Anda di halaman 1dari 3

Hubungan Antara IPS dengan Korupsi Ditinjau dari

Fakta Sosial, Keadaan Sosial, Kesenjangan Sosial, dan


Psikologi Sosial
Pada ulasan kali ini, saya kan mencoba memaparkan mengenai hubungan antara IPS
dengan korupsi ditinjau dari fakta sosial, keadaan sosial, kesenjangan sosial, dan psikologi
sosial. Untuk yang pertama, terlebih dahulu mari kita ketahui tentang apa sih pengertian dari
Ilmu Pengetahuan Sosial itu sendiri.
Baik, ilmu pengetahuan sosial merupakan sekelompok disiplin akademis yang
mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya.
Untuk korupsi sendiri, pengertiannya yaitu sebuah tindakan melawan hukum dengan
menyalahgunakan kewenangan/kesempatan/sarana yang ada pada seseorang karena
jabatan/kedudukannya untuk memperkaya diri sendiri/orang lain/korporasi sehingga
merugikan negara.
Banyak penelitian membahas dan memberikan definisi mengenai korupsi dari
berbagai sudut pandang sebagian besar definisi tersebut dititik beratkan pada
perilaku.Korupsi yang mana menjadi salah satu hambatan terburuk dalam pembangunan
suatu bangsa, korupsi sangat dinikmati oleh orang- orang kaya tetapi sangat menyengsarakan
bagi orang-orang miskin dan korupsi merupakan hambatan terbesar untuk menciptakan
pertumbuhan ekonomi dalam sebuah masyarakat atau negara.Dan rentan sekali menambah
kemelaratan warga Negara Indonesia.
Terjadinya banyak kasus korupsi di Indonesia merupakan akibat dari buruknya kinerja
birokrasi di Indonesia . Sudah menyebar luas di masyarakat bahwa di kalangan aparat
birokrasi kita terdapat slogan jika bisa dipersulit. Dewasa ini, mulai banyak bermunculan
permasalahan rumit yang sedang dihadapai oleh negara Indonesia . Permasalahan ini sudah
mencakup banyak aspek, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, politik, hingga
pertahanan keamanan.
Lalu, apa sih hubungan antara Ilmu Pengetahuan Sosial itu dengan korupsi yang
marak terjadi ini? Sebagaimana yang kita ketahui, IPS merupakan civitas ilmu yang
memberikan penjelasan mengenai segala bentuk dari gejala sosial. Oleh karenanya, dengan
Ilmu Pengetahuan Sosial ini, kita akan mampu hubungannya kalau korupsi itu dalam Ilmu
Sosial terungkap dalam beberapa bentuk perilaku yaitu penyuapan, pemerasan, penggelapan,
manipulasi, persekongkolan atau kolusi, dan nepotisme.
Masing-masing bentuk perilaku korupsi itu mempunyai sebutan-sebutan dalam
praktek-praktek yang dilakukan oleh masyarakat. Dan Setelah melihat sekilas tentang hasil
wawancara dari informan maka dapat kita ketahui seperti apa itu korupsi, faktor-faktor yang
menyebabkan korupsi serta dampak dari korupsi yang dirasakan oleh beberapa masyarakat

