Anda di halaman 1dari 27

Tugas Metode Penelitian

Jurnal Asing dan Jurnal Indonesia

Oleh :

Lalu Ramadhan

(A1C 009 068)

Wahyuda Putra

(A1C 010 028)

Muhammad Husein

(A1C 010 106)

Atanasius Rony F

(A1C 010 112)

Beni Satria

(A1C 010 126)

Ardian Putra S

(A1C 010 138)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MATARAM

2013
JURNAL INDONESIA
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS LABA DAN
NILAI PERUSAHAAN
ANDRI RACHMAWATI
DRS. HANUNG TRIATMOKO M.SI., AK
Universitas Sebelas Maret (UNS)
Abstract
The objective of this study is to examine the influence of Investment Opportunity Set
(IOS) and corporate governance mechanism (audit committee, board of commissioner,
managerial ownership, institutional ownership) toward earnings quality and firm value
among listed manufacturing companies at Jakarta Stock Exchange.
The result of this study showed that IOS have significant influence to earnings quality
and firm value; managerial ownership and institutional ownership have significant influence
to firm value but didnt have significant influence to earnings quality; audit committee and
board of commissioner didnt have significant influence to earnings quality and firm value.
Keywords: Investment Opportunity Set, corporate governance mechanism earnings quality,
firm value.
1. Latar Belakang Masalah
Menurut agency theory, adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan dapat menimbulkan konflik. Terjadinya konflik yang disebut agency conflict
disebabkan pihak-pihak yang terkait yaitu prinsipal (yang memberi kontrak atau pemegang
saham) dan agen (yang menerima kontrak dan mengelola dana prinsipal) mempunyai
kepentingan yang saling bertentangan. Jika agen dan prinsipal berupaya memaksimalkan
utilitasnya masing-masing, serta memiliki keinginan dan motivasi yang berbeda, maka ada
alasan untuk percaya bahwa agen (manajemen) tidak selalu bertindak sesuai keinginan
prinsipal (Jensen dan Meckling, 1976). Pemikiran bahwa pihak manajemen dapat melakukan
tindakan yang hanya memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri didasarkan pada suatu
asumsi yang menyatakan setiap orang mempunyai perilaku yang mementingkan diri sendiri
atau self- interested behaviour. Keinginan, motivasi dan utilitas yang tidak sama antara
manajemen dan pemegang saham menimbulkan kemungkinan manajemen bertindak
merugikan pemegang saham, antara lain berperilaku tidak etis dan cenderung melakukan
kecurangan akuntansi.
Konflik keagenan dapat mengakibatkan adanya sifat manajemen melaporkan laba
secara oportunis untuk memaksimumkan kepentingan pribadinya. Jika hal ini terjadi akan
mengakibatkan rendahnya kualitas laba. Subramanyam (1996) dalam Siregar dan Utama
(2005) menyatakan bahwa salah satu ukuran kinerja perusahaan yang sering digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan adalah laba yang dihasilkan perusahaan. Laba yang
diukur atas dasar akrual dianggap sebagai ukuran yang lebih baik atas kinerja perusahan
dibandingkan arus kas operasi karena akrual mengurangi masalah waktu dan mismatching
yang terdapat dalam penggunaan arus kas dalam jangka pendek (Dechow, 1994).

Dalam prosesnya dasar akrual memungkinkan adanya perilaku manajer dalam


melakukan rekayasa laba atau earnings management guna menaikkan atau menurunkan
angka akrual dalam laporan laba rugi. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) memberikan
kelonggaran (fleksibility principles) dalam memilih metode akuntansi yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan. Kelonggaran dalam metode ini dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan nilai laba yang berbeda-beda di setiap perusahaan. Perusahaan yang memilih
metode penyusutan garis lurus akan berbeda hasil laba yang dilaporkan dengan perusahaan
yang menggunakan metode angka tahun atau saldo menurun. Praktik seperti ini dapat
memberikan dampak terhadap kualitas laba yang dilaporkan (Boediono, 2005).
Tujuan utama perusahaan, adalah meningkatkan nilai perusahaan. Rendahnya kualitas
laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan para pemakainya seperti investor
dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang (Siallagan dan Machfoedz, 2006).
Fama (1978) dalam Wahyudi dan Pawestri (2006) menyatakan nilai perusahaan akan
tercermin dari harga pasar sahamnya. Laba sebagai bagian dari laporan keuangan yang tidak
menyajikan fakta yang sebenarnya tentang kondisi ekonomis perusahaan dapat diragukan
kualitasnya. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja
manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Jika laba seperti ini digunakan oleh
investor untuk membentuk nilai pasar perusahaan, maka laba tidak dapat menjelaskan nilai
pasar perusahaan yang sebenarnya (Boediono, 2005)
Investment Opportunity Set menunjukkan investasi perusahaan atau opsi
pertumbuhan. Nilai opsi pertumbuhan tersebut tergantung pada discretionary expenditure
manajer. Manajemen investment opportunities membutuhkan pembuatan keputusan dalam
lingkungan yang tidak pasti dan konsekuensinya tindakan manajerial menjadi lebih
unobservable (Smith dan Watts, 1992 dalam Wah, 2002). Tindakan manajer yang
unobservable dapat menyebabkan prinsipal tidak dapat mengetahui apakah manajer telah
melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginan prinsipal atau tidak.
Pandangan teori keagenan dimana terdapat pemisahan antara pihak agen dan prinsipal
yang mengakibatkan munculnya potensi konflik dapat mempengaruhi kualitas laba yang
dilaporkan. Pihak manajemen yang mempunyai kepentingan tertentu akan cenderung
menyusun laporan laba yang sesuai dengan tujuannya dan bukan demi untuk kepentingan
prinsipal. Dalam kondisi seperti ini diperlukan suatu mekanisme pengendalian yang dapat
mensejajarkan perbedaan kepentingan antara kedua belah pihak. Mekanisme corporate
governance memiliki kemampuan dalam kaitannya menghasilkan suatu laporan keuangan
yang memiliki kandungan informasi laba (Boediono, 2005).
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2001) merumuskan tujuan dari
corporate governance adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang
berkepentingan (stakeholders). Corporate governance yang mengandung empat unsur
penting yaitu keadilan, transparansi, pertanggungjawaban dan akuntabilitas, diharapkan dapat
menjadi suatu jalan dalam mengurangi konflik keagenan Dengan adanya tata kelola
perusahaan yang baik, diharapkan nilai perusahaan akan dinilai dengan baik oleh investor.
Ada empat mekanisme corporate governance yang sering dipakai dalam berbagai
penelitian mengenai corporate governance yang bertujuan untuk mengurangi konflik
keagenan, yaitu komite audit, komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan
manajerial.

Komite audit mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam hal memelihara
kredibilitas proses penyusunan laporan keuangan seperti halnya menjaga terciptanya sistem
pengawasan perusahaan yang memadai serta dilaksanakannya good corporate governance.
Dengan berjalannya fungsi komite audit secara efektif, maka control terhadap perusahaan
akan lebih baik sehingga, konflik keagenan yang terjadi akibat keinginan manajemen untuk
meningkatkan kesejahteraannya sendiri dapat diminimalisasi.
Komposisi dewan komisaris merupakan salah satu karakteristik dewan yang
berhubungan dengan kandungan informasi laba. Melalui perannya dalam menjalankan fungsi
pengawasan, komposisi dewan dapat mempengaruhi pihak manajemen dalam menyusun
laporan keuangan sehingga dapat diperoleh suatu laporan laba yang berkualitas (Boediono,
2005).
Adanya komisaris independen diharapkan mampu meningkatkan peran dewan
komisaris sehingga tercipta good corporate governance di dalam perusahaan. Manfaat
corporate governance akan dilihat dari premium yang bersedia dibayar oleh investor atas
ekuitas perusahaan (harga pasar). Jika ternyata investor bersedia membayar lebih mahal,
maka nilai pasar perusahaan yang menerapkan good corporate governance juga akan lebih
tinggi dibanding perusahaan yang tidak menerapkan atau mengungkapkan praktek good
corporate governance mereka (Kusumawati dan Riyanto, 2005).
Struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional) oleh
beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya
berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi
nilai perusahaan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya kontrol yang mereka miliki
(Wahyudi dan Pawestri, 2006)
Penelitian ini menguji pengaruh investment opportunity set dan mekanisme corporate
governance terhadap kualitas laba dan nilai perusahaan. Kualitas laba diukur dengan
discretionary accrual dengan menggunakan Modified Jones Model karena model ini
dianggap lebih baik diantara model lain untuk mengukur manajemen laba (Dechow et al,
1995), sedangkan nilai perusahaan diukur dengan Price Book Value (PBV) yang merupakan
nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai
sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999 dalam Wahyudi dan Pawestri, 2006).
2. TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1. Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan
Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal harga saham yang
ditransaksikan di bursa merupakan indikator nilai perusahaan. Laba yang tidak menunjukkan
informasi yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna
laporan. Jika laba seperti ini digunakan oleh investor untuk membentuk nilai pasar
perusahaan, maka laba tidak dapat menjelaskan nilai pasar perusahaan yang sebenarnya. Bagi
investor, laporan laba dianggap mempunyai informasi untuk menganalisis saham yang
diterbitkan oleh emiten (Boediono, 2005).
Siallagan dan Machfoed (2006) yang menguji pengaruh kualitas laba terhadap nilai
perusahaan pada perusahaan manufaktur yang listing di BEJ pada periode 2000-2004
menyimpulkan bahwa kualitas laba secara positif berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Dari penjelasan diatas, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah:

