Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISA FARMASI KUANTITAIF

OLEH:
NAMA

: FERA PERMATASARI

NIM

: 08121006051

KELOMPOK

: V (LIMA)

ASISTEN

: DINDA FARAH DIBA

DOSEN PEMBIMBING

:1. Dr. Budi Untari, Msi, Apt


2. Dr. Rer.nat Mardiyanto, Msi, Apt

LABORATORIUM ANALISA FARMASI KUANTITATIF


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INDERALAYA
2013

PRAKTIKUM 1
DETEKSI GULA PEREDUKSI
I.

TUJUAN

Mahasiswa mampu memahami prinsip deteksi gula pereduksi secara umum


yang merupakan keterampilan dasar dalam bidang keahlian biokimia klinik.
II. DASAR TEORI
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen
yang terdapat dalam alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris
CH2O. Karbohidrat sebenarnya adalah polisakarida aldehida dan keton
atau turunan mereka. Salah satu perbedaan utama antara berbagai tipe tipe
karbohidrat ialah ukurannya. Monosakarida adalah satuan karbohidrat
yang tersederhana, mereka tidak dapat dihidrolisis enjadi molekul
karbohidrat yang lebih kecil. Monosakarida dapat diikat bersama-sama
membentuk dimer, trimer dan sebagainya dan akhirnya polimer.
Sedangkan monosakarida yang mengandung gugus aldehid disebut
aldosa.Glukosa, galaktosa, ribose, dan deoksiribosa semuanya adalah
aldosa. Monosakarida seperti fruktosa dengan gugus keton disebut ketosa.
Karbohidrat tersusun dari dua atau delapan satuan monosakarida dirujuk
sebagai oligosakarida (Poedjiadi, Anna. 1994).
Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton polihidroksil
atau turunannya. Selain itu, ia juga disusun oleh dua sampai delapan
monosakarida

yang

dirujuk

sebagai

oligosakarida.

Karbohidrat

mempunyai rumus umum Cn(H 2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia
zaman dahulu menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon.Penting
bagi kita untuk lebih banyak mengetahui tentang karbohidrat beserta
reaksi-reaksinya, karena ia sangat penting bagi kehidupan manusia dan
mahluk hidup lainnya (Sumardjo, D. 2008).
Karbohidrat yang tidak bisa dihrolisis ke susunan yang lebih simpel
dinamakan monosakarida, karbohidrat yang dapat dihidrolisis menjadi
dua molekul monosakarida dinamakan disakarida. Sedangkan karbohidrat
yang dapat dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida dinamakan

polisakarida. Monosakarida bisa diklasifikasikan lebih jauh, jika


mengandung grup aldehid maka disebut aldosa, jika mengandung grup
keton maka disebut ketosa. Glukosa punya struktur molekul C 6H12O6,
tersusun atas enam karbon, rantai lurus, dan pentahidroksil aldehid maka
glukosa adalah aldosa. Contoh ketosa yang penting adalah fruktosa, yang
banyak ditemui pada buah dan berkombinasi dengan glukosa pada sukrosa
disakarida (Kusnawidjaya, Kurnia. 1983).
Banyak

tes

digunakan

untuk

mengetahui

karakteristik

karbohidrat. Uji Molisch adalah pengujian paling umum untuk semua


karbohidrat, ini berdasarkan kemampuan karbohidrat untuk mengalami
dehidrasi

asam

katalis

untuk

menghasilkan

fulfural

atau

hydroxymethylfurfural. Uji Selliwanoff digunakan untuk membedakan


ketosa (enam karbon gula yang mengandung keton pada ujung sisi) dan
aldosa (enam karbon gula yang mengandung aldehid pada ujung). Keton
mengdehidrasi dengan cepat menghasilkan 5-hydroxymethylfurfural,
sedangkan

aldosa

lebih

lambat.

Sekali

5-hydroxymethylfurfural

dihasilkan, akan bereaksi dengan resosinol menghasilkan warna merah.


