Anda di halaman 1dari 61

By: Fatahullah

ullaw84@yahoo.co.id

PELAJARILAH DAN

AJARKANLAH ILMU
WARIS, KARENA ILMU
ITU ADALAH SEPARUH
(DARI KESELURUHAN)
ILMU. ILMU WARIS
ADALAH ILMU YANG
MUDAH DILUPAKAN
DAN YANG PERTAMA
KALI DICABUT DARI
UMATKU (HR. Ibnu
Majah dan Daruqthni)

PELAJARILAH AL-QURAN.

PELAJARILAH ILMU WARIS


DAN AJARKANLAH KEPADA
ORANG LAIN. AKU ADALAH
MANUSIA YANG AKAN MATI
DAN ILMU ITU AKAN
DIANGKAT SEHINGGA
KELAK AKAN ADA DUA
ORANG YANG BERTENGKAR
DALAM MASALAH WARISAN
DAN PERMASALAHANNYA
TANPA MENEMUKAN
SEORANGPUN YANG
MAMPU MENYELESAIKAN
PERSOALAN YANG SEDANG
MEREKA HADAPI (HR.
Ahmad)

Beberapa
Istilah
1. Pewaris adalah yang pada saat meninggalnya atau

dinyatakan meninggalnya berdasarkan putusan


Pengadilan beragama Islam, meninggalakan ahli
waris dan harta peninggalan.
2. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal
dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan
perkawinan dengan pewaris, beraga islam dan tidak
terhalang karen hk menjadi ahli waris.
3. Harta warisan adalah segala harta yang ditinggalkan
oleh pewaris setelah dikurangi dg biaya-biaya sakit,
pengurusan jenazah, utang, wasiat dll.
4. Harta peninggalan adalah segala harta yang
tinggalkan oleh pewaris, baik yang berupa harta
benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya
(HAKI).

Lanjutan
5. WASIAT ADALAH PEMBERIAN SUATU HARTA
BENDA DARI PEWARIS KEPADA ORANG LAIN
ATAU LEMBAGA YG AKAN BERLAKU SETELAH
PEWARIS MENINGGAL DUNIA.
6. Hibah adalah pemberian suatu harta benda
secara sukarela dan tanpa imbalan dari
seseorang kepada orang lain yg masih hidup
utk dimiliki.
7. Hukum waris adalah aturan ttg berpindahnya
hak kepemilikan dari pewaris kepada ahli
warisnya yang masih hidup baik yang
ditinggalkan itu berupa uang, tanah atau
apapun yg berupa hak milik yg legal.

8. Aul yakni: apabila dl pembagian harta


warisan diantara AW dzawil furud menunjukan
bahwa angka pembilang lebih besar dr angka
penyebut, maka angka penyebut di naikan
sesuai dg angka pembilang.
9. Rad yakni kebalikan dr aul

Sebab-sebab waris
mewaris
1. Kekeraban hakiki (adanya ikatan
nasab/darah), ex: ayah, ibu, anak
2. Pernikahan
3. al-wala yakni kekerabatan karena sebab
hukum. Ex: memerdekakan budak
4. Sebab sesama muslim

Dasar hk
Al-Quran:
Surah An-Nisa: 11,12 dan 176
Al-Anfal: 75
Al-Ahzab: 6
2. Al-Hadist: org islam tdk punya hak waris atas
org kafir, org kafir tdk punya hak waris atas org
islam (HR. Bukhari-Muslim).
3. UU No. 3 thn 2006 ttg perubahan atas UU No. 7
thn 1989 ttg Pengadilan Agama. Diubah lagi dg
UU no. 50 Thn 2009
4. Inpres No. 1 thn 1991 ttg KHI Buku II
1.
a.
b.
c.

