Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Rumah sakit sebagai salah satu sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan
kegiatan pelyanan kesehatan serta data dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan
penelitian. Pelayanan di rumah sakit adalah kegiatan yang berupa pelayan rawat jalan,
pelayanan rawat inap, dan pelayanan gawat darurat yang mencakup pelayanan medik dan
penunjang medic, yang salah satu unit pelayanan yang mempunyai peranan yang sangat
penting di dalamnya adalah unit kefarmasian.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) merupaka departemen yang dipimpin oleh
apoteker, bertanggung jawab untuk pengadaan, penyimpanan, distribusi obat, meningkatkan
penggunaannya di rumah sakit, serta member informasi dan menjamin kualitas pelayanan
yang berhubungan dengan penggunaan obat. Semua instalasi yang ada di rumah sakit
berkoordinasi dengan instalasi farmasi yang menyediakan kebutuhan obat dan alat
kesehatan.Hal tersebut terkait dengan fungsi dari instalasi farmasi itu sendiri: (1) usaha
pengadaan, distribusi dan pengawasan semua obat-obatan, (2) evaluasi dan penyebaran
iformasi secar luas tentang obat-obatan beserta penggunaannya untuk staf rumah sakit daan
pasien serta (3) memantau dan menjamin kualitas penggunaan obat.
Pelayanan farmasi meliputi penyediaan dan distribusi semua pembekalan farmasi
termasuk pemberian informasi yang dapat menjamin kualitas pelayanan yang berhubungan
dengan penggunaan obat, oleh karena itu memerlukan kegiatan monitoring yang cukup ketat.
Karena monitoring merupakan upaya untuk memantau atau menilai pola penggunaan obat.

Monitoring merupakan pengumpulan dan review data yang membantu menilai apakah
norma-norma program diikuti mutu apakah outome ditingkatkan. Monitoring seharusnya
dilakukan oleh kepala IFRS dengan cara memantau atau menilai pola penggunaan obat serta
upaya-upaya untuk menjaga dan meningkatkan mutu, kerasionalan penggunaan obat di
instalasi farmasi. Untuk memantau penggunaan obat, melalui pelaporan sehingga
pengendalian distribusi obat dapat diketahui.
Apabila kegiatan monitoring dilakukan dengan baik, kegiatan managemen khususnya
perencanaan dapat dilakukan dengan tepat. Kegiatan perencanaan obat di RSUD Badung yang
saat ini dilakukan terutama pada perencanaan obat dilaksanakan dengan cara melihat catatan
buku bantu mengenai kebutuhan obat tiap bulan tanpa melihat urutan peringkaat penggunaan
obat terbanyak sampai urutan peringkat penggunaan obat paling sedikit. Rawat inap adalah
kegiatan pelayanan terhadap pasien yang masuk rumah sakit, yang menempati tempat tidur
untuk keperluan obsevasi, diagnosis, terapi, rehabilitasi medic dan atau pelayanan medic
lainnya. Bagian rawat inap mempunyai kedudukan yang sangat penting di rumah sakit dalam
rangka menyelenggarakan fungsi utamanya. Hal ini disebabkan unit rawat inap merupkan ciri
khas rumah sakit, bila unit ini tidak ada maka unit instalasi kesehatan tersebut bukanlah suatu
rumah sakit, memerlukan tenaga dalam jumlah yang besar serta melibatkan semua profesi
yang ada di rumah sakit beserta perlataan-perlatannya, merupakan sumber pendapatan dan
sumber pengeluaran terbesar di rumah sakit. Sehingga monitoring distribusi obat perlu
dilakukan.
Dengan melihat latar belakang Farmasi yang sangat penting untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan, maka penulis tertarik mengambil judul : SISTEM INFORMASI OBAT
UNTUK MENDUKUNG MONITORING DISTRIBUSI OBAT PADA PASIEN RAWAT
INAP DI INSTALASI FARMASI RSUD BADUNG

1.2 POKOK MASALAH


Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka dalam penyelenggaraan Farmasi sangat
penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dimana dalam meningkatkan mutu
pelayanan harus disertai dengan adanya penunjang yang memadai antara lain melalaui
penyelenggaraan Farmasi di setiap pelayanan kesehatan.
Beberapa pelayanan yang diberikan di instalasi Farmasi antara lain :
1. Monitoring jenis obat melalui kunjungan bangsal secara rutin bersama dokter
2. Berbagai konseling pribadi dan penyampaian seputar obat-obatan
Setelah melihat dari latar belakang ,masalah-masalah yang terjadi di pelayanan Farmasi,
setelah penulis mengikuti On The Job Training antara lain:
1. Pengadaan dan penyimpanan serta pendistribusian obat yang cukup lama.
2. Belum adanya prosedur pemanfaatan informasi untuk pendistribusian obat secara jelas.

1.3 RUMUSAN MASALAH


Sebagaimana yang telah diuraikan dan berdasarkan latar belakang tersebut agar
mempermudah penulis untuk melakukan pembahasan pokok masalah, maka disimpulkanlah
masalah sebagai berikut: BAGAIMANA RUMUSAN MASALAH SISTEM INFORMASI
OBAT UNTUK MENDUKUNG MONITORING DISTRIBUSI OBAT PADA PASIEN
RAWAT INAP DI INSTALASI FARMASI RSUD BADUNG

1.4 TUJUAN PENULISAN


Tujuan dilaksanakannya prmbuatan laporan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui
bagaimana proses pelayanan Farmasi.Dimulai dari pengeluaran obat kepada pasien. Laporan
ini juga untuk mengetahui bagaimana cara pengeluaran obat pada pasien pada jangka waktu
tertentu.

Penulisan dari laporan ini juga bertujuan agar penulis mengenal dan mengetahui
bagaimana proses

pengeluaran obat pada pasien. Selain itu, penulis juga dapat belajar

bagaimana dunia kerja di rumah sakit pada khususnya yang disertai dasar tanggung jawab
pada suatu pekerjaan atau rugas dengan prosedur serta aturan yang telah ditentukan masingmasing.