Uji Benedict digunakan untuk menentukan monosakari dan disakarida
yang mengandung grup aldehid yang dapat dioksidasi asam karboksil.
Gula akan mereduksi ion kupri pada larutan Benedict. Uji Barfoed untuk
memisahkan

antara

monosakarida

dengan

disakarida

yang

dapat

mereduksi ion kupri. Reagen barfoed bereaksi dengan monosakarida


untuk menghasilkan kupri oksida lebih cepat dibanding disakarida
(Poedjiadi, Anna. 1994).
Dalam

karbohidrat

dikenal

beberapa

pengujian

untuk

menentukan kandungan yang terdapat dalam karbohidrat tersebut. Salah


satu diantaranya adalah pengujian yang menggunakan iodium sebagai
reagen yang dikenal sebagai uji iod. Uji atau tes ini digunakan untuk
memisahkan amilum atau pati yang terkandung dalam larutan tersebut.
Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru.
Warna biru yang dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan
kompleks antara amilum dengan iodin. Sewaktu amilum yang telah

ditetesi iodin kemudian dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil


dari reaksi yang positif akan menghilang. Dan sewaktu didinginkan warna
biru akan muncul kembali. Di dalam amilum sendiri terdiri dari dua
macam amilum yaitu amilosa yang tidak larut dalam air dingin dan
amilopektin yang larut dalam air dingin (Wahyudi,dkk. 2003)
Keberadaan karbohidrat dapat kita lihat dengan uji Molisch atau uji
bahan gula bebas, alkohol naphthol, dan H 2SO4. Pada uji benedict ion
kupri Cu2+ direduksi menjadi Cu 2O dalam larutan alkalin sitrat. Sitrat
menahan kestabilan Cu 2+ selama reaksi dengan menjaga dari pengurangan
menjadi hitam, larutan CuO. Dalam uji Barfoed Cu 2+ tereduksi menjadi
Cu2O pada larutan asam lemah. Secara praktek, dapat terlihat bahwa
monosakarida mengurangi lebih cepat pada larutan asam lemah daripada
disakarida. Uji Selliwanof reaksi spesifik warna untuk ketosa. Pada
larutan HCl,ketosa mengalami dehidrasi menjadi fulfural lebih cepat
dibanding aldosa. Lebih jauh, fulfural akan bereaksi dengan resolsinol
menghasilkan warna. Dengan konsekuensi, tingkat perkembangan warna
dan resolsinol menyediakan bukti bahwa aldosa dan ketosa murni terdapat
pada gula (Kusnawidjaya, Kurnia. 1983).

III. Alat dan Bahan


Alat :

Bahan :

Rak tabung reaksi 1 buah

Tabung reaksi 10 ml 6 buah


Gelas ukur 1 buah
Gelas beaker 2 buah
Pipet 1 buah
Tissue
Kamera
Pemanas spiritus

Glukosa

Pereaksi benedict
Pereaksi fehling A dan B
Natrium Hidroksida ( NaOH )
Aquadest

IV. Prosedur Kerja


a. Uji benedict
Tabung Reaksi 10
ml 4 buah
Dimasukkan
Glukosa 20 tetes
pada masingmasing tabung

Ditambahkan

Aquadest 1 ml pada tabung 2; 2 ml pada tabung


3 ; 4ml pada tabung 4 ; sedangkan tabung 1
tidak memakai aquadest
Ditambahkan
Pereaksi benedict 1 ml pada masingmasing tabung Amati

Perubahan yang terjadi selama 2


menit

Panaskan
Diatas pemanas spiritus selama 30
detik
Ditambahkan
1 tetes NaOH

Amati
Perubahan yang terjadi dan catat waktu perubahan
serta bandingkan perbedaan tiap tabung

b. Uji Fehling A dan B

Tabung Reaksi 10 ml 4
buah
Dimasukkan
Glukosa 20 tetes pada
masing-masing tabung
Ditambahkan
Aquadest 1 ml pada tabung 1; 2 ml pada
tabung 3 ; 4ml pada tabung 4 ; sedangkan
tabung 1 tidak memakai aquadest
Ditambahkan
Pereaksi Fehling A sebanyak 1 ml
pada masing-masing tabung

Amati

Fehling
Perubahan
Pada
B pemanas
sebanyak
yang terjadi
spiritus
1 ml dan
pada
perbedaan
masing-masing
tiap tabung
tabung
serta catat

Perubahan yang terjadi dan


perbedaan tiap tabung
Ditambahkan

Dipanaskan

Amati

NB : Setiap perubahan pada tabung reaksi difoto menggunakan kamera

V. Hasil Percobaan
1. Reaksi dengan Benedict

Hasil
Senyawa Uji

Reagen

20 tetes glukosa

1 ml pereaksi
Benedict* + 1 tetes
NaOH

Perubahan warna

Waktu perubahan

2 detik
Merah kecoklatan

1 ml pereaksi
20 tetes glukosa +
Benedict* + 1 tetes
1 ml air
NaOH

4 detik
Merah kecoklatan

1 ml pereaksi
20 tetes glukosa +
Benedict* + 1 tetes
2 ml air
NaOH

2 menit
Orange

1 ml pereaksi
20 tetes glukosa +
Benedict* + 1tetes
4 ml air
NaOH

30 detik

Kuning
* Setelah penambahan pereaksi Benedict campran di panaskan terlebih dahulu.

