Anda di halaman 1dari 31

BAB-4 NERACA MASSA DAN ENERGI

Bab ini membahas pengembangan metode sederhana, cepat dan bermanfaat untuk mengevaluasi
diagram alir proses. Secara khusus, bab ini mengembangkan strategi untuk menyelesaikan
neraca massa dan energi rangkaian proses. Pekerjaan ini merupakan salah satu bagian paling
penting dan paling memakan waktu.

4.1 PENDAHULUAN
Evaluasi konseptual diagram alir proses memerlukan perhitungan neraca massa dan energi detil
yang memakan waktu. Perhitungan neraca massa dan energi yang tepat sangat diperlukan untuk
perhitungan dimensi peralatan dan analisis ekonomi. Solusi neraca massa dan energi telah
dibahas secara detil dalam kuliah awal teknik kimia. Dengan demikian diharapkan mahasiswa
telah menguasai konsep dasarnya. Dalam bab ini, dikembangkan perhitungan dengan cara
pandang menyeluruh untuk rangkaian sistem proses. Sejumlah pendekatan dapat mengurangi
kerumitan masalah dan menyederhanakan perhitungan. Dengan pendekatan demikian, memang
sedikit banyak mengorbankan kecermatan dalam perhitungan. Meskipun begitu, tujuan strategi
ini adalah mengembangkan hubungan sederhana variabel kunci yang memungkinkan dapat
memperoleh wawasan calon rancangan dan perhitungan lengkap. Untuk lebih detil dan
kecermatan perhitungan, telah tersedia banyak program komputer atau simulasi proses seperti
Hysys, Chemcad, Prosim, Design II for Windows, dan masih banyak lagi.
Model diagram alir proses dapat berupa himpunan persamaan tak linier yang
menggambarkan:
a) hubungan antara unit melalui aliran proses;
b) persamaan spesifik untuk tiap unit (neraca massa dan energi internal); dan
c) hubungan sifat-sifat fisika (sifat-sifat termodinamika dan sifat transpor lain).
Himpunan persamaan dapat mencapai ribuan. Untuk menyelesaikan persamaan dikenal dua
metode yaitu modular dan orientasi persamaan.
Metode modular melakukan perhitungan untuk tiap unit. Selanjutnya hasil perhitungan
sebelumnya dipakai sebagai masukan ke unit sesudahnya. Demikian dilakukan berurutan sesuai
hubungan dalam diagram alir proses. Prosedur iterasi diperlukan ketika terdapat aliran atau
informasi daur ulang. Dengan perhitungan seperti ini, pengetahuan tiap unit dapat dimengerti
secara baik dan prosedur perhitungan lebih handal. Kuliah neraca massa biasanya memakai
metode modular . Metode orientasi persamaan melakukan perhitungan simultan untuk seluruh
persamaan proses (neraca massa dan energi, kinerja peralatan, termodinamika, transpor massa,
dll). Keunggulan metode ini adalah memberikan strategi solusi lebih efisien.

4.2 PENGEMBANGAN MODEL UNIT UNTUK NERACA MASSA


Ketika suhu dan tekanan umpan serta produk dapat ditetapkan, maka dapat dikembangkan sistem
persamaan linier untuk tiap unit. Dari seluruh persamaan linier yang diperoleh dapat diselesaikan
secara simultan dengan operasi matriks. Penyelesaian operasi matriks dapat dilakukan dengan
perangkat lunak EXCELTM. Strategi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Tetapkan semua suhu dan tekanan untuk seluruh aliran proses
b) Perkirakan split fraction untuk tiap unit yaitu perbandingan antara laju molar
salah satu keluaran terhadap umpan.
c) Gabungkan seluruh persamaan linier yang diperoleh dan selesaikan neraca massa
keseluruhan.
d) Hitung ulang suhu dan tekanan dari hubungan keseimbangan tiap unit
e) Jika tidak ada perbedaan yang berarti, lanjutkan ke langkah (f). Jika tidak,
kembali ke langkah (a)
f) Berdasar suhu dan tekanan yang diperoleh, hitung neraca energi dan beban panas.
Dalam rangka menyelesaikan persamaan linier, diasumsikan seluruh aliran uap dan cairan
memliki perilaku keseimbangan ideal (khususnya langkah-b) dan, kecuali disebutkan lain,
seluruh aliran pada kondisi jenuh. Dengan asumsi ini, sifat-sifat fisika dapat dihitung lebih
mudah. Dalam uraian ini, data fisika berdasar pada Reid (1987). Keunggulan pendekatan ini
adalah, perhitungan menjadi mudah. Penyelesaian hanya membutuhkan sedikit iterasi untuk
mencapai konvergensi.

4.2.1

NERACA MASSA LINIER UNIT SEDERHANA

Pembuatan sistem persamaan linier memakai strategi berikut. Tiap unit memiliki aliran masuk
dan keluar. Tip-tiap aliran diberi notasi, Fij dengan i adalah nomor aliran dan j adalah nomor
komponen (spesies) dalam aliran. Sehingga F12 artinya laju alir komponen 2 dalam aliran proses
nomor 1.
1) Mixer atau Titik Pertemuan
Dalam mixer terjadi pencampuran beberapa aliran menjadi satu aliran keluar. Komposisi
komponen dalam tiap-tiap aliran tetap sama. Pada titik pertemuan berlaku "jumlah aliran
masuk sama dengan jumlah aliran keluar".

Gambar 4.1 Unit mixer.


Aliran keluar (Fm) merupakan jumlah aliran masuk.

NC

Fmj = Fij
i=1
NC

Fmj Fij =0
i=1

dengan,
Fij aliran komponen j dalam aliran masuk i
Fmj aliran komponen j dalam aliran keluar m
Nc jumlah komponen
Contoh-1:
Mixer dengan tiga aliran masuk yang mengandung empat komponen.

