Anda di halaman 1dari 44

2

PROPOSAL
PENGARUH EFISIENSI MODAL KERJA TERHADAP
PROFITABILITAS PADA INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Penulisan Skripsi


Pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Tadulako
Disusun oleh:

SITI KHUMAIRAH KHAIRUNNISAH


NIM: C 201 12 073

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2014

HALAMAN PERSETUJUAN

PENGARUH EFISIENSI MODAL KERJA TERHADAP PROFITABILITAS


PADA INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI
BURSA EFEK
INDONESIA (BEI)

Diajukan oleh:
SITI KHUMAIRAH KHAIRUNNISAH
NIM: C 201 12 073

Disetujui oleh:

Pembimbing I

NIP:

Pembimbing II

NIP:

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... viii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 6
1.3 Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ................................. 8
1.3.1 Tujuan Penelitian ................................................................ 8
1.3.2 Kegunaan Penelitian ........................................................... 9
1.4 Sistematika Penulisan ................................................................. 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu ..................................................................... 12

2.2 Landasan Teori ..................................................................................... 16


2.2.1 Efisiensi............................................................................... 16
2.2.2 Modal Kerja ........................................................................ 17
2.2.3 Komponen Modal Kerja ..................................................... 18
2.2.4 Jenis Modal Kerja ............................................................................. 19
2.2.5 Pentingnya Modal Kerja...................................................... 21
2.2.6 Tujuan Modal Kerja ........................................................... 26
2.2.7 Sumber Modal Kerja........................................................... 29
2.2.8 Penggunaan Modal Kerja....................................................
2.2.9 Profitabilitas........................................................................
2.2.10 Hubungan Efisiensi Modal Kerja dengan Profitabilitas....
2.3 Kerangka Pemikiran ..................................................................... 32
2.4 Hipotesis ...................................................................................... 35
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian ............................................................................. 37


3.2 Jenis dan Sumber Data ................................................................. 38
3.3 Metode Pengumpulan Data .......................................................... 39
3.4 Populasi dan Sampel .................................................................... 40
3.5 Operasional Variabel..................................................................... 42
3.6 Defenisi Operasional Variabel ...................................................... 43
3.6.1 Cash Turnover (X1) ........................................................... 43
3.6.2 Receivable Turnover (X2) ................................................... 46
3.6.3 Inventory Turnover (X3)...................................................... 47
3.6.4 Return on Investment (Y)....................................................
3.7 Metode Analisis Data.................................................................... 48
3.7.1 Analisis Deskriptif .............................................................. 48
3.7.2 Uji Asumsi Klasik .............................................................. 48
3.8 Uji Asumsi Klasik ........................................................................ 49
3.8.1 Uji Normalitas Residual Data ............................................ 49
3.8.2 Uji Multikolinieritas ........................................................... 50
3.8.3 Uji Heterokedastisitas ........................................................ 51
3.9 Metode Analisis ............................................................................ 51
3.9.1 Penguji Hipotesis Pertama (Uji-F) ..................................... 53
3.9.2 Penguji Hipotesis Kedua (Uji-T) ........................................ 54
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

Tabel
1.1
2.1
3.1

Halaman
Jumlah Penjualan kamera DSLR merek Canon di Kota Palu
Penelitian Terdahulu
Operasional Variabel

4
15
42

DAFTAR GAMBAR

Gambar
1.1
2.1
2.2
2.3

Halaman

Market Share Kamera DSLR di Indonesia Periode 2009-2013


Model Perilaku Konsumen
Model Lima Tahap Proses Pembelian Konsumen
Kerangka Pemikiran

BAB I
PENDAHULUAN

3
24
26
30

1.1

Latar Belakang
Dewasa ini pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia semakin meningkat. Hal ini

menyebabkan meningkatkan pula kebutuhan masyarakat terhadap makanan dan minuman.


Perusahaan food and bavarages merupakan perusahaan yang sangat dibutuhkan masyarakat
karena bergerak di bidang industri makanan dan minuman.
Keadaan positif seperti ini menjadikan sektor industri makanan dan minuman di
Indonesia sebagai sektor bisnis yang cukup menguntungkan. Ini disebabkan peluang yang
dimiliki oleh perusahaan makanan dan minuman sangat besar dan potensi pasar terus
berkembang dari tahun ke tahun. Oleh karena itu sektor industri makanan dan minuman ini
memiliki persaingan yang ketat antara sesama perusahaan food and bavarages di Indonesia.
Persaingan ketat di sektor industri makanan dan minuman mendorong perusahaan food
and bavarages memaksimalkan sumber daya yang dimiliki agar perusahaan dapat beroperasi
secara optimal dan memperoleh laba yang optimal pula. Untuk dapat beroperasi secara optimal,
maka perusahaan harus mampu memastikan tersedianya modal kerja yang cukup guna untuk
melakukan kegiatan operasional perusahaan.
Modal kerja merupakan investasi perusahaan pada aktiva lancar. Dengan modal kerja
yang baik dan efektif, maka kegiatan operasional perusahaan dapat meningkatkan laba
perusahaan. Selain itu, modal kerja dapat digunakan untuk membiayai pembelian bahan baku,
pembayaran upah, pembayaran gaji karyawan dan biaya operasional perusahaan lainnya.
Menurut John Fred Weston dan Thomas G. Copeland (1991:327), Modal kerja merupakan
investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan dikurangi
dengan kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar.

Adanya modal kerja yang cukup sangat penting bagi suatu perusahaan karena dengan
modal kerja yang cukup itu memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi dengan
seekonomis mungkin dan perusahaan tidak mengalami kesulitan atau menghadapi bahayabahaya yang mungkin timbul karena adanya krisis atau kekacauan keuangan. Menurut Kasmir
(2012:252) investasi dalam aktiva lancar seringkali mengalami perubahan dan cenderung labil,
sedangkan aktiva lancar adalah modal kerja perusahaan, artinya perubahan tersebut akan
berpengaruh terhadap modal kerja. Adannya modal kerja yang berlebihan menunjukkan adanya
dana yang tidak produktif, dan hal ini akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan karena
adanya kesempatan untuk memperoleh keuntungan telah disia-siakan. Sebaliknya adanya
ketidak-cukupan maupun mis management dalam modal kerja merupakan sebab utama
kegagalan suatu perusahaan.
Efiesiensi modal kerja dapat terlihat dari tingkat perputaran komponen-komponen modal
kerja yang terdiri dari kas, piutang, dan persediaan. Semakin cepat atau semakin tinggi tingkat
perputaran komponen-komponen modal kerja tersebut, maka jumlah modal yang diinvestasikan
pada kas, piutang, dan persediaan semakin rendah. Hal ini dikarenakan waktu terikatnya dana
pada masing-masing komponen modal kerja tersebut semakin pendek, sehingga kemungkinan
perusahaan memperoleh keuntungan semakin besar.
Efisiensi modal kerja pada perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio keuangan
yaitu rasio efisiensi (Rasio aktivitas). Rasio efisiensi merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur tingkat efisiensi dari pemanfaatan sumber daya perusahaan atau rasio untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam melakasanakan aktivitasnya sehari-hari. Rasio efisiensi yang
dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi modal kerja adalah Cash Turnover
(Perputaran Kas), Receivable Turnover (Perputaran Piutang) dan Inventory Turnover (Perputaran

Persediaan). Hasil pengukuran rasio-rasio ini akan memperlihatkan keadaan perusajaan apakah
sudah efisien atau belum dalam menggunakan modal kerja maka perusahaan akan dapat
memaksimalkan kemampuannya dalam menghasilkan profitabilitas (Kasmir 2010:211).
Profitabilitas

merupakan

kemampuan

perusahaan

memperoleh

laba

dalam

hubungannyadengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Return On Invesment (ROI)
dapat dijadikan tolak ukur perusahaan dalam memperoleh profitabilitas karena ROI
menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan,
Sartono (2012:123)
Berikut ini akan disajikan perkembangan modal kerja dan perkembangan ROI

Tabel 1.1
Perkembangan Modal Kerja Industri Makanan & Minuman di BEI
Desember 2011-2013
(Dalam Jutaan Rupiah)
2011

Modal Kerja
2012

2013

814.745
481.515
11.938.400
2.249.507
516.900
291.584
996.546.47
97.372
53.441
191.2

327.943
511.414
13.430.800
3.389.166
858.400
603.604
356.356.79
143.580
92.865
394.595

1.048.280
589.120
12.993.200
3.753.173
273.300
929.716
441.036.14
153.663
88.025
76.677

Rata-rata
2.055.433
2.194.707
Sumber: Laporan keuangan perusahaan 2011-2013, BEI data diolah

2.211.684

No.

