Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Aktifitas ruang angkasa telah berkembang pesat. Satelit telah menguasai jaringan komunikasi
dan jaringan observasi. Pesawat ruang angkasa telah mendarat di bulan. Kemudian pencarian
informasi ruang angkasa dilanjutkan ke planet yang lebih jauh seperti Venus dan Mars. Sangat
besar jumlah Pengetahuan baru yang diperoleh dari eksplorasi ruang angkasa. Riset tentang
sumber bumi, aktifitas ionosfir, radiasi surya, sinar kosmik, struktur umum ruang angkasa dan
pembentukan planet.
Resolusi Majelis Umum PBB 1962 (XVIII) yang disahkan tahun 1963 menentukan bahwa ruang
angkasa dan benda-benda langit adalah bebas untuk eksplorasi dan penggunaan oleh semua
negara atas dasar persamaan dan menurut hukum internasional. Ruang angkasa dan

benda-

benda langit tidak bisa diambil untuk kepentingan nasional sendiri suatu negara dengan cara
apapun. Prinsip ini dikenal dengan prinsip Non Appropriation.
Perjanjian internasional 1967 tentang prinsip-prinsip yang mengatur tentang aktifitas negara
dalam eksplorasi dan penggunaan ruang angkasa termasuk bulan dan benda-benda langit lainnya.
Mengenai aktifitas militer di ruang angkasa ada dua interpretasi. Yang pertama berpendapat
bahwa hanya aktifitas militer agresif yang dilarang. Interpretasi yang kedua berpandangan bahwa
semua tindakan militer dilarang.
Dewasa ini satelit terus digunakan untuk tujuan spoinase dan pengamatan. Amerika Serikat
berpandangan bahwa satelit pada orbit bumi boleh dipergunakan untuk tujuan pengintaian,
sedang Uni Soviet tidak menyetujuinya. Disamping itu dimungkinkan pula penggunaan senjata
laser yang ditempatkan di ruang angkasa dengan memiliki kemampuan global untuk menyerang
suatu jangkauan target yang luas. Persoalan tersebut sudah mendapat perhatian dan dibahas
dalam konferensi UNISPACE 1982.
Liability Convention 1972 mengatur adanya sistem tanggung jawab rangkap (a dual system of
liability) yang ditentukan oleh tempat timbulnya kerugian. Berdasarkan Liability Convention

1972, ditetapkan dua prinsip hukum yang berbeda yang mengatur tentang tanggung jawab untuk
ganti rugi.
1.

Absolute Liability

Berdasarkan ketentuan Pasal II Liability Convention 1972, apabila kerugian terjadi di atas
permukaan bumi, misalnya tertimpanya suatu pabrik oleh kepingan suatu pesawat angkasa atau
kepingan tersebut menimpa suatu pesawat udara yang sedang berada dalam penerbangan (ruang
udara), maka pihak Negara Peluncur bertanggung jawab secara penuh dan mutlak (absolutely
liable), dalam arti Negara Peluncur harus mengganti seluruh kerugian yang diderita oleh pihak
ketiga tersebut, seketika kerugian itu terjadi. Pihak yang dirugikan tidak perlu memberikan suatu
pembuktian tentang adanya unsur kesalahan pada pihak Negara Peluncur (burden of proof),
cukup dengan menunjukkan fakta adanya kerugian tersebut (establishing the fact of damage)
yang disebabkan oleh suatu benda yang diidentifikasi sebagai milik Negara Peluncur.
2.

Strict Liability

Berdasarkan Pasal III Liability Convention 1972, apabila terjadi suatu kerugian bukan di atas
permukaan bumi dan menimpa benda angkasa milik Negara Peluncur lain, atau orang dan harta
milik yang berada di dalam benda angkasa milik Negara Peluncur lain, maka tanggung jawab
Negara Peluncur yang menimbulkan kerugian itu tercipta apabila negara yang dirugikan dapat
membuktikan adanya unsur kesalahan atau kelalaian besar di pihak Negara Peluncur tersebut
(liability based on fault).
Negara Peluncur dapat mutlak dibebaskan dari tanggung jawab apabila negara tersebut dapat
membuktikan bahwa secara keseluruhan atau sebagian kerugian tersebut disebabkan oleh adanya
kelalaian besar (gross negligences) atau kesengajaan yang dilakukan oleh Negara Penuntut.
Akan tetapi, pembebasan tersebut tidak berlaku bila kerugian itu disebabkan oleh kegiatankegiatan dari Negara Peluncur yang tidak sesuai dengan Hukum Internasional, terutama Piagam
PBB dan Space Treaty 1967.
Prinsip yang sama berlaku dalam suatu peluncuran bersama. Untuk menetapkan besarnya ganti
rugi bagi dapat diadakan suatu persetujuan tersendiri atau diperhitungkan dengan melihat

