Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam bab ini kita akan membahas topik social cognition (kognisi sosial), studi
tentang bagaimana orang menarik kesimpulan atau inferensi dari informasi sosial yang ada
di lingkungan. Riset tentang kognisi sosial membahas bagaimana membuat orang
membuat penilaian sosial tentang individu atau kelompok sosial lain, tentng peran sosial,
dan tentang pengalaman mereka sendiridalam setting sosial. Membuat penilaian sosial
adalah lebih sulit ketimbang yang kita bayangkan. Sering kali informasi-informasi yang
tersedia tidaklah lengkap, bersifat ambigu, atau bertentangan satu sama lain. Bagaiman
kita menggunakan semua informasi ini untuk melakukan penilaian yang koheren? Inilah
persoalan utama dalam riset kognisi sosial.
Anda barangkali berasumsi bahwa kognisi sosial adalah memandang dunia secara
akurat dan membentuk penilaian atas kehidupan sosial secara nonbias dan jernih. Tetapi
dalam kenyataannya dalam satu temuan awal psikologi sosial menunjukkan bahwa kognisi
sosial sering memuat kekeliruan dan bias. Jelas ada cara yang logis dan tepat untuk
menyatukan informasi guna mengambil keputusan yang bijak, namun inferrernsi sosial
seseorang sering tidak logis dan tidak akurat. Tetapi, seperti apa yang kita lihat nanti,
kesalahan dan bias ini menunjukkan informasi tentang bagaimana kita menarik inferensi
atau kesimpulan tentang lingkunagan sosial kita. Pertama, mari kita lihat situasi sosial
untuk melihat bagaimana inferensi sosial sering tidak logis dan kurang akurat, dan
kemudian kita akan membahas bagaiman inferensi sosial membentuk panadangan kita
tentang cara kita membentuk penilaian sosial kita.
Bayangkan anda sudah lulus kuliah dan sedang menghadapi wawancara kerja pertama
anda. Anda bertemu dengan direktur personalia dan beberapa calon karyawan lainnya.
Anda juga telah melihat-lihat calon kantor anda, dan banyak mengetahui tentang
perusahaan yang anda ingin masuki dan memahami akan seperti apa tanggung jawab anda
nanti dikantor, jika anad diterima. Bagaiman anda memutuskan apakah ini adalah jenis
perusahaan yang memang anda inginkan dan apakah anda menyukai pekerjaan dan orangorang yang bekerja disana?

Kognisi Sosial

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa isi dari teori kognisi sosial?
b. Bagaimana pengaruh skema sosial dimasyarakat?
c. Apa saja sumber-sumber yang berpotensi menimbulkan kesalahan dalam kognisi
sosial?
d. Bagaimana hubungan afeksi terhadap kognisi?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Memahami apa itu teori kognisi sosial;
b. Mempelajari tentang skema, heurisitic yang terjadi di masyarakat;
c. Mengetahui apa saja sumber-sumber yang berpotensi menimbulkan kesalahan
dalam kognisi sosial;
d. Mengetahui tentang keragaman sosial : sebuah analisis kritis.

Kognisi Sosial

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kognisi Sosial
Menurut Baron & Byrne (2000) kognisi sosial merupakan cara individu untuk
menganalisa, mengingat dan menggunakan informasi mengenai kejadian atau peristiwaperistiwa sosial. Dalam menganalisa suatu peristiwa, terdapat 3 proses, yaitu:
a. attention : proses pertama kali terjadi dimana individu memperhatikan gejala-gejala
sosial yang ada disekelilingnya;
b. encoding : memasukkan apa yang diperhatikan ke dalam memorinya dan
menyimpannya;
c. retrieval : apabila kita menemukan gejala yang mirip kita akan mengeluarkan
ingatan kita dan membandingkan apabila ternyata sama maka kita bisa mengatakan
sesuatu mengenai gejala tersebut atau bisa juga individu mengeluarkan ingatannya
ketika akan menceritakan peristiwa yang dialami.
Dalam kognisi sosial dikenal istilah skema yang merupakan semacam kerangka atau
gambaran yang membantu individu dalam mengorganisasikan informasi-informasi suatu
fenomena yang diperhatikan individu. Terdapat 3 macam jenis skema, yaitu:
a. person : gambaran mengenai atribut-atribut atau ciri-ciri dari individu lain atau diri
individu itu sendiri;
b. roles : gambaran mengenai tugas dan peranan individu-individu di sekeliling kita;
c. events : gambaran mengenai peristiwa-peristiwa sosial yang dialami atau dilihat
individu sehari-hari.