Nama Perusahaan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

PT. Tiga Pilar Sejahtera Tbk


PT. Delta Djakarta Tbk
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
PT. Mayora Indah Tbk
PT. Tunas Baru Lampung Tbk
PT. Ultrajaya Milk Industri Tbk
PT. Davomas Abadi Tbk
PT. Prashida Aneka Niaga Tbk
PT. Akasha Wira Internasional Tbk
PT. Multi Bintang Indonesia Tbk

Berdasarkatn Tabel 1.1 dapat diketahui bahwa modal kerja pada industri makanan dan
minuman di BEI cenderung berfluktuasi setiap tahunnya. Ada beberapa perusahaan yang
mengalami peningkatan modal kerja dari tahun ke tahun, ada juga yang mengalami penurunan
modal kerja. Modal kerja tertinggi dicapai oleh perusahaan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
tahun 2012 yaitu Rp. 13.430.800.000. Investasi modal kerja terendah dicapai oleh perusahaan
PT. Akasha Wira Internasional Tbk tahun 2011 sebesar Rp 53.441.000. Menurut Sartono
(2012:386) besar kecilnya kebutuhan modal kerja pada suatu perusahaan dipengaruhi oleh
berbagai faktor di antaranya jenis produk yang dibuat, jangka waktu siklus operasi, tingkat
penjualan, kebijakan persediaan, kebijakan penjualan kredit, dan seberapa jauh efisiensi
manajemen aktiva lancar. Untuk itu, perusahaan harus berhati-hati dalam menentukan kebijakan
mengenai efisiensi modal kerja dan pengaruhnya terhadap profitabilitas perusahaan.
Tabel 1.2
Perkembangan Return On Investment (ROI)
Industri Makanan & Minuman di BEI
31 Desember 2011-2013
No.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Nama Perusahaan

2011

ROI (%)
2012

PT. Tiga Pilar Sejahtera Tbk


4,17
6,55
PT. Delta Djakarta Tbk
20,84
27,92
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
9,10
8,04
PT. Mayora Indah Tbk
11,48
13,93
PT. Tunas Baru Lampung Tbk
9,92
4,69
PT. Ultrajaya Milk Industri Tbk
6,26
17,73
PT. Davomas Abadi Tbk
10,52
107,39
PT. Prashida Aneka Niaga Tbk
6,00
4,00
PT. Akasha Wira Internasional Tbk 8,00
21,00
PT. Multi Bintang Indonesia Tbk
42,56
39,00
Rata-rata
12,88
25,02
Sumber: Laporan keuangan perusahaan 2011-2013, BEI data diolah

2013

6,90
30,50
4,37
13,43
1,39
15,05
12,02
3,00
13,00
67,00
16,66

Berdasarkan Tabel 1.2 dapat diketahui bahwa ROI pada industri makanan dan minuman
cenderung berfluktuasi setiap tahunnya. ROI tertinggi dicapai oleh perusahaan PT.Davomas
Abadi Tbk tahun 2012 yaitu sebesar 107,39%. Ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 1,- dana yang
tertanam dalam perusahaan akan mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 1,0739. Return
on Investment (ROI) terendah dicapai oleh PT. Tunas Baru Lampung pada tahun 2013 yaitu
sebesar 1,39%. Ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 1,- dana yang tertanam dalam perusahaan
akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 0,0139. Peningkatan dan penurunan nilai ROI pada
perusahaan dipengaruh oleh laba yang dihasilkan dan aktiva yang digunakan (Sartono,
2012:123).
Perkembangan hubungan antara modal kerja dan ROI pada industri makanan dan
minuman pada tahun 2011 sampai 2013 terlihat pada tabel 1.1 dan tabel 1.2. Kedua tabel tersebut
menunjukkan bahwa peningkatan modal kerja dapat mengakibatkan ROI meningkat atau
menurun. Pada tahun 2011-2012 rata-rata modal kerja mengalami peningkatan dari Rp.
2.055.433 menjadi Rp.

2.194.707 dan pada tahun 2012-2013 rata-rata modal kerja juga

mengalami peningkatan dari Rp. 2.194.707 menjadi Rp. 2.211.684. Peningkatan Modal jumlah
modal kerja tersebut berdampak positif terhadap ROI di mana rata-rata ROI juga mengalami
peningkatan yaitu 12,88% pada tahun 2011 menjadi 25,02% pada tahun 2012 dan pada tahun
2012-2013 dari 25,02% turun menjadi 16,66%. Peningkatan modal kerja yang sejalan dengan
peningkatan ROI pda tahun 2011-2012 dan 2012-2013 disebabkan adanya tambahan investasi
pada aktiva lancar perusahaan. Tambahan dana tersebut digunakan untuk kegiatan operasional
dalam rangka meningkatkan penjualan untuk menghasilkan laba.
Menurut Van Horne & Wachowicz (2005-311) peningkatan aktiva lancar mengakibatkan
semakin besar tingkat likuiditas perusahaan dan juga semakin besar biaya yang ditimbulkan dari

adanya aktiva lancar tersebut maka tingkat profitabilitas yang diharapkan semakin rendah. Akan
tetapi, yang terjadi pada industri makanan dan minuman pada tahun 2011-2012 dan 2012-2013
adalah peningkatan modal kerja mengakibatkan peningkatan ROI. Hal ini dikarenakan tambahan
keuntungan yang timbul dari adanya aktiva lancar lebih besar dari tambahan biaya investasi pada
aktiva lancar tersebut.
Pada tahun 2012-2013 rata-rata modal kerja mengalami peningkatan dari Rp. 2.194.707 menjadi
Rp. 2.211.684 dan rata-rata ROI mengalami penurunan dari 25,02% menjadi 16,66%. Hal ini
dikarenakan peningkatan modal kerja mengakibatkan biaya yang ditimbulkan dari adanya modal
kerja tersebut semakin besar sehingga tingkat ROI yang diharapkan mengalami penurunan. Oleh
karena itu, setiap perusahaan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan modal kerjanya agar
perusahaan dapat memaksimalkan perolehan laba. Berdasarkan uraian mengenai modal kerja dan
tingkat ROI pada industri makanan dan minuman masih perlu dianalisis lebih lanjut, apakah
sudah efisiensi dalam penggunaan modal kerjanya atau belum. Efisiensi baru dapat diketahui
dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan
laba tersebut. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul

Pengaruh Efisiensi Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Pada Industri Makanan dan
Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka rumusan permasalahan pada penelitian ini
adalah:
a. Bagaimanakah pengaruh efisiensi modal kerja yang terdiri dari cash turnover, receivable
turnover dan inventory turnover terhadap profitabilitas (ROI) pada industri makanan dan
minuman di BEI?

b. Bagaimanakah pengaruh cash turnover terhadap profitabilitas (ROI) pada industri


makanan dan minuman di BEI?
c. Bagaimanakah pengaruh receivable turnover terhadap profitabilitas (ROI) pada industri
makanan dan minuman di BEI?
d. Bagaimanakah pengaruh inventory turnover terhadap profitabilitas (ROI) pada industri
makanan dan minuman di BEI?
1.3

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui pengaruh efisiensi modal kerja yang terdiri dari cash turnover,
receivable turnover dan inventory turnover terhadap profitabilitas (ROI) pada industri
makanan dan minuman di BEI.
b. Untuk mengetahui pengaruh cash turnover terhadap profitabilitas (ROI) an pada industri
makann dan minuman di BEI.
c. Untuk mengetahui pengaruh receivable turnover terhadap profitabilitas (ROI) pada
industri makanan dan minumanan di BEI.
d. Untuk mengetahui pengaruh inventory turnover terhadap profitabilitas (ROI) pada
industri makanan dan minuman di BEI.

