Anda di halaman 1dari 14

TUGAS ESSAY

MANAJEMEN & PENGENDALIAN MUTU


SISTEM PENGOLAHAN AIR

OLEH:
___________________________
EKA WAHYU LESTARI
14340004

DOSEN :
DRS. I WAYAN REDJA, M.CHEM, APT

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2015

PENDAHULUAN
Sistem Pengolahan Air (SPA) adalah suatu sistem untuk memperoleh air
dengan kualitas yang dibutuhkan oleh setiap jenis obat yang dibuat dan memenuhi
persyaratan monografi farmakope.
Air memegang peran penting dan kritis dalam industri farmasi karena
merupakan bahan awal untuk memastikan produksi obat yang bermutu dan aman
bagi para pengguna.
Karena perannya yang penting, SPA ini perlu didesain, dibuat, dicommissioning, dikualifikasi, dioperasikan dan dirawat dengan benar untuk
mencapai tujuan penggunaannya.
SPA perlu ditunjang sumber daya, teknologi maupun pemantauan sehingga
penting untuk memperhatikan Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) dan Cara
Rekayasa Yang Baik atau Good Engineering Practice (GEP).
ISI
Air untuk produksi (Air Untuk Penggunaan Farmasi/APF atau Water For
Pharmaceutical Use/WPU) memegang peranan penting dan kritis dalam industri
farmasi. Hal ini disebabkan beberapa hal, antara lain :
1. Air merupakan bahan baku, dalam jumlah besar, terutama untuk produk
sirup, obat suntik cair, cairan infus, dan lain-lain sehingga apabila
tercemar, beresiko sangat fatal bagi pemakai.
2. Untuk memastikan produksi obat yang bermutu dan aman bagi para
pengguna.
Persyaratan mutu APF hendaklah ditetapkan berdasarkan karakteristik
produk, proses produksi dan cara pemberian obat. untuk membantu pemili[an
jenis air yang sesuai, monografi farmakope menyediakan persyaratan minimum
untuk semua jenis APF.
Industri farmasi hendaklah menetapkan persyaratan mutu air yang
diperlukan sesuai monografi farmakope sebagai persyaratan minimum
berdasarkan karakteristik produk dan proses produksinya. Secara mendasar,
industri farmasi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa air yang dipakai
untuk memproduksi obat adalah tepat dan dapat dibuktikan handal untuk
memproduksi produk yang aman.
Mutu APF adalah spesifik untuk setiap bentuk sediaan obat. Dengan
mempertimbangkan biaya dan kerbatasan lain, industri farmasi dapat membuat
dan mendistribusikan beberapa atau mungkin hanya satu jenis mutu air, misal Air
Murni.
Pada tahap perencanaan SPA, hendaklah dilakukan kajian yang mendalam
dengan mempertimbangkan kualltas air baku di mana lokasi industri farmasi
berada atau sumber air pasokan, misai air sumur dalam, air yang diperoleh dari
Perusahaan Air Minum (PAM). Beberapa parameter yang perlu diperhatikan,

antara lain tingkat kesadahan, kadar silikat, zat yang terlarut dan tidak terlarut, dan
sebagainya.
Dengan demikian desain yang perlu dikaji mencakup SPA (tahap awal
dan/atau tahap akhir) yang tepat dan sesuai untuk memperoleh air dengan kualitas
yang ditetapkan dan memenu hi perrsyaratan pada saat proses kualifikasi serta
secara konsisten memenuhi persyaratan monograi farrnakope selama pemakaian
dalam produksi.
Pengolahan Akhir
Air Pasokan

Pengolahan
Awal

Penghilangan Ion
Primer

Penghilangan Ion
Sekunder

Polishing

Reverse
Osmosis

Continous
Electrodeionization

Mixed Bed
Penuka Ion

Reverse
Osmosis

Ultrafiltrasi

Penukar
Ion

Mikrofiltrasi

Penukar
Ion

Lampu UV

Pengolahan Akhir
Air Untuk Injeksi

Penyimpanan Air
dan Distribusi
(Air Murni/Air
untuk Injeksi)

