Anda di halaman 1dari 25

http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/10/suku-bangsa-maori-selandia-baru.

html

Suku Bangsa Maori di Selandia Baru


Oleh Ivan Sujatmoko

Sebelum ditemukan oleh bangsa Polenesia, kepulauan Selandia Baru merupakan pulau yang
terisolasi. Pulau Utara dipercaya memiliki penghuni yaitu suku primitive yang disebut Moriori.
Bangsa Polenesia pertama kali menemukan pulau ini pada 800M dan melakukan proses migrasi
sampai 1350M. Bangsa Polenesia ini datang ke Selandia Baru menggunakan kanao-kanao dari
hawaika yang berada di kepulauan polenesia di Samudra Pasifik menuju ke arah selatan. Mereka
menggunakan sistem cuaca subtropik untuk menavigasikan pelayaran mereka ke Selandia Baru.
Dalam perjalanannya, mereka menemukan sebuah daratan yang dari laut terlihat seperti tertutup
awan berwarna putih. Mereka akhirnya mendarat ke pulau itu dan memberinya nama Aatearoa yang
berarti The Land With a Long White Coulds atau tanah awan putih yang bergerak. Kata Aatearoa
sebenarnya merupakan gambaran dari Selandia Baru sendiri, yaitu tanah dengan awan putih yang
panjan, yaitu gambaran tentang Selandia Baru saat diselimuti oleh salju. Pulau yang mereka
temukan ini sebenarnya adalah pulau utara.
Setelah ditemukannya pulau Aetearoa, maka secara berkala bangsa Polenesia melakukan
migrasi. Pada 1000-1100 M para penjelajah Polenesia Toi dan Wathonga mengunjungi Selandia Baru.
Dilanjutkan pada tahun 1350, Armada besar bangsa polenesia mulai mendatangi Aetearoa
menggunakan tujuh kanao, yaitu Aotea, kurahaupo, mataatua, tainui, te, arawadan, takitimu .
Awal migrasi besar-besaran ini sempat menyebabkan gesekan dengan suku Moriori sehingga
membuat suku itu hancur dan akhirnya punah. Mereka akhirnya menetap dan mulai
mengembangkan kebudayaan mereka di pulau tersebut. Suku maori juga dikenal sebagai suku yang
ulung dalam hal pelayaran. Suku polenesia, yang merupakan nenek moyang suku maori, memang
terkenal sebagai pelaut yang ulung. Suku Maori berkembang dan menetap di pantai timur Selandia
Baru.
A. SEJARAH NAMA SUKU MAORI
Nama Maori sebenarnya muncul setelah datangnya orang-orang eropa ke Selandia Baru.
Dulunya sebelum datang orang eropa bangsa polenesia yang menetap di Selandia Baru tidak
bernama. Awalnya orang-orang Polenesia yang menetap di Selandia Baru bagian timur itu hanya
menyebut kelompok mereka dengan kata iwi yang secara harfiah berati tulang. Maksud dari kata
iwi sendiri adalah orang yang terikat oleh garis keturunan dari satu nenek moyang yang sama. Itu
menggambarkan bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu bangsa polenesia dari
timur pasifik. Karena hanya mereka yang tinggal di wilayah Selandia Baru saat itu mereka tidak
pernah menamai kelompok merea sevara kolektif.

Gambar : Suku Maori


Nama maori sendiri muncul setelah kedatangan bangsa barat ke Selandia Baru sekitar tahun 1830.
Kata maori yang berarti "orang biasa" digunakan oleh bangsa barat untuk menyebut orang-orang

telah tinggal di tanah Selandia Baru sebelum mereka datang. Sebenarnya penyebutan penduduk asli
dengan nama maori digunakan untuk membedakan orang-orang barat dengan penduduk asli. Orang
barat menyebut mereka sebagai Pakeha yang berarti orang kulit putih. Sama seperti kebiasaan di
daerah temuan lain, orang barat menganggap bahwa mereka lebih baik dari penduduk asli yang
mendiami daerah temuan mereka. oleh sebab itu mereka sering menamai penduduk asli dengan
sebutan yang mendeskriditkan.
C. CIRI-CIRI SUKU BANGSA MAORI
Ciri-ciri fisik orang maori sama seperti orang polenesia pada umumnya, namun sebagian
besar orang maori yang tinggal di pulau Utara memilki ciri fisik yang merupakan perpaduan dari
polenesia dengan Melanesia. Hal ini berindikasi bahwa pada saat awal kedatangan bangsa polenesia
sempat terjadi perkawinan campur dengan penduduk moriori yang merupakan ras Melanesia.
Jenis maoricampuran ini umumnya memiliki rambut hitam bergelombang menyerupai ras polenesia
tetapi bentuk hidung dan bibir menyerupai ras Melanesia, yaitu hidung pesek dan bibir tebal. Kulit
mereka juga berwarna cokelat. Biasanya suku maori di pulau Utara menggunakan kapur untuk
memutihkan rambut supaya tampak merona kemerahan.

Gambar : Ciri Fisik Orang Maori


Untuk suku maori yang ada di pulau Selatan umumnya memilki ciri fisik yang kental dan sangat
mirip dengan ras polenesia. Mereka mempunyai rambut hitam dan melambai, mata cokelat gelap,
bibir tebal dan menonjol, hidung datar dengan lobang hidung yang besar, dan giginya besar, putih,
dan teratur. Pada umunya orang-orang suku maori berumur panjang karena umunya mereka hidup
sederhana, pekerja keras dan prosuktif pada usia muda. Pada umumnya orang maori mati karena
memang sudah tua, terkena ilmu hitam dan penyakit cacar yang dibawa oleh orang eropa.
D.
KEBUDAYAAN
MAORI
Suku maori memilki kebudayaan yang cukup tinggidan menjadi icon bagi Selandia Baru. yang paling
terkenal dari suku maori adalah seni tatonya. Tato dalam adat maori memiliki makna suci dan
merupakan perlambang dari kelompok mereka. Orang maori mempunyai cara khusus untuk menato
tubuhnya, yaitu dengan membuat torehan atau pahatan pada kulitnya menggunakan pisau atau
pahat yang terbuat dari kulit kerang laut. Sedangkan untuk tinta mereka menggunakan dua jenis,
yang pertama terbuat dari organisme yaitu dari sayuran dan ulat. Kedua, dari arang kayu. Untuk
tinta yang berasal dari arang kayu biasanya digunakan untuk menato bagian wajah. Dalam bahasa
maori tato dikenal dengan Ta Moko yang berarti menyerang atau tekan, yang diartikan sebagai cara
suku maori membuat tato. Motif tato pada suku maori biasanya berupa spiral yang dipahatkan pada

wajah, pantat dan kaki. Namun pada wanita maori umunya tato dibuat pada bibir, dagu atau leher
bagian belakang. Pembubuhan tato pada orang maori dimulai sejak dia beranjak dewasa. Tato
sendiri merupakan symbol dari perjalanan hidup orang-orang maori.

Gambar : Budaya Tato Suku Bangsa Maori


Hangi adalah makanan khas suku maori. Makanan dimasak dengan cara disekap ke dalam api di
bawah tanah.caranya batu dipanaskan dalam api di bawah tanah. Caranya, batu dipanaskan dalam
api di bawah tanah,kemduian makanan yang akan dibakar diletakkan di atasnya,lalu ditutup dengan
daun kubis atau selada air. Lama memasak 3 jam, konon rasanya seperti masakan yang dikukus
dengan rasa tanah. Yang pasti, makanan yang dimasak dengan cara ini sehat lho.

Gambar : Hangi, Makanan Khas Suku Maori


Rumah suku maori adalah rumah merah. Rumah ini berbentuk rumah panggung yang terbuat dari
kayu dan keseluruhannya di cat dengan warna merah dan beratapkan ilalang. Suku maori juga
mempunyai tarian yang terkenal yaitu kappa haka, yang merupakan tarian perang namun saat ini
digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu. Music khas dari maori yaitu
whaikorero. Maorijuga terkenal dengan tradisi lisannya, yaitu cerita-cerita mitos yang berkembang
secara turun temurun. Contohnya saja cerita tentang asal usul orang maoriadalah dari pemisahan
antara dewa langit dan dewa bumi. Orang maori percaya mereka adalah keturunan dari kedua
dewa tersebut.

