Anda di halaman 1dari 10

PERANG DI VIETNAM

Perang Vietnam, juga disebut Perang Indochina Kedua. Perang


Vietnam adalah sebuah perang yang terjadi antara 1957 dan 1975
di Vietnam. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin antara dua
kubu ideologi besar, yaitu Komunis dan Liberal. Dua kubu yang saling
berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik
Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan,
Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam
Selatan, sedangkan USSR dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang
merupakan negara komunis.
Kehebatan perang Vietnam juga ditunjukan oleh beragam
persenjataan yang digunakan kedua belah pihak. Dari persenjataan
primitif hingga bom udara canggih digunakan untuk menjebak, membunuh
dan mengalahkan musuh. Sangat tidak seimbang bila dilihat dari
persenjataan antara Utara dan Selatan namun dari semangat justru faktor
ini yang menentukan. Terbukti Amerika Serikat meninggalkan Vietnam dan
tentara Utara dapat melenggang masuk ke Selatan.
Setidaknya Amerika "terpaksa" terlibat lebih dalam di Perang
Vietnam ini, manakala kekuatan udara yang bermarkas di Jepang
dilibatkan untuk bergerak maju dan menyerang sasaran di Utara. Diawali
pengerahan kekuatan udara dan pangkalan di Okinawa, Jepang untuk
bergerak maju ke Danang, Vietnam Selatan pada 31 Januari 1965,
Amerika mulai melibatkan jet tempur jenis F-105. Pengerahan kekuatan
udara dari Tactical Fighter Wing ke 18 ini menunjukan kekhawatiran
Amerika dalam menghadapi Vietnam Utara yang bersemangat bergerak
ke Selatan.
Pada akhir 1963, Amerika Serikat mengirimkan 16.300 orang tentara,
serta bantuan senilai $ 500 juta. Namun demikian, tentara Amerika tidak
masuk ke wilayah Vietnam Utara, mereka hanya memerangi tentara
Vietnam utara yang masuk ke perbatasan. Pertengahan 1964, 56.000

orang tentara Vietnam utara menyerang perbatasan Vietnam selatan.


termasuk menyerang kapal-kapal perang Amerika Serikat di teluk tonkin.
Amerika menanggapi perang ini lebih serius lagi. Secara total, Amerika
Serikat mengirimkan lebih dari 500.000 orang prajuritnya untuk membantu
Vietnam Selatan. Sejumlah Negara kawan-kawan Amerika Serikat juga
terlibat.
Secara moral, Amerika dan Vietnam Selatan sudah kalah pada tahun
1968. Pada januari 1968 vietnam utara menyerang saigon dengan tet
offensive nya. Penyerangan ini sangat mengguncang kepercayaan diri
amerika karena ternyata musuh yang diremehkan itu bisa melakukan
penyerangan yang sedemikian hebatnya.
Perang berakhir pada tahun 1975, saat tentara Vietnam Utara
memasuki ibukota Vietnam Selatan, Saigon. Pukul 8.35 pagi, warga
Amerika terakhir, beserta 10 orang marinir Amerika terakhir meninggalkan
Kedutaan Amerika di Saigon. Pukul 11 siang, bendera Vietnam Utara
dikibarkan di Istana Presiden Vietnam Selatan. Banyak para pejabat
Vietnam Selatan yang tidak sempat melarikan diri dieksekusi di jalanan.
Perang Vietnam sendiri bisa dibilang Unwanted War, Perang yang
Tidak Diinginkan. Kongres yang merasa perlu membendung pengaruh
komunis di Asia. Pihak militer sendiri sebenarnya enggan berperang di
Vietnam. Berkaca pada hasil Perang Korea tentunya. Mereka harus
berperang di "rumah" musuh dengan taktik yang belum pernah dicoba.
Bisa dibilang, perang Vietnam merupakan pertama kalinya Amerika
merasakan ganasnya perang Gerilya.
Latar Belakang Terjadinya Perang Vietnam
Pada saat Perang Dunia II baru berakhir, terdapat gejala bahwa
Negara-negara yang masih terjajah dikuasai semangat untuk melepaskan
diri dari penjajahan. Keinginan ini juga dimiliki oleh Ho Chi Minh, pemimpin
Viet Minh, yang merupakan gerakan populer yang beranggotakan orangorang katolik, budha, pengusaha kecil, orang-orang Komunis dan para
petani untuk memerdekakan diri dari kolonialisme Perancis. Sebelum

