Anda di halaman 1dari 11

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Derajat kesehatan merupakan pilar utama bersama-sama dengan


pendidikan dan ekonomi yang sangat erat dengan peningkatan kualitas sumber
daya manusia, sehingga dengan kondisi derajat kesehatan masyarakat yang tinggi
diharapkan akan tercipta sumber daya manusia yang tangguh, produktif dan
mampu bersaing untuk menghadapi semua tantangan yang akan dihadapi dalam
pembangunan disegala bidang. Berbagai studi/penelitian menunjukkan bahwa
terjadi korelasi positif antara derajat kesehatan masyarakat dengan produktifitas.
Produktifitas merupakan perwujudan dari kualitas sumber daya manusia yang
handal sehingga dapat mendukung peningkatan ekonomi dan pembangunan yang
pada akhirnya akan mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan
kualitas suatu bangsa. Indikator derajat kesehatan masyarakat dapat diketahui
diantaranya dengan melihat indikator : angka kematian, kesakitan, umur harapan
hidup dan status gizi.
A. DERAJAT KESEHATAN
1. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir (AHHo/Eo)
Salah satu indikator derajat kesehatan yang digunakan secara luas adalah
Angka Harapan Hidup Waktu Lahir (Eo) (AHH). AHH mencerminkan lamanya
usia seorang bayi baru lahir diharapkan hidup dan dapat menggambarkan taraf
hidup suatu bangsa. Indikator ini telah ditentukan sebagai salah satu tolak ukur
terpenting dalam menghitung dan menentukan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM). Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengolahan data Buku Putih
Sanitasi 2013, wilayah Kecamatan Nagreg termasuk pada daerah dengan
klasifikasi AHH tinggi ( rentang AHH >67,7).
2. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate)
Angka Kematian Bayi adalah jumlah kematian bayi dibawah usia satu
tahun pada setiap 1.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi menjadi Indikator
yang sangat sensitif terhadap ketersediaan, kualitas dan pemanfaaatan pelayanan
kesehatan terutama yang berhubungan dengan perinatal disamping itu Angka
Kematian Bayi dipengaruhi pula oleh pendapatan keluarga, jumlah anggota
22

keluarga, pendidikan ibu dan gizi keluarga. Sehingga Angka Kematian Bayi juga
dapat diapakai sebagai tolak ukur pembangunan sosial ekonomi masyarakat secara
menyeluruh. Merujuk pada hasil laporan KIA UPTD Yankes Kecamatan Nagreg
selama tahun 2014 tercatat angka kematian bayi sebesar 1,14 kematian bayi dari
875 jumlah kelahiran hidup ( 1,14 per 1000 kelahiran hidup).

3. Angka Kematian Ibu


Angka Kematian Ibu (AKI) untuk Kabupaten Bandung belum didapat,
karena tidak semua kematian ibu bersalin baik yang ditolong oleh tenaga
kesehatan atau tenaga lainnya tidak dilaporkan semua, maka salah satu indikator
derajat kesehatan yang diperlukan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
di Kabupaten Bandung yang menunjang ke arah pencapaian IPM 80 pada tahun
2011 Angka Kematian Ibu di Jawa Barat, yaitu sesuai dengan hasil SDKI yaitu
307/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2003 dan ditargetkan menjadi 125 per
100.000 kelahiran hidup pada tahun 2011. Sedangkan penyebab tidak langsung
Ibu masih dalam keadaan 4 Terlalu yaitu kehamilan terjadi pada ibu berumur
kurang dari 18 tahun (terlalu muda), terjadi pada ibu berumur lebih dari 35 tahun
(terlalu tua), persalinan terjadi dalam interval waktu kurang dari 2 tahun (terlalu
sering) dan ibu hamil mempunyai paritas lebih dari 3 (terlalu banyak).
Berdasarkan data laporan dari program KIA UPTD Yankes Nagreg tahun 2014
dari 807 kelahiran hidup, tidak terdapat kasus kematian ibu.
B. ANGKA KESAKITAN (MORDIBITAS)
1. Pola Penyakit Dan Angka Kesakitan Penderita Rawat Jalan di UPTD
Yankes Kec. Nagreg 2014
Pola penyakit penderita rawat jalan di UPTD Yankes Kec. Nagreg pada
tahun 2014 terutama adalah Infeksi saluran Pernafasan Atas Akut tidak spesifik,
tukak lmbung, influenza, hipertensi, myalgia secara lengkap penyakit terbanyak di
UPTD Yankes Nagreg dapat di lihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.1

Pola penyakit Pasien Rawat Jalan di UPTD Yankes Kecamatan


Nagreg Tahun 2014

NO
KLASIFIKASI PENYAKIT
1
Ispa
2
Tukak lambung
3
Influenza
4
Hypertensi primer
5
Myalgia
6
Peny. Pulpa & Jr. periapikal
7
Gangguan lain pada kulit
8
Diare & gastroenteritis
9
Artritis lainnya
10 Penyakit Lain-lainnya
Sumber : UPTD Yankes Nagreg 2014

