Anda di halaman 1dari 42

Bagian I

Sistem Produksi Padi dan


Ketahanan Pangan Nasional

Ringkasan
Ketahanan pangan nasional tetap membutuhkan beras dalam
memenuhi kecukupan pangan, namun demikian tekanan terhadap
peningkatan produksi padi terkendala oleh permasalahan konversi
lahan pertanian, kerusakan jaringan irigasi, perubahan iklim, dan
serangan hama penyakit. Kebijakan diversifikasi pangan tetap
menjadi prioritas dalam pengendalian konsumsi beras. Dalam kurun
waktu yang cukup panjang selama 1961-2013, fluktuasi produksi
padi nasional mengalami pertumbuhan yang bervariasi. Target
pertumbuhan produksi padi harus memenuhi kebutuhan nasional,
apabila kurang mencukupi maka pemerintah melakukan impor
beras. Secara umum pertumbuhan produksi padi mengalami
pertumbuhan di atas pertumbuhan penduduk kecuali pada periode
1961-1966, 1998-2004, dan 2005-2007. Di sisi lain, kebijakan
terhadap penggunaan faktor produksi yang lebih efisien sangat
penting di masa yang akan datang mengingat kompetisi
penggunaan lahan dan air serta tenaga kerja semakin meningkat.
Oleh karena itu, akselerasi penggunaan teknologi di tingkat petani
tetap menjadi program utama agar ketersediaan komoditas seiring
arahnya dengan pertumbuhan penduduk Indonesia. Selain itu,
diperlukan upaya perluasan area pertanian dan upaya adaptasi
untuk mengurangi risiko perubahan iklim. Untuk menyikapi dampak
variabilitas dan perubahan iklim terhadap ketahanan pangan di
Indonesia, maka diperlukan suatu upaya strategis dengan
melakukan
adaptasi
budidaya
pertanian
sehingga
tidak
menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi kesinambungan
ketahanan pangan.

Bab 1
Sistem Produksi Padi Nasional
Saktyanu Kristyantoadi Dermoredjo, Bambang Sayaka, dan Kharmila Sari
Hariyanti

Dasar Pemikiran
Padi merupakan salah satu komoditas pangan yang paling dominan
bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dimana padi merupakan
bahan makanan yang mudah diubah menjadi energi, di samping
mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh. Untuk
menuju kecukupan pangan yang berasal dari beras/padi,
pemerintah baik sejak masa kolonial Belanda maupun setelah
kemerdekaan dan hingga saat ini, menerapkan berbagai kebijakan
seiring dengan pertumbuhan penduduk. Beberapa hal yang terus
menjadi perhatian dalam meningkatkan produksi adalah
meningkatkan produktivitas melalui berbagai teknologi baru mulai
dari penyediaan benih, pengolahan lahan hingga pascapanen, juga
menambah luas tanam dan luas panen melalui peningkatan indeks
pertanaman padi.
Sepanjang sejarah Indonesia, peran ekonomi, sosial, dan geopolitik
mempengaruhi pertumbuhan produksi padi. Sistem produksi padi
ini pun sangat rentan terhadap penyimpangan iklim. Berdasarkan
hal tersebut, beberapa hal yang mendasar dari perkembangan
sejarah pertanaman padi memberikan tantangan dan arah produksi
serta sistem yang mempengaruhinya. Jumlah penduduk yang
sangat besar, saat ini sudah berkisar 250 juta jiwa, tentunya tidak
mudah untuk memenuhi kecukupan pangan beras yang saat ini
semakin terdesentralisasi serta membutuhkan dana besar.
Koordinasi yang melibatkan institusi lintas kementerian dan lintas
daerah tidaklah cukup, peran petani dan kelembagaan petani yang
telah ada perlu diberdayakan dan terus dikembangkan. Pemerintah
perlu mendukung dengan regulasi dan petunjuk operasional sesuai
11

Dermoredjo et al.

persyaratan teknis standar. Dengan demikian, pemerintah terus


berupaya memberi keyakinan dan perhatian akan pentingnya
sektor pertanian melalui penyediaan sarana dan prasarana,
kemudahan bagi petani seperti subsidi dan penyediaan teknologi
baru bagi petani.

Dinamika Penerapan Teknologi dan Produksi Padi Era Kolonial


dan Awal Kemerdekaan
Penerapan teknologi tidak lepas dari perkembangan jumlah
penduduk di Indonesia. Jawa merupakan pulau yang memiliki
jumlah penduduk yang cukup padat dimana pada tahun 1900
berkisar 28 juta jiwa dan pada tahun 1920 mencapai 34 juta jiwa
(Breman 1971). Tingginya jumlah penduduk ini mengakibatkan
rentan terhadap krisis pangan. Sejak masa Vereenigde OostIndische Compagnie (VOC), yaitu tahun 1602, hingga pemerintahan
Hindia Belanda, pola kebijakan tanaman pangan lebih banyak
difokuskan pada jenis tanaman pangan utama seperti beras,
jagung, dan beberapa jenis tanaman perkebunan yang lebih laku
untuk diperdagangkan.
Teknologi pertanian di Indonesia diawali dengan kehadiran kolonial
Inggris yang membawa sejarah baru bagi Indonesia yaitu pendirian
Kebun Raya Bogor oleh Gubernur Jenderal Reindward pada tahun
1817 atas prakarsa Raffles. Hal ini diikuti dengan pembangunan
Kebun Tanaman Dagang atau Cultuurtuin (1876), dan beragam
lembaga penyelidikan pada tahun 1880, serta Sekolah Pertanian
(Landen Tuinbouw Cursus) pada tahun 1903 oleh Melchior Treub
(Mardikanto 2007). Di samping itu, seiring dengan pelaksanaan
politik etis yang dipelopori oleh Conrad Theodor van Deventer, pada
tahun 1910 dibentuk Departemen Pertanian, Kerajinan dan
Perdagangan (Landbouw, Nijverheid en Handel) dan Dinas
Penyuluhan Pertanian (Landbouw- voorlichtingsdienst/LVD).
Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pemerintah kolonial
Belanda mengupayakan pangan secara maksimal agar tidak terjadi
krisis pangan (Mufti 2009). Intensifikasi pertanian adalah salah
satu upaya yang dipilih pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun
1885, Pemerintah Hindia Belanda membangun irigasi Brantas (Jawa
Timur) dan Demak (Jawa Tengah) sekitar 76.800 ha dan pada 1902
diperluas menjadi 138.400 ha. Di samping itu, pemerintah Hindia

Sistem Produksi Padi Nasional

Belanda membangun lumbung desa yang berfungsi menyediakan


bibit secara murah. Pada 1902, di wilayah Cirebon terdapat 994
lumbung. Pada 1904, Pemerintah kolonial Belanda mendirikan
Volkscrediet Bank (Bank Kredit Rakyat) yang meminjamkan padi
untuk digunakan sebagai bibit. Pemerintah kolonial Belanda
menargetkan dengan intensifikasi pertanian ini adalah panen dua
kali dalam setahun. Awalnya berhasil, namun kurangnya dukungan
teknologi, bahan organik dalam tanah terus berkurang, yang
mengakibatkan kesuburan tanah turun dari waktu ke waktu, serta
rentan terserang hama. Krisis pangan dan bahaya kelaparan
menjadi makin sering terjadi.
Ekstensifikasi juga dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada
1870-1900 untuk mengatasi permasalahan pangan. Ekstensifikasi
pertanian membuat luas sawah makin bertambah berkat adanya
pembangunan irigasi secara besar-besaran dan juga melakukan
impor beras dari semenanjung Indocina, Birma dan Thailand.
Namun krisis pangan sulit dikendalikan dengan terjadinya
kegagalan panen di Asia pada 1911-1912. Krisis pangan terus
terjadi hingga perang dunia I (1914-1918) dimana Inggris
memblokade pelabuhan milik Belanda untuk melemahkan kekuatan
Jerman yang memiliki banyak investasi di Belanda, sehingga terjadi
kesulitan mendapat kapal angkutan bahan pangan. Krisis pangan
dilanjutkan dengan terjadinya masa kering yang panjang pada akhir
1918 sehingga mengakibatkan keterlambatan panen 1,5 bulan dan
tidak diperbolehkannya ekspor beras di seluruh daerah Asia
Tenggara. Kekurangan beras pada 1914-1917 rata-rata per tahun
sekitar 400.000 ton atau 13% dari hasil beras di Jawa serta impor
beras dari luar negeri tidak tetap mengakibatkan kepanikan dari
berbagai pihak.
Adanya penghapusan sebagian industri tebu berakibat Jawa dan
Madura sebenarnya sudah dapat mencapai swasembada pangan
pada 1935. Pada tahun 1937 pemerintah kolonial menerapkan
intensifikasi pertanian yang dikenal dengan Verbeterde Cultuur
Technieken (pembudidayaan penanaman yang diperbaiki). Namun
karena terjadinya defisit beras di luar Jawa, tetap saja Jawa dan
Madura sulit mengalami swasembada. Pada 1939 dibentuk Stichting
Van Het Voedingsmidelfonds (VMF) atau Yayasan Dana Bahan
Makanan (yang menjadi cikal bakal BULOG) sebagai upaya
13

Dermoredjo et al.

pemerintah kolonial dalam mengatur perdagangan beras sehingga


sering melakukan intervensi langsung di pasar. Lembaga tersebut
belum sempat disempurnakan ketika masuknya pendudukan
Jepang pada tahun 1943. Kemudian pemerintah pendudukan
Jepang mengeluarkan beberapa program yang disebut dengan
Kinkyu Shokuryo Taisaku. Program-program tersebut difokuskan
pada peningkatan produksi dengan cara seperti pengenalan jenis
padi baru (horai dari Taiwan), inovasi teknik-teknik penanaman
(melakukan pemindahan bibit tanaman dengan jarak tanam sekitar
20 cm dengan pola tandur (tanam mundur), peningkatan
infrastruktur pertanian dan perluasan sawah (pembangunan irigasi
dan drainase). Selain itu, propaganda para petani yang dalam hal
ini para pegawai pemerintah memperoleh pendidikan di sekolah
pertanian Nomin dojo lalu ditugaskan melakukan penyuluhanpenyuluhan dan propaganda pertanian kepada petani terutama
dalam hal teknik-teknik pertanian yang baik. Namun demikian tetap
saja produksi padi Indonesia pengalami penurunan seperti dalam
Gambar 1.
10

Produksi padi (juta ton)

7
y = -0.731x + 9.663
R = 0.872

4
1937-1941

1942

1943

1944

1945

Tahun
Gambar 1. Perkembangan produksi padi di Jawa dan Madura, 1937-1945
(Sumber: Mufti 2009, diolah)

Penurunan produksi padi pada masa pendudukan Jepang


diakibatkan oleh: (a) pada tahun 1944 hampir seluruh negara di
Asia Tenggara mengalami musim kemarau yang panjang, (b) waktu
dan tenaga harus disisihkan untuk pembangunan proyek-proyek

