Anda di halaman 1dari 10

STRATEGI PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERKOTAAN

DI KOTA PADANG, STUDI KASUS KECAMATAN


PADANG BARAT
Wiwi Nelza1) dan Eddy Setiadi Soedjono2)
1

Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus
ITS Sukolili Surabaya, E-mail : wnelza@yahoo.com
2
Dosen Pasca Sarjana Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS
Sukolilo Surabaya, E-mail : soedjono@enviro.its.ac.id

ABSTRAK
Masih kurangnya dana dan perhatian pemerintah dalam pembangunan sarana
sanitasi khususnya air limbah domestik mengakibatkan baru sebagian kecil
masyarakat yang dapat menikmati sarana sanitasi dasar terutama air limbah
domestik. Hal ini mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan. Penelitian ini
bertujuan untuk menyusun strategi pengelolaan sanitasi Kota Padang khususnya
Kecamatan Padang Barat dengan memetakan kondisi sanitasi sub sektor air limbah
domestik dan pemilihan sistem awal pengelolaan di Kecamatan Padang Barat Kota
Padang. Sanitasi lingkungan permukiman yang diteliti difokuskan pada sub sektor
air limbah rumah tangga (domestik). Pendekatan yang dilakukan yaitu dengan
survei EHRA (Environmental Health Risk Assessment) yang telah dimodifikasi
sesuai tujuan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Padang Barat
dengan responden sebanyak 100 responden yang selanjutnya diketahui kondisi
sanitasinya.Dari analisis yang dilakukan ada empat kelurahan dengan kondisi
sanitasi buruk yang menjadi prioritas dalam penanganan pengelolaan air limbah
adapun kelurahan tersebut adalah Kelurahan Flamboyan Baru, Kelurahan Rimbo
Kaluang, Kelurahan Belakang Tangsi dan Kelurahan Purus. Teknologi yang tepat
digunakan adalah sistem setempat walaupun dari kepadatan penduduk sistem yang
digunakan adalah sistem terpusat tapi karena katerbatasan lahan maka sistem
terpusat tidak dapat diterapkan. Berdasarkan analisa SWOT untuk analisis aspek
teknis, aspek kelembagaan dan asnalisis aspek peran serta masyarakat dihasilkan
suatu konsep strategi memasukan sector air limbah sebagai prioritas
pembangunan, peningkatan manajemen kelembagaan, peningkatan alokasi
anggaran melaui pemerintah pusat atau melibatkan peran swasta dan masyarakat
dan pembuatan perda tentang air limbah.

Kata kunci: air limbah domestik, EHRA, Kota Padang, sanitasi

1. PENDAHULUAN
Kota Padang saat ini belum memiliki jaringan perpipaan air limbah, tetapi yang ada
hanya pembuangan air dari bekas mandi, mencuci dan memasak yang dialirkan ke
saluran drainase, sungai melalui saluran terbuka ataupun tertutup, sehingga akan
mencemari lingkungan. Sedangkan air limbah yang berupa tinja manusia diolah
sementara melalui septic tank dan cubluk yang kemudian bila penuh akan ditransfer ke
IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja).

