Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Perkembangan bisnis di dunia industri manufaktur
sekarang ini semakin pesat dan persaingan bagi perusahaan
sejenis semakin meningkat. Hal ini mengharuskan perusahaan
meningkatkan kinerjanya dalam berbagai aspek agar bisa
bersaing dalam pasar global. CV Usaha Bersama merupakan
perusahaan yang bergerak dibidang Manufaktur berdiri pada
tanggal 20 januari 1997. Produk yang dihasilkan berupa
komponen-komponen telekomunikasi dan provider-provider
seperti: string clamp, breket, pickset, join slip, skun al, skun
kepala, suspension dan kabel. Strategi respon terhadap
permintaan konsumen adalah make to order.
Perusahaan ini terdiri atas beberapa departemen antara
lain

pengecoran,

pembubutan,

pengefreisan

dan

penggerindaan. Kegiatan di departemen pengecoran meliputi


proses memasukkan bahan mentah yaitu alumunium ke dalam
tungku yang mempunyai suhu lebih dari 750 celcius. Bahan
mentah yang sudah di leburkan di dalam tungku di masukkan
ke dalam cetakan yang sudah di sediakan dan selanjutnya
menjadi komponen-komponen produk.

I-1

BAB I Pendahuluan
I-2

Kegiatan di departemen pembubutan meliputi proses


pembubutan agar bisa di bentuk ulir karena ada komponen
yang harus di bentuk seperti ulir atau join slip. Kegiatan ini
meliputi proses pengefreisan agar bisa di bentuk lubang
seperti komponen skun AL. Kegiatan di departemen
penggerindaan

meliputi

proses

penggerindaan

untuk

diperhalus agar komponen terlihat lebih bagus dan lebih


rapih.
Penelitian di fokuskan pada departemen pengecoran.
Pertimbangannya adalah 65% kecelakaan kerja di CV Usaha
Bersama terjadi pada proses pengecoran. Berdasarkan
pengamatan peneliti Selama tahun 2007 2012 tercatat
terjadi 7 kasus kecelakaan kerja, seperti yang bisa dilihat pada
tabel 1.1 berikut.
Tabel 1.1 Data Kecelakaan Kerja di CV Usaha Bersama
No

Nama / tgl

Lokasi

Akibat

Uraian kecelakaan

kecelakaan
Asep

kecelakaan
Departemen

kecelakaan
Terkena

Saat membuat ulir pada

Supardi

pembubutan

serpihan

komponen produk

komponen

karyawan tidak sadar

produk

serpihan nya mengenai

28-01-2007

Jajang

Departemen

Luka

tangan nya
Karyawan tidak

kusuma

pengecoran

dibagian

memperhitungkan jarak

tangan dan

(terlalu dekat) pada saat

paha

memasukkan bahan

14-12-2007

mentah (alumunium) ke
3

Agus

Departemen

Luka di

dalam tungku
Saat mengambil bahan

06-03-2009

pengecoran

bagian paha

mentah (alumunium)

Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I-3
No

Nama / tgl

Lokasi

Akibat

kecelakaan

kecelakaan

kecelakaan

Uraian kecelakaan
dari tungku yang akan
di tuangkan ke cetakan
pegangan nya tidak
seimbang lalu terkena

Bobi

Bagian

Bagian

paha nya
Saat sedang

21-07-2009

penggerindaan

tangan dan

menghaluskan

muka

komponen tidak hatihati akibat nya terkena


serpihan komponen
meskipun tidak luka

Rizal

Bagian

23-04-2010

pengecoran

paha

parah
Pada saat memasukkan
bahan mentah karyawan
tidak memperhitungkan
jarak antara tungku dan
tangan

Ade

Bagian

Jari tangan

Saat melubangi

05-06-2011

pengefreisan

terkena bor

komponen join slip


tidak memperhitungkan
jarak antara bor dan jari

Rizal dan

Bagian

Luka parah

tangan
Pada saat memasukkan

agus

pengecoran

di muka dan

alumunium ke dalam

tangan

tungku alumunium itu

10-01-2012

di lempar ke dalam
tungku di saat tunggu
itu panas dan masih ada
sisa alumunium alhasil
karyawan yang sedang
duduk di dekat tungku
yang sedang menunggu
peleburan dan karyawan
Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I-4
No

Nama / tgl

Lokasi

Akibat

kecelakaan

kecelakaan

kecelakaan

Uraian kecelakaan
yang melempar
alumunium itu terkena
cipratan alumunium

Data diatas tersebut memberikan informasi bahwa


perusahaan belum mampu menjamin keselamatan dan
kesehatan kerja karyawan saat ini.
Pada departemen pengecoran salah satu kegiatan yang
dilakukan adalah memasukkan bahan mentah kedalam tungku
dengan dimensi tungku 50x50 tanpa menggunakan alat bantu
(manual) dengan suhu tungku lebih dari 750 celcius, volume
tungku 60 kg, jarak saat memasukkan bahan mentah yaitu
30cm dengan berat bahan mentah rata-rata 5 kg, dimensi
bahan mentah 12cm, frekuensi memasukkan bahan mentah ke
dalam tungku adalah 5 kali dan 2 kali proses dalam sehari.
Potensi terjadinya kecelakaan kerja yaitu operator terkena
percikan alumunium dengan jarak percikan 1 meter.
Posisi kerja operator saat memasukkan bahan mentah
kedalam

tungku

dengan

cara

berdiri

dan

sedikit

membungkuk.
Aktivitas memasukkan bahan mentah kedalam tungku
dan posisi kerja operator dilihat pada gambar 1.1 berikut ini.

Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I-5

Gambar 1.1 proses memasukkan bahan mentah


Dilihat dari kegiatan memasukkan bahan mentah
tersebut, potensi kecelakaan kerja yang akan terjadi anggota
tubuh operator yaitu muka, tangan dan paha akan terkena
percikan alumunium saat memasukkan bahan mentah
tersebut, sehingga operator harus menggunakan alat bantu
agar anggota tubuh seperti muka, tangan dan paha bisa
terhindar dari percikan bahan mentah tersebut.
Penilaian bahaya pada aktifitas pengecoran di atas dapat
dilihat dari ancaman yang akan terjadi. Menurut Louis Mlingi
(2003) penilaian bahaya pada proses pengecoran dapat dilihat
pada tabel 1.2 berikut ini.

Tabel 1.2 Penilaian Bahaya pada Proses Pengecoran

Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I-6
Ancaman

Resiko

Dampak

Suhu yang sangat tinggi

Heat stress

Kekurangan cairan

Debu pembakaran

pneumokoniosis

Paru-paru keronis

Ledakan kecil

Kebakaran

Merusak pendengaran

Lontaran bunga api

Kulit terbakar

Merusak kulit

Sumber : Louis Mlingi (2003 ) dalam Tugas Akhir Ireng Sigit Atmanto

Data yang diterima bila terjadi kecelakaan kerja di


departemen pengecoran pemilik perusahaan mengeluarkan
biaya untuk pengobatan rumah sakit dan santunan kepada
karyawan yang mengalami luka permanen di bagian
pengecoran sebesar Rp 8.000.000,- per sekali kecelakaan
kerja dan memberikan santunan kepada karyawan yang
mengalami luka tidak permanen sebesar Rp 500.000,- per
sekali kecelakaan kerja.
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang terjadi di bagian pengecoran adalah :
1.

Memasukkan bahan mentah kedalam tungku

2.

dengan cara manual


Operator terkena percikan alumunium dengan
suhu tungku lebih dari 750 celcius

Maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah


bagaimana merancang alat bantu untuk memasukkan bahan
Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I-7

mentah kedalam tungku agar anggota tubuh seperti muka,


tangan dan paha terhindar dari percikan alumunium dengan
suhu tungku lebih dari 750 celcius, sehingga dapat
meningkatkan keamanan operator pada saat bekerja.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yaitu:
1.

Merancang alat bantu yang bisa digunakan


untuk memasukkan bahan mentah kedalam
tungku yang berisi alumunium dengan suhu
lebih dari 750 celcius dan untuk menghindari
percikan alumunium yang berdampak pada

2.

anggota tubuh seperti paha, muka dan tangan.


Memperbaiki metode kerja saat memasukkan

3.

bahan mentah dengan cara manual


Melakukan perancangan alat bantu ditinjau dari
aspek anthropometri

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat yang dapat diperoleh perusahaan adalah sebagai
berikut:
1.

Operator dapat bekerja secara aman pada saat


memasukkan bahan mentah ke dalam tungku
dan operator tidak terkena percikan alumunium

2.

Meminimasi biaya yang dikeluarkan akibat


kecelakaan kerja

Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I-8

1.5 Pembatasan Masalah dan Asumsi


1.5.1 Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini mempunyai arah yang jelas dan tidak
menyimpang

maka

diperlukan

pembatasan-pembatasan

sebagai berikut:
1.

Penelitian ini dilakukan hanya di departemen


Pengecoran di CV Usaha Bersama.

2.

Penelitian ini hanya dilakukan pada operator saat


memasukkan

bahan

mentah

kedalam

tungku

didepartemen pengecoran.
3.

Faktor-faktor biaya pada perancangan alat tidak


dibahas pada penelitian ini

1.5.2
1.

Asumsi
Adapun asumsi yang digunakan peneliti ini adalah :
Operator bekerja normal

2.

Data anthropometri yang dipakai adalah data


populasi operator langsung.

1.6 Sistematika Penulisan


Bab I

Pendahuluan

Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I-9

Berisikan penjelasan tentang Latar Belakang, Perumusan


Masalah, Tujuan Pemecahan Masalah, pembatasan dan
Asumsi Masalah dan Sistematika Pembahasan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini berisi teori-teori dasar yang melandasi
penelitian. Literatur serta teori yang telah ada dan
berkembang selama ini menjadi dasar utama. Teori-teori ini
merupakan hasil tinjauan kepustakaan untuk beberapa topik
yang berkaitan.
Bab III Metodologi Penelitian
Pada bab ini berisi uraian mengenai langkah-langkah yang
akan dilakukan dalam memecahkan permasalahan, dimulai
dari studi pendahuluan, perumusan masalah, penetapan tujuan
penelitian, pengumpulan dan pengolahan data, dilanjutkan
dengan analisis serta kesimpulan dan saran yang didasarkan
pada studi literature dengan permasalahan yang berkaitan.
Bab IV Pengumpulan data dan Perancangan Alat Bantu
Bab ini berisikan pengumpulan data yang diperoleh, yang
kemudian dilanjutkan denganPerancangan Alat Bantu sesuai
dengan metoda yang ditentukan sebelumnya

Bab V Analisis

Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir

BAB I Pendahuluan
I - 10

Bab ini berisi tentang analisis mengenai hasil dari pengolahan


data yang berkaitan dengan tujuan pemecahan masalah.
Bab VI Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisikan kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil
pengolahan data dan analisis, serta saran-saran yang dianggap
perlu yang berkaitan dengan hasil penelitian.

Universitas Jenderal Achmad Yani

Tugas Akhir