Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara geografis, masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup,
tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara
wilayah darat dan laut. Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas
kategori-kategori sosial yang membentuk kesatuan sosial. Mereka juga memiliki
sistem nilai dan simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka
sehari-hari. Faktor kebudayaan inilah yang menjadi pembeda antara masyarakat
nelayan dengan kelompok sosial lainnya. Sebagian besar masyarakat pesisir, baik
langsung maupun tidak langsung, menggantungkan kelangsungan hidupnya dari
mengelola potensi sumberdaya kelautan. Di seruyan banyak perempuan yang
berperan ganda dalam keluarganya, karena untuk membantu para suami dalam
memenuhi kebutuhan keluarga. Suami yang berprofesinya sebagai nelayan, dapat
di manfaatkan para istri dalam hasil tangkapan lautnya untuk menjadi bahan
olahan industri rumah tangga.
Kemajuan zaman sering diiringi dengan berkembangnya informasi dan
tingkat kemampuan intelektual manusia. Bersama itu peran perempuan dalam
kehidupan pun terus berubah untuk menjawab tantangan zaman, tak terkecuali
mengenai peran perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga yang ada
di Kelurahan Kuala Pembuang II. Biasanya, tulang punggung kehidupan keluarga
adalah laki-laki atau suami. Tapi kini para perempuan atau istri banyak yang

berperan aktif untuk mendukung ekonomi keluarga. Perempuan tidak sekedar


menjadi teman hidup saja, tetapi juga banyak mempunyai peran dalam keluarga.
Menurut konsep ibuisme, kemandirian perempuan tidak dapat dilepaskan dari
perannya sebagai ibu dan istri, perempuan dianggap sebagai makhluk sosial dan
budaya yang utuh apabila telah memainkan kedua peran tersebut dengan baik.
Peran utama perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga yang harus memberikan
tenaga dan perhatiannya demi kepentingan keluarga tanpa boleh mengharapkan
imbalan, serta kekuasaan. Bahkan tak jarang perempuan mempunyai tingkat
penghasilan yang lebih memadai untuk mencukupi kebutuhan keluarga dibanding
suaminya. Dengan pendapatan yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa perempuan
ikut berusaha untuk keluar dari kemiskinan meskipun semua kebutuhan keluarga
tidak terpenuhi.
Mayoritas penduduk yang ada di daerah Kelurahan Kuala Pembuang II
Kabupaten Seruyan beragama islam, karena masyarakat di daerah tersebut banyak
masyarakat transmigrasi. Maka masyarakat Kuala Pembuang II Kabupaten
Seruyan beragama islam. Dalam ajaran agama Islam bahwa Islam tidak melarang
perempuan bekerja baik di rumah maupun diluar rumah. Selama pekerjaan
tersebut dilakukan secara terhormat, sopan dan mereka dapat menjaga agamanya
serta tidak menimbulkan efek-efek negatif dari pekerjaan tersebut.1
Namun seiring dengan perkembangan zaman, tingkat modernisasi dan
globalisasi informasi serta keberhasilan gerakan emansipasi perempuan dan
feminism, perempuan semakin terlibat di dalam berbagai kegiatan. Peran ganda
1 Huzaeimah T. Yanggo, Pandangan Islam Tentang Gender, Dalam Membincang
Feminisme; Diskursus Gander Perspektif Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), 161.