Strategi Pengelolaan Air Limbah Perkotaan Di Kota Padang,


Studi Kasus Kecamatan Padang Barat

Berdasarkan data terakhir di Kota Padang setelah gempa 30 September 2009 sekitar 9%
penduduk Kota Padang tidak mempunyai fasilitas pembuangan air limbah domestik.
Dan 63,80% penduduk yang mempunyai septic tank sedangkan sisanya menggunakan
kolam dan sungai sebagai sarana pembuangan air limbahnya. Kecamatan Padang Barat
dengan kepadatan 8.858 jiwa/Km2 (Badan Pusat Statistik, 2009), merupakan kawasan
pusat kota dan kota tua. Di wilayah Kecamatan Padang Barat sistem yang dipakai
adalah sistem on site dengan jamban pribadi yang ada dirumah masing-masing,
sebagian besar memanfaatkan sungai sebagai tempat mandi, cuci dan kakus,
menggunakan MCK yang tidak layak , membuang secara langsung di badan air, seperti
saluran drainase, sungai dan laut, sehingga terjadi pelanggaran terhadap baku
mutu/pencemaran lingkungan.
Dari aspek lembaga penanggung jawab regulasi dan layanan operasional pengelolaan air
limbah dibawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Padang belum dapat
bekerja secara maksimanl, kinerja yang belum maksimal ini terjadi karena tupoksi DKP
telah menempatkan institusi DKP pada dua wilayah fungsi yaitu fungsi regulasi terkait
dengan kewenangan institusi ini sebagai lembaga teknis daerah, dan fungsi pemberi
layanan umum di bidang kebersihan, pertamanan, yang sebenarnya merupakan ranah
kewenangan suatu dinas daerah.
Oleh karena itu penanganan sistem pembuangan air limbah domestik di Kecamatan
Padang Barat Kota Padang, dengan revitalisasi dan penambahan sarana dan prasarana
sebagai salah satu alternatif dalam pemenuhan kebutuhan akan sarana air limbah
domestik dirasakan cukup efektif serta dibutuhkan kelembagaan yang baik agar dapat
mengatasi masalah air limbah domestik, dan bisa dicapai suatu sistem pembuangan air
limbah yang baik, yang dapat mendukung kehidupan masyarakat, yaitu tingkat kualitas
hidup dan kesehatan masyarakat yang lebih baik.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis sistem pengelolaan air limbah
domestik di Kecamatan Padang Barat Kota Padang dengan memetakan kondisi sanitasi
sub sektor air limbah domestik dan pemilihan sistem awal pengelolaan di Kecamatan
Padang Barat Kota Padang. Dan menentukan strategi pengelolaan air limbah domestik
yang ditinjau dari aspek teknis, aspek kelembagaan, dan aspek peran serta masyarakat.

2. METODOLOGI PENELITIAN
Metoda dalam penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara dengan masyarakat
dan pengamatan langsung di lapangan, dan juga wawancara dan kuisioner terhadap
lembaga yang menangani air limbah domestik untuk memperoleh data baik data primer
maupun data sekunder. Dari hasil data yang diperoleh kemudian dilakukan kajian
terhadap aspek teknis, kelembagaan dan peran serta masyarakat.
Pengumpulan Data
Data primer yang diukur dalam penelitian ini meliputi kondisi eksisting pengolahan air
limbah domestik di Kecamatan Padang Barat.
Data sekunder yang diperlukan meliputi data kondisi wilayah, kependudukan, data-data
mengenai pengolahan air limbah domestic, data kelembagaan, data-data mengenai
peraturan dan kebijakan daerah, data-data mengenai peran serta masyarakat dalam
pengolahan air limbah domestik.

Wiwi Nelza dan Eddy S. Soedjono

Analisis dan Evaluasi


Aspek Teknis
Analisis dilakukan terhadap kondisi eksisting pengolahan air limbah mencakup sarana
air bersih, kepemilikan jamban, tempat pengolahan air buangan domsetik. Analisis dan
ealuasi dilakukan dengan mengunakan EHRA yang nantinya akan menghasilkan
prioritas penanganan untuk tingkat kelurahan berdasarkan pada kerapatan penduduk,
angka kemiskinan, angka kesakitan terhadap penyakit diare dan DHF.
I.