1.3.2

Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan. Adapun

kegunaan penelitian ini adalah:


1. Kegunaan Teoritis

Bagi penulias, diharapkan dapat memperoleh pemahaman lebih mendalam


mengenai konsep efisiensi modal kerja dan hubungannya dengan profitabilitas
perusahaan.
Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian
lebih lanjut bagi penelitian dan pengembangan ilmu yang berhubungan dengan
manajemen keuangan khususnya mengenai efisiensi modal kerja dan profitabilitas
perusahaan.
2. Kegunaan Praktis
Bagi investor, diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan dalam
pengambilan keputusan berkaitan dengan keputusan investasi pada industri makanan dan
minuman di BEI.
Bagi perusahaan, diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dalam melakukan
perbaikan dalam merumuskan kebijakan serta tindakan-tindakan selanjutnya sehubungan
dengan efisiensi modal kerja dan profitabilitas perusahaan.

1.4

Sistematika Penulisan
Di dalam proses penulisan penelitian ini, Adapun sistematika penulisan yang

direncanakan sebagai berikut:


Bab I, merupakan pendahuluan yang akan menguraikan tentang latar belakang, rumusan
masalah, tujuan dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.
Bab II, merupakan tinjauan teori yang memuat penelitian terdahulu dan beberapa
pengertian maupun teori yang berhubungan dengan penelitian ini, selanjutnya dari konsep
tersebut akan dirumuskan hipotesis dan akhirnya terbentuk suatu kerangka pemikiran yang
melandasi penelitian ini.
Bab III, merupakan metode penelitian yang mengemukakan tentang tipe penelitian, objek
penelitian, jenis dan sumber data, populasi dan metode penarikan sampel, metode pengumpulan
data, variabel penelitian dan definisi operasianal serta pengujian instrumen penelitian.

10

Bab IV, merupakan hasil pembahasan, berisi tentang hasil penelitian secara sistematis
kemudian dianalisis dengan teknik analisis yang ditetapkan dan selanjutnya dilakukan
pembahasan tentang hasil analisis tersebut.
Bab V, merupakan penutup yang berisi tentang kesimpulan atas hasil penelitian dan saran
yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Penelitian Terdahulu
Nur Indah Pratiwi (2012), mengkaji tentang Pengaruh Perputaran Modal Kerja pada

Perum Pegadaian Cabang Palu. Variabel independen (X) yang digunakan dalam penelitian ini
adalah laba perputaran modal kerja dan veriabel dependen (Y) yang digunakan adalah laba. Alat
analisis yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Penelitian tersebut menghasilkan bahwa
perputaran modal kerja berpengaruh signifikan terhadap pencapaian laba pada Perum Pegadaian
Cabang Palu.
Persamaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu yaitu sama-sama melakukan
melakukan penelitian mengenai modal kerja. Perbedaannya yaitu pada penelitian sekarang
adalah alat analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dan objek yang diteliti adalah
industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Aulia Rahma (2011), melakukan penelitian tentang Analisis Pengaruh Manajemen
Modal Kerja terhadap Profitabilitas Perusahaan (Studi pada Perusahaan Manufaktur PMA dam
PDMN yang Terdaftar di BEI Periode 2004-2008). Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis pengaruh perputaran modal kerja, perputaran kas, perputaran persediaan,
perputaran piutang dan status perusahaan terhadap Return On Investment (ROI) perusahaan
manufaktur. Metode analisis yang digunakan adalah analisis linear berganda dengan variabel

13

dummy. Berdasarkan hasil dari uji-t, perputaran kas dan status perusahaan berhubungan positif
dan signifikan terhadap ROI. Sedangkan perputaran modal kerja berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap ROI. Perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROI.
Hasil secara simultan dengan uji-f menunjukkan bahwa semua variabel independen berpengaruh
signifikan terhadap ROI.
Persamaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama meneliti
mengenai modal kerja dan pengarugnya terhadap profitabilitas (ROI) perusahaan. Perbedaannya
pada penelitian sekarang yaitu menggunakan tiga variabel independen yaitu cash turnover (X1)
receivable turnover (X2) dan inventory turnover (X3), dan tidak menggunakan variabel dummy
serta objek yang diteliti adalah industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
Faurani (2004), melakukan penelitian tentang Analisis Pengaruh Modal Kerja terhadap
Profitabilitas pada Koperasi Dharma Wanita Mandalika Mataram Nusa Tenggara Barat.
Penelitian ini menggunakan rasio-rasio profitabilitas (profit margin on sales ratio), modal kerja
(profit margin ratio). Metode analisis data yang digunkan adalah metode statistik deskriptif,
metode analisa korelasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa modal kerja tidak begitu berpengaruh
terhadap profitabilitas pada Koperasi Mandalika akan tetapi dapat juga dipengaruhi oleh faktorfaktor lain.
Persamaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu yaitu sam-sama melakukan
penelitian tentang modal kerja. Perbedaannya pada penelitian sekarang yaitu objek yang diteliti
adalah industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2.2

Landasan Teori

2.2.1

Efisiensi
Menurut Sartono (2012:118) salah satu tujuan manajer keuangan adalah menentukan

seberapa besar efisiensi investasi pada berbagai aktiva. Efisiensi pada suatu perusahaan sangat

14

penting untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Efisiensi dapat diartikan sebagai
hubungan antara input dan output, atau berapa besar input yang digunakan untuk menghasilkan
output tertentu. Efisiensi pada suatu perusahaan dapat diketahui dengan melihat perputaran
(turnover). Semakin cepat atau semakin tinggi tingkat perputarannya, maka perusahaan
dikatakan semakin efisien dalam menggunakan aktivanya.
Untuk mengetahui standar dari tingkat efisiensi modal kerja agar dikatakan efisien
(ukuran efisien), diperlukan alat pembanding dan rasio dalam industri sebagai keseluruhan yang
sejenis di mana perusahaan yang menjadi anggotanya dapat digunakan sebagai alat pembanding
dari angka rasio tersebut. Angka rasio dari industri sebagai keseluruhan ini disebut standar rasio
(rasio rata-rata) Munawir, (2012:65).
Tingkat efisiensi pada perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio keuangan
yaitu dengan rasio efisiensi atau rasio aktivitas. Rasio efisiensi merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini
juga digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dari pemanfaatan sumber daya yang tersedia
pada perusahaan. Adapun jenis-jenis rasio efisiensi yang dirangkum dari beberapa ahli keuangan
Kasmir (2012:175), terdiri dari:
1.
Cash turnover (Perputaran Kas)
Kas merupakan komponen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar.
Efiiensi penggunaan kas dapat diketahui melalui tingkat perputaran kasnya. Perputaran
kas merupakan periode berputarnya kas dimulai pada saat kas itu diinvestasikan dalam
modal kerja sampai menjadi kas kembali.
Menurut James O. Gill dalam Kasmir (2012:140) rasio perputaran kas (Cash
Turnover) berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang
dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Artinya, rasio ini
digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan

15

biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan. Perputaran kas dapat dihitung dengan
membandingkan sales (penjualan) dengan jumlah rata-rata kas.

