Anda di halaman 1dari 58

TUGAS KELOMPOK AKUNTANSI KEUANGAN 1

PENJELASAN LAPORAN KEUANGAN PT INDOFOOD


SUKSES MAKMUR Tbk.

Nama Anggota:
Ratu Yuke Ratna Pembayun
Yunissa Rara Fahreza
Kintan Imanda Sabilina

- 1306391421
- 1306391472
- 1306469815

Anis Filzah Handayani

- 1306469821

Dinda Anastasya Nuraina

- 1306469834

Muhammad Arugha Savero

- 1306469885

Muhammad Rega Permana

- 1306469891

PROGRAM VOKASI AKUNTANSI


UNIVERSITAS INDONESIA
2014
1

Daftar Isi
Daftar Isi

ii

Bab 1 Pendahuluan
1
1.1Latar belakang
1.2Tujuan Penulisan
1
1.3Manfaat

Bab 2 Profil Perusahaan


2
2.1 Jenis Perusahaan
2
2.2 Manajemen Kunci dan Produk yang dihasilkan
3
2.3 Major Customer
3
2.4 Program CSR
2.5 Analisis Laporan Keuangan
4
2.5.1 Analisis Horizontal
2.5.2 Analisis Vertikal
5
2.5.3 Analisis Rasio
6

Bab 3- Teori Akuntansi 7


3.1 Penyajian Laporan Posisi Keuangan
7
3.2 Penyajian Laporan Laba Rugi
10
Bab 4 Pembahasan
4.1 Kas dan Setara Kas
14
4.2 Piutang Usaha
4.3 Persediaan
23
4.4 Aset Tetap
27
4.5 Aset Tetap yang Tidak Digunakan dalam Operasi
33
4.6 Intangible Assets
35

18

4.7 Provisi
4.8 Obligasi

39
41

Bab 5 Kesimpulan dan Saran


45
5.1 Kesimpulan
45
5.2 Saran

45

Lampiran 46
Artikel Kelompok
Surat Pernyataan
Laporan Keuangan
Daftar Referensi

46
51
52

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era globalisasi saat ini, semakin banyak perusahaan-perusahaan yang berdiri di
Indonesia.Baik perusahaan sejenis maupun yang tidak sejenis. Setiap perusahaan
memiliki rencana keuangan yang berbeda-beda. Dalam mengambil sebuah keputusan,
saat ini perusahaan tidak lagi hanya melihat keadaan perusahaan secara fisik, tetapi juga
dengan perhitungan-perhitungan akurat mengenai segala proses yang terjadi di
perusahaan. Perusahaan di Indonesia memiliki beberapa jenis.Oleh karena itu, laporan
keuangan setiap jenis perusahaan juga berbeda.
Salah satu cara yang menjadi pertimbangan suatu perusahaan dalam mengambil
keputusan adalah menganalisis laporan keuangan. Laporan keuangan sendiri
didefinisikan sebagai media yang menyajikan posisi dan keadaan keuangan perusahaan
yang digunakan oleh berbagai pihak internal maupun eksternal dalam menilai kinerja
manajemen maupun kinerja ekonomi perusahaan.Informasi tersebut disusun dan
disajikan perusahaan dalam bentuk laporan posisi keuangan, laporan laba rugi
komprehensif, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan
keuangan.Laporan keuangan mempunyai 4 karakterisik, yaitu relevan, andal, dapat
dibandingkan, dan dapat dimengerti. Sedangkan analisis laporan keuangan menurut
Soemarso (2006 : 430) adalah hubungan antara suatu angka dalam laporan keuangan
dengan angka lain yang mempunyai makna atau dapat menjelaskan arah perubahan
(trend) suatu fenomena.

1.2 Tujuan penulisan


1. Mengetahui perbandingan akun persediaan, aset tetap, assets held for sale,
property investasi, dan provisi dari kebijakan akuntansi di perusahaan dengan
standar akuntansi
2. Analisa vertical dan horizontal
3. Mengetahui metode perhitungan yang digunakan
4. Mengetahui metode yang digunakan untuk aktiva tetap

1.3 Manfaat
1. Bagi penulis, memperluas wawasan mengenai aktivitas keuangan perusahaan
yang sesungguhnya dan mengetahui penyusunan laporan keuangan perusahaan
manufaktur.
2. Bagi pihak lain, menjadi salah satu sumber ilmu dalam memperluas wawasan
mengenai analisis laporan keuangan dan aktivitas keuangan suatu perusahaan.

BAB 2
PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Jenis Perusahaan
PT Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan produsen berbagai jenis makanan dan
minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1990
oleh Sudono Salim dengan nama Panganjaya Intikusuma yang pada tahun 1994 menjadi
Indofood. Perusahaan ini mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan
Eropa.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) adalah perusahaan manufaktur yang
telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan Total Food Solutionsdengan kegiatan
operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari
produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di
pasar.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memiliki empat Kelompok
Usaha Strategis yang saling melengkapi sebagai berikut:

Produk Konsumen Bermerek (CBP). Kegiatan usahanya dilaksanakan oleh PT


Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), yang sahamnya tercatat di Bursa Efek
Indonesia (BEI) sejak tanggal 7 Oktober 2010. ICBP merupakan salah satu
produsen makanan dalam kemasan terkemuka di Indonesia yang memiliki
berbagai jenis produk makanan dalam kemasan. Berbagai merek produk ICBP
merupakan merekmerek yang terkemuka dan dikenal di Indonesia untuk makanan
dalam kemasan.

Bogasari, memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta.
Kegiatan usaha Grup ini didukung oleh unit perkapalan dan kemasan.

Agribisnis. Kegiatan operasional di bidang agribisnis dijalankan oleh PT Salim


Ivomas Pratama Tbk dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk yang sahamnya
tercatat di BEI, serta merupakan anak perusahaan Indofood Agri Resources Ltd.
yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Singapura. Kegiatan usaha utama Grup ini
meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan, pemuliaan dan pengolahan
kelapa sawit hingga produksi dan pemasaran minyak goreng, margarin dan
shortening bermerek. Di samping itu, kegiatan usaha Grup ini juga mencakup
pemuliaan dan pengolahan karet dan tebu serta tanaman lainnya.

Distribusi, memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia. Grup ini
mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anakanak
perusahaannya, serta berbagai produk pihak ketiga
2

2.2 Manajemen Kunci dan Produk yang Dihasilkan

Produk yang Dihasilkan


a) Produk konsumen bermerek, terdiri dari : Indomie, Pop Mie, Sarimi, Supermi,
Sakura, Mie Telur Cap 3 Ayam, Pop Bihun, Cheetos (lisensi dari PepsiCo), Chiki, JetZ, Lay's (lisensi dari PepsiCo), Chitato, Qtela, Wonderland, Trenz, Dueto, Bim-Bim,
Indomilk, Cap Enaak, Indoeskrim, Freiss, Orchid Butter, Kecap Indofood, Sambal
Indofood, Promina, SUN, Bumbu Kaldu Indofood, Bumbu Instan Indofood,Bumbu
Racik Indofood.
b) Bogasari,terdiri dari : Cakra Kembar Emas, Cakra Kembar, Segitiga Biru, Lencana
Merah, Kunci Biru, La Fonte.
c) Minyak goreng dan lemak, terdiri dari : Bimoli, Simas Palmia, Happy Salad Oil,
Amanda, Delima, Palmia.
d) Minuman, terdiri dari : Pepsi, Pepsi Blue, 7 Up, Mirinda, Tehkita, Fruitamin,
Tropicana Twister, Ichi Ocha, Cafla Latte, Club.

2.3 Major customer


Major customer dari PT Indofood adalah semua lapisan masyarakat dari anak anak
hingga orang dewasa dari kota kota besar hingga kota kota terpencil.

2.4

Program CSR
3

a. Bidang pendidikan
Beasiswa Indofood Sukses Makmur (BISMA), memberikan bantuan
pendidikan untuk anakanak karyawan PT Indofood yang berprestasi dari
tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.
Indofood Riset Nugraha, memberikan bantuan dana untuk kegiatan
penelitian di bidang pangan, terutama berkaitan dengan peningkatan
kualitas pangan.
b. Bidang Sosial

Indofood

Berbagi

Kasih,

dilaksanakan

pada

peringatan

hari

besar

keagamaan seperti Ramadhan dan Natal. Kepedulian diwujudkan dalam


bentuk pemberian paket produk dan peralatan sekolah kepada komunitas
komunitas yang membutuhkan.

MTQ , program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al


Quran bagi anakanak karyawan Indofood dan masyarakat di sekitar area
perkebunan.

Sumbangan qurban untuk memperingati hari Idul Adha yang diberikan


kepada masyarakat di sekitar area operasional Perseroan.