2. Reaksi dengan Fehling A dan Fehling B


Senyawa Uji

Reagen

Hasil

Warna

15 tetes glukosa

Fehling
A
Fehling B*

Waktu

29 detik

Merah bata

15 tetes glukosa + Fehling


A
1 ml air
Fehling B*

23 detik
Merah bata

15 tetes glukosa + Fehling


A
2 ml air
Fehling B*

24 detik

Merah bata

15 tetes glukosa + Fehling


A
4 ml air
Fehling B*

32 detik

Merah bata
* setelah dilakukan penambahan Fehling B dilakukan pemanasan

VI. Pembahasan

Praktikum pada kesempatan ini membahas mengenai uji gula pereduksi.


Uji untuk mendeteksi adanya gula pereduksi pada larutan glukosa dilakukan
dengan pereaksi Benedict dan pereaksi Fehling A & B. Uji yang pertama
dilakukan dengan pereaksi Benedict terhadap glukosa yang berbeda-beda
konsentrasinya.

Glukosa pada tabung pertama tidak ditambahkan aquadest, sehingga


konsentrasi lebih tinggi dibandingkan tabung 2,3,dan 4. Karena pada tabung 2,3
dan 4 dilakukan penambahan aquadest dengan volume yang berbeda-beda pada
tiap tabung. Pada tabung kedua ditambahkan 1 ml aquadest dengan volume
penambahan glukosa yang sama dengan tabung pertama yaitu sebanyak 20 tetes,
begitupun pada tabung 3 dan 4 dilakukan penambahan aquades 2 ml dan 4 ml.
Dengan demikian konsentrasi glukosa pada tiap tabung berbeda. Semakin
banyak penambahan volume air pada tabung, semakin kecil pula konsentrasi
glukosa pada tabung tersebut. Pada tabung pertama didapat warna orange
kemerahan setelah campuran glukosa dan benedict ditambahkan NaOH yang
sebelumnya dipanaskan selama 30 detik. Hal ini dapat diperkirakan jumlah
glukosa pada tabung pertama adalah 2,5 4,0 g/dl. Pemeriksaan benedict dapat
menentukan kira-kira jumlah zat yang dicari dalam bahan pemeriksaan namun
kurang sensitif.

I. Tabung pertama : 20 tetes glukosa tanpa penambahan air

Setelah penambahan 1
ml pereaksi benedict
terjadi perubahan warna
biru pada larutan.

Dilakukan pemanasan
terhadap campuran.
Ini dilakukan untuk
mempercepat laju reaksi.

Penambahan 1 tetes
NaOH
menyebabkan
perubahan warna pada
larutan glukosa.

Adanya perubahan warna pada larutan glukosa pada saat penambahan


NaOH menunjukkan larutan tersebut bereaksi positif dengan pereaksi benedict
dan

mengandung gula pereduksi (memiliki gugus aldehid dan keton bebas).

Terbentuk warna merah kecoklatan karena senyawa Cu2+ yang terkandung dalam
reagen benedict direduksi oleh gugus aldehid atau keton bebas yang terjadi dalam
suasana basa. Dalam hal ini yang berperan memberikan suasana basa pada larutan
adalah NaOH.
Pada tabung kedua mengandung kadar glukosa yang sama dengan tabung
pertama namun dilakukan penambahan 1 ml aquadest, sehingga konsentrasi
glukosa lebih kecil disbanding tabung pertama. Pada penambahan NaOH
menghasilkan warna orange namun tidak sepekat pada tabung pertama.
Diperkirakan kadar glukosa pada tabung kedua berkisar antara 1,5 2,5 g/dl.
II. Tabung Ke-Dua : 20 tetes glukosa + 1 ml Air

Setelah penambahan 1
ml pereaksi benedict
terjadi perubahan warna
biru pada larutan.

Dilakukan
pemanasan
terhadap campuran.
Ini dilakukan untuk
mempercepat laju reaksi.

Penambahan 1 tetes
NaOH
menyebabkan
perubahan warna pada
larutan glukosa.

Pada tabung ketiga mengandung 20 tetes glukosa dan 2 ml aquadest yang


artinya konsentrasi glukosa lebih kecil disbanding tabung pertama dan kedua.
Warna yang dihasilkan setelah diteteskan 1 tetes NaOH adalah kuning ke-orangean diperkirakan kisaran kadar glukosanya 1,0 -1,5 g/dl. Namun bisa saja kadar
glukosanya dikisaran 1,5 2,5 g/dl karena endapannya juga berwarna orange.
Pada tabung ke-empat 20 glukosa dicampur dengan 4 ml aquadest, berarti
konsentrasi glukosanya lebih kecil disbanding tabung ketiga. Hal ini
menyebabkan warna kuning pada penambahan NaOH. Sehingga diperkirakan
kadar glukosa pada tabung ke-empat bekisar pada 1,0 1,5 g/dl.