masa penjajahan Perancis, Vietnam dijajah oleh Tiongkok sejak tahun 110
SM sampai mencapai kemerdekaan pada tahun 938. Setelah bebas dari
belenggu penjajahan Tiongkok, Vietnam tidak berhenti menentang
serangan pihak asing.
Pada abad ke-19, Vietnam menjadi wilayah jajahan Perancis.
Perancis menguasai Vietnam setelah melakukan beberapa perang
kolonial di IndoChina mulai dari tahun 1840an. Ekspansi kekuasaan
Perancis disebabkan keinginan untuk menyaingi kebangkitan Britania
Raya dan kebutuhan untuk mendapatkan hasil bumi seperti rempahrempah untuk menggerakkan industri di Perancis untuk menyaingi
penguasaan industri Inggris. Semasa pemerintahan Perancis, golongan
rakyat Vietnam dibakar semangat nasionalisme dan ingin kemerdekaan
dari Perancis. Beberapa pemberontakan dilakukan oleh banyak kelompokkelompok nasionalis, tetapi usaha mereka gagal. Pada tahun 1919,
semasa Perjanjian Versailles dirundingkan, Ho Chi Minh meminta untuk
bersama-sama membuat perundingan agar Vietnam dapat merdeka.
Permintaannya ditolak dan Vietnam dan seluruh IndoChina terus menjadi
jajahan Perancis.
Semasa Perang Dunia II, Office of Strategic Services atau OSS (kini
CIA) memberikan bantuan ketentaraan kepada Ho Chi Minh. Selepas
Perang Dunia II, Amerika Serikat melihat Viet Minh dengan kesangsian,
karena pegangan Komunisme Viet Minh. Walaupun demikian, pegawaipegawai OSS masih ditugaskan untuk tujuan penyelarasan dengan Viet
Minh. OSS memberikan bantuan kepada Viet Minh untuk mengurus
pengiriman pulang anggota tentara Amerika yang telah menjadi tawanan
perang Jepang dan ditahan di Vietnam. Pada 26 September 1945, Lt. Col.
A. Peter Dewey seorang pegawai OSS ditembak mati oleh Viet Minh,
menjadikan beliau anggota tentara pertama terbunuh di Vietnam.
Dengan tercetusnya Perang Korea, Presiden Harry S. Truman
meningkatkan bantuan ketentaraan kepada kerajaan Perancis untuk
memungkinkan kemenangan Perancis mengatasi pemberontakan oleh

