Anda di halaman 1dari 6

Koalisi Warga untuk Jakarta 2030

Sekretariat: Jurusan Perencanaan Kota dan Real Estat Universitas Tarumanagara,


Kampus 1, Gedung L, Lantai 4, Jl. Letjen. S. Parman no.1, Jakarta 11440
email. Jakarta2030@gmail.com www.koalisijakarta2030.wordpress.com

Sesingkat-singkatnya tentang Partisipasi Masyarakat


(untuk penyusunan RTRW Jakarta 2010-2030)

Suatu cara lain membangun kota yang lain


Partisipasi masyarakat diperlukan setidak-tidaknya untuk tiga fungsi:
• Memenuhi hak politik masyarakat yang dijamin undang-undang (lihat tulisan
tentang dasar hukum tentang hak informasi dan hak partisipasi masyarakat dalam
perumusan RTRW di bagian selanjutnya).
• Memenuhi keperluan fungsional untuk mendapatkan kecerdasan dan pengetahuan
kolektif masyarakat.
• Membangun “ownership” secara nyata oleh masyarakat atas produk penataan
ruang.

Proses partisipasi yang baik memaksimalkan kemungkinan hasil (produk) yang baik.
Proses ini juga sekaligus kesempatan membangun modal sosial, melakukan
pendidikan publik, dan membuat transparan apa yang memang seharusnya menjadi
keperdulian masyarakat. Dalam jangka panjang implementasi tata ruang itu sendiri,
pengetahuan dan kepemilikan yang luas atas produk tata ruang itu, akan menjadi
dasar paling ampuh untuk mencegah pelanggaran yang disengaja maupun yang tidak-
disengaja.

Proses partisipasi yang baik dan memenuhi ketiga fungsi di atas, adalah:
• Melibatkan warga dalam merumuskan dan mengambil keputusan secara bertahap
dan pada setiap tahapan. Jadi bukan sekedar konsultatif (dimintai pendapat atas
sesuatu yang sudah diputuskan atau dirumuskan sebelumnya).
• Melibatkan warga secara seluas-luasnya, serta se dalam-dalamnya dalam proses
yang interaktif. Untuk ini dapat dipergunakan berbagai bentuk “pertemuan” mulai
dari yang paling intensif dan interaktif seperti FGD hingga “konsultasi publik”
dan survei opini yang bersifat tidak terbatas. Yang perlu disadari adalah bahwa
masing-masing bentuk itu memiliki potensi dan kekurangannya sendiri, sehingga
harus diperhunakan dengan cerdas dan niat tulus menganggap masyarakat sebagai
pemilik “proyek” penyusunan tata ruang ini.
• Melibatkan masukan-masukan ilmiah melalui studi/riset yang diperlukan pada
setiap tahapan pengambilan keputusan.
• Melibatkan birokrasi dan konsultan sebagai nara sumber dan mediator serta
penasehat, bukan sebagai pembuat keputusan.
Saran kongkrit untuk langkah-langkah RTRW Jakarta 2010-2030

1. Terjemahkan Naskah Akademis yang sudah ada menjadi ringkasan dalam


berbagai bentuk untuk disebarkan kepada masyarakat. Lakukan ini selama satu (1)
bulan, dengan juga melibatkan diskusi di TV, iklan di koran, dll untuk menarik
minat masyarakat. Gubernur mengeluarkan pernyataan untuk meng-endorse
proses ini.
2. Lakukan survei-opini tentang Visi Jakarta 2030 yang dikehendaki.
3. Bentuk tim untuk merumuskan draft/konsep Visi Jakarta 2030 berdasarkan
hasil survei opini di atas. Ini bisa dilakukan dengan berbagai teknik meringkas
atau menstrukturkan hasil survei opini tersebut.
4. Lakukan beberapa kali konsultasi publik untuk mematangkan Visi Jakarta
2030.
5. Gubernur memutuskan Visi Jakarta 2030.
6. Proses penyusunan RTRW Jakarta 2010-2030 dilanjutkan secara partisipatif
dengan berbagai teknik fasilitasi dan bentuk pertemuan yang sesuai dengan
tahapan (Misi? Strategi? Rencana aksi?). Di Indonesia sudah terdapat cukup ahli
untuk mendampingi proses ini.
7. Untuk setiap tahapan di atas, lakukan studi tambahan untuk menerangi proses
pengambilan keputusan pada setiap tahap.

