Anda di halaman 1dari 5

SEMINAR NASIONAL

2nd Lontar Physics Forum 2013

ISBN: 978-602-8047-80-7

Rancangan Alat Timbang Berbasis Serat Optik


Mikrobending Menggunakan Mikrokontroler ATmega32
Dwi Hanto1, Dessy Hervina Sari2, Andi Setiono1, Bambang Widiyatmoko1
dwi.hanto@lipi.go.id
Group Tera-Hertz Photonics, Bidang Instrumentasi dan Optoelektronika, Pusat Penelitian Fisika,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kompleks Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan,
15314, Indonesia
2
Departemen Fisika, FakultasMatematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara,
Jalan Bioteknologi No.1 Kampus USU, Medan 20155, Indonesia
1

Abstrak Telah dirancang alat timbang berbasis serat optik mikrobending dengan pengolah
utama mikrokontroler Atmega 32. Alat timbang ini dapat menampilkan beban yang terukur pada
layar LCD karakter berukuran 4 x 40 dengan menampilkan informasi beban yang terukur dalam
satuan kilo gram dan disertai kapan data tersebut diambil. Perancangan alat ukur beban ini cukup
sederhana yang terdiri dari sensor beban serat optik, mikrokontroler, dua buah push button, RTC,
dan LCD. Alat ukur ini diuji dengan diberikan beban secara statik antara 0 sampai dengan 100 kg
dengan memberikan performa statis yang baik dari segi validitas maupun tingkat akurasi.
Kata kunci : Alat Timbang, Serat optik, Mikrobending, Mikrokontroler

I. PENDAHULUAN
Semakin maraknya tingkat kecelakaan
lalu lintas memberikan kekhawatiran bagi
pengguna
sarana
dan
prasarana
transportasi
contohnya
jalan
raya.
Kelebihan muatan kendaraan menjadi
salah satu pemicu terjadinya kecelakaan
lalu lintas. Untuk mencegah hal tersebut,
perlu dilakukan pengukuran beban pada
setiap kendaraan. Telah banyak dijumpai
penelitian tentang sistem ataupun alat
untuk
mengukur
beban
kendaraan,
misalnya sensor load cell, strain gauge,
dan sebagainya.
Di samping load cell dan starin gauge,
saat ini telah banyak penelitian yang
mengembangkan serat optik sebagai
sensor beban. Pemilihan serat optik ini
disebabkan kestabilan dan daya tahannya.
Dalam dekade terakhir, sensor berat serat
optik,
didasarkan
pada
perubahan
parameter sinyal optik karena regangan
serat optik di bawah berat kendaraan
yang lewat, telah mendapat perhatian.
Pada tahun 1990-an, muncul sensor gaya
berbasis serat optik untuk penimbang dan
kontrol sistem gerak pada kendaraan atau
transportasi. Sensor ini lebih tahan lama,
relatif murah dalam pembuatan dan
pengerjaannya. Tetapi, sensor serat optik
ini memiliki kekurangan yaitu akurasi

pengukuran rendah ketergantungan tinggi


terhadap kondisi cuaca [1].
Pada prinsipnya, dalam penggunaan
fiber optik ditemukan istilah bending baik
itu dalam bentuk makrobending ataupun
mikrobending. Prinsip mikrobending yaitu
adanya tekanan pada permukaan serat
optik dengan ukuran kecil, sehingga
mengakibatkan kerugian daya optik,
dimana besar rugi-rugi yang terjadi dapat
dihitung dan dikorelasikan dengan nilai
beban. Pada penerapan sensor juga
dibutuhkan
alat
pembaca
guna
menunjang proses pengukuran. Oleh
karena itu, akan dilakukan penelitian
untuk merancang alat timbang berbasis
sensor serat optik mikrobending dengan
menggunakan mikrokontroler ATmega32.