Sistem persamaan untuk unit mixer,


F1,1 + F 2,1 + F 9,1=F3,1
F1,2 + F 2,2 + F 9,2=F3,2
F1,3 + F 2,3 + F 9,3=F 3,3
F1,4 + F 2,4 + F 9,4 =F3,4
Dalam bentuk persamaan implisit,
F1,1 + F 2,1 + F 9,1F3,1 =0
F1,2 + F 2,2 + F 9,2F3,2 =0
F1,3 + F 2,3 + F 9,3F 3,3=0
F1,4 + F 2,4 + F 9,4 F3,4 =0

2) Splitter atau Titik Pembagi


Dalam splitter terjadi pembagian satu aliran menjadi beberapa aliran keluar. Komposisi
komponen dalam tiap-tiap aliran tetap sama. Pada titik pemabagi berlaku "laju aliran
masuk sama dengan jumlah laju aliran keluar". Laju tiap-tiap komponen dalam aliran
masuk terbagi menjadi fraksi-fraksi dalam aliran keluar.

Gambar 4.2 Unit splitter.


Perbandingan antara salah satu aliran keluar dan aliran masuk disebut fraksi pembagian
(split fraction),
F
= i
Fn
dengan,
fraksi pembagian
Fi aliran keluar i
Fn aliran masuk n
Fraksi pembagian untuk tiap-tiap komponen dalam splitter nilainya sama besar. Sehingga
dapat dituliskan,
F
= i , j
Fn , j
dengan,
Fi,j aliran komponen j dalam aliran keluar i
Fn,j aliran komponen j dalam aliran masuk n
Persamaan neraca massa untuk unit splitter terdiri atas dua kelompok. Satu kelompok
neraca massa total, dan satu kelompok neraca massa pembagian.
Neraca total:
NC

F ij=Fnj
i=1
NC

F ij Fnj=0
i=1

Neraca pembagi:
Fi = F n
Fi F n=0
Contoh-2:
Splitter dengan dua aliran keluar yang mengandung empat komponen.

Sistem persamaan untuk unit splitter,


F8,1 =F9,1 + F 10,1
F8,2 =F9,2 + F 10,2
F8,3 =F 9,3+ F10,3
F8,4 =F 9,4 + F 10,4
F9,1 = F 8,1
F9,2 = F 8,2
F9,3 = F 8,3
F9,4 = F8,4
Dalam persamaan implisit.
F8,1 F9,1 F10,1 =0
F8,2 F9,2 F10,2 =0
F8,3 F 9,3F 10,3=0
F8,4 F 9,4F 10,4 =0
F9,1 F 8,1=0
F9,2 F 8,2=0
F9,3 F 8,3 =0
F9,4 F8,4 =0

4.2.2

REAKTOR
Persamaan neraca massa dalam reaktor dapat disederhanakan dengan menetapkan nilai
konversi molar komponen kunci. Hasilnya berupa persamaan neraca massa yang linier
dan mudah diselesaikan. Dalam metode ini, ditetapkan satu komponen kunci. Kemudian
koefisien stoikhiometri dinormalkan terhadap komponen kunci. Artinya, masing-masing
koefisien reaksi dibagi dengan koefisien komponen kunci. Koefisien reaktan bernilai

negatif. Koefisien produk bernilai positif. Laju alir tiap komponen yang keluar dari
reaktor adalah,
Fn , j + X k F n ,k =Fi , j
dengan,
Fn,j laju alir komponen j pada aliran masuk n,
Fn,k laju alir komponen kunci k pada aliran masuk n,
Fi,j laju alir komponen j pada aliran keluar i,
koefisien reaksi (negatif untuk reaktan dan positif untuk produk),
Xk konversi molar komponen kunci k.
Contoh berikut dapat dipakai untuk memahami sistem persamaan pada unit reaktor.
Contoh-3
Reaktor dengan konversi tetap.

Gambar 4.3 Unit Reaktor.


Aliran umpan masuk ke dalam reaktor dan terjadi reaksi berikut.
Reaksi-1: 2A + B 3C
Rekasi-2: A + B 2E
Komponen A sebagai komponen kunci dengan konversi sebesar XA1 untuk reaksi-1 dan
XA2 untuk reaksi-2. Maka persamaan reaksi tersebut dapat dinormalkan menjadi,
Reaksi-1: A + B 3/2 C
Reaksi-2: A + B D
Tabel 4.1 Neraca massa dalam reaktor (Komponen 1 = A, 2 = B, 3 = C, 4 = D)
A
F31

B
F32

C
F33

D
F34

Reaksi-1

-XA1F31

-0,5XA1F31

1,5XA1F31

Reaksi-2

-XA2F31

-XA2F31

XA2F31

F41

F42

F43

F44

Aliran-3 (masuk)

Aliran-4 (keluar)

Persamaan neraca massa:


F41 = F31 - XA1F31 - XA2F31

F42 = F32 - 0,5XA1F31 - XA2F31


F43 = F33 + 1,5XA1F31
F44 = F34 + XA2F31
Persamaan implisit,
F41 = F31 - XA1F31 - XA2F31
F42 = F32 - 0,5XA1F31 - XA2F31
F43 = F33 + 1,5XA1F31
F44 = F34 + XA2F31

4.2.3

UNIT FLASH
Unit flash atau separator flash adalah unit pemisah antara uap (gas) dan cair satu tahap
secara kontinyu.

Gambar 4.4 Unit atau separator flash.


Dalam unit flash terjadi pemisahan komponen. Komposisi dalam aliran atas berbeda
dengan komposisi dalam aliran bawah. Perbedaan komposisi dinyatakan dengan fraksi
pemisahan. Fraksi pemisahan adalah perbandingan antara laju molar komponen dalam
salah satu aliran keluar dan laju molar komponen dalam aliran masuk. Aliran keluar yang
dipakai biasanya aliran atas (fraksi pemisahan atas).

v j V y j Fi, j
=
=
f j F z j Fn, j
dengan,
j fraksi pemisahan komponen j
vj aliran komponen j dalam aliran atas
fj aliran komponen j dalam aliran masuk
Fi,j aliran komponen j dalam aliran keluar i (biasanya aliran atas)
Fn,j aliran komponen j dalam aliran masuk n
Selain fraksi pemisahan tiap komponen, didefinisikan juga frak pemisahan total, yaitu
V
=
F
atau secara umum
F
= i
Fn
dengan,
fraksi pemisahan total
V aliran atas
F aliran umpan
Fi aliran keluar i (biasanya aliran atas)
Fn aliran masuk n
j=