Asas-asas
hk kewarisan
Asas integrity
Integrity artinya : Ketulusan hati, kejujuran, keutuhan.
bahwa dalam melaksanakan Hukum Kewarisan Islam
islam
diperlukan ketulusan hati untuk mentaatinya karena
1.

terikat dengan aturan yang diyakini kebenarannya. Hal ini


juga dapat dilihat dari keimanan seseorang untuk
mentaati hukum Allan SWT, apalagi penjelasan umum
angka 2 alinea keenam UU No. 7 tahun 1989 Tentang
Peradilan Agama memberi hak opsi kepada para pihak
untuk bebas menentukan pilihan hukum waris mana yang
akan dipergunakan telah dihapus dalam UU No. 3/2006
2. Asas Taabbudi (penghambaan diri)
Azas Ta'abbudi adalah melaksanakan pembagian waris
secara hukum Islam adalah merupakan bagian dari
ibadah kepada Allah SWT, yang akan berpahala bila
ditaati seperti layaknya mentaati pelaksanaan hukumhukum Islam lainnya.

Lanjutan
3. Azas Hukukun thabiiyah (hak-hak dasar)
hukukun thabiiyah adalah hak-hak dasar dari ahli
waris sebagai manusia, artinya meskipun ahli
waris itu seorang bayi yang baru lahir atau
seseorang yang sudah sakit menghadapi kematian
sedangkan ia masih hidup ketika pewaris
meninggal dunia, begitu juga suami istri yang
belum bercerai walaupun sudah pisah tempat
tingalnya, maka dipandang cakap untuk mewarisi.
4. Azas Ijbari
Ijbari adalah bahwa dalam hukum kewarisan Islam
secara otomatis peralihan harta dari seseorang
yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada ahli
warisnya sesuai dengan ketetapan Allah SWT
tanpa digantungkan kepada kehendak seseorang
baik pewaris maupun ahli waris.

Lanjutan.
5. Azas Bilateral
Bahwa seseorang menerima hak kewarisan
dari kedua belah pihak yaitu dari kerabat
keturunan laki-laki dan dari kerabat keturunan
perempuan.
6. Azas Individual (perorangan)
Bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi pada
masing masing ahli waris untuk dimiliki secara
perorangan.

Lanjutan
7. Azas keadilan berimbang
Bahwa harus ada keseimbangan antara hak
yang diperoleh seseorang dari harta warisan
dengan kewajiban atau beban biaya kehidupan
yang harus ditunaikannya.
8. Azas kewarisan ada karena ada kematian
Bahwa kewarisan baru muncul bila ada yang
meninggal dunia. Ini berarti kewarisan sematamata sebagai akibat dari kematian seseorang.
Menurut ketentuan hukum Kewarisan Islam,
peralihan harta seseorang kepada orang lain
yang disebut kewarisan terjadi setelah orang
yang mempunyai harta itu meninggal dunia.

lanjutan
Hukum kewarisan islam, karena itu tidak

mengenal kewarisan atas dasar wasiat atau


kewarisan karena diangkat atau ditunjuk
dengan surat wasiat yang dilakukan oleh
seseorang pada waktu ia masih hidup, yang
disebut dalam hukum perdata barat dengan
istilah kewarisan secara testamen.

Syarat-syarat waris:
1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik

secara hakiki maupun secara hukum


(dianggap telah meninggal)
2. Adanya ahli waris yang hidup pada waktu
pewaris meninggal dunia
3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti.

Bagaimana dg anak yang


masih dalam kandungan?

Untuk masalah ini ada dua persyaratan:


1.Dapat diyakini bahwa anak itu telah ada
dalam kandungan ibunya pada saat pewaris
meninggal dunia
2.Bayi yang ada dalam kandungan tersebut
dilahirkan dalam keadaan hidup, sebab hanya
ahli waris yang hidup (pada saat kematian si
pewaris) yg berhak utk mendapatkan harta
warisan.

UNTUK MENGATASI PERSOALAN TERSEBUT


MAKA DAPAT DILAKUKAN PEMBAGIAN
SEMENTARA SAMPAI ANAK DALAM
KANDUNGAN TERSEBUT LAHIR, BARU
KEMUDIAN DILAKUKAN PEMBAGIAN YANG
SEBENARNYA.

Tertutup/Halangan menjadi ahli


Halangan
waris menjadi ahli waris ini dalam KHI diatur

dalam pasal 173.


seseorang terhalang menjadi ahli waris apabila
dg putusan Hakim yang telah mempunyai
kekuatan hk tetap, dihukum karena:
a.Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba
membunuh atau menganiaya berat pada pewaris.
b.Dipersalahkan secara memfitnah telah
mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah
melakukan suatu kejahatan yang diancam
dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman
yang lebih berat.

