Anda di halaman 1dari 72
PENGERTIAN PERSEDIAAN Stok bahan/barang yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan Stok bahan/barang 
PENGERTIAN PERSEDIAAN Stok bahan/barang yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan Stok bahan/barang 

PENGERTIAN PERSEDIAAN

Stok bahan/barang yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan

PENGERTIAN PERSEDIAAN Stok bahan/barang yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan Stok bahan/barang 
PENGERTIAN PERSEDIAAN Stok bahan/barang yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan Stok bahan/barang 
PENGERTIAN PERSEDIAAN Stok bahan/barang yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan Stok bahan/barang 

Stok bahan/barang bahan baku bahan penolong bahan dalam proses barang jadi

PENGERTIAN PERSEDIAAN Stok bahan/barang yang digunakan untuk memudahkan produksi atau untuk memuaskan permintaan Stok bahan/barang 

1

JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan fungs i  Batch  Pipeline/transit  Anticipation  Berdasarkan bentuk dan
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan fungs i  Batch  Pipeline/transit  Anticipation  Berdasarkan bentuk dan
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan fungs i  Batch  Pipeline/transit  Anticipation  Berdasarkan bentuk dan
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan fungs i  Batch  Pipeline/transit  Anticipation  Berdasarkan bentuk dan

JENIS-JENIS PERSEDIAAN

Berdasarkan fungsi Batch stock Pipeline/transit inventory Anticipation stock Berdasarkan bentuk dan posisi barang Bahan baku Bagian produk Bahan pembantu Barang setengah jadi Barang jadi

2

JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan sumbernya  Diproduksi  Dibeli dari luar  Berdasarkan pola permintaan 
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan sumbernya  Diproduksi  Dibeli dari luar  Berdasarkan pola permintaan 

JENIS-JENIS PERSEDIAAN

Berdasarkan sumbernya Diproduksi sendiri Dibeli dari luar Berdasarkan pola permintaan Permintaan satuan Permintaan per lot Berdasarkan keterkaitan permintaan Permintaan bebas Permintaan tidak bebas

JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan sumbernya  Diproduksi  Dibeli dari luar  Berdasarkan pola permintaan 
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan sumbernya  Diproduksi  Dibeli dari luar  Berdasarkan pola permintaan 
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan sumbernya  Diproduksi  Dibeli dari luar  Berdasarkan pola permintaan 
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan sumbernya  Diproduksi  Dibeli dari luar  Berdasarkan pola permintaan 
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan sumbernya  Diproduksi  Dibeli dari luar  Berdasarkan pola permintaan 

3

JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan harga barang  Barang berharga tinggi  Barang berharga menengah  Barang
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan harga barang  Barang berharga tinggi  Barang berharga menengah  Barang
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan harga barang  Barang berharga tinggi  Barang berharga menengah  Barang
JENIS-JENIS PERSEDIAAN  Berdasarkan harga barang  Barang berharga tinggi  Barang berharga menengah  Barang

JENIS-JENIS PERSEDIAAN

Berdasarkan harga barang

Barang berharga tinggi Barang berharga menengah Barang berharga rendah Berdasarkan frekuensi penggunaan Barang yang cepat pemakaian/pergerakannya Barang yang lambat pemakaiannya

4

KENAPA PERSEDIAAN MUNCUL ?  Ketidaktahuan/adanya ketidakpastian  Perbedaan lokasi/jarak  Untuk mencapai skala ekonomi 
KENAPA PERSEDIAAN MUNCUL ?  Ketidaktahuan/adanya ketidakpastian  Perbedaan lokasi/jarak  Untuk mencapai skala ekonomi 
KENAPA PERSEDIAAN MUNCUL ?  Ketidaktahuan/adanya ketidakpastian  Perbedaan lokasi/jarak  Untuk mencapai skala ekonomi 
KENAPA PERSEDIAAN MUNCUL ?  Ketidaktahuan/adanya ketidakpastian  Perbedaan lokasi/jarak  Untuk mencapai skala ekonomi 

KENAPA PERSEDIAAN MUNCUL ?

Ketidaktahuan/adanya ketidakpastian Perbedaan lokasi/jarak Untuk mencapai skala ekonomi

Perbedaan waktu antara produksi dengan konsumsi

KENAPA PERSEDIAAN MUNCUL ?  Ketidaktahuan/adanya ketidakpastian  Perbedaan lokasi/jarak  Untuk mencapai skala ekonomi 

5

FUNGSI PERSEDIAAN  Menghubungkan antara operasi yang berurutan  Mangantisipasi keterlambatan datangnya barang  Menumpuk bahan

FUNGSI PERSEDIAAN

FUNGSI PERSEDIAAN  Menghubungkan antara operasi yang berurutan  Mangantisipasi keterlambatan datangnya barang  Menumpuk bahan
FUNGSI PERSEDIAAN  Menghubungkan antara operasi yang berurutan  Mangantisipasi keterlambatan datangnya barang  Menumpuk bahan

Menghubungkan antara operasi yang berurutan Mangantisipasi keterlambatan datangnya barang Menumpuk bahan yang dihasilkan secara musiman Mencapai penggunaan mesin secara optimal Menjamin kelancaran proses produksi Pelayanan yang baik

FUNGSI PERSEDIAAN  Menghubungkan antara operasi yang berurutan  Mangantisipasi keterlambatan datangnya barang  Menumpuk bahan
FUNGSI PERSEDIAAN  Menghubungkan antara operasi yang berurutan  Mangantisipasi keterlambatan datangnya barang  Menumpuk bahan
FUNGSI PERSEDIAAN  Menghubungkan antara operasi yang berurutan  Mangantisipasi keterlambatan datangnya barang  Menumpuk bahan

6

MANAJEMEN PERSEDIAAN Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan material/barang
MANAJEMEN PERSEDIAAN Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan material/barang
MANAJEMEN PERSEDIAAN Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan material/barang
MANAJEMEN PERSEDIAAN Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan material/barang
MANAJEMEN PERSEDIAAN
MANAJEMEN PERSEDIAAN

Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penentuan kebutuhan material/barang lainnya sedemikian rupa sehingga di satu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan di lain pihak investasi persediaan material/barang lainnya dapat ditekan secara optimal

7

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN Penentuan jumlah dan jenis barang yang disimpan haruslah sedemikian rupa sehingga produksi dan
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN Penentuan jumlah dan jenis barang yang disimpan haruslah sedemikian rupa sehingga produksi dan
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN Penentuan jumlah dan jenis barang yang disimpan haruslah sedemikian rupa sehingga produksi dan
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN Penentuan jumlah dan jenis barang yang disimpan haruslah sedemikian rupa sehingga produksi dan

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN

Penentuan jumlah dan jenis barang yang disimpan haruslah sedemikian rupa sehingga produksi dan operasi perusahaan tidak terganggu, tetapi dilain pihak sekaligus harus dijaga agar biaya investasi yang timbul dari penyediaan barang tersebut seminimal mungkin TUJUAN PERENCANAAN DAN PENGENDALIAAN PERSEDIAAN Menjaga jangan sampai kehabisan persediaan

Menjaga agar persediaan tidak terlalu besar dan tidak

terlalu kecil

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN Penentuan jumlah dan jenis barang yang disimpan haruslah sedemikian rupa sehingga produksi dan

8

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN Akan menyangkut pertanyaan-pertanyaan berikut:  Apa yang harus disediakan  Berapa jumlah yang
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN Akan menyangkut pertanyaan-pertanyaan berikut:  Apa yang harus disediakan  Berapa jumlah yang

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN

Akan menyangkut pertanyaan-pertanyaan berikut:

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN Akan menyangkut pertanyaan-pertanyaan berikut:  Apa yang harus disediakan  Berapa jumlah yang
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN Akan menyangkut pertanyaan-pertanyaan berikut:  Apa yang harus disediakan  Berapa jumlah yang

Apa yang harus disediakan Berapa jumlah yang harus disediakan Kapan pemesanan harus dilakukan

Dari mana sumbernya, apakah dibuat sendiri atau dibeli. Kalau dibeli dari pemasok mana

Bagaimana sistem pengendaliannya Dst

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN Akan menyangkut pertanyaan-pertanyaan berikut:  Apa yang harus disediakan  Berapa jumlah yang

9

JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan banyak      Dapat menjamin kelancaran produksi
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan banyak      Dapat menjamin kelancaran produksi
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan banyak      Dapat menjamin kelancaran produksi
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan banyak      Dapat menjamin kelancaran produksi

JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN

Keuntungan persediaan banyak

Dapat menjamin kelancaran produksi dan pelayanan terhadap konsumen Menimbulkan kepercayaan terhadap konsumen Harga per unit barang bisa lebih rendah Kerugian akibat kenaikan harga dikemudian hari bisa dihindari Pengangkutan lebih ekonomis Total biaya pemesanan per periode bisa lebih rendah

10

JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan kecil  Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit  Uang
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan kecil  Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit  Uang

JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN

Keuntungan persediaan kecil Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit Uang yang terikat pada persediaan lebih sedikit Biaya asuransi lebih rendah Persediaan selalu baru Persediaan yang lama nampaknya akan menjadi kecil

JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan kecil  Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit  Uang
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan kecil  Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit  Uang
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan kecil  Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit  Uang
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan kecil  Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit  Uang
JUMLAH YANG HARUS DISEDIAKAN Keuntungan persediaan kecil  Ruang penyimpanan yang digunakan lebih sedikit  Uang

11

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN  Tingkat permintaan/kebutuhan  Tenggang waktu pengadaan  Fasilitas penyimpanan yang ada
FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN  Tingkat permintaan/kebutuhan  Tenggang waktu pengadaan  Fasilitas penyimpanan yang ada
FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN  Tingkat permintaan/kebutuhan  Tenggang waktu pengadaan  Fasilitas penyimpanan yang ada
FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN  Tingkat permintaan/kebutuhan  Tenggang waktu pengadaan  Fasilitas penyimpanan yang ada

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN

Tingkat permintaan/kebutuhan Tenggang waktu pengadaan Fasilitas penyimpanan yang ada Sifat bahan/barang yang akan disimpan Tingkat pelayanan yang diharapkan Biaya-biaya persediaan

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN  Tingkat permintaan/kebutuhan  Tenggang waktu pengadaan  Fasilitas penyimpanan yang ada

Jumlah persediaan yang masih ada

12

BEBERAPA HAMBATAN DALAM MANAJEMEN PERSEDIAAN

BEBERAPA HAMBATAN DALAM MANAJEMEN PERSEDIAAN  Tidak ada ukuran kinerja yang jelas  Status pesanan tidak

Tidak ada ukuran kinerja yang jelas Status pesanan tidak akurat Sistem informasi tidak handal Kebijakan persediaan terlalu sederhana dan mengabaikan ketidakpastiaan Biaya-biaya persediaan tidak ditaksir dengan benar Keputusan supply chain yang tidak terintegrasi

PERSYARATAN SISTEM

PERSYARATAN

SISTEM PERSEDIAAN

PERSEDIAAN

Gudang

Gudang yang

yang memadai

memadai

Wewenang

Wewenang dan

dan tanggung

tanggung jawab

jawab

Sistem

Sistem pencatatan

pencatatan dan

dan pemeriksaan

pemeriksaan

Pengawasan

Pengawasan mutlak

mutlak atas

atas pengeluaran

pengeluaran

bahan/barang

bahan/barang

Pencatatan

Pencatatan yang

yang teliti

teliti mengenai

mengenai jumlah

jumlah

ygyg dipesan,

dipesan, dikeluarkan

dikeluarkan dan

dan ygyg tersedia

tersedia

Perencanaan

Perencanaan untuk

untuk menggantikan

menggantikan barang

barang

ygyg telah

telah dikeluarkan

dikeluarkan dan

dan barang

barang ygyg sudah

sudah

usang

usang

TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN  Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli  Menentukan bilamana pesanan
TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN  Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli  Menentukan bilamana pesanan

TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN

Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli

TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN  Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli  Menentukan bilamana pesanan
TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN  Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli  Menentukan bilamana pesanan

Menentukan bilamana pesanan akan dilakukan Memeriksa barang yang diterima Memelihara barang di gudang Mengadakan, pemeriksaan dan penganalisaan Mengadakan administrasi gudang

TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN  Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli  Menentukan bilamana pesanan
TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN  Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli  Menentukan bilamana pesanan
TUGAS-TUGAS BAGIAN PERSEDIAAN  Menentukan jenis dan jumlah barang-barang yg harus dibeli  Menentukan bilamana pesanan

15

BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN  Biaya satuan produk  Biaya pemesanan/persiapan  Biaya pengadaan/penyimpanan  biaya  biaya
BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN  Biaya satuan produk  Biaya pemesanan/persiapan  Biaya pengadaan/penyimpanan  biaya  biaya

BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN

Biaya satuan produk Biaya pemesanan/persiapan Biaya pengadaan/penyimpanan biaya modal biaya gudang biaya penyusutan, kerusakan biaya keusangan dan kehilangan Biaya kehabisan stok

BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN  Biaya satuan produk  Biaya pemesanan/persiapan  Biaya pengadaan/penyimpanan  biaya  biaya
BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN  Biaya satuan produk  Biaya pemesanan/persiapan  Biaya pengadaan/penyimpanan  biaya  biaya
BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN  Biaya satuan produk  Biaya pemesanan/persiapan  Biaya pengadaan/penyimpanan  biaya  biaya
BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN  Biaya satuan produk  Biaya pemesanan/persiapan  Biaya pengadaan/penyimpanan  biaya  biaya
BIAYA-BIAYA PERSEDIAAN  Biaya satuan produk  Biaya pemesanan/persiapan  Biaya pengadaan/penyimpanan  biaya  biaya

16

CARA-CARA PENENTUAN JUMLAH PERSEDIAAN  Penentuan secara fisik  Book Inventories METODE PENILAIAN PERSEDIAAN  First-In
CARA-CARA PENENTUAN JUMLAH PERSEDIAAN  Penentuan secara fisik  Book Inventories METODE PENILAIAN PERSEDIAAN  First-In
CARA-CARA PENENTUAN JUMLAH PERSEDIAAN  Penentuan secara fisik  Book Inventories METODE PENILAIAN PERSEDIAAN  First-In

CARA-CARA PENENTUAN JUMLAH

PERSEDIAAN

Penentuan secara fisik Book Inventories

METODE PENILAIAN PERSEDIAAN

First-In First-Out (FIFO) Average Method Last-In First-Out (LIFO)

CARA-CARA PENENTUAN JUMLAH PERSEDIAAN  Penentuan secara fisik  Book Inventories METODE PENILAIAN PERSEDIAAN  First-In

17

Cara First in First Out (FIFO Method) D idasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang sudah
Cara First in First Out (FIFO Method) D idasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang sudah
Cara First in First Out (FIFO Method) D idasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang sudah
Cara First in First Out (FIFO Method) D idasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang sudah

Cara First in First Out (FIFO Method)

Didasarkan atas asumsi bahwa harga barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pembelian yang terdahulu masuk. Dengan persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk. Contoh:

1 Jan Persediaan awal 200 unit @ Rp.10,00= Rp 2.000,00

  • 12 Jan Pembelian 400 unit

  • 24 Jan Pembelian 300 unit

  • 30 Jan Pembelian 100 unit

@ Rp.12,00= Rp 4.800,00 @ Rp.11,00= Rp 3.300,00

@ Rp.12,00= Rp 1.200,00

Total

11.300,00

1.000 unit

Rp

Misal persediaan akhir pada tanggal 31 Januari secara fisik menunjukan jumlah sebanyak 300 unit. Berapa

nilai persediaan dan harga pokok penjualannya?

18

CARA FIFO Dengan demikian nilai dari persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk

CARA FIFO

Dengan demikian nilai dari persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk sebagai berikut :

Pembelian yang terakhir dilakukan pada tanggal. 30 Januari, yaitu :

CARA FIFO Dengan demikian nilai dari persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk
CARA FIFO Dengan demikian nilai dari persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk
CARA FIFO Dengan demikian nilai dari persediaan akhir dinilai menurut harga pembelian barang yang terakhir masuk

unit

  • 100 @ Rp. 12,00

= Rp. 1.200,00

Pembelian terakhir sebelumnya adalah tanggal. 24 Januari, yaitu :

unit

  • 200 @ Rp. 11,00

= Rp. 2.200,00

  • 300 unit

= Rp. 3.400,00

Dengan demikian, bilamana persediaan akhir dicatat menurut harga sebesar Rp. 3.400,00 maka harga pokok penjualan (Cost of goods sold) nya adalah sebesar Rp. 7.900,00 (Rp. 11.300,- Rp. 3.400,00 ), dan hasil penjualan akan dikurangi sebesar jumlah tersebut yaitu seharga pembelian harga yang terdahulu masuk.

19

CARA LIFO Didasarkan atas asumsi bahwa barang yang telah dijual dinilai menurut harga barang yang terakhir
CARA LIFO Didasarkan atas asumsi bahwa barang yang telah dijual dinilai menurut harga barang yang terakhir
CARA LIFO Didasarkan atas asumsi bahwa barang yang telah dijual dinilai menurut harga barang yang terakhir
CARA LIFO Didasarkan atas asumsi bahwa barang yang telah dijual dinilai menurut harga barang yang terakhir

CARA LIFO

Didasarkan atas asumsi bahwa barang yang telah dijual

dinilai menurut harga barang yang terakhir masuk. Sehingga persediaan yang masih ada/stock, dinilai berdasarkan harga pembelian barang yang terdahulu. Dg. data yang sama, maka nilai persediaan menjadi:

Harga Pembelian Barang yang terdahulu masuk yaitu tanggal :

1 januari

200 unit

@ Rp. 10,00

= Rp. 2000,00

Pembelian selanjutnya yaitu tanggal :

12 Januari

100 unit

@ Rp. 12,00

= Rp.1.200,00

Total

300 unit

Rp. 3.200,00

Bila persediaan akhir itu dicatat sebesar Rp.3.200,00 maka harga pokok penjualan (Cost of goods sold) nya menjadi Rp. 8.100,00 (Rp. 11.300,00-Rp.3.200,00) dan penjualan dikurangi sebesar jumlah tersebut.