Pengembangan model flash dimulai dengan menentukan fraksi pemisahan (split fraction)
komponen kunci k. Kemudian fraksi pemisahan komponen lain ditentukan berdasar
hubungan,
1
j

atau
1+

j= j k
poj K j
j= o =

pk K k
dengan,

K k
Kj

K k +
K
j= j k
o

dan

K j=

pj
P

j fraksi pemisahan komponen j


k fraksi pemisahan komponen kunci k
j volatilitas relatif komponen j terhadap komponen kunci k
poj tekanan uap murni komponen j
Kj konstantda keseimbangan komponen j
Komponen kunci k dipilih komponen yang paling banyak dalam fase cair. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi kesalahan (error) jika memakai pendekatan kondisi ideal.
Perhitungan lebih teliti dapat dilakukan jika memperhitungkan koefisien fugasitas uap

(), koefisien aktivitas cair (), dan fugasitas komponen murni (f). Namun dalam banyak
kasus, pendekatan ideal masih cukup relevan.
Dalam unit flash terdapat empat variabel penting yaitu: k , , T (suhu)
dan P (tekanan). Dalam perancangan perlu ditetapkan dua dari empat variabel tersebut.
Sehingga terdapat tiga kasus perhitungan, yaitu dengan ditetapkan:
a) k , T (atau P),
b) T dan P (flash isotermal), atau
c) , T (atau P).
Kasus (a) sangat cocok untuk perancangan dengan metode hitung singkat. Kasus (b) dan
(c) diperlukan untuk evaluasi operasi dan analisis rancangan.
Hubungan antara suhu (T) dan tekanan uap dapat memakai persamaan Antoine.
Untuk kebutuhan yang lebih teliti dapat memakai persamaan lain (Reid, 1987).
B
ln ( po ) =A
T +C
dengan,
po tekanan uap murni (Pa, mmHg, psi).
A , B , C konstanta Antoine,
T suhu operasi (oC, K, oF).
Kasus-1: Ditetapkan k , T (atau P)
Langkah penyelesaian jika ditetapkan k

dan P

a) Buat nilai awal T


b) Hitung tekanan uap murni untuk tiap-tiap komponen dengan memakai persamaan
Antoine.
c) Hitung volatilitas relatif komponen j terhadap komponen kunci ( j ) pada suhu
T
d) Hitung fraksi pemisahan tiap komponen j dari persamaan
1
j

1+

j= j k

e) Buat neraca massa dan hitung fraksi molnya


N
vj

F
z
vi =
dan
yj =
dengan
V = v j
j
j
V
j=1
N
1
lj
lj = ( j ) F z j
dan
xj =
dengan
L= l j
L
j=1

f) Periksa apakah jumlah fraksi masing-masing fase uap dan cair (yj dan xj) bernilai
satu. Jika tidak, ubah suhu (T) dan kembali ke langkah (b).
Langkah penyelesaian jika ditetapkan k

dan T

a) Buat nilai awal P


b) Hitung tekanan uap murni untuk tiap-tiap komponen (po) dengan memakai
persamaan Antoine.
c) Hitung konstanta keseimbangan tiap komponen pada suhu T
po
K j= j
P
d) Hitung fraksi pemisahan tiap komponen j dari persamaan
K k
Kj

K k +
K
j= j k
e) Buat neraca massa dan hitung fraksi molnya
N
vj
vi = j F z j
dan
yj =
dengan
V = v j
V
j=1
N
1
l
lj = ( j ) F z j
dan
xj = j
dengan
L= l j
L
j=1

f) Periksa apakah jumlah fraksi masing-masing fase uap dan cair (yj dan xj) bernilai
satu. Jika tidak, ubah tekanan (P) dan kembali ke langkah (b).
c

Kasus-2: Ditetapkan T dan P


Langkah penyelesaian:
a) Buat nilai awal fraksipemisahan komponen kunci ( k )
b) Hitung tekanan uap murni untuk tiap-tiap komponen (po) dengan memakai
persamaan Antoine.
c) Hitung konstanta keseimbangan tiap komponen pada suhu T
poj
K j=
P
d) Hitung fraksi pemisahan tiap komponen j dari persamaan

K k
Kj

K k +
K
j= j k
e) Buat neraca massa dan hitung fraksi molnya
vi = j F z j

dan

1
lj = ( j )F z j

dan

yj =
xj =

vj
V

Nc

V = v j

dengan

lj
L

j=1

dengan

Nc

L= l j
j=1

f) Periksa apakah jumlah fraksi masing-masing fase uap dan cair (yj dan xj) bernilai
satu. Jika tidak, ubah fraksi pemisahan komponen kunci ( k ) dan kembali ke
langkah (b).
Kasus-3: Ditetapkan

dan P (atau T)

Langkah penyelesaian:
a) Buat nilai awal T (atau P)
b) Hitung tekanan uap murni untuk tiap-tiap komponen (po) dengan memakai
persamaan Antoine.
c) Hitung konstanta keseimbangan tiap komponen pada suhu T (atau tekanan P) dan
definisikan, faktor separasi,
=

K k
(1 )

k=

1+

d) Hitung fraksi pemisahan tiap komponen j dari persamaan


K k
Kj

K k +
K
j= j k
e) Buat neraca massa dan hitung fraksi molnya

vi = j F z j

dan

yj =

vj
V

Nc

dengan

V = v j
j=1

N
1
lj
lj = ( j )F z j
dan
xj =
dengan
L= l j
L
j=1

f) Periksa apakah jumlah fraksi masing-masing fase uap dan cair (yj dan xj) bernilai
satu. Jika tidak, ubah T (atau P) dan kembali ke langkah (b).
c

Persamaan neraca massa untuk unit flash terdiri atas dua kelompok. Satu kelompok
neraca massa total, dan satu kelompok neraca massa pemisahan.
Neraca total:
NC

F ij=Fnj
i=1
NC

F ij Fnj=0
i=1

Neraca pemisahan:
Fij = j F nj
Fij j F nj =0

Contoh-4:
Unit flash dengan dua aliran keluar yang mengandung empat komponen.