Sedangkan

Dalam hk islam ada 3 sebab seseorang tdk


berhak mendapatkan warisan, yaitu:
1.Budak
2.Pembunuhan
Rasulullah bersabda tidaklah seorang
pembunuh berhak mewarisi harta orang yg
dibunuhnya
3.Perbedaan agama

harta bersama (lihat psl 96 KHI)

pemilahan harta muwarrits


milik pihak lain
rumah sakit
memandikan
biaya pengurusan jenazah

mengkafani
menyolatkan

URUTAN
KERJA

menguburkan
pembayaran hutang

pelaksanaan wasiat

pembagian waris

tidak berlaku sebaliknya

maksimal 1/3

Tahapan dalam pembagian


warisan
1. Menentukan ahli waris

2. Mentukan hijab/halang-

menghalangi
3. Menentukan ashabah
4. Menentukan porsi/bagian
masing-masing
5. Mengadakan pembagian

Ditinjau dr hak dan


bagiannya
ahli
waris
dpt
1. AW Dzawil Furudl, aw yg sudah ditentukan bagian/
porsinya dl Al-Quran yg berjmlah ada 12 golongan,
dibedakan:
al:
a. 8 org dr gol. Perempuan al: 1). Istri, 2). Ibu, 3).
Nenek, 4). Anak pr, 5). Cucu pr dr anak lk2, 6). Sdr pr
seibu sebpk, 7). Sdr pr sebpk, 8). Sdr pr seibu.
b. 4 org dr gol laki2 al: 1). Suami, 2). Bapak, 3).
Kakek, 4). Sdr laki2 seibu
2. AW Ashabah
3. AW Dzawil Arham, yakni aw yg tdk berhak
mendapatkan bag ttt (furudl) dan juga tdk berhak
mendaptkan ashabah krn pertalian dan hub
kekeluargaan terlalu jauh

Ahli Waris Djawil Furudh


21

ibunya ibu

ibunya
ayah

ayahnya
ayah

Jalur C
6

15

16

ibu

ayah

paman
seayahibu

paman
seayah

Jalur F

22

10

11

12

17

18

sdr/i
seibu

istri

suami

sdri
seayahibu

sdr
seayahibu

sdr
seayah

sdri
seayah

sepupu
laki

sepupu
laki

ALM

Jalur B

Jalur D

Jalur G

13

14

anak pr

anak laki

keponaka
n laki-laki

keponaka
n laki-laki

Jalur E

Jalur A
20

19

cucu pr

cucu laki

SKEMA AHLI WARIS DJAWIL FURUDH


4a

3b

3a

7a

6a

5a

1a
istri
budak

2a

suami
budak

10

11

12

13

Ket. Gambar:
1.No 1 s/d 13 AW gol Laki2
2.No 1a s/d 7a AW gol
Perempuan
3.Tanda panah berarti hub darah
4.Garis putus2 artinya hub

SKEMA AHLI WARIS MENURUT KHI


PSL 174 AYAT (1)
3a

7a

6a

1a

8a

4a

2a

5a

Ket. Gambar:
1.No 1 s/d 9 AW gol Laki2
2.No 1a s/d 8a AW gol
Perempuan
3.Garis lurus artinya hub. darah
4.Garis putus2 artinya hub

MENURUT
KETENTUAN PASAL
174 AYAT 2 KHI
APABILA SEMUA
AHLI WARIS ADA,
MAKA YG BERHAK
MENDAPAT WARISAN
HANYA: ANAK, AYAH,
IBU, JANDA ATAU
DUDA.

anak angkat anak asuh


anak tiri
mantan suami mantan istri
keponakan perempuan
BUKAN
AHLI
WARIS

keponakan dari saudara perempuan


mertua menantu
saudara ipar
cucu dari anak perempuan
paman bibi jalur ibu
saudara lain ayah lain ibu

