Anda di halaman 1dari 38

CHOLECISTITYS

A. Definisi
Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang menrupakan inflamasi akut
dinding kandung empedu disertai nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas
badan. Dikenal dua klasifikasi yaitu akut dan kronis (Brooker, 2001).
Kolesistitis Akut adalah peradangan dari dinding kandung empedu, biasanya
merupakan akibat dari adanya batu empedu di dalam duktus sistikus, yang secara
tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa (www.medicastore.com).
Kolesistitis Kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung empedu,
yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam dan hebat
(www.medicastore.com).
Cholesistektomy adalah bedah pengangkatan kandung empedu (biasanya untuk
relief batu empedu sakit) (Dictionary: WordNet).
B. Etiologi
Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut, memiliki batu empedu.
Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya peradangan.
Kolesistitis akut tanpa batu merupakan penyakit yang serius dan cenderung
timbul setelah terjadinya: - cedera,
- pembedahan
- luka bakar
- sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh)
- penyakit-penyakit yang parah (terutama penderita yang menerima makanan lewat
infus dalam jangka waktu yang lama).
Sebelum secsara tiba-tiba merasakan nyeri yang luar biasa di perut bagian
atas, penderita biasanya tidak menunjukan tanda-tanda penyakit kandung empedu.
Kolesistitis kronis terjadi akibat serangan berulang dari kolesistitis akut,
yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding kandung empedu dan penciutan
kandung empedu.Pada akhirnya kandung empedu tidak mampu menampung empedu.
Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan angka kejadiannya meningkat
pada usia diatas 40 tahun.
Faktor resiko terjadinya kolesistitis kronis adalah adanya riwayat
kolesistitis akut sebelumnya (www.medicastore.com).

C. Patofisiologi
Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan empedu dan
memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan
elektrolit. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel
hati.
Pada individu normal, cairan empedu mengalir ke kandung empedu pada saat
katup Oddi tertutup. Dalam kandung empedu, cairan empedu dipekatkan dengan
mengabsorpsi air. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh peningkatan konsentrasi
zat-zat padat. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan
supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut.
Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis
empedu, dapat menyebabkan infeksi kandung empedu (www.mamashealth.com).
D. Gejala
Timbulnya gejala bisa dipicu oleh makan makanan berlemak. Gejala bisa berupa:
- Tanda awal dari peradangan kandung empedu biasanya berupa nyeri di perut kanan
bagian atas.
- Nyeri bertambah hebat bila penderita menarik nafas dalam dan sering menjalar ke
bahu kanan.
- Biasanya terdapat mual dan muntah.
- Nyeri tekan perut
- Dalam beberapa jam, otot-otot perut sebelah kanan menjadi kaku.
- Pada mulanya, timbul demam ringan, yang semakin lama cenderung meninggi.
- Serangan nyeri berkurang dalam 2-3 hari dan kemudian menghilang dalam 1 minggu.
- Gangguan pencernaan menahun
- Nyeri perut yang tidak jelas (samar-samar)
- Sendawa.
E. KOMPLIKASI
Demam tinggi, menggigil, peningkatan jumlah leukosit dan berhentinya gerakan
usus (ileus) dapat menunjukkan terjadinya abses, gangren atau perforasi kandung
empedu.
Serangan yang disertai jaundice (sakit kuning) atau arus balik dari empedu ke
dalam hati menunjukkan bahwa saluran empedu telah tersumbat sebagian oleh batu
empedu atau oleh peradangan.

Jika pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan kadar enzim amilase, mungkin


telah terjadi peradangan pankreas (pankreatitis) yang disebabkan oleh penyumbatan
batu empedu pada saluran pankreas (duktus pankreatikus).
F. Pemeriksaan penunjang
- CT scan perut
- Kolesistogram oral
- USG perut.
- blood tests (looking for elevated white blood cells)
G. Penatalaksanaan medis
- Pengobatan yang biasa dilakukan adalah pembedahan.
- Kolesistektomi bisa dilakukan melalui pembedahan perut maupun melalui
laparoskopi.
- Penderita yang memiliki resiko pembedahan tinggi karena keadaan medis lainnya,
dianjurkan untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan.
- Bisa diberikan antasid dan obat-obat antikolinergik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Definisi dan pengertian Cholesistitis
Radang kandung empedu (kolesitasis akut) adalah reaksi inflamasi akut dinding kandug
empedu yang di sertai keluhan nyeri perut kanan atas dan panas badan.
(dr. FX. Pridady)
Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan reaksi inflamasi akut dinding
kandung empedu disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas badan.Dikenal
klasifikasi kolesistitis yaitu kolesistitis akut serta kronik. (Dr. Suparyanto, M.Kes 2009)
Kolesistiti adalah peradangan kandung empedu baik secara akut ataupun kronis (Barbara C.
Long, 1996 : 154)
Kolesistitis sering disebabkan cholelithiasis (kehadiran choleliths, atau batu empedu, di
kandung empedu itu), dengan choleliths paling sering memblokir saluran cystic langsung. Hal
ini menyebabkan inspissation (penebalan) dari empedu , empedu stasis , infeksi sekunder dan
organisme usus, terutama E. coli and Bacteroides species. coli dan Bacteroides spesies.
Anatomi empedu
B. Angka Kejadian

Sejauh ini belum ada data epidemiologis penduduk,insidensi kolesistitis di Negara kita relative
lebih rendah di banding negara-negara barat.
Sebuah diperkirakan 10-20% orang Amerika memiliki batu empedu, dan sebanyak sepertiga
dari orang-orang mengembangkan kolesistitis akut. Kolesistektomi baik untuk berulang kolik
bilier kolesistitis akut atau merupakan prosedur bedah umum utama sebagian besar dilakukan
oleh dokter bedah umum, yang mengakibatkan sekitar 500.000 operasi setiap tahunnya.
C. Penyebaran
Kebanyakan pasien dengan kolesistitis akut memiliki remisi lengkap dalam 1-4 hari. Namun,
25-30% dari pasien baik memerlukan operasi atau mengembangkan beberapa komplikasi.
Pasien dengan kolesistitis acalculous memiliki tingkat kematian berkisar antara 10-50%, yang
jauh melebihi 4% diharapkan angka kematian yang diamati pada pasien dengan kolesistitis
calculous. Emphysematous kolesistitis memiliki tingkat mortalitas mendekati 15%.
Perforasi terjadi dalam 10-15% kasus.
D. Faktor Resiko
faktor risiko utama untuk kolesistitis, memiliki peningkatan prevalensi di kalangan orang-orang
keturunan Skandinavia, Pima India, dan populasi Hispanik, cholelithiasis sedangkan kurang
umum di antara orang dari sub-Sahara Afrika dan Asia. Beberapa faktor resiko yang lain
sebagai berikut:
adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya
Wanita (beresiko dua jadi lebih besar dibanding laki-laki)
Usia lebih dari 40 tahun .
Kegemukan (obesitas).
Faktor keturunan
Aktivitas fisik
Kehamilan (resiko meningkat pada kehamilan)
Hiperlipidemia
Diet tinggi lemak dan rendah serat
Pengosongan lambung yang memanjang
Nutrisi intravena jangka lama
Dismotilitas kandung empedu
Obat-obatan antihiperlipedmia (clofibrate)
Penyakit lain (seperti Fibrosis sistik, Diabetes mellitus, sirosis hati, pankreatitis dan kanker
kandung empedu) dan penyakit ileus (kekurangan garam empedu)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Etiologi Penyakit
a. Dalam 90% kasus tentang, kolesistitis akut disebabkan oleh batu empedu menghalangi
saluran di kantong empedu
b. pembedahan (terjadi perubahan fungsi)
c. sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh)
d. luka bakar

e. Pemasangan ifus dalam waktu lama


f. Trauma abdomen,
B. Mekanisme Etiologi Terhadap Penyakit
a. Batu empedu
Sifat kolesterol yang larut lemak dibuat menjadi larut air dengan cara agregasi melalui garam
empedu dan lesitin yang dikeluarkan bersama kedalam empedu. Jika konsentrasi kolesterol
melebihi kapasitas solubilisasi empedu (supersatusasi), kolesterol tidak lagi tidak terdispersi
sehingga terjadi penggumpalan menjadi kristal kolesterol monohidrat padat. Sumbatan batu
empedu pada duktus sistikus menyebabkan distensi kandung empedu dan gangguan aliran
darah darah dan limfe, bakteri komensal kemudian berkembang biak sehingga mengakibatkan
inflamasi pada saluran kandung empedu.
Gambar: Lembar brosur terpisah yang disebut "Batu empedu" yang singkat berisi daftar
berbagai masalah yang dapat menyebabkan batu empedu
Foto radiologi batu empedu penyebab kolesistitis
b. Pembedahan (terjadi perubahan fungsi)
dapat terjadi sebagai akibat dari jejas kimiawi oleh sumbatan batu empedu yang menjadi
predisposisi terjadinya infeksi atau dapat pula terjadi karena adanya ketidakseimbangan
komposisi empedu seperti tingginya kadar garam empedu atau asam empedu, sehingga
menginduksi terjadinya peradangan akibat jejas kimia.
c. Infeksi
Suda jelas jika terjadi membentukan batu empedu akan terjadi infeksi dengan Adanya kuman
seperti E. Coli, salmonela typhosa, cacing askaris, atau karena pengaruh enzim enzim
pankreaskarena, Sistem saluran empedu adalah sistem drainase yang membawa empedu dari
hati dan kandung empedu ke daerah dari usus kecil yang disebut duodenum
d. Luka bakar
Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini
disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin
terhadap adanya perlukan luas
e. Pemasangan infus dalam jangka waktu lama
Pemasangan infus lama dapat menyebabkan radang pada kandung empedu karna cairan infus
banyak mengandung elektrolit sehingga jika terpasang lama maka dapat membentuk kristal yng
disebut batu empedu selain it
juga cairan tersebut sangat pekah sehingga tidak dapat diserap oleh empedu di kandung
empedu
f. Trauma abdomen
trauma abdomen adalah suatu keadaan klinik akibat kegawatan di rongga abdomen biasanya
timbul secara mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama yang memerlukan penanganan