besarnya unsur kesalahan dari masing-masing Negara Peluncur. Tanggung jawab ini ditanggung
secara bersama dan sendiri-sendiri (jointly and severally liable).
Menurut Pasal I Liability Convention 1972, yang dimaksudkan dengan negara peluncur adalah
negara yang meluncurkan kendaraan ruang angkasa atau negara dimana kendaraan ruang
angkasa akan diluncurkan atau negara yang memberi fasilitas peluncur. Lebih lanjut di dalam
Pasal I Liability Convention 1972, yang dimaksud dengan kerusakan (damage) adalah kematian,
luka atau kerugian kesehatan, hilang atau kerusakan harta orang atau kerusakan harta benda
orang, hilang atau kerusakan harta organisasi internasional. Secara umum semua kerugian orang
baik materiil maupun non materiil dapat dimasukkan, setidak-tidaknya merugikan kesehatan
seperti kerusakan yang disebabkan karena pengaruh biologis, kimia, radioaktif, dll. Jadi disini
sudah jelas bahwa kerusakan tersebut harus ada yang disebabkan oleh kendaraan ruang angkasa.

Kasus Cosmos-954 merupakan kasus jatuhnya satelit bertenaga nuklir, Cosmos-954, milik Uni
Soviet di Kanada. Cosmos-954 merupakan salah satu satelit bertenaga nuklir milik Uni Soviet
yang diluncurkan pada tanggal 18 September 1957. Satelit ini dilengkapi dengan reaktor nuklir
seberat 55 kg dan menggunakan bahan uranium 235 dengan komposisi 90% uranium 235.
Beberapa minggu setelah peluncuran, satelit dinyatakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Sebab-sebab kemerosotan fungsi pun tidak diketahui dengan pasti.
Fasilitas lacak Uni Soviet yang kurang memadai mengakibatkan Soviet kehilangan kemampuan
untuk memantau secara akurat gerak dan posisi Cosmos-954. Pada tanggal 24 Januari 1978
dilaporkan bahwa Cosmos-954 telah memasuki atmosfir bumi dan mengarah ke wilayah Kanada
Barat Laut. Pada hari yang sama, Cosmos-954 telah jatuh di wilayah yang telah diperkirakan
dengan mengakibatkan radiasi radioaktif seluas 600 km2. Pecahan Cosmos-954 tersebut
berbobot sekitar 65 kg dan mengandung sekitar 3.500 partikel radioaktif dimana tingkat radiasi
partikel tersebut sangat bervariasi dari ribuan sampai jutaan dari satu rontgen/jam. Beberapa di
antaranya memiliki sifat sangat mematikan dan cukup untuk membunuh manusia dalam
beberapa jam sejak mengalami kontak pertama.
Pemerintah Kanada, dengan bantuan tenaga ahli dari Uni Soviet dan Amerika Serikat,
membutuhkan waktu tidak kurang dari delapan bulan dengan faktor kesulitan yang sangat tinggi

untuk menangani radiasi tersebut. Kesulitan tersebut ditambah dengan sedang berlangsungnya
musim dingin pada saat itu yang mengakibatkan pembekuan danau dan sebagian besar lahan
tertutupi salju sehingga menimbulkan hambatan besar dalam pembersihan lahan dari radiasi.

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah tanggung jawab yang dilakukan oleh Uni Soviet dengan jatuhnya satelit Cosmo
954 di Kanada ?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dan menganalisis tanggung jawab yang dilakukan oleh Uni Soviet dengan
jatuhnya satelit Cosmo 954 di Kanada

D. Kegunaan Penelitian
1.

Kegunaan Teoritis

Hasil pembahasan ini diharapkan akan dapat melengkapi dan mengembangkan perbendaharaan
ilmu hukum khususnya di bidang hukum angkasa internasional.
2.

Kegunaan Praktik

Makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi para penyelengara
konvensi dalam menyelesaikan suatu konflik dan tanggung jawab terhadap kasus ruang angkasa
dengan kaidah-kaidah hukum internasional yang telah diterapkan dlam konvensi dan aturan
lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Pengertian Hukum Angkasa Dan Hukum Udara

Hukum Angkasa adalah keseluruhan ketentuan-ketentuan atau norma-norma yang

berlaku di

ruang angkasa dan memiliki prinsip bebas untuk pemanfaatan dan eksplorasi di ruang angkasa.
Ruang angkasa memiliki beberapa pengertian
diantaranya[1] :
1.

