Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar belakang
Mata adalah organ fotosensitif yang kompleks dan berkembang lanjut yang

memungkinkan analisis cermat tentang bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan obyek. Mata adalah organ penglihatan berupa struktur yang sangat khusus dan
kompleks, menerima dan mengirimkan data ke korteks serebral.Mata terletak di dalam
struktur tengkorak yang melindunginya, yaitu orbita. Banyak sekali penyakit yang bisa
menyerang pada mata, walaupun mata berukuran sangat kecil dibandingkan dengan ukuran
bagian tubuh yang lain. Penyakit mata ini sangat mengganggu penderitanya karena dapat
menyebabkan hilangnya penglihatan. Salah satu penyakit mata adalah glaucoma dimana mata
merah dengan penglihatan turun mendadak, terjadi aposisi iris dengan jalinan trabekular pada
sudut bilik mata. Saat kondisi iris terdorong atau menonjol kedepan maka outflow akuos
humor akan terhambat, keadaan ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokular. Jika
penutupan sudut terjadi secara mendadak, maka gejala yang akan timbul sangat berat seperti
nyeri pada mata, sakit kepala, pandangan kabur, haloe, mual, muntah.
Dalam pengobatan berbagai penyakit dan kondisi pada mata, ada beberapa bentuk
sediaan pada obat mata, dimana masing-masing obat mata tersebut memiliki mekanisme kerja
tertentu. Salah satunya bentuk sediaan obatnya adalah tetes mata. Namun salah satu bentuk
sediaan obat mata konvensional ini dianggap tidak lagi cukup untuk memerangi penyakit
mata. Ketersediaan hayati obat sering menjadi tantangan besar untuk diatasi. Penghantaran
obat ke mata juga terhambat oleh ada barier yang melindungi mata. Begitu banyak faktor
yang mempengaruhi absorpsi sediaan obat mata. Faktor-faktor yang mempengaruhi dibagi
menjadi 3 kategori yaitu :
1. Faktor fisiologi
2. Faktor fisikokimia
3. Faktor formulasi
1.2.

Tujuan
Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan penulis maupun pembaca mengenai

faktor fisiologis yang mempengaruhi penghantaran sediaan obat mata dalam terapi penyakit
mata.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Anatomi Mata
Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak dalam

lingkaran bertulang yang berfungsi untuk memberi perlindungan maksimal sebagai


pertahanan yang baik dan kokoh. Mata mempunyai pertahanan terhadap infeksi, karena
sekret mata mengandung enzim lisozim yang dapat menyebabkan lisis pada bakteri dan dapat
membantu mengeliminasi organisme dari mata Mata adalah organ penglihatan yang mana
memiliki struktur yang sangat khusus dan kompleks. Menerima dan mengirimkan data ke
korteks serebral. Indra penglihatan yang terletak pada mata ( organ visus ) terdiri dari organ
okuli assesoria (alat bantu mata) dan okulus (bola mata).

Gambar 1. Anatomi mata normal


2.1.1. Organ Okuli Assesoria
Organ okuli assesoria (alat bantu mata), terdapat disekitar bola mata yang sangat erat
hubungannya dengan mata dan terdiri dari :
a. Kavum orbita
Merupakan rongga mata yang bentuknya seperti kerucut dengan puncaknya
mengarah ke depan dan ke dalam. Dinding rongga mata dibentuk oleh tulang:
os.frontalis, os. Zigomatikum, os. Sfenoidal, os. Etmoidal, os. Palatum, os. Lakrimal,
rongga mata mempunyai beberapa celah yang berhubungan dengan rongga otak,
rongga hidung, rongga etmoidalis, rongga bola mata ini berisi jaringan lemak, otak,
fasia, saraf dan pembuluh darah.
b. Supersilium ( alis mata )

Merupakan batas orbita dan potongan kulit tebal yang melengkung, dan
ditumbuhi oleh bulu pendek yang berfungsi sebagai pelindung mata dari sinar
matahari.
c. Palpebra ( kelopak mata )
Merupakan 2 buah lipatan atas dan bawah kulit yang terletak didepan bulbus
okuli. Kelopak mata berfungsi sebagai pelindung mata terhadap gangguan yang
datang dari luar misalnya serangga, melindungi bola mata dari trauma, serta
mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea.
Pada bagian kelopak mata yang berlipat-lipat terhadap tarsus, yang mana pada kedua
tarsus terdapat kelenjar tarsalia. Pada kelopak mata terdapat beberapa bagian antara
lain; kelenjar sebasea, kelenjar keringat atau kelenjar Moll, kelenjar zeis pada pangkal
rambut bulu mata, serta kelenjar meibom pada tarsus.Kelopak mata merupakan
pelindung mata yang paling baik dengan membasahi mata da melakukan penutupan
mata bila terjadi rangsangan dari luar
d. Aparatus lakrimalis (air mata)
Air mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimalis superior dan inferior. Melalui
duktus ekskretorius lakrimalis masuk ke dalam sakus konjungtiva. Sistem sekresi air
mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata. Sistem ekskresi mulai pada
pungtum lakrimalis, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal yang terletak di bagian depan
rongga orbita, air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam rongga hidung di
dalam meatus inferior.
e. Muskulus okuli (otot mata)
Merupakan otot ekstrinsik mata, yang terdiri dari 7 buah otot, dimana 6 buah
otot diantaranya melekat dengan os. Kavum orbitalis dan 1 buah mengangkat kelopak
mata ke atas.
Muskulus levator palpebris superior inferior, fungsinya mengangkat kelopak mata.
Muskulus orbikularis okuli otot lingkar mata, fungsinya untuk menutup mata.
Muskulus rektus okuli medial ( otot disekitar mata ), fungsinya menggerakkan bola

mata.
Muskulus obliques okuli inferior, fungsinya menggerakkan bola mata ke bawah

dank e dalam.
Muskulus obliques okuli superior, fungsinya memutar bola mata ke atas, ke bawah
dan ke luar.

f. Konjungtiva
Merupakan membran mukosa yang melapisi bagian dalam kelopak mata
(palpebra) dan kemudian berlanjut ke batas korneosklera permukaan anterior bola
mata (bulbar). Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang bersifat membasahi
bola mata terutama kornea dihasilkan oleh sel Goblet. Terdapat tiga bagian
konjungtiva yaitu ; konjungtiva tarsal yang menutup tarsus, konjungtiva bulbi

