Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

KEPADA YTH.

TAMPIL TANGGAL

GAMBARAN METASTASIS KEGANASAN KE PARU

Oleh

NOFRIYANDA

Pembimbing

Dr.SYLVIA RACHMAN,SpRad

KE PARU Oleh NOFRIYANDA Pembimbing Dr.SYLVIA RACHMAN,SpRad STASE RADIOLOGI BAGIAN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN

STASE RADIOLOGI BAGIAN PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND / RS.DR.M.DJAMIL

PADANG 2013

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Metastasis merupakan suatu kemampuan dari sel tumor untuk menyebar dan hidup pada jaringan tubuh yang lain. Kemampuan untuk melakukan metastasis terjadi pada tumor ganas sedangkan tumor jinak tidak memiliki kemampuan untuk bermetastasis. Terjadinya metastasis melibatkan banyak proses yang komplek mulai dari lepasnya sel tumor dari tumor primer, ikut sirkulasi sampai akhirnya mencapai organ target. Berbagai organ dapat menjadi target dari metastasis suatu tumor ganas seperti paru, otak, hepar tulang dan lain lain. 1,2

Paru merupakan salah satu organ yang sering sebagai target metastasis dari berbagai keganasan yang berasal dari organ ekstratoraks. Terdapatnya metastasis di paru menandakan telah terjadinya penyebaran dari sel kanker dengan terbentuknya kelainan lokal pada parenkim paru. Berbagai tumor dapat bermetastasis ke paru seperti tumor dari mammae, kolon, prostat, tiroid, testis, cervic dan lain lain. Adanya metastasis tumor ke paru membuat prognosis menjadi lebih buruk. Diperkirakan sekitar 10 30 % dari semua nodul malignan yang direseksi dari jaringan paru merupakan akibat metastasis (dikutip dari 2) Sementara itu penelitian oleh Surveillance Epidemiology and End Results (SEER) yang melakukan review dari tahun 1975 2003 memperlihatkan bahwa angka survival 5 tahun pada pasien dengan kanker kolon dan rektum sekitar 9,1 % dibandingkan yang belum metastasis 90,5 %. Sementara itu pada kanker mammae yang telah terjadi metastasis angka survival turun dari 97,5 % menjadi

24,2 % (dikutip dari 1)

Kanker serviks merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di negara- negara berkembang dengan penduduk yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah. Diperkirakan terdapat 468.000 kasus baru kanker serviks setiap tahunnya di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 233.000 pada tahun 2000. Di Indonesia, sampai saat ini kanker serviks masih merupakan masalah kesehatan perempuan dengan angka kejadian dan angka kematian yang tinggi dimana setiap hari ditemukan 41 kasus baru dan 20 kasus kematian. Kanker serviks merupakan kanker peringkat kedua setelah kanker payudara yang berkisar 10% dari seluruh kanker yang terjadi pada wanita. 3 Kanker serviks merupakan penyebab utama kematian akibat

kanker di usia reproduktif pada wanita di negara-negara berkembang. Angka kematian dan insidens kanker serviks di negara maju telah jauh menurun karena adanya skrining/ pemeriksaan rutin Papanicolaou (pap smear). Sedangkan angka morbiditas dan mortalitas akibat kanker serviks tidak pernah menurun di negara - negara berkembang karena skrining yang buruk. 3,4

I.2 Tujuan Penulisan Dalam makalah ini akan dibahas tentang laporan kasus pasien dengan metastasis kanker servik pada paru

BAB II GAMBARAN METASTASIS DI PARU

2.1 Definisi

Metastasis didefinisikan sebagai suatu pertumbuhan sel tumor yang memisahkan diri dari tumor primernya. Metastasis ini merupakan kemampuan suatu jaringan tumor yang menempel serta hidup dan berkembang lebih lanjut pada jaringan tubuh yang lain. 5

2.2 Proses metastasis

Terjadinya metastasis suatu sel tumor dari tumor primernya tidak terjadi secara acak namun metastasis merupakan hasil akhir dari suatu rangkaian interaksi tumor dengan host yang komplek. Beberapa tahapan yang dilalui oleh sel tumor hingga terjadi

metastasis meliputi proses invasi, angiogenesis, intravasasi, sirkulasi dan penempelan, ekstravasasi dan pertumbuhan. 5,6,7,8

a. Invasi Pada fase invasi, sel tumor bergerak melewati bermacam matriks seperti membran basal dan stroma.

b. Angiogenesis Proses invasi tumor disertai oleh proses angiogenesis yaitu pertumbuhan pembuluh darah baru disekitar tumor

c. Intravasasi Intravasasi adalah masuknya sel tumor ke dalam aliran darah oleh karena pembuluh darah yang baru terbentuk tidak sempurna sehingga sel tumor dapat masuk

d. Sirkulasi Sel tumor yang masuk kedalam aliran darah dalam bentuk sel tunggal akan ikut bersirkulasi.

e. Penempelan Sel tumor yang ikut bersirkulasi akan sampai ke pembuluh darah organ target dan akan menempel pada endotel organ target.

f. Ekstravasasi Ekstravasasi merupakan suatu proses dimana sel tumor yang telah menempel di endotel akan menembus membran basal.

g.

Pertumbuhan Sel tumor yang telah mengalami ekstravasasi akan berproliferasi sehingga tumbuh suatu koloni. Pada fase pertumbuhan ini akan terjadi juga proses angiogenesis.

fase pertumbuhan ini akan terjadi juga proses angiogenesis. Gambar 1. Kaskade metastasis d i k u

Gambar 1. Kaskade metastasis dikutip dari 5

Penyebaran dari sel tumor dari tumor primernya tidak saja melalui pembuluh darah tapi juga dapat melalui saluran lain. Jalur penyebaran sel ganas sampai ke paru dapat melalui 6,7,9,10

- Pembuluh darah Penyebaran melalui invasi pada vena lebih mudah terjadi dibandingkan melalui arteri. Hal ini karena pada arteri melepaskan faktor anti proteolitik yang menghambat protease.