Sistem persamaan untuk unit flash,


F 4,1=F 5,1+ F 6,1
F 4,2=F 5,2+ F 6,2
F 4,3=F 5,3 + F6,3
F 4,4=F 5,4 + F 6,4
F5,1 = 1 F 4,1

F5,2 = 2 F 4,2
F5,3 = 3 F 4,3
F5,4 = 4 F 4,4
Dalam persamaan implisit.
F 4,1F 5,1F6,1 =0
F 4,2F 5,2F6,2 =0
F 4,3F 5,3F 6,3=0
F 4,4F 5,4 F 6,4 =0
F5,1 1 F 4,1=0
F5,2 2 F 4,2=0
F5,3 3 F 4,3 =0
F5,4 4 F 4,4=0

4.2.4

MODEL DISTILASI
Operasi distilasi dapat digambarkan sebagai susunan bertingkat tahap keseimbangan.
Masing-masing tahap dapat diselesaikan sebagai unit flash. Aliran umpan masuk pada
tahap bagian tengah. Pada bagian bawah, produk cair dikeluarkan. Reboiler menguapkan
cairan pada tahap paling bawah. Aliran uap dan cair mengalir berlawanan arah dalam
kolom distilasi. Uap meninggalkan tahap paling atas dan diembunkan. Cairan hasil
pengembunan dikeluarkan. Sebagian cairan dikembalikan ke dalam kolom sebagai aliran
refluks.

Gambar 4.4 Unit flash.

Penyelesaian neraca massa dalam kolom distilasi memakai konsep fraksi


pemisahan (split fraction) seperti dalam unit flash. Ditetapkan L (fraksi pemisahan
komponen kunci ringan), H (fraksi pemisahan komponen kunci berat), dan tekanan
kolom atas (Pt). Tekanan kolom bawah (Pb) adalah jumlah antara tekanan kolom atas dan
kehilangan tekanan (pressure drop).

Penentuan Fraksi Pemisahan


Aliran dalam kolom distilasi paling banyak terdapat lima jenis komponen.
a)
b)
c)
d)
e)

Komponen yang lebih ringan dari pada komponen kunci ringan


Komponen kunci ringan
Komponen yang berada di antara dua komponen kunci
Komponen kunci berat
Komponen yang lebih berat dari pada komponen kunci berat

Sebagaimana dalam unit flash, uap dan cairan dianggap berperilaku ideal. Volatilitas
relatif ( ) tidak terlalu dipengaruhi suhu dan tekanan, sehingga dianggap tetap. Selain
itu, dalam menyelesaikan neraca massa perlu diketahui fraksi pemisahan komponen
terdistribusi. Setelah perhitungan neraca massa, selanjutnya ditentukan jumlah tahap dan
suhu kolom. Perhitungan jumlah tahap memakai persamaan Fenske untuk refluks total.
Dengan persamaan ini dapat diperkirakan jumlah tahap minimum dan distribusi produk.

Gambar 4.5 Tahap-tahap demi tahap pada refluks total.

N m=

L=

Jumlah tahap minimum dihitung memakai persamaan Fenske, dengan memakai fraksi
pemisahan,
L ( 1 H )
ln
H ( 1 L )

ln LH
dengan,
Nm jumlah tahap minimum
LH - volatilitas relatif komponen kunci ringan terhadap komponen kunci berat
Fraksi pemisahan komponen kunci ringan dan berat adalah,

dL
fL

H=

dH
fH
dengan,
dL, dH berturut-turut laju komponen kunci ringan dan berat dalam distilat
fL, fH berturut-turut laju komponen kunci ringan dan berat dalam umpan
Hubungan antara L , H , LH , dan Nm adalah,

L
H
N
=( LH )
1 L
1 H
m

Dengan menyusun ulang persamaan di atas, dapat diperoleh persamaan untuk


menghitung fraksi pemisahan komponen j, yaitu
Nm

( j ) H
j=
1+ { ( j ) N 1 } H
m

Persamaan di atas menjadi fraksi pemisahan untuk unit flash jika Nm sama dengan satu.
Dari persamaan tersebut, dapat dihitung fraksi pemisahan setiap komponen. Sistem
persamaan neraca massa serupa dengan unit flash yaitu terdiri atas dua kelompok. Satu
kelompok neraca massa total, dan satu kelompok neraca massa pemisahan.
Neraca total:
NC

F ij Fnj=0
i=1

Neraca pemisahan:
Fij j F nj =0

Penentuan Suhu dan Tekanan


Suhu (atau tekanan) dalam kolom distilasi menentukan pemulihan (recovery) komponen
kunci. Kendala penetapan suhu atau tekanan kolom ditentukan oleh suhu air pendingin
(Tcw) dalam kondensor dan suhu steam (Ts) dalam reboiler.

Gambar 4.6 Suhu dalam kolom distilasi


Tekanan kolom bagian atas adalah yang terendah. Makin ke bawah, tekanan semakin
besar. Demikian juga suhu dalam kolom. Hubungan suhu berikut terdapat dalam kolom
distilasi.
Tcw Tbub,C Tdew,C Tbub,R Tdew Ts
Tekanan kolom dapat dipilih sehingga memenuhi kendala berikut.
a) Pilih tekanan kondensor sehingga suhu gelembung (bubble point) lebih besar dari
pada suhu air pendingin ditambah 5 oC.
b) Pilih tekanan kondensor sehingga seluruh suhu gelembung di bawah suhu kritik
campuran
c) Pilih tekanan kolom di atas atmosferik.
Kendala tersebut di atas sulit diterapkan pada distilasi yang melibatkan komponen yang
tak mengembun atau komponen tak menguap. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu
dipakai kondensor dan reboiler parsial. Neraca massa di kondensor serupa dengan unit
flash.
4.2.5

MODEL ABSORPSI KOLOM PELAT


Absorpsi adalah operasi penyerapan komponen dalam fase gas dengan memakai cairan
penyerap. Kebalikan dari absorpsi adalah stripping (pelucutan) yaitu pelepasan
komponen dalam fase cair ke dalam fase gas. Untuk kedua operasi tersebut, dipakai
anggapan tahap keseimbangan ideal.