Ahli Waris Djawil Arham


Yakni keluarga yg tdk

memiliki hak waris


sebagaimana djawil furudh
dan tdk termasuk ashabah.
Yg termasuk djawil arham al:
1. Cucu (anak dr anak pr) &
strsnya k bwh
2. Kakek dr ibu
3. Keponakan (anak dr sdr pr)
4. Paman dr pihak ibu
5. Bibi (sdr pr bpk)
6. Sdr ibu baik lk2 atau pr
7. Anak pr dr sdr laki2 seibusbpk, sbpk, sibu
8. Anak pr dr sdr pr seibu-sbpk,
sbpk, seibu

Dalil yg jadi dasar djawil

arham:
1. Dan org yg mempunyai
hubungan darah satu sama
lain lebih berhak (saling
mewaris) di dl kitab Allah dr
pada org2 mukmin dan
muhajirin (QS. Al-Ahzab:
6)
2. Allah dan Rasul-Nya adl
pelindung bagi yg tdk
mempunyai pelindung, dan
paman dr ibu adl pewaris
bagi yg mempunyai ahli
waris(HR. Ahmad, Ibnu
Majah dan Tirmizi)

AHLI WARIS PENGGANTI


Pasal 185 KHI:

(1) Ahli waris yg meninggal lebih dahulu drpd


sipewaris maka kedudukannya dpt diganti
oleh anaknya, kecuali mereka yg tersebut dl
pasal 173.
(2) Bagian bagi hali waris pengganti tdk boleh
melebihi dr bagian ahli waris yg sederajat dg
yg diganti.

Ahli waris anak angkat


dan dia tdk

menjadikan anakanak angkatmu


sebagai anak
kandungmu (sendiri).
Yg demikian itu
hanyalah perkataan
di mulutmu saja. Dan
Allah mengatakan yg
sebenarnya dan dia
menunjukan jalan yg
benar.

Panggillah mereka

(anak-anak angkat itu)


dg (memakai) nama
bapak-bapak mereka;
itulah yg lebih adil pada
sisi Allah, dan jika kamu
tdk mengetahui namanama bapak mereka,
maka (panggillah
mereka sebagai)
saudara-saudaramu
seagama dan maulamaulamu (QS. AlAhzab,33: 4-5)

Berdasarkan ijtihad ulama anak angkat masih

berhak untuk mendapatkan warisan melalui


wasiat atau wasiat wajibah yg tdk boleh lebih
dari 1/3 dr harta warisan (psl 209 inpres
1/1991 KHI)

Hijab/halang-menghalangi
1. Hijab hirman

adalah penghalang
yg menyebabkan
ahli waris tdk
memperoleh sama
sekali warisan
disebabkan ahli
waris yg lain. Ex.
Seorang cucu akan
terhijab jika pewaris
memiliki anak laki2.

2. Hijab nuqsan adalah


penghalang yg
menyebabkan
berkurangnya bagian
seorg ahli waris. Ex.
Pewaris meninggalkan
seorg istri dan anak
laki-laki dan
perempuan. Istri akan
mendptkan apabila
tdak adanya anak
tetapi dg adanya anak
maka istri hanya
mendapatkan 1/8.

Ahli waris yang menjadi penghalang bagi ahli

waris lain dalam hukum waris islam disebut


dengan istilah hijab, sedangkan ahli waris
yang terhalang disebut dengan istilah
mahjub.

SKEMA HIJAB
3a

3,3a

4a

3b

3a

7a

1,2,3,4,5,5
a (am),5a
> 1 & tdk
ada sdr lk
sbk yg
mngasbah
kn

=9+
9

= 10 + 10

10

11

12

= 11 +
11

13

= 12 + 12

1,1a,2,2a
3,4

1,2,3

6a

5a

= no 7

1a

1
1,1a
>1

istri

2a

1,1a > 1 &


tdk ada CL
yg
mngasbah
kn

8
1

1,2
3
1,2
3,4,5,6,5
a(am),6a
(am)

sua
mi

7
1,2
3,5,5a(am)

=8+
8

Ahli waris yg mengalami hijab hirman:


Kelompok laki2
1. anak laki2 tdk ada yg menghijab
2. Cucu laki2 dari anak laki dihijab oleh anak laki2
3. Cicit laki2 terhijab oleh anak laki2 dan cucu laki2, seterusnya kebawah
4. Datuk dihijab oleh bapak, demikian seterusnya keatas, yg dekat menghalangi

yg jauh.
5. Saudara laki2 seibu sebapak terhalang oleh anak laki2, bapak dan cucu laki2
dan seterusnya kebawah.
6. Saudara laki2 sebapak terhijab oleh anak laki2, cucu laki dr anak laki2
seterusnya, bapak, saudara laki2 seibu sebapak dan perempuan seibu sebapak.
7. Saudara laki seibu dihijab oleh anak laki2, anak perempuan, cucu laki2 dr anak
laki2, cucu perempuan dari anak laki2, bapak, datuk dan seterusnya keatas.
8. Anak laki2 dr saudara laki seibu sebpk dihijab oleh anak laki2, cucu laki2 dr
anak laki2 dan seterusnya kebawah, bapak, datuk, saudara laki2 seibu
sebapak, saudara laki2 sebapak, saudara Pr seibu sebapak dan sdr Pr sebapak
(apabila ashabah maal ghair).
9. Anak laki2 dari saudara laki2 sebapak terhijab oleh anak laki2, cucu laki2 dan
seterusnya kebawah, bapak datuk, saudara laki2 seibu sebapak, saudara laki2
sebapak, saudara perempuan seibu sebpk, saudara perempuan sebapak dan
anak laki2 dr saudara laki2 seibu sebapak

10. Saudara laki2 bapak yg seibu sebapak, terhijab oleh anak


laki2, cucu laki2 dan seterunya kebawah, bapak, datuk,
saudara laki2 seibu sebapak, saudara laki2 sebapak, saudara
perempuan seibu sebapak, saudara perempuan sebapak,
anak laki2 dr saudara laki2 seibu sebapak seterusnya
kebawah, anak laki2 dr saudara laki2 sebapak dan seterusnya
kebawah.
11. Saudara laki2 bapak yg sebapak terhalang oleh semua ahli
waris yg menghalang no 10 dan saudara laki2 bapak yg seibu
sebapak
12. Anak laki2 dari saudara laki2 bapak yg seibu sebapak
terhalang oleh seluruh ahli waris yg menghalang no 11
ditambah dg saudara laki2 bapak yg sebapak.
13. Anak laki2 dr saudara laki2 bapak yg sebapak terhalang
oleh seluruh ahli waris yg menghalang no. 12 ditambah no. 12
14. Suami tdk ada yg menghijab
15. laki2 yg memerdekakan pewaris dari perbudakan terhalang
oleh semua ahli waris yg menghalang no 13 dan ditambah dg
no. 13

Kelompok perempuan:
1.Anak perempuan tdk ada yg menghalangi.
2.Cucu perempuan (anak perempuan dr anak

laki2) terhalang oleh anak laki2, 2 AP atau lebih


dan tdk ada cucu laki2 yg mengasbahkannya
3.Ibu tdk ada yg menghalang
4.Nenek (ibu dari ibu) terhalang oleh ibu
5.Nenek (ibu dr bapak) terhalang oleh ibu bapak
6.Saudara perempuan seibu sebapak terhalang
oleh anak laki, anak perempuan, cucu laki2
(anak laki2 dr anak laki2), cucu perempuan dan
seterusnya kebawah, dan bapak.

Saudara perempuan sebapak terhalang


oleh anak laki2, cucu laki2 (anak laki2 dr
anak laki2) dan seterusnya kebawah dr
garis keturunan laki2, bapak, saudara laki2
seibu sebapak, saudara perempuan seibu
sebapak.
8. Saudara perempuan seibu, sama dg yg
menghalangi no. 7
9. Istri sama sekali tdk ada yg menghalangi
10. Perempuan yg memerdekakan terhalang
oleh org2 yg menghalang no.15.
7.

Contoh I:
Seorang suami meninggal,

meninggalkan anggota kelurga sbb: 2


orang istri, 4 orang anak laki2, 5 anak
perempuan, 5 orang saudara sepupu
laki2 seibu sebapak (anak laki2 dr
saudara laki2 bapak seibu sebapak),
1 orang nenek, 3 saudara perempuan
seibu sebapak, 2 orang anak angkat,
2 orang menantu, 4 orang cucu laki2,
dan 3 orang cucu perempuan

Seorg istri meninggal, meninggalkan suami,

saudara laki2 seayah, sdr pr kandung, 1 anak


lk2 dan 2 anak pr dr sdr lk2 kandung, 3 anak
lk2 dr sdr lk seayah.