2.2

Teori Kognisi Sosial


Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru

dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert
Bandura. Penamaan baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini dilakukan pada
tahun 1970-an dan 1980-an. Ide pokok dari pemikiran Bandura (Bandura, 1962) juga
merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative
learning).

Kognisi Sosial

Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial


dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses
belajar sosial. Teori ini sangat berperan dalam mempelajari efek dari isi media massa pada
khalayak media di level individu.
Sudah jelas bahwa konsep utama dari teori kognitif sosial adalah pengertian
tentang obvervational learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang
"model" di dalam lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga
di dalam lingkungan internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik di bidang
berita dan hiburan, proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara
memperhatikan model tersebut. Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena
proses modeling. Modeling atau peniruan merupakan "the direct, mechanical reproduction
of behavior, reproduksi perilaku yang langsung dan mekanis[1]. Sebagai contoh, ketika
seorang

ibu

mengajarkan

anaknya

bagaimana

cara

mengikat

sepatu

dengan

memeragakannya berulang kali sehingga si anak bisa mengikat tali sepatunya, maka proses
ini disebut proses modeling.
Dengan begitu kognisi sosial adalah tata cara di mana kita menginterpretasi,
menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia social. Kognisi social
dapat terjadi secara otomatis. Contonya, saat kita melihat seseorang dari suatu ras tertentu
(Cina, misalnya), kita seringkali secara otomatis langsung berasumsi bahwa orang tersebut
memiliki crri/sifat tertentu. Kapasitas kognitif kita juga terbatas. Selain itu, terdapat suatu
hubungan antara kognisi dan afeksi (bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merasa).

2.3

Skema sosial
Komponen dasar kognisi social adalah skema (schema). Skema adalah sruktur

mental

yang membantu

kita mengorganisasi

informasi

social,

dan

menuntun

pemrosesannya. Skema berkisar pada suatu subyek atau tema tertentu.. dalam otak kita,
skema itu seperti skenario, yang memiliki alur. Skema di otak kita terbenuk berdasarkan
pengalaman yang pernah kita alami sendiri atau diceritakan oleh orang lain. Skema berisi
pengetahuan tentang konsep atau stimulus, relasi antar berbagai pemahaman tentang
konsep itu, dan contoh-contoh spesifiknya (Fiske & Taylor, 1991).

Davis, Baran,Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future, hal.184

Kognisi Sosial

Skema dapat berupa skema tentang orang tertentu, peran sosial, atau diri sendiri; sikap
terhadap objek tertentu; stereotif tentang kelompok tertentu; atau persepsi tentang kejadian
umum.
Skema tentang kejadian yang sangat umum dinamakan script (Abelson, 1976).
Script adalah urutan standar dari suatu perilaku selama satu periode waktu tertentu.
Contohnya adalah urutan pesan makanan di restoran Cina. Semua orang duduk, dan
pelayan membawakan menu. Beberapa orang berbicara bersamaan, mengemukakan
makanan kesukaannya, sedangkan yang lainnya bingung memilih dan karenanya ikut
pilihan yang lainnya. Kemudian orang-orang itu menelusuri daftar menu, memilih sup apa
yang akan dipesan, berdiskusi daging apa yang akan di pesan (yang disukai semua orang)
dan makanan lainnya (seridaknya disukai oleh semua orang), dan akhirnya menunjukan
perwakilan

untuk

menyampaikan

semua

pesanan

kepada

pelayan.