- Pembuluh limfe Kebanyakan sel tumor mencapai kelenjar limfe sebagai embolus dalam bentuk sel tunggal atau gumpalan. Paru dapat terkena metastasis akibat sel tumor yang menjalar melalui saluran limfe yang berasal dari metastasis hematogen, metastasis kelenjar getah bening hilus, maupun tumor abdomen bagian atas. Penyebaran melalui saluran limfe dari tumor yang berada ekstrathoraks ke kelenjar getah bening paru dapat melalui duktus thorasikus, dengan keterlibatan retrograde kelenjar getah bening hilus dan parenkim paru. Tumor yang biasanya bermetastasis dengan cara ini umumnya adalah keganasan yang berasal dari mammae, abdomen, pankreas, prostat, serviks, dan thyroid

- Rongga serebrospinal Cairan serebrospinal memberikan jalur metastasis untuk sel ganas ke sistem syaraf pusat

- Penyebaran secara langsung Perluasan tumor terjadi melalui perluasan langsung, implantasi atau kontak. Penyebaran seperti ini sering didapati pada tumor thyroid, esophagus, thymoma dan limfoma

- Penyebaran melalui rongga pleura Penyebaran melaui rongga pleura ini seperti invasi tumor primer ke pleura dimana hal ini dapat menyebabkan efusi pleura maligna

- Penyebaran endobronkhial Mekanisme penyebaran tumor seperti ini jarang terjadi. Penyebaran ini biasanya terjadi pada pasien dengan karsinoma bronkhioloalveolar

Sel tumor yang terlepas dari fokus primernya melalui vena, dan terbawa sebagai emboli tumor ke paru melalui sirkulasi sistemik. Mayoritas sel ini akan tersangkut pada arteri kecil dan arteriol, di mana pada tempat tersebut sel tumor tersebut dapat berproliferasi dan meluas ke parenkim paru. Biasanya sel tumor ini terletak pada ruang subpleura maupun di dasar paru daripada di apeks paru. Hal ini karena pada bagian basal banyak aliran darah. 10

2.3 Gambaran klinis

Gejala klinis dari suatu metastasis dapat terjadi tanpa gejala (asimptomatik) sehingga pasien terlambat mengetahui. Pada yang memiliki gejala dapat berupa batuk dengan sputum atau tanpa sputum, batuk darah, sesak nafas, anoreksia, penurunan berat badan, malaise, demam dan nyeri dada. Kadang kadang gejala metastasis inilah yang membuat pasien datang berobat tanpa ada keluhan pada tumor primernya. 1,9,11

2.4 Gambaran radiologis

Pemeriksaan standar awal untuk mendeteksi metastasis di paru adalah dengan foto toraks konvensional. Namun lesi yang kecil dari 7 mm dan berada di apeks paru dan basal atau berdekatan dengan hepar, mediastinum dan pleura, dapat tidak terlihat dengan foto toraks konvensional. Terdapat teknik yang lebih sensitif seperti computed tomography (CT scan) dengan resolusi tinggi menjadi pilihan untuk mendiagnosis suatu metastasis. Dengan pemeriksaan menggunakan CT scan toraks spiral konvensional didapatkan sensitifiti 69 % untuk lesi < 6 mm dan sensitifiti 100 % pada ukuran lesi > 6 mm. Pemeriksaan CT scan toraks dengan menggunakan kontras dapat memberikan

gambaran nodul yang kecil dengan ukuran 2 3 mm. 11,12 Pemeriksaan penunjang lainnya yang cukup sensitif adalah dengan magnetic resonance imaging (MRI).

Pemeriksaan ini menggunakan gelombang magnet tanpa adanya sinar X. Penggunaan MRI ini bisa sebagai alternatif bila ada gambaran yang meragukan pada CT scan, adanya kontraindikasi dengan zat kontras atau kekhawatiran terhadap radiasi sinar X karena menjalani pemeriksaan berulang. Dengan menggunakan MRI maka kelainan seperti nodul paru yang berukuran 3-4 mm dapat dideteksi dengan baik (sensitifiti 90%). Sementara itu pada nodul yang berukuran 5 mm dapat terdeteksi dengan tingkat sensitifiti 100% 13

Namun pemeriksaan dengan CT scan masih kurang spesifik sehingga gambaran suatu inflammasi dan nodul jinak terlihat sebagai suatu metastasis. FDG PET (18F-2- deoxy-2-fluoro-D-glucose Positron Emission Tomography) adalah metode visualisasi metabolisme tubuh menggunakan radioisotop pemancar positron. Oleh karena itu, pencitraan yang diperoleh adalah citra yang menggambarkan fungsi organ tubuh. Fungsi utama PET adalah mengetahui kejadian di tingkat sel yang tidak didapatkan dengan alat pencitraan konvensional lainnya. Kelainan fungsi atau metabolisme di dalam tubuh dapat diketahui dengan metode pencitraan ini. Hal ini berbeda dengan metode visualisasi tubuh yang lain seperti foto rontgen, CT scan, MRI dan single photon emission computerized tomography (SPECT). Pemeriksaan dengan PET scan memiliki kelebihan dibandingkan dengan CT scan maupun MRI. CT Scan dan MRI hanya mampu mendeteksi kanker terbatas pada aspek anatomi tubuh. Dengan pemakaian FDG PET lebih meningkatkan kemampuan untuk membedakan nodul yang ganas atau jinak. CT Scan dan MRI hanya mampu mendekteksi kanker di payudara, kepala, hati, dan sejumlah titik tubuh lainnya, sedangkan mekanisme kerja organ tubuh yang disebut metabolisme tubuh tidak dapat dipantau oleh CT Scan atau MRI. Pada PET-Scan, aspek anatomi dan metabolik sekaligus masuk radar deteksi alat canggih ini. Selain itu dimana pun atau kemana pun kanker menjalar PET-Scan dapat mendeteksinya. Bahkan kemampuan deteksi alat ini mencakup semua aspek penting tentang kanker seperti jenis, tingkat keganasan (stadium), lokasi, serta cara penjalaran penyakit mematikan ini. Sel-sel kanker memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi dari sel-sel lain sehingga salah satu karakteristik adalah sel-sel kanker memerlukan kadar glukosa yang lebih besar untuk energi. 14,15

Gambaran radiologis dari suatu metastasis di paru terdapat bermacam macam bentuk dan ukuran. Namun gambaran suatu metastasis tumor ganas ke paru biasanya memiliki karakteristik 7,8,9,12

- Kelainan bersifat bilateral dengan predominan di daerah basal.

- Sering mengenai daerah perifer dan subpleura

- Ukuran bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter

- Biasanya berbentuk bulat dengan batas tegas, licin atau irreguler

- Dapat terbentuk suatu kavitas dimana apabila kavitasi ini terdapat pada subpleura dapat menyebabkan terjadinya pneumotoraks spontan.

- Dapat terjadi kalsifikasi yang sering terjadi pada sarkoma osteogenik

- Dapat terjadi suatu atelektasis

pada sarkoma osteogenik - Dapat terjadi suatu atelektasis Gambar 2. Gambaran metastasis yang multipel d i

Gambar 2. Gambaran metastasis yang multipel dikutip dari 7

Terdapat tiga pola dasar pertumbuhan sel tumor metastasis di paru yaitu: 10,11

1. Pertumbuhan yang konsentris Pertumbuhan sel tumor yang konsentris merupakan pertumbuhan yang sering ditemukan. Pertumbuhan sel tumor metastasis yang konsentris akan menghasilkan pertumbuhan yang bulat dengan ukuran yang bervariasi. Gambaran radiologis pada pertumbuhan yang konsentris ini dapat berupa nodul yang soliter maupun multipel.

2. Pertumbuhan sepanjang struktur kerangka paru Pertumbuhan sel tumor sepanjang struktur kerangka parenkim paru akan membentuk pola lymphangitis carsinomatosis. Biasanya tampak sebagai kelainan interstisial yang mana tampak pola linear interstisial atau pola septa

pada CT scan. Gambaran pada lymphangitis carcinomatosis menyerupai oedem intersisial seperti adanya Kerley B lines, penebalan fisura dan efusi pleura.

3. Pertumbuhan dalam pembuluh darah paru Proses pertumbuhan dalam pembuluh darah paru ini dikenal sebagai tumor emboli. Tumor emboli ini merupakan fenomena yang jarang dengan gambaran pola mozaik pada CT scan atau adanya filling defek didalam arteri pulmonal.

2.5 Beberapa gambaran metastasis Gambaran metastasis keganasan ke paru berdasarkan radiologis dapat dalam berbagai macam bentuk. Beberapa gambaran yang sering ditemui dapat berupa multipel nodul, nodul soliter, canon ball, milier efusi pleura dan lymphangitis carcinomatosis. 16

A. Multipel nodul Gambaran radiologis berupa nodul yang multipel dan bilateral merupakan gambaran metastasis tumor ke paru yang paling sering ditemukan. Hanya sekitar 10 % kasus gambaran metastasis yang bersifat soliter. Gambaran multipel nodul ini biasanya bersifat simetris, ukuran bervariasi mulai dari kecil hingga besar, terdistribusi di daerah perifer dan bagian bawah paru. 10,13

di daerah perifer dan bagian bawah paru. 1 0 , 1 3 Gambar 3. Multipel nodul
di daerah perifer dan bagian bawah paru. 1 0 , 1 3 Gambar 3. Multipel nodul

Gambar 3. Multipel nodul di kedua paru yang berbentuk opak dikutip dari 7

A B Gambar 4. A.Gambaran CT scan memperlihatkan cannon ball dan multipel nodul B.Gambaran FDG

A

B

A B Gambar 4. A.Gambaran CT scan memperlihatkan cannon ball dan multipel nodul B.Gambaran FDG PET

Gambar 4. A.Gambaran CT scan memperlihatkan cannon ball dan multipel nodul B.Gambaran FDG PET scan memperlihatkan fokus kecil kecil multipel dengan hipermetabolisme dikutip dari 15 B. Nodul soliter

Gambaran metastasis ke paru berupa nodul soliter kadang sulit dibedakan dari

tumor paru primer. Nodul soliter juga dapat merupakan suatu kelainan inflammasi,

kongenital dan kelainan pembuluh darah. Gambaran metastasis ini sering didiagnosis

saat diketahui adanya riwayat keganasan pada luar thorak. Sekitar 3 % dari nodul di

paru tanpa gejala merupakan suatu metastasis. Gambaran dari nodul soliter memiliki

ukuran yang bervariasi, batas yang tegas dan permukaan yang licin. Secara umum nodul

opak dengan diameter lebih dari 3 cm memiliki kemungkinan lebih besar suatu

keganasan. Sebaliknya nodul dengan diameter yang lebih kecil dari 2 cm cenderung

jinak. Batas pada nodul jinak biasanya tegas dan licin. Sementara itu nodul ganas

biasanya batas tidak jelas dan irreguler. Tumor ganas dengan gambaran metastasis

berupa nodul soliter biasanya dari melanoma, sarkoma, kolon, ginjal, payudara dan

testis. Pemeriksaan dengan FDG PET dapat memberikan informasi yang lebih akurat

membedakan jenis tumor jinak atau ganas 17,18,19

Gambar 5. Nodul soliter pada lobus bawah kiri d i k u t i p
Gambar 5. Nodul soliter pada lobus bawah kiri d i k u t i p

Gambar 5. Nodul soliter pada lobus bawah kiri dikutip dari 17

C. Canon ball

Suatu gambaran metastasis berupa canon ball memiliki karakteristik berupa gambaran nodul yang besar, bulat dan batas yang tegas. Gambaran canon ball berhubungan dengan penyebaran tumor yang luas sehingga mengindikasikan prognosis yang jelek. Canon ball sering ditemukan pada karsinoma ginjal, choriocarcinoma, kanker endometrium, kanker prostat dan keganasan pada gastrointestinal. 20

kanker prostat dan keganasan pada gastrointestinal. 2 0 Gambar 6. M ultipel nodul “canon ball” d
kanker prostat dan keganasan pada gastrointestinal. 2 0 Gambar 6. M ultipel nodul “canon ball” d

Gambar 6. Multipel nodul “canon ball” dikutip dari 20

D. Metastasis milier

Nodul milier yang merupakan pola berupa nodul nodul kecil yang banyak sehingga menyerupai TB milier. Gambaran metastasis milier sering berhubungan dengan kanker tiroid, kanker renal, sarkoma tulang, penyakit trofoblastik atau

Gambar 7. Metastasis milier d i k u t i p d a r i
Gambar 7. Metastasis milier d i k u t i p d a r i

Gambar 7. Metastasis milier dikutip dari 16

E. Kavitas

Gambaran kavitas sering ditemukan pada sel skuamous yang merupakan metastasis yang berasal dari kanker servik, kolon, leher dan kepala. Frekuensi gambaran

metastasis berupa kavitas yang terdeteksi sekitar 4 %. Kavitas yang terdapat pada sub pleura dapat menyebabkan pneumothorak spontan 16

pada sub pleura dapat menyebabkan pneumothorak spontan 1 6 Gambar 8. Kavitas yang merupakan metastasis dari
pada sub pleura dapat menyebabkan pneumothorak spontan 1 6 Gambar 8. Kavitas yang merupakan metastasis dari

Gambar 8. Kavitas yang merupakan metastasis dari karsinoma servik dikutip dari 16

F. Efusi pleura

Metastasis karsinoma ke pleura dapat berasal dari semua organ seperti mammae, pankreas, gaster dan ovarium. Karsinoma dari paru, mammae dan limfoma menyebabkan efusi pleura maligna pada 75 % dari keseluruhan kasus efusi pleura maligna. Gambaran pada foto toraks yang khas berupa perselubungan homogen dengan bagian lateral lebih tinggi dibanding bagian medial. Namun pada kasus dengan efusi pleura yang minimal bisa saja tidak tampak dengan pemeriksaan foto toraks konvensional sehingga dibutuhkan pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan penunjang

lainnya yang lebih sensitif berupa USG toraks dan CT scan toraks. Pada USG toraks akan tampak berupa gambaran yang hipoechoic. Hal ini karena gelombang suara yang dipantulkan oleh cairan bersifat lemah sehingga berwarna hitam (hipoechoic). Dengan pemakaian USG toraks dapat membedakan antara efusi pleura dengan penebalan pleura maupun. Selain itu dengan USG juga bisa untuk menentukan penanda (marker) lokasi untuk torakosintesis dan biopsi pleura. 21,22

untuk torakosintesis dan biopsi pleura. 2 1 , 2 2 Gambar 9. Efusi pleura d i

Gambar 9. Efusi pleura dikutip dari 21

G. Lymphangitis carcinomatosis Penyebaran sel tumor secara limfangitis sering terjadi pada tumor payudara, abdomen, pankreas dan prostat. Menegakkan diagnosis penyebaran secara lymphangitis carcinomatosis dengan foto thorak konvensional cukup sulit sehingga dibutuhkan pemeriksaan dengan CT scan high resolution (HRCT). Lymphangitis carcinomatosis merupakan hasil dari penyebaran sel tumor secara limfatik dan menyebabkan bendungan pada saluran limfatik perifer paru. Penyebaran yang menetap di saluran limfe peribronkial atau perivaskuler yang secara radiologik memberi gambaran bronkovaskuler yang kasar. Tampak gambaran garis yang kasar, lurus lurus, retikuler dan sering disertai efusi pleura dan limfadenopati pada hilus. Dengan menggunakan HRCT akan tampak gambaran yang tipikal yaitu penebalan nodular pada septum interlobular dan penebalan serat ventrilobular bronkovaskuler. 19,23

A B Gambar 10.A. Lymphangitis carcinomatosis: bayangan retikular luas dikanan bawah B. Tampak penebalan nodular

A

A B Gambar 10.A. Lymphangitis carcinomatosis: bayangan retikular luas dikanan bawah B. Tampak penebalan nodular pada

B

Gambar 10.A. Lymphangitis carcinomatosis: bayangan retikular luas dikanan bawah B. Tampak penebalan nodular pada septum interlobular (panah bengkok) dan fissura interlobar (panah lurus) dikutip dari 19

H. Gambaran seperti Pneumonia Gambaran seperti pneumonia merupakan gambaran metastasis yang tidak khas. Gambaran radiologis yang ditemukan berupa air-space nodules, konsolidasi yang mengandung air-bronchogram dan ground-glass opacities yang bersifat fokal atau luas. Gambaran ini menyerupai gambaran suatu pneumonia. Tumor primer dapat berasal dari adenokarsinoma saluran cerna, mammae, prostat dan hepatoma. Mekanisme penyebaran berupa pertumbuhan melalui dinding alveolar yang intak (lepidic growth). 21

melalui dinding alveolar yang intak (lepidic growth). 2 1 Gambar 11. A. Gambaran air-space consolidation dengan