1.5 MANFAAT PENULISAN


Manfaat dari disusunnya laporan ini adalah sebagai berikut :
1.5.1 Bagi Kampus Alfa Prima Denpasar
1.5.1.1 Sebagai bahan materi bagi adik- adik tingkat untuk mengetahui permasalahan
baru yang dibahas dan diteliti di Alfa Prima Denpasar.
1.5.1.2 Digunakan untuk menjalin kerjasama antara Alfa Prima Denpasar dengan
Rumah Sakit Umum Daerah Badung di bidang pendidikan dan penelitian.
1.5.1.3 Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Rumah Sakit Umum Daerah
Badung untuk menerima kembali mahasiswa Alfa Prima Denpasar di tahun
ajaran berikutnya untuk melaksanakan On The Job Training(OJT).
1.5.2 Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Badung
1.5.2.1 Pelayanan dapat lebih dtingkatkan sesuai dengan aturanaturan yang telah
ditentukan, khususnya di bagian Farmasi dan umumnya bagi Rumah Sakit
Umum Daerah Badung.
1.5.2.2 Dapat mengurangi kesalahan yang terjadi di bagian pelayanan Farmasi dengan
cara pemberian obat pada pasien.
1.5.3 Bagi Mahasiswa

1.5.3.1 Manfaat yang paling utama bagi mahasiswa sendiri adalah dapat mengetahui,
belajar dan merasakan bagaimana ikut berperan serta melaksanakan suatu
pekerjaan dalam dunia kerja dengan tanggung jawab yang besar menurut aturan
dan prosedur yang telah ditetapkan.
1.5.3.2 Dapat memenuhi

syarat

kelulusan yang telah ditetapkan oleh Lembaga

Pendidikan Alfa Prima Denpasar.


1.5.4 Bagi Masyarakat
1.5.4.1 Mengetahui tugas serta tanggung jawab di bagian Farmasi Rumah Sakit Umum
Daerah Badung dan bagaimana prosedur tata cara pelaksanaan Farmasi di
Rumah Sakit Umum Daerah Badung .

1.6 METODE PENGUMPULAN DATA


Adanya metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah:
1.6.1 Cara Memperoleh Data
1.6.1.1 Metode Studi Dokumentasi
Pengumpulan data yang digunakan dengan cara mencatat dan mempelajari
dokumen-dokumen Rumah Sakit Umum Daerah Badung yang terkait dengan masalah
yang dibahas oleh penulis.

1.6.1.2 Metode Observasi

Pengumpulan

data yang digunakan dengan cara OJT secara langsung di

lapangan yaitu di umah Sakit Umum Daerah Badung, untuk kemudian hasil tersebut
dicatat.
1.6.1.3 Metode Wawancara
Pengumpulan data yang digunkan dengan cara Tanya Jawab langsung kepada
narasumber yang mampu memberikan data lain informasi yang terkini dan benar
adanya.

1.7 SISTEMATIKA PENULISAN


Agar hasil laporan penelitian ini tersusun dengan baik, maka laporan tugas akhir ini
disusun lima bab yaitu:
BAB I : PENDAHULUAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
BAB II

: LANDASAN TEORI
1.
2.
3.
4.
5.
6.

BAB III

Latar Belakang Masalah


Rumusan masalah
Pokok Masalah
Tujuan Penulisan
Manfaat Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan Data
Sistematika Penulisan

Pengertian sistem informasi


Pengertian Farmasi
Tugas pokok dan Fungsi Farmasi
Pengertian Obat
Pengertian sisitem informasi monitoring distribusi penggunaan obat
Tujuan dan kegunaan Farmasi

: PEMBAHASAN
1. Sejarah Rumah Sakit Umum Daerah Badung

2.
3.
4.
5.
6.
7.
BAB IV

Sarana dan Fasilitas di Rumah Sakit Umum Daerah Badung


Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Badung
Struktur oganisasai instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Badung
Uraian Tugas pokok dan Fungsi Farmasi
Uraian Masalah
Pemecahan Masalah

: PENUTUP
1. Kesimpulan
2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 PENGERTIAN SISTEM INFORMASI
A. Pengertian Sistem
Suatu sistem sangatlah dibutuhkan dalam suatu perusahaan atau instansi
pemerintahan, karena sistem sangatlah menunjang terhadap kinerja perusahaan atau instansi
pemerintah, baik yang berskala kecil maupun besar. Supaya dapat berjalan dengan baik
diperlukan

kerjasama

diantara

unsur-unsur

yang

terkait

dalam

sistem

tersebut.

(Jogiyanto,2005.1).
Ada berbagai pendapat yang mendefinisikan pengertian sistem, seperti dibawah ini :
Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan,
berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu
sasaran yang tertentu. Istilah sistem secara umum dapat didefinisikan sebagai kumpulan hal
atau elemen yang saling bekerja sama atau yang dihubungkan dengan cara-cara tertentu
sehingga membentuk satu kesatuan untuk melaksanakan suatu fungsi guna mencapai suatu
tujuan. Sistem mempunyai karakteristik atau sifat sifat tertentu, yaitu : Komponen Sistem,
Batasan Sistem, Lingkungan Luar Sistem, Penghubung Sistem, Masukan Sistem, Keluaran
Sistem, Pengolahan Sistem dan Sasaran Sistem. (Edhy Sutanta, 2009: 4 )
B. Pengertian Informasi
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih
berarti bagi yang menerimanya.Sumber dari informasi adalah data. Data merupakan bentuk

jamak dari bentuk tunggal datum atau data item. Data adalah kenyataan yang
menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. (Jogiyanto,2005:11).
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna dan menjadi berarti
bagi penerimanya. Kegunaan informasi adalah untuk mengurangi ketidakpastian di dalam
proses pengambilan keputusan tentang suatu keadaan. Suatu informasi dikatakan bernilai bila
manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya untuk mendapatkan informasi tersebut.
Kualitas informasi sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh beberapa hal yaitu : Relevan
(Relevancy), Akurat (Accurancy), Tepat waktu (Time liness), Ekonomis (Economy), Efisien
(Efficiency), Ketersediaan (Availability), Dapat dipercaya (Reliability), Konsisten (Edhy
Sutanta, 2009:8 )
C. Pengertian Sistem Informasi
Sistem informasi menurut Robert A. Leitch (Jogiyanto,2005:18) dan K. RoscoeDavis
adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan
transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu
organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.
http://www.ilmumanajemen.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=55:psi&catid=39:msi&Itemid=57
Sistem informasi merupakan suatu perkumpulan data yang terorganisasi beserta tatacara
penggunaanya yang mencangkup lebih jauh dari pada sekedar penyajian. Istilah tersebut
menyiratkan suatu maksud yang ingin dicapai dengan jalan memilih dan mengatur data serta
menyusun tatacara penggunaanya.Keberhasilan suatu sistem informasi yang diukur
berdasarkan maksud pembuatanya tergantung pada tiga faktor utama, yaitu : keserasian dan
mutu data, pengorganisasian data, dan tatacara penggunaanya.untuk memenuhi permintaan
penggunaan tertentu, maka struktur dan cara kerja sistem informasi berbeda-beda ber gantung