Gambar : Rumah Merah Suku Maori

E. HUBUNGAN SUKU MAORI DENGAN BANGSA EROPA


Abel Tasman merupakan orang eropa yang menemukan Selandia Baru. Awalnya dia menamakan
Selandia Baru dengan sebutan State Landt karena dia menganggap Selandia Baru merupakan bagian
dari pesisir Argentina. Setelah diketahui bahwa Selandia Baru bukanlah bagian dari benua amerika,
maka oleh pembuat peta asal Belanda nama State Landt diganti dengan New Zealand. Zealand
sendiri merupakan nama salah satu kota yang ada di Belanda. Abel Tasman bersama awak kapalnya
mengalami penyerangan oleh suku Maori. Tahun 1768 Jamess Cook yang berkebangsaan Inggris
datang ke Selandia Baru. dia datang ditemani Tupaia, seorang polenesia, yang bertugas sebagai
penerjemah. Salah satu penyebab gagalnya Abel Tasman tadi adalah ketidak pahaman bahas yang
digunakan, sehingga untuk melancarkan ekspedisi cook sengaja membawa seorang polenesia
sebagai ahli bahasa. Cook berhasil mengelilingi seluruh pulau selama enam bulan dan memberi
nama beberapa daerah.
Setelah kedatangan Jamess Cook banyak orang eropa yang mengunjungi Selandia Baru, seperti
spanyol, portugis, perancis dan bangsa yang lain. Tujuan mereka beragam, ada yang hanya singgah
dari amerika, berdagang atau menyebarkan agama. Banyak orang eropa yang bermigrasi ke Selandia
Baru. Semakin banyaknya orang Eropa yang menetap di Selandia Baru menimbulkan konflik dengan
suku asli, yaitu maori. Pada umunya yang menjadi penyebab konflik adalah perpedaan pemahaman
tentang kepemilikan tanah. Saat itu, beberapa daerah tidak memiliki hukum, hingga akhirnya untuk
menyelamatkan keadaan, Kerajaan Inggris mengirim William Hobson pada sekitar tahun 1839 untuk
mengadakan perjanjian dengan bangsa Maori yang kemudian disebut dengan perjanjian The
Treaty of Waitangi yang disetujui oleh kedua belah pihak di Teluk Pulau pada tanggal 6 Februari
1840. Perjanjian ini menjanjikan adanya perlindungan hak atas kepemilikan tanah dan
pemerintahan baik kepada warga pendatang ataupun kepada bangsa Maori, namun pada
prakteknya malah menimbulkan percekcokan dan bahkan perang antara pendatang dan bangsa
Maori. Peperangan ini dimenangkan oleh Pendatang dan sejak saat itu Selandia Baru berada di
bawah pemerintahan Kerajaan Inggris.
Reviewer: Ivan
Rating: 4.5

Sujatmoko -

ItemReviewed: Suku

Bangsa

Maori

di

Selandia

Baru

http://z03lf1k4r.blogspot.com/2011/03/28/ kebudayaan-negara-selandia-baru.html

Kebudayaan Negara Selandia Baru

Budaya Selandia Baru sebagian besar diwarisi dari Inggris dan Eropa
kustom , terjalin dengan tradisi Maori dan Polinesia. Sebuah terisolasi bangsa
Pulau Pasifik, Selandia Baru adalah relatif baru-baru ini diselesaikan oleh
manusia . Awalnya Mori saja, maka Dwibudaya dan pedesaan dengan nilai-nilai
kolonial, sekarang Selandia Baru adalah budaya kosmopolitan yang
mencerminkan perusahaan berubah demografi, sadar dari alam lingkungan , dan
merupakan dikembangkan, masyarakat Barat terdidik.

Mori budaya memiliki didominasi sebagian besar sejarah Selandia Baru


tempat tinggal manusia. Mori pelayar mencapai kepulauan Selandia Baru
beberapa waktu sebelum 1300, meskipun tanggal pasti tidak pasti. Selama
berabad-abad berikutnya ekspansi Mori dan pemukiman,budaya Mori
menyimpang dari yang Polinesia akar. Mori didirikan suku terpisah, desa
diperkaya dibangun ( Pa ), berburu dan memancing, diperdagangkan komoditas,
pertanian dikembangkan, seni dan persenjataan, dan terus sejarah lisan rinci.
menghubungi Eropa Reguler dimulai sekitar 200 tahun yang lalu, dan Inggris
imigrasi berjalan cepat selama abad kesembilan belas.
Koloni memiliki efek dramatis pada adat Maori, membawa agama ,
teknologi, dan bahasa Inggris . Pada 1840 pemimpin Mori menandatangani
Perjanjian Waitangi , dimaksudkan agar suku-suku untuk hidup damai dengan
penjajah. Namun setelah beberapa insiden, perjanjian itu diabaikan dan Selandia
Baru perang tanah pecah dari 1845, dengan Mori menderita kerugian tanah dan
identitas, sementara juga semakin menjadi kelompok minoritas selama abad
berikutnya. Walaupun ada kemunduran seperti, Mori budaya memiliki kembali
banyak pengaruhnya hilang dalam beberapa dekade terakhir.
Eropa Selandia Baru ( Pkeh ), meskipun lokasinya jauh dari Eropa,
saldo ikatan budaya yang kuat untuk "Ibu Inggris". Hubungan ini melemah oleh
runtuhnya Kerajaan Inggris, ANZAC pertempuran di Gallipoli dan Mesir, dan
hilangnya khusus akses ke Inggris dan pasar daging susu. Pkeh mulai
membentuk identitas mereka yang terpisah dipengaruhi oleh sejarah perintis ,
gaya hidup pedesaan dan lingkungan unik Selandia Baru. budaya Pkeh
menjadi umum setelah perang tanah, tapi setelah upaya politik berkelanjutan,
bikulturalisme dan Perjanjian Waitangi menjadi bagian dari kurikulum sekolah di
akhir abad 20, untuk mempromosikan pemahaman antara Mori dan Pkeh.
Baru-baru ini, Selandia Baru budaya telah diperluas oleh globalisasi dan
imigrasi dari Kepulauan Pasifik , Asia Timur dan Asia Selatan . Eropa dan Mori
tetap dua etnis terbesar, namun besar Polinesia penduduk di Auckland telah
mendorong pengamatan yang Auckland sekarang kota Polinesia terbesar di
dunia. Namun, negara luar Auckland masih jauh lebih heterogen, dengan besar
bagian dari Pulau Selatan terutama sisa keturunan Eropa.

Selandia Baru menandai dua hari nasional zikir, Waitangi Day dan ANZAC
Day , dan juga merayakan liburan selama atau dekat dengan peringatan dari
tanggal pendirian masing-masing provinsi. The lagu kebangsaan, " Tuhan
Pertahankan Selandia Baru " adalah sering dinyanyikan dengan bolak-balik dan
bahasa Inggris ayat-ayat Mori. Banyak warga lebih memilih untuk
meminimalkan perpecahan etnis, cukup menyebut diri mereka orang Selandia
Baru atau Kiwi .
Berikut adalah beberapa budaya dari Selandia Baru :
1. Budaya Maori
Para Mori adalah orang-orang Polynesia asli Selandia Baru (Aotearoa).
Mereka mungkin tiba di Polinesia selatan-barat dalam beberapa gelombang pada
suatu waktu sebelum 1300, meskipun tanggal sampai dengan 2000 tahun yang
lalu masih menarik dukungan. Para Mori menyelesaikan pulau dan
mengembangkan budaya yang berbeda. Sejarah lisan Maori bercerita tentang
perjalanan panjang dari Hawaiki (tanah air mitos di Polinesia tropis) di kano lautakan besar ( waka ).Mitologi Mori adalah korpus khas dewa dan pahlawan,
berbagi beberapa motif Polinesia. Beberapa tokoh terkenal yang Rangi dan
Papa ,Maui , dan Kupe . Pusat ke acara budaya banyak adalah marae , dimana
keluarga dan suku berkumpul untuk acara-acara khusus, seperti pwhiri atau
Tangi .Mori sering menyebut diri mereka " tngata whenua "(orang-orang dari
tanah), menempatkan kepentingan tertentu pada gaya hidup yang terhubung ke
darat dan laut. hidup komunal, berbagi, dan hidup dari tanah tersebut, nilai-nilai
tradisional yang kuat. Nilai-nilai yang berbeda, sejarah, dan pandangan dunia
dari Maori disajikan melalui seni tradisional dan keterampilan seperti HAKA , ta
moko ,waiata , ukiran, tenun, dan poi . Konsep tapu (berarti tabu atau sakral)
juga kekuatan yang kuat dalam budaya Mori, diterapkan pada benda, orang,
atau bahkan pegunungan. Eropa bermigrasi ke Selandia Baru dalam
meningkatkan nomor dari akhir abad 18, dan teknologi senjata dan penyakit
mereka memperkenalkan masyarakat stabil Mori. Setelah 1840 dan Perjanjian
Waitangi , Mori kehilangan banyak tanah mereka dan mana (prestise dan
otoritas), memasuki masa dan numerik penurunan budaya. Namun populasi
mereka mulai meningkat lagi dari akhir abad 19, dankebangkitan budaya dimulai
pada tahun 1960-an, kadang-kadang dikenal sebagai Renaisans Maori .
2. Budaya Pakeha
Pkeh budaya (biasanya identik dengan Selandia Baru Eropa ) terutama
berasal dari dari pemukim Inggris yang dijajah Selandia Baru pada abad
kesembilan belas. Meskipun recognisably berkaitan dengan budaya Inggris, ia
selalu memiliki perbedaan jelas, dan ini telah meningkat waktu telah
berlangsung. Hal-hal yang membedakan budaya Pkeh dari budaya Inggris
termasuk tingkat-tingkat yang lebih tinggi egalitarianisme , anti-intelektualisme ,
dan gagasan bahwa kebanyakan orang dapat melakukan hal-hal yang paling jika
mereka menaruh pikiran mereka untuk itu. Dalam budaya Pkeh adalah subbudaya yang berasal dari kelompok-kelompok Eropa Irlandia, Italia dan lainnya,
serta subkultur non-berbagai etnis.Telah menyatakan bahwa Pkeh tidak benar-

