Anda di halaman 1dari 10

Review Kebijakan

Pemerintahan Jokowi-JK
Pembangunan Infrastruktur Demi Mengakomodasi Bonus Demografi:
Anugerah berupa Bom Waktu
Indra Himawan Adlan - 1206248281
12/15/2014

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia


2014

Statement of Authorship

Kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan
tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami
menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.
Mata Ajaran

: Perekonomian Indonesia

Judul Makalah/Tugas

Review Kebijakan Fiskal Pemerintahan Kabinet Kerja Jokowi-JK


Pembangunan Infrastruktur Demi Mengakomodasi Bonus Demografi: Anugerah berupa
Bom Waktu
Tanggal

: 15 Desember 2014

Dosen

: Tim Dosen

Nama

: Indra Himawan Adlan

NPM

: 1206248281

Tandatangan :

Page | 1

Review Kebijakan Fiskal Pemerintahan Kabinet Kerja Jokowi-JK


Pembangunan Infrastruktur Demi Mengakomodasi Bonus Demografi: Anugerah berupa
Bom Waktu
Indra Himawan Adlan - 1206248281
Isu pencabutan subsidi BBM yang sudah lama digadang-gadang oleh para ekonom
Indonesia sejak zaman pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 akhirnya menemui
suatu titik krusial yang pertama. Belum sampai setengah periode dari 100 hari pemerintahan
Jokowi-JK, Jokowi mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi berupa Premium dan
Solar sebesar Rp 2000 masing-masing. Yang mengejutkan publik adalah, meskipun
memang sudah sering diberitakan jauh sebelum pelantikan presiden yang baru bahwa BBM
akan naik jika Jokowi-JK yang memenangi Pemilu Presiden, pengumuman kenaikan harga
BBM bersubsidi ini berada di tengah situasi mempertahankan status-quo oleh negaranegara penghasil minyak baik yang tergabung dalam kartel internasional berupa OPEC
ataupun tidak yang membuat harga minyak dunia terus mengalami penurunan sampai
artikel ini ditulis.
Kabar terakhir, 11 Desember 2014, melalui newsticker TV One, harga minyak dunia
menembus batas dibawah $60 per barrel. Hal yang mendasari peristiwa ini adalah anggota
OPEC tidak mau menurunkan pagu produksinya meskipun permintaan atas bahan bakar
minyak di dunia sedang menurun akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina yang
diprediksi oleh World Bank, yang juga berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi
dunia secara keseluruhan. Rusia, yang merupakan negara penghasil minyak terbesar ketiga
di dunia juga tidak mau menurunkan produksinya karena negara tersebut sedang
membutuhkan banyak pemasukan untuk membantu memulihkan krisis yang melanda.
Asumsi yang berlaku dalam APBN 2014 bahwa ICP yang menjadi patokan harga
BBM di Indonesia, berada pada posisi $105/barrel dengan asumsi kurs Rp 10.500 per US
dollar. Kuartal keempat tahun 2014 rupiah berada pada kisaran Rp 11.950-12.250[1]. Secara
hitungan kasar, memang kenaikan harga BBM bersubsidi akan membuat inflasi menjadi
6,1% (yoy) menurut Gubernur BI.[2]
Akan tetapi, jika menggunakan pendekatan makroekonomi yang lebih visioner dan
top-down, Indonesia menghadapi suatu peristiwa yang disebut Bonus Demografi. Bonus
demografi secara garis besar adalah adanya surplus angkatan kerja, dimana angka
dependency ratio suatu negara kurang dari indeks 100. Hal yang harus dipahami dalam
peristiwa ini adalah, Indonesia mempunyai kesempatan untuk mengambil alih pangsa pasar
yang dimiliki Cina sebelumnya dengan memanfaatkan besarnya surplus angkatan kerja
yang dimiliki sebelum menua. Berdasarkan buku The Economic Choices Facing The Next
President (2014), diestimasikan terdapat surplus 20 juta tenaga kerja yang berada pada
sektor agrikultur dan sektor informal lainnya.
Dalam logika sederhana, Indonesia dapat meningkatkan PDB dalam tingkatan yang
cukup signifikan sembari mengentaskan kemiskinan yang melanda, dengan catatan
1

www.bi.go.id

Inflasi Mulai Tertekan Pasca Kenaikan BBM. Jpnn.com 27 November 2014. (diakses 29 November
2014 Jam 17.15 WIB)
2

