Anda di halaman 1dari 10

MENOPAUSE

Siapa Takut ?
Meningkatkannya usia harapan hidup wanita Indonesia
yang mencapai 63 tahun, membuat sebagian besar wanita Indonesia
bakal sempat mengalami menopause. Karena menopause umumnya dialami
pada usia 48-52 tahun.
Beberapa waktu belakangan, Ny. Winda (49) kerap merasakan tulangtulang kakinya pegal. Terutama sehabis berdiri agak lama atau berjalan jauh.
Walhasil, window shopping di mal tak lagi memberikan kesenangan baginya.
Apalagi kalau harus jalan naik-turun tangga, keluhnya.
Semula ia menduga dirinya mengidap rematik, penyakit yang sering
menyerang orang-orang tua itu. Maklumlah, nenek dua orang cucu itu sadar
usianya tak muda lagi.
Namun pemeriksaan medis yang dijalaninya secara efektif, tak
menyimpulkan dirinya mengidap penyakit itu. Selidik punya selidik, rasa pegal
yang amat-sangat itu ternyata akibat oesteoporosis alias pengeroposan tulang.
Yang agak mengherankannya, dokter menduga kekeroposan tulang itu merupakan
dampak dari masa menopause yang mulai dijalaninya beberapa bulan terakhir.
Apa hubungannya? pikir Ny. Winda.
Menopause adalah masa dimana seorang wanita tak lagi memperoleh haid.
Mengapa? Karena pada masa ini, secara klinis indung telur (ovarium) wanita
sudah tak lagi berfungsi. Terutama fungsinya dalam memproduksi hormon
estrogen, yang memiliki pengaruh signifikan terhadap terjadinya menopause.
Hormon Estrogen
Tak adanya produksi hormon estrogen dalam tubuh wanita yang telah
mengalami menopause, menimbulkan dampak ikut lainnya. Salah satu peran
penting hormon estrogen bagi tubuh, adalah membantu penyerapan kalsium oleh

tulang. Tak diproduksinya hormon estrogen, menyebabkan penyerapan kalsium


oleh tulang menurun drastis.
Itulah mengapa, wanita yang telah memasuki menopause rentan terhadap
osteoporosis, seperti yang dialami Ny. Winda. Kondisi ini diperparah karena
secara alami pelepasan kalsium pada tubuh wanita, lebih banyak daripada yang
terbentuk secara alami.
Selain terhadap kinerja tulang, hormon estrogen yang tak lagi diproduksi
ovarium wanita yang telah menopause, ternyata juga berperan vital terhadap organ
tubuh lainnya. Diantaranya adalah otak dan organ-organ kardiovaskular. Tak
mengherankan, jika wanita menopause cenderung mengalami penurunan kinerja
otak. Wanita menopause cenderung pelupa, daya ingatnya menurun dan sulit
berkonsentrasi.
Kemampuan kognitifnya juga tak seperti ketika ia masih memperoleh
haid, kata Dr. Antoni Atmadja, SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan di RS
Bunda. Sementara efeknya pada organ-organ kardiovaskular, menimbulkan
kerentanan penyakit jantung koroner serta meningkatnya risiko terserang stroke.
Jika wanita yang mulai memasuki masa menopause tak siap dengan kondisikondisi ini, bukan tak mungkin akan mengalami tekanan psikologis. Apalagi
pada wanita menopause, kerap dijangkiti perasaan dirinya tak lagi sempurna
sebagai wanita, tambah Antoni.
wanita yang mulai memasuki menopause emosinya cenderung labil, sensitif,
kadang marah-marah tanpa alasan jelas. Reaksi sebaliknya juga bisa terjadi.
Seperti jadi pendiam, murung dan gelisah.
Maka selain dampak fisiologis, menopause juga bisa diikuti dampak
psikologis. Wanita yang mulai memasuki menopause emosinya cenderung labil,
sensitif, kadang marah-marah tanpa alasan jelas. Reaksi sebaliknya juga bisa
terjadi. Seperti terjadi pendiam, murung dan gelisah.
Hubungan suami-istri pun, menjadi libido, mengairahkan lagi. Selain
karena menurunnya libido, organ-organ sex juga sudah tak seprima dulu. Jika
dipaksakan,