Distilasi

Penukar
Ion

Distilasi

Beberapa Pilihan Konsep Dasar dan Proses Desain Untuk SPA

Terdapat tiga hal yang diatur di dalam sistem pengolahan air, yaitu
Spesifikasi Mutu Air, Sistem Pemurnian Air dan Sistem Penyimpanan dan
Distribusi Air.
Spesifikasi Mutu Air
Spesifikasi mutu air, secara garis besar Spesifikasi Mutu Air dapat dibagi
menjadi beberapa grade sebagai berikut:
1. Air Pasokan (Feed Water)
2. Air Murni (Purified Water)
3. Air dengan Tingkat Pemurnian yang Tinggi (Highly Purified Water/HPW)
4. Air Untuk Injeksi (Water for Injection/WFI)
5. Air dengan Mutu Tertentu untuk Proses dan Pembuatan Bentuk Sediaan
Sistem Pemurnian Air
Sistem pemurnian air, kecuali untuk pembuatan WFI, sistem pemurnian air
tidak ditetapkan dalam kompendia. Jadi Industri Farmasi masing-masing bebas
untuk menentukan sistem mana yang paling sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Desain, konfigurasi dan tata letak peralatan pemurnian air, sistem
penyimpanan dan distribusi harus mempertimbangkan hal-hal sbb:
1. Ketersediaan ruang untuk instalasi

2. Beban struktural dalam bangunan


3. Ketersediaan akses yang memadai (terutama untuk pemeliharaan dan
pengawasan)
4. Kemampuan penanganan bahan kimia untuk regenerasi dan sanitasi secara
aman.
Mekanisme kerja Purified Water System, merupakan sistem pengolahan
air yang dapat menghilangkan berbagai cemaran (ion, bahan organik, partikel,
mikroba dan gas) yang terdapat di dalam air yang akan digunakan untuk produksi.
Air (raw water) pengolahan air dapat diperoleh dari air PDAM (city water),
Shallow well (sumur dangkal) dengan kedalaman 10-20m, atau berasal dari Deep
well (sumur dalam) dengan kedalaman 80-150m. Variasi mutu dari pasokan air
mentah (raw water) yang memenuhi syarat ditentukan dari target mutu air yang
akan dihasilkan. Demikian pula mutu air menentukan peralatan yang diperlukan
untuk pengolahan air tersebut. Purified water system terdiri dari Multimedia filter,
Carbon filter, Water softener, Heat Exchanger (HE), Micro filter, Ultra filtration
(R.O = Reverse Osmosis), dan Electro De-Ionization (EDI).
Multimedia filter, berfungsi untuk menghilangkan lumpur, endapan dan
partikel-partikel yang terdapat pada raw water. Multimedia filter terdiri dari
beberapa filter dengan porositas 6-12 mm; 2,4 4,8 mm; 1,2-2,4 mm; dan 0,6-1,2
mm. Filter-filter ini tersusun dalam satu vessel (tabung) dengan bagian bawah
tabung diberikan gravel atau pasir sebagai alas vessel (sehingga sering juga
disebut dengan sand filter).
Active Carbon filter, adalah karbon yang telah diaktifkan dengan
menggunakan uap bertekanan tinggi atau karbon dioksida (CO2) yang berasal dari
bahan yang memiliki daya adsorbsi yang sangat tinggi. Biasanya digunakan dalam
bentuk granular (butiran). Active carbon berfungsi sebagai pre-treatment sebelum
proses de-ionisasi untuk menghilangkan chlorine, chloramine, benzene, pestisida,
bahan-bahan organik, warna, bau dan rasa dalam air.
Water Softener Filter, berisi resin anionik yang berfungsi untuk
menghilangkan dan/atau menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion Ca +
+
dan Mg++ yang menyebabkan tingginya tingkat kesadahan air.
Reverse Osmosis, merupakan teknik pembuatan air murni (purified water)
yang dapat menurunkn hingga 95% Total Dissolve Solids (TDS) di dalam air.
Reverse osmosis terdiri dari lapisan filter yang sangat halus (hingga 0,0001
mikron).
EDI (Elektonic De-Ionization), merupakan perkembangan dari Ion
Exchange system dimana sebagai pengikat ion (+) dan (-) dipakai juga elektroda
disamping resin. Elektroda ini dihubungkan dengan arus listrik searah sehingga
proses pemurnian air dapat berlangsung terus menerus tanpa perlu regenerasi.
Setelah melewati EDI, selanjutnya purified water yang dihasilkan ditampung

