Anda di halaman 1dari 72

PENDAHULUAN

Diabetes melitus (DM) merupakan suatu


kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi
karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau keduanya
Perkiraan terakhir menunjukkan ada 387
juta orang di dunia dengan diabetes pada
tahun 2013 dan ini diproyeksikan
meningkat menjadi 592 juta pada 2030

Salah satu komplikasi mikrovaskuler dari


DM adalah Neuropati Diabetik. Neuropati
diabetik terjadi pada 50% penderita DM
tipe 1 maupun 2 yang sudah berlangsung
lama.

Secara keseluruhan, di Amerika Serikat,


13,9 % orang dewasa usia 25 tahun
keatas menderita OA dan 33,6% (12,4
juta) pada usia 65 tahun lebih;
diperkirakan 26,9 juta orang dewasa di
Amerika Serikat menderita OA pada tahun
2005. Prevalensi rata-rata pertahun, OA
dalam sistem perawatan kesehatan rawat
jalan di Amerika Serikat, dari tahun 20012005, diperkirakan 3,5% yang berjumlah
7,7 juta menderita OA.

Identitas Pasien

Nama
: Ny. S
Umur
:63 tahun
Jenis kelamin
: perempuan
Alamat
: Sewon, Bantul
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Agama
: Islam
Suku
: Jawa
Status perkawinan : menikah
No RM
: 039711

Anamnesis
Keluhan Utama
Kontrol kadar gula darah rutin.
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke RS untuk kontrol gula darah.
Pasien mengaku awal terdiagnosis diabetes
melitus (DM) di puskesmas 9 tahun yang lalu
(pada tahun 2006). Pasien mengaku setelah
terdiagnosis menderita DM, pasien kontrol rutin
gula darah dan rutin minum obat DM. Sebelum
terdiagnosis DM, pasien mengaku sering merasa
lapar dan haus terus menerus, dan sering buang
air kecil terutama pada malam hari. Pasien saat ini
tidak memiliki keluhan lain seperti pandangan
kabur.

Cont
Pada saat ini, pasien juga mengeluh lututnya
terasa nyeri. Nyeri lutut pada pasien sudah
diderita lama, sudah sejak 10 tahun yang
lalu sebelum pasien terdiagnosis menderita
DM. pasien mengeluh nyeri dan kaku
dirasakan terutama setelah bangun tidur.
Pasien memerlukan 10-15 menit untuk
menghilangkan nyeri dan kaku sendi. Pasien
juga mengeluh telapak dan jari kaki
kesemutan, dan sendi-sendi jari terasa nyeri.
Pasien juga mengeluhkan jari telunjuk
tangan kirinya tak dapat dilipat/ditekuk.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat tekanan darah tinggi disangkal.
Riwayat hiperurisemia disangkal.
Riwayat dislipidemia/hiperkolesterol
disangkal.
Riwayat sakit jantung diangkal.
Riwayat sakit ginjal disangkal.
Riwayat sakit paru-paru disangkal.

Riwayat penyakit keluarga


Riwayat anggota keluarga menderita HT
disangkal.
Riwayat anggota keluarga menderita DM
disangkal.
Riwayat anggota keluarga memiliki alergi
disangkal.
Riwayat anggota keluarga menderita
menderita sakit jantung, ginjal, dan paruparu disangkal.
Suami pasien menderita penyakit jantung.

Riwayat psikososial dan lingkungan


Pasien mengaku sejak terdiagnosis menderita
DM, pasien sudah menakar makanan yang
dikonsumsinya. Pasien juga mengaku sudah
mengganti penggunaan gula tebu dengan
gula jagung. Pasien mengaku tidak pernah
olah raga karena tidak punya waktu/tidak
sempat. Pasien tidak merokok, tetapi dirumah
anak pasien merokok, sehingga pasien adalah
seorang perokok pasif. Suami pasien dulunya
adalah perokok, tapi sudah berhenti 1 tahun,
sejak suami pasien menderita penakit jantung.
Hubungan pasien dengan anggota keluarga
baik, dan hubungan pasien dengan tetangga
baik. Hubungan pasien dengan suami dan
anak-anak baik.