segera. Hal ini bisa disebabkan karena pertama adanya inflamasi/peradangan padak kandung
empedu.
C. Sing Dan Symptom
1. sakit perut sisi kanan atas
2. Nyeri yang berpinda panda
3. Mual, munta, perut terasa kembung
4. Kulit berwarna kuning (apabila batu empedu menghalangi saluran empedu).
5. Suhu badan tinggi (demam)
D. Mekanisme Sing Dan Symptom Terhadap Kolesistitis
1. sakit perut sisi kanan atas
Jadi kalau kita mengalami nyeri perut di sebelah kanan, tinggal melihat bagian atas atau bawah,
bila yang nyeri bagian atas, kemungkinan yang mengalami gangguan adalah organ-organ yang
terletak pada bagian kanan atas tadi, diantara berbagai organ tadi, yang paling sering terjadi
gangguan pada sebelah kanan atas adalah Gangguan Hati, Radang pada kandung empedu
akibat adanya batu, serta kadang-kadang bisa terjadi radang usus kecil. Tetapi kalau tempat
nyeri berada agak ditengah dan rasa nyerinya sampai menembus kebelakang, bisa-bisa organ
Ginjal yang lagi mengalami masalah.
2. Nyeri yang hilang timbul dan berpindah-pindah tempat dari sebelah kanan atas perut lalu
mengarah ke punggung, dan berpindah lagi ke bahu dan ke dada depan.
3. Mual, munta, perut terasa kembung
Perut terasa kembung terutama sesudah makan-makanan yang berlemak, makanan yang
digoreng yang di sebabkan karna empedu suda tidak ferfungsi secara maksimal yaitu untuk
membuang limbah tubuh tertentu (terutama pigmen hasil pemecahan sel darah merah dan
kelebihan kolesterol) serta membantu pencernaan dan penyerapan lemak.

4. Kulit berwarna kuning (apabila batu empedu menghalangi saluran empedu).


Penyakit kuning warna kuning di kulit, selaput lendir, atau mata. Pigmen kuning dari bilirubin.
Bilirubin adalah hasil dari sel-sel darah merah tua. Blirubin kuning adalah warna yang Anda lihat
ketika memar adalah penyembuhan. Penyakit kuning terjadi ketika terjadi terlalu banyak sel
darah merah tua dalam darah. Jika ada terlalu banyak sel darah merah pensiun bagi hati untuk
menangani, pigmen kuning menumpuk di dalam tubuh. Ketika ada cukup untuk bisa dilihat,
hasil penyakit kuning.
5. Suhu badan tinggi (demam)
Demam merupakan respon fisiologis tubuh terhadap penyakit yang di perantarai oleh sitokin
dan ditandai dengan peningkatan suhu pusat tubuh dan aktivitas kompleks imun. Demam

banyak ditemukan pada keadaan perjalanan penyakit yang secara nyata disebabkan oleh
infeksi bakteri maupu firus

E. Patofisiologi
Kandung empedu memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan cairan empedu dan memekatkan
cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan elektrolit. Cairan
empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati. Pada individu normal, cairan
empedu mengalir ke kandung empedu pada saat katup Oddi tertutup. Dalam kandung empedu,
cairan empedu dipekatkan dengan mengabsorpsi air. Derajat pemekatannya diperlihatkan oleh
peningkatan konsentrasi zat-zat padat. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat
mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur
tersebut. Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis
empedu, dapat menyebabkan infeksi kandung empedu. Jika pengobatan tertunda atau tidak
tersedia, dalam beberapa kasus kandung empedu menjadi sangat terinfeksi dan bahkan
gangren. Hal ini dapat mengakibatkan keracunan darah (septikemia), yang sangat serius dan
dapat mengancam hidup. mungkin komplikasi lain termasuk: kantong empedu dapat perforasi
(pecah), atau fistula (saluran) bisa terbentuk antara kandung empedu dan usus sebagai akibat
dari peradangan lanjutan.

BAB III
KESIMPULAN
Kolesistiti adalah peradangan kandung empedu baik secara akut ataupun kronis
FAktor Resiko
Wanita (beresiko dua jadi lebih besar dibanding laki-laki)
Usia lebih dari 40 tahun .
Kegemukan (obesitas).
Faktor keturunan
Kehamilan (resiko meningkat pada kehamilan)
Hiperlipidemia
Diet tinggi lemak dan rendah serat
Pengosongan lambung yang memanjang
Nutrisi intravena jangka lama
Dismotilitas kandung empedu
Obat-obatan antihiperlipedmia (clofibrate)
Penyakit lain (seperti Fibrosis sistik, Diabetes mellitus, sirosis hati, pankreatitis dan kanker
kandung empedu) dan penyakit ileus (kekurangan garam empedu)
Ras/etnik (Insidensinya tinggi pada Indian Amerika, diikuti oleh kulit putih, baru orang Afrika)
Etiologi penyakit

batu empedu
pembedahan (terjadi perubahan fungsi)
sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh)
luka bakar
Pemasangan ifus dalam waktu lama
Trauma abdomen,
Sign dan Symtom
Sakit perut sisi kanan atas
Nyeri pumggung
Mual, munta, perut terasa kembung
Kulit berwarna kuning (apabila batu empedu menghalangi saluran empedu).
Suhu badan tinggi (demam)
Daftar Pustaka
Dr. H. Y. Kuncara Aplikasi klinis patofisiologi: Pemeriksaan dan manajeme, edisi 2: 2009;
Buku kedokteran EGC
Sanders G, Kingsnorth AN ; Batu empedu. BMJ. BMJ. 2007 Aug 11;335(7614):295-9. 2007
Agustus 11; 335 (7614) :295-9.
Gladden D, Migala A et al. ; Cholecystitis eMedicine.com 2009. Gladden D, Migala A et al. ;
kolesistitis eMedicine.com 2009.
David GG, Al-Sarira AA, Willmott S, et al ; Pengelolaan sakit saluran kandung kemih akut di
Inggris. Br J Surg. Br J Surg. 2008 Apr;95(4):472-6. Apr 2008; 95 (4) :472-6. [abstract] [Abstrak]
http://www.irwanashari.com/2008/01/kolesistitis.html
http://mechamechakawaine.blogspot.com/2010/02/kolesistektomi.html
http://medicastore.com/penyakit/607/Kolesistitis_Akut.htm

Kolesistitis Akut
Merupakan radang dinding kandung empedu akut yang disertai nyeri perut kanan atas,
nyeri tekan, dan demam.
Terbagi atas kolesistitis akut kalkulus dan kolesistitis akut akalkulus.
Etiologi dan Patogenesis
Faktor yang berperan adalah adanya stasis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia
dinding kandung empedu. Adanya stasis akibat batu yang menyumbat duktus sistikus,
mungkin akibat kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin, prostaglandin yang
merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu.
Morfologi
Pada kolesistitis akut, kandung empedu biasanya membesar (2-3 x lipat), tegang, merah
terang atau memperlihatkan bercak keunguan-hijau hitam (akibat perdarahan
subserosa), lumen biasanya berisi darah, fibrin (keruh), atau pus. Jika mengandung pus

disebut empiema kandung empedu. Pada kasus yang berat kandung empedu berubah
menjadi organ nekrotik hijau-hitam (kolesistitis gangrenosa)
Kolesistitis Akut Kalkulus
1. Akibat peradangan akut dinding kandung empedu yang mengandung batu, selain itu
adanya obstruksi leher kandung empedu atau duktus sistikus.
2. Merupakan penyulit utama tersering pada batu empedu dan penyebab tersering
dilakukannya kolesistektomi darurat
3. Gejala mungkin timbul mendadak dan merupakan kejadian darurat bedah akut. Bisa
juga, gejala mungkin ringan dan mereda tanpa intervensi medis
4. Awalnya adalah akibat iritasi kimiawi dan peradangan dinding kandung empedu yang
berkaitan dengan obstruksi saluran empedu. Fosfolipase mukosa menghidolisis lesitin
empedu menjadi lisolesitin yang bersifat toksik bagi mukosa. (baca penjelasan
patofisiologi kolelitiasis mengenai lesitin). Lapisan mukosa glikoprotein yang secara
normal bersifat protektif rusak , sehingga epitel mukosa terpajan langsung ke efek
detergen garam empedu. Prostaglandin yang dibebaskan didalam dinding kandung
empedu yang teregang ikut berperan dalam peradangan mukosa dan mural.
Peregangan dan peningkatan tekanan intralumen juga mengganggu aliran darah ke
mukosa. Proses ini terjadi tanpa infeksi bakteri; baru setelah proses berlangsung cukup
lama terjadi kontaminasi oleh bakteri
Kolesistitis Akut Akalkulus
1. Sebagian kasus timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus), yang
timbul pada: a) pasien rawat inap lama dan mendapat nutrisi secara parenteral; b) pada
sumbatan karena keganasan kandung empedu, batu di saluran empedu; c) akibat
komplikasi penyakit seperti demam tifoid dan diabetes mellitus; d) trauma berat dan
luka bakar luas; e) sepsis, dehidrasi, stasis empedu dan gangguan pembuluh darah, dan
kontaminasi bakteri juga ikut berperan
Gejala Klinik
1. Kolik perut di kanan atas epigastrium dan nyeri tekan disertai kenaikan suhu tubuh
2. Kadang rasa sakit menjalar ke pundak atau skapula kanan dan dapat berlangsung
sampai 60 menit tanpa reda
3. Berat ringannya keluhan tergantung tingkat inflamasi sampai dengan gangren atau
perforasi kandung empedu
4. Ikterus (20% kasus), umumnya derajat ringan (bilirubin <4 mg/dL). Apabila
konsentrasi bilirubin tinggi, pikirkan adanya batu di saluran empedu ekstra hepatik.
5. Pada pemeriksaan fisik, teraba masa kandung empedu, nyeri tekan dan tanda
peritonitis lokal (Murphys sign)
6. Pemeriksaan laboratorium, adanya leukositosis, kemungkinan peningkatan
transaminase dan fosfatase alkali.
7. Bila nyeri makin berat, suhu tinggi dan menggigil, disertai leukositosis berat,
kemungkinan terjadi empiema dan perforasi kandung empedu
Diagnosis
1. Foto polos abdomen tidak memperlihatkan kolesistitis akut, pada 15% pasien, dapat
terlihat batu radioopak (tidak tembus pandang) yang banyak mengandung kalsium
2. Kolesistografi oral tidak bermanfaat pada gambaran kandung empedu bila ada
obstruksi
3. USG sebaiknya dikerjakan rutin dan sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar,

