Anda di halaman 1dari 8

TUGAS I

Isu & Kebijakan Otonomi Daerah


Dosen pengampu: Dr. Didik G. Suharto, S.Sos, M.Si

Oleh
Aisyah Mayliawati (D0112003)

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

PERMASALAHAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH DI INDONESIA


Pengertian Otonomi daerah dan desentralisasi
Menurut asal katanya dalam Widjaya (2002 : 76) menyatakan bahwa : Otonomi berasal
dari bahasa yunani yaitu auto dan nomous yang berarti hak untuk mengatur kepentingan sendiri
dan urusan intern daerah atau organisasinya menurut hokum sendiri dalam negeri, yaitu dalam
hukum tata negara, otonomi dalam batas tertentu dapat dimiliki wilayah-wilayah dari suatu
negara.Pengertian otonomi tersebut sangat mudah untuk dipahami menurut asal katanya
mengandung makna hak untuk mengatur pemerintahan sendiri.
Pengertian sederhana tentang otonomi daerah itu dijabarkan secara lebih jelas dalam
paparan Widjaya (2002 : 76) selanjutnya yaitu: Dalam bahasa Inggris, otonomi atau autonomy
berasal dari dua kata yaitu auto yang berarti sendiri dan nomoi adalah undang-undang atau
aturan. Dengan demikian otonomi berarti mengatur sendiri, sedangkan dalam bidang
pemerintahan, otonomi diartikan mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. Berdasarkan
dua pengertian tentang otonomi daerah tersebut semakin memperjelas pemahaman terhadap
makna otonomi daerah.
Pengertian tentang otonomi daerah ini dijelaskan pula dalam Undang-Undang 32 Tahun
2004, sebagai berikut : Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan hal tersebut, maka makna
otonomi itu sendiri lebih menekankan pada pemberian kewenangan yang sangat besar kepada
daerah otonom dari pemerintah pusat kepada pemerintah di bawahnya (pemerintahan daerah),
dalam hal pengambilan keputusan, pembagian kekuasaan secara horizontal antara eksekutif dan
legislatif dalam format pemerintahan daerah. Meskipun demikian ada bidang-bidang tertentu
yang masih menjadi kewenangan pusat yang tidak bisa diserahkan kepada daerah.
Hal ini sejalan dengan pandangan yang diungkapkan oleh Sadu (2003 : 80) bahwa:
Daerah otonom hanya memiliki kewenangan terbatas dalam pengelolaan sumber daya aparatur,
antara lain menyangkut usulan kenaikan pangkat, usulan mutasi, usulan pengisian jabatan kerja,
usulan pemberhentian, sedangkan keputusan terakhir tetap berada di tangan pemerintah pusat.

Otonomi daerah dan desentralisasi diIndonesia


Sebagaimana umumnya negara yang tengah mengalami fase transisi demokrasi,
Indonesia mengalami gejala demokratisasi dan liberalisasi, demokratisasi dan liberalisasi ini juga
mendorong terjadinya perubahan-perubahan, terutama dalam formasi institusi. Di Indonesia,
salah satu hasil terbesarnya adalah mewabahnya diskursus otonomi daerah yang kemudian
dilegitimasi meskipun belakangan kembali direvisi. Namun sayangnya, outcome desentralisasi
tidak sebagaimana diharapkan oleh para designer dan pendorongnya.
Di Indonesia kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25
Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah merupakan pelaksanaan dari salah
satu tuntutan reformasi pada tahun 1998. Kebijakan ini mengubah penyelenggaraan
pemerintahan dari yang sebelumnya bersifat terpusat menjadi terdesentralisasi meliputi antara
lain penyerahan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah (kecuali politik luar negeri,
pertahanan keamanan, peradilan, agama, fiskal moneter, dan kewenangan bidang lain) dan
perubahan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.
permasalahan
Akan tetapi berbagai permasalahan mengenai desentralisasi juga menjadi hal yang
belum dapat terselesaikan hingga saat ini, seperti:
1. Belum jelasnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah
daerah. Kewenangan daerah masih banyak yang belum didesentralisasikan karena
peraturan dan perundangan sektoral yang masih belum disesuaikan dengan UndangUndang tentang Pemerintahan Daerah. Hal ini mengakibatkan berbagai permasalahan,
yaitu antara lain dalam hal kewenangan, pengelolaan APBD, pengelolaan suatu kawasan
atau pelayanan tertentu, pengaturan pembagian hasil sumberdaya alam dan pajak, dan
lainnya. Selain itu juga menimbulkan tumpang tindih kewenangan antar pusat, provinsi
dan kabupaten/kota daerah yang mengakibatkan berbagai permasalahan dan konflik antar
berbagai pihak dalam pelaksanaan suatu aturan.
2. Belum optimalnya proses desentralisasi dan otonomi daerah yang disebabkan oleh
perbedaan persepsi para pelaku pembangunan terhadap kebijakan desentralisasi