benar memiliki budaya, atau jika mereka melakukannya bukan merupakan salah
satu yang berbeda. Sebagian dari masalah ini adalah bahwa budaya tinggi sering
keliru untuk budaya secara umum, dan kurangnya pengakuan historis diberikan
kepada seniman penulis Selandia Baru, dan komposer dipandang sebagai bukti
kurangnya budaya. Sebaliknya, Pkeh budaya popumumnya sangat terlihat dan
sering dihargai. Hal ini diamati dalam kepercayaan umum bahwa kiwiana ,
kategori gaya 1950-artefak kitsch, adalah batu ujian budaya yang menentukan.
Lainnya berpendapat keyakinan bahwa dalam 'ketiadaan' budaya di NZ adalah
gejala istimewa putih , memungkinkan anggota kelompok yang dominan untuk
melihat budaya mereka sebagai 'normal' atau 'default', bukan sebagai posisi
tertentu dari keuntungan relatif. Salah satu tujuan dari Pkeh kelompok antirasis tahun 1980-an adalah untuk memungkinkan Pkeh untuk melihat budaya
mereka sendiri seperti itu, daripada berpikir apa yang mereka lakukan adalah
normal dan apa yang orang lain lakukan adalah 'etnis' dan aneh.
3. Seni
Selandia Baru memiliki dua ' budaya yang tinggi tradisi ' Mori dan Barat.
Namun bahan yang paling budaya dikonsumsi di Selandia Baru diimpor dari luar
negeri, terutama dari Inggris dan Amerika Serikat. Karena ini dan itu kecil
penduduk Selandia Baru, sebagian besar Selandia Baru seniman, artis dan
penulis berjuang untuk mencari nafkah dari seni mereka. Beberapa dana untuk
seni disediakan melalui seni tertentu berdasarkan departemen pemerintah,
Kreatif Selandia Baru . The Selandia Baru Tempat Bersejarah Trust
danDepartemen Budaya dan Warisan adalah badan nasional yang membantu
pelestarian warisan. Sebagian besar kota dan kota memiliki museum dan sering
galeri seni, dan museum nasional dan galeri seni Te Papa ('kami Place'), di
Wellington .
4. Musik
Selandia Baru mengambil sebagian musik dengan bentuk yang sama seperti
yang dilakukan oleh 'yang lain' negara-negara Barat, dengan hip-hop yang
sangat populer di kalangan Mori muda dan Kepulauan Pasifik. Selandia Baru
hip-hop cenderung lebih lucu dan kurang banyak kekerasan dan seksis
dibandingkan dengan negara lain. Ada berkembang live musik tapi kecil dan
pesta dansa adegan. Musik klasik telah populer kurang mendukung, namun
Selandia Baru telah menghasilkan beberapa sukses komposer dan internasional
yang terkenal opera penyanyi ( Kiri Te Kanawa ). Ada juga musik indie yang kuat
adegan hadir di Selandia Baru.
5. Sastra
Paling sukses awal penulis Selandia Baru adalah ekspatriat seperti Katherine
Mansfield . Dari tahun 1950-an, Frank Sargeson , Janet Frame dan lain-lain telah
(tidak menguntungkan) karir menulis ketika masih tinggal di Selandia Baru.
Sampai sekitar tahun 1980-an, Selandia Baru sastra form utama adalah cerita
pendek, tetapi dalam beberapa dekade terakhir novel seperti Alan Duff Setelah
Were Warriors , Elizabeth Knox 's's Luck penjual anggur dan lain-lain telah

mencapai dan populer keberhasilan kritis. budaya Mori secara tradisional lisan
daripada melek, tetapi dalam beberapa tahun terakhir Mori novelis seperti Duff,
Witi Ihimaera dan Keri Hulme dan penyair seperti Hone Tuwhare telah
menunjukkan penguasaan bentuk-berasal Eropa. Austin Mitchell menulis dua "
Pavlova Paradise "buku-buku tentang Selandia Baru. Barry Crump adalah
seorang penulis populer yang diwujudkan dan menguraikan mitos tentang
bajingan muda Kiwi dan multi-terampil buruh. Sam Hunt dan Gary McCormick
yang dikenal penyair juga. James K Baxter adalah seorang tetapi dikagumi
penulis eksentrik.Maurice Gee juga nama rumah tangga untuk novel tentang
kehidupan Selandia Baru. Selandia Baru kartunis David Low menjadi terkenal
selama Perang Dunia II untuk sindiran politik. Gordon Minhinnick dan Les Gibbard
juga pengamat politik cerdas. Murray Ball menarik populer sindikasi luas strip
harian Footrot Flats , tentang kehidupan pertanian.

http://id.wikibooks.org/wiki/Petarung_Perkasa/Prajurit_Maori
Budaya Selandia Baru sebagian besar diwarisi dari Inggris dan Eropa kustom , terjalin dengan
tradisi Maori dan Polinesia.Sebuah terisolasi Pulau Pasifik bangsa, Selandia Baru itu relatif
baru diselesaikan oleh manusia . Awalnya Mori saja, maka Dwibudaya dengan nilai-nilai kolonial dan
pedesaan, sekarang Selandia Baru adalah budaya kosmopolitan yang mencerminkan perubahan
yang demografi , sadar dari alam lingkungan , dan masyarakat, berpendidikan Barat dikembangkan.
Mori budaya telah didominasi untuk sebagian besar sejarah Selandia Baru tempat tinggal
manusia. Mori pelayar mencapai pulau-pulau di Selandia Baru beberapa waktu sebelum 1300,
meskipun tanggal yang tepat tidak pasti. Selama berabad-abad berikutnya ekspansi Mori dan
pemukiman, budaya Mori menyimpang dari yang Polynesian akar. Mori mendirikan suku yang
terpisah, dibangun desa dibentengi ( PA ), diburu dan memancing, komoditas yang diperdagangkan,
pertanian dikembangkan, seni dan persenjataan, dan terus sejarah lisan rinci. Kontak Eropa reguler
dimulai sekitar 200 tahun yang lalu, dan British imigrasi berjalan cepat selama abad kesembilan
belas.
Koloni memiliki efek dramatis pada Maori asli, membawa agama , teknologi, dan bahasa
Inggris . Pada 1840 pemimpin Mori menandatangani Perjanjian Waitangi , dimaksudkan agar sukusuku yang hidup damai dengan penjajah. Namun setelah beberapa insiden, perjanjian itu diabaikan
dan Selandia Baru tanah perang pecah dari 1845, dengan Mori menderita kerugian tanah dan
identitas, sementara juga semakin menjadi kelompok minoritas selama abad berikutnya. Walaupun
ada kemunduran seperti, budaya Mori telah kembali banyak pengaruhnya hilang dalam beberapa
dekade terakhir.
Eropa Selandia Baru ( Pakeha ), meskipun lokasi mereka jauh dari Eropa, mempertahankan ikatan
budaya yang kuat untuk "Ibu Inggris." [1] ini ikatan yang melemah oleh runtuhnya Kerajaan Inggris dan
kehilangan akses khusus untuk daging Inggris dan pasar susu. Pakeha mulai menempa identitas
terpisah mereka dipengaruhi oleh sejarah perintis , gaya hidup pedesaan dan lingkungan yang unik di
Selandia Baru. Pakeha budaya menjadi lazim setelah perang tanah, tetapi setelah upaya politik yang

berkelanjutan, bikulturalisme dan Perjanjian Waitangi menjadi bagian dari kurikulum sekolah di akhir
abad 20, untuk mempromosikan pemahaman antara Mori dan Pakeha.
Baru-baru ini, Selandia Baru budaya telah diperluas oleh globalisasi dan imigrasi dari Kepulauan
Pasifik , Asia Timur dan Asia Selatan . Eropa dan Mori tetap dua etnis terbesar, tapi
besar Polinesia penduduk di Auckland telah mendorong pengamatan bahwa Auckland kini kota
Polinesia terbesar di dunia. [2] Namun, negara di luar Auckland masih jauh lebih heterogen, dengan
besar bagian dari Pulau Selatan yang tersisa sebagian besar keturunan Eropa.
Selandia Baru menandai dua hari nasional zikir, Hari Waitangi dan ANZAC Day , dan juga merayakan
liburan selama atau dekat dengan peringatan dari tanggal berdirinya masing-masing provinsi. [3] The
lagu kebangsaan, " Tuhan Defend New Zealand " [4]adalah sering dinyanyikan dengan bolak ayat
Mori dan Inggris. [5] Banyak warga lebih memilih untuk meminimalkan perpecahan etnis, hanya
menyebut dirinya Selandia Baru atau Kiwi .