H : Kualitas laba berpengaruh terhadap nilai perusahaan


1
B. Investment Opportunity Set (IOS), Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan.
Kallapur dan Trombley (2001) menyatakan bahwa kesempatan investasi perusahaan
merupakan komponen penting dari nilai pasar. Hal ini disebabkan Investment Opportunity Set
(IOS) atau set kesempatan investasi dari suatu perusahaan mempengaruhi cara pandang
manajer, pemilik, investor dan kreditor terhadap perusahaan.
Menurut hasil penelitian Wah (2002), perusahaan dengan investment opportunity yang
tinggi lebih mungkin untuk mempunyai discretionary accrual (akrual kelolaan) yang tinggi,
tetapi jika mereka mempunyai auditor dari Big 5 discretionary accrual akan menurun. Hasil
ini mengindikasikan bahwa meskipun manajer dari perusahaan yang mempunyai investment
opportunity yang tinggi cenderung untuk memanipulasi discretionary accrual,
kecenderungan ini akan menurun jika perusahaan mereka mempunyai pengawasan audit yang
lebih baik.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah:
H : IOS berpengaruh terhadap kualitas laba.
2
H : IOS berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
3
2.2. Mekanisme Corporate Governance
2.2.1. Komite Audit, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan
Penelitian Xie, Davidson dan Dadalt (2003) menguji efektifitas komite audit dalam
mengurangi manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Hasil penelitiannya
menyebutkan bahwa komite audit yang berasal dari luar mampu melindungi kepentingan
pemegang saham dari tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen.
Penelitian Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa keberadaan komite
audit mempunyai pengaruh positif terhadap kualitas laba dan juga nilai perusahaan yang
dihitung dengan Tobins Q. Hal ini memberi bukti bahwa keberadaan komite audit dapat
meningkatkan efektifitas kinerja perusahaan.
Dari uraian diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H : Keberadaan komite audit mempunyai pengaruh terhadap kualitas laba.
4
H : Keberadaan komite audit mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan.
5
2.2.2. Komisaris Independen, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan
Hasil penelitian Xie dkk (2003) menyatakan bahwa persentase dewan komisaris dari
luar perusahaan yang independen berpengaruh negatif secara signifikan terhadap
discretionary accrual. Penelitian Besley (1996) menyimpulkan bahwa komposisi dewan
komisaris dari luar lebih dapat untuk mengurangi kecurangan pelaporan keuangan daripada
kehadiran komite audit. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ukuran dewan dan
karakteristik komisaris yang berasal dari luar perusahaan berpengaruh terhadap
kecenderungan terjadinya kecurangan pelaporan keuangan.
Brown dan Caylor (2004) meneliti mengenai pengaruh corporate governance
terhadap kinerja operasional (return on equity, profit margin, and sales growth), penilaian
(Tobins Q) dan shareholder payout (dividend yield dan share repurchases). Corporate
governance diukur dengan menggunakan Gov-Score, yang berdasar pada data yang

disediakan Institutional Shareholder Services. Gov-Score merupakan campuran dari 51 faktor


yang mencakup 8 kategori corporate governance antara lain audit dan board of directors.
Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa perusahaan dengan tata kelola yang lebih baik relatif
lebih profitable, memiliki Tobins Q yang lebih dan pembayaran kepada pemegang saham
yang lebih baik. Brown dan Caylor (2004) juga menemukan bahwa perusahaan dengan
independent boards mempunyai return on equity, profit margin dan dividend yield yang lebih
tinggi.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang diajukan adalah :
H : Komposisi komisaris independen berpengaruh terhadap kualitas laba.
6
H : Komposisi komisaris independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
7
2.2.3. Kepemilikan Institusional, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan
Dalam hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional diyakini memiliki
kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan investor
individual. Menurut Lee et al., (1992) dalam Fidyati (2004) menyebutkan dua perbedaan
pendapat mengenai investor institusional. Pendapat pertama didasarkan pada pandangan
bahwa investor institusional adalah pemilik sementara (transfer owner) sehingga hanya
terfokus pada laba sekarang (current earnings). Perubahan pada laba sekarang dapat
mempengaruhi keputusan investor institusional. Jika perubahan ini tidak dirasakan
menguntungkan oleh investor, maka investor dapat melikuidasi sahamnya. Hasil
penelitiannya menyatakan bahwa investor institusional biasanya memiliki saham dengan
jumlah besar, sehingga jika mereka melikuidasi sahamnya akan mempengaruhi nilai saham
secara keseluruhan. Untuk menghindari tindakan likuidasi dari investor, manajer akan
melakukan earnings management.
Pendapat kedua memandang investor institusional sebagai investor yang
berpengalaman (sophisticated). Menurut pendapat ini, investor lebih terfokus pada laba masa
datang (future earnings) yang lebih besar relatif dari laba sekarang. Dalam Fidyati (2004),
Shiller dan Pound (1989) menjelaskan bahwa investor institusional menghabiskan lebih
banyak waktu untuk melakukan analisis investasi dan mereka memiliki akses atas informasi
yang terlalu mahal perolehannya bagi investor lain. Investor institusional akan melakukan
monitoring secara efektif dan tidak akan mudah diperdaya dengan tindakan manipulasi yang
dilakukan manajer.
Suranta dan Machfoedz (2003) dalam penelitiannya menyatakan bahwa nilai
perusahaan (Tobins Q) dipengaruhi oleh kepemilikan manajerial, institusional dan ukuran
dewan direksi.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik hipotesis sebagai berikut :
H : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kualitas laba.
8
H : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
9
2.2.4. Kepemilikan Manajerial, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan
Kualitas laba yang dilaporkan dapat dipengaruhi oleh kepemilikan saham manajerial.
Tekanan dari pasar modal menyebabkan perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang
rendah akan memilih metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan, yang
sebenarnya tidak mencerminkan keadaan ekonomi dari perusahaan yang bersangkutan
(Boediono, 2005).

Siallagan dan Machfoedz (2006) yang juga meneliti pengaruh kepemilikan manajerial
terhadap kualitas laba yang diukur dengan discretionary accrual dan nilai perusahaan yang
diukur dengan Tobins Q, menyimpulkan dari hasil pengujiannya bahwa kepemilikan
manajerial berpengaruh secara positif terhadap kualitas laba, sedangkan pengaruh
kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan adalah negatif.
Berdasarkan uraian diatas, maka bisa ditarik hipotesis:
H

10

: Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kualitas laba.

H11 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan.


3. METODOLOGI PENELITIAN
B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengumpulan Data
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta selama periode 2001-2005. Pemilihan sampel berdasarkan metode purposive
sampling dengan tujuan mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang
ditentukan. Kriteria perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah :termasuk
dalam jenis perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama periode
2001-2005, menerbitkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember selama
periode pengamatan 2001-2005, laporan keuangan disajikan dalam rupiah dan semua data
yang dibutuhkan untuk penelitian ini tersedia dengan lengkap.
3.2. Variabel dan Pengukurannya
3.2.1 Variabel Dependen
i. Kualitas Laba
Kualitas laba dapat diukur melalui discretionary accruals yang dihitung dengan cara
menselisihkan total accruals (TACC) dan nondiscretionary accruals (NDACC). Dalam
menghitung DACC, digunakan Modified Jones Model karena model ini dianggap lebih baik
diantara model lain untuk mengukur manajemen laba (Dechow et al, 1995). Model
perhitungannya sebagai berikut :
TACC = EBXT OCF
it
it
it
TACC /TA
= (1/TA
) + ((REV - REC )/TA
)+
it
i,t-1
1
i,t-1
2
it
it
i,t-1
(PPE /TA
)+
3
it
i,t-1
it
NDACC = (1/TA
) + ((REV - REC )/TA
) + (PPE /TA ).
it
1
i,t-1
2
it
it
i,t-1
3
it
i,t1
DACC = (TACC /TA
) NDACC
(Rumus 1)
it
it
i,t-1
it
ii. Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan diukur dengan Price Book Value (PBV).
b. Variabel Independen
i. Investment Opportunity Set (IOS)
Diukur dengan menggunakan Book Value to Market Value of Assets Ratio
ii. Mekanisme Corporate Governance

Keberadaan Komite Audit = merupakan variabel dummy, bagi perusahaan yang


memiliki komite audit maka akan mendapat nilai 1, sedangkan perusahaan yang tidak
memiliki komite audit mendapat nilai 0.
Komposisi Komisaris Independen = dihitung dengan persentase jumlah komisaris
independen terhadap jumlah total komisaris yang ada dalam susunan dewan
komisaris.
Kepemilikan Institusional = dihitung dengan besarnya persentanse saham yang dimiliki
oleh investor institusional.
Kepemilikan Manajerial = dihitung dengan besarnya persentase saham yang dimiliki
oleh pihak manajemen perusahaan.
c. Variabel Kontrol
i. Ukuran KAP
Dalam penelitian ini, ukuran KAP merupakan variabel dummy. Jika perusahaan
menggunakan KAP Prasetio, Sarwoko dan Sandjaya (KAP PSS) yang berafiliasi Ernst &
Young maka akan diberi nilai 1, tetapi jika auditor perusahaan bukan berasal dari KAP
Prasetio, Sarwoko dan Sandjaya maka akan diberi nilai 0.
ii. Ukuran Perusahaan (Size)
Perusahaan yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut
telah mencapai tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif
dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama, selain itu
juga mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan
laba dibanding perusahaan dengan total asset yang kecil (Indriani, 2005 dalam Naimah dan
Utama, 2006). Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur melalui log total aktiva.
iii. Leverage
Leverage merupakan total utang dibagi dengan total aset. Penelitian Siallagan dan
Machfoedz (2006) menyatakan bahwa leverage dapat mengurangi konflik kepentingan antara
manajer dan dengan pemberi manajemen (bondholders)
3.3 Metode Analisis Data
Untuk menguji hipotesis-hipotesis di atas akan digunakan dua persamaan regresi yang
berbeda yaitu:
DA = + IOS + KAU + KI + INST + MANJ + KAP + SIZE +
o
1
2
3
4
5
6
7
LEV + .. Persamaan Regresi 1
8
1
NP = + IOS + KAU + KI + INST + MANJ + KAP + SIZE +
o
1
2
3
4
5
6
7
LEV + DA + Persamaan Regresi 2
8
9
2
Keterangan :
DA = Discretionary accruals, lihat rumus 1
NP = Nilai perusahaan
IOS = Investment Opportunity Set