Page | 2

pemerintah harus melakukan kebijakan yang tepat untuk mengarahkan Indonesia pada
tujuan tersebut, dengan tidak menyia-nyiakan bonus demografi ini.
Diestimasikan, dalam buku tersebut jika pemerintah melakukan reformasi tegas akan
tercipta laju pertumbuhan ekonomi sebesar 10% dan 4 juta lapangan kerja per tahun.
Berarti, pada akhir periode pemerintahan akan tercipta 20 juta lapangan kerja baru dan
peningkatan pendapatan per kapita sebesar 36%.
Jika pemerintah hanya menjalankan kesehariannya seperti biasa, hanya akan
tercipta laju pertumbuhan sebesar 5% dan 1 juta lapangan kerja per tahun. Akibatnya,
sekitar 14 juta tenaga kerja harus menjadi TKI karena mereka gagal menemukan pekerjaan
yang layak dan produktif yang memberikan mereka kepastian akan pendapatan yang lebih
tinggi dan rutin.
Untuk itu, perlu adanya reformasi struktural yang komprehensif dan tegas dalam
membenahi segala aspek baik dari segi ekonomi, politik, keamanan dan pertahanan, sosial,
dan IPTEK. Salah satu unsur penting dalam meningkatkan kehidupan penduduk miskin di
banyak negara adalah perbaikan infrastruktur dasar seperti: jalan-jalan, air, limbah, dan
listrik (Bank Dunia, 1994). Prioritas utama harus dititik-beratkan pada pembangunan
infrastruktur dan bagaimana pelaksanaan sistem terkait dapat membantu efektivitas dan
efisiensi infrastruktur tersebut.
Sejauh ini, Presiden Jokowi berniat meningkatkan produktivitas sektoral dengan
mengalihfungsikan subsidi BBM untuk,
a. Subsidi pertanian: penyediaan benih dan pupuk yang murah
b. Subsidi kesehatan dan pendidikan melalui Kartu Indonesia Sehat dan Kartu
Indonesia Pintar
c. Subsidi perikanan: penyediaan mesin perahu dan mesin pendingin untuk
penyimpanan ikan
d. Kredit UMKM
e. Pembangunan infrastruktur
1) Pembangunan Tol Laut dan Pelabuhan Besar
2) Pembangunan Pembangkit Listrik 35.000 MW
3) Transportasi Massal di 6 kota besar
4) Pembangunan jalan tol
5) Ekspansi jalur kereta api
6) One Stop Service for Business Permit
Kebijakan Fiskal yang Dilaksanakan Pemerintahan Jokowi-JK
A. Pembangunan Tol Laut sebagai akomodasi penciptaan poros maritim
Dalam konferensi APEC & CEO Summit 2014 di China, ditegaskan kembali
oleh Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia akan membangun 24 pelabuhan besar
dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Infrastruktur ini diperlukan untuk
mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat di bagian barat dan timur
Indonesia dalam berbagai macam hal seperti pangan, sandang, dan barang modal.
Dijelaskan dalam pidato tersebut bahwa harga satu sak semen di Papua bisa
berpuluh-puluh kali lipat harganya daripada harga barang yang sama di pulau Jawa.
Ketersediaan barang di Indonesia timur yang rendah menyebabkan harga
Page | 3