10

pada macam keperluan atau macam permintaan yang harus dipenuhi. Suatu persamaan yang
menonjol ialah suatu sistem informasi menggabungkan berbagai ragam data yang
dikumpulkan dari berbagai sumber. Untuk dapat menggabungkan data yang berasal dari
berbagai sumber suatu sistem alih rupa (transformation) data sehingga jadi tergabungkan
(compatible). Berapa pun ukurannya dan apapun ruang lingkupnya suatu sistem informasi
perlu memiliki ketergabungan (compatibility) data yang disimpannya .(Hanif Al Fatta,
2009:9) . Menurut Sutabri (2005:42) sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu
organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung
fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu
organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang
diperlukan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi
adalah sekumpulan prosedur organisasi yang dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan yaitu
memberikan informasi bagi pengambil keputusan dan untuk mengendalikan organisasi.
Informasi dalam lingkup sistem informasi memiliki beberapa ciri yaitu:
a. Baru, informasi yang didapat sama sekali baru dan segar bagi penerima.
b. Tambahan informasi dapat memperbaharui atau memberikan tambahan pada informasi
yang telah ada.
c. Korektif, informasi dapat menjadi suatu koreksi atas informasi yang salah sebelumnya.

11

2.2 PENGERTIAN FARMASI


Farmasi merupakan salah satu bidang profesional yang merupakan kombinasi dari
ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan
keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi
tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern
yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik,
evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. Kata farmasi
berasal dari kata farma (pharma). Farma merupakan istilah yang dipakai pada tahun 1400 1600an. Institusi farmasi Eropa pertama kali berdiri di Trier, Jerman, pada tahun 1241 dan
tetap eksis sampai dengan sekarang.
Farmasis (apoteker) merupakan gelar profesional dengan keahlian di bidang farmasi.
Farmasis biasa bertugas di institusi-institusi baik pemerintahan maupun swasta seperti badan
pengawas obat/makanan, rumah sakit, industri farmasi, industri obat tradisional, apotek, dan
di berbagai sarana kesehatan.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu departemen atau sistem pelayanan
Farmasi dalam suatu rumah sakit yang berada dibawah pimpinan seorang apoteker yang
kompeten dalam hal:
a. Menyediakan obat-obatan untuk unit perawatan dan bidang bidang lain.
b. Mengarsipkan resep-resep baik untuk pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap.
c. Membuat obat-obatan.
d. Menyalurkan, membagikan obat-obatan narkotika dan obat yang diresepkan.
e. Menyimpan dan membagikan preparat-preparat biologis.

12

f. Membuat, menyiapkan, mensterilkan preparat parenteral.


g. Menyediakan serta membagikan keperluan-keperluan tersebut secara profesional.
2.3 TUGAS POKOK DAN FUNGSI FARMASI
Berdasarkan Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Rumah Sakit, tugas pokok farmasi Rumah Sakit adalah sebagai berikut:
a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal
b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi profesional berdasarkan prosedur
kefarmasian dan etik profesi
c. Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
d. Memberi pelayanan bermutu melalui analisa, dan evaluasi untuk meningkatkan mutu
e.
f.
g.
h.

pelayanan farmasi
Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku
Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi
Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi
Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium
rumah sakit.
Fungsi

farmasi

rumah

sakit

yang

tertera

pada

Kepmenkes

No.

1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit sebagai


berikut:
a. Pengelolaan Perbekalan Farmasi
b. Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan

2.4 OBAT
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.193/Kab.B. VII/71
memberikan definisi berikut untuk obat: obat adalah suatu bahan atau paduan bahan-bahan
yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan,

13

menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, liku atau kelainan badaniah
dan rohaniah pada manusia atau hewan untuk memperoleh atau memperindah badan atau
bagian manusia. Sesuai dengan definisi diatas ada beberapa pengertian mengenai obat, yaitu:
a. Obat Bebas
b. Obat Keras
c. Obat Psikotropika dan Narkoba
Berikut penjabaran masing-masing golongan tersebut
1) Obat bebas
Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter (disebut obat OTC yaitu
Over The Counter), terdiri atas obat bebas dan obat bebas terbatas
a) Obat bebas
Obat bebas, yaitu obat yang bisa dibeli bebas di apotek,bahkan di warung, tanpa resep dokter,
ditandai dengan lingkaran hijau bergaris tepi hitam. Obat bebas ini digunakan untuk
mengobati gejala penyakit yang ringan. Misalnya : vitamin/multi vitamin (Livron B Plex, )
b) Obat bebas terbatas
Obat bebas terbatas (dulu disebut daftar W). yakni obat-obatan yang dalam jumlah tertentu
masih bisa dibeli di apotek, tanpa resep dokter, memakai tanda lingkaran biru bergaris tepi
hitam. Contohnya, obat anti mabuk (Antimo), anti flu (Noza). Pada kemasan obat seperti ini
biasanya tertera peringatan yang bertanda kotak kecil berdasar warna gelap atau kotak putih
bergaris tepi hitam, dengan tulisan sebagai berikut :
(1) P. No. 1 : Awas! obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya.
(2) P. No. 2 : Awas! obat keras. Hanya untuk pemakaian luar badan.
(3) P. No. 3 : Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
(4) P. No. 4 : Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.

14

(5) P. No. 5 : awas! Obat keras. Obat wasir jangan ditelan


Memang, dalam keadaaan dan batas-batas tertentu sakit yang ringan masih dibenarkan untuk
melakukan pengobatan sendiri, yang tentunya juga obat yang dipergunakan adalah golongan
obat bebas dan bebas terbatas yang dengan mudah diperoleh masyarakat. Namun apabila
kondisi penyakit semakin serius sebaiknya memeriksakan ke dokter. Dianjurkan untuk tidak
sekali-kalipun melakukan uji coba obat sendiri terhadap obat - obat yang seharusnya
diperoleh dengan mempergunakan resep dokter. Apabila menggunakan obat-obatan yang
dengan mudah diperoleh tanpa menggunakan resep dokter atau yang dikenal dengan
Golongan Obat Bebas dan Golongan Obat Bebas Terbatas, selain meyakini bahwa obat
tersebut telah memiliki izin beredar dengan pencantuman nomor registrasi dari Badan
pengawas Obat dan Makanan atau Departemen Kesehatan, terdapat hal- hal yang perlu
diperhatikan, diantaranya: Kondisi obat apakah masih baik atau sudak rusak, Perhatikan
tanggal kadaluarsa (masa berlaku) obat, membaca dan mengikuti keterangan atau informasi
yang tercantum pada kemasan obat atau pada brosur / selebaran yang menyertai obat yang
berisi tentang Indikasi (merupakan petunjuk kegunaan obat dalam pengobatan),kontraindikasi
(yaitu petunjuk penggunaan obat yang tidak diperbolehkan), efek samping (yaitu efek yang
timbul, yang bukan efek yang diinginkan), dosis obat (takaran pemakaian obat), cara
penyimpanan obat, dan informasi tentang interaksi obat dengan obat lain yang digunakan dan
dengan makanan yang dimakan.
2) Obat keras
Obat keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya) yaitu obat berkhasiat keras
yang untuk memperolehnya harus dengan resep dokter,memakai tanda lingkaran merah
bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya. Obat-obatan yang termasuk dalam

15

golongan ini adalah antibiotik (tetrasiklin, penisilin, dan sebagainya), serta obat-obatan yang
mengandung hormone (obat kencing manis, obat penenang, dan lain-lain). Obat-obatan ini
berkhasiat keras dan bila dipakai sembarangan bias berbahaya bahkan meracuni tubuh,
memperparah penyakit atau menyebabkan kematian.