Kita bisa membuat script yang sama untuk sederetan peristiwa, seperti
memandikan bayi, mengikuti ujian akhir, atau bermain basket. Esensi dari script adalah
konteks waktunya, aliran kausalnya (satu kejadian menimbulkan kejadian lain) dan
kesederhanaankoherensinya.Skema

dan

script

adalah

penting

karena

orang

mengandalkannya untuk menginterpretasikan lingkungan. Setiap kali kita berhadapan


dengan situasi baru,kita tidak mencoba memahaminya dari sudut pandang baru, tetapi kita
mengandalkan pengetahuan yang telah kita punya. Dalam hal ini skema membantu kita
untuk memproses informasi. Skema membantu kita mengenali aspek apa dari suatu situasi
atau stimulus yang merupakan aspek penting. Skema dan script menciptakan struktur dan
penataan informasi. Skema memampukan kita untuk mengingat informasi dengan lebih
baik, menata detail, dan untuk mempercepat pemrosesan informasi yang relevan dengan
skema. Skema terkandung dapat melengkapi kekurangan pengetahuan dan membantu kita
menginterprestasikan dan mengevaluasi informasi baru.
Skema menimbulkan efek yang kuat terhadap 3 proses dasar, yaitu perhatian atau
atensi (attention), pengkodean (encoding), dan mengingat kembali (retrieval). Skema
terbukti berpengaruh terhadap semua aspek dasar kognisi social (Wyer & Srull, 1994).
Dalam hubungannya dengan atensi, skema seringkali berperan sebagai penyaring:
informasi yang konsisten dengan skema lebih diperhatikan dan lebih mungkin untuk
masuk ke dalam kesadaran kita. Informasi yang tidak cocok dengan skema kita seringkali
diabaikan (Fiske, 1993), kecuali iinformasi itu sangat ekstrem. Pengkodean informasi apa
Kognisi Sosial

yang dimasukkan ke dalam ingatan informasi yang menjadi focus atensi lebih mungkin
untuk disimoan dalam ingatan jangka panjang. Mengingat kembali informasi (retrieval)
informasi apa yang paling siap untuuk diingat secara umum, orang melaporkan informasi
yang konsisten dengan skema mereka, namun kenyataannya, informasi yang tidak
konsisten dengan skema juga dapat secara kuat muncul dalam ingatan.

A. Keuntungan Skema
1. Skema dan Pemrosesan Informasi.
Skema adalah penting karena membantu kita memproses banyak sekali informasi
secara cepat dan efisien. Skema mengefisienkan pemrosesan melalui beberapa cara. Skema
membantu kita mengingat menginterprestasikan informasi baru, menarik inferensi dari
info baru itu, dan mengevaluasi apakah kita menyepakati info itu atau tidak. Dan skema
membantu kita mempersiapkan diri dengan menata ekspetasi kita terhadapa apa yang
mungkin akan terjadi. Keuntungan pemrosesan skematis ini telah dibuktikan melalui
berbagai studi.
2. Skema membantu mengingat.
Memori sering bekerja baik ketika punya representasi skematis dari kajadian di
masa lalu atau orang, karena skema memberi kita banyak detail tentang itu semua (Hirt,
1990). Terkadang informasi yang bertentangan dengan skema diingat dengan lebih baik
ketimbang informasi yang konsisten dengan skema, khusunya ketika seseorang tidak
punya skema yang bagus. Orang yang tidak akrab dengan suatu skema dan berusaha untuk
mempelajarinya tampaknya bisa mengingat informasi yang tidak konsisten dengan skema
secara lebih baik (Ruble & Stangor, 1986).
3. Skema mempercepat pemroresan.
Ketika seseorang memiliki sebuah skema untuk orang atau situasi tertentu, akan
lebih mudah bagi mereka untuk memproses informasi yang relevan dengan skema
tersebut. Tetapi, skema tidak selalu mempercepat pemrosesan. Dalam beberapa kasus,
memilki skema yang baik justru memperlambat pemrosesan karena skema ini
menghasilkan lebih banyak informasi yang kompleks yang mesti diproses (Fiske & Taylor,
1991).