membungkus bulbi okuli serta menutupi sklera, dan konjungtiva forniks sebagai
tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.
2.1.2. Okulus
Okulus ( mata ) meliputi bola mata ( bulbus okuli )
a.) Tunika okuli
Tunika okuli terdiri dari :
Kornea, merupakan selaput yang tembus cahaya. Kornea merupakan selaput
bening mata dan bagian terdepan dari sklera yang bersifat transparan sehingga
memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kornea berperan meneruskan
dan memfokuskan cahaya ke dalam bola mata. Kornea terdiri dari beberapa
lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan yaitu epitel, membran
bowman, stroma, membran descement dan endotel. Saraf sensoris yang
mempersarafi kornea yaitu saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf
siliar longus berjalan suprakoroid yang masuk ke dalam stroma
korneamenembus membran Bowman dan melepaskan selubung Schwannya.
Sklera, merupakan lapisan fibrosa yang elastis yang merupakan bagian putih
mata. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk
pada mata serta bagian putih pada bola mata yang bersama kornea sebagai
pembungkus dan pelindung isi bola mata. Kekakuan tertentu pada sklera
mempengaruhi tekanan bola mata. Bola mata terbagi menjadi 2 bagian,
masing-masing terisi oleh cairan:
1. Segmen anterior : mulai dari kornea sampai lensa. Segmen anterior sendiri
terbagi menjadi 2 bagian:
a. Bilik anterior : mulai dari kornea sampai iris
b. Bilik posterior : mulai dari iris sampai lensa.
Dalam keadaan normal, humor aqueus dihasilkan di bilik posterior, lalu
melewati pupil masuk ke bilik anterior kemudian keluar dari bola mata
melalui saluran yang terletak ujung iris.
2. Segmen posterior : mulai dari tepi lensa bagian belakang sampai ke retina.
Segmen anterior berisi humor aqueus yang merupakan sumber energi bagi
struktur mata di dalamnya. Segmen posterior berisi humor vitreus. Cairan
tersebut membantu menjaga bentuk bola mata.
b.) Tunika vaskulosa okuli
Tunika vaskuli okuli merupakan lapisan tengah dan sangat peka oleh
rangsangan pembuluh darah. Lapisan ini menurut letaknya terbagi 3 bagian, yaitu :
Koroid, merupakan selaput yang tipis dan lembab. Dimana fungsinya

memberikan nutrisi pada tunika.


Korpus siliaris, merupakan lapisan yang tebal dan berfungsi dalam terjadinya
akomodasi.

Iris, merupakan bagian terdepan tunika vaskuola okuli, yang berwarna karena
mengandung pigmen. Di bagian tengah terletak bagian yang berlubang yang di

sebut pupil. Pupil berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk ke mata.
c.) Tunika nervosa
Tunika nervosa merupakan lapisan terdalam bola mata yang disebut retina.
Retina dibagi atas 3 bagian :
Pars optika retina, dimulai dari kutub belakang bola mata sampai di depan

khatulistiwa bola mata.


Pars siliaris, merupakan lapisan yang dilapisi bagian dalam korpussiliar
Pars iridika melapisi bagian permukaan belakang iris.

Didalam mata terdapat dua macam cairan yaitu:


1. Aqueus humor
Cairan ini berada di depan lensa.Aqueous humor adalah suatu cairan jernih
yang mengisi bilik mata depan dan belakang. Volumenya adalah sekitar 250 L dan
kecepatan pembentukannya yang memiliki variasi diurnal adalah 2,5 L/mnt.
Tekanan osmotiknya lebih tinggi sedikit dari plasma. Komposisi aqueous humor sama
dengan plasma, kecuali konsentrasi askorbat, piruvat, dan laktat yang lebih tinggi,
protein, urea dan glukosa yang lebih rendah.
Aqueous humor diproduksi oleh corpus ciliare. Setelah masuk ke bilik mata
belakang, aqueous humor mengalir melalui pupil ke bilik mata depan lalu ke anyaman
trabekular di sudut bilik mata depan.. selain itu terjadi pertukaran diferensial
komponen-komponen aqueous dengan darah di iris.
2. Vitreus humor
Cairan albumin berwarna keputih-putihan seperti agar-agar yang berada
dibelakang mata, mulai dari lensa hingga retina. (Evelin C Pearce: 317). Dalam hal ini
ciran yang mengalami gangguan yang dihubungkan dengan penyakit glaukoma adalah
aqueus humor, dimana cairan ini berasal dari badan sisiari mengalir kea rah bilik
anterior melewati iris dan pupil dan diserap kembali kedalam aliran darah pada sudut
antara

iris

dan

kornea

melalui

vena

halus

yang

dikenal

sebagai

saluranschlemm. (Evelin C. Pearce : 317). Secara normal TIO 10-21 mmHg karena
adanya hambatan abnormal terhadap aliran aqueus humor mengakibatkan produksi
berlebih badan silier sehingga terdapat cairan tersebut. TIO meningkat kadang-kadang
mencapai tekanan 50-70 mmHg.

Gambar 2. Aliran humor aqueus pada mata normal


2.2.

Struktur Pelindung Mata


Struktur di sekitar mata melindungi dan memungkinkan mata bergerak secara bebas
ke segala arah. Struktur tersebut melindungi mata terhadap debu, angin, bakteri, irus,
jamur dan bahan-bahan berbahaya lainnya, tetapi juga memungkinkan mata tetap
terbuka sehingga cahaya masih bisa masuk. Struktur yang melindungi mata antara lain
adalah:
a) Orbita adalah rongga bertulang yang mengandung bola mata, otot-otot, saraf,
pembuluh darah, lemak dan struktur yang menghasilkan dan mengalirkan air
mata.
b) Kelopak mata merupakan lipatan kulit tipis yang melindungi mata. Kelopak
mata secara refleks segera menutup untuk melindungi mata dari benda asing,
angin, debu dan cahaya yang sangat terang. Ketika berkedip, kelopak mata
membantu menyebarkan cairan ke seluruh permukaan mata dan ketika
tertutup, kelopak mata mempertahankan kelembaban permukaan mata. Tanpa
kelembaban tersebut, kornea bisa menjadi kering dan terluka. Bagian dalam
kelopak mata adalah konjungtiva yang merupakan membran mukosa tipis
yang vaskular dan transparan, yang juga membungkus permukaan mata.
c) Bulu mata merupakan rambut pendek yang tumbuh di ujung kelopak mata
dan berfungsi membantu melindungi mata dengan bertindak sebagai barrier
(penghalang).
d) Kelenjar lakrimalis terletak di puncak tepi luar dari mata kiri dan kanan dan
menghasilkan air mata yang encer. Air mata mengalir dari mata ke dalam
hidung melalui 2 duktus lakrimalis; setiap duktus memiliki lubang di ujung
kelopak mata atas dan bawah, di dekat hidung. Air mata berfungsi menjaga
kelembaban dan kesehatan mata, juga menjerat dan membuang partikelpartikel kecil yang masuk ke mata. Selain itu, air mata kaya akan antibodi
yang membantu mencegah terjadinya infeksi. Air mata adalah kelenjar yang
diproduksi oleh proses lakrimasi (bahasa Inggris: lacrimation atau
lachrymation; (dari bahasa Latin lacrima, artinya "air mata") untuk

membersihkan dan melumasi mata. Sistem lakrimal berfungsi menjaga


kelicinan mata, melindungi kornea dari penguapan dan menetralkan efek
sediaan tetes mata. Pada manusia, selaput air mata yang membungkus mata,
dikenal sebagai selaput prekorneal (precorneal film), terdiri dari 3 lapisan
yang berbeda, dari permukaan paling luar sampai ke dalam:
1) Lapisan Lemak (Lipid layer) berfungsi membungkus lapisan berair
(aqueous layer); memberikan halangan tahan air (hydrophobic barrier)
yang membungkus air mata dan mencegahnya meluap ke pipi.
Kelenjar ini dijumpai di antara lempengan tarsal (tarsal plates) pada
pelupuk mata (tarsus). Jadi, cairan mata disimpan di antara bola mata
dan lapisan minyak pada pelupuk mata.
2) Lapisan berair (Aqueous layer) berfungsi meningkatkan penyebaran
selaput air mata; meningkatkan penanganan atas penyebab infeksi;
meningkatkan pengaturan osmosis.
3) Lapisan mukosa (Mucous layer) berfungsi membungkus kornea;
meningkatkan lapisan tahan air; meratakan penyebaran air mata;
menutupi kornea
e) Enam otot ekstraokular mengelilingi tiap bola mata dan menggerakan mata.
Kekuatan dan presisi yang diperlukan di sini benar-benar merupakan hal yang
mengagumkan. Selama melakukan gerakan mata yang berlangsung sekitar
1/10 per detik, bola mata bergerak dengan kecepatan luar biasa dan berhenti
hampir seketika. Untuk menghasilkan kekuatan yang cukup untuk
melakukannya, otot ekstraokular memiliki kekuatan 200 kali lebih besar
daripada yang dibutuhkan untuk memutar mata dalam soketnya .
2.3.