2.5

Analisis Laporan Keuangan

2.5.1 Analisis Horizontal


Analisis horizontal pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian PT Indofood Sukses
Makmur menyatakan bahwa:
Kenaikan tertinggi terjadi pada liabilitas jangka panjang sebesar 62,72% atau
sebesar Rp 7.804.383.
Aset lancar naik sebesar 23,74%, aset tidak lancar naik sebesar 37,63%. Sehingga
total aset keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 31,49%.
Liabilitas jangka pendek naik sebesar 52,06%. Sehingga total liabilitas keseluruhan
mengalami kenaikan sebesar 57,31%.
Ekuitas mengalami kenaikan yang paling sedikit yaitu sebesar 12,40%.
Tabel Perhitungan Analisis Horizontal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
(+) atau (-)
%
Akun
Jumlah
Jumlah
Rp
Rp
Rp
23,74
Aset Lancar
32.464.497
26.235.990
6.228.507
%
4

Aset Tidak Lancar

Rp
45.628.292

Rp
33.153.415

Rp
12.474.877

37,63
%

Total Aset

Rp
78.092.789

Rp
59.389.405

Rp
18.703.384

31,49
%

Liabilitas Jangka
Pendek

Rp
19.471.309

Rp
12.805.200

Rp
6.666.109

52,06
%

Liabilitas Jangka
Panjang

Rp
20.248.351

Rp
12.443.968

Rp
7.804.383

62,72
%

Total Liabilitas

Rp
39.719.660

Rp
25.249.168

Rp
14.470.492

57,31
%

Tota Ekuitas

Rp
38.373.129

Rp
34.140.237

Rp
4.232.892

12,40
%

2.5.2 Analisis Vertikal


Analisis Vertikal pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian PT Indofood Sukses
Makmur menyatakan bahwa:
Total Aset pada tahun 2013 terdiri dari Aset Lancar sebesar 41,57% dan Aset Tidak
Lancar sebesar 58,43%. Sedangkan untuk tahun 2012 terdiri dari Aset Lancar
sebesar 44,18% dan Aset Tidak Lancar sebesar 55,82%. Sehingga terjadi
penurunan Aset Lancar sebesar 2% dan kenaikan Aset Tidak Lancar sebesar 2%.
Total Aset pada tahun 2013 di dominasi oleh Aset Tidak Lancar masing masing
sebesar 58,43%.
Total liabilitas tahun 2013 di dominasi oleh liabilitas jangka panjang sebesar
50,98%, dan selanjutnya liabilitas jangka pendek sebesar 49,02%. Total liabilitas
sendiri adalah sebesar 50,86%.
Untuk total ekuitas adalah sebesar 49,14%.
Dengan demikian, aset lancar yang dimiliki maka PT Indofood Sukses Makmur
mampu membiayai liabilitas jangka pendeknya. Begitu juga dengan aset tidak
lancar yang dimiliki maka PT Indofood Sukses Makmur.
Tabel Perhitungan Analisis Vertikal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
Akun
Jumlah
%
Jumlah
%
Rp
41,57 Rp
44,18
Aset Lancar
32.464.497
% 26.235.990
%

Aset Tidak Lancar

Rp
45.628.292

58,43 Rp
% 33.153.415

55,82
%
5

Total Aset

Rp
78.092.789

Rp
59.389.405

Liabilitas Jangka
Pendek

Rp
19.471.309

49,02 Rp
% 12.805.200

50,72
%

Liabilitas Jangka
Panjang

Rp
20.248.351

50,98 Rp
% 12.443.968

49,28
%

Total Liabilitas

Rp
39.719.660

50,86 Rp
% 25.249.168

42,51
%

Total Ekuitas

Rp
38.373.129

49,14 Rp
% 34.140.237

57,49
%

2.5.3 Analisis Rasio

BAB 3
TEORI AKUNTANSI
3.1 Penyajian Laporan Posisi Keuangan
7

Laporan Posisi Keuangan adalah laporan keuangan yang menunjukkan posisi aset,
liabilitas dan ekuitas pada periode waktu tertentu di suatu organisasi atau perusahaan.
Menurut PSAK 1 tentang penyajian laporan keuangan, berikut adalah format penyajian
laporan posisi keuangan:
PT XXX
Laporan Posisi Keuangan
Per 31 Desember 20xx
ASET

LIABILITAS

Aset Lancar

Liabilitas Jangka Pendek

Aset tidak Lancar

Liabilitas Jangka Panjang


EKUITAS
Hak Non Pengendali
Ekuitas yang dapat didistribusikan ke pemilik entitas
induk

Pos - posminimal pada laporan posisi keuangan antara lain:

Aset tetap

Properti Investasi

Aset tak berwujud

Aset keuangan

Investasi dengan metode ekuitas

Persediaan

Piutang usaha dan piutang lainnya

Persediaan

Kas dan setara kas

Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual aset
kelompok lepasan

Utang usaha dan utang lainnya

Provisi
8

Liabilitas keuangan

Liabilitas pajak dan aset unuk pajak kini

Liabilitas pajak tangguhan dan aset pajak tangguhan

Liabilitas yg termasuk dlm kelompok lepasan

Kepentiangan non Pengendali

Modal saham dan cadangan

Kolom Aset terbagi 2 yaitu aset lancar dan aset tidak lancar. Klasifikasi aset lancar yaitu:
o

mengharapkan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk menjual atau


menggunakannya, dalam siklus operasi normal;

memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan;

mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah


pelaporan; atau

kas atau setara kas (PSAK 2: Laporan Arus Kas) kecuali aset tersebut dibatasi
pertukarannya atau penggunaannya untuk menyelesaikan liabilitas sekurangkurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Jika tidak memenuhi kriteria diatas maka aset tersebut merupakan aset tidak lancar.
Kolom liabilitas terbagi 2 yaitu liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang.
Klasifikasi liabilitas jangka pendek yaitu:
o

mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi


normalnya;

memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan;

liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan
setelah periode pelaporan; atau

tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama
sekurangkurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Perusahaan mengklasifikasi liabilitas yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai


liabilitas jangka panjang.
Liabilitas keuangan yang dibiayai kembali yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan
setelah periode pelaporan diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka pendek, jika entitas
tidak memiliki hak tanpa syarat untuk membiayai kembali.Pelanggaran perjanjian utang
yang mengakibatkan kreditur meminta percepatan pembayaran, maka liabilitas tersebut
9

disajikan sebagai liabilitas jangka pendek, meskipun kreditur mengijinkan penundaan


pembayaran selama 12 bulan setelah tanggal pelaporan tetapi persetujuan tersebut
diperoleh setelah tanggal pelaporan
Perbedaan laporan posisi keuangan menurut PSAK 1 dengan IFRS adalah urutan
penyajiannya. Berikut ini adalah perbedaannya:
Menurut PSAK 1
ASET

LIABILITAS

Aset Lancar

Liabilitas Jangka Pendek

Aset tidak Lancar

Liabilitas Jangka Panjang


EKUITAS
Hak Non Pengendali
Ekuitas yang dapat didistribusikan
entitas induk

ke pemilik

Menurut IFRS
ASET

Ekuitas

Aset tidak Lancar

Hak Non Pengendali

Aset Lancar

Ekuitas yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas


induk
Liabilitas
Liabilitas Jangka Pendek
Liabilitas Jangka Panjang

3.2 Penyajian Laporan Laba Rugi


Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang menunjukkan pendapatan dan
beban dalam periode waktu tertentu disuatu organisasi. Menurut PSAK 1 tentang
10

penyajian laporan keuangan, pos pos minimal yang ada dalam laporan laba rugi adalah
sebagai berikut:
o

pendapatan;

biaya keuangan;

bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan joint


ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas;

beban pajak;

suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari:

laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan; dan

keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai
wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok yang
dilepaskan dalam rangka operasi yang dihentikan;

laba rugi;

setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai


dengan sifat (selain jumlah dalam huruf (h));

bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang
dicatat dengan menggunakan metode ekuitas;

Laba komprehensif: Perubahan aset atau liabilitas yang tidak mempengaruhi laba pada
periode berjalan
o

Selisih revaluasi aset tetap

Perubahan nilai investasi available for sales

Dampak translasi laporan keuangan

Terdapat dua laporan yaitu:


o

Laba sebelum laba komprehensif

Laporan laba komprehensif dimulai dari laba/rugi bersih

Format laporan laba rugi komprehensif yang digabung:

11

12

Format laporan laba rugi komprehensif yang dipisah:

Ketika pos-pos pendapatan atau beban bernilai material, maka entitas


mengungkapkan sifat dan jumlahnya secara terpisah. Penyebab pengungkapan terpisah:
penurunan nilai persediaan /aset tetap dan pemulihannya
restrukturisasi atas aktivitas-aktivitas suatu entitas dan untuk setiap liabilitas
diestimasi atas biaya restrukturisasi;
pelepasan aset tetap;
pelepasan investasi;
operasi yang dihentikan;
penyelesaian litigasi; dan
pembalikan liabilitas diestimasi lain.
Entitas menyajikan analisis beban yang diakui dalam laba rugi dengan menggunakan
klasifikasi berdasarkan sifat atau fungsinya dalam entitas, mana yang dapat
menyediakan informasi yang lebih andal dan relevan.
Beban dibagi menjadi 2 jenis yaitu beban berdasarkan sifat dan beban berdasarkan
fungsi.Beban berdasarkan sifat yaitu beban yang pemilihan klasifikasi berdasarkan faktor
historis dan industri.Klasifikasi berdasarkan sifat lebih mudah karena tidak perlu alokasi
beban menurut fungsi.

13

Sedangkan jika klasifikasi beban menurut fungsi maka minimal biaya penjualan
berdasarkan metode fungsi secara terpisah dari beban lain dan harus mengungkapkan
informasi tambahan tentang sifat beban, termasuk beban penyusutan& amortisasi serta
imbalan kerja.

Bab 4
14

Pembahasan
4.1 Kas dan Setara Kas
Kas di perusahaan terdiri atas kas di tangan (Cash on Hand) dan kas di bank (Cash
in Banks). Setara kas terutama merupakan deposito berjangka dengan jangka waktu 3
bulan atau kurang sejak saat penempatan yang tidak dibatasi penggunaannya dan dapat
segera dijadikan kas tanpa terjadi perubahan nilai yang signifikan dan tidak digunakan
sebagai jaminan atas pinjaman.
Pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian perusahaan Kas dan Setara Kas
merupakan kelompok Aset bagian Aset Lancar dengan posisi paling atas.Posisi kas sesuai
dengan PSAK No. 1 tentang Laporan Keuangan.Sedangkan menurut IFRS (International
Financial Reporting Standar), bagian aset lancar berada di posisi terbawah pada
kelompok aset dengan kas berada pada posisi paling bawah pada bagian aset lancar.
Analisis Vertikal
Analisis Vertikal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk akun
Kas dan Setara kas PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas anak pada tahun 2013
menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada akun Kas dan Setara Kas
dari 50,87% pada tahun 2012 menjadi 42,10% pada tahun 2013. Berarti ada penurunan
Kas dan Setara Kas sebesar 8,77%. Total Kas dan Setara Kas di dominasi oleh Setara Kas
dari 75,84% pada tahun 2012 menjadi 74,41% pada tahun 2013. Kemudian pada bagian
Kas dan Setara Kas terjadi kenaikan Kas di Bank dari 22,67% pada tahun 2012 menjadi
25,15% pada tahun 2013. Sementara itu, untuk Kas di Tangan mengalami penurunan dari
1,40% pada tahun 2012 menjadi 0,44% pada tahun 2013.

