Anda di halaman 1dari 22

KAJIAN TEKNOLOGI BANGUNAN

RINGKASAN

TRANSPARANSI PADA KULIT BANGUNAN

Oleh :
Antoni Winata
315070096

Pengertian Transparansi pada Kulit Bangunan.


Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia ,maka Transparansi dapat kita
simpulkan, sebagai sifat dari suatu objek. Sedangkan Kulit

bangunan,

merupakan

Lapisan terluar yang membungkus bangunan.


Dengan mengetahui kedua arti kata sebelumnya, maka kita dapat melihat
hubungan dalam judul pembahasan ini. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa

judul

pembahasan ini akan merunjuk kepada Kulit Bangunan yang memiliki sifat Transparan,
yang mana transparan disini tidak hanya bersifat visual, tapi transparan yang tembus
secara ruang 3 dimensi.
Latar belakang &Tujuan Transparansi dalam Bangunan.
Ruang dan waktu merupakan sebuah wadah untuk dunia ini.

Manusia,

Bangunan, serta substansi-substansi lainnya tinggal di wadah tersebut. Wadah yang


sangat abstrak ini menciptakan ikatan-ikatan bagi substansi-substansi yang ada di
dunia, sebut saja ikatan antara manusia dengan Bangunan. Ikatan-ikatan inilah yang
menjadi awal terciptanya Hubungan transparansi antar kedua hal tersebut.
Dalam menjelaskan Transparansi itu sendiri, perlu kita mengerti ikatan atau
hubungan dasar yang ada diantara manusia dengan bangunan. Hubungan ini berupa
keinginan atau usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya akan tranpsaransi
ruang.
Berdasakan sifatnya ,Terdapat 2 jenis kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan fisik
a. Sistem Pencahayaan
Semua
manusia

membutuhkan

Pencahayaan yang optimal adalah,

Cahaya

yang

optimal.

pencahayaan yang cukup untuk

suatu jenis kegiatan.


b. Pengudaraan
Pengudaraan yang baik adalah pola aliran udara yang dapat
membantu tercapainya kenyamanan thermal.
2. Kebutuhan jiwa.

Terdapat beberapa kebutuhan-kebutuhan yang mendukung tercapainya


kenyamanan atau kepuasan jiwa seseorang melalui sifat transparansi.
Kebutuhan-kebutuhan itu adalah, sebagai berikut;
a. Kebutuhan keindahan
Kebutuhan ini didapat dari pengalaman ruang (experience space),
dimana hal ini dirasakan melalui visual yang terlihat. Contohnya:
memperlihatkan keindahan ruang luar, dengan menampilkan visual yang
transparan, agar ruang luar menjadi lebih terlihat.
b. Kebutuhan keprivasian secara visual
Dalam ilmu psikologi, banyak cara untuk mencapai keprivasian,
cara yang berhubungan dengan transparansi adalah keprivasian yang
dicapai melalui kegiatan memantau dilingkungan sekitar oleh karenanya,
kulit bangunan

yang transparan dapat membantu proses pemantauan

lingkungan sekitar. Dengan mengetahui kondisi sekitar, maka keprivasian


akan dicapai.
Jenis Transparansi berdasarkan Bentuk.
Transparansi pada kulit bangunan terbagi atas material dan cara pembentukannya.
Berdasarkan bentuk yang terlihat, transparansi dapat dibagi menjadi 3 jenis. Yaitu;
1. Transparansi yang Terbuka (Kulit Bangunan yang Bolong) pada Kulit Bangunan.
Transparansi ini menggunakan pembatas ruang yang terbuka full, yang
mana transparansi ini tidak dibentuk oleh material pembatas pada bidangnya
(Daniel Santos Quartino, inside
out, halaman 288)

2.

Transparansi dengan Material Kaca pada


Kulit Bangunan.

Contoh gambar yang menunjuan sifat transparansi dengan material kaca polos.

(Imelda
Akmal (editor), Sony Sandjaya (fotografer), Indonesian Architecture Now 2, halaman
158-159)
3. Semi Transparansi pada Kulit Bangunan.
Pengertian dari Semi transparansi adalah sifat transparansi yang tak
penuh atau hanya sebagian.
Untuk memberi gambaran mengenai kulit bangunan yang semi transparan, maka
Terdapat contoh gambar restorant dengan pembatas ruang semi transparan.
(Gambar : diambil dari website archnet,
Potografer: Sony Sandjaya, Restorant Tetaring
Kayu manis, nusa dua, Bali).
http://archnet.org/library/images/one-image-large.jsp?
location_id=17562&image_id=198600

TRANSPARANSI YANG TERBUKA


PADA KULIT BANGUNAN
Tujuan Transparansi yang Terbuka.

