinsi dengan jumlah Penduduk lebih dari 9.000.000 (sembilan juta) sampai
dengan 11.000.000 (sebelas juta) orang memperoleh alokasi 85 (delapan puluh lima)
kursi; dan
g. provinsi dengan jumlah Penduduk lebih dari 11.000.000 (sebelas juta) orang
memperoleh alokasi 100 (seratus) kursi.
Bimbingan Teknis DPRD

21

Daerah Pemilihan DPRD


Provinsi
Daerah pemilihan anggota DPRD provinsi adalah
kabupaten/kota, atau gabungan kabupaten/kota.
Dalam hal penentuan daerah pemilihan tidak
dapat diberlakukan, penentuan daerah
pemilihan menggunakan bagian kabupaten/kota
Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota
DPRD provinsi paling sedikit 3 (tiga) kursi dan
paling banyak 12 (dua belas) kursi.
Ketentuan lebih lanjut mengenai daerah
pemilihan dan alokasi kursi anggota DPRD
provinsi ditetapkan dalam Peraturan KPU.
Bimbingan Teknis DPRD

22

Jumlah Kursi DPRD Kabupaten/


Kota
Jumlah kursi DPRD kabupaten/kota ditetapkan paling sedikit 20 (dua puluh) dan
paling banyak 50 (lima puluh).
Jumlah kursi DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didasarkan pada jumlah Penduduk kabupaten/kota yang bersangkutan dengan
ketentuan:
a. kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk sampai dengan 100.000 (seratus ribu) orang
memperoleh alokasi 20 (dua puluh) kursi;
b. kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk lebih dari 100.000 (seratus ribu) sampai
dengan 200.000 (dua ratus ribu) orang memperoleh alokasi 25 (dua puluh lima) kursi;
c. kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk lebih dari 200.000 (dua ratus ribu) sampai
dengan 300.000 (tiga ratus ribu) orang memperoleh alokasi 30 (tiga puluh) kursi;
d. kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk lebih dari 300.000 (tiga ratus ribu) sampai
dengan 400.000 (empat ratus ribu) orang memperoleh alokasi 35 (tiga puluh lima) kursi;
e. kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk lebih dari 400.000 (empat ratus ribu) sampai
dengan 500.000 (lima ratus ribu) orang memperoleh alokasi 40 (empat puluh) kursi;
f. kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu) sampai
dengan 1.000.000 (satu juta) orang memperoleh alokasi 45 (empat puluh lima) kursi; dan
g. kabupaten/kota dengan jumlah Penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) orang
memperoleh alokasi 50 (lima puluh) kursi.

Bimbingan Teknis DPRD

23

Daerah Pemilihan DPRD


Kabupaten/ Kota
Daerah pemilihan anggota DPRD kabupaten/kota adalah
kecamatan, atau gabungan kecamatan. Dalam hal
penentuan daerah pemilihan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak dapat diberlakukan, penentuan
daerah pemilihan menggunakan bagian kecamatan
atau nama lain
Jumlah kursi setiap daerah pemilihan anggota DPRD
kabupaten/kota paling sedikit 3 (tiga) kursi dan paling
banyak 12 (dua belas) kursi.
Ketentuan lebih lanjut mengenai daerah pemilihan dan
alokasi kursi anggota DPRD kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) ditetapkan dalam Peraturan KPU.
Bimbingan Teknis DPRD

24

Seleksi Bakal Calon

Partai Politik Peserta Pemilu melakukan seleksi bakal calon


anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.
Seleksi bakal calon dilakukan secara demokratis dan terbuka
sesuai dengan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan/atau
peraturan internal Partai Politik Peserta Pemilu.
Bakal calon disusun dalam daftar bakal calon oleh partai politik
masing-masing. Nama-nama calon dalam daftar bakal calon
disusun berdasarkan nomor urut.
Daftar bakal calon memuat paling banyak 100% (seratus persen)
dari jumlah kursi pada setiap daerah pemilihan.
Daftar bakal calon memuat paling sedikit 30% (tiga puluh persen)
keterwakilan perempuan.
Di dalam daftar bakal calon orang bakal calon terdapat sekurangkurangnya 1 (satu) orang perempuan bakal calon.
KPU melakukan verifikasi terhadap kelengkapan dan kebenaran
dokumen persyaratan administrasi bakal calon anggota DPR dan
verifikasi terhadap terpenuhinya
jumlah
Bimbingan Teknis
DPRD sekurang-kurangnya 30%
25
(tiga puluh persen) keterwakilan perempuan.

