Anda di halaman 1dari 80

TRAUMA EKSTREMITAS

Pendahuluan
Sistem musculoskeletal terdiri dari tulangtulang, tendon, ligamen dan kartilago yang
tersusun untuk
membentuk rangka dan menyangga tubuh,
melindungi organ vital dan
memungkinkan untuk melakukan gerakan.

Rangka tubuh terdiri dari tulang rangka yang


disusun oleh lebih dari 200 tulang. Tulang
terdiri dari dua unsur yaitu organik dan
inorganik.

Unsurk organik adalah sel-sel hidup dan


subtansi interstitial atau matrix
memungkinkan tulang untuk dapat bergerak dan
sebagai penyedia makanan bagi sel-sel untuk
tumbuh dan memperbaiki tulang

Unsur inorganik adalah garam kalsium dan


phosphor membuat tulang menjadi kuat
dan keras. Apabila terjadi kekurangan
kalsium seperti pada penyakit riketsia,
tulang sangat mudah bengkok.

Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas


struktur tulang atau tulang rawan bisa komplet atau
inkomplet.
Diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh gaya yang
melebihi elastisitas tulang.
Menurut kondisinya, fraktur dibagi menjadi dua yaitu
fraktur terbuka dan tertutup,
fraktur terbuka yaitu fraktur yang disertai adanya kerusakan
jaringan dan terkontaminasi dengan dunia luar sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi.
fraktur tertutup yaitu fraktur yang tidak mempunyai hubungan
dengan udara terbuka, permukaan kulit tidak terobek atau masih
bagus.

Penanganan fraktur dapat diberikan


dengan metode konservatif dan operatif
tergantung kondisinya fraktur sendiri.
(a)metode konservatif yaitu menggunakan
immobilisasi untuk kondisi fraktur yang stabil,
(b)metode operatif yaitu menggunakan
internal fiksasi dan eksternal fiksasi untuk
kondisi fraktur yang tidak stabil (Apley, 1995).

Jenis-Jenis Fraktur
Ekstremitas Atas

Fraktur clavikula
Lokasi fraktur kalvikula umumnya
pada bagian tengah yaitu 1/3
tengah.
Terapi dapat berupa konservatif yaitu
verband figure of eight sekitar sendi
bahu, sedangkan operatif berupa
pemasangan internal fiksasi

Fraktur scapula
Badan scapula dapat mengalami
fraktur akibat daya penghancur
Leher scapula dapat mengalami
fraktur akibat pukulan atau jatuh
pada bahu
Pasien dapat memakai kain gendong
agar nyaman dan sejak awal
mempraktekkan latihan aktif pada
bahu, siku dan jari

Fraktur pada humerus


proksimal
Biasanya terjadi setelah usia
pertengahan dan banyak ditemukan
pada wanita yang menderita
osteoporosis pada masa pasca
menopause
Fraktur biasanya terjadi setelah jatuh
pada lengan yang terlentang
Kadang-kadang terjadi fraktur dan
dislokasi

Pada fraktur yang hanya sedikit


bergeser cukup diistirahatkan hingga
nyeri mereda setelah itu dilakukan
gerakan pasif baru kemudian
gerakan aktif
Pada fraktur dua bagian terapi
konservatif dapat berupa
pemasangan velpeau verban atau
operatif yaitu internal fiksasi

Fraktur batang humerus


Jatuh pada tangan dapat memeluntir
humerus, menyebabkan fraktur
spiral
Jatuh pada siku saat lengan dengan
posisi abduksi menyebabkan fraktur
obligue dan transversal
Pukulan langsung pada lengan dapat
menyebabkan farktur melintang dan
komunitif

farktur ini tidak membutuhkan


imobilisasi
Fraktur tidak stabil dengan fiksasi
internal dengan plat dan sekrup atau
paku intra medulla panjang

Fraktur supra kondilus


banyak ditemukan pada anak-anak
Fragmen distal dapat bergeser ke
posterior atau ke anterior
Pergeseran posterior akibat jatuh
pada lengan yang terlentang
Pergeseran anterior akibat
benturan langsung