perempuan bukan lagi sebagai hal yang asing untuk di dengar oleh masyarakat.
Ibu rumah tangga di seluruh dunia melakukan berbagai macam tugas yang
memiliki satu kesamaan mata rantai rumah dengan penghuninya. Mereka merawat
anak, memenuhi kebutuhan pangan keluarga, baik dari ladang keluarga atau pasar
setempat. Mereka mencuci pakaian di sungai atau dengan mesin cuci. Mereka
juga ikut memberi sedikit penghasilan bagi keluarga melalui pekerjaan paruh
waktu dengan rendah yang tidak membahayakan pekerjaan utamanya, yakni
mengurus rumah dan keluarga. Pekerjaan rumah tangga adalah salah satu aspek
pembagian kerja berdasarkan gender dimana laki-laki cenderung melakukan
pekerjaan yang dibayar dan perempuan mengerjakan pekerjaan yang tidak
dibayar.
Para ibu dari keluarga-keluarga yang berpenghasilan rendah di Kelurahan
Kuala Pembuang II, umumnya melakukan peran ganda karena tuntutan kebutuhan
hidup bagi keluarga. Meskipun suami berkewajiban sebagai pencari nafkah yang
utama dalam keluarga, hal ini tidak menutup kemungkinan bagi istri untuk bekerja
sebagai penambah pengahasilan keluarga. Dalam upaya mencapai hidup yang
sejahtera, perempuan di keluarga nelayan pun setiap hari berusaha agar segenap
perannya baik sebagai ibu rumah tangga, pencari nafkah baik pedagang, buruh
tani, ataupun sebagai pekerja di sektor industri rumah tangga. Untuk itu mereka
mengatur waktu sedemikian rupa sehingga semua peran yang disandangnya dapat
dilaksanakan dengan seimbang.
Di Kabupaten Seruyan Kelurahan Kuala Pembuang II merupakan desa
yang penduduk perempuannya ikut turut serta berperan dalam membantu

perekonomian keluarga. Banyak ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pedagang
ikan, pedagang sembako dan industri olahan rumah tangga seperti pengrajin
krupuk tenggiri yang bahan utamanya adalah ikan tenggiri. Usaha pengrajin
krupuk ini sudah lama digeluti para ibu-ibu rumah tangga untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi dan menambah pendapatan perekonomian dalam keluarga.
Oleh karena itu, salah satu usaha yang dianggap menjanjikan oleh para
ibu-ibu yaitu sebagai pengrajin krupuk tenggiri. Mayoritas ibu-ibu ini memiliki
tingkat pendidikan yang rendah (lulusan SD dan SMP) dan tidak memiliki
ketrampilan yang ahli dalam bidang pemerintahan, maka salah satu usaha yang
bisa dilakukan ibu-ibu tersebut bekerja sebagai pengrajin dan pembuat olahan
krupuk seperti tenggiri, haruan dan pipih. Kegiatan para ibu rumah tangga yang
ikut serta dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga dan juga pengurus
rumah tangga, sehingga dikatakan bahwa ibu rumah tangga mempunyai peran
ganda di dalam keluarga. Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengambil
judul PERAN GANDA PERMPUAN DALAM KELURGA NELAYAN
(STUDI KASUS PENGARAJIN KRUPUK TENGGIRI DI KABUPATEN
SERUYAN).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah Faktor-faktor pendorong Peran Ganda Perempuan di dalam
Keluarga Nelayan Kelurahan di Kuala Pembuang II Kabupaten
Seruyan?
2. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap perempuan yang bekerja
dan sebagai Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Kuala Pembuang II
Kabupaten Seruyan?
C. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan faktor-faktor pendorong yang menyebabkan Peran
Ganda perempuan dalam Keluarga Nelayan Kelurahan di Kuala
Pembuang II Kabupaten Seruyan.
2. Mendeskripsikan tentang pandangan masyarakat terhadap perempuan
yang bekerja dan Ibu Rumah Tangga dalam keluarga Nelayan di
Kelurahan Kuala Pembuang II Kabupaten Seruyan.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis
a. Sebagai pembanding antara teori yang didapat dari bangku perkuliahan
dengan fakta yang ada di lapangan.
b. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan dibidang
penelitian yang sejenisnya.
2. Secara Praktis
a. Bagi Penulis.
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan sebagai bekal dalam
menerapkan pengetahuan teoritis terhadap masalah praktis.
b. Bagi Masyarakat.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan petunjuk umum tentang peran


perempuan didalam pemenuhan perekonomian keluarga.
c. Bagi Lembaga-lembaga yang terkait.
Penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi untuk
berbagai pihak sebagai bahan tambahan informasi bagi para peneliti
lanjutan.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Teori Peran Ganda