Gejala Penyakit Pada Mata


Gejala penyakit pada mata antara lain sebagai berikut :
1) Kehilangan Penglihatan
Bila pasien mengeluh tentang hilangnya penglihatan sangat penting untuk
memastikan sifat akut hilangnya penglihatan dan ada tidaknya perasaan nyeri.
Hilangnya penglihatan mendadak tanpa rasa nyeri dapat terjadi akibat oklusi
pembuluh darah retina atau ablastio retina. Hilangnya penglihatan mendadak
dengan disertai rasa nyeri terdapat pada serangan glaukoma sudut sempit akut.
Hilangnya penglihatan yang berangsur tanpa rasa sakit biasanya pada
glaukoma simpleks menahun.
2) Nyeri mata

Nyeri dimata banyak penyebabnya. Nyeri mungkin dirasakan seperti terbakar,


berdenyut, nyeri tekan, atau perasaan tertarik yang kemungkinan hal tersebut
berkaitan dengan etiologinya. Nyeri dalam mata sewaktu berkedip terdapat
pada abrasi kornea dan benda asing di dalam mata. Fotofobia adalah nyeri
mata yang berhubngan dengan cahaya, seperti terdapat pada radang iris.
Radang konjungtiva (konjungtivitis) menimbulkan rasa gatal. Penyakit pada
kornea disertai nyeri yang agak berat karena kornea mempunyai persyarafan
yang luas. Nyeri kepala dan nyeri pada mata sering dijumpai pada glaukoma
sudut sempit.
3) Diplopia
Diplopia atau penglihatan ganda merupakan keluhan yang umum. Diplopia
terjadi akibat penyesuaian yang keliru dari mata. Biasanya bila mata
mengamati suatu objek, objek ini terlihat jelas. Bayangan yang agak berbeda
tersebut disatukan oleh otak; penyatuan ini yang menghasilkan penglihatan
binokuler atau persepsi kedalaman.
4) Mata berair atau kering
Terlalu banyak air mata atau kekeringan merupakan keluhan yang umum. Air
mata yang berlebihan mungkin disebabkan produksi airmata yang berlebihan
atau oleh karena bendungan/obstruksi aliran keluarnya. Kekeringan terjadi
akibat gangguan sekresi kelenjar lakrimal. Penyebab umum ialah Sindrom
Sjogren, kegagalan umum kelenjar sekretoris.
5) Mata mengeluarkan secret
Sekret dari mata mungkin sekret berair, agak berlendir atau bernanah. Yang
bersifat cair atau mukoid seringkali berhubungan dengan keadaan alergi atau
penyakit virus, sedangkan yang purulen terdapat pada infeksi bakteri.
6) Mata merah
Mata merah seringkali dijumpai. Mata mungkin tampak merah Mata mungkin
tampak merah darah. Kemerahan tersebut dapat terjadi karena trauma, infeksi,
alergi atau peningkatan tekanan dalam mata. Banyak batuk, muntah berulang
dapat berakibat perdarahan subkonjungtival.
2.4.

Sediaan Obat Mata


Sediaan obat mata terdiri dari :
1) Tetes mata
Tetes mata menurut Farmakope Indonesia edisi III adalah sediaan steril berupa
larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada

selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Tetes mata steril
harus memenuhi syarat sterilitas, berupa larutan jernih, bebas partikel asing
serat dan benang, isotonis dan isohidris Pada dasamya komponen tetes mata
steril adalah :
a. Zat aktif
b. Cairan pembawa berair
c. Zat pengawet seperti : fenilraksa (II) nitrat atau fenilraksa (II) asetat
0,002%b/v, benzalkonium klorida 0,01 % b/v atau klorheksidina asetat 0,01
% b/v yang pilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet
terhadap obat yang terkandung di dalamnya selama waktu tetes mata itu
dimungkinkan untuk digunakan, sebagai contoh benzalkonium tidak cocok
digunakan sebagai pengawet untuk tetes mata yang mengandung anestetik
local.
2) Salep mata
Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar
salep yang cocok. Cara pembuatannya bahan obat ditambahkan sebagai
larutan steril atau sebagai serbuk steril termikronisasi pada sar salep steril,
hasil akhir dimasukkan secara aseptic dalam tube steril . Bahan obat dan dasar
salep disterilkan dengan cara yang cocok, sedangkan tube disterilkan dalam
otoklaf pada suhu antara 115 sampai 116 selama tidak kurang dari 30
menit. Salep mata steril harus memenuhi syarat:
a. Homogenitas , tidak boleh mengandung bagian yang kasar yang dapat
teraba.
b. Sterilitas

BAB III
PEMBAHASAN

Setiap pengobatan yang tersedia untuk mencegah penyakit mata salah satunya
glaukoma progresif melibatkan sejumlah resiko dan biaya keuangan. Pengobatan lini pertama
konvensional glaukoma biasanya dimulai dengan menggunakan topikal selektif atau
nonselektif -blocker atau analog prostaglandin topikal. Obat pilihan lini kedua termasuk agonis dan inhibitor topikal karbonat anhydrase. Agen parasympathomimetic, paling sering
pilocarpine, dianggap sebagai pilihan pengobatan lini ketiga. Untuk pasien yang tidak
menanggapi obat-obatan antiglaucoma, laser trabeculoplasty dan bedah insisional adalah
metode lebih lanjut yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan intraokular.
Penghantaran obat mata terhambat oleh adanya barrier yang melindungi mata. Ketersediaan
hayati zat aktif obat ini sering menjadi rintangan besar untuk diatasi. Bentuk sediaan obat
mata konvensional, termasuk tetes mata, tidak lagi cukup untuk memerangi penyakit mata.
Ada dua barier yaitu, barier statis dan dinamis yang membatasi pengiriman okular
obat. Barier Statis terdiri dari segmen yang berbeda dari mata seperti kornea, sclera, retina
dan barier darah-retina

sedangkan hambatan dinamis terdiri dari aliran darah

neovaskularisasi dan konjungtiva, limfatik clearance, dan pengenceran air mata. Hambatan
ini akhirnya mempengaruhi ketersediaanhayati berbagai obat yang disampaikan melalui rute
ini. Beberapa faktor dapat mempengaruhi ketersediaan obat tetes mata topikal yaitu:
1. pengeluaran obat dengan lapisan air mata
Air mata keluar sekitar 16% per menit, kecuali selama waktu tidur atau selama anestesi.
Volume air mata normal adalah hanya 7 mikroliter, sehingga menyebabkan obat hilang
2. terbatasnya kapasitas konjungtiva
Daerah precorneal dapat menyimpan sekitar 30 mikroliter, termasuk air mata ketika mata
tidak berkedip. Volume berkurang