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|
id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Culture_of_New_Zealand

Perjanjian Waitangi
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Perjanjian Waitangi
Te o Tiriti Waitangi
Perjanjian untuk mendirikan BritishGubernur New
Zealand , mempertimbangkan kepemilikan Mori
dari tanah mereka dan properti lainnya, dan
memberikan Mori hak-hak warga Inggris.

Salah satu dari salinan yang masih ada beberapa Perjanjian


Waitangi

Drafted

04-05 Februari 1840 oleh William


Hobson dengan bantuan sekretarisnya,
James Freeman, dan Inggris
Resident James Busby

Ditandatangan 6 Februari 1840


i

Tempat

Waitangi , Bay of Islands , Selandia Baru,


dan berbagai lokasi lain. Saat diadakan
di Arsip Selandia Baru , Wellington.

Penandatanga

Perwakilan dari British Crown ,

berbagai Mori kepala dari utaraNorth


Island , dan kemudian lebih lanjut 500

penandatangan.

Bahasa

Bahasa Inggris, Mori

Treaty of Waitangi di Wikisource

V
T
E

Perjanjian Waitangi ( Mori : Tiriti o Waitangi) adalah perjanjian pertama yang ditandatangani pada
tanggal 6 Februari 1840 oleh perwakilan dari Kerajaan Inggris dan berbagai Mori kepala dari Pulau
Utara Selandia Baru.
Perjanjian mendirikan British Gubernur Selandia Baru , mengakui kepemilikan Mori dari tanah mereka
dan properti lainnya, dan memberikan Mori hak-hak warga Inggris . Versi bahasa Inggris dan Mori dari
Traktat berbeda secara signifikan, sehingga tidak ada konsensus mengenai apa yang telah disepakati. Dari
sudut pandang Inggris, Perjanjian memberi Inggriskedaulatan atas Selandia Baru, dan memberikan
Gubernur hak untuk memerintah negara. Mori percaya bahwa mereka diserahkan ke mahkota hak
pemerintahan sebagai imbalan untuk perlindungan, tanpa menyerah kewenangan untuk mengelola urusan
mereka sendiri. [1] Setelah penandatanganan awal di Waitangi, salinan Perjanjian itu diambil sekitar
Selandia Baru dan atas berikut bulan kepala lainnya ditandatangani. Total ada sembilan salinan Perjanjian
Waitangi termasuk yang asli ditandatangani pada tanggal 6 Februari 1840.

[2]

setidaknya 13 dari mereka perempuan, menandatangani Perjanjian Waitangi.

Sekitar 530-540 kepala,


[3] [4]

Sampai tahun 1970-an, Perjanjian (te tiriti di Maori), pada umumnya dianggap sebagai telah melayani
tujuan di 1840 Selandia Baru, dan diabaikan oleh pengadilan dan parlemen sama, meskipun biasanya
digambarkan dalam sejarah Selandia Baru sebagai tindakan murah hati pada bagian dari Kerajaan Inggris,
yang pada saat itu di puncak sejarahnya. [5]Mori telah melihat ke Perjanjian untuk hak-hak dan ganti rugi
atas kehilangan tanah dan perlakuan tidak adil oleh negara, dengan keberhasilan yang beragam. Dari
akhir 1960-an Mori mulai menarik perhatian pelanggaran Perjanjian, dan sejarah selanjutnya telah
menekankan masalah dengan terjemahannya.

[6]

Pada tahun 1975, Pengadilan Waitangi didirikan sebagai

komisi permanen penyelidikan bertugas meneliti pelanggaran dari Perjanjian oleh Crown atau agennya,
dan sarana menyarankan ganti rugi.
Hari ini umumnya dianggap sebagai dokumen pendirian Selandia Baru sebagai bangsa. Meskipun
demikian, Perjanjian sering menjadi subyek perdebatan sengit, dan banyak pertentangan baik oleh Mori
dan non-Mori Selandia Baru. Mori Banyak yang merasa bahwa Crown tidak memenuhi kewajibannya
berdasarkan Perjanjian, dan telah mengajukan bukti ini sebelum sittings Majelis. Beberapa non-Mori
Selandia Baru telah menyarankan bahwa Mori mungkin menyalahgunakan Perjanjian dalam rangka untuk
mengklaim "hak-hak istimewa".

[7] [8]

The Crown, dalam banyak kasus, tidak diwajibkan untuk bertindak atas

rekomendasi Majelis tetapi tetap dalam banyak kasus telah diterima bahwa itu melanggar Perjanjian dan
prinsip-prinsipnya. Pemukiman sampai saat ini terdiri dari ratusan juta dolar dalam bentuk tunai reparasi
dan aset, serta permintaan maaf.
Tanggal penandatanganan telah hari libur nasional , sekarang disebut Hari Waitangi , sejak tahun 1974.

Latar Belakang
Artikel utama: Sejarah New Zealand

James Busby, Residen Inggris di Selandia Baru

Pada awal abad ke-19, Mori, missonaries dan pemukim yang terganggu oleh perilaku narapidana
melarikan diri dan pelaut,, pedagang dan pemburu paus sealers yang datang ke negara itu, terutama
di Bay of Islands . Pembelian senapan oleh Ngapuhi di Sydney mulai kehancuran populasi Mori dalam
serangkaian pertempuran sekitar 500 suku yang dikenal sebagai " Perang Musket "antara 1805 dan
1843. [9] 2007 [10] Pada tahun 1831, tiga belas terutama rangatira dari jauh di utara negara itu bertemu
di Kerikeri untuk menulis surat kepada Raja William IV meminta bantuan untuk menjaga tanah
mereka. Secara khusus, para pemimpin mencari perlindungan dari, Perancis "suku dari Marion" , dan itu
adalah permohonan pertama yang diketahui untuk intervensi Inggris yang ditulis oleh Mori.

[11]

Sebagai

tanggapan, pemerintah Inggris mengirimkan James Busby pada tahun 1832 menjadi Residen Inggris di
Selandia Baru. Pada tahun 1834 Busby disusun suatu dokumen yang dikenal sebagai Deklarasi
Kemerdekaan Selandia Baru yang ia dan 35 utara Mori kepala ditandatangani di Waitangi pada tanggal
28 Oktober 1835, menetapkan mereka sebagai kepala perwakilan negara-proto di bawah judul " Suku
Serikat New Zealand ". Dokumen ini tidak diterima dengan baik oleh Kantor Kolonial di Inggris, dan
diputuskan bahwa kebijakan baru untuk New Zealand diperlukan sebagai koreksi.

[12]

Dari Mei hingga Juli 1836, Royal Navy petugas Kapten William Hobson , di bawah instruksi dari Sir Richard
Bourke , mengunjungi Selandia Baru untuk menyelidiki klaim pelanggaran hukum di pemukiman. Hobson
direkomendasikan dalam laporannya bahwa kedaulatan Inggris dibentuk atas Selandia Baru, di kantongkantong kecil mirip dengan Perusahaan Teluk Hudson di Kanada. [13] Laporan Hobson itu diteruskan ke

kantor kolonial. Dari April sampai Mei 1837, dengan House of Lords mengadakan komite pilih ke "Negara
Kepulauan Selandia Baru". The New Zealand Association (kemudian Selandia Baru Perusahaan),
misionaris dan Royal Navy semua membuat pengajuan ke panitia. Komite merekomendasikan perjanjian
disimpulkan dengan Mori. [13]
Sejarawan Claudia Oranye mengklaim bahwa Kantor Kolonial awalnya merencanakan "Mori Selandia
Baru" di mana pemukim Eropa akan diakomodasi, tetapi dengan 1.839 telah bergeser ke "seorang
pemukim Selandia Baru di mana tempat harus disimpan untuk Mori" karena tekanan dari Perusahaan
Selandia Baru [10] yang buru-buru dikirimkan pada Tory ke Selandia Baru pada 12 Mei 1839

[14]

(tiba

di Pelabuhan Nicholson (Wellington) pada tanggal 20 September 1839 hingga membeli tanah) dan
rencana oleh Perancis Kapten Jean Franois L'Anglois untuk koloni Perancis di Akaroa . [15]
Pada 15 Juni 1839 baru Surat Paten yang dikeluarkan untuk memperluas wilayah New South Wales untuk
menyertakan seluruh wilayah Selandia Baru, dari lintang 34 Selatan untuk 47 10 'Selatan, dan dari bujur
166 5' Timur untuk 179 BT . [16] Gubernur New South Wales George Gipps diangkat Gubernur atas
Selandia Baru. Ini adalah ekspresi yang jelas pertama niat Inggris untuk lampiran Selandia Baru.