Viet Minh. Harry S. Truman mengumumkan "acceleration in the furnishing


of military assistance to the forces of France and the Associated States in
Indochina" dan mengirim 123 orang pegawai tentara ke Vietnam untuk
membantu Perancis dalam perang. Pada tahun 1951, Presiden Harry S.
Truman membuat sumbangan $150 juta untuk membantu membiayai
perang Perancis di Vietnam.
Presiden Dwight D. Eisenhower menggunakan kuasa Tentara
Amerika Serikat untuk membantu pertumbuhan sebuah Negara bukan
Komunis di Vietnam Selatan. Eisenhower sangat risau akan kejayaan
pihak Komunis dalam perluasan pengaruhnya di Asia Tenggara. 142,000
orang anggota tentara Amerika Serikat terbunuh di Korea dalam usaha
penghadangan Komunisme di Semenanjung Korea. Di Malaya,
Eisenhower melihat Tentara Inggris dan anak-anak Malaya bergelut
menentang pemberontakan oleh Partai Komunis Malaya. Amerika Serikat
melihat ini sebagai bagian dari raencana besar Komunisme untuk berpijak
dan menularkan pahamnya ke seluruh pelosok dunia.
Eisenhower tidak ingin pengorbanan besar di Korea akan menjadi
sia-sia sekiranya Komunisme berhasil menguasai Asia Tenggara. Tetapi
Eisenhower menghadapi kesukaran mendapatkan dukungan publik untuk
melibatkan diri dalam satu lagi peperangan selepas Perang Korea. Dwight
D. Eisenhower menggunakan pasukan-pasukan kecil "penasihat tentara"
yang disebut Kumpulan Bantuan Penasihat Tentara (Military Assistance
Advisory Group) ataupun MAAG ke Vietnam Selatan untuk membantu
Vietnam Selatan menentang Komunisme.
Pada 1 November 1955, Dwight D. Eisenhower mengirim rombongan
pertama MAAG ke Vietnam Selatan untuk memberikan latihan kepada
Tentara Vietnam Selatan (ARVN). Ini merupakan permulaan campur
tangan resmi Amerika Serikat di dalam perang Vietnam. Pada 8 Julai,
1958, Charles Ovnand and Dale R. Buis menjadi anggota MAAG pertama
terbunuh semasa bertugas di Vietnam.

Pada akhirnya, Kelompok Viet Minh berhasil mendapat dukungan


dan mengusir Perancis dari Vietnam. Selama Perang Dunia II, Vietnam
dikuasai oleh Jepang. Pemerintah Perancis Vichy bekerjasama dengan
Jepang yang mengirim tentara ke IndoChina sebagai pasukan yang
berkuasa secara de facto di kawasan tersebut. Pemerintah Perancis Vichy
tetap menjalankan pemerintahan seperti biasa sampai tahun 1944 ketika
Perancis Vichy jatuh setelah tentara sekutu menaklukan Perancis dan
jendral Charles de Gaulle diangkat sebagai pemimpin Perancis. Setelah
pemerintah Perancis Vichy tumbang, pemerintah Jepang menggalakkan
kebangkitan pergerakan nasionalis di kalangan rakyat Vietnam. Pada
akhir Perang Dunia II, Vietnam diberikan kemerdekaan oleh pihak Jepang.
Ho Ch Minh kembali ke Vietnam untuk membebaskan negaranya agar
tidak dijajah oleh kekuasaan asing.
Ho Chi Minh mengharapkan bantuan Amerika untuk bisa lepas dari
Perancis dan menegaskan bahwa dirinya bukan Komunis. Ho Chi Minh
mengharapkan negara Amerika Serikat akan menyokong negara baru di
Vietnam, walaupun negara baru itu sebuah negara di bawah pengaruh
Komunis. Harapan beliau Amerika Serikat akan mengkotakan ucapanucapan Franklin D. Roosevelt yang menentang kolonialisme Eropa
selepas Perang Dunia II. Franklin D. Roosevelt ingin agar rakyat negaranegara Dunia Ketiga menentukan nasib mereka sendiri. Ho Chi Minh pun
mengirimkan surat terpisah kepada dua belas petinggi gedung putih dan
juga ke komisi luar negeri senat AS agar mereka memahami atau
memberi dukungan moral untuk menyuarakan perjuangannya lepas dari
kolonialisme Perancis. Namun AS tidak membaca suratnya dan menolak
permintaan bantuannya dan justru melibatkan diri di Vietnam dengan
membantu Perancis.
Di bawah pimpinan Harry S. Truman, Amerika Serikat tidak
membantah Perancis menduduki semula tanah-tanah jajahannya,
termasuk Vietnam, selepas tamat perang. Amerika bahkan menawarkan
ke pihak prancis dua bom atom, yang dengan penuh maaf ditolak oleh

