Anda di halaman 1dari 5

PENENTUAN BESAR SAMPEL

Banyak sekali rumus yang digunakan untuk menentukan beesar sampel, namun hakekatnya
untuk dua tujuan yaitu untuk estimasi mean (rata-rata) dan untuk menguji hipotesis yang sudah
ditentukan sebelumnya.
Pendekatan dan Ukuran Besar Sampel
Penentuan besar sampel dari beberapa telaah pustaka ada beberapa pandekatan yaitu:
1. Distribusi Normal dengan Central Limit Theorema
Teori mengatakan bahwa disebut sampel besar jika subjek yang diteliti 30, karena akan
mendekati distribusi normal, sedangkan jika < 30 disebut sampel kecil. Teori ini juga
mempersyaratkan skala data yang dipakai interval atau ratio (Walpole, 1995. P.395)
2. Taksiran Varians
Pendekatan ini didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya atau hasil studi pendahuluan,
sehingga diperoleh nilai 2, persyaratan lainnya skala data interval atau ratio. Perhitungan
rumus didasarkan padda toleransi galat (error) yang ada (Bound on the error).
Rumus yang dipakai:
N 2
n=
( N 1 ) D+ 2
Dimana:
n
: besar sampel hasil perhitungan
N
: total populasi yang ada
2
: varians
D
: B2/4, dimana B adalah Bound on the error yang sangat tergantung dari nilai
(alpha) yang ada, jika = 5%, maka Cl 95% sehingga pada distribusi normal
akan diperoleh nilai Z = 1,96, dbulatkan menjadi 2, turunan rumusnya akan
menjadi:
2
N n
2
n N 1
x

, sedangkan B = 2; dari dua persamaan tersebut, gabungkan

pada rumus B, maka akan menghasilkan rumus:


2 Nn
B=2
n N1 , untuk menentukan n, kuadratkan masing-masing sisi,

yang hasilnya sebagai berikut:

B 2=4

2 Nn
n N 1

atau

Jika

D=

B
4

maka

D=

B2 2 N n
=
n
n N 1

2 ( Nn )
n ( N1 )

2
n ( N1 ) D= ( N n )

n ( N1 ) D= 2 N 2 n
n ( N1 ) D+ n 2=N 2
n [ ( N1 ) D+ 2 ] =N 2
N 2
n=
[ ( N 1 ) D+ 2 ]
Nilai B hakekatnya seberapa jauh batas kesalahan ditoleransi, jika Cl 68%, maka
nilai B = , untuk Cl 90% nilai B = 1,64
3. Berdasarkan Proporsi Kejadian
Pendekatan besar sampel ini digunakan berdasarkan proporsi kejadian kasus tertentu
yang sedang diteliti.
Rumus yang dipakai yaitu:
N Z 2 p q
n= 2
d ( N 1 ) +Z 2 p q
Dimana:
N
: total populasi
p
: proporsi kejadian di populasi, missal kasus kejadian ISPA di desa X 30%.
q
: proporsi selain kejadian yang diteliti, q = 1 p; q = 1 0,3 = 0,7.
2
Z : kuadrat dari nilai Z; bila 5% = 1,96 ; 1% = 2,58
d

: presisi yaitu selisih antara(- X ) yaitu nilai parameter dengan nilai sampel,

seringkali nilai presisi ini tidak diketahui sehingga pendekatan yang dipakai sesuai
dengan nilai .
4. Berdasarkan Teknik Sampling
Untuk teknik sampling simple, systematic dan Stratified, bisa digunakan rumus data,
karena relative merupakan kelompok yang digunakan sehingga representatifitasnya bisa
dicapai, namun untuk Cluster random sampling kurang tepat, mengingat heterogenitas

yang ada dalam kelompok kluster tersebut, sehingga pendekatan yang bisa dilakukan
dengan menggunakan tabel sampel kluster, dengan sampling framenya unit sampling.
Adapun tabelnya sebagai berikut:
Jml