Dalam sistem absorpsi, terdapat empat derajat kebebasan untuk menetapkan


neraca massa. Satu aliran umpan gas/uap diketahui. Kemudian tekanan pada tahap
keseimbangan bagian aas dapat ditetapkan. Tekanan kolom bagian bawah merupakan
jumlah antara tekanan atas ditambah kehilangan tekanan dalam kolom. Jumlah tahap
keseimbangan (N) juga ditetapkan untuk recovery komponen kunci (atau sebaliknya).
Akhirnya perlu ditetapkan suhu (To) dan laju alir cairan masuk (Lo). Untuk operasi
stripping diperlukan suhu (TN+1) dan laju alir gas (VN+1).

Gambar 4.7

Diagram
operasi absorpsi.

Pada tahap ke-i untuk komponen j terdapat hubungan,


K ij

l ij v ij
=
Li V i

Dengan menghilangkan indeks komponen j dan hanya laju molar komponen


kuncai maka setelah diatur ulang menghasilkan,

Li
v
Ki V i i

( )

l i=

Didefinisikan Ai sebagai faktor absorpsi pada tahap i,


L
A i= i
Ki V i
Nilai Ai tidak konstan sepanjang kolom. Dalam praktik dipakai nilai Ae yaitu
faktor absorpsi efektif yang nilainya dianggap konstan.
Lo
A e=
K k V N +1
Nilai Ae untuk komponen yang menghasilkan laju alir cairan optimum kunci
adalah 1,4 (Douglas, 1988). Dengan spesifikasi ini maka fraksi pemisahan untuk
komponen lain dapat dihitung, dan sistem persamaan neraca massa dapat disusun.
Algoritma absorpsi adalah sebagai berikut.
a) Pilih komponen kunci k, dan tetapkan besarnya recovery yang diinginkan
misalnya 0,99 (r = 0,99). Tetapkan tekanan (P) dan suhu penyerap (T).
b) Hitung Lo dari,
A e=

Lo
=1,4
K k V N +1

dengan
pok
K k=
P
K k=

H
P

jika suhu operasi di bawah titik kritik komponen gas,


jika suhu operasi di atas titik kritik komponen gas,

pko tekanan uap murni komponen kunci,


H konstanta Henry.
c) Hitung jumlah tahap dengan persamaan Kremser,
ln
N=

r V N+1 + x o Lo A e V N +1
x o Lo Ae (1r)V N +1

ln A e

Catatan:
Jika r = 0,99 dan xo = 0, maka N = 10)
d) Hitung faktor absorpsi komponen lain (selain komponen kunci),

Lo
=1,4
K j V N +1
e) Susun neraca massa tiap komponen,
v

v 1, j= N +1, j + N1, j x o , j Lo
N, j
N , j
N1, j
1
l N , j = 1
x o , j Lo+ 1
v
N, j
N , j N +1, j
A j=

dengan,
N +1

( 1A j)
N , j=
( 1 A j )

f) Ubah P atau T jika:


suhu keluar cairan terlalu tinggi (periksa persamaan bubble point)
terjadi perubahan suhu yang cukup besar antara kolom atas dan bawah.
Gunakan persamaan Edmister untuk menghitung faktor absorpsi.
0,5
1
A e = A bottom ( 1+ A top ) +
0,5
4

4.2.6

terlalu banyak penyerap teruapkan, perbesar P dan perkecil T


telalu banyak komponen yang tak diinginkan terserap, perbesar T,
perkecil P atau pilih penyerap yang lebih sesuai

SISTEM PERSAMAAN LINIER DALAM NERACA MASSA

Pada bagian sebelumnya telah dikembangkan model fraksi pembagian atau pemisahan (split
fraction) dalam beberapa unit operasi dan unit proses. Pada bagian ini akan diberikan contoh
sintesis persamaan neraca massa dalam klorinasi butena menghasilkan dikloro-butana.
Contoh-5
Klorinasi butilen (butena) dalam reaktor menghasilkan dikloro-butana (DCB) melalui reaksi,
CH2=CH-CH2-CH3 + Cl2 CH2Cl-CHCl-CH2-CH3
Untuk menghindari reaksi samping yang merugikan, umpan butena yang masuk reaktor
dilebihkan (ekses) dengan perbandingan molar butena terhadap klor sebesar 5 dibanding 1
sehingga gas klor habis bereaksi. Keluaran reaktor didinginkan dan dipisahkan dalam kolom
distilasi sehingga 99 % butena yang masuk kolom dapat diperoleh kembali (recovery 99%).
Produk atas distilasi dialirkan kembali ke dalam reaktor. Diinginkan produksi dikloro-butana

101.600 ton per tahun. Tentukan laju alir dan komposisi seluruh aliran jika dianggap pabrik
beroperasi 8000 jam per tahun.

Gambar 4.8 Diagram alir proses pembuatan diklorobutana


Produk DCB = 101.600 ton/tahun = 12700 kg/jam = 100 kmol/jam.
Sehingga gas klor diperlukan sebesar = 100 kmol/jam. Pada aliran-3, perbandingan mol B : C =
5 : 1, sehingga,
atau

F32 : F31 = 5 : 1
F32 = 5 F31

Karena pada aliran-1 dan aliran-6 tidak mengandung klor maka, klor pada aliran-3 hanya berasal
dari umpan aliran-2, sehingga,
F32 = 5 (100) = 500 kmol/jam atau

F12 + F62 = 500 kmol/jam

Pada reaktor konversi klor = 100% (gas klor habis bereaksi), sehingga
X1 = 1
koefisien reaksi masing-masing adalah 1, sehingga
1 = -1
2 = -1
3 = 1
Umpan
Aliran-1

F11 = 0
F12 + F62 = 500
F13 = 0

Aliran-2

F21 = 100
F22 = 0
F23 = 0

Mixer (titik pertemuan)