Tabel Perhitungan Analisis Vertikal PT Indofood Sukses Makmur


(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
Akun
Jumlah
%
Jumlah
%
Kas di tangan
Rp59.465 0,44%
Rp186.268 1,40%

Rp3.437.274

25,15
%

Rp3.037.971

22,76
%

Setara Kas

Rp10.169.455

74,41
%

Rp10.121.642

75,84
%

Total Kas

Rp13.666.194

42,10
%

Rp13.345.881

50,87
%

Aset Lancar

Rp32.464.497

Kas di bank

Rp26.235.990
15

Analisis Horizontal
Analisis horizontal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk akun
Kas dan Setara kas PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas anak pada tahun 2013
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada Total Kas dan Setara kas sebesar 2,40%
atau sebesar Rp 320.313.000.000. Peningkatan tertinggi pada total Kas dan Setara Kas
berasal pada Kas di Bank sebesar 13,14% atau sebesar Rp 399.303.000.000. Penurunan
drastis terjadi pada Kas di tangan sebesar 68,08% atau sebesar Rp 126.803.000.000.
sementara itu Setara Kas mengalami kenaikan sebesar 0,47% atau sebesar Rp
47.813.000.000.
Tabel Perhitungan Analisis Horizontal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
(+) atau (-)
%
Akun
Jumlah
Jumlah
Kas di
tangan
Rp59.465
Rp186.268 Rp126.803 68,08%
Kas di bank

Rp3.437.274

Rp3.037.971

Rp399.303

13,14%

Setara Kas

Rp10.169.455

Rp10.121.642

Rp47.813

0,47%

Total Kas

Rp13.666.194

Rp13.345.881

Rp320.313

2,40%

Penyajian dan Pengungkapan


Menurut PSAK 2, Kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan rekening giro
(demand deposits). Setara kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka
pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan
dan memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.
Kas di perusahaan terdiri atas kas di tangan (Cash on Hand) dan kas di bank (Cash
in Banks). Setara kas terutama merupakan deposito berjangka dengan jangka waktu 3
bulan atau kurang sejak saat penempatan yang tidak dibatasi penggunaannya dan dapat
segera dijadikan kas tanpa terjadi perubahan nilai yang signifikan dan tidak digunakan
sebagai jaminan atas pinjaman.
Dalam penyajian laporan arus kas konsolidasian, cerukan (Overdraft) termasuk
komponen kas dan setara kas karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
pengelolaan kas. Cerukan akan mengurangi saldo dari Kas dan Setara Kas. Laporan arus
kas konsolidasian menggunakan metode langsung, yaitu menyajikan penerimaan dan
16

pengeluaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi
dan pendanaan.
Kas dan Setara Kas menurut kebijakan akuntansi perusahaan dan PSAK 55
merupakan salah satu aset keuangan yang pengakuan dan penyajian awalnya atau nilai
tercatatnya diukur pada nilai wajar karena berjangka pendek dan jika diperbolehkan dan
sesuai akan dievaluasi kembali setiap akhir tahun keuangan (periode).
Di perusahaan, Kas di Tangan (Cash on Hand) adalah uang kas tunai yang berada
dalam perusahaan yang disimpan dalam brangkas penyimpanan.
Untuk kas di Bank (Cash in Bank), mata uangnya terdiri dari mata uang rupiah dan
mata uang asing. Kas di Bank dengan mata uang rupiah berada di Bank BCA, Bank
Danamon, Bank Mega, Bank BRI, Bank DBS, Bank CIMB Niaga, Bank Panin, Bank UOB
Indonesia, dan bank Bank lain yang masing - masing di bawah Rp 100.000.000.000.
Sedangkan Kas di Bank dengan mata uang asing ada di Bank BCA, Bank Danamon, Bank
UOB Singapura, dan bank bank lain yang masing masing dibawah Rp
100.000.000.000.
Untuk Setara Kas (Cash Equivalent) yang berupa deposito berjangka, mata
uangnya terdiri dari mata uang rupiah dan mata uang asing. Setara Kas dengan mata
uang rupiah berada di Bank CIMB Niaga, Bank Mega, Bank UOB Indonesia, Bank Permata,
Bank DBS Indonesia, Bank Panin, Bank Danamon, Bank Mandiri, Bank BII, Bank ICBC,
Bank BCA, Bank BRI, dan bank Bank lain yang masing - masing di bawah Rp
100.000.000.000. Sedangkan Setara Kas dengan mata uang asing berada di Bank DZ
Singapura, Bank Argricultural China, Bank CIMB Niaga, Bank Artha Graha, Bank Permata,
Bank UOB Indonesia, Bank DBS, Bank Deutsche Singapura, Bank CIMB Singapura,
Citibank Singapura, Bank SMBC, Bank BRI, dan bank Bank lain yang masing - masing di
bawah Rp 100.000.000.000.
Berikut adalah posisi Kas dan Setara Kas pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian:

17

Berikut adalah pengungkapan Kas dan Setara Kas pada Catatan Atas Laporan Keuangan
Konsolidasian:

18

19

Rekening di bank memiliki tingkat suku bunga mengambang sesuai dengan tingkat
penawaran pada masing masing bank. Kisaran tingkat suku bunga tahunan dan
deposito berjangka adalah sebagai berikut:

Pada tahun 2013, tidak terdapat saldo kas dan setara kas dengan pihak berelasi.Artinya,
saldo kas dan setara kas 100% dengan pihak ketiga.

4.2 Piutang Usaha


Piutang usaha adalah klaim yang diajukan kepada pihak lain dalam bentuk uang,
barang, maupun jasa. Piutang usaha timbul dari siklus normal bisnis, yaitu siklus dalam
perusahaan yang dimulai dari uang kas, membeli bahan baku, mengolah bahan baku
sampai menjadi sebuah produk. Contoh transaksi transaksi yang menimbulkan piutang
antara lain adalah penjualan barang atau jasa secara kredit, pemberian pinjaman kepada
nasabah atau karyawan, memberi uang muka pada anak perusahaan.
Piutang dalam penyajian Laporan Posisi Keuangan dibedakan menjadi 2, yaitu :
-

Piutang Usaha
Piutang Bukan Usaha

Piutang usaha timbul dari siklus normal bisnis, umumnya dari hasil penjualan
produk kepada pembeli.Sedangkan piutang bukan usaha penyajiannya untuk
memberikan informasi yang lebih lengkap karena piutang ini muncul bukan dari kegiatan
inti perusahaan.

Analisis Horizontal
Analisis Horizontal pada Piutang Usaha di PT Indofood Sukses Makmur menyatakan
bahwa terjadi kenaikan sebesar Rp 1.318.017 atau 36%.

2013
Rp
4.959.416

2012
Rp
3.641.399

Horizontal

0,36195347

36%
20

Analisis Vertikal
Analisa Vertikal pada PT Indofood Sukses Makmur menyatakan bahwa untuk piutang pada
tahun 2013 yang terdiri dari Usaha sebesar 14%.Sedangkan untuk tahun 2012 yang
terdiri dari Usaha sebesar 12%, sehingga terjadi kenaikan usaha sebesar 2%.
Tahun 2013
Rp 4.053.300 + Rp
Total Usaha
375.733 = Rp 4.429.033
Total
Aset
Lancar
Rp 32.464.497
Tahun 2012
Total Usaha

Rp 2.696.937 + Rp
339.888 = Rp 3.036.825

Total
Lancar

Rp 26.235.990

Aset
2012

2013
Rp
4.429.033
0,136426971
14%

Rp Rp
3.036.825
Rp 26.235.990
32.464.497
0,115750349
12%

Menggunakan Metode Allowance


Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai Piutang Usaha - Evaluasi Individual
Kelompok Usaha mengevaluasi akun-akun tertentu yang diketahui bahwa
beberapa pelanggannya tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya.Dalam hal
tersebut, kelompok usaha mempertimbangkan berdasarkan fakta dan situasi yang
tersedia termasuk namun tidak terbatas pada jangka waktu hubungan dengan pelanggan
dan status kredit pelanggan berdasarkan catatan kredit dari pihak ketiga dan faktor pasar
yang telah diketahui.Untuk mencatat provisi spesifik atas pelanggan terhadap jumlah
terutang guna mengurangi jumlah piutang yang diharapkan dapat diterima oleh Piutang
Usaha.
Penyisihan spesifik ini dievaluasi kembali dan disesuaikan jika tambahan informasi
yang diterima mempengaruhi jumlah penyisihan kerugian penurunan nilai atas piutang
usaha. Nilai tercatat piutang usaha kelompok usaha sebelum sebelum penyisihan
kerugian untuk penurunan nilai pada tanggal-tanggal pelaporan.
21

Penyisihan atas Kerugian Penurunan Nilai Piutang Plasma


Piutang plasma merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan
perkebunan plasma.Kelompok Usaha mengevaluasi kelebihan atas akumulasi biaya
pengembangan atas pendanaan dari bank dan jumlah yang disepakati oleh petani
plasma.Dalam hal tersebut, kelompok usaha mempertimbangkan berdasarkan fakta dan
situasi yang tersedia, untuk mencatat penyisihan kerugian atas penurunan nilai piutang
plasma.
Penyisihan atas Kerugian Penurunan Nilai Piutang Usaha - Evaluasi Kolektif
Bila kelompok usaha memutuskan bahwa tidak terdapat bukti obyektif atas
penurunan nilai pada evaluasi individual atas piutang usaha, baik yang nilainya signifikan
maupun tidak.Kelompok Usaha menyertakannya dalam kelompok piutang usaha dengan
karakteristiknya risiko kredit yang serupa dan melakukan evaluasi kolektif atas
penurunan nilai. Karakteristik yang dipilih mempengaruhi estimasi arus kas masa depan
atas kelompok piutang usaha tersebut karena merupakan indikasi bagi kemampuan
pelanggan untuk melunasi jumlah terutang.
Arus kas masa depan pada kelompok piutang usaha yang dievaluasi secara kolektif
untuk penurunan nilai diestimasi berdasarkan pengalaman kerugian historis bagi piutang
usaha dengan karakteristik risiko kredit yang serupa dengan piutang usaha kelompok
tersebut.