Ruang Angkasa adalah ruang di seputar matahari kita dimana gaya gravitasinya adalah yang

paling dominan.
2.

Ruang angkasa adalah wilayah yang terletak diatas ruang udara dan memiliki prinsip bebas

untuk dieksplorasi dan pemanfaatannya oleh negara manapun tanpa memandang tingkat
kemajuan dari negara manapun.
Hukum Udara [2]adalah Keseluruhan ketentuan ketentuan dan

normanorma hukum

yang mengatur ruang udara, pesawat udara, pemanfaatannya untuk penerbangan dan prasarana
penerbangan. Ruang Udara memiliki beberapa pengertian di antaranya:
1.

Wilayah yang terletak di atas suatu Negara yang yuridiksinya merupakan kepemilikan dari

Negara itu, sebab segala bentuk kegiatan apapun yang menggunakan wilayah udara suatu Negara
harus memperoleh ijin dari Negara tersebut.

2.
3.

Wilayah suatu Negara yang merupakan suatu komoditi yang memiliki nilai komersil.
Ruang yang dimiliki oleh Negara berdaulat dan batas ketinggiannya ditetapkan oleh

ketinggian maksimum yang dapat di capai oleh suatu pesawat udara biasa atau dengan suatu cara
lain, dan di atasnya terdapat wilayah bebas lintas bagi pesawat udara non militer dan setelah itu
zona bebas sama sekali.
4.

Wilayah yang masih memiliki gaya grafitasi bumi

B. Dasar Dasar Hukum Tentang Ruang Angkasa


Dasar hukumnya adalah[3] :
1.

Deklarasi Bogota Tahun 1944 tentang Penerbangan Internasional.

2.

Space Treaty tahun 1967, diakui 2 prinsip yang paling pokok yakni Ruang Angkasa

3.

adalah bebas dan Ruang Angkasa tidak dapat dimiliki dengan alasan apapun juga.

4.

Rescue Agreement Tahun 1968

5.

Convention On Internasional Liability Caused By space Objects Tahun 1972 atau lebih

dikenal dengan Liability Convention tahun 1972.


6.

Registration Convension Tahun 1975. dan,

7.

Moon Agreement Tahun 1979

C.

Berkaitan Dengan Tanggung Jawab

Masalah kebebasan penggunaan ruang angkasa dan benda-benda langit dan masalah kedaulatan
adalah masalah utama yang menjadi pembahasan. Sampai saat inipun belum ada ketentuan batas
yang pasti antara ruang udara dan ruang angkasa, dan patut dipertanyakan apakah perlu
ditetapkan batas demikian.
Akhirnya perlu kiranya diperhatikan masalah tanggung jawab, suatu masalah yang selalu
melekat pada setiap kegiatan manusia, lebih-lebih lagi tanggung jawab untuk kerugian-kerugian

yang mungkin ditimbulkan dipermukaan bumi oleh benda-benda angkasa, apalagi satelit dan
pesawat ruang angkasa yang bersumber tenaga nuklir, kerugian yang mungkin mengancam
lingkungan, manusia maupun harta benda.
Setelah kita tinjau secara singkat sistem-sistem dan prinsip-prinsip tanggung jawab pada
umumnya maka Liabilty Convention tahun 1972 mengatur masalah tanggung jawab untuk
kerugian yang ditimbulikan oleh space objects atau benda angkasa. Dengan demikian, maka
sebelum membahas konvensi secara menyeluruh , sebagai pangkal tolak kita harus mengetahui
apa yang disebut dengan benda angkasa.
Benda angkasa [4] adalah setiap benda buatan manusia yang diluncurkan ke angkasa untuk
maksud-maksud tertentu atau

bagian-bagian dari benda tersebut tetap berada di angkasa

atau jatuh kembali ke bumi. Secara kongkrit benda angkasa adalah satelit, roket peluncur,
kendaraan angkasa (space vehicles), dan bagian-bagian benda ini yang sudah tidak terpakai lagi
(debris).
Secara sistematis istilah space objects merupakan suatu pengertian genus yang dibagi
dalam :
1.

Satelit buatan, baik berawak maupun tidak, yang diluncurkan dengan maksud untuk

mengelilingi bumi dalam lintasan atau orbit tertentu untuk berbagai tujuan.
2.

Roket-roket peluncur untuk satelit dan benda angkasa lainnya, yang mungkin jatuh kembali

ke bumi sebelum mencapai ruang angkasa.


3.