yang sampai saat ini masih terus menjadi sebuah fenomena sekaligus wabah yang besar
dalam Negara kita ini.
Nah, untuk hubungan antara Ilmu Pengetahuan Sosial dengan korupsi ditinjau dari
fakta sosial, mari kita ketahui dahulu tentang makna dari fakta sosial itu sendiri. Fakta sosial
dalam lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan sebuah aktivitas yang memiliki dampak
terhadap masyarakat, dan juga pada bidang ekonomi, hukum, politik, dan agama. Dikaitkan
dengan korupsi, fakta sosial yang ada di Indonesia ini sudah bisa dikatakan kalau wabah
korupsi sudah menggerogoti hampir seluruh Instansi yang ada di Indonesia. Fenomena ini
tidak bisa lepas dari keadaan sosial atas gaya hidup orang Indonesia sendiri yang mulai
kebarat-baratan atau malah bisa dikatakan adu gengsi.
Bahkan fenomena korupsi telah merongrong nilai-nilai kerja keras, kebersamaan,
tenggangrasa, dan belaskasih
di antara sesama warga bangsa Indonesia. Korupsi
menciptakan manusia Indonesia yang easy going, apatisme terhadap nasib dan penderitaan
sesama khususnya rakyat kecil yang tidak sempat untuk menikmati atau memiliki
kesempatan untuk korupsi. Meskipun korupsi bukanlah sebuah lapangan pekerjaan baru.
Singkatnya tindakan korupsi seolah-olah bukanlah sebuah lagi sebuah tindakan yang
diharamkan oleh agama manapun sebab kenderungan korupsi telah merasuki hati semua
orang.
Sedangkan ditinjau lebih lanjut dari keadaan sosial, hubungan antara korupsi dengan
Ilmu Pengetahuan Sosial ini setelah disimpulkan akan dapat diketahui kalau hal tersebut akan
memiliki dampak diantaranya akan dirasakan oleh diri sendiri adalah terkenanya pelaku
korupsi hukuman baik dari pemerintah ataupun masyarakat ataupun dari Alla SWT, perasaan
bersalah yang akan menghantui dalam kehidupan kelak, dan tentu dosa yang di timbulkan
dari tindakan korupsi itu sendiri.
Sedangkan dampak yang akan dirasakan oleh orang lain adalah timbulnya kerugian
baik secara materi atau non materi bagi korban tindakan korupsi, perasaan malu terhadap
orang lain yang terjadi pada keluarga pelaku tindakan korupsi. Dan dampak yang dirasakan
bangsa dan Negara Indonesia adalah kerugian secara financial atau berkurangnya pendapatan
Negara dan rusaknya struktur pemerintahan dan moral bangsa. Sudah banyak UndangUndang dan lembaga baru yang dibuat dan dibentuk, namun kenapa perjalanan pemerintahan
untuk keluar dari jeratan bencana bernama korupsi masih panjang dan sulit.
Nah, untuk hubungan antara IPS dengan korupsi ditinjau dari kesenjangan sosial,
dilatarbelakangi atas tingginya jumlah penduduk di Indonesia dan beraneka ragam suku
budaya membuat adanya jarak antar masyarakat atau yang biasa kita sebut dengan
kesenjangan sosial. Hal ini disebabkan karena perilaku tidak adil terhadap seseorang di dalam
bermasyarakat. Masalah kesenjangan sosial ini bisa terjadi karena beberapa faktor yaitu bisa
karena kedudukan, pendidikan, pendapatan dan faktor-faktor lain yang menyebabkan
terjadinya kesenjangan sosial. Hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah, karena kalau
dibiarkan akan berdampak pada kehancuran negara ini sendiri.

Oleh karenanya, agar kesenjangan sosial yang menyebabkan korupsi dapat


diminimalisir, tentunya kita harus mempergunakan disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial ini
untuk memaksimalkan program pemberantasan kemiskinan, memaksimalkan pendidikan, dan
membuka lapangan kerja adalah beberapa solusi memberantas kesenjangan sosial di
Indonesia. Selain itu, kita juga harus meminimalisasikan KKN dan memberantas korupsi
dalam upaya meningkatan kesejahteraan rakyat.
Dan apabila ditinjau dari kajian psikologi sosial, maka akan didapatkan informasi
melalui pendekatan teori biologis bisa di lihat bahwa naluri (karakter bawaan) manusia
siapapun meskipun bukan pejabat dia pasti akan cenderung memperkaya dirinya untuk
memenuhi kebutuhannya dan akan selalu menambah dan menumpuk kekayaannya.

Dari sini bisa sedikit memberi gambaran bahwa tindakan korupsi merupakan tindakan
yang bisa dilakukan oleh siapapun karena naluri bawaannya yang tidak pernah puas dengan
apa yang dimiliki dan cenderung memperkaya diri sendiri. Faktor genetik juga punya peranan
penting, karena naluri memperkaya diri antar orang yang satu dengan yang lain akan beda.
Demikian pula sebagian orang mungkin karena alasan-alasan genetik, lebih mempunyai nilai
egois untuk memperkaya diri sendiri dari pada yang lain bahkan yang dilakukan itu bisa
membuat orang sengsara seperti halnya korupsi. Dalam kasus diatas, Korupsi bisa saja para
pejabat memiliki genetic yang lebih dominan nilai egoisya sehingga selalu mementingkan
kepentingan pribadi dalam memenuhi kebutuhannya.
Hasil lain yang didapat melalui kajian psikologi sosial ini yaitu, hasil analisa yang
bisa diperoleh adalah bahwa para koruptor ini ada kemungkinan mereka beranggapan bahwa
tindakan mereka sah dilakukan karena orang-orang sebelum mereka juga melakukan hal yang
sama dan tidak mendapat hukuman yang terlalu berat ketika tertangkap.
Jadi kesimpulannya, sebenarnya praktek korupsi yang terjadi atau bahkan marak di
negeri ini semua dapat dianalisa atau bahkan diminimalisir dengan menggunakan tinjauan
dari fakta sosial, keadaan sosial, kesenjangan sosial, dan psikologi sosial yang tentunya hal
ini benar-benar berasal atau dikaji dalm disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial. Sehingga, rakyat
akan lebih makmur dan sejahtera dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan berwarga
negara, entah itu dalam menjalankan kewajiban ataupun haknya.