Anda di halaman 1dari 25

TRANSPLANT 2

Disusun oleh :
Amalia Laksmi Saraswati
NRP

: 111.0211.111

Tutorial : C1
Universitas Pembangunan Nasional VETERAN Jakarta
Program Studi Sarjana Kedokteran

Tahun Ajaran 2011 2012

Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang merupakan tugas tertulis dari program
BHP.
Penulisan makalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan
tugas mata kuliah program BHP mengenai pemahaman kami sebagai mahasiswa/i fakultas
kedokteran UPN Veteran Jakarta tentang bagaimana penerapan Kaidah Dasar Bioetika dalam
kasus yang didapat.
Tidak lupa saya berterima kasih kepada ibu/ bapak dosen yang telah memberikan
ilmunya dalam membantu penyelesaian makalah ini
Akhirnya saya berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai
ibadah, Amiin Yaa Robbal Alamiin.
Dalam Penulisan makalah ini saya merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki. Untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini
Jakarta, Juni 2012

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran yang baru memasuki tahap awal
pembelajaran dibidang kedokteran banyak hal yang perlu dipelajari dan dipahami
terutama hal yang menyangkut tentang Kaidah Dasar Bioetik dalam praktik kedokteran.
Dan dengan adanya program dari BHP, maka saya diberi kesempatan untuk lebih
mengenal dan berusaha memahami etika kedokteran berdasarkan Kaidah Dasar Bioetik
dalam praktik kedokteran.
Untuk itulah pada kesempatan berharga ini, saya sebagai mahasiswa berusaha
untuk mencari tahu dan menggali lebih dalam tentang etika kedokteran dan Kaidah Dasar
Bioetik di tingkat dasar ini.
Pada tugas ini, saya diminta untuk menganalisa suatu kasus klinis dari segi etika
kedokteran, dan menentukan keputusan terbaik dari segi etik yang dapat diambil seorang
dokter dengan berdasarkan pada sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Yang melatarbelakangi pembuatan makalah ini adalah pemberian tugas dan rasa
keingintahuan saya akan berbagai hal yang harus dipertimbangkan oleh seorang dokter
dalam mengambil keputusan ketika melakukan suatu praktik kedokteran. Dalam makalah
ini, kasus yang saya analisa berfokus pada konflik seorang dokter dalam mengambil
keputusan.

TUJUAN
Meningkatkan rasa ingin tahu dan pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran
UPN VETERAN Jakarta semester 2 Blok RPS khususnya dalam menganalisa,

mengolah, dan mengambil keputusan mengenai suatu kasus klinis yang kompleks.
Mengetahui dan memahami lebih dalam tentang Kaidah Dasar Bioetik, Undang
Undang Praktik Kedokteran, Kode Etik Kedokteran Indonesia, dan berbagai

peraturan lain yang mengatur tentang praktik kedokteran.


Membiasakan mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN VETERAN Jakarta untuk

mulai terpapar dengan kasus-kasus klinis yang berbau isu etik.


Melatih mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN VETERAN Jakarta untuk dapat
mengambil keputusan secara mandiri dengan tetap berpegang teguh pada Undang
Undang, Kode Etik, dan peraturan lain yang berlaku.

METODE PENGAMBILAN DATA

Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode secara langsung.
Metode ini mengkaji berbagai referensi tentang isu etik kedokteran.

BAB I
PENGEMBANGAN
Transplant 2
The woman who was forced to offer her kidney
Physician: This was a case of a woman of 22 years of age who came to donate a kidney for
our patient who was supposedly her brother. She was a good match, but I strongly suspected
that she was not related and was either being coerced or being paid to donate the kidney. We
have a policy against doing transplants from unrelated donors. We make it very clear that we
will consider a transplant only if the donor is related to the recipient and is not doing it for
gain. I asked her several times but she said that she was his sister. I still had my suspicions, so
I sent her to a psychiatrist for assessment. She was of subnormal intelligence and did not
understand the procedure.
Questions
Q : Think this case through and try to identify all ethical issues involved. Try to weigh
them against each other and decide what you would do in this case.
Physician: We could have refused to do the operation here, but they would have gone to
some other centre and had it done anyway. So, we carried out the operation. Much later, we
learned that she was a paid, distantly related person who was possibly forced by her family.
We are trying to avoid that this becomes a commercialized process of buying and selling
goods in the market.
Questions
Q : Do you agree with the decision to carry out the operation in this case? Why/why
not?
Q : Does it make a difference for your opinion that the suspicion of coercion was
subsequently confirmed?

Physician: We have pioneered the process of renal transplantation in the country and we
have found that our results are comparable to the advanced centres in the West. A very
important cornerstone of our policy is that we do not accept unrelated donors. Many hospitals
in our country allow unrelated donations. The demand for transplants is far greater than
available donors can meet. We do not have a government-approved cadaver organ harvesting
policy. So the patients have to rely on willing relatives or buy it in the market. It would cost
the recipient a big sum of money and then there is the cost of life-long immuno-suppression.
Some people can afford this and they create a demand for kidneys from unrelated willing
donors. The donors desperately need the money and the doctors tell them they can manage
with one kidney. Innocent people, underprivileged, unrelated or distantly related, are coerced

or even tricked into giving a kidney. Sometimes they don't even know it. They may not be
given any money or less than what was promised. This is not new; we have had quite a few
reports already. The implications are very serious as have been seen in many developing
countries.
We had another case where the donor was clearly a first cousin of the patient and was
apparently willing. We had some vague feeling about her and sent her for psychiatric
assessment. They found that she had subnormal intelligence and had no clue about the issue,
the procedure and what it meant for her. We refused. The patient and his family, and even the
donors' parents were upset with us.
Questions
Q : Consider the context outlined by the physician. Describe the ethical dilemmas in this
situation. Under these conditions, how do you view patient's rights and donor's rights,
respectively?
Q : Does the donor become a patient in the process?
Q Compare the case where an operation was carried out with the one where it was
refused. How was it possible to arrive at two different decisions in these two cases?
Discuss the ethical values involved in the different decisions?

Transplantasi 2
Seorang wanita yang dengan terpaksa mendonorkan ginjalnya
Dokter : Ini adalah sebuah kasus tentang seorang wanita yang berumur 22 tahun yang datang
untuk mendonorkan ginjalnya untuk pasien kami yang diduga adalah adik laki- lakinya. Dia
memiliki kecocokan, saya menduga kuat bahwa dia tidak memiliki hubungan dan dia dibayar
untuk mendonorkan ginjalnya. Kami memiliki kebijakan untuk menentang dilakukannya
transplantasi donor yang tidak ada hubungan darah. Hal ini jelas bahwa kami akan
mempertimbangkan transplantasi hanya jika sang pendonor berhubungan dengan resipiennya
dan tidak semata- mata demi keuntungan. Saya bertanya beberapa kali, namun dia
mengatakan bahwa dia adalah kakak perempuannya. Tapi saya masih penasaran sehingga
saya mengirimkan dia kepada seorang psikiater untuk penilaian pemeriksaan. Dia memiliki
kepandaian dibawah normal dan tidak dapat memahami prosedurnya.
Pertanyaan dan Jawaban
P : Pikirkan kasus ini secara keseluruhan dengan baik dan cobalah untuk mengidentifikasi
yang termasuk dalam semua isu etik. Cobalah untuk mempertimbangkan perlawanan mereka
satu sama lain dan putuskan apa yang akan kamu lakukan pada kasus ini
J : Kami memiliki kebijakan untuk menentang dilakukannya transplantasi donor yang tidak
ada hubungan darah. Hal ini jelas bahwa kami akan mempertimbangkan transplantasi
hanya jika sang pendonor berhubungan dengan resipiennya dan tidak semata- mata demi
keuntungan. Pada potongan dari alinea diatas didapatkan bahwa dokter telah melakukan
tindakan yang sesuai dengan Kaidah Dasar Bioetika yaitu Mengusahakan agar
kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya
dan
Minimalisasi akibat buruk dimana dokter bisa saja tetap melakukan tindakan operasi
transplantasi ginjal tanpa mempertimbangan kebijakan yang telah dibuat, namun pada
kenyataannya dokter tetap berpegang teguh pada kebijakan yang berlaku dengan tidak
melakukan tindakan operasi untuk meminimalisisr jika ada ketidakcocokan pendonor dan
resipien agar tidak terjadi komplikasi yang memungkinkan terjadi.
Dalam kasus ini yang akan saya lakukan adalah meminta pihak yang berwajib untuk
menyelidiki adanya keterkaitan hubungan keluarga antara pendonor ginjal dengan resipien.
Apabila dalam penyelidikan didapatkan hasil dimana antara pendonor dan resipien tidak ada
hubungan keluarga maka kami selaku dokter yang menangani kasus tersebut tidak akan
melakukan tindalan operasi transplantasi untuk meminimalisisr kemungkinan terburuk yang
akan terjadi. Namun, apabila hasil yang didapatkan pihak berwajib sebaliknya maka kami
akan mempertimbangkannya.
Dokter : Kami dapat menolak untuk dilakukannya operasi tetapi mereka akan pergi ke
beberapa tempat lainnya dan melakukan hal yang sama. Jadi kami melaksanakan operasi
tersebut. lalu tidak lama dari itu kami mengetahui bahwa dia telah dibayar, orang luar yang
tidak ada hubungannya yang kemungkinan dipaksa oleh keluarganya. Kami mencoba untuk

mencegah supaya hal ini tidak menjadi sesuatu yang dikomersialisasikan dalam hal
perdagangan organ.
Pertanyaan dan Jawaban
P : Apakah kalian setuju dengan keputusan untuk dilakukannya operasi pada kasus ini?
Mengapa/ mengapa tidak?
J : Menurut saya, saya setuju dengan dilakukannya operasi transplantasi ginjal pada kasus
ini. karena dengan menyingkirkan pemikiran dokter mengenai kecurigaan akan adanya
keuntungan yang didapat pendonor dari proses donor ginjalnya disini dokter juga membantu
penerima (resipien ginjal pendonor) dalam memperpanjang masa hidupnya, karena pada
umumnya resipien memiliki keadaan kritis ntara hidup dan mati, jika dia mendapatkan donor
yang memiliki kecocokan maka masa hidupnya akan berlanjut, namun begitu pula
sebaliknya. Lagipula pada kasus ini pendonor bersedia melakukan transplantasi dan memiliki
kecocokan ginjal terhadap resipien.
P : Menurutmu apakah ada pebedaannya ketika pemaksaan itu ternyata benar adanya?
J : Jelas sekali terdapat perbedaannya, karena jika memang dokter telah mengetahui dimana
pendonor dipaksa dalam mendonorkan ginjalnya, seharusnya yang dokter lakukan adalah
tidak melakukan tidakan pengoperasian transplantasi ginjal karena ketika dokter
melakukannya dokter dengan jelas telah tindakan yang tidak sesuai dengan Kaidah Dasar
Bioetika Autonomy yaitu, Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai
martabat pasien karena didini dokter telah mengetahui
Dokter : Kami mempelopori proses transplantasi ginjal di negara ini dan dapat dibandingkan
dengan pusat. Hal yang paling penting dalam kebijakan ini bahwa kami tidak menerima
donor yang tidak memiliki hubungan. Banyak rumah sakit di negara kami yang mengizinkan
pendonor yang tidak memiliki hubungan dengan resipien. Kebutuhan akan transplantasi jauh
lebih besar dari jumlah pendonor yang tersedia. Kami tidak memiliki peraturan yang disetujui
oleh pemerintah mengenai pengambilan organ dari cadaver. Karena itu pasien harus
bergantung kepada orang yang bersedia mendonorkan atau membeli di pasar organ. Resipien
akan membayar dengan jumlah yang besar dan juga harus membayar imunosupresinya.
Beberapa orang dapat menerima ini dan mereka tetap bersedia menerima donor tanpa adanya
hubungan. Seseorang sangat membutuhkan uang dan dokter memberitahu mereka dan hal ini
dapat diatur dengan satu ginjal. Orang- orang yang tidak bersalah, kurang mampu, tidak
memiliki kekerabatan atau kerabat jauh, dipaksa atau bahkan tertipu untuk memberikan
ginjalnya. Terkadang mereka bahkan tidak tahu akan hal itu. Mereka mungkin tidak diberikan
uang atau sama sekali berbeda dari apa yang telah dijanjikan. Hal ini sudah bukan berita baru
lagi; kami sudah memiliki beberapa laporan. Impliksi ini sangat serius yang sering terjadi di
negara- negara berkembang.
Kami memiliki kasus lainnya dimana pendonor dengan jelas adalah saudara sepupu dari
pasien dan tampaknya bersedia. Kami memiliki beberapa perasaan yang tidak jelas tentang
dirinya dan mengirimnya untuk penilaian psikiatri. Mereka menemukan bahwa ia memiliki

