Anda di halaman 1dari 177

SD Kelas V

Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU


IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
TAHUN 2014
SD KELAS V

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN


KEBUDAYAAN
2014

SD Kelas V

Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh:
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan
dan Penjaminan Mutu Pendidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2014
Copyright 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

SD Kelas V

Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Kurikulum 2013 akan
diterapkan di semua sekolah pada tahun 2014. Kurikulum 2013 merupakan
pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon berbagai tantangan
tantangan internal dan eksternal.
Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir,
penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan
proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin
kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan.
Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas
kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan
masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan.
Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan eksternal
pada bidang pendidikan pendidikan. Oleh karena itu, implementasi Kurikulum
2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi dan tuntutan
masyarakat Indonesia masa depan.
Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip
utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua,
standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti
yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi
terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.
Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima,
semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan
kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat
asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan
keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.
Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam
mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri
Pendidikan
Kebudayaan

Muhammad Nuh

dan

SD Kelas V

Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Materi
Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Materi pelatihan ini merupakan bahan
ajar wajib dalam rangka pelatihan calon Narasumber Nasional, instruktur
Nasional, dan Guru Sasaran untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian
dalam proses pembelajaran di sekolah.
Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014
melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap
melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2014/2015, Kurikulum 2013 dilaksanakan
bertahap menyeluruh untuk Kelas I, II, IV dan V, Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah (SD/MI), Kelas VII, VIII
Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Kelas X, XI Sekolah Menengah Atas/Sekolah
Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran
2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I
sampai dengan Kelas XII.
Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga
kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan.
Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan
dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah
menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala
sekolah, dan pengawas. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak
menjalankan tugas dalam Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.
Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada
pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, widyaiswara, dosen perguruan
tinggi, konsultan, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di dalam
penyusunan modul-modul tersebut di atas.
Jakarta, Maret 2014
Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom
NIP 196202031987031002

SD Kelas V

Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI
SAMBUTAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
Materi Pelatihan 1 : Konsep Kurikulum 2013
1. Rasional Pengembangan dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013
1
1. SKL, KI, KD dan Strategi Implementasi Kurikulum 2013
2
1. Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu, Pendekatan Saintifik,
3 Model-model Pembelajaran, dan Penilaian Autentik pada
Kurikulum 2013
A Pembelajaran Tematik Terpadu
.
B Pendekatan Saintifik
.
C Model-model Pembelajaran (Project Based Learning, Problem
.
Based Learning, Discovery Learning)
D Penilaian Autentik
.
Materi Pelatihan 2 : Penggunaan Buku Guru dan Buku Siswa
2. Penggunaan Buku Guru dan Buku Siswa
1
A Kedudukan dan Fungsi Buku Siswa dan Buku Guru
.
B Struktur dan Hubungan Fungsional Buku Siswa dan Buku Guru
.
C Penggunaan Buku Guru dan Buku Siswa
.
D Proses Analisis Buku Guru dan Buku Siswa
.
Materi Pelatihan 3: Perancangan Pembelajaran dan Penilaian
3. Penerapan Pendekatan Saintifik dan Model-model Pembelajaran
1 dalam Pembelajaran Tematik Terpadu
3. Perancangan Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Tematik
2 Terpadu
3. Pelaporan Hasil Penilaian Pembelajaran
3
Materi Pelatihan 4 : Praktik Pembelajaran Terbimbing
4. Analisis Video Pembelajaran
1
4. Penyusunan RPP
2
4. Peer Teaching
3

ii
iii
iv
2
11
15
15
18
21
33

40
41
44
46
48

66
79
96

116
120
147

MATERI PELATIHAN 1
KONSEP KURIKULUM 2013
1.1
RASIONAL PENGEMBANGAN DAN
ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM
1.2
SKL, KI, KD,DAN STRATEGI
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
1.3
KONSEP PEMBELAJARAN TEMATIK
TERPADU, PENDEKATAN SAINTIFIK,
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN, DAN
PENILAIAN AUTENTIK PADA KURIKULUM
2013