Persyaratan Calon
Pengecualian larangan syarat calon tidak pernah dijatuhi pidana penjara
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana
penjara 5 (lima) tahun atau lebih. Persyaratan ini tidak berlaku bagi
seseorang yang telah selesai menjalankan pidananya, terhitung 5
(lima) tahun sebelum yang bersangkutan ditetapkan sebagai bakal
calon dalam pemilihan jabatan publik yang dipilih (elected official)
dan yang bersangkutan mengemukakan secara jujur dan terbuka
kepada publik bahwa yang bersangkutan pernah dipidana serta
bukan sebagai pelaku kejahatan berulang-ulang. Akibat putusan MK
Nomor 4/PUU-VII/2009 18 Maret Tahun 2009

26

Bimbingan Teknis DPRD

Kampanye
Kampanye Pemilu dapat dilakukan melalui:
a. pertemuan terbatas;
b. pertemuan tatap muka;
c. penyebaran bahan Kampanye Pemilu kepada
umum;
d. pemasangan alat peraga di tempat umum;
e. iklan media massa cetak dan media massa
elektronik;
f. rapat umum; dan
g. kegiatan lain yang tidak melanggar larangan
Kampanye Pemilu dan ketentuan peraturan
perundang-undangan
Bimbingan Teknis DPRD

27

Kampanye-2
Kampanye Pemilu (pertemuan terbatas,
pertemuan tatap muka, penyebaran bahan
kampanye, dan alat peraga) dilaksanakan sejak 3
(tiga) hari setelah calon Peserta Pemilu ditetapkan
sebagai Peserta Pemilu sampai dengan dimulainya
Masa Tenang.
Kampanye Pemilu; iklan dan rapat umum
dilaksanakan selama 21 (dua puluh satu) hari dan
berakhir sampai dengan dimulainya Masa Tenang.
Masa Tenang berlangsung selama 3 (tiga) hari
sebelum hari pemungutan suara
Bimbingan Teknis DPRD

28

Kampanye di Media
Media massa cetak dan lembaga penyiaran dilarang menjual
blocking segment dan/atau blocking time untuk Kampanye Pemilu.
Media massa cetak dan lembaga penyiaran dilarang menerima
program sponsor dalam format atau segmen apa pun yang dapat
dikategorikan sebagai iklan Kampanye Pemilu.
Batas maksimum pemasangan iklan Kampanye Pemilu di televisi
untuk setiap Peserta Pemilu secara kumulatif sebanyak 10
(sepuluh) spot berdurasi paling lama 30 (tiga puluh) detik untuk
setiap stasiun televisi setiap hari selama masa Kampanye Pemilu.
Batas maksimum pemasangan iklan Kampanye Pemilu berlaku
untuk semua jenis iklan.
Media massa cetak dan lembaga penyiaran wajib menyiarkan iklan
Kampanye Pemilu layanan untuk masyarakat nonpartisan paling
sedikit satu kali dalam sehari dengan durasi 60 (enam puluh) detik.

