Anda di halaman 1dari 8

Berita Acara Presentasi Portofolio

Pada hari ini hari, tanggal 20 Februari 2015 telah dipresentasikan portofolio oleh:
Nama

: dr. Theofilus Ardy Pradhana

Judul/ topik

: Menyelamatkan pasien (non-maleficence)

No. ID dan Nama Pendamping

: dr. Indrayati/dr. Ken

No. ID dan Nama Wahana

: RSUD dr. R. Soetijono Blora

Nama Peserta Presentasi


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

No. ID Peserta

Tanda Tangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.
Pendamping

dr. Indrayati/dr.Ken

Nama Peserta : dr. Theofilus Ardy Pradhana


Nama Wahana : RSUD dr. R. Soetijono, Blora
Topik
: Non maleficence
Nama Pasien : Ny. X
Tanggal Presentasi :
Nama Pendamping :

20 Februari 2015
dr. Ken M., dr. Indrayati
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD dr. Rehatta
Obyek Presentasi
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Deskripsi :

Tinjauan pustaka
Istimewa
Lansia
Bumil

Wanita, 35 tahun, datang dengan keluhan tidak sadar post kecelakaan lalu lintas 30 menit yang
lalu. Pasien datang diantar oleh polisi dan pasien tidak membawa identitas apa pun. Pasien
datang dengan kondisi keluar darah dari telinga kanannya. Mata kanan bengkak dan luka lecet
di tangan dan kakinya serta terdapat deformitas di lengan kanan pasien. Pasien butuh
penanganan segera namun tidak ada keluarga yang dapat dimintai persetujuan tindakan.
Tujuan :
Menerapkan kaidah dasar bioetik sebagai landasan pengambilan tindakan medis pada kasuskasus emergency.
Tinjauan pustaka
Bahan bahasan :
Diskusi
Cara membahas :
Data pasien :
Nama klinik :
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran klinis :

Riset
Presentasi dan diskusi

Kasus
Email

Audit
Pos

Nama : Ny. X
Telepon :

Cedera Kepala Berat. Keadaan umum koma dengan GCS E2V2M3, Nampak perdarahan
dari telinga kanan. Hematom di mata kanan (+). Luka lecet di kedua tangan dan kaki.
Deformitas di lengan kanan (+).
2. Riwayat pengobatan :
Pasien belum memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan.
3. Riwayat kesehatan / Penyakit :
Riwayat trauma sebelumnya disangkal. Riwayat operasi disangkal.
4. Riwayat Keluarga :
Riwayat hipertensi dan kencing manis disangkal.
5. Riwayat pekerjaan dan pendidikan :
Pasien adalah seorang pedagang sayur di pasar. Pendidikan terakhir adalah Sekolah
Dasar. Kesan ekonomi kurang mampu.
6. Pemeriksaan fisik yang bermakna :
Kesan Umum: Keadaan umum: koma
Kesadaran: GCS E2V2M3
Tanda-tanda Vital: TD : 98/64 mmHg

Nadi : 58x/menit
RR : 15x/menit
Suhu : 36oC
SpO2 : 74%
Mata : hematom (-/+), pupil anisokor (+), Reflek cahaya (+/+) kanan melambat
Telinga : otorea (-/+)
Hidung : rhinorea (-/-)
Mulut : sianosis (-)
Paru : Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Palpasi : fremitus raba kanan = fremitus raba kiri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronki (-/-)
Jantung : Inspeksi : iktus kordis tak tampak
Palpasi : iktus kordis tak kuat angkat
Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : BJ I-II regular, bising (-)
Ekstremitas : sianosis perifer (-), ekskoriasi (+), deformitas di lengan kanan (+)
7. Pemeriksaan laboratorium :
Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium
Daftar pustaka :
1. Thomas A. Shannon. Penghantar Bioetika. Penerbit PT Gramedia PustakaUtama, Jakarta.
2. Hanafiah, J., Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed).
Jakarta: EGC.
3. Ratna Suprapti Samil. Etika Kedokteran Indonesia. Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia.
4. Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja . Penulis : Prof.Dr.dr Daldiyono
5. http://www.scribd.com/doc/24874678/Etika-Kedokteran-Dr-ulfa
Hasil pembelajaran :
1. Teori bioetik
2. Penerapan kaidah dasar bioetik dalam pengambilan keputusan kasus emergency
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio :
1. Subyektif :
Pasien datang dengan keluhan tidak sadar post kecelakaan lalu lintas yang dialami 30
menit sebelum masuk rumah sakit. Terdapat perdarahan keluar dari telinga kanannya.