2.

Penjualan
Receivable Turnover (Perputaran Piutang)
Rata-rata Kas
Receivable turnover (perputaran
piutang) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode, atau berapa kali dana
yang diinvestasikan pada piutang berputar dalam satu periode. Tingkat perputaran
piutang merupakan periode terkaitnya modal kerja dalam piutang. Semakin cepat periode
berputarnya piutang menunjukkan semakin cepat penjualan kredit dapat kembali menjadi
kas. Perputaran piutang dapat dihitung dengan membandingkan penjualan kredit dengan
rata-rata piutang.
Penjualan Kredit
Piutang
Apabila data mengenaiRata-rata
penjualan kredit
tidak ditemukan maka dapat digunakan angka
pada penjualan (Kasmir, 2012:177).
Penjualan
Rata-rata Piutang

3. Days of Receivable (Hari Rata-rata Penagihan Piutang)


Days of Receivable (hari rata-rata penagihan utang) merupakan rasio yang
menunjukkan perbandingan antara piutang rata-rata dikali dengan jumlah hari dalam satu
tahun dengan penjualan kredit, atau perbandingan antara jumlah hari dalam satu tahun
dengan perputaran piutang (Kasmir, 2012:178).

16

Piutang Rata-rata x 360 Jumlah Hari dlm 1 Thn


Atau
Penjualan Kredit
Perputaran Piutang
4. Inventory Turnover (Perputaran Persediaan)
Untuk mengetahui efisiensi pengelolaan persediaan dapat dilihat dari tingkat
perputarannya. Perputaran persediaan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
berapa kali data yang diinvestasikan dalam persediaan ini berputar dalam satu periode.

Harga Pokok Penjualan


Atau
Persediaan
Harga Pokok Penjualan
Rata-rata Persediaan

5. Working Capital Turnover (Perputaran Modal Kerja)


Working capital turnover (perputaran modal kerja) merupakan salah satu rasio
untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode
tertentu. Rasio ini menunjukkan perbandingan antara penjualan dengan modal kerja atau
modal kerja rata-rata.

Penjualan Bersih
Modal Kerja Rata-rata
6. Fixed Assets Turnover (Perputaran Aktiva Tetap)
Fixed assets turnover (perputaran aktiva tetap) merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur berapa kali dana yang diinvestasikan dalam aktiva tetap berputar dalam
satu periode. Rasio ini menunjukkan perbandingan dalam aktiva tetap dalam satu periode.

Penjualan
Total Aktiva Tetap

17

7.

Total Assets Turnover (Perputaran Aktiva)


Total assets turnover (perputaran aktiva) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa
jumlah penjualan yang diperoleh dari setiap rupiah aktiva yang digunakan.

2.2.2

Modal Kerja

Penjualan
Total Aktiva

Menurut J.C Van Horne & J.M Wachowicz (2005:308), mengungkapkan bahwa :
Terdapat dua konsep utama modal kerja, yaitu modal kerja bersih dan modal kerja
kotor. Modal kerja bersih (net working captal) merupakan perbedaan nilai uang antara
aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek atau aktiva lancar dikurangi kewajiban
jangka pendek. Modal kerja kotor (gross working capital) adalah investasi perusahaan
pada aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas yang dapat diperjual belikan, piutang
dan persediaan.
Menurut E.F Brigham & J.F Houston (2006:131) Modal kerja, atau kadang-kadang
disebut juga modal kotor, sebenarnya adalah aktiva lancar yang digunakan dalam operasi. Modal
kerja bersih didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar.
Menurut Raharjaputra (2011:156), modal kerja adalah investasi perusahaan dalam jangka
pendek atau disebut juga sebagai aset lancar (current assets); di antaranya adalah kas/bank,
persediaan, piutang, investasi jangka pendek dan biaya dibayar di muka.
Pengertian modal kerja secara mendalam dapat dikemukakan dalam beberapa konsep
Riyanto, (2013:57-58) yaitu :
1. Konsep Kuantitatif

18

Konsep kuantitatif didasarkan pada kuantitas dari dana yang diinvestasikan pada
aktiva lancar. Modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva
lancar. Konsep ini sering disebut dengan modal kerja kotor (gross working capital).
2. Konsep Kualittatif
Konsep kualitatif merupakan konsep yang menitikberatkan kepada kualitas modal
kerja. Modal kerja menurut konsep ini adalah kelebihan dari aktiva lancar di atas hutang
lancarnya atau selisih antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini sering
disebut dengan modal kerja bersih (net working capital).
3. Konsep Fungsional
Konsep fungsional menekankan pada fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam
menghasilkan pendapatan (income), artinya setiap dana yang digunakan dalam
perusahaan dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Semakin banyak dana yang
digunakan sebagai modal kerja seharusnya dapat meningkatkan perolehan laba. Demikian
pula sebaliknya, jika dana yang digunakan semakin sedikit,maka laba akan menurun.
Akan tetapi, kenyataanya tidak selalu demikian.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa modal
kerja merupakan investasi yang dilakukan perusahaan pada aktiva jangka pendek atau
aktiva jangka pendek dikurangi dengan kewajiban jangka oendek yang digunakan untuk
membiayai kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.
2.2.3

Komponen Modal Kerja


1. Kas
Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya selalu membutuhkan
kas. Kas sangat dibutuhkan untuk membayar berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh
perusahaan. Kas adalah seluruh uang tunai yang tersedia pada perusahaan maupun yang
disimpan di bank.

19

Kas yang tersedia di perusahaan jumlahya harus mencukupi kebutuhan


perusahaan . perusahaan yang tingkat likuiditasnya tinggi karena adanya kas dalam
jumlah besar, berarti tingkat perputaran kasnya rendah. Hal ini mengindikasikan adanya
over investment dalam kas yang berarti perusahaan kurang efektif dalam mengelola kas.
Munawir, (2012:158). Jumlah kas yang relatif kecil menyebabkan tingkat perputaran kas
tinggi sehingga kenutungannya yang diperoleh akan lebih besar.
2. Piutang
Piutang (receivable) merupakan tagihan perusahaan pada pihak lainnya yang
memiliki jangka waktu kurang dari satu tahun Kasmir, (2012:41), sedangkan piutang
dagang merupakan tagihan yang disebabkan oleh penjualan barang kepada para
pelanggan. Piutang ini terjadi karena perusahan menjual barang atau jasa kepada para
pelanggan secara kredit.
Penjualan kredit dimaksudkan untu memperbesar volome penjualan pada
perusahaan Riyanto, (2013:85). Penjualan kredit tidak segera menghasilkan
penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang dagang. Piutang dagang akan diubah
menjadi kas apabila piutang telah jatuh tempo sehingga terjadi aliran kas masuk yang
berasal dari pengumpulan piutang. Dengan demikian, maka piutang merupakan
elemen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar secara terus-menerus dalam
rantai perputaran modal kerja.
3. Persediaan
Persediaan (Inventory) merupakan elemen dari modal kerja yang selalu dalam
keadaan berputar dan secara terus-menerus mengalami perubahan. Menurut Kasmir
(2012:41) Persediaan merupakan sejumlah barang yang disimpan oleh perusahaan