sampai 10 mikroliter pada mata berkedip. Oleh

karena itu, kelebihan volume yang diteteskan atau cepat mengalir dari mata ke duct
nasolacrimal dengan berikutnya penyerapan ke dalam sirkulasi sistemik. Pengeringan
larutan yang diteteskankan dari mata bertanggung jawab atas hilangnya obat dan
karenanya mempengaruhi aktivitas biologis obat di mata. Tingkat drainase ini berkaitan
dengan volume larutan obat yang diteteskan dan peningkatant dengan meningkatkan
volume. Tingkat drainase adalah sekitar 100 kali lebih cepat daripada tingkat penyerapan
kornea. semakin rendah tingkat drainase dan lebih besar tingkat penyerapan oftalmik.
3. pengenceran oleh air mata dan aqueous humor
berdasarkan fungsi dari air mata yang dapat menetralkan efek sediaan obat mata, maka
air mata dianggap sebagai salah satu penghambat penghantaran obat mata sehingga
penggunaan obat mata tidak memberikan efek farmakologis karena obat mengalami
pengenceran. Air mata juga mengandung antibodi sehingga dapat mencegah masuknya
benda asing ke dalam mata. Eliminasi dari mata terjadi biasanya selama aliran aqueous
humor atau bagian melintasi barier darah-okular.
4. drainase ke saluran nasolakrimalis
Permukaan konjungtiva besar dan mukosa hidung memungkinkan sebagian obat topikal
yang tidak diserap ke dalam mata untuk memasuki sirkulasi sistemik.
5. mengikat protein
Air mata biasanya, mengandung sekitar 0,7% protein dan tingkat protein meningkat
selama infeksi atau peradangan. Tidak seperti darah, dimana kompleks obat-protein
terus-menerus beredar, air mata diganti dengan cepat dengan demikian memindahkan
senyawa bebas dan obat terikat.
6. metabolisme dalam jaringan mata.
metabolisme obat dalam mata merupakan aspek penting dari aksi obat. obat yang
dirusak oleh oksidasi atau reduksi kecil kemungkinannya untuk dapat dimetabolisme di
mata daripada mereka yang dirusak oleh hidrolisis. Kornea epithelium dan iris tubuh
cilliary aktif secara metabolik karena kehadiran reduktase esterase, aminopeptidases dan
keton.
Terbatasnya ketersediaanhayati obat dari bentuk sediaan okular adalah terutama
karena faktor precorneal, yang mencakup drainase larutan, lakrimasi, aliran/pergerakan air
mata, pengenceran oleh air mata, pergantian air mata, penyerapan konjungtiva, penyerapan
non produktif, waktu tinggal sementara di cul-de-sac, dan impermeability relatif membran
epitel kornea adalah tantangan besar untuk penghantaran obat pada bagian anterior
mengikuti rute topikal. Karena keterbatasan fisiologis dan anatomi ini, hanya sebagian kecil
dari obat tersebut, secara 1% efektif atau bahkan kurang dari dosis digunakan, adalah diserap

pada okular. Untuk efektifitas secara klinis, formulasi topikal harus memiliki keseimbangan
antara lipofilitas dan hidrofilisitas yang lebih tinggi dengan kontak waktu.
Pasien dengan kornea tipis (struktur jelas di depan mata) berada pada peningkatan
risiko glaukoma.Hal ini karena obat-obatan yang ditempatkan di mata diserap ke dalam
pembuluh darah konjungtiva pada permukaan mata itu. Persentase tertentu dari bahan aktif
obat, meskipun kecil, akan masuk ke aliran darah dan mungkin dapat mempengaruhi fungsi
seperti detak jantung dan pernapasan.
Penyerapan obat di mata sering diasumsikan bahwa obat-obatan yang diberikan dalam
mata sepenuhnya dan dengan cepat diserap namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi
penghantaran obat pada mata. Penyerapan obat berlangsung di route kornea atau non-kornea.
Rute non-kornea melibatkan penyerapan di sclera dan konjungtiva yang menahan masuknya
obat ke aqueous humor. Maksimum penyerapan berlangsung di kornea yang mengarahkan
obat ke

aqueous humor. Sebagian besar obat yang diberikan untuk mata telah hilang

sehingga ketersediaanhayati okular berkurang.


Eliminasi obat dari cairan lachrymal, obat-obatan terutama dieliminasi dari cairan
lachrymal precorneal oleh pengeringan larutan, lacrimasi dan penyerapan non produktif oleh
konjungtiva mata. Hanya sedikit persentase dosis yang diterapkan sampai ke dalam jaringan
intra okular, sementara sebagian besar (50-100%) dosis yang diserap secara sistemik.
Kendala pra-kornea meliputi:
1)
2)
3)
4)

pengenceran obat oleh selama aliran


pengenceran obat oleh air mata
penyerapan saluran Nasolachrymal conjunctival
Metabolisme enzim , Berbagai enzim hadir dalam jaringan okular (protease, peptidase
dan esterase) mungkin dapat memetabolisme banyak obat-obatan okular selama atau
setelah penyerapan.
Penetrasi Trans-kornea dipengaruhi oleh barier kornea, sifat fisikokimia obat dan

sistem transportasi ion aktif pada kornea. Epitel Kornea adalah barier utama untuk
penyerapan obat di mata. Epitel Kornea berlapis bertindak sebagai barier pelindung terhadap
masuknya molekul asing dan juga barier untuk ion transportasi. Pada saluran sempit epitel
kornea trans-seluler yang sehat benar-benar mengelilingi kebanyakan permukaan sel-sel.
Sebuah saluran sempit berfungsi sebagai penghalang selektif untuk molekul kecil dan mereka
benar-benar mencegah difusi makromolekul melalui rute Para selular, seperti molekul kecil
mampu menembus ruang interselular epitel kornea. Kornea stroma adalah jaringan sangat
hidrofil sebagian besar berisi air, dan adalah sebuah struktur yang relatif terbuka. Tingkat
penetrasi kornea stroma adalah membatasi tingkat langkah untuk obat lipofilik. Obat Hidrofil

terutama menembus jalur Para selular yang melibatkan difusi pasif dan aktif, sementara obat
lipofilik lebih suka rute Trans-seluler. Untuk obat topikal difusi pasif dengan cara Transseluler / Para-seluler adalah mekanisme utama permeasi.
Lipofilitas, kelarutan, ukuran molekul, dan derajat ionisasi juga mempengaruhi rute
penetrasi dalam kornea. epitel Kornea berisi saluran ion yang selektif untuk kation anion dan
juga nampaknya meralat saluran anion dalam membran apikal dan saluran konduktif tinggi
kalium.
Penyerapan Non-kornea, rute ini melibatkan penetrasi obat melintasi konjungtiva yg
berhubungan dengan bengkak dan mendasari sclera di saluran uveal dan vitreous humor. Rute
ini penting bagi molekul hidrofil besar dan dengan permeabilitas kornea kecil. Saluran sempit
dari epitel konjungtiva bulat merupakan barier utama penetrasi obat. permeabilitas
konjungtiva dari obat tertentu memiliki jarak lebih besar daripada penetrasi kornea melalui
sclera yang terutama melalui ruang perivascular, melalui media berair gel seperti
mucopolysaccharide atau melalui ruang antara jaringan kolagen. Sclera memiliki
permeabilitas lebih dibandingkan kornea.
Batasan penghantaran obat okular konvensional untuk penyakit mata, administrasi
topikal biasanya lebih disukai daripada administrasi sistemik sehingga untuk menghindari
toksisitas sistemik, untuk tindakan onset cepat, dan untuk penurunan dosis yang diperlukan.
Meskipun penghantaran topikal menawarkan banyak keuntungan untuk mengobati gangguan
mata bagian anterior, itu dapat kerugian serius dari ketersediaanhayati yang sedikit karena
beberapa faktor biologis yang ada untuk melindungi mata dan akibatnya membatasi
masuknya obat-obatan okular.
Kelemahan dari formulasi oftalmik topikal