Fraktur yang bergeser ke posterior


direduksi secepat mungkin dengan
anestesi umum sedangkan fraktur
yang bergeser ke anterior direduksi
dengan menarik lenganm bawah
dengan siku pada posis semi fleksi

Fraktur bikondilus (fraktur T


dan Y)
Diakibatkan jatuh pada pusat siku
sehingga dapat menyebabkan
procecus olekranon terdorong ke
atas, membelah kondilus menjadi
dua

Fraktur pemisahan pada epifisis


kondilus lateral
Epifisis kondilus lateral mulai
mengeras selama tahun pertama
kehidupan dan berfusi dengan
batang setelah 12 16 tahun
Antara usia tersebut bagian ini dapat
terlepas atau teravulsi bila traksi
terlalu kuat
Gambaran klinik : siku membengkak
(tetapi tidak mengalami deformitas)
dan terdapat nyeri tekan pada

Terapi konservatif yaitu dibebat


backslap dengan siku fleksi 900 atau
dapat dimanipulasi ke dalam
posisinya dengan mengekstensikan
siku dan menekan kondilus dan
kemudian melakukan fiksasi pada
fragmen dengan pen perkutan

Pemisahan epifisis kondilus


medial
Epifisis kondilus medial mulai mengeras
pada umur sekitar 5 tahun dan berfusi
dengan batang sekitar umur 16 tahun
Antara usia ini dapat terjadi avulse akibat
jatuh pada tangan dengan pergelangan
tangan dalam keadaan ekstensi
Pada jenis ini dilakukan terapi konservatif
dengan manipulasi dengan siku dalam
valgus dan pergelangan tangan
hiperekstensi (untuk menarik otot fleksor

Fraktur pemisahan seluruh


epifisis distal humerus
Pasca cidera yang hebat pada
segmen ini dapat terpisah secara
utuh (cedera waktu melahirkan)
Fraktur yang bergeser ke posterior
direduksi secepat mungkindi bawah
anestesi umum sedangkan fraktur
yang bergeser ke anterior direduksi
dengan menarik lengan bawah
dengan siku pada posisi semi fleksi.

Fraktur kapitulum
hanya terjadi pada orang dewasa
Biasanya jatuh dengan posisi siku
lurus menyebabkan setengah
anterior kapitulum dan troklea patah
dan bergeser ke proksimal
Gambaran klinik : depan siku yang
tmapk penuh merupakan tanda yang
paling menonjol dan fleksi yang
terbatas

Terapi konservatif berupa


pembebatan sederhana selama 2
minggu untuk fraktur yang bergeser
Terapi operati diindikasikan untuk
fraktur uang bergeser

Fraktur kaput radius


sering ditemukan pada orang dewasa
Disebabkan karena jatuh pada
tangan yang terlentang dapat
memaksa siku ke dalam valgus dan
menekan kaput radius pada
kapitalium
Pada retakan yang tidak bergeser,
lengan dipertahankan dalam collar
dan manset selama 3 minggu

Pada fragmen tunggal yang besar


dapat direkatkan kembabali dengan
kirschner danfraktur komunitif
diterapi dengan reduksi kaputr radius

Fraktur leher radius


Jatuh pada tangan yang terlentang
dapat memaksa siku ke dalam valgus
dan menekan kaput radius pada
kapitalium
Pada orang dewasa, kaput radius
dapat retak atau patah
Pergeseran samapi dengan 200
dengan lengan diistirahatkan dalam
collar dan manset dan latihan
dimulai setelah seminggu

Sedangkan pergeseran lebih dari 200


direduksi dengan lengan ditarik ke
dalam ekstensi dan sedikit varus

Fraktur olekranon
disebabkan karena pukulan langsung atau jatuh
pada siku dan akibat dari traksi ketika jatuh pada
otot tangan saat otot trisep berkontraksi
Terapi konservatif dilakukan pada fraktur yang
tidak bergeser imobilisasi dengan gips pada
posisi fleksi 600 selama 2 3 minggu
Terapi operatif pada fraktur yang bergeser yaitu
fraktur direduksi dan ditahan dengan skrup
panjang atau dengan pemasangan kawat
dengan tegangan (tension band wiring)