F11 + F21 + F61 - F31 = 0
F12 + F22 + F62 - F32 = 0
F13 + F23 + F63 - F33 = 0
Reaktor
F31 - F31 - F41 = 0
F32 - F31 - F42 = 0
F33 + F31 - F43 = 0
Penukar panas
Di sini tidak terjadi perubahan aliran molar, sehingga
F41 - F51 = 0
F42 - F52 = 0
F42 - F53 = 0
Distilasi
Di sini hanya berisi komponen-2 dan 3 (biner), dengan faktor pemisahan 2 = 0,99
maka
3 = 1 - 2 = 0,01 (ini hanya berlaku untuk biner!)
1 = 0
2 = 0,99
3 = 0,01
Catatan: karena aliran-4 dan 5 tidak mengandung klor, maka faktor pemisahan S 1 dapat
diisi nilai sembarang (0 atau 1).
Diperoleh
0
F51 - F61 = 0
0,99 F52 - F62 = 0
0,01 F53 - F63 = 0
F51 - F61 - F71 = 0
F52 - F62 - F72 = 0
F53 - F62 - F73 = 0
Sistem persamaan linier yang dihasilkan adalah memiliki,
dan

3 x 7 variabel aliran
3 x 7 persamaan

sehingga derajat kebebasan = 0. Atau dengan kata lain, sistem persamaan linier memiliki satu
jawaban.
Untuk memudahkan pemasukan ke lembar kerja EXCELTM susunan sistem
persamaan linier dapat disajikan sebagai berikut.
F11
F12
F13

F11
F12
F13

+F62
F21
F22
F23
+ F21
+ F22
+ F23

- F31
- F32
- F33
F31 - F31
F32 - F31
F33 + F31

+ F61
+ F62
+ F63
- F41
- F42
- F43
F41
F42
F42

- F51
- F52
- F53
0
F51
0,99 F52
0,01 F53
F51
F52
F53

- F61
- F62
- F63
- F61
- F62
- F62

- F71
- F72
- F73

=0
= 500
=0
= 100
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0
=0

Koefisien sistem persamaan linier tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam lembar kerja
EXCELTM.. Sel AB6 .. AB26 diblok dengan cara menaruh kursor pada sel AB5 dan menekan
tombol SHIFT + [panah bawah] hingga sel AB26, atau klik mouse pada sel AB6 tahan dan tarik
ke sel AB26. Kemudian ketikkan perintah
=MMULT(MINVERSE(C6:W26),X6:X26)
dan tekan tombol:
CTRL + SHIFT + [ENTER]

Untuk lebih jelas, ditampilkan isian masing-masing


matrix sebagai berikut.

4.3 NERACA ENERGI


Perhitungan neraca energi memakai asumsi sifat-sifat ideal, sebagaimana dalam neraca massa.
Dalam aliran proses yang tidak melibatkan pompa atau kompresor, dianggap tidak ada perubahan
energi kinetik dan potensial. Hanya entalpi aliran yang berubah. Sebagai acuan kondisi standar
untuk entalpi adalah tekanan 1 atm dan suhu 298 K. Selain itu, untuk perhitungan awal, dianggap
tidak ada perubahan entalpi pencampuran atau pengaruh tekanan.
4.3.1

ENTALPI ALIRAN PROSES


Entalpi aliran proses (H) yang terdiri atas sejumlah Nc komponen dengan laju alir
masing-masing komponen n kmol/s adalah,

Tl

i= N c

H= ni
i=1

(
Tr

Tv

Tf

C ps ,i dT + ni l + C pl ,i dT +ni v + C pv , i dT + H of ,i
Tl

Tv

C p =A i + Bi T +Ci T 2+ Di T 3
dengan,
C ps , i panas jenis (specific heat) padat untuk komponen i
C pl , i panas jenis (specific heat) cair untuk komponen i
C pv ,i panas jenis (specific heat) uap untuk komponen i
l panas pelelehan atau panas pembekuan komponen i
v panas penguapan atau panas pengembunan komponen i
T r Suhu acuan (jika melibatkan reaksi diambil 298 K)
T l Suhu pelelehan (titik leleh)
T v Suhu penguapan (titik uap)
H of ,i entalpi pembentukan standar komponen i
C p panas jenis (specific heat)
A i konstanta A untuk komponen i
B i konstanta B untuk komponen i
Ci konstanta C untuk komponen i
Di konstanta D untuk komponen i
Persamaan tersebut adalah persamaan umum, bila antara suhu Tr dan Tf terjadi perubahan
fase. Catatan untuk pemakaian persamaan tersebut di atas:
1) Bila antara Tr dan Tf tidak ada perubahan fase maka dan tidak melibatkan reaksi
kimia dalam unit prosesnya, maka
i= N c

Tf

H= ni C p , i dT
i=1

Tr

Dalam kondisi ini Tr dapat diambil sembarang, biasanya lebih mudah dengan
memakai suhu aliran proses masuk.
2) Bila aliran proses masuk dan keluar unit proses yang ada reaksi kimia, maka suhu
Tr harus 298 K. Hal ini karena data entalpi pembentukan dalam literatur selalu
memakai kondisi standar 1 atm, 298 K.
4.3.2

KEBUTUHAN PEMANASAN ATAU PENDINGINAN

Dalam alat penukar panas (heat exchanger) maka kebutuhan pemanasan atau pendinginan dapat
dihitung dengan mengurangi entalpi keluaran dengan masukan. Bila tidak terjadi reaksi kimia,
maka suku entalpi pembentukan tiap komponen saling menghilangkan. Suhu acuan bisa
memakai suhu masukan, sehingga entalpi aliran masuk proses bernilai nol.

Gambar 4.9 Penukar panas


Kalor yang dibutuhkan atau dilepas adalah,
Q=H 2H 1
dengan,
Q kalor yang dibutuhkan atau dilepaskan.
4.3.3

KEBUTUHAN PEMANASAN ATAU PENDINGINAN DALAM REAKTOR

Dalam reaktor maka kebutuhan pemanasan atau pendinginan dapat dihitung dengan mengurangi
entalpi keluaran dengan masukan. Masing-masing entalpi aliran harus melibatkan entalpi
pembentukan tiap komponen. Suhu acuan harus memakai 298 K

Gambar 4.10 Reaktor kimia.