2.5 SISTEM INFORMASI MONITORING DISTRIBUSI PENGGUNAAN OBAT


Data merupakan fakta dasar yang akan berarti kalau sudah diolah dan dikaitkan
dengan suatu konteks tertentu. Sedangkan informasi adalah data yang telah diolah menjadi
suatu

bentuk

yang

sangat

berarti

bagi

si

penerima.

http://unknown-

sisteminformasirumahsakit.blogspot.com/2011/12/sistem-informasi-obat-di-instalasi.html
Sistem informasi sebagai sekumpulan element yang bekerja bersama-sama secara
manual maupun berbasis komputer dalam pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan data
untuk menghasilkan informasi bagi proses pengambilan keputusan. Dari definisi diatas berarti
sistem informasi merupakan suaru sistem yang bekerja bersama-sama dalam pengumpulan,
penyimpanan dan pemrosesan data yang menghasilkan suatu informasi.
Monitoring adalah pengumpulan dan review data yang membantu menilai apakah
norma-norma program diikuti mutu atau apakah outcome ditingkatkan.
Upaya untuk memantau atau menilai pola penggunaan obat serta upaya-upaya untuk
menjaga dan meningkatkan mutu dan kerasionalan penggunaan obat di instalasi farmasi,
diperlukan upaya Untuk mengetahui penggunaan obat-obatan yang telah diberikan dengan
melakukan monitoring distribusi penggunaan obat.
Monitoring distribusi dapat dilakukan untuk memantau penggunaan obat, melalui
pelaporan sehingga pengendalian distribusi penggunaan obat dapat diketahui.

16

2.6 TUJUAN DAN KEGUNAAN FARMASI


Tujuan IFRS antara lain :
Memberi manfaat kepada penderita, rumah sakit, sejawat profesi kesehatan dan kepada
profesi farmasi oleh Apoteker rumah sakit yang kompeten dan memenuhi syarat.
a. Membantu dalam penyediaan perbekalan yang memadai dan memenuhi syarat.
b. Meningkatkan penelitian dalam praktik farmasi rumahsakit dan dalam ilmu farmastik
umumnya.
c. Membantu dalam pengembangan dan kemajuan profesi kefarmasian.
d. Menyebarkan pengetahuan farmasi dengan mengadakan pertukaran informasi antara
para apoteker rumah sakit, anggota profesi dan spesialis yang serumpun.

Kegunaan Farmasi antara lain :


Menurut Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004, kegunaan pelayanan farmasi
rumah sakit sebagai pengelola perbekalan farmasi dimulai dari pemilihan, perencanaan,
pengadaan, produksi, penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian, pengendalian,
penghapusan, administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan
pelayanan, maka kegunaan Farmasi dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Pemilihan
Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah
sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan
memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat.

2. Perencanaan

17

Merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi
yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang
telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan
epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Pedoman perencanaan berdasarkan
DOEN, formularium rumah sakit, standar terapi rumah sakit, ketentuan setempat yang
berlaku, data catatan medik, anggaran yang tersedia, penetapan prioritas, siklus penyakit, sisa
persediaan,data pemakaian periode yang lalu, dan rencana pengembangan.
3. Pengadaan
Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui,
melalui pembelian secara tender (oleh panitia pembelian barang farmasi) dan secara langsung
dari pabrik/distributor/pedagang besar farmasi/rekanan, melalui produksi/pembuatan sediaan
farmasi (produksi steril dan produksi non steril), dan melalui sumbangan/droping/hibah.
4. Produksi
Merupakan kegiatan membuat, mengubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi
steril atau nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kriteria
obat yang diproduksi adalah sediaan farmasi dengan formula khusus, sediaan farmasi dengan
harga murah, sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil, sedian farmasi yang tidak
tersedia dipasaran, sediaan farmasi untuk penelitian, sediaan nutrisi parenteral, rekonstruksi
sediaan obat kanker.
5. Penerimaan
Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan
aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender, konsinasi atau sumbangan. Pedoman
dalam penerimaan perbekalan farmasi yaitu pabrik harus mempunyai sertifikat analisa, barang
harus bersumber dari distributor utama, harus mempunyai material safety data sheet (MSDS),

18

khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai certificate of origin, dan expire
date minimal 2 tahun.
6.Penyimpanan
Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan
menurut bentuk sediaan dan jenisnya, suhu dan kestabilannya, mudah tidaknya
meledak/terbakar, dan tahan/tidaknya terhadap cahaya, disertai dengan sistem informasi yang
selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan.
7.Pendistribusian
Merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan
individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang
pelayanan medis. Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh
pasien dengan mempertimbangkan:
a. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
b. Metode sentralisasi atau desentralisasi
c. Sistem floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 SEJARAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BADUNG


Di tempat berdirinya RSUD Kabupaten Badung,sebelumnya adalahKlinik Dharma
Asih yang dikelola oleh Yayasan Hindu Markandya.Pada Bulan September 1998 oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Badung diganti namanya menjadi Poliklinik Rumah Bersalin
ura Dharma Asih.
Pada tanggal 30 April 2002 ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor
3 tahun 2002 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum
Daerah Kabupaten Badung. Namun pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat baru
bisa dilaksanakan mulai tanggal 22 Agustus 2002 dan dibuka secara resmi oleh Bapak Bupati
Badung A.A. Oka Ratmadi pada tanggal 4 September 2002, dengan pelayanan yang diberikan
yaitu Poliklinik, UGD dan Rawat Inap, dengan fasilitas 25 tempat tidur. Dalam upaya
peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kemudian
dilakukan perluasan area dan pembangunan gedung rumah sakit yang dibarengi dengan
penambahan SDM dan sarana prasarana pelayanan medik dan penunjang medik lainnya.
Perubahan Manajemen Baru Rumah Sakit pada tahun 2010 telah banyak membawa
keberhasilan dan kemajuan yang sangat signifikat. Hal ini terlihat dari ditetapkan RSUD
Badung sebagai Badan Layan Umum Daerah dengan status Penuh berdasarkan Peraturan
Bupati Badung Nomor: 62 Tahun 2010. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI.
Nomor: YM.01.10/III/278/2011, RSUD. Kabupaten Badung telah dinyatakan lulus Akreditasi
Penuh Tingkat Dasar dan Ditetapkannya RSUD. Kabupaten Badung sebagai