20

RATA-RATA SEDERHANA Didasarkan atas harga rata-rata, maka dengan data yang sama dengan di atas, nilai persediaan
RATA-RATA SEDERHANA Didasarkan atas harga rata-rata, maka dengan data yang sama dengan di atas, nilai persediaan
RATA-RATA SEDERHANA Didasarkan atas harga rata-rata, maka dengan data yang sama dengan di atas, nilai persediaan
RATA-RATA SEDERHANA Didasarkan atas harga rata-rata, maka dengan data yang sama dengan di atas, nilai persediaan

RATA-RATA SEDERHANA

Didasarkan atas harga rata-rata, maka dengan data yang sama dengan di atas, nilai persediaan dan harga pokoknya menjadi:

Harga rata - rata = (10 + 12 + 11 +12)/4 = 11,25

Maka nilai persediaan = 300 unit x Rp 11,25 = Rp 3.375 dan Harga pokoknya Rp 11.300 - Rp 3.375 =

Rp 7.925

RATA-RATA SEDERHANA Didasarkan atas harga rata-rata, maka dengan data yang sama dengan di atas, nilai persediaan

21

RATA-RATA TERTIMBANG Didasarkan atas harga rata-rata dimana harga tersebut dipengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada
RATA-RATA TERTIMBANG Didasarkan atas harga rata-rata dimana harga tersebut dipengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada

RATA-RATA TERTIMBANG

Didasarkan

atas

harga

rata-rata

dimana

harga

tersebut

dipengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada masing-masing harganya. Dengan data yang sama, maka nilai persediaan sbb:

1 Jan Persediaan awal 200 unit @ Rp. 10,00 = Rp. 2.000,00

RATA-RATA TERTIMBANG Didasarkan atas harga rata-rata dimana harga tersebut dipengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada
RATA-RATA TERTIMBANG Didasarkan atas harga rata-rata dimana harga tersebut dipengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada
RATA-RATA TERTIMBANG Didasarkan atas harga rata-rata dimana harga tersebut dipengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada
  • 12 Jan Pembelian

400 unilt @ Rp. 12,00

= Rp. 4.800,00

  • 24 Jan Pembelian

300 unit @ Rp. 11,00 = Rp. 3.300,00

  • 30 Jan Pembelian

100 unit @ Rp. 12,00 = Rp. 1.200,00

Total 1000 unit

Rp. 11.300,00

Harga rata-rata ditimbang menjadi = Rp. 11.300,00 = Rp.11,30

1.000

Sehingga Nilai Persediaan Akhir menjadi :

300 unit @ Rp. 11,30 = Rp.3.390,00

Bila persediaan akhir dicatat sebesar Rp. 3.390,00 maka harga pokok penjualan (Cost of goods sold ) nya menjadi Rp. 7.910,00 (RP. 11.300,00 – 3.390,00 )

22

RATA-RATA BERGERAK Dalam metode ini, setiap ada barang baru datang, harga satuan dihitung secara rata-rata tertimbang,
RATA-RATA BERGERAK Dalam metode ini, setiap ada barang baru datang, harga satuan dihitung secara rata-rata tertimbang,

RATA-RATA BERGERAK

Dalam metode ini, setiap ada barang baru datang, harga satuan dihitung secara rata-rata tertimbang, demikian seterusnya.

Transaksi

Jml.

Harga/unit

Harga Total

Rata-rata

Barang

Bergerak

Persed. Awal

  • 200 10

2.000

10

Pembelian

  • 400 12

4.800

11,33

Pembelian

  • 300 11

3.300

11,22

Pembelian

  • 100 12

1.200

11,3

 

Tgl

1 Jan

12 Jan

24

Jan

30

Jan

RATA-RATA BERGERAK Dalam metode ini, setiap ada barang baru datang, harga satuan dihitung secara rata-rata tertimbang,
RATA-RATA BERGERAK Dalam metode ini, setiap ada barang baru datang, harga satuan dihitung secara rata-rata tertimbang,
RATA-RATA BERGERAK Dalam metode ini, setiap ada barang baru datang, harga satuan dihitung secara rata-rata tertimbang,
RATA-RATA BERGERAK Dalam metode ini, setiap ada barang baru datang, harga satuan dihitung secara rata-rata tertimbang,

23

ADMINISTRASI PERSEDIAAN Beberapa hal yang penting penyimpanan dan pemakaian Prosedur pembelian, penerimaan, Pembukuan dan Inventarisasi Pengawasan

ADMINISTRASI PERSEDIAAN

Beberapa hal yang penting

ADMINISTRASI PERSEDIAAN Beberapa hal yang penting penyimpanan dan pemakaian Prosedur pembelian, penerimaan, Pembukuan dan Inventarisasi Pengawasan
ADMINISTRASI PERSEDIAAN Beberapa hal yang penting penyimpanan dan pemakaian Prosedur pembelian, penerimaan, Pembukuan dan Inventarisasi Pengawasan

penyimpanan dan pemakaian

Prosedur pembelian, penerimaan,

ADMINISTRASI PERSEDIAAN Beberapa hal yang penting penyimpanan dan pemakaian Prosedur pembelian, penerimaan, Pembukuan dan Inventarisasi Pengawasan

Pembukuan dan Inventarisasi

Pengawasan

ADMINISTRASI PERSEDIAAN Beberapa hal yang penting penyimpanan dan pemakaian Prosedur pembelian, penerimaan, Pembukuan dan Inventarisasi Pengawasan
ADMINISTRASI PERSEDIAAN Beberapa hal yang penting penyimpanan dan pemakaian Prosedur pembelian, penerimaan, Pembukuan dan Inventarisasi Pengawasan

24

PROSEDUR PEMBELIAN, PENERIMAAN, PENYIMPANAN DAN PEMAKAIAN Bagian produksi menyerahkan daftar permintaan pembelian barang (meliputi :jenis br,

PROSEDUR PEMBELIAN, PENERIMAAN, PENYIMPANAN DAN PEMAKAIAN

PROSEDUR PEMBELIAN, PENERIMAAN, PENYIMPANAN DAN PEMAKAIAN Bagian produksi menyerahkan daftar permintaan pembelian barang (meliputi :jenis br,

Bagian produksi menyerahkan daftar permintaan

pembelian barang (meliputi :jenis br, Jml, waktu)

PROSEDUR PEMBELIAN, PENERIMAAN, PENYIMPANAN DAN PEMAKAIAN Bagian produksi menyerahkan daftar permintaan pembelian barang (meliputi :jenis br,
PROSEDUR PEMBELIAN, PENERIMAAN, PENYIMPANAN DAN PEMAKAIAN Bagian produksi menyerahkan daftar permintaan pembelian barang (meliputi :jenis br,

harga, pengangkutan,dsb)

Bagian pembelian mengurus pemesanan/pembelian

(Bag.Pembeliaan harus mengetahui data tt pemasok,

ke bag. Penyimpanan (gudang)

Bagian penerimaan memeriksa barang yg diterima,memberikan

lap. Ke bag pembelian, selanjutnya barang yg diterima diteruska

PROSEDUR PEMBELIAN, PENERIMAAN, PENYIMPANAN DAN PEMAKAIAN Bagian produksi menyerahkan daftar permintaan pembelian barang (meliputi :jenis br,

surat permintaan kepada bag. gudang

25

Bag.produksi bila memerlukan bahan, maka mengiri

PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar,
PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar,

PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI

Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar, kartu persediaan Faktur
Copy surat pesanan
Bag. Pembukuan mencatat
dlm buku pesanan, buku
pemakaian, buku besar,
kartu persediaan
Faktur
lap. penerimaan
Copy surat
permintaan pemakaian

Bag pembelian

Bag.penerimaan

PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar,
PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar,

Bag produksi

PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar,
PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar,
PEMBUKUAN DAN INVENTARISASI Copy surat pesanan Bag. Pembukuan mencatat dlm buku pesanan, buku pemakaian, buku besar,

26

PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock

PENGAWASAN PERSEDIAAN

PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock

Pengawasan Fisik

PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock
PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock
PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock
PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock

Pengawasan Akuntansi

PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock
PENGAWASAN PERSEDIAAN Pengawasan Fisik Pengawasan Akuntansi Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan, Stock

Pengawasan jumlah yang dibutuhkan (lead time, pemakaian, biaya penyimpanan,

Stock out cost, penyimpangan rata-rata wakt pemesanan dan pemakaian)

27

CATATAN PENTING DALAM PENGAWASAN PERSEDIAAN •Permintaan untuk dibeli •Laporan penerimaan •Catatan persediaan •Daftar permintaan bahan •Perkiraan

CATATAN PENTING DALAM PENGAWASAN

PERSEDIAAN

CATATAN PENTING DALAM PENGAWASAN PERSEDIAAN •Permintaan untuk dibeli •Laporan penerimaan •Catatan persediaan •Daftar permintaan bahan •Perkiraan
CATATAN PENTING DALAM PENGAWASAN PERSEDIAAN •Permintaan untuk dibeli •Laporan penerimaan •Catatan persediaan •Daftar permintaan bahan •Perkiraan