Fraktur radius dan ulna


Daya pemluntir menimbulkan fraktur
spiral dengan kedua tulang patah
pada tingkat yang berbeda
Pukulan langsung menyebabkan
fraktur melintang kedua tulang pada
tingkat yang sama
Deformitas rotasi tambahan dapat
ditimbulkan oleh tarikan otot-otot
yang melekat pada radius

Terpai konservatif pada anak-anak


berupad reduksi tertutup biasanya
berhasil dan fragmen dapat
dipertahankan dalam gips yang
panjang lengkap dari axial sampai ke
batang metacarpal
Terapi operatif berupa imobilisasi
fragmen dipertahankan dengan plat
dan sekrup atau pen intramedula

Fraktur ekstremitas bawah

Fraktur asetabulum
Fraktur asetabulum bisa stabil atau tidak stabil, tergantung
pada cedera penyerta.
Paling lazim pada pinggir posterior dan diseratai dengan
dislokasi posterior pada koksa. Dapat terjadi nekrosis
avaskuler.
Dislokasi koksa adalah suatu kedaruratan yang memerlukan
reduksi segeradan biasanya memerlukan anestesi spinalis atau
umum. Reduksi terbuka dianjurkan bila:
Koksa tidak stabil setelah reduksi
Ada fragmen pinggir osterior besar yang tergeser
Koksa tidak dapat dimanipulasi dengan manipulasi

fraktur sentral asetabulum yang


mengubah bentuk permukaan sendi,
sering dilakukan reduksi terbuka
dalam usaha meminimalkan
kemungkinan arthritis pasca trauma
nantinya.
Pada pasien tua, terapi nantinya
dengan arthoplasty koksa.

Fraktur femur proksimal


Fraktur femur proksimal dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
A). Fraktur collum femoris
Pada umumnya fraktur ini terjadi pada orang tua. Osteoporosis
dapat menyebabkan fraktur pada collum femoris. Fraktur ini
diklasifikasikan menjadi empat jenis (Garden, 1961) yaitu:
Type1 incomplete impacted frTipe1 fraktur tidak lengkap
tmnv djsfv dflb vhfdv abzTipe 2 fraktur lengkap tetapi tidak bergeser
Type2 complete but undisplaced fractuType3 complete with moderate
displacementTipe 3 fraktur lengkap dengan pergeseran moderat
Type4 severely displaced fractureTipe 4 fraktur lengkap dengan pergeseran
terapi pada Clinical features T

Terapi pada fraktur ini hamper selalu dengan operativ dan


tergantung pada umur dan jenis patahan.
Jika usia di atas 60 perawatannya hemiarthroplasty, apapun
jenis patahan.
Jika usia antara 40 dan 60 tahun dengan fraktur tipe 3 atau 4,
dilakukan hemiathroplasty.
Jika usia antara 40 dan 60 tahun dengan fraktur tipe 1 atau 2,
pengobatan adalah untuk mengurangi fraktur dan memperbaiki
dengan sekrup cannulated, geser sekrup atau pin dan plat
(DHS).
Jika usia di bawah 40 tahun apapun jenis patah mungkin,
mencoba untuk mempertahankan kepala dan setelah
mengurangi fraktur, memperbaikinya dengan implan yang
dijelaskan di atas. Reduksi bisa tertutup atau terbuka di bawah
anestesi

B). Fraktur intertrokanterika


Fraktur ini ditemukan. Nekrosis avaskular tidak
mengancam karena kapsula coxae dan pembuluh
darahnya tetap utuh. Fraktur ini paling baik diterapi
secara bedah dari pada terapi konservatif terkait
dengan diperlukannya imobilisasi selama 12- 14
minggu.
Fraktur ini diklasifikasikan menurut lokasi fraktur
dan derajat komunitif.
Fraktur tipe 1. Fraktur tunggal sepanjang sepanjang linea
intertrokanterika. Farktur ini dapat direduksi dengan traksi
longitudinal dan rotasi interna, serta diimobilisasi dengan
pemasangan plate dan srew samping fraktur.