bentuk, penebalan dinding kandung empedu, batu dan saluran empedu ekstra hepatik.
Nilai kepekaan dan ketepatan USG mencapai 90-95%
4. CT scan abdomen kurang sensitif dan mahal, tapi mampu memperlihatkan abses
perikolesistik yang masih kecil (hal ini tidak terlihat pada USG)
5. Skintigrafi saluran empedu menggunakan zat radioaktif HIDA atau 99n Tc6,
mempunyai nilai lebih rendah dari USG dan tidak mudah dilakukan
Diagnosis Banding
Pada nyeri perut kanan atas yang tiba-tiba perlu dipikirkan adanya penjalaran nyeri
saraf spinal, kelainan organ dibawah diafragma (appendiks retrosekal, sumbatan usus,
perforasi ulkus peptikum, pankreatitis akut dan infark miokard)
Pengobatan
1. Pengobatan umum: istirahat total, pemberian nutrisi parenteral, diet ringan, obat
penghilang rasa nyeri (petidin) dan anti spasmodik. Antibiotic untuk mencegah
komplikasi peritonitis, kolangitis, dan septisemia, seperti golongan ampisilin,
sefalosporin dan metronidazol mampu mematikan kuman yang umum pada kolesistitis
akut (E. coli, S. faecalis, Klesiella)
2. Kolesistektomi, masih diperdebatkan. Ahli bedah pro operasi dini menyatakan
gangren dan komplikasi kegagalan terapi konservatif dapat dihindarkan; dan menekan
biaya perawatan RS. Ahli bedah kontra operasi dini menyatakan akan terjadi
penyebaran infeksi ke rongga peritoneum dan teknik operasi lebih sulit karena proses
inflamasi akut di sekitar duktus mengaburkan anatomi
3. Saat ini banyak di gunakan kolesistektomi laparoskopik. Walau invasif tapi bisa
mengurangi rasa nyeri pasca operasi, menurunkan angka kematian, secara kosmetik
lebih baik, menurunkan biaya perawatan RS dan mempercepat aktivitas pasien.
Prognosis
1. Penyembuhan spontan pada 85% kasus, sekalipun kandung empedu masih tebal,
fibrotik, penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi
2. Tidak jarang terjadi kolesistitis rekuren
3. Kadang kolesistitis akut berkembang cepat menjadi gangren, empiema, dan perforasi
kandung empedu, fisitel, abses hati dan peritonitis umum. Ini bisa dicegah dengan
pemberian antibiotik yang adekuat pada awal serangan
4. Tindakan bedah akut pada pasien >75 tahun mempunyai prognosis buruk, bisa
terjadi komplikasi pasca bedah
Referensi
Kumar V., Cotran R. S., Robbins S. L. 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta : EGC
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : EGC

A. Kolesistitis
Gallbladder disease adalah penyakit yang umum terjadi di USA. Kolesistitis bisa
terjadi sebagai akut atau peradangan kronis dari dinding kandung empedu.
1. Patofisiologi Kolesistitis akut.

Akut kolesistitis (radang kandung empedu) biasanya berkembang di asosiasi dengan


kolelitiasis (batu empedu), meskipun dapat terjadi tanpa adanya batu empedu.
Kolesistitis terjadi dengan tidak adanya batu empedu (kolesistitis acalculous) diyakini
karena invasi bakteri melalui limfatik atau rute vaskular. Streptococcus dan Salmonella
adalah bakteri penyebab yang paling umum ditemukan.
Ketika kantong empedu mengalami inflamasi, empedu mengecil terjadi proses
reabsorpsi dan bertindak sebagai iritan kimia ke dinding kandung empedu, memiliki
efek beracun. Kehadiran empedu, dikombinasi dengan gangguan sirkulasi, edema, dan
distensi pada kandung empedu, menyebabkan iskemia dari dinding kandung empedu,
hasilnya terjadi peluruhan jaringan dengan nekrosis dan gangren. Perforasi dari dinding
kandung empedu dapat terjadi. Jika perforasi kecil dan terlokalisasi, bisa terbentuk
abses. Jika perforasi besar, peritonitis dapat terjadi.

a.
1)
2)
3)
4)

Perbandingan kolesistitis akut dan kronis.


Kolesistitis akut
Peradangan sekarang
Pada umumnya terjadi sebagai dampak dari cholelithiasis (batu empedu), tetapi dapat
terjadi dari invasi bakteri atau kejang bilier
Obstruksi empedu tidak umum
Penyakit kuning tidak umum.

b. Kolesistitis kronis
1) Peradangan diikuti oleh fibrosis
2) Pada umumnya terjadi sebagai akibat dari kolelitiasis.

2. Kolesistitis kronis
Hasil kolesistitis kronis ketika tidak efisiennya pengosongan empedu oleh kantong
empedu dan dinding otot kantong empedu dari penyakit sebelumnya. Ini mungkin
disebabkan oleh atau mengarah pada pembentukan batu empedu. Pada kolesistitis
kronis, kantong empedu menjadi fibrosis dan kontraksi, yang menyebabkan penurunan
motilitas dan penurunan penyerapan.
Pankreatitis dan kolangitis (inflamasi umum yang terjadi pada saluran empedu)
dapat terjadi sebagai komplikasi dari kolesistitis. Pankreatitis dan kolangitis merupakan

hasil dari cadangan empedu seluruh saluran bilier. Obstruksi empedu menyebabkan
penyakit kuning.
Penyakit kuning (perubahan warna kulit dan selaput lender menjadi kuning) dan
ikterus (warna kuning dari sclera) dapat terjadi pada klien dengan kolesistitis akut
tetapi yang paling sering dilihat di dalam kantong empedu klien dengan peradangan
kronis. Terhambat atau obstruksi aliran empedu yang disebabkan oleh edema pada
saluran atau batu empedu menyebabkan ekstrapatik obstruksi ikterus. Ikterus di
kolesistitis juga mungkin disebabkan oleh liver. Inflamasi saluran liver atau saluran
empedu mungkin juga disebabkan ikterus obstruktif intrahepatik, mengakibatkan
peningkatan kadar bilirubin yang beredar , pigmen utama dari empedu.
Ketika konsentrasi bilirubin dalam darah lebih besar dari 2 mg / dL, ikterus terjadi
(Malang-tombol ST. McMorrow, 1996). Jumlah garam empedu yang berlebihan
menumpuk di kulit, menyebabkan pruritus (gatal-gatal) atau sensasi terbakar. Pada
orang dengan ikterus obstruktif, aliran normal empedu ke duodenum diblokir. .
Bilirubin tidak mampu mencapai usus besar, di mana itu berkumpulnya untuk
urobilinogen. Karena jumlah urobilinogen, untuk warna cokelat normal tinja, hasilnya
tinja berwarna tanah liat. Bilirubin larut dalam air biasanya diekskresikan oleh ginjal
dalam urin. Ketika terjadi suatu kelebihan bilirubin dalam sirkulasi, urin menjadi gelap
dan berbusa karena upaya ginjal untuk menghapus bilirubin.

3.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Etiologi

Etiologi yang pasti dari kolesistitis tidak diketahui. Selain pembentukan kalkuli
kandung empedu, penyebab kolesistitis akut mencakup:
Trauma
Kurangnya suplai darah
anestesi / pembedahan berkepanjangan
pelekatan
Edema
Neoplasma
Puasa jangka panjang
dehidrasi berkepanjangan
Gallbladder trauma
imobilitas berkepanjangan

k. penggunaan opioid berlebih.

Beberapa kondisi yang mempengaruhi pengisian regular atau pengosongan dari


kandung empedu atau menyebabkan "shock kantong empedu" (penurunan aliran darah
ke kantong empedu) dapat mengakibatkan kolesistitis akut. Kolesistitis juga telah
dikaitkan dengan masalah anatomi, seperti memutar leher kandung empedu atau
saluran distik dan refluks enzim pankreas ke dalam kantong empedu.

4. Insiden / Prevalensi
Tingginya insiden penyakit saluran bilier dan kolesistitis terjadi pada orang dengan
gaya hidup, keluarga yang memiliki kecenderungan untuk bilier, penyakit, obesitas, dan
diabetes melitus.