20

dalam satu tempat (gudang). Persediaan juga merupakan cadangan perusahaan untuk
proses produksi atau penjualan pada saat dibutuhkan.
Bagi industri manufaktur, persediaan menjadi begitu penting karena kesalahan
dalam investasi persediaan akan mengganggu kelancaran operasi perusahaan dan
akan mempengaruhi keuntungan perusahaan. Investasi dana dalam persediaan yang
terlalu besar dibandingkan dengan kebutuhan akan memperbesar beban bunga,
memperbesar

biaya

penyimpanan

dan

pemeliharaan

gudang,

memperbesar

kemungkinan kerugian karena kerusakan, turunnya kualitas, keusangan, yang pada


akhirnya akan memperkecil keuntungan perusahaan (Bmbang Riyanto, 2013:69).
Investasi dana dalam persediaan yang terlalu kecil akan menyebabkan perusahaan
tidak optimal dalam kegiatan operasinya.
2.2.4

Jenis Modal Kerja


Modal kerja menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
1. Modal kerja permanen, yaitu jumlah modal kerja minimal yang harus tetap ada
dalam perusahaan untuk dapat melaksanakan operasinya, atau sejumlah modal
kerja yang secara terus=menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja
permanen dibedakan atas :
a. Modal kerja primer, yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada
perusaahan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
b. Modal kerja normal, yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk
menyelenggarakan produksi yang normal.
2. Modal kerja variabel, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah tergantung pada
perubahan keadaan. Modal kerja variabel ini dibedakan menjadi :
a. Modal kerja musiman yaitu modal kerja yan jumlahnya berubah-ubah
disebabkan oleh fluktuasi msim.

21

b. Modal kerja siklis yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah


disebabkan fluktuasi kongjungtur.
c. Modal kerja darurat yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah karena
adanya keadaan darurat atau mendadak tidak diketahui atau tidak dapat
diramalkan terlebih dahulu Riyanto, dalam Jumingan, (2011:71-72).
2.2.5 Pentingnya Modal Kerja
Modal kerja memiliki arti yang sangat penting bagi operasional satu perusahaan. Setiap
perusahaan berusaha untuk memenuhi kebutuhan modal kerja agar dapat meningkatkan
likuiditasnya, kemudian dengan terpenuhinya modal kerja tersebut, maka perusahaan dapat
memaksimalkan perolehan labanya. Modal kerja yang cukup akan menguntungkan perusahaan
karena memungkinkan perusahaanuntuk beroperasi secara efisien, dan dapat menghindarkan
perusahaan dari kesulitan keuangan.
Pentingnya modal kerja bagi perusahaan, terutama bagi kesehatan keuangan perusahaan,
yaitu Kasmir (2012:252):
1. Kegiatan seorang manajer keuangan lebih banyak dihabiskan dalam kegiatan
operasional perusahaan dari waktu- ke waktu.
2. Modal kerja perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari manajer keuangan
karena investasi dalam aktiva lancar sering kali mengalami perubahan.
3. Seringkali bahwa separuh dari total aktiva merupakan bagian dari aktiva lancar, yang
merupakan modal kerja perusahaan.
4. Bagi perusahaan yang relatif kecil, fungsi modal kerja amat penting karena
perusahaan kecil relatif terbatas untuk memasuki pasar dengan modal besar dan
jangka panjang.
5. Terdapat hubungan yang sangat erat antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan
modal kerja.

22

2.2.6

Tujuan Modal Kerja


Menurut Kasmir (2012:253) tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan adalah:
1. Untuk memenuhi likuiditas perusahaan
2. Modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya
dengan tepat waktu.
3. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki persediaan yang cukup dalam rangka
untuk memenuhi kebutuhan para pelanggannya.
4. Memungkinkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana dari para kreditor,
apabila rasio keuangannya memenuhi syarat.
5. Memnugkinkan perusahaan memberikan syarat kredit yang menarik minat pelanggan
dengan kemampuan yang dimilikinya.
6. Untuk memaksimalkan penggunaan aktiva lancar dalam rangka meningkatkan
penjualan dan laba.

2.2.7 Sumber Modal Kerja


Menurut Munawir (2004:120) pada umumnya sumber modal kerja perusahaan
dapat berasal dari:
1. Hasil operasi perusahaan,
2. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek),
3. Penjualan aktiva tidak lancar, dan
4. Penjualan saham dan obligasi.
Berdasarkan uraian mengenai sumber-sumber modal kerja tersebut dapat
disimpulkan bahwa modal kerja akan bertambah apabila :
1. Adanya kenaikan sektor modal baik yang berasal dari laba, maupun adanya
pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan.
2. Adanya penurunan atau pengurangan aktiva tetap yang diimbangi denga
bertambahnya aktiva lancar karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui
proses depresiasi.

23

3. Adanya penambahan hutang jangka pangjang yang diimbangi dengan bertambahnya


aktiva lancar.
Modal kerja akan bertambah apabila aktiva lancar yang dimiliki perusahaan juga
bertambah, yang diimbangi dengan sektor tidak lancar (non current asset).
2.2.8

Penggunaan Modal Kerja


Menurut Munawir (2004:124) Penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan

bahkan penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Akan tetapi, penggunaan
aktiva lancar tidak selalu menyebabkan perubahan dan turunnya jumlah modal kerja yang
dimiliki perusahaa. Hal ini dikarenakan penurunan jumlah aktiva lancardiimbangi dengan
penurunan hutang lancar dengan jumlah yang sama.
Penggunaan-penggunaan aktiva lancar yang menyebabkan turunnya modal kerja adalah:
1. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan, yang meliputi pembayaran
upah, gaji, pembelian bahan atau barang dagang, dan pembayaran biaya-biaya lainnya.
2. Kerugian yang diakibatkan oleh penjualan efek atau surat berharga maupun kerugian
insidentil lainnya.
3. Adanya pembentukkan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam
jangka panjang, misalnya dana pelunasan obligasi, dana pensiunan pegawai, ataupun
dana-dana lainnya. Adanya pembentukkan dana berarti terjadi perubahan bentuk aktiva
dari aktiva lancar menjadi aktiva tetap.
4. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap.
5. Pembayaran hutang-hutang jangka panjgang.
6. Pengambilan uang atau barang dagang oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan
pribadinya.
2.2.9

Profitabilitas

24

Setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat meningkatkan profitabilitasnya. Jika


perusahan berhasil meningkatkan profitabilitasnya, dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut
mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya secara efektif dan efisien sehingga mampu
menghasilkan laba yang tinggi. Sebaliknya, sebuah perusahaan memiliki profitabilitas rendah
menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya
dengan baik, sehingga tidak mampu menghasilkan laba yang tinggi. Untuk mengukur tingkat
laba atau keuntungan suatu perusahaan dapat menggunakan rasio profitabilitas,
Menurut Kasmir (2012:196) rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat
efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini dapat ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari
penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menujukkan efisiensi
perusahaan. Penggunaan rasio profitabilitas pada perusahaan mempunyai tujuan yaitu :
1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode
tertentu.
2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sekarang dengan tahun sebelumnya.
3. Untuk menilai perkembangan laba perusahaan dari waktu ke waktu, dan tujuan
lainnya.
Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai perusahaan, terdapat beberapa jenis rasio
profitabilitas yang dapat digunakan. Jenis-jenis rasio tersebut adalah sebagai berikut:
1. Profit Margin on Sales
Profit margin on sales atau rasio profit margin merupakan salah satu rasio yang
dugunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Cara pengukuran rasio ini adalah
dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih. Terdapat dua
rumus untuk mencari profit margin yaitu:
a. Untuk margin laba kotor dapat menggunakan rumus :

