Anda di halaman 1dari 13

ALAT EVALUASI NON TES

KELOMPOK 4A :
1. Khadeejah Aswi Akbar 13050394007
2. Joana Bernice Helga 13050394019

S1 Pendidikan Tata Boga 2013


Jurusan PKK
Universitas Negeri Surabaya

KATA PENGANTAR

Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa,


juga kepada orang tua, saudara, dan yang terutama kepada dosen
pembimbing yang saya hormati karena telah membina saya sampai
terbentuknya makalah ini.
Di dalam penyusunan makalah ini terdapat beberapa pemahaman
konsep mengenai alat evaluasi non tes. Juga beberapa contoh aplikasinya
dalam bidang tata boga.
Sekian, sekali lagi terimakasih.

7 Oktober 2014,

Penulis

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Hasil belajar dari proses belajar tidak hanya dinilai oleh test, tetapi
juga harus dinilai oleh alat alat non test atau bukan test. Teknik ini
berguna untuk mengukur keberhasilan siswa dalam proses belajarmengajar yang tidak dapat diukur dengan alat tes. Penggunaan teknik ini
dalam evaluasi pembelajaran terutama karena banyak aspek kemampuan
siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas.
Sasaran teknik ini adalah perbuatan, ucapan, kegiatan,
pengalaman,tingkah laku, riwayat hidup, dan lain-lain. Menurut Hasyim
(1997;9) penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan
siswa-siswa secara langsung dengan tugas tugas yang riil.Adapun
menurut Sudjana (1986;67), kelebihan non test dari test adalah sifatnya
lebih komprehensif, artinya dapat digunakan untuk menilai berbagai
aspek dari individu sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif,
tetapi juga aspek efektif dan psikomotorik, yang dinilai saat proses
pelajaran berlangsung.
Saat ini penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar
masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan alat melalui
tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Padahal ada aspek-aspek yang
tidak bisa terukur secara realtime dengan hanya menggunakan test,
seperti pada mata pelajaran matematika. Pada tes siswa dapat menjawab
dengan tepat saat diberi pertanyaan tentang langkah-langkah melukis
sudut menggunakan jangka tanpa busur, tetapi waktu diminta melukis
secara langsung di kertas atau papan tulis ternyata cara menggunakan
jangka saja mereka tidak bisa. Jadi dengan menggunakan nontes guru
bisa menilai siswa secara komprehensif, bukan hanya dari aspek kognitif
saja, tapi juga afektif dan psikomotornya.
Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan
diatas, maka diperlukan suatu langkah-langkah untuk penyusunan dan
pengembangan instrument nontes. Hal ini juga dapat digunakan untuk
memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan
secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masingmasing individu peserta tes setelah selesai mengikuti kegiatan
pembelajaran.
Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis-jenis teknik non tes ?
2. Bagaimana pengaplikasiannya dalam bidang tata boga?

Tujuan
1. Menyajikan jenis-jenis teknik non tes
2. Memberikan contoh aplikasi dibidang tata boga

II. PEMBAHASAN
PENGERTIAN
Teknik penilaian non tes jika dilihat dari kata yang menyusunya,
maka non tes dapat kita artikan sebagai teknik penilaian yang dilakukan
tanpa menggunakan tes. Sehingga teknik ini dilakukan lewat pengamatan
secara teliti dan tanpa menguji peserta didik. Non tes biasanya dilakukan
untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan soft skill, terutama
yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh
peserta didik dari apa yang diketahui atau dipahaminya. Dengan kata lain,
instrument ini berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari
pada pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati
dengan Panca indera (Widiyoko, 2009)

JENIS JENIS ALAT NONTES


Observasi
1. Definisi
Menurut Sudijono (2009) observasi adalah cara menghimpun bahanbahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan
pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomenafenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
2. Tujuan utama observasi antara lain :
Mengumpulkan data dan inforamsi mengenai suatu fenomena,
baik yang berupa peristiwa maupun tindakan, baik dalam
situasi yang sesungguhnya maupun dalam situasi buatan.
Mengukur perilaku kelas (baik perilaku guru maupun peserta
didik), interaksi antara peserta didik dan guru, dan faktorfaktor yang dapat diamati lainnya, terutama kecakapan sosial
(social skill).
Menilai tingkah laku individu atau proses yang tejadi dalam
situasi sebenarnya maupun situasi yang sengaja dibuat.
3. Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk :
Menilai proses dan hasil belajar peserta didik pada waktu
belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain.

