Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

GHASAN BUHIPPUN

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II
1.
2.
3.
4.
5.
6.

EMILYA
ERNITA SARI
NOVITA SUSMAYANTI
SRI ELY YULIANTI
METY PUTRI ANA
NESA SAPUTRI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


MUHAMMADIYAH PRINGSEWU (STKIP-MPL)
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-nya
makalah yang berjudul Ghasan Buhippun ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.
Keberhasilan kami dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak. Untuk itu kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk
itu kami mengharapkan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini,
sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Pringsewu, Oktober 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.......................................................................................i
2

LEMBAR PENGESAHAN................................................................................ii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Ghasan Buhippun....................................................................................2
B. Buhippun (peppung = pepadun)..............................................................2
C. Buhippun Dalam Istilah Masyarakat Adat Lampung..............................4
BAB III PENUTUP.............................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Untuk mempermudah penyaluran partisipasi masyarakat dalam pembangunan,
maka perlu adanya pemberdayaan terhadap nilai-nilai tradisional yang secara
internal terpelihara (institusi-institusi lokal) dengan segenap atribut budayanya.
Upaya ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan teknis pendekatan sosial
budaya, dengan cara beradaptasi dan mengikutsertakan para tokoh adat ke dalam
gerak langkah kebijaksanaan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan
daerah. Dengan demikian sosialisasi program pembangunan dapat dilaksanakan
secara berkesinambungan, nyata, serta mudah dipahami masyarakat, dan tidak
berseberangan dengan adat istiadat yang berlaku.
Segala kegiatan yang bersangkutan dengan adat budaya tidak boleh ditangani atas
kemauan sendiri, melainkan melalui institusi adat dalam proses musyawarah
untuk memperoleh keputusan bersama. Hal ini memungkinkan untuk dapat
memperkuat apresiasi adat budaya masyarakat di daerah, baik sebagai aset
kekayaan kultural yang strategis dalam aspek pembangunan, khususnya di bidang
perekonomian daerah di Propinsi Lampung. Mengingat tersedianya potensi
budaya masyarakat adat setempat dan eksistensi hukum adat yang masih
tersimpan dalam kehidupan masyarakat, maka perlu adanya penggalian dan
revitalisasi budaya secara seksama. Hal ini diharapkan dapat memberikan solusi
strategis dalam upaya memotivasi masyarakat, agar dapat berpartisipasi aktif
dalam mendukung pembangunan daerah yang berwawasan budaya tersebut.
Musyawarah dalam masyarakat Lampung dikenal dengan nama ghasan buhippun
yang biasanya digelar ketika ada anggota keluarga akan menikah atau telah
menikah. Dan ghasan buhimpun juga digelar ketika menetapkan gelar gelar adat
(inai-adok, amai adek) warga yang akan diresmikan waktu nayuh "kawinan" atau
nayuh, bugawi, karena tuha jaghu buay dinobatkan cakak suntan, cakak pepadun.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Ghasan Buhippun
Sistem ghasan buhimpun (bermusyawarah), bagi hal-ihwal yang penting akan
nayuh, bugawi, sehubungan ada anggota keluarga akan menikah atau telah
menikah, ngeluagh, ngakughuk, ngejuk-ngakuk akan diresmi dirayakan, atau
akan ditayuh digawikan (geghok). Dan ghasan buhimpun juga digelar ketika
menetapkan gelar gelar adat (inai-adok, amai adek) warga yang akan
diresmikan waktu nayuh "kawinan" atau nayuh, bugawi, karena tuha jaghu
buay dinobatkan cakak suntan, cakak pepadun.
B. Buhippun (peppung = pepadun)
Selain dari itu ada kebiasaan berkumpul, berkomunikasi atau berdialog
bersama antar beberapa warga/tetangga/teman, baik secara kebetulan atau
dilakukan

sengaja

untuk

membicarakan

suatu

rencana,

peristiwa

konflik/perselisihan, tukar pendapat/informasi atau sekedar ngerumpi.


Dalam budaya masyarakat jawa kegiatan hippun disebut rembug atau secara
umum disebut musyawarah. Istilah desa dalam bahasa Lampung disebut
pekon, tiyuh, kampung atau anek. Buhippun Pekon, Peppung Tiyuh atau
Rembug desa artinya kegiatan musyawarah. Jika Buhippun itu berkaitan
dengan urusan adat budaya, maka pelaksanaannya dipimpin oleh para
penyimbang adat; tapi sebaliknya jika buhippun berkaitan dengan peristiwa
sosial kemasyarakatan dan urusan formal pemerintahan, maka buhippun
dipimpin oleh perangkat desa dan mengikutsertakan penyimbang adat
setempat. Buhippun dalam kehidupan masyarakat Lampung pada umumnya
merupakan kebiasaan sebagai bagian dari adat istiadat Lampung.
Dikatakan demikian karena setiap ada kegiatan perencanaan adat Beguwai/
begawi/ nayuh, selalu di awali dengan kegiatan Hippun. Tujuannya adalah agar
prosesi upacara beguwai tersebut dapat berjalan dengan efektif tanpa

menimbulkan masalah. Kegiatan Buhippun tidak terbatas pada kegiatan adat,


akan tetapi merupakan kebiasaan umum bahwa setiap kegiatan untuk
kepentingan bersama atau berkaitan dengan kepentingan umum selalu diawali
dengan kegiatan Buhippun. Membangun kearifan lokal, khususnya Buhippun
sebagai asset moral sosial budaya dalam rangka memelihara nilai-nilai luhur
adalah untuk menciptakan kerukunan, kebersamaan dan kesejahteraan
bersama; di samping untuk memperkecil kemungkinan terjadi perselisihan
antar warga, baik dalam suatu perencanaan ataupun dalam upaya penanganan
perselisihan atau perbedaan paham antar warga.
Oleh karena itu apabila Pemerintahan formal menghendaki terciptanya
kebersamaan, kerukunan, kedamaian, dan tidak terjadi kecemburuan sosial,
baik hubungan antara Publik dengan pemerintah, maupun secara horizontal
antar warga, maka merupakan keniscayaan untuk menghargai, menghormati
dengan melibatkan semua potensi nilai-nilai kearifan lokal ke dalam kegiatan
pembangunan daerah, yaitu dengan memberdayakan, menyentuh dan
memanfaatkan nilai-nilai moral kebiasaan buhippun masyarakat lokal. Strategi
ini dapat memberikan kebanggaan dan rasa memiliki masyarakat adat lokal,
sehingga dapat memotivasi mereka untuk turut serta membantu mengawal
proses pembangunan daerah. Sebagai contoh, di Lampung dalam menyebut
musyawarah desa sebagai icon pentingntya bermusyawarah untuk mufakat
dalam setiap perencanaan dan pemecahan masalah dengan istilah rembug desa;
padahal di daerah Lampung yang seharusnya menggunakan istilah-istilah lokal,
seperti Buhippun pekon, Peppung tiyuh atau istilah lainnya yang memang
diangkat dari nilai-nilai kearifan lokal.
Sebagai pembelajaran untuk menghargai nilai-nilai kearifan lokal tersebut,
berikut ini akan dipaparkan secara ringkas beberapa pengertian atau istilah
musyawarah

dalam

bahasa

Lampung,

diantaranya

adalah

Buhippun.

Buhippun/buhimpun secara bahasa terdiri dari bu = ber =melakukan; hippun


diartikan sebagai kegiatan kumpul, mengumpulkan, menghimpun (pendapat),

atau menjaring aspirasi warga. Buhippun adat artinya kegiatan musyawarah


yang dilakukan penyimbang adat berkaitan dengan peristiwa, perihal atau
urusan adat istiadat dan budaya setempat. Misalnya buhippun mengenai
rencana acara buakhak atau prosesi ngarak (arak-arakan) pengantin di jalan
papekonan (desa) tentang formasi, pihak-pihak tuha khaja yang terlibat, dan
alat-alat yang digunakan.
Dengan demikian buhippun artinya melakukan kegiatan musyawarah untuk
mencapai kesamaan pendapat atau kata sepakat (supaya mencapai kesepakatan,
kesepahaman) thdp rencana, kegiatan, peristiwa, atau cara pemecahan masalah
tertentu.
Buhippun merupakan anonim dari suatu upaya untuk mencapai atau mencari
kesepakatan; maksudnya usaha menghimpun pendapat khalayak agar suatu
rencana dan keputusan yang diambil bersama lebih aspiratif dan mewakili
semua lapisan sosial.
Secara ringkas, buhippun dapat diartikan sebagai kegiatan musyawarah untuk
mencapai mupakat. Istilah ini umumnya digunakan masyaraka
C. Buhippun Dalam Istilah Masyarakat Adat Lampung
Dalam kepemimpinan struktur Pemerintahan Adat dan kehidupan pergaulan
masyarakat adat Lampung, terdapat istilah atau sebutan terhadap pimpinan
adat, diantaranya adalah:
1. Perwatin/Proatin/purwatin
Perwatin adalah para Penyimbang adat/dewan adat/tokoh adat/tuha
khaja/pimpinan adat (subyek). Sebagai perwatin adat memiliki hak dan
kewajiban memimpin segala aktivitas Pemerintaan Adat atau urusan yang
berhubungan langsung dengan hippun/peppung (musyawarah) adat.
Sebagai penyimbang adat berkewajiban untuk membina dan menjaga
stabilitas pemerintahan adat kerukunan warga adat yang dipimpinnya.

Demikian juga halnya jika ada peristiwa yang berkaitan dengan masalah
pelanggaran norma susila, moral (cempala), pidana adat, atau sengketa atas
hak-hak warga, maka para penyimbang berkewajiban menyelesaikannya
secara bijaksana dan berkeadilan sosial.
2. Mekhatin (merwatin)
Merkhatin artinya para penyimbang adat berkaitan dengan kegiatan
musyawarah adat. Para penyimbang adat ini adalah penyimbang
marga/buway, tiyuh dan penyimbang suku.
Mekhatin adat adalah musyawarah mengenai urusan yang berkenaan
dengan urusan adat yang dilakukan oleh para penyimbang adat dan
dipimpin oleh penyimbang adat tertinggi (penymbang marga/Bandar) atau
penyimbang yang ditunjuk mewakili.
Menurut sebagian penyimbang adat, perwatin diartikan sebagai pelaksana
musyawarah adat; sedangkan Merwatin diartikan sebagai warga nonpenyimbang sbg pelaku musyawarah). Pendapat ini juga dapat diterima
kebenarannya sesuai dengan pemahaman maknanya bagi kepenyimbangan
adat dan para kelompok masyarakat setempat (lokal).
Merwatin juga dapat diartikan sebagai tokoh/pemimpin/jakhu/pimpinan
warga di luar struktur adat yang melakukan (me=kata kerja, predikat)
kegiatan musyawarah. Pada dasarnya istilah merwatin menunjukkan pada
kegiatan peppung/buhippun (musyawarah), baik dari para penyimbang
adat, maupun dari tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Sedangkan mekhatin warga di luar struktur adat dalam kehidupan sosial
sehari-hari

sering

diartikan

sebagai

kegiatan

peppung/buhippun

(musyawarah), baik mengenai urusan adat atas sepengatahuan penyimbang


adat, maupun urusan kepentingan umum warga.
Sementara itu ada juga kegiatan mekhatin yang diartikan kumpul
berkomunikasi atau berdialog bersama antar beberapa warga/ tetangga/
5

teman, baik secara kebetulan atau dilakukan sengaja untuk membicarakan


suatu rencana, peristiwa, tukar pendapat/informasi atau sekedar ngerumpi.
Dalam budaya masyarakat jawa kegiatan musyawarah secara umum,
bahkan secara nasional disebut rembug. Rembug desa artinya kegiatan
musyawarah yang dilakukan oleh perangkat desa setempat. Desa dalam
bahasa Lampung disebut pekon, tiyuh, kampung atau anek. Dengan kata
lain rembug adalah istilah musyawarah menurut bahasa Jawa.
Kecuali itu ada beberapa pengertian atau istilah musyawarah dalam bahasa
Lampung, diantaranya adalah sbb:
a. Buhippun
Buhippun/buhimpun secara bahasa terdiri dari bu = ber =melakukan;
hippun diartikan sebagai kegiatan kumpul, mengumpulkan, menghimpun
(pendapat), atau menjaring aspirasi warga.
Buhippun adat artinya kegiatan musyawarah yang dilakukan penyimbang
adat berkaitan dengan peristiwa, perihal atau urusan adat istiadat dan
budaya setempat. Misalnya buhippun mengenai rencana acara buakhak atau
prosesi ngarak (arak-arakan) pengantin di jalan papekonan (desa) tentang
formasi, pihak-pihak tuha khaja yang terlibat, dan alat-alat yang digunakan.
Dengan demikian buhippun artinya melakukan kegiatan musyawarah untuk
mencapai kesamaan pendapat atau kata sepakat (supaya mencapai
kesepakatan, kesepahaman) thdp rencana, kegiatan, peristiwa, atau cara
pemecahan masalah tertentu.
Buhippun merupakan anonim dari suatu upaya untuk mencapai atau
mencari kesepakatan; maksudnya usaha menghimpun pendapat khalayak
agar suatu rencana dan keputusan yang diambil bersama lebih aspiratif dan
mewakili semua lapisan sosial.

Secara ringkas, buhippun dapat diartikan sebagai kegiatan musyawarah


untuk mencapai mupakat. Istilah ini umumnya digunakan masyarakat adat
Saibatin lima marga Kalianda dan sekitar utk menyebut kegiatan
musyawarah.
b. Kuppulan/Kakuppulan
Kuppulan atau kakuppulan artinya musyawarah atau rapat. Kuppulan adat
adalah rapat adat yang dilakukan oleh para penyimbang, tuha khaja, atau
tokoh-tokoh adat. Kuppulan pekon artinya musyawarah kampung/desa
(Istilah ini umumnya digunakan masyarakat adat Lampung barat).
Setiap masyarakat adat akan melakukan kegiatan sosial/kemasyarakatan,
perencanaan pembangunan atau acara/resepsi Nayuh (prosesi resepsi
perkawinan adat), acara nyambai, atau canggot (acara muli-mekhanai =
bujang-gadis), biasanya didahului dengan acara rapat atau musyawarah
penyimbang adat yang lazim disebut kuppulan adat. Tujuan kuppulan ini
agar acara tari dan berbalas pantun muli-mekhanai berjalan dengan lancar
dan menyenangkan pihak baya (pihak yang nayuh).
c. Bupahum/Bekhunding
Bupahum atau bekhunding artinya musyawarah atau berunding; bupahum
adat artinya kegiatan musyawarah yang berkaitan dengan urusan adat
istiadat.
Apabila para perwatin/penyimbang adat atau

omunitas/ kelompok/

masyarakat tertentu yang ingin mengambil suatu kesamaan pendapat/


pemahaman sikap-perilaku, ketetapan atau keputusan bersama tentang
sesuatu, maka biasanya diawali dengan cara melakukan kegiatan bupahum
atau musyawarah berdasarkan kehendak bersama atau dengan landasan
hukum adat yang berlaku (istilah bupahum umumnya digunakan oleh
masyarakat adat marga lima Kalianda).
d. Khakot
7

Khakot artinya rapat atau musyawarah. Khakot adalah rapat yg digelar oleh
para Penyimbang/Perwatin adat yang secara khusus bisa dihadiri oleh para
Penyimbang saja, atau bersama-sama dengan masyarakat adat nonPenyimbang, atau oleh kelompok masyarakat adat setempat saja.
Khakot digelar, biasanya untuk keperluan menentukan langkah/tindakan
atau penetapan tupoksi kegiatan lembaga-lembaga adat, organisasi,
kepanitiaan, atau bisa juga digelar untuk mencari pemecahan masalah
(solusi, rekomendasi) perbedaan pandang, sengketa/konflik angtar warga
kampung. istilah ini umumnya digunakan oleh masyarakat Lampung
Saibatin Way Lima, Kedudung, Punduh, Pedada, dan sekitarnya).
e. Bubalah/Bubabah
Bubalah artinya berdialog atau dengar pendapat antar Penyimbang adat
atau warga masyarakat/publik untuk mengambil suatu kebijakan atas
perbedaan prinsip/pandangan atau karena adanya tindakan individu/
kelompok yang dianggap tidak sesuai dengan hukum adat yang berlaku.
Dalam berdialog, yang penting adalah mengedepankan toleransi, saling
menghargai dan saling mengormati untuk memperoleh kesepakatan semua
pihak berkaitan dengan strategi penyelesaian masalah atau keputusan
bersama untuk kepentingan bersama.
f. Peppung
Peppung artinya kegiatan musyawarah. Istilah peppung umumnya
digunakan masyarakat adat Pepadun Abung siwo mego, Megow Pak
Tulang Bawang, dan sebagian Pubian dalam menyebut kegiatan
musyawarah.
Peppung adat artinya kegiatan berkumpul bersama antara penyimbang adat
untuk mencapai kesepakatan tentang kepentingan yang berkaitan dengan
penyelesaian masalah adat, revitalisasi hukum-hukum adat atau untuk

mengembangkan

rasionalisasi

adat

istiadat

demi

kerukunan

dan

kesejahteraan masyarakat adat setempat.


Relatif sama dengan pengertian istilah buhippun, Peppung berarti
melakukan

kegiatan

musyawarah

untuk

mencapai

kesepakatan,

kesepahaman atau kesamaan pendapat terhadap rencana, kegiatan, atau


langkah-langkah tertentu untuk kepentingan bersama.
Peppung pada dasarnya menunjuk pada suatu usaha menghimpun aspirasi
publik sebagai bahan pertimbangan dalam mencari keputusan bersama
tentang solusi atas suatu perkara atau strategi progres tentang rencana
tertentu. Secara umum, peppung dipahami sebagai aktivitas musyawarah
untuk mencapai kesamaan pendapat.

BAB III
PENUTUP
Sebagai warga negara yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal, tentu merasa
bangga dan rnencintai bangsa dan negara. Kebanggaan dan kecintaan terhadap
bangsa dan negara bukan berarti merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada
bangsa dan negara lain. Warga negara yang arif tidak boleh memiliki semangat
nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) dan meninggalkan nilai-nilai
budaya lokal, tetapi harus mengembangkan sikap saling menghormati, saling
menghargai, mengutamakan kerukunan hidup bersama, berjuang bersama untuk
9

membangun kesejehtaraan bersama secara jujur, dan mampu bekerja sama


dengan bangsa-bangsa lain.

10