TAKSIRAN PROPORSI KEJADIAN

Cluste

.05

.10

.15

.20

.25

.30

.35

.40

.45

.50

r
>400
400
300
250
200

.95

.90

.85

.80

.75

.70

.65

.60

.55

.50

26
25
25
24
24

24
24
23
23
23

23
22
22
22
21

21
21
21
20
20

20
19
19
19
19

18
18
18
17
17

17
17
16
16
16

15
15
15
15
15

14
14
14
14
14

13
13
12
12
12

150
100
90
80
70

23
22
21
20
20

22
20
20
19
19

21
19
19
18
18

19
18
18
17
17

18
17
17
16
16

17
16
16
15
15

16
15
15
14
14

14
14
14
13
13

13
13
12
12
12

12
12
11
11
11

60
50
40
35
30

19
18
16
15
14

18
17
16
15
14

17
16
15
14
13

16
15
14
14
13

15
15
14
13
12

14
14
13
12
12

14
13
12
12
11

13
12
12
11
11

12
11
11
10
10

11
10
10
10
9

25
20
15
10

13
12
10
8

13
12
10
8

12
11
9
7

12
11
9
7

11
10
9
7

11
10
9
7

10
10
8
7

10
9
8
7

9
9
8
6

9
8
7
5

(dikutip dengan modifikasi dari Luts, 1892, dalam Watik Pratiknya, 1986)
Penggunaan tabel diatas sebagai berikut, missal ingin diketahui hubungan antara Mal
nutrisi dengann kasus diare pada Balita di Kecamatan X, yang dijadikan Cluster desa,
misal ada 20 desa, dengan prevalensi diare 20% dan mal nutrisi 10%, maka bisa
digunakan proporsi diare atau mal nutrisi, pakai sampel yang lebih besar.
Missal yang dipakai diare, maka lihat pada jumlah Cluster 20 pada baris dan proporsi
lihat pada kolom p = .20 dan q = .80; urutkan kebawah maka akan ketemu besar
sampelnya 11 Cluster, buatlah undian 1-20, undilah untuk memilih 11 Cluster tersebut
menjadi anggota sampel.
5. Berdasarkan Jenis Uji Hipotesis
a) Data Kontinyu
Pendekatan ini membutuhkan beberapa informasi, antara lain:
i.
simpangan baku populasi, bisa diperoleh dari teori atau penelitian sebelumnya.
ii.
Perbedaan yang diinginkan antara nilai sampel yang berasal dari penelitian

sebelumnya dengan nilai parameter yang ada d=( X )


iii.

Tingkat kesalahan yang ditoleransi = 5% ; Z = 1,96

iv.

Power penelitian 90% = 1,282.


Rumus yang dipakai:
2
(Z + Z) ]
[
n=
d0

Suatu penelitian ingin mengetahui efek kebisingan terhadap intensitas


pendengaran pekerja pabrik knalpot, hasil studi pendahuluan diketahui intensitas
kebisingan masing-masing tempat kerja rata-rata 80 dB, dengan standard deviasi
5, berapakah besar yang harus di ambil oleh peneliti pada = 5% dan kekuatan uji
90%, standard kebisingan 85 dB.
Diketahui:
Z = 1,96 ; Z = 1,282 ; = 2 ; d = 85 80 = 5, maka besar sampel, dapat
dihitung sebesar :
[ ( 1,96+ 1,282 ) 5 ]
n=
50

(3,242 ) 5
5

16,21
=10,51
5

n=
n=

Penggunaan rumus ini akan mendapatkan sampel yang kecil, namun harus ada
data pendahuluan yang mendukung.
b) Data Proporsi
Pendekatan ini membutuhkan beberapa informasi tentang:
i.
Proporsi kejadian (Pk) dan proporsi reference (Pr), missal kejadian di Puskesmas
ii.
iii.

maka proporsi reference bisa kabupaten, propinsi.


Tingkat kesalahan yang ditoleransi = 5% ; Z = 1,96
Z
Kekuatan uji
80% = 0,842
Rumus yang digunakan:

n=

( Z Pk Q k + Z P r Q r )
(P rP k )

6. Judgment (pengalaman) Peneliti


Pendekatan besar sampel dengan cara ini hanya didasarkan pada prosentase dari besarnya
populasi, cara ini lazim dipakai untuk penelitian survey, seperti di Amerika sensus tahun
1940 hanya diambil 5%, tahun 1950 20%, pertimbangan yang nyata adalah keterbatasan
sumber daya (Cochran,1991. P.3).

Populasi kurang dari 100 hendaknya diambil 50% dari populasi, jika populasi beberapa
ratus diambil 25 sampai 30%.
Berdasarkan hasil penelitian sampel 20% dari populasi dengan teknik systematic random
sampling paling baik. (Aris Santjaka, 2002).