II. DASAR TEORI


Serat
optik
merupakan
sebuah
konduktor cahaya dimana cahaya yang
dapat
ditransmisikan
di
dalamnya,
dipantulkan oleh sisi-sisi serat. Sumber
cahaya yang digunakan adalah LED atau
dioda laser semikonduktor. Serat optik
menghasilkan pulsa-pulsa cahaya yang
akan dikonversikan menjadi sinyal listrik

LPF1352-1

SEMINAR NASIONAL
2nd Lontar Physics Forum 2013

ISBN: 978-602-8047-80-7

oleh photodetektor. Serat optik memiliki


kelebihan
yaitu,
kebal
terhadap
interferensi gelombang elektromagnetik,
transmisi dengan rugi-rugi yang rendah,
berukuran lebih kecil dan ringan, serta
lebih tahan terhadap area berbahaya [2].
Disamping itu, serat optik juga memiliki
kekurangan, salah satunya bending.
Mikrobending disebabkan oleh tekanan
yang terjadi pada permukaan serat optik
yang menyebabkan deformasi pada inti
serat optik. Kelemahan serat optik ini
dapat dimanfaatkan untuk membuat
sensor beban [1].
Pada penerapan sensor juga dibutuhkan
suatu alat guna membaca dan mengolah
data atau hasil dari sensor tersebut..
Mikrokontroler merupakan suatu sistem
baca dan kontrol berupa device yang di
dalamnya telah terintegrasi dengan I/O
Port,
RAM,
ROM,
sehingga
dapat
digunakan untuk dapat keperluan kontrol.

laser
sensor

Mikrokontroler Atmega 32 merupakan low


power CMOS mikrokontroler 8-bit yang
dikembangkan
oleh
Atmel
dengan
arsitektur RISC (Reduced Instruction Set
Computer) sehingga dapat mencapai
throughput eksekusi instruksi 1 MIPS
(Million Instruction Per Second).
RTC (Real Time Clock) biasa digunakan
untuk pewaktu dengan osilator terpisah.
Komunikasi RTC dengan mikrokontroler
adalah dengan I2C yaitu antarmuka dua
jalur bus yaitu SDA (Serial DAta Line) dan
SCL (Serial Clock Line). Setiap perangkat
yang terhubung dialamatkan secara
software dengan alamat yang unik. Pada
jalur
tersebut
terdapat
komunikasi
master-slave diantara dua perangkat yang
terhubung dengan kecepatan transfer
sebesar 100 Kbit/s dalam mode standar,
400 Kbit/s dalam mode cepat, dan 3,4
Kbit/s dalam mode kecepatan tinggi [3].

RTC

Op
Amp

MIKROKONTROLER
ATMEGA 32

ADC

LCD 4 x 40

PHOTODETECTOR

Pushbutton start

Pushbutton stop

Gambar 1. Blok Skematik Alat Timbang

III. METODOLOGI
Pada penelitian ini digunakan sensor
beban menggunakan serat optik dengan
prinsip mikrobending, sumber cahaya
laser dioda dengan panjang gelombang
1310 nm, dan photo dioda untuk
mengkonversi
daya
optik
menjadi
tegangan listrik [4].
Gambar 2 menunjukkan rangkaian
hardware sistem baca sensor yang
merupakan modul pelengkap pada alat
timbang baban dengan pengolah utama
ATmega 32. Tegangan hasil keluaran
photodetektor
diamplifikasi
dengan
penguat instrumentasi dan dikonversi
menjadi digital dengan ADC (Analog to
Digital Converter) 10 bit dengan tegangan
referensi internal. Push button start

digunakan untuk memulai pengukuran


sedangkan push button stop untuk
mengakhiri
pengukuran.
Untuk
menambahkan keterangan tanggal dan
waktu, dapat ditambahkan rangkaian
RTC. Informasi mengenai data beban
yang terukur ditampilkan pada LCD
karakter berukuran 4x40.
Atmega 32 selaku pengolah utama dari
alat penimbang dimasukkan program
seperti pada flowchart pada Gambar 3.
Secara garis besar program tersebut
bermaksud untuk menampilkan pada
layar LCD berupa header dan waktu pada
saat stand by. Apabila terdapat beban di
atas sensor setelah jeda beberapa menit
user diminta untuk menekan push button
start sehingga alat penimbang mulai
untuk mengukur beban dimulai dari

LPF1352-2

SEMINAR NASIONAL
2nd Lontar Physics Forum 2013

ISBN: 978-602-8047-80-7

konversi ADC, menghitung rata-rata data,


baru kemudian mengkonversi sinyal yang
diterima menjadi beban dalam satuan
kilogram (kg). LCD akan menampilkan
secara langsung beban terukur dan waktu
pada saat pengukuran. Namun apabila
push button stop ditekan maka proses
pengukuran selesai dan kembali pada
kondisi stand by. Dalam proses validasi
sensor dilakukan dengan menggunakan
beban uji 0; 20 kg; 40 kg; 60 kg; 80 kg;
dan 100 kg.