Terdapat luka lecet di kedua tangan dan kaki pasien serta terdapat deformitas di lengan
kanan pasien.
2. Obyektif :
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum koma, GCS E2V2M3, TD : 98/64, nadi
58 kali permenit, laju pernapasan 15 kali permenit, suhu 36oC per aksila.
Pada pemeriksaan status generalis, terdapat hematom di mata kanan (+), pupil anisokor
(+), reflek cahaya pada pupil mata kanan dan mata kiri tidak simetris. Pada telinga
terdapat otorea.
Pada pemeriksaan paru dari inspeksi tak tampak retraksi, palpasi didapatkan fremitus
raba kanan sama dengan kiri, perkusi didapatkan bunyi sonor di kedua lapang paru,
auskultasi didapatkan suara vesikuler di kedua lapang paru dan tidak didapatkan bunyi
paru tambahan ronki (-/-) maupun wheezing (-/-).
Pemeriksaan jantung dari inspeksi tak tampak iktus kordis, palpasi pun tidak didapatkan
iktus kordis kuat angkat, perkusi didapatkan kesan batas jantung dalam batas normal,
auskultasi didapatkan BJ I-II regular dan bising (-).
Pada ekstremitas terdapat luka lecet di kedua ekstremitas serta terdapat deformitas di
lengan kanan.
Berdasarkan pemeriksaan pasien ini didiagnosis dengan cedera kepala berat dengan
suspek. fraktur basis cranii, suspek fraktur radius ulna dextra, dan multiple vulnus
ekskoriasi.
3. Assessment :
Pasien ini didiagnosis dengan cedera kepala berat dengan suspek fraktur basis
crania, suspek fraktur radius ulna dextra, dan multiple vulnus ekskoriasi. Pasien ini
datang ke RS diantar oleh polisi dan keluarga pasien belum ada yang mendampingi
dikarenakan pasien juga tidak membawa identitas saat kejadian.
Menurut standar operasional prosedur untuk cedera kepala berat sudah diterapkan
dalam menatalaksana pasien ini. Tata laksana pada pasien ini dilakukan dengan segera
tanpa menunggu persetujuan dari keluarga.

Pertolongan yang dilakukan dokter adalah indikasi medis berupa tindakan medis
dan seharusnya dokter memberi landasan dari tindakan medisnya tersebut dengan kaidah
dasar bioetik nonmaleficence dimana tujuan dokter adalah untuk berbuat baik atau
mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah dari pasien.
4. Plan :
Penatalaksanaan:
a. Jaga ABC (Airway, Breathing, Circulation) dengan pemasangan endotracheal tube
atas indikasi cedera kepala berat
b. Berikan oksigen VTP 10 liter/menit
c. Infus RL loading 1L
d. Injeksi Piracetam 3 g
e. Injeksi Ketorolac 1 amp
f. Injeksi Asam tranexamat 500 mg
g. Pasang DC
h. Pasang bidai pada lengan kanan
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Prinsip Dasar Kaidah Bioetik


Perkembangan yang begitu pesat di bidang biologi dan ilmu kedokteran membuat
etika kedokteran tidak mampu lagi menampung keseluruhan permasalahan yang
berkaitan dengan kehidupan. Etika kedokteran berbicara tentang bidang medis dan
profesi kedokteran saja, terutama hubungan dokter dengan pasien, keluarga,
masyarakat, dan teman sejawat. 1
Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-masalah yang ditimbulkan
oleh perkembangan biologi dan kedokteran, tidak hanya memperhatikan masalahmasalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga memperhitungkan timbulnya
masalah pada masa yang akan datang.
Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang berarti normanorma atau nilai-nilai moral.5 Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang

masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran
baik skala mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang. 1
Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi, dan hukum bahkan politik.
Bioetika selain membicarakan bidang medis, seperti abortus, euthanasia, transplantasi
organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik, membahas pula masalah
kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak
pasien, moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan kerja, demografi, dan
II.