kepandaian di bawah normal dan tidak tahu tentang masalah ini, prosedurnya dan apa artinya
ini untuknya. Kami menolak, pasien dan keluarganya, dan bahkan orang tua dari pendonor
sangat marah dengan kami.
Pertanyaan dan Jawaban
P : Pertimbangkan konteks yang digariskan oleh dokter. Gambarkan dilemma etik dalam
situasi ini. dalam kondisi ini, bagaimana anda melihat hak- hak masing- masing pasien dan
pendonor?
J : TROS (The Right of Self-determination) merupakan sumber hak individu, yaitu :
a) hak atas privacy, merupakan suatu hak pribadi, suatu hak atas kebebasan/keleluasaan
pribadi;
b) hak atas badan sendiri, apakah badan seseorang milik sendiri?
Orang mempunyai hak atas badannya sendiri, misal:
a) menyetujui / menolak suatu tindakan medis
b) menjadi donor darah organ manusia
c) menjadi donor darah
d) mewariskan organ manusia (setelah meninggal dunia) seperti jantung, mata.
e) mewariskan seluruh badannya kepada laboratorium anatomi
f)

menentukan untuk dikremasi setelah meninggal dunia

Setelah memperoleh persetujuan pasien maka dokter tetap diharapkan memenuhi prinsip need
to know, yaitu prinsip untuk memberikan informasi kepada pihak ketiga tersebut hanya
secukupnya yaitu sebanyak yang dibutuhkan oleh peminta informasi.
Dokter mempunyai peranan yang penting dalam masalah transplantasi. Hal ini menjadi
kewajiban para dokter untuk menjelaskan segala sesuatu tentang transplantasi ini secara jelas,
baik kepada penerima maupun kepada calon donor. Jangka waktu kesembuhan donor perlu pula
dijelaskan. Jika perlu penjelasan ini dilakukan dengan didampingi penasehat hukum yang
bersangkutan (untuk mereka yang mempunyainya). Sehingga transaksi antara penerima dan
donor tidak hanya mengutamakan pada masalah pembayaran saja. Dampak psikologis terhadap
donor perlu pula diantisipasi dan ditangani secara bijaksana dan professional mungkin.
Oleh karena itu, perlu dilarang:
a) donor menunjuk sendiri resipien yang akan menerima jaringan janinnya

b) penjualan jaringan janin, dan


permintaan tanda setuju (consent) untuk menggunakan janinnya sebagai bahan transplantasi
sebelum keputusan akhir untuk menggugurkan diambil oleh wanita yang bersangkutan.

P : Apakah pendonor menjadi pasien dalam prosesnya?


P : Bandingkan kasus dimana dilakukannya operasi dengan operasi yang ditolak. Bagaimana
itu mungkin untuk dua keputusan yang berbeda dalam kasus ini? diskusikan nilai- nilai etis
yang terlibat dalam keputusan yang berbeda?

Teknik transplantasi, dimungkinkan untuk memindahkan suatu organ atau jaringan


tubuh manusia yang masih berfungsi baik, baik dari orang yang masih hidup maupun yang
sudah meninggal, ke tubuh manusia lain.
Dalam penyembuhan suatu penyakit, adakalanya transpalntasi tidak dapat dihindari
dalam menyelamatkan nyawa si penderita. Dengan keberhasilan teknik transplantasi dalam
usaha penyembuhan suatu penyakit dan dengan meningkatnya keterampilan dokter dokter
dalam melakukan transplantasi, upaya transplantasi mulai diminati oleh para penderita dalam
upaya penyembuhan yang cepat dan tuntas.
Untuk mengembangkan transplantasi sebagai salah satu cara penyembuhan suatu
penyakit tidak dapat bagitu saja diterima masyarakat luas. Pertimbangan etik, moral, agama,
hokum, atau sosiall budaya ikut mempengaruhinya.

Pengertian Transplantasi
Transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan atau organ manusia tertentu dari suatu
tempat ke tempat lain pada tubuhnya sendiri atau tubuh orang lain dengan persyaratan dan
kondisi tertentu.
Transplantasi ditinjau dari sudut resipien, dapat dibedakan menjadi:
1. Autotransplantasi, yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain dalam
tubuh orang itu sendiri.
2. Homotransplantasi, yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ dari tubuh seseorang ke
tubuh orang lain.
3. Heterotransplantasi, yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ dari suatu spesies ke
tubuh spesies lainnya.
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu :
1. Eksplantasi, yaitu usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hidup atau yang
sudah meninggal.
2. Implantasi, yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut kepada bagian
tubuh sendiri atau tubuh orang lain.
Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan
transplantasi, yaitu:
1.

Adaptasi donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup yang
diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan psikis, untuk hidup dengan
kekurangan jaringan / organ.
2. Adaptasi resepien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima jaringan / organ tubuh
baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan / organ tersebut, untuk

berfungsi

baik,

mengganti

yang

sudah

tidak

dapat

berfungsi

lagi.

