Anda di halaman 1dari 28

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

INDIKASI PERMASALAHAN &


OPSI PENGEMBANGAN SANITASI
BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO

5.1. AREA BERESIKO TINGGI DAN PERMASALAHAN UTAMANYA


Pemetaan kelurahan beresiko dilakukan untuk mendapatkan 4 klasifikasi kelurahan, berdasarkan resiko
sanitasi. Area beresiko dibagi atas 4 klasifikasi yaitu:
Resiko tinggi
Resiko sedang
Resiko rendah
Resiko sangat rendah/tidak berisiko
Area beresiko tinggi adalah kelurahan -kelurahan yang dianggap memiliki resiko kesehatan lingkungan
yang tinggi karena buruknya kondisi sanitasi. Berdasarkan informasi yang tersedia, kelurahan memiliki potensi
resiko terhadap kesehatan. Apabila tidak segera dilakukan intervensi tertentu, akan memperbesar potensi
terjadinya kasus kejadian penyakit. Hal ini perlu dibedakan dengan dampak yang dinyatakan dengan kasus
kejadian penyakit. Oleh karenanya, angka kejadian penyakit seharusnya tidak dijadikan sebagai salah satu
indikator untuk penentuan area berisiko tinggi, sebab hal ini akan mencampurkan antara risiko dengan dampak.
Membandingkan informasi tentang resiko dengan dampak yang ada di suatu kelurahan, hasilnya bisa
memberikan tambahan informasi berguna tentang penyebab timbulnya kasus penyakit di kelurahan tersebut.
Tujuan dari Pemetaan Area Berisiko adalah memetakan area area yang memiliki tingkat resiko sanitasi
dan klasifikasi area berdasarkan tingkat resiko kesehatan lingkungan akan menjadi salah satu pertimbangan
dalam menentukan prioritas program pembangunan dan pengembangan sanitasi.
Gambar 5. 1 Proses Penentuan Area Berisiko

Indikator sebagai variabel


Skoring dan pembobotan
Analisa frekuensi, mean weighted,
diskusi kelompok
Alternatif skenario

Pengumpulan Data

Analisa data
Penentuan Area Berisiko

Data Primer meliputi :


-

Persepsi SKPD termasuk didalamnya mempertimbangkan fungsi tata ruang (urban function) di
masa mendatang
Studi EHRA

Sedangkan Data Sekunder meliputi :


KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Data Primer
DataSekunder

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

Populasi, luas area


Cakupan pelayanan air minum
Jumlah KK miskin
Jumlah penderita penyakit diare
Jumlah sampah yang terangkut
Jumlah sanimas
Jumlah jamban
Luas genangan
% wilayah terbangun

5.1.1. Study EHRA


EHRA (Enveriommental Healt Risk Assessment) atau Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan
merupakan studi singkat dengan bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku-perilaku yang
memiliki resiko pada kesehatan warga. Studi sanitasi yang diteliti mencakup :
1.

Kondisi kesehatan meliputi ; sistem penyedian air bersih, layanan pembuangan sampah,

ketersedian jamban dan saluran pembuangan limbah.


2.
Perilaku dengan higenitas dan sanitasi meliputi; cuci tangan pakai sabun, buang air besar,
pembuangan kotoran anak dan pembuangan sampah.
Dalam Pelaksanaan EHRA yang menjadi tanggung jawab serta pelaksana adalah Pokja Kota
Probolinggo yang didampingi oleh USSDP dalam memfasilitasi penyusunan hasil EHRA. Untuk kegiatan
pelaksanaannya di mulai bulan April 2010 dan Pokja Kota Probolinggo melibatkan pihak ke tiga dari CV Meter
untuk merekrut kader-kader dari kelurahan yang diambil dari kader posyandu sebagai tenaga enumerator EHRA
dengan pertimbangan antara lain :
1. Kader-kader memiliki akses yang leluasa untuk datang kerumah-rumah dan diterima oleh RT/RW atau warga
yang menghuni rumah. Pertimbangan ini terkait erat karakteristik responden yang merupakan ibu/bapak
berusia 18-60 tahun dan juga pertanyaan-pertanyaan di dalam kuisioner yang banyak menyangkut
kesehatan pribadi, seperti BAB dan prilaku BAB.
2. Kader umumnya sudah memahami wilayah kelurahan sehingga mempermudah pemilihan rumah yang
dilakukan secara random
Hasil EHRA ini di harapkan untuk memberikan kontribusi bagi pengembangan Buku Putih dan
kondisi kota di 29 kelurahan dan 5 kecamatan.

5.1.1.1. Persampahan
Dari studi EHRA di Kota Probolinggo dapat di ketahui cara utama pembuangan sampah di tingkat rumah
tangga. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.1 dibawah ini :
KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Perencanan program-program sanitasi di tingkat kota. Serta mengakomodasi variabel-variabel yang muncul dari

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010


Tabel 5. 1 Cara Pembuangan Sampah
Dikumpulkan Di Rumah, Diangkut Petugas Pemerintah/Pemda/Kelurahan
Dikumpulkan Di Rumah, Diangkut Petugas Masyarakat/Dikelolah RT atau RW
Dikumpulkan Di Rumah, Diangkut Petugas Perusahaan Swasta
Dikumpulkan Di Tempat Bersama, Diangkut Petugas Pemerintah/Pemda/Kelurahan
Dikumpulkan Di Tempat Bersama, Diangkut Petugas Masyarakat/Dikelolah RT/RW
Dikumpulkan Di Tempat Bersama, Diangkut Petugas Perusahaan Swasta
Dibuang Di Halaman Rumah Kedalam Lubang Lalu Dikubur
Dibuang Di Halaman Rumah Kedalam Lubang Lalu Dibakar
Dibuang Di Halaman Rumah Kedalam Lubang dan Didiamkan
Dibuang Di Halaman Rumah Tidak Ada Lubang / Ditumpuk dan Didiamkan
Dibuang Di Halaman Rumah Tidak Ada Lubang / Ditumpuk lalu Dibakar
Dibuang Di Halaman Rumah Ke Kolong Rumah
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Ke Tempat Pembuangan Sampah
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Ke Lubang Sampang / Tempat Pembuangan
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Ke Sungai
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Ke Kali / Sungai Kecil
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Ke Selokan / Parit
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Ke Lubang Galian / Kolam Ikan / Tambak
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Ke Ruang Terbuka
Dibuang Di Luar Halaman Rumah Tidak Tau Kemana
Langsung Dibakar
Langsung Dikubur
Langsung Lainnya (sebutkan)
Total
Sumber : Hasil Analisis EHRA, 2010

Frekuensi
48
316
1
23
128
4
16
213
28
24
138
1
103
90
61
7
3
9
57
1
132
2
13
1152

%
3,39%
22,28%
0,07%
1,62%
9,03%
0,28%
1,13%
15,02%
1,97%
1,69%
9,73%
0,07%
7,26%
6,35%
4,30%
0,49%
0,21%
0,63%
4,02%
0,07%
9,31%
0,14%
0,92%
100%