Kognisi Sosial

4. Skema membantu inferensi otomatis.


Pemrosesan skematis dapat terjadi hamper secara otomatis, tanpa ada usaha sadar.
Efek otomatis ini sangat mungkin terjadi apabila informasi di lingkungan menunjukan
skema tertentu secara jelas, atau jika skema itu berkaitan dengan bidang yang menjadi
perhatian emosionalnya (Bargh, 1994).
5. Skema menambah informasi.
Sebuah skema dapat membantu kita mengisi informasi yang hilang saar ada gap
dalam pengetahuan kita. Informasi yang hilang diisi dengan detail yang sesuai skema.
6. Skema Membantu Interprestasi.
Karena skema memberi tahu informasi domain tertentu yang berkaitan dengan
informasi lain yang relevan dengan domain itu, maka skema bisa membantu kita
menginterprestasikan situasi yang mendua. Skema memungkinkan pengambilan inferensi
secara lebih pasti terhadap ketimbang jika kita tidak punya skema (Read & Cesa, 1991).
Efek ini nampaknya lebih mungkin terjadi pada skema yang lebih kuat ketimbang yang
lemah ( Fiske & Neubreg, 1990).
7. Skema Memberika Ekspetasi.
Skema juga memuat ekspetasi tentang apa yang akan terjadi. Ekspetasi ini pada
gilirannya dapat menentukan apakah situasi menyenangkan bagi kita atau tidak. Ketika
pengalaman kita sesuai dengan skema, kita mungkin merasa nyaman, tetapi jika tidak kita
sering merasa tidak nyaman. Harapan atau perkiraan yang tidak terwujud merupakan salah
satu penyebab kerusuhan atau bentuk gejolak sosial lainnya (Sears & McConahay, 1973).
8. Skema Memuat Perasaan.
Yakni, perasaan kita tentang isi dari skema. Konsekuensinya, penggunaan skema
tertentu dapat menimbulkan respons emosional tertentu, yang dinamakan schema-driven
affect. Jika informasi dari lingkungan ternyata cocok dengan skema kita, maka ia akan
memicu sikap atau perasaan yang ada dalam skema itu (Fiske & Neuberg, 1990).

B. Kelemahan Skema
Skema juga memiliki kelemahan (segi negatif). Skema mempengaruhi apa yang kita
perhatikan, apa yang masuk dalam ingatan kita, dan apa yang kita ingat, sehingga terjadi
distorsi pada pemahaman kita terhadap dunia social.

Kognisi Sosial

Skema memainkan peran penting dalam pembentukan prasangka, dalam


pembentukan satu komponen dasar pada stereotip tentang kelompok-kelompok social
tertentu.
Skema seringkali sulit diubah skema memiliki efek bertahan (perseverance
effect), tidak berubah bahkan ketika menghadapi informasi yang kontradiktif. Kadangkala
skema bisa memberikan efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling) yaitu skema
membuat dunia social yang kita alami menjadi konsisten dengan skema yang kita miliki.
Contoh efek bertahan, ketika kita gagal kita berusaha menghibur diri sendiri dengan
berkata, kamu hebat kok, ini karena pertandingan yang tidak adil, dsb. contoh ramalan
yang mewujudkan dirinya sendiri (self-fulfilling prophecy) ramalan yang membuat
ramalan itu sendiri benar-benar terjadi, skema guru untuk siswa yang minoritas yang
menyebabkan guru memperlakukan siswa minoritas itu secara berbeda (kurang positif)
sehingga menyebabkan prestasi siswa minoritas ini menurun. Stereotip tidak hanya
memiliki pengaruh namun bisa melalui efek pemaastian dirinya, stereotip juga membentuk
realitas social.

2.4

Heuristic
Kejenuhan informasi (information overloaded) adalah suatu keadaan di mana

pengolahan informasi kita telah berada di luar kapasitas kemampuan yang sesungguhnya
sehingga menuntut system kognitif yang lebih besar daripada yang bisa diolah. Berbagai
strategi untuk melebarkan kapasitas kognitif harus memenuhi 2 persyaratan, yaitu: harus
menyediakan cara yang cepat dan sederhana untuk dapat mengolah informasi social dalam
jumlah yang banyak, dan harus dapat digunakanharus berhasil. Namun, yang paling
berguna adalah Heuristic, yaitu aturan sederhana untuk membuat keputusan kompleks
atau untuk menarik kesimpulan secara cepat dan seakan tanpa usaha yang berarti.
Heuristic ada 2 macam:
a. Heuristic keterwakilan (heuristic representativeness)
Heuristic keterwakilan yaitu sebuah strategi untuk membuat penilaian
berdasarkan pada sejauh mana stimuli atau peristiwa tersebut mempunyai kemiripan
dengan stimuli atau kategori yang lain.