hubungan

intim

bukannya

memberikan

kenikmatan

malah

menimbulkan rasa sakit dan lecet pada vagina. Semua ini, bersumber dari satu
masalah yaitu adanya perubahan hormon dalam tubuh.
Kurang Informasi
Semengerikan itukah memasuki masa menopause? Sebenarnya itu. Antoni
mengakui, setiap wanita yang mengalami menopause mengalami reaksi yang
berbeda-beda. Itu khas sifatnya. Tak sedikit yang tak mengalami keluhan apa
pun, ujarnya menyakinkan.
Sementara wanita, malah ada yang memasuki masa menopause dengan
sukacita. Itu karena mereka tak direcoki lagi dengan kerepotan haid serta tak perlu
khawatir mengalami kehamilan yanga tak dikehendaki. Bagi wanita yang masuk
kategori ini, menopause tak lebih dari siklus alami dalam perjalanan hidup wanita.
Lepas dari beragamnya reaksi wanita yang memasuki menopause, Antoni
memprihatinkan minimnya sosialisasi informasi seputar menopause. Karena
kurangnya informasi, Ny. Winda misalnya, menduga osteoporosis yang
dialaminya akibat menopause sebagai penyakit rematik. Masih untuk ia datang
ke dokter. Kalau ia melakukan pengobatan sendiri? Kan bisa berbahaya.
Apalagi meningkatnya usia harapan hidup wanita Indonesia yang
mencapai 63 tahun, membuat sebagian besar wanita Indonesia bakal sempat
mengalami menopause. Karena menopause umumnya dialami pada usia 48-52
tahun.
Sosialisasi informasi menopause menjadi penting, karena tentu setiap
orang ingin menjalani masa tuanya dengan bahagia dan sejahtera. Memang ada
yang berkonsultasi atau menjalani terapi atas berbagai keluhan akibat menopause.
Namun kedatangan mereka pada dokter bukan didasar kesadaran sendiri. Awalnya
ikut-ikutan atau informasi dari mulut ke mulut, papar Antoni.
Antoni mengakui, perhatian pemerintah terhadap masalah ini sangat
minim. Namun ia maklum karena sumberdaya pemerintah sangat terbatas. Belum
lagi masalah keterbatasan dana. Untuk menekan angka kematian ibu saat
melahirkan dan meningkatkan harapan hidup bayi saja, susah sekali. Apalagi
untuk urusan menopause, imbuhnya.

Untuknya, kini mulai banyak pihak swasta yang mulai menaruh perhatian
terhadap penanganan masalah menopause. Mulai dari menjalankan program
sosialisasi informasi, hingga penyediaan sarana dan prasarana untuk diagnosa dan
terapi berbagai masalah di seputar menopause.
Tetap Bergairah Saat Menopause
Persis saat usianya menginjak 50 tahun Ny. Ane tak lagi menerima tamu
rutin tiap bulan. Ia mulai berhenti haid dan memasuki masa menopause. Suatu
fase baru, bagian dari siklus alami dalam hidup setiap wanita, pikirnya positif.
Saat-saat memasuki masa menopause, tak jarang dibayangkan sementara
wanita sebagai berakhirnya hidup. Setelah puluhan tahun seorang wanita
mengalami haid, tiba-tiba berhenti. Gairah sex tak ada lagi. Hidup seolah berjalan
cepat, masa tua pun membayang di depan mata.
Bayangan-bayangan seperti itulah yang kerap mempengaruhi psikologi
wanita saat memasuki menopause. Akibatnya, selain berbagai gejala klinis,
menopause juga sering mendatangkan gejala-gejala psikologis. Tapi semengerikan
itukah menopause?
Menurut Dr. Antoni Atmadja, SpOG, reaksi yang timbul pada setiap
wanita yang mengalami menopause adalah khas, tidak selalu sama. Sehingga
menopause tidak serta-merta menimbulkan esteoporosis, jantung koroner atau
keluhan lainnya, ujar spesialis kebidanan dan kandung RS Bunda itu.
Jika tak ada keluhan signifikan akibat menopause, otomatis secara
psikologis wanita juga lebih siap dan percaya meskipun mulai memasuki masa
menopause. Hanya yang tak siap yang akan merasa hidupnya sebagai wanita tak
sempurna lagi.
Siapkan Diri Sejak Dini
Bagi Ny. Ane misalnya, memasuki menopause berarti dirinya tak
direpotkan lagi dengan tetek-bengek masalah haid. Haid itu kadang-kadang
merepotkan. Apalgi kalau kita sedang di kantor atau di tempat umum, tiba-tiba
dapat. Sekarang di mana saja saya tak perlu khawatir kedatangan tamu,