Didalam pengaplikasiannya pada bangunan, terdapat berbagai tujuan


penggunaanya. Yaitu;
1. Memberikan hubungan ruang secara utuh.
Hubugan ruang yang utuh yaitu, Ruang yang terhubung secara keseluruhan baik
2.
3.
4.
5.
6.

melalui visual, udara, cahaya, suara, dan lain-lain.


Memberikan pencahayaan.
Memberikan sirkulasi udara.
Memberikan kenyamanan suhu.
Memberikan view yang maksimal.
Memberikan Keindahan secara experience space (pengalaman ruang).

Aplikasi Transparansi yang terbuka pada Kulit Bangunan.


1. Kondisi Alam.
Setiap jenis Transparansi memiliki dampak positif dan dampak negatif.
Penggunaan jenis transparansi di kondisi yang sesuai, akan mendapatkan dampak/
hasil yang lebih efektif, kondisi-kondisi nya sebagai berikut ;
a. Wilayah yang memilki iklim tropis dan iklim sub tropis.
b. Kecepatan angin dibawah 5 m/s (Tingkat nyaman terletak di 2 - 2,5 m/s).
c. Wilayah dengan curah hujan yang rendah, atau jika berada pada daerah
dengan curah hujan tinggi, element bangunan lain, seperti atap harus
memiliki jarak overstek yang cukup panjang.
2. Besaran Transparansi..
Ukuran bukaan jenis transparansi terbuka yang baik adalah mencapai 30
% - 45 % dari seluruh luas lantai. Batas 30 % - 45% merupakan besaran paling
besar diantara ke 2 jenis transparansi lainnya.
3. Letak Transparansi
dampak peletakan dengan transparansi ini akan mempengaruhi 2 hal, yaitu;
a. Pencahayaan
Mengenai pencahayaan, Arah transparansi jenis ini akan lebih efektif
dihadapkan ke utara atau selatan.
b. Arah Pandangan (view yang ingin dilihat).
Arah pandang dalam transparansi sangat membantu rancangan untuk
memberikan kesan-kesan (pengalaman ruang). Dalam ilmu perancangan ruang,
arah-arah ini diletakan sesuai Kebutuhan desain

(gambar diatas, Church on the water, Arsitek


Tadao

ando)

di

ambil

http://www.irish-

architecture.com/tesserae/000023/4_lge.html

Dampak Transparansi yang Terbuka (bolong) pada Kulit Bangunan.


1. Pencahayaan.
Dalam memanfaatkan pencahayaan alami, yaitu matahari. Transparansi
itu perlu dirancang dengan baik, agar arah dan bukaan transparansi ini tidak
menghadap cahaya matahari langsung ataupun kearah yang terhalang
cahayanya. Sehingga cahaya alami yang masuk sesuai dengan yang
dibutuhkan.
2. Keprivasian secara View.
Walaupun tidak dapat memberi keprivasian dengan pemakaian material,
tapi Transparan jenis ini masih dapat memberikan keprivasian secara view
melalui, peletakan arahnya pada wilayah yang tidak dilalui orang.
3. Tingkat Kejelasan penglihatan pada Transparansi.
Tingkat transparansi nya mencapai 100 %. Hal ini bisa dijelaskan karena
tidak adanya batasan fisik yang membatasi bidang transparan tersebut.
4. Dampak lain.
Selain mengenai sifat transparansi ini sendiri, hubungan ruang dengan transparan ini
memberikan dampak lain; yaitu
a. Menciptakan aliran kecepatan angin yang paling tinggi diantara jenis hubungan
transparansi lainnya.
b. Transparansi yang terbuka tidak Meningkatkan suhu udara.
c. Tidak dapat memproteksi ruang dari hewan-hewan yang tidak diinginkan.
Sehingga cara non arsitektural perlu digunakan. Salah satu caranya adalah
dengan menyemprot ruangan dengan obat nyamuk.
Contoh Bangunan yang Menggunakan Transparansi yang Terbuka (bolong) pada
Kulit Bangunan.
1. Bangunan rumah Ciganjur house oleh arsitek Adi Purnomo.