melambung tinggi, dengan adanya jalur laut yang terhubung antar pulau dengan
intensitas pelayaran yang cukup, diharapkan harga-harga komoditas dan barang
modal yang dibutuhkan dapat turun dan merata di seluruh wilayah sesuai dengan
hukum permintaan dan penawaran.
Menurut indeks logistik olahan Gustav F. Papanek, Indonesia pada tahun 2012
berada pada peringkat 59 naik peringkat ke peringkat 53 pada tahun berikutnya. [3]
Lebih lanjut, dinyatakan bahwa meskipun terdapat perubahan peringkat, tetap saja
timbul ketidak-merataan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia karena
peringkat tersebut terdorong oleh pertumbuhan signifikan masyarakat kelas
menengah ke atas terutama di daerah pulau Jawa. Terbukti dengan melebarnya
jurang kesenjangan di antara masyarakat Indonesia yang tercermin dalam koefisien
Gini yang menembus angka 0,41 dalam Grafik 1 dibawah ini.
Grafik 1 Koefisien Gini Indonesia dari Tahun 1964-2013

Urgensi dari tol laut ini menjadi sangat diprioritaskan berdasarkan fakta-fakta
tersebut, bahwa diperlukan suatu jaringan logistik yang memadai untuk membantu
pemerintah melaksanakan pemerataan pembangunan. Dengan kondisi geografis
yang didominasi lautan dan daratan berupa kepulauan, pemerintah berpendapat
bahwa transportasi maritim menjadi pilihan terbaik untuk menyelesaikan
permasalahan logistik. Terlebih posisi Indonesia yang juga strategis karena
menghubungkan benua Asia dan Australia, dan juga merupakan jalur perdagangan
Malaka-Cina Selatan.
B. Pembangunan infrastruktur manufaktur dan infrastruktur pendukung
Lebih lanjut mengenai pidato presiden Joko Widodo dalam APEC & CEO
Summit, Indonesia ingin berekspansi dalam hal industri manufaktur untuk
memanfaatkan banyaknya jumlah penduduk yang ada. Secara jelas, hal ini terbukti
tepat jika industri manufaktur yang dimaksud adalah industri yang padat karya. Jika
industri padat modal yang ingin digadang lebih besar, bisa dipastikan banyak sumber
daya manusia yang akan tidak terpakai dan akhirnya harus terbang ke luar negeri
untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai kualifikasi. Terlihat jelas dalam Grafik 2[4],
komposisi penduduk Indonesia mayoritas berlatar belakang pendidikan dasar
terutama untuk 40% penduduk termiskin berdasarkan kelompok konsumsi.
3

Papanek, 2014. Measuring the Success of Policy and Program Reforms in Statistical and Technical Appendix to
The Economic Choices Facing the Next President. Based on Logistic Index of World Bank (2014). This data is
not available monthly.
4

Papanek, 2014. Gini Coefficient Index 1964/65 to 2013 2013 in Statistical and Technical Appendix to The Economic
Choices Facing the Next President. Based on BPS data on Selected Consumption Indicators, Indonesia 1999, 2002-2013

Page | 4

Grafik 2 Kelompok Konsumsi Penduduk Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan

Untuk membangun industri manufaktur ini ada banyak hal yang harus
dipertimbangkan dari segi pembangunan infrastruktur pendukung. Papanek dkk.
merumuskannya dalam 5 hal
i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.

Menempatkan pembangunan infrastruktur di daerah yang infrastrukurnya


buruk, harga tanah, dan upah buruh murah
Memberikan ruang dan peran yang lebih besar terhadap sektor swasta untuk
membantu pembangunan melalui skema production sharing.
Mempermudah perizinan usaha
Meningkatkan produksi listrik dengan peningkatan kerja sama antara PLN
dengan pihak swasta
Menyediakan BBM murah kepada kendaraan angkutan dan mengonversi
kendaraan komersial lain ke gas tanpa biaya pada inisiasinya.
Meningkatkan produksi bahan baku energi lebih besar ketimbang
meningkatkan impor atas LNG dan BBM, dengan memperbaharui kontrak
asing menggunakan skema production sharing.