ujarnya penuh percaya diri. Tentu saja kepercayaan diri Ny. Ane tak akan muncul
jika kesehatan tubuhnya tak prima. Secara alami, tak diproduksinya lagi hormon
estrogen oleh indung telur ketika wanita mengalami menopause, memang
berpotensi menimbulkan berbagai keluhan. Itu karena hormon estrogen sangat
vital peranannya terhadap berbagai organ tubuh.
Untungnya, selain dari indung telur hormon estrogen juga dihasilkan dari
cadangan lemak dalam tubuh. Konsumsi makanan dengan gizi berimbang, akan
berpengaruh signifikan terhadap produksi estrogen dari cadangan lemak tubuh ini.
Esteoporosis pasca-menopause, juga bukannya tak bisa diantisipasi.
Dengan memberi asupan kalsium yang memadai pada tubuh, tak perlu khawatir
dengan gejala pengeroposan tulang ini. Karena saat penyerapan kalsium menurun
pada masa menopause, densitas tulang-tulang sudah prima.
Berolahraga, menurut Antoni juga sangat berpengaruh signifikan dalam
membentuk densitas tulang yang prima. Sudah terbukti, tulang yang lebih
banyak bergerak memiliki densitas yang lebih baik, tandasnya. Tentu olahraga
yang efektif mencegah oesteoporosis adalah yang dibiasakan sejak dini.
Memang,

berkurangnya

pemenuhan

kebutuhan

hormon

estrogen

sebenarnya masih bisa diatasi dengan Hormon Replacement Therapy (HRT).


Namun masalahnya, tak setiap wanita yang mengalami berbagai keluhan bisa
begitu saja menjalani terapi hormon (Baca: Terapi Hormon, sebuah Solusi).
Maka cara terbaik untuk menghadapi masa menopause adalah dengan
mempersiapkannya sejak dini. Walhasil, menopause bukan hanya urusan wanita
berusia 48 tahun ke atas. Jika kesehatan kita ingin tetap prima saat masa
menopause tiba, maka sekaranglah waktu yang tepat untuk melakukan berbagai
persiapan diri.
Terapi Hormon, sebuah Solusi
Banyak wanita mengalami keluhan saat memasuki masa menopause.
Biasakkah itu diatasi?
Pangkal mula masalanya adalah berhentinya produksi estrogen dari indung
telur. Padahal hormon estrogen sangat vital bagi kinerja otak, kardiovaskular,

penyerapan kalsium oleh tulang dan kesegaran kulit. Untungnya Tuhan itu adil,
hormon estrogen tak hanya diproduksi dari indung telur, tapi juga dari cadangan
lemak pada tubuh dan bisa berasal dari makanan yang kita konsumsi.
Jadi ada produksi estrogen selain dari indung telur ?
Ya, yang dari makanan itu disebut fitohormon estrogen. Misalnya dari
kacang kedelai dan pepaya. Masalahnya, kadang produksinya masih kurang dari
kebutuhan. Apalagi pada wanita yang cadangan lemaknya sedikit, gizi pada
makanan yang dikonsumsinya kurang berimbang. Hal ini yang berpotensi
menimbulkan berbagai keluhan.
Bagaimana terapi untuk mengatasi keluhan seperti itu ?
Bisa dengan Hormon Replacement Therapy (HRT) atau terapi hormon.
Pasien diberi hormon estrogen buatan, bukan yang diproduksi dari dalam tubuh
secara alami. Namun pemberian HRT ini tak bisa sembarangan, karena estrogen
buatan ini bisa menimbulkan dampak negatif.
Pradondisi seperti apa yang memungkinkan seseorang menjalani HRT?
Pertama,HRT baru diberikan jika wanita menopause mengalami keluhan.
Misalnya ada gejala osteoporosis. Kalau nggak ada keluhan, kan tidak perlu. Kedua,
sebelum HRT diberikan pasien harus menjalani screening untuk memastikan HRT ini
tak akan menimbulkan dampak negatif. Kalau kedua kondisi ini terpenuhi, baru bisa
HRT. Jadi tak semua wanita menopause memerlukan HRT.
Haid tiba-tiba terhenti, gairah sex tak ada lagi. Hidup seolah berjalan cepat,
masa tua pun membayang di depan mata.
Apa dampak negatifnya ?
Pemberian hormon estrogen buatan berpotensi menimbulkan kanker payudara
dan kanker endometrium. Untuk memastikan tak ada risiko kanker, sebelum di-HRT
pasien harus menjalani screening dengan mammografi dan pap smear.
Dimana pasien bisa menjalani screening seperti itu?
Saya kira di Indonesia ini memang belum banyak alatnya. Tapi di RS
Bunda sudah bisa dilakukan screening mammografi tersebut. Kalau pap smear
saya kira sudah banyak. Setelah dipastikan tak ada risiko kanker, baru bisa
diberikan HRT.