Sejarah dan Perkembangan Transplantasi


Tahun 600 SM di India, Susruta telah melakukan transpalantasi kulit. Sementara
jaman Renaissance, seorang ahli bedah dari Itali bernama Gaspare Tagliacozzi juga telah
melakukan hal yang sama.
Diduga John Hunter ( 1728 1793 ) adalah pioneer bedah eksperimental, termasuk
bedah transplantasi. Dia mampu membuat kriteria teknik bedah untuk menghasilkan suatu
jaringan trnsplantasi yang tumbuh di tempat baru. Akan tetapi sistem golongan darah dan
sistem histokompatibilitas yang erat hubungannya dengan reaksi terhadap transplantasi belum
ditemukan.
Pada abad ke 20, Wiener dan Landsteiner menyokong perkembangan transplantasi
dengan menemukan golongan darah sistem ABO dan sistem Rhesus. Saat ini perkembangan
ilmu kekebalan tubuh makin berperan dalam keberhasilan tindakan transplantasi.
Perkembangan teknologi kedokteran terus meningkat sejalan dengan perkembangan
teknik transplantasi. Ilmu transplantasi modern makin berkembang dengan ditemukannya
metode metode pencangkokan, seperti :
a. Pencangkokkan arteria mammaria interna di dalam operasi lintas koroner olah Dr. George
E. Green.
b. Pencangkokkan jantung, dari jantung kera kepada manusia oleh Dr. Cristian Bernhard,
walaupun resepiennya kemudian meninggal dalam waktu 18 hari.
c. Pencakokkan sel sel substansia nigra dari bayi yang meninggal ke penderita Parkinson
oleh Dr. Andreas Bjornklund.
Masalah Etik dan Moral dalam Transplantasi
Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha transplantasi adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

donor hidup,
jenazah dan donor mati,
keluarga dan ahli waris,
resepien,
dokter dan pelaksana lain, dan
masyarakat.

Hubungan pihak pihak itu dengan masalah etik dan moral dalam transplantasi akan
dibicarakan dalam uraian dibawah ini.
a. Donor Hidup
Adalah orang yang memberikan jaringan / organnya kepada orang lain ( resepien ).
Sebelum memutuskan untuk menjadi donor, seseorang harus mengetahui dan mengerti
resiko yang dihadapi, baik resiko di bidang medis, pembedahan, maupun resiko untuk
kehidupannya lebih lanjut sebagai kekurangan jaringan / organ yang telah dipindahkan.

b.

c.

d.

e.

f.

Disamping itu, untuk menjadi donor, sesorang tidak boleh mengalami tekanan psikologis.
Hubungan psikis dan omosi harus sudah dipikirkan oleh donor hidup tersebut untuk
mencegah timbulnya masalah.
Jenazah dan donor mati
Adalah orang yang semasa hidupnya telah mengizinkan atau berniat dengan sungguh
sungguh untuk memberikan jaringan / organ tubuhnya kepada yang memerlukan apabila
ia telah meninggal kapan seorang donor itu dapat dikatakan meninggal secara wajar, dan
apabila sebelum meninggal, donor itu sakit, sudah sejauh mana pertolongan dari dokter
yang merawatnya. Semua itu untuk mencegah adanya tuduhan dari keluarga donor atau
pihak lain bahwa tim pelaksana transplantasi telah melakukan upaya mempercepat
kematian seseorang hanya untuk mengejar organ yang akan ditransplantasikan
Keluarga donor dan ahli waris
Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk menciptakan saling
pengertian dan menghindari konflik semaksimal mungkin atau pun tekanan psikis dan
emosi di kemudian hari. Dari keluarga resepien sebenarnya hanya dituntut suatu
penghargaan kepada donor dan keluarganya dengan tulus. Alangkah baiknya apabila
dibuat suatu ketentuan untuk mencegah tinmulnya rasa tidak puas kedua belah pihak.
Resipien
Adalah orang yang menerima jaringan / organ orang lain. Pada dasarnya, seorang
penderita mempunyai hak untuk mendapatkan perawatan yang dapat memperpanjang
hidup atau meringankan penderitaannya. Seorang resepien harus benar benar mengerti
semua hal yang dijelaskan oleh tim pelaksana transplantasi. Melalui tindakan
transplantasi diharapkan dapat memberikan nilai yang besar bagi kehidupan resepien.
Akan tetapi, ia harus menyadari bahwa hasil transplantasi terbatas dan ada kemungkinan
gagal. Juga perlu didasari bahwa jika ia menerima untuk transplantasi berarti ia dalam
percobaan yang sangat berguna bagi kepentingan orang banyak di masa yang akan
datang.
Dokter dan tenaga pelaksana lain
Untuk melakukan suatu transplantasi, tim pelaksana harus mendapat parsetujuan dari
donor, resepien, maupun keluarga kedua belah pihak. Ia wajib menerangkan hal hal
yang mungkin akan terjadi setelah dilakukan transplantasi sehingga gangguan psikologis
dan emosi di kemudian hari dapat dihindarkan. Taggung jawab tim pelaksana adalah
menolong pasien dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk umat manusia. Dengan
demikian, dalam melaksanakan tugas, tim pelaksana hendaknya tidak dipengaruhi oleh
pertimbangan pertimbangan kepentingan pribadi.
Masyarakat
Secara tidak sengaja masyarakat turut menentukan perkembangan transplantasi.
Kerjasama tim pelaksana dengan cara cendekiawan, pemuka masyarakat, atau pemuka
agama diperlukan untuk mendidik masyarakat agar lebih memahami maksud dan tujuan
luhur usaha transplantasi. Dengan adanya pengertian ini kemungkinan penyediaan organ
yang segera diperlikan, atas tujuan luhur, akan dapat diperoleh.

Transplantasi Ditinjau dari Aspek Hukum

Pada saat ini peraturan perundang undangan yang ada adalah Peraturan Pemerintah
No. 18 tahun 1981, tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta
Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia. Pokok pokok peraturan tersebut, adalah

Pasal 10
Transplantasi alat untuk jaringna tubuh manusia dilakukan dengan memperhatikan
ketentuan ketentuan sebagai dimaksud dalam Pasal 2 Huruf a dan Huruf b, yaitu harus
dengan persetujuan tertulis penderita dan / keluarganya yang trdekat setelah penderita
meninggal dunia.
Pasal 14
Pengambilan alat atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan transplantasi atau bank
mata dari korban kecelakaan yang meninggal dunia, dilakukan dengan pernyataan tertulis
keluarga terdekat.
Pasal 15
Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia diberikan oleh
calon donor hidup, calon donor yang bersangkutan terlebih dahulu diberitahu oleh dokter
yang merawatnya, termasuk dokter konsultan mengenai sifat operasi, akibat akibat dan
kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi. Dokter yang merawatnya harus yakin
benar bahwa calon donor yang bersangkutan telah menyadari sepenuhnya arti dari
pemberitahuan tersebut.
Pasal 16
Donor atau keluarga donor yang meninggal dunia tidak berhak atas suatu kompensasi
material apapun sebagai imbalan transaplantasi.
Pasal 17
Dilarang memperjual belikan alat atau jaringan tubuh manusia.
Pasal 18
Dilarang mengirim dan menerima alat dan jaringan tubuh manusia dalam semua bentuk
keadaan dari luar negeri

Kode Etik Kedokteran Indonesia

Gambaran Umum Kode Etik Kedokteran


Dasar:
-

Etika umum
Sumpah dokter
KODEKI
Hukum

Enam sifat dasar yang harus ditujukan setiap dokter:


1.
2.
3.
4.
5.