Contoh II
Si A laki2, adalah hasil perkawinan

antara laki2 B (meninggal) dg


perempuan C, si A mempunyai
saudara laki2 seibu sebapak 3
orang, si A kawin dg perempuan D,
dari perkawinan tsb lahir 2 anak
perempuan dan 3 anak laki2. di
samping itu si B masih mempunyai
ayah dan ayah mertua, A masih
punya 1 saudara sebapak.

Menentukan Ashabah
Kata ashabah berarti kerabat seseorang dari

pihak bapak. Banyak menggunakan kata


ushbah sebagai ungkapan kelompok yg kuat.
Pengertian secara Fiqh Ashabah adalah ahli

waris yg tdk disebutkan banyaknya bagian dl AlQuran dan Sunnah. Ex: anak laki2, cucu laki2 dr
anak laki2, saudara laki2 seayah seibu, saudara
laki2 seayah saja dan saudara kandung ayah
(paman).
Ashabah juga diartikan sebagai ahli waris yg
bisa menghabiskan sisa warisan

Ashabah ada 2 macam yaitu:


1. Ashabah Nasabiyah

yakni menjadi
ashabah karena
adanya hub. Darah
dg pewaris

Ashabah Sababiyah

yakni menjadi
ashabah karena
adanya suatu sebab,
ex memerdekakan
budak.

Ashabah Nasabiyah ada 3 macam:


1.Ashabah bi Nafsi adalah ia menjadi ashabah dg dirinya

sendiri, yaitu disebabkan karena kedudukannya. Semua


ahli waris laki2 kecuali suami dan saudara laki2 seibu.
2.Ashabah bil Ghair adalahmenjadi ashabah karena
disebabkan oleh org lain, hal ini terjadi pada ahli waris
perempuan. Ex; AP karena AL, di sini sederajat.
3.Ashabah maal Ghair adalah menjadi ashabah karena
mewaris bersama dg org lain.
Ex:
a.sdr pr sisb bersama dg anak perempuan
b.Sdr pr sisb bersama dg cucu perempuan, cicit pr dan
sterusnya k bwh
c. Sdr pr sb bersama dg anak perempuan
d.Sdr pr sb bersama dg cucu perempuan, cicit pr &
sterusnya k bwh

Skema Ashabah
A
S
H
A
B
A
H

SABA
BIYAH

NASAB
IYAH

BI
NAFSI

BIL
GHAIR

MAAL
GHAIR

Semua AW lk2 kecuali


suami & sdr lk seibu
1. AP di krnkn Al
2. Cucu pr di krnkan
cucu lk
3. Sdr pr seibu sbpk d
krnkn sdr lk seibu
sbpk
4. Sdr pr sbpk d krnkn
sdr lk sbpk
a. Sdr pr seibu sbpk krn
mewaris bersama dg:
AP atau cucu Pr
b. Sdr pr sebpk
mewaris bersama dg:
AP atau Cucu pr.

Contoh Ashabah
Seorang suami meninggal, meninggalkan

keluarga sbb: 1 istri, 1 nenek, 1 kakek, 4 anak


perempuan, 4 cucu perempuan, dan 4 cucu
laki2
Siapa yg menjadi Ashabahnya?

Istri meninggal, meninggalkan 1 suami, 1

nenek, 1 anak perempuan, 1 cucu


perempuan.
Siapa yg menjadi ashabahnya?

Seorang suami meninggal, meninggalkan 1

0rang istri, 1 anak perempuan, 1 sdr pr sibsb,


2 sdr lk sb dan 3 sdr pr sb.
Siapakah yg menjadi ashabahnya?