Gambar 11. A. Gambaran air-space consolidation dengan adanya air-bronchogram pada lobus atas kanan. Pasien dengan adenokarsinoma lambung B. Gambaran CT scan memperlihatkan konsolidasi pada lobus atas kanan yang diliputi oleh ground-glass opacity dan air-bronchogram (tanda panah)

Diagnosis Banding Pada pasien yang sudah dikenal adanya keganasan primer, adanya tampilan multipel nodul yang bilateral mengindikasikan suatu gambaran metastasis. Namun timbulnya nodul paru soliter pada pasien yang diketahui ada penyakit keganasan merupakan suatu kasus yang khusus karena secara keseluruhan insiden pertambahan tumor paru primer lebih besar daripada suatu metastasis nodul paru soliter. Diagnosis banding nodul jinak meliputi granuloma, infeksi seperti aspergilosis dan proliferasi kelenjar getah bening intrapulmonal. 24

LAPORAN KASUS Seorang pasien wanita, 51 tahun dirawat dibangsal Paru RS.DR.M.Djamil Padang dengan :

Keluhan Utama Sesak nafas meningkat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit Riwayat Penyakit Sekarang

- Sesak nafas meningkat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, tidak

menciut, tidak dipengaruhi cuaca, emosi dan makanan. Sesak bertambah dengan aktifitas. Sesak nafas sudah mulai dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Riwayat sesak sebelumnya tidak ada.

- Batuk meningkat sejak 1 minggu yang lalu, berdahak warna putih kental. Batuk batuk sudah dirasakan sejak 3 bulan yang lalu.

- Batuk darah tidak ada. Riwayat batuk darah ada 1 minggu yang lalu, lengket didahak, lebih kurang 7 kali selama 1 hari

- Nyeri dada kiri sejak 2 bulan yang lalu, hilang timbul, tidak menjalar

- Demam tidak ada

- Keringat malam tidak ada

- Penurunan nafsu makan ada sejak sakit

- Penurunan berat badan ada tapi pasien tidak tahu pasti berapa turunnya

- BAB dan BAK biasa

- Riwayat menstruasi : tidak menstruasi lagi sejak 5 tahun yang lalu Riwayat Penyakit Dahulu

- Riwayat minum OAT tidak ada

- Sebelumnya pasien sudah pernah dirawat dibangsal paru sekitar 1 bulan yang lalu. Sudah dilakukan pemeriksaan sitologi sputum, TTNA dan bronkoskopi. Sebelum hasil pemeriksaan keluar pasien sudah minta pulang paksa Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga sakit seperti ini Riwayat Pekerjaa, Sosial ekonomi dan Kebiasaan

- Petani

- Tidak merokok

Pemeriksaan Fisik Keadaan umum

: Sedang

Frekuensi Nadi

: 88 x/menit

Kesadaran

: CMC

Frekuensi Nafas

: 24 x/menit

Tekanan darah

: 100 / 70 mmHg

Suhu

: 37,3 O C

Tinggi Badan

: 150 cm

Berat Badan

: 45 Kg

BMI

: 20 (normoweight )

Sianosis

: (-)

Kulit

: Turgor baik

Kepala

: Normocephal

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Kelenjar Getah Bening : Tidak membesar

Telinga

: Tidak ada kelainan

Hidung

: Tidak ada kelainan

Tenggorokan

: Tidak ada kelainan

Gigi Mulut

: Caries (+)

Leher

: JVP 5-2 cmH 2 O

Dada

Paru

Inspeksi

: Simetris kiri dan kanan dalam keadaan statis, Pergerakan

Palpasi

dada kiri tertinggal dari kanan : Fremitus kiri melemah dibanding kanan

Perkusi

: Kiri atas sampai RIC III sonor, kebawah redup Kanan sonor

Auskultasi

: Kiri atas sampai RIC III suara nafas melemh, kebawah

Jantung

vesikuler. Kanan vesikuler, ronki (-), Wheezing (-)

Inspeksi

: Iktus tidak terlihat

Palpasi

: Iktus teraba 1 jari medial linea midclavicula sinistra RIC V

Perkusi

: Batas atas RIC II, batas kanan linea sternalis dekstra, batas

Auskultasi

kiri 1 jari medial linea midclavicula sinistra RIC V : Bunyi jantung murni, irama reguler, bising (-)

Abdomen

Inspeksi

: Tidak tampak membuncit

Palpasi

: Hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Punggung

Inspeksi

: Simetris kiri dan kanan dalam keadaan statis, Pergerakan

Palpasi

dada kiri tertinggal dari kanan : Fremitus kiri melemah dibanding kanan

Perkusi

: Kiri atas sampai Prosesus spinosus Thorakal V sonor,

Auskultasi

kebawah redup Kanan sonor : Kiri atas sampai Prosesus spinosus Thorakal V suara nafas

Anggota gerak

melemh, kebawah vesikuler, Kanan vesikuler, ronki (-), Wheezing (-) : Oedem -/- Reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-

Hasil Laboratorium

Hb

: 11,6 gr/dl

Leukosit

: 10.700/mm 3

Trombosit

: 223.000

Hematokrit

: 37 %

GD sewaktu

: 103 mg/dl

Foto Toraks

: 37 % GD sewaktu : 103 mg/dl Foto Toraks 24 Juli 2012 Bronkoskopi Laring normal,