•Permintaan untuk dibeli

•Laporan penerimaan

•Permintaan untuk dibeli •Laporan penerimaan •Catatan persediaan •Daftar permintaan bahan •Perkiraan pengawasan

•Catatan persediaan •Daftar permintaan bahan •Perkiraan pengawasan

CATATAN PENTING DALAM PENGAWASAN PERSEDIAAN •Permintaan untuk dibeli •Laporan penerimaan •Catatan persediaan •Daftar permintaan bahan •Perkiraan

28

TOLOK UKUR KINERJA MANAJEMEN PERSEDIAAN  Tolok ukur efisiensi  Perputaran barang ( Turn over ratio/TOR)
TOLOK UKUR KINERJA MANAJEMEN PERSEDIAAN  Tolok ukur efisiensi  Perputaran barang ( Turn over ratio/TOR)

TOLOK UKUR KINERJA MANAJEMEN

PERSEDIAAN

Tolok ukur efisiensi

TOLOK UKUR KINERJA MANAJEMEN PERSEDIAAN  Tolok ukur efisiensi  Perputaran barang ( Turn over ratio/TOR)

Perputaran barang (Turn over ratio/TOR)

Tingkat persediaan Rasio persediaan surplus Rasio persediaan mati Rasio persediaan dan pendapatan

TOLOK UKUR KINERJA MANAJEMEN PERSEDIAAN  Tolok ukur efisiensi  Perputaran barang ( Turn over ratio/TOR)
TOLOK UKUR KINERJA MANAJEMEN PERSEDIAAN  Tolok ukur efisiensi  Perputaran barang ( Turn over ratio/TOR)

Tolok ukur efektivitas

Rasio layanan

29

PERPUTARAN PERSEDIAAN TOR: Rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan persediaan Makin tinggi TOR, berarti makin baik US$ 250.000
PERPUTARAN PERSEDIAAN TOR: Rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan persediaan Makin tinggi TOR, berarti makin baik US$ 250.000
PERPUTARAN PERSEDIAAN TOR: Rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan persediaan Makin tinggi TOR, berarti makin baik US$ 250.000

PERPUTARAN PERSEDIAAN

TOR: Rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan persediaan

Makin tinggi TOR, berarti makin baik

US$ 250.000

Contoh: Nilai persediaan akhir 2001

Nilai pemakaian barang 2001 US$ 200.000

PERPUTARAN PERSEDIAAN TOR: Rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan persediaan Makin tinggi TOR, berarti makin baik US$ 250.000
PERPUTARAN PERSEDIAAN TOR: Rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan persediaan Makin tinggi TOR, berarti makin baik US$ 250.000
PERPUTARAN PERSEDIAAN TOR: Rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan persediaan Makin tinggi TOR, berarti makin baik US$ 250.000

TOR akhir 2001 = Nilai pemakaian 2001 Nilai persediaan akhir 2001 = US$ 200.000 US$ 250.000 = 0.80 kali

30

TINGKAT PERSEDIAAN Tingkat persediaan = Nilai persediaan ($) Nilai pemakaian rata-rata = US$ 250.000 US$ 200.000/12
TINGKAT PERSEDIAAN Tingkat persediaan = Nilai persediaan ($) Nilai pemakaian rata-rata = US$ 250.000 US$ 200.000/12

TINGKAT PERSEDIAAN

Tingkat persediaan = Nilai persediaan ($)

Nilai pemakaian rata-rata

= US$ 250.000

TINGKAT PERSEDIAAN Tingkat persediaan = Nilai persediaan ($) Nilai pemakaian rata-rata = US$ 250.000 US$ 200.000/12

US$ 200.000/12

= 15 bulan (pemakaian)

RASIO PERSEDIAAN DAN PENDAPATAN

Nilai persediaan rata-rata = US$ 123.500.000

Jumlah pendapatan 2001 = US$ 200.000.000

Jadi rasio persedian dan pendapatan =

61,75%

TINGKAT PERSEDIAAN Tingkat persediaan = Nilai persediaan ($) Nilai pemakaian rata-rata = US$ 250.000 US$ 200.000/12
TINGKAT PERSEDIAAN Tingkat persediaan = Nilai persediaan ($) Nilai pemakaian rata-rata = US$ 250.000 US$ 200.000/12
TINGKAT PERSEDIAAN Tingkat persediaan = Nilai persediaan ($) Nilai pemakaian rata-rata = US$ 250.000 US$ 200.000/12

31

RASIO PERSEDIAAN SURPLUS  Misal :Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed.
RASIO PERSEDIAAN SURPLUS  Misal :Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed.

RASIO PERSEDIAAN SURPLUS

Misal:Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed. A = 370 unit. Pemakaian 1 th = 158 unit. Harga A = US$ 5,00

RASIO PERSEDIAAN SURPLUS  Misal :Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed.
RASIO PERSEDIAAN SURPLUS  Misal :Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed.

Maka, rasio surplus A = Nilai barang surplus Nilai seluruh persedian = (370 – (2 x 158)) x 5 370 x 5 = 14,6 %

RASIO PERSEDIAAN SURPLUS  Misal :Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed.
RASIO PERSEDIAAN SURPLUS  Misal :Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed.
RASIO PERSEDIAAN SURPLUS  Misal :Yang disebut surplus adalah barang yang melebihi pemakaian 2 tahun. Persed.

32

RASIO PERSEDIAAN MATI  Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi 
RASIO PERSEDIAAN MATI  Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi 

RASIO PERSEDIAAN MATI

Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi

RASIO PERSEDIAAN MATI  Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi 
RASIO PERSEDIAAN MATI  Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi 
RASIO PERSEDIAAN MATI  Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi 
RASIO PERSEDIAAN MATI  Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi 
RASIO PERSEDIAAN MATI  Persediaan mati adalah barang persediaan yg tidak mungkin dapat digunakan lagi 

Misal : Persediaan mati = US$ 73.450 Total nilai persediaan = US$ 4.563.000

Rasio persediaan mati = Persediaan mati Total nilai persediaan = US$ 73.450 US$ 4.563.000 = 1,6%

33

RASIO LAYANAN  Rasio layanan menunjukkan tk pelayanan tertentu  Rasio layanan br A(2001) = Jml
RASIO LAYANAN  Rasio layanan menunjukkan tk pelayanan tertentu  Rasio layanan br A(2001) = Jml

RASIO LAYANAN

Rasio layanan menunjukkan tk pelayanan tertentu

RASIO LAYANAN  Rasio layanan menunjukkan tk pelayanan tertentu  Rasio layanan br A(2001) = Jml
RASIO LAYANAN  Rasio layanan menunjukkan tk pelayanan tertentu  Rasio layanan br A(2001) = Jml
RASIO LAYANAN  Rasio layanan menunjukkan tk pelayanan tertentu  Rasio layanan br A(2001) = Jml

Rasio layanan br A(2001)

= Jml permintaan terpenuhi Jml seluruh permintaan = 188 unit

200 unit

RASIO LAYANAN  Rasio layanan menunjukkan tk pelayanan tertentu  Rasio layanan br A(2001) = Jml

= 94 %

34

KEBIJAKAN

PERSEDIAAN

KEBIJAKAN PERSEDIAAN Deddy Supriyadi 35 Jl. Bungur VI, No. 4Panyawangan,
KEBIJAKAN PERSEDIAAN Deddy Supriyadi 35 Jl. Bungur VI, No. 4Panyawangan,
KEBIJAKAN PERSEDIAAN Deddy Supriyadi 35 Jl. Bungur VI, No. 4Panyawangan,
KEBIJAKAN PERSEDIAAN Deddy Supriyadi 35 Jl. Bungur VI, No. 4Panyawangan,
KEBIJAKAN PERSEDIAAN Deddy Supriyadi 35 Jl. Bungur VI, No. 4Panyawangan,

Deddy Supriyadi

35

Jl. Bungur VI, No. 4Panyawangan,

KEPUTUSAN/KEBIJAKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSEDIAAN 1 PEMESANAN
KEPUTUSAN/KEBIJAKAN
YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PERSEDIAAN
1
PEMESANAN
KEPUTUSAN/KEBIJAKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSEDIAAN 1 PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) 2 SAFETY STOCK (PERSEDIAAN PENGAMAN) 3 REORDER
KEPUTUSAN/KEBIJAKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSEDIAAN 1 PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) 2 SAFETY STOCK (PERSEDIAAN PENGAMAN) 3 REORDER

EKONOMIS

(EOQ)

2
2

SAFETY STOCK (PERSEDIAAN PENGAMAN)

3
3

REORDER POINT (TITIK PEMESANAN KEMBALI)

4
4

PERSEDIAAN

MAXIMUM

KEPUTUSAN/KEBIJAKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSEDIAAN 1 PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) 2 SAFETY STOCK (PERSEDIAAN PENGAMAN) 3 REORDER

36

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS ( EOQ ) SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK
JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS ( EOQ ) SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS (EOQ)

SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK 12.000 KG

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS ( EOQ ) SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK

DILAKUKAN 1 KALI PESAN

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS ( EOQ ) SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK
JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS ( EOQ ) SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK

DILAKUKAN 12 KALI PESAN

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS ( EOQ ) SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK

BIAYA PEMESANAN (OC)
MURAH TETAPI BIAYA SIMPAN TINGGI (CC)