Kapten William Hobson

Kapten William Hobson dipanggil ke kantor kolonial pada malam 14 Agustus 1839 dan instruksi yang
diberikan untuk mengambil langkah-langkah konstitusional yang diperlukan untuk mendirikan sebuah
koloni Inggris. Sejarawan Paul bulan percaya instruksi yang ditulis oleh Sir James Stephen , maka kepala
Kantor Kolonial. [17] Namun, T. Lindsay Buick tahun 1914 buku monumentalnya 'The Treaty of Waitangi:
Selandia Baru atau bagaimana menjadi Koloni Inggris', jelas mereproduksi instruksi tertulis disusun
oleh Edward Cardwelldari Kantor Kolonial (Cardwell kemudian menjadi Viscount Cardwell dan paling
terkenal karena reformasi yang Tentara Inggris setelah bencana dari Perang Krimea ). Hobson
diangkat Konsul ke Selandia Baru. Dia diperintahkan untuk menegosiasikan transfer sukarela kedaulatan
dari Mori ke Kerajaan Inggris sebagai House of Lords pilih komite telah direkomendasikan pada tahun
1837. Normanby memberi Hobson tiga instruksi - untuk mencari penyerahan kedaulatan, untuk mengambil
kendali penuh atas masalah tanah dan membangun bentuk pemerintahan sipil, tetapi ia tidak memberikan

draft perjanjian. [18] [19] Hobson meninggalkan London pada 15 Agustus 1839 dan dilantik sebagai LetnanGubernur di Sydney pada tanggal 14 Januari, akhirnya tiba di Bay of Islands pada tanggal 29 Januari
1840. Sementara itu sebuah kapal kedua, Kuba, telah tiba di Port Nicholson pada tanggal 3 Januari
dengan pihak survei untuk mempersiapkan penyelesaian.

[20]

Kapal pertama yang membawa imigran tiba

pada tanggal 22 Januari - Aurora. [21]


Pada 30 Januari 1840 Hobson menghadiri Gereja Kristus di Kororareka (Russell) di mana ia secara
terbuka membaca sejumlah pernyataan. Yang pertama adalah Paten Surat 1839, sehubungan dengan
perpanjangan batas New South Wales untuk memasukkan pulau-pulau di Selandia Baru. Yang kedua
adalah dalam kaitannya dengan janji sendiri Hobson sebagai Letnan-Gubernur New Zealand. Yang ketiga
adalah dalam kaitannya dengan transaksi tanah (terutama pada masalah pre-emption).

[22]

Tanpa konsep dokumen yang disiapkan oleh pengacara atau pejabat Kantor Kolonial, Hobson dipaksa
untuk menulis perjanjian sendiri dengan bantuan sekretarisnya, James Freeman, dan Inggris
Resident James Busby , tak satu pun adalah seorang pengacara. Sejarawan Paul bulan percaya artikel
tertentu Perjanjian menyerupaiPerjanjian Utrecht (1713), Inggris Sherbo Perjanjian (1825) dan Perjanjian
antara Inggris dan Soombia Soosoos (1826).
[ 10]

[23]

Perjanjian Seluruh disiapkan dalam empat hari.

Menyadari bahwa perjanjian dalam bahasa Inggris bisa tidak dipahami, diperdebatkan atau disetujui

oleh Mori, Hobson menginstruksikan misionaris Henry Williamsdan putranya Edward, yang lebih mahir
dalam Te Reo, untuk menerjemahkan dokumen ke Mori dan ini dilakukan semalam di 4 Februari.

[24]

[ sunting ]Perdebatan
Pada tanggal 5 Februari perjanjian versi asli bahasa Inggris dan terjemahannya dalam
Maori [25] ditempatkan sebelum pertemuan kepala utara dalam besar tenda di halaman di depan rumah
Busby di Waitangi. Hobson membaca perjanjian dengan keras dalam bahasa Inggris dan Williams
membaca nya versi Mori. Mori kepala(rangatira) kemudian diperdebatkan perjanjian selama lima jam,
banyak yang direkam dan diterjemahkan oleh Paihia printer stasiun misionaris, William Colenso . [26]Rewa,
seorang kepala Katolik, yang telah dipengaruhi oleh Uskup Katolik Perancis Pompallier , mengatakan
"Orang-orang Mori tidak ingin seorang gubernur Kami tidak Eropa.! Memang benar bahwa kami telah
menjual sebagian tanah kami. Namun negara ini masih kita! Kami mengatur kepala ini tanah nenek
moyang kami", Moka 'Kainga -mataa ' menyatakan bahwa semua tanah yang tidak adil dibeli oleh orang
Eropa harus dikembalikan. [27] Whai bertanya: ". Kemarin saya dikutuk oleh seorang pria kulit putih Apakah
itu cara hal-hal yang akan menjadi?". Kepala Protestan seperti Hone Heke , Pumuka, Te
Wharerahi , Tamati Waka Nene dan saudaranya Eruera Maihi Patuone yang menerima Gubernur. [27] Hone
Heke mengatakan "Gubernur, Anda harus tinggal bersama kami dan menjadi seperti seorang ayah. Jika
Anda pergi pergi kemudian Perancis atau penjual rum akan membawa kita orang Mori atas. Bagaimana
Anda Beberapa dari Anda memberitahu Hobson untuk pergi Tapi itu tidak akan memecahkan kesulitan
kita.. Kami telah menjual tanah begitu banyak di sini di utara. Kami. memiliki ada cara mengendalikan
Eropa yang telah menetap di atasnya. Aku heran mendengar Anda menyuruhnya pergi! Kenapa kau tidak
memberitahu pedagang dan minuman beralkohol-penjual untuk pergi tahun yang lalu? Ada terlalu banyak

orang Eropa di sini sekarang dan ada adalah anak-anak yang akan menyatukan ras-ras kita ".

[27]

The

French Uskup Katolik Pompallier, yang telah konseling Katolik banyak Maori di utara mengenai perjanjian,
mendesak mereka untuk menjadi sangat waspada terhadap perjanjian dan tidak menandatangani apa
pun. Dia meninggalkan setelah diskusi awal dan tidak hadir ketika para kepala ditandatangani.
Setelah itu, para kepala suku kemudian pindah ke sebuah flat sungai di bawah rumah Busby dan rumput
dan musyawarah terus larut malam.

[ sunting ]Penandatanganan

Salah satu penandatangan,Hone Heke , dengan Hariata istrinya

Meskipun Hobson telah merencanakan untuk penandatanganan terjadi pada tanggal 7 Februari, pada pagi
hari tanggal 6 Februari 45 kepala siap untuk menandatangani. Hobson buru-buru diatur untuk hal ini
terjadi. [26]
Hobson memimpin penandatangan Inggris. Dari 40 atau jadi kepala Mori, Hone Heke adalah orang
pertama yang menandatangani perjanjian itu. Sebagai kepala masing-masing ditandatangani, Hobson
mengatakan "Dia Iwi tahi Tatou", artinya (dalam bahasa Inggris) "Kita sekarang salah satu orang".

[27]

Hadir pada penandatanganan itu anggota Ekspedisi Amerika Serikat Menjelajahi . [28] Secara keseluruhan
150 kepala utara, terutamaNga Puhi menandatangani Perjanjian hari itu. [29] Empat puluh empat kepala
dari Waikato-Tainui suku menandatangani Perjanjian. [30]
Untuk meningkatkan kewenangan dari perjanjian, delapan eksemplar lanjut dibuat dan dikirim di seluruh
negeri untuk mengumpulkan tanda tangan tambahan:

yang Manukau - Kawhia copy,

yang Waikato copy-Manukau,

yang Tauranga copy,

dengan Bay of Plenty copy,

salinan Herald-Bunbury,

yang Henry Williams copy,

Pantai Timur copy dan

salinan cetak.

Sekitar 50 pertemuan diadakan pada bulan Februari sampai September 1840 untuk membahas dan
menandatangani salinan, dan 500 lebih tanda tangan yang ditambahkan ke perjanjian. Sejumlah kepala
dan beberapa kelompok suku menolak untuk menandatangani, termasuk Ptatau Te Wherowhero (Waikato
Iwi) , Tuhoe , Te Arawa danNgti Tuwharetoa dan mungkin Moka 'Kainga-mataa' . Beberapa tidak diberi
kesempatan untuk menandatangani. [27] Sejumlah non-penandatangan Waikato dan Tengah Utara Pulau
kepala kemudian akan membentuk semacam konfederasi dengan seorang raja terpilih
disebut Kingitanga . (Gerakan Kingitanga nantinya akan membentuk kekuatan anti-pemerintah utama
di Selandia Baru Land Wars .)
Meskipun demikian, pada 21 Mei 1840, Letnan Gubernur-Hobson kedaulatan memproklamirkan seluruh
negeri, (North Island oleh Treaty dan Pulau Selatan dengan penemuan) dan Selandia Baru dilantik sebagai
koloni terpisah dari New South Wales pada 16 November 1840.
Ulang tahun penandatanganan Perjanjian yang sekarang menjadi Selandia Baru publik liburan, Hari
Waitangi , pada 6 Februari. Hari pertama Waitangi tidak sampai 1947 (meskipun ada beberapa peringatan
sebelum itu) dan hari itu tidak membuat hari libur umum sampai 1974. Peringatan tersebut sering menjadi
fokus protes oleh Mori dan sering menarik kontroversi. Ulang tahun secara resmi diperingati di rumah
Treaty di Waitangi , di mana Perjanjian pertama ditandatangani.