Mereka memiliki ketersediaanhayati yang sedikit

karena cepatnya eliminasi

precorneal, penyerapan konjungtiva, pengeringan larutan oleh gravitasi, disebabkan

lacrimasi, Pergantian air mata normal.


penggunaan terkonsentrasi obat yang sering diperlukan untuk mencapai efek
terapeutik. Penyerapan obat secara sistemik dan pengeringan zat melalui saluran

nasolachrymal dapat mengakibatkanefek yang tidak diinginkan.


Jumlah obat yang disampaikan selama aplikasi eksternal dapat bervariasi. Ukuran
tetesan obat okular ini tidak seragam dan dosis yang disampaikan umumnya tidak

benar. Persyaratan sistem penghantaran obat okular terkendali


Untuk mengatasi efek samping dari pemberian dosis dan konsentrasi tinggi yang
diproduksi oleh sistem konvensional.

Menyediakan penghantaran obat berkelanjutan dan dikendalikan.


Meningkatkan ketersediaanhayati obat okular oleh meningkatkan waktu kontak
cornea.

Kelebihan dari formulasi optalmik topikal


Kemudahan kenyamanan, pengobatan dilakukan sendiri, kepatuhan pasien ditingkatkan
dan peningkatan penetrasi hidrofil dan berat molekul obat rendah. Penyerapan cepat dan
onset cepat , menghindari metabolisme lintas pertama melewati hepatic.

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan peninjauan jurnal Opthalmic Drug Delivery in Glaucoma dapat ditarik


beberapa kesimpulan sebagai berikut,
1. Glaukoma adalah gangguan okular yang ditandai dengan perubahan pada pusat
saraf optik (lempeng optik) dan kehilangan sensitivitas visual dan jarak pandang.
2. Ketersediaan hayati zat aktif obat ini sering menjadi rintangan besar untuk diatasi.
Bentuk sediaan obat mata konvensional, termasuk tetes mata, tidak lagi cukup
untuk memerangi penyakit mata seperti glaukoma.
3. Beberapa faktor dapat mempengaruhi ketersediaan obat tetes mata topikal:
pengeluaran obat dengan lapisan air mata, terbatasnya kapasitas konjungtiva,
pengenceran oleh air mata dan aqueous humor, drainase ke saluran nasolakrimalis,
mengikat protein, metabolisme dalam jaringan mata.

DAFTAR PUSTAKA

Akhtar,Nida.2013.Vesicular Ocular drug Delivery System :Preclinical and Clinical


Perspektive

Of

Drugs

Delivered

Via

Niosomes.International

Journal

of

Biopharmaceutics Page 38. India :IFTM University.


Ingrida, Januleviciene et al.2012.Ophthalmic Drug Delivery In Glaucoma. Eye Clinic of
Lithuanian University of Health Sciences.Lithuania
Sidarta, Ilyas,dkk.1981.Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Gaya Baru
Vaughan D. and Riordan-Eva P. Glaucoma. In: Vaughan D, Asbury T, Riordan-Eva P, editors.
General ophtalmology. 15th edition. USA: Appleton and Lange; 1999. p. 200-14.
Wijaya, Nana.1983.Ilmu Penyakit Mata. Jakarta
https://kpsfkunmul.files.wordpress.com/2014/02/trapmed-pemeriksaan-mata-funduskopiblok-16.pdf

MAKALAH BIOFARMASI

FAKTOR PATOFISIOLOGI SEDIAAN MATA


PENGHANTARAN OBAT TETES MATA PADA GLAUKOMA

Disusun oleh :
KELOMPOK 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Arif Sarifudin
Nandika Putri Trisani
Monica Prabawati
Rizky Farouk F.
Sugeng Rachmanto
Zunita Arisma S.
Fitriani Awaliah
Septyana Kumalasari

(066111088)
(066111094)
(066111111)
(066111117)
(066111125)
(066111133)
(066111138)
(066111153)

Dosen Pengampu :
Septia Andini, M.Farm.,Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA
ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2014

DAN ILMU PENGETAHUAN

LAMPIRAN

TETES MATA OBAT PENGIRIMAN DI GLAUKOMA


Abstrak

Glaukoma merupakan penyakit mata dimana tekanan cairan bola mata menjadi
tinggi. Tekanan yang berlebih dalam bola mata terjadi karena terbatasnya
permeabilitas anterior mata, pengeluaran kembali dan drainase. Tetes mata
mengandung sejumlah besar zat aktif. Peningkatan penetrasi yang efektif
menimbulkan

iritasi

sehingga

menyebabkan

ketidaknyamanan

okular.

Meskipun khasiat obat ditentukan oleh zat aktif, namun zat aktif juga dapat
mempengaruhi toleransi dan dapat menyebabkan iritasi konjungtiva dan
hyperemia (konjungtivitas akut serta mempengaruhi kualitas hidup pasien.

1. Perkenalan
Glaukoma adalah neuropati optik progresif dan terapi medis merupakan pilihan awal
untuk pengobatan kondisi yang berpotensi kebutaan ini. Penetesan tetes mata topikal dari
botol adalah bentuk pemberian obat tetes mata umum. Tetes mata biasanya menembus
melalui kornea atau rute sclera, meskipun beberapa kontribusi konjungtiva dicatat. Pemberian
senyawa farmakologis dari botol tetes kadang-kadang dapat menjadi masalah bagi berbagai
alasan. Pertama, permukaan okular anterior memiliki permeabilitas yang terbatas dan terus
dicuci dengan air mata. Bagian lakrimal dan saluran nasolakrimalis pengeluaran air mata dan
zat lain dari mata ke rongga hidung. Karena permeabilitas yang terbatas dari permukaan
okular anterior, pembersihan dan pengeringan alami, tetes mata mengandung banyak bahanbahan inaktif. Peningkat penetrasi yang efektif dikenal sebagai iritasi menyebabkan
ketidaknyamanan ocular. Kelemahan lain dari tetes mata topical yang digunakan termasuk
permasalahan jadwal dan kesulitan dalam penerapan tetes mata. Berbagai efek samping yang
berkaitan dengan obat topikal dapat memiliki efek negatif pada kepatuhan pasien terhadap
pengobatan medis, hubungan dokter-pasien dan kualitas hidup pasien. Namun, obat topikal
memiliki kelebihan pemberian topikal yang jelas dan merupakan cara yang lebih nyaman
administrasi serta menghindari metabolisme lintas pertama oleh hati.
Perangkat penghantaran obat implan saat ini menangani pasien yang tidak patuh dan
masalah fluktuasi tekanan intraokular (TIO), bagaimanapun, juga memiliki keterbatasan yang
jelas-tidak mungkin untuk mengubah, menambah atau mengurangi, atau menghentikan
penghantaran obat setelah itu dimasukkan ke mata . Untuk kondisi kronis seperti glaukoma,
akan optimal untuk mengatur pemberian obat tergantung pada respon terapi dan

perkembangan penyakit. Kesulitan lain dengan sistem penghantaran obat implan adalah
prosedur pembedahan untuk menanamkan invasif dan membutuhkan ahli bedah vitreoretinal
yang terampil. Uji klinis disediakan untuk elusi pemasukan punctal obat diteliti sebagai
berkelanjutan-release sistem pengiriman obat untuk beberapa obat glaukoma. Penelitian
belum dipublikasikan, namun data awal dari salah satu uji coba menunjukkan bahwa
perangkat tidak secara signifikan menurunkan TIO [ 5 ].