KAU = Keberadaan komite audit


KI = Komposisi komisaris independen
INST = Kepemilikan institusional
MANJ = Kepemilikan manajerial
KAP = Ukuran KAP
SIZE = Ukuran perusahaan
LEV = Leverage
= error term
4. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengumpulan Data
Dari proses pengumpulan data dari 38 sampel, sehingga observasi yang diperoleh
sebesar 190 observasi yang terdiri dari data tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Namun
karena ada data yang ouliers, maka data yang digunakan hanya 181 observasi Data
perusahaan yang menjadi sampel dapat dilihat di dalam lampiran.
4.2. Pengujian Asumsi Klasik
4.2.1. Uji Multikolinieritas
Dengan melihat VIF dan nilai tolerance, bisa ditarik kesimpulan bahwa kedua
persamaan regresi bebas dari masalah multikolinieritas (lihat lampiran).
4.2.2. Pengujian Autokorelasi
Dilihat dari nilai Durbin-Watson, dapat diketahui bahwa kedua persamaan tidak
mengalami autokorelasi (lihat lampiran).
4.2.3. Uji Heteroskedastisitas
Untuk menguji heteroskedastisitas digunakan uji Glejser. Persamaan 1 terbebas dari
masalah heteroskedastisitas, sedangkan regresi terdapat masalah heteroskedastisitas. Oleh
karena itu untuk mengobatinya persamaan 2 akan di ubah kedalam logaritma natural.
Sehingga persamaan regresi 2 akan menjadi seperti berikut ini:
NP = + LNIOS + KAU + LNKI + LNINST + LNMANJ + KAP +
o
1
2
3
4
5
6
LNSIZE + LNLEV + LNDA +
7
8
9
2
Setelah persamaan regresi diubah, persamaan regresi 2 tidak mengalami
heteroskedastisitas.
4.2.4. Pengujian Normalitas
Berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov yang digunakan untuk menguji normalitas nilai
residual, maka variabel residual kedua persamaan berdistribusi normal (nilai signifikansi >
0.05).
4.3. Pengujian Hipotesis
4.3.1. Analisis Regresi Persamaan Pertama
Dari hasil regresi persamaan 1 didapat nilai adjusted R square sebesar 0.177 dan nilai F
sebesar 5.849 dengan nilai signifikansi 0.000 (lihat lampiran).

hitung

Berdasarkan hasil regresi 1 dapat disimpulkan bahwa variabel yang berpengaruh


terhadap DA hanya IOS dan KAP saja, sedangkan variabel yang lain tidak berpengaruh
karena t
<t
dan signifikansi yang jauh lebih besar dari 0.05. Berdasarkan hal ini
hitung
tabel
maka hipotesis 4, 6, 8 dan 10 ditolak.
Hipotesis 4 yang menyatakan keberadaan komite audit (KAU) mempunyai pengaruh
terhadap kualitas laba ditolak karena tidak didukung secara empiris. KAU tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap discretionary accruals (DA) Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian Siregar dan Utama (2005) yang menggunakan discretionary accruals sebagai
proksi untuk earnings management. Hipotesis 6 ditolak karena signifikansi yang jauh lebih
besar dari 0.05, berarti tidak ada pengaruh komposisi komisaris independen terhadap kualitas
laba yang diukur dengan discretionary accrual. Penolakan hipotesis ini didukung oleh hasil
penelitian Siregar dan Utama (2005). Hipotesis 8 yaitu kepemilikan institusional berpengaruh
terhadap kualitas laba ditolak karena tidak signifikan dan hasil ini sesuai dengan hasil
penelitian Siregar dan Utama (2005). Hipotesis 10 juga ditolak, yang berarti kepemilikan
manajerial tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. LEV dan SIZE yang merupakan variabel
kontrol juga tidak mempunyai pengaruh terhadap kualitas laba (discretionary accruals). Hasil
penelitian dari Fidyati (2004) juga menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh
signifikan terhadap discretionary accruals.
Dalam regresi ini hipotesis 2 diterima yang berarti bahwa Investment Opportunity Set
(IOS) berpengaruh terhadap kualitas laba. Dilihat dari koefisiennya yang positif, ini
menandakan bahwa semakin IOS meningkat maka semakin meningkat pula discretionary
accrual, sehingga kenaikan IOS membuat kualitas laba menurun. Hasil penelitian ini sesuai
dengan hasil penelitian Wah (2002) yang menyatakan perusahaan dengan investment
opportunity yang tinggi lebih mungkin untuk mempunyai discretionary accrual (akrual
kelolaan) yang tinggi.
Ukuran KAP (KAP) yang dijadikan variabel kontrol ternyata mempunyai pengaruh
negatif yang signifikan terhadap discretionary accruals, yang berarti ukuran KAP
berpengaruh positif terhadap kualitas laba yang dilaporkan. Hal ini mendukung pernyataan
John (1991) dalam Mayangsari (2004) bahwa kualitas audit meningkat sejalan dengan
besarnya kantor akuntan tersebut. Dengan meningkatnya kualitas audit maka perilaku
oportunis manajer dapat dibatasi.
4.3.2. Analisis Regresi Persamaan Kedua
Dari hasil pengujian persamaan 2 (setelah ditransformasi) dapat diketahui bahwa
adjusted R square regresi 2 sebesar 0.732 dan nilai F
sebesar 26.200 dengan nilai
hitung
signifikansi 0.000 (lihat lampiran).
Untuk hasil pengujian hipotesis (lihat lampiran) dapat diketahui bahwa kualitas laba
(discretionary accrual) tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan sehingga
hipotesisi 1 tidak diterima.
IOS mempunyai nilai signifikansi kurang dari 0.05, sehingga hipotesis 3 yaitu IOS
berpengaruh terhadap nilai perusahaan diterima, dengan koefisien yang positif maka
pengaruh IOS ke nilai perusahaan adalah positif. Hal ini mendukung pernyataan bahwa
pengeluaran investasi memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa
yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan
(signaling theory) (Wahyudi dan Pawestri, 2006).
Keberadaan komite audit mempunyai nilai signifikansi yang sangat besar bila
dibandingkan dengan 0.05 sehingga hipotesis 5 ditolak. Komposisi komisaris independen

(KI) ternyata tidak signifikan (0.839 > 0.05) sehingga hipotesis 7 ditolak. Ada kemungkinan
bahwa keberadaan komite audit dan komposisi komisaris independen yang tinggi bukan
merupakan jaminan bahwa kinerja perusahaan akan semakin baik, sehingga pasar
menganggap keberadaan komite audit dan komposisi komisaris independen bukanlah faktor
yang mereka pertimbangkan dalam mengapresiasi nilai perusahaan.
Dua variabel independen yang lain yaitu INST dan MANJ ternyata signifikan (t
>t

hitung
), sehingga hipotesis 9 dan 11 diterima. Kedua-duanya mempunyai pengaruh positif

tabel
terhadap nilai perusahaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Suranta dan Machfoedz (2003),
Wahyudi dan Pawestri (2005), Siallagan dan Machfoedz (2006).

Untuk variabel kontrol, ukuran KAP saja yang tidak berpengaruh signifikan terhadap
nilai perusahaan. Hal ini diduga karena meskipun tidak menggunakan KAP PSS yang
berafiliasi dengan Ernst & Young, hampir seluruh sampel menggunakan auditor yang berasal
dari KAP yang berafiliasi dengan KAP internasional lainnya yang juga dianggap memiliki
kualitas audit yang tinggi, sehingga pasar tidak terpengaruh dengan penggunaan KAP PSS
sebagai auditor atau tidak.
LEV dan SIZE berpengaruh secara signifikan (thitung > ttabel). Leverage berpengaruh
negatif, maka semakin besar leverage perusahaan maka semakin rendah nilai perusahaan. Hal
ini mungkin disebabkan ketakutan pasar terhadap adanya kemungkinan kesulitan keuangan
yang akan dialami perusahaan. SIZE berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, hal ini
menandakan bahwa pasar lebih mengapresiasi perusahaan besar. Ukuran perusahaan yang
besar dapat menjadi indikasi bahwa perusahaan mempunyai komitmen yang tinggi untuk
terus memperbaiki kinerjanya, sehingga pasar akan mau membayar lebih mahal untuk
mendapatkan sahamnya karena percaya akan mendapatkan pengembalian yang
menguntungkan dari perusahaan tersebut.
5. KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
1. Kualitas laba yang diukur dengan discretionary accrual tidak berpengaruh terhadap nilai
perusahaan..
2. IOS berpengaruh positif terhadap discretionary accrual sehingga bisa dikatakan IOS yang
meningkat dapat membuat kualitas laba menurun. IOS berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan.
3. Keberadaan komite audit dan komposisi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap
discretionary accrual (kualitas laba).
4. Keberadaan komite audit dan komposisi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap
nilai perusahaan.
5. Kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kualitas
laba (discretionary accrual) tetapi berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
6. Variabel kontrol : Ukuran KAP berpengaruh negatif (positif) terhadap discretionary
accruals (kualitas laba) tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Leverage dan
ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kualitas laba tetapi keduanya berpengaruh
terhadap nilai perusahaan.

5.2. Saran
Untuk penelitian selanjutnya bisa menggunakan ukuran yang lain untuk variabel Investment
Opportunity Set (IOS), komite audit, komisaris independen, kualitas laba dan juga nilai
perusahaan.
Daftar Pustaka
Beasley, Mark S. 1996. An Empirical Analysis of The Relation Between The Board of
Director Composition and Financial Statement Fraud. The Accounting Review. Vol. 71
(4). Oktober: 443-465
Boediono, Gideon.2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance
dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis Jalur. Simposium
Nasional Akuntansi (SNA) VIII Solo.
Brown, Lawrence D., dan Marcus L. Caylor. 2004. Corporate Governance and Firm
Performance. http://papers.ssrn.com.
Dechow, P.M. 1994. Accounting Earnings and Cash Flows as Measures of Firm
Performance: The Role of Accounting Accruals. Journal of Accounting and
Economics 17, hlm. 3-42.
_______, Richard.G. Sloan, and Amy.P. Sweeney. 1995. Detecting Earnings Management.
The Accounting Review 70, hlm. 193-225.
Fidyati, Nisa. 2004. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Terhadap Earnings
Management Pada Perusahaan Seasoned Equity Offering (SEO). Jurnal Ekonomi,
Manajemen dan Akuntansi. Vol. 2 (1): 1-23.
Forum for Corporate Governance in Indonesia. 2001. Seri Tata Kelola (Corporate
Governance) Jilid II. http://fcgi.org.id.
Jensen, Michael C. dan W. H. Meckling. Theory of the Firm: Managerial behaviour, agency
Cost and Ownership Structure. 1976. Journal of Financial Economics. Vol. 3 (4): 305-360.
Kallapur, Sanjay dan Mark A. Trombley. 2001. The Investment Opportunity Set:
Determinants, Consequences and Measurement. Managerial Finance. Vol. 27 (3): 315.
Kusumawati, Dwi Novi dan Bambang Riyanto LS. 2005. Corporate Governance dan
Kinerja: Analisis Compliance Reporting dan Struktur Dewan Terhadap Kinerja.
Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VIII Solo.
Mayangsari, Sekar. 2004. Bukti Empiris Pengaruh Spesialisai Industri Auditor terhadap
Earnings Response Coefficient. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 7 (2): 154-178.
Naimah, Zahroh dan Siddharta Utama. 2006. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan,
dan Profitabilitas Perusahaan Terhadap Koefisien Respon Laba dan Koefisien Respon
Nilai Buku Ekuitas: Studi Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta.
Simposium Nasional Akuntansi (SNA) IX. Padang
Nurim, Yavida. 2003. Analisis Kecepatan Nilai Ekuilibrium Earnings pada Periode Sebelum
dan Selama Krisis Moneter. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VI. Oktober.
Siallagan, Hamonangan dan M. Machfoedz. 2006. Mekanisme Corporate Governance,
Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) IX Padang.