5. Pertimbangan Kesehatan Wanita


Insiden penyakit kandung empedu lebih tinggi pada wanita, khususnya wanita
Amerika-Eropa. Di usia 60 tahun, hampir sepertiga dari wanita gemuk
mengembangkan penyakit bilier (Alien & Phillips, 1997).

6. Manajemen kolaboratif
a. Pengkajian
1) Pemeriksaan fisik / manifestasi klinik
tidak ada tipe khusus dari klien dengan kolesistitis akut. Manifestasi klinis bervariasi
dalam intensitas dan frekuensi.
Ciri-ciri kolesistitis:
episodik atau nyeri perut samar-samar atau ketidaknyamanan yang dapat menyebar ke
bahu kanan.
Nyeri dipicu oleh lemak tinggi atau makanan volume tinggi

Anorexia
Mual atau muntah
Dispepsia
letusan
Flatulensi
Merasa perut kepenuhan
Rebound kelembutan (Blumberg's sign)
Demam
penyakit kuning, urin gelap, steatorrhea (paling umum dengan kolesistitis kronis).

Perawat atau asisten perawat yang mendapatkan tentang tinggi dan berat badan
klien akan menetapkan jenis kelamin, usia, ras, dan kelompok etnis.Perawat meminta
klien untuk menggambarkan rasa sakit, termasuk tingkat intensitas dan durasi,
menimbulkan faktor, dan langkah-langkah yang mengurangi rasa sakit, jika ada. Rasa
sakit dapat digambarkan sebagai gangguan pencernaan intensitas yang beragam, mulai
dari yang ringan, sakit terus-menerus untuk tetap, konstan nyeri di perut kuadran
kanan atas. Rasa sakit dapat menyebar ke bahu kanan atau tulang belikat. Sakit perut
kolesistitis kronis dapat jelas dan spesifik.
Pola yang biasa lebih sakit akut episodik. Klien sering merujuk episode ini sebagai
"serangan empedu." Perawat juga meminta klien untuk menggambarkan atau kegiatan
sehari-hari atau rutinitas latihan untuk menentukan apakah klien gaya hidup menetap
'.Perawat menanyakan apakah ada riwayat keluarga penyakit kandung empedu, karena
keluarga ada kecenderungan untuk penyakit saluran bilier. Sulit untuk
menggunakan teknik palpasi perut dan perkusi dalam penilaian klien dengan
kolesistitis akut. Kantong empedu dapat nyeri tekan jika dipalpasi. Kanan subcostal
palpasi, nyeri meningkat dengan inspirasi yang mendalam (Murphy's sign). Menjaga
dan kekakuan serta kelembutan ( tanda Blumberg's ) adalah indikator yang dapat
dipakai saat iritasi peritoneal.
Pengkajian dalam menentukan kelembutan dan palpasi ditetapkan untuk
perawat klinis spesialis atau Perawat pelaksana. Untuk memperoleh hasil kelembutan,
perawat mendorong atau menekan jari-jarinya dalam-dalam dan secara terus menerus
ke perut klien, lalu dengan cepat melepaskan tekanan. Rasa sakit yang dihasilkan dari

jaringan yang diraba menunjukkan peradangan peritoneum. Kedalaman palpasi di


bawah perbatasan hati di kuadran kanan atas dapat menunjukan bentuk seperti
potongan sosis, yang menggambarkan pengembungan, radang kandung
empedu.Perkusi di atas tulang rusuk posterior lokal mengintensifkan sakit perut.
Dalam kolesistitis kronis, klien mungkin memiliki gejala berbahaya dan mungkin
tidak mencari perawatan medis sampai akhir gejala seperti penyakit kuning, dan
urin berwarna gelap hasil dari proses obstruktif. Steatorrhea (lemak tinja) terjadi
karena penyerapan lemak berkurang karena kurangnya empedu. Empedu diperlukan
untuk penyerapan lemak dan vitamin yang larut dalam lemak dalam usus. Seperti
halnya proses peradangan, klien mungkin memiliki suhu tinggi 37 -39 C (99 "-102
F), takikardia, dan dehidrasi akibat demam dan muntah-muntah.

2) Pengkajian Diagnostik
Tidak ada tes laboratorium khusus untuk penyakit kandung empedu.Tingkat
serum alkaline phosphatase, aspartate ami-notransferase (AST), dan laktat
dehidrogenase (LDH) dapat meningkat, menunjukkan kelainan dalam fungsi hati.
Tingkat serum bilirubin akan meningkat secara langsung dan tidak langsung jika terjadi
proses obstruksi. Peningkatan jumlah sel darah putih (WBC) menunjukkan peradangan.
Itu terjadi jika ada kerusakan serum pankreas, amilase serum dan tingkat amilase
dalam urin meninggi.
Jika diduga kolesistitis, tenaga perawatan dapat memerintahkan penyediaan oral
cholecystogram(OCG) atau kandung empedu (GB) seri radiografi untuk
mengkonfirmasi adanya penyakit pada saluran bilier pada klien yang menjalai rawat
jalan atau klien yang dirawat di rumah sakit.Penambahan pemerikasaan radiografi akan
dilakukan ketika benar-benar diduga
Jika kandung empedu tidak tergambarkan selama pemerikasaan cholecytography
atau ketika terjadi pingsan , maka diduga penyakit radang seperti kolesistitis diduga
positif. Penyedia juga dapat memerintahkan rangkaian radiografi saluran cerna atas
untuk menyingkirkan penyebab lain dari nyeri perut, seperti maag dan penyakit ulkus
peptikum.

Technetium-labeled acetanilido iminodiacetic acid juga digunakan untuk


mendeteksi fungsi hepatobiliary yang tidak normal.pemeriksaan dengan HIDA mungkin
mempunyai kemampuan mendiagnosa lebih cepat dari pada oral cholecystography
karena masa puasa diperlukan untuk pemeriksaan HIDA selama 4 sampai 6 jam.dan
juga cholecystography tidak akan bekerja jika tunkat serum bilirubin tidal lebih dari 1.8
mg/dL.
USG pada kandung empedu sebagian besar digantikan oleh oral cholecystography
untuk mendiagnosa penyakit kandumg kemih.

b. Intervensi
Selama fase akut kolesistitis, ukuran pengobatan akan langsung dilakukan pada saat
inflamasi kandung empedu dalam upaya untuk mengurangi prose inflamasi dan
menggurangi nyeri.Intervensi non bedah dapat diimplemantasikan, tetapi jika tidak
berhasil, klien memerlukan pembedahan.
Manajemen non bedah.
langkah-langkah manajemen non bedah untuk mengurangi rasa sakit termasuk diet
dan terapi
obat. Para dokter, perawat, dan ahli gizi sering berkolaborasi ketika
mengimplementasikan penerapan intervensi ini.

Terapi Diet.
Untuk klien dengan kolesistitis akut, tenaga perawatandapat merekomendasikan
memonitor makanan dan cairan atau memodifikasi diet dengan menghindari lemak
tinggi.diet ini mengukur penurunan stimulasi dari kandung empedu dan membantu
pencegahan nyeri, nausea, dan fomitus. Bagi klien dengan mual dan muntah, kompres
perut mungkin diperlukan. Sebuah selang nasogastrik dimasukan pada bagian perut
yang kosong.
Perawat mendorong klien dengan cholecystitis kronis untuk mengkonsumsi diet
rendah lemak untuk menurunkan rangsangan dari kantong empedu. Lebih kecil, lebih
sering makan membantu beberapa klien dalam toleransi makanan dengan lebih baik.

Terapi obat
Untuk klien yang menderita sakit parah, dokter mungkin memberikan analgesik
opioid, seperti meperidine hidroklorida (Demerol), untuk menghilangkan rasa sakit dan
kejang perut. Morfin tidak diberikan karena dapat menyebabkan kejang dari sfingter
Oddi dan meningkatkan dari rasa sakit. agen Antispasmodik, seperti antikolinergik
(misalnya dicyclo-tambang hydrochloride (bentyl, Lomine), dapat digunakan untuk
mengendurkan otot-otot halus, mencegah kontraksi bilier. Penurunan sekresi
meminimalkan kontraksi otot dan membantu dalam mengurangi rasa sakit. The
penyedia layanan kesehatan biasanya menganjurkan Antiemetik, seperti
trimeihobenzamide hydrochloride (Tigan), untuk meringankan mual dan muntah.

Manajemen Bedah
Pembedahan biasa klien pada kolesistitis akut dan kronis adalah cholecystec-tomy,
penghapusan kantong empedu. Dua prosedur operasi dapat diberikan kepada ahli
bedah untuk melakukan kolesistektomi: pendekatan yang tradisional dan laparo-scopic
kolesistektomi laser.

Kolesistektomi tradisional
Penggunaan bedah tradisional melalui pendekatan nasional menurun tajam selama
dekade terakhir. Klien menjalani operasi ini biasanya dirawat di rumah sakit.
Perawatan sebelum operasi. Perawat memberikan perawatan preoperasi di kamar
operasi pada saat hari pembedahan. Perawat memperkuat pengajaran tentang langkahlangkah untuk mencegah komplikasi pernapasan. Untuk meminimalkan perut /
insisional sumbang selama batuk, bernapas dalam-dalam, dan berpaling, perawat belat
menunjukkan metode seperti penggunaan bantal atau blanket yang dilipat. Klien-klien
ini juga rentan terhadap pascaoperasi atelektasis, khususnya orang tua, dan perokok.
Perawat memerintahkan klien dalam penggunaan perangkat sustain maksimal
inspirasation (SMI) seperti spirometer insentif.
Pentingnya mobilisasi dini dalam mencegah komplikasi juga ditekankan. Perawat
menginformasikan kepada klien untuk mengharapkan untuk keluar dari tempat tidur
malam hari setelah operasi.