2. Aspek Fisiologis topikal Obat Pengiriman ke Mata


Konsentrasi obat di lokasi reseptor adalah penentu penting tingkat onset, intensitas dan durasi
efek farmakologis. Efek obat tergantung pada aktivitasnya, afinitas untuk reseptor atau enzim
dan kemampuan untuk mencapai lokasi aksi dalam konsentrasi yang cukup. Farmakokinetik
obat menyelidiki penyerapan obat, distribusi dan eliminasi dalam tubuh [ 1 , 6 ]. Topikal obat
pada pengiriman ke situs media aksi muka dengan vaskularisasi yang berbeda (dari retina
yang sangat vascularized lensa avascular atau kornea), serta jaringan konsistensi beraneka
ragam, dari aqueous humor cair lensa padat, sehingga menentukan berbeda difusi obat
[ 2 ]. Setelah pemberian topikal melalui proses penyerapan, obat memasuki aqueous
humor.Penyerapan dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam air mata dan permeabilitas
permukaan mata.Konjungtiva dan jaringan scleral memiliki permeabilitas yang mirip dengan
obat hidrofilik, sementara kornea adalah 15-25 kali lebih permeabel [ 7 ]. Bioavailabilitas
dalam oftalmologi mengacu pada jumlah obat yang masuk aqueous humor. Obat ini lebih
ditransfer dan didistribusikan dalam jaringan-konjungtiva intraokular, kornea, lensa, iris,
tubuh ciliary, koroid, badan vitreous, retina dan saraf optik. Beberapa faktor dapat
mempengaruhi ketersediaan obat tetes mata topikal: siram dengan air mata film, terbatasnya
kapasitas konjungtiva cul-de-sac, pengenceran oleh air mata dan aqueous humor, drainase ke
saluran nasolakrimalis, mengikat melatonin atau protein, metabolisme dalam jaringan
mata. Semua jaringan mata yang mampu mengakumulasi obat. Permukaan konjungtiva besar
dan mukosa hidung memungkinkan sebagian obat topikal yang tidak diserap ke dalam mata
untuk memasuki sirkulasi sistemik. Penghapusan dari mata terjadi biasanya selama omset
humor berair atau bagian melintasi penghalang darah-okular.
Berbagai pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas obat tetes mata
dengan meningkatkan penetrasi kornea atau tetes viskositas. Penyerapan mata meningkat
dengan menambahkan siklodekstrin, sisipan padat dan sistem koloid terhadap obat tetes

mata. Tetes viskositas yang lebih tinggi merupakan molekul dengan berat molekul tinggi
tidak melintasi membran biologis. Memiliki panjang mencuci-out dari film air mata tetes
kental tinggal lebih lama di permukaan periokular dan meningkatkan pemberian obat pada
struktur mata yang lebih dalam [ 2 ]. Di sisi lain, viskositas tinggi mengganggu gerakan
kelopak mata, visi [ 8 ] dan kenyamanan pasien.
Situasi ekonomi mewajibkan mencari pilihan pengobatan yang lebih murah dan umumnya
konvensional.Masih beberapa keraguan ada jika obat generik yang persis seperti yang efektif
dan ditoleransi dengan obat bermerek. Bahkan memiliki bahan aktif yang sama,
bioekivalensi, bagaimanapun, tidak dapat guarantied.Ukuran yang berbeda dari partikulat
obat dan pH dapat mengubah farmakokinetik dan distribusi dalam jaringan. Selain itu bahanbahan aktif yang berbeda dan pengawet dapat menentukan penetrasi yang berbeda,
penyerapan dan ketersediaan bahan aktif di lokasi aksi [ 9 ]. Sensitivitas permukaan mata
untuk bahan aktif dan pengawet dalam persiapan mata, yang diketahui bervariasi antara obat
generik bermerek dan agen, mungkin jauh mengubah distribusi obat dalam jaringan dan
tolerabilitas. Perubahan kecil dalam kemanjuran IOP penurun obat anti-glaukoma dapat
memiliki efek merusak pada mata dalam jangka panjang, seperti yang terkenal bahwa bahkan
sedikit peningkatan TIO dapat memperburuk perkembangan glaukoma hilangnya lapang
pandang.

3. Pentingnya Film Air Mata


Film air mata sangat penting untuk menjaga kesehatan kornea dan konjungtiva. Karena air
mata film adalah permukaan pembiasan pertama dan paling kuat dari mata, penyimpangan
dalam ketebalan film air mata dapat menyebabkan penyimpangan optik pada mata. Untuk
menjaga permukaan mata yang sehat kuantitas air mata adalah penting, tetapi juga komposisi
kimia yang tepat untuk memelihara dan melindungi sel-sel permukaan mata. Film air mata
terdiri dari: (1) komponen lipid yang mengandung ester lilin, ester sterol, asam lemak dan
alkohol lemak; (2) komponen mukosa terdiri dari mucin yang merupakan sebagian besar dari
gula; (3) komponen berair, yang merupakan sebagian besar dari film air mata, yang terdiri
dari 98% air, tetapi juga garam, mucins, dan protein termasuk Hyaluronan, lisozim,
laktoferin, lipocalin, dan imunoglobulin sekretorik [ 10 ]. Gangguan homeostasis dari hasil
film air mata dalam peradangan permukaan mata, yang dapat menyebabkan kerusakan

sel. Kelainan komponen air mata dapat mengakibatkan ketidakstabilan film air mata dan
hyperosmolarity [ 11 , 12 , 13 ].
PH air mata yang sehat dilaporkan berkisar 7,3-7,7, hal ini dipengaruhi oleh zat terlarut,
terutama oleh bikarbonat karbon dioksida sistem penyangga. PH air mata terendah setelah
wakening karena produk sampingan asam yang terkait dengan penutupan kelopak mata
berkepanjangan. Ketika kelopak mata terbuka, pH meningkat cepat karena karbon dioksida
kerugian [ 14 ]. Hal ini diketahui mata yang turun dalam pH 6-9 kisaran tidak menyebabkan
ketidaknyamanan, sementara tetes dengan pH di luar tingkat ini meningkatkan produksi
cairan air mata karena iritasi dan menurunkan bioavailabilitas oleh meluap obat [ 2].
Osmolaritas adalah ukuran dari konsentrasi zat terlarut, didefinisikan sebagai jumlah osmol
(Osm) dari zat terlarut per liter (L) larutan (osmol / L atau Osm / L) [ 15 ]. Sebagai ukuran
kimia film air mata, osmolaritas dapat berguna untuk mengevaluasi kualitas air mata
pasien. Secara umum, osmolaritas menggambarkan jumlah zat terlarut dalam suatu
larutan; menangis, secara khusus mengacu pada konsentrasi protein kecil dan elektrolit,
termasuk