sebagainya.3
Kaidah Bioetik Terhadap Kedokteran
Fondasi etika kedokteran dibangun oleh 3 hal pokok yaitu: moralitas eksternal,
etika internal dan moralitas internal. Moralitas eksternal merupakan teori-teori etika
yang diterapkan dalam dunia kedokteran. Sedangkan etika internal adalah kode etik
profesi yang dibuat dan ditetapkan oleh dokter dan untuk dokter sebagai bentuk
pertanggungjawaban profesi pada masyarakat. Yang membuat dinamis adalah
moralitas internal. Moralitas internal adalah merupakan fenomena umum yang terjadi
dalam hubungan dokter pasien. Dalam konteks ini amat tergantung dengan fakta
empirik yang ada pada pasien secara individual.
Menurut Pellegrino, meskipun ketiga aspek tersebut tumbuh dan berkembang
secara bebas satu sama lain, empat principle based of bioethics atau kini populer
dengan kaidah dasar bioetika dari Beuchamps and Childress merupakan salah satu
contoh teori yang dapat menyatukan antara moralitas eksternal dan fakta empirik
klinik (moralitas internal). Etika kedokteran sebagai profesi luhur, bersama dengan
etika lingkungan hidup dan ilmu pengetahuan telah memberi andil terhadap kaidah
dasar ini dengan menyumbangkan 4 kaidah dasar bioetika yakni: sikap berbuat baik
(beneficence), tidak merugikan orang lain (non maleficence), berlaku adil (justice)
dan menghormati otonomi pasien (autonomy).

Beneficence
Beneficence adalah bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati

martabat manusia, dokter tersebut juga harus mengusahakan agar pasiennya dirawat
dalam keadaan kesehatan. Dalam suatu prinsip ini dikatakan bahwa perlunya
perlakuan yang terbaik bagi pasien. Beneficence membawa arti menyediakan

kemudahan dan kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk


memaksimalisasi akibat baik dari pada hal yang buruk.2
Ciri-ciri prinsip ini, yaitu :4
1. Mengutamakan Alturisme
2. Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya
menguntungkan seorang dokter
3. Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan
suatu keburukannya
4. Menjamin kehidupan baik-minimal manusia
5. Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan
6. Meenerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti yang
orang lain inginkan
7. Memberi suatu resep
8. Meminimalisasi akibat buruk
9. Paternalisme bertanggung jawab

Non-Maleficence
Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak

melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang


paling kecil resikonya bagi pasien sendiri.2
Non-maleficence mempunyai ciri-ciri:4
1. Menolong pasien emergensi
2. Mengobati pasien yang luka
3. Tidak membunuh pasien
4. Tidak memandang pasien sebagai objek
5. Melindungi pasien dari serangan
6. Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter
7. Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
8. Tidak melakukan White Collar Crime

Justice

Keadilan

(Justice)

adalah

suatu

prinsip

dimana

seorang

dokter

memperlakukan sama rata dan adil terhadap untuk kebahagiaan dan kenyamanan
pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi, pandangan politik, agama, kebangsaan,
perbedaan kedudukan sosial, kebangsaan, dan kewarganegaraan tidak dapat
mengubah sikap dokter terhadap pasiennya.2
Justice mempunyai ciri-ciri :4
1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Menghargai hak sehat pasien
4. Menghargai hak hukum pasien
5. Tidak menyalahgunakan wewenang
6. Bijak dalam makroalokasi
7. Menghormati hak populasi

Autonomy
Dalam prinsip ini seorang dokter menghormati martabat manusia. Setiap

individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan


nasib diri sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan
membuat keputusan sendiri. Autonomy bermaksud menghendaki, menyetujui,
membenarkan, membela, dan membiarkan pasien demi dirinya sendiri.2
Autonomy mempunyai ciri-ciri :4
1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri
2. Berterus terang menghargai privasi
3. Menjaga rahasia pasien
4. Melaksanakan Informed Consent
5. Menjaga hubungan kontrak
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Mencegah

pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan