Anda di halaman 1dari 5

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK PADA REMAJA USIA 15-19 TAHUN

DENGAN GANGGUAN POLA TIDUR (INSOMNIA) STUDI KASUS WILAYAH


PUSKESMAS PRINGSEWU TAHUN 2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah

Trend kesehatan modern memperhatikan tidur sebagai salah satu pilar penopang kesehatan selain
olah raga dan keseimbangan nutrisi. Di pagi hari kita merasakan manfaat dari tidur yang
menyegarkan dan memberi energi baru untuk menghadapi hari yang akan kita jelang. Ini
disebabkan oleh kortisol yang dihasilkan pada saat tidur. Kortisol dihasilkan menjelang pagi saat
proses tidur mendekati akhir. Dalam tidur terjadi juga pembaruan dan perbaikan sel-sel yang
rusak yang dipicu oleh Growth Hormone yang dihasilkan tubuh pada tahap tidur malam
(Prasadja,2009).

Kurang tidur atau proses tidur yang terganggu jelas merugikan kesehatan dan performa kita di
siang hari. Mulai dari kurangnya motivasi, penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat,
hingga buruknya suasana hati. Kondisi kurang tidur juga menurunkan daya tahan tubuh
seseorang. Efek kurang tidur yang paling nyata terlihat adalah pada kulit yang tampak kusam dan
tak segar (Prasadja,2009).

Ada lebih dari 40 kondisi medis yang telah ditentukan sebagai penyebab insomnia. Kira-kira
separuh dari jumlah ini adalah kondisi psikologis seperti kekhawatiran, stress, atau depresi.
Sisanya adalah gangguan tidur yang disebabkan kondisi khusus seperti alergi, radang sendi,
kecanduan alkohol, merokok, diet dan obesitas. Individu yang mengalami stress atau depresi
sangat berpeluang menderita insomnia (Listiani, 2007).

Merokok adalah salah satu penyeban insomnia. Dalam bidang kesehatan tidur, nikotin dalam
rokok digolongkan dalam kelompok zat stimulan. Stimulan merupakan zat yang memberikan
efek menyegarkan seperti halnya kafein dan coklat. Namun demikian, ada juga sebagian efek
dari nikotin yang menenangkan sehingga perokok dapat merasa tenang dan santai saat
menghirup asapnya (Prasadja,2009).

Namun efek stimulan dari nikotin ternyata lebih kuat, ini dibuktikan dengan penelitian Punjabi
dan kawan-kawan di tahun 2006 yang meneliti efek nikotin pada pola tidur seseorang. Perokok
ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dibanding orang yang tidak merokok.
Mereka jadi sulit tidur (Prasadja,2009).

Pada penelitian selanjutnya yang dipublikasikan pada Februari 2008, Punjabi dan kawan-kawan
lebih menyoroti efek kecanduan rokok pada pola tidur. Secara teoritis, nikotin akan hilang dari
otak dalam waktu 30 menit. Tetapi reseptor di otak seorang pecandu seolah menagih nikotin
lagi, sehingga mengganggu proses tidur (Prasadja,2009).
Pada pecandu akut yang baru mulai kecanduan rokok, selain lebih sulit tidur, mereka juga dapat
terbangun oleh keinginan kuat untuk merokok setelah tidur kira-kira 2 jam. Setelah merokok

mereka akan sulit untuk tidur kembali karena efek stimulan dari nikotin. Saat tidur, proses ini
akan berulang dan ia terbangun lagi untuk merokok (Prasadja,2009).

Sedangkan pada tahap lanjut, perokok mengalami gangguan kualitas tidur yang dipicu oleh efek
menagih dari kecanduan nikotin. Dari perekaman gelombang otak di laboratorium tidur,
didapatkan bahwa perokok lebih banyak tidur ringan dibandingkan tidur dalam; terutama pada
jam-jam awal tidur. Akibatnya, dari penelitian tersebut didapatkan, jumlah orang yang
melaporkan rasa tak segar atau masih mengantuk saat bangun tidur pada perokok adalah 4 kali
lipat dibandingkan orang yang tidak merokok (Prasadja,2009).

Menurut Departemen Kesehatan melalui pusat promosi kesehatan menyatakan Indonesia


merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi
rokok tertinggi. Berdasarkan data dari WHO tahun 2008 Indonesia menduduki urutan ke 3
terbanyak dalam konsumsi rokok di dunia dan setiap tahunnya mengkonsumsi 225 miliar batang
rokok (Nusantaraku,2009).

Disusul kelompok usia 20-24 tahun, sekitar 24,7 persen. Ironisnya perokok di usia anak-anak
kelompok umur 10-14 tahun sebesar 11,9 persen, lebih banyak dibanding kelompok usia 25-29
tahun yang hanya 7,1 persen atau 5,8 persen untuk kelompok usia di atas 30 tahun (Profil
Kesehatan Indonesia,2008).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Puskesmas Pringsewu Kabupaten Pringsewu
pada bulan April di beberapa sekolah di wilayah kerjanya, didapatkan hasil bahwa presentasi

terbesar perokok remaja terdapat di .Dari 41 siswa yang dijadikan sampel penelitian didapatkan
hasil,33 orang adalah perokok dan hanya 8 orang saja yang tidak merokok. Dengan kata lain,
80,49% siswa adalah perokok (Data Puskesmas , ).

Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan kebiasaan
merokok pada remaja usia 15-19 tahun dengan gangguan pola tidur (insomnia) di Kabupaten
Pringsewu. Dalam penelitian ini faktor yang mempengaruhi gangguan pola tidur (insomnia) yang
akan diteliti adalah kebiasaan merokok berdasarkan jumlah rata-rata rokok yang dihisap per hari
yang meliputi perokok berat, perokok sedang dan perokok ringan.

1.2.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka yang menjadi masalah penelitian
adalah: Tingginya angka perokok aktif pada siswa di Kabupaten .Tingginya angka perokok aktif
ini dapat meningkatkan resiko gangguan pola tidur (insomnia) pada siswa di sekolah tersebut.
Gangguan pola tidur (insomnia) ini dapat menyebabkan kurangnya motivasi, penurunan
kemampuan konsentrasi dan daya ingat, hingga buruknya suasana hati. Penelitian ini akan
mengkaji hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun berdasarkan jumlah
rata-rata rokok yang dihisap per hari dengan gangguan pola tidur (insomnia) di Kabupaten .

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok pada remaja usia 15-19 tahun dengan
gangguan pola tidur (insomnia) di Kabupaten Pringsewu.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok pada

remaja usia 15-19 tahun di

Kabupaten Pringsewu.
2. Untuk mengetahui gambaran gangguan pola tidur (insomnia) pada remaja usia 15-19
tahun di Kabupaten Pringsewu.
3. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia)
pada remaja usia 15-19 tahun di Kabupaten Pringsewu.
4. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia)
pada remaja usia 15-19 tahun di Kabupaten Pringsewu setelah dikontrol oleh variabel
stress sebagai perancu.

1.4.
1.4.1

Manfaat Penelitian
Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi dan menambah wawasan
mengenai hubungan antara kebiasaan merokok dengan gangguan pola tidur (insomnia).

1.4.2

Bagi Sekolah dan Siswa

Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi sekolah dan siswa pada khususnya agar
meminimalkan konsumsi merokok untuk menghindari gangguan pola tidur (insomnia) dan
memaksimalkan fungsi tidur itu sendiri.