Sifat KeTuhananKemurnian niat


Keluhuran budi
Kerendahan hati
Kesengguhan kerja
Integritas ilmiah dan sosial

Syarat utama dan pertama hubungan dokter dan pasien:


-

Membangun rasa saling percaya


Memahami hak dan kewajiban masing-masing
Mengapa hubungan dokter dan pasien perlu?
Praktek kedokteran penuh ketidakpastian
Definisi sehat dan sakit?
Pasien yang unik:
- respons terhadap penyakit
- antara keluhan dan gejala
- respons terhadap obat
Berdasarkan usaha maksimal bukan hasil kerja
Pelayanan kesehatan yang semakin kompleks
Dokter manusia biasa
Harapan dan tuntutan masyarakat
Biaya atau honor?
Beberapa prinsip etik:
Autonomy: hak untuk menentukan atau memilih sesuatu yang terbaik bagi dirinya.
Beneficience: prinsip memberi bantuan atau berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang
lain.
Nonmaleeficence: tidak menimbulkan bahaya atau sakit fisik maupun emosional.
Justice: perlakuan yang adil.
Veracity: jujur atau tidak berbohong.
Fidelity: komitmen terhadap pelayanan sehingga menimbulkan rasa percaya.
II. Substansi Kode Etik Kedokteran

Pengertian Etik Kedokteran dan Hukum Kesehatan


Etik dan hukum memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengatur tertib dan tenteramnya pergaulan

hidup dalam masyarakat. Namun penertian etik da hukum berbeda. Etik berasal dari kata Yunani
ethos, yang berarti yang baik, yang layak. Ini merupakan norma-norma, nilai-nilai atau pola-pola
tingkah lakukelompok profesi tertentu dalam memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat. Yang
dimaksud dengan pekerjaan profesi (profesio berarti pengakuan), natara lain adalah pekerjaan dokter.
Etik profesi yang tertua adalah etik kedokteran, yang merupakan prinsip-prinsip moral atau asas-asas
akhlak yang harus diterapkan oleh para dokter dalam hubungannya dengan pasien, teman
sejawatnya dan masyarakat umumnya.
Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu kekuasaan, dalam mengatur
pergaulan hidup dalam masyarakat. Hukum perdata mengatur subjek dan antar subjek dalam
hubungan inter-relasi (kedudukannya sederajat).
Hukum kesehatan menurut Anggaran Dasar Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia (PERHUKI),
adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan/pelayanan
kesehatan dan penerapannya. Hal ini menyangkut hak dan kewajiban baik dari perorangan dan
segenap lapisan masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak
penyelenggara pelayanan kesehatan dalam segala aspeknya, organisasi, sarana, pedoman standar
pelayanan medik, ilmu pengetahuan kesehatan dan hukum serta sumber-sumber hukum lainnya.
Hukum Kedokteran merupakan bagian dari Hukum Kesehatan, yaitu yang menyangkut asuhan/
pelayanan kedokteran (medical care/service).
Persamaan etik dan hukum adalah:
1. Sama-sama merupakan alat untuk mengatur tertibnya hidup bermasyarakat.
2. Sebagai obyeknya adalah tingkah laku manusia.
3. Mengandung hak dan Kewajiban anggota-anggota masyarakat, agar tidak saling merugikan.
4. Menggugah kesadaran untuk bersikap manusiawi.
5. Sumbernya adalah hasil pemikiran para pakar dan pengalaman para anggota senior.
Perbedaan etik dan hukum adalah:
1. Etik berlaku untuk lingkungan profesi. Hukum berlaku untuk umum.
2. Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi. Hukum disusun oleh badan pemerintahan.
3. Etik tidak seluruhnya tertulis. Hukum tercamtum secara terinci dalam kitab undang-undang dan
lembaran/berita negara.
4. Sanksi terhadap pelanggaran etik berupa tuntutan. Sanksi terhadap pelanggaran hukum berupa
tuntutan.
5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), ynag dibentuk
oeh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kalau perlu diteruskan kepada Panitia Pertimbangan dan
Penbinaan Etika Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh Departemen Kesehatan (DEPKES).
6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik. Penyelesaian pelanggaran hukum
memerukan bukti fisik.
Etika Kedokteran adalah pengetahuan tentang perilaku profesional para dokter dan dokter gigi dalam
menjalankan pekerjaannya, sebagaimana tercantum dalam lafal sumpah dan kode etik masingmasing, yang telah disusun oleh organisasi profesinya dengan pemerintah.
Hukum adalah peraturan perundangan-undanganyang dibuat oleh suatu kekuasaan. Hukum
kesehatan adalah peraturan perundang-undangan yang menyangkut pelayanan kesehatan.
Pelanggaran etik Kedokteran tidak selalu berarti pelanggaran hukum, begitu pula.
KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA (KODEKI)
Dirumuskan dalam pasal-pasal sebagai berikut:

l. Kewajiban Umum
Pasal 1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dam mengamalkan Sumpah Dokter.
Pasal 2. Seorang dokter harus senantiasa meakukan profesinya menurut ukurann yang tertinggi.
Pasal 3. Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak bleh dipengaruhi oleh
pertibangan keuntungan pribadi.
Pasal 4. Perbuatan berikut dipandang bertentangan dengan etik:
a. Setiap perbuatan yang memuji diri sendiri.
b. Secara sendiri atau bersama-sama menerapkan pengetahuannya dan keterampilan kedokteran
dalam segala bentuk, tanpa kebebasan profesi.
c. Menerima imbalan selain dari pada ynag layak sesuai dengan jasanya, kecuali dengan keikhlasan,
sepengetahuan dan atau kehendak penderita.
Pasal 5. Tiap perbuan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahjan makhuk insani, baik
jasmani maupun rohani, hanya diberikan untuk kepentingan penderita.
Pasal 6. Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau penobatan baru yang belum diuji kebenarannya.
Pasal 7. Seorang dokter hanya memberi keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya.
Pasal 8. Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus mengutamakan/mendahulukan
kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratifdan rehabilitatif), serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi
masyarakat yang sebenarnya.
Pasal 9. Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus memelihara saling pengertian sebaik-baikya.
ll. Kewajiban Dokter terhadap Penderita
Pasal 10. Setiap dokter harus senantiasa meningat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk
insani.
Pasal 11. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan memepergunakan segala ilmu dan
keterampilannya untuk kepentingan penderita. Dalam hal ia tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan, maka ia wajib merujuk penderita kepada dokter lain yang memunyai
keahlian dalam penyakit tersebut.
Pasal 12. Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada penderita agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya.
Pasal 13. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
penderita, bahkan juga setelah penderita itu meniggal dunia.
Pasal 14. Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas kemanusiaan,
kecuai bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
lll. Kewajiban Dokter terhadap Teman Sejawatnya
Pasal 15. Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
Pasal 16. Setiap dokter tidak boleh mengambil alih penderita dari teman sejawatnya tanpa
persetujuannya.
lV. Kewajiban Dokter terhadap Diri Sendiri
Pasal 17. Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 18. Setiap dokter hendaknya senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tetap

setia kepada cita-citanya yang luhur.


Penjelasan dan Pedoman Pelaksanaan KODEKI
Penerimaan dan pengamalan KODEKI hanya dapat dilakukan para dokter dengan baik, jika para
dokter memahami dan menghayati butir-butir KODEKI itu dan masyarakat ikut berpartisipasi dalam
pelaksanaannya. Godaan termasuk materi dapat menjuruskan para dokter melanggar etik profesinya,
bahkan rela melakukan malpraktek pidana. Berikut ini adalah penjelasan dan pedoman pelaksanaan
KODEKI pasal demi pasal.
Pasal 1. Tentang sumpah dokter .
Pasal 2. Yang dimaksud dengan ukuran tertinggi dalam btir ini, ialah bahwa seorang dokter
hendaklah memberi pelayanan kedokteran/kesehatan sesuai kemajuan iptek kedokteran yang
mutakhir, dilandasi etik kedokteran, hukum dan agama.
Pasal 3. Profesi kedokteran lebih merupakan panggilan perikemanusiaan dengan mendahulukan
keselamatan dan kepentingan pasien, dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi.
Pasal 4.
a. Seorang dokter harus sadar bahwa segala kemampuan yang ia miliki adalah karunia dari Sang
Pencipta Yang Maha Esa.
b. Yang dimaksud dengan tidak ada atau tanpa kebebasan profesi adalah dokter yang melibatkan
dirinya dengan usaha apotik atau farmasi dan lain-lainnya, di mana dengan perjanjian dokter akan
menerima komisi jika mengirimkan pasien ke tempat itu, dengan demikian dokter tidak bebas lagi
menerapkan ilmunya atau mengungkapkan pendapatnya secara obyektif tentang produk perusahaanperusahaan tersebut.
c. Imbalan jasa untuk dokter pada garis besarnya berpedoman pada:
- kemampuan pasien/keluarga
- sifat pertolongan yang diberikan
- waktu pelayanan kedokteran
Pasal 5. Dokter harus mampu mempertebal keyakinan pasien bahwa ia dapat sembuh dan
mengalihkan perhatian pasien yang depresi atau cemas ke hal yang memberikan harapan dan
menimbulkan optimisme.
Pasal 6. Penelitian dan publikasi hasil penelitian itu juga harus berlandaskan etik peelitian dan
penulisan ilmiah.
Pasal 7. Membuat surat keteangan dokter.
Pasal 8. Dokter adalah tenaga profesi yang mempunyai kemampuan untuk menggerakan potensi
yang ada bagi terwujudnya tujuan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat umumnya serta
mencakup segala aspek (pelayanan kesehatan paripurna), yaitu promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
Pasal 9. Untuk menjalankan seluruh program, maka perlu dijalin kerjasama dengan instansi-instansi
lain di luar bidang kedokteran.
Pasal 10. dalam menghadapi berbagai masalah pasien, maka seorang dokter harus selalu
mempertimbangkan apa yang terbaik yang harus dilakukan (mulai dari peranan pasien di
keluarga/tentang kemungkinan kelanjutan hidupnya di masa depan).
Pasal 11. Pendekatan yang dilakukan dokter dalm upaya penyembuhan hendaknya selalu holistik
sifatnya, dengan mempertimbangkan tidak hanya aspek fisik, tetapi juga aspek psikik, spiritual dan
intelektual pasiennya.
Pasal 12. Dokter yang bijaksana selalu mendalami latar belakang kehidupan pasiennya. Pada hal-hal
yang khusus perlu diberi kesempatan bagi pasien untuk bertemu denagn orang-orang yang
dikehendakinya.
Pasal 13. Hubungan dokter dengan pasien adalah bersifat konfidensial, percaya-mempercayai dan

hormat-menghormati.
Pasal 14. Setiap orang wajib melakukan pertolongan pertama kepada siapapun yang mengalami
kecelakaan atau sakit mendadak, apalagi seorang dokter.
Pasal 15. Para dokter harus membina persatuan dan kesatuan, bersama-sama di bawah panji-panji
perikemanusiaan memerangi penyakit yang mengganggu kesehatan dan kebahagiaan umat manusia.
Pasal 16. Seorang dokter harus bisa mnenjelaskan pada pasien jika ia masih menjalani pengobatan
dengan dokter yang pertama, makaharus diteruskan kecuali jika pasien memiliki penyakit baru, maka
dokter yang kedua tidak dianggap merebut pasien dari dokter pertama.
Pasal 17. Dokter harus memberi teladan dalam memelihara kesehatan, melakukan pencegahan
terhadap penyakit, berperilaku sehat sehingga dapat bekerja dengan baik dan tenang.
Pasal 18. Seorang dokter harus selalu mengikuti perkembangan, baik untuk manfaat diri sendiri dan
keluarga, maupun untuk pasien dan masyarakat.
Pasal 19. Setiap dokter harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan
KODEKI.
III. Nilai Kebaikan
Output : - Pasien
- Teman sejawat
Reward dan Punishment
- Reward