Penyajian Piutang Usaha yang terdapat pada PT Indofood Sukses Makmur


sudah sesuai dengan kebijakan PSAK.

22

Penyajian dan Pengungkapan


Menurut PSAK no.9 : Piutang Usaha meliputi piutang yang timbul karena adanya
penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal
perusahaan. Piutang Usaha dan lain-lain yang diharapkan tertagih dalam satu atau siklus
usaha normal diklasifikasikan sebagai aktiva lancar.
Piutang Usaha di Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian masuk ke dalam
kelompok Aset, bagian Aset Lancar setelah Kas dan Setara Kas, Deposito Berjangka, dan
Investasi Jangka Pendek.

23

4.3. Persediaan
Persediaan Perusahaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya
perolehan dan nilai realisasi neto. Biaya perolehan ditentukan dengan metode ratarata
bergerak (Moving Avarage) untuk Perusahaan dan Entitas Anak tertentu yaitu IDLK dan
IFL, serta metode ratarata tertimbang (weight Avarage) untuk entitas anak lainnya.
Menurut PSAK 14 mengatur bahwa persediaan harus diukur berdasarkan biaya
atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah . Dengan demikian, dalam menentukan
persediaan, baik biaya maupun nilai realisasi neto harus ditentukan terlebih dahulu.
Setelah dibuat perbandingan, nilai terendah dari keduanya digunakan sebagai nilai
persediaan..sedangkan untuk IFRS lebih membatasi penggunaan alternatif metode
akuntansi IFRS lebih condong ke metode rules-based.
Analisis Vertikal
Analisi vertical pada catatan Atas laporan keuangan Konsolidasian untuk akun
perseediaan PT. Indofood Sukses Makmur ,Tbk dan entitas anak pada tahun 2013
menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada akun persedian dari 29,67%
pada tahun 2012 menjadi 25,13% pada tahun 2013.
24

Tabel Perhitungan Analisis Vertikal PT. Indofood Sukses Makmur


(Dalam jutaan Rupiah)
Akun

2013

Persediaan

Jumlah
Rp 8.160.539

Aset Lancar

Rp 32.464.497

2012
%
25,13%

Jumlah
Rp 7.786.166

%
29,67%

Rp 26.235.990

Analisis Horizontal
Analisis Horizontal pada catatan Atas Laporan keuangan Konsolidasian untuk akun
persediaan PT.Indoffood Sukses Makmur,Tbk dan entitas anak pada tahun 2013
menunjukan bahwa terjadi peningkatan pada Total Persediaan sebesar 0,04% atau
sebesar Rp 374.373
Tabel Perhitungan Analisis Horizontal PT. Indofood Sukses Makmur
(Dalam jutaan Rupiah)
2013
Jumlah

2012
Jumlah

(+) atau (-)

Rp 8.160.539

Rp 7.786.166

Rp 374.373

0,04%

Akun
Persediaan

Penyajian Dan Pengungkapan


untuk
untuk
untuk
untuk

Menurut PSAK 14, persediaan di ukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih
mana yang lebih rendah ( the lower of the cost and net realizable value),Teknik
pengukuran biaya persedian dengan menggunakan Metode biaya standar serta
metode eceran (retail)dapat di gunakan jika hasilnya mendekati biaya historis dan
barang lain di hitung dengan rumus biaya yaitu FIFO dan Weighted Avarage.

Persediaan di Perusahaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya
perolehan dan nilai realisasi neto. Biaya perolehan ditentukan dengan metode ratarata
bergerak (Moving Avarage) untuk Perusahaan dan Entitas Anak tertentu yaitu IDLK dan
IFL, serta metode ratarata tertimbang (weight Avarage) untuk entitas anak lainnya.

25

Berikut adalah posisi akun persediaan pada Laporan Posisi Keuangan Konsolidasin

Penyisihan atas Penurunan Nilai Pasar Persediaan


Penyisihan atas penurunan nilai pasar persediaan di destimasi berdasarkan fakta dan
situasi yang tersedia , namun tidak terbatas kepada, kondisi fisik persediaan yang dimiliki
dengan,harga jual pasar,estimasi biaya penyelesaian dan estimasi baiaya yang timbul
untuk penjualan .Penyisihan dievalusi kembali dan disesuaikan jika terdapat tambahan
informasi yang mempengaruhi jumlah yang diestimasi. Nilai tercatat neto persediaan
kelompok Usaha pada tanggal tanggal pelaporan.

26

Analisis perubahan saldo penyisihan atas kerugian penurunan nilai pasar persediaan
adalah sebegai berikut:

Berdasarkan hasil penelahan terhadap harga pasar dan kondisi fisik dari persediaan
pada tanggal pelaporan , manajemen berkeyakinan bahwa penyisihan tersebut di atas
cukup untuk menutup kemungkinan kerugian dari penurunan nilai pasar persediaan.
Pada tanggal 31 Desember 2013, persediaan Entitas Anak tertentu dengan nilai
tercatat sebesar Rp 29.706 (31 Desember 2012: Rp35.068 dan 31 Desember 2011:
Rp.51.827) dijaminkan untuk fasilitas Kredit dari BRI.
Pada tanggal 31 Desember 2013, persediaan di lindungi oleh asuransi terhadap risiko
kebakaran dan risiko lainnyaberdasrkan paket polis dengan jumlah pertanggungan
sebesar Rp.8.159.109 (31 Desember 2012: Rp.7.717.263 dan 31 Desember 2011:
Rp.6.470.369 ) yang menurut pendapat menejemen cukup untuk menututp kemungkinan
kerugian yang timbul dari resiko yang di pertanggungkan.
Beban Pokok Penjualan
Rincian Beban Pokok penjualan adalah sebagai berikut :

27

Tidak ada transaksi pembelian dari satu pemasok dengan jumlah pembelian kumulatif
melebihi 10,00% dan penjualan netto konsolidasian, kecuali pembelian gandum dari
Sojitz Asia Pte. Ltd., Singapura (Sojitz). Jumlah pembelian dari Sojitz pada tahun 2013
adalah 21,42% (2012 : 23,2% dan 2011: 23,99%) dari penjualan neto konsolidasian
periode terkait.

4.4 Aset Tetap


Aset tetap pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan yang terdiri dari harga
perolehan dan biaya-biaya yang diatribusikan langsung untuk membawa aset ke lokasi
dan sampai aset tersebut dapat digunakan. Setelah pengakuan awal, aset tetap
dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan, amortisasi, dan
kerugian penurunan aset tetap pada saat penggantian.
Penyusutan dan amortisasi aset dimulai pada saat aset tersebut dapat digunakan
dan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus sesuai dengan masa manfaat
masing-masing aset tetap.

Penurunan nilai jumlah tercatat aset tetap dilakukan jika terjadi peristiwa atau
perubahan keadaan yang mengindikasikan bahwa jumlah tercatat aset mungkin tidak
dapat terpulihkan seluruhnya.
Nilai tercatat suatu aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau
saat sudah tidak ada lagi manfaat ekonomi masa yang diharapkan penggunaannya atau
pelepasannya. Keuantungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset
28

tetap dimasukkan ke dalam laba rugi pada saat penghentian pengakuan tersebut
dilakukan.
Nilai residu aset, umur manfaat, dan metode penyusutan amortisasi dievaluasi
setiap akhir periode pelaporan dan disesuaikan secara prospektif jika diperlukan.
Tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak diamortisasi, karena
manajemen berpendapat bahwa kemungkinan besar hak atas tanah tersebut dapat
diperbaharui/diperpanjang pada saat jatuh tempo, kecuali hak atas tanah tertenti
amortisasi selama 62 tahun.
Aset tetap dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Biaya
perolehan termasuk kapitalisasi beban bunga dan laba/rugi selisih kurs jika ada, atas
pinjaman dan biaya lainnya yang terjadi sehubungan dengan pembiayaan aset dalam
penyelesaian dan/atau pembangunan tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan
direklasifikasi ke aset tetap yang bersangkutan pada saat pembangunan dan/atau
instalasi selesai dan aset tersebut telah siap untuk dipergunakan. Aset tetap dalam
penyelesaian tidak disusutkan karena belum tersedia untuk digunakan.
Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laba rugi pada saat
terjadinya. Beban pemugaran dan penambahan dalam jumlah besar dikapitalisassi
kepada nilai tercatat aset tetap terkait bila besar kemungkinan bagi Kelompok Usaha
manfaat ekonomi masa depan menjadi lebih besar dari standar kinerja awal yang
ditetapkan sebelumnya dan disusutkan sepanjang sisa masa manfaat aset tetap terkait,
jika ada.
Manajemen mengestimasi masa manfaat ekonomis aset tetap antara 3 sampai
dengan 40 tahun. Perubahan tingkat pemakaian dan perkembangan teknologi dapat
mempengaruhi masa manfaat ekonomi dan nilai aset tetap, karenanya beban
penyusutan masa depan dapat direvisi.
Berikut aset tetap yang dimiliki perusahaan :

29

Pada tahun 2011 ada pejualan aset tetap senilai Rp 28.689 dengan harga Rp 50.553

Aset tetap dalam tahap penyelesaian :