Sistem Produksi Padi Nasional

pertahanan seperti benteng, lubang perlindungan dipegunungan,


dan (c) hama tikus yang meningkat. Jaman pendudukan Jepang
(1942-1945) merupakan kehancuran pembangunan pertanian di
Indonesia. Meskipun aparat pertanian diperluas sampai tingkat
Mantri Tani (Son Sidoing) dan Koperasi Pertanian (Nogya Komisi) di
setiap kecamatan, tetapi lebih banyak ditugaskan untuk
memperlancar produksi dan pengumpulan hasilnya untuk keperluan
angkatan perang Jepang.
Memasuki masa kemerdekaan, pada 1947 pemerintah menetapkan
Plan Kasimo yang merupakan rencana produksi pertanian selama 3
tahun (1948-1950) dengan mendirikan Balai Pendidikan
Masyarakat Desa (BPMD, Hafsah dan Sudaryanto 2004). Isi dari
Plan Kasimo adalah anjuran untuk memperbanyak kebun bibit padi
unggul dan pencegahan penyembelihan hewan pertanian, serta
menanami lahan-lahan kosong dengan tanaman pangan (Mufti
2009). Tetapi rencana ini tidak terlaksana sebagaimana yang
diharapkan, karena terjadinya agresi Belanda I dan II. Kebijakan ini
kemudian digabung dengan Rencana Wicaksono menjadi Rencana
Kesejahteraan Istimewa (RKI) tahap I (1950-1955) dan Tahap II
(1955-1960). Untuk mewujudkan rencana ini dilaksanakan
perbanyakan benih unggul, perbaikan dan perluasan pengairan,
penggunakan pupuk fosfat dan nitrogen pada padi, pemberantasan
hama tanaman, pengendalian bahaya erosi, intensifikasi tanah
kering, serta pendidikan masyarakat desa.
Pada tahun 1952 melalui Keputusan Presiden tahun 1952, dibentuk
Panitia Menambah Hasil Bumi (PMHB) yang anggotanya terdiri dari
Departemen Pertanian, Keuangan, Dalam Negeri dan Pekerjaan
Umum yang bertujuan untuk meningkatkan produksi bahan
makanan. Berdasarkan Musyawarah Nasional Untuk Pembangunan
(MUNAP) pada bulan November 1957, pada tahun 1958 PMHB
diganti dengan Dewan Bahan Makanan (DBM) yang dipimpin oleh
Deputi Perdana Menteri dan 13 menteri sebagai anggota
(Nataatmadja et al. 1988). Pada tahun 1958, DBM membentuk
Badan Padi Sentra
untuk menjalankan program intensifikasi
tanaman padi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas
dengan memanfaatkan potensi lahan, daya, dan dana yang ada
secara optimal, serta memperhatikan kelestarian sumberdaya
alam.
15

Dermoredjo et al.

Strategi intensifikasi yang digelar sejak awal kelahirannya adalah


strategi pembelajaran, yaitu menciptakan kondisi masyarakat dan
lingkungan agar petani termotivasi untuk meniru, paham dan
terampil dalam mengadopsi inovasi baru, disertai dengan
pencerdasan momentum pemacu agar petani secara masal dapat
menerapkan paket teknologi yang dianjurkan. Dalam program
intensifikasi dikenal dengan teknologi Panca Usaha Tani yang
meliputi (i) penyediaan air dalam jumlah cukup dan waktu yang
tepat, (ii) penggunaan benih unggul dengan potensi hasil tinggi,
mempunyai ketahanan hidup yang tinggi dan masa tumbuh yang
relatif pendek, (iii) penyediaan pupuk yang cukup, (iv)
pengendalian hama terpadu, dan (v) cara bercocok tanam yang
baik. Teknologi ini sebenarnya tidak terlalu beda dengan teknologi
yang diterapkan dalam RKI.

Dinamika Penerapan Teknologi dan Produksi Padi Era 19591997


Seiring dengan diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, RKI
diganti dengan Rencana Pembangunan Semesta Berencana Tahap
I, yang mengubah Padi Sentra menjadi Gerakan Swasembada Beras
(SSB) di bawah Komando Operasi Gerakan Makmur (KOGM).
Namun program ini dinilai gagal karena tidak dapat mewujudkan
swasembada beras dalam waktu yang ditentukan. Kegagalan itu
disebabkan antara lain belum adanya terobosan teknologi serta
lemahnya pembiayaan dan koordinasi pelaksanaan.
Selama periode 1963/19641964/1965, Institut Pertanian Bogor
(IPB) melakukan Demonstrasi Masal Swasembada Bahan Makanan
(DEMAS-SSBM) yang diawali pada tahun 1963 dengan pilot proyek
di Karawang yang mampu meningkatkan hasil panen padi dua kali
lipat. Adapun teknologi yang diterapkan adalah penggunaan benih
unggul bermutu, pemupukan sesuai rekomendasi, pengendalian
hama dan penyakit, pembimbingan petani, dan penyuluhan
intensif. Keberhasilan proyek ditindak lanjuti dengan program
DEMAS pada tahun 1965 dimana paket Panca Usaha Tani
dilaksanakan secara utuh dan petani peserta diberi bantuan sarana
produksi maju.

Sistem Produksi Padi Nasional

Pada tahun 1967 dikembangkan menjadi Bimbingan Masal (BIMAS)


yang dilembagakan dengan Keputusan Menteri Pertanian untuk
lebih meningkatkan kinerja pelaksanaan intensifikasi pada
beberapa sentra produksi
padi. Bersamaan dengan program
BIMAS, International Rice Research Institute (IRRI) menemukan
IR-5 dan IR-8 (PB-5 dan PB-8) yang merupakan varietas unggul
padi sawah yang sangat responsif terhadap pemupukan dan teknik
budidaya.
Dalam perjalanannya, pada musim tanam 1968/1969 BIMAS
dikembangkan menjadi BIMAS Gotong Royong yang melibatkan
peran swasta nasional (PERTAMINA) dan Swasta Asing (CIBAGeigy, COOPA, NICHIMEN) yang bertujuan mendukung BIMAS,
yang cakupannya ternyata memerlukan pembiayaan yang cukup
besar dan sebagian besar sarana produksi berupa pupuk kimia dan
pestisida harus diimpor padahal kemampuan pemerintah saat itu
relatif terbatas. Program tersebut mengembangkan konsep Catur
Sarana Unit Desa (KUD, Bank Unit Desa, PPL, dan Kios Sarana
Produksi) yang diujicobakan oleh Prof. Soedarsono Hadisapoetro di
D.I Yogyakarta. Sejak 1970 diubah lagi menjadi Bimas Nasional
Yang Disempurnakan (BNYD). Lebih lanjut, keberhasilan BIMAS
diikuti dengan program Intensifikasi Masal (INMAS) yang
memberikan kebebasan kepada petani untuk melakukan
intensifikasi tanpa harus memanfaatkan kredit BIMAS, tetapi tetap
dapat memanfaatkan kredit sesuai dengan kebutuhan masingmasing.
Dengan makin meluasnya penerapan Bimas maka pada tahun 1979
sistem pengelolaannya dikembangkan menjadi bentuk kelompok
yang disebut Intensifikasi Khusus (INSUS). Para petani dibagi
dalam kelompok-kelompok tani sehingga memudahkan dalam
pembinaan dan hubungan antar petani dalam bentuk gotong
royong. Dalam program INSUS terjadi perbaikan paket pemupukan
yaitu tambahan penggunaan pupuk KCl dan zat pengatur tumbuh
(ZPT) seperti Citosin dan Hydrasil. Program tersebut dilakukan
akibat telah terjadinya leveling-off dari pemanfaatan teknologi
inovasi, sehingga dilanjutkan penerapan inovasi sosial berupa
kerjasama kelompok tani. Melalui program tersebut, akhirnya
berhasil mewujudkan swasembada beras pada tahun 1984.

17

Dermoredjo et al.

Kebijakan program pengembangan produksi padi juga mengikuti


pola tanam yang terjadi di Indonesia. Pedagang antar pulau,
termasuk BULOG, saat itu melakukan perdagangan didasarkan
pada perbedaan bulan-bulan sesuai pola tanamnya, seperti yang
ditunjukkan dalam Tabel 1 (Mears 1982).
Tabel 1.

Jadwal tanam dan panen padi sawah dan ladang di beberapa


provinsi di Indonesia tahun 1978
Tanaman pertama
Provinsi

Sawah

Ladang

Tanam

Panen

Tanam

Panen

Sumatera Utara
Sumatera Selatan
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sulawesi Selatan

Sep/Nov
Nov/Jan
Nov/Feb
Des/Mar
Des/Feb
Mei/Jun

Jan/Mar
Apr/Jun
Mar/Mei
Mar/Jun
Mar/Mei
Ags/Sep

Jun/Ags
Okt/Nov
Okt/Des
Nov/Des
Nov/Jan
Nov/Jan

Des/Feb
Okt/Jan
Feb/Apr
Jan/Mar
Feb/Apr
Feb/Mei

Sumatera Utara
Sumatera Selatan
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sulawesi Selatan

Mei/Jun
Jun/Jul
Apr/Jun
Mei/Jun
Mei/Jun
Jan/Feb

Ags/Sep
Sept/Okt
Jul/Okt
Jul/Sep
Ags/Sep
Apr/Jun

Tanaman kedua

Mar/Apr

Jun/Ags

Sumber: Mears (1982)

Pada tahun 1988, INSUS dikembangkan lagi menjadi SUPRA INSUS


dengan penerapan 10 jurus teknologi yang terdiri dari: (i) pola
tanam tahunan secara bergilir, (ii) pengolahan tanah, (iii) benih
unggul bermutu, bersertifikat, (iv) pergiliran varietas, (v) jarak
tanam, (vi) pemupukan berimbang, (vii) penggunaan Zat Pengatur
Tumbuh (ZPT)/Pupuk Pelengkap Cair (PPC), (viii) pengendalian
jasad pengganggu secara terpadu, (ix) tata-guna air di tingkat
usaha tani (TIGATUT), dan (x) penanganan pascapanen. Program
ini dilakukan untuk menghadapi gejala pelandaian pada tahun
1986, ketika areal INSUS mencapai di atas 50% dari areal panen.
Hal ini merupakan ancaman bagi kelestarian swasembada pangan
yang dicapai tahun 1984.
Dalam upaya meningkatkan produksi beras lebih lanjut telah
dianjurkan untuk meningkatkan mutu intensifikasi melalui: (1)
peningkatan areal yang menggunakan benih bermutu serta
meningkatkan populasi tanaman, (2) perluasan areal usaha tani
yang menerapkan pemupukan berimbang dengan takaran dan
waktu yang tepat, (3) peningkatan areal yang menggunakan zat

Sistem Produksi Padi Nasional

pengatur tumbuh dan pupuk pelengkap cair, (4) pemberantasan


hama dan penyakit dengan melakukan pengendalian hama terpadu
(PHT), dan (5) peningkatan mutu sekaligus mempercepat
pengolahan tanah untuk menjamin terlaksananya pola dan jadwal
tanam yang ditetapkan.

Dinamika Penerapan Teknologi dan Produksi Padi Era


Reformasi (1997-sekarang)
Pada periode selanjutnya, upaya pembangunan pertanian tidak
sekedar bertujuan untuk mencapai swasembada pangan, tetapi
juga untuk mendukung ekspor non-migas. Sayangnya, seiring
dengan meredupnya pemerintahan orde baru, sejak awal 1990-an
dirasakan
terjadinya
penurunan
peran
pertanian
dalam
perekonomian nasional yang berorientasi ekspor tersebut. Bahkan
menjelang reformasi pada 1998, kembali terjadi krisis beras di
dalam negeri.
Kondisi kekurangan pangan terutama beras, kembali mengancam
Indonesia yang turut memberikan andil bagi runtuhnya orde baru.
Kondisi seperti itu baru memperoleh perhatian serius sejak
bergulirnya reformasi (1998), yang mendorong Departemen
Pertanian menetapkan "7 Agenda reformasi" yang diawali dengan
kebijakan "GEMA PALAGUNG (Gerakan Mandiri Padi, Kedelai, dan
Jagung) untuk mencapai swasembada tahun 2001. Tetapi, upaya
tersebut tidak mampu mencapai tujuan yang diharapkan, bahkan
Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras dengan volume
yang semakin besar.
Seiring dengan itu, pada tanggal 11 Juni 2005 pemerintah
mencanangkan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan
(RPPK) yang mencakup 12 strategi operasional, yaitu: (i) Investasi
dan pembiayaan, (ii) Manajemen pertanahan dan tata ruang, (iii)
Pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam, (iv) Infrastruktur
pedesaan, (v) Pengembangan SDM dan Pemberdayaan petaninelayan, (vi) Riset dan pengembangan teknologi, (vii) Kebijakan
perdagangan, (viii) Promosi dan pemasaran, (ix) Perpajakan dan
strategi retribusi, (x) Dukungan langsung bagi petani-nelayan, (xi)
Kebijakan pangan, dan (xii) Agroindustri.