dalam tanki penampungan (storage tank) yang dilengkapi dengan CIP (cleaning
in place) dan looping system dan siap didistribusikan ke ruang produksi.
Sistem Penyimpanan dan Distribusi Air
Sistem penyimpanan dan distribusi air, merupakan salah satu bagian
penting dari seluruh sistem, dan harus dirancang terintegrasi sepenuhnya dengan
komponen sistem pemurnian air. Sistem penyimpanan dan distribusi harus
dikonfigurasikan untuk mencegah kontaminasi berulang terhadap air setelah
pengolahan. Konfigurasi ini harus menerapkan kombinasi pemantauan online dan
offline untuk menjamin spesifikasi air yang tepat dipertahankan. Selanjutnya,
setelah air dimurnikan dengan menggunakan metode yang sesuai, dapat
digunakan secara langsung atau lebih sering, disalurkan ke dalam tangki
penyimpanan untuk didistribusikan ke titik pengguna.
Teknik pengendalian biokontaminasi, salah satu permasalah yang harus
mendapat perhatian serius selama penyimpanan dan distribusi air adalah masalah
pengendalian proliferasi mikroba. Terdapat beberapa teknik yang digunakan
terpisah atau, lebih sering, dalam kombinasi, yaitu:
1. Mempertahankan sirkulasi aliran turbulen secara kontinu dalam sistem
distribusi air untuk mengurangi kecenderungan pembentukan biofilm
2. Desain sistem yang memastikan pipa sependek mungkin
3. Dalam sistem bersuhu ambien, pipa dilindungi terhadap pengaruh pipa
panas yang berdekatan
4. Deadlegs pada instalasi pipa lebih kecil dari tiga kali diameter pipa cabang
5. Pengukur tekanan dipisahkan dari sistem dengan membrane
6. Penggunaan katup diafragma yang higienis
7. Sistem pemipaan dipasang dengan kemiringan tertentu untuk
memungkinkan pengosongan drainable
8. Penghambatan pertumbuhan mikroba dengan cara berikut: radiasi
ultraviolet dalam sistem pemipaan; mempertahankan pemanasan sistem
(pada suhu acuan > 65C); sanitasi sistem secara berkala menggunakan air
panas (pada suhu acuan >70C) atau air panas superheated atau uap murni;
dan sanitasi rutin secara kimiawi menggunakan ozon atau bahan kimia
yang cocok.
Jika digunakan sanitasi kimiawi, penting untuk membuktikan residu bahan
kimia telah dihilangkan sebelum air digunakan. Ozon dapat dihilangkan secara
efektif menggunakan radiasi ultraviolet pada panjang gelombang 254nm yang jam
penggunaannya diperiksa secara berkala.

Kualifikasi dan Inspeksi Sistem Pengolahan Air, sistem Pengolahan Air


merupakan sistem kritis yang berdampak langsung terhadap mutu, sehingga
parameter mutu kritis sistem tersebut harus dikualifikasi. Kualifikasi yang akan