Kalor yang dibutuhkan atau dilepas adalah,


Q=H 2H 1
dengan, Q kalor yang dibutuhkan atau dilepaskan. Dalam persamaan di atas, baik H1 maupun
H2 berisi entalpi pembentukan H of .
Cara pengerjaan seperti di atas memiliki keuntungan, yaitu tidak perlu tahu nilai konversi
reaksi atau pesamaan laju reaksinya. Keuntungan lain, akan terhindar dari kesalahan karena
kesalahan dalam reaksi. Kerugiannya, melakukan perhitungan lebih banyak, karena komponen
yang tidak turut bereaksi atau sisa reaksi tetap dihitung entalpi pembentukannya. Tetapi kerugian
tersebut tidak ada artinya, karena dengan bantuan komputer perhitungan menjadi jauh lebih
sederhana dan cepat.

Catatan:
Bila H1 dan H2 tidak berisi entalpi pembentukan maka kebutuhan panas atau pelepasan
panas dari reaktor agar suhu reaksi tetap (isotermal) adalah,
i=N c

i=N c

Q=H 2 + ni ,2 H f ,i ,2H 1 ni ,1 H f , i ,1
i=1

i=1

Q=H 2H 1 +n p H or
dengan np jumlah mol produk reaksi. Dalam perhitungan ini harus tahu pesamaan reaksi
kimia secara benar. Kesalahan dalam koefisien reaksi berakibat pada kesalahan
perhitungan kalor reaksi.

SOAL-SOAL
1. Pembuatan metil-etil-keton dari butil-alkohol dengan kapasitas 10.000 ton/tahun MEK 99,5
%-mol memakai umpan 2-butanol. 2-Butanol murni dipompa dari tangki penyimpan ke
dalam pemanas awal, kemudian dialirkan ke evaporator yang memperoleh panas dari hasil
reaksi produk. Uap yang meninggalkan evaporator dipanaskan kembali hingga suhu 325 oC
oleh flue gas yang sebelumnya digunakan sebagai medium pemanas reaktor. Butanol panas
lanjut diumpankan ke dalam reaktor pipa (plug flow reactor) yang beroperasi pada suhu 350
o
C dimana 98 % dikonversikan menjadi metil-etil-keton (MEK) dengan hasil samping
hidrogen dan propilena. Katalis yang dipakai adalah ZnO padat. Produk reaksi selanjutnya
didinginkan dengan air dalam alat penukar panas hingga 50% MEK mengembun sebagai
MEK-kering. Uap yang tak mengembun dialirkan ke dalam kolom absorpsi aliran
berlawanan arah yang memakai air sebagai solvent. Gas yang keluar absorber terdiri atas 99
%-mol hidrogen, 1 %-mol MEK. Sebanyak 50 %-mol aliran ini didaur ulang ke bagian
evaporator, sisanya sebagai produk samping. Larutan yang keluar absorber mengandung 20
%-mol MEK dalam air (disebut MEK-basah) untuk selanjutnya dialirkan ke dalam kolom
distilasi untuk memisahkan MEK dan air. Aliran distilat mengandung 99,5 %-mol MEK dan
aliran bawah 0,1 %-mol MEK. Sedangkan dari MEK-kering dialirkan ke kolom distilasi lain
sehingga terpisah MEK dari sisa butanol yang tak bereaksi. Aliran distilat mengandung 0,1
%-mol MEK dan didaur ulang ke reaktor. Aliran bawah mengandung 99,5 %-mol MEK
untuk digabung dengan produk distilasi MEK-kering. Tentukan laju alir komponen untuk
seluruh aliran jika satu tahun operasi setara dengan 8000 jam.
2. Pembuatan asam asetet dari asetaldehida dilakukan dengan oksidasi di atas silika gel dengan
bantuan udara (dianggap mengandung N2 79 %-mol dan O2 21 %-mol). Mula-mula
asetaldehida dan udara dilewatkan pada prapemanas (preheater) sehingga mencapai suhu 114
o
C. Selanjutnya campuran dilewatkan ke dalam reaktor pipa yang berisi silika gel pada suhu
114 oC. Konversi asetaldehida sebesar 70%-mol. Produk yang keluar reaktor diembunkan
dalam kondensor sehingga sebagian besar air dan asam asetat dipisahkan dari campuran. Gas
yang keluar kondensor dialirkan ke dalam scrubber yang berisi isian (packing). Dari bawah