JUMLAH
13825
9491
5893
5978
2906
2631
2089
2131
2041
17591

2. Penyakit Menular
2.1 Penyakit Menular Bersumber Binatang
2.1.1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Berdasarkan data program Surveilans UPTD Yankes Nagreg tahun 2014 terjadi 4
kasus Demam Berdarah Dengue yang ditangani dan ditinjaklanjuti dengan
pemberantasan nyamuk dewasa melalui fogging. Sedangkan kasus kematian
akibat DBD tidak ditemukan.
2.1.2. Rabies
Tidak ada data
2.1.3. Chikungunya
Tidak ada data
2.1.4. Filariasis
Penyakit filariasis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Jumlah
penemuan kasus filariasis di Kabupaten Bandung yang dilaporkan pada tahun
2012 sebanyak 36 orang yang tersebar di 14 kecamatan. Untuk wilayah kerja
UPTD Yankes Nagreg sampai dengan tahun 2014 tidak ditemukan kasus filariasis.
Tahun 2014 merupakan tahun berakhirnya program POMP Filariasis di Kabupaten
Bandung. Untuk mengetahui keberhasilan POMP Filariasis yang telah dilakukan
selama 5 tahun berturut turut salahsatunya diadakan TAS (Transmision Assesment

Survey). Kegiatan ini mempunyai arti yang sangat penting karena akan
menentukan Nilai Ambang Batas (Critical Cut Off) yang akan menentukan apakah
wilayah Kabupaten Bandung terbebas dari Filariasis (Eliminasi Filariasis) atau
tidak. Kegiatan TAS di wilayah UPTD Yankes Nagreg dengan sasaran anak SD
kelas 1 dan 2. Dari hasil TAS yang dilakukan untuk wilayah UPTD Yankes
Nagreg hasilnya negatif.

2.2 Penyakit Menular Langsung


2.2.1 Diare
Penyakit Diare hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Kabupaten Bandung. Kasus diare diwilayah UPTD Yankes Kec. Nagreg
berdasarkan data jumlah kunjungan pasien yang berobat ke Puskesmas, pada
tahun 2014 sebanyak 2131 kasus, mengalami peningkatan yang cukup tinggi bila
dibanding tahun tahun sebelumnya (2013 : 265 kasus, 2012 : 813 kasus) dengan
kasus kematian akibat diare dari tiga tahun terakhir tersebut nihil dapat dilihat
pada grafik dibawah ini :

Grafik 3.2

Jumlah Penderita Diare di UPTD Yankes Kecamatan Nagreg


Tahun 2010 - 2014

2131

1152
892

813

265

Sumber : UPTD Yankes Nagreg 2014

2.2.1

TB Paru BTA +
Grafik 3.3

Jumlah Penemuan BTA (+) Baru, Konversi BTA(+) Baru dan


Kesembuhan Penderita TB Paru Yang Diobati di UPTD Yankes
Kecamatan Nagreg Tahun 2010 - 2014

81
67
56
40
30

56

56

78 (+)
78
BTA

114 KONVERSI
114
67 (+)
67 BARU 65
BTA

65

KESEMBUHAN

Sumber : data TB Paru UPTD Yankes Nagreg 2013

Jumlah penemuan kasus TB Paru BTA + di UPTD Yankes Nagreg pada


tahun 2014 sebanyak 65 kasus , mengalami penurunan dibanding tahun 2013 dan
2012 yaitu 67 dan 114 kasus penemuan BTA +. Meskipun demikian untuk target
yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung berdasarkan jumlah
penduduk (target 80%) telah memenuhi target. Untuk angka kesembuhan dari
jumlah penderita TB Paru BTA+ yang ditemukan , pada tahun 2011, 2012 dan

2014 angka kesembuhannya belum 100 % hal ini karena masih ada yang belum
tuntas dalam program pengobatannya.
Hal ini menggambarkan bahwa Angka Case Holding atau penanganan
penderita di unit pelayanan kesehatan/Puskesmas sudah baik meskipun Angka
Case finding atau penemuan kasus masih kurang.
2.2.2

Pneumonia
Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) khususnya Pneumonia

masih merupakan penyakit utama, penyebab kesakitan dan kematian bayi dan
balita. Keadaan ini berkaitan erat dengan berbagai kondisi yang melatar belakangi
seperti manultrisi, kondisi lingkungan juga polusi di dalam rumah seperti asap,
debu, dan sebagainya. Penyakit pneumonia

adalah proses infeksi akut yang

mengenai jaringan paruparu (Alveoli). Terjadinya Pneumonia pada anak sering


kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut
bronkopneumonia / pneumonia. Penyakit Pneumonia ditandai dengan batuk pilek
yang disertai nafas cepat atau sesak nafas yang sering diderita oleh balita dari usia
0 5 tahun.
Berdasarkan hasil pencapaian program P2 ISPA UPTD Yankes Nagreg
tahun 2014, cakupan balita penderita pneumonia yang ditemukan berjumlah 846
balita naik dari tahun sebelumnya 806 kasus (tahun 2013), begitu juga dengan
cakupan balita pneumonia yang ditangani sudah mencapai 100% dari jumlah
penemuan kasus.
2.2.3