Secara mendetail tabel 5.1 di atas menggambarkan cara-cara utama membuang sampah rumah tangga
di Kota Probolinggo. Dalam tabel diatas terlihat bahwa yang paling banyak dijumpai adalah rumah tangga yang
membuang sampahnya di halaman rumah, yakni 29,62% yang meliputi dibuang di halaman rumah kedalam
lubang lalu dikubur sebesar 1,13%, kedalam lubang lalu dibakar sebesar 15,02%, kedalam lubang dan didiamkan
sebesar 1,97%, tidak ada lubang/ditumpuk dan didiamkan sebesar 1,69%, tidak ada lubang/ ditumpuk lalu
dibakar sebesar 9,73%, dan dibuang di halaman di kolong rumah sebesar 0,07%.
Selanjutnya kelompok kedua pembuangan sampah rumah tangga dibuang di dalam rumah untuk
diangkut petugas, yakni sebesar 25,74%. Prosentase ini terdiri dari pengangkutan oleh petugas pemda/kelurahan
(3,39%), petugas RT/ RW (22,28%) dan perusahaan swasta (0,07%). Mengingat tidak semua warga dapat
mengidentifikasi asal petugas pengangkut sampah, untuk selanjutnya tiga cara di atas akan masuk ke dalam
Kelompok ketiga yang tidak terlalu besar adalah mereka yang membuang sampah di luar rumah mereka
atau yang dikumpulkan di tempat bersama untuk kemudian diangkut oleh petugas. Prosentase kelompok ini
adalah sebanyak 10,93%. sementara, mereka yang membuang ke tempat terbuka mencakup sekitar 9,66%,
terdiri dari mereka yang membuang ke sungai (4,30%), di luar rumah/ruang terbuka (4,09%), kali kecil (0,49%),
ke selokan (0,21%)dan kolam ikan/tambak(0,2%).
Data sedetail tabel di atas memang kurang banyak bermanfaat menyediakan gambaran mengenai
tingkat risiko kesehatan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat. Seperti telah disampaikan di muka,
penanganan sampah yang aman adalah di mana rumah tangga mendapat layanan pengangkutan yang
memadai. Untuk kepentingan identifikasi tingkat risiko kesehatan lingkungan, rincian cara pembuangan di atas
KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

kategori saja, yakni membuang di rumah dan diangkut oleh petugas.

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

kemudian disederhanakan utamanya berdasarkan dua kategori besar, yakni 1) penerima layanan sampah dan 2)
non penerima layanan sampah.
5.1.1.2. Air Limbah Rumah Tangga (Domestik)
Survai EHRA menemukan fasilitas BAB di Kota Probolinggo yang paling umum dilaporkan oleh rumah
tangga adalah jamban siram/leher angsa yang disalurkan ke tangki septik. Proporsinya adalah sekitar 63,15%
(siram dan non siram). Sementara, proporsi rumah tangga yang membuang tinja langsung ke ruang terbuka
mencakup sekitair 18,56%, yang terdiri dari 1) Jamban siram disalurkan ke sungai/ kali/ parit (10,45%), 2) jamban
nonsiram yang disalurkan ke sungai/ kali/ parit (2,97%), gantung di atas sungai/kolam (1,98%) dan 4) tidak ada
fasilitas: di sungai/ kali/ parit/ got (14,50%). Dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5. 2 Tempat Buang Air Besar
Jamban siram/ leher angsa disalurkan ke sewerage
Jamban siram/ leher angsa disalurkan ke tangki septik
Jamban siram/ leher angsa disalurkan ke cubluk
Jamban siram/ leher angsa disalurkan ke lobang galian
Jamban siram/ leher angsa disalurkan ke sungai/ kali/ parit
Jamban siram/leher angsa disalurkan ke kolam
Jamban siram/leher angsa disalurkan ke tidak tahu kemana
Jamban non siram/ tanpa leher angsa salur ke tangki septik
Jamban non siram/ tanpa leher angsa salur ke cubluk
Jamban non siram/ tanpa leher angsa salur ke lobang galian
Jamban nonsiram/tanpa leher angsa salur ke sungai/kali/parit
Jamban nonsiram/tanpa leher angsa salur ke kolam
Jamban nonsiram/tanpa leher angsa salur ke tak tahu kemana
Gantung di atas sungai/ kolam
Tidak ada fasilitas: Di sungai/ kali/ parit/ got
Tidak ada fasilitas: Lapangan, semak
Tidak ada fasilitas: Kantong plastik
Di tempat kerja
Di tempat sekolah
Di tempat ibadah
Di fasilitas jamban umum lain
Lainnya
Tidak tahu

Frekuensi
83
617
15
5
116
0
0
1
24
10
33
0
0
22
161
7
0
2
2
0
5
7
0
1152

%
7,48%
55,59%
1,35%
0,45%
10,45%
0,00%
0,00%
0,09%
2,16%
0,90%
2,97%
0,00%
0,00%
1,98%
14,50%
0,63%
0,00%
0,18%
0,18%
0,00%
0,45%
0,63%
0,00%
100%

Dari hasil wawancara diperoleh sekitar 63,15% rumah tangga di Kota Probolinggo yang melaporkan
menggunakan tangki septik. Namun, data yang didasarkan pada laporan verbal ini tidak memberi petunjuk
tentang kualitas atau keamanan tangki septik yang di gunakan rumah tangga. Untuk melihat apakah yang
dilaporkan sebagai tangki septik adalah benar tangki septik. EHRA kemudian menindaklanjuti dengan
pertanyaan:

Apakah tangki septik itu pernah dikosongkan?

Kapan tangki septik dikosongkan?; dan

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Sumber : Hasil Analisis EHRA, 2010

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

Sudah berapa Iama tangki septik itu dibangun?


Secara mudah klaim tangki septik diragukan atau dicurigai keliru bila tangki septik dibangun lebih dari

lima tahun lalu namun belum pernah dikuras atau dikosongkan sekalipun. Bila pernah dikosongkan, EHRA
mencurigai bahwa klaim responden itu benar.
Dasar mengidentifikasi suspek tangki septik atau cublukpun dalam studi EHRA menggunakan rentang
waktu pengurasan atau pengosongan tinja di tangki septik. Untuk ukuran dan teknologi tangki septik yang paling
umum, tangki septik perlu dikosongkan atau dikuras paling tidak sekali dalam setiap 5 tahun. Bila dalam kurun
waktu 5 tahun tangki septik belum pernah dikuras atau dikosongkan, maka dicurigai bahwa yang diklaim
responden sebagai tangki septik sebetulnya adalah cubluk. Bila diringkas maka kriterianya adalah sebagi berikut :
N=699

Melaporkan menggunakan tangki (60,68%)


947,4%septiik
Dibangun kurang
kurang dari
dari 2th
2th lalu
lalu (10,30%)
(10,30%) atau
atau
Dibangun
antara 2-5
2-5 th
th lalu(21,03%)
lalu(21,03%)
antara
Tidak bisa
bisa
Tidak
dispesifikkan
dispesifikkan

Dibangun lebih dari 5 th lalu (63,23%)

Tidak pernah dikosongkan


(83,26%)

Pernah dikosongkan
(13,30%)

N=44
2

N=93

Suspek cubluk

N=2
9

Dikosongkan kurang dari 2


th lalu(22,48%)
Suspek tangki septik

Dikosongkan 2-5 th lalu


(26,36%)

Dikosongkan 5 th lalu
(23,26%)

Suspek tangki septik

Suspek cubluk

Gambar 5. 2 Flow Chart Identifikasi Tangki Septik

Secara visual proses pengidentifikasian kasus suspek (dicurigai) tangki septik ataupun cubluk atau
bukan tangki septik adalah sebagai berikut: dasar pengidentifikasian suspek tangki septik atau cubluk dalam
studi EHRA menggunakna rentang waktu pengurasan atau pengosongan tinja di tangki septik. Ukuran dan
teknologi yang digunakan dalam tangki septik yang paling umum adalah mengosongkan atau dikuras paling tidak
sekali dalam lima tahun. Bila dalam waktu lima tahun belum pernah dikuras atau dikosongkan maka responden
Kriteria suspek aman adalah sebagai berikut:
1. dibangun kurang dari lima tahun lalu
2. dibangun lebih dari lima tahun lalu dan pernah dikosongkan/ dikuras kurang dari lima tahun lalu.
Kriteria suspek tidak aman adalah sebagai berikut:
1. dibangun lebih dari lima tahun lalu dan tidak pernah dikuras
2. dibangun lebih dari lima tahun lalu dan pernah dikosongkan/ dikuras lebih dari lima tahun lalu.
Berdasarkan hasil wawancara responden yang melaporkan menggunakan tangki septik, sekitar 63,23%
dibangun lebih dari lima tahun lalu dan 83,26% melaporkan belum pernah dikosongkan. Tangki septik yang belm

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

yang mengaku menggunakan tangki septik dapat dicurigai sebagai cubluk. Bila diringkas kriterianya.