Prosedur operasi
Dokter bedah tidak hanya menghilangkan kantong empedu melalui sayatan
subcostal hak tetapi juga sering mengeksplorasi saluran bilier untuk kehadiran batu.
Jika saluran empedu dieksplorasi, ahli bedah biasanya menyisipkan T-tabung mengalir
untuk memastikan potensi dari duktus. Trauma pada saluran empedu stimulasi
peradangan, yang dapat menghambat aliran empedu dan berkontribusi kepada stasis
empedu. Selain itu, biasanya dokter bedah yang biasanya memasukan tuba drainase,
seperti Penrose atau Jackson-Prait dram. Tabung drainase diposisikan dalam kantong
empedu untuk mencegah akumulasi cairan. Drainase adalah biasanya serosa cairan
bercampur darah dan lika empedu dalam 24 jam pertama post operasi.

Perawatan post operasi


Nyeri pascaoperasi insisional setelah kolesistektomi tradisional biasanya dicapai
dengan meperidine hydrochloride (Demeroi) menggunakan control pompa analgesic
pasien. Morfin umumnya tidak diberikan karena dapat menyempitkan sfingter Oddi
dan menyebabkan kejang cuctal bilier. Partisipasi Klien untuk batuk dan latihan
pernapasan dalam lebih mudah ketika mengurangi rasa sakit. Oleh karena itu, rencana
keperawatan adalah batuk dan latihan pernapasan saat nyeri optimal.
Antiemetik diperlukan untuk klien dengan episode pascaoperasi mual dan muntah.
Perawat mengadministrasi Antiemetik awal, seperti yang diperintahkan, untuk
mencegah muntah-muntah yang berhubungan dengan muntah untuk mengurangi
timbulnya rasa sakit yang berhubungan dengan tegang otot.
Perawat melakukan perawatan untuk sayatan, bedah saluran, dan tabung T. Dokter
bedah biasanya menghilangkan perban operasi dan mengalir dalam waktu 24-48 jam
setelah pembedahan. T tabung Namun, mungkin tetap di tempat selama 6 minggu atau
lebih.
Klien biasanya tidak dapat memasukkan makanan sekitar 8-24 jam pascaoperasi.
Jika penyakit kandung empedu parah, sebuah tabung nasogastric (NG) menyediakan

kompresi perut selama periode ini. Ketika gerak peristaltik kembali, perawat
melepaskan selang NGT seperti yang diperintahkan. Dokter menempatkan klien pada
diet cairan bening. Perawat secara bertahap meningkatkan diet dari cairan bening ke
makanan padat seperti yang ditoleransi oleh klien. Dalam sehari atau dua hari, klien
meneruskan makanan padat dan dilanjutkan ketika klien pulang ke rumah.
Jumlah lemak diperbolehkan dalam diet klien setelah kolesistektomi tergantung
pada toleransi klien terhadap lemak. Pada awal periode pascaoperasi, jika aliran
empedu dikurangi, diet rendah lemak mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah
mual. Bagi kebanyakan klien, diet khusus tidak diperlukan. Perawat menyarankan klien
untuk makan makanan bergizi dan menghindari asupan lemak yang berlebihan. Jika
klien obesitas, perawat menyarankan sebuah program penurunan berat badan. Perawat
berkolaborasi dengan dokter dan ahli gizi dalam perencanaan yang sesuai diet.

Laparoscopic Kolesistektomi
Laparoscopic kolesistektomi, diperkenalkan pada tahun 1989, telah dengan cepat
diperoleh dalam populasi. Sekarang banyak yang mempertimbangkan alternative lain
oleh ahli bedah dan dilakukan lebih sering daripada tradisional, kolesistektomi terbuka.
Perawatan preoperasi. Prosedur laparoskopi umumnya dilakukan pada pasien rawat
jalan (ambulatory) dasar dalam hari yang sama di ruang operasi. Ahli bedah
menjelaskan prosedure, perawat menjawab pertanyaan dan memperkuat instruksi ahli
bedah. Tidak ada persiapan khusus sebelum operasi untuk klien. Namun, biasa dokter
meminta untuk dilakukan tes laboratorium sebelum operasi dan memastikankan klien
berada pada status NPO sebelum dilakukan operasi.
Prosedur operasi. Dokter bedah membuat sebuah 10-mm garis tengah tusukan di
umbilikus. Rongga perut diisi dengan 3-4 L karbon dioksida. Sebuah kateter torak
terpasang, melalui laparoskopi. Laparoskopi disambungkan pada kamera video dan
bagian-bagian perut terlihat di monitor. Dokter bedah membuat tiga lubang-lubang
kecil yang akan digunakan untuk memperkenalkan laparoskopi forsep untuk
memanipulasi kandung empedu. Laser digunakan untuk membedah kantong empedu
yang letaknya jauh dari hati dan untuk menutup dari kistik arteri dan salurannya. Ahli

bedah memindahkan kantong empedu dan mengambilnya melalui salah satu tusukan
garis tengah.
Perawatan pascaoperasi. Memindahkan kantong empedu dengan teknik laparoskopi
mengurangi risiko komlikasi luka. Beberapa klien memiliki masalah dengan "tekanan
udara bebas" dari retensi karbon dioksida di perut. Perawat mengajarkan klien
pentingnya mobilisasi awal untuk mempercepat penyerapan karbon dioksida. Efek
opioid analgesik akan hilang dalam jangka waktu yang cukup lama setelah prosedur
laparoskopi. Setelah operasi laparoskopi, klien dapat kembali ke kegiatan biasa,
termasuk bekerja, jauh lebih cepat daripada operasi kolesistektomi. Kebanyakan klien
dapat melanjutkan kegiatan seperti biasa dalam waktu 1-3 minggu.

Clinical Pathway untuk Laparoskopi Kolesistektomi


Aspek
perawatan

Preoperasi

Preoperasi/DOS

Pengkajian

Pemeriksaan
fisik

Pendidikan

Pendidikan
Mengajar/demonstr Review
oleh
dokter; asi ulang, batuk, dan informasi
review
napas dalam.
pemulangan
:
control
nyeri,
aktivitas,
perawatan
luka
dan
komplikasi.

Pemeriksaan
preoperasi,
pengkajian
keperawatan,
pengkajian
psikososial.

Pascaoperasi
Tanda-tanda
vital, intake
dan output;
kaji: perut,
bising usus,
nyeri, bunyi
napas, insisi

Konsultasi

Anestesi jika
diindikasikan;
pekerja sosial,
ahli
diet,
pembimbing
rohani

Tes
laboratoriu
m dan tes
diagnostik

CBC, EKG jika


usia>
40
tahun; hati /
pankreas layar

Obat

Mengkaji
alergi;
mengidentifika
si pengobatan
di rumah

Medikasi
sebelum Analgesik,
operasi diambil di Antimuntah
rumah;
IVF
antibiotik
sesuai
aturan rumah sakit.

Perawatan
/ intervensi

NPO
setelah
tengah malam

Tinggikan
kepala
tempat
tidur; BandAid, batuk,
dan napas
dalam;
dukungan
emosional
Dorong
cairan,
makanan
padat sesuai
pilihan
klien.

Aktivitas

Aktivitas
khusus

Mobilisasi
dini

Discharge
Planning

Tentukan
kebutuhan:
transportasi,
keuangan,

Pengaturan
yang dibuat
berdasarkan
kebutuhan

Jika
diindikasika
n: CBC, H &
H

kesehatan
rumah

sebelum
operasi;
tindak lanjut
menunjuk
pada MD

Diadaptasi dari klinis path: Outpatient laparoskopi cholecystectomi. 1995. ST


Joseph's Hospital, Asheville, NC dan Ignatavicius, DD. & Hausman, K. A. (1995).
Clinical pathway / jalur untuk praktik kolaboratif. Philadelphia: VV. B. Saunders.

1) Perawatan lanjutan
a) Pendidikan kesehatan
Bagi klien dengan kolesistektomi, discharge mengajar bagi klien dan keluarga mungkin
termasuk:
manajemen nyeri
terapi diet
luka dan perawatan insisi
pembatasan kegiatan
Komplikasi
Kebutuhan untuk perawatan kesehatan lanjutan.
Dalam mengajar pascaoperasi dan discharge planning, perawat harus menyertakan
pasangan yang mendukung, anggota keluarga, atau orang penting lainnya untuk
memberikan penguatan informasi dan untuk membantu klien dalam menaati rencana
pengobatan.
Diet terapi untuk klien yang telah memiliki kolesistektomi didasarkan pada toleransi
klien terhadap lemak. Sebuah diet khusus mungkin tidak diperlukan. Dalam kasus ini,
perawat menyarankan klien untuk makan bergizi, makanan seimbang. Jika klien
memiliki toleransi buruk terhadap lemak, perawat menganjurkan diet rendah lemak
dan menyediakan daftar makanan yang harus dihindari klien dan keluarga. Para ahli
gizi dapat menyediakan pedoman menu perencanaan. Beberapa klien perlu menjaga
diet rendah lemak untuk 6 bulan atau lebih. Mereka disarankan untuk menambahkan
makanan berlemak ke makanan perlahan-lahan dan sebagai ditoleransi.