(Gambar diambil pada web site archnet, Fotografer: Sony Sandjaya)


http://www.archnet.org/library/images/one-image.jsp?location_id=17216&image_id=200351

TRANSPARANSI DENGAN MATERIAL KACA PADA KULIT


BANGUNAN.
Tujuan Transparansi dengan Material Kaca pada Kulit Bangunan
1. Mendapatkan pencahayaan
2. Mendapatkan view ruang sekitarnya
3. Memberikan batasan ruang yang terhubung dengan ruang sekitanya secara
view.
4. Memberikan

rasa

keamanan,

melalui

proses

pengawasan

(kaca

yang

dimodifikasi dan memiliki sifat transparan dari bagian dalam, dan bagian luarnya
tidak transparan)
5. Mempunyai pembatas ruang yang dapat disesuaikan dengan intensitas cahaya
yang diinginkan. (melalui kaca film%)
6. Kaca merupakan material yang mempunyai beragam jenis dan fungsi-fungsi
yang banyak, sehingga pengguna dapat lebih fleksibel memilih kaca dengan
fungsi yang diinginkan.

Material Kaca.
Kaca memiliki komponen utama yaitu silika. Selain itu, kaca merupakan bahan
lutsinar, yang memiliki sifat kuat, tahan hakis, lengai, dan secara biologi merupakan
bahan yang tidak aktif. Kaca merupakan material transparan yang dapat memberi
batasan ruang secara fisik tapi menghubungkan ruang secara visual.
Jenis Material Kaca.
a. Clear glass (Float glass)
b. Tinted float glass (Float glass).

c. Reflective Float Glass.


d.Low e glass (Kaca film)

Pada
kaca low-e glass. Kaca ini memiliki Emisivitas

yang rendah,

tingkat rendahnya adalah E < 0,25 (yang berarti hanya 25% dari energi radiasi luar
yang masuk/ terpancarkan) sementara itu, kaca bening (clear glass) mempunyai nilai E
sebesar 0,84.
e.Patterend glass (kaca berpola).

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kejelasan Transparansi dengan Material Kaca.


1. Tekstur kaca.

(a)

(b)

(c)

Tekstur masing-masing kaca menimbulkan alur cahaya yang masuk berbedabeda dimana hal ini akan mempengaruhi kejelasan transparan.
2. Warna dan ketebalan kaca.
Warna dan ketebalan pada kaca memberikan kejelasan visual yang
berbeda beda. Hal ini dapat dijelaskan melalui visualisasi gambar dan tabel
dibawah ini.

Dimana setiap warna memiliki tingkat kejelasan transparan (visible


transparent V.T %) yang berbeda-beda.
(Daftar visible Trans % di paper utama).
Melalui table diatas, dapat disimpulkan warna yang paling memiliki
kejelasan paling tinggi adalah warna biru, dan yang paling memiliki kejelasan
paling rendah yaitu warna Abu-abu gelap (Dark gray). Selain itu ketebalan
yang semakin tebal akan memberikan tingkat Visible transparant semakin
rendah.
3. Pantulan (Refleksi).
Refleksi merupakan sifat yang ada pada setiap kaca dimana intensitasnya
berbeda-beda dari yang rendah maupun yang tinggi. Sifat ini akan

mempengaruhi kejelasan transparan. Hal ini akan dijelaskan melalui visual


gambar yang akan diberikan.

a. (Reflective float glass berwarna) b.(Reflective float glass)


c. (Clear glass)
Pada kaca reflective float glass, terlihat tingkat pantulan yang tinggi
diberikan oleh kaca ini. yaitu sebesar 32%. sedangkan pada kaca clear glass,
transparansi yang dihasilkan lebih jelas, akibat tingkat refleksi yang lebih
rendah yaitu sebesar 8%. Maka dapat disimpulkan, sifat refleksi yang ada
pada kaca mempengaruhi kejelasan transparansi. Terdapat tabel spesifikasi
kaca float glass yang menjelaskan tingkat refleksi cahaya suatu jenis kaca.
(table berada di paper utama).
4. Nilai Transmisi cahaya
Transmisi cahaya adalah nilai kuat cahaya yang menembus suatu jenis
kaca. dalam hal ini, peneliti melakukan survei

untuk menjelaskan bahwa

transmisi cahaya merupakan salah satu faktor penentu dari kejelasan


transparansi.
(survey dilakukan di Kampus 1 UNTAR).

(Survei ruang tunggu diluar perpustakaan TKC UNTAR, lantai 7, tanggal 3 5


- 2010, pukul 12.00, Kondisi mendung)
Data survei
a. Clear glass yang dipakai dikiri memiliki transmisi cahaya sebesar 90 %,
(nilai ini dilihat di tabel spesifikasi kaca float glass, angka diberi warna
merah). Pengukuran lux meter = 1055 lux.
b. Reflective float glass dengan warna dark blue dikanan, memiliki transmisi
cahaya sebesar 45 %, (nilai ini dilihat di table spesifikasi kaca float glass).
Pengukuran lux meter = 654 lux.