Kendaraan angkasa (space Vehicles) yang diluncurkan ke ruang angkasa, baik berawak

maupun tidak, yang tidak dimaksudkan secara tetap mengelilingi bumi dan orbit, tetapi untuk
menuju ke benda-benda langit (Celestial bodies) seperti bulan dan planet, untuk mendarat atau
mendekatinya, pada saat ini untuk tujuan penelitian.
4.

Debris yaitu benda-benda yang sudah tidak berfungsi lagi seperti bagian-bagian roket, satelit

yang dapat mengelilingi bumi di ruang angkasa, atau masuk kembali ke udara dengan
kemungkinan jatuh kembali ke bumi

Suatu jenis yang bersifat yuridis dan agak lain ialah pesawat space shuttle seperti pesawat
Columbia yang disebut pesawat hibrida, karena diluncurkan ke ruang angkasa dengan roket,
dapat mengelilingi bumi dalam orbit, dan dapat kembali ke bumi melalui ruang udara dan
mendarat seperti pesawat udara biasa, suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh kendaraan
angkasa lainnya dan mengingat defenisi dalam konvensi Chicago tahun 1944 bahwa pesawat
udara adalah setiap alat yang mendapat gaya angkat dari reaksi udara maka secara yuridis
pesawat space shuttle adalah pesawat udara. Akibatnya ialah apabila timbul kerugian
dipermukaan bumi oleh pesawat hibrida tersebut, dapat timbul konvensi Roma ataukah Liability
Convention. Maka yang berlaku adalah Liability Convention, karena fungsi utama dari space
shuttle adalah sebagai sarana untuk kegiatan di ruang angkasa, bukan di ruang udara.
Liability Convention mempergunakan dua prinsip dalam sistem tanggung jawab, yaitu prinsip
tanggung jawab mutlak yang juga dikenal dalam Konvensi Roma dan Protokol Guatemala,
khusus untuk kerugian yang ditimbulkan oleh dipermukaan bumi dan pada pesawat udara yang
sedang terbang. Sedangkan kerugian pada benda angkasa dan lain dan orang didalamnya,
dipergunakan prinsip yang didasarkan pada adanya kesalahan. Prinsip demikian tidak dikenal
dalam Hukum udara, karena dalam sistem Warsawa misalnya adanya kesalahan (wilfull
misconduct dan gross negligense) hanya berpengaruh untuk meniadakan limit tanggung jawab.
Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa bahwa prinsip kedua yang dipergunakan dalam
Liability Convention adalah sama dengan prinsip yang dikandung dalam pasal 1365 KUH
perdata.
Suatu perbedaan antara prinsip Absolute Liability dan Liability Based On Fault ialah bahwa
dengan prinsip pertama tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan sedangkan pada prinsip kedua
harus dibuktikan dahulu adanya kesalahan untuk adanya tanggung jawab.
Alasan untuk prinsip yang pertama adalah bahwa harus dilindungi pihak-pihak yang tidak ada
sangkut pautnya dengan kegiatan di angkasa, sedangkan untuk prinsip yang kedua adalah bahwa
seyogianya merupakan resiko bersama.
Dalam Liability Convention tidak dikenal prinsip pembatasan tanggung jawab dan jumlah
kompensasi adalah nilai seluruh kerugian yang diderita. Berbeda dengan Konvensi Roma yang
yang membatasi operator pesawat udara sampai suatu jumlah tertentu menurut berat pesawat,

atau protokol Guatemala tahun 1971 yang membatasi tanggung jawab pengangkut untuk satu
penumpang dengan limit maksimum sebesar 1.500.000 gold franc.
Tidak dipakainya prinsip pembatasan tanggung jawab dengan sendirinya menguntungkan pihak
yang dirugikan dan prinsip yang digunakan dalam Liabilty Convention sangat memuaskan
terutama dilihat dari segi perlindungan hukum bagi pihak-pihak yang menjadi korban.

D. Batas Ruang Udara Dan Ruang Angkasa.


Sampai sekarang tidak ada satu konvensi pun yang menegaskan dimana batas antara
ruang udara dan ruang angkasa, maka masalah ini di coba untuk di tetapkan oleh para teoritisi.
Teori-teori yang diajukan relatif berjumlah banyak dan memberi petunjuk mungkin tidak
akan ada kesepakatan karena tidak mengadakan diferensiasi untuk maksud apa pembatasan
dilakukan.
Jumlah teori ini sekurang-kurangnya 9, dan titik tolaknya bermacam-macam. [5]Teoriteori tentang garis batas antara Ruang Udara dan Ruang Angkasa adalah sebagai berikut :
1.

Garis berdasarkan Konsepsi Atmosfir.