Review anamnesis sistem


Sistem neurologis: tak ada keluhan.
Sistem penglihatan: penglihatan kabur (-),
penglihatan berkabut (-).
Sistem pendengaran: tak ada keluhan.
Sistem kardiovaskuler: berdebar-debar (-), nyeri
dada (-).
Sistem respirasi: sesak (-), batuk (-), pilek (-).
Sistem gastrointestinal: tak ada keluhan.
Sistem urologi: tak ada keluhan.
Sistem integumentum: luka diabetik (-).
Sistem muskuloskeletal: nyeri sendi lutut dan
sendi jari tangan (+). Kaki kesemutan (+).

RIWAYAT KESEHATAN ORAL


Pasien mengeluhkan giginya pada kiri atasnya terasa
goyang setelah makan makanan yang keras. Keadaan
tersebut membuat tidak nyaman saat mengunyah
makanan. Pasien tidak mengeluhkan bau mulut atau
mulut terasa kering atau gusi berdarah. Pasien hanya
mengeluhkan ada beberapa giginya yang berlubang
sedikit demi sedikit lalu habis sendiri. Pasien pernah
mencabutkan gigi kanan bawahnya 3 tahun yang lalu
dengan kondisi gula darah yang terkontrol.

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : baik, compos mentis.
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 130/78 mmHg
Nadi : 80 kpm
Suhu badan : 36,7 C
Pernapasan : 20 kpm
Antropometri

Tinggi badan : 153 cm


Berat badan : 76 kg
Indeks massa tubuh
: 32,47
Status gizi : Obese grade II

Kepala
Mata
: CA (-/-), SI (-/-)
Telinga
: dbn
Hidung
: dbn
Tenggorokan
: dbn
Mulut dan gigi
: mulut tak kering, gigi goyang (+)

Leher : JVP tak meningkat, PKGB (-)

PEMERIKSAAN OBJEKTIF

odontogram

Pemeriksaan thorax
Pulmo
Inspeksi: simetris, ketertinggalan gerak (-), retraksi (-).
Palpasi: simetris, ketertinggalan gerak (-), vokal fremitus
dalam batas normal.
Perkusi: sonor pada seluruh lapang paru.
Auskultasi: suara vesikuler (+/+) normal, suara tambahan
paru (-).
Cor
Inspeksi: ictus cordis tak tampak
Palpasi: ictus cordis teraba di SIC V
Perkusi: batas jantung
Kanan atas : SIC II parasternal dextra
Kanan bawah : SIC IV parasternal dextra
Kiri atas : SIC II parasternal sinistra
Kiri bawah : SIC V linea midclavicula sinistra
Auskultasi: S1-S2 reguler, bising jantung (-)

Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : dinding perut lebih tinggi dibanding
dinding dada.
Auskultasi : bising usus (+) dalam batas normal.
Palpasi
: supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien
tak teraba, massa (-), ascites (-)
Perkusi
: timpani pada seluruh lapang perut.

Pemeriksaan ekstremitas
Tungkai

Lengan

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

Tak bebas

Tak bebas

Bebas

Bebas

Tonus

Normal

Normal

Normal

Normal

Trofi

Eutrofi

Eutrofi

Eutrofi

Eutrofi

Akral

Hangat

Hangat

Hangat

Hangat

Nyeri

Luka diabetik

Gerakan

Edema

Pemeriksaan penunjang
GDS : 164 mg/dL
Pemeriksaan usulan
Fungsi ginjal : ureum dan kreatinin
Profil lipid : kolesterol total, trigliserid, HDL, LDL
HbA1C
GD 2jam post prandial
GDP
Radiologi

Diagnosis
1. Diabetes melitus tipe II
2. Neuropati DM
3. Osteoarthritis

MANIFESTASI ORAL
Xerostomia (mulut kering)
Gingivitis dan periodontitis
Karies gigi
Oral thrush
dll

MANAJEMEN
Kuratif
1. Metformin 500 mg 3 dd 1
2. Glucobay 50 mg
3 dd 1
3. Meloxicam 7,5 mg 2 dd 1 bila perlu
4. Gabapentin 300 mg 1 dd 1

Promotif dan prefentif


1. Edukasi diabetes melitus (DM)
2. Edukasi aturan minum obat
3. Edukasi pengaturan makan (diit)
4. Edukasi pelaksanaan
olahraga/aktifitas fisik
5. Edukasi penurunan BB hingga
mencapai BB ideal