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS ( EOQ ) SEBUAH PERUSAHAAN MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU UNTUK TAHUN 2006 ADALAH SEBANYAK

BIAYA PEMESANAN (OC)
MAHAL TETAPI BIAYA SIMPAN (CC) RENDAH

37

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS Jumlah Pemesanan Per Tahun 1 kali 2 kali 3 kali 4kali 5kali 6kali
JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS
Jumlah Pemesanan Per Tahun
1 kali
2 kali
3 kali
4kali
5kali
6kali
Jml tiap pesanan
Harga tiap pesanan
Nilai persediaan rata-rata
Biaya pemesanan
Biaya penyediaan (20%)
Jml biaya per tahun
12.000 6.000
4.000
3.000
2.400
2.000
Rp12.000
6.000
4.000
3.000
2.400
2.000
Rp
6.000
3.000
2.000
1.500
1.200
1.000
Rp
100
200
300
400
500
600
Rp
1.200
600
400
300
240
200
Rp 1.300
800
700
700
740
800

•Diketahui: Kebutuhan ( A ) = 12.000 unit/tahun • Harga barang ( R ) = Rp 1/unit •

•

Biaya pemesanan ( P ) = Rp100/pesan Biaya penyimpana ( C ) = 20%

38

Biaya Pemesanan Merupakan biaya-biaya yg timbul sebagai akibat memesan barang, meliputi, al :  Biaya persiapan

Biaya Pemesanan

Merupakan biaya-biaya yg timbul sebagai akibat memesan barang, meliputi, al :

Biaya Pemesanan Merupakan biaya-biaya yg timbul sebagai akibat memesan barang, meliputi, al :  Biaya persiapan
Biaya Pemesanan Merupakan biaya-biaya yg timbul sebagai akibat memesan barang, meliputi, al :  Biaya persiapan
Biaya Pemesanan Merupakan biaya-biaya yg timbul sebagai akibat memesan barang, meliputi, al :  Biaya persiapan

Biaya persiapan pemesanan Penyelenggaraan tender Penyiapan kontrak Membuka L/C Pengiriman barang Pemeriksaan barang Dll

39

Biaya Penyimpanan Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:  Biaya sewa
Biaya Penyimpanan Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:  Biaya sewa

Biaya Penyimpanan

Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:

Biaya sewa gudang Biaya pemeliharaan barang Biaya asuransi Biaya penyusutan Biaya resiko kehilangan

Biaya Penyimpanan Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:  Biaya sewa
Biaya Penyimpanan Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:  Biaya sewa
Biaya Penyimpanan Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:  Biaya sewa
Biaya Penyimpanan Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:  Biaya sewa
Biaya Penyimpanan Merupakan biaya-biaya yang timbul akibat menyimpan barang sebagai persediaan meliputi, al:  Biaya sewa

Cost of capital

40

FORMULA JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS N =  2AP/RC N=JML PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P=
FORMULA JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS N =  2AP/RC N=JML PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P=
FORMULA JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS N =  2AP/RC N=JML PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P=
FORMULA JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS N =  2AP/RC N=JML PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P=

FORMULA JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS

N =2AP/RC

N=JML PEMESANAN EKONOMIS (EOQ) A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P= BIAYA SEKALI PESAN R=HARGA C=CARRYING COST (%)

MAKA EOQ : EOQ =  2 X 12.000 x Rp 100/1X0.2 = 3464 UNIT EOF
MAKA EOQ :
EOQ =  2 X 12.000 x Rp 100/1X0.2
= 3464 UNIT
EOF =
12.000 = 3,4 Kali
3.464
EOV = 3.464 x Rp 1 = Rp 3.464

41

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS PERUSAHAAN MURNI N =  2AP/RC A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P= BIAYA SEKALI PESAN
JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS PERUSAHAAN MURNI N =  2AP/RC A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P= BIAYA SEKALI PESAN
JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS PERUSAHAAN MURNI N =  2AP/RC A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P= BIAYA SEKALI PESAN
JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS PERUSAHAAN MURNI N =  2AP/RC A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P= BIAYA SEKALI PESAN

JUMLAH PEMESANAN EKONOMIS PERUSAHAAN MURNI

N =2AP/RC

A= JUMLAH KEBUTUHAN/TAHUN P= BIAYA SEKALI PESAN R=HARGA C=CARRYING COST (%)

PERUSAHAAN “MURNI” MEMBUTUHKAN BAHAN XYZ PADA TAHUN DEPAN ADALAH SEBANYAK 2450 UNIT, DENGAN HARGA PER UNIT ADALAH RP 80,00. BIAYA PEMESANAN PERSEKALI PESAN ADALAH RP 1.000 DAN CARRYING COST SEBESAR 12.5% DARI PERSEDIAAN RATA-RATA.

MAKA EOQ :

EOQ = 2 X 2450X1000/80X0.125 = 700 UNIT

42

PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK )  SAFETY STOCK ADALAH PERSEDIAAN TAMBAHAN YANG DIADAKAN UNTUK MELINDUNGI
PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK )  SAFETY STOCK ADALAH PERSEDIAAN TAMBAHAN YANG DIADAKAN UNTUK MELINDUNGI
PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK )  SAFETY STOCK ADALAH PERSEDIAAN TAMBAHAN YANG DIADAKAN UNTUK MELINDUNGI
PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK )  SAFETY STOCK ADALAH PERSEDIAAN TAMBAHAN YANG DIADAKAN UNTUK MELINDUNGI

PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK)

SAFETY STOCK ADALAH PERSEDIAAN TAMBAHAN YANG DIADAKAN UNTUK

MELINDUNGI ATAU MENJAGA KEMUNGKINAN TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ATAU

STOCK OUT.

STOCK OUT ATAU KEKURANGAN BAHAN BISA DIAKIBATKAN OLEH :

PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK )  SAFETY STOCK ADALAH PERSEDIAAN TAMBAHAN YANG DIADAKAN UNTUK MELINDUNGI

PENGGUNAAN BAHAN YANG BERLEBIH ATAU MELEBIHI BIASANYA

ADANYA KETERLAMBATAN PENGIRIMAN BAHAN

43

KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN
KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN
KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN
KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN

KONDISI SAFETY STOCK

 
BIAYA SIMPAN

BIAYA SIMPAN

 

TINGGI

TERJAMINNYA

 
PROSES

PROSES

 
 

PRODUKSI

 
BIAYA SIMPAN

BIAYA SIMPAN

 

RENDAH

PROSES PRODUKSI

 
BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI

KURANG TERJAMIN

KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN
KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN

SAFTEY STOCK

YANG BANYAK

SAFTEY STOCK YANG SEDIKIT

KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN

TINGKAT OPTIMAL SAFETY STOCK

KONDISI SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN TINGGI TERJAMINNYA PROSES PRODUKSI BIAYA SIMPAN RENDAH PROSES PRODUKSI KURANG TERJAMIN

44

FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) 1 PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA
FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) 1 PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA
FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) 1 PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA

FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK)

1
1

PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA BAHAN BAKU YANG DIGUNAKAN PADA PERIODE WAKTU TERTENTU MISALKAN BULAN, MINGGU, HARI DLL

FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) 1 PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA

PENGGUNAAN PERMINGGU PERUSAHAAN XYZ TERHADAP BAHAN BAKU “ABC” ADALAH

60,55,64,42,53,54,59,62,56 DAN 65

RATA-RATA PENGGUNAAN ADALAH :

60+55+64+…+65

FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) 1 PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA

------------------------- = 57 UNIT

10

FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) 1 PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA

STANDAR DEVIASI PENGGUNAAN ADALAH:

FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) 1 PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA-RATA YAITU JUMLAH RATA-RATA

(60-57) 2 + (55-57) 2 + (64-57) 2 +…+ (65-57) 2 ---------------------------------------------------------- = 6,7 UNIT

10-1

45

2
2

FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK)

JANGKA WAKTU PEMESANAN ATAU LEAD TIME, MISALKAN KITA PESAN TANGGAL 3 PEB DAN BARANG DATANG TANGGAL 6, MAKA LEAD TIME ADALAH 3 HARI

2 FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) JANGKA WAKTU PEMESANAN ATAU LEAD TIME, MISALKAN

BERDASARKAN DATA MASA LALU, PERUSAHAAN XYZ, MELAKUKAN PESANAN DAN DARI 10 KALI KEJADIAN

BERIKUT ADALAH LEAD TIMENYA : 9,8,13,7,10,12,6,7,13,5

ADALAH :
ADALAH :
2 FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) JANGKA WAKTU PEMESANAN ATAU LEAD TIME, MISALKAN
2 FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) JANGKA WAKTU PEMESANAN ATAU LEAD TIME, MISALKAN

RATA-RATA LEAD TIME

9+8+13+…5

------------------------- = 9 MINGGU

10

2 FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) JANGKA WAKTU PEMESANAN ATAU LEAD TIME, MISALKAN

STANDAR DEVIASI LEAD TIME ADALAH:

2 FAKTOR YANG MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK) JANGKA WAKTU PEMESANAN ATAU LEAD TIME, MISALKAN

(9-9) 2 + (8-9) 2 + (13-9) 2 +…+ (5-9) 2 ---------------------------------------------------------- = 3 MINGGU

10-1

46

 PENENTUAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT TERDAPAT DUA METODE DALAM MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK


PENENTUAN BESARNYA PERSEDIAAN

PENYELAMAT

TERDAPAT DUA METODE DALAM MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SAFETY STOCK)

PROBABILITY OF STOCK OUT APROACH

 PENENTUAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT TERDAPAT DUA METODE DALAM MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK

LEVEL OF SERVICE

 PENENTUAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT TERDAPAT DUA METODE DALAM MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK
 PENENTUAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT TERDAPAT DUA METODE DALAM MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK
 PENENTUAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT TERDAPAT DUA METODE DALAM MENENTUKAN BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT ( SAFETY STOCK

47

METODE PROBABILITY OF STOCK OUT APPROACH DALAM MENENTUKAN SAFETY STOCK  DALAM PENGGUNAAN METODE INI DIPAKAI
METODE PROBABILITY OF STOCK OUT APPROACH DALAM MENENTUKAN SAFETY STOCK  DALAM PENGGUNAAN METODE INI DIPAKAI
METODE PROBABILITY OF STOCK OUT APPROACH DALAM MENENTUKAN SAFETY STOCK  DALAM PENGGUNAAN METODE INI DIPAKAI
METODE PROBABILITY OF STOCK OUT APPROACH DALAM MENENTUKAN SAFETY STOCK  DALAM PENGGUNAAN METODE INI DIPAKAI

METODE PROBABILITY OF STOCK OUT APPROACH DALAM MENENTUKAN SAFETY STOCK

DALAM PENGGUNAAN METODE INI DIPAKAI ASUMSI

BAHWA LEAD TIME BERSIFAT KONSTAN ARTINYA JANGKA WAKTU PEMESANAN BAHAN ADALAH SAMA ANTARA YANG KE SATU DENGAN YANG LAINNYA

OLEH SEBAB ITU, DENGAN ASUMSI INI TERJADINYA STOCK OUT BUKAN DISEBABKAN OLEH FLUKTUASI LEAD TIME TETAPI OLEH FLUKTUASI PERMINTAAN PRODUK SEHINGGA TERJADI PENAMBAHAN DALAM PENGGUNAAN BAHAN.

48

 
  
      CONTOH PERHITUNGAN BESARNYA SAFETY STOCK DENGAN MENGGUNAKAN METODE PROBABILITY OF


CONTOH PERHITUNGAN BESARNYA SAFETY STOCK DENGAN MENGGUNAKAN METODE PROBABILITY OF STOCK OUT APPROACH

MISALKAN PERUSAHAAN “XYZ” SETIAP TAHUNNYA MEMBUTUHKAN BAHAN BAKU “ABC’ SEBANYAK 3.600 UNIT

BERDASARKAN PERHITUNGAN DIDAPAT EOQ ADALAH 720 UNIT UNTUK SEKALI PESAN, ATAU TERDAPAT 5 KALI JUMLAH PEMESANAN YANG OPTIMUM SELAMA SETAHUN.

RATA-RATA PENGGUNAAN BAHAN BAKU ADALAH 50 UNIT/HARI

LEAD TIME BERSIFAT KONSTAN YAITU 6 HARI

ATAS DASAR TSB, PERUSAHAAN AKAN MELAKUKAN PESANAN KEMBALI PADA TINGKAT 300 UNIT, BILA PERUSAHAAN TIDAK MENYEDIAKAN PERSEDIAAN PENYELAMAT.

BIAYA STOCK OUT RP 50 PER UNIT CARRYING COST DARI ADANYA PERSEDIAAN PENYELAMAT RP 10/ UNIT. BERDASARKAN PENGALAMAN MASA LALU BERIKUT PENGGUNAAN BAHAN BAKU SELAMA PERIODE PEMESANAN.



49

TABEL 1: PROBALITAS PENGGUNAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN XYZ SELAMA PERIODE PEMESANAN PENGGUNAAN SELAMA PERIODE PEMESANAN (DALAM
TABEL 1: PROBALITAS PENGGUNAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN XYZ SELAMA PERIODE PEMESANAN PENGGUNAAN SELAMA PERIODE PEMESANAN (DALAM
TABEL 1: PROBALITAS PENGGUNAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN XYZ SELAMA PERIODE PEMESANAN PENGGUNAAN SELAMA PERIODE PEMESANAN (DALAM
TABEL 1: PROBALITAS PENGGUNAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN XYZ SELAMA PERIODE PEMESANAN PENGGUNAAN SELAMA PERIODE PEMESANAN (DALAM
TABEL 1: PROBALITAS PENGGUNAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN XYZ SELAMA PERIODE PEMESANAN PENGGUNAAN SELAMA PERIODE PEMESANAN (DALAM

TABEL 1: PROBALITAS PENGGUNAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN XYZ SELAMA PERIODE PEMESANAN

PENGGUNAAN SELAMA PERIODE PEMESANAN (DALAM UNIT)

BANYAKNYA PENGGUNAAN (DALAM KALI)

PROBABILITAS PENGGUNAAN

150

  • 3 3/100

 

= 0.03

200

  • 4 4/100

 

= 0.04

250

  • 6 6/100

 

= 0.06

300

68

68/100

= 0.68

350

  • 9 9/100

 

= 0.09

400

  • 7 7/100

 

= 0.07

450

  • 3 3/100

 

= 0.03

JUMLAH

100 KALI

JUMLAH

100%

DARI DATA DIKETAHUI BAHWA APABILA PERUSAHAAN MELAKUKAN PERSEDIAAN KEMBALI PADA TINGKAT PERSEDIAAN 300 UNIT, MAKA KEMUNGKINAN PERUSAHAAN SELAMAT SEBESAR 81% (0.03+0.04+0.06+0.68) DAN KEMUNGKINAN TERJADINYA STOCK OUT ADALAH 19% ( 0.09+0.07+0.03)

50

    DARI TABEL 1: SEPERTI DIUNGKAPKAN SEBELUMNYA BAHWA DALAM USAHA MELAKUKAN PENGADAAN PERSEDIAAN

    DARI TABEL 1: SEPERTI DIUNGKAPKAN SEBELUMNYA BAHWA DALAM USAHA MELAKUKAN PENGADAAN PERSEDIAAN
 
    DARI TABEL 1: SEPERTI DIUNGKAPKAN SEBELUMNYA BAHWA DALAM USAHA MELAKUKAN PENGADAAN PERSEDIAAN

    DARI TABEL 1: SEPERTI DIUNGKAPKAN SEBELUMNYA BAHWA DALAM USAHA MELAKUKAN PENGADAAN PERSEDIAAN

DARI TABEL 1:

SEPERTI DIUNGKAPKAN SEBELUMNYA BAHWA DALAM USAHA MELAKUKAN PENGADAAN PERSEDIAAN PENYELAMAT YANG MENGUNTUNGKAN, PERUSAHAAN AKAN MEMILIH TINGKAT PERSEDIAAN PENYELAMAT DIMANA

TOTAL COST (CC+SOC) ADALAH YANG TERENDAH

DENGAN PENGADAAN PERSEDIAAN PENYELAMAT SEBESAR 50 UNIT, KEMUNGKINAN TERJADINYA STOCK OUT HANYA PADA TINGKAT PENGGUNAAN 400 DAN 450 UNIT YAITU SEBESAR 10%

DENGAN PENGADAAN PERSEDIAAN PENYELAMAT SEBESAR 100 UNIT, KEMUNGKINAN TERJADINYA STOCK OUT HANYA TERJADI PADA TINGKAT PENGGUNAAN 450 UNIT, YAITU SEBESAR 3%

DENGAN PENGADAAN PERSEDIAAN PENYELAMAT SEBESAR 150 UNIT, KEMUNGKINAN TERJADINYA STOCK OUT TIDAK ADA.

51

TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ( STOCK OUT ) SAFETY KEMUNGKINAN TERJADINYA 
TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ( STOCK OUT ) SAFETY KEMUNGKINAN TERJADINYA 

TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN (STOCK OUT)

SAFETY

KEMUNGKINAN TERJADINYA

PERKIRAAN BIAYA TAHUNAN

TC SOC

STOCK

STOCK OUT

0

  • 0.09 pada penggunaan 350

50

50 x0.09xRp50x5 = Rp 1.125

 
  • 0.07 pada penggunaan 400

100

100x0.07xRp50x5 = Rp 1.750

  • 0.03 pada penggunaan 450

150

150x0.03xRp50x5 = Rp 1.125

Rp 4.000

50

  • 0.07 pada penggunaan 400

50

50x0.07xRp50x5 = Rp

875

 
  • 0.03 pada penggunaan 450

100

100x0.03xRp50x5 = Rp

750

Rp1.625

100

  • 0.03 pada epnggunaan 450

50

50x0.03xRp50x5 =

Rp

375

 
 

Rp

375

150

0

0

0

0

TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ( STOCK OUT ) SAFETY KEMUNGKINAN TERJADINYA 
TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ( STOCK OUT ) SAFETY KEMUNGKINAN TERJADINYA 
TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ( STOCK OUT ) SAFETY KEMUNGKINAN TERJADINYA 
TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ( STOCK OUT ) SAFETY KEMUNGKINAN TERJADINYA 
TABEL 2 : KERUGIAN KARENA TERJADINYA KEKURANGAN BAHAN ( STOCK OUT ) SAFETY KEMUNGKINAN TERJADINYA 