HIV /AIDS

Tidak ada data


2.2.4

Kusta

Tidak ada data


2.3 Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi
2.3.1

Tetanus Neonatorum

Tidak ada data

2.3.2

Difteria
Penyakit Difteria merupakan penyakit menular akut pada tonsil, pharynk

dan hidung, kadang kadang pada selaput mukosa dan pada kulit. Kuman
penyebab penyakit difteria adalah Corynebcterium diptheriae. Infeksi kuman
biasanya tidak infasive tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin yaitu exotoxin.
Toxin ini mempunyai efek patologik menyebabkan orang menjadi sakit bahkan
menimbulkan kematian (CFR berkisar antara 10-16%).
Penduduk yang paling sring terkena penyakit ini pada umur 1-5 tahun
terutama yang belum pernah mendapatkan vaksinasi atau penduduk yang pernah
kontak dengan strain difteri yang tidak mempunyai respon antibodi atau penduduk
yang tidak pernah sakit difteria yang tidak kebal. Sumber penularannya yaitu pada
manusia yang sakit ataupun karier, sedangkan cara penularannya berupa kontak
langsung dengan penderita/karier, pernafasan, droplet infeksi, benda mati dan
melalui tangan. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan pemberantasan penyakit
difteri, apabila ditemukan 1 (satu) kasus Difteri maka dinyatakan sebagai
Kejadian Luar Biasa (KLB). Berdasarkan data yang ada di UPTD Yankes Nagreg,
Pada periode 2010 - 2014 Untuk wilayah kerja UPTD Yankes Nagreg tidak
ditemukan kasus Difteria.
2.3.3 Pertusis
Tidak ada data.
2.3.4 Hepatitis
Tidak ada data.
2.3.5 Campak
Campak merupakan virus yang ditandai oleh lesi pada kulit dan mukosa
atau selaput berdasarkan data yang ada pada tahun 2014 diwilayah kerja UPTD
Yankes Nagreg tidak ditemukan kasus.
2.3.6

AFP (Acute Flacid Paralysis)


Sasaran utama surveilans AFP adalah kelompok yang rentan terhadap

penyakit poliomyelitis, yaitu anak berusia kurang dari 15 tahun. Surveilans AFP
adalah pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus kelumpuhan yang
sifatnya seperti kelumpuhan pada poliomyelitis dan terjadi pada anak usia kurang
15 tahun dalam upaya menemukan adanya transmisi virus polio liar.

Pada periode 2010-2014 di wilayah kerja UPTD Yankes Nagreg tidak ditemukan
kasus AFP.
C. GANGGUAN GIZI
Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah gizi antara lain
Program Upaya Perbaikan Gizi keluarga (UPGK). Program perbaikan gizi
bertujuan meningkatkan mutu konsumsi pangan sehingga berdampak pada
keaadaan atau status gizi masyarakat.
Masalah utama gizi masih diwarnai dengan masalah Kurang Energi
Protein (KEP), Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi
(AGB) dan Kurang Vitamin A (KVA), utamanya pada kelompok penduduk
tertentu seperti anak anak dan wanita.
Keadaan status gizi di wilayah UPTD Yankes Kecamatan Nagreg pada
tahun 2014 berdasarkan hasil bulan penimbangan balita adalah balita dengan gizi
Normal 83 %, gemuk 9.5 %, gizi kurus 0.4 %, dan bayi sangat kurus sebanyak
0,1 % dari jumlah balita yang ditimbang sebanyak 4972 orang.

Grafik 3.4

Cakupan Status Gizi Balita (BB/TB) di UPTD Yankes Kecamatan


Nagreg Tahun 2014

83

GEMUK

NORMAL

KURUS

SANGAT KURUS

9.5
0.4

0.1

Permasalahan gizi buruk pada anak balita selalu didampingi penyakit, baik
itu penyakit infeksi maupun non infeksi. Penyakit bisa berdampak pada gizi
buruk, atau gizi buruk akan berdampak pada timbulnya beberapa penyakit,
terutama penyakit infeksi. Penyebab utama Gizi buruk karena kurang asupan gizi
pada anak, bisa karena faktor kemiskinan, pengetahuan yang kurang, pola asuh
yang salah, biasanya, keadaan ekonomi keluarga mampu, penyebab gizi buruk
pada anak balita ini oleh karena pola asuh yang salah hingga menyebabkan
malnutrisi.