Menilai penampilan guru dalam mengajar, suasana kelas,


hubungan sosial sesama, hubungan sosial sesama peserta
didik, hubungan guru dengan peserta didik, dan perilaku
sosial lainnya.
4. Karakteristik observasi, antara lain:
Mempunyai arah dan tujuan yang jelas.
Bersifat ilmiah, yaitu dilakukan secara sistematis, logis, kritis,
objektif, dan rasional.
Terdapat berbagai aspek yang akan diobservasi.
Praktis penggunaannya.
5. Jika kita melihat dari dari kerangka kerjanya, observasi dapat
dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu:
a. Observasi berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai
observer telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kerangka
kerja yang berisi faktor yang telah diatur kategorisasinya. Isi dan
luas materi observasi telah ditetapkan dan dibatasi dengan jelas
dan tegas.
b. Observasi tak berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai
obeserver tidak dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti.
Kegiatan obeservasi hanya dibatasi oleh tujuan observasi itu
sendiri.
6. Apabila dilihat dari teknis pelaksaannya, observasi dapat ditempuh
melalui tiga cara,
yaitu:
a. Observasi langsung, observasi yang dilakukan secara langsung
terhadap objek yang diselidiki.
b. Observasi tak langsung, yaitu observasi yang dilakukan melalui
perantara, baik teknik maupun alat tertentu.
c. Observasi partisipasi, yaitu observasi yang dilakukan dengan
cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek
yang diteliti.
7. Menurut Arifin (2009) Kelebihan dan kekurangan observasi antara
lain:
a. Kelebihan

Observasi merupakan alat untuk mengamati berbagai


macam fenomena.
Observasi cocok untuk mengamati perilaku peserta didik
maupun guru yang sedang melakukan suatu kegiatan.

Banyak hal yang tidak dapat diukur dengan tes, tetapi lebih
tepat dengan observasi.
Tidak terikat dengan laporan pribadi.

b. Kekurangan

Seringkali pelaksanaan observasi terganggu oleh keadaan


cuaca, bahkan ada kesan yang kurang menyenangkan dari
observer ataupun observasi itu sendiri.
Biasanya masalah pribadi sulit diamati.
Jika yang diamati memakan waktu lama, maka observer
sering menjadi jenuh.
8. Adapaun langkah-langkah penyusunan pedoman observasi menurut
Arifin (2009)
adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan observasi
2. Membuat lay-out atau kisi-kisi observasi
3. Menyusun pedoman observasi
4. Menyusun aspek-aspek yang akan diobservasi, baik yang
berkenaan proses belajar
peserta didik dan kepribadiaanya maupun penampilan guru
dalam pembelajaran
5. Melakukan uji coba pedoman observasi untuk melihat kelemahankelemahan
pedoman observasi
6. Merevisi pedoman obsevasi berdasarkan hasil uji coba
7. Melaksanakan observasi pada saat kegiatan berlangsung
8. Mengolah dan menafsirkan hasil observasi
9. Contoh operasional dibidang tata boga

Kuesioner
1. Definisi
Pada dasarnya, kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang
harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Pada umumnya