Aspek Kelembagaan
Analisis dilakukan terhadap lembaga/institusi yang membawahi masalah sanitasi.
Dalam hal ini di Kota Padang masalah sanitasi ditangani oleh DInas Kebersihan dan
Pertamanan (DKP) serta Dinas Kesehatan Kota (DKK). Kemudian dilakukan analisis
SWOT, yaitu suatu alat analisis yang dipergunakan untuk merumuskan formulasi
strategi yang diambil.
Aspek Peran Serta Masyarakat
Analisis dilakukan terhadap peran serta dan pastisipasi masyarakat, tokoh masyaraka
tataupun oerganisasi kemasyarakatan dalam mengelolan sarana sanitasi.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakterisitk Rumah Tangga/Responden
Jenis pekerjaan kepala rumah tangga (KRT) menunjukkan pola aktifitas keberadaan di
dalam rumah tangga, tingkat penghasilan, dan pengeluaran suatu keluarga. Responden
yang berada di Kecamatan Padang Barat didominasi profesi pedagang/wiraswasta
sebanyak 40 responden atau sebesar 40% dari 100 responden. Lainnya bekerja sebagai
nelayan/petani/buruh sebanyak 21 responden atau 21 % .
Data yang diperoleh berasal dari responden dengan status Kepala Rumah Tangga (KRT)
sebanyak 57 orang atau sebesar 57%, selanjutnya adalah istri KRT sebanyak 30
responden atau sebesar 30%. Status responden yang paling sedikit adalah orang tua
KRT yaitu hanya 1 orang saja atau 1%.
Jumlah anggota rumah tangga yang terdiri dari empat orang merupakan kelompok
terbesar, yakni sebanyak 38 responden atau sebesar 38%. Sedangkan untuk anggota
rumah yang berjumlah lima orang sebanyak 27 responden atau sebesar 27%.
Variabel yang berhubungan dengan status rumah, seperti kepemilikan rumah diperlukan
untuk memperkirakan potensi partisipasi warga dalam pengembangan program sanitasi.
Bagi warga yang menempati rumah yang dimilikinya sendiri diduga kuat memiliki rasa
memiliki yang tinggi. Kecenderungan warga tersebut akan peduli dengan lingkungan
sekitar termasuk pemeliharaan fasilitas sanitasi dan kebersihan lingkungan. Namun
sebaliknya, bagi warga yang menempati rumah yang bukan miliknya sendiri akan
cenderung mempunyai rasa memiliki yang rendah. Secara mendasar, perbedaan
karakteristik ini akan menuntut pendekatan program yang berbeda.
Sumber Air Minum
Sumber air bersih untuk keperluan air minum sehari-hari masyarakat Kecamatan
Padang Barat sebagian besar sudah menggunakan air dari PDAM hal ini karena
Kecamatan Padang Barat merupakan pusat kota dimana sebagian besar wilayah
Kecamatan Padang Barat sudah dapat dilayani oleh pipa PDAM. Untuk Kelurahan

Strategi Pengelolaan Air Limbah Perkotaan Di Kota Padang,


Studi Kasus Kecamatan Padang Barat

Belakang Tangsi dan Kampung Jao sebagian besar penduduknya menggunakan sumur
sebagai sumber air minum, mandi dan keperluan lainnya.
Jamban dan BAB
Sebagaimana studi EHRA di daerah lainnya, indikator jenis jamban di rumah tangga
dijalankan melalui wawancara, maka terbuka kemungkinan untuk munculnya salah
persepsi tentang jenis yang dimiliki, khususnya bila dikaitkan dengan sarana
pengolahan. Orang seringkali mengklaim bahwa yang dimiliki adalah tangki septik
(septic tank/septik tank). Padahal, yang dimaksud sebetulnya tangki yang tidak kedap
air atau cubluk, yang isinya dapat merembes ke tanah. Oleh karena itu, EHRA juga
mengajukan pertanyaan konfirmasi untuk menggambarkan pemeliharan dan sekaligus
dapat mengindikasikan status keamanan tangki septik yang dimiliki suatu rumah tangga.
Bila pernah dikosongkan, EHRA mencurigai bahwa klaim responden itu benar. Secara
grafis proses mengidentifikasi kasus suspek (dicurigai) tangki septik ataupun
cubluk/bukan tangki septik sebagaimana Gambar 1.
Melaporkan menggunakan tangki septik
(74%)

Dibangun kurang dari 2 thn lalu (5,4%)


Atau antara 2 5 thn lalu (0%)
Tidak bisa
dispesifikasikan

R = 100

Dibangun lebih dari 5


thn lalu (94,6%)

Tidak pernah dikosongkan


(87,14%)

Pernah dikosongkan
(12,8%)

R = 74

R = 70

Suspek cubluk
R=9

Dikosongkan 2 thn lalu atau


kurang (44,47,5%)

Suspek tangki septik

Dikosongkan 2 5 thn
lalu (44,47%)

Suspek tangki septik

Dikosongkan 5 thn lalu


(11,1%)

Suspek cubluk

Gambar 1. Suspek Tangki Septik dan Cubluk Kecamatan Padang Barat


Di Kecamatan Padang Barat diidentifikasi terdapat 74% atau 74 responden yang
melaporkan menggunakan jamban siram ke tangki septik, namun sekitar 95% atau 70
respondennya yang melaporkan bahwa tangki septiknya dibangun lebih dari 5 tahun.
Dari sejumlah itu, terdapat 61 responden atau 87,14% yang tidak pernah mengosongkan
sama sekali tangki septiknya. Ini memberi indikasi atau kecurigaan pada EHRA bahwa
yang 87,14% itu sebetulnya bukan tangki septik melainkan cubluk atau tangki yang
tidak kedap udara dimana akan merembes ke luar tangki. Apabila ada kasus dimana
responden mengosongkan tangki septiknya di atas lima tahun lalu, kondisi seperti ini
pun dapat diidentifikasikan sebagai cubluk. Pada penelitian ini ada 11,1% responden
yang melaporkan bahwa tangki septiknya dikosongkan di atas lima tahun lalu.
Responden yang melaporkan pernah menguras dalam waktu 2 tahun lalu sebanyak 4
responden atau 44,47% dan antara 2 5 tahun lalu juga 4 responden dapat
dikategorikan sebagai suspek tangki septik. Maka dari hasil penelusuran menggunakan
rentang waktu pengosongan diperoleh bahwa dari 74% rumah tangga yang melaporkan

Wiwi Nelza dan Eddy S. Soedjono

memiliki akses jamban siram yang menggunakan tangki septik, sebenarnya 62%
darinya pantas dicurigai sebenarnya menggunakan cubluk. Sebanyak 30% tidak bisa
diidentifikasi apakah menggunakan cubluk atau tangki septik. Hanya 8% yang dicurigai
menggunakan tangki septik sesuai dengan klaimnya.
Sebagian besar warga Kecamatan Padang Barat menggunakan jamban milik pribadi
rumahnya. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil survey bahwa menurut kepemilikan
jamban, sebanyak 65 responden atau 87,84% melaporkan memiliki dan menggunakan
jamban secara pribadi. Dan 9 orang responden atau sekitar 12,16 menggunakan jamban
umum. Gambaran kepemilikan jamban dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Jumlah Responden Menurut Kepemilikan Jamban


Partisipasi Masyarakat
Berdasarkan hasil survey yang sengaja menarik perhatian masyarakat untuk menjawab
pertanyaan pada bagian terakhir rangkaian kuisioner yaitu apakah Anda dan/atau
anggota rumah Anda bersedia berpartisipasi di dalam pengelolaan sanitasi rumah
tangga. Dari beberapa alternatif jawaban pertanyaan tersebut, responden menyatakan
bersedia sebanyak 57 responden atau sebesar 57%. Yang perlu menjadi perhatian adalah
sebanyak 26 responden atau 26% yang menyatakan kepercayaan masyarakat kepada
Pemerintah Kota Padang agar mampu mengelola sanitasi, yang tentunya dengan
harapan mampu memberikan kehidupan masyarakat menjadi semakin bersih dan sehat.
Analisis Kondisi, Permasalahan, Hambatan dan Tantangan
Kondisi masing-masing kelurahan di Kecamatan Padang Barat ditinjau dari beberapa
kriteria dasar identifikasi yang terkait dengan permasalahan sanitasi sektor air limbah
domestik, seperti topografi kawasan, jumlah penduduk, luas wilayah, kepadatan
penduduk, mata pencaharian dan mayoritas tempat buang air besar (BAB). Perumusan
kebijakan dan strategi pengelolaan sanitasi sektor air limbah domestik pada dasarnya
adalah untuk mewujudkan visi pengelolaan kota yang diharapkan akan dapat terjadi
pada masa yang akan datang. Perumusan visi tersebut didasarkan pada isu-isu utama
yang dihadapi dalam pengelolaan sektor air limbah domestik pada saat ini, yang terdiri
dari:
A. Kondisi yang diharapkan dan masalah pengelolaan air limbah
Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Padang Tahun 2008 2028
menyebutkan pemenuhan kebutuhan jamban keluarga maupun jamban komunal serta
MCK bagi masyarakat kurang mampu perlu lebih diperhatikan. Diharapkan pada tahun
akhir perencanaan yaitu 2013 tingkat pelayanan mencapai 87 % dengan rincian
dibutuhkan 154.712 unit jamban keluarga, 483 unit MCK umum dan 4 unit IPLT.