Perancis. Setelah gagal mendapatkan bantuan dari Amerika, akhirnya Ho


Chi Minh berpaling mencari bantuan ke pihak Komunis (Uni Soviet dan
Cina).
Terpecahnya Vietnam
Ho Chi Minh berhasil mengalahkan lawannya dalam pertempuran di
Dien Bien Phu, 7 Mei 1954 dengan kemenangan telak. Setelah
kemenangan tersebut, diadakan perundingan di Jenewa antara pihak Viet
Minh dan Perancis, dan mereka menandatangani beberapa kesepakatan.
Kesepakatan penting dalam perjanjian tersebut membagi Vietnam untuk
sementara waktu menjadi 2 dengan garis lintang 17 derajat sebagai batas.
Orang-orang Komunis di bawah Ho Chi Minh mendapatkan
mendapatkan bagian utara, sedangakan rezim Bao Dai diberi wilayah
selatan. Dalam perundingan tersebut juga disepakati tentang
penyelenggaraan pemilu akan diselenggarakan dua tahun lagi untuk
menyatukan kembali Negara tersebut. Amerika serikat menentang
penyelenggaraan pemilu nasional karena khawatir Ho Chi Minh akan
keluar sebagai pemenang. Oleh karena itu, AS menolak untuk
menandatangani persetujuan Jenewa. Bagi Amerika, jika pemilu nasional
diadakan bulan 1956 dan jika Viet Minh tidak berkeberatan hampir bisa
akan menang. Itulah mengapa AS berusaha membekengi Vietnam selatan
untuk menolak pemilu tersebut. Semua orang yang memahami masalah
indocina selalu mengatakan bahwa jika pemilu diselenggarakan di masa
perjuangan, kemungkinan 80 persen penduduk akan lebih memilih Ho Chi
Minh sebagai pemimpin mereka.
Dalam usahanya mengalahkan Ho Chi Minh, CIA menempatkan Ngo
Dhin Diem yang fasistik untuk menguasai bagian selatan. CIA pun
menyebarkan propaganda buruk tentang Ho Chi Minh. Menakut-nakuti
orang selatan bahwa Ho sedang mengerahkan orang-orang utara untuk
menyerbu ke selatan. Informasi seperti ini diharapkan dapat turut
memunculkan dorongan dari warga Amerika agar Amerika secepatnya
melakukan tindakan terhadap Ho.

Pihak Komunis memang bersiap sedia untuk menyerang Vietnam


Selatan, sejak sebelum Perjanjian Geneva ditandatangani. Persiapan ini
dibuat sekiranya penyatuan tidak dapat dicapai melalui kemenangan
dalam pilihanraya. Ho Chi Minh memerintahkan beribu-ribu orang agen
Komunis untuk menyusup masuk ke Vietnam Selatan, dan menyediakan
tempat tersembunyi untuk simpanan senjata.
Taktik CIA selanjutnya, yakni pada tahun 1954, CIA memanaskan
situasi dengan menjalankan Operasi Phoenix sehingga pemilu nasional
yang direncanakan berlangsung pada tahun 1956, sesuai dengan
persetujuan Jenewa, gagal dilaksanakan. Terdapat 2 pelanggaran
terhadap persetujuan Jenewa yang dilakukan oleh pihak selatan. Yang
pertama, Ngo Dhin Diem, dibawah perlindungan AS melakukan
pelanggaran terhadap persetujuan jenewa dengan menolak berpartisipasi
pada pemilu nasional itu. Uni Soviet mengusulkan pemisahan permanen
antara Vietnam utara dan Vietnam selatan, menjadi dua Negara yang
diakui oleh PBB. Usul ini ditolak oleh AS yang tidak mau mengakui
Vietnam yang Komunis. Pada akhirnya diadakan pemilu, namun hanya
diadakan di Selatan dan peristiwa ini menandai terbentuknya Republik
Vietnam (dikenal luas dengan nama Vietnam Selatan) dengan Ngo Dhin
Diem sebagai presiden pertamanya. Pelanggaran yang ke dua terhadap
persetujuan Jenewa dilakukan secara langsung oleh AS dengan
mengirimkan penasehat-penasehat militernya untuk melatih tentara
Republik Vietnam.
Aksi pertama Diem sebagai presiden adalah mengembalikan lagi
tanah yang dibagi-bagikan kepada petani oleh Viet Minh kepada tuan-tuan
tanah. Ini tentu sangat menyebabkan penderitaan bagi petani-petani
Vietnam. Ditambah pula atas saran Amerika, Diem juga memaksa para
petani meninggalkan rumah-rumah mereka dan memindahkan mereka ke
pemukiman yang diawasi ketat demi membendung dan menahan aktivitas
kaum Komunis. Tindakan Diem ini tentu tidak diterima begitu saja oleh
rakyat Vietnam selatan. Rakyat Vietnam selatan melakukan perlawanan