Jika klien punya masalah besar toleransi tiga kali makan sehari, perawat
menyarankan klien untuk mencoba makanan lebih kecil, lebih sering makan. Sebuah
diet penurunan berat badan disarankan untuk klien obesitas, dan diet sesuai ajaran
untuk memberikan pedoman dan rekomendasi diet.
Setelah kolesistektomi tradisional, klien akan meninggalkan rumah sakit setelah
operasi lebih cepat daripada di masa lalu. Beberapa klien akan dikirim pulang dengan
T-tabung sistem drainase utuh. Perawat memerintahkan klien dan satu atau lebih
anggota keluarga untuk memeriksa luka sayatan dan drainase T-tabung, tanda-tanda,
dan gejala inflamasi. Tanda-tanda dan gejala termasuk kemerahan, pembengkakan,
kehangatan, kelembutan ekstrim, drainase yang berlebihan, dan luka insisi. Setiap
temuan ini harus dilaporkan kepada dokter atau perawat. Perawat memberikan klien
instruksi lisan dan tertulis untuk perawatan tabung drainase.

b) Manajemen home care


Setelah kolesistektomi tradisional, klien biasanya membutuhkan bantuan jangka
pendek dalam pengadaan makanan, menyiapkan makanan, melakukan perubahan
pakaian, dan merawat T tabung. Klien yang telah menjalani operasi kandung empedu
tradisional mungkin juga perlu transportasi untuk menindaklanjuti perjanjian dengan
penyedia layanan kesehatan. Dokter bedah ini biasanya memungkinkan klien untuk
kembali ke kegiatan seperti biasa 4-6 minggu setelah pembedahan.

c) Health Care Resources


Untuk klien di rumah dengan T tabung atau untuk klien lanjut usia lanjut yang tidak
dapat mengelola perawatan diri, perawatan rumah perawat mungkin diperlukan untuk
memberikan dukungan dan tindak lanjut perawatan dan mengajar. Perawat perawatan
rumah menilai adaptasi klien terhadap rencana pengobatan dan penyembuhan luka dan
mengevaluasi integritas T-tabung sistem drainase. Perawatan rumah Perawat juga
menentukan kebutuhan untuk lebih lanjut luka dan perawatan kulit intervensi dan
penerapan intervensi yang diperlukan ini.

B. Kolelitiasis
Kehadiran satu atau lebih batu empedu, adalah gangguan yang paling umum dari
saluran bilier. Di lebih dari 90% dari klien dengan kolesistitis, penyebab peradangan
adalah stasis cairan empedu yang dihasilkan dari tumpukan kistik dari duktus oleh batu
empedu. Kolesistitis kronis terjadi ketika episode berulang dari obstruksi saluran kistik
mengakibatkan radang kronis.

1.

Patofisiologi
Perubahan konsentrasi dalam empedu atau dalam stasis empedu melalui kantung
empedu. Batu empedu bisa berada di dalam kantong empedu atau mungkin pindah ke
area lain dari cabang bilier. Batu bisa bermigrasi dan bisa berpindah ke bagian atas
kantung empedu, saluran sistik, atau saluran empedu, yang dapat menyebabkan
obstruksi. Batu empedu mengganggu atau sama sekali menghambat aliran empedu yang
normal dari kantung empedu ke duodenum, menyebabkan hambatan vaskuler sebagai
akibat dari tersumbatnya vena. Edema dan sumbatan berperan dalam terjadinya
inflamasi. Saat empedu tidak dapat melewati kantung empedu, empedu yang menetap
tersebut menyebabkan iritasi lokal dari batu empedu dan akhirnya menyebabkan
kolesistitis.
Kolangitis, biasanya dihubungkan dengan koledokolitiasis (biasa disebut saluran
batu empedu) menyebabkan infeksi saluran empedu. Setelah terjadi kolangitis, terjadi
peradangan pada cabang bilier, terjadi setelah invasi bakteri saluran. Invasi bakteri
dapat mengakibatkan mengancam hidup suppurative kolangitis ketika gejala tidak
diketahui secara cepat dan pus terakumulasi dalam sistem duktal.

2. Jenis Batu Empedu


Kantong empedu menyediakan lingkungan yang sangat baik untuk produksi batu
empedu. Secara terpisah, kadang-kadang kantong empedu hanya mencampur mukus
yang banyak dan sangat kental, dikonsentrasikan oleh empedu. Suhu yang tetap di
dalam kantong empedu berkontribusi pada pembentukan batu dengan menunda
pengosongan empedu, menyebabkan bilier statis.

Batu empedu terdiri dari zat-zat yang biasanya ditemukan di empedu, seperti
kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, dan berbagai protein. Batu digolongkan
baik sebagai batu kolesterol atau batu pigmen.
Bentuk batu kolesterol sebagai hasil metabolik yang tidak seimbang antara
kolesterol dan garam empedu. keduanya adalah tipe yang paling umum ditemukan pada
orang di Amerika Serikat.
Batu pigmen yang kecil, berwarna cokelat atau hitam, dan biasanya terjadi dalam
tingkatan sebagai hasil dari metabolisme yang tidak seimbang dari bilirubin. Batu
pigmen hitam terdiri dari kalsium bilirubin dan paling sering ditemukan batu-batu
pigmen pada klien di Amerika.

3. Etiologi
Tampaknya ada sebuah faktor keturunan dalam pengembangan dari kolelitiasis,
tapi hal ini mungkin terkait dengan kebiasaan makan keluarga (berlebihnya konsumsi
kolesterol) dan gaya hidup di beberapa keluarga. Frekuensi terjadinya batu empedu
lebih sering terjadi pada klien obesitas, kemungkinan sebagai akibat dari gangguan
metabolisme lemak. Orang yang mengkonsumsi rendah kalori atau diet tinggi protein
juga dapat menyebabkan batu empedu. Diet ini menyebabkan pembebasan kolesterol
dari jaringan; kolesterol diekskresikan sebagai kristal di empedu.

4. Pertimbangan Kesehatan Wanita


Kehamilan cenderung memperburuk batu ginjal. Kehamilan dan obat-obatan,
seperti estrogen dan pil KB, mengubah kadar hormon dan menunda kontraksi otot
kandung empedu, menyebabkan penurunan tingkat pengosongan empedu. Insiden batu
empedu lebih tinggi pada wanita yang telah memiliki banyak kehamilan. Kombinasi
dari faktor-faktor penyebab meningkatkan terjadinya pembentukan batu, terutama
pada wanita. Sebagai contoh, seorang wanita hamil yang obesitas atau wanita obesitas
yang minum pil KB mungkin berada pada risiko yang lebih tinggi.

kolelitiasis dilihat dengan kelainan darah hemolitik, dengan penyakit usus seperti
penyakit Crohn dan setelah operasi bypass jejunoileal sebagai perawatan dari
penurunan obesitas. Pembentukan batu dan kolesistitis juga sering terjadi pada klien
dengan diabetes tipe 1.

Insiden / Prevalensi
kolelitiasis adalah lazim di negara maju, dengan kejadian 10% -20%. Insiden lebih
tinggi pada wanita dibandingkan pada pria. Klien pria yang menderita kolelitiasis
biasanya terjadi pada usia 50 tahun atau lebih. Kolelitiasis telah didiagnosa di lebih dari
20 juta orang di Amerika Serikat, dan 1 juta kasus baru dilaporkan setiap tahun. Dua
pertiga orang dengan batu empedu juga mengalami kolesistitis kronis (Greenberger &:
Isselbacher, 1994; Huether et al., 1996).

5.

Pertimbangan Transkultural
Kaukasia dan penduduk asli Amerika, khususnya masyarakat dari suku-suku Navajo
dan Pima, memiliki insiden yang lebih tinggi dalam kasus batu empedu, meskipun
gangguan juga terjadi di Asia-Amerika dan Afrika-Amerika (i.Giger & Davidhizar, 1995).

6. Manajemen Kolaborasi
a. Pengkajian
Data dasar historis yang sama dapat diperoleh bagi klien dengan kolesistitis dan
kolelitiasis.
1) Pemeriksaan Fisik / Manifestasi Klinik
Beratnya rasa sakit dan presentasi gejala pada klien dengan kolelitiasis tergantung
pada:
Apakah batu diam atau berpindah
Ukuran dan lokasi dari batu
Tingkat gangguan

Kehadiran dan tingkat peradangan awal.


Rasa sakit kolelitiasis biasanya stabil, sakit ringan yang terletak di daerah
pertengahan epigastrium. Hal ini dapat meningkatkan intensitas dan durasi dan dapat
menyebar ke kanan bahu atau punggung.
Sakit yang parah kolik bilier dihasilkan oleh obstruksi dari duktus kistik kantong
empedu. Ketika sebuah batu bergerak melalui atau dalam saluran, kejang jaringan
terjadi dalam upaya untuk memobilisasi batu melalui saluran kecil. Rasa sakit yang
hebat ini bisa begitu parah sehingga disertai dengan takikardi, pucat, diaphoresis, dan
kelelahan ekstrem.
Salah satu manifestasi klinis pada kolesistitis akut atau kronis dapat terjadi dalam
cholelithiasis. Klien dengan kolesistitis kronis dan obstruksi duktus akut mungkin
mengalami rasa sakit luar biasa. Dari bilier kolik juga. Pada inspeksi, perawat dapat
mengamati penyakit kuning pada kulit, sclera, atas langit-langit mulut, dan selaput
lendir mulut. Jika batu empedu menutup jalan saluran empedu yang umum, radang
parah berkepanjangan dan kerusakan hepatic mungkin juga terjadi.

2) Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada tes laboratorium khusus untuk kolelitiasis. Seperti di kolesistitis, alkali
fosfatase serum, laktat dehidrogenase, aspanate aminotransfernse, dan langsung dan
tidak langsung tingkat bilirubin dapat meningkat. Pemeriksaan spesimen tinja acak
mengungkapkan tidak ada atau rendahnya tingkat urobilinogen dalam tinja.
Menunjukkan proses obstruksi.