Salah satu alasan bahwa dalam teks konvensi Chicago 1944vdala bahasa Prancis digunakan kata
espace atmospherique untuk sinonim kata air space. Atmosfir adalah lapisan udara di atas
permukaan bumi yang berisi gas terdiri dari elemen-elemen seperti N2, O2, CO2, H2, dll, dan
mempunyai tekanan dan kepadatan tertentu. Tekanan ini pada permukaan laut sama dengan
tekanan dari sutau kolom Hg atau air raksa setinggi 86 cm pada suatu luas sebesar 1 atmosfir.
Makin tinggi tekanan ini makin berkurang, akan tetapi baru pada ketinggian tertentu praktis
menjadi 0. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa teori berdasarkan konsepsi atmosfir tidak mungkin
konkrit karena bagaimanapun juga sampai ketinggian 500 km masih terdapat unsur-unsur
atmosfir.
2. Garis berdasarkan pembagian atmosfir dalam 4 lapisan, yaitu Troposphere, Stratosphere,
Mesosphere, Ionosphere.

Ruang Udara hanya meliputi stratosfir karena pesawat udara tidak bisa terbang melebihi
stratosfir.
3.

Toeri Konvensi Chicago 1944 berdasarkan ketinggian maksimum penerbangan dengan

pesawat udara. Didefenisikan sebagai setiap alat yang mendapat gaya angkat aerodinamis di
atmosfir dari reaksi udara.
4.

Garis Von Karman yaitu berdasarkan titik dimana gaya angkatb aerodinamis dikalahkan

oleh gaya sentrifugal, yaitu pada ketinggian kira-kira 90.000 meter

(90 kilometer). Teori

berdasarkan Von Karman adalah sederhana bunyinya, akan tetapi tidak praktis karena tidak
memperhatikan kenyataan bahwa sebelum gaya sentrifugal mulai bekerja, gaya angkat
aerodinamika sedemikian kecilnya sehingga praktis tidak lagi dapat dimanfaatkan oleh pesawat
udara. Tidak ada pesawat udara yang mampu terbang mencapai ketinggian 90 kilometer.
5.

Garis berdasarkan perigee (titik terendah) dari orbit satelit. Suatu Variasi: Garis terendah

satelit yang mengorbit pada tanggal ditanda tangani Space Treaty tahun 1967. Suatu variasi
dari teori ini adalah bahwa yang ditetapkan sebagai garis batas adalah titik terendah dari satelit
pada tanggal di tanda tanganinya space treaty yaitu pada tanggal 27 Januari 1967. Garis
demikian juga kurang pasti karena didasarkan pada kenyataan bahwa kalau atmosfir terlalu
padat, satelit tidak dapat tetap dalam orbitnya dan kepadatan atmosfir berbeda-beda diberbagai
tempat. Teori ini kebalikan dari teori ICAO yang mulai dari bawah, dengan titik nol dari
pesawat udara, sedangkan teori satelit dimulai dari atas. Kombinasi teori-teori ini akan
menyebabkan adanya suatu bagian ruang udara/angkasa yang tidak termasuk kedua jenis
pesawat tersebut.
6.

Garis berdasarkan titik dimana sudah tidak ada gaya tarik bumi. Gaya tarik bumi makin

lama makin kecil, sampai pada suatu ketinggian tertentu mencapai nilai yang praktis nol,
meskipun tidak hilang sama sekali, karena sebagaimana kita tahu, bahwa bulan tetap pada
orbitnya karena ada gaya tarik bumi. Benda yang dilepaskan pada ketinggian ini tidak akan jatuh
ke bumi akan tetapi akan melayang di angkasa. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa demi
keamanan suatu negara, ruang dibawah garis ini masih bisa digunakan untuk melakukan
pemboman atas wilayah negara lain.

7.

Garis ditentukan oleh kemampuan negara dibawahnya untuk secara efektif melaksanakan

kekuasaannya. Teori ini juga disebut teori kekuatan karena mendasarkan batas antara ruang
udara dan ruang angkasa pada kemampuan suatu negara untuk mempertahankan kekuasaannya
di ruang udara dan ruang angkasa. Tapi ini akan berakibat bahwa batas kedaulatan untuk tiap
negara akan berbeda-beda. Dengan demikian, bukanlah suatu situasi yang ideal. Teori ini
mengingatkan kita pada pendapat Bijnkershoek bahwa laut teritorial adalah sejauh kemungkinan
penguasaan. Kriterium ini menjadi dasar ketentuan sejauh jarak tembak meriam pantai, yaitu
sejauh 3 mil atau kurang lebih 5,5 kilometer.
8.