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

pernah dikosongkan tersebut dapat mengidentifikasikan bahwa yang digunakan bukan tangki septik melainkan
cubluk atau tangki yang tidak kedap dan dapat merembes keluar tangki.
Sebanyak 23,26% mengosongkan lebih dari 5 tahun lalu dari 93 responden yang mengaku pernah
mengosongkan tangki septik. Kasus ini dapat diidentifikasikan sebagai suspek cubluk. Sebaliknya rumah tangga
yang masuk kategori pernah mengosongkan 2 tahun lalu 22,48% dan antara 2-5 tahun lalu 26,36% dapat
dikategorikan suspek aman.
Berdasarkan hasil penelusuran menggunakan rentang waktu pengosongan diperoleh bahwa dari 699
rumah tangga di Kota Probolinggo yang memiliki akses terhadap tangki septik 36,77% dapat dicurigai sebagai
suspek tidak aman (menggunakan cubluk/tangki tidak kedap). Rumah tangga yang memiliki tangki septik dalam
kategori suspek aman adalah 9,01%. Sekitar 54,22% tidak dapat dispesifikkan apakah menggunakan tangki
septik atau cubluk.
Dampak negatif terhadap lingkungan juga dapat terjadi akibat tangki septik yang tidak aman dan akibat
pembuangan isi tinja yang tidak tepat dan aman. Studi EHRA mempelajari tempat pembuangan isi tangki septik,
namun hanya berlaku pada rumah tangga yang melaporkan mengosongkan tangki sendiri atau menyuruh
tukang. Rumah tangga yang menggukan jasa layanan sedot WC dengan truk tidak mengetahui kemana isi tangki
septik tersebut dibuang/ diolah.

Gambar 5. 3 Grafik Identifikasi Keamanan Tangki Septik

Studi EHRA di Kota Probolinggo menemukan proporsi rumah tangga yang cukup besar atau sekitar
33,15% rumah tangga yang melaporkan pernah mengalami banjir. Tepatnya, jumlah kasus yang ditemukan
dalam EHRA adalah sebanyak 66,67% rumah tangga melaporkan tidak pernah mengalami banjir. Lebih jelasnya
dapat dilihat pada gambar 5.4.

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

5.1.1.3. Drainase

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

Gambar 5. 4 Grafik Pengalaman Banjir

Hasil wawancara menunjukkan bahwa rutinitas banjir di Kota Probolinggo rutinitas banjir yang terjadi
adalah 23,84% yang menyebar hampir diseluruh kecamatan. Dominasi banjir terjadi di Kecamatan Mayangan
yang meliputi semua kelurahan. Disusul dengan Kecamatan Kanigaran, dan yang paling jarang adalah
Kecamatan Wonoasih.

V-7

Gambar 5. 5 Grafik Rutinitas Banjir pada Setiap Rumah Tangga

Gambar 5. 6 Grafik Frekuensi Banjir yang Terjadi di Rumah Tangga

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

Semakin sering banjir terjadi disuatu wilayah, menggambarkan kurang berfungsinya atau bahkan tidak
adanya sistim drainase. Semakin besar frekuensi banjir yang terjadi, maka semakin rentan wilayah tersebut
terhadap penyakit seperti gatal-gatal, diare, dan gangguan kesehatan lainnya. Frekuensi banjir yang terjadi
dalam setahun terakhir di Kota Probolinggo sebagian besar terjadi sekali dalam setahun yakni sebesar 65,36%.
Selain itu banjir juga terjadi beberapa kali dalam setahun yakni sebesar 34,08%.
Terkait dengan lama banjir mengering, hasil wawancara didapatkan gambaran bahwa yang agak
dominan adalah yang mengering selama sehari atau kurang dari sehari, yakni sekitar 75,85% dari total rumah
tangga yang mengalami banjir secara rutin. Prosentase itu mencakup mereka yang airnya mengering dalam
waktu sehari (16,43%), sekitar setengah hari (12,08%), dalam hitungan jam atau beberapa jam (30,92%), sekitar
sejam (6,76%) dan kurang dari sejam (9,66%). Sementara, yang mengering dalam waktu lebih dari satu hari,
sebesar 19,32% saja. Lebih jelasnya pada gambar 5.7 dibawah ini :

Gambar 5. 7 Grafik Lama Waktu Pengeringan Genangan Air

Hasil survai EHRA menunjukkan bahwa di Kota Probolinggo terdapat 4 (empat) sumber minum yang
digunakan oleh masyarakat setempat, yakni Sumur, Air Ledeng PDAM, Penjual Air dan Air Botol Kemasan.
Sumur mendominasi pemenuhan kebutuhan akan air bersih sehari-hari yaitu sekitar 78,04% rumah tangga. Air
ledeng (PDAM) mencakup sekitar 13,63% rumah tangga. Pemenuhan air dari penjual air sebesar 3,91% dan
rumah tangga yang memenuhi kebutuhan air minum dari air botol kemasan sebesar 4,43%
Pengguna sumur di Kota Probolinggo mendominasi pemenuhan kebutuhan air bersih. Sekitar 75,26% di
antaranya menggunakan sumur bor (pompa tangan, mesin), sumur gali terlindungi yang relatif aman sebesar
2,52% dan sumur gali yang tak terlindungi sebesar 0,26%. Yang dimaksud dengan sumur terlindungi adalah
surnur yang memiliki bertutup, memiliki cincin dan lantainya di semen yang dapat dikategorikan aman. Jumlah
KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

5.1.1.4. Air Minum

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

rumah tangga yang mendapat air dari ledeng PDAM di Kota Probolinggo terbagi atas ledeng PDAM langsung di
rumahnya (12,41%), di halaman rumahnya (0,87%), serta mengambul air dari hidran umum dan ledeng
tetangga (0,35%).
Seperti dapat disimak pada tabel di bawah ini, sumber-sumber air minum bagi rumah tangga di Kota
Probolinggo didominasi oleh sumur dan air ledeng. Selain sumber-sumber tersebut proporsi yang relatif kecil
dan kurang menonjol adalah air botol kemasan (4,43%) dan isi ulang (3,91%).
Tabel 5. 3 Sumber Air Minum
Prosentase
12,41%
0,87%
0,09%
0,26%
75,26%
2,52%
0,26%
0,00%
0,00%
0,00%
3,91%
0,00%
0,00%
4,43%
0,00%
0,00%
0,00%
100%

Gambar 5. 8 Dominasi Pemilihan Sumber Air Minum

5.1.2. Skoring Kondisi Sanitasi Kelurahan Kota Probolinggo


Tujuan perencanaan sanitasi skala kota yang terkoordinasi adalah untuk membentuk kerangka kerja
yang berkelanjutan bagi perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan dan evaluasi yang terkoordinasi dan pro-

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Air Ledeng/ PDAM: sampai di dalam rumah


Air Ledeng/ PDAM: sampai di halaman/ gedung
Air Ledeng/ PDAM: Umum/ Hidran
Ledeng dari tetangga
Sumur bor (pompa tangan, mesin)
Sumur gali terlindungi
Sumur gali tidak terlindungi
Mata air terlindungi
Mata air tidak terlindungi
Air hujan
Penjual air: Isi ulang
Penjual air: Kereta/ gerobak
Penjual air: Truk air
Air botol kemasan
Kolam
Air permukaan (sungai/kolam/danau/DAM/Aliran/Kanal/Irigasi)
Lainnya (catat)
Total
Sumber : Hasil Analisis EHRA, 2010

Frekuensi
143
10
1
3
867
29
3
0
0
0
45
0
0
51
0
0
0
1152

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

poor melalui penyusunan kebijakan yang efektif dan terkoordinasi, penguatan kelembagaan, perencanaan
strategis dan peningkatan kesadaran.
Sebagai langkah awal perencanaan strategis sektor sanitasi bagi Kota Probolinggo, Pokja Sanitasi Kota
akan menyusun Buku Putih yang akan memetakan kondisi sanitasi Kota Probolinggo saat ini. Dokumen ini
mencakup tidak hanya profil sanitasi kota, fasilitas yang ada, cakupan dan penyediaan layanan serta informasi
mengenai kelembagaan dan keuangan tetapi juga analisis awal mengenai pemetaan area/kelurahan berisiko.
Penilaian area berisiko ini diperlukan untuk pemilihan dan pelaksanaan intervensi-intervensi yang
diperlukan oleh pemerintah kota dalam menetapkan usulan prioritas program/kegiatan.

