Anda di halaman 1dari 7

Science

all about science

Home

About

RSS
Sistem Respirasi
Sistem Endokrin

Termoregulasi
21 Feb
Pendahuluan
Manusia termasuk dalam kelompok hewan homeotermis yang senantiasa
mempertahankan suhu internal tubuh dalam batas relatif konstan meskipun suhu lingkungan
berubah-ubah. Di dalam tubuh, panas diproduksi secara terus menerus akibat adanya
aktivitas metabolisme. Ketika penggunaan energi meningkat karena aktivitas fisik maka
terjadi penambahan panas. Demikian juga dengan perubahan yang sangat besar dari suhu
lingkungan sangat mempengaruhi suhu tubuh yang pada akhirnya, akan mempengaruhi
sistem kerja enzim yang bekerja pada suhu dengan kisaran yang relatif sempit.
Agar suhu tubuh tetap relatif konstan maka harus ada mekanisme untuk menjaga suhu
tubuh dalam batas-batas yang masih dapat diterima tanpa memperhatikan kondisi lingkungan.
Proses yang dikenal dengan termoregulasi. Dalam modul ini, diketengahkan bagaimana
mekanisme hewan homeotermis termasuk di dalamnya manusia mempertahankan suhu
tubuh agar tetap konstan dengan cara membuang panas ketika suhu tubuh meningkat di atas
normal dan cara mendapatkan panas ketika suhu tubuh turun di bawah normal. Dibahas juga
mengenai lintasan termoregulasi, hubungan suhu lingkungan dan produksi panas dan
termoregulasi pada bayi serta demam.
MEKANISME PERTUKARAN PANAS

1.

Keseimbangan suhu

Produksi panas merupakan suatu fungsi metabolisme energi. Dalam keadaan istirahat
kira-kira 56% dari panas basal dihasilkan oleh organ-organ dalam dan hanya kira-kira18%
yang dihasilkan oleh otot dan kulit. Pada waktu pengerahan tenaga, terjadi peningkatan
produksi panas akibat peningkatan aktivitas otot sebanyak 90%. Agar suhu tubuh tetap
konstan, panas harus dihilangkan ke lingkungan dengan laju yang sama dengan yang

dihasilkan. Kegagalan mengontrol suhu tubuh dapat menyebabkan serangkaian perubahan


fisiologis. Sebagai contoh, suhu tubuh di bawah 360C atau di atas 400C dapat menyebabkan
disorientasi, sedangkan suhu di atas 420C menyebabkan sawan dan kerusakan sel yang
permanen. Oleh karena itu, ketika kondisi lingkungan meningkat di atas atau turun di bawah
ideal tubuh harus mengontrol perolehan atau pembuangan panas untuk mempertahankan
homeostasis.
Mekanisme menghilangkan panas pada umumnya adalah pengaturan fisika oleh
karena melibatkan kerja fisik sedangkan mekanisme perolehan panas banyak melibatkan
mekanisme kimiawi. Pertukaran energi panas antara hewan dan lingkungan tergantung pada
nutrisi, metabolisme dan mekanisme fisika.
2.

Mekanisme Pertukaran panas

Pertukaran panas dengan lingkungan meliputi 4 proses (Gambar 1) yaitu:

Radiasi: Apabila kita merasakan panas matahari maka itu adalah karena radiasi sinar
matahari. Radiasi (elektromagnetik) dipancarkan dari permukaan yang suhunya
lebih tinggi dan diabsorbsi oleh bagian lain yang suhunya lebih rendah. Perbedaan
suhu yang cukup besar menyebabkan banyak panas yang hilang melalui radiasi.

Panas tubuh kita juga hilang dengan cara yang sama meskipun dalam jumlah yang kecil.
Lebih dari 50% panas yang hilang dalam ruangan diakibatkan oleh radiasi dan jumlah
sesungguhnya bervariasi sesuai dengan suhu tubuh dan suhu kulit

Konduksi : Merupakan perpindahan langsung energi melalui kontak fisik. Sebagai


contoh ketika kita duduk di kursi plastik yang dingin maka panas yang berasal dari
tubuh kita dipindahkan ke kursi sampai akhirnya terjadi keseimbangan.