Menurut Robert Linton, seorang Antropolog, telah mengembangkan teori


Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor
yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan
teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun
kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang
yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua,
perempuan, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku
sesuai dengan peran tersebut.
Menurut Rowatt dan Rowatt (Wanaddito, 2005) bahwa peran ganda dapat
diartikan yaitu peranan disamping sebagai pengelola rumah tangga tetapi juga
mengerjakan pekerjaan nafkah (publik). Dengan kata lain, kesempatan bagi
perempuan untuk bekerja di luar rumah dengan tetap mengutamakan tugas
utamanya dalam rumah tangga. 2
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perempuan yang
berperan ganda adalah perempuan yang berperan di bidang domestik dan di
bidang publik. Peran di bidang domestik yaitu mengerjakan pekerjaan rumah
tangga yang dikerjakan di dalam rumah, sedangkan di bidang publik yaitu
mengerjakan pekerjaan untuk mencari nafkah yang dikerjakan baik di dalam
rumah maupun di luar rumah.
Kenyataannya, banyak ditemukan praktek ketidakadilan dan kesetaraan
gender di dalam masyarakat. Hal ini disebabkan antara lain karena ada tiga peran
perempuan:
2 http://mbaawoeland.blogspot.com/2011/12/peran-ganda-perempuan.html di unduh 11 November 2013

1. Peran produktif
Peran ini berhubungan dengan segala aktifitas dan pekerjaan yang
menghasilkan uang, seperti: bertani, tukang batu, berdagang, pembantu
rumah tangga, membuka warung, bekerja di kantor, dan berbagai
pekerjaan lainnya. Namun sebagian besar upah yang diperoleh kaum
perempuan jauh lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki untuk pekerjaan
yang sama beratnya. Hal ini disebabkan karena lemahnya posisi tawar
perempuan dan kesempatan mereka yang terbatas untuk mendapatkan
pekerjaan yang bergajih lebih tinggi, artinya perempuan tersebut harus
bekerja di luar rumah.
2. Peran reproduktif
Peran ini berhubungan dengan peran perempuan untuk mengurus
rumah tangga dan mensejahterakan keluarga, termasuk hamil, melahirkan,
merawat anak, mengurus anggota keluarga yang sakit, dan berbagai
pekerjaan rumah tangga seperti: memasak, mencuci, dan mengangkat air.
Pekerjaan ini tidak menghasilkan uuang dan sangat sulit diukur. Namun
tidak pernah dianggap suatu pekerjaan. Karena dilihat sebagai tanggung
jawab perempuan semata. Padahal pekerjaan ini memakkan waktu,
mengurai tenaga dan harus dikerjakan setiap hari.
3. Peran di masyarakat
Peran ini berkaitan dengan keterlibatan kaum permpuan untuk ikut
andil dalam kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan sosial. Umpamanya,
menghadiri rapat, kebudayaan, menghhibur kerabat dan sanak keluarga
yang tertimpa musibah. Peran ini melibatkan perempuan dan laki-laki,
namun umumnya pengambilan keputusan selalu berada di tangan laki-laki.

Laki-laki dan perempuan,, keduanya mempunyai berbagai macam


peran di dalam masyarakat. Namun kaum laki-laki biasanya memfokuskan
diri hanya pada perannya sebagai pencari nafkah, sementara kaum
perempuan harus mengerjakan ketiga peran tersebut sekaligus. Apabila
perempuan tidak bisa mengerjakan ketiga peran diatas, maka akan
dituding gagal dalam melaksanakan kewajibannya.
Seperti yang telah kita lihat, peran gender telah menyebabkan
perempuan selalu bekeja keras setiap hari. Peran gender sering kali juga
dianggap sebagai hal yang biasa atau alami. Orang sering mengatakan
pekerjaan itu memang sudah menjadi tugas perempuan, atau sebaliknya
pekerjaan itu memang urusan laki-laki. Tetapi tidak ada alasan sama
sekali, mengapa perempuan tidak dapat mengerjakan beberapa pekerjaan
yang bisa dilakukan laki-laki.
Begitupun sebaliknya, tidak ada aturan mengapa laki-laki tidak
dapat mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan perempuan. Terlebih
jika menyaksikan perempuan seringkali melakukan pekerjaan yang lebih
berat daripada laki-laki.