Setidaknya untuk poin ii, iii, dan vi, secara eksplisit telah tergambar dalam pidato
Jokowi dalam pertemuan tersebut. Kabar terakhir melalui media nasional dinyatakan
bahwa perizinan usaha sudah akan tersentralisasi di Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) efektif tertanggal 1 Januari 2015. Jika keseluruhan rekomendasi ini
dapat dilaksanakan dengan baik, bukan hal yang mustahil Indonesia dapat memenangi
perebutan pangsa pasar milik Cina dengan negara kompetitor seperti Bangladesh,
India, Vietnam, dan Filipina.
Kendala Utama Pembangunan Infrastruktur
Permasalahan utama dari pembangunan infrastruktur ini meliputi dua hal. Pertama
adalah persoalan pendanaan, pada bab 6 buku ECFNP, disebutkan bahwa selama ini
pengeluaran pemerintah terkait pembangunan infrastruktur hanya sebesar 1% dari total
PDB. Berdasarkan pengalaman negara-negara lain, dibutuhkan setidaknya 5% dari total
PDB untuk pembangunan infrastruktur. Lebih lanjut, Papanek dkk. merekomendasikan
belanja infrastruktur pemerintah sebesar 6,5% pada tahun 2019 demi mencapai
pertumbuhan dua digit. Ketidakmampuan pemerintah menyediakan dana sebesar itu
diterjemahkan oleh Jokowi-JK sebagai keharusan penghapusan sebagian besar subsidi
BBM dan invitasi terhadap investasi asing.
Membangun 24 pelabuhan besar di seluruh Indonesia ditambah target pembangunan
25 waduk untuk keperluan irigasi, belum termasuk ekspansi jaringan kereta api dan
Page | 5