24 Juli 2012

Bronkoskopi Laring normal, Pita suara normal, Trakea normal Carina lancip Bronkus utama kanan : lumen terbuka, mukosa normal Bronkus utama kiri : lumen terbuka, mukosa normal Second carina lancip Lobus atas kiri : lumen terbuka, tampak gambaran massa, mukosa tidak hiperemis

Lobus bawah kiri : lumen terbuka, mukosa hiperemis Kesan : Tumor pada lobus bawah kiri Dilakukan bilasan di lobus bawah kiri dan sikatan di B6

Bilasan bronkus Tampak sebaran ringan sel sel epitel gepeng yang telah mengalami degenerasi

Sikatan bronkus Tampak sebaran dan kelompokan makrofag ( sel debu ), epitel bronkus, limfosit, sel plasma, leukosit PMN dengan latar belakang eritrosit, debris dan sel epitel bronkus dengan inti besar, pleomorfik, membran inti irregular, kromatin kasar serta kelompokan sel dengan inti yang lebih kecil, pleomorfik, kromatin kasar yang sebagian kelompokan sel ini terletak dibawah kelompokan epitel bronkus Kesan : Reactive bronkhial cells and reserve cell hyperplasia dengan radang kronik tak khas ( Benign cellular change ). Kondisi diatas dapat ditemukan pada kondisi radang maupun keganasan

Trans Thorachal Needle Aspiration Tampak sebaran dan kelompokan sel yang menyerupai sel sel metaplastik, sel para basal epitel berlapis gepeng, dengan inti bulat, sebagian membran inti irregular, kromatin kasar, tampak pula sebaran dan kelompokan mesotel, limfosit leukosit PMN Kesan : Metaplasia atipik dapat ditemukan pada kondisi reaktif ( radang maupun keganasan )

Diagnosis Kerja Suspek metastasis keganasan ke paru

Diagnosis Banding Tumor paru sinistra

Terapi

- IVFD Aminofusin L600 : NaCl 0,9% 1:1 12 jam / kolf

- Diet MBTKTP

- Gliseril Guayakolat 3 x 1 tablet

Pemeriksaan Penunjang

-

Sitologi sputum

-

CT scan

-

Bronkoskopi

-

Konsul Ginekologi

-

Konsul Bedah

Follow up

01 Agustus 2012

Sesak nafas, batuk dengan dahak kekuningan, demam tidak ada

KU Kesadaran

Tek darah

Nadi

Nafas

Suhu

Sedang

CMC

110/70 mmHg

84x/mnt

24x/mnt

37 0 C

Kesan : status quo

Hasil laboratorium :

Leukosit

: 13.340

GDS

: 146

Albumin

: 2,4

Globulin

: 3,9

Total bilirubin : 0,55

SGOT/SGPT

: 50/12

Ureum/kreatinin : 9,6/0,6

Na/K/Cl

: 137/2,7/105

Kesan : Leukositosis, Hipoalbumin dan Hipokalemia

Advis : - Ceftriaxon 2 x 1 gram - Koreksi albumin dan kalium

02 Agustus 2012

Sesak nafas, batuk dengan dahak kekuningan, demam tidak ada

KU Kesadaran

Tek darah

Nadi

Nafas

Suhu

Sedang CMC Kesan : status quo

100/70 mmHg

80x/mnt

24x/mnt

37,2 0 C

: status quo 100/70 mmHg 80x/mnt 24x/mnt 37,2 0 C Kesan : dibandingkan foto sebelumnya terjadi

Kesan : dibandingkan foto sebelumnya terjadi perburukan

Hasil konsul Bedah Saat ini belum ditemukan suatu keganasan primer di bagian Bedah Anjuran : periksa CT scan thorak, USG abdomen dan USG obgyn

CT Scan Toraks

- Tampak gambaran multipel nodul dan ukuran yang bervariasi pada kedua lapangan paru ( golf ball, coin lesion )

- Terdapat metastasis pada pleura berupa efusi pleura diserta adanya gambaran lobulated pleura

- Trakea dan main bronkus kiri dan kanan terbuka

- Tampak gambaran lesi hipodens pada hepar

- Tidak tampak pembesaran KGB perihiler dan sub carina

- Os costae intak Kesan : Gambaran metastasis di kedua paru dan pleura + suspek metastasis ke hepar

USG abdomen + pelvis

- Hepar : tidak membesar, tampak nodul hiperechoic, kecil kecil dikedua lobus hepar, asites (-)

- Tampak area euchoic diatas diafragma kanan

- Aorta : tidak tampak pembesaran KGB para aorta

- Kedua ginjal tidak membesar, batu (-), kaliks tidak melebar Kesan : Suspek metastasis ke hepar dengan efusi pleura dekstra

06 Agustus 2012 Sesak nafas , batuk dengan dahak kekuningan, demam tidak ada

KU Kesadaran

Tek darah

Nadi

Nafas

Sedang CMC Paru : status quo Kesan : status quo

120/70 mmHg

88x/mnt

24x/mnt

Suhu 36,5 0 C

Hasil konsul kebidanan Saat ini tidak ditemukan kelainan dibidang ginekologi Anjuran : Pap smear

Sitologi Sputum 01-08-2012 Dalam hapus sputum yang kami buat terdiri atas lendir, kelompokan makrofag, sebaran difus leukosit PMN dan hifa jamur Kesan : Radang akut condong pada mikosis. Tidak tampak sel sel tumor

Tindakan pap smear di bagian fetomaternal belum bisa dilakukan dengan alasan pewarnaan habis

08 Agustus 2012

Sesak nafas , batuk dengan dahak kekuningan, demam tidak ada

KU Kesadaran

Tek darah

Nadi

Nafas

Sedang CMC Paru : status quo Kesan : status quo

110/70 mmHg

84x/mnt

24x/mnt

Suhu 36,5 0 C

USG Pelvis

- Tampak massa berdensitas hiperdens, inhomogen di perivesika kanan, batas tegas, tepi reguler, ukuran 5 x 4,3 cm.