Dapat menjadi dokter profesional dalam profesinya karena menunjang pembangunan di bidang
kesehatan
Menjadi seorang dokter yang senantiasa mendapatkan kepercayaan dari orang lain baik pasien
ataupun instansi kesehatan yang bersangkutan
Apabila seorang dokter konsisten dalam menjalankan kode etik kedokteran, maka izin praktek bagi
dokter yang disahkan dalam undang-undang tidak akan dicabut
Bisa mendapatkan gaji tambahan bagi seorang dokter yang selalu disiplin didalam menjalankan
KODEKI kedokterannya.
Mendapatkan sanjungan dan penghormatan dari orang lain atau teman sejawatnya
Bisa mendapatkan izin untuk membuka praktek dirumahnya bagi dokter spesialis sesuai dengan
peraturan dari menteri Kesehatan, merupakan sebuah penghargaan bagi seorang dokter yang patuh
akan KODEKI kedokteran
-Punishment
Dalam LSDI dan KODEKI telah tercantum secara garis besar perilaku atau tindakan-tindakan yang
layak dan tidak layak dilakukan seorang dokter dalam menjalankan profesinya.
Pelanggaran Etik Murni dan Etikolegal
Berikut beberapa contoh:
1. Pelanggaran etik murni:
Menarik imbalan yang tidak wajar atau menarik imbalan jasa dari keluarga sejawat dokter dan
dokter gigi.
Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya.
Memuji diri sendiri di depan pasien
Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran berkesinambungan.
Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.

ll. Pelanggaran etikolegal:


Pelayanan kedokteran di bawah standar
Menerbitkan surat keterangan palsu
Membuka rahasia jabatan atau pekerjaan dokter.
Abortus Provokatus.
Pelecehan seksual
Bentuk-bentuk Sanksi
Sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran etik kedokteran tergantung berat ringannya
pelanggarasn etik tersebut. Bentuk sanksi pelanggaran etik dapat berupa:
1. Teguran atau tuntunan secara lisan atau tulisan
2. Penundaan kenaikan gaji atau pagkat.
3. Penurunan gaji atau pangkat setingkat lebih rendah.
4. Dicabut izin praktek doter untuk sementara atau selama-lamanya.
5. Pada kasus-kasus pelanggaran etikolegal, diberikan hukuman sesuai peraturan kepegawaian yang
berlaku dan diproses kepengadilan.
Hak serta Kewajiban Pasien dan Dokter
Hak pasien
1. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri dan hak untuk mati secara wajr.
2. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standar profesi kedoktreran.
3. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang mengobatinya.
4. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapaat menarik diri dari
kontrak terpeutik.
5. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya.
6. Menolak atau menerima keikutsertaannya daalm riet kedokteran.
7. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan, dan dikembalikan kepada dokter yang
merujuknya setelah selesai konsultadsi aau pengobatan untuk memperoleh perawatan atau tindak
lanjut.
8. Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi
9. Memperoleh penjelasan tentang peraturan-peraturan rumah sakit.
10. Berhubungan dengan keluarga, penasihat atau rohaniwan dan lain-lainnya yang diperlukan
selama perawatan di ruamah sakit.
11. Memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan labotarium,
pemeriksaan Rongent, Ultrasonografi (USG), CT-scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan
sebagainya, (kalau dilakukan) biaya kamar bedah, kamar bersalin, imbaln jasa dokter dan lainlainnya.
Kewajiban Pasien
1. Memeriksakan diri sedini mungkin pada dokter.
2. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya.
3. Mematuhi nasihat dan patunjuk dokter.
4. Menandatangani surat-surat PTM, surat jaminan dirawat di rumah sakit dan lain-lainnya.
5. Yakin pada dokternya, dan yakin akan sembuh.
6. Melunasi biaya perawatan di rumah sakit, biaya pemeriksaan dan pengobatan serta honorarium
dokter.
Kewajiban Dokter

Dokter yang membaktikan hidupnya untuk perikemanusiaan tentulah akan selalu lebih
mengutamakan kewajiban di atas hak-hak atupun kepentingan pribadinya. Dalam menjalankan
tugasnya, bagi dokter berlaku Aegroti Salus Lex Suprema, yang berarti keselamatan pasien adalah
hukum yang tertinggi (yang utama). Kewajiban dokter yang terdiri dari kewajiban umum, kewajiban
terhadap penderita, kewajiban terhadap teman sejawat dan kewajiban terhadap diri sendiri telah
dibahas secara terinci dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Hak Dokter
1. Melakukan praktek dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter (SID) dan Surat Izin Praktek
(SIP).
2. Memperoleh informasi yang benar dan legkap dari pasien/keluarga tentan penyakitnya.
3. Bekerja sesuai standar profesi.
4. Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, hukum, agama dan hati
nuraninya.
5. Mengakhiri dengan hubungan seorang pasien, jika menurut penilaian kerjasama pasien dengannya
tidak ada gunanya lagi, kecuali dalam keadaan gawat darurat.
6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisnya, kecuali dalam keadaan darurat atau tidak ada
dokter lain yang mampu menanganinya.
7. Hak atas privacy dokter.
8. Ketentraman bekerja.
9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter.
10. Menerima imbalan jasa.
11. Menjadi anggota perhimpunan profesi.
12. Hak membela diri.