Siregar, Silvia Veronica N.P., dan Siddharta Utama. 2005. Pengaruh Struktur Kepemilikan,
Ukuran Perusahaan dan Praktik Corporate Governance terhadap Pengelolaan Laba
(Earnings Management) Simposium Nasional Akuntansi (VIII) Solo.
Wah, Lai Kam. 2002. Investment Opportunity and Audit Quality. http://papers.ssrn.com
Wahyudi, Untung dan Hartini P. Pawestri. 2006. Implikasi Struktur Kepemilikan Terhadap
Nilai Perusahaan: Dengan Keputusan Keuangan Sebagai Variabel Intervening.
Simposium Nasional Akuntansi (SNA) IX Padang.
Xie, Biao, Wallace N. Davidson III dan Peter J. Dadalt. 2003. Earnings Management and
Corporate Governance: The Role of The Board and the Audit Committee. Journal of
Corporate Finance. Vol. 9. Juni: 295-316.

TRANSLATE JURNAL ASING


Pengaruh Penipuan dan Risiko Going-concern pada Penilaian Auditor dari
Risiko Salah Saji Material dan Hasil Prosedur Audit
Penelitian ini menggunakan data berkas audit untuk menganalisis hubungan antara
penilaian auditor awal goingconcern dan risiko penipuan dan perencanaan dan kinerja audit
laporan keuangan. Kami menganalisis hubungan antara risiko di atas dan penilaian auditor
terhadap risiko salah saji material (RMM) dalam siklus pendapatan, dan memeriksa apakah
going concern dan penilaian risiko kecurangan berpengaruh pada persuasi, waktu, dan luas
bukti audit yang dikumpulkan . Hasil kami menunjukkan bahwa baik risiko penipuan dan
risiko going concern secara signifikan berhubungan dengan RMM. Hasil kami juga
menunjukkan bahwa meskipun pengaruh risiko fraud sepenuhnya dimediasi oleh RMM,
moderat risiko going concern tetap signifikan berhubungan dengan proxy kami untuk
persuasi dan waktu bukti audit, bahkan setelah mengendalikan RMM.

RINGKASAN
Penelitian ini menggunakan Big 4 file data audit untuk menyelidiki hubungan antara
penilaian awal auditor mengenai going concern dan risiko penipuan dan perencanaan dan
kinerja audit laporan keuangan, khususnya persuasif bukti audit, waktu pengumpulan bukti
audit dan sejauh mana bukti audit yang dikumpulkan. Hasil penelitian kami mendukung
hipotesis kami bahwa going concern dan risiko kecurangan terkait dengan persuasi dan waktu
bukti, tapi tidak tingkat bukti yang dikumpulkan. Going concern dan penilaian risiko fraud
harus menjadi pertimbangan dalam penilaian awal terhadap risiko salah saji material (RMM),
dan karenanya dapat dimediasi oleh pertimbangan RMM. Hasil kami menunjukkan bahwa
baik risiko penipuan dan risiko going concern secara signifikan berhubungan dengan
RMM. Kami mengulangi analisis awal mengontrol penilaian auditor dari RMM dalam siklus
pendapatan, dan memeriksa apakah going concern dan penilaian risiko kecurangan terus
memiliki efek pada persuasi, waktu, dan luas bukti audit yang dikumpulkan. Hasil ini juga
menunjukkan bahwa meskipun pengaruh risiko fraud sepenuhnya dimediasi oleh RMM,
moderat risiko going concern tetap signifikan berhubungan dengan proxy kami untuk
persuasi dan waktu bukti audit, bahkan setelah mengendalikan RMM. Ini memberikan
indikasi bahwa beberapa aspek risiko going concern tidak terserap oleh Model Risk Audit
saat ini (ARM). Satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa tes kami ARM menanggung
risiko statis yang dapat secara akurat dinilai pada tahap perencanaan. Temuan kami tidak

sebanyak indikasi bahwa penilaian risiko going concern tidak mengalir RMM, tapi mungkin
menunjukkan bahwa ARM tidak dapat menangkap efek pada bukti audit sebagai akibat dari
perubahan dinamis dalam faktor risiko. Gagasan ini juga akan membantu menjelaskan hasil
yang tidak konsisten dalam penelitian sebelumnya.

1. PENDAHULUAN
Standar auditing menunjukkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan audit harus berkaitan
dengan risiko hadir dalam audit (AICPA, 1983; IAASB, 2004c). Ini termasuk resiko tidak
hanya risiko yang melekat dan kontrol diidentifikasi dalam Model Risiko Audit (ARM),
tetapi juga risiko bisnis klien (Johnstone, 2000; Badan Pengawasan Umum, 2000). Sebagian
besar risiko bisnis klien akhirnya memiliki konsekuensi atas laporan keuangan, dan
bimbingan otoritatif secara khusus menyatakan bahwa auditor harus mempertimbangkan efek
risiko bisnis klien dalam perencanaan audit (AICPA, 2006a, IAASB, 2004b). Dengan
demikian, hubungan antara risiko bisnis klien dan perencanaan bukti penting untuk kedua
setter standar dan praktisi.
Dalam studi ini, kami menggunakan file data audit untuk menganalisis hubungan antara
penilaian awal auditor mengenai kemampuan klien untuk melanjutkan (resiko going concern)
dan risiko penipuan dan kinerja siklus audit.1 penelitian arsip Sebelum pendapatan pada
asosiasi antara risiko klien dan pemeriksaan bukti dicampur. Mock dan Wright (1993, 1999)
dokumen yang ada tampaknya tidak menjadi hubungan yang jelas antara risiko auditee dan
rencana audit. Bedard dan Johnstone (2004) menemukan hubungan yang jelas antara laba
risiko manipulasi dan tingkat pengujian, sementara Elder dan Allen (2003) menemukan
hubungan yang signifikan antara risiko yang melekat dan ukuran sampel, tetapi hanya bukti
terbatas hubungan antara risiko kontrol dan sampel ukuran. Fukukawa et al. (2006), serta
Mock dan Turner (2005), mendokumentasikan hubungan antara beberapa risiko bisnis klien
tertentu, dan risiko penipuan yang spesifik, dan alam, waktu, luas, dan staf keputusan yang
dicapai dalam audit. Namun, Fukukawa et al. terus menemukan tidak ada hubungan antara
mayoritas klien tertentu risiko mereka memeriksa dan mengaudit perencanaan, dan sebagian
besar penelitian sebelumnya telah mampu untuk menguji hubungan antara risiko bisnis klien
dan sifat dan waktu usaha audit.
Studi kami memberikan kontribusi untuk penelitian tentang hubungan antara penilaian
risiko dan bukti audit dengan menghubungkan dua risiko terpisah pertama bukti yang
dikumpulkan dalam audit, dan akhirnya dengan menguji apakah hubungan antara risiko
individu dan bukti sepenuhnya dimediasi oleh auditor menilai risiko salah saji material
(RMM).
Kami memilih untuk mempelajari penilaian risiko going concern dan penilaian risiko
penipuan karena beberapa alasan. Pertama, pembuat standar telah mengidentifikasi baik
going concern dan penipuan sebagai risiko yang melekat luas yang mempengaruhi semua
bidang audit (AICPA, 1990; IAASB, 2004a, d). Kedua, bimbingan otoritatif khusus
membutuhkan auditor untuk mempertimbangkan risiko ini, sehingga kedua penilaian risiko
klien harus relevan dalam semua audit laporan keuangan (AICPA, 1988, 2002; IAASB,

2004a, d). ISA 240 (IAASB, 2004a) ayat 64 secara khusus menyatakan bahwa respon auditor
untuk penipuan harus mempengaruhi sifat dan tingkat pengujian audit. Akhirnya, penilaian
risiko going concern dan penilaian risiko fraud memiliki implikasi yang berbeda secara
signifikan untuk audit. Risiko going concern terutama mempengaruhi ekspektasi auditor
tentang masa depan klien dan penilaian pengungkapan periode berjalan, dan kurang jelas
terkait dengan bukti audit, sedangkan standar otoritatif tentang risiko kecurangan sarankan
perubahan spesifik dengan sifat prosedur audit (misalnya, AICPA, 2002; IAASB,
2004a). Dengan demikian, mempelajari dua risiko bisnis meresap dengan implikasi yang
berbeda dalam ARM memungkinkan kita untuk menganalisis penilaian auditor risiko yang
berbeda dan bagaimana risiko tersebut mempengaruhi penilaian terkait dengan RMM dan
prosedur audit yang dihasilkan.
Kami memilih siklus pendapatan untuk pengujian kami untuk beberapa alasan.Pertama,
perusahaan audit data menyediakan menganggap pendapatan sangat penting untuk
pencegahan kegagalan audit. Kedua, siklus pendapatan penting bagi risiko penipuan dan
risiko goingconcern. ISA 240 (IAASB, 2004a) ayat 60 menyatakan bahwa 'mengandaikan
bahwa ada risiko penipuan dalam pengakuan pendapatan' auditor. Ketiga, penilaian risiko dan
pengujian audit sangat bervariasi dalam siklus pendapatan, sehingga siklus ini akan
memungkinkan kita untuk memiliki tes lebih kuat karena kemampuan auditor untuk secara
signifikan bervariasi alam, waktu, dan luas pengujian substantif. Akhirnya, memilih satu
siklus memungkinkan kita untuk mengumpulkan informasi lebih rinci mengenai persuasi
yang (kemerdekaan bukti), waktu, dan luas pengujian audit.
Studi kami analisis data tingkat audit untuk 78 perusahaan teknologi AS di sebuah kantor
tunggal dari Big 4 jaminan perusahaan jasa. Sampel kami memberikan kesempatan untuk
memeriksa penipuan dan resiko going concern dalam industri di mana faktor-faktor risiko
yang lebih umum. Analisis menggunakan berbagai tingkat penilaian risiko going concern
dalam upaya untuk menguji apakah ada hubungan diferensial antara tingkat tinggi dan
moderat risiko. Hasil kami menunjukkan bahwa risiko penipuan tinggi dan risiko going
concern secara signifikan berhubungan dengan perubahan dalam persuasi dan waktu bukti
audit. Lebih lanjut, hasil kami menunjukkan bahwa meskipun hubungan antara penipuan dan
berisiko tinggi going concern dan bukti audit sepenuhnya dimediasi oleh penilaian dari
RMM, tingkat moderat risiko going concern, yang secara statistik tidak berhubungan dengan
RMM, secara signifikan berhubungan dengan proxy kami untuk persuasi (alam) dan waktu
bukti audit, bahkan setelah mengendalikan RMM. Hasil ini menunjukkan pentingnya
mempelajari tingkat risiko yang berbeda auditee. Selain itu, kami mengusulkan bahwa
hubungan antara moderat risiko going concern dan pengumpulan bukti audit di luar efek
mediasi dari RMM merupakan indikasi dari sifat dinamis dari respon auditor terhadap risiko
going concern.
Sisa dari hasil kertas sebagai berikut. Pertama, kita membahas literatur yang relevan dan
mengembangkan hipotesis. Selanjutnya, kita membahas data dan menyajikan hasil. Akhirnya,
kita membahas implikasi, keterbatasan, dan kesimpulan.