Teori Zone yang membagi ruang udara menjadi ruang yang tunduk pada kedaulatan suatu

negara, berdasarkan kemampuan terbang suatu pesawat udara biasa atau dengan suatu cara
pembatasan lainnya, suatu daerah lintas

(contiguous zone) yang dapat dilalui

dengan bebas oleh semua penerbangan non militer dan diatas kedua zone ini suatu ruang yang
bebas. Teori Zone membagi ruang diatas permukaan bumi menjadi tiga zone yaitu suatu zona
dimana negara berdaulat dan batas ketinggiannya ditentukan oleh ketinggian maksimum yang
dapat dicapai oleh suatu pesawat udara biasa atau dengan suatu cara lain, diatasnya terdapat zone
bebas lintas bagi pesawat udara non-militer, dan setelah itu zone bebas sama sekali. Dengan
kemajuan teknologi maka yang sulit adalah terdapat jenis-jenis pesawat udara yang bermesin
roket dan dapat terbang sampai suatu ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh pesawat udara
bermesin piston atau bermesin jet, seperti misalnya pesawat Bell X-15 dan ada pesawat angkasa
yang dapat mendarat seperti pesawat udara biasa, misalnya pesawat Space Shuttle Columbia.
9.

Garis batas ditentukan oleh suatu kombinasi diantara cara-cara yang disebutkan diatas. Dari

delapan teori yang dikemukakan tujuh didasarkan pada kodrat alamiah semesta alam kita,
sedangkan satu teori adalah teori kekuatan. Kelompok pertama bertitik tolak dari pengertian
atmosfir, gaya angkat dari reaksi udara, gaya sentrifugal, titik terendah dari orbit satelit (yang
ditentukan oleh gaya-gaya alamiah) dan gaya tarik bumi, yang kesemuanya memang merupakan
faktor-faktor yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dengan demikian, maka masalah yang pokok
adalah menentukan suatu garis batas yang tegas antara Ruang Udara dan Ruang Angkasa, yang
adil bagi setiap negara, tidak mengabaikan kodrat dan sifat alam, tanpa mempergunakan teori
efektifitas penguasaan yang pada hakekatnya merupakan teori kekuatan, dan mungkin hanya

dapat dimanfaatkan oleh beberapa negara saja dan tidak sesuai dengan prinsip bahwa setiap
negara mempunyai hak-hak yang sama di ruang angkasa.
E. Analisis Kasus Cosmo 954 Yang Jatuh Di Kanada
Pemerintah Uni Soviet menyadari bahwa peristiwa yang terjadi telah menyebabkan kerugian
bagi Kanada sehingga dalam hal ini tuntutan secara hukum tidak dilakukan. [6]Kanada hanya
mengajukan klaim dari segi ganti rugi sebab untuk melaksanakan operasi pembersihan dan
pemulihan kembali lingkungan yang telah tercemar membutuhkan biaya yang banyak. Kanada
telah melakukan dua kali operasi untuk mengatasi pencemaran radioaktif dan menelan biaya
sebesar $ 12,048,239.11. Untuk itu, pemerintah Kanada mengajukan total klaim sebesar
$ 6,041,174.70 kepada pemerintah Uni Soviet, dengan perincian

$ 4,414,348.86

berasal dari operasi fase pertama dan $ 1,626,825.84 dari operasi fase kedua. Akhirnya, Uni
Soviet dan Kanada menyelesaikan kasus ini melalui jalur non-litigasi. Kanada dan Uni Soviet
memilih cara negosiasi sebagaimana ditentukan dalam Pasal IX Liability Convention 1972.
Berdasarkan Pasal IX Liability Convention 1972, klaim tersebut dapat diajukan melalui
diplomatic channel.

Carl Christol dalam bukunya The Modern International Law of Outer Space menyatakan bahwa
Liability Convention 1972 mengatur adanya sistem tanggung jawab rangkap (a dual system of
liability) yang ditentukan oleh tempat timbulnya kerugian. Berdasarkan Liability Convention
1972, ditetapkan dua prinsip hukum yang berbeda yang mengatur tentang tanggung jawab untuk
ganti rugi.

Negara Peluncur dapat mutlak dibebaskan dari tanggung jawab apabila negara tersebut dapat
membuktikan bahwa secara keseluruhan atau sebagian kerugian tersebut disebabkan oleh adanya
kelalaian besar (gross negligences) atau kesengajaan yang dilakukan oleh Negara Penuntut. Akan
tetapi, pembebasan tersebut tidak berlaku bila kerugian itu disebabkan oleh kegiatan-kegiatan
dari Negara Peluncur yang tidak sesuai dengan Hukum Internasional, terutama Piagam PBB dan
Space Treaty 1967.