Strategi Pengelolaan Air Limbah Perkotaan Di Kota Padang,


Studi Kasus Kecamatan Padang Barat

B. Tantangan
Kecamatan Padang Barat dengan kepadatan penduduk 8.859 jiwa/Km 2 merupakan
kawasan pusat kota dan kota tua dimana banyak terdapat pertokoan sehingga penduduk
kota Padang banyak yang memilih tinggal di Kecamatan ini. Karena Kecamatan Padang
Barat merupakan kota tua sehingga sangat sulit untuk menata kembali permukiman
warga mengingat banyaknya bangunan lama yang masih dimanfaatkan oleh warga
sebagai tempat tinggal.
Berdasarkan data dari BPS 2009, fasilitas tempat buang air besar masyarakat Kota
Padang dibedakan menjadi fasilitas sendiri, fasilitas bersama (satu fasilitas digunakan
oleh beberapa kepala keluarga, umum (MCK), dan sebagian masyarakat tidak memiliki
fasilitas tempat buang air besar, berikut kondisi eksisting pengolahan air limbah
perkelurahan di Kecamatan Padang Barat seperti tabel 1
Tabel 1. Kondisi Eksisting Jenis Sistem Pengolahan dan Sarana/Prasarana Air Limbah
Rumah Tangga Kecamatan Padang Barat Tahun 2009
NO.

NAMA
KELURAHAN

JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
54

JENIS
SISTEM
Individu
Komunal

CAKUPAN
PELAYANAN
(JIWA)
35
15

1.

Belakang Tangsi

2.

Berok Nipah

21

Individu
Komunal

11
0

3.

Flamboyan Baru

62

Individu
Komunal

52
0

4.

Kampung Jao

44

Individu
Komunal

35
0

5.

Kampung Pondok

42

Individu
Komunal

42
0

6.

Olo

51

Individu
Komunal

47
0

7.

Padang Pasir

37

Individu
Komunal

37
0

8.

Purus

63

Individu
Komunal

32
25

9.

Rimbo Kaluang

50

Individu
Komunal

27
19

10.