sodium,

potasium,

dan

klorida. Meskipun

mengukur

osmolaritas

tidak

mengungkapkan komposisi kimia yang tepat dari air mata, itu mengkuantifikasi bagaimana
terkonsentrasi mereka, dan penelitian telah menunjukkan bahwa pengetahuan film
osmolaritas air mata dapat secara klinis berharga untuk menilai penyakit mata kering. Film
osmolaritas air mata bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Menurut konsep yang berlaku umum, air mata yang isoosmotik dengan 1,4 persen larutan
natrium klorida, dan rekomendasi untuk menyesuaikan konsentrasi osmotik collyriums untuk
tonisitas diduga ini telah ditemukan di seluruh dunia penerimaan. Air mata manusia film 305310 mOsm / L.
Hyperosmolarity menyebabkan kerusakan sel permukaan mata, yang dapat dilihat oleh mata
pewarnaan permukaan. Kerusakan ini terjadi karena membran sel permukaan mata yang
permeabel; ketika mereka terkena air mata hyperosmotic, air mengalir keluar dari sel-sel
dalam upaya untuk menyeimbangkan osmolaritas cairan intraseluler dengan osmolaritas air
mata di sekitarnya. Ketika ini terjadi, sel-sel permukaan mata bisa mengalami dehidrasi,
kerusakan membran sel yang dan mengubah cara protein melindungi permukaan mata.
Sebuah hypoosmolarity dari 150 mOsm / L subyektif diterima dengan baik oleh pasien, tapi
75 mOsm / L menghasilkan iritasi mata. The hypoosmolarity mutlak (0 mOsm / L) air
destilasi, yang menyebabkan gatal-gatal dan pembengkakan epitel.

4. Persarafan Permukaan okuler


Permukaan terkena mata yang kaya diinervasi oleh serabut saraf sensorik berasal di neuron
ganglion trigeminal. Mereka mencapai kornea dan konjungtiva bulbar tipis mielin atau
unmyelinated serabut saraf kurang dari morfologi spesialisasi terminal. Namun, penelitian
elektrofisiologi menunjukkan bahwa neuron sensorik innervating mata secara fungsional
heterogen. Berdasarkan tanggapan mereka terhadap rangsangan tertentu, jenis fungsional
yang berbeda dari serabut saraf sensorik telah diidentifikasi dalam kornea dan konjungtiva
bulbar. Serat Mechanonociceptor (~ 20% dari total) bereaksi hanya terhadap kekuatan
mekanik; Serat nociceptor polimodal (~ 70%) menanggapi kekuatan mekanik, tetapi juga
panas, iritasi kimia eksogen dan mediator inflamasi endogen; serat dingin sensitif (~ 10-15%)
menampilkan suatu kegiatan yang sedang berlangsung impuls pada suhu basal kornea dan
meningkatkan frekuensi nyata menembak mereka dengan pendinginan moderat. Selama
peradangan, luka bedah, kekeringan aktivitas permukaan mata serabut saraf sensorik mata
perubahan nyata sebagai akibat dari perubahan jangka pendek dalam ion ekspresi saluran
sekunder untuk rilis lokal agen inflamasi dan faktor pertumbuhan, dan modifikasi tahan lama
dalam gen ekspresi. Hal ini menyebabkan perkembangan aktivitas spontan dan respon
abnormal terhadap rangsangan alami. Selain peran mereka dalam produksi sadar sensasi
berbahaya dan beracun disebut permukaan mata, serat sensorik tampaknya memainkan peran
dalam pemeliharaan homeostasis permukaan mata, termasuk basal dan modulasi refleks
robek dan pemeliharaan trofik dari kornea dan konjungtiva jaringan [ 16 ].
5. Pengaruh Obat topikal pada Okuler Permukaan
Obat glaukoma topikal telah dikaitkan dengan penyakit permukaan mata seperti setelah tetes
berangsur-angsur berinteraksi dengan jaringan permukaan mata. Interaksi ini dapat
melibatkan agen aktif sendiri atau pengawet yang digunakan untuk menyimpan botol steril
dan / atau untuk menstabilkan agen aktif dalam larutan. Kebanyakan pengawet bertindak
seperti deterjen dan mungkin juga mempengaruhi permeabilitas kornea obat topikal dengan
menyebabkan pemisahan epitel [ 17 ]. Pengawet yang paling populer adalah surfaktan
kationik termasuk benzalkonium klorida banyak digunakan (BAK). Sebagai surfaktan, BAK
dapat meningkatkan kelarutan obat yang hidrofilik dan mengerahkan efek bakterisida mereka
dengan emulsifikasi dinding sel bakteri. Kerusakan mata dari agen ini kemungkinan besar

karena emulsifikasi dari lipid membran sel [ 18 ]. BAK telah terbukti menjadi racun bagi
conjuctival [ 19 ] dan kornea sel endotel [20 ]. Hal ini juga telah terbukti menyebabkan
kekeruhan peningkatan hidrasi dan ketebalan kornea [ 21 ] dan juga menyebabkan iritasi dan
kemerahan mata. BAK menjadi deterjen kationik menyebabkan toksisitas epitel dan juga
bertanggung jawab untuk pemendekan film air mata break-up waktu, gangguan lapisan sel
permukaan dan memperlambat proses penyembuhan epitel. Penelitian telah menunjukkan
bahwa bahan pengawet lain memiliki efek yang sama pada permukaan mata [ 22 ]. Secara
keseluruhan, tampaknya pengawet merusak epitel kornea tetapi mereka meningkatkan
permeabilitas kornea pada saat yang sama. Penetrasi obat yang lebih tinggi biasanya
berhubungan dengan efek farmakologis yang lebih baik. Namun, penyerapan sistemik obat
melalui konjungtiva atau lapisan mukosa hidung juga meningkatkan [ 23 ]. Efek ini sering
bermasalah untuk obat dengan aktivitas sistemik kuat, seperti timolol.Dapat dikatakan untuk
penggunaan hati-hati dari senyawa ini. Saat ini wadah dosis tunggal yang tersedia yang tidak
mengandung bahan pengawet. Ini dapat meningkatkan kepatuhan pasien untuk mereka yang
memiliki mata sensitif atau kering tapi harus dipertimbangkan untuk pasien yang lebih tua
atau dengan pembatasan gerakan lengan, tangan atau jari. Salah satu cara untuk
meningkatkan penetrasi kornea adalah dengan meningkatkan lipofilisitas obat. Latanoprost
(Xalatan), travoprost (Travatan) adalah contoh prodrugs dikembangkan untuk tujuan
ini. Kelompok ester dalam senyawa ini meningkatkan lipofilisitas mereka dan meningkatkan
permeabilitas kornea. Prodrugs ini kemudian diubah menjadi obat aktif, bentuk asam, oleh
enzim esterase di kornea. Prodrugs memungkinkan meningkatkan penetrasi ke dalam bilik
anterior dan dapat mengurangi efek samping lokal dan sistemik dengan mengurangi
konsentrasi obat yang dibutuhkan [ 24 ].
Penyakit permukaan mata menjadi semakin lebih umum dengan usia dan glaukoma juga lebih
sering terjadi pada usia yang lebih tua. Lansia pasien pengobatan glaukoma jangka panjang
dengan beberapa obat topikal pada akhirnya memiliki penyakit permukaan mata peningkatan
risiko yang mungkin berkontribusi terhadap kepatuhan pasien miskin dan perkembangan
penyakit [ 25 ]. Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa dengan usia ada aktivasi glia dalam
kepala saraf optik, peningkatan matriks ekstraselular penurunan sel ganglion retina,
menyebabkan perkembangan percepatan proses glaukoma dan pengobatan lebih agresif
diperlukan.
6. Mekanisme Aksi topikal hipotensi Obat