Macam-Macam Tugas Perempuan di dalam Sektor Domestik dan Publik


Sektor Domestik

Sektor Publik

1. Memasak dan menyiapkan

1. Bekerja sebagai PNS


2. Berdagang
3. Bekerja di industri olahan

makanan
2. Menyapu dan membersihkan

rumah tangga
4. Bekerja di perusahaan sebagai

rumah
3. Mencuci dan Menyetrika

buruh
5. Bertani
6. Jasa-jasa
7. Dan lain-lain

pakaian
4. Merawat dan mengasuh anak
5. Mencuci piring (alat-alat rumah
tangga)
6. Dan lain-lain

Tabel. Macam-macam Tugas perempuan di sektor domestik dan publik

B. Faktor Pendorong Perempuan Bekerja


Menurut Yulia (2007), faktor-faktor yang mendasari kebutuhan perempuan
untuk bekerja di luar rumah adalah :
1. Tuntutan hidup, ada beberapa perempuan yang bekerja bukan karena
mereka ingin bekerja tetapi lebih karena tuntutan hidup. Bagaimana
mereka tidak bekerja jika gaji suami tidak bisa mencukupi kebutuhan
hidup. Ada suatu tren di kota besar dimana biaya hidup begitu besar
sehingga ibu yang bekerja adalah merupakan suatu tuntutan zaman.

10

2. Pendapatan tambahan untuk keleluasan finansial, beberapa perempuan


berpendapat bahwa jika mereka mempunyai penghasilan sendiri, mereka
merasa lebih bebas dalam menggunakan uang. Mereka bisa mendukung
keuangan keluarga mereka sendiri seperti memberi uang untuk orang tua,
ikut membiayai kuliah adik, memberi sumbangan untuk keluarga yang
sakit dan lain sebagainya.
3. Aktualisasi diri dan prestise, manusia mempunyai kebutuhan akan
aktualisasi diri, dan menemukan makna hidupnya melalui aktivitas yang
dijalaninya. Bekerja adalah salah satu sarana yang dapat dipergunakan
oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya.
4. Pengembangan bakat menjadi komersial, banyak juga ibu rumah tangga
yang menjadi pengusaha atau tokoh terkenal bukan karena mengejar karir
tetapi karena dengan sendirinya mereka berkembang oleh bakat yang
dimilikinya. Ada banyak karir gemilang yang didapat oleh kaum ibu yang
bermula dari sekedar hobi, seperti hobi menjahit, memasak, merangkai
bunga, bahkan bergaul dan berbicara.
5. Kejenuhan di rumah, ada juga para ibu yang rela meninggalkan anak-anak
di rumah bukan karena desakan ekonomi dan bukan pula karena desakan
batin untuk mengaktualisasikan dirinya. Mereka hanyalah ibu-ibu yang
merasa bosan jika harus mengurus anak di rumah. Mereka lebih senang
jika bisa mempunyai kesibukan dan berkesempatan untuk bercanda ria
dengan rekan-rekan kerja.

11

C. Teori Kesejahteraan Sosial Dan Ekonomi


Kesejahteraan adalah salah satu aspek yang cukup penting untuk menjaga
dan membina terjadinya stabilitas sosial dan ekonomi. Kondisi tersebut juga
diperlukan
masyarakat.