masuk gas sedangkan dari atas dialirkan air. Air yang dibutuhkan sebesar 5 kg/kg nitrogen.
Dalam scrubber uap air, uap asam asetat, dan uap asetaldehida sisa terlarutkan sehingga gas
yang keluar bersih. Pabrik ini dirancang untuk menghasilkan larutan asam asetat 100.000
ton/tahun berdasar jumlah produk cair kondensor dan scrubber (1 tahun = 8000 jam operasi).
Tentukan laju alir komponen untuk seluruh aliran.
3. Produksi formalin (37% formaldehida dalam air) sebesar 64000 ton per tahun dilakukan
dengan bahan baku metanol. Umpan metanol segar pada suhu 30C dan tekanan 1 bar yang
dicampur dengan aliran daur ulang metanol pada suhu 68.3C dan tekanan 1,2 bar. Campuran
kedua aliran memiliki suhu 35.4C dan tekanan 1 bar. Aliran dipompa hingga bertekaan 2,5
bar. Sebelum masuk reaktor, aliran ini dipanaskan dalam heat exchanger sehingga semua
metanol teruapkan pada suhu 150C dan tekanan 2 bar. Umpan udara segar (21% oksigen,
79% nitrogen) dengan ekses 25% yang diperoleh pada suhu 25C dan tekanan 1 bar
dinaikkan tekanannya oleh kompresor hingga bertekanan 2,5. Aliran ini kemudian
dipanaskan dalam heat exchanger hingga 150C dan tekanan 2 bar. Aliran metanol dan udara
dicampur hingga memiliki suhu 149.6C dan tekanan 1,9 bar yang selanjutnya dialirkan ke
dalam reaktor. Dalam reaktor, metanol terkonversi 87.4% menurut reaksi,
2 CH3OH + O2 2 HCHO + 2 H2O
Keluaran reaktor memiliki suhu 343C dan tekanan 1,7 bar. Oleh katup, tekanan ini
diturunkan menjadi 1,4 bar sebelum masuk ke absorber. Umpan air segar, sebanyak dua kali
aliran keluaran reaktor, dialirkan ke absorber pada suhu 30C dan tekanan 1,4 bar. Absorber
bekerja pada tekanan operasi 1,4 bar. Dalam absorber, sebanyak 99% dari formaldehida yang
masuk dapat diserap air. Aliran ini selanjutnya dipanaskan hingga 102C sebelum masuk
kolom distilasi. Kolom distilasi beroperasi pada:
Suhu
atas
68,3 oC
bawah
103,5 oC
Tekanan
atas
1,1 bar
bawah
1,2 bar
Dalam kolom distilasi, produk bawah adalah larutan formaldehida dalam air dan distilat
sebagian besar berupa metanol yang dialirkan kembali ke aliran masuk metanol segar.
Tentukan laju alir komponen untuk seluruh aliran.
4. Bahan baku produksi aseton adalah isopropanol (IPA). Umpan IPA berupa campuran
azeotrop dengan kandungan 88%-berat IPA dan 12 %-berat air pada 25 oC dan 1 atm. Umpan
dipanaskan, diuapkan, dan dipanaskan lanjut oleh heat exchanger (E-401) hingga suhu 232
o
C dan tekanan 2,2 bar, yang kemudian dikirim ke reaktor (R-401). Reaktor beroperasi pada
suhu 350 oC dan tekanan 1,9 bar. Aseton terbentuk dengan konversi 90% menurut reaksi
berikut.
CH 3CHOHCH 3 CH 3COCH 3 H 2
IPA

acetone

(1)

Keluaran reaktor didinginkan dan diembunkan sebagian (parsial) dalam heat exchanger (E402), untuk kemudian dikirim ke separator gas-cair (V-401) yang bekerja pada suhu 50 oC

dan tekanan 1,5 bar. Dalam separator V-401, seluruh hidrogen terpisah dan keluar dalam
aliran gas. Sedangkan komponen lain (aseton, IPA, dan air) terdistribusi mengikuti hukum
Raoult. Aseton dari V-401 yang terbawa gas hidrogen diambil kembali dalam kolom absorber
T-401 (beroperasi pada 50 oC dan 1,5 bar) dengan memakai air sebagai penyerap yang
dipasok pada suhu 25 oC dan tekanan 3 bar. Seluruh IPA terserap air. Sebanyak 5% dari
seluruh air yang masuk (dari V-401 ditambah dari air penyerap) keluar sebagai uap air
bersama gas hidrogen. Aseton dalam gas yang keluar absorber dapat diperhitungkan berdasar
persamaan,
fo
1 A

f i 1 A6
(2)
dengan fi dan fo berturut-turut laju mol aseton dalam gas masuk dan keluar. Sedangkan,
L
A
mV
(3)
dengan L adalah laju alir molar air total (umpan air), dan V adalah laju alir molar uap total
(dari V-401). Parameter m adalah konstanta keseimbangan yang mengikuti persamaan,
3598

exp 10.92

m
P
(4)
dengan T suhu dalam Kelvin dan P dalam atm. Cairan dari absorber T-401 dan separator V401 dicampur untuk kemudian dikirim ke kolom distilasi (T-402) yang beroperasi pada
tekanan 1,4 bar sehingga dihasilkan aseton (99,9% aseton dan 0,1% air) dan air sebagai
limbah (maksimum berisi 0,04 fraksi mol IPA). Dalam distilasi sebanyak 99,5 %-mol aseton
umpan dapat diperoleh sebagai produk. Diinginkan produksi aseton 15000 ton/tahun. Limbah
air dari kolom T-402 dialirkan ke kolom distilasi T-403 yang beroperasi pada tekanan 1,2 bar
untuk memperoleh kembali IPA, yang selanjutnya dialirkan kembali sebagai daur ulang ke
reaktor. Produk bawah T-403 dialirkan ke pengolah air limbah. Tentukan laju alir komponen
untuk seluruh aliran.
5. Diagram alir proses Oxo dapat disederhanakan sebagai gambar di bawah.

Umpan berisi 0,5 kg/s CO; 0,5 kg/s H2; 0,47 kg/s propilena; 0,03 kg/s propana. Umpan
masuk reaktor yang beroperasi pada tekanan 15 bar dan 100oC. Reaksi propilena dengan CO
dan H2 merupakan reaksi paralel.
Propilena + CO + H2 i-butiraldehida (i-BA)
Propilena + CO + H2 n-butiraldehida (n-BA)
Konversi propilena 80%-mol dengan rasio i-BA/n-BA sebesar 0,1. Reaksi antara i-BA dan nBA menghasilkan komponen berat dengan konversi i-BA sebesar 1%-mol.
i-butiraldehida + n-butiraldehida Komponen berat
Fraksi pembagian (split fraction) dalam separator dapat ditentukan sendiri. Tentukan
konversi total propilena menjadi n-butiraldehida dan laju aliran tiap komponen dalam seluruh
aliran jika laju alir buang (purge) 1%.
6. Aliran proses yang terdiri atas campuran 30 mol/s propana dan 70 mol 1-butena pada 10 bar
dalam kondisi cair jenuh.
(a) Aliran proses dialiran melalui katup penurun tekanan (throttle valve) menjadi 2
bar.Tentukan fraksi uap dalam aliran keluar katup.
(b) Hitung beban panas yang dibutuhkan untuk memanaskan aliran proses sebelum katup
penurun tekanan sehingga 60% teruapkan.

PUSTAKA
Douglas, J. M. (1988). Conceptual Design of Chemical Processes. New York: McGraw Hill.
Perry, R. H. (2008). Perry's Chemical Engineers' Handbook (8 ed.). (J. O., Ed.) New York:
McGraw-Hill.
Reid, R. C. (1987). The Properties of Gases and Liquids. New York: McGraw-Hill.