19

Dermoredjo et al.

Untuk meningkatkan produksi beras nasional, pada tahun 2007


dilaksanakan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional
(P2BN). Lokasi program meliputi 350 kabupaten/kota sentra
produksi di 31 provinsi. Kegiatan APBN dalam memfasilitasi
program ini difokuskan melalui bantuan benih unggul bermutu,
pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman dan
Sumberdaya Terpadu (SL-PTT), Sekolah Lapangan Pengendalian
Hama Terpadu (SL-PHT) dan fasilitasi bantuan alat mesin pertanian.
Tujuan dan sasaran Program P2BN adalah sebagai berikut: (i)
program P2BN bertujuan untuk mempercepat terjadinya
peningkatan produksi beras nasional dengan target pertumbuhan
5% setiap tahun dan pencapaian swasembada beras berkelanjutan,
(ii) memperluas tingkat penggunaan benih unggul bermutu,
meluasnya penerapan teknologi budidaya anjuran spesifik lokasi,
dan
(iii)
meningkatkan
produktivitas,
pendapatan
dan
kesejahteraan petani.
Capaian peningkatan produksi padi tahun 2007 dan 2008 tersebut
menyebabkan Indonesia mampu surplus dan berswasembada beras
secara berkelanjutan. Peningkatan produksi padi pada tahun 2007
dan 2008 tersebut dihasilkan melalui peningkatan produktivitas dan
luas areal panen. Pada periode tersebut produktivitas padi nasional
meningkat cukup signifikan dimana tahun 2007 telah mencapai
4,71 ton/ha atau naik sebesar 0,085 ton/ha (1,84%) dari
produktivitas tahun 2006, dan pada tahun 2008 mencapai 4,88
ton/ha atau naik sebesar 0,178 ton/ha (3,79%) dari produktivitas
tahun 2007.
Pada periode sebelumnya produktivitas hanya tumbuh rata-rata
sekitar 1% per tahun (tahun 2005 hanya 0,83% dan tahun 2006
1,01%). Di samping produktivitas, luas panen juga meningkat
cukup tinggi. Pada tahun 2007 luas panen mencapai 12,148 juta
ha, atau naik sebesar 361.000 ha (3,06%), dan tahun 2008 menjadi
12,344 juta ha, atau naik sebesar 200.000 ha (1,61%), sedangkan
tahun sebelumnya cenderung menurun.

Sistem Produksi Padi Nasional

Potensi dan Peluang Peningkatan Produksi Padi Nasional di


Masa yang akan Datang
Indonesia masih akan menghadapi defisit beras nasional untuk
beberapa tahun mendatang. Tantangan ke depan, khususnya
menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN 2015 adalah akan
terbukanya kerjasama antara negara ASEAN dimana Indonesia
diperhadapkan oleh interaksi positif antara negara ASEAN
(Dermoredjo
dan
Darwanto
2012).
Kerjasama
aktual
pengembangan dan penerapan teknologi antara negara ASEAN
akan meningkat seiring dengan kebutuhan pangan regional ASEAN.
Saat ini dalam mengatasi kecukupan pangan serta untuk menekan
defisit dan impor beras, kapasitas produksi beras nasional domestik
perlu ditingkatkan melalui peningkatan intensitas tanam,
pembangunan irigasi baru, pemeliharaan sarana irigasi yang ada,
serta menekan alih fungsi lahan sawah beririgasi. Penciptaan
varietas baru, teknologi produksi yang efisien, dan teknologi
pascapanen untuk menekan kehilangan hasil juga sangat penting
untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi beras
nasional. Dengan cara ini pendapatan usaha tani padi dapat
ditingkatkan serta beras domestik (nasional) mampu bersaing
dengan beras impor.

Potensi sumberdaya lahan untuk meningkatkan produksi beras


nasional
Produksi pangan nasional di Indonesia saat ini masih belum
mencukupi kebutuhan. Produksi pangan sangat erat kaitannya
dengan ketersediaan lahan pertanian tanaman pangan yang
tersedia dan dapat dimanfaatkan sebagai lahan utama penghasil
pangan. Namun demikian, proses konversi lahan yang berlangsung
terus menerus telah dan akan selalu memberikan dampak yang
tidak diinginkan terhadap ketersediaan lahan pertanian pangan.
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa luas konversi lahan sawah
setiap tahun rata-rata mencapai 110.000 ha. Sebaliknya,
pencetakan sawah baru hanya berkisar antara 15.000 sampai
30.000 ha saja. Guna mencukupi tuntutan kebutuhan pangan
diperkirakan sampai tahun 2020, pemerintah harus membuka lahan
baru (perluasan areal pertanian pangan) seluas minimal 1.614.000
ha atau seluas 161.400 ha per tahun.
21

Dermoredjo et al.

Strategi pemenuhan kebutuhan pangan dengan perluasan areal


pertanian pangan dan peningkatan kapasitas produksi disebut twintrack strategy. Stategi ini tepat untuk diimplementasikan dalam
kondisi Indonesia yang memiliki lahan luas yang potensial untuk
produksi pangan, yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
Lahan cadangan yang dapat diharapkan mampu membantu
meningkatkan produksi pangan adalah lahan-lahan bukan sawah
(lahan inkonvensional) yang tersebar di berbagai wilayah di tanah
air.
Salah satu lahan inkonvensional yang memiliki potensi dan mampu
membantu meningkatkan pasokan pangan adalah lahan kering,
baik lahan yang telah diusahakan, maupun lahan yang belum atau
tidak diusahakan (lahan tidur). Lahan lainnya adalah lahan basah
dan lahan rawa pasang surut, lahan hutan dan kehutanan, serta
lahan-lahan perkotaan yang tidak atau belum dibangun.
Pemanfatan lahan kering memiliki harapan yang lebih cerah
dibandingkan lahan lainnya karena ancaman konversi lahan ke
non-pertanian tidak sebesar pada lahan sawah, potensi peralihan
lahan hutan rakyat menjadi lahan kering relatif tinggi, dan
keberlanjutan kegiatan pertanian lahan kering relatif lebih terjamin.
Namun kegiatan pertanian pangan pada lahan kering akan lebih
terjamin lagi bila ketersediaan dan kebutuhan teknologi pendukung
tercukupi dan berkesinambungan.
Perspektif lahan basah sebagai pemasok produk pertanian,
terutama pangan, memiliki masa depan yang baik. Sumberdaya
lahan basah sebagai salah satu sumberdaya strategis, bersifat multi
fungsi dan pada hakekatnya diperlukan oleh semua pihak. Pada
saat ini, degradasi lahan basah telah berada pada tingkat yang
mengkhawatirkan. Keterlambatan merehabilitasi dan pengabaian
azas keberlanjutan yang membutuhkan biaya besar patut
dipertimbangkan secara matang. Kebijakan pengelolaan lahan
basah di Indonesia harus memprioritaskan aspek keberlanjutan dan
keadilan. Para pemangku kepentingan dari berbagai sektor
hendaknya mempunyai akses yang proporsional sesuai kebutuhan
masing-masing sektor.

Sistem Produksi Padi Nasional

Pemanfaatan lahan inkonvensional lainnya adalah rawa pasang


surut yang tersebar diberbagai pelosok Indonesia. Lahan pasang
surut dapat memainkan peran strategis dalam mendukung
pencapaian sasaran produksi beras karena areal rawa pasang surut
sangat luas. Pengembangan pertanian khusus padi di lahan rawa
pasang surut gambut merupakan langkah strategis dalam upaya
mencari alternatif untuk meningkatkan produksi beras nasional.
Namun, perlu diingat bahwa lahan rawa pasang surut bersifat
marginal, tidak stabil, dan tanahnya berpotensi sulfat masam dan
gambut. Kondisi demikian sangat rentan terhadap perusakan
lingkungan dan ancaman serangan hama/penyakit tanaman.
Teknologi produksi tanaman pangan di lahan rawa pasang surut
sudah tersedia, namun belum sepenuhnya diadopsi petani.
Keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan pertanian di lahan
rawa tidak hanya ditentukan oleh penggunaan teknologi tepat guna
tetapi juga oleh ketersediaan sarana produksi dan infrastruktur
kelembagaan penunjang yang memadai serta partisipasi
masyarakat dan kebijakan pemerintah yang kondusif. Oleh karena
itu, diperlukan koordinasi, sinkronisasi, dan keterpaduan kerja
antar instansi terkait dalam upaya pencapaian sasaran.
Alternatif terakhir pemanfaatan lahan inkonvensional untuk
meningkatkan produksi beras nasional adalah penggunaan lahan
tidur perkotaan. Walaupun perkembangan perkotaan yang pesat
telah mengambil alih dan mengkonversi lahan pertanian
konvensional,
pembangunan
dan
pengembangan
wilayah
perkotaan juga menyisakan lahan kosong diantara wilayah-wilayah
pemukiman dan wilayah bisnis perkotaan. Lahan-lahan demikian,
walaupun dalam luasan relatif sempit dan terfragmentasi, masih
memberikan peluang untuk dimanfaatkan selama lahan tersebut
tidak atau belum dimanfaatkan untuk kebutuhan kota.

Potensi sumberdaya air dan agroklimat untuk meningkatkan produksi


beras nasional
Kekeringan dan banjir merupakan bencana alam yang silih berganti
mengancam sistem produksi pertanian nasional dan berdampak
luas ke berbagai aktivitas perekonomian di Indonesia. Sejak
beberapa tahun terakhir, diduga adanya kecenderungan perubahan
23

Dermoredjo et al.

perilaku bencana alam kekeringan dan banjir, baik dari segi


intensitas, kekerapan, luas, dan sebaran wilayah yang terkena
bencana maupun kualitas dan dampak yang diakibatkannya.
Perubahan perilaku kekeringan dan banjir tersebut tidak saja
disebabkan oleh adanya perubahan atau penyimpangan iklim,
khususnya curah hujan, tetapi juga disebabkan oleh perubahan
tatanan air (daur hidrologi) yang berkaitan dengan sistem
pengelolaan air dan sumberdaya air, tata guna dan sistem
pengelolaan lahan pada masing-masing zona tata air dalam suatu
sistem DAS.
Masalah air dan sumberdaya air juga masih menjadi perhatian
serius tidak saja disebabkan oleh peningkatan kebutuhan dan masih
kurang efisiennya penggunaan air untuk pertanian, tetapi juga oleh
makin meningkatnya kebutuhan air untuk sektor non pertanian.
Bahkan selain itu, pengembangan industri dan pemukiman tidak
hanya akan meningkatkan kebutuhan air tetapi juga mempunyai
dampak tersendiri terhadap kualitas air lingkungan yang pada
akhirnya juga akan berpengaruh pada hasil produksi pangan.
Kebutuhan air pertanian meliputi kebutuhan air konsumtif tanaman,
efisiensi irigasi, pengolahan awal tanam dan laju perkolasi
separuhnya dipenuhi oleh curah hujan, sedang separuh lainnya dari
irigasi. Kebutuhan air irigasi ini dipenuhi dari aliran sungai dan
waduk dalam keadaan tanpa kendala, yaitu pada musim hujan atau
segera sesudah musim hujan. Pemberian air irigasi adalah 0,54
liter/detik/ha selama masa tumbuh tanaman dan 100-150 hari atau
setara dengan kebutuhan air sebesar 5.750 m3/musim tanam/ha.
Dengan pertimbangan hal tersebut, kebutuhan air pertanian
sepenuhnya ditentukan oleh potensi sumberdaya air wilayah.
Potensi sumberdaya air di Indonesia berdasarkan kajian
keseimbangan air hidrologi dengan mengevaluasi total air tersedia
dan total kebutuhan air secara nasional menunjukkan status aman
dengan volume kebutuhan air sebesar 77 ribu MCM (mega cubic
meter) pada tahun 1990 dan meningkat menjadi 82 ribu MCM pada
tahun 2020. Dalam kurun waktu 1990-2020 porsi kebutuhan air
pertanian telah menurun dari 92 menjadi 82% dari kebutuhan total.
Berdasarkan potensi sumberdaya air, budidaya pertanian padi
dapat dilakukan di hampir semua kabupaten di Indonesia, walau
setelah mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti kesesuaian

Sistem Produksi Padi Nasional

lahan,
ketersediaan
lahan,
sumberdaya
manusia,
dan
sarana/prasarana maka faktor ketersediaan air juga sering menjadi
kendala. Untuk itu penentuan masa tanam sangat diperlukan dalam
mendukung perencanaan pola tanam untuk mengurangi risiko
kegagalan panen. Berdasarkan kajian analisis keseimbangan air
hidrologi maka pada Tabel 2 disajikan daerah-daerah di Indonesia
dengan kondisi sumberdaya air krisis, waspada, dan aman.
Tabel 2.

Wilayah di Indonesia dengan kondisi sumberdaya air (SDA)


krisis, waspada, dan aman

Kondisi SDA

Kabupaten/wilayah

Krisis

DKI Jakarta, dan wilayah Cirebon, Indramayu,


Purwakarta, Karawang, Bekasi, Tangerang, Bantul,
Sidoarjo, Lamongan, dan Gianyar

Waspada

Aceh utara, Deliserdang, Tanah Datar, hampir semua


kabupaten di Jawa

Aman

Kabupaten lainnya

Sumber: Pawitan et al. (1996)

Potensi sumberdaya agroklimat telah banyak dipetakan, walaupun


tidak secepat perkembangan penyusunan peta tanah dan topografi,
peta iklim di Indonesia juga telah mengalami berbagai
perkembangan dan perubahan-perubahan sesuai dengan tujuan
dan metode yang digunakan. Data iklim yang digunakan dalam
menyusun peta-peta iklim tersebut umumnya adalah data
pengamatan masa lalu sedangkan data terbaru jumlahnya sangat
terbatas. Oleh sebab itu kehandalan dari peta iklim tersebut makin
berkurang, apalagi adanya berbagai dugaan bahwa sejak beberapa
dekade terakhir telah terjadi pergeseran jumlah dan sebaran hujan
secara global. Selain itu, metode dan kriteria yang digunakan masih
kurang relevan dengan masalah dan tantangan yang dihadapi pada
saat ini dan masa yang akan datang yang membutuhkan akurasi
yang lebih tinggi. Di sisi lain, berbagai metode analisis dan teknik
penyusunan peta secara kuantitatif yang didukung dengan program
komputer telah berkembang dengan pesat seperti GIS (Geography
Information System).

25

Dermoredjo et al.

Pengembangan dan Penerapan Teknologi Inovasi Padi


Padi merupakan komoditas utama penduduk Indonesia. Kebutuhan
beras terus meningkat setiap tahun seiring dengan peningkatan
penduduk. Namun persoalannya budidaya padi dewasa ini
dihadapkan pada perubahan iklim global. Guna mengantisipasi dan
menghadapi perubahan iklim perlu dilakukan teknologi inovasi
antara lain: (1) menghasilkan varietas padi toleran terhadap
cekaman abiotik seperti rendaman (banjir), kekeringan, dan
salinitas, (2) mengemas komponen budidaya padi dalam satu paket
yaitu Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), dan (3) mengendalikan
hama dan penyakit.
Sejak tahun 2008, penamaan varietas unggul baru (VUB) tidak lagi
menggunakan nama sungai, tetapi mengikuti penamaan padi
hibrida. Penamaan VUB untuk ekosistem sawah irigasi memakai
nama Inpari (Inbrida Padi Irigasi), ekosistem rawa memakai nama
Inpara (Inbrida Padi Rawa), dan lahan kering memakai nama
Inpago (Inbrida Padi Gogo), (Badan Litbang Pertanian 2011).
Pemilihan varietas yang cocok sangat menentukan hasil produksi
padi. Untuk mengatasi permasalahan kekeringan di beberapa
daerah kering dan juga tanah podsolik merah kuning akibat
keracunan Al, dapat menggunakan varietas padi gogo seperti
varietas Limboto, Batutegi, Situ Bagendit, Inpago 4, 5, dan 6. Untuk
lahan sawah, terdapat varietas padi sawah yang tahan kekeringan
seperti varietas Dodokan, Silugonggo, dan Inpari 10. Untuk lahan
rawa dapat dipilih varietas yang tahan terhadap rendaman atau
banjir yaitu varietas Inpara 3, 4, 5, dan 6. Pada lahan sawah yang
berpotensi tergenang air laut dengan kadar salinitas tinggi dapat
memilih varietas yang toleran salin (kadar garam tinggi) yaitu
varietas Margasari, Dendang, Lambur, Indragiri, Air Tenggulang,
dan Banyuasin. Daerah dengan musim tanam yang pendek, yang
dicirikan dengan jumlah bulan kering lebih besar, dapat memilih
varietas genjah seperti Inpari 11, 12 dan 13 (Badan Litbang
Pertanian 2011).
Teknologi inovasi budidaya tanaman padi perlu dikemas dalam satu
paket Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Komponen pendukung
PTT, dapat dibagi menjadi komponen dasar dan pilihan. Komponen
dasar merupakan komponen yang sangat dianjurkan, sedangkan
komponen pilihan merupakan komponen yang disesuaikan dengan
kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat.

Sistem Produksi Padi Nasional

Komponen dasar, terdiri dari:


(1) Varietas unggul baru (VUB).
(2) Benih bermutu dan berlabel.
(3) Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke
sawah atau dalam bentuk kompos.
(4) Pengaturan populasi secara optimum.
(5) Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara
tanah.
(6) Pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan
pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT).
Komponen pilihan terdiri dari:
(1) Pengelolaan tanah sesuai musim dan pola tanam.
(2) Penggunaan bibit muda.
(3) Tanam bibit 13 batang per rumpun.
(4) Pengairan berselang atau intermitten.
(5) Penyiangan dengan landak atau gasrok.
(6) Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok.
Serangan hama dan penyakit tanaman berhubungan dengan
perubahan suhu, kelembaban, dan curah hujan. Hama utama padi
yang sering dijumpai adalah tikus. Saat ini telah dikembangkan
teknologi PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yang
berdasarkan pada pemahaman ekologi tikus, PHTT dilakukan secara
dini, intensif, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan berbagai
teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Teknologi
pengendalian berupa tanam dan panen serempak, sanitasi sawah
yang bersih, pengemposan, gropyokan massal, rodentisida, dan
Trap Barrier System (TBS) serta Linear Trap Barrier System (LTBS).
Penyakit tanaman padi yang sering dijumpai adalah penyakit blast.
Serangan Blast dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan
anakan produktif. Blast menyebabkan malai kecil dengan sedikit
gabah bahkan dapat menyebabkan seluruh tanaman mati sebelum
berbunga.
Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam
pengendalian penyakit Blast adalah penggunaan varietas tahan
seperti varietas Limboto, Danau Gaung, Situ Patenggang, dan
Batutegi. Usaha lain yang dapat dilakukan untuk pengendalian
penyakit Blast antara lain:
27

Dermoredjo et al.

(1) Hindari penggunaan pupuk N di atas dosis anjuran.


(2) Hindari tanam padi terus-menerus sepanjang tahun dengan
varietas yang sama.
(3) Sanitasi lingkungan harus intensif.
(4) Hindari tanam padi terlambat dari petani di sekitarnya.
(5) Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat
dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 40
hari setelah sebar.
(6) Penyemprotan fungisida sistemik minimum sekali pada awal
berbunga untuk mencegah penyakit blast leher.
(7) Hindari jarak tanam rapat (sebar langsung).
(8) Pemakaian jerami sebagai kompos.

Kondisi Prasarana Infrastruktur dan Sarana Produksi Padi


Tanaman padi merupakan salah satu jenis tanaman yang
membutuhkan air sangat besar. Selama ini kontinuitas produksi
padi terancam oleh ketersediaan air yang tidak/kurang memadai.
Di musim kemarau pasokan air kurang, sebaliknya di musim hujan
suplai air berlebih, bahkan mengakibatkan banjir. Dari ketimpangan
neraca air pada musim kemarau dan musim hujan, sesungguhnya
memberi gambaran bahwa sebenarnya ada yang bisa dikelola untuk
mengeliminir kerugian yang terjadi. Disinilah pentingnya
manajemen air.
Berkaitan dengan pertanian, manajemen air itu bertalian dengan
pengelolaan satuan daerah aliran sungai (DAS) dan penyediaan
infrastruktur irigasi yang akan memasok air ke lahan sawah.
Sistem irigasi secara nasional sebenarnya bisa mengairi total lahan
pertanian (sawah) seluas 7.23 juta ha (tahun 2010), namun sumber
air irigasi (waduk) yang tersedia secara nasional hanya mampu
menjamin ketersediaan air untuk irigasi lahan sawah seluas
797.971 ha (11%). Tabel 3 menyajikan informasi luas lahan sawah
dan sumber air irigasi secara nasional.

Sistem Produksi Padi Nasional

Tabel 3.

Luas sawah irigasi (ha) dan sumber air irigasi (waduk)

Provinsi
Lampung

Jawa Barat
Jawa Tengah

D.I Yogyakarta
Jawa Timur

Bali
NTB

Kalimantan Selatan
Sulawesi Selatan

Waduk
Batutegi
Way Rarem
Way Jepara
Jatiluhur
Darma
Kedungombo
Wonogiri
Sempor
Wadaslintang
Cacaban
Malahayu
Penjalin
Sermo
Lahor
Selorejo
Wlingi
Sutami
Bening
Pacal
Wonorejo
Gondang
Kedung Brubus
Palasari
Grogak
Batujai
Pengga
Mamak
Tiu Kulit
Palaparado
Batu Bulan
Pelara
Gapit
Sumi
Riam Kanan
Kampili
Bissua
Kalola
Bili-bili
Ponre-ponre

Luas sawah
irigasi (ha)

Total luas sawah


irigasi (ha)

90.000
21.100
6.651
237.790
22.316
70.919
26.000
17.000
31.853
17.481
18.456
29.000
3.330
1.100
5.700
13.600
34.000
9.912
16.600
7.540
10.500
1.400
1.300
1.700
3.350
3.585
5.173
1.940
2.466
5.576
1.309
1.300
2.272
7.331
10.545
10.758
5.405
2.443
4.411

118.651

260.106
215.692

3.550
126.520

3.000
27.322

7.331
35.799

Sumber: BAPPENAS (2012)

29

Dermoredjo et al.

Secara nasional pada tahun 2010 lebih dari separuh daerah irigasi
dalam kondisi rusak. Infrastruktur irigasi yang buruk ini setidaknya
disebabkan oleh dua hal. Pertama, sedimentasi yang tinggi akibat
kerusakan tanah oleh erosi. Kedua, rendahnya investasi untuk
rehabilitasi dan pemeliharaan infrastruktur irigasi. Berdasarkan
informasi BAPPENAS, kondisi jaringan irigasi nasional dari total 7,23
juta ha, 3,74 juta ha dalam kondisi rusak (rusak ringan, sedang
sampai berat) dan sebagian besar jaringan irigasi yang rusak
berada pada kewenangan pemerintah daerah yaitu seluas 2,68 juta
ha (Tabel 4). Pemerintah daerah harus mulai memberikan perhatian
pada jaringan irigasi yang menjadi kewenangannya.
Tabel 4.

Kondisi daerah irigasi nasional


Baik

Kewenangan

Rusak

Luas
(juta ha)

Luas
(juta ha)

Pusat
Daerah
Total

1,25
2,23
3,48

17
31
48

1,06
2,68
3,74

15
37
52

Sumber:

BAPPENAS (2012)

Konsolidasi kelembagaan yang menjamin terkelolanya sumberdaya


air sesuai prinsip-prinsip ketahanan air masih jauh dari berhasil.
Khudori (2008) dalam Ironi Negeri Beras menjelaskan, jika
konsolidasi kelembagaan tidak kunjung berhasil, akan menjadi
ancaman serius ketahanan pangan nasional, sebab 80% produksi
padi ada di sawah beririgasi.
Diluar itu produksi padi juga mudah sekali terguncang akibat kinerja
yang berkelanjutan jaringan irigasi setidaknya oleh: (i) luas areal
pertanian (jaringan irigasi) yang rusak karena banjir atau bencana
alam lain, (ii) daerah irigasi penyedia air melalui waduk yang lebih
dapat dijamin kehandalannya hanya seluas 797.971 ha (11% dari
jaringan irigasi yang ada), dan (iii) terjadinya konversi lahan sawah
beririgasi menjadi peruntukan lain dengan laju rata-rata 15.00020.000 ha per tahun.

Sistem Produksi Padi Nasional

Penutup
Dinamika sistem produksi padi pada setiap zaman memiliki
kecenderungan yang berbeda dan setiap zaman memiliki kelebihan
dan kekurangan. Pada era kolonial dan awal kemerdekaan lahan
pertanian yang tersedia untuk diolah masih sangat luas akan tetapi
jumlah penduduk masih rendah sehingga tenaga kerja di sektor
pertanian terbatas. Meskipun kemajuan padi unggul pada zaman ini
masih belum ada dan luas irigasi masih terbatas akan tetapi
kebutuhan masih mencukupi dan risiko perubahan iklim belum
muncul.
Pada era 1959-1997 berkat pengaruh revolusi hijau Indonesia
mampu mencapai swasembada beras. Pada zaman ini banyak
dikembangkan sistem intensifikasi pertanian (BIMAS, DENMAS,
INMAS, INSUS, dan SUPRA INSUS) yang bertujuan untuk
meningkatkan produksi padi nasional. Pada tahun 1997 terjadi
anomali iklim El-Nino dan merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan penurunan produktivitas padi. Selain risiko iklim
faktor lain yang menyebabkan turunnya produksi padi adalah
degradasi lahan pertanian dan semakin tingginya kerusakan
jaringan irigasi, meskipun telah banyak varietas baru dihasilnya
namun masih sulit untuk meningkatkan produksi padi. Pada masa
yang akan datang diperlukan upaya perluasan area pertanian dan
upaya adaptasi untuk mengurangi risiko perubahan iklim.
Mencermati dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan
di Indonesia khususnya produksi padi, serta untuk memperkuat
daya tahan sektor pertanian terhadap ancaman variabilitas iklim,
maka diperlukan suatu upaya strategis. Untuk mengantisipasi
dampak variabilitas iklim adalah dengan melakukan adaptasi
budidaya pertanian agar dampak anomali yang cenderung
meningkat tersebut dapat diminimalisasi sehingga tidak
menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi kesinambungan
ketahanan pangan.

31

Dermoredjo et al.

Daftar Pustaka
Badan Litbang Pertanian. 2011. Inovasi
Perubahan Iklim. Agro Inovasi. Jakarta.

Padi

Menghadapi

BAPPENAS. 2012. Adaptasi Perubahan Iklim dan Bencana Terhadap


Ketahanan Pangan
Breman, J.C. 1971. Jawa Pertumbuhan Penduduk Dan Struktur
Demografis. Bhratara. Jakarta.
Dermoredjo, S.K., D.H. Darwanto. 2012. Dinamika Ketersediaan
Pangan ASEAN dan Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan
Regional. e-journal ekonomi pertanian (agricultural economics
electronic journal). 1(1):19-34.
Hafsah, M.J., T. Sudaryanto. 2004. Sejarah Intensifikasi Padi dan
Prospek Pengembangannya dalam Ekonomi Padi dan Beras
Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Departemen Pertanian. Jakarta.
Khudori. 2008. Ironi Negeri Beras. INSIST Press.
Mardikanto, T. 2007. Pengantar Ilmu Pertanian. Pusat
Pengembangan Agrobisnis dan Perhutanan Sosial. Surakarta
Mears, L.A. 1982. Era Baru Ekonomi Perberasan Indonesia. Gadjah
Mada University Press. D.I Yogyakarta.
Mufti, H.R. 2009. Kebijakan Pangan Pemerintah Orde Baru dan
Nasib Kaum Petani Produsen Beras Tahun 1969-1988. Fakultas
Ilmu Pengetahuan Budaya. Program Studi Ilmu Sejarah
(Skripsi).
Nataatmadja, H., D. Kertosastro, A. Suryana. 1988. Perkembangan
Produksi dan Kebijaksanaan Pemerintah dalam Produksi Beras.
Dalam Padi (Buku 1). Pusat Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Bogor.
Pawitan, H., I. Las, H. Suharsono, R. Boer, Handoko, J.S.
Baharsjah. 1996. Implementasi Pendekatan Strategis dan Taktis
Gerakan Hemat Air. Dalam Pemantapan Gerakan Hemat Air
untuk Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumberdaya Air. Prosiding
Seminar Nasional. Jakarta 11 Juli 1996.

33

Bab 2
Produksi Beras dan
Ketahanan Pangan Nasional
Bambang Sayaka, Saktyanu Kristyantoadi Dermoredjo, dan Yeli Sarvina

Dasar Pemikiran
Sebagai kebutuhan dasar hidup penduduk selain pakaian dan
perumahan, kebutuhan pangan memiliki posisi strategis. Pangan
selalu menjadi isu penting dalam pembangunan nasional khususnya
dalam sektor pertanian. Menurut Undang-Undang (UU) Pangan No.
18 tahun 2012, pangan merupakan segala sesuatu yang berasal
dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan,
perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun
tidak diolah yang digunakan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia. Sementara itu ketahanan pangan didefinisikan
sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan
perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup,
baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata,
dan terjangkau. Organisasi Pangan Dunia (FAO) mendefinisikan
ketahanan pangan sebagai kemampuan untuk menjamin
tersedianya pangan bagi seluruh penduduk sepanjang tahun
dengan harga terjangkau untuk dapat hidup sehat dan aktif.
Beragam bahan pangan tersedia cukup banyak di berbagai daerah
di negara kita. Dari beragam sumber bahan pangan, hanya ada
beberapa yang masih dikonsumsi sebagai bahan pangan pokok.
Saat ini beras merupakan sumber pangan pokok bagi sebagian
besar penduduk Indonesia. Kurang beragamnya sumber bahan
pangan yang dikonsumsi penduduk membuat ketergantungan pada
sumber pangan tertentu, khususnya beras menjadi semakin besar.
Upaya peningkatan produksi pangan nasional hampir identik
dengan peningkatan produksi beras.
34

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

Ketahanan pangan bisa tercapai melalui ketersediaan pangan yang


secara kuantitatif memenuhi kebutuhan penduduk. Kemampuan
menyediakan suplai pangan sepanjang tahun dan merata di
berbagai daerah menjadi sangat mendesak. Untuk itu diperlukan
upaya peningkatan produksi pangan dengan mengatasi berbagai
hambatan yang ada. Di samping itu, akses penduduk terhadap
bahan pangan yang ada di pasar merupakan faktor penting. Untuk
bisa mengakses bahan pangan maka penduduk dituntut untuk bisa
menghasilkan sendiri atau mempunyai daya beli agar kebutuhan
pangan terpenuhi. Produksi pangan tetap harus ditingkatkan
dengan berbagai program yang ada dalam rangka kemandirian
pangan. Di lain pihak, peningkatan daya beli penduduk juga perlu
mendapat perhatian khusus agar akses pangan menjadi lebih
beragam dan berkualitas.

Posisi Beras terhadap Ketahanan Pangan Nasional


Beras sebagai bahan pangan menduduki peringkat teratas
mengingat sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan
komoditas ini sebagai pangan pokok. Partisipasi rumah tangga
dalam mengkonsumsi beras semakin banyak (97%) seiring kurang
beragamnya pangan pokok yang ada di tanah air. Partisipasi
konsumsi terigu cenderung meningkat tetapi masih relatif rendah
(33%). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak rumah tangga
yang meninggalkan bahan pangan lain sebagai pangan pokok
seperti jagung, ubi-ubian, dan sagu. Sebaliknya, diversifikasi
konsumsi pangan cenderung kurang mengalami kemajuan.
Banyak rumah tangga memilih beras sebagai bahan pangan pokok
karena berbagai alasan, antara lain praktis dalam pengolahan dan
penyajian, mudah diperoleh, dan secara umum mengandung gizi
yang relatif baik. Pada taraf tertentu mengkonsumsi beras juga
memiliki status sosial yang lebih tinggi. Pemerintah juga berperan
mendorong partisipasi rumah tangga terhadap beras dengan
bantuan untuk kelompok masyarakat miskin berupa beras,
walaupun bantuan pangan sekarang ini juga mencakup jenis
pangan lainnya.

35

Sayaka et al.

Rata-rata konsumsi beras per kapita di Indonesia pada tahun 2012


rata-rata 113 kg/tahun. Dibandingkan tahun 2010, konsumsi beras
per kapita turun dari 139 kg tahun 2010. Walaupun demikian
konsumsi beras per kapita di Indonesia masih tinggi dibandingkan
dengan Malaysia dan Jepang masing-masing 80 kg dan 60 kg per
kapita/tahun (IRRI News 2012).
Manfaat beras dalam konsumsi rumah tangga juga ditunjukkan oleh
besarnya asupan kalori yang berasal dari beras (40%). Di samping
itu, pengeluaran rata-rata rumah tangga di Indonesia untuk pangan
relatif tinggi (>50%) dan untuk rumah tangga miskin pasti lebih
tinggi lagi.

Dinamika Produksi
Perkembangan produksi padi mengalami fluktuasi baik itu untuk
produksi, produktivitas, dan luas panen. Terkait dengan
produktivitas yang berkaitan dengan sistem produksi, secara umum
kebijakan program terjadi cenderung untuk meningkatkan
produktivitas padi, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1 di
bawah ini. Program BIMAS ditunjukkan untuk meningkatkan
produktivitas 1967-1978, INSUS 1979-1987, SUPRA INSUS 19881997, GEMAPALAGUNG 1998-2004, dan RPPK/P2BN 2005sekarang.
Dalam kurun waktu yang cukup panjang selama 1961-2013,
melalui periode tertentu, fluktuasi produksi padi nasional
mengalami pertumbuhan yang bervariasi. Target pertumbuhan
produksi padi harus memenuhi kebutuhan nasional, apabila kurang
mencukupi maka pemerintah melakukan impor beras. Kalau
diperhatikan dalam Tabel 1, secara umum pertumbuhan produksi
padi mengalami pertumbuhan di atas pertumbuhan penduduk,
kecuali periode 1961-1966, 1998-2004, dan 2005-2007. Periode
tersebut merupakan periode yang cukup sulit untuk memulihkan
kondisi pertumbuhan produksi padi nasional. Upaya pemerintah
dalam meningkatkan produksi pada periode 1961-1966 adalah awal
dimulainya gerakan swasembada beras dimana saat itu
pertumbuhan produksi padi masih 1,92% per tahun, sedangkan
pertumbuhan penduduk 2,49% per tahun.