Jakarta, 20 Januari 2010


Koalisi Warga untuk Jakarta 2030
Sekretariat: Jurusan Perencanaan Kota dan Real Estat Universitas Tarumanagara,
Kampus 1, Gedung L, Lantai 4, Jl. Letjen. S. Parman no.1, Jakarta 11440
email. Jakarta2030@gmail.com www.koalisijakarta2030.wordpress.com

Dasar Hukum tentang hak informasi dan hak partisipasi


masyarakat dalam perumusan RTRW

1. UU No.26/2007 tentang Tata Ruang

Pasal 10 ayat (2)


Wewenang Pemerintah Propinsi dalam penyelenggaraan penataan ruang meliputi :
a. Perencanaan tata ruang wilayah propinsi
b. Pemanfaatan ruang
c. Pengendalian pemanfaatan ruang

Pasal 10 ayat (6)


Dalam pelaksanaan wewenang sebagaimana dimaksud pada pasal (1), ayat (2), ayat (3),
ayat (4), ayat (5) pemerintah propinsi
a. Meyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan
1) Recana umum dan rencana rinci tata ruang dalam rangka pelaksanaan
penataan tuang wilayah propinsi
2) Arahan peraturan zonasi untuk sistem propinsi yang disusun dalam rangka
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah propinsi
3) Perunjuk pelaksana bidang penataan ruang
b. Melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang

Bab VIII Hak dan Kewajiban Masyarakat


Pasal 60
Dalam penataan ruang setiap orang berhak untuk :
a. Mengetahui tentang rencana tata ruang

Pasal 65 ayat (2)


Peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana di maksud ayat (1) dilakukan
dengan cara :
a. Partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang
b. Partisipasi dalam pemanfataan ruang
c. Partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang

2. UU No. 14/2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik

Pasal 4
Setiap orang berhak :
a. Melihat dan mengetahui informasi publik
b. Menghadiri pertemuan publik yang terbuka untuk umum untuk memperoleh informasi
public
c. Mendapatkan salinan informasi publik
d. Menyebarluaskan informasi publik

Bagian Keempat kewajiban badan publik

Pasal 7
(1) Badan publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan infirmasi publik
yang berada di bawah kewenangannya pada pemohon informasi publik, selain infromasi
yang di kecualikan
(2) Badan publik wajib menyediakan infromasi publik yang akurat, benar dan tidak
menyesatkan

Pasal 11
(1) Badan publik wajib menyediakan informasi publik setiap saat yang meliputi :
a. Daftar seluruh informasi publik yang berada di bawah penguasaannya
b. Hasil keputusan badan publik
c. Seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya
d. Rencana kerja proyek termasuk didalamnya perkiraan pengeluaran tahunan
e. Perjanjian badan publik dengan pihak ke tiga

3. Permen PU 15/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi


Bab III
3.2. Prosedur Penyusunan RTRW Provinsi
Prosedur penyusunan RTRW provinsi merupakan pentahapan yang harus dilalui dalam
penyusunan RTRW provinsi sampai dengan pembahasan raperda RTRW provinsi yang
melibatkan pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota termasuk masyarakat.

Masyarakat yang menjadi pemangku kepentingan dalam penyusunan RTRW


provinsi terdiri atas:
a. orang perseorangan atau kelompok orang;
b. organisasi masyarakat tingkat provinsi atau yang memiliki cakupan wilayah layanan
satu provinsi atau lebih dari provinsi yang sedang melakukan penyusunan RTRW
provinsi;
c. perwakilan organisasi masyarakat tingkat provinsi dan provinsi yang berdekatan
secara sistemik (memiliki hubungan interaksi langsung) yang dapat terkena dampak
dari penataan ruang di daerah yang sedang disusun RTRW provinsinya; dan
d. perwakilan organisasi masyarakat tingkat provinsi dan provinsi dari daerah yang
dapat memberikan dampak bagi penataan ruang di daerah yang sedang disusun
RTRW rovinsinya.

Prosedur penyusunan RTRW provinsi meliputi:


a. pembentukan tim penyusun RTRW provinsi yang beranggotakan unsur-unsur dari
pemerintah daerah provinsi, khususnya dalam lingkup Badan Koordinasi Penataan
Ruang Daerah (BKPRD) provinsi yang bersangkutan;
b. pelaksanaan penyusunan RTRW provinsi;
c. pelibatan peran masyarakat di tingkat provinsi dalam penyusunan RTRW
provinsi melalui:

1) Pada tahap persiapan pemerintah telah melibatkan masyarakat secara pasif


dengan pemberitaan mengenai informasi penataan ruang melalui:
a) media massa (televisi, radio, surat kabar, majalah);
b) brosur, leaflet, flyers, surat edaran, buletin, jurnal, buku;
c) kegiatan pameran, pemasangan poster, pamflet, papan pengumuman,
billboard;
d) kegiatan kebudayaan (misal: pagelaran wayang dengan menyisipkan
informasi yang ingin disampaikan di dalamnya);
e) multimedia (video, VCD, DVD);
f) website;
g) ruang pamer atau pusat informasi; dan/atau
h) pertemuan terbuka dengan masyarakat/kelompok masyarakat.