Dapat dilihat melalui visual Foto, transmisi yang lebih tinggi pada kaca clear
glass, memperlihatkan tingkat kejelasan transparansi yang lebih jelas dari
kaca reflective float glass (dikanan). Maka dapat disimpulkan transmisi
cahaya merupakan salah satu faktor penentu dari kejelasan transparansi.
Aplikasi Transparansi dengan Material Reflective Float Glass pada Kulit
Bangunan.
1. Kondisi Alam.
Kondisi-kondisi alam dalam pengaplikasian jenis transparan ini:
a. Dapat diaplikasikan ke wilayah baik yang tekanan anginnya rendah, maupun
tinggi.
b. Lebih efektif diaplikasikan ke kondisi iklim tropis, subtropis dan iklim sedang.
2. Besaran Transparansi.
Ukuran bidang transparan pada jenis kaca ini memberikan berbagai dampak ke
bangunan, besar kecilnya akan mempengaruhi:
a. Intensitas Pencahayaan yang masuk
b. Suhu didalam ruangan.
c. Besarnya hubungan view dengan ruang luarnya.
Ukuran bidang transparansi dengan kaca ini yang baik adalah sebesar 27-32 %
dari luas permukaan lantai yang ada.
3. Letak Transparansi.
Letak transparansi ini mempengaruhi beberapa hal:
a. Pencahayaan.
b. Arah pandang.
c. Suhu
Dalam menentukan letaknya, transparansi dengan menggunakan kaca (reflective
Float Glass) lebih fleksibel dibanding transparansi yang terbuka. berdasarkan
pembahasan sebelumnya, transparansi yang terbuka dibatasi penggunaanya dalam
masalah kecepatan angin 5m/s. sedangkan penggunaan material kaca dapat di pakai di
daerah yang kecepatan anginnya lebih dari 5 m/s. Berbeda dengan sebelumnya, letak
transparansi dengan menggunakan kaca akan berpengaruh besar dalam suhu ruangan.

Yang mana salah satu dampak pemakaiannya dikenal dengan Efek Rumah Kaca
(ERK).
Dampak Transparansi dengan Material Kaca Reflective Float Glass pada Kulit
Bangunan.
1. Pencahayaan.
Banyaknya

warna

dan

Ukuran

kaca,

memberikan

keleluarsaan

dalam

memanfaatkan pencahayaan alami. Walaupun memiliki keleluarsaan, tingkat transmisi


pencahayaan yang didapat, tidak akan setinggi clear glass. Tingkat transmisi cahaya
clear glass mencapai 90% sedangkan Reflective Float Glass (warna biru tua,dan 1
lapisan) hanya mencapai 45 % di ketebalan kaca yang sama.
2. Keprivasian Secara View.
Dalam hal pemberian keprivasian, material kaca reflective float glass sudah
memberikan keprivasian dari material ini sendiri, tanpa perlu mengarahkan view
transparansi. Penjelasan ini akan dijelaskan melalui Visual Gambar yang ada dibawah
ini.
3. Tingkat Kejelasan Penglihatan pada Transparansi.
Berdasarkan tingkat kejelasan penglihatanya, Reflective Float Glass memiliki
tingkat kejelasan transparansi yang cukup baik, yaitu sebesar 70% (untuk warna biru
tua, menggunakan 1 lapisan dan ketebalan 5mm).
4. Dampak lain.
Berbagai dampak lain dari kulit bangunan yang menggunakan jenis transparansi
ini, yaitu:
1. Peningkatan suhu temperatur.
2. Tidak dapat mengalir udara. Sehingga diperlukan pengudaraan buatan.
Contoh Bangunan yang Menggunakan Transparansi dengan Material Kaca (Clear
glass dan Reflective Float Glass).

1. Ford Research Centre Aachen, Arsitek: J.L. Martinez

(Gambar diambil di buku Glass structures, editor: Jan Wurm, halaman


59). Penggunaan Kaca reflective Float Glass dark blue.

SEMI TRANSPARANSI PADA KULIT BANGUNAN.