Kesalahan untuk

menciptakan sebuah proses penentuan area yang menjadi target kegiatan telah banyak menyebabkan
pendanaan bagi pembangunan sektor sanitasi tidak dapat digunakan secara efektif bagi area-area yang memiliki
tingkat risiko sanitasi tinggi. Ada beberapa alasan, yaitu:

Pembangunan sanitasi hanya didasarkan pada supply-driven yang membawa dampak rendahnya efektivitas
sarana dan prasarana yang terbangun.

Proses pengambilan keputusan sering dipengaruhi oleh faktor-faktor kepentingan pribadi, atau organisasi,
pemberi dana, budaya dan kondisi setempat.

5.1.2.1. Proses Penilaian


Data/informasi baik yang berasal dari data sekunder tahun 2009, studi EHRA (Environmental Health
Risk Assessment) tahun 2010, dan persepsi SKPD digunakan sebagai kriteria untuk menentukan pilihan area
berisiko. Opsi/pilihan dilakukan terhadap 29 kelurahan yang tersebar di 5 kecamatan.
Proses penilaian, penetapan dan pemetaan terdiri dari beberapa tahap. Pada tahap awal, proses
penilaian, penetapan, dan pemetaan area berisiko dan penetapan kawasan dilakukan sebagaimana disajikan
dalam Gambar 5.9 menggunakan data sekunder tahun 2009 (lihat Tabel 5.4) sebagai kriteria.
Draft Area Beresiko

Identifikasi Area Tipikal


Identifikasi area tipikal
Menggambarkan dalam peta

V-7

Menyepakati Indikator yang akan


digunakan
Menyepakati bobot masing-masing
indicator
Menganalisis area beresiko
Menggambarkan dalam peta

Draft jenis penanganan &


layanan sanitasi

Penyusunan Penilaian &


Pemetaan Awal Situasi
Sanitasi Kota
Gambar 5. 9 Proses Penilaian Awal Area Berisiko

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

Setelah kriteria ditetapkan, tahap berikutnya adalah analisis awal atas opsi/pilihan area berisiko
menggunakan pendekatan multi kriteria analysis dengan mempertimbangkan aspek kemudahan, transparan,
serta kebutuhan sumberdaya manusia dan waktu untuk menganalisis.

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tabel 5. 4 Kriteria dan Sumber Data Sekunder


DATA
SUMBER
Kepadatan penduduk
BPS daerah, Kelurahan
Angka Kemiskinan
BPS daerah
IR penyakit diare
Dinas Kesehatan
SR dan HU air bersih
PDAM, PU
Jamban keluarga
Dinas Kesehatan, PU
Timbulan sampah
BLH
Wilayah terbangun
BAPPEDA
Luas area genangan
BAPPEDA, PU
Luas kawasan kumuh
BAPPEDA, PU

Dalam menilai pilihan, kinerja setiap kelurahan atas kriteria diberi skor dan pembobotan yang ditetapkan
sesuai kesepakatan seluruh anggota Pokjasan Kota Probolinggo sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar
5.10.
1
4

Gambar 5. 10 Skor untuk Menentukan Pilihan

Tahap berikutnya adalah penilaian, penetapan dan pemetaan area berisiko dengan menggunakan data
EHRA 2010. Data dari studi EHRA ini memperlihatkan kondisi fasilitas sanitasi dan air bersih, dan perilakuperilaku terkait higienitas dan sanitasi yang memiliki resiko pada kesehatan warga.
5.1.2.2. Hasil Penilaian
a. Area Beresiko

weighted scores. Tabel 5.5 berikut ini merupakan penilaian awal menjelaskan skor berdasarkan hasil studi EHRA
dan digambarkan dalam peta awal (Peta 5.1). Untuk kompilasi data dapat dilihat dalam Lampiran 5.1.

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Penilaian awal area berisiko disajikan dalam tabel matriks kinerja dan disusun berdasarkan overal

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

Interpretasi data EHRA


Menyiapkan tabel matriks
Menyepakati parameter dan nilai
persentasenya
Mengisi tabel matriks
Melakukan interpretasi

Menyiapkan format analisa


area beresiko
Merekam data EHRA ke dalam
format rekanan data
sekunder

Bahan untuk penetapan area


berisiko

V-7

Gambar 5. 11 Proses Penilaian Data EHRA

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

<90%,
risiko

tak ada saluran


drainase (0.2)

<75%,
risiko

jarak
sumur
dangkal
ke
tangki septik <
10 m (0.2)
Kelangkaan air
(dan risiko yg
berkaitan)

>15%,
risiko

sangat
mence
mari

>15%,
risiko

0,02

0,03

0,03

0,04

0,02

0,03

0,8

0,8

0,8

0,8

0,8

0,8

0,8

0,6

0,8

0,8

26,
8

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

5,0

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

5,4

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

5,6

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

5,8

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

5,0

28

12

0,66
6

0,66
6

0,33
3

0,33
3

0,66
6

0,66
6

0,66
6

0,66
6

0,33
3

0,33
3

15,
32

Pencemaran krn
pembuangan isi
tangki septik

<85%
oleh
pemeri
ntah,
risiko

sangat
mence
mari

<60%,
risiko

muda
h,
murah

0,66
6

0,33
3

0,33
3

0,66
6

0,33
3

0,66
6

0,66
6

0,33
3

0,66
6

0,66
6

0,66
6

0,33
3

0,66
6

0,33
3

0,66
6

0,33
3

0,66
6

0,33
3

0,66
6

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

>60%,
risiko

TOTAL

0,1

Triwung Kidul

0,08

Pohsangit Kidul

0,03

risiko
of
overf
owing
besar,
mahal

CTPS yg rendah
di saat 5 waktu
kritis
Pencemaran
Sampah

Kebonsari Kulon

Tisnonegaran

0,02

Sukoharjo

Kanigaran

0,05

Wonoasih

0,03

Pakistaji

0,03

Kedung Asem

Jrebeng Kidul

0,05

Jrebeng Lor

0,06

Kedopok

Kareng Lor

Pencemaran
oleh
tangki
septik >5 thn
dan tak pernah
disedot

Kebonsari Wetan

Sumber Taman

Kedung Galeng

Sumber Wetan

Jrebeng Wetan

0,03

Mayangan

0,04

Mangunharjo

Wiroborang

0,05

Jati

Pilang

bercincin

Triwung Lor

tak
(0.2)

Ketapang

<75%,
risiko

Kademangan

tak
berlantai
semen (0.2)

muda
h,
murah
muda
h,
lebih
murah
pentin
g
muda
h,
murah

Curah Grinting

<80%,
risiko

Jrebeng Kulon

Air tercemar (%
KK
yang
menggunakan
sumur dangkal)
Air
sumur
dangkal
mungkin
tercemar
akibat:
tak
ada
penutup sumur
(0.20)

Sukabumi

Resiko

Alasan

N
o

Parameter

Tabel 5. 5 Penilaian terhadap Data EHRA

20

pengumpulan
sampah
tidak
memadai
(0.333)
frekuensi
pengumpulan
kurang (0.333)
terlambat
dikumpulkan
(0.333)

<20%,
<3 kali
seming
gu,
risiko
>20%
kadangkadang
terlamb
at

Toilet
kotor
mencemari
lingkungan
tinja di atas
toilet (0.2)

>15%,
risiko

pembalut
di
dalam
toilet
(0.2)

>10%,
risiko

lalat (0.2)

>15%,
risiko

ketersediaan air
(0.2)