Penjualan bersih Harga Pokok penjualan


Sales

25

Margin laba kotor menunjukkan laba yang relatif terhadap perusahaan, dengan
cara penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. Semakin besar rasio ini maka
semakin baik perusahaan dalam memperoleh laba kotor (Husain Umar 2000:297).
b. Untuk margin laba bersih (net profit margin) dapat menggunakan rumus:

Earning After Interest and Tax (EAIT)


Sales
Rasio ini menunjukkan berapa besar keuntungan bersih yang dihasilkan untuk setiap
penjualan. Semakin besar rasio ini maka semakin efisien (Husain Umar, 2000:298).
2. Return on Investment (ROI)
Return on Investment (ROI) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return)
atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROI merupakan suatu ukuran
efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya. Semakin rendah rasio ini maka
semakin kurang baik bagi perusahaan, demikian pula sebaliknya. Rasio ini digunakan
utnuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan. Rumus yang dapat
digunakan untuk mencari ROI yaitu:
Atau and Tax
Earning After Interest
Total Assets
ROI = Net Profit Margin x Perputaran Total Aktiva
3. Return on Equity (ROE)

26

Return on Equity (ROE) merupakan rasio untuk mengukur tingkat laba bersih
sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunan modal
sendiri. Rumus yang dapat digunakan untuk mencari ROE yaitu :
Earning After Interest and Tax
Equity

4. Laba per Lembar Saham


Laba per lembar saham atau rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur
keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rumus
yang dapat digunakan untuk mencari rasio laba per lembar saham yaitu:
Laba saham Biasa
Saham biasa yang beredar
2.2.10 Hubungan Efisiensi Modal Kerja dengan Profitabilitas
Efisiensi modal kerja multlak diperulkan untuk menjamin kecukupan modal kerja. Modal
kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan karena memungkinkan perusahaan
untuk beroperasi secara efisien dan menghindarkan perusahaan dari kesulitan keuangan. Menurut
Kasmir (2010:211) dengan terpenuhinya kebutuhan modal kerja pada perusahaan maka
perusahaan akan dapat memaksimalkan laba.
Jumlah modal kerja yang berlebihan menunjukkan bahwa perusahaan tidak bisa
menggunakan dana dengan baik, sehingga dana tersebut menjadi tidak produktif dan akan
berdampak pada tingkat pengembalian modal perusahaan atau profitabilitas. Begitu juga
sebaliknya kekurangan modal kerja akan menghambat kegiatan operasional perusahaan seharihari sehingga dapat menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Menurut Kasmir (2010:213)

27

kekurangan modal kerja menyebabkan perusahaan sulit untuk dapat memenuhi target
memperoleh laba yang diinginkan.
Perusahaan dalam menentukan jumlah modal kerja yang efisien dapat menggunakan rasio
efisiensi yang mewakili elemen-elemen modal kerja yang terdiri dari kas, piutang, dan
persediaan, di mana semua elemen modal kerja tersebut dihitung perputarannya. Semakin cepat
tingkat perputara masing-masing elemen modal kerja, maka modal kerja dapat dikatakan efisien.
Tetapi, jika perputarannya semakin lambat, maka penggunaan modal kerja dalam perusahaan
kurang efisien. Perputaran pada elemen-elemen modal kerja dapat diukur dengan menggunakan
rasio Cash Turnover (perputaran kas), Receivable Turnover (perputaran piutang) dan Inventory
Turnover (perputaran persediaan).
1. Hubungan Cash Turnover (Perputaran Kas) dengan Profitabilitas
Kas merupakan komponen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar. Menurut
H.G Guthman dalam Bambang Riyanto (2013:95) menyatakan bahwa jumlah kas yang ada
dalam perusahaan hendaknya tidak kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar.
Jumlah kas dapat pula dihubungkan dengan jumlah penjualannya. Perbandingan antara penjualan
dengan jumlah rata-rata kas menggambarkan tingkat perputaran kas (cash turnover).
Cash turnover atau perputaran kas merupakan perbandingan antara penjualan dengan
jumlah rata-rata kas pada perusahaan (Bambang Riyanto, 2013:95). Perputaran kas menunjukkan
berapa kali uang kas berputar dalam satu periode. Perputaran kas perlu dikelola secara optimal
agar dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Perputaran kas yang optimal
mengindikasikan kebutuhan akan kas dalam kegiatan operasional perusahaan menjadi sedikit.
Semakin cepat rasio perputaran kas maka semakin sedikit jumlah kas yang dibutuhkan dalam
operasional perusahaan sehingga perusahaan semakin efisien dalam menggunakan kas. Kas yang
berputar dengan cepat dalam satu periode disebabkan oleh tingkat penjualan yang meningkat, hal

28

ini berarti akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan profitabilitas perusahaan pun
akan semakin baik.
2. Hubungan Receivable Turnover (Perputaran Piutang) dengan Profitabilitas
Usaha yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperbesar volume penjualannya adalah
dengan menjual produknya secara kredit. Penjualan kredit tidak segera menghasilkan
penerimaan kas tetapi menimbulkan piutang. Piutang merupakan elemen dari modal kerja yang
selalu dalam keadaan berputar. Menurut Raharjaputra (2009:204) Perputaran piutang merupakan
rasio yang digunakan untuk memperkirakan berapa kali dalam satu periode tertentu, jumlah arus
kas masuk yang diperoleh dari piutang.
Semakin tinggi tingkat perputaran piutang berarti semakin cepat dana yang diinvestasikan
pada piutang dagang dapat ditagih menjadi uang tunai atau menunjukkan modal kerja yang
ditanam dalam piutang rendah sehinnga dapat mengurangi biaya modal dan akhirnya dapat
meningkatkan profitabilitas. Menurut Kasmir (2010:114) semakin tinggi perputaran piutang,
maka modal kerja yang ditanamkan pada putang makin rendah dan kondisi ini pada perusahaan
dianggap baik. Apabila tingkat perputaran piutang rendah berarti membuthukan waktu yang lebih
lama untuk menagih piutang dagang dalam bentuk uang tunai atau menunjukkan modal kerja
yang ditanamkan dalam piutang besar sehingga dapat menambah biaya modal dan akhirnya
dapat mempengarui profitabilitas perusahaan.
3.
Hubungan Inventory Turnover (Perputaran Persediaan) dengan Profitabilitas
Persediaan pada perusahaan perlu dikelola secara optimal agar tidak menimbulkan
kekurangan atau kelebihan, sehingga perusahaan dapat menggunakan persediaannya secara
efisien dalam rangka untuk menigkatkan profitabilitasnya. Apabila persediaan jumlahnya terlalu
kecil maka besar kemungkinan kegiatan operasi perusahaan mengalami penundaaan atau
perusahaan beroperasi pada kapasitas yang rendah. Sebaliknya, investasi dalam persediaan yang
terlalu besar jika dibandingkan dengan kebutuhan perusahaan akan memperbesar beban bunga,
memperbesar biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang, memperbesar kemungkinan

29

kerugian karena kerusakan, turunya kualitas, sehingga semuanya ini akan memperkecil
keuntungan perusahaan, persediaan yang terlalu besar juga mengakibatkan perputaran persediaan
rendah sehingga profitabilitas perusahaan menurun (Sartono, 2012:444).
Tingkat perputaran persediaan (inventory turnover), menunjukkan berapa kali persediaan
tersebut diganti dalam arti dibeli dan dijual kembali. Inventory turnover yang tinggi
menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola persediaannya secara efisien. Efisiensi
persediaan dapat meminimalisir resiko akibat perubahan harga dan selera konsumen yang terjadi
dan dapat menghemat biaya penyimpanan atau Carrying cost dan pemeliharaan persediaan.