19

20

Rumah Sakit Umum Tipe C berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:
HK.03.05/I/7980/2010
Keberhasilan pengelolaan manajemen rumah sakit dalam peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan kepada masyarakat mendapat apresiasi dan perhatian yang serius serta
komitmen yang sangat tinggi dari Pemerintah Kabupaten Badung untuk menjadikan RSUD.
Kabupaten Badung sebagai Hospital of Tourism pada tahun 2015, dan sebagai langkah awal,
tahun 2012 telah dibangun Gedung A RSUD. Kabupaten Badung dengan tiga lantai yaitu
Lantai I untuk Poliklinik, Lantai II untuk rawat inap dengan 60 tempat tidur dan lantai III
untuk OK, PICU, ICU dan HCU.

3.2 Visi, Misi, Moto, Prinsip Pelayanan, Slogan dan Falsafah


3.2.1

Visi
Menjadi rumah sakit kebanggaan masyarakat, inovatif, kreatif dan berbudaya dalam

pelayanan kesehatan.
3.2.2

Misi

1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berfokus pada keselamatan pasien.


2. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan serta pengabdian
kepada masyarakat
3. Melaksanakan tata kelola administrasi rumah sakit
3.2.3

Motto
Kesehatan Anda adalah Kebahagiaan Kami

3.2.4

Prinsip Pelayanan
Senyum, Sapa, Servis dan Simpati.

3.2.5

Slogan

21

We Love We Care
3.2.6

Falsafah
Falsafah dasar dan nilai yang tertuang dalam rencana strategis RSUD. Kabupaten

Badung dilandasi oleh filosofi dasar yang menjadi motivasi, pengungkit etos kerja seluruh
manajemen dan karyawan rumah sakit. Falsafah dasar dan nilai nilai yang dijunjung tinggi
adalah:
1.

RSUD. Kabupaten Badung menjadi kebanggaan seluruh manajemen dan karyawan

2.

Melayani dengan senyum, sapa, sopan, berempati, inovatif serta mengutamakan


keselamatan pasien

3.

Bekerja profesional, berbudaya, tulus serta menjunjung tinggi moral dan etika.

4.

Melaksanakan pengkajian ilmiah dan pengembangan keilmuan sesuai kemajuan jaman


dan teknologi

5.

Pengabdian merupakan Swadharma, panggilan hati nurani dan yadnya

3.2.7

Tujuan
Mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan mengutamakan

upaya penyuluhan dan pemulihan

yang dilaksanakan secara terpadu melalui upaya

peningkatan pelayanan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.

3.2 SARANA DAN FASILITAS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BADUNG


3.2.1 Fasilitas Pelayanan
Pelaksanaan pelayanan medik di RSUD Kabupaten Badung dapat dibedakan
menjadi lima bagian antara lain :
1.
2.
3.

Pelayanan medik
Pelayanan penunjang
Pelayanan terintegrasi

22

4.

Kegiatan rujukan

5.

Kegiatan administrasi dan keuangan

3.2.2

PelayananMedik
1.
PelayananMedik Rawat Jalan
Pelayanan medik rawat jalan dilayani oleh Poliklinik yang terdiri dari:
a. Klinik Penyakit Dalam
b. Klinik Kebidanan dan Kandungan
c. Klinik Anak
d. Klinik Bedah
e. Klinik Gigi dan Mulut
f. Klinik VCT
g. Klinik Fisioterapi
h. Klinik Jiwa/Psikiatri
i. Klinik Saraf
j. Klinik THT
k. Klinik Mata
l. Klinik Kulit dan Kelamin
m. Klinik Filter
n. Klinik PMTCT
Pelayanan rawat jalan juga dilengkapi dengan Instalasi Rawat Darurat,
Radiologi, Farma

3.2.3 Pelayanan Medik Rawat Inap


Pelayanan medik rawat inap tahun 2012 terdiri dari Rawat Inap Anggrek,
Rawat Inap Jepun, Rawat Inap Tunjung, Rawat Inap Jempiring, Rawat Inap

23

SandatRawat Inap HCU dan Rawat Inap NICUdengan kapasitas tempat tidur
sebanyak 118 buah.
Adapun perincian tempat tidur adalah sebagai berikut :
Kelas I

: 16 buah

Kelas II

: 24 buah

Kelas III

: 58 buah

Kelas VIP

: 9 buah

Isolasi

: 4 buah

Intensif

: 7 buah

Jumlah

: 118 buah tempat tidur

3.2.4 Pelayanan Penunjang


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Instalasi farmasi
Instalasi laboraturium
Instalasi radiologi
Instalasi gizi
Instalasi pemeliharaan sarana dan prasarana
Instalasi sterilisasi dan bina

3.2.5 Pelayanan terintegrasi


1. Imunisasi
2. TB Paru
3. Keluarga Berencana (KB)
4. Penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit (PKMRS)
3.2.6

Kegiatan rujukan

24

Kegiatan rujukan yang dilaksanakan di RSUD Kabupaten Badung adalah :


1. Rujukan dari bawah
2. Yaitu menerima pasien rujukan dari Puskesmas serta fasilitas kesehatan
lainnya
3. Rujukankeatas
4. Yaitu merujuk pasien dari RSUD Kabupaten Badung ke RSUP Sanglah atau
ke rumah sakit yang lebih tinggi.
3.2.7 Kegiatan Administrasidan Keuangan
Adapun kegiatan administrasi dan keuangan dimaksud adalah :
1. Kegiatan unit tata usaha seperti meregistrasi semua surat dinas yang masuk
dan keluar serta urusan kepegawaian.
2. Kegiatan keuangan yang meliputi: Imbalan investasi, Ratio Kas, Ratio Lacar,
Collection Periods dan Perputaran persediaan.

3.3 STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BADUNG


Kabupaten Badung dipimpin oleh seorang Direktur yang membawahi
KepalaBagian Tata Usaha dan 3 (tiga) Kepala Bidang. Bagian Tata Usaha Membawahi
Subag Umum dan Kepegawaian dan Subag Perencanaan dan Keuangan.Bidang
Pelayanan membawahi Seksi Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Darurat serta Seksi
Pelayanan Rawat Inap dan Rawat Intensif Tindakan Medik. Bidang Penunjang
MembawahiSeksi Diagnostik dan Logistik dan Seksi Pemeliharaan Sarana dan
Prasarana. Bidang Pengendalian dan Operasional membawahi Seksi Pengembangan
SDM, Diklat dan Akreditasi.