2) Pada tahap pengumpulan data peran masyarakat/organisasi masyarakat


dapat lebih aktif dalam bentuk:
a) pemberian data & informasi kewilayahan yang diketahui/dimiliki datanya;
b) pendataan untuk kepentingan penatan ruang yang diperlukan;
c) pemberian masukan, aspirasi, dan opini awal usulan rencana penataan
ruang; dan
d) identifikasi potensi dan masalah penataan ruang.

Media yang digunakan untuk mendapatkan informasi/masukan dapat


melalui:
a) kotak aduan;
b) pengisian kuesioner, wawancara;
c) website, surat elektronik, form aduan, polling, telepon, pesan singkat/SMS;
d) pertemuan terbuka atau public hearings;
e) kegiatan workshop, focus group disscussion (FGD);
f) penyelenggaraan konferensi; dan/atau
g) ruang pamer atau pusat informasi.

3) Pada tahap perumusan konsepsi RTRW provinsi, masyarakat terlibat secara aktif
dan bersifat dialogis/komunikasi dua arah. Dialog dilakukan antara lain melalui
konsultasi publik, workshop, FGD, seminar, dan bentuk komunikasi dua arah
lainnya.

Pada kondisi keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang


telah lebih aktif, maka dalam penyusunan RTRW provinsi dapat memanfaatkan
lembaga/forum yang telah ada seperti:

a) satuan kerja (task force/technical advisory committee);


b) steering committee;
c) forum delegasi; dan/atau
d) forum pertemuan antar pemangku kepentingan.

Pembahasan raperda tentang RTRW provinsi oleh pemangku kepentingan di


tingkat provinsi. Pada tahap pembahasan ini, masyarakat dapat berperan dalam
bentuk pengajuan usulan, keberatan, dan sanggahan terhadap rancangan RTRW
provinsi dan naskah raperda RTRW provinsi melalui:

a) media massa (televisi, radio, surat kabar, majalah); Pedoman Penyusunan


Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Departemen Pekerjaan Umum 55
b) website resmi lembaga pemerintah yang berkewenangan menyusun RTRW
Provinsi;
c) surat terbuka di media massa ;
d) kelompok kerja (working group/public advisory group); dan/atau
e) diskusi/temu warga (public hearings/meetings), konsultasi publik,
f) workshops, FGD, charrettes, seminar, konferensi, dan panel.

Proses dan Prosedur Penetapan RTRW Provinsi

Proses dan prosedur penetapan RTRW provinsi merupakan tindak lanjut dari proses dan
prosedur penyusunan RTRW provinsi sebagai satu kesatuan sistem perencanaan tata
ruang wilayah provinsi. Proses dan prosedur penetapannya diatur berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Secara garis besar proses dan prosedur penetapan RTRW
provinsi meliputi tahapan sebagai berikut:

a. pengajuan raperda provinsi tentang RTRW provinsi dari gubernur kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi, atau sebaliknya;
b. Pembahasan RTRW oleh DPRD bersama pemerintah daerah provinsi;
c. penyampaian raperda provinsi kepada Menteri untuk permohonan persetujuan
substansi, sebelum raperda provinsi disetujui bersama antara pemerintah daerah
provinsi dengan DPRD provinsi;
d. penyampaian raperda provinsi kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi setelah
disetujui bersama antara pemerintah daerah provinsi dengan DPRD provinsi; dan
e. penetapan raperda provinsi tentang RTRW provinsi oleh Sekretariat Daerah provinsi.

Keterkaitan substansi, tahapan, dan keterlibatan pihak-pihak dalam penyusunan RTRW


Provinsi dapat dilihat pada Lampiran VII pedoman ini.

Jakarta, 20 Januari 2010

Disusun oleh Irvan Pulungan, SH - Policy and Legal Reform (PLR) Division, Indonesian Center for
Environmental Law (ICEL) untuk Koalisi Warga untuk Jakarta 2030