2.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Suatu audit yang efektif dan efisien memerlukan penilaian yang tepat dari risiko auditee
dan tepat alokasi upaya pemeriksaan setelah penilaian risiko (Bedard et al.,
1999). Pentingnya penilaian risiko auditee dapat dilihat pada perhatian yang diterimanya dari
Audit Dewan Standar AICPA (2006a), Perusahaan Publik Akuntansi Dewan Pengawas
(PCAOB), dan Audit Internasional dan Jaminan Dewan Standar (IAASB). SAS 47 (AICPA,
1983) mengusulkan Risiko Model Audit (ARM) yang memungkinkan auditor untuk
mengukur risiko audit secara keseluruhan dengan menilai dua risiko auditee luas (inherent
risk dan kontrol), dan perencanaan audit untuk mengendalikan risiko ketiga (risiko
deteksi) . Standar audit internasional merujuk lebih umum untuk Risiko Salah Saji Material
(RMM). Risiko ini bisa dikategorikan ke dalam skema risiko AS terkait risiko bawaan dan
risiko pengendalian (misalnya, Kizirian dkk., 2005).
Penilaian risiko bisnis
Dua penilaian risiko bisnis klien secara khusus disebutkan dalam standar audit adalah
pertimbangan auditor atas kemampuan klien untuk melanjutkan (penilaian going concern)
dan pertimbangan auditor dari kemungkinan penipuan. AICPA dan IAASB mengidentifikasi
kedua risiko ini sebagai faktor risiko meresap, yang berarti mereka mempengaruhi banyak
bidang audit (AICPA, 1990, IAASB, 2004a, d).Meskipun ARM banyak digunakan oleh
praktisi sebagai pedoman untuk perencanaan audit, hal itu tidak secara khusus mencatat
penilaian auditor atau risiko bisnis klien di luar penilaian risiko yang melekat (IR) dan risiko
pengendalian (CR).Dengan demikian, sebagai auditor mengidentifikasi resiko dalam audit,
mereka harus menyita risiko ini dalam penilaian mereka risiko pengendalian, risiko yang
melekat, atau keduanya (RMM). Karena itu, ARM telah dikritik sebagai tidak komprehensif
mewakili faktor auditor dipertimbangkan dalam perencanaan audit.
Penilaian risiko dan bukti audit
Risiko auditee diidentifikasi secara eksplisit terkait dengan prosedur audit dalam Standar
Auditing yang berlaku umum (AICPA, 1983). Auditor dapat menyesuaikan tiga karakteristik
utama dari bukti audit untuk meningkatkan kecukupan pengujian: sifat bukti audit yang
dikumpulkan, waktu pengumpulan bukti dan sejauh mana bukti dikumpulkan (AICPA,
2006b, IAASB, 2004c). Pembuat standar khusus menangani masalah menghubungkan risiko
terhadap sifat, waktu dan luas prosedur audit (AICPA, 2006b, IAASB, 2004b). Standar
AICPA pada bukti audit (2006a) dikeluarkan dengan maksud untuk meningkatkan hubungan
antara risiko dinilai dan pengujian audit dengan mengharuskan auditor untuk
mendokumentasikan tujuan tes audit dan bagaimana tes berhubungan dengan risiko auditee
dinilai. Ini hubungan antara risiko yang sedang dihadapi dan tujuan dari tes menunjukkan
bahwa prosedur audit harus dipilih oleh auditor untuk secara khusus menguji pernyataan yang
relevan dengan risiko tertentu. Ini tidak selalu berarti bahwa auditor akan melakukan
prosedur yang lebih substantif ketika menghadapi meresap klien risiko bisnis, tetapi akan
melakukan prosedur ditargetkan langsung untuk mengatasi risiko. Meskipun literatur
sebelumnya pada upaya audit yang kadang-kadang menemukan hubungan yang signifikan
antara risiko dan tingkat pengujian, sebagian besar risiko ini terkait dengan risiko tertentu
pada tingkat asersi, bukan risiko meresap (misalnya, Houston, 1999; Quadackers et al,
1996. ). Meskipun Bedard dan Johnstone (2004) menemukan hubungan yang jelas antara laba

manajemen risiko dan audit dan jam Kizirian et al. (2005) dokumen hubungan antara
integritas manajemen dan perencanaan audit, mayoritas penelitian arsip sebelumnya yang
berkaitan dengan faktor risiko meresap telah menemukan hubungan yang lemah antara
penilaian risiko dan tingkat pengujian (misalnya, Mock & Wright, 1993, 1999; Fukukawa
et al., 2006). Selain itu, baik Elder dan Allen (2003) atau Johnstone dan Bedard (2001)
menemukan bukti hubungan antara penilaian risiko penipuan dan luasnya pengujian. Salah
satu penjelasan potensial untuk ini adalah bahwa faktor risiko bisnis luas, seperti risiko going
concern dan risiko fraud, mempengaruhi sifat dan waktu prosedur substantif auditor, tetapi
tidak tingkat pengujian. Sebagai contoh, Summers dan Sweeney (1998) menunjukkan bahwa
pengumpulan bukti audit eksternal dapat meningkatkan kemungkinan mendeteksi
penipuan. Hal ini akan mengakibatkan pergeseran persuasi tersebut (nature) dari bukti
audit.Argumen ini konsisten dengan SAS 99 (AICPA, 2002) dan ISA 500 (IAASB, 2004d),
yang menunjukkan bahwa auditor harus mengevaluasi bukti kritis, hati-hati
mempertimbangkan sumber bukti. Dengan demikian, berdasarkan literatur sebelumnya dan
standar audit, kita berhipotesis bahwa aspek persuasi sifat bukti audit akan dipengaruhi oleh
goingconcern dan risiko kecurangan. Demikian juga, SAS 59 (AICPA, 1988) dan ISA 570
(IAASB, 2004e) menunjukkan bahwa hasil berikutnya sering memberikan bukti yang
berkaitan dengan kemampuan klien untuk melanjutkan, sehingga risiko goingconcern akan
terkait erat dengan waktu tes.Diskusi di atas menunjukkan hipotesis berikut:
H1a: The persuasif bukti audit dipengaruhi oleh penipuan dan resiko going concern.
H1b: Waktu pengujian audit dipengaruhi oleh penipuan dan resiko going concern.
H1c: Luasnya pengujian audit tidak terpengaruh oleh penipuan dan resiko going
concern.
Hipotesis 1a-c memprediksi hubungan langsung antara risiko klien meresap dan
persuasif dan waktu bukti audit. Namun, risiko audit di AS didefinisikan sebagai fungsi dari
risiko yang melekat, risiko pengendalian, dan risiko deteksi, menyiratkan bahwa interaksi IR
dan CR mencakup semua risiko auditee membantu untuk menentukan apa pengujian (resiko
deteksi) yang diperlukan untuk mencapai cukup,bukti audit yang kompeten. Kesimpulan
yang sama dapat dicapai dari Standar Auditing Internasional yang terkait dengan
RMM. Dengan demikian, begitu pengaruh risiko meresap tertentu, seperti penipuan dan
resiko going concern, pada RMM dinilai dikendalikan untuk, prediksi yang dibuat di H1
dapat memegang lagi. Namun, tidak ada bukti empiris yang secara langsung menguji
hubungan ini.
Dengan demikian, pertanyaan penelitian tambahan kita mengatasi adalah apakah
penilaian auditor menengahi RMM dampak risiko meresap tertentu pada bukti audit.Sebuah
membangun mediator jika menyumbang hubungan antara independen dan variabel dependen
(Baron & Kenny, 1986). Gambar 1 menyajikan model efek going concern dan risiko
penipuan pada bukti audit.
Baron dan Kenny (1986) menunjukkan bahwa tiga relasi harus ditampilkan untuk
menunjukkan bahwa menengahi RMM hubungan antara penipuan dan resiko going concern
dan bukti audit: (1) goingconcern dan risiko kecurangan yang berhubungan dengan RMM,
(2) RMM dikaitkan dengan bukti audit, dan (3) setelah mengontrol RMM, sebuah asosiasi
yang sebelumnya signifikan antara going concern dan risiko penipuan dengan bukti audit
tidak lagi signifikan. Bukti bahwa RMM sepenuhnya menengahi hubungan antara risiko

meresap dan bukti audit dapat memberikan beberapa indikasi bahwa kerangka umum untuk
penilaian risiko audit cukup menggambarkan praktek saat ini. Namun, bukti bahwa risiko
meresap tertentu mempengaruhi prosedur audit luar efeknya pada RMM bisa memberikan
bukti bahwa standar saat ini harus diperluas untuk mencakup panduan tentang
menghubungkan risiko meresap spesifik dan RMM. Sesuai dengan standar saat ini, kami
mengusulkan hipotesis berikut:

Gambar 1: Hipotesis asosiasi antara resiko going concern, risiko fraud, risiko salah saji
material dan bukti audit
Catatan: Angka ini menyajikan efek hipotesis risiko pada bukti audit. Luas tidak termasuk
dalam model karena tidak ada hubungan yang signifikan antara penipuan atau risiko going
concern dan luasnya diperkirakan. Untuk menunjukkan hubungan mediasi: going concern
dan risiko kecurangan yang terkait dengan risiko salah saji material (RMM), dan risiko salah
saji material dikaitkan dengan bukti audit. Setelah mengendalikan risiko salah saji material,
hubungan yang signifikan antara risiko sebelumnya dihipotesiskan going-concern/fraud dan
bukti audit (Hipotesis 1a dan 1b) tidak lagi signifikan (Hipotesis 2a dan 2b).
H2A: RMM sepenuhnya menengahi hubungan antara penipuan dan resiko going concern dan
persuasif bukti audit.
H2b: RMM sepenuhnya menengahi hubungan antara penipuan dan resiko going concern dan
waktu bukti audit.
3. PENELITIAN DESAIN DAN ANALISIS DATA
Data untuk penelitian ini diperoleh dari 4 Big perusahaan yang berpartisipasi di
AS.Perusahaan diperbolehkan akses ke semua file audit dari satu kantor di bawah perjanjian
kerahasiaan. Kami memilih audit secara acak menggunakan generator nomor, dan tiba di
sampel 78 audit dari tahun 1996-1999. Para klien yang dipilih adalah semua perusahaan AS
yang berbasis teknologi, yang memberikan sampel yang tepat untuk memeriksa risiko going
concern dan risiko kecurangan. Tidak ada klien terpilih dua kali, dan 66 dari klien
publik. Tidak ada pemeriksaan adalah audit tahun pertama, dan waktu rata-rata perusahaan
menjabat sebagai auditor adalah tujuh tahun. Semua audit memiliki 31 Desember tahun
berakhir. Di antara audit, 14 opini-opini audit yang diterima dimodifikasi untuk
ketidakpastian going concern, sisanya mendapat opini wajar tanpa pengecualian

standar. Dalam melakukan penilaian risiko, perusahaan menilai risiko auditee baik di tingkat
laporan keuangan dan pada tingkat siklus. Untuk keperluan studi ini, kami memilih untuk
menggunakan siklus pendapatan karena pentingnya risiko going concern dan risiko penipuan
dalam siklus itu.
Semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan oleh penulis dari
file audit untuk klien tersebut. Personil perusahaan dibantu dan menunjukkan bahwa semua
penilaian risiko yang dibuat oleh auditor di tingkat senior atau di atas, dan bahwa auditor
membuat penilaian risiko secara aktif terlibat dalam perencanaan audit. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini diberi kode dengan perusahaan, dan mandiri dikuatkan oleh
dua peneliti dengan ada perbedaan pendapat.Perusahaan menggambarkan makna yang tepat
dari setiap penilaian risiko dan prosedur pemeriksaan, sehingga tidak judgmentwas peneliti
digunakan dalam menentukan makna sebenarnya dari setiap variabel.
Model dan spesifikasi variabel
Bukti audit
Kami berhipotesis bahwa risiko penipuan dan risiko going concern akan berhubungan
dengan persuasi (alam) dan waktu bukti audit yang dikumpulkan, tetapi tidak terkait dengan
tingkat bukti yang dikumpulkan. Untuk menguji hipotesis ini, kami memperkirakan regresi
berikut:
Karena persuasi, waktu dan luasnya tidak dapat diukur secara langsung, kami
menggunakan proxy dari file audit untuk mewakili konstruksi. Untuk proxy persuasi, kita
menggunakan ukuran kemerdekaan bukti (persuasif), sejalan dengan hirarki SAS 31 tentang
bukti audit yang menunjukkan bukti dari sumber-sumber independen lebih dapat diandalkan
daripada bukti yang dikumpulkan dari klien. Kami dikategorikan semua prosedur audit siklus
pendapatan menggunakan skala tiga poin dengan bukti paling independen (bukti internal)
sama dengan satu, dan bukti yang paling independen (bukti eksternal) sama dengan
tiga. Bukti campuran, seperti laporan bank yang diperoleh langsung dari klien, diberi kode
sebagai dua. Variabel persuasif dihitung sebagai nilai rata-rata dari semua bukti yang
terdokumentasi dalam file audit siklus pendapatan. Semakin tinggi nilai persuasif, semakin
independen bukti yang dikumpulkan, rata-rata.
WAKTU sama dengan proporsi siklus jam Audit pendapatan dilakukan pada akhir tahun
fiskal relatif klien terhadap total jam Audit siklus pendapatan. Sebagai contoh, jika
perusahaan melakukan 40 persen dari jam audit pada akhir tahun, dan 60 persen selama
pengujian sementara, variabel TIMING akan memiliki nilai 40.Definisi ini konsisten dengan
kedua SAS 110 (AICPA, 2006c) dan ISA 330 (IAASB, 2004c), yang mendefinisikan waktu
sebagai 'ketika prosedur audit yang dilakukan. "ISA 330 negara," Semakin tinggi risiko salah
saji material, semakin besar kemungkinan itu adalah bahwa auditor dapat memutuskan lebih
efektif untuk melakukan prosedur substantif lebih dekat, atau pada, akhir periode. "Jadi, kita
akan mengharapkan bahwa peningkatan risiko akan menggeser proporsi jam pemeriksaan
lebih dekat ke akhir tahun fiskal. Karena semua pengamatan dalam sampel kami memiliki 31
Des yearends, dan semua pengamatan berbasis teknologi, ini memberikan kita dengan
beberapa jaminan bahwa risiko dalam audit, dan tidak staf atau masalah lainnya, merupakan
faktor pendorong dalam keputusan waktu. Selain itu, kami mengontrol penjelasan yang
mungkin lainnya, seperti perusahaan publik atau perusahaan rugi. Konsisten dengan literatur

sebelumnya, kami menggunakan total jam Audit siklus pendapatan sebagai variabel SEJAUH
(misalnya, Joyce, 1976; Houston, 1999). Hal ini juga sejalan dengan definisi sejauh sebagai
jumlah informasi yang dikumpulkan (IAASB, 2004c, AICPA, 2006c).
Risiko going concern (GC) dan risiko kecurangan (PENIPUAN) dinilai oleh auditor
selama perencanaan audit skala 0-2 dari rendah, sedang atau tinggi. Karena perusahaan audit
tidak pada umumnya menerima klien dengan risiko penipuan tinggi, kita mendefinisikan
risiko kecurangan baik sebagai rendah atau sedang dalam study. kami Untuk memungkinkan
kita untuk menentukan efek diferensial tingkat risiko pada pengumpulan bukti, kami
menyertakan variabel boneka terpisah untuk moderat dan risiko goingconcern tinggi
(GC_MOD dan GC_HIGH) . Untuk mengontrol penjelasan lain yang mungkin, kami
menyertakan variabel yang mungkin berhubungan dengan auditee risiko, risiko kesalahan dan
pengumpulan bukti dalam siklus pendapatan.
Untuk mengontrol untuk ukuran klien, kita peringkat perusahaan dalam sampel
berdasarkan total pendapatan (REVRANK) untuk tahun audit. Penelitian sebelumnya telah
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berkorelasi dengan kedua risiko dan bukti audit (Bell
et al., 1994). Perusahaan besar sering memiliki sistem kontrol internal yang lebih canggih dan
peraturan yang lebih luar, yang mengarah ke tingkat yang lebih rendah risiko bawaan dan
risiko pengendalian.Namun, pendapatan yang lebih besar juga dapat meningkatkan risiko
yang melekat pada siklus pendapatan. Kami memperkirakan bahwa untuk klien yang lebih
besar (REVRANK), pengujian yang lebih akan dilakukan, tapi itu karena ukuran audit,
persentase lebih besar akan dilakukan di interim. Oleh karena itu, kami memperkirakan
bahwa REVRANK akan negatif dalam persamaan (2) dan positif dalam persamaan (3).
Kepemilikan Auditor (PENGUASAAN) juga signifikan terkait dengan risiko dalam audit
karena belajar dari waktu ke waktu (O'Keefe et al., 1994), meskipun temuan menunjukkan
bahwa kegagalan Audit juga meningkat dengan auditor masa lagi.Peningkatan penguasaan
auditor akan mengakibatkan auditor memiliki pemahaman yang lebih baik klien, sehingga
mengarah ke kurang pengujian pada waktu sebelumnya. Oleh karena itu, kami
memperkirakan bahwa PENGUASAAN akan negatif dalam persamaan (2) dan (3).
Kami juga mengontrol apakah klien diperdagangkan (PUBLIK). Meskipun klien publik
dapat dikenakan peraturan yang lebih, litigasi juga lebih umum untuk perusahaan publik
(palmrose, 1988). Jadi, meskipun kontrol yang lebih baik dapat menurunkan RMM tersebut,
risiko litigasi lebih dapat meningkatkan risiko auditor.Dalam sampel kami, 66 dari 78 audit
yang klien publik, sehingga ada sangat sedikit variabilitas dalam sampel dan karena itu kita
tidak boleh mendapatkan hubungan yang signifikan antara status publik dan bukti audit.
Untuk mengontrol untuk setiap perbedaan sistematis dalam risiko antara industri, kami
juga memasukkan variabel 0/1 dummy untuk industri (INDUSTRI). Semua perusahaan
dalam sampel kami yang berbasis teknologi, namun mereka didistribusikan antara
bioteknologi dan teknologi komputer. Kami tidak berhipotesis tanda pada variabel industri.
Sebagai kontrol akhir, kami menyertakan perusahaan return on assets (ROA) dan variabel
0/1 dummy untuk laba bersih positif (LABA). Literatur sebelumnya telah menunjukkan
hubungan positif antara financial distress dan dinilai risiko auditee (Carcello & palmrose,
1994). Oleh karena itu, untuk mengendalikan efek dari kesulitan keuangan, dan profitabilitas
secara umum, kami menyertakan variabel kontrol ROA dan dummy LABA. Kami tidak
membuat prediksi pada tanda untuk variabel kontrol profitabilitas.