25

Gambar 3.3 STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


BADUNG
DIREKTUR
DEWAN

Dr. Agus Bintang Suryadi, M. Kes


NIP:19630615 199503 1 004

PENGAWAS

BAGIAN
TATA USAHA

dr. Ni Raka Setiawati


NIP: 19680617 199703 2 002

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

SUB. BAGIAN UMUM


KASUBAG. SUNPRO
DAN KEPEGAWAIAN
KEUANGAN DAN AKUT

I Ketut Sukartayasa, SH, S.Kep.,


M.Sc
Ketut Indrawan,
SE, M.
NIP: 19681231 199303 1
091
NIP: 19740910 200701 1

DIREKTUR
Dr.Agus Bintang Suryadhi.M.KES
BIDANG
BIDANG
PELAYANAN
PENUNJANG
Kepala Bidang Penunjang
Medis

BIDANG PENGENDALIAN
DAN OPRASIONAL

Dr. Putu Sunadiyati,M,KES


dr. Made Nurija, M.Kes
NIP: 19640327 200312 1 001

dr. Putu Sunadiyati, M.Kes


NIP: 19630224 198901 2 002

I Nym Oka Jenyana, SKM.M.Ke


NIP: 19651231 198803 1 213

Kepala Seksi Penunjang Logistik Dan Diagnostic


Drg.Ni Made Suhartini

Kepala
Instalasi
Farmasi
SEKSI
PENUNJANG
SEKSI REKAM MED
SEKSI
PELAYANAN
RAWAT
INAP RAWAT
INTENSIF TINDAKAN
MEDIK
SEKSISARANA
PENGEMBANGAN
SDM DIKLAT DAN AKREDITAS
SEKSI PELAYANAN
RAWAT
JALAN DAN
RAWAT
DARURAT
SEKSI PEMELIHARAAN
DAN PRASARANA
SIM DAN HUMAS
DIAGNOSTIK
LOGISTIK
Putu Sastri Suliasih S,Si,Apt

dr. I Ketut Japa


Ni Nym Suardani, Drg.
S.Kep
Ni Made Suhartini
Kadek Prastikanala,
I. Amd.Kep
D. Nym.Suarteja,
dr.A.A.Ngr.A.
SE.Msi
Eka P
NIP: 19680610 200604
NIP: 19690404
1 015
198902
NIP: 2
19671172
003
200212
NIP:2 19740918
003
199402
NIP: 119720303
002
199603
NIP: 19701111
1 002
20031

RDINATOR PENGELOLAAN
KOORDINATOR
DEPOPENGELOLAAN
FARMASI
KOORDINATOR
FARMASIMANAJEMEN
KOORDINATOR
MUTU
ADMINISTRASI FAR
ah Supriyatini S.Farm,Apt
1. Ni Putu Alit Purnami S,Si.Apt
1. Putu Eka Widya Shanti,S,Farm.Apt
1. Ketut Agus Lastika Putra ,S.Farm,A
ERVISOR PERENCANAAN
SUPERVISOR
DAN PENYIMPANAN
PERENCANAAN
SUPERVISOR
DAN PENYIMPANAN
MONITORING
SUPERVISOR
DAN EVALUASI
TU/SDM
Ketut Sari
2. Ni Nyoman Ayu Manik Sari
2. Yunita
Dewi Purban Dini S.Farm,Apt
2. Sri Lestari
ERVISOR PELAYANAN
SUPERVISOR
PASIEN DISTRIBUSI
SUPERVISOR PENDIDIKAN
SUPERVISOR
DAN PENELITIAN
KEUANGAN
Made Wita Astuti 3. Ni Made Ariani
3. Ni Nyoman Oktapiani S.Farm,Apt
3 Ni Wayan Widiantari
3.4 STRUKTUR ORGANISASI INSTALASI FARMASISUPERVISOR
RSUD BADUNG
PELAPORAN
4. I.G.N.Agung Dhananjaya

26

3.5 URAIAN TUGAS FARMASI DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH BADUNG
3.5.1 Tugas Koordinator Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Memiliki tugas sebagai berikut:
1. Merencanakan program kegiatan di gudang farmasi

27

2. Merencanakan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana, anggaran


3. Mensosialisasikan visi dan misi rumah sakit
4. Melaksanakan penilaian terhadap kinerja staf di gudang farmasi
5. Berkomunikasi dengan pihak internal (dokter, perawat)
6. Berkomunikasi dengan pihak eksternal (rekanan penyedia barang)
7. Melaporkan hasil kegiatan baik lisan maupun tertulis kepada atasan
8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan
Tujuan dari tugas tersebut di atas adalah mengelola Gudang farmasi agar dapat
memberikan pelayanan yang bermutu prima kepada unit-unit di Rumah Sakit.
TANGGUNG JAWAB
1. Memastikan tersusunnya program kegiatan di gudang farmasi
2. Memastikan tersedianya kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana di gudang
farmasi
3. Memastikan tersosialisasinya visi dan misi rumah sakit
4. Memastikan terlaksananya penilaian terhadap kinerja staf di gudang farmasi
5. Membuat rencana kebutuhan obat-obatan di gudang farmasi.
6. Melakukan penukaran obat yang mendekati waktu kadaluwarsa
7. Memastikan tersusunnya jadwal kegiatan di gudang farmasi
8. Melakukan permohonan pelatihan apabila diperlukan

WEWENANG
1. Mengusulkan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana
2. Menilai kinerja staf di gudang farmasi
3.5.2 Tugas Kepala Instalasi Farmasi

28

Memiliki tugas sebagai berikut:


1. Merencanakan program kegiatan di instalasi farmasi
2. Mensosialisasikan visi dan misi rumah sakit
3. Merencanakan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana, anggaran
4. Melaksanakan penilaian terhadap kinerja staf instalasi farmasi
5. Berkomunikasi dengan pihak internal (dokter, perawat) dan pihak eksternal
(rekanan makanan)
6. Melaporkan hasil kegiatan baik lisan maupun tertulis kepada atasan
7. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan
Tujuan dari tugas tersebut di atas adalah mengelola Instalasi farmasi agar dapat
memberikan pelayanan yang bermutu prima kepada pasien dan keluarganya
TANGGUNG JAWAB
1. Memastikan tersusunnya program kegiatan di instalasi farmasi
2. Memastikan tersedianya kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana di instalasi
farmasi
3. Memastikan tersosialisasinya visi dan misi rumah sakit
4. Memastikan terlaksananya penilaian terhadap kinerja staf di instalasi farmasi
5. Membuat rencana kebutuhan perbekalan farmasi di instalasi farmasi
6. Memastikan tersusunnya jadwal kegiatan di instalasi farmasi
7. Melakukan permohonan pelatihan apabila diperlukan
8. Melakukan seleksi penerimaan karyawan baru apabila diperlukan
WEWENANG
1.
Mengusulkan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana
2.
Menilai kinerja staf di instalasi farmasi
3.5.3 Tugas Koordinator Pengelolaan Depo Farmasi
Memiliki tugas sebagai berikut:

29

1. Merencanakan program kegiatan di depo farmasi


2. Merencanakan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana, anggaran
3. Mensosialisasikan visi dan misi rumah sakit
4. Melaksanakan penilaian terhadap kinerja staf di depo farmasi
5. Berkomunikasi dengan pihak internal (dokter, perawat)
6. Memberikan informasi yang berkaitan dengan pelayanan farmasi kepada
pasien dan keluarganya
7. Melaporkan hasil kegiatan baik lisan maupun tertulis kepada atasan
8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan
Tujuan dari tugas tersebut di atas adalah mengelola Depo Farmasi agar dapat
memberikan pelayanan yang bermutu prima kepada pasien dan keluarganya
TANGGUNG JAWAB
1. Memastikan tersusunnya program kegiatan di depo farmasi
2. Memastikan tersedianya kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana di depo
farmasi
3. Memastikan tersosialisasinya visi dan misi rumah sakit
4. Memastikan terlaksananya penilaian terhadap kinerja staf di depo farmasi
5. Membuat rencana kebutuhan obat-obatan di depo farmasi
6. Memastikan tersusunnya jadwal kegiatan di depo farmasi
7. Melakukan permohonan pelatihan apabila diperlukan
WEWENANG
1. Mengusulkan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana
2. Menilai kinerja staf di depo farmasi
3.5.4 Tugas Koordinator Pengelolaan Depo Sentral
Memiliki tugas sebagai berikut :

30

1. Merencanakan dan mengkoordinir program kegiatan di depo sentral


2. Bekerjasama dengan asisten apoteker untuk melayani pasien di depo sentral
3. Merencanakan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana
4. Mensosialisasikan visi dan misi rumah sakit
5. Melaksanakan penilaian terhadap kinerja staf di depo sentral
6. Berkomunikasi dengan pihak internal (dokter, perawat)
7. Memberikan informasi yang berkaitan dengan pelayanan farmasi kepada
pasien dan keluarganya
8. Melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan di depo sentral.
9. Melaporkan hasil kegiatan baik lisan maupun tertulis kepada atasan
10. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan
Tujuan dari tugas tersebut di atas adalah mengelola Instalasi farmasi agar dapat
memberikan pelayanan yang bermutu prima kepada pasien dan keluarganya
TANGGUNG JAWAB
1. Memastikan tersusunnya program kegiatan di depo farmasi
2. Memastikan seluruh kegiatan di depo sentral dapat berjalan dengan baik.
3. Memastikan tersedianya kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana di depo
farmasi
4. Memastikan tersosialisasinya visi dan misi rumah sakit
5. Memastikan terlaksananya penilaian terhadap kinerja staf di depo farmasi
6. Membuat rencana kebutuhan obat-obatan di depo farmasi.
7. Memastikan tersusunnya jadwal kegiatan di depo farmasi
8. Melakukan permohonan pelatihan apabila diperlukan
WEWENANG
1. Mengusulkan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana.

31

2. Menilai kinerja staf di depo farmasi

3.6 PEMBAHASAN
Perbandingan pelayanan farmasi di Rumah Sakit Umum Daerah Badung dengan
pelayanan data yang kami dapat di internet sistem pelayanannya sama, yang membedakan
adalah farmasi di RSUD Badung memakai sistem sentralisasi dan mempunyai:
1. Depot OK bukanya 24 jam
2. Depot rawat inap bukanya 24 jam
3. Depot rawat jalan bukanya 24 jam
3.6.1 Uraian Masalah
Tugas dan fungsi dari masing-masing koordinator farmasi sangat penting karena
berhubungan dengan prosedur dalam kegiatan farmasi. Dari masing-masing koordinator
tersebut harus ada saling kerja sama demi kelancaran kegiatan yang terkait dengan farmasi.
Pelayanan yang cepat,tepat dan akurat merupakan keinginan semua orang termasuk dalam
pelayanan farmasi di Rumah Sakit Umum Daerah Badung. Namun ada saja masalah ataupun
kendala yang menghambat kecepatan pelayanan farmasi yaitu sebagai berikut:
1.

Definisi stok kosong adalah jumlah stok akhir obat


sama dengan nol. Stok gudang mengalami kekosongan dalam persediaannya sehingga

2.

bila ada permintaan tidak bisa terpenuhi.


Ketidaklengkapannya laporan mengenai distribusi obat
di rawat inap.

3.

Laporan bulanan tentang penggunaan obat di IFRS


tidak bisa tepat waktu,dan
pemesanan obat tidak relevan .

Informasi hasil monitoring yang akan digunakan untuk

32

4.

Kesulitan dalam mengakses data untuk monitoring


distribusi.

3.6.2 PEMECAHAN MASALAH


Adapun pemecahan masalah yang harus dilakukan,khususnya:
1. Tentang definisi stok kosong adalah jumlah stok akhir obat sama dengan nol. Stok
gudang mengalami kekosongan dalam persediaannya sehingga bila ada permintaan tidak
bisa terpenuhi
Hal ini terjadi karena:
1) Tidak terdeteksinya obat yang hampir habis, hanya ada persediaan yang kecil untuk
obat-obat tertentu, barang yang dipesan belum datang, PBF (Pedagang Besar
Farmasi) mengalami kekosongan atau pemesanannya ditunda oleh PBF. Selain itu,
apabila terdapat kondisi yang luar biasa, yang menyebabkan pasien bertambah
banyak luar biasa, juga bisa menyebabkan kekosongan stok obat.
2) Terdapat kondisi yang luar biasa, yang menyebabkan pasien bertambah banyak luar
biasa, juga bisa menyebabkan kekosongan stok obat.