dan otonomi daerah. Persepsi yang belum sama antar para pelaku pembangunan baik di
jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku pembangunan lainnya telah
menimbulkan berbagai permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ini
kemudian dipersepsikan bahwa antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/
kota tidak ada hubungan hirarkinya. Seringkali kebijakan, perencanaan, dan hasil-hasil
pembangunan maupun penyelenggaraan pemerintahan tidak dikoordinasikan dan
dilaporkan kepada Gubernur namun langsung kepada Pemerintah Pusat. Pada sisi lain
hubungan hirarki secara langsung antara pemerintah kabupaten/kota dengan Pemerintah
Pusat akan memperluas rentang kendali manajemen pemerintahan dan pembangunan.
Berbagai hal tersebut berpotensi menimbulkan ketidakefisienan dan ketidakefektifan
pemanfaatan sumber daya nasional.
3. Masih rendahnya kerjasama antar pemerintah daerah. Kerjasama antar pemerintah
daerah masih rendah terutama dalam penyediaan pelayananan masyarakat di wilayah
terpencil, perbatasan antar daerah, dan wilayah dengan tingkat urbanisasi dan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta pada pengelolaan dan pemanfaatan bersama
sungai, sumberdaya air, hutan, tambang dan mineral, serta sumber daya laut yang
melintas di beberapa daerah yang berdekatan, dan dalam perdagangan, pendidikan,
kesehatan, pertanian, perkebunan, dan perikanan termasuk pengolahan pasca panen dan
distribusi, dan lain-lain.
4. Belum efektif dan efisiennya penyelenggaraan kelembagaan pemerintah daerah.
Struktur organisasi pemerintah daerah umumnya masih besar dan saling tumpang tindih.
Selain itu prasarana dan sarana pemerintahan masih minim dan pelaksanaan standar
pelayanan minimum belum mantap.
5. Masih terbatasnya dan masih rendahnya kapasitas aparatur pemerintah daerah.
Hal ini ditunjukkan masih terbatasnya ketersediaan aparatur pemerintah daerah, baik dari
segi jumlah, maupun segi profesionalisme, dan terbatasnya kesejahteraan aparat
pemerintah daerah, serta tidak proporsionalnya distribusi, menyebabkan tingkat
pelayanan publik tidak optimal yang ditandai dengan lambatnya kinerja pelayanan, tidak
adanya kepastian waktu, tidak transparan, dan kurang responsif terhadap permasalahan
yang berkembang di daerahnya.
6. Masih terbatasnya kapasitas keuangan daerah. Hal ini ditandai dengan terbatasnya
efektivitas, efisiensi, dan optimalisasi pemanfaatan sumber-sumber penerimaan daerah,

belum efisiennya prioritas alokasi belanja daerah secara proporsional, serta terbatasnya
kemampuan pengelolaannya termasuk dalam melaksanakan prinsip transparansi dan
akuntabilitas, serta profesionalisme.
7. Pembentukan daerah otonom baru (pemekaran wilayah) yang masih belum sesuai
dengan tujuannya, yaitu kesejahteraan masyarakat. Ketertinggalan pembangunan
suatu wilayah karena rentang kendali pemerintahan yang sangat luas dan kurangnya
perhatian pemerintah dalam penyediaan pelayanan publik sering menjadi alasan untuk
pengusulan pembentukan daerah otonom baru sebagai solusinya. Namun demikian,
dalam pelaksanaannya proses pembentukan daerah otonom baru lebih banyak
mempertimbangkan aspek politis, kemauan sebagian kecil elite daerah, dan belum
mempertimbangkan aspek-aspek lain selain yang disyaratkan melalui Peraturan
Pemerintah yang ada. Selain itu, terbentuknya daerah otonom baru setiap tahunnya akan
membebani anggaran negara karena meningkatnya belanja daerah untuk keperluan
penyusunan kelembagaan dan anggaran rutinnya sehingga pembangunan di daerah
otonom lama (induk) dan baru tidak mengalami percepatan pembangunan yang berarti.
Melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah maka pengambilan keputusan
dalam penyelenggaraan pemerintahan dan penyediaan pelayanan publik diharapkan akan
menjadi lebih sederhana dan cepat karena dapat dilakukan oleh pemerintah daerah terdekat
sesuai kewenangan yang ada. Kebijakan ini dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan
keadaan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sejak dilaksanakannya kedua undang-undang
tersebut, yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2001, masih ditemukan berbagai permasalahan.
Berbagai permasalahan tersebut akan diperbaiki melalui revitalisasi proses desentralisasi dan
otonomi daerah, yang telah dimulai dengan merevisi kedua undang-undang tersebut menjadi
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Pada tahun 2014 ini, UU no 32 Tahun 2004 kembali direvisi, dan hingga saat ini RUU
Pemda akan segera masuk ke tahap finalisasi di DPR. RUU ini merupakan bagian dari revisi
Undang Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yang dipecah menjadi 3,
yaitu Undang Undang Desa yang telah di sahkan, kemudian RUU pemda, dan RUU pilkada
yang akan segera disahkan.