Kognisi Sosial

Pada dasarnya metode heuristic ini menyandingkan informasi dalam


lingkungan dengan skema untuk menentukan kemungkinan apakah penyandingan itu
tepat atau tidak. Contoh: kita mengenal Ratna sebagai pribadi yang teratur, lramah,
rapi, memiliki perpustakaan di rumahnya dan sedikit pemalu. Namun kita tidak
mengetahui pekerjaannya. Mungkin kita langsung menilainya sebagai pustakawan.
Dengan kata lain, kita menilai berdasarkan: semakin mirip seseorang dengan ciri-ciri
khas orang-orang dari suatu kelompok, semakin mungkin ia merupakan bagian dari
kelompok

tersebut.

Keterwakilan

heuristic,

karenanya,

membantu

seseorang

menentukan apakah orang atau kejadian tertentu adalah contoh dari skema tertentu.
Akan tetapi, metode identifikasi yang cepat ini kadang-kadang salah kerena seseorang
tidak mempertimbangkan informasi penting lainnya. Karenanya, dalam penggunaan
metode ini kemungkinan akan menghasilkan inferensi yang salah. Heuristic
representasi kadang juga menyebabkan kita mengkombinasikan informasi yang tidak
sama, karena informasi itu seolah-olah terlihat sama. Kekeliruan ini dinamakan
conjunction error (kesalahan konjungsi). itu merupakan kekeliruan karena orang
percaya bahwa kombinasi dua kejadian adalah lebih mungkin ketimbang masingmasing dari dua kejadian itu. Ini adalah kesalahan penalaran. (Gasvanski & RoskoEwoldsen,1991; Bar-Hillel & Neter, 1993).
b. Heuristic ketersediaan (availabilityheuristic)
Heuristic ketersediaan yaitu sebuah strategi untuk membuat keputusan
berdasarkan seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dapat dimunculkan dalam
benak kita. Heuristic ini dapat mengarahkan kita untuk melebih-lebihkan kemungkinan
munculnya peristiwa dramatis, namun jarang, karena peristiwa itu mudah masuk ke
pikiran kita. Contoh: banyak orang merasa lebih takut tewas dalam kecelakaan pesawat
daripada kecelakaan di darat. Hal ini karena fakta bahwa kecelakaan pesawat jauh
lebih dramatis dan menyedot lebih banyak perhatian media.
Akibatnya, kecelakaan pesawat lebih mudah terpikir sehingga berpengaruh
lebih kuat dalam penilaian individu. Heuristic ini berhubungan dengan proses
pemaparan awal (priming) yaitu meningkatnya ketersediaan informasi sebagai hasil
dari sering hadirnya rangsangan atau peristiwa-peristiwa khusus. Pemaparan awal bisa
muncul bahkan ketika individu tidak sadar akan adanya rangsangan yang telah
dipaparkan sebelumnya disebut juga pemaparan awal otomatis.
Kognisi Sosial

Cara lainnya adalah dengan pemrosesan otomatis (automatic processing) yang


terjadi ketika, setelah berpengalaman melakukan suatu tugas atau mengolah suatu
onformasi tertentu yang seakan tanpa perlu usaha yang besar, secara otomatis dan tidak
disadari. Contohnya: saat pertama kali belajar sepeda, kita memerlukan perhatian
khusus dalam mengendarainya. Seiring dengan berkembangnya keahlian bersepeda
kita, kita dapat melakukan tugas-tugas lain seperti berbicara sambil bersepeda. Begitu
teraktivasi, skema dapat menimbulkan efek perilaku yang otomatis.

2.5

Sumber-Sumber Yang Berpotensi Menimbulkan Kesalahan Dalam Kognisi


Sosial
a. Bias negativitas,yaitu kecenderungan memberikan perhatian lebih pada informasi
yang negatif. Dibandingkan dengan informasi positif, satu saja informasi negative
akan memiliki pengaruh yang lebih kuat. Contoh: kita diberitahu bahwa dosen yang
akan mengajar nanti adalah orang yang pintar, masih muda, ramah, baik hati,
cantik, namun diduga terlibat skandal seks. Bias negative menyebabkan kita justru
terpaku pada hal yang negative dan mengabaikan hal-hal positif.
b. Bias optimistic, yaitu suatu predisposisi untuk mengharapkan agar segala sesuatu
dapat berakhir baik. Kebanyakan orang percaya bahwa mereka memiliki
kemungkinan yang lebih besar dari orang lain untuk mengalami peristiwa negative
dan kemungkinan lebih kecil untuk mengalami peristiwa negative. Contoh:
pemerintah seringkali mengumumkan rencana yang terlalu optimis mengenai
penyelesaian proyek-proyek besarjalan, bandara baru, dsb. hal ini mencerminkan
kesalahan perencanaan. Namun, ketika individu memperkirakan akan menerima
umpan balik atau informasi yang mungkin negative dan memiliki konsekuensi
penting, tampaknya ia justru sudah bersiap menghadapi hal yang buruk (brancing
of loss) dan menunjukkan kebalikan dari pola optimistic: mereka menjadi pesimis.
c. Pemikiran konterfaktual, yaitu memikirkan sesuatu yang berlawanan dari keadaan
sekarang. Efek dari memikirkan apa yang akan terjadi seandainya. Contoh:
ketika selamat dari kecelakaan pesawat, Andi justru memikirkan, bagaimana bila
saya tidak langsung terjun tadi, saya sudah mati pastinya, lalu bagaimana nasib
keluarga saya sepeninggalan saya?, dsb. pemikiran konterfaktual dapat secara kuat
berpengaruh terhadap afeksi kita. Inaction inertiakelambanan apatismuncul
Kognisi Sosial

10

ketika individu memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu sehingga kehilangan


kesempatan untuk mendapatkan hasil yang positif.
d. Pemikiran magis, yaitu berpikir dengan melibatkan asumsi yang tidak didasari
alasan yang rasional. Contoh: supaya ujian lulus, Raju berdoa banyak-banyak dan
memakai banyak cincin.
e. Menekan pikiran, yaitu usaha untuk mencegah pikiran-pikiran tertentu memasuki
alam kesadaran. Proses ini melibatkan 2 komponen, yaitu: proses pemantauan yang
otomatis yang mencari tanda-tanda adanya pemikiran yang tidak diinginkan yang
memaksa untuk muncul kea lam kesadaran. Ketika pikiran tersebut terdeteksi,
proses kedua terjadi, yaitu mencegah agar pikiran tersebut tetap berada di luar
kesadaran tanpa mengganggu pikiran yang lain. Contoh:anti yang ikut program diet
menekan pikirannya akan makanan-makanan manis.

2.6

Afeksi dan Kognisi


Perasaan kita dan suasana hati memiliki pengaruh yang kuat terhadap beberapa

aspek kognisi, dan kognisi juga berperan kuat pada perasaan dan suasana hati kita. Suasana
hati saat ini dapat secara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsang yang baru
pertama kali kita temui. Contoh: ketika kita sedang bergembira dan berkenalan dengan
orang baru, penilaian kita terhadap orang tersebut pastinya lebih baik dibanding saat kita
berkenalan dengannya ketika kita bersedih.
Perasaan hati (moods) kita dapat mempengaruhi apa yang kita ingat melalui dua
mekanisme:
a. Pengaruh pada ingatan, ingatan yang bergantung pada suasana hati (mooddependent memory) yaitu apa yang kita ingat saat berada dalam suasana hati
tertentu, sebagian besar ditentukan oleh apa yang kita pelajari sebelumnya ketika
kita berada dalam suasana hati tersebut.
b. Efek kesesuaian suasana hati (mood-congruence effects) yaitu kecenderungan
untuk menyimpan atau mengingat informasi positif ketika berada dalam suasana
hati positif dan informasi negattif ketika berada dalam suasana hati yang negatif.
Perasaan hati kita juga berpengaruh pada aspek penting kognisi yang lain yaitu
kreativitas. Hasil dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa berada dalam mood
yang baik (happy mood) dapat meningkatkan kreativitas.
Kognisi Sosial

11

Mungkin karena dengan berada dalam mood yang baik dapat mengaktifkan
jangkauan ide dan asosiasi menjadi lebih luas daripada ketika berada dalam mood
yang negatif, dan kreativitas merupakan bagian dari penyatuan beberapa asosiasi ke
dalam bentuk atau pola yang baru (Estrada, Isen, & Young,1995). Afeksi juga
dapat mempengaruhi kognisi lewat pengaruhnya pada rencana-rencana dan tujuan
kita dalam situasi sosial yang lebih luas. Temuan terbaru oleh Forgas (1998)
menyebutkan bahwa negosiator yang berada dalam mood baik memiliki strategistrategi kooperatif yang lebih banyak dan memperoleh hasil yang lebih baik
daripada negosiator yang berada dalam mood buruk.
Penemuan terbaru mengindikasikan bahwa informasi yang membangkitkan
reaksi afeksi mungkin diproses secara berbeda daripada jenis informasi yang lain,
sebagai akibatnya, informasi ini hampir tidak mungkin untuk diabaikan atau
dikesampingkan (Edwards, Heindel, &Louis-Dreufus, 1996; Wegner & Gold,
1995).