Porsi pembagian warisan


a. 1/2
b.
c. 1/8

d. 1/3
e. 2/3
f. 1/6

Bagian Masing2 AW
Kel. I

1.Suami

= jika ada
anak, cucu, dst k bawah
2.Istri
= 1/8 jika ada
anak, cucu, dst k bawah
3.Ibu
= 1/3 1/6 jika ada anak,
cucu, dan sdr lk dan pr seibu
sebpk, sebpk, seibu > 1

Kel. II
Bapak
Kakek
Nenek
1 Sdr seibu (lk/pr)
Kel. III
AP
Cucu Pr
Cicit Pr
Sdr pr seibu sbpk
Sdr pr sebpk

1/6
Jika sdr seibu > 1 =
1/3

Jika > 1 =
2/3

Kel. IV
1 AP jika mewaris bersama dg 1

/ > cucu pr maka bag. AP =


dan 1 / > cucu pr = 1/6
1 sdr pr seibu sbpk jika mewaris
bersama dg 1 / > sdr pr sbpk
maka bag. 1 sdr pr seibu sbpk =
dan 1 / > sdr pr sebpk = 1/6

BAGIAN MASING2 AW
MENURUT KHI

1. AP = bila sendiri, 2/3 kalau 2 org/lebih.


2. AYAH= 1/3 bila tdk ada anak, 1/6 klau

ada anak
3. IBU= 1/3 bila tdk ada anak/2
saudara/lebih, 1/6 bila ada
4. DUDA= bila tdk ada anak, bila ada
5. JANDA= bila tdk ada anak, 1/8 bila ada

SL & SP = 1/6 bila tdk ada anak dan ayah. Jika

SL & SP 2 org/lebih = 1/3


Satu Sdr pr kandung/seayah = , bila 2 org/
lebih =2/3. bila bersama2 sdr lk2
kandung/seayah, maka bagian laki2 adl 2
banding 1.

1. suami.

Mendapat jika istri yg meninggal tdk ada


meninggalkan anak atau cucu sterusnya kebawah (baik
lk2 maupun pr). Dan mendapat jika istri meninggalkan
anak atau cucu dan seterusnya kebawah. Jadi
kemungkinan dapat suami adalah atau .
2. istri.
Mendapat jika suami yg meninggal tdk ada
meninggalkan anak atau cucu dan seterusnya kebawah
(baik lk2 maupun pr). dan mendapat 1/8 jika suami
meninggalkan anak atau cucu dan seterusnya kebawah.
Jadi kemungkinan bagian istri adl atau 1/8.
3. Ibu
Mendapat 1/3 jika si mayit tdk ada meninggalkan anak,
cucu, dan seterusnya kebawah (baik lk2 atau pr) atau
saudara (baik saudara sibsb, sb maupun sib yg lk2 atau
pr) tdk lebih dr 1 (>1), dan mendpt 1/6, jika ada anak,
cucu (lk/pr) atau saudara lebih dr 1 (sdr lk/pr baik yg
sibsb, sb saja atau sib saja). Jadi kemungkinan porsi ibu
adalah 1/3 atau 1/6.

4. Bapak, kakek, nenek dan 1 org sdr sib (baik


lk/pr) mendpt 1/6. apabila sdr sib lebih dr 1
org maka sdr sib mendpt 1/3. jadi
kemungkinan porsi bapak, kakek, dan nenek
hanya 1/6 (bapak dan kakek mungkin juga
menjadi ashabah), sedangkan kemungkinan
porsi sdr sib adl 1/6 atau 1/3.

5. Anak pr, cucu pr, cicit pr (seterusnya ke bawah), sdr pr


sibsb, sdr pr sb apabila hanya 1 org mendpt dan
apabila lebih dr 1 org maka mendpt 2/3.
6. 1 org anak pr, jika mewaris bersama 1 atau lebih cucu
pr, maka anak pr mendpt , dan 1 atau lebih cucu pr
mndpt 1/6. demikian seterusnya kebawah, misalnya: 1
anak pr mewaris bersama 1 atau lebih cicit pr, atau 1
cucu pr mewaris bersama dg 1 atau lebih cicit pr.
anak pr disini harus 1, jika lebih dr satu ketentuan ini
tdk berlaku, dan yg berlaku adl ketentuan pada poin 5.
demikian juga antara cucu pr dg cicit pr
7. 1 org sdr pr sib sb mewaris bersama dg 1 atau lebih sdr
pr sb, maka 1 sdr pr sib sb mendapat dan 1 atau
lebih sdr pr sb mendpt 1/6.
jika sdr pr sib sb lebih dr 1 org, maka porsinya adl 2/3
spt poin 5

Contoh-contoh:
Istri meninggal, meninggalkan suami, ibu 1

anak perempuan, sdr laki2 sibsb.