untuk

meminimalkan

Selanjutnya

terjadinya

percepatan

kecemburuan

pertumbuhan

sosial

ekonpomi

dalam

masyarakat

memerlukan kebijakan ekonomi atau peranan pemerintah dalam mengatur


perekonomian sebagai upaya menjaga stabilitas perekonomian.
Menurut Vilveredo Pareto, Ekonomi Italia, telah menspesifikasikan suatu
kondisi atau syarat terciptanya alokasi sumber daya secara efisien atau optimal,
yang kemudian terkenal dengan istilah syarat atau kondisi pareto (Pareto
Condition). Kondisi pareto adalah suatu alokasi barang sedemikian rupa, sehingga
bila dibandingkan dengan alokasi lainnya, alokasi tersebut takan merugikan pihak
manapun dan salah satu pihak pasti diuntungkan. Atas kondisi Pareto juga bisa
didefinisikan sebagai suatu situasi dimana sebagian atau semua pihak individu
takan mungkin lagi diuntungkan oleh pertukaran sukarela.3
Menurut Suharto (2009) pengertian Kesejahteraan sosial adalah suatu
institusi atau bidang kegiatan yang melibatkan aktivitas terorganisir yang
diselenggarakan baik oleh lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta yang
bertujuan untuk mencegah, mengatasi atau memberikan kontribusi terhadap

3 Vilveredo Pareto http://siboykasaci.wordpress.com/teori-kesejahteraan/ di unduh 27 November 2013

12

pemecahan masalah sosial dan peningkatan kualitas hidup individu, kelompok dan
masyarakat.4
D. Konteks Masyarakat Nelayan
Secara geografis, masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup,
tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara
wilayah darat dan laut (Kusnadi, 2009).
Menurut Imron (2003) dan Mulyadi (2005), nelayan adalah suatu
kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut,
baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budidaya. Mereka pada
umumnya tinggal di pinggi pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat
dengan lokasi kegiatannya.
Secara geografis Kabupaten Seruyan memiliki kawasan pesisir dengan
panjang garis pantai 100 Km dan wilayah Kabupaten Seruyan di belah oleh
Sungai Seruyan yang membentang dari Hulu mengalir sampai ke Laut Jawa
sepanjang 350 km yang dapat dilayari 300 km, kedalaman rata-rata 6 m dan
lebar rata-rata adalah 300 m, yang didalamnya terdapat danau, rawa dan anakanak sungai.
Rata-rata produksi perikanan Kabupaten Seruyan terus mengalami
kenaikan setiap tahunnya. Kenaikan tersebut dikarenakan peningkatan hasil
4 Suharto (2009) http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/09/pengertian-kesejahteraan-sosial.html di unduh 27
November 2013

13

perikanan budidaya yaitu naiknya produksi hasil tambak rakyat, kolam, karamba
dan meningkatnya usaha penangkapan baik di laut maupun di perairan umum.5
E. Ciri-Ciri Masyarakat Nelayan
Adapun ciri-ciri masyarakat nelayan, antara lain:
a. Sebagian besar masyarakat daerah pesisir umumnya memiliki mata
pencaharian sebagai nelayan.
b. Masyarakat juga dipengaruhi oleh jenis kegiatan, seperti, usaha perikanan
tambak, dan usaha pengolahan hasil perikanan yang memang dominan
dilakukan.
c. Rendahnya

pendidikan,

produktivitas

yang

sangat

tergantung

pada musim, terbatasnya modal usaha, kurangnya sarana penunjang


buruknya mekanisme pasar dan lamanya transfer teknologi dan
komunikasi

yang

mengakibatkan

pendapatan

masyarakat

pesisir,

khususnya nelayan pengolah menjadi tidak menentu.


d. Tingkat kesejahteraan sebagian besar nelayan masih memprihatinkan
e. Belum adanya pola kemitraan dan mekanisme pasar yang berlaku
cenderung merugikan.

5http://randydinaskelautandanperikanan/profil/singkat/Dinas/Kelautan/dan/perikanan/Kabupaten/Seruyan.ht
ml di unduh 24 November 2013

14

f. Tingginya tingkat persaingan nelayan dalam pemanfaatan dan penggunaan


sumberdaya yang tersedia.
g. Teknologi yang digunakan dalam perolehan pendapatan seperti alat-alat
tangkap masih sangat tradisional.