Peneliti-peneliti

tersebut

beralasan

bahwa

emosi-informasi

yang

menggemparkan mungkin menjadi penyebab yang potensial dari kontaminasi


mental (mental contamination) yaitu suatu proses judgement, emosi, atau perilaku
yang dipengaruhi oleh proses mental yang tidak sadar dan tidak dapat dikontrol
(Wilson & Brekke, 1984).

A. Hubungan antara afeksi dengan kognisi


Pada saat kita senang akan berpengaruh pada pikiran dan persepsi . Penilaian pada
wawancaraIngatan yang bergantung pada suasana hati (mood-dependent memory). Jika
anda menyimpan informasi dalam ingatan jangka panjang di saat sedang dalam mood yang
baik, maka kita cenderung mengingat informasi itu pada saat berada dalam suasana hati
yang serupa.

B. Efek kesesuaian suasana hati (mood congruence effects)


Kecenderungan menyimpan atau mengingat informasi positif ketika berada dalam
suasana hati positif dan informasi negatif ketika berada dalam suasana hati negatif
1. Suasana hati positif juga terkait dengan kreativitas
2. Pengaruh kognisi pada afek
3. Melalui interpretasi kita atas suatu peristiwa
Kognisi Sosial

12

4. Aktivasi skema
5. Teknik kognisi mengontrol afek
6. Melakukan pemikiran konterfaktual peristiwa negatif yang tak dapat dihindari
7. Melakukan tindakan yang membuat kita merasa lebih baik sementara, walau
berakibat tidak baik di kemudian hari.

C. Pengaruh kognisi terhadap afeksi


Menurut Forgas (1995a), perasaan mempengaruhi pemikiran sosial dan pendapat sosial
melalui dua mekanisme pokok :
1. Perasaan menyajikan sesuatu yang terbaik berhubungan dengan kategori kognitif.
Ketika kita berada dalam mood yang baik, perasaan positif akan memberi
keterangan berkaitan dengan ingatan dan asosiasi yang positif. Ketika kita berada
dalam mood yang buruk, perasaan negatif cenderung untuk memberi keterangan
berkaitan dengan ingatan dan asosiasi yang negatif (Bower, 1991 ; Erber, 1991).
2. Bertindak sebagai isyarat heuristik yaitu aturan sederhana untuk membuat
keputusan kompleks atau untuk menarik kesimpulan secara cepat dan seakan tanpa
usaha yang berarti, yang dibutuhkan ketika kita berada dalam keadaan di mana
pengolahan informasi kita telah berada di luar kapasitas kemampuan yang
sesungguhnya sehingga menuntut system kognitif yang lebih besar daripada yang
bisa diolah.
Sebagian peneliti yang mempelajari hubungan antara afeksi dan kognisi
telah fokus pada bagaimana perasaan mempengaruhi pikiran. Meskipun demikian,
ada juga fakta yang berkebalikan, yaitu pengaruh kognisi terhadap afeksi. Satu
aspek dari hubungan ini dideskripsikan dalam apa yang disebut sebagahu the twofactor theory of emotion(Schachter, 1964). Teori tersebut mengatakan bahwa
seringkali kita tidak mengetahui perasaan atau sikap kita sendiri. Sehingga, kita
menyimpulkannya dari lingkungandari situasi di mana kita mengalami reaksireaksi internal ini. Contohnya: ketika kita mengalami perasaan tertentu atas
kehadiran seseorang yang menarik, kita menyimpulkan bahwa kita sedang jatuh
cinta. Selain itu, kognisi bisa mempengaruhi emosi melalui aktivitas skema yang di
dalamnya terdapat komponen afektif yang kuat. Skema atau stereotip yang

Kognisi Sosial

13

teraktivasi dengan kuat dapat sangat berpengaruh pada perasaan atau suasana hati
kita saat ini.
Selain itu, pikiran bisa mempengaruhi afeksi melibatkan usaha kita dalam
mengatur emosi kita. Contohnya, kemarahan yang kita rasakan bisa berkurang
ketika kita menerima permintaan maaf atau penjelasan mengapa orang lain berbuat
sesuatu yang memicu kemarahan kita itu (Ohbuci,Kameda, & Agari, 1989). Lebih
jauh lagi, kemarahan seringkali bisa dikurangi, atau bahkan dicegah dengan cara
lebih memikirkan hal lain daripada memikirkan sesuatu yang membuat kita
menjadi marah (Zillmann, 1993).