keperluan pembangkit listrik memaksa Kabinet Kerja menggunakan suatu paket


production-sharing antara pemerintah dan swasta untuk membangun fasilitas publik seperti
itu. Sebenarnya hal tersebut bukanlah hal baru. Pada tahun 2005, berdasarkan materi kuliah
Fauziah Zen mengenai kebijakan Fiskal di FEUI pada November 2014, pemerintahan SBY
mengadakan Infrastructure Summit di Jakarta dengan menawarkan 91 paket FDI atas
infrastruktur publik kepada berbagai investor asing. Hasilnya setelah 2 periode
pemerintahan berjalan, tidak ada satupun paket yang berhasil terlaksana. Beberapa hanya
tertahan dalam fase perencanaan. Salah satu paket FDI yang terlihat hasilnya dengan baik
adalah pembangunan jalan tol di daerah jawa seperti tol Serpong-Ulujami oleh joint venture
PT. BSD dan PT. Jaya Property Bintaro dan ruas tol karanganyar di Solo dibangun oleh
anak perusahaan asal Australia. Sayangnya, proyek-proyek tersebut bukanlah proyek yang
ditawarkan pada saat pertemuan pada tahun 2005.
Banyaknya proyek yang gagal tersebut disebabkan oleh kalkulasi proyeksi
keuntungan yang diterima pihak swasta. Misal pembangunan jembatan non-tol yang tidak
memungkinkan adanya pendapatan rutin dari penggunaan oleh publik menyebabkan satusatunya sumber pendapatan swasta adalah penggantian dari pemerintah. Lain halnya
dengan proyek tol yang sangat menguntungkan, sejalan dengan pertumbuhan signifikan
kendaraan roda empat meskipun awalnya mengalami kesulitan dalam pembebasan lahan.
Permasalahan yang kedua adalah terdapat defisiensi dalam SDM untuk
mengerjakan dan mengelola proyek pembangunan infrastruktur. Akibat dari sistem
pemerintahan komando yang diterapkan oleh pemerintah pusat pada zaman Order Baru,
segala sesuatu yang terkait dengan pembangunan infrastruktur di daerah-daerah menjadi
wewenang pemerintah pusat. Pengkajian, pelaksanaan, dan pemeliharaan infrastruktur
dilaksanakan oleh orang-orang yang didatangkan dari pulau Jawa terutama DKI Jakarta.
Sehingga, ketika UU Otonomi Daerah disahkan oleh DPR, wewenang tersebut dilimpahkan
sepenuhnya ke daerah. Pemerintah pusat hanya membantu dalam pengalokasian dana
melalui Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Otonomi Khusus, dan Dana
Penyesuaian untuk setiap daerah otonom.
Akan tetapi, kesiapan SDM dan keahlian manajemen yang dimiliki setiap daerah
tentu berbeda. Banyak universitas negeri yang disubsidi pemerintah dan terakreditasi
berada di Pulau Jawa. Hanya beberapa Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki nama,
kualitas, dan akreditasi baik berada di luar Pulau Jawa seperti Universitas Hassanudin di
Makassar, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas di Sumatera Barat, dan
UDAYANA di Bali. Terkonsentrasinya pendidikan berkualitas di Pulau Jawa membuat
daerah-daerah lain merasa mengalami kesenjangan dalam hal SDM. Tidak banyak lulusan
yang mau tinggal di luar Pulau Jawa dengan berbagai macam alasan. Berdasarkan polling
yang dilakukan oleh ECC Fakultas Teknik UGM pada tahun 2014, sekitar 16,5% dari 672
responden menyatakan bahwa orangtua lulusan UGM tidak memperbolehkan anaknya
untuk bekerja di Pulau Jawa. Salah satu orangtua responden bahkan menyatakan, jikalau
anaknya terpaksa bekerja di luar Pulau Jawa, diharuskan mengajukan mutasi untuk kembali
ke Pulau Jawa. Meskipun hasil statistik ini tidak sah untuk mengambil kesimpulan bahwa
tidak banyak lulusan PTN Jawa yang mau hidup di luar Pulau Jawa, dapat dimaknai bahwa
ada semacam keengganan bagi segelintir masyarakat untuk merasa yakin bahwa hidup di
luar Pulau Jawa memberikan standar kehidupan layak yang sama dengan hidup di Pulau
Jawa.