15

F. Kerangka Berfikir

Peran Ganda Perempuan

DOMESTIK

IBU RUMAH
TUNGGA

PUBLIK

Pandangan
Perempuan bekerja
dan ibu rumah tangga

Masyarakat
terhadap
perempuan sebagai

Faktor-faktor pendorong
peran ganda perempuan

ibu rumah tangga


dan ibu yang
bekerja

16

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. METODE PENELITIAN
Dalam hal penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan
kualitatif. Dimana pendekatan kualitatif merupakan pendekatan penelitian
yang memerlukan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh
berhubungan dengan objek yang diteliti bagi menjawab permasalahan
unutk mendapat data-data kemudian dianalisis dan mendapat kesimpulan
dalam situasi dan kondisi yang tertentu.
B. LOKASI PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi penelitian di
Kelurahan Kuala Pembuang II yang berada di Kabupaten Seruyan. Jarak
tempuh dari kota Palangka Raya kira-kira sekitar 8-9 jam pejalanan.
C. SUMBER-SUMBER DATA
Data atau informasi yang menjadi bahan baku penelitian, untuk
diolah merupakan data yang berwujud primer dan sekunder.
a. Data primer, merupakan data yang diperoleh melalui serangkaian
kegiatan sebagai berikut:
i.

Observaasi
Salah satu cara pengumpulan data yang utama dalam
mengkaji situasi sosial yang dijadikan sebagai objek
penelitian

dengan

17

menggunakan

teknik

observasi

partisipatif, dimana peneliti bertinteraksi secara penuh


dalam situasi sosial dengan subjek penelitian. Teknik ini
diguanakan untuk mengamati, memahami peristiwa secara
cermat, mendalam dan terfokus terhadap subjek penelitian,
ii.

baik dalam situasi formal maupun santai.


Wawancara
Untuk memperoleh data peneliti juga menggunakan teknik
wawancara dengan subjek yang terlibat dalam interaksi
sosial yang dianggap memiliki pengetahuan, mendalami
situasi dan mengetahui informasi untuk mewakili objek
penelitian. Wawancara dapat dilakukan secara formal dan
informal (terjadwal dan tidak terjadwal) di tempat resmi

dan di tempat umum atau tidak resmi.


b. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui
pengumpulan

atau

pengolahan

data

yang

bersifat

studi

dokumentasi berupa penelaahan terhadap dokumen pribadi, resmi


kelembagaan, referensi-referensi atau peraturan (literatur laporan
atau tulisan). Data sekunder berupa dokumen-dokumen eksprensif
seperti biografi, autobiogafi, sura-surat, dan buku harian. Termasuk
juga laporan media massa baik melalui surat kabar, majalah, radio,
televisi, maupun media cetak dan elektronik lainnya.

D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA


Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama
dalam penelitian, karena tujuan penelitian

18

adalah mendapatkan data.

Adapun teknik yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data ini


sebagai berikut:
a. Observasi Partisipatif
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari
orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data
penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa
yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya.
Dengan observasi partisipan ini, maka data yang dipeoleh akan lebih
lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap
perilaku yang nampak.
Menurut Susan Stainback (1988) menyatakan dalam observasi
partisipatif, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan
apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka.

b. Wawancara
Teknik wawancara merupakan teknik pengumpulan data kualitatif
dengan menggunakan instrumen yaitu pedoman wawancara. Wawancara
dilakukan oleh peneliti dengan subjek penelitian yang terbatas.
Adapun kriteria-kriteria yang menjadi informan dalam penelitian
ini sebagai berikut:
1. Perempuan yang sudah menikah
2. Masih memiliki seorang suami
3. Suami yang bekerja sebagai nelayan
4. Perempuan yang memiliki anak
5. Perempuan yang bekerja dalam pengrajin krupuk
6. Tokoh masyarakat seperti lurah setempat, para suami, ibu rumah
tangga, dan anak muda.