MULAI

INISIALISASI

MENAMPILKAN JUDUL
PADA LCD

MENAMPILKAN DAN MENGHITUNG


TANGGAL DAN WAKTU PADA LCD

PUSHBUTTON ON

READ ADC

V = (0,0024265) ADC

R = (SUM/i)

BEBAN = 21.94R3 - 176.3R2 +


476.3R -328
MENAMPILKAN NILAI
V, R, DAN BEBAN

Gambar 2. Rangkaian hardware alat timbang


dengan mikrokontroler

PUSHBUTTON OFF

SELESAI

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 3. Flowchart program pada Mikrokontroler


ATmega 32

V out (volt)

Keluaran tegangan dari sensor untuk


jangkauan pembacaan 0 sampai dengan
100 kg adalah seperti grafik pada Gambar
4. Pada jangkauan tersebut sensor hanya
memiliki
perbedaan
nilai
tegangan
keluaran
sebesar
80
mV.
Apabila
tegangan
tersebut
langsung
dibaca
dengan mikrokontroler akan digunakan
menyebabkan resolusinya kurang baik,
maka
sebelum
diproses
dalam
mikrokontroler
tegangan
tersebut
dikuatkan dengan instrumentasi amplifier
dan dipilih ADC 10 bit dengan referensi
internal yang dapat diprogram pada
Atmega32.
Untuk rangkaian intrumentasi amplifier,
dilakukan pengujian tegangan masukan
(Vin) yang berasal dari sumber tegangan
uji dan hasil tegangan keluaran (Vout)
dengan voltmeter untuk memastikan
penguatan tegangan 10 kali dan melihat
linearitasnya. Hasil pengujian seperti yang
ditunjukkan grafik pada Gambar 5 bahwa
penguatan mendekati 10 kali dan memiliki
korelasi yang linear.

4,66
4,65
4,64
4,63
4,62
4,61
4,6
4,59
4,58
4,57
4,56
0

20

40

60
80
beban (kg)

100

120

Gambar 4 tegangan keluaran sensor

Untuk memperolah konversi tegangan


digital
dengan
tegangan
analog,
pengujian
dilakukan
lagi
dengan
memberikan tegangan masukan yang
sudah dikuatkan dibandingkan dengan
nilai tegangan digital hasil konversi ADC.
Hasil dari konversi tersebut ditunjukkan
pada Gambar 6 dengan persamaan yang
didapat yaitu, y = 0,0024265x, dimana

LPF1352-3

SEMINAR NASIONAL
2nd Lontar Physics Forum 2013

ISBN: 978-602-8047-80-7

variabel x merupakan nilai ADC. Dengan


demikian persamaan ini dimasukkan ke
dalam program untuk konversi nilai
tegangan.

8
7

y = 9,428x + 0,301
R = 0,991

V out ( Volt )

6
5
4
3
2
1

pada saat digunakan untuk mengukur


beban sesungguhnya. Pada Gambar 8,
Alat
timbang
digunakan
dalam
pengukuran beban. Tampilan LCD ini
muncul setelah push button ditekan
sehingga menampilkan header SENSOR
BEBAN BERBASIS FIBER OPTIK pada
baris 1, tanggal dan waktu saat
pengukuran pada baris 2, keterangan
tegangan dan rata-rata tegangan yang
terukur dari sensor pada baris 3, dan
Informasi beban dengan satuan kg pada
baris 4. Sedangkan push button stop
untuk menakhiri proses pengukuran.