Untuk lebih menguji efek tambahan risiko penipuan dan risiko going concern pada
pengumpulan bukti audit, kita re-estimasi persamaan (1) - (3) termasuk variabel untuk
mewakili risiko salah saji material. Risiko yang melekat (IR) dan risiko pengendalian (CR)
diukur sebagai awal tingkat auditor menilai risiko yang melekat dan risiko pengendalian
dalam siklus pendapatan pada skala 0-2 dari rendah, sedang, atau tinggi. IR dan CR adalah
perkalian di ARM, menunjukkan bahwa interaksi dari risiko yang telah dinilai sangat penting
dalam menilai risiko deteksi.Seorang klien dengan tingkat tinggi IR, tapi dinilai CR rendah
karena itu akan secara substansial mengurangi pengujian relatif terhadap klien dengan tingkat
dinilai tinggi dari kedua risiko. Oleh karena itu, untuk menguji apakah ARM cukup
menggambarkan dampak risiko meresap seperti penipuan dan going concern, kami
menyertakan variabel, RMM, sama dengan IR CR.12 Menurut ARM, karena risiko deteksi
auditor ditentukan berdasarkan interaksi IR dan CR, kita berhipotesis bahwa koefisien
onRMMwill menjadi positif dalam persamaan dimodifikasi (1) - (3). Kami sebelumnya
hipotesis bahwa jika RMM sepenuhnya menengahi pengaruh risiko bisnis meresap pada bukti
audit, koefisien pada GC_HI, GC_MED dan FR harus signifikan dalam re-estimasi
persamaan (1) - (3).
Hasil
Statistik deskriptif univariat
Tabel 1, Panela, menyajikan statistik deskriptif dasar. Seperti ditunjukkan, tingkat
keseluruhan IR adalah 0,51, atau relatif rendah. Demikian pula, rata-rata untuk CR adalah
0,43, juga relatif rendah. Nilai mean persuasif adalah 1,67, menunjukkan bahwa sebagian
besar bukti yang dikumpulkan adalah internal, serta lebih dari 83 persen dari evidencewas
berkumpul di akhir tahun, seperti yang ditunjukkan oleh nilai rata-rata dari variabel TIMING.
Rata-rata jumlah pendapatan siklus jam audit, atau SEJAUH, adalah 74,8. Tabel 1, Panel
B, menyajikan 3 2 matriks risiko going concern dan penilaian risiko kecurangan. Seperti
dapat dilihat, 47 dari 78 klien menerima peringkat risiko rendah untuk kedua risiko penipuan
dan risiko going concern. Sepuluh klien menerima peringkat 'tinggi' untuk going concern
risk.13 Tabel 1, Panel C menyajikan 3 2 matriks menilai inherent risk dan kontrol. Seperti
ditunjukkan, 46 dari 78 klien menerima peringkat risiko rendah untuk kedua penilaian.
Tabel 1, Panel D menyajikan tabel korelasi sederhana untuk variabel. Seperti ditunjukkan
dan diharapkan, banyak variabel secara signifikan berkorelasi.
Hubungan antara faktor risiko meresap dan bukti audit . Kami berhipotesis bahwa risiko
meresap tertentu seperti risiko going concern dan risiko penipuan akan mempengaruhi
persuasi dan waktu bukti audit, tapi tidak sejauh. Hasil kami mendukung hipotesis ini. Tabel
2 menyajikan hasil dinilai going concern dan risiko kecurangan pada usaha audit. Sebagai
hipotesis, baik tingkat sedang (p <0,04) dan tinggi (p <0,02) dari hasil risiko going concern
dalam auditor mengumpulkan bukti lebih mandiri. Selain itu, lebih dari bukti dikumpulkan
pada akhir tahun (p <0,03 dan p <0,06), memberikan dukungan untuk Hipotesis 1a dan
1b.Seperti yang diperkirakan, tinggi risiko going concern yang tidak signifikan berhubungan
dengan tingkat bukti yang dikumpulkan dalam siklus pendapatan, memberikan dukungan
untuk Hipotesis 1c. Pendapatan klien dan masa auditor mempertahankan tanda-tanda mereka
diprediksi. Profitabilitas perusahaan (LABA) berhubungan negatif dengan tingkat bukti

audit. Tidak ada variabel kontrol lain yang signifikan, tidak juga mereka diprediksi secara
signifikan terkait dengan persuasi, waktu atau tingkat bukti yang dikumpulkan.
Demikian pula, tingkat yang lebih tinggi dari hasil risiko penipuan dalam auditor
mengumpulkan bukti lebih mandiri (p = 0,05) pada akhir tahun (p <0,01), memberikan
dukungan untuk Hipotesis 1a dan 1b. Sekali lagi, seperti yang diperkirakan, tidak ada
hubungan yang signifikan antara risiko penipuan dan sejauh mana bukti audit yang
dikumpulkan dalam siklus pendapatan, memberikan dukungan untuk Hipotesis
1c.Peningkatan risiko mengakibatkan pergeseran dalam upaya audit, tetapi tidak peningkatan
total waktu dikeluarkan.
Efek mediasi RMM
Standar auditing menunjukkan bahwa auditor untuk menilai RMM berdasarkan
karakteristik risiko klien, dan bahwa bukti audit harus dikaitkan dengan RMM (misalnya,
SAS 47 (AICPA, 1983), ISA 330 (IAASB, 2004c), ISA 500 (IAASB, 2004d)). Kami
hipotesis, berdasarkan standar tersebut, RMM yang sepenuhnya akan memediasi efek dari
dua risiko meresap tertentu pada bukti audit yang dikumpulkan.Untuk menunjukkan bahwa
RMM sepenuhnya dimediasi asosiasi, kita harus menunjukkan bahwa tambahan going
concern dan risiko kecurangan yang berhubungan dengan RMM, bahwa bukti audit secara
signifikan berhubungan dengan RMM dan bahwa sebelumnya menunjukkan hubungan antara
risiko goingconcern, risiko kecurangan, dan bukti audit menghilang setelah termasuk RMM
sebagai variabel independen tambahan (Baron & Kenny, 1986).
Dalam hasil untabulated, kami langsung menguji hubungan antara risiko going concern,
risiko kecurangan, dan RMM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, seperti yang diharapkan,
tinggi risiko going concern (p <0,03) dan risiko kecurangan (p <0,02) berhubungan dengan
RMM. Namun, moderat risiko going concern tidak berhubungan secara signifikan dengan
RMM. RMM juga secara signifikan terkait dengan persuasi, saat, dan lingkup bukti (p <0,001
dalam tiga regresi untabulated) tanpa going concern dan variabel risiko penipuan, sehingga
memenuhi link kedua dalam persyaratan mediasi.
Tabel 3 menyajikan hasil hubungan antara risiko going concern, risiko kecurangan, dan
bukti audit setelah mengendalikan risiko auditee dinilai. Seperti yang diperkirakan, RMM
berhubungan positif dengan persuasi (p <0,01), waktu (p <0,01), dan tingkat (p <0,01) dari
bukti yang dikumpulkan. Setelah risiko kecurangan tidak lagi signifikan berhubungan dengan
baik persuasif atau waktu. Namun, bertentangan dengan nol kami, moderat risiko going
concern tetap signifikan berhubungan dengan persuasi (p = 0,04) dan waktu (p =
0,03). Pendapatan dan variabel kontrol kepemilikan Audit mempertahankan tanda-tanda
mereka diperkirakan dalam waktu dan luasnya regresi. Dengan demikian, RMM sepenuhnya
menengahi hubungan antara tinggi risiko going concern dan risiko kecurangan dan persuasif
dan waktu bukti audit, tetapi tidak efek moderat risiko going concern.
Temuan ini bertentangan tentang risiko going concern dan risiko kecurangan memberikan
komentar menarik pada ARM dan tentu saja meninggalkan ruang untuk penelitian di masa
depan hubungan antara faktor risiko meresap dan ARM.Meskipun RMM muncul untuk
menggolongkan risiko penipuan dan risiko going concern tinggi, sedang resiko going
concern tampaknya menjadi konstruk yang berbeda dan memberikan informasi tambahan
kepada auditor dalam melakukan audit. Satu penjelasan yang mungkin untuk temuan ini
adalah sifat risiko meresap.Meskipun penilaian awal risiko fraud moderat mungkin

mempengaruhi perencanaan audit (AICPA, 2002; IAASB, 2004a), risiko going concern dapat
berubah secara substansial sebagai audit berlangsung. Karena itu, ketika auditor awalnya
menilai risiko auditee, persuasi dan waktu tes yang berkaitan dengan audit dengan moderat
risiko going concern mungkin tidak akurat ditentukan, dan kemungkinan bahwa unsur-unsur
yang menentukan tes ini tidak ditemukan sampai kemudian di audit.Dengan demikian,
penilaian awal dari IR dan CR tidak dapat menggolongkan moderat risiko going
concern. Namun, kehadiran peningkatan risiko penipuan atau panduan risiko going concern
tinggi auditor dalam perencanaan prosedur audit (AICPA, 1988, 2002; IAASB, 2004a, e).
4. ANALISIS SENSITIVITAS
Karena sifat, saat, dan lingkup bukti audit ditentukan bersamaan, kami kembali
diperkirakan pengujian kami terkait dengan Hipotesis 1 dan 2 menggunakan estimasi regresi
Tampaknya tidak terkait untuk mengontrol istilah kesalahan berkorelasi dan penentuan
simultan variabel dependen. Kami diuji untuk efek keseluruhan GC_MED, GC_HIGH, dan
PENIPUAN pada sistem persamaan. F-tes menunjukkan bahwa GC_MED (p <0,02),
GC_HIGH (p <0,02), dan PENIPUAN (p <0,10) semua signifikan mempengaruhi penentuan
keseluruhan persuasi, saat, dan lingkup bukti audit ketika RMM tidak disertakan,
sehingga memberikan dukungan menyeluruh tambahan untuk Hipotesis 1. Demikian pula,
GC_MED tetap signifikan (p <0,03) dalam penentuan keseluruhan persuasi, saat, dan lingkup
bukti audit ketika termasuk RMM, sehingga memberikan dukungan tambahan untuk
Hipotesis 2.
5. DISKUSI DAN IMPLIKASI PENELITIAN MASA DEPAN
Kami menyelidiki hubungan antara dua risiko spesifik meresap, penipuan dan resiko
going concern, dan Risiko Model Audit. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa sejalan
dengan harapan kami, risiko penipuan dan risiko going concern tinggi meningkatkan
persuasif bukti audit yang dikumpulkan, dan hasilnya di kemudian mengumpulkan bukti
itu. Selain itu, setelah mempertimbangkan efek dari RMM, risiko penipuan dan berisiko
tinggi going concern tidak lagi bermakna dikaitkan dengan pengumpulan bukti audit,
memberikan beberapa bukti bahwa ARM saat ini menyediakan sebuah pendekatan yang
memadai untuk praktek audit yang terkait dengan risiko penipuan dan tinggi goingconcern
risiko.
Kami juga menemukan bahwa hubungan antara moderat risiko going concern dan usaha
audit yang tetap kuat bahkan setelah mengendalikan RMM. Ini memberikan indikasi bahwa
beberapa aspek risiko going concern tidak terserap oleh ARM saat ini. Satu penjelasan yang
mungkin adalah bahwa tes kami ARM menanggung risiko statis yang dapat secara akurat
dinilai pada tahap perencanaan. Risiko goingconcern Sedang menunjukkan bahwa pada tahap
perencanaan, auditor memiliki beberapa tingkat keraguan tentang kemampuan entitas untuk
melanjutkan, tetapi tidak yakin besarnya risiko. Sebagai hasil audit, tingkat keraguan sering
berubah secara dinamis, baik dalam satu arah atau yang lain. Proses perumusan pendapat
adalah latihan bukti yang kompleks, sekuensial, dan berulang (Felix & Kinney,
1982). Perubahan IR dan CR berhubungan terutama dengan perusahaan di mana beberapa
keraguan ada pada tahap perencanaan. Penilaian risiko awal tidak dapat menggolongkan