Konveksi : Merupakan hasil kehilangan panas secara konduksi ke udara yang


melapisi permukaan tubuh. Udara panas timbul oleh karena lebih ringan dari udara
dingin. Seiring tubuh kita memindahkan panas ke udara berikutnya maka udara
panas bergerak menjauh dari permukaan kulit. Udara dingin yang menggantikannya,
pada akhirnya menjadi panas dan pola ini terjadi berulang-ulang. Jumlah konveksi
kira-kira 15% dari panas tubuh yang hilang dalam ruangan.

Evaporasi : Evaporasi merupakan perubahan dari fase cair ke uap air. Evaporasi
memerlukan energi dalam jumlah yang besar, kira-kira 0.58 kal per gram air yang
dievaporasikan. Oleh karena itu, maka mekanisme ini digunakan oleh hewan
homeotermis/manusia untuk mendinginkan tubuhnya. Evaporasi juga berlangsung di
permukaan respitatoris dan organ-organ lain termasuk kulit. Laju evaporasi yang
berlangsung di kulit sangat bervariasi.

Setiap jam kira-kira 20-25 ml air melintasi epithelium dan dievaporasikan melalui
permukaan alveolar dan permukaan kulit. Kehilangan air insensibel ini relatif konstan. Pada
saat istirahat, jumlahnya kira-kira 20% dari rata-rata kehilangan panas tubuh dalam ruangan.
Kelenjar keringat bertanggung jawab terhadap perspirasi sensibel yang mencapai kira-kira 2
4 L per jam dalam keadaan aktivitas yang hebat. Evaporasi berlangsung hanya apabila
udara tidak jenuh dengan uap air.

2.1.

Mekanisme penghilangan panas

Perolehan dan penghilangan panas melibatkan aktivitas berbagai sistem yang dikoordinasi
oleh pusat kehilangan panas (heat-loss centre) dan pusat perolehan panas (heat-gain centre)
pada area preoptik hipotalamus anterior. Apabila suhu di nukleus preoptik melebihi set point
maka pusat kehilangan panas dirangsang sehingga menghasilkan 3 pengaruh utama yaitu:
1. Penghambatan pusat vasomotorik yang menyebabkan vasodilatasi peripheral dan
darah yang panas mengalir ke permukan tubuh. Kulit menjadi berwarna kemerahmerahan, suhu kulit meningkat dan peningkatan kehilangan panas melalui konduksi
dan konveksi.
2. Perangsangan saraf simpatis untuk meningkatkan sekresi kelenjar keringat seiring
dengan meningkatnya aliran darah ke kulit. Perspirasi mengalir melintasi permukaan
tubuh dan meningkatkan kehilangan panas melalui evaporasi. Apabila evaporasi
lengkap maka sekresi maksimal dapat memindahkan 2320 kal/jam.
3. Rangsangan terhadap pusat respirasi sehingga meningkatkan kedalaman respirasi.
Sering seseorang melakukan respirasi dengan mulut terbuka daripada melalui hidung
untuk meningkatkan evaporasi melalui paru paru.
2.2.

Mekanisme perolehan panas

Fungsi pusat perolehan panas di otak adalah untuk mencegah hipotermia atau suhu tubuh
turun di bawah normal. Apabila suhu pada nukleus preoptik turun di bawah tingkat yang
dapat diterima maka pusat kehilangan panas di hambat dan pusat perolehan panas
diaktifkan.
Mekanisme untuk memperoleh panas dapat dibagi dalam 2 kategori besar yaitu:

Shivering thermogenesis.

Pada shivering thermogenesis terjadi peningkatan secara perlahan-lahan tonus otot


sehingga meningkatkan konsumsi energi otot skelet di seluruh bagian tubuh. Dengan
demikian, lebih banyak energi yang dikonsumsi dan pada akhirnya lebih banyak panas yang
dihasilkan. Derajat stimulasi bervariasi sesuai kebutuhan. Apabila pusat pengaturan
perolehan panas sangat aktif, tonus otot meningkat sampai pada titik dimana rangsangan
reseptor renggang menghasilkan kontraksi yang singkat. Dengan kata lain kita mulai
menggigil. Menggigil meningkatkan kerja otot dan selanjutnya meningkatkan konsumsi
oksigen dan energi. Panas yang dihasilkan menghangatkan pembuluh darah bagian dalam
yang kemudian darah dialirkan ke pusat vasomotorik simpatis. Menggigil sangat efektif
dalam meingkatkan suhu tubuh dimana laju perolehan panas dapat mencapai 400%