HO-1.1

1.1 RASIONAL PENGEMBANGAN DAN ELEMEN


PERUBAHAN
KURIKULUM 2013
A. Latar Belakang Perlunya Pengembangan Kurikulum 2013
Kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi untuk
mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik tersebut.
Kurikulum 2013 dikembangkan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan
sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia
berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu
berubah; (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga
negara yang demokratis, bertanggung jawab.
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan
Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP
2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara
terpadu.
B. Rasional Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan
yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal.
1. Tantangan Internal
a. Pemenuhan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi Standar
Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan
Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan,
Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan.
b. Perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk
usia produktif. SDM usia produktif yang melimpah apabila memiliki
kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar
biasa besarnya. Namun, apabila tidak memiliki kompetensi dan
keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan.
2. Tantangan Eksternal
Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan
dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan,
persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta
berbagai fenomena negatif yang mengemuka.
a. Tantangan masa depan antara lain globalisasi, kemajuan teknologi
informasi.
b. Kompetensi masa depan antara lain
kemampuan berkomunikasi,
kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan menjadi warga negara
yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan
toleran terhadap pandangan yang berbeda, dan memiliki kesiapan untuk
bekerja.
c. Persepsi masyarakat antara lain terlalu menitikberatkan pada aspek
kognitif, beban siswa terlalu berat, kurang bermuatan karakter.
d. Perkembangan pengetahuan dan pedagogi antara lain Neurologi, Psikologi,
Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning.
e. Fenomena negatif antara lain perkelahian pelajar, narkoba, korupsi,
plagiarisme, dan kecurangan dalam ujian.
8

3. Penyempurnaan Pola Pikir


Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat
terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir dalam proses
pembelajaran sebagai berikut ini.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari
Dari

berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa.


satu arah menuju interaktif.
isolasi menuju lingkungan jejaring.
pasif menuju aktif-menyelidiki.
maya/abstrak menuju konteks dunia nyata.
pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim.
luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan.
stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru.
alat tunggal menuju alat multimedia.
hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif.
produksi massa menuju kebutuhan pelanggan.
usaha sadar tunggal menuju jamak.
satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak.
kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan.
pemikiran faktual menuju kritis.

p. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.


4. Penguatan Tata Kelola Kurikulum
Penyusunan kurikulum 2013 dimulai dengan menetapkan Standar Kompetensi
Lulusan berdasarkan kesiapan peserta didik, tujuan pendidikan nasional, dan
kebutuhan. Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya
yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum. Satuan
pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus, tetapi
disusun pada tingkat nasional. Guru lebih diberikan kesempatan
mengembangkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugastugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan
memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru.
5. Pendalaman dan Perluasan Materi
Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan
untuk kelas IV SD juga menunjukkan hasil bahwa lebih dari 95% peserta didik
Indonesia di SD kelas IV hanya mampu mencapai level menengah, sementara
lebih dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance.
Hasil analisis lebih jauh untuk studi PIRLS menunjukkan bahwa soal-soal yang
digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dibagi menjadi empat
kategori, yaitu:
- low mengukur kemampuan sampai level knowing
- intermediate mengukur kemampuan sampai level applying
- high mengukur kemampuan sampai level reasoning
- advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete
information.
Dalam kaitan itu, perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan
mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum
dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi
peserta didik, mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan
peserta didik, dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam
perbandingan internasional.
9

C. Karakteristik Kurikulum 2013


Kompetensi untuk Kurikulum 2013 dirancang berikut ini.
1. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk
Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD)
mata pelajaran.
2. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai
kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (kognitif dan
psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah,
kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki
seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang
diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif.
3. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik
untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu
untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.
4. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah
diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah
pada kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi).
5. Kompetensi Inti
menjadi unsur organisatoris (organizing elements)
Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan
untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.
6. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif,
saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmata
pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).
7. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI)
atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK).
Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas
tersebut.
8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk
mata pelajaran dan kelas tersebut.

D.Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intrakurikuler dan
pembelajaran ekstrakurikuler.
1. Pembelajaran intrakurikuler didasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini.
a. Proses pembelajaran intrakurikuler adalah proses pembelajaran yang
berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan
di kelas, sekolah, dan masyarakat.
b. Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS,
SMA/MA, dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
yang dikembangkan guru.
c. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif
untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang
memuaskan (excepted).
d. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten
kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan konten yang bersifat
mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching), keterampilan
kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang
dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching),
sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui
proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching).
10

e. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmental


dilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan
lainnya dan saling memperkuat antara satu mata pelajaran dengan mata
pelajaran lainnya.
f. Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan
belajar yang terjadi di kelas, sekolah, rumah dan masyarakat. Proses
pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden
curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran
tidak langsung harus tercantum dalam silabus, dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru.
g. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif
melalui kegiatan mengamati (melihat, membaca, mendengar, menyimak),
menanya (lisan, tulis), menganalis (menghubungkan, menentukan
keterkaitan, membangun cerita/konsep), mengkomunikasi-kan (lisan, tulis,
gambar, grafik, tabel, chart, dan lain-lain).
h. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik
menguasai kompetensi yang masih kurang. Pembelajaran remedial
dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan
berdasarkan analisis hasil tes, ulangan, dan tugas setiap peserta didik.
Pembelajaran remedial dirancang untuk individu, kelompok atau kelas
sesuai dengan hasil analisis jawaban peserta didik.
i.

Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat


formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk
memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan.

2. Pembelajaran Ekstrakurikuler.
Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas
yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal
secara rutin setiap minggu. Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas kegiatan wajib
dan pilihan. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. Kegiatan
ekstrakurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur
pendukung kegiatan intrakurikuler.
E. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini.
1. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena
mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk
mencapai kompetensi.
2. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk
satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai
dengan kebijakan pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar
Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah
kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses
pendidikan selama 12 tahun.
3. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. Model
kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi
berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan
psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran.
4. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar
dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai
dengan kaidah kurikulum berbasis kompetensi.
11

5. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta


didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat.
6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan
berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif
dalam belajar.
7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya,
teknologi, dan seni.
8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan.
9. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
10.Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
11.Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki
pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk
mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok
peserta didik. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses
memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau
sekelompok peserta didik.
F. Struktur Kurikulum SD/MI
Struktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam
bentuk mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum, distribusi
konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk mata
pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Struktur kurikulum
adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem
belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran.
Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum
yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban
belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester.
Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu untuk masa belajar
selama satu semester. Beban belajar di SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing
30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap
minggu. Jam belajar SD/MI adalah 35 menit. Struktur Kurikulum SD/MI adalah
sebagai berikut.
Tabel 1.1 Struktur Kurikulum SD/MI

MATA PELAJARAN

Kelompok A
1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
.
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
.
3 Bahasa Indonesia
.
4 Matematika
.
5 Ilmu Pengetahuan Alam
.
6 Ilmu Pengetahuan Sosial

ALOKASI WAKTU
BELAJAR
PER MINGGU
I
II III I V V
V
I
4

1
0
6

12

.
Kelompok B
1 Seni Budaya dan Prakarya
.
2 Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan
. Kesehatan
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu

30

3
2

3
4

3
6

3
6

3
6

Keterangan:
Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat memuat Bahasa Daerah.
Integrasi Kompetensi Dasar IPA dan IPS didasarkan pada keterdekatan makna
dari konten Kompetensi Dasar IPA dan IPS dengan konten Pendidikan Agama dan
Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
Matematika, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang berlaku
untuk kelas I, II, dan III, sedangkan untuk kelas IV, V dan VI, Kompetensi Dasar
IPA dan IPS berdiri sendiri dan kemudian diintegrasikan ke dalam tema-tema
yang ada untuk kelas IV, V dan VI.
Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi
Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses
pembelajaran yang berorientasi peserta didik aktif. Proses pembelajaran peserta
didik aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran
penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk mengamati,
menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.
G.Elemen-elemen Perubahan Kurikulum 2013
Elemen-elemen perubahan kurikulum 2013 mencakup Standar Kompetensi
Lulusan (SKL), Standar Isi (SI), Standar Proses, dan Standar Penilaian.
1. Perubahan Kurikulum 2013 pada Kompetensi Lulusan adalah: konstruksi
holistik, didukung oleh semua materi atau mapel, terintegrasi secara vertikal
maupun horizontal.
2. Perubahan Kurikulum 2013 pada materi pembelajaran dikembangkan
berbasis kompetensi sehingga memenuhi aspek kesesuaian dan kecukupan,
kemudian mengakomodasi konten lokal, nasional, dan internasional antara
lain TIMMS, PISA, PIRLS.
3. Perubahan Kurikulum 2013 pada proses pembelajaran mencakup: a)
berorientasi pada karakteristik kompetensi yang mencakup: 1) sikap
(Krathwohl): menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan
mengamalkan, 2) keterampilan (Dyers): mengamati, menanya, mencoba,
menalar, menyajikan, dan mencipta, dan 3) pengetahuan (Bloom &
Anderson):
mengetahui,
memahami,
menerapkan,
menganalisis,
mengevaluasi, dan mencipta; b) menggunakan pendekatan saintifik,
karakteristik kompetensi sesuai jenjang. Untuk SD: tematik terpadu; untuk
SMP: tematik terpadu untuk IPA dan IPS, serta mapel; untuk SMA: tematik dan
Mapel; c) mengutamakan Discovery Learning dan Project Based Learning.
4. Perubahan Kurikulum 2013 pada penilaian mencakup penilaian berbasis tes
dan nontes (portofolio), menilai proses dan output dengan menggunakan
authentic assesment, rapor memuat penilaian deskripsi kualitatif tentang
sikap, pengetahuan dan keterampilan.