Adapun pemecahan masalah di atas adalah:


A. Pengelolaan obat di rumah sakit sesuai peraturan perundangan yang berlaku
dikelola oleh instalasi farmasi dengan sistem satu pintu. Tujuannya agar
pengelolaan bisa efektif dan efisien
2. Ketidaklengkapannya laporan mengenai distribusi obat di rawat inap. Ketidaklengkapan
formulir pengumpul data mempersulit dalam mengakses data sehingga menyebabkan
kesulitan dalam monitoring distribusi. Sesuai dengan perancangan atau pegembangan

33

sistem distribusi obat harus masuk ke dalam sistem informasi manajemen farmasi
(SIMF)/ Drug Management Information system (DMIS). SIMF adalah sebuah sistem
yang terorganisir untuk pengumpulan, pengolahan, pelaporan dan penggunaan informasi
untuk pengambilan keputusan. Dimana informasi untuk setiap sub sistem diperoleh dari
formulir pelaporan dan sebuah kualitas informasi yang baik di dukung oleh kelengkapan
formulir pengumpul data, ketepatan waktu dalam penyampaian, dan relevan. Dengan
adanya data-data yang lengkap maka pengelola IF akan lebih mudah dalam pengambilan
keputusan.
Sistem yang digunakan sistem informasi obat, pengguna (user) adalah direktur RS dan
kepala IFRS. Pemilihan user sistem informasi obat untuk mendukung monitoring
distribusi obat pada pasien rawat inap di IFRS mempunyai dua alternatif, yaitu single
user dan multi user. Prosesnya meliputi pengamatan terhadap formulir, pelaporan, dan
prosedur-prosedur sistem informasi monitoring distribusi obat pada pasien rawat inap.
Sehingga output yang diperoleh adalah informasi untuk monitoring distribusi obat pada
pasien rawat inap di RS.
3. Laporan bulanan tentang penggunaan obat di IFRS tidak bisa tepat waktu. Pemecahan
masalahnya sebagai berikut:
1) Sistem informasi yang dihasilkan mampu untuk mengetahui nama dan jumlah obat
yang di distribusikan per pasien rawat inap.
2) Sistem informasi yang dihasilkan mampu untuk mengetahui peringkat penggunaan
obat mulai yang paling banyak digunakan sampai yang paling sedikit di gunakan.
3) Sistem informasi yang dihasilkan mampu untuk mengetahui biaya obat per pasien
rawat inap.
4) Sistem informasi yang dihasilkan mampu untuk mengetahui total biaya obat

per

pasien rawat inap.


5) Sistem informasi yang dihasilkan harus simpel, tidak rumit,sederhana dan

user

friendly.
4. Kesulitan dalam mengakses data untuk monitoring distribusi.

34

Ketidaklengkapan formulir pengumpul data mempersulit dalam mengakses data


sehingga menyebabkan kesulitan dalam monitoring distribusi. Sesuai dengan
perancangan atau pegembangan system distribusi obat harus masuk ke dalam sistem
informasi manajemen farmasi (SIMF)/ Drug Management Information system (DMIS).
SIMF adalah sebuah sistem yang terorganisir untuk pengumpulan, pengolahan, pelaporan
dan penggunaan informasi untuk pengambilan keputusan. Dimana informasi untuk setiap
sub sistem diperoleh dari formulir pelaporan dan sebuah kualitas informasi yang baik di
dukung oleh kelengkapan formulir pengumpul data, ketepatan waktu dalam
penyampaian, dan relevan. Dengan adanya data-data yang lengkap maka pengelola IF
akan lebih mudah dalam pengambilan keputusan
Dalam mengembangkan sistem informasi obat, dilakukan wawancara dengan subjek
penelitian. Wawancara dilakukan secara perorangan untuk mengidentifikasi kebutuhan
informasi dan permasalahannya. Metode wawancara tersebut dilakukan secara
perorangan, karena:
a. Menyediakan komunikasi dua arah.
b. Dapat meningkatkan antusias pada proyek yang dikembangkan.
c. Dapat meningkatkan kepercayaan antara user dengan spesialis informasi.
d. Memberikan kesempatan bagi responden untuk mengungkapkan pandangan yang
berbeda bahkan bertentangan.

35

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang telah di lakukan dari hasil On The Job Training
selama 3 bulan di Rumah Sakit Umum Daerah Badung, maka penulis dapat menarik suatu
kesimpulan sebagai berikut:
1. Bahwa pengelolaan obat di farmasi belum berjalan dengan baik.
2. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Informasi mengenai monitoring distribusi obat pada pasien rawat inap di butuhkan
pihak manajen yaitu:
a. Nama dan jumlah obat yang didistribusikan per pasien rawat inap.
b. Harga satuan dan total harga obat yang dikonsumsi per pasien rawat inap.
c. Peringkat penggunaan obat dari yang paling banyak digunakan sampai yang
paling sedikit digunakan.
2) Sistem informasi obat untuk mendukung monitoring distribusi obat pada pasien
rawat inap yang saat ini berjalan masih ditemui beberapa kendala yaitu:
a. Laporan mengenai distribusi obat di rawat inap belum lengkap oleh karena data
yang pada saat ini hanya dicantumkan nama obat dan jumlah obat yang ada
digudang farmasi. Pada hal pihak manajerial membutuhkan data mengenai
jumlah obat, nama obat, nama pasien yang menggunakan obat, jumlah obat yang
digunakan per pasien rawat inap di ruangan.
b. Laporan bulanan tentang penggunaan obat di IFRS tidak bisa tepat waktu hal ini
disebabkan karena data-data mengenai distribusi belum tersedia dalam basis

36

37

c. data, masih tersimpan dalam buku bantu, sehingga memerlukan basis data yang
dapat menghubungkan data-data.
d. Informasi hasil monitoring yang akan digunakan untuk pemesanan obat tidak
relevan oleh karena informasi tersebut hanya mencantumkan jumlah, jenis obat,
tidak berdasarkan tingkat penggunaan obat.
e. Belum adanya metode monitoring distribusi obat berdasarkan urutan peringkat
penggunaan obat.
f. Belum ada prosedur pemanfaatan informasi untuk pendistribusian

obat secara

jelas.
3. Diperoleh basis data yang terdiri dari tabel distributor, tabel obat, table dokter, table
ruang, tabel petugas, tabel pasien, tabel pembelian, table perawatan, tabel penanganan,
tabel konsumsi, tabel resep.
4. Dihasilkan sistem informasi obat untuk mendukung monitoring distribusi obat pada
pasien rawat inap di RSUD Badung.

4.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan evaluasi kinerja sistem terus menerus untuk mengatisipasi

adanya

perubahan-perubahan kebutuhan.
2. Sebaiknya data back up minimal satu minggu sekali untuk mengantisipasi rusaknya data.
3. Sistem informasi monitoring obat merupakan sebagian kecil dari sub sistem informasi
rumah sakit maka untuk pengembangan perlu adanya penyeragaman bahasa
pemrograman, field-fieldnya dan standarisasi pengkodean.