Fraktur tipe 2. Merupakan fraktur komunitif dan


lebih sulit direduksi. Fiksasi dengan plat dan srew
samping tetapi reduksi fragmen proksimal (kaput
dan kolum) pada valgus bisa diperlukan untuk
mencapai kontak tulang medial dan stabilitas.
Fraktur tipe 3 dan 4 timbul pada regio
subtrokantorika femur dan tidak stabil sifatnya.
Fraktur ini mungkin disokong adekuat dengan plat
dan srew samping konvensional, serta
penggunaan batang intra medulla bersama
dengan batang kolum femoris (zickll),
memberikan stabilitas lebih baik

C). Fraktur shaft femoris


Batang femur dapat mengalami fraktur oleh
trauma langsung, puntiran (twisting), atau
pukulan pada bagian depan lutut yang berada
dalam posisi fleksi pada kecelakaan jalan raya.
Penatalaksanaan dapat berupa pemasangan
hemispica 4 6 minggu pada anak bawah 10
tahun dan traksi 8 12 minggu untuk dewasa.
Tindakan operatif dapat berupa pemasangan
plate dan screw, atau pasang pen (femur
nailing).

D). Fraktur supracondyler femoris


Dapat terjadi pada orang dewasa maupun orang lanjut
usia.
Pada dewasa perlu kekuatan besar untuk dapat
menimbulkan trauma sementara pada lansia dapat
disebabkan karena osteoporosis.
Gejala yang muncul adalah nyeri yang masif dan
pembengkakan pada lutut.
Pada fraktur ini bisa terjadiDanger of neurovascular injury,
so always look for distal pulses and nerves neurovaskular
injury,
Terapi dapat may be conservative atau operative. Operasi
berupa pemasangan fiksasi interna. Yang digunakan bisa
plat Condylar atau Dynamic Condylar Screw (DCS).

Fraktur patella
Patela merupakan tulang sesamoid.
Fraktur pada tulang ini biasanya
melintang, dapat juga bergeser atau
tidak, dan komunikan.
Treatment terapi biasanyais dengan
pemasangan fiksasi interna.IJika
communited, disarankan total
patellectomy.

Fraktur tibia proksimal


Fraktur pada bagian ini juga disebut fraktur
bumper.
Fraktur dapat berupa fraktur sederhana
sampai fraktur jenis komunikan.
Dapat menyebabkan cedera neurovasklar
sehingga selalu dinilai secara menyeluruh
(pulsasi arteri distal harus diraba).
Imobilisasi sangat diperlukan. Umumnya
dilakukan fiksasi interna dengan cara L-plat,
sekrup atau-K wire.

Fraktur tibia dan fibula


medial
pada umumnya terjadi pada usia
dewasa muda.
Pada fraktur ini sering diikuti dengan
sindrom kompartemen. Dalam hal ini
diperlukan fiksasi interna dan jika
fraktur terbuka biasanya dengan
pemasangan fiksasi eksterna.

Fraktur tibia dan fibula distal


Fraktur tibia dan fibula bagian distal
disebut juga fraktur pott. Fraktur ini
meliputi kedua malleolus dan poros
tibia.
Pemasangan fiksasi interna
merupakan pilihan utama pada
fraktur ini

Fraktur pergelangan kaki


Fraktur fibula atau tibia distal biasanya akibat kombinasi stress
abduksi atau adduksi yang digabung dengan sejumlah derajat
rotasi interna atau eksterna.
Stress abduksi dan atau rotasi eksterna bisa merobek ligmentum
deltoideum medial atau menimbulkan fraktura avulsi malleolus
medialis.
Pada lateral fibula bisa mengalami fraktur tranversa dan spiral,
biasanya di atas tingkat sendi pergelangan kaki serta bisa tergeser
ke lateral dengan merobek menbran interrossea.
Pergesaran lebih lanjut dapat menyebabkan fraktura bagian
posterior tibia (malleolus posterior).