<85%,
risiko

ketersediaan
sabun (0.2)

<75%,
risiko

Tingkat Risiko

sangat
mence
mari
sangat
mence
mari
sangat
mence
mari
sangat
diperl
ukan
muda
h,
murah

TOTAL

Triwung Kidul

Pilang

Triwung Lor

Ketapang

Pohsangit Kidul

Kademangan

Curah Grinting

Kebonsari Kulon

Tisnonegaran

Kebonsari Wetan

Sukoharjo

Kanigaran

Wonoasih

Sumber Taman

Pakistaji

Kedung Galeng

Kedung Asem

Jrebeng Kidul

Sumber Wetan

Jrebeng Lor

Kedopok

Kareng Lor

Jrebeng Wetan

Jrebeng Kulon

Sukabumi

Mayangan

Mangunharjo

Wiroborang

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

9,3
2

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

2,0
0

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

0,33
3

4,0
0

0,2

0,2

0,2

0,4

0,2

0,2

0,6

0,6

0,4

0,6

0,4

0,2

0,2

0,4

0,4

0,2

0,4

0,4

6,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,8

0,2

0,2

0,4

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

1,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

0,2

2,4

0,2

0,2

0,2

0,0

0,2

0,2

0,2

0,2

1,4

1,91

3,53

2,37

1,90

1,33

3,67

3,13

2,38

2,87

2,90

4,30

2,98

3,07

2,96

3,67

2,76

3,95

1,63

3,09

3,10

1,90

2,37

2,33

1,67

3,09

4,07

3,67

2,33

3,36

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2010

V-7

<75%,
risiko

Jati

Resiko

Alasan

N
o

Parameter

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

V-7

Peta 5. 1 Peta Area Berisiko Kota Probolinggo


Berdasarkan Data Sekunder

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010


Tabel 5. 6 Hasil Akhir Penilaian Area Berisiko
Kecamatan

Skor
Kelurahan

berdasarkan
persepsi

Skor

Skor

Skor

berdasarkan
data
sekunder

berdasarkan

hasil

Skor yg
disepakati

data EHRA

kunjungan

SKPD

lapangan

Probolinggo

Mayangan
Mayangan

3,00

Mangunharjo

2,33

Jati

2,67

Wiroborang

2,33

Sukabumi

1,67

Kebonsari Wetan

2,67

Sukoharjo

2,33

Tisnonegaran

1,67

Kanigaran

2,00

Kebonsari Kulon

3,00

Curah Grinting

2,33

Triwung Kidul

2,67

Kademangan

2,00

Pilang

2,33

Triwung Lor

2,33

Pohsangit Kidul

2,67

Ketapang

2,67

Wonoasih

3,00

Jrebeng Kidul

2,67

Pakistaji

2,33

Kedung Galeng

2,33

Kedung Asem

2,33

Sumber Taman

1,67

Kanigaran

Wonoasih

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Kademangan

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010


Kedopok
Jrebeng Lor

2,00

Jrebeng Wetan

2,33

Sumber Wetan

3,00

Kedopok

2,33

Kareng Lor

2,33

Jrebeng Kulon

2,33

Sumber : Hasil Analisis Tahun 2010

Keterangan :

Risiko tinggi
Risiko sedang
Risiko rendah
Risiko sangat rendah/tidak berisiko
Hasil akhir penilaian terhadap area berisiko untuk Kota Probolinggo telah ditetapkan oleh Pokjasan

setelah dilakukan serangkaian observasi (kunjungan lapangan) pada kelurahan-kelurahan yang dinilai berisiko
sangat buruk (mendapat skor 4 pada hasil yang disepakati) dan diperoleh ada 3 kelurahan yang berisiko yaitu:

V-7

Mayangan, Wonoasih dan Sumber Wetan. Secara lengkap hasilnya disajikan dalam Peta 5.2.

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

V-7

Peta 5. 2 Peta Area Berisiko Sanitasi Kota


Probolinggo

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

5.2. KAJIAN DAN OPSI PARTISIPASI MASYARAKAT DAN GENDER (PMG) DI AREA PRIORITAS
5.2.1. Kajian Partisipasi Masyarakat dan Gender (PMG)
PMGK (Pemberdayaan Masyarakat dengan Pelibatan Gender dan Kemiskinan) adalah sebuah
survei/penilaian tentang kondisi sanitasi masyarakat yang tanggap terhadap kebutuhan. Tujuan studi PMGK
adalah untuk memberikan gambaran tentang program/proyek/layanan apa yang sudah dilakukan terkait sanitasi
dan hygiene dengan pelibatan Gender dan kemiskinan, oleh (a) dinas-dinas, program dan layanan yang ada, (b)
LSM lokal, (c) kelurahan, kecamatan dan kelompok masyarakat (misalnya kegiatan atas inisiatif masyarakat
sendiri) dan (d) sektor swasta baik formal maupun informal.
Manfaat studi PMGK untuk Program Pembangunan Sanitasi adalah:
a.

Terjadinya peningkatan kesadaran masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah kota baik laki-laki dan
perempuan mengenai kondisi dan seriusnya masalah sanitasi dan kebersihan;

b.

Munculnya kebutuhan masyarakat, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin yang disertai dengan
kemauan untuk berkontribusi dalam pelaksanaan program sanitasi;

c.

Teridentifikasinya daerah setingkat Kelurahan yang berpotensi.

d.

Hasil survei digunakan sebagai salah satu bahan penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota & Penyusunan
Strategi Sanitasi Kota

Pembentukan Tim (berbagai


kedinasan)
Menetapkan kriteria PMJK
Menyusun daftar
program/proyek/layanan
yang sesuai kriteria PMJK
Menetapkan kriteria untuk
keperluan kunjungan
lapangan
Pilih program/proyek/layanan
untuk kunjungan lapangan
Kunjungan lapangan:
melakukan observasi
diskusi dengan tokoh
masyarakat, perempuan
dan laki-laki serta
mendokumentasikanya
Lakukan penilaian terhadap
kualitas dan hasil, biaya
Menyepakati skala yang
dibuat
Memasukannya ke dalam
Buku Putih

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

5.2.2. Proses dan Tahapan Studi PMGK

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

5.2.3. Indikasi permasalahan dan opsi


Dari studi yang dilakukan terhadap proyek/program/layanan kegiatan dari Pemerintah Kota dengan
mengambil sample kegiatan Sanitasi Langsung Berbasis Masyarakat (SLBM), komposting, adiwiyata, 3R dan
PHBS terdapat indikasi permasalahan dan opsi pengembangan yang terkait PMGK.
5.2.3.1. Indikasi Permasalahan
a.

Masyarakat tidak diajak rembug pada saat perencanaan proyek Sanitasi sehingga kurang ada
kesepahaman antara kebutuhan masyarakat dengan rencana pembangunan oleh Pemkot.

b.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan belum menyadarii
manfaat dari pembangunan sanitasi.

c.

Terbatasnya pendanaan untuk pembiayaan prasarana sanitasi.

d.

Sulitnya merubah perilaku masyarakat dalam melakukan pola hidup yang bersih dan sehat.

e.

Konsistensi sikap dan perilaku yang mudah berubah akibat pengaruh lingkungan.

f.

Belum tersedianya kelompok masyarakat yang peduli sampah di setiap wilayah / kelurahan.

g.

Pihak swasta telah mulai memasarkan produk-produk organik sehingga persaingan dengan
pihak masyarakat lebih sulit.

5.2.3.2. Opsi Pengembangan Sanitasi


a.

Perlunya rembug warga dengan Pemkot dan LSM untuk pemanfaatan pendanaan untuk
pembangunan prasarana sanitasi.

b.

Pendidikan di sekolah diharapkan memasukkan kurikulum / kegiatan yang menyangkut 3R


yang bisa bekerjasama dengan organisasi yang terkait dengan pengolaan sampah sehingga dapat
memberikan kesadaran terhadap siswa agar terhindar dari pengaruh lingkungan terhadap sanitasi yang
buruk.

c.