- Uterus dalam batas normal

- Kedua ginjal tidak membesar, batu (-), kaliks tidak melebar Kesan : Sugestif Ca Cerviks

10 Agustus 2012

Sesak nafas , batuk dengan dahak kekuningan, demam tidak ada

KU Kesadaran

Tek darah

Nadi

Nafas

Sedang CMC Paru : status quo Kesan : status quo

110/80 mmHg

88x/mnt

24x/mnt

Suhu 37 0 C

Advis Konsulen : TTNA ulang dan punksi untuk kirim sitologi cairan pleura USG Fetomaternal

- Tampak uterus hiperanteflexi ukuran 5,9x4,2x4,9 cm

- Endometrium line 5 mm

- Tampak massa hiperechoic di corpus depan ukuran 4,25x3,03 cm

- Tidak tampak endometriosis

- Tampak ovarium kanan ukuran 1,31x1,43 cm, Ovarium kiri 1,76x1,03 cm Kesan : Mioma uteri

BAB IV

DISKUSI

Telah dirawat seorang pasien wanita 51 tahun di Bangsal Paru RS.DR.M.Djamil Padang dengan diagnosis metastasis keganasan ke paru dan suspek karsinoma serviks.

Dari anamnesis didapatkan adanya gejala gejala respiratorik seperti sesak nafas, batuk, batuk darah dan nyeri dada. Selain itu juga terdapat tanda tanda kelainan sistemik seperti penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Suatu laporan kasus oleh Kanthan tentang metastasis ke paru yang berasal dari kanker servik juga menemukan gejala yang hampir sama. Kanthan mendapatkan gejala berupa batuk yang produktif dan sesak nafas yang bertambah berat dengan aktifitas. 25 Dalam kepustakaan disebutkan bahwa gejala metastasis ke paru tidak memiliki gejala klinis yang khas bahkan dapat terjadi tanpa gejala sehingga terlambat terdiagnosis. Gejala respiratorik yang biasanya ditemukan berupa batuk dengan sputum atau tanpa sputum, batuk darah, sesak nafas, anoreksia, penurunan berat badan, malaise, demam dan nyeri dada. Kadang kadang keluhan metastasis inilah yang membawa pasien datang berobat tanpa adanya keluhan pada tumor primer. 1,9 Pada pasien ini keluhan respiratorik yang membuat pasien datang berobat. Keganasan pada pasien ini dicurigai berasal dari daerah servik. Namun pada pasien ini tidak memiliki keluhan dari daerah genital. Gejala kanker servik yang timbul dapat tanpa gejala namun pada tahap lanjut biasanya adalah keputihan yang

berlebihan dan tidak normal, perdarahan di luar siklus menstruasi, rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding) serta penurunan berat badan drastis. 26

Pada pemeriksaan penunjang berupa foto toraks PA didapatkan adanya gambaran multipel nodul dengan ukuran yang bervariasi pada kedua lapangan paru. Ukuran dari nodul pada pasien ini mulai dari yang kecil hingga yang besar (golf ball). Selain itu juga ditemukan adanya metastasis pada pleura berupa adanya efusi pleura. Dari gambaran foto toraks serial pada pasien didapatkan terjadinya perburukan dimana jumlah nodul di kedua paru bertambah banyak dan ukuran yang bertambah besar.Berdasarkan kepustakaan disebutkan bahwa gambaran metastasis bersifat bilateral pada kedua paru dengan predominan pada lapangan bawah paru. Pada karsinoma servik, gambaran metastasis yang umum terjadi adalah berupa gambaran multipel nodul dengan ukuran nodul bervariasi mulai dari ukuran yang besar hingga kecil, bentuk bulat dengan batas yang tegas dan licin. Namun kasus metastasis pada karsinoma servik

memiliki insiden kecil yaitu sekitar 5% 10% 16 Penelitian oleh Tellis dkk selama 5 tahun pada pasien dengan diagnosis karsinoma servik. Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien yang mengalami metastasis sebanyak 9,1%. dan gambaran metastasis yang banyak ditemukan adalah gambaran multipel nodul. 27 Suatu gambaran metastasis yang jarang ditemukan pada kanker servik adalah lymphangitis carcinomatosis seperti yang dilaporkan oleh Kanthan. Dari hasil biopsi paru pada kasus tersebut ditemukan adanya garis pertumbuhan sel ganas sepanjang septum, perivaskuler, peribronkial dan limfatik pleura. 25

Untuk lebih memastikan bahwa gambaran nodul yang multipel di paru bukan suatu tumor primer di paru maka dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya seperti bronkoskopi dan Trans Thorachal Needle Aspiration (TTNA). Pada saat dilakukan bronkoskopi didapatkan adanya gambaran tumor pada lobus bawah kiri. Kemudian dilakukan bilasan dan sikatan pada lokasi tersebut untuk mendapatkan sampel pemeriksaan. Hasil sikatan bronkus didapatkan adanya suatu reactive bronchial cell dan reserve cell hyperplasia dengan radang kronis tidak khas dimana kondisi ini dapat ditemukan pada kondisi radang atau keganasan. Hasil TTNA juga menunjukkan suatu kondisi reaktif terhadap radang atau keganasan berupa metaplasia atipik. Hasil hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kelainan di paru bukanlah suatu kelainan primer namun merupakan suatu kelainan yang disebabkan dari tempat lain (metastasis).