BAB III
Analisis data menurut Kaidah Dasar Bioetika
BENEFICENCE
Kami memiliki kebijakan untuk menentang dilakukannya transplantasi donor yang tidak
ada hubungan darah. Hal ini jelas bahwa akan mempertimbangkan transplantasi hanya jika
sang pendonor berhubungan dengan resipiennya dan tidak semata- mata demi keuntungan.
Dalam kasus ini dokter telah melakukan tindakan yang sesuai dengan Kaidah Dasar Bioetika
yaitu BENEFICENCE, Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak
dibandingkan dengan keburukannya dan Minimalisasi akibat buruk dimana dokter bisa
saja tetap melakukan tindakan operasi transplantasi ginjal tanpa mempertimbangan kebijakan
yang telah dibuat, namun pada kenyataannya dokter tetap berpegang teguh pada kebijakan
yang berlaku dengan tidak melakukan tindakan operasi untuk meminimalisisr jika ada
ketidakcocokan pendonor dan resipien agar tidak terjadi komplikasi yang memungkinkan
terjadi.
NON-MALFICENCE dan BENEFICENCE

Kami dapat menolak untuk dilakukannya operasi tetapi mereka akan pergi ke beberapa
tempat lainnya dan melakukan hal yang sama. Jadi kami melaksanakan operasi tersebut
Dalam kasus ini dokter telah melakukan tindakan yang sesuai dengan Kaidah Dasar Bioetika
yaitu NON-MALFICENCE, Menolong pasien emergensi. Dan Kewajiban menolong
pasien gawat darurat Dimana pada kasus ini dokter pada akhirnya menolong dengan
melaksanakan tindakan operasi transplantasi ginjal. Karena pada umumnya pasien yang
membutuhkan transplantasi berada pada keadaan yang gawat darurat dan dibutuhkan
tindakan yang segera.

Kaidah Dasar Bioetika yang tidak sesuai


JUSTICE
Saya menduga kuat bahwa dia tidak memiliki hubungan dan dia dibayar untuk
mendonorkan ginjalnya.
Dalam kasus ini dokter tidak melakukan tindakan yang sesuai dengan Kaidah Dasar Bioetika
yaitu JUSTICE, Memberlakukan segala sesuatu secara universal . dimana seharusnya
dokter tidak boleh memiliki pemikiran negatif terhadap pasien tanpa dilakukan dahulu
pemeriksaan
NON-MALFICENCE dan BENEFICENCE
..kasus lainnya dimana pendonor dengan jelas adalah saudara sepupu dari pasien dan
tampaknya bersedia. . Mereka menemukan bahwa ia memiliki kepandaian di bawah
normal dan tidak tahu tentang masalah ini, prosedurnya dan apa artinya ini untuknya. Kami
menolak, pasien dan keluarganya, dan bahkan orang tua dari pendonor sangat marah
dengan kami
Dalam kasus ini dokter tidak melakukan tindakan yang sesuai dengan Kaidah Dasar Bioetika
yaitu NON- MALFICENCE, Menolong pasien emergensi. Kewajiban menolong pasien
gawat darurat. Dimana dalam kasus ini pendonor denagn ketidakmampuan dalam berfikir
wewenang persetujuan berada pada orang tua dari pendonor. Pada kasus ini orang tua dari
pendonor telah menyetujui dilakukannnya transplantasi ginjal. Sebagai dokter seharusnya
tetap melaksanakan transplantasi karena telah adanya persetujuan.

BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan Umum
1. Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh manusia sebagai salah satu kemajuan
teknologi di bidang kedokteran perlu diatur dengan Undang-Undang sehingga tidak
terjadi komersialisasi dalam transplantasi organ.
2. Sebelum melakukan transplantasi organ dan atau jaringan tubuh, seseorang yang
memutuskan menjadi donor harus mengetahui dan mengerti resiko yang dihadapi baik
resiko di bidang medis, pembedahan maupun resiko untuk kehidupannya lebih lanjut
sebagai kekurangan jaringan atau organ yang telah dipindahkan.
3. Bagi pendonor yang memiliki keterbelakangan mental, sebelum pengambilan
organ dilakukan informed consent pada pendonor tersebut, jika tidak diketahui
identitasnya maka informed consent didapatkan dari keluarga atau ahli warisnya.
4. Komersialisasi organ dan atau jaringan tubuh manusia merupakan tindakan pidana
penyidik berwenang melakukan penyidikan meskipun tanpa laporan dari masyarakat.
Kesimpulan pada kasus
Pada kasus yang terjadi dimana pada kasus 1, pendonor menyetujui untuk
mendonorkan ginjalnya namun terjadi kecurigaan oleh dokter mengenai keterkaitan
hubungan keluarga antara keduanya dan niat pendonor untuk membisniskan ginjalnya

sehingga menurut saya tindakan dokter telah benar adanya untuk tidak dilakukannya tindakan
operasi agar meminimalisisr kemungkinan terburuk yang terjadi pada keduanya. Namun,
pada kasus ke 2, terjadi perbedaan keadaan dimana sudah jelas adanya hubungan keluarga
dan kecocokan tetapi dokter mencurigai adanya paksaan dari keluarga pendonor dan keluarga
resipien ginjal dilihat dari hasil pemeriksaan dari psikiatri bahwa pendonor tidak mengetahui
apa yang akan terjadi pada dirinya. Sehingga benar juga adanya tindakan dokter untuk tidak
dilakukannya operasi transplantasi hanya jika semua yang dicurigakan terbukti benar adanya.
Apabila sebalinya, dokter tidak memiliki wewenang untuk menolak disamping penerima dala
keadaan gawat darurat karena membutuhkan donor ginjal, disamping itu jika orang tua dari
pendonor sebagai wali dari pemberi keputusan menyetujui maka operasi harus dijalankan.
Saran
1. Sebaiknya penegakan hukum tentang transplantasi organ di Indonesia lebihdiperketat lagi
untuk mencegah terjadinya kasus pengambilan organ secara paksa
2. Aparat penegak hukum sebaiknya mengusut tuntas penjualan organ yang terjadi di
Indonesia
3. Masyarakat sebaiknya dapat memanfaatkan teknologi transplantasi organ lebih baik lagi
dan tetap mementingkan fakta biomedis, fakta bioetik, hukum, hukumislam dan normanorma yang berlaku

DAFTAR PUSTAKA

ETIKA KEDOKTERAN dan HUKUM KESEHATAN. 1999. Jakarta: EGC