mendalam terhadap pemerintahan Diem. Benih-benih kekecewaan inilah


yang memicu pembentukan front pembebasan nasional (NLF), pada tahun
1960. NLF adalah sebuah kelompok yang bertekad menjatuhkan Diem
dan menyatukan kembali Vietnam. Ho Chi Minh menjadi nadi penting bagi
NLF di Vietnam Selatan dan menjadi sasaran serangan udara oleh
Tentara Udara Amerika Serikat. NLF dibekali senjata oleh tentara Vietnam
selatan melalui terusan Ho Chi Minh.
Ho Chi Minh menerima senjata dan peralatan lain dari Uni Soviet dan
China melalui Pelabuhan Haiphong. Peralatan dan senjata ini
kemudiannya diantar melalui terusan Truong Son (dipanggil terusan Ho
Chi Minh oleh pihak Amerika Serikat) kepada NLF dan Viet Cong di
Vietnam Selatan. terusan Truong Son ini melalui negara jiran Laos dan
Kamboja, dan berakhir kira-kira 50 km di luar Saigon. Hal ini merumitkan
keadaan, dan Amerika Serikat tertekan karena tidak dapat menyerang
terusan ini tanpa memasuki ataupun menaklukkan kawasan negaranegara tersebut. Dalam masa yang sama, Laos dan Kemboja sendiri
menghadapi pemberontakan oleh kumpulan-kumpulan Komunis di negara
mereka. Di Laos, kumpulan Pathet Lao dipengaruhi dan dilengkapkan
oleh Vietnam Utara. Kamboja secara rahasia membenarkan kawasannya
digunakan oleh Vietnam Utara untuk pengiriman senjata kepada
pemberontak di Vietnam Selatan.
Penentangan terhadap pemerintahan Ngo Dinh Diem semakin kuat
dan terbuka, Vietnam Utara mencetuskan satu insurgensi di Vetnam
Selatan. Barisan Pembebasan Kebangsaan (National Liberation Front)
diurus, dibiayai dan diberikan perbekalan oleh Vietnam Utara. Amerika
Serikat, Kesatuan Soviet dan Republik Rakyat China semakin terlibat.Satu
tahun sebelum Amerika mengangkut pasukan militernya untuk
mengibarkan perang, situasi Vietnam makin memanas. Pada tahun 1963,
dibawah presiden Kennedy, AS menempatkan penasihat-penasihat militer
di Vietnam selatan.

