Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 PROSES PENYUSUNAN APBD
A. Pengertian APBD.
APBD adalah suatu rancangan keuangan tahunan daerah yang ditetapkan
berdasarkan peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Seperti halnya dengan APBN, rencana APBD diajukan setiap tahun oleh
pemerintah daerah kepada DPRD untuk dibahas dan kemudian disahkan sebagai
peraturan daerah.
B. Dasar Hukum Keuangan Daerah dan APBD.
Dasar hukum dalam penyelenggaraan keuangan daerah dan pembuatan
APBD adalah sebagai berikut :
a. UU No. 32 Tahun 2003 tentang Pemerintah Daerah.
b. UU No. 33 Tahun 2003 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah.
c. PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban
Keuangan Daerah.
d. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pengurusan, Pertanggungjawaban Keuangan Daerah serta Tata Cara
Pengawasan, Penyusunan, dan Perhitungan APBD.

C. Tujuan APBD.

Pada dasarnya tujuan penyusunan APBD sama halnya dengan tujuan


penyusunan APBN. APBD disusun sebagai pedoman penerimaan dan pengeluaran
penyelenggara negara di daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan
untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat. Dengan APBD maka pemborosan,
penyelewengan, dan kesalahan dapat dhindari.

D. Fungsi APBD.
APBD yang disususn oleh setiap daerah berfungsi sebagai berikut :
a. Fungsi Otorisasi.
APBD berfungsi sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam menjalankan
pendapatan dan belanja untuk masa satu tahun.
b. Fungsi Perencanaan.
AOBD merupakan pedoman bagi pemerintah daerah dalam menyusun
perencanaan penyelenggaraan pemerintah daerah pada tahun yang
bersangkutan.
c. Fungsi Pengawasan.
APBD merupakan pedoman bagi DPRD, BPK,dan instansi pelaksanaan
pengawasan lainnya dalam menjalankan fungsi pengawasannya.
d. Fungsi Alokasi.
Dalam APBD telah digambarkan dengan jelas sumber-sumber pendapatan
dan alokasi pembelanjaannya yang harus dilaksankan oleh pemerintah
daerah.
e. Fungsi Distribusi.
Sumber-sumber pendapatan dalam APBD digunakan untuk pembelanjaanpembelanjaan yang disesuaikan denagn kondisi setiap daerah dengan
mempertimbangkan asas keadilan dan kepatutan.
D. Cara Penyusunan APBD.

APBD disusun melalui beberapa tahap kegiatan. Kegiatan-kegiatan


tersebut antara lain sebagai berikut :

Penelaahan
DPRD

Penelaahan
Eksekutif

Surat Edaran
Mendagri

Pembahasan
KUA dan PPAS

Nota
Kesepakatan

Menyusun
Pedoman RKA dan

Tahap proses penyususunan anggaran sesuai dengan UU No. 25 tahun


2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasioanal, dimulai dari proses
penyusunan RPJP Daerah yang memuat visi, misi serta arah pembangunan daerah
dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Setelah RPJP Daerah ditetapkan , tugas
selanjutnya adalah

Pemerintah Daerah menetapkan uraian dan penjabaran

mengenai visi, misi dan program kepala daerah dengan memperhatikan RPJP
Daerah dan RPJM Nasional dengan memuat hal-hal tentang arah kebijakan umum
daerah, program serta kegiatan SKPD yang dituangkan dalam Renstra dengan
acuan kerangka pagu indikatif. RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah
paling lambat 3 (tiga) bulan sejak kepala daerah dilantik berdasarkan UU No. 25

Tahun 2004 pasal 19 ayat (3). Setelah itu dilanjutkan dengan penetapan RKPD
yang ditetapkan setaip tahunnya berdasarkan acuan RPJMD, Renstra, Renja dan
memperhatikan RKP dengan Peraturan Kepala Daerah sebagai dasar untuk
penyusunan APBD. Proses perencanaan dari RPJP Daerah, RPJM Daerah, sampai
dengan RKP Daerah sesuai denagn UU No. 25 Tahun 2005 berada di BAPPEDA.
Proses selanjutnya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun
2005 tentang pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 34 dan 35 menyatakan kepala
daerah menyusunan kebijakan umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran
Sementara berdasarkan RKPD dengan memperhatikan Peraturan Menteri Dalam
Negeri tentang Pedoman Penyusunan APBD yang diterbitkan tiap tahunnya.
Setelah KUA dan PPAS disepakati dalam nota kesepakatan antara Kepala Daerah
dan Pimpinan DPRD maka kepala Daerah menyususn surat daran perihal
pedoman