Berapa porsi masing2?

Suami meninggal, meninggalkan 1 istri, 5

anak pr, 1 nenek, 5 cucu perempuan dan 2


cucu laki2.
Berapa porsi masing2?

CONTOH:
A meninggal, meninggalkan:
2 anak laki2
2 anak perempuan
1 ayah
1 ibu
1 datuk (kakek)
1 nenek
3 cucu laki2 dr anak perempuan
5 saudara laki2 sibsb
2 sdr pr sibsb
3 kemenakan laki2
3 saudara laki2 ayah sibsb
2 saudara perempuan ibu sibsb
2 saudara laki2 ibu sibsb
2 orang pembantu, dan
1 orang supir

Tentukan:
1.siapa saja yg
berhak menjadi ahli
waris
2.Siapa yg terhalang/
terhijab
3.Siapa yg berhaka
menjadi ashabah
4.Berapa porsi
masing2 ahli waris.

CONTOH KASUS
PADA TAHUN 1983 A MENIKAH DG B TETAPI TDK DI

KARUNIAI ANAK SEHINGGA MEREKA MEMUTUSKAN


MENGANGKAT SEORANG ANAK LAKI2 YAKNI C. PADA TAHUN
1992 A MENIKAH LAGI DG D TANPA SEPENGETAHUAN ISTRI
PERTAMA. BARU DIKETAHUI OLEH B SETELAH D
MELAHIRKAN SEORANG PUTRI YAKNI F. PADA TAHUN2
SELANJUTNYA D MELAHIRKAN ANAK YAKNI G DAN H (LAKI2)
SERTA I (PR). C MENIKAH DG CC DAN MELAHIRKAN
SEORANG ANAK PEREMPUAN YAKNI CCC. H MENIKAH DG HH
DAN MELAHIRKAN ANAK HHH (LK) DAN HHHH (PR). PADA
TAHUN 2006 H MENINGGAL DUNIA.
PADA TAHUN 2010 A MENINGGAL DENGAN MENINGGALKAN
TOTAL HARTA SEBESAR RP. 700 JUTA. A JUGA
MENINGGALKAN 2 SAUDARA PR KANDUNG DAN 1 SAUDARA
LAKI2 SEAYAH. COBA LAKUKAN PEMBAGIAN WARISAN A

Melakukan pembagian:
Ada beberapa rumusan2/istilah yg harus dipahami dalam

melakukan pembagian:
1. Tamatsul (tm) yaitu apabila bertemu 2 angka yg sama,
misalnya:
2 dg 2
4 dg 4
5 dg 5
7 dg 7
2. Tadakhul (td) yaitu apabila bertemu 2 angka yg tdk
sama, akan ttp salah satu angka dpt dibagi oleh angka
yg lainnya (bermasukan), misalnya:
8 dg 4
6 dg 3
10 dg 5
12 dg 6
maka angka tadakhul adl angka yg terkecil, utk angka
diatas angka tadakhulnya adalah 4, 3, 5, dan 6

3. Tawafuq (tw) yaitu apabila bertemu 2 angka yg tdk sama


dan angka yg terbesar tdk dpt dibagi oleh angka yg
terkecil (tdk tadakhul/tdk saling bermasukan), akan ttp
sama-sama dpt dibagi oleh angka yg sama, misalnya:
4 dg 6
10 dg 14
8 dg 12
20 dg 16
angka yg dpt membagi kedua angka tsb di sebut dg angka
tawafuq atau angka ufuqnya. Ex: angka 4 dg 6 kedua
angka tsb dpt dibagi dg angka 2, maka angka tawafuqnya
adalah 2.
4. Tabayyun (tb) yaitu 2 angka yg tdk sama, tdk saling
bermasukan, dan tdk dpt dibagi oleh angka yg sama
kecuali angka 1, misalnya:
8 dg 1
10 dg 11
7 dg 3
5 dg 3