dilakukan harus mengikuti kaidah validasi yang mencakup Kualifikasi Desain


(KD), kualfikasi Instalasi (KI), Kualifikasi Operasional (KO) dan Kualifikasi
Kinerja (KK) sesuai dengan Pedoman CPOB. KD, KI dan KO sangat tergantung
dari masing-masing sistem yang diinstall oleh masing-masing industri farmasi,
sehingga Juknis CPOB tidak memberikan guideline yang spesifik. Juknis CPOB
(dan juga POPP CPOB) hanya memberikan guideline mengenai pelaksanaan KK
(kualifikasi Kinerja) dengan pendekatan 3 fase, yaitu fase 1, fase 2 dan fase 3
(lampiran 5).
Inspeksi Sistem Pengolahan Air, SPA merupakan salah satu sarana
penunjang kritis, sehingga senantiasa menjadi subyek inspeksi oleh Badan
POM. Berikut adalah acuan yang dapat digunakan mengenai apa saja yang perlu
disiapkan dalam pelaksanaan inspeksi atau audit mutu:
1. Gambar SPA terakhir yang menunjukan semua peralatan dalam sistem
denganpenandaan fungsi alat mulai dari awall inlet sampai titik pengguna
lengkap dengantitik pengambilan sampel;
2. Gambar pemipaan yang disetujui (misal, ortografis dan/atau isometris);
3. Pola pengambilan sampel dan pemantauan dilengkapi gambar semua titik
sampel;
4. Program pelatihan untuk pengambilan dan pengujian sampel;
5. Penetapan batas waspada dan batas bertindak untuk pemantauan;
6. Pemantauan hasil dan evaluasi tren;
7. Pemeriksaan terhadap kajian sistem tahunan yang terakhir;
8. Pengkajian perubahan terhadap sistem sejak inspeksi terakhir dan
pemeriksaan apakah pengendalian perubahan telah diimplementasikan;
9. Pengkajian terhadap penyimpangan yang tercatat dan investigasinya;
10. lnspeksi umum terhadap status dan kondisi sistem;
11. Pengkajian catatan perawatan, kegagalan dan perbaikan; dan
12. Pemeriksaan kalibrasi dan standardisasi instrumen kritis.
KESIMPULAN
1. Sistem Pengolahan Air (SPA) adalah suatu sistem untuk memperoleh air
dengan kualitas yang dibutuhkan oleh setiap jenis obat yang dibuat dan
memenuhi persyaratan monografi farmakope.
2. Terdapat tiga hal yang diatur di dalam sistem pengolahan air, yaitu spesifikasi
mutu air, sistem pemurnian air dan sistem penyimpanan dan distribusi air.
3. Secara garis besar Spesifikasi Mutu Air dapat dibagi menjadi lima grade, yaitu
Air Pasokan (Feed Water), Air Murni (Purified Water), Air dengan Tingkat
Pemurnian yang Tinggi (Highly Purified Water/HPW), Air Untuk Injeksi
(Water for Injection/WFI) dan Air dengan Mutu Tertentu untuk Proses dan
Pembuatan Bentuk Sediaan.
4. Sistem Pemurnian Air, kecuali untuk pembuatan WFI tidak ditetapkan dalam
kompendia. Desain, konfigurasi dan tata letak peralatan pemurnian air, sistem
penyimpanan dan distribusi harus mempertimbangkan empat hal, yaitu
Ketersediaan ruang untuk instalasi, Beban struktural dalam bangunan,

Ketersediaan akses yang memadai (terutama untuk pemeliharaan dan


pengawasan) dan Kemampuan penanganan bahan kimia untuk regenerasi dan
sanitasi secara aman.
5. Purified water system terdiri dari Multimedia filter, Carbon filter, Water
softener, Heat Exchanger (HE), Micro filter, Ultra filtration (R.O = Reverse
Osmosis), dan Electro De-Ionization (EDI).
6. Sistem penyimpanan dan distribusi air, merupakan salah satu bagian penting
dari seluruh sistem, dan harus dirancang terintegrasi sepenuhnya dengan
komponen sistem pemurnian air. Sistem penyimpanan dan distribusi harus
dikonfigurasikan untuk mencegah kontaminasi berulang terhadap air setelah
pengolahan. Konfigurasi ini harus menerapkan kombinasi pemantauan online
dan offline untuk menjamin spesifikasi air yang tepat dipertahankan.

DAFTAR PUSTAKA

BPOM RI. 2012. Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik. Jakarta: BPOM RI

BPOM RI. 2012. Petunjuk Teknis Sarana Penunjang Kritis Industri Farmasi.
Jakarta: BPOM RI

Lampiran

Lampiran 1
Bagan Pengolahan Alir

Lampiran 2
Berikut adalah sebagian persyaratan spesifikasi mutu macam-macam air
yang digunakan:
Information

Purified Water
Ph. Eur. + USP

Highly Purified
Water
Ph. Eur.