Jangan Anggap Sepele Osteoporosis


Belakangan. Bu Sri sering mengeluhkan rasa nyeri yang berkepanjangan
pada beberapa bagian tulangnya. Menyadari sudah berumur senja. Bu Sri telah
banyak mengurangi aktivitasnya di luar. Bu Sri bahkan telah mengajukan pensiun
percepatnya dan memilih tinggal di rumah. Tapi fatal, saat mengangkat as koper
kecilnya ke kabin pesawat dalam perjalanannya ke Surabaya, tahu-tahu krak,
ada bunyi dari punggung Bu Sri. Dokter mengatakan patah di tulang belakang Bu
Sri dikarenakan Bu Sri menderita Osteoporosis.
Osteoporosis yang lebih sering disebut sebagai penyakit rapuh tulang atau
keropos tulang, termasuk penyakit gangguan metabolisme. Suatu keadaan
dimana tubuh tidak mampu menyerap dan menggunakan bahan-bahan untuk
proses pembentukan tulang secara normal, seperti zat kapur/kalsium, phosfat, dan
bahan lain. Akibatnya, akan terjadi pengurangan massa atau jaringan tulang per
unit volume tulang dibanding dengan keadaan norml, demikian Dr. Wydia
Paramita dari RS Bunda Jakarta menjelaskan mengenai Oseoporosis.
Bila tidak ditangani, penderita osteoporosis dapat mengalami pengerutan,
yakni tinggi tubuhnya menjadi berkurang. Juga bisa mengakibatkan postur tubuh
jadi bungkuk. Akibat dari Osteoporosis pula, tulang menjadi mudah patah dan
tidak tahan terhadap benturan ringan. Tulang yang sering mengalami patah adalah
tulang di daerah lengan bawah, tulang belakang, dan tulang paha. Angka kesakitan
dan kecacatan meningkat dan dapat terjadi komplikasi yang menimbulkan
kematian.
Keadaan yang fatal seperti patahnya tulang belakang Bu Sri dapat
..keberadaan osteoporosis .Usaha Pencegahan Akibat ..masyarakat masih
awam penyakit ini, meski potensi justru semakin besar . Dengan
meningkatnya diakibatkan oleh semakin .. serta kemajuan teknologi
kesehatan.
Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 1998, angka
harapan hidup orang Indonesia meningkat dari 65 tahun di tahun 1998 menjadi 73
tahun nanti di 2025. Tetapi makin meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut

berakibat juga semakin meningkatnya penyakit osteoporosis. Berdasarkan hasil


monitoring dari FKUI, selama 5 tahun terakhir didapatkan 3800 kasus
osteoporosis yang diderita oleh penduduk dengan usia 48 sampai 85 tahun di
Jakarta.
Penderita Wanita Lebih Banyak
Wanita usia lanjut seperti Bu Sri, mempunyai resiko lebih besar terhadap
osteoporosis dibanding lawan jenisnya. Kurang lebih 1 dari 3 perempuan
mengalami osteoporosis, sedangkan hanya 1 dari 8 laki-laki yang beresiko sama.
Mengapa kaum wanita beresiko lebih tinggi? Menurut Dr. Wydia, proses
penyusutan tulang sangat dipengaruhi oleh homon estrogen. Kurangnya pengaruh
estrogen yang mendadak pada saat menopause akan berpengaruh kuat pada
metabolisme tulang. Ini yang menyebabkan angka kejadian pada wanita lebih
tinggi terutama post menopause.
Penyusutan kepadatan tulang mulai terjadi berangsur-angsur sejak
perempuan berusia 30-40 tahun dan osteoporosis mulai dapat dijumpai kurang
lebih 5-10 tahun setelah menopause. Pada usia pasca menopause di atas 50 tahun,
rendahnya kadar estrogen akan menyebabkan penurunan pembentukan tulang dan
peningkatan penyerapan tulang, sehingga terjadilah osteoporosis. Selama
hidupnya perempuan akan kehilangan masa tulang sekitar 40-50% dibanding lakilaki yang hanya sebesar 20-30%.
Kenali Osteoporosis
Pengobatan osteoporosis hingga saat ini jauh dari memuaskan. Oleh
karena itu, mengetahui secara dini apakah seseorang menderita osteoporosis atau
tidak adalah hal yang sangat penting. Tujuannya adalah untuk dapat mencegah
munculnya resiko patah tulang di kemudian hari.
Upaya yang dilakukan pertama kali adalah dengan mengetahui beberapa
faktor resiko yang dihadapi terutama oleh wanita selama hidupnya. Salah satu
faktor resiko terpenting adalah kekurangan estrogen pada wanita menopause.
Faktor resiko lain adalah: wanita yang tidak pernah mengalami haid sejak muda,

olahraga yang terlalu berat, sejarah penyakit osteoporosis di keluarga, terlampau


kurus, menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun, wanita perokok, kurang
berolahraga, kurangnya cukupan gizi, kurang paparan sinar matahari, konsumsi
kopi dan alkohol berlebihan, dan sebagainya.
Sedangkan kelainan yang bisa dijadikan dasar pemikiran ke arah diagnosa
Osteoporosis adalah keluhan sakit pinggang yang tidak jelas sampai yang berat
dan terjadinya patah tulang paha atau tulang lain secara spontan akibat hal yang
sepele, atau kurangnya tinggi badan secara mendadak. Hal ini karena patah ruas
tulang belakang atau tulang belakang melesak satu sama lain (collaps).
Mencegah Lebih Baik
Sebagaimana penyakit lain, pencegahan osteoporosis jauh lebih murah
daripada pengobatannya. Pencegahan primer osteoporosis adalah mengupayakan
pencapaian Bone Mineral Density (BMD) puncak setinggi mungkin, diikuti
pencegahan kehilangan massa tulang. Keadaan yang mempengaruhi pencapaian
BMD puncak adalah faktor genetik dan lingkungan.
Faktor genetik belum dapat diubah, sedangkan faktor lingkungan atau pola
hidup dapat diatur. Beberapa upaya bisa dilakukan untuk menghambat kecepatan
serangan osteoporosis, yakni dengan cara mengurangi resiko timbulnya antara lain
dengan cara :
Pertama

: Berolahraga teratur. Aktivitas fisik yang dilakukan sejak masa kanakkanak merupakan faktor penting untuk menguatkan tulang karena dapat
menguatkan masa tulang. Demikian juga latihan fisik yang dilakukan
terus menerus akan menghambat osteoporosis yang terlalu dini.

Kedua

: Memelihara sikap tubuh, yakni menjaga agar sikap tulang punggung


selalu lurus. Misalnya jangan duduk dengan sikap membungkuk dan
jangan pula terlalu lama. Bagi para pekerja kantoran hal ini perlu
diperhatikan.

Ketiga

: Upaya pencegahan itu bisa pula dilakukan dengan cara menjaga


asupan kalsium, antara lain dengan cara mengkonsumsi susu secara
teratur atau tablet. Selanjutnya upaya bisa pula dilakukan dengan

mengatasi faktor pencetus. Seperti, mengobati penyakit diabet yang


bisa mempercepat keroposnya tulang. Juga mengurangi rokok,
alkohol maupun kopi.