Anda di halaman 1dari 5

BAB VIII

XENOPSYLLA CHEOPIS

Genal & pronotal ctenidia absen.


Spiracular fossa
Sensillium
Spermatheca

Xenopsylla cheopis (betina)

ocular
ocular bristle

antenna
maxillary palps

genitalia

Xenopsylla cheopis (betina)


(sumber gambar: http://science.marshall.edu/joy/PDF/Med%20Ent/Xenopsylla.pdf)

8.1. DEFINISI DAN MORFOLOGI


Xenopsylla cheopis merupakan pinjal yang secara taksonomi termasuk dalam
Filum Arthropoda, Kelas Insekta, Ordo Siphonaptera, Family: Pulicidae (Ustiawan,
2008).
Secara umum, ciri-ciri pinjal yang termasuk Xenopsylla cheopis adalah
(Ustiawan, 2008):
Tidak bersayap
Kaki sangat kuat dan panjang, berguna untuk meloncat.
Mempunyai mata tunggal.
Tipe menusuk dan mengisap.
Segmentasi tubuh tidak jelas (batas antara kepala - dada tidak jelas)
Ektoparasit pada hewan berdarah panas (mamalia, burung,dll)
Ukuran 1,5-3,3mm
Metamorfosis sempurna, yaitu telur - larva - pupa dewasa
Identifikasi: Xenopsylla dapat di lihat dengan ciri-ciri sebagai berikut (Ustiawan,
2008):
Kepala membulat dan tidak ada comb pada bagian genal, pronatal maupun abdominal.
Terdapat Mesopleural rod.
Ocular bristle di depan oculi.
8.2. EPIDEMIOLOGI
Xenopsylla cheopis sering dijumpai pada tikus hidup di daerah tropis dan dalam
lingkungan yang hangat di seluruh dunia (Ustiawan, 2008):
8.3. SIKLUS HIDUP

(sumber gambar: http://www.cdc.gov/dpdx/fleas/)

Pinjal bertelur 300-400 butir selama hidupnya. Pinjal betina meletakkan telur
diantara rambut maupun di sarang tikus. Telur menetas dalam waktu 2 hari sampai
beberapa minggu, tergantung suhu dan kelembaban. Telur menetas menjadi larva,
kadang-kadang larva terdapat dilantai, retak-retak pada dinding, permadani, sarang
tikus, dll. Larva-larva hidup dari segala macam sisa-sisa organik dan mengalami 3 kali
pergantian kulit, berubah menjadi pupa (dibungkus dengan kokon pasir dan sisa-sisa
kotoran lain), lalu menjadi pinjal. Dalam waktu 24 jam pinjal sudah mulai menggigit
dan mengisap darah (Ustiawan, 2008).
8.4. PATOFISIOLOGI
Penyakit sampar (PES) disebabkan oleh bakteri yang disebut Yersinia petis.
Vektor penyakit pes adalah Xenopsylla cheopis, Stivalius cognatus dan Nospsyllus
sondaica (Natadisastra & Agoes, 2009).
Gejala klinik. Pinjal menginfeksi manusia melalui gigitannya dan juga melalui
tinja yang mengandung Yersinia pestis yang masuk melalui luka gigitannya (anterior
inokulatif dan posterior kontaminatif). Bakteri yang masuk mula-mula menyebabkan
terjadinya peradangan dan pembesaran kelenjar limfe dan menimbulkan terbentuknya
benjolan atau bubo. Bubo ini dapat mencapai diameter 2-10 cm yang biasanya terdapat
dekat glandula femoralis dan glandula aksilaris. Kelainan ini disebut pes bubo (bubonic
plague) (Natadisastra & Agoes, 2009).
Jika Yersinia pestis yang telah berkembang biak menjadi banyak masuk ke dalam
peredaran darah, baik berasal dari bubo atau gigitan pinjal, kelainan ini disebut
septikemia (Septichemi plague) (Natadisastra & Agoes, 2009).
Jika Yersinia pestis kemudian masuk ke dalam paru, baik berasal dari bubo
maupun dari peredaran darah atau karena gigitan pinjal, kelainan pada paru-paru ini

disebut pes paru (pulmonic plaque). Penderita pes dapat meninggal dalam waktu 2-3
hari setelah mendapat infreksi jika tidak dapat diobati (Natadisastra & Agoes, 2009).
8.5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ada dua pemeriksaan laboratorium untuk surveilans penyakit pes.Pemeriksaan
yang pertama yaitu pemeriksaan serologi pada manusia, tikus, dan spesies pengerat
lain. Pemeriksaan yang kedua yaitu pemeriksaan bakteriologi yang dilakukan pada
manusia, tikus, dan pinjal. Pada manusia bagian yang diperiksa yaitu darah, bubo, dan
sputum. Sedangkan pada organ tikus yang diperiksa yaitu limpa, paru, dan hati. Pada
pinjal, dilakukan kultur ke mencit untuk mengetahui apa benar pinjal infektif pes
(Rahmawati, 2013).
8.6. PENATALAKSANAAN
PES bubo dapat dibati dengan streptomycin. Obat lain yang dapat digunakan
adalah gentamycin. Tetracyclin dan doxycyclin dapat digunakan sebagai profilaksis
(Krug dan Elston, 2010).
8.7. PENCEGAHAN
Upaya pemberantasan pinjal yang merupakan parasit tikus, dapat dilakukan
pemberantasan dengan cara menangkap tikus dengan perangkap dan membunuhnya
atau memberantas pinjal tikus dengan insektisida DDT dan BHC (benzena heksaklrida)
(Natadisastra & Agoes, 2009).
Usaha pemberantasan tikus ini ada bahayanya, yaitu pinjal kehilangan hspesnya
(tikus) dia akan berusaha mencari hospes baru, termasuk manusia sehingga pes akan
menyebar di antara manusia atau binatang lain, tikus yang terperangkap setelah
dibersihkan pinjal, dilepaskan kembali ke alam bebas dan ditangkap kembali pada
penangkapan berikutnya (Natadisastra & Agoes, 2009).
Untuk menjaga agar populasi tikus tidak menjadi banyak dan dapat menyebarkan
penyakit melalui pinjal yang terinfeksi, populasi tikus didaerah endemi dipertahankan
pada jumlah minimal tertentu dan dipantau dengan indeks pinjal (Natadisastra &
Agoes, 2009).

REFERENSI:
Krug dan Elston, 2010, Whats Eating You? Oriental Rat Flea (Xenopsylla cheopis), Close
Encounters With the Environment, vol.86, hal.282-284, diakses pada 20 Des. 14, dari:<
http://www.cutis.com/fileadmin/qhi_archive/ArticlePDF/CT/086060282.pdf>.
Natadisastra, D & Agoes, R, 2009, Parasitologi Kedokteran: ditinjau dari organ tubuh yang
diserang, EGC, Jakarta.
Rahmawati, 2013, partisipasi ibu dalam pemasangan live trapp terhadap jumlah tangkapan
tikus dan pinjal di desa sukabumi kecamatan cepogo kabupaten boyolali, skripsi,
diakses pada 20 Des. 14, dari:< http://lib.unnes.ac.id/18486/1/6450408037.pdf>.
Ustiawan, A, 2008, Xenopsylla cheopis, BALABA, ed.007, no.02, hal.20, diakses pada 20
Desember
14,
dari:
<http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/blb/article/view/2615/2567>.
Gambar:
http://science.marshall.edu/joy/PDF/Med%20Ent/Xenopsylla.pdf)
http://www.cdc.gov/dpdx/fleas/)