Dalam Rancangan Undang Undang Pemda Sejumlah perubahan kewenangan daerah


pun dilakukan seperti:
1. Pemberhentian kepala/wakil kepala daerah dilakukan oleh pemerintahn pusat jika:
merangkap jabtan sebagai ketua partai politik, membuat keputusan yang menguntungkan
pribadi atau keompok tertentu, membuat kebijakan yang merugikan kepentingan umum
dan meresahkan masyarakat atau diskriminatif.
2. Sanski pemberhentian sementara oleh presiden untuk gubernur/wkil gubernur sera
menteri untuk bupati/wakil bupati tau wali kota/wakil wali kota jika: menjadi pengurus
perusahaan (swasta/milik negara/milik daerah/pengurus yayasan), melakukan perjalanan
keluar negeri tanpa izin.
3. Kewenangan gubernur diperkuat, salah satunya terkait dengan pertambangan, kehutanan,
kelautan dan perikanan yang sebelumnya berada di kabupaten /kota
4. Pemerintah kabupaten/kota dibina dan diawasi oleh pemerintah provinsi selaku wakil
dari pemerinah pusat.
5. Penyelenggaraan urusan pemerintah bidang kehutanan, kelautan, serta energy dan
sumber daya mineral dibagi antara pemerintah pusat dan provinsi.
6. Urusan pemerintah bidang energy dan sumber daya mineral yang berkaitan dengan
pengelolaan minyak dan gas bumi menjadikewenangan pemerintah pusat.
7. Pemekaran daerah harus melalui tahap persiapan selama tiga tahun. Jika dinilai tidak
berhasil, harus kembali ke daerah induk. Usulan daerah otonom baru tidak bisa lagi
diajukan melalui DPR
8. Kebijkan daerah dapat dibatalkan jika tidak sesuai dengan ketetapan pemerintah pusat.

Segala kebijakan yang tertulis dalam undang undang desentralisasi dan otonomi
daerah seharusnya diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat dalam hal
pelayanan masyarakat, penyelenggaraan otonomi daerah, dan pemerintahan daerah yang baik
yang dilaksanakan melalui :
1. Memperjelas pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan baik kewenangan
mengenai tugas dan tanggung jawab maupun mengenai penggalian sumber dana dan
pembiayaan pembangunan yang didukung oleh semangat desentralisasi dan otonomi
daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia;

2. Mendorong kerjasama antar pemerintah daerah termasuk peran pemerintah provinsi


dalam rangka peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat;
3. Menata kelembagaan pemerintah daerah agar lebih proporsional berdasarkan kebutuhan
nyata daerah, ramping, hierarki yang pendek, bersifat jejaring, bersifat fleksibel dan
adaptif, diisi banyak jabatan fungsional, dan terdesentralisasi kewenangannya, sehingga
mampu memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih baik dan efisien, serta
berhubungan kerja antar tingkat pemerintah, dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,
masyarakat, dan lembaga non pemerintah secara optimal sesuai dengan peran dan
fungsinya;
4. Menyiapkan ketersediaan aparatur pemerintah daerah yang berkualitas secara
proporsional di seluruh daerah dan wilayah, menata keseimbangan antara jumlah aparatur
pemerintah daerah dengan beban kerja di setiap lembaga/satuan kerja perangkat daerah,
serta meningkatkan kualitas aparatur pemerintah daerah melalui pengelolaan sumberdaya
manusia pemerintah daerah berdasarkan standar kompetensi;
5. Meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah daerah, termasuk pengelolaan keuangan
yang didasarkan pada prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme,
sehingga tersedia sumber dana dan pembiayaan yang memadai bagi kegiatan pelayanan
masyarakat dan pelaksanaan pembangunan di daerah; serta
6. Menata daerah otonom baru, termasuk mengkaji pelaksanaan kebijakan pembentukan
daerah otonom baru di waktu mendatang, sehingga tercapai upaya peningkatan pelayanan
publik dan percepatan pembangunan daerah.
Diharapkan dengan direvisinya UU tetang pemerintahan daerah dan berbagai langkah
kebijakan yang dilakukan pemerintah, pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di
Indonesia bisa berjalan semakin baik untuk kesejahteraan masyarakat.

Referensi
Buku
Wijaya, H.A.W. 2002. Otonomi Daerah Dan Daerah Otonom. Jakarta : Raja
Grafindo Persada
Wasistiono. Sadu dan Ondo Riyani. 2003. Etika Hubungan Legislatif Eksekutif
Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah. Bandung. Fokusmedia
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004
TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Internet
http://otonomidaerah.com/desentralisasi/ (diakses pada, 29 september 2014 pukul
21:00)
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/09/140922_ruu_pemda
(diakses pada, 29 september 2014 pukul 21:00)
http://www.dpr.go.id/id/pansus/53/RUU-Pemerintahan-Daerah/ruu/243/DraftRUU-Pemda (diakses pada, 29 september 2014 pukul 21:00)