Untuk lebih memastikan gambaran suatu metastasis ini maka dilakukan pemeriksaan CT scan toraks. Hasil gambaran CT scan toraks memberikan gambaran suatu metastasis yang lebih meyakinkan dimana gambaran multipel nodul terlihat lebih jelas. Berdasarkan kepustakaan disebutkan bahwa pada lesi dengan ukuran > 6mm maka kesensitifan CT scan hampir 100%. Bahkan pada pemeriksaan CT scan toraks dengan menggunakan kontras dapat memberikan gambaran nodul yang berukuran 2-3

mm. 11,12

Untuk penatalaksanaan selanjutnya adalah mencari sumber tumor primer. Pada pasien wanita biasanya keganasan sering berasal dari daerah genital sehingga dilakukan pemeriksaan seperti USG abdomen, pelvis dan fetomaternal. Dari hasil pemeriksaan didapatkan bahwa tumor primer berasal dari keganasan di serviks. Namun disayangkan bahkan eksplorasi yang dilakukan tidak maksimal karena pada pasien ini tidak dapat dilakukan pemeriksaan pap smear karena habisnya reagen untuk bahan pemeriksaan.

Pemeriksaan pap smear merupakan pemeriksaan baku emas untuk menegakkan diagnosis suatu keganasan di serviks.

BAB IV KESIMPULAN

1. Metastasis merupakan suatu pertumbuhan sel tumor yang memisahkan diri dari tumor primernya

2. Beberapa gambaran yang sering ditemui dapat berupa multipel nodul, nodul soliter, canon ball, milier, efusi pleura dan lymphangitis carcinomatosis

3. Gambaran multipel nodul merupakan gambaran metastasis terbanyak ditemukan pada kasus karsinoma serviks

DAFTAR PUSTAKA

1. Lazzaro RS, Cicero JL. Pulmonary metastase. In Fishman AP, Elias JA, Fishman JA et al. Ed Fishman’s pulmonary diseases and disorders. The McGraw-Hill companies, Philadelphia 2008 p.1941-46

2. Midthun DE, Jett JR. Lung tumors. In Albert RK, Spiro SG, Jett JR. Clinical respiratory medicine. Mosby elsevier Philadelphia 2008;p.605-32

3. Santoso C, Askandar B. Keberhasilan kemoterapi neoajuvan cisplatin- vincristine-bleomycin dan paclitaxel-carboplatin ditinjau dari penilaian operabilitas kanker serviks IIB. Majalah obstetri & ginekologi 2011;19:p.1-11

4. Vesco KK, Whitlock EP, Eder M, Burda BU, Senger CA, Lutz K. Risk factors and other epidemiologic considerations for cervical cancer screening: A narrative review for the U.S. preventive services task force. Annals of internal medicine 2011;155:p.698-706

5. Parkes JM. Metastases : mechanism, pathways and cascades. AJR

1995;164:p.1075-82

6. Hunter KW, Crawford N, Alsarraj J. Mechanism of metastasis. Breast cancer research 2008;10(1):p.1-10

7. Rubens MB, Padley S. Tumours of lung. In Sutton D. Textbook of radiology and imaging ed 6. Churchill livingstone 2003:p.107-30

8. Collins J, Jannelte, Stern, Eric J. Chest radiology: the essentials 2nd ed. Lippincott williams and wilkins 2008

9. Misra R, Planner A, Uthoppa. A-Z of chest radiology. Cambridge university press 2007

10. Gunderman RB. Essential radiology. 2nd ed. Thieme 2006

11. Miller WT. Diagnostic thoracic imaging. Mcgraw hill 2006

12. Hansel DM, Armstrong P, Lynch DA, Adams P. Imaging of diseases of the chest. Elsevier 2005

13. Blederer J, Hintze C, Fabel M. MRI of pulmonary nodules; technique and diagnostic value. Cancer imaging 2008;8:p.125-30

14. Amin Z, Kadarsan D, Ayudyasari W, Meccarania DM. Peran positron emission tomography dalam diagnosis dan evaluasi kanker paru. Maj kedokt indon

2007;57:p.118-122

15. Meka M, Bommireddipalli S, Killam J, Bhargava P, Depuey M. FDG PET Appearance of cannon ball; pulmonary metastases. Radiology case reports

2009;4

16. Avdalovic M, Chan A. Thoracic manifestations of common non pulmonary malignancies of women. Clin chest med 25(2004);p.379-390

17. Charomanska A, Macura KJ. Evaluation of solitary pulmonary nodule detected during computed tomography examination. Pol J radiol 2012;7(2):p.22-34

18. Johnson R. Solitary pulmonary nodule. Military medicine radiology corner

2010:p.1-3

19.

Ruben MB, Padley SPG. Tumours of the lung. In Sutton D ed. Textbook of radiology and imaging eds 7. Elsevier science 2003:p.107-130

20. Ammannagari N, Polu V. Cannon ball pulmonary metastases. BMJ case reports

2013;10:p.22-34

21. Seo JB, Im JG, Goo JM, Chung MJ, Kim MY. Atypical Pulmonary Metastases:

Spectrum of Radiologic Findings. RadioGraphics 2001;21:p.40317

22. Lyanda A, Antariksa B, Syahruddin E. Ultrasonongrafi toraks. J respir indo

2011;31:p.1-6

23. Kusumawidjaja K. Tumor ganas paru. Dalam: Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I. Radiologi diagnostik 2005:p.148-63

24. Schueller G, Herold CJ. Lung metastases. Cancer imaging 2003;3:p.126-28

25. Kanthan R, Senger JL, Diudea. Pulmonary lymphangitic carcinomatosis from squamous cell carcinoma of the cervic. World journal of surgical oncology

2010;8:p.1-4

26. American cancer society. Cervical cancer. American cancer society 2012

27. Tellis CJ, Beechler CR. Pulmonary metastases of carcinoma of the cervic : A retrospective study cancer 1982;49:p.1705-09