[ sunting ]Masih

ada salinan
Bagian ini tidak mengutip manapun acuan atau
sumber . Silakan bantu memperbaiki bagian ini
denganmenambahkan kutipan ke sumber terpercaya . Unsourced
bahan mungkin cacat dan dibuang . (Februari 2011)

Pada tahun 1841, Perjanjian lolos kehancuran ketika kantor pemerintah di Auckland dihancurkan oleh
api. Ketika ibukota dipindahkan dari Auckland ke Wellington pada tahun 1865, dokumen Perjanjian itu
diikat bersama-sama dan disimpan di tempat yang aman di Sekretaris Kolonial kantor 's. Dokumendokumen itu tak tersentuh sampai mereka pindah ke Wellington pada tahun 1865, ketika daftar
penandatangan diproduksi.

Pada tahun 1877, draft bahasa Inggris kasar Perjanjian itu diterbitkan bersama dengan
photolithographic faksimil dari Perjanjian, dan asli dikembalikan ke penyimpanan.Pada tahun 1908, Dr
Hocken ditemukan Perjanjian dalam kondisi yang buruk, sebagian dimakan oleh tikus. Dokumen ini
dikembalikan oleh Museum Dominion pada tahun 1913.
Pada bulan Februari 1940, Perjanjian dibawa ke Waitangi untuk ditampilkan di rumah Perjanjian
selama Centenary perayaan - ini mungkin pertama kalinya Perjanjian telah dipamerkan kepada publik
sejak ditandatangani.
Setelah pecahnya perang dengan Jepang, Perjanjian ditempatkan dengan dokumen negara lainnya dalam
outsize bagasi koper dan disimpan untuk tahanan aman denganTrustee Publik di Palmerston North oleh
lokal MP , yang tidak memberitahu staf apa dalam kasus ini. Namun, sebagai kasus itu terlalu besar untuk
muat di dalam brankas, Perjanjian menghabiskan perang di sisi koridor kembali di kantor Dipercaya Publik.
Pada tahun 1956, Departemen Dalam Negeri ditempatkan Perjanjian ke dalam perawatan Perpustakaan
Turnbull Alexander dan akhirnya ditampilkan pada tahun 1961.Langkah-langkah pelestarian selanjutnya
diambil pada tahun 1966, dengan perbaikan kondisi tampilan. Dari tahun 1977 sampai tahun 1980,
perpustakaan ekstensif dipulihkan dokumen sebelum Perjanjian itu disimpan di Reserve Bank.
Dalam mengantisipasi keputusan untuk menunjukkan perjanjian pada tahun 1990 (setengah abad dari
penandatanganan), penuh dokumentasi dan reproduksi fotografi dilakukan. Beberapa tahun perencanaan
memuncak dengan pembukaan ruang Konstitusi di Arsip Nasional kemudian oleh Mike Moore , Perdana
Menteri Selandia Baru , pada bulan November 1990. Dokumen saat ini pada tampilan permanen di ruang
Konstitusi di Arsip Selandia Baru markas 's di Wellington.

[ sunting ]Arti

dan interpretasi

"Perjanjian adalah Penipuan" poster darigerakan protes Mori pada 1980-an.

Perjanjian itu sendiri pendek, yang terdiri dari pembukaan dan tiga artikel. Pembukaan ini menyajikan Ratu
Victoria "yang berkeinginan untuk mendirikan suatu bentuk menetap Pemerintah Sipil", dan mengundang
Mori kepala untuk setuju dalam artikel berikut. Artikel pertama dari versi bahasa Inggris hibah " Ratu
Inggris "(sebenarnya Inggris) kedaulatan atas Selandia Baru. Artikel kedua jaminan kepada kepala penuh
"kepemilikan eksklusif dan tak terganggu Tanah dan Hutan Perkebunan Perikanan dan properti lainnya." Ia
juga menetapkan bahwa Mori akan menjual tanah hanya untuk mahkota. Artikel ketiga menjamin semua
Mori hak yang sama seperti semua mata pelajaran Inggris lainnya.
Versi bahasa Inggris dan Mori berbeda. Hal ini membuat sulit untuk menafsirkan Perjanjian dan terus
melemahkan efeknya.Perbedaan yang paling penting berkisar pada interpretasi dari tiga kata
Mori: kwanatanga (gubernur), yang diserahkan kepada Ratu dalam artikel
pertama, rangatiratanga (keadaan kepala suku) tidak mana (kepemimpinan) (yang dinyatakan dalam
Deklarasi Kemerdekaan hanya lima tahun sebelum Perjanjian itu ditandatangani), yang dipertahankan oleh
para pemimpin di kedua, dan taonga (properti atau harta berharga), dimana kepala dijamin kepemilikan
dan kontrol, juga di artikel kedua. Beberapa Mori memiliki pemahaman yang baik tentang baik kedaulatan
atau "gubernur", sebagaimana yang dipahami oleh orang Eropa abad ke-19, dan sehingga beberapa
akademisi, seperti Moana Jackson , pertanyaan apakah Mori sepenuhnya dipahami bahwa mereka
menyerahkan kedaulatan kepada Kerajaan Inggris.

[ rujukan? ]

Selanjutnya, kwanatanga adalah terjemahan pinjaman dari 'gubernur' dan bukan bagian dari bahasa
Mori. Istilah telah digunakan oleh Henry Williams dalam terjemahan dari Deklarasi Kemerdekaan Selandia
Baru yang ditandatangani oleh 35 utaraMori kepala di Waitangi pada tanggal 28 Oktober
1835. [31] The Declaration of Independence of New Zealand menyatakan 'Ko te Kingitanga ko te mana i te w
[h] Enua 'untuk menggambarkan' semua kekuasaan dan otoritas yang berdaulat di tanah '.

[31]

Ada perdebatan tentang apa yang akan menjadi istilah yang lebih tepat. Beberapa ulama, terutama Ruth
Ross, menyatakan bahwa mana (prestise, otoritas) akan memiliki lebih akurat menyampaikan penyerahan
kedaulatan. [32] Namun, itu baru-baru ini telah dikatakan oleh orang lain, misalnya Judith Binney, mana yang
tidak akan pernah yang sesuai. Hal ini karena mana bukanlah hal yang sama seperti kedaulatan, dan juga
karena tidak ada yang bisa menyerahmana mereka. [33]
Versi bahasa Inggris mengakui hak untuk Mori "properties", yang tampaknya menyiratkan properti fisik
dan mungkin intelektual. Versi Mori, di sisi lain, menyebutkan "taonga ", yang berarti" harta "atau" hal-hal
yang berharga ". Dalam penggunaan Mori istilah berlaku jauh lebih luas dibandingkan dengan konsep
bahasa Inggris secara hukum, dan sejak tahun 1980-an pengadilan telah menemukan bahwa istilah ini
dapat mencakup hal-hal tak berwujud seperti bahasa dan budaya.

[34] [35] [36]

properti fisik Bahkan di mana

seperti tanah yang bersangkutan, berbeda pemahaman budaya seperti apa jenis tanah dapat dimiliki
secara pribadi telah menyebabkan masalah, seperti misalnya dalam kontroversi tepi pantai dan dasar
laut dari 2003-04.
Klausa pre-emption umumnya tidak baik diterjemahkan, dan Mori banyak ternyata percaya bahwa mereka
hanya memberikan Ratu Inggris tawaran pertama di darat, setelah itu mereka bisa menjualnya kepada

siapa pun. [ rujukan? ] Keraguan telah dilemparkan pada apakah Hobson sendiri benar-benar mengerti konsep
pre-emption. Lain, kurang penting, perbedaan adalah bahwa Ingarani, berarti Inggris saja, digunakan di
seluruh dalam versi Mori, sedangkan "dengan Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia"digunakan dalam
paragraf pertama dari Inggris.
Seluruh masalah ini lebih rumit oleh kenyataan bahwa, pada saat itu, masyarakat Mori adalah oral
daripada satu melek. Mori hadir pada saat penandatanganan Perjanjian ini akan menempatkan nilai lebih
dan ketergantungan pada apa yang Hobson dan misionaris berkata, bukan kata-kata dari Perjanjian yang
sebenarnya. [37]
Kepercayaan Mori dan sikap terhadap kepemilikan dan penggunaan lahan yang berbeda dari yang
berlaku di Inggris dan Eropa. Para pemimpin melihat diri mereka sebagai 'Kaitiaki' atau penjaga tanah, dan
tradisional akan memberikan izin untuk lahan yang akan digunakan untuk waktu untuk tujuan
tertentu. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa mereka menyewa tanah ketimbang menjualnya, yang
mengarah ke perselisihan dengan pemukim penghuni. Seorang kepala utara, Nopera Panakareao , juga
awal pemahaman diringkas nya Perjanjian sebagai "bayangan tanah adalah Ratu, tetapi substansi tetap
kepada kita", bahkan sebagai pejabat Inggris kemudian mengatakan bahwa Mori akan menemukan
bahwa Inggris telah memperoleh "sesuatu yang lebih dari bayangan". Nopera yang kemudian terbalik
pernyataan sebelumnya - perasaan bahwa substansi tanah itu memang pergi ke Ratu, hanya bayangan
tetap untuk Mori. [38]