2.7

Keragaman Sosial : Sebuah Analisis Kritis


Pengalaman emosional adalah suatu aspek umum dari kehidupan sosial; melalui

rangkaian hari, minggu, atau bulan. sebagian besar orang menghadapi situasi yang
menyebabkan mereka memiliki pengalaman emosi seperti gembira, marah, takut, sedih,
dan merasa bersalah. Namun pertanyaannya adalah : apakah faktor budaya berpengaruh
terhadap reaksi-reaksi emosi tersebut? Jawaban untuk pertanyaan tsb telah dinyatakan
oleh Scherer dan Walbot (1994) melalui sebuah penelitian skala besar.
Dalam penelitian ini hampir tiga ribu orang yang tinggal dalam tiga puluh tujuh
negara yang berbeda diminta untuk mengingat situasi yang menyebabkan mereka mengala

mi tujuh macam emosi : gembira, marah, takut, sedih, jijik, malu, dan merasa
bersalah. Kemudian penliti menanyakan beberapa pertanyaan tentang bagaimana mereka
menghadapi situasi-situasi tersebut. Dari penelitian mereka disimpulkan bahwa Kehidupan
di seluruh dunia dan dalam banyak budaya yang berbeda menyumbangkan berbagai
pengalaman dasar kehidupan sosial, tetapi reaksi dan interpretasi mereka terhadap banyak
peristiwa begitu beragam dan dipengaruhi oleh budaya khusus dalam kehidupan mereka.
Perbedaan budaya memberikan pengaruh pada penilaian seseorang terhadap pengalaman
emosional. Faktor yang memainkan peran dalam perbedaan ini yaitu urbanisasi dan faktor
kepercayaan/agama.

Kognisi Sosial

14

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Teori Kognitif Sosial memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana perilaku

bisa dibentuk melalui pengamatan pada model-model yang ditampilkan oleh media massa.
Efek dari pemodelan ini meningkat melalui pengamatan tentang imbalan dan hukuman
yang dijatuhkan pada model, melalui identifikasi dari khalayak pada model tersebut, dan
melalui sejauh mana khalayak memiliki efikasi diri tentang perilaku yang dicontohkan di
media. Meski berdasarkan bidang studi psikologi sosial, teori ini memeiliki efek yang kuat
untuk pemahaman tentang efek kekerasan melalui media baik untuk anak-anak maupun
orang dewasa dan juga pada perencanaan kampanye yang ditujukan untuk mengubah
perilaku masyarakat melalui media.
Selain itu, terdapat sumber-sumber yang berpotensi menimbulkan kesalahan dalam
kognisi sosial. Diantaranya : bias negativitas, yaitu kecenderungan memberikan perhatian
lebih pada informasi yang negative. Bias optimistic, yaitu suatu predisposisi untuk
mengharapkan agar segala sesuatu dapat berakhir baik, lalu kerugian yang mungkin terjadi
akibat terlalu banyak berpikir, pemikiran konterfaktual, pemikiran magis, dan menekan
pikiran.

Kognisi Sosial

15

DAFTAR PUSTAKA

Taylor,Anne&sears D. Psikologi Sosial (edisi kedua belas). 2009. Jakarta : Prenada Group.
Bandura, A. Psychological Review. 1977. Efficacy: Toward a unifying theory of behavior
change.
Bandura, A. Social Learning Theory. 1977. New Jersey: Prentise Hall
Baran,S.J & D.K. Davis. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and
Future. 2nd edition.2000. Belmon, CA: Wadsworth
http://arihdyacaesar.wordpress.com/2010/01/13/resume-konsep-dasar-perilaku-sosialpersepsi-dan-kognisi-sosial/

Kognisi Sosial

16

Anda mungkin juga menyukai