semua perubahan pada rencana audit sebagai akibat dari perubahan keadaan. Sebagai
dukungan lebih lanjut untuk gagasan ini, dari 14 perusahaan dalam sampel menerima
pendapat kita diubah, hanya delapan yang dinilai sebagai risiko tinggi going concern selama
perencanaan awal. Sisa enam klien menerima modifikasi going concern memiliki resiko
dinilai moderat masalah going concern dalam perencanaan audit. Dengan demikian, temuan
kami tidak sebanyak indikasi bahwa penilaian risiko goingconcern tidak mengalir RMM, tapi
menunjukkan bahwa ARM tidak dapat menangkap efek pada bukti audit sebagai akibat dari
perubahan dinamis dalam faktor risiko. Gagasan ini juga akan membantu menjelaskan hasil
yang tidak konsisten dalam penelitian sebelumnya.
Hasil gabungan kami memberikan beberapa bukti bahwa faktor-faktor tertentu meresap
klien risiko bisnis yang dimasukkan ke dalam penilaian auditor tentang RMM, dan RMM
yang melakukan pekerjaan yang memadai karakteristik risiko yang tinggi atau meresap ke
audit pada tahap perencanaan audit.
Temuan kami memiliki keterbatasan yang signifikan. Pertama, hasil kami didasarkan
pada 78 US audit technologybased dilakukan oleh satu kantor satu Big 4 jaminan perusahaan
jasa, dan karenanya tidak perlu digeneralisasikan untuk populasi audit. Selain itu, meskipun
kita dapat memperoleh pengukuran langsung dari IR, CR, risiko kecurangan dan risiko going
concern, tindakan kita dari persuasi, waktu, dan luas bukti adalah proxy yang berpotensi
mengandung kesalahan pengukuran yang signifikan. Secara khusus, sifat bukti audit sulit
untuk menilai secara empiris. Kami memilih untuk menggunakan independensi rata-rata
bukti yang dikumpulkan sebagai lawan tindakan alam lainnya, karena ini adalah
pertimbangan utama persuasi bukti audit. Kami menganggap persuasif bukti untuk menjadi
aspek yang paling relevan alam yang melibatkan penipuan dan resiko going concern. Namun,
spesifikasi lainnya, seperti prosedur analitis dibandingkan tes detail, atau pemeriksaan
keputusan staf juga bisa memberikan bukti tambahan dan hasil berpotensi berbeda (lihat
Bedard et al., 1999). Selain itu, ada kemungkinan bahwa menggunakan ukuran rata-rata
untuk persuasi bisa menghasilkan hasil statistik tidak konsisten. Penelitian kami juga mampu
untuk mengendalikan banyak faktor yang kita tidak mengukur yang bervariasi di audit.Bukti
eksperimental dalam pengaturan terkontrol juga dapat memberikan hasil yang berbeda,
meskipun temuan kami mendukung banyak kesimpulan umum dicapai dalam penelitian
eksperimental pada bukti audit. Akhirnya, data kami dikumpulkan antara tahun 1996-1999,
andwas sebelum reformasi yang signifikan di industri Audit AS. Namun, karena hasil kami
menunjukkan hubungan yang signifikan antara risiko dan perencanaan audit, kita tidak punya
alasan untuk percaya bahwa link tersebut akan hilang dalam rezim berfokus erat pada risiko
audit dan bukti audit.
Penelitian di masa depan dapat lebih meningkatkan pemahaman kita tentang hubungan
antara risiko spesifik meresap, ARM, dan bukti audit. Misalnya, kita menemukan bahwa
risiko going concern moderat tetap berhubungan secara signifikan dengan persuasi dan waktu
bukti audit setelah mengendalikan RMM. Jika dugaan kita bahwa hasilnya adalah karena
faktor risiko yang dinamis dibandingkan relatif statis, ini memiliki implikasi standar setter
dalam kaitannya dengan dokumentasi audit. Standar setter dapat memberikan bimbingan
kepada auditor tentang cara menyesuaikan rencana audit untuk mengubah faktor risiko dan
bagaimana untuk mendokumentasikan perubahan ini.

CATATAN
1. Risiko bisnis klien biasanya didefinisikan sebagai risiko bahwa bisnis klien akan
menderita dalam hal profitabilitas (Huss & Jacobs, 1991). Kedua kegagalan finansial dan
penipuan dapat mempengaruhi profitabilitas masa depan klien, sehingga kami
mempertimbangkan penilaian auditor risiko going concern dan risiko kecurangan sebagai
ukuran risiko bisnis klien.
2. Konstruksi kami untuk sifat bukti audit adalah independensi bukti, sehingga seluruh
kertas kita menggunakan persuasi istilah untuk merujuk pada konstruk kemerdekaan bukti
dari sifat bukti audit.
3. Perusahaan Publik Akuntansi Dewan Pengawas menetapkan bahwa standar audit yang
ada berlaku untuk perusahaan publik. Oleh karena itu, Exposure Draft AICPA tidak
berlaku untuk perusahaan-perusahaan. Namun, itu merupakan indikasi pemikiran saat ini
dalam profesi dan karena itu relevan dengan diskusi tentang risiko audit.
4. Karena kita tidak memprediksi hubungan antara risiko going concern, risiko kecurangan,
dan tingkat bukti, kita tidak bisa membuat prediksi mediasi karena tidak ada asosiasi
untuk menengahi. Namun, untuk kelengkapan, kami akan menyertakan tes mediasi terkait
dengan tingkat bukti dalam bagian hasil kami.
5. Praktek audit kantor hampir secara eksklusif berbasis teknologi klien.
6. Karena risiko audit cenderung berbeda antara perusahaan publik dan non-publik, kami
menyertakan kontrol dalam semua analisis kami. Namun, menghilangkan 12 pengamatan
non-publik tidak mengubah substansi hasil kami.
7. Siklus pendapatan meliputi semua tes yang berhubungan dengan penjualan, piutang dan
penerimaan kas.
8. Jelas, ada kemungkinan lain untuk menyelidiki sifat bukti audit. Salah satu contoh akan
prosedur analitik dibandingkan dengan tes detail. Kami memilih untuk menggunakan
kemerdekaan atau persuasi bukti karena kemungkinan akan menjadi aspek sifat bukti
yang akan diadaptasi dalam kasus risiko penipuan atau risiko going concern.
9. Sebuah keprihatinan tambahan tentang ukuran persuasif kita adalah bahwa rata-rata dapat
menghasilkan hasil statistik tidak konsisten. Sebagai contoh, audit dengan salah satu
bagian eksternal bukti akan memiliki ukuran persuasif lebih tinggi dari audit dengan
bagian yang sama dari bukti eksternal dan sepotong tambahan bukti internal. Hal ini
menunjukkan bahwa korelasi antara persuasif dan SEJAUH dapat menghasilkan hasil
yang tidak konsisten. Sebuah analisis korelasi menunjukkan bahwa persuasif dan
SEJAUH tidak berkorelasi pada tingkat signifikan secara statistik ( = 0,18, p>
0,15). Namun, kesalahan pengukuran dalam variabel bukti audit tetap sebagai pembatasan
potensi hasil kami.
10. Ada satu perusahaan sampel dengan risiko kecurangan tinggi. Hasil yang disajikan tidak
berubah dengan tidak termasuk pengamatan ini.
11. Secara statistik, GC_LOW termasuk dalam intersept, sehingga variabel-variabel ini
menunjukkan peningkatan relatif terhadap sebuah perusahaan dengan resiko kegagalan
yang rendah.
12. Kami mengkonfirmasi spesifikasi kami dengan kemunduran pengaruh IR dan CR pada
variabel bukti kami, pertama sebagai variabel terpisah, dan kedua sebagai istilah

interaksi. Dalam semua regresi, variabel interaksi untuk RMM (IR CR) meningkatkan
R2 disesuaikan dibandingkan termasuk IR dan CR sebagai variabel terpisah.
13. Proporsi perusahaan tertekan secara finansial dalam sampel kami secara substansial lebih
tinggi daripada populasi keseluruhan Big 4 audit. Hal ini berkaitan langsung dengan
pilihan kami untuk perusahaan teknologi sebagai kolam sampel kami. Sedangkan
konsentrasi ini tertekan memungkinkan kita untuk lebih mempelajari penilaian risiko
going concern dan efek pada bukti audit, hal ini berpotensi membatasi generalisasi
penelitian kami.
14. Karena derajat tinggi korelasi antara variabel independen, kami melakukan analisis
multikolinearitas. Meskipun multikolinearitas mengurangi kemungkinan koefisien yang
signifikan pada variabel independen, dan karena itu tidak mempengaruhi keabsahan hasil
yang signifikan (Greene, 1993, hal. 267), model misspecified mencegah pemahaman yang
benar keputusan penilaian risiko auditor dan berpotensi bisa menyembunyikan
lainnya variabel yang signifikan. Untuk alasan ini, kami menganalisis semua model yang
disajikan dalam makalah ini untuk bukti keprihatinan multikolinearitas. Tidak ada
satupun dari regresi disajikan tidak setiap variabel memiliki faktor inflasi varians lebih
besar dari 10, atau apakah regresi apapun memiliki indeks kondisi lebih besar dari 20
(Greene, 1993, hal. 269). Dengan demikian, tidak mungkin bahwa multikolinearitas
sangat mempengaruhi hasil yang disajikan.
15. Kami juga memasukkan variabel interaksi kedua tingkat risiko GC dengan risiko
kecurangan dalam semua regresi dijalankan. Tak satu pun dari variabel ini diperoleh
signifikansi statistik, jadi kami tidak melaporkannya atau mendiskusikannya lebih lanjut.
16. Kizirian et al. (2005) dokumen yang kesalahan tahun sebelumnya sangat berkorelasi
dengan penilaian risiko integritas manajemen. Ketika kita mengendalikan untuk
kesalahan tahun sebelumnya di semua tes, hasil yang disajikan tidak berubah.