Ujung Gurun

40

Individu
Komunal

33
7

Individu
Komunal

351
66
417

JUMLAH

Sumber: Hasil Analisis, 2010

464

Wiwi Nelza dan Eddy S. Soedjono

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 1 di atas, terlihat bahwa pekerjaan peningkatan
pelayanan air limbah yang perlu dilakukan adalah perbaikan tangki septik individual,
pembuatan tangki septik individual, pembuatan jamban individu + tangki septik
komunal, dan pembuatan MCK umum + tangki septik komunal untuk masyarakat yang
tidak memiliki fasilitas pembuangan air limbah.
Aspek Teknis
Setelah memperoleh kondisi eksisting pengolahan air limbah yang berada di Kecamatan
Padang Barat dilakukan pendekatan-pendekatan untuk melakukan analisis aspek teknis
yang nantinya digunakan sebagai salah satu aspek penyusunan sistem pengelolaan
sanitasi, dengan meninjau beberapa komponen yaitu sumber penghasil air limbah,
pemetaan kondisi sanitasi sub sektor air limbah Kecamatan Padang Barat untuk
menentukan area prioritas tingkat resiko sistem pengolahan air limbah domestik
Kecamatan Padang Barat, penanganan di sumber, sistem pengumpulan dan penyaluran,
sistem pengolahan, dan sistem pembuangan.
Pemetaan Kondisi Sanitasi Sub Sektor Air Limbah Kecamatan Padang Barat
Pemetaan kondisi sanitasi sub sektor air limbah didasari atas kondisi yang telah dibahas
sebelumnya (parameter) yaitu kepadatan penduduk saat ini dan proyeksi pertumbuhan
penduduknya, daerah beresiko kesehatan lingkungan buruk (baik menggunakan data
sekunder maupun studi EHRA), data sekunder berupa jumlah rumah tangga miskin dan
pertimbangan daerah pengembangan khusus seperti perkantoran, kampus, dan
pelabuhan/bandara.
Pemetaan prioritas penanganan sanitasi di masing-masing kelurahan di Kecamatan
Padang Barat dengan spesifikasi kondisi sanitasi tersebut. Salah satu metode skoring
yang dilakukan berdasarkan data primer maupun sekunder yang tersedia dengan
indikator-indikator (Anonim, 2007D): kepadatan Penduduk, angka kemiskinan,
ketersediaan air minum, kepemilikan jamban pribadi, ketersediaan sarana sanitasi di
Tempat Tempat Umum (TTU).
Penentuan skala prioritas lokasi lainnya, yang dilandaskan pada kepadatan penduduk,
tingkat sosial ekonomi masyarakat, kondisi sarana & prasarana dibidang sanitasi serta
kondisi kesehatan masyarakatnya (Anonim, 2007E).
Untuk penentuan prioritas pembangunan dan pengembangan sanitasi sub sektor air
limbah di Kota Padang dalam penelitian ini menggunakan data sekunder meliputi
kepadatan penduduk, penderita mutanber/diare dan DHF, jumlah rumah tangga miskin,
dan hasil studi EHRA yang telah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan penelitian ini.
Hasil pembobotan penilaian data sekunder dirangkum pada Tabel 2.
Tabel 2 Nilai Akhir Kondisi Kelurahan Berdasarkan Data Sekunder
NO.

NAMA KELURAHAN

NILAI AKHIR
DATA SEKUNDER

KONDISI

1.
2.
3.
4.

Belakang Tangsi
Olo
Ujung Gurun
Berok Nipah

10
10
10
7

BURUK
BURUK
CUKUP
CUKUP

5.
6.

Kampung Pondok
Kampung Jao

6
10

BAIK
BURUK

Strategi Pengelolaan Air Limbah Perkotaan Di Kota Padang,


Studi Kasus Kecamatan Padang Barat

7.
8.
9.
10.

Purus
Padang Pasir
Rimbo Kaluang
Flamboyan Baru

13
7
14
14

Sumber: Hasil Analisis, 2010

SANGAT BURUK
CUKUP
SANGAT BURUK
SANGAT BURUK

Kondisi perhitungan data sekunder di atas digabungkan dengan kondisi prasarana dan
sarana air limbah rumah tangga yang disurvey dan dianalisis sebelumnya pada masingmasing kelurahan,sehingga akan didapat daerah prioritas seperti table 3.
Tabel 3. Penentuan Area Prioritas Tingkat Resiko Sistem Pembuangan Air Limbah
Domestik Kecamatan Padang Barat
NILAI RESIKO
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