Semi Transparansi.
Pada jenis transparansi ini, terdapat hal yang mereduksi sifat transparansi itu
sendiri, tapi membiarkan transaparan itu tersisa sebagian. Seperti kisi-kisi kayu (jenis
semi transparansi yang terbuka) ataupun glass block ( jenis semi transparansi yang
solid).
Jenis Semi Tranparansi.
1. Semi transparansi dengan material solid (tertutup rapat).
Jenis semi transparansi ini dapat dijelaskan melalui hubungan udara. Hubungan
semi transparan ini tidak dapat dilalui udara.
2. Semi transparansi dengan material yang terbuka.
Jenis semi transparansi ini terbalik dengan sebelumnya. Jenis ini dapat mengaliri
udara. Karena tidak tertutup rapat.
Tujuan Semi Transaransi pada Kulit Bangunan.
1.
2.
3.
4.

Memberikan pencahayaan .
Memberikan tingkat keprivasian yang diinginkan secara visual.
Memiliki hubungan dengan ruang sekitar secara view, tapi hanya sebagian.
Memberikan pengudaraan (bagi jenis semi transparansi dengan material yang
terbuka).
Aplikasi Semi Transparan pada Kulit Bangunan.

Kondisi Alam.
Kondisi penggunaan jenis transparansi ini juga dibagi 2 berdasarkan jenis yang
ada, yaitu semi transparan dengan material solid, dan semi transparan dengan material
yang terbuka.
Jenis transparan dengan material yang solid lebih efektif pada daerah yang
berikilim sedang. Contoh material glassblock yang dipasang penuh. material ini ketika
musim dingin, akan memberikan kondisi yang lebih hangat didalam ruang, karena
adanya efek rumah kaca.
Berbeda dengan

semi transparansi yang terbuka, semi transparan ini lebih

efektif didaerah beriklim tropis. Karena selain semi transparan mempengaruhi secara
keprivasian, tapi pengudaraan yang dapat dilalui oleh transparansi ini merupakan salah
satu hal yang dituju dalam perancangan arsitektur didaerah beriklim tropis.
4.4.2 Letak dan Besaran Semi Transparansi.
Letak dan Besarnya Bidang semi transparansi tergantung kepada kebutuhannya.
Selain itu, letak dan besaran bidang semi tranasparansi akan mempengaruhi berberapa
hal, yaitu:
1. Pencahayaan
2. Tingkat Keprivasian (bagi jenis semi transparansi yang terbuka).
Perbedaan dengan jenis transparansi yang penuh yaitu, Jenis semi transparansi
digunakan untuk menyesuaikan tingkat keprivasian. Sehingga dalam semi transparansi,
besaran bidang transparansi akan dicocokan dengan daerah yang ingin disesuaikan
tingkat Privasinya.
Berdasarkan tujuannya, bidang semi transparan diletaknya di daerah yang ingin
dijaga keprivasiannya. Selain masalah keprivasian, letak bidang ini juga berguna dalam
menyesuaikan pencahyaan yang terlalu silau.
Dampak Semi Transparansi yang Terbuka pada Kulit Bangunan.
1. Pencahayaan.
semi transparansi digunakan untuk mereduksi cahaya matahari yang terlalu silau
sebagai upaya pencapaian tingkat pencahayaan yang diinginkan.

2. Keprivasian Secara View.


Dalam semi transparansi, keprivasian tidak mencapai tingkat yang penuh, tapi
keberadaan transparan yang disisakan sebagian memang perlu, agar berbagai
kebutuhan tetap dapat dipenuhi, seperti kebutuhan udara dan cahaya.
3.

Tingkat Kejelasan secara View Transparansi.


Tipe transparansi ini memberkan tingkat visual yang optimal. Maksudnya adalah,

tingkat visualnya dapat diatur sesuai material yang akan digunakan.


Didalam Jenis semi transparansi yang terbuka, kejelasan
dalam tingkat visual, terkait 2 faktor. Yaitu material yang
dipakai dan susunan peletakan material pada kulit bangunan.
Terlihat pada gambar diatas, semakin rapat deret bambunya
maka semakin tereduksi hubungan transparansinya.

Contoh Bangunan yang menggunakan Semi Transparansi.


