Anda di halaman 1dari 13

RESPIRASI TANAH

( Laporan Praktikum Ilmu Tanah Hutan )

Oleh
Ferdy Ardiansyah
1314151022

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fauna tanah adalah hewan yang hidup di tanah, baik yang hidup di
permukaan tanah maupun yang terdapat di dalam tanah. Makrofauna tanah
mempunyai peranan penting dalam dekomposisi bahan organik tanah guna
menyediakan unsur hara. Makrofauna akan meremah-remah substansi nabati
yang mati, kemudian bahan tersebut dikeluarkan dalam bentuk kotoran.
Kotoran organisme perombak ini akan ditumbuhi bakteri untuk diuraikan
lebih lanjut dengan bantuan enzim spesifik sehingga terjadi proses
mineralisasi (Hilwan dan Handayani, 2013).
Organisme yang hidup di dalam tanah ada yang bermanfaat, ada yang
mengganggu, dan ada pula yang tidak bermanfaat tetapi juga tidak
mengganggu. Organisme yang bermanfaat antara lain cacing tanah dan
bakteri tertentu yang dapat mengubah CO (karbon monoksida) yang beracun
menjadi CO2 (karbon dioksida) atau mengikat N dari udara.
Respirasi tanah merupakan suatu proses yang terjadi karena adanya
kehidupan mikrobia yang melakukan aktifitas hidup dan berkembang biak
dalam suatu masa tanah. Mikrobia dalam setiap aktifitasnya membutuhkan
O2 atau mengeluarkan CO2 yang dijadikan dasar untuk pengukuran respirasi
tanah.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.


1. Agar mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan respirasi tanah
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara respirasi tanah
dengan mikroorganisme

II. TINJAUAN PUSTAKA

Berdasar ukuran tubuhnya hewan-hewan tersebut dikelompokkan atas


mikrofauna, mesofauna, dan makrofauna. Ukuran mikrofauna berkisar antara 20
sampai 200 mikron, mesofauna berkisar 200 mikron sampai dengan satu
sentimeter, dan makrofauna lebih dari satu sentimeter.( Isnan dkk, 2014 )
Respirasi tanah merupakan pencerminan populasi dan aktifitas mikroba tanah.
Pengukuran respirasi (mikroba tanah) merupakan cara yang pertama kali
digunakan untuk menentukan tingkat aktivitas mikroba tanah. Penetapan respirasi
tanah didasarkan pada :
1. Penetapan jumlah CO2 yang dihasilkan oleh mikroba tanah.
2. Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroba tanah.
Respirasi mikroba tanah sangat kompleks, banyak metode yang telah diusulkan
untuk menangkap gas yang dihasilkan dan menganalisisnya sesuai dengan tujuan
dan lingkungan peneliti, bisa dikatakan tidak ada metode yang sepenuhnya
memuaskan. Oleh karena itu, para peneliti diharapkan dapat memilih metode
yang paling tepat. Adapun cara penetapan tanah di laboratorium lebih disukai.
Prosedur di laboratorium meliputi penetapan pemakaian O2 atau jumlah CO2 yang
dihasilkan dari sejumlah contoh tanah yang diinkubasi dalam keadaan yang diatur
di laboratorium. Dua macam inkubasi di laboratorium adalah :
1. Inkubasi dalam keadaan yang stabil (steady-stato)
2. Keadaan yang berfluktuasi
Untuk keadaan yang stabil, kadar air, temperatur, kecepatan, aerasi, dan
pengaturan ruangan harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Peningkatan
respirasi terjadi bila ada pembasahan dan pengeringan, fluktuasi aerasi tanah
selama inkubasi. Oleh karena itu, peningkatan respirasi dapat disebabkan oleh

perubahan lingkungan yang luar biasa. Hal ini bisa tidak mencerminkan keadaan
aktivitas mikroba dalam keadaan lapang, cara steady-stato telah digunakan untuk
mempelajari dekomposisi bahan organik, dalam penelitian potensi aktivitas
mikroba dalam tanah dan dalam perekembangan penelitian.(Iswandi, 2011).
Respirasi tanah dilakukan oleh mikroorganisme tanah baik berupa bakteri maupun
cendawan. Interaksi antara mikroba dengan lingkungan fisik di sekitarnya
mempengaruhi kemampuannya dalam respirasi, tumbuh, dan membelah. Salah
satu faktor lingkungan fisik tersebut adalah kelembapan tanah yang berkaitan erat
dengan respirasi tanah (Cook & Orchard, 2010).

Respirasi tanah merupakan salah satu hal yang penting yang berkaitan dengan
perubahan iklim dan pemanasan global di masa depan. Respirasi tanah yang
berkaitan dengan suhu tanah digunakan sebagai salah satu kunci karakteristik
tanah atau bahan organik dan bertanggung jawab dalam pemanasan global
(Subke & Bahn, 2010)
Fauna tanah merupakan bagian dari ekosistem lahan yang keberadaan fauna tanah
dipengaruhi oleh kondisi lahan tersebut. Ada fauna tanah yang memerlukan
kondisi iklim mikro tertentu ada juga fauna tanah yang dapat hidup pada kondisi
ekstrim tertentu Suhu tanah merupakan salah satu faktor fisika tanah yang sangat
menentukan kehadiran dan kepadatan organisme tanah. Dengan demikian suhu
tanah akan menentukan tingkat dekomposisi mineral organik tanah. Suhu yang
ideal untuk habitat cacing tanah di daerah tropic antara 15-25oC. (Wawan
Halwany, 2013)

III. METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul, gelas
plastik, plastik, karet, lembar pengamatan, stopwatch.

Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah sampel tanah dari lahan


terbuka dan tertutup.

B. Cara Kerja

Adapun cara kerja yang dilakukan dalam percobaan ini adalah sebagai
berikut.
1.

Mengambil sampel tanah pada lahan terbuka dan tertutup oleh vegetasi
dengan menggunakan cangkul

2.

Memasukkan sampel tanah pada gelas plestik

3.

Menutup gelas plastik dengan plastik

4.

Mengikat plastik pada gelas plastik menggunakan karet hingga udara


tidak bisa masuk

5.

Mengamati uap air yang di timbulkan oleh tanah pada plastik

6.

Menghitung waktu hingga uap air tampak pada plastik

7.

Mencatat hasil pada lembar pengamatan

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan yang diperoleh adalah sebagai berikut.


Tabel 1. Pengamatan respirasi tanah
No

Lokasi

Waktu Uap air

tanah

(menit)

Lahan

20,26

terbuka
2

Lahan
tertutup

Tidak
ada

20,26

Tidak
ada

B. Pembahasan

Percobaan ini dilakukan dengan cara memasukkan sampel tanah ke dalam


gelas plastik kemudian di tutup menggunakan plastik bening, dan diamati
hingga terbentuk uap air. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan bahwa
pengamatan respirasi tanah pada dua sampel tanah yang berbeda didapatkan
bahwa tidak ada uap air yang menempel pada plastik selama waktu 20,26
menit.

Hal ini terjadi karena sampel tanah yang diambil sedikit sekali bahan organik
nya. Ansori (2011) menyebutkan bahwa secara umum pemberian bahan
organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroba tanah,
karena bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi
mikroba tersebut, di samping itu mikroba tanah saling berinteraksi dengan

kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon


sebagai sumber energi untuk tumbuh (sebagai penyusun tubuh dan energi).

Respirasi adalah proses yang menghasilkan uap air, apabila pada suatu tanah
ketika dimasukkan ke dalam gelas dan ditutup rapat akan terbentuk uap air
yang menempel didalamnya, uap air yang menempel itu disebabkan oleh
respirasi dari mikroorganisme tanah, sesuai pendapat Widati (2007) dalam
Danapriatna (2012) bahwa respirasi tanah merupakan salah satu indikator
aktivitas mikroba di dalam tanah.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dalam percobaan ini adalah


1.

Respirasi tanah merupakan pencerminan populasi dan aktifitas mikroba tanah.

2.

Ketika suatu sampel tanah dimasukkan ke dalam gelas, kemudia ditutup


dengan rapat, maka akan terlihat uap air yang menempel pada gelas, itu
bertanda bahwa tanah tersebut mengandung mikroorganisme. Semakin
banyak uap air maka semakin banyak pula mikroorganisme nya, begitu pula
sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA

Anas, Iswandi. 2011. Biologi Tanah dalam Praktek. IPB, Bogor


Cook VJ, Orchard VA. 2010. Relationships between soil respiration and soil
moisture. Soil Biology & Biochemistry 40: 10131018.
Danapriatna, Nana, dkk. 2012. Pemulihan Kesehatan Tanah Sawah Melalui
Aplikasi Pupuk Hayati Penambat N Dan Kompos Jerami Padi. Vol. 3
No. 2 Juni 2012.
sirusa.bps.go.id/index.php?r=sk/view&kd=2967&th=2012. Diakses
pada tanggal 6 juni 2014.
Halwany, Wawan. 2013. Balai penelitian Kehutanan Banjar Baru : Peranan dan
Fungsi Fauna Tanah. http://foreibanjarbaru.or.id/archives/530. Diakses
pada tanggal 29 mei 2014.
Isnan, Whimpy Faizal, dkk. 2014. Studi Keanekaragaman Hewan Tanah
(Epifauna) Di Perkebunan Kubis (Brassica Oleracea L) Dengan Sistem
Terasering Di Cangar Kecamatan Bumiaji Kota Batu. http://jurnalonline.um.ac.id/data/artikel/artikel6DB4594912BA954F4E846FFB36B
C2E21.doc. Diakses pada tanggal 29 Mei 2014.
Subke JA, Bahn M. 2010. On the temperature sensitivity of soil respiration: Can
we use the immeasurable to predict the unknown?. Soil Biology &
Biochemistry 42: 1653-1656.

LAMPIRAN

Gambar 1. Sampel tanah pada lahan tertutup

Gambar 2. Sampel tanah pada lahan terbuka

Gambar 3. Perlakuan untuk mengetahui respirasi tanah.