NAMA KELURAHAN

DATA
SEKUNDER

DATA
EKSISTING

NILAI AKHIR
CUKUP

Belakang Tangsi
Olo
Ujung Gurun
Berok Nipah
Kampung Pondok
Kampung Jao

10
10
10
7
6
10

2
1
2
4

Purus
Padang Pasir
Rimbo Kaluang
Flamboyan Baru

13
7
14
14

3
1
1
2

1
2

CUKUP
BURUK
CUKUP
BAIK
CUKUP
BURUK
BAIK
BURUK
BURUK

Sumber: Hasil Analisis, 2010


Berdasarkan hasil tersebut di atas diketahui bahwa terdapat empat kelurahan dengan
kondisi buruk. Dimana keempat kelurahan ini menjadi prioritas dalam perbaikan saran
pengolahan air limbah domestik.
Evaluasi Eksisting Pelayanan Air Limbah Domestik
Hasil analisis EHRA tentang kondisi tangki septik yang ada di masyarakat
menunjukkan terdapat 62% dicurigai menggunakan cubluk, 30% tidak bisa
dispesifikasikan dan hanya 8% yang dicurigai menggunakan tangki septik. Jika nilai di
atas dibandingkan dengan nilai hasil perhitungan kepemillikan sistem pengolahan air
limbah domestik diketahui bahwa 55% menggunakan cubluk, 35% menggunakan tangki
septik dan 10% tidak dapat diidentifikasikan. Hal ini dapat dilihat bahwa kondisi
eksisting yang diakui oleh masyarakat sangat berbeda jauh dengan kondisi studi EHRA.
Namun apabila nilai kondisi eksisting tersebut dibandingkan dengan standar capaian
nasional yang ada untuk cakupan pelayanan air limbah domestik sebesar 40%
menggunakan tangki septik. Artinya kondisi eksisting menurut pengakuan masyarakat
melebihi dari target nasional tersebut, namun jika dibandingkan dengan hasil analisis
EHRA nilai tersebut jauh dibawah target nasional tersebut.
Pemilihan Sistem Prasarana dan Sarana Air Limbah Domestik

Wiwi Nelza dan Eddy S. Soedjono

Menurut Pedoman Standar Pelayanan Minimal tentang Pedoman Penentuan Standar


Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan Dan Permukiman Dan
Pekerjaan Umum yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Permukiman dan
Prasarana Wilayah Nomor 534/KPTS/M/2001, bahwa salah satu yang mendasari
penanganan air limbah domestik adalah kepadatan penduduk suatu wilayah yang mana
terkait dengan jumlah penduduk dan luas wilayahnya.
Berdasarkan kepadatan wilayah kelurahan di Kecamatan Padang Barat maka pemilihan
sistem mengarah lebih dominan kepada sistem setempat dibandingkan sistem terpusat.
Aspek Kelembagaan
Dalam penanganan sub sektor air limbah domestik, peran Pemerintah Kota untuk
sementara ini dijalankan oleh institusi:
Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), yang dijalankan oleh Bidang Sanitasi ;
Dinas Kesehatan Kota (DKK) melalui pelaksaan tugas Seksi Penyehatan
Lingkungan dan Seksi Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dan Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat;
Namun dalam pelaksanaannya antara DKP dan DKK masih tumpang tindih dalam
menangani masalah sanitasi, seperti untuk penyuluhan kepada masyarakat dilaksanakan
oleh kedua instansi ini. Oleh karena itu perlu dikaji lagi tupoksi masing-masing instansi
agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas.
Aspek Peran Serta Masyarakat
Berdasarkan hasil evaluasi melalui EHRA terlihat bahwa sebagain masyarakat . Adanya
aktifitas MCK di mata air/sungai walaupun memiliki fasilitas MCK di rumah, adalah
karena faktor kebiasaan. Hal ini berpotensi mencemari air baku dengan kondisi
tersebut,untuk jenis penyakit yang sering terjadi di Kecamatan Padang Barat adalah
penyakit diare sebanyak 47% , penyakit malaria sebanyak 40%, penyakit demam
berdarah 13 %.
Karena faktor kebiasaan, rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan minimnya
pengetahuan masyarakat tentang sanitasi lingkungan, sehingga tidak peduli pada akibat
yang ditimbulkan oleh aktifitas MCK di sumber air baku. Oleh karena itu perlu
dilakukan pendekatan melalui program-program penyuluhan atau edukasi lingkungan
permukiman sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat di dalam masyarakat secara rutin
dan inovatif.
Analisis SWOT
Berdasarkan analisis SWOT di atas dapat diperoleh suatu konsep strategi yang dapat
dijadikan landasan untuk lebih memperkuat pelaksanaan strategi kemudian hari yaitu
dengan melakukan pemilihan prioritas strategi.
1. Memasukkan sektor air limbah menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah
2. Merestrukturisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan
3. Melakukan pengelolaan prasarana air limbah melalui intervensi sejumlah
program/kegiatan rutin tahunan serta meningkatkan alokasi anggaran dengan
meminta dukungan pemerintah pusat, dan atau menjalin kerjasama dengan dengan
pihak asing, dan atau melibatkan pihak swasta/masyarakat dalam pembiayaannya
4. Bersama-sama dengan legislatif membuat peraturan daerah tentang pengelolaan air
limbah domestik permukiman