1. Javaplant Office & Showroom, Surakarta, Indonesia. Arsitek Andra Matin

(Diambil di web site archnet, photographer Sonny Sandjaya)


http://www.archnet.org/library/images/one-image.jsp?location_id=17192&image_id=196989

Perbandingan Ketiga Jenis Transparansi


Kelebihan dan kekurangan pada ketiga jenis transparansi.
1. Transparansi yang terbuka.
Keunggulan :

(a) Jenis transparansi yang Mempunyai hubungan ruang yang paling menyatu
baik secara view, pencahyaan dan lain-lain.
(b) View yang diberikan kejelasannya mencapai 100 %
(c) tidak membutuhkan maintenance
(C) Dapat Mengalirkan udara.
Kelemahan:
(a) adanya batasan tekanan udara.
(b) Tidak bisa memproteksi hewan-hewan yang tidak diinginkan.
2. Transparansi dengan material kaca Reflective Float glass
Keunggulan:
Jenis transparansi kaca (reflective float glass). Mempunyai ciri khas mereduksi
sinar UV yang tinggi. (membantu meringankan beban AC),dan memberikan
privasi yang baik. Keuntungan ini membuat Kaca ini fleksibel diletakan di
berbagai arah dan tempat, sehingga arah Transparansi yang diinginkan lebih
mudah dicapai (misalnya ingin mendapatkan view ke barat).
Kelemahan:
(a)Membutuhkan biaya maintenance karena adanya keberadaan material kaca.
(b)Menimbulkan EFK (efek rumah kaca). membutuhkan alat pengkondisian
udara.
3. Semi transparansi dengan material yang terbuka.
Keunggulan :
Jenis ini memberikan kefleksibelan dalam memperoleh tingkat kejelasan, Privasi,
pencahayaan dan udara.
Kelemahan.
(a) Membutuhkan Biaya maintenance.
(b)Tingkat kejelasan transparansi yang lebih rendah diantara ke2 jenis lainnya.

TRANSPARANSI PADA GEDUNG KAMPUS 1 UNTAR


Jenis Transparansi Yang digunakan.
Berdasarkan transparansi yang ada, terdapat 3 jenis transparansi yang dianalisa
1. Transparansi dengan material kaca Clear glass 8mm.
2. Transparansi dengan material kaca Reflective float glass 8mm.
3. semi transparan ini dibentuk oleh 2 material, yaitu;
a. Kaca reflective Float glass warna dark blue, 8mm.
b. Alumunium capping 50/150.
Dampak Transparansi.
Dampak Transparansi dengan Mengunakan Material Clear Glass.
1. Tingkat kejelasan.
a. Tekstur kaca yang rata.

b. Tidak memiliki warna pada kaca.


c. Nilai transmisi yang sebesar 90%.
d. Nilai refleksi yang lebih rendah dari kaca reflective float glass, Yaitu 8 %.
Tingkat Kejelasan dapat dilihat melalui visual foto yang terlampir:
(foto ini diambil, tanggal 5-5-2010, jam 16.00, Perpustakaan TKC di lantai 7
Kampus 1 UNTAR). Terlihat jelas,
tidak terpengaruh warna, memiliki
tekstur

rata

dan

tidak

terlihat

bayangan refleksi di kaca.


2. Keprivasian secara visual.
Dalam hal keprivasian, material ini
tidak memberikan keprivasian secara
visual, hal ini terjadi karena kaca clear
glass memiliki tingkat kejelasan yang
paling tinggi diantara material kaca lainnya. Tapi pemakaiannya dilantai 7,
membuat keprivasian didalam ruang TKC terjaga.
3. Pencahayaan.
Pencahayaan yang diberikan clear glass dapat dilihat melalui nilai transmisi
cahayanya yaitu sebesar 90%. Disini telah disurvei melalui lux meter bahwa
pencahayaan nya mencapai 1280 lux pengechekan ini tanggal 5-5-2010, jam
16.00, Perpustakaan TKC di lantai 7 Kampus 1 UNTAR .

(Foto ini diambil, tanggal 5-5-2010, jam 16.00, Perpustakaan TKC di lantai 7
Kampus 1 UNTAR, Kondisi Berawan).
Dampak Transparansi menggunakan Material Reflective Float Glass.
1. Tingkat Kejelasan.
Dalam hal tingkat kejelasan, yang mana akan dijelaskan melalui 4 faktor yang
mempengaruhi tingkat kejelasan ;

a.
b.
c.
d.

Tekstur kaca yang rata. (Sama dengan float glass).


Memiliki warna biru tua.
Nilai transmisi sebesar 45 %.
Nilai refleksi sebesar 32 %.
Kejelasan visual ini dapat dilihat melalui visual foto;
(Foto ini diambil, tanggal 5-5-2010,
jam 16.00, Perpustakaan TKC di lantai
7 Kampus 1 UNTAR).
Terlihat warna biru pada kaca dan tingkat
refleksi pada kaca membuat kejelasan
transparansi ini tereduksi.