tujuan penggunaan kuesioner atau kuesioner dalam proses


pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai
latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam
menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka. Selain itu,
data yang dihimpun melalui kuesioner biasanya juga berupa data
yang berkenaan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh
siswa dalam mengikuti pelajaran. Misalnya: cara belajar, bimbingan
guru dan orang tua, sikap belajar dan lain sebagainya. Kuesioner
pada umumnya dipergunakan untuk menilai hasil belajar pada
ranah afektif. Kuesioner dapat disajikan dalam bentuk pilihan ganda
atau skala sikap.
2. Adapun beberapa tujuan dari pengembangan kuesioner adalah :
Mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari siswa tentang
pembelajaran.
Membimbing siswa untuk belajar efektif sampai tingkat
penguasaan tertentu.
Mendorong siswa untuk lebih kreatif dalam belajar.
Membantu anak yang lemah dalam belajar.
Untuk mengetahui kesulitan kesulitan siswa dalam
pembelajaran.
3. Jenis-jenis kuesioner (menurut Yusuf , dalam Artiatiu, 2010)
Kuesioner dari segi isi dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:
o Pertanyaan fakta adalah pertanyaan yang menanyakan
tentang fakta antara lain seperti jumlah sekolah, jumlah
jam belajar, dll.
o Pertanyaan perilaku adalah apabila guru menginginkan
tingkah laku seseorang siswa dalam kegiatan di sekolah
atau dalam proses belajar mengajar.
o Pertanyaan informasi adalah apabila melalui instrument itu
guru ingin mengungkapkan berbagai informasi atau
menggunakan fakta.
o Pertanyaan pendapat dan sikap adalah kuesioner yang
berkaitan dengan perasaan, kepercayaan, dan nilai-nilai
yang berhubungan dengan objek yang dinilai.
Kuesioner dari jenisnya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
o Tertutup, kuesioner yang alternative jawaban sudah
ditentukan terlebih dahulu. Responden hanya memilih
diantara alternative yang telah disediakan.
o Terbuka, kuesioner ini memberikan kesempatan pada siswa
untuk mengemukakan pendapatnya tentang sesuatu yang
ditanyakan sesuai dengan pandangan dan kemampuannya.
Alternative jawaban tidak disediakan. Mereka menciptakan

sendiri jawabannya dan menyusun kalimat dalam bahasa


sendiri.
o Tertutup dan terbuka, kuesioner ini merupakan gabungan
dari kedua bentuk yang telah dibicarakan. Yang berarti
bahwa dalam bentuk ini, disamping disediakan alternative,
diberi juga kesempatan kepada siswa/mahasiswa untuk
mengemukakan alternative jawabannya sendiri, apabila
alternative yang disediakan tidak sesuai dengan keadaan
yang bersangkutan.
Kuesioner dari segi yang menjawab dapat dibedakan menjadi 2,
yaitu :
o Kuesioner langsung, yaitu kuesioner yang langsung
dijawab/diisi oleh individu yang akan diminta
keterangannya.
o Kuesioner tidak langsung, yaitu kuesioner yang diisi oleh
orang lain, (orang yang tidak diminta keterangannya).
Kuesioner dari sisi bagaimana kuesioner itu diadministrasikan
pada responden dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
o Kuesioner yang dikirimkan (Mail Questionaire)
o Kuesioner yang dapat dibagikan langsung pada responden.
4. Kelebihan dan kekurangan kuesioner
a. Kelebihan
Dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang
banyak yang hanya membutuhkan waktu yang singkat.
Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan
yang sama
Dengan kuesioner pengaruh subjektif dari guru dapat
dihindarkan
b. Kekurangan
Pertanyaan yang diberikan terbatas, sehingga apabila
ada hal hal yang kurang jelas maka sulit untuk
diterangkan kembali
Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak
dijawab oleh semua anak, atau mungkin dijawab tetapi
tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi
secara mendetail
Ada kemungkinan kuesioner yang diberikan tidak dapat
dikumpulkan semua, sebab banyak anak yang merasa
kurang perlu hasil dari kuesioner yang diterima,
sehingga tidak memberikan kembali kuesionernya.
5. Langkah langkah menyusun kuesioner
a. Merumuskan tujuan
b. Merumuskan kegiatan
c. Menyusun langkah-langkah

d. Menyusun kisi-kisi
e. Menyusun panduan kuesioner
f. Menyusun alat penilaian
6. Contoh operasional dibidang tata boga