Bimbingan Teknis DPRD

29

Dana Kampanye

Kegiatan Kampanye Pemilu anggota DPR, DPRD provinsi, dan


DPRD kabupaten/kota didanai dan menjadi tanggung jawab Partai
Politik Peserta Pemilu masing-masing.
Dana Kampanye Pemilu bersumber dari:
a. partai politik;
b. calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota dari partai politik yang bersangkutan; dan
c. sumbangan yang sah menurut hukum dari pihak lain.
Dana Kampanye Pemilu yang berasal dari sumbangan pihak lain
perseorangan tidak boleh lebih dari Rp1.000.000.000,00 (satu
milyar rupiah).
Dana Kampanye Pemilu yang berasal dari sumbangan pihak lain
kelompok, perusahaan, dan/atau badan usaha nonpemerintah
tidak boleh lebih dari Rp7.500.000.000,00 (tujuh milyar lima ratus
juta rupiah).
Laporan dana kampanye Partai Politik Peserta Pemilu yang
meliputi penerimaan danBimbingan
pengeluaran
wajib disampaikan kepada30
Teknis DPRD
kantor akuntan publik yang ditunjuk oleh KPU paling lama 15 (lima

Cara pemberian suara


Mencoblos
Pemberian suara untuk Pemilu
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi,
dan DPRD kabupaten/kota dilakukan
dengan cara mencoblos satu kali
pada nomor atau tanda gambar
partai politik dan/atau nama calon
pada surat suara.

Bimbingan Teknis DPRD

31

Ambang Batas Parlemen


Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi
ambang batas perolehan suara sekurangkurangnya 3,5% (tiga koma lima persen) dari
jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan
dalam penentuan perolehan kursi anggota DPR,
DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota.
Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak
memenuhi ambang batas perolehan suara, tidak
disertakan pada penghitungan perolehan kursi
DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota di
setiap daerah pemilihan.
Bimbingan Teknis DPRD

32

Konversi Suara Ke Kursi


Suara untuk penghitungan perolehan kursi DPR, DPRD
provinsi, dan DPRD kabupaten/kota di suatu daerah
pemilihan ialah jumlah suara sah seluruh Partai Politik
Peserta Pemilu dikurangi jumlah suara sah Partai Politik
Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ambang batas
perolehan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 208
Dari hasil penghitungan suara sah yang diperoleh Partai
Politik Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) di suatu daerah pemilihan ditetapkan angka BPP DPR,
BPP DPRD provinsi, dan BPP DPRD kabupaten/kota
dengan cara membagi jumlah suara sah Partai Politik
Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dengan jumlah kursi di satu daerah pemilihan.
Bimbingan Teknis DPRD

33

Konversi Suara Ke Kursi


Setelah ditetapkan angka BPP ditetapkan perolehan jumlah kursi tiap Partai Politik
Peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan, dengan ketentuan:
apabila jumlah suara sah suatu Partai Politik Peserta Pemilu sama dengan atau
lebih besar dari BPP, maka dalam penghitungan tahap pertama diperoleh sejumlah
kursi dengan kemungkinan terdapat sisa suara yang akan dihitung dalam
penghitungan tahap kedua;
apabila jumlah suara sah suatu Partai Politik Peserta Pemilu lebih kecil daripada
BPP, maka dalam penghitungan tahap pertama tidak diperoleh kursi, dan jumlah
suara sah tersebut dikategorikan sebagai sisa suara yang akan dihitung dalam
penghitungan tahap kedua dalam hal masih terdapat sisa kursi di daerah
pemilihan yang bersangkutan;
penghitungan perolehan kursi tahap kedua dilakukan apabila masih terdapat sisa
kursi yang belum terbagi dalam penghitungan tahap pertama, dengan cara
membagikan jumlah sisa kursi yang belum terbagi kepada Partai Politik Peserta
Pemilu satu demi satu berturut-turut sampai habis, dimulai dari Partai Politik
Peserta Pemilu yang mempunyai sisa suara terbanyak.
Dalam hal terdapat sisa suara Partai Politik Peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan
sama jumlahnya, maka kursi diberikan kepada Partai Politik Peserta Pemilu yang sisa
suaranya memiliki persebaran yang lebih banyak.
Bimbingan Teknis DPRD