52

TABEL 3 : BIAYA INVENTORI SEHUBUNGAN DENGAN ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN 0
TABEL 3 : BIAYA INVENTORI SEHUBUNGAN DENGAN ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN 0
TABEL 3 : BIAYA INVENTORI SEHUBUNGAN DENGAN ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN 0
TABEL 3 : BIAYA INVENTORI SEHUBUNGAN DENGAN ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH SAFETY STOCK BIAYA SIMPAN 0

TABEL 3 : BIAYA INVENTORI SEHUBUNGAN DENGAN ADANYA SAFETY STOCK

JUMLAH SAFETY STOCK

BIAYA SIMPAN

0

0

50

50 UNIT X Rp 10 = Rp 500

100

  • 100 UNIT X Rp 10 = Rp 1000

150

  • 150 UNIT X Rp 10 = Rp 1500

   

53

TABEL 4 : TOTAL BIAYA KARENA ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH BIAYA STOCK BIAYA SIMPAN TC SAFETY
TABEL 4 : TOTAL BIAYA KARENA ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH BIAYA STOCK BIAYA SIMPAN TC SAFETY
TABEL 4 : TOTAL BIAYA KARENA ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH BIAYA STOCK BIAYA SIMPAN TC SAFETY
TABEL 4 : TOTAL BIAYA KARENA ADANYA SAFETY STOCK JUMLAH BIAYA STOCK BIAYA SIMPAN TC SAFETY

TABEL 4 : TOTAL BIAYA KARENA ADANYA SAFETY STOCK

 

JUMLAH

BIAYA STOCK

BIAYA SIMPAN

TC

SAFETY STOCK

OUT

0

Rp 4.000

0

Rp 4.000

50

Rp 1.625

Rp 500

Rp 2.125

100 Rp 375 Rp 1.000 Rp 1.375

100

Rp

375

Rp 1.000

Rp 1.375

 

150

Rp

0

Rp 1.500

Rp 1.500

TOTAL BIAYA PALING MURAH DIPEROLEH PD TK.SS =100, MAKA

 

PERUSAHAAN XYZ INI SEBAIKNYA MENYIMPAN SAFETY STOCK SEBESAR 100 UNIT

54

REORDER POINT  REORDER POINT ATAU TITIK PEMESANAN KEMBALI : ADALAH SUATU TITIK ATAU BATAS DARI
REORDER POINT  REORDER POINT ATAU TITIK PEMESANAN KEMBALI : ADALAH SUATU TITIK ATAU BATAS DARI
REORDER POINT  REORDER POINT ATAU TITIK PEMESANAN KEMBALI : ADALAH SUATU TITIK ATAU BATAS DARI
REORDER POINT  REORDER POINT ATAU TITIK PEMESANAN KEMBALI : ADALAH SUATU TITIK ATAU BATAS DARI

REORDER POINT

REORDER POINT ATAU TITIK PEMESANAN KEMBALI : ADALAH SUATU TITIK ATAU BATAS DARI SEJUMLAH PERSEDIAAN YANG ADA PADA SUATU SAAT DIMANA PEMESANAN HARUS DIADAKAN KEMBALI.

REORDER POINT = PENGGUNAAN BAHAN SELAMA LEAD TIME + SAFETY STOCK.

PADA KASUS TERDAHULU, DIKETAHUI BAHWA LEAD TIME RATA- RATA ADALAH 10 HARI, DAN PENGGUNAAN BAHAN BAKU RATA- RATA 50 UNIT, DENGAN SS = 339, MAKA PEMESANAN KEMBALI SEBAIKNYA DILAKUKAN PADA SAAT PERSEDIAAN MENCAPAI

(50X10) + 339 = 839 UNIT.

55

PERSEDIAAN MAXIMUM  ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN PERUSAHAAN  PERSEDIAAN MAX = EOQ
PERSEDIAAN MAXIMUM  ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN PERUSAHAAN  PERSEDIAAN MAX = EOQ

PERSEDIAAN MAXIMUM

ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN

PERSEDIAAN MAXIMUM  ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN PERUSAHAAN  PERSEDIAAN MAX = EOQ
PERSEDIAAN MAXIMUM  ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN PERUSAHAAN  PERSEDIAAN MAX = EOQ

PERUSAHAAN

PERSEDIAAN MAX = EOQ + SS

PERSEDIAAN MAXIMUM  ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN PERUSAHAAN  PERSEDIAAN MAX = EOQ
PERSEDIAAN MAXIMUM  ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN PERUSAHAAN  PERSEDIAAN MAX = EOQ

SEHINGGA BILA EOQ SUATU BAHAN BAKU 700 DAN SS ADALAH 100 MAKA PERSEDIAAN MAX = 800

PERSEDIAAN MAXIMUM  ADALAH JUMLAH INVENTORY MAX YANG SEBAIKNYA DISIAPKAN PERUSAHAAN  PERSEDIAAN MAX = EOQ

56

METODE LEVEL OF SERVICE DALAM MENENTUKAN BESARNYA SAFETY STOCK  METODE INI DIGUNAKAN KETIKA LEAD TIME
METODE LEVEL OF SERVICE DALAM MENENTUKAN BESARNYA SAFETY STOCK  METODE INI DIGUNAKAN KETIKA LEAD TIME
METODE LEVEL OF SERVICE DALAM MENENTUKAN BESARNYA SAFETY STOCK  METODE INI DIGUNAKAN KETIKA LEAD TIME
METODE LEVEL OF SERVICE DALAM MENENTUKAN BESARNYA SAFETY STOCK  METODE INI DIGUNAKAN KETIKA LEAD TIME

METODE LEVEL OF SERVICE DALAM MENENTUKAN BESARNYA SAFETY STOCK

METODE INI DIGUNAKAN KETIKA LEAD TIME TIDAK KONSTAN,SEHINGGA YANG MEMPENGARUHI PERSEDIAAN ADALAH FLUKTUASI PENGGUNAAN BAHAN BAKU DAN FLUKTUASI LEAD TIME.

PENENTUAN KEBIJAKAN YANG RASIONAL YANG DILAKUKAN UNTUK MENJAMIN KELANCARAN KEGIATAN PRODUKSI, DITENTUKAN DAN DIUKUR DENGAN TINGKAT PELAYANAN (LEVEL OF SERVICE) YANG INGIN DIBERIKAN OLEH ADANYA PERSEDIAAN PENYELAMAT TERSEBUT.

57

PERUSAHAAN MURNI (KASUS PENENTUAN SAFETY STOCK ) DENGAN MENGGUNAKAN METODE LEVEL OF SERVICE SUB SUB SUB

PERUSAHAAN MURNI (KASUS PENENTUAN SAFETY STOCK) DENGAN MENGGUNAKAN METODE LEVEL OF SERVICE

SUB SUB SUB GROUP 1 GROUP 2 GROUP 3 64 28 100 35 62 30 TERAKHIR
SUB
SUB
SUB
GROUP 1
GROUP 2
GROUP 3
64
28
100
35
62
30
TERAKHIR
15
45
60
38
58
49
98
40
28
SUB GROUP
SUB GROUP
1
2
10
8
DELIVERY LEAD TIME
(DALAM MINGGU) DARI
10 PESANAN
13
9
12
13
9
10
5
11

PENGGUNAAN BARANG SELAMA 15 MINGGU

58

PEMECAHANNYA : MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D): 750  D= --------------- = 50 UNIT 15 DEVIASI STANDAR
PEMECAHANNYA : MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D): 750  D= --------------- = 50 UNIT 15 DEVIASI STANDAR

PEMECAHANNYA :

MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D):

PEMECAHANNYA : MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D): 750  D= --------------- = 50 UNIT 15 DEVIASI STANDAR
PEMECAHANNYA : MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D): 750  D= --------------- = 50 UNIT 15 DEVIASI STANDAR

750

D= --------------- = 50 UNIT

15

DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN :

PEMECAHANNYA : MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D): 750  D= --------------- = 50 UNIT 15 DEVIASI STANDAR
PEMECAHANNYA : MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D): 750  D= --------------- = 50 UNIT 15 DEVIASI STANDAR

=

(98-15)+(62-28)+(100-28)

------------------------------ = 63

3

PEMECAHANNYA : MENGHITUNG RATA-RATA PENGGUNAAN (D): 750  D= --------------- = 50 UNIT 15 DEVIASI STANDAR

D =

63 X 0.43 = 27.UNIT

MENGHITUNG RATA-RATA LEAD TIME (L) :

100

L = --------------- = 10 MINGGU

10

DEVIASI STANDAR DARI LEAD TIME :

(13-5)+(13-8)

= ------------------------ = 6

L

2

= 6 X 0.43 = 2.79 = 3

59

DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN PADA WAKTU PENGISIAN PERSEDIAAN :    L (  )
DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN PADA WAKTU PENGISIAN PERSEDIAAN :    L (  )

DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN PADA WAKTU PENGISIAN PERSEDIAAN :

U =  L (D ) 2

+ (D ) 2 (L ) 2

DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN PADA WAKTU PENGISIAN PERSEDIAAN :    L (  )
DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN PADA WAKTU PENGISIAN PERSEDIAAN :    L (  )