Dukungan dan komitmen Pemkot dan unit pengelola sampah serta pihak swasta untuk
menyadarkan masyarakat dalam memilah sampah serta adanya pengurangan produksi bahan kemasan
non organik.

d.

Masyarakat diharapkan bekerjasama dengan pengepul dan pemulung di setiap wilayah untuk
menampung sampah yang telah dipisah sehingga dapat di recycle.
Perlunya penyuluhan rutin dari Pemkot dan LSM kepada masyarakat tentang PHBS agar dapat
merubah perilaku dan kesadaran masyarakat.

f.

Pengelola komposting yang telah berjalan dengan baik hendaknya mengajak masyarakat untuk
berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan komposting.

g.

Pemerintah mensosialisasikan kepada masyarakat keuntungan menggunakan produk-produk


organik.

h.

Pemerintah bekerjasama dengan masyarakat untuk pendanaan dan pemasaran produk


organik.

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

e.

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

5.3. MEDIA DAN PENINGKATAN KEPEDULIAN SANITASI


Sanitasi dan kepedulian masyarakat tidak dapat lepas dari komuniksi dimana dalam komunikasi
terdapat pengirim pesan (komunikator), media / saluran komunikasi, pesan yang ingin disampaikan, alat / tools
komunikasi yang digunakan serta sasaran komunikasi (komunikan). Untuk itu dilakukan studi media yang
merupakan salah satu studi yang dilakukan oleh pokja Sanitasi kota Probolinggo dalam rangka melengkapi data
untuk buku putih. Buku putih merupakan rangkuman kondisi eksisting kota diharapakan dapat menyediakan
semua informasi mengenai kota termasuk mengenai media yang terdapat dikota termasuk didalamnya referensi
media masyarakat.
Studi media bertujuan :
a.

mengetahui

pengalaman-pengalaman

dan

kapasitas

pemerintah

kota

dalam

menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pemasaran sosial termasuk disini adalah media yang digunakan,
jenis kegiatan, isu-isu yang diangkat, khalayak sasaran dan catatan pembelajaran.
b.

Mengetahui pandangan media massa terhadap isu-isu yang diangkat oleh pemkot dan USDP
dan peluang-peluang kerjasama dengan media massa

c.

Mengetahui pola pencarian informasi rumah tangga terkait dengan isu-isu kesehatan dan isu
sosial lainnya

d.

Mendapatkan informasi mengenai konsumsi dan preferensi media dan kegiatan-kegiatan


kemasyarakatan khalayak yang potensial menjadi saluran komunikasi isu-isu sanitasi.
Adapun hasil dari studi ini adalah :

1.

Sebagai salah satu bahan menyusun strategi kampanye kepedulian sanitasi

2.

Digunakan sebagai dasar perencanaan media untuk kampanye kepedulian sanitasi

3.

Media belajar bersama, khususnya bagi pokja sanitasi untuk kegiatan sejenis dimasa mendatang

4.

Terinformasinya program pembangunan sanitasi kota, ISSDP dan pokja sanitasi kota kepada nara
sumber yang diwawancarai
Berikut adalah hasil pemetaan yang dilakukan oleh pokja

1.

Hasil pengumpulan data dari SKPD


Pengumpulan data dari SKPD dilakukan dengan cara memberikan kuisoner serta wawancara di masingUntuk sanitasi kota Probolinggo, wawancara dilakukan pada narasumber dari 6 SKPD / dinas yaitu
bagian humas dan protokol, Badan Lingkungan Hidup (BLH), dinas pekerjaan umum (DPU), dinas Kesehatan
(dinkes), PDAM dan RSUD Dr. Moh. Saleh.

SKPD / DINAS
Bagian humas dan
protokol

Tabel 5. 7 Hasil Wawancara Data SKPD


HASIL PEMETAAN
SKPD / dinas memiliki anggaran sendiri untuk memproduksi materi komunikasi, ada
yang memproduksi sendiri dan ada juga yang bekerjasama dengan humas.
Humas membawahi Radio Suara Kota Probolinggo FM 101.7, Majalah LinkGo serta
Tabloid Suara Kota yang terbit dua minggu sekali yang didistribusikan keseluruh
instansi pemerintah.
Alat komunikasi yang digunakan untuk penyebaran informasi adalah: Media Cetak dan

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

masing SKPD yang berhubungan dengan sanitasi.

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010


SKPD / DINAS

HASIL PEMETAAN
elektronik, Banner, Baliho, Leaflet, Spanduk, Papan informasi dan mobil siaran keliling
Suara Kota.
Badan Lingkungan
Untuk mensosialisaikan program adiwiyata, komposting, 3R, pengelolaan dan
Hidup (BLH)
pemilahan sampah dilakukan dengan dialog interaktif dengan masyarakat dan juga
melalui sarana media elektronik yaitu Radio Suara Kota Probolinggo FM 101.7.
Alat komunikasi yang digunakan untuk penyebaran informasi adalah: Media Cetak dan
elektronik, Banner, Baliho, Leaflet, Spanduk, Papan informasi.
Dinas Pekerjaan Umum Program yang sedang dilaksanakan adalah sosialisasi program Sanitasi Lingkungan
(DPU)
Berbasis Masyarakat (SLBM) di kelurahan-kelurahan terpilih.
Untuk mensosialisaikan program SLBM tersebut hanya dilakukan pemaparan langsung
dengan menggunakan LCD dan belum bekerjasama dengan media massa lokal.
Selalu melakukan kerjasama dengan SKPD / dinas terkait untuk melakukan sosialisasi
bersama, terutama pada program sanitasi.
Dinas Kesehatan
Telah melakukan sosialisasi di bidang kesehatan diantaranya melalui Interaktif dan
(dinkes)
Radio Sport di Radio Suara Kota Probolinggo FM 101.7, siaran keliling serta
penyuluhan langsung ke sasaran, selain itu dengan memasang spanduk dan bannner.
Untuk penyuluhan sanitasi lingkungan dilakukan langsung pada sasaran lokasi Kota
Sehat.
PDAM
Media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan masyarakat adalah Radio Suara
Kota Probolinggo FM 101.7, Jawa Pos (radar bromo) dan siaran keliling (dengan mobil
layanan PDAM).
Koordinasi / bekerjasama dengan SKPD / dinas lain dalam mengkampanyekan masalah
sosial.
Hasil yang didapat dari kegiatan pemasaran sosial yang pernah dilakukan adalah bisa
mengetahui keluhan dari pelanggan dan mengetahui keberadaan masyarakat secara
langsung.
RSUD Dr. Mohamad
Media yang digunakan untuk mengkampanyekan masalah sosial adalah radio, leaflet
Saleh
dan poster.
Jenis kegiatan komunikasi yang dilakukan adalah dialog dan seminar dengan sasaran
yang dituju adalah masyarakat Probolinggo secara umum.
Dalam mengkampanyekan masalah sosial teruutama berhubungan dengan masalah
kesehatan RSUD Dr. Mohamad Saleh bekerjasama dengan SKPD / dinas lain yang
terkait.
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2010

Sehingga dari hasil kuisioner serta wawancara dari SKPD / dinas tersebut dapat ditarik kesimpulan
sebagi berikut :
Beberapa SKPD / dinas telah bekerjasama dalam melakukan kegiatan sosialisasi / penyuluhan sehingga
informasi yang didapat bisa lebih lengkap dan terpadu.
Masing masing SKPD / dinas telah memiliki kegiatan dan anggaran untuk komunikasi termasuk
oleh SKPD / dinas terkait namun juga bekerjasama dengan humas. Materi komunikasi yang digunakan
masih terbatas dalm bentuk spanduk, leaflet, poster, baliho, dan iklan layanan masyarakat di radio.
SKPD / dinas sudah menggunakan Radio Suara Kota FM 101.7 sebagai salah satu media dalam
menyebarkan informasi namun masih belum maksimal karena belum berkesinambungan.
SKPD / dinas masih belum memaksimalkan media cetak, hal ini disebabkan karena media cetak hanya
diundang apabila ada acara.