Strategi Pengelolaan Air Limbah Perkotaan Di Kota Padang,


Studi Kasus Kecamatan Padang Barat

5.

Menerapkan Good Governance dalam pengelolaan air limbah domestik


permukiman

4. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dengan menggunakan studi EHRA yang telah disesuaikan dengan
kebutuhan tujuan penelitian, didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Kondisi pengolahan air limbah domestik masyarakat di Kecamatan Padang Barat
belum memenuhi syarat menurut EHRA karena tangki septik menurut masyarakat
ternyata adalah cubluk.
2. Dari sepuluh kelurahan yang ada di Kecamatan Padang Barat empat kelurahan
dengan kondisi sanitasi buruk, yaitu Kelurahan Ujung Gurun, Kelurahan Purus,
Kelurahan Rimbo Kaluang dan Kelurahan Flamboyan Baru. Lima kelurahan ini
akan menjadi prioritas dalam penanganan pengolahan air limbah domestic di
Kecamatan Padang Barat.
3. Hasil analisis EHRA tentang kondisi tangki septik yang ada di masyarakat
menunjukkan diatas capaian standar capaian nasional sebesar 40% menggunakan
tangki septik artinya kondisi eksisting menurut pengakuan masyarakat melebihi
dari target nasional tersebut, namun dengan hasil analisis EHRA nilai tersebut jauh
dibawah target nasional.
4. Hasil pemilihan sistem awal pengelolaan air limbah domestik di Kecamatan Padang
Barat untuk semua kelurahan mengunakan sistem setempat mengingat Kecamatan
Padang Barat sudah padat dan tidak ada lahan kosong yang dapat digunakan untuk
pembangunan sarana pengolahan air limbah sistem terpusat.

5. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2003, Pedoman Pengelolaan Air Limbah Perkotaan, Direktorat Jenderal Tata
Perkotaan dan Tata Perdesaan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,
Jakarta.
Anonim, 2004A, Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 12 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Organisasi Dinas Daerah Kota Padang, Padang.
Anonim, 2004B, Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 13 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Padang,
Padang.
Anonim, 2008A, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Kota
Padang Tahun 2009 2014, Pemerintah Kota Padang, Padang.
Anonim, 2008B, Rencana Pembangunan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Daerah
Kota Padang Tahun 2009 2014, Pemerintah Kota Padang, Padang.
Anonim, 2008C, Ringkasan Eksekutif Rencana Strategis Sanitasi 2007 - 2012 Kota
Padang, Kelompok Kerja Sanitasi Kota Padang, Kota Padang.
Rangkuti, F., 2006, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, cetakan
keduabelas, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Rimbatmaja, Risang, 2007, Panduan Desain Survai Permintaan Layanan Sanitasi Aktual
Berbasis Utilitas (SPE-LASA), BAPPENAS/WSP-EAP, Jakarta.
Rimbatmaja, Risang, 2008, Survai Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan,
BAPPENAS/WSP-EAP, Jakarta.
TTPS, 2009, Buku Referensi Pilihan Sistem dan Teknologi Sanitasi, Tim Teknis
Pembangunan Sanitasi, Jakarta.