Page | 6

Table 1 Distribusi Kegiatan Ekonomi dan Penduduk

Sumber: Presentasi Prof. Suahasil Nazara di FEUI, Desember 2014

Terlihat dalam tabel 1, bahwa kegiatan ekonomi dan persebaran penduduk di


Indonesia memang terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan persentase hampir 60%.
Berikutnya daerah Sumatera memiliki persentase sekitar 20% dan sisanya memiliki
persentase lebih sedikit dari 20%. Tidak mengherankan jika infrastruktur publik yang
dibangun di luar Pulau Jawa cenderung tidak memiliki efek yang besar terhadap
perekonomian daerah tersebut dalam jangka panjang. Kecenderungan pembangunan di luar
Pulau Jawa tidak membuat masyarakat ingin hidup dan berkeluarga di daerah tersebut.
Pembangunan yang berfokus pada daerah industri, logistik, dan perkantoran membuat para
pekerja yang berdomisili di Jawa secara mayoritas hanya bergerak secara remote (pulangpergi), tidak membuat mereka memboyong keluarganya untuk pindah dan menetap. Suatu
daerah akan mencapai kemakmuran secara hakiki jika pembangunan daerah tersebut tidak
hanya menarik investor untuk berbisnis, tetapi juga untuk membangun kehidupan dan
berkeluarga (Ohmae, 2005).
Keterbatasan akses terhadap sumber daya dan fasilitas publik dijadikan alasan untuk
tidak pindah ke luar Pulau Jawa. Sudah tentu ini mempengaruhi kualitas pegawai
Pemerintah Daerah di luar Pulau Jawa secara rata-rata. Dengan tidak banyaknya suatu
keluarga terdidik yang mau bermigrasi ke luar Jawa mengakibatkan bermasalahnya
ketersediaan SDM yang layak bagi Pemda untuk menjalankan fungsinya, membangun
infrastruktur salah satunya.
Desentralisasi fiskal pada era 1990-an di seluruh dunia menjadi hal yang sangat
populer dibicarakan. Pada sebuah studi terhadap 46 negara berkembang dan negara maju
yang dilakukan oleh Hamid Davoodi dan Heng-fu Zou tahun 1996 menunjukkan bahwa
desentralisasi fiskal memiliki efek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara
dikarenakan lemahnya SDM yang dimiliki pemerintah daerah untuk merespon kebutuhan
dari penduduk di daerahnya sendiri. Lebih lanjut, Davoodi dan Zoo menekankan bahwa
kegagal desentralisasi fiskal di negara-negara berkembang yang dijadikan sampel
disebabkan oleh kesalahan dalam pos belanja pengeluaran pemerintah daerah meskipun
anggaran pemerintah daerah tersebut sudah optimal.
Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dianggarkan
pemerintah pusat untuk beberapa daerah tertentu menjadi tidak efektif jika kesiapan SDM
untuk membangun infrastruktur tidak baik. Terlihat dari tabel dibawah ini,[5] bahwa anggaran
atas transfer daerah yang diberikan oleh pemerintah pusat banyak dimanfaatkan untuk
5

Presentasi Prof. Suahasil Nazara. Perekonomian Indonesia: Perspektif Regional. Tanggal 3 Desember 2014.
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat

Page | 7

kepentingan operasional pemerintah bukan lebih banyak untuk kepentingan strategis


daerah.
Tabel 2 Perbandingan Alokasi Anggaran Daerah oleh Pemerintah Daerah

Persentase kenaikan belanja pegawai secara umum dari tahun 2001 ke 2011
meningkat tajam. Di daerah KTI, peningkatan belanja pegawai terhadap PDRB meningkat
lebih dari 2% dalam kurun waktu 10 tahun tersebut. Namun, belanja modal yang terjadi
memang juga meningkat tetapi tidak sebesar peningkatan belanja modal untuk tujuan yang
lebih produktif. Ada kecenderungan bahwa pemerintah-pemerintah di daerah mengeluh
mengenai kurangnya dana perimbangan dari pusat sehingga selama beberapa tahun
terakhir, dana perimbangan selalu meningkat dengan jumlah yang cukup signifikan.
Peningkatan transfer daerah dari tahun 2012 ke tahun 2015 sebesar Rp 176,6 Triliun.[6]
Pengalaman internasional dengan jelas memperlihatkan, jika suatu negara
mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran yang lebih besar dengan sumbersumber yang tersedia, maka tingkat pelayanan akan menurun, atau daerah akan menekan
pusat. (Bird dan Vaillancourt, 1998). Dengan begitu, jika tidak ada pembenahan struktural
pada sistem pemerintahan daerah, akan terus terjadi pembengkakan transfer daerah. Ini
penting diperhatikan karena transfer daerah tersebut seharusnya digunakan lebih banyak
untuk pembangunan infrastruktur misal pembangunan akses jalan, pelabuhan, bandar
udara, pembangkit listrik, distribusi energi, institusi keuangan, dan fasilitas publik lainnya
yang dapat meningkatkan interkoneksi antar-daerah dan memungkinkan terjadinya
perdagangan di antara daerah tersebut untuk menggerakan perekonomian regional. Juga
pembangunan sekolah, infrastruktur kesehatan dasar, pusat perdagangan ritel, dan pusat
rekreasi untuk meningkatkan daya tarik daerah agar tercipta pertumbuhan yang
berkesinambungan.
Meskipun tidak semua daerah dapat membangun seluruh infrastruktur yang
diperlukan karena keterbatasan sumber daya, setidaknya kebijakan terkait pembangunan
infrastruktur yang sekiranya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memakmurkan
masyarakat perlu lebih diprioritaskan dan diawasi, menggunakan pendekatan demanddriven (bottom-up). Apa yang dibutuhkan rakyat sesuai dengan demografi dan keadaan
geografis lingkungan harus menjadi fokus utama dalam penentuan infrastruktur yang
diprioritaskan dibangun.