Aset tetap termasuk mesin-mesin yang diperoleh oleh IDLK yang pembayarannya
melalui angsuran atas utang jangka panjang. Nilai tercatat mesin-mesin tersebut adalah
sejumlah Rp62.320 pada tanggal 31 Desember 2013.
Biaya pinjaman dan tingkat kapitalisasi

Pembelian mesin dari PT Tetra Pak Indonesia (TPI) dengan rincian sebagai berikut:

30

Rincian nilai kontak, jumlah angsuran tahunan dan tanggal pembayaran terakhir
pada utang angsuran adalah sebagai berikut:

Dengan tingkat suku bunga efektif berkisar antara 5% sampai 12,4% per tahun.
Penyusutan dan amortisasi di bebankan pada operasi sebagai berikut:

Jenis kepemilikan hak atas tanah Kelompok Usaha, termasuk tanah perkebunan
berupa HGB (berlaku 8 sampai dengan 40 tahun), Hak Guna Usaha HGU (berlaku 18
sampai dengan 39 tahun), dan Hak Pakai HP (berlaku 10 sampai dengan 25 tahun)
dapat diperbaharui/diperpanjang pada saat jatuh tempo yang berkisar antar tahun 2014
sampai dengan tahun 2069.
Aset yang tidak digunakan dalam operasi dengan nilai tercatat sebesar 374.808
pada tangan 31 Desember 2013 sebagai bagian dari akun Aset Tidak Lancar Lainnya
pada laporan posisi keuangan konsolidasian.
Pada 31 Desember 2013 aset tetap Entitas Anak tertentu dengan jumlah nilai
tercatat sebesar Rp139.953 dijaminkan terhadap pinjaman dari BRI.
Pada 31 Desember 2013 aset tetap diasuransikan terhadap risiko kebakaran dan
risiko lainnya berdasarkan paket polis dengan jumlah pertanggunan sebesar
Rp30.219.939
yang
mungkin
dapat
menutup
kerugian
dari
resiko
yang
dipertanggungkan.

31

Kelompok Usaha mengasuransikan persediaan dan aset tetap dengan ACA dan
yang diperoleh melalui perantaraan IBU meliputi asuransi persediaan, tanaman
perkebunana, aset tetap, dan kargo laut dengan nilai keseluruhan pertanggungan
asuransi pada tanggal 31 Desember 2013 sebesar Rp39.998.625. Beban asuransi yang
terkait untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 sebesar Rp85.723.
Beban asuransi disajikan sebagai bagian dari Beban Pokok Penjualan, Beban Penjualan
dan Distribusi, dan Beban Umum dan Administrasi pada laporan laba rugi komprehensif
konsolidasian.
Manajemen berpendapat bahwa nilai tercatat semua aset tetap dapat terealisasi
seluruhnya dan oleh karena itu, tidak diperlukan adanya penyisihan atas kerugian
penurunan nilai aset tetap.
Kelompok Usaha mengakui liabilitas diestimasi atas biaya pembongkaran,
pemindahan, dan restorasi lokasi atas beberapa bangunan dan mesin tertentu pada saat
periode sewa atas tanah, dimana aset tersebut berada. Bagian liabilitas jangka panjang
pada 31 Desember 2013 sebesar Rp50.923 dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya
perolehan aset tetap dan disajikan sebagai Liabilitas Diestimasi atas Biaya
Pembongkaran Aset Tetap pada laporan posisi keuangan konsolidasian.
Analisis vertikal dan horizontal
Aset Tetap
Analisis Horizontal

Analisis Vertikal

2012

2013

2012

2013

22,13

45,69

26,61

29,48

Analisis horizontal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk Aset Tetap
PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. Tahun 2013 menunjukkan bahwa terjadi perubahan
yang signifikan pada Aset Tetap dari tahun 2012 sebesar 22,13% menjadi 45,69%.
Sementara itu, untuk analisis vertikal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian
untuk Aset Tetap PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. tahun 2013 juga mengalami kenaikan
dari 26,61% pada tahun 2012 menjadi 29,48% pada tahun 2013.

Menurut PSAK 16 tentang Aset Tetap


Aset tetap adalah aset berwujud yang:
1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk
direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif
2. Diharapkan digunakan selama lebih dari 1 periode
32

Ciri:
1. Digunakan dalam operasi dan tidak untuk dijual
2. Jangka waktu lebih dari 1 tahun
3. Ada wujud secara fisik

Komponen biaya perolehan terdiri dari :


1. Harga perolehan termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak dapat
dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potingan lain,
2. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke
lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan
keinginan dan maksud manajemen, dan
3. Estimasi awal biaya pembogkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi
aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul ketika aset tersebut diperoleh atau
karena entitas menggunakan aset tersebut selam periode tertentu untuk tujuan
selain menghasilkan persediaan.
Menelaah kembali nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan minimum tiap
akhir tahun dan perubahannya diperlakukan sebagai perubahan estimasi.
Perolehan tanah, semua biaya yang terkait dengan akuisisi dan penyiapan tanah
sesuai dengan tujuan penggunaan, yaitu harga beli tanah, biaya pengurusan hak tanah,
biaya untuk peralatan tanah dan penghancuran bangunan yang diperlukan.
Pengukuran setelah pengakuan awal ada 2 metode , yaitu :
1. Cost method, dimana aset tetap yang dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset
2. Revaluation method, dimana aset tetap dicatat sebesar jumlah revalusasi (nilai
wajajr pada tanggal revaluasi) dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi
kerugian penurunan nilai aset yang terjadi setelah tanggal revaluasi.
Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan (depreciable
amount) dari suatu aset selama umur manfaatnya (useful life). Setiap bagian aset tetap
yang memiliki biaya perolehan cukup signifikan terhadap total biaya perolehan seluruh
aset harus disusutkan secara terpisah, beban penyusutan untuk setiap periode harus
diakui dalam laporan laba rugi kecuali jika beban tersebut dimasukkan dalam jumlah
tercatat aset lain. Penyusutan aset dimulai pada saat aset tersebut siap digunakan, dan
dihentikan ketika aset tersebut diklasifikasikan dimiliki untuk dijual dan dihentikan
pengakuannya. Tanah dan bangunan diperlakukan sebagai aset terpisah walaupun
diperoleh sekaligus.
33

Metode penyusutan terdiri dari :


1. Garis lurus, menghasilkan pembebanan yang tetap sepanjang umur manfaat selagi
nilai residu tidak berubah.
2. Saldo menurun, menghasilkan pembebanan yang menurun sepanjang umur
manfaat.
3. Jumlah unit, menghasilkan pembebanan berdasarkan penggunaan.
Aset tetap mempunyai kemungkinan mengalami penurunan nilai aset. Beberapa
informasi yang menjadi bahan pertimbangan, sebagai berikut
:
a. Informasi dari sumber-sumber eksternal
1. Perubahan signifikan nilai pasar.
2. Perubahan signifikan teknologi, pasar, ekonomi, dan lingkup hukum.
3. Perubahan suku bunga.
4. Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.
b. Informasi dari sumber-sumber internal
1. Bukti keusangan atau kerusakan fisik aset.
2. Perubahan signifikan atas penggunaan, penghentian, dan masa manfaat
aset.
3. Bukti internal mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi aset lebih buruk dari
yang diharapkan.
PSAK 48 mendefinisikan jumlah terpulihkan suatu aset sebagai jumlah yang lebih
tinggi antara Fair Value Less Costs to Sell dan Value in Use.
Penghentian pengakuan aset tetap terjadi ketika aset tersebut dilepaskan atau
tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau
pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap harus
dimasukkan dalam laporan laba rugi pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya
(kecuali transaksi jual-sewa balik), serta laba tidak boleh diklasifikasikan sebagai
pendapatan.

4.5 Aset Tetap yang Tidak Digunakan dalam Operasi


34

Aset tidak lancar lainnya adalah terutama terdiri dari aset tetap yang tidak
digunakan dalam operasi, bibitan, biaya dibayar dimuka dalam jangka panjang, uang
muka jangka panjang, dan pinjaman jangka panjang pada karyawan perusahaan.
Untuk aset tetap yang tidak digunakan dalam operasi terdapat nilai tercatat
sebesar Rp 374.808.000.000 pada tanggal 31 Desember 2013.Sedangkan pada tanggal
31 Desember 2012 Rp 390.258.000.000.

Analisis Vertikal
Analisis Vertikal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk Aset
Tetap yang Tidak Digunakan dalam Operasi PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas
anak pada tahun 2013 menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada Aset
Tetap yang Tidak Digunakan dalam Operasi dari 29,32% pada tahun 2012 menjadi
13,64% terhadap Aset Tidak Lancar Lainnya. Berarti ada penurunan sebesar 15,68%.
Tabel Perhitungan Analisis Vertikal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
Akun
Jumlah
%
Jumlah
Aset Tetap yang Tidak Digunakan Dalam
Operasi

Aset Tidak Lancar Lainnya

Rp374.80
8
Rp2.748.
446

13,64
%

Rp390.25
8

%
29,32
%

Rp1.330.
943

Analisis Horizontal
Analisis horizontal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk Aset
Tetap yang Tidak Digunakan dalam Operasi PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas
anak pada tahun 2013 menunjukkan bahwa terjadi penurunan Aset Tetap yang Tidak
Digunakan dalam Operasi sebesar 3,96% atau sebesar Rp 15.450.000.000.
Tabel Perhitungan Analisis Horizontal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
(+) atau
(-)
Akun
Jumlah
Jumlah
Aset Tetap yang Tidak Digunakan Dalam
Rp374.8 Rp390.2 Rp15.45
Operasi
08
58
0