34

Implikasi Ambang Batas


Parlemen secara Nasional
Pemberlakuan ambang batas Parlemen secara nasional, bukan
berjenjang akan menimbulkan kosekuensi disproporsional di
DPRD Provinsi-Kabupaten.
Pada saat ini, rata-rata jumlah Partai yang memiliki kursi di DPRD
Provinsi hasil Pemilu 2009 antara 9-18 Partai, sedangkan di DPRD
Kabupaten/ Kota 10-20 Partai.
Kalau ambang batas parlemen secara nasional diberlakukan
maka disatu sisi mengurangi jumlah partai di DPRD, namun disisi
lain, menngkatkan disporporsionalitas teruatama ketika ada
beberapa Partai-partai yang mendapatkan dukungan suara cukup
signifikan dalam pemilihan anggota DPRD tidak bisa dihitung
dalam proses perhitungan suara ke kursi karena tidak lolos
ambang batas parlemen secara nasional. Idelanya ambang batas
parlemen dilakukan secara berjenjang beradasrkan daerah
pemilihan.
Seminar BEM Fakultas Ushuluddin
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

35

Simulasi PT berdasarkan Hasil


Pemilu 2009 (Perludem)
3%

Seminar BEM Fakultas Ushuluddin


UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

36

Simulasi Partai di DPRD dengan Ambang


Batas Nasional 2,5 % (Perludem)
DPRD

Jumlah Partai di
DPRD tanpa PT

Jumlah Partai
Kehilangan Kursi

DPRD Sumut

16

DPRD Jawa Timur

12

DPRD Sulsesl

16

DPRD Kalbar

12

DPRD Papua

18

DPRD Kota Medan

12

DPRD Kota
Surabaya

10

DPRD Pontianak

15

DPRD Makasar

14

DPRD Jayapura

17

Seminar BEM Fakultas Ushuluddin


UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

37

Survei LSI Februari 2012

38

Survei LSI-Maret 2012

39

Undecided Voters

40

Sistem Proporsional Terbuka


(Suara Terbanyak)
Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka.
Penetapan calon terpilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota dari Partai Politik Peserta Pemilu didasarkan pada
perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan
dengan ketentuan sebagai berikut.
1. Calon terpilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota
ditetapkan berdasarkan calon yang memperoleh suara terbanyak.
2. Dalam hal terdapat dua calon atau lebih yang memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam huruf a dengan perolehan suara yang sama,
penentuan calon terpilih ditentukan berdasarkan persebaran perolehan suara
calon pada daerah pemilihan dengan mempertimbangkan keterwakilan
perempuan.
3. Dalam hal calon yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, jumlahnya kurang dari jumlah kursi yang diperoleh Partai Politik Peserta
Pemilu, kursi yang belum terbagi diberikan kepada calon berdasarkan perolehan
suara terbanyak berikutnya.
Bimbingan Teknis DPRD

41

Pelanggaran Pemilu
Pelanggaran administrasi Pemilu adalah pelanggaran yang meliputi tata
cara, prosedur, dan mekanisme yang berkaitan dengan administrasi
pelaksanaan Pemilu dalam setiap tahapan penyelenggaraan Pemilu di luar
tindak pidana Pemilu dan pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu.
Tindak pidana Pemilu adalah tindak pidana pelanggaran dan/atau
kejahatan terhadap ketentuan tindak pidana Pemilu sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini. Pengadilan negeri dalam memeriksa, mengadili,
dan memutus perkara tindak pidana Pemilu menggunakan Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang
ini. Sidang pemeriksaan perkara tindak pidana Pemilu dilakukan oleh majelis
khusus. Majelis khusus terdiri atas hakim khusus yang merupakan hakim
karier pada pengadilan negeri dan pengadilan tinggi yang ditetapkan secara
khusus untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana
pemilu.
Sengketa Pemilu adalah sengketa yang terjadi antarpeserta Pemilu dan
sengketa Peserta Pemilu dengan penyelenggara Pemilu sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota.
Bimbingan Teknis DPRD

42

SEKIAN, TERIMA KASIH

Bimbingan Teknis DPRD

43