Postur APBN 2012-2015. Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Page | 8

Kesalahan dalam pembelanjaan anggaran, hanya akan merugikan pemerintah pusat


secara langsung meningkatnya defisit anggaran dan merugikan daerah secara tidak
langsung dalam periode yang lebih panjang.
Kesimpulan Prioritas Subsidi: Konsumtif ke Produktif
Alasan yang mendasari pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi adalah
menggeser alokasi anggaran dari kegiatan konsumtif ke kegiatan produktif. Besaran
subsidi energi pada tahun 2014 berdasarkan data Kemenkeu adalah Rp 282.1 triliun dengan
rincian Rp 210.7 triliun untuk BBM bersubsidi dan sisanya untuk subsidi listrik. APBN 2015
yang disahkan oleh Presiden SBY beberapa bulan yang lalu menyatakan bahwa subsidi
energi ditingkatkan menjadi Rp 276 triliun, sekitar 30% besar peningkatannya. Pemerintahan
Jokowi-JK pun memutuskan untuk melakukan beberapa perubahan atas APBN 2015 yang
akan berubah menjadi APBN-P 2015 dengan dasar perubahan signifikan dalam asumsi
makro mengenai kurs dan harga ICP.
Begitu besarnya subsidi untuk hal yang bersifat konsumtif hanya akan merugikan
negara. Jokowi-JK berpendapat untuk membangun berbagai macam infrastruktur diperlukan
dana yang besar, memotong subsidi BBM merupakan salah cara untuk memberi
keleluasaan ruang gerak fiskal agar dapat dialokasikan ke pos yang produktif untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Habisnya bonus demografi dalam beberapa puluh tahun ke depan menjadi sebuah
tekanan bagi pemerintah pusat pada umumnya yang bertanggung jawab terhadap kondisi
perekonomian secara makro. Tingkat produktivitas pekerja akan menurun seiring
bertambahnya tahun karena penuaan. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, para
pensiunan ini nantinya akan menjadi beban yang sangat signifikan bagi negara, terlebih
dalam hal memberikan jaminan kesehatan dan perlindungan sosial dalam SJSN.
Jika pemerintah berniat untuk memanfaatkan bonus demografi ini, kebijakan yang
haruslah memperbaiki infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antar daerah dan
kesamaan akses terhadap pelayanan publik sesuai standar minimum demi pemerataan
pembangunan nasional. Tantangan berupa pendanaan dan tidak meratanya SDM
berkualitas di pemerintahan daerah harus diatas secara cepat dan tepat sehingga
pembelanjaan anggaran negara untuk infrastruktur di setiap daerah dapat optimal dan
mampu meningkatkan kemakmuran regional. Kesalahan dalam pengambilan keputusan
mengakibatkan bonus demografi berubah dari anugerah menjadi bom waktu yang akan
meledak dan menghancurkan perekonomian bangsa di masa depan.
Daftar Pustaka
Bird and Vaillancourt. 1998. Fiscal Decentralization in Developing Countries. UK,
Cambridge University Press
G.F. Papanek, R. Pardede, and S.Nazara. 2014. The Economic Choices Facing The Next
President. Jakarta: Transformasi. Supported by: Rajawali Foundation
H. Davoodi and H. Zou. Fiscal Decentralization and Economic Growth: A Cross-Country
Study. JOURNAL OF URBAN ECONOMICS 43, 244-257 (1998).
Page | 9