Anda di halaman 1dari 5

2.

Macam-macam Obat Parkinson


2.1 Dopaminergik
a. Levodopa
Levodopa atau L-dopa merupakan obat paling efektif dan menjadi pilihan
pertama untuk meredakan gejala Parkinson disease. Levodopa ini sebenarnya
merupakan precursor dopamine. Terapi Parkinson disease tidak langsung diberikan
dopamine eksogen sebab dopamine dalam darah tidak dapat menembus blood brain
barier. Lain halnya dengan levodopa yang diserap di usus melalui transport aktif
menuju darah dan mampu menembus blood brain barier untuk masuk ke otak.
Kemudian levodopa dikonversi menjadi dopamine di otak dengan bantuan enzim
dopa dekarboksilase.
Berdasarkan guideline yang ada, levodopa diberikan dari dosis rendah dan
dinaikkan perlahan. Dosis efikasinya adalah 200-600 mg/hari. Levodopa dengan
immediate release memberikan efek cepat dengan durasi yang cepat juga sedangkan
levodopa dengan controlled release memberikan durasi lebih lama. Efek samping
akut pemberian levodopa adalah adanya nausea, dizziness dan somnolen beri tahu
pasien/keluarga pasien.
b. Dopamine agonis
Agen agonis dopamine merupakan agen mirip dopamine yang mampu
berikatan dengan reseptor dopamine dan mengaktifkannya. Agonis dopamine ini
semacam dapat menggantikan fungsi dopamine yang kurang untuk mengaktifkan
reseptor dopamin. Agen agonis dopamine tidak mengalami konversi metabolik
melewati neuron nigrostriatal dan tidak ada penundaan absorbsi akibat kompetisi
dengan asam amino diet. Karena kerjanya yang mengaktivasi reseptor dopamine,
agen agonis dopamain ini dapat bekerja lebih lama dibandingkan levodopa.
Karenanya, agonis dopamine dapat dipakai sebagai monoterapi dan bisa juga sebagai
terapi adjunctif (terapi penyerta disamping terapi utama).
Sebagai terapi adjunctive bersama levodopa, agonis dopamine dapat
mengurangi fluktuasi motoris dan diskinesia akibat levodopa. Perlu diinget bahwa

dengan kombinasi, dosis levodopa harus dikurangi. Pada pasien elderly, bbisa timbul
halusinasi. Karenanya, sangat penting memberikan obat secara gradual.
Contoh : ropinirole, pramipexole, pergolide, bromocriptine
c. Dopa decarboksilase inhibitor
Dopa dekarboksilase adalah enzim yang dapat mengkonversi levodopa
menjadi dopamine, Enzim ini selain ada di dalam otak juga dapat ditemukan di
perifer. Sebagai akibatnya, terapi levodopa menjadi kurang efektif jika enzim dopa
dekarboksilase di perifer terlalu banyak sebab levodopa akan banyak dikonversi
menjadi dopamine di perifer dan seperti penjelasan sebelumnya bahwa dopamine
tidak mampu menembus blood brain barrier. Untuk itu, enzim dopa dekarboksilase
perlu dihambat dengan agen inhibitor dopa dekarboksilase.
Contoh : carbidopa, benserazide
2.2. MAO-B inhibitor
MAOI bekerja dengan cara mengikat enzim ini (MAO) secara efektif
sehingga meningkatkan konsentrasi neurotransmitter yang dapat merombak dopamine
di dalam otak. Jika enzim ini terlalu aktif, dopamine akan semakin sedikit dan
Parkinson disese semakin parah. Maka, diperlukan agen penghambat enzim ini yaitu
inhibitor MAO-B. Agen ini bisa diberikan sebagai monoterapi ataupun adjunctif
bersama levodopa. Sekali lagi, karena dipakai kombinasi, dosis levodopa harus
dikurangi. Inhibitor MAO-B dapat bersifat sebagai agen neuroprotektan juga. Dosis
efektifnya adalah 5 mg dua kali sehari (breakfast & lunch). Efeksampingnya adalah
halusinasi insomnia, nausea.
Contoh : rasagiline, selegiline
2.3 COMT inhibitor
COMT (catechol-O-methyl transferase) adalah enzim yang dapat merusak
dopamine. Untuk itu enzim ini perlu dihambat dengan agen inhibitor COMT. COMT
inhibitor diberikan untuk memperlama durasi kerja levodopa.
Contoh : entacapone, tolcapone

2.4 Antikolinergik
Antikolinergik tidak langsung menghambat pada dopamine tetapi mengeblok
efek

dari

neurotransmitter

asetilkolin.

Pengeblokan

tersebut

menyebabkan

berkurangnya dopaminergik, maka keseimbangan akan menyebabkan overreaktivitas


kolinergik. Hal ini menimbulkan munculnya gejala seperti tremor. Agen
antikolinergik akan menghambat overreaktivitas kolinergik dan sangat efektif
mengurangi tremor. Tapi, obat ini sekarang tidak direkomendasikan karena risiko
tinggi munculnya efek samping berupa masalah kognitif khususnya pada elderly.
Contoh : Trihexylphenydil
2.5 Cholinesterase inhibitors
Cholinesterase inhibitors merupakan suatu kelas obat yang digunakan untuk
mengatasi gejala penurunan kognitif pada pasien dementia tipe Alzheimers ringan
hingga sedang. Selain itu, cholinesterase inhibitors juga bisa mengatasi beberapa
gangguan neuropsikiatri, walaupun efeknya kecil.Cholinesterase inhibitors berfungsi
meingkatkan level dari acetylcholine, dimana fungsi dari acetylcholine adalah sebagai
chemical messenger yang penting dalam kaitannya denganf ungsi kognitif seseorang.
Cholinesterase inhibitors menghambat aktifitas dari acetylcholinesterase yang
berfungsi untuk memecah acetycholine, setelah pesan sampai pada sel yang dituju.10
Dengan penurunan dari acetycholinesterase, diharapkan terjadi peningkatan level dari
achetylcholine.Cholinesterase inhibitors tidak menghentikan proses degenerasi yang
terjadi pada sel saraf, namun hanya mengatasi gejala-gejala yang berhubungan
dengan penurunan fungsi kognitif.
Contoh: Rivastigmine, donepezil, galantamine
2.6 NMDA Inhibitor
NMDA inhibitor bekerja menghambat kanal Ca sehingga menurunkan efek
eksitatori dimana kematian sel saraf akbat kelebihan glutamate dihambat. Diantara
obat obat antagonis glutamatergik yang bermanfaat untuk penyakit parkinson yaitu
amantadine , memantine, remacemide. Antagonis glutamatergik memantine,

remacemide dapat menekan kegiatan berlebihan jalur dari inti subtalamikus sampai
globus palidus internus sehingga jalur indirek seimbang kegiatannya dengan jalur
direk , dengan demikian out put ganglia basalis ke arah talamus dan korteks normal
kembali . Disamping itu, antagonis glutamatergik dapat meningkatkan pelepasan
dopamin, menghambat reuptake dan menstimulasi reseptor dopamin.

DAFTAR PUSTAKA
Healthy Place. Cholinesterase inhibitorss for Treatment of Alzheimers. Diunduh dari:
http://www.healthplace.com/alzheimers/medications/cholinesteraseinhibitor.
Golbe, I.L, Mark, Margery; Sage, Jacob. Parkinson Disease Handbook, The
American Parkinson Disease Asosiation. 2010