Di Balik Perang Vietnam


Pada tahun 1961, presiden AS yang baru dipilih, Kennedy,
mengirimkan 100 penasihat militernya yang pertama bersama dengan
satu unit khusus dengan 400 tentara ke Vietnam. Pada tahun berikutnya,
AS menambah jumlah pasukannya di Vietnam menjadi 11.000 tentara.
Pada bulan Maret 1965, pesawat tempur AS memulai Operation
Rolling Thunder, pemboman besar-besaran terhadap Vietnam Utara.
Sekitar tiga setengah tahun kemudian, bom-bom dijatuhkan di sekitar
Vietnam Utara yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari jumlah bom
yang dijatuhkan pada Perang Dunia II.
Resolusi Konflik
Pada 27 Januari 1973 perjanjian perdamaian ditandatangani di Paris
oleh AS, Vietsel, Vietnam Utara, dan Viet Cong, dan sebulan kemudian
perjanjian perdamaian juga tercapai di Laos. Bulan Maret 1973 penarikan
pasukan Amerika dinyatakan telah selesai, dan semua markas MACV (US
Military Assistance Command Vietnam) ditutup. Pada waktu bersamaan
pihak komunis membebaskan 590 tawanan Amerika. Akhir tahun itu
jumlah kontingen militer AS di Vietnam dibatasi hanya 50 orang. Tercatat
pada saat itu 46.163 personel AS killed in action di Vietnam, sedangkan
Vietsel sudah mencapai lima kali lipatnya atau 223.748 yang tewas. Tahun
itu semua pasukan asing lainnya juga telah ditarik dari Vietnam.
Sekalipun Perjanjian Paris sudah diteken, namun di lapangan
pasukan Vietnam Utara/VC tetap bertempur dengan pasukan Vietsel. Awal
Januari 1975 Hanoi memerintahkan ofensif besarbesaran untuk
`membebaskan' Vietsel. Pasukan Vietnam Utara terang-terangan
menyerbu lewat perbatasan. Bulan Maret Presiden Vietsel Nguyen Van
Thieu yang berkuasa sejak 1967 memerintahkan pengunduran din
pasukannya dan kawasan dataran tinggi di Vietnam Tengah. Maksudnya
untuk memusatkan pertahanan Vietsel di wilayah sekitar Saigon. Namun
ternyata pengunduran diri itu menjatuhkan moril tentara Vietsel, sehingga
satu persatu wilayah kekuasaan Vietsel dengan cepat jatuh ke tangan

Vietnam Utara, seperti Quang Tri, Hue, Da Nang, Qui Nhon, Nha Trang,
dan lain-lainnya.
Pada 12 April Nguyen Van Thieu mengundurkan diri, digantikan oleh
Jenderal Duong Van Minh sebagai presiden sementara. "Big Minh"
didampingi Marsekal Nguyen Cao Ky yang tetap menjadi wapres.
Keadaan bertambah kacau. Pesawat AS mengungsikan anak dan bayi
yatimpiatu dalam operasi kemanusiaan. Pengungsian juga dilakukan oleh
Kedubes AS serta keluarganya dengan helikopter dari Saigon ke kapalkapal induk AS yang menunggu di Laut China Selatan. Semula akan
dilakukan dengan pesawat C-130 Hercules yang disiapkan di pangkalan
udara Tan Son Nhut dekat Saigon. Tetapi karena pangkalan ini mulai
terjangkau tembakan meriam Vietnam Utara yang sempat mengenai
sebuah Hercules, maka Dubes Graham Martin terpaksa memerintahkan
semua Hercules terbang dan sebagai gantinya dipakai helikopter.
Pada 29 April tentara Vietnam Utara mencapai Saigon. Dua kopral
marinir yang menjadi anggota kontingen AS di Saigon terkena pecahan
roket pasukan Utara. Mereka adalah anggota militer AS terakhir yang
tewas di bumi Vietnam. Pertempuran dan pertumpahan darah hebat
memperebutkan kota ini praktis tidak terjadi sebagaimana ditakutkan.
Tentara Vietsel sudah jatuh semangat dan morilnya. Tanggal 30 April
pasukan Vietnam Utara dengan tank-tanknya mendobrak gerbang istana
kepresidenan, dan tragedi perang Vietnam pun berakhir.