3) Pemeriksaan Radiograpi
Empedu mudah divisualisasikan di abdomen dengan pemeriksaan sinar-X.
Cholecystogram lisan merupakan diagnostik ketika batu radiopaque. Dokter dapat
memerintahkan intravena (IV) cholecystography (atau cholangiograpy) untuk klien
yang tidak mampu menyerap agen kontras lisan. Ultrasound dapat dipesan sebagai tes
skrining. Kandung empedu dan sistem duktus diuraikan, dan sekarang batu-batu yang
divisualisasikan.

Perkutan transhepatic cholangiography adalah fluoroscopic pemeriksaan dari


saluran bilier dan dapat digunakan untuk mendiagnosa dan memvisualisasikan lokasi
ikterus obstruktif batu di saluran.

4) Pemeriksaan Diagnostik Lain


USG dari kandung empedu sekarang dianggap sebagai pilihan untuk
mengkonfirmasikan diagnosis cholelithiasis dan membedakan antara obstruktif dan
nonobstruktif ikterus. USG dari kandung empedu dilaporkan 95% akurat dalam
mendeteksi batu empedu.

b. Intervensi
Penyedia perawatan kesehatan mendukung perawatan medis untuk klien dengan
kolelitiasis sebagai alternatif untuk perawatan pra operasi pengangkatan kantong
empedu dan batu empedu.

Manajemen non-bedah
Beberapa batu empedu tidak menghasilkan masalah atau menyebabkan rasa sakit.
Sakit akut batu empedu terjadi ketika batu pindah ke saluran atau sebagian atau
seluruhnya menghambat saluran. Langkah-langkah yang bertujuan untuk
mengistirahatkan kandung empedu yang meradang adalah sama dengan yang dibahas
sebelumnya untuk kolesistitis.

Terapi diet
Secara umum, klien harus mengkonsumsi makanan rendah lemak untuk mencegah
rasa sakit lebih lanjut kolik bilier. Jika batu empedu menyebabkan sumbatan aliran
empedu, penyedia layanan kesehatan mengganti vitamin salut lemak seperti vitamin A,
D, E, K, dan administrasi garam empedu untuk memfasilitasi pencernaan dan
penyerapan vitamin. Makanan dan cairan yang dihentikan jika mual dan muntah
terjadi.

Terapi obat
Nyeri disebabkan oleh obstruksi akut dengan batu empedu opioid memerlukan
analgesia dengan meperidine hidroklorida (Demerol). Morfin tidak digunakan karena
dapat menyebabkan kejang bilier dan menyempitkan sfingter oddi. Obat-obatan
antispasmodik atau antikolinergik, seperti dicyclomine hydrochloride dapat diberikan
untuk relaksasi otot-otot halus dan mengurangi tekanan duktus dan kejang-kejang.
Penyedia pelayanan kesehatan memberikan antiemetik untuk mengontrol mual dan
muntah.
Terapi asam empedu telah efektif dalam melarutkan batu empedu tergantung pada
jenis batu. Chenodeoxy-cholic acid (CDCA; chenocliol; Chenix) mengurangi batu
kolesterol dengan mempertahankan jumlah normal kelarutan kolesterol di empedu.
Chenodiol kemungkinan efektif dalam melarutkan batu-batu kecil (kurang dari 5 mm),
tetapi batu-batu besar (lebih besar dari 2 cm) biasanya tidak dapat dilarutkan (Kowdley,
1996). Perawatan ini biasanya diperuntukkan bagi klien lanjut usia yang ringan atau
tanpa gejala penyakit batu empedu dan mereka yang rendah risiko bedah. Sayangnya,
mungkin diperlukan waktu hingga 2 tahun untuk melarutkan batu empedu. Obat ini
mahal dan batu dapat kambuh jika klien tidak dipertahankan pada dosis obat yang
rendah untuk jangka waktu yang lama. Perawat mengobservasi dan melaporkan untuk
diare, yaitu efek samping yang umum dari terapi chenodiol.
Ursodiol telah disetujui di Amerika sebagai antikolelitik agen sejak tahun 1988. Obat
ini melarutkan batu empedu kolesterol kecil (kurang dari 20 mm). Seperti halnya untuk
chenocliol, ursodiol dapat melarutkan selama 4 bulan sampai 2 tahun untuk melarutkan
batu empedu. Selain itu, hingga dalam 50% dari klien, batu kambuh dalam waktu 5
tahun. Oleh karena itu, perawatan yang terbaik bagi klien yang ringan atau manifestasi
klinis jarang terjadi, mereka yang menolak operasi, atau klien yang memiliki resiko
untuk dioperasi.
Ikterus obstruktif di kolelitiasis disebabkan oleh empedu yang mengalir melalui
saluran empedu sebagai akibat dari obstruksi batu empedu. Hal ini dapat
mengakibatkan jumlah garam empedu yang berlebihan di kulit. Akibatnya, pruritus
yang berat dapat terjadi. Cholestyramine resin (Questran) berikatan dengan asam
empedu dalam usus, membentuk garam empedu yang dikeluarkan dalam tinja,
menghilangkan garam empedu yang berlebihan dan penurunan gatal. Perawat

mencampur bentuk obat bubuk dengan jus atau susu. Itu diberikan sebelum makan dan
sebelum tidur.
Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy. Extracorpo-nyata gelombang kejut
Lithotripsy adalah prosedur non-invasif yang sering digunakan sebagai perawatan
ambulatori klien dengan batu empedu di beberapa pengaturan. Sebuah mesin, sebuah
lithotriptor, kuat menghasilkan gelombang kejut untuk menghancurkan batu empedu.
Klien yang memenuhi persyaratan untuk prosedur ini harus memiliki tiga atau lebih
sedikit batu (berukuran antara 5 dan 30 mm), memiliki fungsi kandung empedu, dan
tidak memiliki riwayat penyakit hati atau pankreas. Klien yang memiliki alat pacu
jantung atau yang sedang hamil tidak tanggal diperbolehkan mengikuti Lithotripsy.
Selama prosedur tersebut, sampai 1500 guncangan akan diulang sampai batu
empedu benar-benar terpecah. Partikel menit kemudian dapat melakukan perjalanan
melalui duktus bilier sistem yang akan dikeluarkan melalui usus. Karena pengalaman
beberapa klien dengan rasa sakit seperti kejang kandung empedu terjadi dalam upaya
untuk mengeluarkan batu kecil, dokter dapat menggunakan IMR vena (IV) sedasi sadar
dengan fentanyl sitrat (Alterta, Sublimaze) atau pertengahan azolam hydrochloride
(pandai).
Makan dan minum diperbolehkan hampir segera setelah prosedur.
Perawat menginformasikan klien bahwa nyeri kuadran kanan atas setelah prosedur ini
tidak umum dan biasanya hilang dalam 2 hari. Acetaminophen (Tylenol, Exdol )
memberikan analgesia cukup untuk mengurangi rasa sakit ini.
Insersi kateter perkutan transhepatik bilier. Dokter bisa menyisipkan perkutan
transhepa-tic bilier fluoroscoptc kateter di bawah arahan fluoroskopi. Prosedur ini
mengurangi terhambat extrahepatic saluran empedu sehingga dapat mengalir. Hal ini
terutama digunakan untuk operasi hepar terbuka, pancreas. Hal ini merupakan
alternative non-bedah untuk perawatan obstruksi empedu yang disebabkan oleh
disfungsi hepar.
Transhepatic bilier cathetemation. dioperasi hati, pankreas, atau karsinoma saluran
empedu. Ini mungkin sebuah nonsurgical alternatif untuk pengobatan obstruksi bilier
yang disebabkan oleh batu empedu dan fungsi hepatik berhubungan dengan ikterus
obstruktif dan sepsis bilier dalam calon berisiko tinggi.

Manajemen Bedah
Salah satu dari beberapa prosedur yang dapat diindikasikan dalam perawatan bedah
cholelithiasis. Cholecystotomy (pembukaan ke empedu kandung kemih) bisa menjadi
prosedur darurat untuk menghancurkan batu empedu. Prosedur ini sering dilakukan
untuk orang tua sakit kritis atau klien dengan gangguan multi masalah mengancam
hidup yang mungkin tidak menahan piolonged prosedur operasi. Jika batu-batu yang
terletak di saluran empedu, sebuah choledocholithotomy (sayatan ke dalam saluran
empedu untuk membuang batu) diperlukan. Jika saluran empedu dieksplorasi, ahli
bedah menyisipkan T-tabung mengalir ke saluran untuk memastikan patency sampai
edema mereda dan memungkinkan koleksi drainase empedu yang berlebihan.
Sederhana, tradisional kolesistektomi. Kolesistektomi atau laparoskopi
dilakukan ketika batu terbatas pada kantong empedu. Saluran empedu umum dan
saluran berdekatan dieksplorasi untuk adanya tambahan batu atau pecahan batu dan
kristal dalam prosedur pembedahan tradisional.
Setelah kolesistektomi dengan penempatan T-tabung, dokter bedah dapat
meresepkan obat untuk merangsang produksi dan empedu mengalir dari hati. Aliran
empedu merangsang proses pencernaan dan penyerapan lemak, vitamin yang larut
dalam lemak, dan kolesterol dalam duodenum. Obat hydrocholeretic, seperti asam
dehydrocholic (Decholin, Cholan-HMB) yang sintetik garam empedu, meningkatkan
kelarutan kolesterol. Peningkatan kelarutan mencegah akumulasi kolesterol di empedu,
sehingga mengurangi terulangnya bilier kalkuli dan mempromosikan drainase
(berpotensi terinfeksi) empedu melalui T-tube sistem drainase.
Sebuah pascaoperasi T-tabung cholangiogram dapat mengidentifikasi ulang batu.
Langsung divisualisasi dari saluran bilier dengan endoskopi (IHI) memungkinkan
pemindahan kalkuli IHE dipertahankan dalam saluran empedu. Choledochoscopy T
dilakukan melalui tabung atau sayatan ke empedu. Jika metode ini gagal, sebuah
fiberoptic endoskopi akan dimasukkan ke duodenum.