III. Tabung Ke-Tiga : 20 tetes glukosa + 2 ml Air

Setelah penambahan
1
ml
pereaksi
benedict
terjadi
perubahan
warna
biru pada larutan.

Dilakukan
pemanasan terhadap
campuran.
Ini dilakukan untuk
mempercepat
laju
reaksi.

Penambahan 1 tetes
NaOH menyebabkan
perubahan
warna
pada
larutan
glukosa.

Uji selanjutnya dilakukan menggunakan Fehling. Pereaksi Fehling terdiri


dari dua bagian, yaitu Fehling A dan Fehling B. Fehling A adalah larutan CuSO4,
sedangkan Fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium
tartrat. Pereksi Fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut,
sehingga diperoleh suatu larutan yang berwarna biru tua. Dalam pereaksi Fehling,
ion Cu2+ terdapat sebagai ion kompleks. Pereaksi Fehling dapat dianggap sebagai
larutan CuO.
Prosedur pada pengujian Fehling hampir sama dimana ada 4 tabung yang
mengandung kadar glukosa yang sama, hanya saja konsentrasinya berbeda.
Masing - masing tabung diisi 15 tetes glukosa. Pada tabung pertama tidak ada
penambahan aquadest sedangkan pada tabung kedua, ketiga dan keempat
ditambahkan aquadest sebanyak 1 ml, 2 ml dan 4 ml.

Pada uji glukosa dengan Fehling ditabung pertama mengandung glukosa


15 tetes tanpa penambahan air. Pada reaksi dengan 1 ml Fehling A menghasilkan
warna biru pucat, setelah ditambahkan fehling B warnanya berubah menjadi hijau
lumut. Dengan bantuan pemanasan warna hijau berubah menjadi warna orange.
Dari keempat tabung yang membedakan reaksinya hanyalah kecepatan waktu
perubahan warna hijau menjadi orange. Pada tabung pertama karena tidak
mengandung aquadest perubahan lebih cepat karena konsentrasi glukosa lebih
besar. Sedangkan perubahan yang paling lama pada tabung ke-empat karena
mengandung aquadest lebih banyak disbanding tabung kedua dam ketiga yaitu 4
ml aquadest yang artinya konsentrasi glukosanya lebih kecil.
IV. Tabung ke-4: 15 tetes glukosa + 4 ml air

Glukosa
15
Ditambahkan
tetes + 4 ml
Fehling A
aquadest

Ditambahkan
Fehling B

Setelah
dipanaskan

Dalam pereaksi ini ion Cu2+ direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana
basa akan diendapkan sebagai Cu2O. Dengan larutan glukosa 1%, pereaksi
Fehling menghasilkan endapan berwarna merah bata, sedangkan apabila
digunakan larutan yang lebih encer misalnya larutan glukosa 0,1%, endapan yang
terjadi berwarna hijau kekuningan.

VII. Kesimpulan
1. Pada uji glukosa dengan benedict, semakin besar konsentrasi glukosa
maka semakin pekat warna orange kemerahan yang dihasilkan
2. Adanya perubahan warna pada larutan glukosa pada saat penambahan
NaOH menunjukkan larutan tersebut bereaksi positif dengan pereaksi
benedict dan mengandung gula pereduksi (memiliki gugus aldehid
dan keton bebas).
3. Pada uji glukosa dengan Fehling, semakin besar konsentrasi glukosa
maka semakin pekat warna orange dengan endapan merah bata yang
dihasilkan
4. Dalam uji dengan Fehling, ion Cu 2+ direduksi menjadi ion Cu+ yang
dalam suasana basa akan diendapkan sebagai Cu 2O sehingga
dihasilkan warna orange dan endapan merah bata
5. Semakin banyak konsentrasi glukosa maka semakin cepat laju reaksi
dengan benedict dan fehling
6. Pemanasan bertujuan untuk mempercepat reaksi

DAFTAR PUSTAKA
Kusnawidjaya, Kurnia. 1983. Biokimia. Penerbit Alumni: Bandung

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia


Press
Sumardjo, D. 2008. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran. Jakarta: EGC
Wahyudi,dkk. 2003. Kimia Organik II. Malang : UM Press