%
3,96%

35

Penyajian dan Pengungkapan


Untuk aset tetap yang tidak digunakan dalam operasi terdapat nilai tercatat
sebesar Rp 374.808.000.000 pada tanggal 31 Desember 2013.Sedangkan pada tanggal
31 Desember 2012 Rp 390.258.000.000.Aset tetap yang tidak digunakan dalam operasi
disajikan sebagai bagian dari akun aset tidak lancar lainnya pada laporan posisi
keuangan konsolidasian.Akun aset tidak lancar lainnya merupakan bagian dari kelompok
aset tidak lancar yang berada di posisi paling bawah.Sedangkan menurut IFRS, akun aset
tidak lancar lainnya berada di posisi paling atas dalam kelompok Aset.Tidak dijelaskan di
Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian bagaimana penyajian pengungkapan aset
tidak lancar lainnya.
Tidak diberitahukan dengan rinci aset tetap apa saja yang tidak digunakan dalam
operasi. Selain itu juga tidak diberitahukan dengan rinci mengapa aset tersebut tidak
digunakan dalam operasi. Apakah karena dimiliki untuk dijual (Asset Held for Sale), atau
untuk karena sebagai Properti Investasi (Properti Investasi), atau karena memang belum
saatnya digunakan dalam operasional perusahaan sampai akhir tahun 2013 sehinggga
disimpan terlebih dahulu.
Berikut adalah posisi akun aset tidak lancar lainnya pada laporan posisi keuangan
konsolidasian:

36

4.6 Intangible Asset / Aset Tak Berwujud


Aset tak berwujud diukur sebesar nilai perolehan pada pengakuan awal. Nilai
perolehan aset tak berwujud yang diperoleh dari kombinasi bisnis pada awalnya diakui
sesuai nilai wajar pada tanggal akusisi.
Setelah pengakuan awal, aset tak berwujud dicatat pada nilai perolehan yang dikurangi
akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai.
Analisis Vertikal
Tabel Perhitungan Analisis Vertikal PT Indofood Sukses
Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
Akun
Jumlah
%
Jumlah
%
Aset Tak
Rp1.931.95 4,23 Rp2.065.19 6,23
Berwujud
7
%
5
%

Goodwill

Rp3.970.42
0

Aset Tidak
Lancar

Rp45.628.2
92

8,70
%

Rp3.878.67
4

11,70
%

Rp33.153.4
15

Analisis Vertikal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk aset tak
berwujud dan goodwill PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas anak pada tahun
2013 menunjukkan bahwa akun aset tak berwujud sebesar 4,23% dan goodwill sebesar
8,70% dari total keseluruhan aset tidak lancar. Sedangkan pada tahun 2012 akun aset tak
berwujud adalah sebesar 6,23% dan goodwill sebesar 11,70%. Jadi aset tak berwujud
mengalami penurunan sebesar 2% dan goodwill sebesar 3%.
Analisis Horizontal
Tabel Perhitungan Analisis Horizontal PT Indofood Sukses
Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
(+) atau
%
(-)
Akun
Jumlah
Jumlah
Aset Tak
Rp1.931.95 Rp2.065.19 Rp133.23
6,45
Berwujud
7
5
8
%

Goodwill

Rp3.970.42
0

Rp3.878.67
4

Rp91.746

2,37
%
37

Analisis horizontal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk aset
tak berwujud dan goodwill PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas anak pada
tahun 2013 menunjukkan bahwa akun aset tak berwujud mengalami penurunan
signifikan sebesar 6,45% atau sebesar Rp 133.238 dan akun goodwill mengalami
kenaikan sebesar 2,37% atau sebesar Rp 91.746.
Penyajian dan pengungkapan
Aset tak berwujud sesuai dengan kebijakan akuntansi di Indonesia yaitu PSAK 19,
yaitu diukur sebesar nilai perolehan pada pengakuan awal.
Aset tak berwujud dengan umur terbatas diamortisasi selama umur manfaat
ekonomi dan dievaluasi apabila terdapat indikator adanya penurunan nilai untuk aset tak
berwujud. Periode dan Metode amortisasi untuk aset tak berwujud dengan umur terbatas
ditelaah
setidaknya
setiap
penutupan
buku
akhir
tahun.

2013

2012

(Per 31 Desember (dalam


Jutaan rupiah))

1.931.957

2.065.195

Intangible Asset

3.970.420

3.878.674

Goodwill

Aset
tak
berwujud
Kelompok Usaha mewakili
merek-merek dari beberapa
produk terkait dengan Produk
susu. Merek-merek tersebut
diamortisasi
menggunakan
Metode Garis Lurus selama
Estimasi umur manfaat 20

tahun.

*Tidak terdapat indikasi atas kemungkinan penurunan nilai Potensial terhadap Intangible
asset dan Goodwill pada laporan posisi keuangan knosolidasi pada tanggal 31 Desember
2013, 2012, 2011, dan 2010. Penurunan hanya terjadi akibat Amortisasi pada terutama
Intangible asset.
*Akusisi terhadap beberapa Intangible Asset menimbulkan Goodwill

38

Total Goodwill yang ada, berdasarkan tahun berjalan, Serta Tingkat diskonto dan
pertumbuhan dari masing-masing Entitas yg disebut

39

Aset tak berwujud yang timbul sehubungan dengan transaksi yg di akusisi, yang terdiri
atas merek-merek dagang atas produk yg diproduksi diataranya Indomilk, Cap Enaak,
Tiga Sapi, Crima, Keremer dan Indoeskrim.
Amortisasi
2013

2012

2011

Per 31 Desember
Dalam Jutaan
Rupiah

133.238

133.238

133.238

Amortization of
Intangible Asset

Perpajakan
2013

2012

2011

2010

Per 31
Desember
Dalam Jutaan
Rupiah

(482.989)

(516.299)

(549.608)

(582.918)

Aset tidak
Berwujud

40

4.7 Provisi
Provisi diakui jika kelompok usaha memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum
maupun bersifat konstruktif) yang akibat peristiwa masa lalu, besar kemungkinan
penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang
mengandung manfaat ekonomi dan estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban
tersebut dapat dibuat.
Provisi ditelaah pada setiap tanggal pelaporan dan disesuaikan untuk
mencerminkan estimnasi terbaik yang paling kini. Jika arus keluar sumber daya untuk
menyelesaikan kewajiban kemungkinan besar tidak terjadi, maka provisi dibatalkan.
Provisi untuk biaya pembongkaran aset diestimasi berdasarkan beberapa asumsi
dan disajikan pada nilai wajar sesuai dengan tingkat diskonto yang berlaku
Untuk tujuan penyajian dalam laporan posisi keuangan konsolidasian, klasifikasi
aset atau liabilitas pajak tangguhan untuk setiap perbedaan temporer di atas ditentukan
berdasarkan posisi pajak tangguhan (aset maupun liabilitas) neto untuk setiap entitas.
41

Tidak terdapat konsekuensi pajak penghasilan atas pembayaran dividen oleh


entitas anak yang berdomisili di Indonesia kepada Perusahaan.
Manajemen Kelompok Usaha berpendapat bahwa aset pajak tangguhan tersebut di
atas dapat dipulihkan melalui penghasilan kena pajak di masa yang akan datang.

Analisis Vertikal
Analisis vertikal pada catatan atas laporan keuangan konsolidasian untuk akun
provisi tahun 2013 menunjukkan bahwa provisi sebesar 0,51% dari liabilitas jangka
panjang. Dibanding tahun 2012 sebesar 0,79%, provisi mengalami penurunan sebesar
0,28%.
Tabel Perhitungan Analisis Vertikal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2012
2013
Akun
Jumlah
%
Jumlah
%
0,51
0,79
Provisi
Rp102.845
%
Rp98.524
%
Total Liabilitas Jangka
Panjang

Rp20.248.3
51

Rp12.443.9
68

Analisis Horizontal
Analisis horizontal vertikal pada catatan atas laporan keuangan konsolidasian
untuk akun provisi tahun 2013 menunjukkan bahwa terjadi kenaikan provisi sebesar
4,39% atau sebesar Rp 4.321.

Tabel Perhitungan Analisis Horizontal PT Indofood Sukses Makmur


(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
Akun
(+) atau (-)
%
Jumlah
Jumlah
Provisi
Rp102.845
Rp98.524
Rp4.321
4,39%
Penyajian dan Pengungkapan
Menurut PSAK 57 dan IFRS yaitu IAS 57, Provisi adalah liabilitas yang waktu dan
jumlahnya belum pasti. PSAK 57 ini bertujuan untuk mengatur
pengakuan dan
pengukuran provisi, kewajiban kontinjensi dan aset kewajiban kontinjensi dan aset
Contingent liabilities kontinjensi serta untuk memastikan informasi memadai telah
diungkapkan dalam CaLK. Agar para pengguna dapat memahami sifat, waktu, dan jumlah
yang terkait dengan informasi tersebut.
42

4.8

Obligasi

Obligasi pada perusahaan terdapat pada liabilitas jangka pendek maupun liabilitas jangka
panjang.
Analisis Vertikal
Tabel Perhitungan Analisis Vertikal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
Akun
Jumlah
%
Jumlah
%
Rp2.336.64 12,00
0,00
Utang Obligasi (jk pendek)
2
%
Rp0
%
Total Liabilitas Jangka Pendek

Rp19.471.3

Rp12.805.2
43

09
Utang Obligasi dan Sukuk Ijarah (jk
panjang)

Rp1.993.22
7

Total Liabilitas Jangka Panjang

Rp20.248.3
51

00
9,84
%

Rp4.323.44
2

34,74
%

Rp12.443.9
68

Analisis vertikal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk obligasi
PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas anak pada tahun 2013 menunjukkan bahwa
utang obligasi jangka pendek sebesar 12% dari total liabilitas jangka pendek dan utang
obligasi dan sukuk ijarah jangka panjang sebesar 9,84% dari total liabilitas jangka
panjang. Sedangkan pada tahun 2012 utang obligasi jangka pendek sebesar 0% dari total
liabilitas jangka pendek dan utang obligasi dan sukuk ijarah jangka panjang sebesar
34,74% dari total liabilitas jangka panjang. Maka utang obligasi jangka pendek
mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 12% dan utang obligasi dan sukuk ijarah
jangka panjang mengami penurunan yang sangat signifikan sebesar 24,9%.
Analisis Horizontal
Tabel Perhitungan Analisis Horizontal PT Indofood Sukses Makmur
(Dalam Jutaan Rupiah)
2013
2012
(+) atau (-)
%
Akun
Jumlah
Jumlah
Rp2.336.6
Rp2.336.6 100,00
Utang Obligasi (jk pendek)
42
Rp0
42
%

Utang Obligasi dan Sukuk Ijarah (jk


panjang)

Rp1.993.2
27

Rp4.323.4
42

Rp2.330.2
15

53,90
%

Analisis horizontal pada Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian untuk


obligasi PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan entitas anak pada tahun 2013
menunjukkan bahwa utang obligasi jangka pendek mengalami kenaikan sebesar 100%
karena tahun 2012 tidak ada utang obligasi jangka pendek dan Utang Obligasi dan Sukuk
Ijarah jangka panjang mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu sebesar 53,9%.