2.3

Kerangka Pemikiran
Perusahaan

memiliki

modal

kerja

dengan

maksud

untuk

menjaga

kegiatan

operasionalnya agar terus berjalan. Modal kerja melibatkan sejumlah besar aset yang dimiliki
perusahaan. Untuk itu, moal kerja membutuhkan penanganan dan perhatian setiap saat dari
manajer keuangan.
E.F Brigham & J.F Houston (2006:131) Modal kerja atau kadang-kadang disebut juga
modal kotor, sebenarnya adalah aktiva lancar yang digunakan dalam operasi. Modal kerja bersih
didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar.
Salah satu konsep dari manajemen modal kerja adalah mngelola modal kerja tersebut
dengan efektif dan efisien. Efisiensi modal kerja sangat penting bagi perusahaan karena akan
menjamin kecukupan modal yang tersedia pada perusahaan. Efisiensi modal kerja dapat diukur
dengan menggunakan rasio keuangan. Adapun rasio keuangan yang dipergunakan untuk
mengukur efisiensi modal kerja pada penelitian ini adalah cash turnover, receivable turnover dan

30

inventory turnover. Efisiensi modal kerja bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan aktiva
lancar guna meningkatkan penjualan dan laba perusahaan.
Seperti diketahui bahwa salah satu nilai penting dari profitabilitas adlah memperoleh laba
semaksimal mungkin. Profitablilitas perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio
keuangan,dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah Return On Investment. Menurut
Kasmir (2010:115), Return On Investment (ROI) merupakan rasio yang menunjukkan hasil
(return) atas jumlah aktiva yang digunakan perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas, cash turnover, receivable turnover dan inventory turnover
mempunyai hubungan yang erat terhadap ROI pada perusahaan. Apabila penjualan meningkat,
maka akan terjadi tambahan dana pada kas, piutang dan persediaan. Dengan demikian,
peningkatan penjualan akan mempengaruhi profitabilitas dalam hal ini laba perusahaan. Maka
pengaruh dari variabel-variabel tersebut terhadap ROI dapat ditunjukkan dalam kerangka
pemikiran teoritis berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Efisiensi Modal Kerja
(X)

Cash Turnover (X1)


Receivable Turnover (X2)

Profitabilitas
ROI (Y)

Inventory Turnover (X3)

2.2

Keterangan:
Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin: Pengaruh
benar atau
mungin
salah. Hipotesis
secara
simultan

pada dasarnya merupakan suatu pernyataan atau jawaban: sementara


dari suatu
Pengaruh secara
parsialpenelitian dan

31

kebenarannya masih harus dibuktikan terlebih dahulu melalui hasil penelitian. Adapun hipotesis
yang diajukan pada penelitian ini adalah:
H1 =

Efisiensi modal kerja yang terdiri dari cash turnover, receivable turnover dan inventory
turnover berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada industri makanan dan
minuman.

H2 =

Cash turnover berpengaruh seignifikan terhadap profitabilitas pada industri makanan dan
minuman.

H3 =

Receivable turnover berpengarub signifikan terhadap profitabilitas pada industri


makanan dan minuman.

H4 = Inventory turnover berpengaruh signifikan terhadap profitablilitas pada industri makanan


dan minuman.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1

Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian penelitian eksplonatori (eksplonatory). Jenis

penelitian ini bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan
anatara efisiensi modal kerja dengan profitabilitas pada industri makanan dan minuman yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3.2

Jenis dan Sumber data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data

kuantitatif yaitu suatu data yang dapat diukur dengan angka-angka yang bersumber dari Bursa
Efek Indonesia tahun 2009 sampai 2013 yang berupa laporan keuangan perusahaan. Sedangkan
data kualitatif pada penelitian ini berupa ringkasan kinerja dan sejarah singkat dari perusahaan.

39

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, yaitu data yang
diperoleh dari objek penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan dokumen-dokumen atau
laporan-laporan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti yang meliputi laporan
keuangan perusahaan (neraca, laporan laba rugi, ringkasan kinerja dan sejarah singkat dari
perusahaan, yang telah melalui hasil pengelolaan pihak perusahaan ataupun pihak lain pada
industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2013. Data
tersebut diperoleh melalui media internet dengan mengakses website Bursa Efek Indonesia
(www.idx.co.id)
3.3

Metode Pengumpulan data


Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah metode

dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji data sekunder yang
berupa laporan keuangan pada industri Makanan dan Minuman dari tahun 2011 sampai tahun
2013 yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia. Selain itu, pengumpulan data pada
penelitian ini juga menggunakan metode studi kepustakaan yang merupakan teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari buku, artikel, serta literatur
lainnya melalui situs BEI dan karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini.
3.4

Populasi dan Sampel


Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari objek penelitian. Populasi dalam penelitian

ini adalah industri makanan dan minuman yang terdaftara di Bursa Efek Indonesia dari tahun
2011 sampai pada tahun 2013 yang bejumlah 18 (delapan belas) perusahaan.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti. Sampel dalam penelitian ini
ditentukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel

40

berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu. Adapun karakteristik perusahaan yang akan
dijadikan sebagai sampel adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan-perusahaan pada industri makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia
dari tahun 2011-2013.
2. Perusahaan pada industri makanan dan minuman yang menerbitkan atau mengumumkan
laporan keuangan tahunan secara lengkap per 31 Desember dari tahun 2011 sampai tahun
2013.
3. Perusahaan pada industri makanan dan minuman yang memperoleh laba (ROI) positif
dari tahun 2011 sampai tahun 2013.
Berdasarkan kriteria di atas, terdapat 10 (sepuluh) perusahaan yang akan memenuhi
kriteria sampel yaitu :
Tabel 3.1
Sampel Perusahaan pada Industri Makanan dan Minuman

No.

Nama Perusahaan

1. PT. Tiga Pilar Sejahtera Tbk


2. PT. Delta Djakarta Tbk
3. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
4. PT. Mayora Indah Tbk
5. PT. Tunas Baru Lampung Tbk
6. PT. Ultrajaya Milk Industri Tbk
7. PT. Davomas Abadi Tbk
8. PT. Prashida Aneka Niaga Tbk
9. PT. Akasha Wira Internasional Tbk
10. PT. Multi Bintang Indonesia Tbk
Sumber : www.idx.co.id
3.5

Kode

AISA
DLTA
INDF
MYOR
TBLA
ULTJ
DAVO
PSDN
ADES
MLBI

Operasional Variabel
Operasional variabel merupakan suatu cara untuk mengukur konsep dari bagaimana cara

sebuah konsep harus diukur sehingga terdapat variabel-variabel yang saling mempengaruhi dan

41

dipengaruhi, yaitu variabel yang dapat menyebabkan masalah dan variabel yang situasi dan
kondisinya tergantung oleh variabel lain. Adapun penulis menggunakan beberapa variabel
pengujian yang dikelompokkan menjadi :
1. Variabel independen
Variabel independen atau variabel pengaruh yaitu variabel yang mempengaruhi variabel
lain yang tidak bebas. Variabel bebas adalah variabel yang keberadaannya tidak
dipengaruhi oleh variabel lain dan merupakan faktor penyebab yang dapat mempengaruhi
variabel tidak bebas (variabel independen). Dalam hubungannya dengan judul yang telah
ditetapkan, yang menjadi variabel independen (X) adalah :
Variabel Independen : (X1) = Cash Turnover
(X2) = Receivable Turnover
(X3) = Inventory Turnover
2. Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel tergantung merupakan variabel yang dipengaruhi
variabel lain. Dalam kaitannya dengan variabel yang diteliti, maka yang akan menjadi
variabel dependen adalah ROI industri makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia.
Adapun variabel dependen yang terdapat pada penelitian ini adalah :
Variabel Dependen : (Y) = Return on Investment (ROI)
3.6