Water For
Injection
Ph. Eur.
USP

Conductivity at 25C
Heavy metals
Nitrate
Total organic carbon
Microbial limit
Endotoxines

1.3 S/cm
< 500 ppb
< 100 cfu/ml
-

1.3 S/cm
0.1 ppm
0.2 ppm
< 500 ppb
< 10 cfu/ml
< 0.23 Eu/ml

1.3 S/cm
0.1 ppm
0.1 ppm
< 500 ppb
< 10 cfu/ml
< 0.23 Eu/ml

Lampiran 3
Penggunaan dari masing-masing air untuk sediaan steril adalah sbb:
Sediaan

Kualitas Air

Sistem
Distribusi

Batasan

Parenteral
volume besar

Air untuk
injeksi

Hot loop
system

Terkualifikasi

Parenteral
volume kecil

Air untuk
injeksi

Hot loop
system

Bila tidak
menggunakan

Keterangan
Syarat TOC dan
conductivity pada
user points
Feed water: air
murni

Betalaktam
dan non
betalaktam
dipisah

Tetes mata
dan telinga

Air murni,
filter 0.22 m

Loop system

loop system,
harus
ditampung
segar dan
penyimpanan
tidak lebih dari
24 jam
tervalidasi
Bila tidak
menggunakan
loop system,
harus
ditampung
segar dan
penyimpanan
tidak lebih dari
24 jam
tervalidasi

Syarat
conductivity pada
user points

Lampiran 4
Penggunaan dari masing-masing air untuk sediaan non steril adalah sbb:
Sediaan
Sirup, krim
(a/m dan m/a),
gel, cairan
obat luar

Kualitas Air
Air murni

Sistem
Distribusi
Loop system

Batasan

Keterangan

Terkualifikasi Jika tidak


menggunakaan
Loop system, air
tidak boleh
disimpan lebih

dari 24 jam
Saring dengan
filter bakteri 0,45
m

Sediaan padat,
suppositoria,
ovula & salep

Pembilasan
akhir

Air murni

Air murni

Boleh tanpa
Loop
Loop untuk
non
Betalaktam
Betalaktam

dan non
Betalaktam
dipisah

Terkualifikasi
Sanitasi
berkala
Syarat
mikroba:
max. 100
cfu/ml
Tidak ada E.
Coli dan
Salmonella
sp/100 ml
Syarat
conductivity
pada user points

Lampiran 5
Ringkasan pelaksanaan kualifikasi kinerja sistem pengolahan air dengan
pendekatan 3 fase, yaitu fase 1, fase 2 dan fase 3 3 fase:
Fase
Validasi
Kualifikasi
kinerja fase 1

Durasi
Min. 2 - 4
minggu

Frekuensi
Pengambilan
Keterangan
Sampel
Tiap hari di tiap titik Pada fase ini air belum boleh
pemantauan
digunakan untuk produksi
Parameter pengujian kimia dan
mikrobiologi

Kualifikasi
kinerja fase 2

Min. 2 - 4
minggu

Kualifikasi
kinerja fase 3

Min. 52
minggu

Tujuan:
Menetapkan parameter
sistem pengolahan air
termasik titik pengambilan
sampel
Menetapkan prosedur
pengoperasian,
pembersihan, sanitasi dan
perawatan
Menetapkan batas waspada
dan batas tindakan
Tiap hari di tiap titik Pada fase ini air boleh digunakan
pemantauan
bila memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan
Parameter pengujian kimia dan
miktobiologi
Tujuan: memverifikasi parameter
operasional yang ditetapkan
pada fase 1
Tiap hari dan dalam Pada fase ini air boleh digunakan
seminggu secara
bila memenuhi spesifikasi yang
bergilir harus
ditetapkan
mencakup semua
Parameter pengujian kimia dan
titik pemantauan.
mikrobiologi
Titik pemantauan,
Tujuan: memastikan konsistensi
frekuensi dan jenis
kinerja selama 1 tahun yang
pengujian sampel
mencakup variasi karena
dapat dikurangi
pergantian musim
berdasarkan hasil
pemantauan pada
fase 1 dan fase 2