44

Penyajian dan pengungkapan


Penyajian dan pengungkapan obligasi di perusahaan telah sesuai dengan kebijakan
akuntansi di Indonesia (PSAK).Obligasi di perusahaan terdiri dari utang obligasi jangka
pendek dan utang obligasi dan sukuk ijarah jangka panjang.Obligasi diamortisasi
menggunakan metode tingkat suku bunga efektif.Obligasi dikeluarkan berdasarkan
diskonto atau premium tergantung tingkat bunganya.
Arus kas dari Aktivitas Pendanaan
2013
-

2012
1.990.616

2011
-

(1.964.000)

Tahun
Penerimaan dari
Penerbitan Obiligasi
Rupiah IV - neto
Pelunasan obiligasi
Rupiah IV

Mei 2012, Perusahaan menawarkan Obiligasi tanpa hak konversi dengan tingkat
bunga tetap kepada masyarakat, nilai Nominal seluruhnya Rp 2.000.000 juta.
Kelompok Usaha mempunyai Investasi Jangka Pendek yang diklasifikasi sebagai
aset keuangan tersedia untuk dijual yaitu investasi dalam bentuk saham dan Obligasi
yang tercat pada Bursa efek serta reksadana.
Catatan atas laporan keuangan.

45

Utang Jangka Panjang


Perusahaan
Obiligasi Rupiah V, berjumlah Rp.1.610.000 juta (5 tahun)
Jatuh tempo pada tanggal 18 Juni 2014 dengan tingkat bunga 13%/tahun
Utang Obiligasi dan Sukuk Ijarah
Obiligasi Rupiah VI , Rp 2.000.000 juta (5 tahun)
Jatuh tempo pada tanggal 31 mei 2017 dengan tingkat bunga 7,25%/tahun
Sebagian hasil penerimaan obiligasi digunakan untuk melunasi Pinjaman yang ditarik
sehubungan dengan pelunasan Obilgasi Rupiah IV bulan mei 2012. Dan sisa peneriamaan
atas penerbitan Obligasi digunakan untuk modal kerja
Entitas Anak
Obiligasi Salim Ivomas Pratama I
Dengan nilai nominal Rp 452.000 juta (5 tahun). Sampai dengan 1 Desember 2014
Tingkat bunga 11,65%/tahun dibayarkan setiap kuartal.

Rincian Beban Keuangan:

46

Resiko Likuiditas
(31 Desember 2013)
Jumlah/Total

1 tahun

1-5 tahun

2.335.642

2.336.642

Lebih dari 5
tahun
-

1.993.227

1.993.227

Lebih dari 5
tahun
-

Jangka waktu
(dalam Jutaan rupiah)
Utang Obiligasi dan
sukuk Ijarah yang
jatuh tempo dalam
waktu satu tahun
pokok pinjaman
Utang Obiligasi dan
Sukuk Ijarah pokok
pinjaman

(31 Desember 2012)

Jumlah/total

1 tahun

1-5 tahun

4.323.442

4.323.442

Jangka waktu (Dalam


Jutaan Rupiah)
Utang Obiligasi dan
Sukuk ijarah pokok
pinjaman

BAB 5
47

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan analisis horizontal, vertikal, dan rasio yang dilakukan penulis, maka
dapat dilihat bahwa kondisi keuangan perusahaan yang mengalami kenaikan dapat
dilihat dari kemampuan perusahaan laba pada tahun 2013 dan juga adanya
peningkatan rasio.
2. Pos-pos yang dominan mempengaruhi kenaikan analisis horizontal pada tahun
2013 pada
perusahaan adalah peningkatan pendapatan yang berasal dari
penjualan. Begitu pula aktiva lancar perusahaan mengalami peningkatan yang
berasal dari piutang usaha pihak ketiga.
5.2 Saran
Saran-saran yang dapat diberikan berdasarkan kesimpulan dan diharapkan dapat
bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan, yaitu:
1. Berdasarkan laporan keuangan, dapat dilihat bahwa kondisi perusahaan mulai
membaik. Hal ini dapat dilihat dari laba yang diperoleh perusahaan, oleh karena itu
hal ini perlu dipertahankan atau ditingkatkan lagi. Namun untuk biaya yang
dikeluarkan perusahaan hendaknya ditekan agar laba yang dihasilkan lebih
optimal. Manajemen juga harus membuat kebijakan untuk meningkatkan rasio
solvabilitas dan aktivitas perusahaan, sedangkan kenaikan pada rasio likuiditas
dan profitabilitas dapat diperthankan atau ditingkatkan lagi
2. Pihak perusahaan perlu meninjau kembali kebijakan manajemen dengan
memperhatikan pos-pos mana yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya
pengawasan terhadap biaya yang dikeluarkan baik dari segi manfaat atau jumlah
khususnya biaya administrasi dan umum yang cukup besar. Selain itu pengawasan
terhadap kewajiban perusahaan agar tidak terlalu tinggi dan dapat bermanfaat
bagi operasi perusahaan. Sedangkan hal-hal lain berupa penjualan atau aktiva
perusahaan dapat dipertahankan atau ditingkatkan.

48

LAMPIRAN
Artikel Kelompok
1. Artikel Mengenai Obligasi
Obligasi
Pengaruh market tidak hanya berdasarkan dari manufaktur, saham, maupun dari
mata uang itu sendiri.Namun ada satu hal lagi yang pengaruhnya sangat penting demi
berlangsungnya mata uang di suatu negara yaitu obligasi.Obligasi umumnya dibutuhkan
untuk keperluan ekonomi negara.Obligasi merupakan penyelamat negara dan dijadikan
senjata untuk mengatasi defisit negara. Nah, apa sebenarnya obligasi itu, dan apa
pengaruhnya pada forex market?

Obligasi biasanya berbentuk surat namun mampu memberi catatan yang isinya
berkekuatan hukum dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam arti luas obligasi adalah
suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan berupa suatu pernyataan utang dari
penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok
utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran.
Biasanya, orang yang bisa menghasilkan surat berharga adalah orang yang
memiliki kekayaan dan suratnya dapat diperjualbelikan, tapi tidak harus mengembalikan
modal hasil dari jual beli surat. Namun sebaliknya pada obligasi ini, mereka yang
menciptakan surat hutang justru akan dicatat seorang penghutang atau debitur,
sedangkan yang membeli surat hutang atau obligasi bakal menjadi kreditur atau pemberi
pinjaman.
Untuk bisa mendapatkan obligasi ini biasanya pemerintah akan mengeluarkan
surat melalui lelang. Jalurnya bisa mengundang para investor, atau mengeluarkannya
lewat valuta asing. Nah valuta asing inilah yang akan mempengaruhi market karena
49

adanya obligasi. Tidak main-main, bila obligasi dikeluarkan dalam bentuk valuta asing,
milyaran dari mata uang negara bersangkutan akan dikucurkan. Jadi efeknya akan sangat
terasa sekali bagi market.
Lalu siapa yang berani menerbitkan obligasi?Sebetulnya siapapun bisa
menciptakan obligasi ini. Hampir setiap badan hukum dapat menerbitkan obligasi, namun
peraturan yang mengatur mengenai tata cara penerbitan obligasi ini sangat ketat sekali,
sehingga harus melalui prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Jika
tidak menuruti prosedur maka akan dianggap ilegal dan berisiko langsung dipidana.
Ada beberapa penerbit yang paling terkenal di dunia diantaranya lembaga
supranasional.Lembaga ini merupakan lembaga yang bertugas menciptakan obligasi
lintas benua.Pembuatannya langsung bisa dilakukan dan diperjualbelikan ke investor
dunia. Hasil investasi tersebut disalurkan kepada negara-negara yang membutuhkan
dana segar sebagai talangan.
Dan yang paling terkenal adalah obligasi internasional.Obligasi ini merupakan
obligasi valuta asing, dimana seluruh transaksi dalam obligasi dilakukan melalui valuta
asing.Yang menciptakan obligasi internasional adalah negara. Obligasi dari pemerintah ini
akan dibagi menjadi dua yaitu obligasi dalam mata uang negaranya dan dalam
denominasi valuta asing.
Semua obligasi-obligasi bisa dibeli oleh investor dari mana saja. Sehingga
perputaran uang dari mata uang asing akan masuk ke negara. Jika perputaran keuangan
antar negara sangat besar, maka hal ini sudah cukup mampu membuat perputaran di
market valas semakin meningkat.

Kesimpulan Artikel:
Obligasi biasanya dibutuhkan untuk keperluan ekonomi negara, penyelamat
negara dan dapat dijadikan senjata untuk mengatasi defisit negara.Obligasi adalah suatu
istilah yang digunakan dalam dunia keuangan berupa suatu pernyataan utang dari
penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok
utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran.Pada
obligasi, mereka yang mengeluarkan obligasi adalah sebagai debitur, dan mereka yang
membeli obligasi adalah sebagai kreditur. Untuk bisa mendapatkan obligasi ini biasanya
pemerintah akan mengeluarkan surat melalui lelang. Jalurnya bisa mengundang para
investor, atau mengeluarkannya lewat valuta asing. Siapapun dapat menerbitkan
obligasi, namun peraturan yang mengatur mengenai tata cara penerbitan obligasi ini
sangat ketat sekali, sehingga harus melalui prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh
pemerintah. Lembaga penerbit obligasi yang terkenal adalah lembaga supranasional dan
internasional.Semua obligasi-obligasi bisa dibeli oleh investor dari mana saja. Sehingga
perputaran uang dari mata uang asing akan masuk ke negara. Jika perputaran keuangan

50

antar negara sangat besar, maka hal ini sudah cukup mampu membuat perputaran di
market valas semakin meningkat.