Definisi Operasional Variabel

3.6.1

Cash Turnover
Perbandingan antara penjualan dengan jumlah rata-rata kas menggambarkan tingkat

perputaran kas (cash turnover). Cash turnover merupakan kemampuan kas dalam menghasilkan
pendapatan sehingga dapat dilihat berapa kali uang kas berputar dalam satu periode tertentu.
Cash turnover dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Penjualan
Rata-Rata Kas

42

3.6.2

Recaivable Turnover
Receivable turnover atau perputaran piutang merupakan rasio yang memberikan

gambaran mengenai kualitas piutang perusahaan dan seberapa berhasilnya perusahaan dalam
penagihannya. Rasio ini digunakan untuk memperkirakan berapa kali dalam satu periode
tertentu, jumlah arus kas masuk ke perusahaan yang diperoleh dari piutang. Rasio ini dapat
diukur dengan menggunakan rumus :

3.6.3

Penjualan
Inventory Turnover Rata-rata Piutang
Inventory turnover atau rasio perputaran persediaan merupakan rasio untuk mengukur

berapa kali dana yang ditanamkan pada persediaan ini berputar dalam satu periode. Semakin
tinggi tingkat perputaran persediaan, maka semakin rendah modal kerja yang dibutuhkan
perusahaan untuk diinvestasikan di perusahaan. Rasio ini dapat diukur dengan menggunakan
rumus :
Harga Pokok Penjualan
Rata-rata Persediaan

3.6.4

Return on Investment
Return on Investment (ROI) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atau

jumlah aktiva yang digunakan perusahaan. Rasio ini dapat diukur dengan menggunakan rumus :
Laba Bersih
Total Aktiva

43

Tabel 3.2
Definisi Operasional Variabel
Variabel

Modal Kerja

Konsep
Modal kerja terdiri dari modal kerja kotor dan
modal kerja bersih. Modal kerja kotor adalah aktiva
lancar yang digunakan dalam operasi. Modal kerja
bersih adalah aktiva lancar dikurangi dengan
kewajiban lancar.

Indikator

Aktiva Lancar

Efisiensi Modal Kerja (X):

Cash Turnover (X1)

Receivable
Turnover (X2)

Inventory Turnover
(X3)

Cash turnover merupakan perbandingan antara


penjualan dan jumlah rata-rata kas. Cash turnover
digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan
kas pada perusahaan yang dilihat dari tingkat
perputarannya.
Receivable Turnover merupakan perbandingan
antara penjualan kredit (penjualan) dengan jumlah
rata-rata piutang. Rasio ini digunakan untuk
mengukur efisiensi piutang pada perusahaan
dengan memperkirakan berapa kali dalam satu
periode tertentu, jumlah arus kas masuk ke
perusahaan yang diperoleh dari piutang.
Inventory Turnover merupakan perbandinga antara
harga pokok penjualan dengan rata-rata persediaan.
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat
efisiensi persediaan dilihat dari berapa kali dana
yang ditanamkan pada persediaan ini berputar
dalam satu periode.

Penjualan
Rata-rata Kas

Penjualan
Rata-rata
Piutang

Harga Pokok
Penjualan
Rata-rata
Persediaan

Profitabilitas (Y):
ROI (Y)

ROI merupakan perbandingan antara laba bersih


dengan total aktiva. Rasio yang menunjukkan hasil
(return) atas jumlah aktiva yang digunakan
perusahaan.

Laba Bersih
Total Aktiva

44

3.7

Metode Analisis Data

3.7.1

Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan objek yang diteliti melalui data

populasi dan sampel secara apa adanya berdasarkan pada nilai minimum, nilai maksimum, dan
nilai rata-rata dari data tersebut. Pengujian ini dilakukan untuk mempermudah dalam memahami
variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian.

3.7.2

Uji Asumsi Klasik

3.7.2.1 Uji Normalitas


Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen
dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Dasar pengambilan
keputusan dalam deteksi normalitas (Ghazali 2001:74) dalam Nurdiana (2011) yaitu :
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka
model regresi memenui asumsi normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal
maka model regresi tidak memenuhi asumsi uji normalitas.

3.7.2.2 Uji Multikolinieritas

45

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara
variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya bebas multikolinearitas atau
tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Uji multikolinearitas dapat dilihat dari :
1) Nilai tolerance dan lawannya
2) Variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance lebih besar dari 0,1 atau nilai VIF
lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas pada data
(Ghozali 2001:57 dalam Nurdiana 2011).

3.7.2.3 Uji Heterokedastisitas


Masalah-masalah dalam pengujian model regresi dalam penelitian ini dapat diatasi
dengan
3.7.2.4 Uji Autokorelasi
Normalitas residual data bertujuan menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel
3.7.3

Analisis Regresi Linear Berganda


Istilah multikolinieritas untuk menunjukan adanya hubungan linear di antara variabel-

variabel bebas
3.7.3.1 Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Salah satu asumsi klasik dalam analisis regresi linear berganda adalah distribusi
pengukurannya.
3.7.3.2 Uji Simultan (Uji-F)
Untuk menjawab permasalahan dan menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan
3.7.3.3 Uji Simultan (Uji-T)

46

Untuk menguji keberartian dari koefisien regresi secara serempak digunakan uji-F,
dengan

DAFTAR PUSTAKA

Aulia Rahma, 2011. Analisis Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap


Profitabilitas Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur PMA dan
PMDN Yng Terdaftar di BEI periode 2004 2008). Skripsi Fakultas
Ekonomi

Universitas

Diponegoro

Semarang.

Diunduh

melalui

http://eprints.undip.ac.id/18102/pada tanggal 10 November 2014.


Brealey , Myers & Marcus, 2008. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan .
Jilid 2 edisi ke lima. Jakarta:Erlangga.
Brigham, F.E & Houston , F.J, 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Buku 2 edisi
10. Jakarta:Salemba Empat.
Faurani I Santi Singangerda, 2004. Analisis Pengaruh Modal Kerja Terhadap
Profitabilitas dan Rentabilitas pada Koperasi Dharma Wanita Mandalika
Mataram, Nusa Tenggara. Jurnal manajemen keuangan, volume 2 No. 1 ,
2004.
Hilmawati, 2012. Analisis Modal Kerja Terhadap Rentabilitas Perusahaan pada
Industri Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi Fakultas
Ekonomi Universitas Tadulako.
Ita Mahfudliyah, 2010. Analisis Pengaruh Efisiensi Modal Kerja Terhadap tingkat
Likuiditas Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI. STIE Perbanas,
Surabaya.

Julkarnain, 2012. Pengaruh Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas
dan Perputaran Piutang Terhadap Profitabilitas pada Indusri Barang
Konsumsi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2011.
Universitas Maritim Raja li Haji, Tanjung Pinang. Diunduh melalui
http://jurnal.unmrab.ac.id/wpcontent/uploads/2013/08/zulkarnain090462201
175.pdf pada 10 November 2014.
Jumingan, 2011.Analisis Laporan Keuangan. Jakarta:PT.Bumi Aksara.
Kasmir, 2012. Analisis Laporan Keuangan, Jakarta :PT.Rajagrafindo Persada.