0
0

0,2

0,4
V in ( Volt )

0,6

0,8

120

Gambar 5 Grafik tegangan masukan dan tegangan


keluaran pada instrumentasi amplifier

y = 21.94x3 - 176.3x2 + 476.3x - 328.0


R = 0.995

100
80

Setelah diperoleh hasil pengujian yang


sesuai, rancangan alat timbang ini
dilakukan validasi dengan masukan dari
sensor dan keluaran dibaca dengan
mikrokontroler. Validasi dilakukan dengan
memberikan beban uji pada sensor dari 0
sampai dengan 100 kg. Hasil validasi
beban seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 7 dengan menghasilkan korelasi
persamaan polynomial y = 21.94x3 176.3x2 + 476.3x -328 antara beban yang
diberikan terhadap tegangan keluaran.
Persamaan ini dimasukkan dalam program
mikrokontroler untuk mengkonversi beban
yang terbaca menjadi tampilan dengan
satuan kilogram (kg).

60
40
20
0
-20

Gambar 7. Grafik Validasi Beban

Gambar 8 Tampilan Alat Timbang

1,6

Sedangkan karakteristik akurasi dari


alat timbang ini ditunjukkan pada Tabel 1.
Karakteristik ini diperoleh dari pengujian
alat timbang dengan diberikan baban uji
dari tegangan 0 sampai dengan 100 kg.

y = 0.0024265
R = 1

1,4
1,2
1
0,8
0,6

Tabel I. Perbandingan Beban, Tegangan, Dan Beban


Terukur.

0,4
0,2
0
0

100

200

300

400

500

600

700

Beban Real
(Kg)

Beban terukur
(Kg)

Deviasi (kg)

1.96

1,96

20

19.21

0,79

40

32.33

7,67

60

55.09

4,91

80

74.65

5,35

100

92.35

7,65

Gambar 6 Grafik Penngujian ADC setelah


penambahan op. amp

Rancangan alat timbang sudah diuji dan


divalidasi
dengan
beban,
maka
selanjutnya alat ini dilihat performansinya

LPF1352-4

SEMINAR NASIONAL
2nd Lontar Physics Forum 2013

ISBN: 978-602-8047-80-7

Berdasarkan hasil di atas, dapat dilihat


bahwa hasil penimbangan beban terukur
mendekati
nilai
beban
yang
sesungguhnya, dengan deviasi kurang
dari 10 kg.

mikrobending serta kepada Thomas Budi


Waluyo yang bersedia diajak diskusi
tentang mikrobending serat optik.

DAFTAR PUSTAKA

IV. KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan,
dengan mikrokontroler Atmega32 dapat
dirancang
suatu
alat
yang
dapat
digunakan sebagai alat timbang beban
menggunakan sensor berbasis serat optik
dengan
prinsip
mikrobending.
Alat
timbang
ini
bisa
digunakan
untuk
mengukur beban secara statis dan
portabel. Dengan adanya fitur tanggal dan
waktu dapat memberikan tambahan
catatan ketika digunakan alat timbang
yang
memfungsikan
kejadian
penimbangan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada Kementrian Riset dan Teknologi
atas biaya riset dari INSINAS 2013 pada
penelitian ini. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada Imam Mulyanto dan
Hendra Adinanta yang telah membuatkan
laser dioda stabil rancangan percobaan

[1] Batenko,
Anatoly,
Grakovski,
A.,
Kabashkin, I., Petersons, E., Sikerzhicki,
Y.,
Weihgt-In-Motion
(WIM)
Measurements by Fiber Optic Sensor :
Problems and Solutions, Transport and
Telecommunication Institute, Volume 12,
No 4, 2733, pp. 27-33, 2011
[2] Bolton, W.,Sistem Instrumentasi dan
Sistem Kontrol, Penerbit Erlangga, 56,
2006
[3] Setiono, Andi, Puranto, P., Widiyatmoko,
B., Pembuatan dan Uji Data Logger
Berbasis Mikrokontroler Atmega32 untuk
Monitoring pergeseran Tanah, Bidang
Instrumentasi Fisis dan Optoelektronika
Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (PPF-LIPI), Jurnal
Fisika ISSN 0854-3046, Himpunan Fisika
Indonesia Akreditasi: No. 242/AkredLIPI/P2MBI/05/2010, Vol. 10, No. 2, pp.
83-94, 2010
[4] Hanto, Dwi, Al Kindi, Cindy, Setiono, Andi,
Widiyatmoko,
B.,
Analisa
Pengaruh
Mikrobending untuk Aplikasi pada Sensor
Beban Berbasis Serat Optik,Unpublished

LPF1352-5