Rehabilitatif
1. Senam kaki diabetik
2. Fisioterapi

Paliatif
belum diperlukan

TREATMENT PLANNING
KESEHATAN GIGI
1. KIE
2. Rontgen foto OPG
3. Berintegrasi dengan dokter spesialis penyakit dalam
4. Scaling USS
5. Exodonsi gigi 24
6. Restorasi gigi
7. Gigi tiruan sebagian lepasan
8. Follow up

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi

Diagnosis DM

Diagnosis DM

Komplikasi Akut
Hiperosmolar
Hipoglikemia
Ketoasidosis

Komplikasi Kronis
1. Makroangiopati :
Pembuluh darah jantung
Pembuluh darah tepi
Penyakit arteri perifer sering terjadi pada
penyandang diabetes. Biasanya terjadi
dengan
gejala
tipikal
intermittent
claudicatio.
Pembuluh darah otak

Komplikasi Kronis
2. Mikroangiopati:
a. Retinopati diabetik
Kendali glukosa dan tekanan darah yang
baik
akan
mengurangi
risiko
dan
memberatnya retinopati. Terapi aspirin tidak
mencegah timbulnya retinopati
b. Nefropati diabetik
Kendali glukosa dan tekanan darah yang
baik akan mengurangi risiko nefropati,
pembatasan asupan protein dalam diet (0,8
g/kg BB) juga akan mengurangi risiko
terjadinya nefropati.

Komplikasi Kronis
c. Neuropati
Yang tersering dan paling penting adalah
neuropati perifer, berupa hilangnya
sensasi distal. Berisiko tinggi untuk
terjadinya ulkus kaki dan amputasi.
Gejala yang sering dirasakan kaki terasa
terbakar dan bergetar sendiri, dan lebih
terasa sakit di malam hari.
Apabila diketemukan adanya polineuropati
distal, perawatan kaki yang memadai akan
menurunkan risiko amputasi.

Penatalaksanaan DM
Edukasi

Untuk mencapai keberhasilan


perubahan perilaku, dibutuhkan
edukasi yang komprehensif dan
upaya peningkatan motivasi.

Terapi Gizi Medis

Pada penyandang diabetes perlu


ditekankan pentingnya keteraturan
makan dalam hal jadwal makan,
jenis dan jumlah makanan.

Latihan Jasmani

Intervensi Farmakologis

Cara Pemberian OHO

OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara


bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat
diberikan sampai dosis hampir maksimal
Sulfonilurea generasi I & II : 15 30 menit sebelum makan
Glimepirid
: sebelum/sesaat sebelum makan
Repaglinid, Nateglinid : sesaat/ sebelum makan
Metformin
: sebelum /pada saat / sesudah
makan
Penghambat glukosidase (Acarbose) : bersama makan
suapan pertama
Tiazolidindion
: tidak bergantung pada jadwal
makan

Indikasi Insulin

Penurunan berat badan yang cepat.


Hiperglikemia berat yang disertai ketosis.
Ketoasidosis diabetik.
Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik.
Hiperglikemia dengan asidosis laktat.
Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir
maksimal.
Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA,
stroke).
Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional
yang tidak terkendali dengan perencanaan makan.
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO.

Pengendalian DM

OSTEOARTHRITIS

Definisi
Osteoarthritis (OA) bahasa Yunani
arthron = sendi dan itis = inflamasi
Penyakit kronis yang mengenai sendi dan
tulang di sekitar sendi tersebut.

Etiologi dan Faktor Resiko

Gambaran Klinis

Penegakan Diagnosis (Skala Gambaran


Radiologi Kellgren-Lawrence)
Derajat
0
1

Keterangan
Normal

: Tidak terdapat gambaran osteoarthritis.

Meragukan : Kemungkinan osteofit dan penyempitan celah sendi belum


jelas

Minimal

: Osteofit, dengan atau tanpa penyempitan celah sendi.

Sedang
: Osteofit sedang, penyempitan celah sendi nyata, sedikit
sklerosis, kemungkinan ada deformitas.

Berat
: Deformitas nyata, jarak sendi sangat sempit dengan
sklerosis tulang subkhondral.