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

didalamnya produksi materi komunikasi. Untuk produksi materi komunikasi dikerjakan secara langsung

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

2.

Hasil pengumpulan data dari media massa lokal


Di kota Probolinggo terdapat cukup banyak media massa lokal dan nasional termasuk didalamnya radio
dan media cetak.

Media Cetak
Media Lokal

Media Nasional

1. Radar Bromo

1. Jawa Pos

2. SR News

2. Kompas

3. Suara Publik

3. Republika

4. Memo
5. Bromo Pos
6. Radar Surabaya
7. Surabaya Post
8. Surabaya Pagi
9. Sapujagat
10. Surya

Media Elektronik (televisi)


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Media Lokal

RCTI
1. JTV
Global TV
TPI
Metro TV
SCTV
AN TV
TV One
Indosiar
Trans Corp
TVRI
Media elektronik dan cetak yang dimiliki oleh bagian humas dan protokol Kota Probolinggo

adalah : Radio Suara Kota Probolinggo FM101.7 dan tabloid Suara Kota.
Ada 2 media massa lokal yang telah dikunjungi dan diwawancarai oleh Pokja Sanitasi yaitu radio Suara
Kota dan harian Radar Bromo.
a.

Radio Suara Kota Probolinggo FM 101.7


Radio Suara Kota berada dibawah koordinasi bagian humas dan merupakan radio milik pemerintah.
Target audience yang dicapai adalah semua kalangan dari bawah, menengah dan atas, dimana jumlah

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Media Nasional

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

pendengar Radio Suara Kota Probolinggo FM 101.7 rata-rata sekitar 70% dari masyarakat Probolinggo.
Radio Suara Kota juga sering bekerjasama dengan SKPD / dinas untuk mensosialisasikan isu tertentu.
Sedangkan program yang ikut pro aktif terkait penyuksesan sanitasi adalah program Laporo Rek dan
Ruang Dialog, salah satu contohnya yaitu berdasarkan laporan dari masyarakat melalui salah satu
program tersebut yaitu jamban umum yang disediakan oleh Pemerintah tidak mendapatkan perawatan
secara maksimal bahkan masih ada sebagian masyarakat yang lebih suka BAB ke sungai, sehingga
Pemerintah dapat segera menindaklanjuti dari hasil laporan masyarakat tersebut.
b.

Harian Radar Bromo


Harian Radar Bromo merupakan surat kabar harian yang dikelola oleh swasta dimana satu manajemen
dengan Jawa Pos Grup. Dimana mengusung format media secara umum dan pada dasarnya segmentasi
target audience yang dituju adalah dari kalangan menengah. Menurut pantauan Radar Bromo minat
pembaca penduduk Kota Probolinggo dan sekitarnya cukup tinggi, hal ini dibuktikandu oplah berkisar
27000 eksemplar dengan pendistribusian tersebar di Pasuruan, Probolinggo, Klakah, Pasir Putih dan
Trawas.
Radar Bromo belum memiliki rubrik khusus mengenai sanitasi tetapi ketika ada persoalan mengenai
sanitasi pasti langsung akan dimuat. Radar Bromo menganggap bahwa isu sanitasi masih sangat relevan
utnuk diangkat ke media untuk dijadikan berita. Sosialisai tentang sanitasi yang telah dilakukan oleh
SKPD / dinas didnilai masih belum maksimal. Yang selama ini terjadi, SKPD / dinas melakukan sosialisasi
hanya dilakukan pada waktu tertentu dan tidak berkesinambungan.

5.4. KETERLIBATAN SEKTOR SWASTA DALAM LAYANAN SANITASI


5.4.1. Sub Sektor Persampahan
Sumber sampah Kota Probolinggo diperoleh dari beberapa kawasan, diantaranya dihasilkan dari
kawasan perumahan, kawasan industri, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan perkantoran, Rumah Sakit
serta pasar. Karakteristik penanganan sampah yang dihasilkan oleh kawasan-kawasan tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Perumahan
Kondisi sampah pada kawasan perumahan pada umumnya tidak dipilah terlebih dahulu, namun
perumahan sedang diuji cobakan alat pengolah sampah organik yaitu composer Aerob. Alat ini berfungsi
untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk.
b. Industri
Pada umumnya sampah dari kawasan industri sudah mengalami pemilahan seperti sampah basah dan
kering. Limbah (cair dan padat berbahaya) pada industri besar pada umumnya juga sudah dilakukan
pengolahan secara mandiri oleh masing-masing industri. Pemanfaatan sampah industri antara lain
pengolahan sampah kertas, plastik, kulit dan karung yang biasanya banyak diusahakan dengan sistem daur
ulang maupun dijual secara langsung kepada pengusaha bahan bekas.
KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

langsung diangkut ke tempat pengumpulan sementara yang terletak didekat perumahan. Pada beberapa

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

c. Kawasan Perdagangan dan Jasa


Untuk kawasan perdagangan dan jasa, pemilahan sampah tidak dilakukan sehingga sampah yang
masuk kedalam TPS merupakan sampah yang tercampur. Pengumpulan sampah di kawasan perdagangan
dan jasa langsung diangkut oleh petugas yang kemudian dibawa ke TPS yang berada di kawasan tersebut.
d. Kawasan Kesehatan
Kondisi sampah pada fasilitas kesehatan pada umumnya sudah mengalami pemilahan antara sampah
medis dan non medis. Untuk sampah medis penanganannya di buang pada tempat sampah khusus seperti
incinerator sehingga sampah berbahaya seperti alat suntik dapat langsung dibakar pada suhu tertentu.
e. Pasar
Volume sampah yang dihasilkan dari pasar yang ada di Kota Probolinggo rata-rata per harinya sebesar
8.609 kg/hari, hal ini berarti 17.01% dari total sumber sampah yang ada di Kota Probolinggo. Proses
penanganan sampah dari pasar, sampah dikumpulkan pada TPS kontainer yang terdapat di lingkungan
pasar, kemudian di bawa ke TPS Kota Probolinggo. Lokasi Pengolahan Sampah Terpadu Pasar Baru di Kota
Probolinggo terdapat di Jalan Gubernur Suryo (Ungup-Ungup). Pada lokasi tersebut sampah kertas, plastik,
kaca dan organik sudah mengalami pengolahan (composer aerob), sehingga dapat mereduksi volume
sampah pasar yang masuk ke TPA. Selain itu pada lokasi Pengolahan Sampah Terpadu Pasar Baru juga
telah terjadi kerja sama antara Pemerintah Kota Probolinggo dengan Yayasan Danamon Peduli (Bank
Danamon).
Sesuai dengan SOTK maka SKPD yang bertanggung jawab terhadap penanganan sub sektor
persampahan di kota Probolinggo adalah Badan Lingkungan Hidup.
Berdasarkan kajian data sekunder dari SKDP terkait, diperoleh data persampahan sebagai berikut:
Jumlah timbulan sampah per hari = 127 ton atau 373.5 m3 (data tahun 2010)
Kapasitas penanganan sampah atau Service Coverage sebesar 10 persen dari area kota
Komposisi sampah yang dikumpulkan berdasarkan sumbernya adalah sebagai berikut: (data tahun
a.

Perumahan = 65.42%,

b.

Perusahaan/Industri = 0.80%

c.

Pasar = 17.01%

d.

Toko dan restoran = 1.15%

e.

Taman = 3.33%

f.

Terminal = 1.48%

g.

Rumahsakit dan Puskesmas = 0.41%

h.