2. Keprivasian secara visual.


Keprivasian yang dihasilkan oleh kaca reflective float glass lebih baik
dibandingkan kaca clear glass
3. Pencahayaan.
Dalam hal pencahayaan, kaca reflective float glass dengan warna Biru Tua.
Memiliki transmisi cahaya sebesar 45 %. Dan setelah dilakukan survey
menggunakan Lux meter pada perpustakaan TKC, kaca reflective float glass
ini menghasilkan cahaya sebesar 920 lux. pengechekan ini pada Tanggal 55-2010, jam 16.00, Perpustakaan TKC di lantai 7 Kampus 1 UNTAR
( Foto ini diambil, tanggal 5-5-2010, jam 16.00,
Perpustakaan TKC di lantai 7 Kampus 1
UNTAR ).

Dampak

Semi

Transparansi

menggunakan

Material Reflective Float Glass dan Alumunium Capping.


1. Tingkat kejelasan.
Hal-hal yang mempengaruhi tingkat kejelasannya.
a. Warna biru tua dari Kaca reflective float glass
b. Tekstur material kaca yang rata.
c. Nilai transmisi kaca yaitu sebesar 45 %.
d. Nilai refleksi kaca yang sebesar 32 %.
e. Material solid dari alumunium capping 50/150, sangat mempengaruhi
transparansi, karena terhalang oleh alumunium capping.
Tingkat kejelasan dapat dilihat melalui visual gambar.

2. Keprivasian secara visual.


Keprivasian dari transparansi jenis ini, paling tinggi diantara 2 jenis
lainnya. Hal ini selain material kaca ini memiliki warna dan tingkat refleksi
yang tinggi, tapi juga memiliki penghalang melalui Alumunium capping
50/150.
3. Pencahayaan.
Tingkat

pencahayaan

yang

dihasilkan paling rendah diantara ke


2 jenis transparansi lainnya. Hal ini
terkait alumunium capping yang
menjadi penghalang cahaya dari
luar. Selain itu, pencahayaan yang
dihasilkan dichek melalui lux meter.
Yaitu

sebesar

637

lux.

pengechekan dilakukan pada tanggal 5-5-2010, jam 16.00, sitting lantai 2


Kampus 1 UNTAR.
(Foto ini diambil, tanggal 5-5-2010, jam 16.00, sitting lantai 2 Kampus 1 UNTAR).
Penilaian Terhadap ketiga Transparansi dengan Kuesioner .
Penilaian ini akan didapat melalui proses kuisioner dan pengalaman sendiri.
Yang akan menanyakan bagaimana kualitas dari transparansi itu. Sasaran kuesioner
dilakukan berjumlah 20 orang dengan pengelompokan berdasarkan umur yaitu, yang
berada dibawah 30 tahun dan diatas 40 tahun. Hal ini terkait dengan fisik dan
kemampuan visual mata yang berbeda akibat perbedaan umur.
Analisa Ketiga Transparansi berdasarkan hasil kuesioner dan teori.

1. Kaca Clear glass di Ruang TKC.


Berdasarkan hasil kuesioner, penggunaan kaca clear glass pada ruang TKC
(transparansi yang pertama) memberikan tingkat kejelasan transparansi yang baik (jelas).
Tapi pencahayaan yang diberikan masih dianggap berlebihan/ terlalu terang bagi 50 %
pengisi kuesioner yang berada diatas 40 tahun (walaupun arah transparansi sudah di
arahkan ke arah utara). Selain itu, sebagian kecil masih menganggap penggunaan kaca ini
di ruang TKC masih kurang privasi..
Hasil kuesioner ini dapat dijelaskan, karena material clear glass ini memang memiliki
nilai transmisi cahaya paling besar diantara kaca lainya, yaitu sebesar 90 %. Hal ini telah
dilakukan survey mengunakan Lux meter pada ruang TKC (tanggal 2-6-2010, jam 15.20,
di Perpustakaan TKC lantai 7 Kampus 1 UNTAR kondisi berawan), dalam survey itu, lux
meter diletakan diatas meja baca yang terdekat yaitu berjarak 1,2 meter dari kaca Clear
Glass yang menghadap ke utara. Nilai Cahaya yang masuk yaitu sebesar 620 lux, yang
mana dalam kegiatan membaca hanya membutuhkan 200-300 lux. maka dapat dijelaskan
cahaya yang masuk dianggap terlalu terang.
Dalam hal privasi, kaca yang berwarna bening dan memiliki nilai reflektif sebesar 8%
memang tidak bisa memberikan keprivasian yang baik, karena hubungan transparansi
menggunakan material ini memang sangat jelas. Sehingga penggunaan kaca clear glass
dinilai kurang efektif didalam ruang ini.
2. Kaca Reflective Float Glass warna biru tua di Ruang TKC.
Penggunaan kaca Reflective Float Glass warna biru tua di ruang TKC dinilai tepat
oleh para pengisi kuesioner. Karena kaca ini memberikan tingkat kejelasan yang dianggap
baik (walaupun tidak sejelas kaca clear glass). Tidak hanya itu, penggunaan kaca ini juga
dianggap baik dalam kedua aspek lainnya, yaitu aspek privasi dan pencahayaan. Hal ini di
peroleh berdasarkan tidak adanya jawaban kurang baik dan berlebihan pada ketiga aspek
di dalam hasil kusioner.
Berdasarkan data spesifikasi kaca, kaca reflective Float glass ini memiliki nilai
transmisi cahaya sebesar 45 %. Yang mana pencahayaan yang dihasilkan akan lebih baik,
dibanding penggunaan kaca clear glass. Hal ini Telah dilakukan survey mengunakan Lux
meter pada ruang TKC (tanggal 2-6-2010, jam 15.30, di Perpustakaan TKC lantai 7
Kampus 1 UNTAR kondisi berawan). Dalam survey ini, lux meter diletakan di atas meja
baca yang terdekat dengan jarak 1,2 meter dari kaca Reflective Float glass. cahaya yang