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

Gambar 1. Perkembangan produktivitas dan produksi padi, tahun 19612013 (Sumber: www.faostat.org dan www.bps.go.id, diolah)

Di samping itu, pertumbuhan produktivitas dan luas panen juga di


bawah pertumbuhan jumlah penduduk dan impor beras mencapai
hampir 800 ribu ton/tahun. Pada kondisi yang kurang
menguntungkan tersebut dan pedapatan per kapita Indonesia
tahun 1960 masih di bawah $100, Indonesia mengalami penurunan
impor beras 23,59% per tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa
Indonesia sulit untuk memenuhi kebutuhan beras baik melalui
produksi maupun impor.
Pada periode selanjutnya, 1967-1978, untuk memulihkan kondisi
pangan nasional, produksi padi Indonesia sudah melebihi
pertumbuhan jumlah penduduk dimana pertumbuhan produksi
pada periode tersebut mencapai 4,34% per tahun dan pertumbuhan
penduduk 2,5% per tahun. Selain itu, pertumbuhan produktivitas
juga meningkat di atas pertumbuhan penduduk, namun untuk
pertumbuhan luas panen belum dapat mengikuti pertumbuhan
jumlah penduduk. Pada kondisi yang demikian, untuk memenuhi
kecukupan beras nasional, pemerintah melakukan impor hingga
mencapai 1 juta ton per tahun dengan pertumbuhan berkisar
12,28% per tahun. Begitu pula pada periode 1979-1987 yaitu
periode terjadinya swasembada beras 1984 menunjukkan pola
yang sama yaitu pertumbuhan produksi padi (4,89% per tahun) di
atas pertumbuhan penduduk (2,17%) per tahun. Pada kondisi yang
37

Sayaka et al.

demikian rata-rata produktivitas padi juga mengalami peningkatan


menjadi 3,7 ton/ha dengan pertumbuhan 3,31% per tahun, namun
pertumbuhan luas panen juga masih di bawah pertumbuhan
penduduk dan pertumbuhan impor mengalami penurunan sekitar
33,15% per tahun dan rata-rata impor hanya 700 ribu ton/tahun.
Terjadinya pertumbuhan produktivitas yang melandai pada periode
1988-1997 yaitu 0,62% per tahun mengakibatkan pertumbuhan
produksi padi (1,83% per tahun) mendekati pertumbuhan
penduduk (1,66% per tahun) dan pertumbuhan luas panen juga
tidak meningkat (1,22% per tahun) mengakibatkan impor kembali
meningkat hingga 26,27% per tahun. Proses yang kurang
menguntungkan tersebut, kembali terjadi setelah resesi
1997/1998, pada periode 1998-2004 luas panen mengalami
penurunan sekitar 0,20% per tahun mengakibatkan pertumbuhan
produksi 1,16% per tahun di bawah pertumbuhan penduduk 1,44%
per tahun. Pada kondisi yang demikian, impor beras mencapai
hampir 2 juta ton/tahun.
Memasuki periode 2005-2006, pemulihan ekonomi belum
memberikan kondisi pertumbuhan produksi di atas pertumbuhan
penduduk walaupun produktivitas padi rata-rata telah mencapai 4,6
ton/ha. Barulah pada periode 2007-2013, pertumbuhan produksi
padi Indonesia sebesar 3,30% per tahun kembali meningkat di atas
pertumbuhan penduduk 1,33% per tahun. Pertumbuhan produksi
bisa tercapai pada kondisi tersebut akibat dari pertumbuhan luas
panen 2,04% per tahun di atas pertumbuhan penduduk. Pada
kondisi yang demikian, mengantisipasi resesi ekonomi 2008,
pemerintah melakukan impor beras pada periode 2007-2013
hingga 1 juta per tahun dengan pertumbuhan 8,61% per tahun. Hal
ini menunjukkan bahwa kecukupan beras sangat sensitif terhadap
reaksi dari pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan produksi
padi. Pola kebijakan kecukupan kebutuhan beras melalui teknologi
dan pemulihan sumberdaya alam sangat dibutuhkan untuk periodeperiode selanjutnya.

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

Tabel 1.

Perkembangan Produksi, Produktivitas, Luas Panen Padi (GKG,


Impor Beras dan Jumlah Penduduk Indonesia 1961-2013)
Produksi

Tahun

1961-1966
1967-1978
1979-1987
1988-1997
1998-2004
2005-2006
2007-2013

Ratarata
(juta
ton/
tahun)

%/
thn

12.6
20.5
34.9
46.9
51.4
54.3
64.8

1.9
4.3
4.8
1.8
1.1
0.5
3.3

Produktivitas
Ratarata
(ton/
ha)
1.7
2.4
3.6
4.3
4.4
4.6
4.9

Luas Panen

%/
thn

Ratarata
(juta
ha/
tahun)

0.1
3.4
3.3
0.6
1.3
1.0
1.2

7.1
8.2
9.4
10.8
11.7
11.8
13.0

%/
thn

1.8
1.0
1.6
1.2
-0.2
-0.4
2.0

Impor
Ratarata
(juta
ton/
tahun)
0.7
1.0
0.7
0.7
1.9
0.3
1.0

Jumlah
Penduduk
%/
thn

-23.5
12.2
-33.1
26.2
-24.7
82.7
8.6

Ratarata
(juta
jiwa/
tahun)

%/
thn

96.7
121.7
155.6
186.3
212.0
226.1
240.6

2.4
2.4
2.1
1.6
1.4
1.4
1.3

Sumber: FAO (2014) dan BPS (2014), diolah

Upaya Meningkatkan Produksi Menghadapi berbagai Kendala


Berbagai cara ditempuh oleh pemerintah dalam meningkatkan
produksi pangan nasional. Konversi lahan pertanian, kerusakan
jaringan irigasi, perubahan iklim, dan serangan hama penyakit. UU
No. 41/2009 mengatur tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan PP No. 1/2011 mengatur
tentang Penetapan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan telah menyatakan lahan pertanian pangan
berkelanjutan sebagai kawasan strategis nasional. Setiap
kabupaten/kota harus mengalokasikan sebagian lahan pertanian
yang ada untuk Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan
cadangan LP2B. Di samping itu, LP2B dan cadangan LP2B harus
dimasukkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
kabupaten/kota. Walaupun demikian tidak secara otomatis alih
fungsi lahan pertanian ke non pertanian bisa dicegah. Masih banyak
petani yang menjual lahannya untuk keperluan non pertanian dan
di lain pihak pemerintah kabupaten/kota tidak bisa memberi sangsi
sesuai dengan yang tercantum dalam UU No. 41/2009. Konversi
lahan terus berlangsung untuk keperluan perumahan, jalan raya,
maupun kompleks industri. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari
sektor non pertanian lebih menjanjikan dibanding PAD dari sektor
pertanian juga membuat banyak pemerintah kabupaten/kota belum
serius melaksanakan UU No. 41/2009 (Sayaka et al. 2011).

39

Sayaka et al.

Konversi lahan pertanian sebagian besar terjadi di Jawa sebagai


daerah penghasil utama padi. Selama 1990-1993 konversi lahan
pertanian mencapai 52.773 ha atau rata-rata 18.260 ha/tahun.
Tahun 200-2002 konversi lahan sebanyak 563.000 ha atau 188.000
ha/tahun (Irawan 2005). Selama periode 2008-2010 konversi lahan
sawah sebanyak 200.000 ha (Rahmadi 2013). Di lain pihak program
pencetakan sawah baru hanya sekitar 20.000-40.000 ha/tahun
(Antara 2013).
Konversi lahan sawah mempunyai dampak negatif yaitu hilangnya
produksi pangan dari lahan sawah termasuk beras. Di samping itu,
hilangnya pendapatan usaha tani dan kesempatan kerja di lahan
pertanian (Ashari 2003). Beberapa hal yang bisa disarankan untuk
mengendalikan konversi lahan selain pemberlakuan otoritas sentral
seperti undang-undang dan peraturan pemerintah adalah
pemberian insentif kepada petani agar tetap bersedia mengelola
lahan pertaniannya dan tidak menjual untuk keperluan non
pertanian. Dalam hal ini, termasuk memberi insentif kepada
pemerintah kabupaten/kota agar bersedia mempertahankan lahan
pertanian. Di samping itu, perlu peningkatan kemampuan petani
secara kolektif dalam mengendalikan konversi lahan (Pasandaran
2006).
Kementerian PU melakukan beberapa program pembangunan dan
rehabilitasi jaringan irigasi. Pembangunan ini ditujukan untuk
mengantisipasi menurunnya kemampuan jaringan irigasi dan rawa
yang berakibat pada penurunan ketersediaan air. Dari 7,2 juta ha
sawah yang dibangun, sekitar 36% mengalami kerusakan jaringan
irigasi. Tahun 2013 Kementerian PU melakukan perluasan jaringan
irigasi seluas 277.741 ha, rehabilitasi jaringan irigasi seluas
238.136 ha, operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi seluas
2.278.510 ha Selain saluran irigasi konvensional, Kementerian PU
juga mengoptimalkan potensi jaringan irigasi rawa melalui
peningkatan jaringan rawa seluas 32.632 ha, rehabilitasi jaringan
rawa seluas 119.073 ha, serta operasi dan pemeliharaan jaringan
rawa seluas 1.027.393 ha.
Jika konsisten dikembangkan maka jaringan irigasi rawa yang saat
ini hanya sekitar 1,8 juta ha dapat dikembangkan mendekati angka
potensi jaringan irigasi rawa yang sekitar 33,4 juta ha. Sedangkan
untuk menjaga dan meningkatkan keberlanjutan fungsi dan

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

keberadaan sumberdaya air serta prasarana sumberdaya air pada


tahun anggaran 2013 direncanakan pembangunan 21 waduk dan
252 embung/situ, rehabilitasi 29 waduk dan 107 embung/situ serta
operasi dan pemeliharaan 706 waduk/embung/situ. Hal ini untuk
meningkatkan penyediaan prasarana air baku pada tahun 2013
(Tempo 2013).
Perubahan iklim selama lebih dari dua dasawarsa terakhir
menyebabkan fluktuasi produksi pangan, khususnya beras.
Kekeringan dan banjir merupakan dampak dari perubahan iklim
ekstrem, di samping serangan hama penyakit yang lebih intensif.
Sumaryanto et al. (2012) mengestimasi pola produksi pangan
utama (padi, jagung, dan kedelai) melalui dampak El-Nino dan LaNina. Dampak El-Nino adalah mengurangi luas tanam tanaman
pangan dan dampak La-Nina adalah meningkatkan luas tanam.
Walaupun demikian dampak negatif El-Nino lebih besar dari
dampak positif La-Nina. Selain menurunkan luas tanam, El-Nino
juga menurunkan produktivitas padi yang secara keseluruhan
menurunkan produksi padi.
Perlu diseminasi informasi peramalan iklim dan implikasinya untuk
kalender tanam serta meningkatkan kemampuan petani merancang
pola tanam. Pengendalian hama dan penyakit padi bisa dilakukan
melalui perbaikan budidaya, pengendalian secara kimiawi, hayati
maupun pemantauan secara dini. Pengendalian secara budidaya,
khususnya terhadap hama wereng coklat, adalah melalui adopsi
varietas unggul antara lain varietas Inpari yang sudah
disebarluaskan ke petani.