Penatalaksanaan
Non Farmakologis
Edukasi
Terapi Fisik dan Rehabilitasi
Modifikasi Faktor Resiko
Farmakologis
OAINS
Chondroprotective
Agent
(asam
hialuronat, khondroitin, glikosamin)
Operatif

PENCEGAHAN DAN PENINGKATAN KESEHATAN


RONGGA MULUT PADA PENDERITA DIABETES
MELLITUS
1.Memberikan edukasi dan informasi kepada pasien
mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan
mulut serta dampak diabetes melitus terhadap
gangguan kesehatan gigi dan mulut.
2. Berkoordinasi dengan dokter spesialis untuk
mengontrol kadar gula darah pasien
3. Rawat gigi dan gusi, serta ke dokter gigi untuk
pemeriksaan
rutin
setiap
enam bulan untuk
mengontrol keadaan oral pasien
4. Menyikat gigi minimal 2 kali sehari dan menggunakan
pembersih mulut anti bakteri untuk mengurangi jumlah
bakteri penyebab sakit gigi pada mulut.
5. Hindari perawatan gigi bila kadar gula darah
tinggi.

Tier 1 : Well-validated core therapies

At diagnosis
Lifestyle
+
Metformin

Lifestyle + Metformin
+
Basal Insulin

Lifestyle + Metformin
+
Intensive insulin

Lifestyle + metformin
+
Sulfonylurea
STEP 1

STEP 2

STEP 3

Tier 2 : Less well-validated therapies

Lifestyle + Metformin
+
Pioglitazone
No hypoglycaemia
Oedema/CHF
Bone loss
Lifestyle + Metformin
+
GLP-1 agonist
No hypoglycaemia
Weight loss
Nausea/vomiting

Lifestyle + Metformin
+
Pioglitazone
+
Sulfonylurea

Lifestyle + Metformin
+
Basal Insulin

EFIKASI RELATIF OHO MONOTERAPI


OHO
Secretagogu
e
Sulfonilurea
Repaglinide
Nateglinide
Metformin
Rosiglitazone
Pioglitazone
Acarbose
Miglitol

Penurunan
FPG

Penurunan
HbA1C

Penurunan
PPG

54-70
61
59-78
62-76
59-80
20-30
-

1,5-2,0
1,7
0,6-1,0
1,5-2,0
1,5
1,4-2,6
0,5-1,0
0,5-0,8

92
104
83
40-50
40-60

PEMBAHASAN
Jenis DM pada pasien ini adalah DM
tipe 2 karena pasien terdiagnosis
mengidap DM saat usia 54 tahun.
Dalam keadaan ini yang terjadi pada
pasien adalah glukosa dalam darah
tidak dapat masuk ke sel karena sel
resisten terhadap insulin.

Berdasarkan faktor resiko, pada pasien


ditemukan faktor resiko yang tidak dapat
dimodifikasi yaitu umur dan jenis kelamin.
Untuk riwayat keluarga, pada pasien tidak
memiliki keluarga yang menderita DM,
hipertensi maupun dislipidemia.

Diabetes melitus lebih beresiko pada


wanita khususnya dalam keadaan
pasca menopouse dan kehamilan.
Untuk pasien ini keadaan pasca
menopouse menjadi faktor resiko pada
pasien karena pada keadaan itu
distribusi lemak pada tubuh menjadi
mudah terakumulasi.

Berdasarkan penelitian di negara


berkembang kelompok umur 46-64
tahun beresiko menderita DM tipe 2
karena proses penuaan menyebabkan
menurunnya kemampuan sel
pankreas dalam memproduksi insulin.
Pasien didiagnosis DM saat umur 54
tahun beresiko 14,99x untuk
menderita DM tipe 2.

Berdasarkan faktor resiko yang dapat


dimodifikasi pada pasien ditemukan
faktor resiko yang dapat dimodifikasi
yaitu Indek Massa Tubuh (IMT),
aktifitas fisik, terpapar asap rokok dan
pekerjaan.

Pada pasien berdasarkan Indek Massa Tubuh


pasien memiliki status gizi berlebih (obesitas
tingkat I). Orang dengan obesitas memiliki
masukan kalori yang berlebih. Sel beta
pankreas akan mengalami kelelahan dan tidak
mampu untuk memproduksi insulin yang cukup
untuk mengimbangi kelebihan masukan kalori.
Akibatnya kadar glukosa darah akan tinggi
yang akhirnya akan menjadi DM.