13

Selanjutnya dalam Kurikulum 2013 terdapat elemen utama perbaikan kurikulum


2013 seperti terlihat dalam gambar di bawah ini.

Gambar 1.1 Elemen Utama Perbaikan Kurikulum 2013


Selanjutnya Kurikulum 2013 mengusung adanya keseimbangan antara sikap,
pengetahuan, dan keterampilan untuk membangun soft skills dan hard skills
seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1.2 Elemen Perubahan


Berdasarkan gambar 2 di atas, elemen perubahan jenjang SD, SMP, SMA, SMK
dalam kompetensi lulusan adalah adanya peningkatan dan keseimbangan soft
skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Elemen perubahan kedudukan mata pelajaran (isi) adalah
kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi mata
pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Elemen pendekatan (isi) kompetensi
yang dikembangkan di SD adalah tematik terpadu dalam semua mata pelajaran
dengan pendekatan saintifik, di SMP tematik terpadu pada IPA dan IPS, dan
mapel, di SMA mapel, di SMK vokasional.
14

Adanya keseimbangan soft skills dan hard skills tersebut dapat terlihat pada
gambar di bawah ini.

Gambar 1.3 Keseimbangan antara Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan


untuk Membangun Soft Skills dan Hard Skills
Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa salah satu karakteristik
Kurikulum 2013 adanya keseimbangan antara sikap, pengetahuan, dan
keterampilan untuk membangun soft skills dan hard skills peserta didik dari
mulai jenjang SD, SMP, SMA/ SMK, dan PT seperti yang diungkapkan Marzano
(1985) dan Bruner (1960). Pada jenjang SD ranah attitude harus lebih banyak
atau lebih dominan dikenalkan, diajarkan dan atau dicontohkan pada anak,
kemudian diikuti ranah skill, dan ranah knowledge lebih sedikit diajarkan pada
anak. Hal ini berbanding terbalik dengan membangun soft skills dan hard skills
pada jenjang PT. Di PT ranah knowledge lebih dominan diajarkan dibandingkan
ranah skills dan attitude.

Gambar 1.4 Rumusan Proses dalam Kurikulum 2013


Berdasarkan gambar 4, terdapat perluasan dan pendalaman taksonomi dalam
proses pencapaian kompetensi. Dalam kurikulum 2013 untuk jenjang SD, SMP,
SMA, dan PT memadukan lintasan taksonomi sikap (attitude) dari Krathwohl,

15

keterampilan (skill) dari Dyers, dan Pengetahuan (knowledge) dari Bloom dengan
revisi oleh Anderson.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa kreativitas dapat dipelajari dan dapat
diterapkan di mana saja, sehingga pendidikan harus diarahkan pada penguatan
keterampilan kreatif. Terdapat beberapa perkembangan pemahaman tentang
kreativitas. Pemahaman lama terhadap istilah kreatif hanya berlaku untuk dunia
seni, kini berkembang untuk bidang yang lain termasuk pendidikan. Menurut
Dyers, 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan,
1/3 sisanya berasal dari genetik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kreativitas
terbentuk bukan hanya karena bakat namun dapat dipelajari.
Terdapat beberapa hukum dalam kreativitas, yakni (1) kreativitas itu menular
(Einstein Law), (2) kretivitas itu benda gas (Nathan Law), (3) kreativitas hanya
dibatasi oleh ambisi dan imajinasi, (4) berlaku hukum universal pengetahuan
(Wiener). Pada kreativitas juga tidak berlaku hukum kekekalan massa, tidak
berlaku hukum kekekalan energi, tidak berlaku hukum beda potensial. Hukum
tersebut menjelaskan bahwa kreativitas merupakan sesuatu aktivitas yang bisa
dipelajari bersama. Kegiatan yang dilakukan secara kolaboratif akan menularkan
kreativitas dalam kelompoknya. Pada pelaksanaan pembelajaran guru juga perlu
menyediakan ruang pada anak untuk mengembangkan kreativitasnya seluas
mungkin karena kreativitas memiliki hukum layaknya gas yang menempati
ruangnya. Untuk itu aktivitas pembelajaran hendaknya dirancang agar peserta
didik bisa bebas mengeksplorasi ide-ide dan kemampuannya dalam mengerjakan
tugas. Tampunglah semua ide-ide tersebut, kemudian diskusikan bersama untuk
menetapkan ide mana yang bisa diwujudkan. Dengan demikian peserta didik
akan terbiasa untuk menggali potensi dan kreativitasnya dalam proses belajar.