Prinsip yang sama berlaku dalam suatu peluncuran bersama. Untuk menetapkan besarnya ganti
rugi bagi dapat diadakan suatu persetujuan tersendiri atau diperhitungkan dengan melihat
besarnya unsur kesalahan dari masing-masing Negara Peluncur. Tanggung jawab ini ditanggung
secara bersama dan sendiri-sendiri (jointly and severally liable).

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian
Makalah ini disusun dengan sistem Normatif yaitu mencari penjelasan dari suatu hukum tertulis
baik dalam bentuk konvensi ataupun peraturan lain yang berhubungan dengan hukum angkasa .

B. Jenis Dan Sumber Data


1.

Data primer

Merupakan data yang diperoleh dari hasil konvensi dan peraturan umum yang berhubungan
dengan ruang angkasa.
2.

Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh dari literatur(buku-buku), data internet tentang hukum angkasa.

C. Analisis Data
1.

Metode Induktif, yaitu suatu cara menganalisis data dengan menyajikan data dari yang

bersifat khusus kemudian diuraikan secara umum


2.

Metode Deduktif, yaitu metode pengumpulan data dari sumber yang bersifat umum

kemudian disimpulkan secara khusus


3.

Metode Komparatif, yaitu metode pengumpulan data dengan cara membandingkan antara

konsep yang satu dengan konsep yang lainnya lalu menarik kesimpulan(Conclution)

BAB IV
PEMBAHASAN
Tanggung jawab yang dilakukan oleh Uni Soviet dengan jatuhnya satelit Cosmo 954 di Kanada
kasus Cosmos 954 ini, kerusakan yang dialami oleh Kanada disebabkan oleh jatuhnya kendaraan
angkasa berupa satelit Cosmos 954 milik Uni Soviet. [7]Terhadap Uni Soviet sebagai Negara
Peluncur berlaku prinsip absolute liability sebab kerusakan yang dialami oleh Kanada akibat
jatuhnya satelit Cosmos 954 milik Uni Soviet ini terjadi di atas permukaan wilayah Kanada,
dimana dalam hal ini Kanada tidak turut serta dalam kegiatan peluncuran satelit Cosmos 954 ini
dan tanpa keinginannya pula merasakan akibat buruk dari jatuhnya satelit Cosmos 954 ini. Lebih
jauh lagi, satelit Cosmos 954 ini mengandung risiko kebahayaan yang tinggi (extra hazardous
activity) karena mengandung reaktor nuklir seberat 55 kg dan telah mengakibatkan radiasi
radioaktif yang mematikan di atas permukaan wilayah Kanada sejauh 600 km2. Sehingga sesuai

dengan Pasal II Liability Convention 1972, kasus Cosmos 954 ini menggunakan prinsip absolute
liability yang berarti Uni Soviet bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang dialami oleh
Kanada tanpa perlu adanya suatu pembuktian.
Di dalam Pasal VI Liability Convention 1972 menyatakan bahwa pengurangan beban tanggung
jawab mutlak dijamin bilamana kerusakan tersebut karena seluruh atau sebagian dari kesalahan
yang telah dilakukan oleh korban dengan maksud merusak Negara Penuntut atau orang atau
badan hukumnya. Tetapi Negara Peluncur wajib membuktikan kesalahan Negara Penuntut dan
membuktikan bahwa ia juga tidak bersalah. Dalam hal ini tidak ada pengurangan beban tanggung
jawab mutlak kepada Uni Soviet.
Menurut Pasal VIII Liability Convention 1972, negara boleh mengajukan tuntutan atas
kerusakan daerahnya, miliknya atau warga negaranya baik orang maupun badan hukum, orang
asing yang menderita yang berada di daerahnya bilamana negaranya belum mengajukan tuntutan.
Yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah bahwa negara sebagai penuntut melakukan atas nama
warganya, atau mewakili negara asing yang berada di daerahnya atau kemungkinan pula mereka
tidak mempunyai status kewarganegaraan, karena menurut pasal yang telah disebutkan di atas,
bahwa seseorang atau individu tidak dapat menjadi subjek hukum.
Menurut Pasal VII Liability Convention 1972, warga negara dari Negara Peluncur tidak boleh
menikmati manfaat dari Liability Convention 1972. Hal ini sejalan dengan prinsip internasional
yang dimaksudkan dalam konvensi ini. Apabila dalam kasus ini terdapat warga negara Uni
Soviet yang menderita kerusakan akibat jatuhnya satelit Cosmos 954 maka ia tidak
diperkenankan menuntut berdasarkan Liability Convention 1972 walaupun kenyataannya ia
berada di wilayah Kanada pada saat terjadinya insiden. Akan tetapi penuntutan ini dimungkinkan
sepanjang hukum nasional Uni Soviet memungkinkan.
Klaim Kanada menunjukkan bahwa Kanada sama sekali tidak memperhitungkan kerugian
lingkungan yang diakibatkan oleh jatuhnya satelit Cosmos 954. Jumlah klaim yang diajukan oleh
Kanada hanya terbatas pada biaya operasi yang dikeluarkan selama membersihkan lahan dari
radiasi. Liability Convention 1972 tidak menetapkan secara khusus bahwa kerugian tidak
langsung (indirect damage) dapat diberikan kompensasi. Namun dari jiwa konvensi, secara
keseluruhan Liability Convention 1972 menanggung baik kerugian langsung maupun kerugian