Program Peningkatan Produksi Beras Nasional


Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) adalah kegiatan
peningkatan produksi beras disertai penyediaan sarana dan
prasarana produksi melalui optimalisasi sumberdaya pertanian,
teknologi, dan kelembagaan. P2BN merupakan gerakan nasional
dengan melakukan sinergi para pemangku kepentingan dari pusat
hingga ke desa. Road Map Peningkatan Produksi Beras Nasional
(P2BN) tahun 2012-2014 menuju surplus 10 juta ton beras tahun
2014 mempunyai sasaran produksi padi tahun 2013 sebanyak
72,06 juta ton GKG. Sasaran produksi tahun 2013 meningkat 4,24
41

Sayaka et al.

juta ton (6,25%) dari produksi tahun 2012 (67,83 juta ton).
Sasaran produksi padi tahun 2014 adalah 75,57 juta ton GKG.
Program Penguatan Ketahanan Pangan Nasional melalui
Intensifikasi dan Ekstensifikasi yang dinamakan Gerakan
Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K)
dilaksanakan oleh beberapa BUMN yang bergerak di sektor
pertanian. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis
Korporasi (GP3K) didasarkan pada Instruksi Presiden No. 5 Tahun
2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional Dalam
Menghadapi Iklim Ekstrem (Sekretariat Kabinet RI 2011). Tugas
Kementerian BUMN dalam inpres tersebut adalah: (i) menyediakan
lahan pada kawasan hutan dengan pola tumpang sari produksi
untuk tanaman padi, (ii) menyediakan dan menyalurkan sarana
produksi dan distribusi gabah/beras, dan (iii) melakukan
pengadaan dan pengelolaan cadangan gabah/beras pemerintah.
Selain Kementerian BUMN juga dilibatkan
kementeriankementerian lainnya.
Dalam hal ini, tugas Kementerian Pertanian adalah: (i)
menganalisis risiko dampak iklim ekstrem terhadap produksi dan
distribusi gabah/beras serta menyebarluaskan informasi kepada
petani, (ii) meningkatkan luas lahan dan pengelolaan air irigasi
untuk pertanian padi dalam mengantisipasi dan menghadapi kondisi
iklim ekstrem, (iii) menambah ketersediaan benih, pupuk, dan
pestisida yang sesuai, baik dalam jenis, mutu, waktu, lokasi, dan
jumlah, (iv) memperbaiki tata kelola usaha tani, pengendalian
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), penanganan bencana
banjir, dan kekeringan pada lahan pertanian padi, (v) menjamin
dan menyalurkan bantuan benih, pupuk, dan pestisida secara cepat
serta bantuan biaya usaha tani, bagi daerah yang mengalami puso
dan terkena bencana, (vi) memperbaiki kinerja petugas lapangan
dalam mengantisipasi dan melaksanakan respon cepat dampak
kondisi iklim ekstrem, (vii) menambah alat dan mesin pertanian
untuk mempercepat pengelolaan usaha tani padi, (viii)
memperbaiki kegiatan pascapanen untuk mengurangi kehilangan
hasil dan penurunan mutu gabah/beras, (ix) meningkatkan
cadangan gabah/beras, dan (x) mendorong penganekaragaman
konsumsi dan cadangan pangan.
PT Pupuk Indonesia Holding Company (2013) ditunjuk sebagai
salah satu operator GP3K dengan areal penugasan pada tahun 2011

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

seluas 100.000 ha. Implementasi program GP3K dilakukan melalui


pendekatan Optimalisasi Lahan Sawah, yaitu inovasi paket usaha
tani dikembangkan di lahan sawah untuk meningkatkan
produktivitas. Pola kerjasama dengan petani/ kelompok tani
(poktan) adalah Pola Yarnen (bayar panen) dimana seluruh
kebutuhan sarana produksi petani dibantu dalam bentuk pinjaman
natura dan bukan natura serta dibayar oleh petani/kelompok tani
setelah panen. Pada tahun 2011 PT Pupuk Indonesia Holding
Company (PT PIHC) mendapat penugasan seluas 100.000 ha untuk
program GP3K yang didistribusikan kepada empat anak
perusahaan, yaitu PT Pusri Palembang, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk
Kaltim, dan PT Petrokimia Gresik. Walaupun demikian realisasi
calon petani dan calon lokasi (rencana tanam) adalah 79.675 ha
dan realisasi tanam dan panen seluas 67.929 ha (486.313 ton) atau
terjadi peningkatan produktivitas rata-rata 19% dibanding sebelum
mengikuti GP3K. Realisasi panen lebih rendah dari rencana tanam
karena sebagian petani (11.746 ha) menggeser jadwal tanamnya.
Program GP3K pada tahun 2012 bukan hanya intensifikasi tetapi
juga mencakup Program Beras BUMN dan Food Estate sesuai
dengan Surat Kementerian BUMN No.S-135/MBU/2012 tentang
Penugasan Pelaksanaan Program-program Pangan BUMN. PT PIHC
mendapatkan Penugasan Program GP3K seluas 100.000 ha,
Program Beras BUMN 100.000 ha, dan Food Estate atau
ekstensifikasi 30.000 ha. Realisasi Program GP3K seluas 203.489
ha (203% dari penugasan) dengan luas panen 199.425 ha
(1.425.172 ton GKP). Terjadi gagal panen seluas 4.065 ha karena
kekeringan dan serangan hama. Realisasi Program Beras BUMN
hanya 343,75 ha (0,34% dari rencana) karena sulit menyewa lahan
petani dengan sewa lahan yang sangat mahal. Food Estate
dilaksanakan di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Timur, hanya
terealisasi 2.873 ha (9,6% dari rencana) karena sebagian besar
lahan sudah digunakan untuk perkebunan sawit dan kawasan
budidaya hutan.
Garis besar Program GP3K yaitu: (1) mendukung pencapaian
surplus pangan nasional, (2) mengoptimalkan perusahaan BUMN
pangan sesuai dengan peran dan fungsinya, dan (3)
memperkenalkan sistem korporasi bagi petani. Sedangkan tujuan
pelaksanaan program GP3K adalah mendorong produktivitas padi,
43

Sayaka et al.

jagung, dan kedelai pada tingkat frontier melalui penyediaan paket


teknologi, modal, saprodi sesuai dengan kalender tanam, dan
jaminan harga serta pembelian hasil.
Hasil kajian Biro Perencanaan (2012) menyebutkan pada tahun
2011, GP3K dilaksanakan oleh 4 BUMN sebagai operator meliputi 3
komoditas yakni padi, jagung, dan kedelai yang tersebar di 27
provinsi. BUMN yang menjadi operator GP3K adalah PT Sang Hyang
Seri (Persero), PT Pertani (Persero), PT Pusri (Persero), dan Perum
Perhutani (Persero) berserta anak perusahaannya, yaitu PT Pusri
Palembang, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Kaltim, dan PT Petrokimia
Gresik.
Beberapa permasalahan utama yang dihadapi oleh petani maupun
operator pelaksana di lapangan dalam melaksanakan GP3K adalah
sebagai berikut:
(1) Kekurangan modal usaha tani.
Akar permasalahan yang dihadapi di tingkat petani adalah
kurangnya modal kerja. Biaya usaha tani tidak selalu dapat ditutupi
petani karena pendapatan rumah tangga harus dibagi untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu,
penyediaan modal kerja secara penuh dan utuh yang dibutuhkan
untuk melakukan kegiatan usaha tani (saprodi dan upah tenaga
kerja) menjadi sasaran utama program bantuan kepada petani.
(2) Ketidakseragaman format bantuan.
Setiap operator memiliki bentuk dan isi perjanjian sendiri-sendiri
dengan
ragam
dan
besaran
bantuan
masing-masing.
Ketidakseragaman ini membuat perbedaan dalam aplikasi usaha
tani anjuran (yang seharusnya dilakukan). Sebagai contoh,
operator A memberikan paket penuh kebutuhan saprodi dengan
uang tunai untuk persiapan lahan/tenaga kerja senilai Rp5
juta/paket/MT, sementara operator B hanya menyediakan pupuk
dan pestisida senilai Rp1,5 juta/paket/MT. Kedua operator ini samasama menyelenggarakan program GP3K, namun dampaknya
terhadap produksi atau produktivitas menjadi sangat berbeda.
(3) Keterlambatan pembayaran.
Keterlambatan penyelesaian pembayaran terjadi di lapangan, baik
pinjaman petani, maupun pelunasan pembelian gabah petani oleh
operator. Beberapa petani tidak mampu membayar pinjaman

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

sesuai kesepakatan karena umumnya mengalami gagal panen.


Untuk kondisi seperti ini dapat dilakukan penjadwalan ulang
pembayaran pinjaman. Namun, dalam hal kelambatan pelunasan
pembayaran atas pembelian gabah petani (penangkar) oleh
operator, sangat sulit bagi petani untuk menerima keadaan ini.
Petani yang seharusnya dibantu, namun keadaan seperti ini telah
mendorong mereka kembali melirik pelepas uang untuk
memperoleh modal kerja pada musim tanam (MT) berikutnya.
Konsekuensinya adalah petani tidak bersedia lagi mengikuti
program GP3K pada MT berikutnya karena mengalami krisis
kepercayaan.
(4) Distribusi paket yang mengalami kelambatan.
Hal ini berakibat langsung pada RDKK yang telah disusun petani,
khususnya
waktu
(hari)
tanam.
Kelambatan
tersebut
mengakibatkan perubahan jadwal pergiliran air irigasi, ketersediaan
tenaga kerja (tanam), dan waktu penyulaman yang tidak sesuai.
(5) Minimum bantuan dalam penyuluhan.
Tidak semua operator dapat menyediakan bantuan penyuluhan,
sementara koordinasi dengan instansi terkait di masing-masing
daerah tidak selalu terjalin dengan baik. Hanya operator yang
agresif
yang
memperoleh
bantuan
penyuluhan
dari
instansi/penyuluh setempat, sementara operator yang lain lebih
mempercayakan keadaan pertanaman kepada petani/kelompok
tani yang bersangkutan. Khusus Program GP3K pada kawasan
hutan, sosialisasi dan penyuluhan yang lebih efektif kepada petani
dalam kelompok-kelompok kerja pada LMDH masih terkendala
dalam banyak aspek, seperti ketersediaan SDM dan paket teknologi
inovasi pada lahan hutan.
(6) Kesulitan untuk mendapatkan Calon Peserta dan Calon Lokasi
(CP/CL).
Dukungan Dinas Pertanian untuk mendapatkan CP/CL sangat
diperlukan operator pelaksana untuk memperlancar kegiatan
program GP3K. Koordinasi antara operator dengan dinas setempat
menunjang sinkronisasi kegiatan pembangunan pertanian daerah
dengan program GP3K.

45

Sayaka et al.

(7) Kendala kerjasama kelembagaan.