Sehingga stress rotasi ekstrena


abduksi bisa menimbulkan
(1) fraktura malleolus medialis
(2) fraktura malleolus medialis dengan
rentang interval tibiofibula,
(3) fraktura bimalleolus,
(4) fraktura bimalleolus dengan rentang
interval tibiofibula atau
(5) fraktura triamalleolus

Trauma adduksi dan atau rotasi interna


pada pergelangan kaki palng sering
menyebabkan sprain ligament lateralis.
hantaman lebih kuat dibawahnya dapat
menyebabkan fraktura avulsi pada
malleolus fibula pada tingkat sendi dan
trauma robekan pada malleolus medialis
yang biasanya meluas di atas garis sendi

Fraktur malleolus medialis dan posterior dapat


difiksasi dengan sekrup berporus
Fraktur fibula paling baik dikendalikan dengan
pemasangan plat semitubular.
Perawatan paska bedah, yakni selama 6 minggu
memakai gips tungkai yang pendek dan
imobilisasi selama 4 minggu boleh mobilisasi
(gips masih terpasang) biasanya sudah terjadi
penyatuan lengkap.

Fraktur kaki
Fraktur kalkaneus cedera lazim yang
biasanya terjadi akibat terjatuh atau
melompat dari tempat tinggi. Fraktur ini
diklasifikasikan sebagai ekstraartikular dan
intraartikular
Fraktur talus jarang terjadi. Apabila
terjadi pergeseran dapat menyebabkan
gangguan suplai darah ke korpus tali
nekrosis avaskular.

Fraktur midtarsalis
jarang terjadi dan
biasanya terjadi akibat remuk langsung atau jatuh dari ketingian.
Penanganan secara konservatif dengan reduksi manual dan
pemasangan gips.

Fraktur metatarsus dan falang


Bisa timbul pada tingkat manapun di dalam tulang
Biasanya akibat pukulan langsung atau terjatuh.
Reposisi manual biasanya dapat dicapai dan reduksi anatomi
tidak diperlukan.
Bila terjadi fraktur majemuk yang melibatkan semua
metatarsus, dilakukan reduksi terbuka dan fiksasi intramedulla
interna dengan kawat Kirschner.
Untuk fraktur falang, hanya diperlukan reduksi manual dan
pemintaan ke jari di dekatnya.

DIAGNOSIS
Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu
trauma , baik yang hebat maupun trauma
ringan dan diikuti dengan
ketidakmampuan untuk menggunakan
anggota gerak.
Anamnesis harus dengan cermat, karena
fraktur tidak selamanya terjadi di daerah
trauma dan mungkin fraktur terjadi di
daerah lain.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita,
perlu diperhatikan adanya:
Syok, anemia atau perdarahan
Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya
otak, sumsum tulang belakang atau organorgan dalam rongga thorak, panggul dan
abdomen
Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur
patologis

Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (look)
Bandingkan dengan bagian yang sehat
Perhatikan posisi anggota gerak
Keadaan umum penderita secara keseluruhan
Ekspresi wajah karena nyeri
Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak
untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka

Perhatikan adanya deformitas berupa


angulasi, rotasi, dan pemendekan
Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah
ada trauma pada organ-organ lain
Perhatikan kondisi mental penderita
Keadaan vaskularisasi

2. Palpasi (feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena
penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. Hal-hal
yang perlu diperhatiakan:
Temperatur setempat yang meningkat atau menurun
Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus
dilakukan secara hati-hati
Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma.
Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada
bagian distal daerah trauma, temperature kulit
Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk
mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai

3. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk
menggerakkan secara aktif dan pasif sendi
proksimal dan distal dari daerah yang mengalami
trauma.
Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan
menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan
tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu
juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan
lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk
menentukan:
keadaan,
lokasi serta
ekstensi fraktur.

Gunakan bidai yg bersifat radiolusen sementara


sebelum pemeriksaan radiologis, untuk:
Imobilisasi
menghindarkan nyeri,
kerusakan jaringan lunak selanjutnya,

Tujuan pemeriksaan radiologis:


mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
konfirmasi adanya fraktur
melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya
menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak

menetukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler


melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
melihat adanya benda asing, misalnya peluru
menentukan teknik pengobatan

Pemeriksaan radiologis
dilakukan dengan beberapa
prinsip:
Dua posisi proyeksi
Dua sendi pada anggota gerak dan
tungkai harus difoto, di atas dan di
bawah sendi yang mengalami fraktur
Dua anggota gerak
Dua kali dilakukan foto

Fraktur vertebra dan pelvis lebih sulit


terlihat dengan pemeriksaan
radiografi konvensional, CT scan dan
MRI lebih memberikan data yang
akurat.