masuk telah diukur dan memiliki nilai sebesar 322 lux. yang mana nilai tersebut tidak
terlalu jauh dari standart lux yang baik dalam kegiatan membaca, yaitu 200-300 lux.
Dalam hal keprivasian, kaca ini memiliki warna biru tua dan nilai refleksi sebesar
38%. Yang mana kedua hal ini membantu tercapainya keprivasian yang diinginkan. oleh
karena itu penggunaan kaca ini dinilai telah tepat di dalam ruang TKC.
3. Kaca Reflective Float Glass warna biru tua, dengan Alumunium Capping di ruang
sitting area.
Penggunaan Kaca Reflective Float Glass warna biru tua dan alumunium capping di
ruang sitting area (Depan wc), memberikan pencahayaan yang baik ,tapi tingkat kejasan
transparansi menjadi kurang jelas. (55% pengisi kuesioner yang menjawab tidak jelas).
Walaupun setengah dari pengisi kuesioner menjawab tidak jelas, sebagian besar
mereka menyatakan keprivasian yang dihasilkan sangat baik dan nyaman. Sehingga
ketidak jelasan transparansi tersebut membantu tercapainya keprivasian yang diinginkan.
Dalam hal pencahayaan, telah dilakukan survey dengan menggunakan lux meter (tanggal
2-6-2010, jam 16.00, di sitting area, depan wc lantai 2 Kampus 1 UNTAR, kondisi
berawan), cahaya yang masuk sebesar 240 lux. Dalam hal pencahayaan, ruang yang
biasa dibuat berkumpul dan duduk oleh mahasiswa, Dinilai sudah cukup. Oleh karena itu
jenis transparansi ini juga dinilai tepat pada ruang ini.

KESIMPULAN
Sedangkan penggunaan Material kaca reflective float glass dinilai tepat pada
ruangan TKC, hal ini dikarenakan tingkat kejelasan, pencahayaan, dan keprivasian
yang dihasilkan dinilai baik oleh seluruh pengisi kuesioner. Tak hanya hasil kuesioner,
Berdasarkan data spesifikasi kaca, kaca ini memang mereduksi transmisi cahaya
sebesar 45 % dan tingkat refleksi sebesar 38%. Dimana keduanya membantu
tercapainya keprivasian yang diinginkan dan pencahayaan yang ideal dan tidak
berlebihan.
Penggunaan material kaca reflective Float glass dan Alumunium capping di
ruang sitting area (depan wc), dinilai sudah baik, walaupun hasil kuesioner sebagian
besar menjelaskan bahwa, tingkat kejelasan transparansinya tidak jelas, tapi dalam

pendapat yang diberikan di kuesioner, beberapa menyatakan bahwa keprivasian


dengan kedua material ini sangat baik, yang mana menjelaskan bahwa ketidak jelasan
transparansi membantu pencapaian privasi yang diinginkan di ruang ini.
Dalam hal ini penggunaan kaca reflective float glass di ruang TKC lantai 7, dan
alumunium capping di sitting area (depan wc, lantai2), dinilai sudah tepat,dan baik. Oleh
karena itu, penggunaan transparansi akan dinilai baik, jika transparansi yang digunakan
sesuai dengan ruang dan pelaku itu sendiri.