Aktivitas fisik mengakibatkan insulin


semakin meningkat sehingga kadar gula
dalam darah akan berkurang. Pada orang
yang jarang berolahraga, zat makanan yang
masuk ke dalam tubuh tidak dibakar tetapi
ditimbun dalam tubuh sebagai lemak dan
gula. Jika insulin tidak mencukupi untuk
mengubah glukosa menjadi energi maka
akan timbul DM.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh


Houston dari Birmingham Veteran Affairs
Medical Centre Amerika Serikat menyatakan
bahwa perokok pasif memungkinkan
menghisap racun sama seperti perokok
aktif. Perokok aktif memiliki resiko 22%
untuk terserang DM sedangkan perokok
pasif 17%. Pada pasien diketahui anak dan
suami merokok di rumah, sehingga pasien
menjadi perokok pasif.

Berdasarkan data Riskesdas 2007


prevalensi DM tertinggi pada
kelompok yang tidak bekerja dan ibu
rumah tangga. Pasien tidak bekerja
atau ibu rumah tangga sehingga
memiliki aktivitas fisik yang kurang dan
meningkatkan resiko untuk obesitas.

Salah satu komplikasi kronik pada penderita


DM adalah neuropati DM. Pada pasien
didapatkan keluhan sering kesemutan atau
terasa tebal pada telapak kaki. Pasien sudah
mengidap diabetes selama 9 tahun. Jadi
pasien sudah mengalami komplikasi kronik
yaitu neuropati DM

Keadaan osteoartritis pada pasien


dikarenakan usia pasien yang sudah
memasuki menopouse, berat badan pasien
yang berlebih (obesitas) dan juga proses
metabolisme tubuh yang terganggu akibat
DM menyebabkan hilangnya kartilago
matriks protein yang kuat yang berfungsi
melumasi dan sebagai bantalan sendi
(kepadatan tulang berkurang).

Pengobatan yang dipilih untuk pasien


adalah OHO (Obat hipoglikemia oral)
Pasien diberikan metformin 3x 500
perhari. Dosis ini sesuai dengan dosis
maksimal kerja metformin yaitu antara
1500-2550mg perhari.
Sebelumnya diberikan glimepiride namun
di stop dan dinaikkan dosis metformin
yang sebelumnya 2x 500mg perhari
menjadi 3x 500mg perhari. Hal ini
dipertimbangkan karena pasien sudah
menderita diabetes 9 tahun.

Selain itu juga diberikan acarbose


sebanyak 3x 50mg yang berfungsi untuk
mengontrol lonjakan kadar gula darah
terhadap makanan yang dimakan saat itu
oleh pasien. Oleh karena pasien makan 3x
sehari maka diberikan acarbose 3x
perhari.
Untuk pemberian insulin belum diperlukan
pada pasien karena pasien belum gagal
terapi untuk OHO dalam dosis maksimal.

Untuk neuropati DM yaitu keluhan


kesemutan atau kebas pada kaki pasien
diberikan gabapentin 1x 300mg perhari.
Osteoartritis pada pasien diberikan
meloksikam 2 x 7,5 mg sesuai dengan
ketentuan karena dosis maksimal
meloksikam yaitu 15 mg/ hari.

KESIMPULAN
Pada pasien ini terdiagnosis Diabetes
Mellitus tipe 2 yang dihubungkan berbagai
faktor, seperti umur, jenis kelamin, aktifitas
fisik, terpapar asap rokok dan pekerjaan.
Komplikasi dari DM yang sudah timbul
pada pasien adalah neuropati diabetikum
akibat dari DM yang kronik.
Osteoatritis pada pasien ini dihubungkan
dengan umur, berat badan dan penyakit
DM yang di derita pasien.

SARAN
Menerapkan manajemen empat pilar
penatalaksanaan diabetes melitus,
meliputi edukasi, diet dan perencanaan
makan, aktifitas fisik serta penggunaan
obat-obatan
Menjelaskan macam-macam komplikasi
yang dapat ditimbulkan pada penyakit DM
untuk meningkatkan kepatuhan pasien
dalam pengobatan.