Perawatan Lanjutan
Perawat memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang potensi
postcholecysiectomy syndrom. Manifestasi klinis penyakit saluran bilier terjadi setelah
kolesistektomi dalam persentase kecil. Sindrom Postcholecystectomy disebabkan oleh
residu atau rutin kalkuli atau peradangan atau penyempitan dari saluran empedu.
Perawat memerintahkan klien untuk melaporkan gejala-gejala penyakit saluran
bilier ke dokter atau perawat, termasuk penyakit kuning pada kulit atau sclera, urin
gelap, tinja berwarna terang, rasa sakit, demam, atau menggigil.

C. Kanker Gallbladder
Kanker primer kantong empedu jarang terjadi. Adenokarsinoma dan karsinoma
sel skuamosa kantong empedu terjadi untuk sebagian besar kanker kantong empedu.
Mereka biasanya menyusup ke hati dan saluran, serta kandung empedu. Karsinoma
kandung empedu jarang terjadi ini, muncul lebih sering pada klien dengan kolesistitis
kronis dan kolelitiasis.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Diagnosis kanker kandung empedu sulit. Gejala awal yang berbahaya dalam
onset dan mirip dengan kolesistitis kronis dan kolelitiasis. Karakteristik tanda-tanda
dan gejala termasuk:
Anoreksia
Penurunan berat badan
Mual
Muntah
Malaise
Ikterus
Hepatosplenomegali
kronis, semakin parah epigastrium atau nyeri kuadran kanan atas.
Seorang cukup lembut, tak beraturan mungkin teraba massa. Sering kali,
karsinoma kandung empedu ditemukan selama cholecystography lisan untuk diagnosis
kolisistitis atau selama kolesistektomi.

Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien dengan
kolelitiasis simtomatik. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi
adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.7
Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan
sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopik.
Delapan puluh sampai sembilan puluh persen batu empedu di Inggris
dibuang dengan cara ini. Kandung empedu diangkat melalui selang yang
dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut.7 Kolesistektomi
laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan
sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopik.
Delapan puluh sampai sembilan puluh persen batu empedu di Inggris
dibuang dengan cara ini. Kandung empedu diangkat melalui selang yang
dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut.7

a. Definisi
Suatu tindakan pembedahan dengan cara mengangkat kandung empedu dan
salurannya dengan cara membuka dinding perut.
b. Ruang lingkup
Sebagian besar penderita batu kandung empedu tidak memberikan gejala klinis.
Sebagian kecil mengalami kolik bilier, kolesistitis, empyema, dan obstruksi ikterus.
c. Indikasi operasi

Penderita dengan simtomatik batu empedu yang telah dibuktikan secara imaging
diagnostic terutama melalui USG abdomen.

Penderita kolesterolosis simtomatik yang telah dibuktikan melalui USG abdomen.

Adenomyomatosis kantung empedu simtomatik.

d. Kontra indikasi
Kontra indikasi absolut

Koagulopati yang tidak terkontrol

Penyakit liver stadium akhir

Penyakit Paru obstruktif berat dan penyakit jantung kongestif berat

Kontra indikasi relatif (tergantung keahlian operator)

Cirrhosis hepatis

Obesitas

Kolesistitis akut

Gangrene dan empyema gall bladder

Biliary enteric fistula

Kehamilan

Ventriculo-peritoneal shunt (VP-shunt)

e. Diagnosis Banding

Ulcus peptikum

Hernia nasal

Tumor lambung

Tumor Gallblader

f. Pemeriksaan Penunjang
Laboratoris : DL, Fungsi hepar, USG, MRCD
Teknik Operasi
1. Insisi dinding anterior abdomen subcostal kanan, dapat juga insisi paramedian kanan
2. Eksplorasi untuk melihat adanya kelainan lain
3. Klem fundus kantong dan didorong keatas Hartmann-klem pouch dan ditarik ke
bawah
4. Identifikasi dan isolasi arteri sistika dan duktus sistikus
5. Setelah dibebaskan dari jaringan sekitarnya diikat dengan sutera 00 dan dipotong
6. Kantong empedu dibebaskan dari hepar secara tajam dengan gunting dengan
merawat perdarahan secara cermat

7. Evaluasi duktus koledokus tak ada kelainan


8. Luka laparotomi ditutup
Dapat juga dilakukan kolesistektomi secara retrograde, dimulai dari fundus ke
arah segitiga Calot. Perdarahan biasanya lebih banyak.
g. Komplikasi operasi

cedera ductus koledokus

cidera duodenum atau colon transversum

fistel biliaris

abses subdiafragma

batu residual duktus biliaris

h. Mortalitas
Kurang dari 1%
i. Perawatan Pasca Operasi
Pasca bedah penderita dirawat di ruangan 3-4 hari, diobservasi komplikasi seperti nyeri
pasca operasi, gangguan motilitas usus. Setelah pasase usus baik penderita bisa mulai
diet per oral.
j. Follow-up
Harus diwaspadai dari timbulnya post chalecystektomy syndrom yang dapat berupa:
kekambuhan batu kandung empedu, papillary stenosis, atau adanya penyakit.

Algoritma Batu Empedu

a. Definisi
Suatu tindakan operasi pengangkatan kantong empedu dengan cara invasive minimal
melalui endoskopik (laparoskopik)
b. Indikasi

Penderita dengan simtomatik batu empedu yang telah dibuktikan secara imaging
diagnostic terutama melalui USG abdomen

Penderita kolesterolosis simtomatik yang telah dibuktikan melalui USG abdomen

Adenomyomatosis kantung empedu simtomatik

c. Kontra indikasi absolut

Peritonitis

Obstruksi usus

Koagulopati yang tidak terkontrol

Hernia diafragmatik yang besar

Penyakit Paru obstruktif berat dan penyakit jantung kongestif berat

d. Kontra indikasi relatif (tergantung keahlian operator)

Cirrhosis hepatis

Riwayat operasi abdomen dengan adhesi

Kolesistitis akut

Gangrene dan empyema gall bladder

Biliary enteric fistula

Kehamilan

Ventriculoperitoneal shunt

Teknik Operasi
1. Penderita dalam posisi supine dan dalam narkose
2. Desinfeksi pada dada bagian bawah dan seluruh abdomen.
3. Dilakukan insisi lengkung di bawah umbilikus sepanjang 20 mm, insisi diperdalam
secara tajam dan tumpul sampai tampak linea alba.
4. Linea alba dipegang dengan klem dan diangkat, dibuat incisi vertikal sepanjang 10
mm

5. Dengan trokar peritoneum ditembus dan dimasukkan port lalu dimasukkan CO 2 ke


dalam kavum abdomen untuk menimbulkan pneumoperitoneum sehingga abdomen
cembung.
6. Melalui port umbilikal dimasukkan videoscope ke dalam cavum abdomen.
7. Tiga buah trocart dimasukkan dengan memperhatikan secara langsung tempat
penetrasi intra abdomen.
Trocart I dimasukkan di epigastrium 5 cm di bawah procesus xyphoideus dengan
penetrasi intraabdomen di sebelah kanan ligamentum falciforme
Trocart II dimasukkan pada kwadaran kanan atas abdomen beberapa cm di bawah
costa terbawah pada linea midclavicula.
Trocart III dimasukkan pada kuadran kanan atas setinggi umbilikus di sebelah lateral
dari trocart kedua. (gambar).
8. Posisi pasien diubah menjadi Anti Trendelenburg ringan (10-15) dan sedikit miring
ke kiri.
9.
Gall bladder dipegang dengan grasper/forcep dari port lateral (4), kemudian
didorong ke arah superior dan dipertahankan pada posisi ini.

Gambar Tempat Port Laparoskopik

10. Infundibulum dipegang dengan grasper dari port medial (3) dan ditraksi ke arah
caudal. Disecting forceps dimasukkan dari port epigastrium (2) dan jaringan di sekitar
duktus sistikus dan arteri sistika disisihkan sampai kedua struktur tersebut tampak
jelas.

11. A. Sistika dijepit dengan metal clip di bagian distal dan dua buah metal klip di
bagian proksimal kemudian dipotong.
12. Duktus sistikus yang telah terlihat jelas dijepit dengan metal clip sedekat mungkin
dengan kandung empedu. Duktus sistikus bagian proksimal dijepit dengan dua buah
metal clip dan dipotong. (hati-hati jangan menarik infundibulum keras, dapat menjepit
duktus koledokus)
13. Videoscope dikeluarkan dari port umbilikus dan dipindah ke port epigastric.
14. Kantong empedu dibebaskan dengan menarik dengan grasping forceps dari porte
umbilikalis (1)
f. Mortalitas
Mortalitas pasca kolesistektomi laparoskopik 0,1%
g. Perawatan pasca bedah
Pasca bedah penderita dirawat di ruangan 3-4 hari, diobservasi komplikasi seperti nyeri
pasca operasi, gangguan motilitas usus. Setelah pasase usus baik penderita bisa mulai
diet per oral.