penyusunan

RKA-SKPD/PPKD

dengan

pendekatan

kerangka

pengeluaran jangka menengah yang direncanakan dan merupakan implikasi


kebutuhan dana untuk pelaksanaaan program dan kegiatan tersebut pada tahun
berikutnya memuat rencana pendapatan, belanja untuk masing-masing program
dan kegiatan menurut fungsi untuk tahun yang direncanakan, dirinci sampai
dengan rincian objek pendapatan, belanja dan pembiayaan, serta prakiraan maju
untuk tahun berikutnya.
RKA-SKPD dan RKA-PPKD berdasarkan PP No. 58 Tahun 2005 Pasal 41
ayat (1) menyatakan RKA-SKPD yang telah disusun oleh kepala SKPD
sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 ayat (1) disampaikan kepada PPKD dan

ayat (2) RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selanjutnya dibahas
oleh tim anggaran pemerintah daerah.
Tim Anggaran Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD
berdasarkan PP No. 58 Tahun 2005 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13
Tahun 2006 adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan
dipimpin oleh sekertaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta
melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang
anggotanya terdiri dari pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan.
Proses selanjutnya adalah PPKD sesuai dengan aturan perundangundangan menyusun rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan kepala
daerah untuk disampaikan ke DPRD dan selanjutnya dibahas serta disepakati
bersama yang dituangkan dalam nota kesepakatan antara kepala daerah dan
pimpinan DPRD. Setelah rancangan peraturan daerah tenatng APBD disetujui
proses berikutnya adalah tahapan evaluasi ke Gubernur untuk mendapat
persetujuan, tata cara evaluasi dan lainnya telah diatur dalam perundangperundangan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Analisis APBD Kota Depok Tahun 2010-2012.
Berikut ini adalah data APBD Kota Depok tahun 2010-2012 yang akan
dianalisa :

APBD KOTA DEPOK DARI TAHUN 2010-2012


(dalam milyar rupiah)
APBD
Pendapatan
Pendapatan Asli Daerah
Pajak Daerah
Retibusi Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg
Dipasahkan
Lain-lain PAD yang Sah
Dana Perimbangan
-

Dana Bagi Hasil Pajak/bagi Hasil Bukan Pajak

2011

2012

2013

317,164

403,041

442,235

67,467
45,126
7,650

71,852
47,682
8,035

87,647
62,365
7,637

3,420

3,637

4,845

11,271
275,266

12,498
295,281

18,884
302,264

69,768

77,677

71,934

Dana Alokasi Umum


Dana Alokasi Khusus
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
Hibah
Dana Darurat
Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi dan Pemda
Lainnya
Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
Bantuan Keuangan dari Propinsi atau Pemda
Lainnya
Lain-lain

187,196
18,302
44,431
2,309
551

193,226
21,378
38,908
4,248
377

207,081
23,250
52,297
2,408
295

11,663

11,961

13,115

20,852

15,497

29,645

2,242

4,955

5,185

6,814

1,871

2,015

Belanja

353,300

443,565

474,135

Belanja Tidak Langsung


Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hasil kpd Prop/Kab/Kota dan
Pemdes
Belanja Bantuan Keuangan kpd Prop/Kab/Kota
dan Pemdes
Belanja Tak Terduga
Belanja Langsung
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal

212,449
161,904
316
692
12,262
26,768

241,573
174,762
187
635
19,373
11,517

251,438
251,461
179
708
14,437
10,603

4,457

12,578

14,834

5,213

20,797

20,719

837
140,851
7,560
28,553
104,738

1,725
201,992
23,816
82,006
96,170

2,573
222,689
23,568
94,982
106,207

Pembiayaan

65,386

40,467

33,370

Panerimaan
SiLPA TA Sebelumnya
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Penerimaan Pinjaman Daerah dan Obligasi
Peneimaan Kembali Pembelian Pinjaman
Penerimaan Piutang Daerah
Pengeluaran Daerah
Pembentukan Dana Cadangan
Penyertaan Modal (invsetasi) Daerah
Pemabyaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman Daerah
Pembayaran Kegiatan Lanjutan
Pengeluaran Perhitungan Pihak Ketiga