tidak langsung sebab Liability Convention 1972 mengandung prinsip orientasi pada
perlindungan korban (victim oriented). Penerapan prinsip ini ditunjukkan dalam kasus Cosmos
954 ini dimana biaya-biaya pembersihan lahan dari radiasi dianggap sebagai uang ganti rugi.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Uni Soviet sebagai Negara Peluncur dapat mutlak
dibebaskan dari tanggung jawab apabila Uni Soviet dapat membuktikan bahwa secara
keseluruhan atau sebagian kerugian tersebut disebabkan oleh adanya kelalaian besar (gross
negligences) atau kesengajaan yang dilakukan oleh Kanada sebagai Negara Penuntut.
Pembebasan ini tidak berlaku bilamana kerugian itu disebabkan oleh kegiatan-kegiatan dari
Negara Peluncur yang tidak sesuai dengan Hukum Internasional, terutama Piagam PBB dan
Space Treaty 1967. Berdasarkan Space Treaty 1967 ini, jatuhnya satelit Cosmos 954 milik Uni
Soviet yang mengandung reaktor nuklir di atas permukaan wilayah Kanada telah membahayakan
keamanan wilayah Kanada sehingga hal ini dianggap melanggar salah satu prinsip dalam Space
Treaty 1967 yaitu untuk menjaga perdamaian dan keamanan (for maintaining peace and security)
di bawah hukum internasional. Jadi, Uni Soviet tidak dapat dibebaskan dari tanggung jawab
mutlak atas jatuhnya satelit Cosmos 954.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Uni Soviet sebagai Negara Peluncur yang menyebabkan jatuhnya satelit Cosmo 954 di Kanada
telah melaksanakan isi Liability Convention 1972 dimana Uni Soviet bertanggung jawab
terhadap kejadian tersebut. Dengan memberikan $ 6,041,174.70. Uni Soviet dan Kanada
menyelesaikan kasus ini melalui jalur non-litigasi klaim tersebut dapat diajukan melalui
diplomatic channel.

B. Saran
Negara-negara lain yang terlibat dalam kasus ruang angkasa seharusnya menyelesaikan kasusnya
sebagaimana cara penyelesaian yang dilakukan oleh Uni Soviet dan Kanada. Tanpa
membutuhkan waktu yang lama dan cara penyelesaian yang terlalu rumit serta menghilangkan
cara penyelesaian kasus secara perang.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Boer Mauna,2005,edisi ke-2, Hukum Internasional, PT. Alumni,Bandung

Burhan Tsani,1990,136, Hukum dan Hubungan Internasional, Liberty. Yogyakarta


Setyo widago, 51-54. Masalah-masalah hukum internasional Publik. Bayu media.malang
T. May Rudi dan Setyo Widogo,39-40. Masalah hukum internasional publik Edisi kedua. Bau
media. Malang

Lain-Lain
http:://rusdinblogspot.com.ruang lingkup hukum angkasa, diakses 20 Desember 2013
http:://www.hukum udara.com, diakses 20 Desember 2013
http:://www.hukum angkasa.com, diakses 20 Desember 2013

[1] Burhan Tsani,1990,136, Hukum dan Hubungan Internasional, Liberty. Yogyakarta


[2] http:://www.hukum udara.com, diakses 20 Desember 2013
[3] http:://rusdinblogspot.com.ruang lingkup hukum angkasa, diakses 20 Desember 2013
[4] http:://www.hukum angkasa.com, diakses 20 Desember 2013
[5] Boer Mauna,2005,edisi ke-2, Hukum Internasional, PT. Alumni,Bandung
[6] Setyo widogo, 51-54. Masalah-masalah hukum internasional Publik. Bayu media.malang
[7] T. May Rudi dan Setyo Widogo,39-40. Masalah hukum internasional publik. Bau media.
malang