Untuk pengobatan glaukoma IOP dapat diturunkan dengan tiga mekanisme dasar: penekanan
pembentukan aqueous humor, peningkatan outflow trabekular dan peningkatan outflow
uveal. Untuk mempengaruhi arus jalur konvensional, obat harus disampaikan kepada
trabecular meshwork dan bagian memanjang dari otot siliaris dan mungkin ke pembuluh
episcleral dan myofibroblast dari memacu scleral. Untuk mempengaruhi obat keluar
uveoscleral harus sampai ke jaringan interstitial otot siliaris. Untuk mempengaruhi obat
sekresi air harus ditargetkan untuk proses silia, yang merupakan target utama dari betablocker.
-Beta adrenergik reseptor (1 dan 2) tersebar luas di mata. Mereka ditemukan di permukaan
mata, di pembuluh mata, trabecular meshwork, epitel lensa, tubuh ciliary dan retina. 2reseptor mendominasi dalam jaringan mata, termasuk proses silia, di mana mereka mewakili
75-90% atau lebih dari reseptor [26 ]. Beta blockers adalah antagonis kompetitif dari
reseptor -adrenergik. Mereka menghambat aktivasi reseptor ini dalam proses silia dengan
menghalangi pengikatan neurotransmiter adrenergik endogen.Dengan blokade siklik ini
tingkat AMP menurun dan akibatnya produksi humor aqueous ditekan [ 27 ].
Karbon anhidrase di mata adalah yang paling melimpah dalam tubuh silia, terutama tipe II
dan IV, tetapi dapat ditemukan dalam jaringan mata lain juga. Inhibitor anhydrase karbonat
(CAI) menghambat karbonat anhidrase dalam epitel silia dan mengurangi produksi ion
bikarbonat, yang merupakan komponen penting untuk transportasi ion aktif dalam
pembentukan air. Penurunan bikarbonat membatasi natrium dan transportasi cairan di epitel
silia dan menurunkan produksi humor aqueous [ 27 ].
Mekanisme utama dimana sebagian prostaglandin (PG) mengurangi TIO adalah dengan
meningkatkan aliran, terutama melalui jalur keluar uveoscleral, mungkin dengan relaksasi
dari otot siliaris dan lisis dari ekstraselular matriks jaringan ikat [ 28 , 29 ], bukan dengan
mengurangi aqueous humor produksi [ 30 ].PG mengikat reseptor khusus untuk PG hadir di
hampir semua jaringan mata.

7. okuler Iritasi dan Aliran Darah


Stimulasi ganglion kompleks sphenopalatina, sebuah fenomena yang dikenal selama iritasi
mata dapat menyebabkan peningkatan aliran darah otak dan karena ganglion sphenopalatina
adalah ganglion parasimpatis yang mengirimkan serat pasca-ganglionik ke kelenjar lakrimal,

disarankan bahwa stimulasi serat yang membentuk dahan eferen dari sekresi refleks air mata
yang disebabkan kenaikan diamati ini aliran darah okuler [ 31 ]. Masih harus dievaluasi
apakah iritasi selain ketidaknyamanan subjektif mungkin berguna dan memiliki efek positif
pada sirkulasi mata.
Aliran darah mata dapat dibagi menjadi choroidal, retrobulbar, dan aliran darah
retina. Dengan usia, perubahan dalam pembuluh darah sebagai penebalan membran arteriol
basement, penurunan elastin, mungkin menyebabkan penurunan aliran darah, meningkatkan
resistensi terhadap aliran dan penurunan aktivitas oksida nitrat. Pembuluh darah choroidal
menunjukkan

kepadatan

menurun,

diameter

lumen

dan

volume

darah

dengan

usia. Dikombinasikan dengan peningkatan kekakuan scleral dan tekanan darah sistemik, ini
menyebabkan penurunan suplai darah mata. Sirkulasi retrobulbar mengalami penurunan
kecepatan aliran dan peningkatan resistivitas. Aliran darah retina menunjukkan penurunan
yang sama dalam volume dan kecepatan, yang mengarah ke penurunan optik sirkulasi kepala
saraf [ 32 ].
Ini masih harus dilihat apa efek dari obat mata dan sistemik pada aliran darah mata. Sebagian
besar obat topikal dalam penurunan konvensional berukuran diserap ke dalam sistem darah di
konjungtiva atau saluran naso-lakrimal atau sistem pencernaan, dan dari situ dapat menembus
jaringan mata dari kedua mata. Penetrasi dikendalikan oleh darah retina penghalang
[ 33 ]. Rute sistemik penetrasi dapat menyediakan sebagian besar dari jumlah yang sangat
kecil dari obat yang ditemukan dalam vitreous atau retina setelah pemberian topikal dan efek
kontralateral signifikan juga telah dilaporkan pada manusia.Ketika molekul obat memasuki
vitreous, kemungkinan besar di zona anterior, mereka dapat berkembang lebih lanjut untuk
fundus dengan difusi melalui gel ketika dibentuk atau konveksi ketika cair. Gerakan ini dapat
divisualisasikan oleh pelacak neon atau MRI [ 34 ].
Kebanyakan tetes mata yang sangat terikat pada uveal dan jaringan retina. Ini membatasi
jumlah obat bebas yang tersedia untuk bertindak pada reseptor pembuluh darah pada tahap
awal penetrasi obat ke dalam segmen posterior. Pengikatan obat harus sesuai dengan
memperluas volume vitreous, sehingga konsentrasi terikat bentuk aktif farmasi di dalamnya
akan berkurang selama tahap masuknya administrasi dan berkepanjangan ketika pengobatan
terganggu atau dihentikan. Pada konsentrasi obat sisi lain dalam vitreous belum tentu
merupakan indikasi tindakan pada retina: mungkin mewakili adanya reseptor vasomotive
dalam jaringan retina atau kurangnya akses kepada mereka [ 35]

8. Kesimpulan
Glaukoma adalah penyakit yang mengancam visi yang membutuhkan pengobatan seumur
hidup dan kepatuhan pasien. Topical IOP Menurunkan telah menjadi standar emas dalam
terapi glaukoma selama beberapa dekade. Memiliki keuntungan yang jelas dari dosis yang
mudah dan aplikasi, bersama-sama dengan penyerapan sistemik minimum, namun kelemahan
utamanya adalah kepatuhan pasien miskin dan kontrol ketekunan. Hal ini masih akan
menyelidiki apakah obat glaukoma topikal dapat meningkatkan hemodinamik okular dan
fungsi visual yang sangat penting dalam pengelolaan glaukoma.