74,408
70,744
660
75
1,580
851
498
9,022
840
4,068
2,432
821
716
145

48,091
43,116
662
132
1,795
2,387
7,624
513
2,883
3,237
990
-

41,191
37,606
366
34
2,394
791
7,821
502
3,479
3,180
353
128
180

Adapun komponen yang membentuk APBD diatas terdiri dari 4 bagian, yaitu
ringkasan pendapatan, belanja, suplus/defisit dan pembiayaan.
A. Pendapatan.
Bagian ini melihat perubahan dalam berbagai komponen pendapatan.
Untuk pemerintah daerah yang ada di Indonesia, pendapatan utamanya
-

berasal dari tiga sumber :


Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak dan retribusi
Transfer dari puast, dan
Pendapatan lainnya.
Mengingat rata-rata sumber pendapatan pemerinath daerah didominasi
oleh dana perimbangan yaitu sekitar 80-90%, maka sumber pendapatan

pemda dalam kondisi dependable (ketergantungan).


B. Belanja.
Bagian ini menujukkan perkembangan total belanja dalam periode 3 (tiga)
tahun. Selain itu, akan ditujukkan pula perubahan dalam jenis belanja
sehingga dapat diketahui jika ada satu komponen yang berubah relatif
terhadap komponen lain. Untuk pemda di Indonesia, klasifikasi belanja
secara ekonomi dibagi ke dalam 10 (sepuluh) jenis , yaitu :
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang dan Jasa
3. Belanja Modal
4. Belanja Bunga
5. Belanja Subsidi
6. Belanja Hibah
7. Belanja Bantuan Sosial
8. Belanja Bagi Hasil Kepada Prop/Kab/Kota dan Pemdes
9. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prop/Kab/Kota dan Pemdes
10. Belanja Tak Terduga.
C. Surplus/Defisit.
Pada bagian ini ditunjukkan aktual pendapatan, belanja, dan surplus/defisit
dalam periode 3 (tiga) tahun. Pada dasarnya, dari bagian ini dapat terlihat
surplus/defisit secara Nasional. Namun, tidak seperti private sector,

surplus yang besar tidak diharapkan terjadi karena hal ini dapat
mengindikasikan bahwa pemerintah daerah tidak memberikan pelayanan
publik secara optimal dalam beberapa hal.
D. Pembiayaan.
Pos ini menggambarkan transaksi keuangan pemda yang dimaksudkan
untuk menutup selisih antara Pendapatan dan Belanja Daerah, jika
Pendapatan lebih kecil maka terjadi defisit dan akan ditutupi dengan
penerimaan pembiayaan, begitu juga sebaliknya.
2.2 Analisa Per-Komponen APBD
A. Pendapatan Daerah.
Untuk tahun 2011-2013, rata-rata jumlah PAD hanya sekitar 17,5%
dan Lain-lain Pendapatan hanya 11,8% dari total pendapatan,
sementara Dana Perimbangan (Daper) mencapai 70,7%.
Tabel jenis pendapatan daerah
Jenis Pendapatan
Dalam Milyar Rupiah
PAD
DAPER
Lain-lain Pendapatan

2011
393,089
57,457
281,285
44,347

2012

Rata-

2013

403,041
71,852
292,281
38,908

rata
412,788
72,328
291,943
45,184

442,235
87,674
302,264
52,297

Persent
ase
100
17,5%
70,7%
11,8%

Persentase sumber pendapatan daerah


Jenis pendapatan
Persentase
PAD
DAPER
Lain-lain Pendapatan

2011

2012
100
17
72
11

2013
100
18
73
10

100
20
68
12

Tabel diatas memperlihatkan bahwa meskipun DAPER mempunyai


proporsi paling besar, akan tetapi kecenderungannya semakin menurun
dari tahun ke tahun. Jika di TA 2011 nilainya mencapai 72%, maka pada
tahun-tahun sesudahnya semakin menurun hingga mencapai 68% pada
TA 2013. Kondisi sebaliknya terjadi untuk PAD, di mana nilai
proporsinya cenderung mngalami kenaikan, dari 17% di TA 2011

menjadi 20% di TA 2013. Adapun untuk lain-alin pendapatan nilai


proporsinya cenderung lebih fluktuasi dari TA 2011-2013, dengan nilai
terendah 10% di TA 2012 dan nilai tertinggi 12% di TA 2013.
Jenis dana perimbangan
Dana Perimbangan
Dalam Milyar Rupiah
Dana Bagi Hasil
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus

2011

2012

281,285
69,719
186,938
24,628

292,281
77,677
193,226
21,378

2013
302,264
71,934
207,081
23,250

Ratarata
291,943
73,110
195,748
23,085

Total dana perimbangan konsisten bertambah meningkat selama


periode 2011-2013. Dalam 3 (tiga) tahun Total Dana Perimbangan telah
meningkat sebersar 45%. Hal ini sejalan dengan peningkatan Dana
Alokasi Umum sebesar 42% selama 2011-2013 dan Dana Alokasi
Khusus sebesar 36%.
Persentase jenis dana perimbangan
Dana Perimbangan

2011

Dalam persen
Dana Bagi Hasil
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus

2012

100
25
66
9

100
27
56
7

2013
100
24
59
8

Ratarata
100
25
57
8

B. Belanja Daerah
Total belanja meningkat sebesar 83% dari tahun 2011 sampai tahun
2013 yang kemungkinan besar disebabkan karena makin banyaknya
jumlah daerah, disamping alasan logis bertambahnya kebutuhan
pemerintah daerah.

Jenis belanja
Jenis Belanja
Dalam Milyar Rupiah

2011
412,413

2012
443,565

2013
474,135

Ratarata
443,37

%
100

Belanja Pegawai

169,279

198,578

275,029

1
214,29

48,3

Belanja Barang Jasa


Belanja Modal

76,300
104,614

82,006
96,170

94,982
106,207

5
84,429
102,33

19,0
23,1

52,219

66,811

54,054

0
57,695

9,6

Belanja Lainnya

Tabel dibawah ini menunjukkan kategori belanja sebagai persentase


dari total belanja dalam periode 2011-2013.
Jenis Belanja
Persentase
Belanja Pegawai
Belanja Barang Jasa
Belanja Modal
Belanja Lainnya

2011
100
41
19
25
15

2012
100
45
18
22
15

2013
100
58
20
22
14

Rata-rata
100
46
19
25
14

Dari keempat besar jenis belanja tersebut, Belanja pegawai, belanja


barang dan jasa serta belanja lainnya meningkat dalam nilai yang
relatif konstan, sementara belanja modal menurun sekitar 3%.
Persentase belanja per fungsi
Fungsi
Pelayanan Umum
Pendidikan
Ekonomi
Kesehatan
Lainnya

2011
36
24
9
8
23

2012
34
26
9
9
22

2013
36
26
8
10
20

Persentase belanja untuk fungsi-fungsi pelayanan umum, pendidikan,


kesehatan relatif meningkat. Sementara alokasi untuk fungsi ekonomi
seperti perkebunandan penanaman modal relatif menurun. Alokasi
untuk fungsi pelayanan umum merupakan alokasi terbesar untuk setiap
tahunnya, yaitu mencapai 36%dari total belanja.
C. Surplus/ Defisit.
Dari jumlah total pendapatan dikurangi dengan biaya dan pembiayaan
didapatkan selisih yaitu :
a. Untuk Tahun 2011.
= 317,164 ( 353,300 + 65,386 )
= - 101,522.

Angka minus menunjukkan bahwa APBD tahun 2011 mengalami


defisit.
b. Untuk Tahun 2012.
= 403,041 ( 443,565 + 40,467 )
= - 80,991.
Pada tahun 2012 ini pun terjadi defisit dengan hasil minus.
c. Untuk Tahun 2013.
= 442,235 ( 474,135 + 33,370 )
= - 65,270.
Dan hasil selisih pada tahun 2013 ini pun mengalami defisit namun
jumlahnya kian berkurang.
D. Pembiayaan.
Lebih dari 90% penerimaan pembiayaan berasal dari sisa lebih anggaran tahun
sebelumnya, yaitu mencapai Rp 37 Trilyun pada tahun 2013, kemudian di ikuti
oleh penerimaan pinjaman dan obligasi daerah sebesar 6% (Rp 2 Trilyun).
Pengeluaran pembiayaan utamanya dialokasikan untuk penyertaan modal
(investasi) darah sebesar 44% (Rp 3,4 trilyun) dan pembayaran pokok utang 41%
(Rp 3,1 trilyun).

Anda mungkin juga menyukai