Tinja = 10.40%

5.4.2. Pengelolaan TPA


Berdasarkan catatan unit pengelola TPA, volume sampah yang masuk tiap hari sebanyak 41,651
ton/hari. Metode penampungan sampah masih menggunakan open dumping. Saat ini diperkirakan ada sekitar 62
KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

2009)

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

orang pemulung yang beroperasi di TPA. Para pemulung tersebut diperkirakan bisa mengurangi sampah TPA
sekitar 3,1 ton/hari atau 7,4% dari volume sampah yang masuk TPA.
Permasalahan utama yang menjadi kendala dalam penanganan sampah di Kota Probolinggo adalah:
Masih banyak warga masyarakat yang masih berperilaku buruk dalam penanganan sampah misalnya
membuang sampah sembarang, sampah tidak dipilah-pilah sebelum dibuang dan cenderung boros
memproduksi sampah.
Besarnya penggunaan bahan non organik dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebagai kemasan makanan,
minuman maupun peralatan rumah tangga. Sehingga apabila bahan tersebut dibuat tidak mudah hancur
Inisiatif yang sudah/sedang dilakukan Badan Lingkungan Hidup dalam meningkatkan kualitas pelayanan
dalam penanganan sampah adalah sebagai berikut:
Melakukan optimalisasi pemanfaatan sampah dengan mengefektifkan operasional pengolahan sampah
menjadi kompos dan butiran plastik. Pengolahan ini dilakukan oleh UPTD Pengolahan Sampah dan
Penanganan Limbah
Menambah peralatan berat yang digunakan untuk perataan sampah di TPA
Melakukan penanganan sampah dengan metode controlled landfill
Partisipasi sektor swasta dalam penanganan sampah Kota Probolinggo belum memasuki pada tatanan
formal. Pihak Pemerintah Kota Probolinggo belum mengagendakan adanya kerja sama formal yang dituangkan
dalam suatu kontrak kerja. Melalui Studi SSA ini diharapkan akan muncul sebuah inspirasi yang lebih
memungkinkan adanya sinergi, baik secara formal maupun informal antara pihak Pemerintah Kota Probolinggo
dengan sektor swasta setempat, khususnya dalam penangnan sampah kota.
5.4.2.1. Pengusaha Penampung (Pengepul) dan Atau Pengusaha Produksi Daur Ulang Barang Bekas
Partisipasi pihak swasta dalam pengolahan sampah di Kota Probolinggo sudah mulai bermunculan, hal
ini dikarenakan pihak swasta sudah melihat adanya peluang bisnis. Pada umumnya pihak swasta ini
mengumpulkan sampah non organik baik yang bersumber dari rumah tangga maupun dari fasilitas umum dan
kawasan perdagangan dan jasa (hotel, restoran dan lain-lain) yang memiliki nilai jual. Pihak swasta Kota
Probolinggo mayoritas berupa pengepul dan Kelompok Masyarakat (Pokmas). Beberapa pengepul dan Pokmas
yaitu Laporan SSA.
5.4.2.2. Partisipasi Lembaga Non Pemerintahan (LSM / KSM)
Nama unit kegiatan: Papesa (Paguyuban Peduli Sampah)
Area kerja: Tingkat Kota
Sudah aktif beroperasi sejak tanggal 12 Juli 2006 sampai waktu yang tidak ditentukan.

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

telah kami identifikasi dan wawancarai. Data hasil identifikasi dan wawancara dapat dilihat dalam Lampiran 3

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

lingkup kegiatan dari Papesa adalah mendukung Pemerintah Kota dalam upaya menangani sampah dengan
cara mengkoordinasi dan memfasilitasi Pokmas yang ada di masing-masing kelurahan untuk mengolah
sampah dengan cara memilah.
Papesa beranggota masyarakat dari 12 RW dari 12 kelurahan. Jumlah anggota masing-masing RW berkisar
10 orang yang mayoritas adalah ibu-ibu yang tergabung dalam dasawisma
Sumber pendanaan diperoleh dari Pemerintah Kota Probolinggo
Sampah yang diolah adalah sampah organik dan sampah non organik. Sampah dari masyarakat minimal 5
sak akan diambil oleh UPTD Komposting. Berikutnya pada waktu datang lagi maka UPTD akan mengirim
kompos ke masyarakat.
Kendala pengembangan skala aktivitas lebih lanjut:
o

Kepedulian masyarakat masih kurang. Dari 183 RW yang terdapat di Kota Probolinggo baru 12 RW

V-7

yang mempunyai Pokmas Peduli Sampah

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO 2010

INDIKASI PERMASALAHAN & OPSI PENGEMBANGAN SANITASI


SANITASI....................................................................1
5.1.
AREA BERESIKO TINGGI DAN PERMASALAHAN UTAMANYA...............................................................1
5.1.1.
Study EHRA........................................................................................................................................2
5.1.1.1. Persampahan..................................................................................................................................3
5.1.1.2. Air Limbah Rumah Tangga (Domestik)...........................................................................................4
5.1.1.3. Drainase..........................................................................................................................................6
5.1.1.4. Air Minum........................................................................................................................................8
5.1.2.
Skoring Kondisi Sanitasi Kelurahan Kota Probolinggo........................................................................9
5.1.2.1. Proses Penilaian...........................................................................................................................10
5.1.2.2. Hasil Penilaian...............................................................................................................................11
5.2.
KAJIAN DAN OPSI PARTISIPASI MASYARAKAT DAN GENDER (PMG) DI AREA PRIORITAS.............18
5.2.1.
Kajian Partisipasi Masyarakat dan Gender (PMG)............................................................................18
5.2.2.
Proses dan Tahapan Studi PMGK.....................................................................................................18
5.2.3.
Indikasi permasalahan dan opsi........................................................................................................19
5.2.3.1. Indikasi Permasalahan..................................................................................................................19
5.2.3.2. Opsi Pengembangan Sanitasi.......................................................................................................19
5.3.
MEDIA DAN PENINGKATAN KEPEDULIAN SANITASI............................................................................19
5.4.
KETERLIBATAN SEKTOR SWASTA DALAM LAYANAN SANITASI..........................................................23
5.4.1.
Sub Sektor Persampahan.................................................................................................................23
5.4.2.
Pengelolaan TPA...............................................................................................................................24
5.4.2.1. Pengusaha Penampung (Pengepul) dan Atau Pengusaha Produksi Daur Ulang Barang Bekas 25
5.4.2.2. Partisipasi Lembaga Non Pemerintahan (LSM / KSM).................................................................25

Gambar 5. 1 Proses Penentuan Area Berisiko..........................................................................................................1


Gambar 5. 2 Flow Chart Identifikasi Tangki Septik....................................................................................................5
Gambar 5. 3 Grafik Identifikasi Keamanan Tangki Septik.........................................................................................6
Gambar 5. 4 Grafik Pengalaman Banjir.....................................................................................................................7
Gambar 5. 5 Grafik Rutinitas Banjir pada Setiap Rumah Tangga.............................................................................7
Gambar 5. 6 Grafik Frekuensi Banjir yang Terjadi di Rumah Tangga.......................................................................7
Gambar 5. 7 Grafik Lama Waktu Pengeringan Genangan Air..................................................................................8
Gambar 5. 8 Dominasi Pemilihan Sumber Air Minum...............................................................................................9
Gambar 5. 9 Proses Penilaian Awal Area Berisiko..................................................................................................10
Gambar 5. 10 Skor untuk Menentukan Pilihan........................................................................................................11
Gambar 5. 11 Proses Penilaian Data EHRA...........................................................................................................12

Peta 5. 1 Peta Area Berisiko Kota Probolinggo Berdasarkan Data Sekunder........................................................15


Peta 5. 2 Peta Area Berisiko Sanitasi Kota Probolinggo.........................................................................................17

KELOMPOK KERJA SANITASI KOTA PROBOLINGGO

V-7

Tabel 5. 1 Cara Pembuangan Sampah.....................................................................................................................3


Tabel 5. 2 Tempat Buang Air Besar...........................................................................................................................4
Tabel 5. 3 Sumber Air Minum....................................................................................................................................9
Tabel 5. 4 Kriteria dan Sumber Data Sekunder.......................................................................................................11
Tabel 5. 5 Penilaian terhadap Data EHRA..............................................................................................................13
Tabel 5. 6 Hasil Akhir Penilaian Area Berisiko.........................................................................................................16
Tabel 5. 7 Hasil Wawancara Data SKPD.................................................................................................................20