Gambar 1.5 Ruang Lingkup Keterpaduan dan Prosesnya


Berdasarkan gambar 5 menjelaskan ruang lingkup keterpaduan dan prosesnya
yang mencakup: a) keterpaduan dalam mapel (integrasi vertikal) bersifat
intradisipliner, b) keterpaduan antarmapel (integrasi horizontal) yang bersifat
multidisipliner dan interdisipliner, dan c) keterpaduan luar mapel (transdisipliner)
yang bersifat berbasis konteks melalui observasi.
16

Langkah penguatan terjadi pada proses pembelajaran dan proses penilaian.


Penguatan pada proses pembelajaran karakteristik penguatannya mencakup: a)
menggunakan pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya, mencoba,
menalar, dan mengkomunikasikan dengan tetap memperhatikan karakteristik
siswa, b) menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran
untuk semua mata pelajaran, c) menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan
diberitahu (discovery learning), dan d) menekankan kemampuan berbahasa
sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan dan berpikir logis, sistematis,
dan kreatif. Penguatan pada penilaian pembelajaran karakteristik penguatannya
mencakup: a) mengukur tingkat berpikir mulai dari rendah sampai tinggi, b)
menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran mendalam (bukan
sekedar hafalan), c) mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa,
dan d) menggunakan portofolio pembelajaran siswa.
Critical point implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat dari: a) perancangan
RPP, b) pelaksanaan pembelajaran sesuai RPP, c) supervisi pendampingan, dan
d) budaya mutu sekolah.
a. Perancangan RPP mencakup: Kompetensi Dasar, indikator, dan tujuan
pembelajaran, mengalir secara logis ke materi ajar, rancangan proses dan
aktivitas belajar, sumber dan media, output/produk siswa, dan penilaian.
b. Pelaksanaan pembelajaran sesuai RPP mencakup: instrumen pengendalian,
dan indeks kesesuaian RPP dengan pelaksanaan.
c. Supervisi pendampingan mencakup: pedoman pelaksanaan supervisi,
pelaksanaan, eksekusi rekomendasi supervisi, dan sistem pelaporan perbaikan
pasca supervisi.
d. Budaya mutu sekolah mencakup: standar mutu, kepemimpinan, atmosfir
sekolah, ketaatan terhadap standar, dan proses pembudayaan (penguatan
dan penghargaan).

17

HO-1.2

1.2 SKL, KI, KD DAN STRATEGI IMPLEMENTASI


KURIKULUM 2013
A. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)
Standar Kompetensi Lulusan merupakan salah satu dari 8 (delapan) Standar
Nasional Pendidikan sebagaimana yang ditetapkan dalam Pasal 35 Ayat (1)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang akan menjadi acuan bagi
pengembangan kurikulum dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.
1. Cakupan Kompetensi Lulusan
Penetapan pendekatan kompetensi lulusan didahului dengan mengidentifikasi apa
yang hendak dibentuk, dibangun, dan diberdayakan dalam diri peserta didik
sebagai jaminan yang akan mereka capai setelah menyelesaikan pendidikannya
pada satuan pendidikan tertentu. Pendekatan kompetensi lulusan menekankan
pada kemampuan holistik yang harus dimiliki setiap peserta didik. Hal itu akan
membawa implikasi terhadap apa yang seharusnya dipelajari oleh setiap individu
peserta didik, bagaimana cara mengajarkan, dan kapan diajarkannya. Cakupan
kompetensi lulusan satuan pendidikan berdasarkan elemen-elemen yang harus
dicapai dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 1.2Kompetensi Lulusan Berdasarkan Elemen-Elemen yang Harus Dicapai
DOMAIN