Pelaksanaan GP3K masih terkendala dalam banyak hal, antara lain
belum siapnya berbagai jajaran pelaku program ini di tingkat
provinsi, kabupaten dan di tingkat pelaksana di lapangan.
Kelembagaan operator pelaksana belum tertata dengan baik untuk
mampu melaksanakan rangkaian kegiatan GP3K, terutama untuk
penyusunan rencana, pelaksanaan di lapangan maupun
pengawasan. Demikian juga petani, masih belum memahami
dengan baik pola kemitraan GP3K, bahkan banyak di antara petani
yang masih mengharapkan bantuan dengan pola bansos yang
bersifat hibah. Promosi/sosialisasi untuk lebih memahami Program
GP3K dan tujuan utamanya masih sangat dibutuhkan.
Keberpihakan kepada petani menjadi dasar dari seluruh kebijakan
dalam berbagai bentuk program dan kegiatan peningkatan produksi
komoditas pangan. Selain upaya-upaya perluasan areal tanam,
perbaikan
infrastruktur
irigasi,
distribusi
benih
unggul,
pembangunan jalan usaha tani, dan penyediaan alat mesin
pertanian (alsintan) tepat guna serta pendampingan/penyuluhan
dalam berusaha tani, akses terhadap modal kerja dinilai sebagai
faktor yang sangat penting. Untuk semua usaha tani pangan,
ketersediaan modal kerja adalah prioritas. Dalam kerangka menuju
pencapaian surplus beras, beberapa terobosan program perlu
disiapkan sebagai masukan untuk pengambilan keputusan.
Dari deskripsi di atas, Kementerian Pertanian perlu melaksanakan
alternatif kebijakan berikut yang akan ditindaklanjuti dengan
langkah-langkah operasional:
(1) Program sejenis GP3K diperluas hingga mencakup sebagian
besar lahan sawah beririgasi berbasis poktan atau gabungan
kelompok tani (gapoktan). Paket usaha tani lengkap disediakan
untuk menghasilkan produksi secara optimal.
(2) Dana pendukung diharapkan dapat disediakan melalui APBN
pembangunan pertanian. Dana tersebut diajukan sebagai
pilihan lain atas dana bantuan kepada petani yang bersifat
sosial. Dana yang dipinjamkan kepada petani dinilai lebih
produktif dan efektif serta mendidik.
(3) Produksi padi dapat berupa produksi benih dan produksi
konsumsi. Peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai lebih
diarahkan untuk memenuhi kebutuhan nasional untuk

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

mengurangi ketargantungan terhadap impor dan sekaligus


menghemat devisa negara.
(4) Keberhasilan program, antara lain didukung oleh komunikasi
dan koordinasi antara operator/pelaksana di lapangan dengan
petani/poktan/gapoktan. Dengan demikian, petugas pelaksana
di lapangan perlu memahami kebutuhan petani yang
diselaraskan dengan tujuan pemberian bantuan.
(5) Ketersediaan sumberdaya manusia, khususnya tenaga
pendamping atau penyuluh pertanian lapangan sangat erat
kaitannya dengan tingkat keberhasilan yang ingin dicapai,
namun dengan catatan bahwa tenaga pendamping atau
penyuluh tersebut mampu bekerjasama dengan petani (dan
bekerja dengan hati), tidak semata-mata mengejar karier
yang didorong oleh faktor finansial.
(6) Khusus untuk tenaga pendampingan atau penyuluh, pemerintah
(pusat dan daerah) tidak perlu dihadapkan pada ketersediaan
tenaganya
sendiri
dan
ketersediaan
keuangan
yang
mendukungnya. Para petani progresif yang umumnya ada
diantara petani (poktan/gapoktan) dapat direkrut sebagai
tenaga pendamping atau penyuluh yang difasilitasi pemerintah
dengan biaya yang lebih ringan dibandingkan dengan
perekrutan tenaga kerja baru. Para petani progresif ini perlu
mendapatkan pelatihan, penguatan pengetahuan dan dibekali
dengan keterampilan manajemen administrasi. Di satu sisi,
penyerapan tenaga kerja di daerah menjadi terhambat, tetapi
keberhasilan usaha tani pangan lebih dimungkinkan karena
tenaga-tenaga pendamping atau penyuluh berasal dari
kalangan petani sendiri.
(7) Keberpihakan kepada petani harus ditunjukkan oleh
membaiknya pendapatan rumah tangga petani, dalam hal ini,
petani komoditas pangan. Makna keberpihakan dapat
ditunjukkan oleh meningkatnya harga yang diterima petani dari
penjualan produksi. Harga pokok penjualan (HPP) untuk gabah
yang saat ini sekitar Rp2800 hingga Rp3300 per kilogram
dipandang tidak memadai lagi. Jika pemerintah benar-benar
ingin meningkatkan pendapatan petani, memperbaiki taraf
hidup, dan mengangkat petani dari perangkap kemiskinan,
maka harga yang layak diusulkan antara Rp5000 hingga Rp6000
per kilogram GKP, menurut kualitasnya, layak dipertimbangkan.
Jika kenaikan harga ini memicu inflasi, maka hal tersebut adalah
47

Sayaka et al.

salah satu konsekuensi logis dari kebijakan dan risiko yang


ditanggung negara demi masa depan masyarakat tani dan
keluarganya,
(8) Keberhasilan GP3K diperkirakan akan semakin besar jika
didukung oleh fasilitasi yang lebih konkrit dari Kementerian
Pertanian, seperti rekomendasi pola usaha tani spesifik lokasi,
program penyuluhan dan pendampingan terjadwal, dan
perbaikan infrastruktur usaha tani.
(9) GP3K mencanangkan penanaman kedelai seluas 125 ribu ha.
Seluas 51,5 ribu ha diantaranya berada di kawasan hutan yang
memungkinkannya menjadi andalan utama peningkatan
produksi, namun perlu mendapat dukungan dari jajaran instansi
lingkup pertanian pusat dan daerah. Jika tersedia, informasi
tentang teknologi, perlakuan usaha tani untuk varietas unggul
tertentu, penanganan pascapanen, dan informasi harga perlu
disiapkan/disediakan dalam program ini.
Kementerian Pertanian melaksanakan program Sekolah Lapangan
Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi untuk peningkatan
produksi padi nasional. Program ini dilaksanakan dengan prinsip
integrasi, interaksi, dan partisipatif. Komponen dasar SL-PTT padi
meliputi penggunaan varietas baru, benih bermutu, pemupukan
secara efisien, dan pengendalian hama secara terpadu
(Departemen Pertanian 2008).
Di samping padi sawah, SL-PTT padi juga meliputi meliputi padi
tadah hujan, padi gogo, padi rawa lebak, dan padi pasang surut.
Pada tahun 2013 sasaran bantuan saprodi SL-PTT mencakup
4.625.000 ha meliputi kawasan pertumbuhan 297.900 ha, kawasan
pengembangan 589.700 ha, dan kawasan pemantapan 3.737.400
ha. Jenis padi yang dibudidayakan meliputi padi inbrida sawah, padi
inbrida pasang surut, padi inbrida rawa lebak, padi inbrida lahan
kering, dan padi hibrida (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
2013).
Tahun 2012 Kementerian Pertanian memperkenalkan System of
Rice Intensification (SRI), yaitu budidaya tanaman padi secara
intensif dan efisien dengan manajemen sistem perakaran berbasis
pengelolaan tanah, tanaman, dan air. SRI pada tahun 2012
dilaksanakan di 20 provinsi (109 kabupaten/kota) seluas 60.300 ha.
Petani yang mengikuti program ini disyaratkan mengelola lahan

Produksi Beras dan Ketahanan Pangan Nasional

sawah beririgasi tetapi bukan daerah genangan dan memiliki


drainase yang baik serta dekat dengan sumber bahan organik
(Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan 2012).

Penutup
Ketahanan pangan nasional tetap membutuhkan beras dalam
memenuhi kecukupan pangan, namun demikian tekanan terhadap
peningkatan produksi sangat mendapat tantangan terhadap arus
yang menguat pada konversi lahan pertanian, kerusakan jaringan
irigasi, perubahan iklim, dan serangan hama penyakit. Oleh karena
itu, kebijakan diversifikasi pangan tetap menjadi prioritas dalam
pengendalian konsumsi beras, walaupun kondisi saat ini terjadi
indikasi penurunan konsumsi beras per kapita dari 139
kg/kapita/tahun menjadi 113 kg/kapita/tahun. Di sisi lain,
kebijakan terhadap penggunaan faktor produksi yang lebih efisien
sangat penting pada masa yang akan datang mengingat kompetisi
penggunaan lahan dan air serta tenaga kerja semakin meningkat.
Oleh karena itu, akselerasi pengunaan teknologi yang tercermin
dalam buku kalender tanam terpadu ini di tingkat petani tetap
menjadi program utama agar ketersediaan komoditas seiring
arahnya dengan pertumbuhan penduduk Indonesia.

Daftar Pustaka
Antara. 2013. Kementan: Pertanian Berkelanjutan untuk Hentikan
Konversi Lahan. Jakarta. Senin, 19 Agustus 2013.
Ashari. 2003. Fenomena Konversi Lahan Sawah di Pulau Jawa.
Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia
25(2):3-4. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi
Pertanian. Bogor.
Biro Perencanaan. 2012. Evaluasi
Pelaksanaan
Gerakan
Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K). Biro
Perencanaan, Kementerian Pertanian. Jakarta.
BPS. 2014. Luas Panen-Produktivitas-Produksi Tanaman Padi
Provinsi di Indonesia. www.bps.go.id.
Departemen Pertanian. 2008. Sekolah Lapang Pengelolaan
Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi. Departemen Pertanian.
Jakarta.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2013. Pedoman Teknis
Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi
dan Jagung Tahun 2013. Kementerian Pertanian. Jakarta.
49

Sayaka et al.

Direktorat Perluasan dan Peneglolaan Lahan. 2012. Konsep


Pedoman Teknis Pengembangan Sistem of Rice Intensification
TA 2012. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian,
Kementerian Pertanian. Jakarta.
FAO. 2014. The Agricultural Production. Food and Agriculture
Organization of the United Nations. www.faostat.org
Irawan, B. 2005. Konversi Lahan Sawah Menimbulkan Dampak
Negatif bagi Ketahanan Pangan dan Lingkungan. Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian 27(6):2005. Pusat
Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.
IRRI
News.
2012.
Indonesia:
No
Rice,
No
Way.
http://www.irrinews.org/report/94884/indonesia-no-rice-noway. Diakses tanggal 17 February 2012.
Pasandaran, E. 2006. Alternatif Kebijakan Pengendalian Konversi
Lahan Sawah Beririgasi di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian
25(4):123-129.
PT Pupuk Indonesia Holding Company. 2013. GP3K (Gerakan
Peningkatan
Produksi
Pangan
Berbasis
Korporasi).
http://pupuk-indonesia.com/id/pemasaran/info-program/gp3k.
Rahmadi, A. 2012. Indonesia at the crossroads: addressing food
security. Jakarta Post, 12 Agustus 2013.
Sayaka, B., K. Suradisastra, B. Irawan, S.M. Pasaribu. 2011.
Pemanfaatan Lahan Pertanian di Berbagai Daerah. Dalam S.M.
Pasaribu, H.P. Saliem, H. Sopearno, E. Pasandaran, F. Kasryno
(Penyunting). Konversi dan Fragmentasi Lahan Ancaman
terhadap Kemandirian Pangan. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, kementerian Pertanian. Jakarta.
Sekretariat Kabinet RI. 2011. Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2011
tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional Dalam
Menghadapi Iklim Ekstrem. Jakarta.
Sumaryanto, M.H. Sawit, B. Irawan, A. Setiyanto, J. Situmorang,
M. Suryadi. 2012. Impacts of Climate Change on Seasonal Food
Insecurity. Agro-Socio economic Newsletter 06(2):2-4.
Tempo. 2013. Kerusakan Irigasi Turunkan Produksi Beras.
www.tempo.com, Minggu, 24 November 2013. Pkl. 17:22 WIB.
Jakarta.