10 (27) 2 + (50) 2 (3) 2

=

= 173 UNIT

DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN PADA WAKTU PENGISIAN PERSEDIAAN :    L (  )

BESARNYA PERSEDIAAN PENYELAMAT (SS) DENGAN LEVEL

DEVIASI STANDAR DARI PENGGUNAAN PADA WAKTU PENGISIAN PERSEDIAAN :    L (  )

OF SERVICE 97.5% (K= 1.96) ADALAH 173 X 1.96 = 339 UNIT

60

PERSEDIAAN MAXIMUM  PERSEDIAAN MAXIMUM ADALAH BATASAN JUMLAH PERSEDIAAN YANG PALING BESAR YANG SEBAIKNYA DIADAKAN OLEH
PERSEDIAAN MAXIMUM  PERSEDIAAN MAXIMUM ADALAH BATASAN JUMLAH PERSEDIAAN YANG PALING BESAR YANG SEBAIKNYA DIADAKAN OLEH
PERSEDIAAN MAXIMUM  PERSEDIAAN MAXIMUM ADALAH BATASAN JUMLAH PERSEDIAAN YANG PALING BESAR YANG SEBAIKNYA DIADAKAN OLEH
PERSEDIAAN MAXIMUM  PERSEDIAAN MAXIMUM ADALAH BATASAN JUMLAH PERSEDIAAN YANG PALING BESAR YANG SEBAIKNYA DIADAKAN OLEH

PERSEDIAAN MAXIMUM

PERSEDIAAN MAXIMUM ADALAH BATASAN JUMLAH PERSEDIAAN YANG PALING BESAR YANG SEBAIKNYA DIADAKAN OLEH PERUSAHAAN.

UNTUK MENGHITUNG BESARNYA PERSEDIAAN MAX ADALAH EOQ + SAFETY STOCK, SEHINGGA DARI KASUS INI BESARNYA PERSEDIAAN MAX ADALAH 339 +700 = 1039

61

TABEL 5 : FAKTOR KOREKSI JARAK UNTUK DEVIASI STANDAR JUMLAH OBSERVASI DALAM KELOMPOK F N (BESARNYA
TABEL 5 : FAKTOR KOREKSI JARAK UNTUK DEVIASI STANDAR JUMLAH OBSERVASI DALAM KELOMPOK F N (BESARNYA
TABEL 5 : FAKTOR KOREKSI JARAK UNTUK DEVIASI STANDAR JUMLAH OBSERVASI DALAM KELOMPOK F N (BESARNYA
TABEL 5 : FAKTOR KOREKSI JARAK UNTUK DEVIASI STANDAR JUMLAH OBSERVASI DALAM KELOMPOK F N (BESARNYA
TABEL 5 : FAKTOR KOREKSI JARAK UNTUK DEVIASI STANDAR JUMLAH OBSERVASI DALAM KELOMPOK F N (BESARNYA

TABEL 5 : FAKTOR KOREKSI JARAK UNTUK DEVIASI STANDAR

JUMLAH OBSERVASI DALAM KELOMPOK

F N

(BESARNYA SAMPEL)

2

0.94

3

0.59

4

0.49

5

0.43

6

0.39

7

0.37

8

0.34

9

0.33

10

0.32

62

TABEL 6 : POLICY FACTOR (K) PADA FREQUENCY LEVEL OF SERVICE FREQUENCY LEVEL OF SERVICE (%)

TABEL 6 : POLICY FACTOR (K) PADA FREQUENCY LEVEL OF SERVICE

FREQUENCY LEVEL OF SERVICE (%) K 50 0 60 0.25 70 0.52 75 0.67 80 0.84
FREQUENCY LEVEL OF
SERVICE (%)
K
50
0
60
0.25
70
0.52
75
0.67
80
0.84
85
1.04
90
1.28
95
1.64
97.5
1.96
99.0
2.33
99.5
2.58
99.9
3.10

63

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) 64
MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) 64
MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) 64
MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) 64
Sistem Produksi MANAJEMEN MASUKAN KELUARAN PROSES 65

Sistem Produksi

MANAJEMEN MASUKAN KELUARAN PROSES
MANAJEMEN
MASUKAN
KELUARAN
PROSES
Sistem Produksi MANAJEMEN MASUKAN KELUARAN PROSES 65

65

Definisi Sistem pengendali persediaan yang memungkinkan bagian manufaktur dan pembelian memesan barang dalam jumlah dan waktu
Definisi Sistem pengendali persediaan yang memungkinkan bagian manufaktur dan pembelian memesan barang dalam jumlah dan waktu
Definisi Sistem pengendali persediaan yang memungkinkan bagian manufaktur dan pembelian memesan barang dalam jumlah dan waktu
Definisi Sistem pengendali persediaan yang memungkinkan bagian manufaktur dan pembelian memesan barang dalam jumlah dan waktu

Definisi

Sistem pengendali persediaan yang

memungkinkan bagian manufaktur dan pembelian memesan barang dalam jumlah dan waktu yang tepat untuk mendukung jadual induk. Dalam sistem ini dilakukan pemesanan- pemesanan dengan pengaturan waktu yang tepat untuk mengendalikan persediaan bahan baku, atau barang dalam proses.

66

Tujuan dan Prinsip MRP Tujuan MRP • Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan
Tujuan dan Prinsip MRP Tujuan MRP • Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan
Tujuan dan Prinsip MRP Tujuan MRP • Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan
Tujuan dan Prinsip MRP Tujuan MRP • Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan

Tujuan dan Prinsip MRP

Tujuan MRP

• Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan • Memaksimalkan efisiensi operasi produksi

Prinsip MRP

Penentuan persediaan dengan prinsip pemesanan komponen yang tepat, Pemesanan dalam jumlah yang tepat dan pada waktu yang tepat

Tujuan dan Prinsip MRP Tujuan MRP • Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan
Tujuan dan Prinsip MRP Tujuan MRP • Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan
Tujuan dan Prinsip MRP Tujuan MRP • Memberikan pelayanan pelanggan yang baik • Meminimalkan investasi persediaan

67

Masukan dan Keluaran dalam Metode MRP Manajemen Masukan Keluaran Proses MRP • Daftar Material • Data

Masukan dan Keluaran dalam Metode MRP

Manajemen Masukan Keluaran Proses MRP • Daftar Material • Data Persediaan • Jadual Induk Produksi Jadual
Manajemen
Masukan
Keluaran
Proses MRP
• Daftar Material
• Data Persediaan
• Jadual Induk Produksi
Jadual Pemesanan
Masukan dan Keluaran dalam Metode MRP Manajemen Masukan Keluaran Proses MRP • Daftar Material • Data

68

Contoh MRP Daun Meja Palang Pendek Kaki Palang Panjang 69
Contoh MRP Daun Meja Palang Pendek Kaki Palang Panjang 69
Contoh MRP Daun Meja Palang Pendek Kaki Palang Panjang 69
Contoh MRP Daun Meja Palang Pendek Kaki Palang Panjang 69

Contoh MRP

Daun Meja

Contoh MRP Daun Meja Palang Pendek Kaki Palang Panjang 69

Palang Pendek

Kaki

Palang Panjang

69

Struktur Produk/Bill of Material Meja Rakitan Kaki Daun Meja (1) (1) Palang Panjang Kaki Palang Pendek

Struktur Produk/Bill of Material

Meja Rakitan Kaki Daun Meja (1) (1) Palang Panjang Kaki Palang Pendek (2) (4) (2)
Meja
Rakitan Kaki
Daun Meja
(1)
(1)
Palang Panjang
Kaki
Palang Pendek
(2)
(4)
(2)
Struktur Produk/Bill of Material Meja Rakitan Kaki Daun Meja (1) (1) Palang Panjang Kaki Palang Pendek

70

Tenggang Waktu Pemesanan/Pembuatan Kegiatan Pekan Merakit Meja 1 Merakit Kaki 1 Membuat Kaki 1 Membuat Palang
Tenggang Waktu Pemesanan/Pembuatan Kegiatan Pekan Merakit Meja 1 Merakit Kaki 1 Membuat Kaki 1 Membuat Palang
Tenggang Waktu Pemesanan/Pembuatan Kegiatan Pekan Merakit Meja 1 Merakit Kaki 1 Membuat Kaki 1 Membuat Palang
Tenggang Waktu Pemesanan/Pembuatan Kegiatan Pekan Merakit Meja 1 Merakit Kaki 1 Membuat Kaki 1 Membuat Palang

Tenggang Waktu Pemesanan/Pembuatan

Kegiatan

Pekan

Merakit Meja

1

Merakit Kaki

1

Membuat Kaki

1

Membuat Palang Pendek

1

Membuat Palang Panjang

1

Membuat Daun Meja

2

71

Jadual Induk Produksi PRODUK PEKAN MEJA 72
Jadual Induk Produksi PRODUK PEKAN MEJA 72
Jadual Induk Produksi PRODUK PEKAN MEJA 72
Jadual Induk Produksi PRODUK PEKAN MEJA 72

Jadual Induk Produksi

PRODUK PEKAN MEJA
PRODUK
PEKAN
MEJA

72