PENATALAKSANAAN
Empat konsep dasar dalam menangani
fraktur
1. Rekognisi dilakukan dalam hal
diagnosis dan penilaian fraktur.
Prinsipnya adalah mengetahui riwayat
kecelakaan, derajat keparahannya,
jenis kekuatan yang berperan dan
deskripsi tentang peristiwa yang
terjadi oleh penderita sendiri.

2. Reduksi usaha / tindakan


manipulasi fragmen-fragmen seperti
letak asalnya. Tindakan ini sedapat
mungkin mengembalikan fungsi
normal dan mencegah komplikasi
serta kekakuan, deformitas serta
perubahan osteoarthritis di kemudian
hari

3. Retensi Setelah fraktur direduksi,


fragmen tulang harus diimobilisasi
atau dipertahankan dalam posisi dan
kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Immobilisasi
dapat dilakukan dengan fiksasi
eksterna atau interna. Metode fiksasi
eksterna dengan gips, bidai, traksi
dan teknik fiksator eksterna.

4. Rehabilitasi
Fraktur biasanya menyertai
trauma.
Untuk itu sangat penting untuk
melakukan pemeriksaan terhadap
jalan napas (airway), proses
pernapasan (breathing), dan
sirkulasi (circulation), apakah
terjadi syok atau tidak.
Bila sudah dinyatakan tidak ada
masalah lagi, baru dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik
secara terperinci.
Waktu terjadinya kecelakaan
penting ditanyakan untuk
mengetahui berapa lama sampai
di RS, mengingat golden period 16 jam.

Bila lebih dari 6 jam,


komplikasi infeksi semakin
besar. Lakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisik secara
cepat, singkat dan lengkap.
Kemudian, lakukan foto
radiologis.
Pemasangan bidai dilakukan
untuk mengurangi rasa sakit
dan mencegah terjadinya
kerusakan yang lebih berat
pada jaringan lunak selain
memudahkan proses
pembuatan foto.

Pengobatan fraktur
Konservatif
Proteksi saja, misalnya mitela
untuk fraktur collum
chirurgicum humeri dengan
kedudukan baik
Imobilisasi saja tanpa
reposisi, misalnya
pemasangan gips pada
fraktur inkomplit dan fraktur
dengan kedudukan baik
Reposisi tertutup dan fiksasi
dengan gips, misalnya pada
fraktur suprakondilus, fraktur
Colles, fraktur Smith. Reposisi
dapat dalam anestesi umum
atau lokal

Traksi, untuk reposisi


secara perlahan. Pada
anak-anak dipakai
traksi kulit (traksi
Hamilton Russel,
traksi Bryant). Traksi
kulit terbatas untuk 4
minggu dan beban <
5 kg. Untuk traksi
dewasa/traksi definitif
harus traksi skeletal
berupa balanced
traction.

Terapi operatif, terdiri dari:


Reposisi terbuka, fiksasi interna.
Reposisi tertutup dengan kontrol
radiologis diikuti fiksasi eksterna
Terapi operatif dengan reposisi
anatomis diikuti dengan fiksasi interna
(open reduction and internal fixation),
artroplasti eksisional, ekssisi fragmen,
dan pemasangan endoprostesis.

Reduksi tertutup diindikasikan untuk


keadaan sebagai berikut:
Fraktur dengan tak ada pergeseran,
Fraktur yang stabil setelah reposisi/
reduksi,
Fraktur pada anak-anak,
Cedera jaringan lunak minimal
Trauma berenergi rendah.

Reduksi terbuka diindikasikan untuk


keadaan sebagai berikut :
kagagalan dalam penanganan secara
reduksi tertutup,
fraktur yang tidak stabil,
fraktur intraartikuler yang
mengalami pergeseran
fraktur yang mengalami
pemendekan.