Nonshivering thermogenesis

Proses ini melibatkan pelepasan hormon untuk meningkatkan aktivitas metabolisme di semua
jaringan.
1. Epineprin: Pusat perolehan panas merangsang kelenjar suprarenalis melalui cabang
simpatis sistem saraf otonomi sehingga melepaskan epineprin. Epineprin

meningkatkan laju glikogenolisis di hati dan otot skelet dan laju metabolisme di
banyak jaringan
2. Tiroksin: Nukleus preoptik mengatur produksi thyrotropin releasing hormone (TRH)
oleh hipotalamus. Pada anak-anak ketika suhu tubuh di bawah normal, TRH
dilepaskan merangsang pelepasan thyroid stimulating hormone oleh adenohipofisis.
Kelenjar tiroid menanggapi pelepasan TRH dengan meningkatkan sekresi tiroksin.
Tiroksin tidak saja meningkatkan laju katabolisme karbohidtrat tetapi juga semua laju
katabolisme nutrient lainnya. Pengaruh ini berkembang secara perlahan-lahan setelah
periode beberapa hari sampai dalam minggu
1. 3.
Hubungan suhu lingkungan dengan produksi panas pada
homeotermis
Beberapa ciri termogenesis pada hewan homeotermis termasuk manusia diilustrasikan
pada Gambar 2. Batas atas dan bawah suhu kritis merupakan zona homeotermia (zona of
homeothermy), merupakan suhu inti yang dapat dipertahankan pada tingkat normal. Pada
zona suhu netral (zona of thermal neutrality) suhu lingkungan tidak menyebabkan adanya
aktivitas fisik maupun kimiawi untuk mengatur produksi panas dan menghilangkan panas.
Ketika suhu lingkungan turun di bawah zona netral, maka mekanisme kimiawi
merupakan satu-satunya yang digunakan untuk mengatur suhu tubuh. Zona ini dikenal
dengan zona pengaturan suhu kimiawi (zona of chemical thermoregulation). Rendahnya
suhu lingkungan pada zona ini mengakibatkan terjadinya peningkatan termogenesis. Pada
suhu kritis terendah (lower critical temperature) kehilangan panas semakin besar melebihi
panas yang dihasilkan melalui termogenesis, suhu tubuh turun menjadi rendah dan hewan
memasuki zona hipotermia (zona hypothermia). Apabila suhu lingkungan dipertahankan
mencapai suhu letal terendah maka hewan akan mati.
Pada suhu di atas kisaran suhu netral terdapat zona dimana hewan berhasil mengatasi
bahaya kelebihan panas melalui pengaturan fisik, panting atau berkeringat. Zona ini dikenal
dengan zona termoregulasi fisik (zona of physical thermoregulation). .Pada suhu kritis atas
(Upper critical temperature) produksi panas kembali meningkat seiring dengan peningkatan
suhu lingkungan. Suhu tubuh mulai meningkat akibat mekanisme kehilangan panas tidak
dapat mengimbangi perolehan panas. Zone ini merupakan zona hipertermia (zona of
hyperthermia), Akhirnya, hewan memasuki suhu letal atas (Zona of upper lethal
temperature.) dimana suhu tubuh meningkat dan terjadi kematian. Suhu letal atas dan bawah
sangat tergantung pada jenis hewan, lamanya terpapar pada suhu ambient tertinggi atau
terendah efektivitas mekanisme perolehan atau kehilangan panas dan faktor-faktor lainnya.
4.

Lintasan termoregulasi

Pusat pengaturan suhu menerima informasi dari 2 set reseptor suhu yaitu di kulit dan di
hipotalamus. Dalam keadaan normal, set point suhu tubuh kira-kira 370C. Apabila suhu
tubuh meningkat di atas 37.20 C maka target aktivitas di pusat pengaturan suhu ada 2 efektor
yaitu: 1) jaringan otot di pembuluh darah yang mensuplai darah kulit, dan 2) kelenjar
keringat. Jaringan otot mengalami relaksasi, pembuluh darah mengalami dilatasi sehingga
meningkatkan aliran darah yang melalui pembuluh darah dekat permukaan tubuh dan
kelenjar keringat meningkatkan sekresinya. Kulit kemudian bekerja sebagai radiator dengan
menghilangkan panas ke lingkungan dan proses evaporasi kelenjar keringat sehingga suhu