Skala Bertingkat
1. Definisi
Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap
sesuatu hasil pertimbangan. Seperti Oppenheim mengatakan:
Rating gives anumerical value to some kind of judgement, maka
suatu skala selalu disajikan dalam bentuk angka.
Biasanya angka-angka yang digunakan diterakan pada skala dengan
jarak yang sama, meletakkan secara bertingkat dari yang rendah ke
yang tinggi, maka skala ini dinamakan skala bertingkat.
Kita dapat menilai hampir segala sesuatu dengan skala. Dengan
maksud agar pencatatannya dapat objektif maka penilaian terhadap
penampilan atau penggambaran kepribadian seseorang disajikan
dalam bentuk skala.
2. Kelebihan dan kekurangan skala bertingkat
a. Kelebihan
Lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja
tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap
fenomena lainya, seperti skala untuk mengukur status
sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan,
proses kegiatan dan lain-lain.
Lebih memudahkan peneliti untuk mengetahui pendapat
responden lebih mendalam tentang variabel yang diteliti.
Cocok digunakan untuk memperoleh data kualitatif tentang
objek yang bersifat heterogen.
b. Kelemahan
Halo effects, yaitu efek dari kesan atau penilaian umum.
Generosity effects yaitu keinginan untuk berbuat baik
dengan memberi nilai tinggi.
Carry over effects yaitu pengamat tidak dapat
membedakan antara fenomena satu dengan fenomena
yang lain.
3. Langkah menyusun skala bertingkat
a. Menentukan topik
b. Menentukan indikator
c. Menyusun instrumen pertanyaan
d. Menentukan angka interval jawaban
4. Contoh operasional dibidang tata boga

Daftar Cocok
1. Definisi
Yang dimaksud dengan daftar cocok adalah deretan pertanyaan
(yang biasanya singkat-singkat), dimana responden yang dievaluasi
tinggal membubuhkan tanda cocok () di tempat yang sudah
disediakan.
Menurut Sobry Sutikno (2009:134) Check List adalah suatu daftar
yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati. Ada
bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan
dalam daftar cek, kemudian observer tinggal memberikan tanda cek
pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil pengamatannya.
2. Langkah menyusun daftar cocok
3. Contoh operasional dibidang tata boga

Riwayat Hidup
1. Definisi
Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama
dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup,
maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang
kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari objek yang dinilai.
Evaluasi cara ini mengenai kemajuan, perkembangan atau
keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non-tes)
juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan
pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen, misalnya: dokumen yang
menganut informasi mengenai riwayat hidup (auto biografi), seperti
kapan kapan dan dimana peserta didik dilahirkan, agama yang
dianut, kedudukan anak didalam keluarga dan sebagainya. Selain
itu juga dokumen yang memuat informasi tentang orang tua peserta
didik, dokumen yang memuat tentang orang tua peserta didik,
dokumen yang memuat tentang lingkungan non-sosial, seperti
kondisi bangunan rumah, ruang belajar, lampu penerangan dan
sebagainya (Sudijono : 2009).
Beberapa informasi, baik mengenai peserta didik, orang tua dan
lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu
sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam
melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta

2. Langkah menyusun daftar riwayat hidup


3. Contoh operasional dibidang tata boga

III. PENUTUP

Simpulan
Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran
terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian siswa yang tidak
dapat dinilai secara kuantitatif seperti dalam teknik tes. Dengan kata lain
penilaian non test behubungan dengan penampilan yang dapat diamati
dibandingkan dengan pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak
dapat diamati oleh indera.
Teknik non tes dapat digolongkan menjadi 5 jenis yaitu:
1. Observasi
2. Kuesioner
3. Skala Bertingkat
4. Daftar Cocok
5. Riwayat Hidup

Saran
Diharapkan para pendidik dan calon pendidik memahami bahwa evaluasi
non tes juga sangat penting disamping evaluasi tes. Karena dapat
digunakan untuk nilai sikap, afektif dan psikomotorik dari peserta didik
sehingga dapat dijadikan panduan untuk meningkatkan kualitas
kependidikan.

DAFTAR PUSTAKA
http://robiatulfazriah.blogspot.com/2011/05/jenis-jenis-alat-evaluasi-instrumennon.html

https://id.scribd.com/doc/87746486/INSTRUMEN-PENILAIAN
https://id.scribd.com/doc/133747965/Modul-Penilaian-Non-Tes
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/MODUL%20PENILAIAN%20NON
%20TES.pdf