[ sunting ]Efek
Bagian ini tidak mengutip manapun acuan atau
sumber . Silakan bantu memperbaiki bagian ini
denganmenambahkan kutipan ke sumber terpercaya . Unsourced
bahan mungkin cacat dan dibuang . (Februari 2011)

Pada November 1840 sebuah piagam kerajaan ditandatangani oleh Ratu Victoria , mendirikan Selandia
Baru sebagai koloni Crown terpisah dari New South Wales dari Mei 1841.
Efek jangka pendek dari Perjanjian ini adalah untuk mencegah penjualan tanah Mori kepada siapa pun
selain mahkota. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi Mori dari jenis pembelian tanah teduh yang telah
mengasingkan masyarakat adat di bagian lain dunia dari tanah mereka dengan kompensasi
minimal. Memang, mengantisipasi Perjanjian tersebut, Perusahaan Selandia Baru melakukan transaksi
tanah beberapa tergesa-gesa dan pemukim dikirim dari Inggris ke Selandia Baru, dengan asumsi bahwa
pemukim tidak akan diusir dari tanah mereka diduduki. Pada dasarnya Perjanjian itu merupakan upaya
untuk membangun sistem hak milik atas tanah dengan mahkota mengendalikan dan mengawasi penjualan
tanah untuk mencegah penyalahgunaan.
Awalnya ini bekerja dengan baik. Mori sangat ingin menjual tanah, dan pemukim ingin membeli. Crown
dimediasi proses untuk memastikan bahwa pemilik sejati yang benar diidentifikasi (sulit untuk tanah milik
tribally) dan cukup kompensasi, menurut standar waktu. Namun setelah beberapa saat Mori menjadi

kecewa dan kurang bersedia untuk menjual, sedangkan Crown berada di bawah tekanan yang meningkat
dari pemukim yang ingin membeli. Akibatnya pemerintah agen tanah terlibat dalam sejumlah pembelian
tanah meragukan. Perjanjian yang dinegosiasikan dengan hanya satu pemilik tanah tribally dimiliki dan
dalam beberapa kasus tanah dibeli dari orang yang salah sama sekali. Akhirnya ini menyebabkan Wars
Selandia Baru yang memuncak dalam penyitaan sebagian besar dari Waikato dan Taranaki .
Dalam tahun kemudian, peran pengawasan yang melekat pada Pengadilan Native Land bawah UndangUndang Pengadilan Tanah asli 1862, dan kemudian berganti nama menjadi Pengadilan Tanah Mori . Itu
melalui pengadilan ini yang banyak Mori tanah terasing, dan cara di mana itu berfungsi jauh dikritik
hari. Selama jangka panjang, pembelian tanah aspek Perjanjian menurun di penting, sedangkan klausul
Perjanjian yang berhubungan dengan kedaulatan dan hak Mori mengambil kepentingan yang lebih besar.
Perjanjian itu tidak pernah diratifikasi oleh Inggris dan tidak membawa kekuatan hukum di Selandia Baru
selama lebih dari satu abad, akhirnya menerima pengakuan terbatas pada tahun 1975 dengan
disahkannya Undang-Undang Perjanjian Waitangi . The Kantor Kolonial dan awal Selandia Baru gubernur
awalnya cukup mendukung Perjanjian seperti itu memberi mereka kekuasaan atas kedua pemukim
Perusahaan Selandia Baru dan Mori. Sebagai pemukim diberikan perwakilan dan pemerintah yang
bertanggung jawab dengan Konstitusi Selandia Baru Act 1.852 , Perjanjian menjadi kurang efektif,
meskipun itu digunakan untuk membenarkan gagasan bahwa Waikato dan Taranaki adalah memberontak
terhadap mahkota dalam perang tahun 1860-an. Kasus pengadilan kemudian di abad ke-19,
khususnya Wi Parata v Uskup Wellington(1877), menetapkan prinsip bahwa Perjanjian adalah 'nulitas
hukum' yang dapat diabaikan oleh pengadilan dan pemerintah. Argumen ini didukung oleh klaim bahwa
Selandia Baru telah menjadi koloni ketika dianeksasi oleh proklamasi pada Januari 1840, sebelum
perjanjian itu ditandatangani. Selanjutnya, Hobson hanya mengaku telah mengambil kepemilikan Pulau
Utara oleh Perjanjian. The South Island ia mengklaim untuk Inggris atas hak penemuan, dengan
mengamati bahwa Mori begitu jarang di Pulau Selatan, bahwa hal itu bisa dianggap tak
berpenghuni. [ rujukan? ]
Meskipun demikian, Mori sering digunakan Perjanjian untuk berdebat untuk berbagai isu, termasuk
kebebasan yang lebih besar dan kembali tanah disita dan tidak adil dibeli. Hal ini terutama terjadi dari
pertengahan abad ke-19, ketika mereka kehilangan keunggulan numerik dan kontrol umumnya hilang dari
sebagian besar negara.
Namun tidak relevan dalam hukum, Perjanjian itu kembali ke mata publik setelah rumah Treaty dan alasan
dibeli oleh Gubernur Jenderal Viscount Bledisloe di awal 1930-an dan disumbangkan kepada
bangsa. Dedikasi dari situs sebagai cadangan nasional pada tahun 1934 adalah mungkin peristiwa besar
pertama yang diselenggarakan di sana sejak tahun 1840-an. Profil dari Perjanjian ini terus ditingkatkan
oleh seratus tahun 1940. Untuk sebagian besar dari abad ke-20, buku teks, publikasi pemerintah dan
banyak sejarawan disebut-sebut sebagai landasan moral kolonisasi dan untuk mengatur hubungan ras di
Selandia Baru atas orang-orang koloni di Amerika Utara, Afrika dan Australia. Kurangnya signifikansi

hukum pada tahun 1840 dan pelanggaran berikutnya cenderung diabaikan sampai tahun 1970-an, ketika
isu-isu yang diangkat olehprotes Mori .

Asal Usul Suku-Suku Di Indonesia


Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login

Share on facebookShare on emailShare on favoritesShare on print|More Sharing ServicesMore

Senin, 14 Mei 2012 - Berikut adalah sebuah


makalah diskusi yang dibuat oleh Tayo Sandono
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman suku
bangsa terbesar di dunia. Terdapat setidaknya 400 kelompok etnis dalam
wilayah negara ini. Sebuah pertanyaan besar adalah dari mana suku-suku ini
datang atau siapakah nenek moyang kita? Sebuah lagu memberikan
gambaran ringkas: nenek moyangku orang pelaut. Walau begitu, studi
antropologi tampaknya berbicara lain.
A.

Periode Zaman Es Akhir (20.000 14.000 tahun yang lalu)

Leluhur Austro-Melanesia
Periode zaman es ini dikatakan akhir karena Bumi telah melewati tak terhitung
masa zaman es dalam sejarah hidupnya. Zaman es terakhir di Bumi terjadi
pada masa 20 ribu hingga 14 ribu tahun lalu. Masa dimana para mamuth
menguasai Bumi belahan utara.
Dalam masa ini, kutub menjadi lebih dingin dan samudera di sekitar kutub
membeku. Pembekuan ini berdampak pada lebih banyak lagi air yang tertarik
ke arahnya sehingga menghasilkan pembekuan lebih besar lagi. Karena
adanya pembekuan di wilayah kutub-kutub Bumi, volume air di wilayah

khatulistiwa berkurang. Akibatnya, dalam masa ini, laut wilayah Indonesia


jatuh hingga 135 meter dengan laju penurunan 7-9 mm per tahun. Laju
penurunan ini masih diluar persepsi manusia namun dalam jangka waktu
panjang dapat terlihat jelas. Dalam 150 tahun misalnya, bibir pantai telah
tertarik jauh karena penurunan 1 meter permukaan laut. Di masa ini,
Sumatera, Jawa, dan Kalimantan menyatu menjadi satu daratan yang
terhubung langsung dengan benua Asia. Daratan ini disebut sebagai Paparan
Sunda. Hal yang sama terjadi di wilayah timur tepatnya di Nusa Tenggara.
Laut di wilayah mereka jatuh dan membuat wilayah ini menyatu dengan
Australia membentuk apa yang disebut sebagai Paparan Sahul.
Paparan Sunda dipagari oleh pegunungan berapi yang ada di pinggiran ujung
dekat Samudera Hindia yaitu di Sumatera dan Jawa. Laut Jawa dan Selat
Karimata yang mengering berubah menjadi padang rumput terbuka, dataran
banjir, dan rawa-rawa. Hutan yang ada tidak terlalu lebat karena iklim
cenderung kering akibat penumpukan es yang besar di belahan utara dan
selatan Bumi.
Parapan Sunda adalah sebuah daratan yang luas. Sungai-sungai begitu
panjang. Sungai Kapuas dan sungai Musi misalnya, bermuara di Laut China
Selatan, jauh di utara dekat Vietnam sana. Sementara itu, sungai-sungai dari
Jawa dan Kalimantan Tengah dan Selatan bermuara di Laut Flores. Di bagian
muara ke Laut Flores, sungai muncul berliku-liku karena platform yang penuh
rawa. Wilayah ini penuh dengan reptil seperti ular dan buaya sehingga
kemungkinan besar tidak dihuni manusia.
Manusia menghuni wilayah Paparan Sunda yang ada dalam segitiga
Sumatera-Jawa-Kalimantan. Masyarakat ini berasal dari daratan benua Asia,
masuk lewat Thailand atau Semenanjung Malaya. Mereka menghuni wilayah
khususnya di tepian sungai besar. Di sini mereka berburu mamalia, burung,
dan ikan dengan alat-alat sederhana seperti tombak kayu dan sebagainya
yang termasuk barang-barang dari kayu atau batu yang tidak terlalu keras.
Hal ini disebabkan sumber utama batu yang umum digunakan dalam
peradaban zaman batu seperti batu untuk bahan dasar kapak, parang, dan
mata panah terdapat hanya di satu titik yaitu di daerah Bangka Belitung.
Masyarakat ini disebut masyarakat Austro-Melanesia dan telah hidup di
wilayah ini bahkan sebelum zaman es terjadi. Masyarakat Austro-Melanesia
ini telah tinggal setidaknya sejak 35 ribu tahun lalu. Jadi leluhur orang
Indonesia yang pertama dapat dipandang berasal dari masyarakat AustroMelanesia ini.
Karena udara yang kering dan banyaknya padang rumput, kebakaran hutan
kerap terjadi. Wilayah Kalimantan merupakan wilayah yang paling sering
mendapat kebakaran hutan dan Masyarakat Austro-Melanesia yang tinggal di
Kalimantan Timur terdorong untuk mengungsi menyeberang ke Sulawesi,
tepatnya di Tonasa dan Kapposang.
B.

Zaman Es Berakhir (14.000-6.000 tahun yang lalu)

Pada akhir zaman es ini, kutub kembali mencair dan air kembali memenuhi
lautan yang kering. Air laut yang memasuki Paparan Sunda dan memisahkan
Kalimantan dengan Sumatera dan Jawa yang masih menyatu dan akhirnya
terpisah oleh Selat Sunda. Masyarakat Austro-Melanesia yang tinggal di
Paparan terpaksa menyebar ke dalam tiga arah. Ke Sumatera di Barat
mereka menjadi leluhur Batak dan Minang. Ke Jawa di Selatan mereka
menjadi leluhur orang Sunda dan Jawa. Ke Kalimantan di timur, mereka
menjadi leluhur orang Dayak. Mereka masuk ke pulau-pulau baru ini lewat
sungai-sungai besar. Mereka pada umumnya tinggal di gua-gua besar di
pegunungan seperti di wilayah Bandung, Yogyakarta, dan Kalimantan Timur.
Ketika jumlah populasi telah besar, gua tidak cukup menampung, dan mereka
menyebar ke sekeliling. Indonesia dipenuhi hutan lebat karena masuknya
nutrisi dari kutub dan berubahnya iklim menjadi lebih hangat.
Leluhur Orang Pelaut
Dalam suatu masa di akhir zaman es ini, sekelompok masyarakat pelaut dari
Taiwan datang ke Indonesia. Di katakan masyarakat pelaut karena mereka
datang dengan melindasi perairan selat antara Taiwan, kepulauan Philipina,
dan Laut Sulawesi. Mereka datang ke Indonesia dalam tiga aliran. Aliran
pertama berpisah di Pulau Palawan Philipina mengambil jalur ke Sabah di
Kalimantan. Mereka berasimilasi dengan masyarakat Austro Melanesia yang
telah ada lebih dahulu sehingga masyarakat Dayak yang ada sekarang dapat
dipandang sebagai campuran antara Austro-Melanesia dan orang pelaut ini.
Gelombang kedua berpisah dengan aliran ketiga di wilayah Sangir Talaud.
Dari Mindanau mereka menyeberang ke Sangir Talaud lalu mengambil dua
arah. Arah pertama menuju ke Sulawesi Utara terus ke selatan memenuhi
seluruh Sulawesi seperti Buton dan Bugis. Masyarakat pelaut yang mencapai
wilayah Sulawesi Selatan berasimilasi dengan penduduk Austro-Melanesia
yang telah lebih dahulu hadir dari Kalimantan. Mereka dapat dipandang
sebagai leluhur Bugis. Karena konflik, kompetisi, atau letusan gunung,
mereka meneruskan perjalanan dari Sulawesi menuju Takabonerate,
menyeberangi Laut Flores, dan tiba di Nusa Tenggara, tepatnya di Flores.
Flores merupakan wilayah yang sering diterjang tsunamidan kemungkinan ini
pula yang mendorong mereka untuk menyeberang lebih jauh ke selatan yaitu
ke Pulau Sumba dan ke Timor.
Arah kedua menyeberang ke Halmahera menuju ke Papua. Mereka pertama
mendarat di wilayah Papua Utara. Papua Utara dan Selatan dihalangi oleh
Pegunungan Jayawijaya yang tinggi dan tertutup salju. Seiring semakin
menghangatnya iklim, salju tertarik menuju puncak dan jalan lembah menuju
ke selatan terbuka. Mereka sebagian menyeberang ke selatan dan memenuhi
Papua Selatan. Menariknya catatan prasejarah mengenai penemuan cara
membuat api ditemukan di Danau Hogayaku, Papua dan berasal dari 14 ribu
tahun yang lalu.

Peta Migrasi Leluhur Orang Indonesia

C.

Zaman Resen (6.000 tahun yang lalu sekarang)

Pada zaman ini, relatif seluruh pulau besar di Indonesia telah berpenghuni.
Masyarakat pelaut dan Austro-Melanesia telah berasimilasi sehingga
membentuk berbagai kebudayaan unik di seluruh penjuru Nusantara.
Penyebaran ini didukung oleh teknologi pelayaran yang baik. Sebagian dari
masyarakat pelaut menyebar hingga ke Australia dan berasimilasi dengan
penduduk Aborigin yang telah tinggal lama di sana, mungkin juga berasal dari
Austro-Melanesia. Mereka juga menyebar ke Selandia Baru dan mungkin
menjadi leluhur orang Maori. Ke Barat, mereka menyeberang hingga ke Afrika
Timur. Di Madagaskar misalnya, ditemukan bahasa yang memiliki kemiripan
dengan bahasa daerah salah satu etnik Dayak di Kalimantan. Diduga
masyarakat Dayak telah menyebar dan mengkoloni Madagaskar sejak abad
ketiga SM.
Masyarakat Dayak yang tinggal di pesisir Kalimantan (Barat dan Utara) pada
masa 1500 tahun lalu menjadi leluhur orang Melayu di Sumatera dan
Semenanjung Malaya. Mereka menyeberang karena didorong oleh
perdagangan dan teknologi pelayaran yang cukup maju.
1.

D.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan hasil studi arkeologi dan antropologi di atas, dapat


dibuat sebuah pohon evolusisuku-suku di Indonesia. Pohon evolusi ini dapat
digambarkan sebagai berikut:

Referensi
Anwar, M.S. 2011. Ketika Pluralisme Diharamkan dan Kebebasan
Berkeyakinan
Dicederai:
Sebuah
Kaleidoskop,
Pengalaman,
dan Kesaksian untuk Mas Djohan Effendi. Dalam Merayakan Kebebasan
Beragama: Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi. Elza Peldi Taher (editor).
Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 424-466
Blust R. 1984/85. The Austronesian homeland: a linguistic perspective. Asian
Perspect 26: 45-67
Gray RD, Jordan FM. 2000. Language trees support the express train
sequence of Austronesian expansion. Nature 405: 1052-5
Hantoro, W.S. 2006. Climate-Enviroment and Extreme Event since the Last
Glacial Maximum: Human Occupation and Dispersal Pattern in Indonesia
Maritime Island. Dalam Archaeology: Indonesian Perspective. Editor: Truman
Simanjuntak, dkk. LIPI. Hal. 102-116
Malay. Encyclopdia
Britannica. Encyclopaedia
Britannica
Reference Suite. Chicago: Encyclopdia Britannica, 2010.

Ultimate

Rautner M, Hardiono M, Alfred RJ. 2005. Borneo: treasure island at risk. WWF
Germany. Frankfurt am Main