tubuh kembali menjadi normal. Suhu di hipotalamus menurun dan pusat termoregulasi
menjadi kurang aktif. Aliran darah dan aktivitas kelenjar keringat kembali normal seperti
sebelumnya. Pada saat suhu lingkungan yang tinggi atau selama periode latihan, pembuluh
darah dikulit mengalami dilatasi dan aliran darah ke daerah periferi meningkat,
mengakibatkan kehilangan panas yang lebih banyak.
Kelejar keringat dipersarafi oleh saraf kolinergik simpatis. Keseluruhan kontrol
berkeringat di bawah pengaturan hipotalamus. Pusat ini dirangsang oleh aktivitas impuls
saraf afferent dari reseptor panas di kulit dan juga secara langsung melalui informasi dari
suhu darah yang melintasi hipotalamus. Berkeringat sangat tergantung pada kelembaban dan
suhu lingkungan. Pada manusia, kelenjar keringat pada telapak tangan dan telapak kaki
dikontrol terutama oleh emosi di bawah pengaturan korteks serebral.
Aktivitas vasomotorik (vasokontriksi dan vasodilatasi arteriol) digunakan untuk
mengarahkan darah ke berbagai area tubuh. Aktivitas vasomotorik arteriol di kulit
menentukan jumlah darah yang melintasi kulit dan oleh karena itu menentukan jumlah panas
yang dapat dipindahkan dari darah ke lingkungan. Peningkatan aliran darah ke kulit juga
mengakibatkan tersedianya air dalam jumlah yang besar untuk dievaporaskan oleh kulit
setelah didifusikan atau disekresikan oleh kelenjar keringat. Adapun pengaturan aktivitas
vasomotorik di pembuluh darah dikonrol oleh hipotalamus.
Bila suhu tubuh turun di bawah normal, pengeluaran panas dikurangi dan produksi panas
ditingkatkan. Selama kondisi dingin pembuluh darah di kulit mengalami konstriksi dan oleh
karena itu mengurangi aliran darah dan kehilangan panas melalui kulit. Stimulus untuk
aktivitas vasomotorik terjadi melalui impuls sensorik yang dihasilkan oleh reseptor dingin
atau stimulus langsung yang berasal dari darah yang melintasi hipotalamus.
5.

Termoregulasi pada bayi

Selama perkembangan, embrio dikelilingi oleh lingkungan maternal pada suhu tubuh
normal. Pada saat lahir, mekanisme pengaturan suhu bayi belum sepenuhnya fungsional.
Bayi akan kehilangan panas dengan cepat akibat ukurannya yang kecil. Sebagai
konsekuwensinya, bayi yang baru lahir harus dalam keadaan kering dan dibungkus, bahkan
bayi yang lahir prematur membutuhkan alat inkubator sebagai pengatur suhu. Pada bayi,
suhu tubuhnya juga kurang stabil dibandingkan dengan orang dewasa. Laju metabolisme
menurun ketika mereka tidur dan meningkat ketika bangun. Meskipun mereka tidak dapat
menggigil, namun mereka mampu meningkatkan suhu tubuh dengan cepat. Pada bayi
terdapat jaringan lemak di antara bahu, sekitar leher dan kemungkinan di tubuh bagian atas.
Jaringan ini memiliki banyak vakularisasi dengan sel-sel adiposit yang mengandung
mitokondria yang dinamakan lemak cokelat (brown fat). Sel-sel adiposit dipersarafi oleh
serabut saraf simpatis yang apabila dirangsang dapat meningkatkan lipolisis di adiposit.
Energi yang dilepaskan melalui katabolisme asam lemak dilepaskan ke sekeliling jaringan
sebagai panas yang kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh. Dengan cara ini maka bayi
dapat meningkatkan perolehan panas metabolisme 100% lebih cepat sementara termogenesis
nonshevering pada orang dewasa hanya meningkatkan produksi panas sebanyak 10-12%
setelah dalam periode mingguan. Dengan meningkatnya usia dan ukuran tubuh, suhu tubuh
menjadi lebih stabil dan mekanisme termoregulasi jenis ini menjadi kurang penting.
6.

Demam

Setiap peningkatan suhu tubuh disebut pireksia. Pireksia biasanya temporer. Demam
dihasilkan oleh pirogen eksogen maupun endogen yang bersirkulasi yang mengganggu pusat
pengaturan suhu di hipotalamus. Demam dimana suhu tubuh dipertahankan pada kisaran
yang lebih tinggi dari 37.20 C. Berhubung dengan nilai tersebut maka tubuh menjadi terlalu
dingin dan menggigil menyertai peningkatan suhu. Sebaliknya, selama demam mereda dan
suhu dikembalikan pada nilai normal, suhu menjadi terlalu hangat. Hal ini menyebabkan
vasodilatasi dan berkeringat. Karena infeksi, inflamasi maka makrofag menjadi aktif dan
meningkatkan sintesis protein tertentu di hati, otak dan organ lainnya yang pada gilirannya
berfungsi sebagai pirogen endogen pada pusat pengaturan suhu di hipotalamus sehingga
menimbulkan demam.
Demam terjadi untuk berbagai alasan dan tidak semuanya patologis. Demam dapat juga
akibat dari faktor sebagai berikut:

Pengaruh abnormalitas ketika memasuki mekanisme termoregulasi seperti kelelahan


panas atau heat stroke

Problem klinis yaitu merupakan aliran darah yang terbatas seperti pada kegagalan
jantung kongestif

Kondisi dimana gagalnya aktivitas kelenjar keringat seperti pada reaksi obat dan
beberapa kondisi kulit.

Resetting hipotalamus thermostat oleh pirogen.


RANGKUMAN

Dari uraian mengenai termoregulasi maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:


Manusia termasuk dalam kelompok hewan homeotermis yang senantiasa
mempertahankan suhu internal tubuh dalam batas relatif konstan meskipun suhu lingkungan
berubah-ubah. Suhu tubuh dipengaruhi oleh suhu lingkungan internal maupun eksternal.
Apabila suhu tubuh melebihi suhu normal maka tubuh akan melakukan mekanisme
penghilangan panas dengan cara: radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi. Apabila suhu
tubuh lebih rendah dari suhu normal maka mekanisme konservasi panas tubuh yang utama
adalah dengan cara menggigil.
Pusat pengaturan suhu (termoregulasi) terletak di hipotalamus. Pusat ini menerina
informasi dari reseptor panas atau dingin yang terdapat di kulit atau melalui aliran darah
yang melewati hipotalamus. Pada bayi termorgulasinya belum berkembang dengan baik.
Bayi yang lahir prematur, suhu tubuhnya belum stabil oleh karena itu membutuhkan
inkubator untuk menghangatkan tubuhnya. Demam merupakan mekanisme dimana suhu
tubuh dipertahankan pada kisaran yang lebih tinggi dari 37.20 C. Demam dihasilkan oleh
pirogen eksogen maupun endogen yang bersirkulasi dan mengganggu pusat pengaturan suhu
di hipotalamus.

DAFTAR PUSTAKA
Berne, R.M., M.N. Levy. 1990. Principles of Physiology. Wolfe Publication, Ltd. USA.
Campbell, N.A., J.B. Reece., L.G. Mitchell. 2004. Biologi. 5th ed. Alih bahasa : Wasmen
Manalu. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Despopoulos, A. dan S. Silbernagl. 1991. Color Atlas of Physiology. Georg Thieme Verlag.
Stuttgart, Germany.
Guyton, A.C. 1991. Fisiologi kedokteran. 5th ed. Alih bahasa A. Dharma dan P. Lukmanto.
Penerbit Buku Kedokteran jakarta
Hainsworth, F.R. 1981. Animal Physiology Adaptation in Function. Adison-Wesley
Publishing Company. Inc. Philippines.
Martini, F.H. and J. L. Nath. 2009. Fundamental of Anatomy and Physiology. Pearson
International. USA.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia. 2nd ed. Alih bahasa Brahm U.Pendit. Penerbit
Buku Kedokteran. Jakarta.
Wilson, J.A. 1979. Principles of Animal Physiologi. 2nd ed. Macmillan Publishing Co., Inc.
New York
Presented by Raldo Rasuh
Special thanks to : Dr. Tuju Eline Adelien sebagai dosen dan pemberi materi
https://raldorasuh.wordpress.com/2013/02/21/termoregulasi/