19

Maka peneliti mendapatkan informan berjumlah 3 orang yang


perempuan yang bekerja sebagai pengrajin krupuk, 2 orang perempuan
sebagai ibu rumah tangga dan 4 orang dari masyarakat umum.
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental
dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian,
sejarah kehidupan, cerita, biografi, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk
gambar misalnya foto-foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dan
dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa
gambar, patung, dan film, atau berupa rekaman kaset.
d. Triangulasi
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai
teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai
teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Triangulasi
teknik, berati peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang
berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti
menggunakan

observasi

partisipatif,

wawancara

mendalam,

dan

dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi


sumber berati, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda
dengan teknik yang sama.
E. ANALISIS DATA
Dalam metode analisis data menurut Faisal 2010 dan Moleong
2001 menyatakan bahwa pengumpulan data, reduksi data, display data,
dan pengambilan kesimpulan. Untuk melakukan analisis data peneliti
harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

20

a. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses pengumpulan data penelitian,
seorang peneliti dapat menemukan kapan saja waktu untuk mendapatkan
data yang banyak, apabila peneliti mampu menerapkan metode observasi,
wawaancara atau dari berbagai dokumen yang berhubungan dengan subjek
yang diteliti. Maknanya si peneliti harus mampu merekam data lapangan
dalam bentuk catatan-catatan lapangan, harus ditafsirkan atau diseleksi
masing-masing data yang relevan dengan fokus masalah yang diteliti.
b. Melaksanakan Display data atau Penyajian Data
Penyajian data kepada yang telah diperoleh ke dalam sejumlah
daftar kategori setiap data yang didapat, penyajian data biasanya berbentuk
naratif. Biasanya dalam penelitian banyak mendapatkan data. Data yang
didapatkan tidak mungkin dipaparkan secara keseluruhan. Untuk itu,
dalam penyajian data peneliti dapat di analisis oleh peneliti untuk disusun
secara sistematis sehingga data yang diperoleh dapat menjelasksan atau
menjawab masalah yang diteliti. Maka dalam display data, peneliti
disarankan untuk tidak tergegabah mengambil kesimpulan.
c. Mengambil kesimpulan
Mengambil kesimpulan merupakan analisis lanjutan dari reduksi
data, dan display data sehingga data disimpulkan, dan peneliti masih
berpeluang untuk menerima masukan. Penarikan kesimpulan sementara,
masih dapat di uji kembali dengan data di lapangan, dengan cara
merefleksikan kembali, peneliti dapat bertukar pikiran dengan teman
sejawat, triangulasi, sehingga kebenaran ilmiah dapat tercapai. Setelah
hasil penelitian telah diuji kebenarannya, maka peneliti dapata menarik
kesimpulan dalam bentuk deskriptif sebagai laporan penelitian.

21

DAFTAR PUSTAKA
Faisal, Sanapiah. 2008. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Iskandar. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan Dan Sosial (Kualitatif Dan
Kuantitatif). Jakarta: Gaung Persada Pers.
Makarao, Nurul, Ramadhani. 2009. Gender dalam Bidang Kesehatan. Bandung:
Alfabeta.
Mosse, Julia Cleves. 1993. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Sajogyo, Pudjiwati. 1983. Peranan Wanita Dalam Perkembangan Masyarakat
Desa. Jakarta: CV. Rajawali.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:
Alfabeta.
http://mbaawoeland.blogspot.com/2011/12/peran-ganda-perempuan.html di unduh
11 November 2013
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18102/3/Chapter%20II.pdf unduh
11 November 2013
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-11418-Chapter1.pdf

di

unduh

13

November 2013
http://gracelliaraystika.wordpress.com/2013/01/17/nelayan-sebagai-masyarakatpesisir/ di unduh 15 November 2013

22

http://siboykasaci.wordpress.com/teori-kesejahteraan/ di unduh 27 November


2013
http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/09/pengertian-kesejahteraan-sosial.html di
unduh 27 November 2013
http://BUDIDAYA/PERAIRAN/2010/20/20Ciri/Masyarakat/Pesisir/.html

di

unduh 24 November 2013


http://Perekonomian/dan/Pariwisata/Kabupaten/Seruyan.html

di

unduh

24

November 2013
http://randydinaskelautandanperikanan/profil/singkat/Dinas/Kelautan/dan/perikan
an/Kabupaten/Seruyan.html di unduh 24 November 2013
http://Tugas/Seorang/Ibu/Dalam/Rumah/Tangga/Keluarga/Sakina.html di unduh
24 November 2013

23