Sumber artikel:
Parmadita.Obligasi.19 Oktober 2012.
http://www.seputarforex.com/artikel/forex/lihat.php?id=105117&title=obligasi.
2. Artikel Mengenai Revaluasi Aktiva Tetap
Revaluasi atau Penilaian Kembali Aktiva Tetap
Menurut PSAK 16 (Revisi 2007),aset (aktiva) tetap adalah aset berwujud yang
digunakan untuk kegiatan operasi perusahaan, diperoleh dengan dibangun lebih dulu
atau didapat dalam bentuk siap untuk di pakai, memiliki masa manfaat lebih dari satu
tahun dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali dalam rangka kegiatan normal
perusahaan.
Dampak Revaluasi Terhadap PPh
- Penilaian kembali aktiva akan membantu pemerintah menambah penerimaan
negara yang bersumber dari pajak penghasilan badan.
-

Penilaian kembali aktiva membantu wajib pajak untuk melakukan penghematan


pembayaran pajak.

Adanya kenaikan nilai aktiva tetap menyebabkan beban penyusutan aktiva tetap
yang dibebankan pada harga pokok produksi atau dibebankan pada laba rugi ikut
naik.

Syarat Dilakukannya Revaluasi Aktiva Tetap


- Semua kewajiban pajaknya sudah terpenuhi hingga masa pajak terakhir sebelum
masa pajak dilakukannya kembali penilaian.
-

Wajib pajak dari Bentuk Usaha Tetap (BUT) dan badan dalam negeri adalah
perusahaan yang tidak diperkenankan melakukan pembukuan dalam bahasa
Inggris serta mata uang Dollar Amerika Serikat.

Mengajukan permohonan yang ditujukan kepada Dirjen Pajak dan memperoleh


persetejuan dari Dirjen Pajak.

Model biaya historis (historical cost) umumnya digunakan untuk menyajikan nilai
aset dalam laporan keuangan.Ditemukan dalam beberapa kasus ternyata penyajian
laporan keuangan tersebut tidak sesuai dengan posisi keuangan yang sewajarnya yang
disebabkan oleh perbedaan yang sangat jauh antara nilai historis dengan nilai aktual.
51

Dari
kedua
perbedaan
di
atas
maka, International
Accounting
Standardmemberikan dua pilihan dalam membukukan aset tetap.Pertama, dengan
menggunakan model historical cost, dengan model ini aset tetap diperoleh dari harga
perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dengan akumulasi rugi penurunan nilai aset
tetap dan revaluasi tidak dibenarkan dalam model ini.Kedua, menggunakan model
revaluasi, model mengharuskan untuk dilakukan revaluasi secararutin, penilaian atas
aset dilakukan dengan menggunakan nilai wajar. Kedua model tersebut juga ditegaskan
di dalam PSAK 16 (Revisi 2007) bahwa entitas bisnis boleh menggunakan salah satu
model di antara modelhistorical cost atau model revaluasi asalkan dilakukan dengan
konsisten.

Pengertian dari revaluasi aktiva tetap ialah penilaian kembali dari aktiva tetap
suatu perusahaan yang disebabkan adanya perubahan nilai aktiva tersebut, baik terjadi
kenaikan nilai aktiva tetap atau rendahnya nilai aktiva tetap yang diakibatkan oleh
devaluasi atau hal-hal lain. Revaluasi dilakukan karena nilai aktiva tetap sudah tidak
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.Adanya penilaian kembali aktiva tetap
(revaluasi) membantu Pemerintah atau badan Direktorat Jenderal Pajak untuk
meningkatkan penerimaan negara yang diperoleh dari Pajak Penghasilan Badan.Adanya
revaluasi juga membantu wajib pajak atau pemilik perusahaan untuk membuat
perencanaan perpajakan yang bertujuan untuk menghemat pembayaran pajak.
Dengan adanya penilaian aktiva tetap akan memberikan dampak positif dan
negatif bagi perusahaan. Berikut dampak positif bagi perusahaan:
1. Posisi kekayaan di dalam neraca menunjukkan kewajaran, ini akan mempermudah
pemakai laporan keuangan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat.
2. Selisih lebih penilaian kembali akan menyebabkan struktur modal meningkat,
artinya bahwa DER semakin membaik yang dilihat dari perbandingan antara
pinjaman (debt) dan modal sendiri (equity).
3. Semakin membaiknya DER menjadikan perusahan dapat melakukan pinjaman dari
pihak ke tiga atau emisi saham.
Dampak negatif bagi perusahaan:
1. Naiknya nilai aktiva tetap menyebabkan beban penyusutan aktiva tetap menjadi
naik yang di bebankan dala laba/rugi atau dibebankan ke dalam harga poko
produksi.
2. Dari segi perpajakan bahwa selisih lebih yang disebabkan revaluasi aktiva tetap
adalah objek pajak yang dikenai pajak final 10%.

52

Jika di lihat dari dampak positif dan negatif yang disebabkan revaluasi aktiva tetap,
maka untuk melakukan revaluasi aktiva tetap perlu dipikirkan secara baik-baik oleh pihak
manajemen perusahaan, manfaat dan kerugaian yang akan dialami di masa sekarang
dan yang akan datang akibat revaluasi aktiva tetap harus benar-benar dipertimbangkan
dengan baik.
Kesimpulan artikel:
Revaluasi aktiva tetap menurut PSAK 16 merupakan aset berwujud yang
digunakan untuk kegiatan operasi perusahaan, memiliki masa manfaat lebih dari satu
tahun, dan tidak untuk diperjual belikan. Revaluasi aktiva tetap memiliki syarat yang
digunakan untuk menentukam metode apa yang harus dilakukan. Metode tersebut antara
lain adalah metode historical cost dan revaluasi. Selain itu revaluasi aktiva tetap
memiliki beberapa dampak terhadap PPh dan perusahaan. Pada PPh, revaluasi aktiva
tetap dapat membantu menambah penerimaan pemerintah, membantu Wajib Pajak
dalam meringankan biaya pajak, dan pada kenaikan nilai aktiva tetap menyebabkan
beban penyusutan aktiva tetap pada laba rugi ikut naik. Sedangkan pada perusahaan
memiliki dampak positif dan dampak negatif yang keduanya dapat menjadi suatu
keuntungan dan kerugian bagi perusahaan.

Sumber artikel:
Anonim.Revaluasi atau Penilaian Kembali Aktiva Tetap.
http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/revaluasi-atau-penilaian-kembaliaktiva.html

53

SURAT PERNYATAAN
Kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri dan kami semua berperan serta dalam mengerjakan
tugas terlampir. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan.
Mata Ajaran
Judul Tugas

Tanggal
Dosen

: Akuntansi Keuangan 1
: Tugas Kelompok Akuntansi Keuangan 1: Penjelasan Laporan
Keuangan PT Indofood
Sukses Makmur Tbk.
: 27 November 2014
: Birawani Dwi Anggraeni S.E., M.S.M.

Nama Nama Anggota


Anggota 1
Nama
Pembayun
NPM

: Ratu Yuke Ratna


: 1306391421

Tandatangan

Anggota 3
Nama
NPM

: Kintan Imanda Sabilina


: 1306469815

Tandatangan
Anggota 5

Anggota 2
Nama
NPM

: Yunissa Rara Fahreza


: 1306391472

Tandatangan

Anggota 4
Nama
NPM

: Anis Filzah Handayani


: 1306469821

Tandatangan
Anggota 6

:
54

Nama
Nuraina
NPM

: Dinda Anastasya

Tandatangan
Anggota 7
Nama
Permana
NPM
Tandatangan

: Muhammad Arugha

: 1306469834

Nama
Savero
NPM

Tandatangan

: 1306469885

: Muhammad Rega
: 1306469891
:

Daftar Referensi
1. Kieso, Donald E., dkk. 2011. Intermediate Accounting Volume 1 IFRS Edition.
Hong Kong: John Wiley & Sons Inc.
2. Martani, Dwi. PSAK 1 Penyajian Laporan Keuangan IAS 1. 16 Februari 2010.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-1-Penyajian-LaporanKeuangan-IAS-1-21082013.pptx
3. Martani,
Dwi.
ED
PSAK
16.
28
Juni
2011.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED-PSAK-16.pdf
4. Martani,
Dwi.
PSAK
2
Laporan
Arus
Kas.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/03/PSAK-2-LAPORAN-ARUS-KAS.pdf
5. Martani,
Dwi.
PSAK
19
Aset
Tidak
Berwujud.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-19-Aset-Tidak-Berwujud-IAS38.pptx
6. Martani,
Dwi.
PSAK
14
Persediaan
IAS
21
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-14-Persediaan-IAS-21.pptx
7. Martani, Dwi. PSAK 57 Provisi Liabilitas Kontijensi dan Aset Kontijensi.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/03/PSAK-57-Provisi-Liabilitas-Kontijensidan-Aset-Kontijensi-.pdf
8. Martani,
Dwi.
PSAK
50
dan
55
Overview.
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/03/PSAK-50-dan-55-overview.pdf
9. Parmadita.
Obligasi.
19
Oktober
2012.
http://www.seputarforex.com/artikel/forex/lihat.php?id=105117&title=obligasi.
10.Anonim.
Revaluasi
atau
Penilaian
Kembali
Aktiva
Tetap.
http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/revaluasi-atau-penilaiankembali-aktiva.html.

55