Elemen

KETERAMPILAN

SMP

SMA-SMK

Proses

Menerima + Menjalankan + Menghargai +


Menghayati + Mengamalkan

Individu

beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung


jawab, peduli, santun), rasa ingin tahu, estetika,
percaya diri, motivasi internal

Sosial

toleransi, gotong royong, kerjasama, dan


musyawarah

Alam

pola hidup sehat, ramah lingkungan, patriotik, dan


cinta perdamaian

Proses

Mengetahui + Memahami + Menerapkan +


Menganalisis + Mengevaluasi

Objek

ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya

Subyek

manusia, bangsa, negara, tanah air, dan dunia

Proses

Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah +


Menyaji + Menalar + Mencipta

Abstrak

membaca, menulis, menghitung, menggambar,


mengarang

Konkret

menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi,


membuat, mencipta

SIKAP

PENGETAHUAN

SD

18

Cakupan kompetensi lulusan satuan pendidikan secara holistik dapat dilihat


dalam tabel di bawah ini.
Tabel 1.3 Kompetensi Lulusan secara Holistik
DOMAIN

SD

SMP

SMA-SMK

Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati


+ Mengamalkan
SIKAP

pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri,


dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial, alam sekitar, serta
dunia dan peradabannya
Mengetahui + Memahami + Menerapkan +
Menganalisis + Mengevaluasi

PENGETAHUAN

KETERAMPILAN

pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi,


seni, budaya dan berwawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah +
Menyaji + Menalar + Mencipta
pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang
efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret

Dari tabel di atas, cakupan kompetensi lulusan secara holistik dirumuskan


sebagai berikut:
a. Kemampuan Lulusan dalam Dimensi Sikap
Manusia yang memiliki pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri,
dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial, alam sekitar, serta dunia dan peradabannya.
Pencapaian pribadi tersebut dilakukan melalui proses: menerima,
menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.
b. Kemampuan Lulusan dalam Dimensi Pengetahuan
Manusia yang memiliki pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya dan berwawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban
Pencapaian pribadi tersebut dilakukan melalui proses: mengetahui,
memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.
c. Kemampuan Lulusan dalam Dimensi Keterampilan
Manusia yang memiliki pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang
efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret.
Pencapaian pribadi tersebut dilakukan melalui proses: mengamati;
menanya; mencoba dan mengolah; menalar; mencipta; menyajikan
dan mengkomunikasikan
Perumusan kompetensi lulusan antar satuan pendidikan mempertimbangkan
gradasi setiap tingkatan satuan pendidikan dan memperhatikan kriteria sebagai
berikut:
a.
perkembangan psikologis anak,
b.
lingkup dan kedalaman materi,
c.
kesinambungan, dan
d.
fungsi satuan pendidikan.

19

2. Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan


Kompetensi lulusan satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A
Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A adalah manusia yang memiliki sikap, pengetahuan,
dan keterampilan berikut ini.
Tabel 1.4 Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/PAKET A
DIMENSI
KOMPETENSI LULUSAN
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang
beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung
SIKAP
jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam di sekitar rumah, sekolah,
dan tempat bermain.
Memiliki pengetahuan faktual dan konseptual dalam
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan
PENGETAHUAN
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan
rumah, sekolah, dan tempat bermain.
Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan
KETERAMPILAN
kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan
yang ditugaskan kepadanya.
B. KOMPETENSI INTI
Kompetensi inti dirancang seiring dengan meningkatnya usia peserta didik pada
kelas tertentu. Melalui kompetensi inti, integrasi vertikal berbagai kompetensi dasar
pada kelas yang berbeda dapat dijaga.
Rumusan Kompetensi inti menggunakan notasi berikut ini.
1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual.
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial.
3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
Uraian tentang Kompetensi Inti untuk jenjang Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
Kelas V adalah sebagai berikut.
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya serta cinta tanah air.
3. Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,
menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk
ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di
rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas,
sistematis, logis, dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku
anak beriman dan berakhlak mulia.

C. KOMPETENSI DASAR
Kompetensi dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Rumusan
Kompetensi Dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta
20

didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar
dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti
sebagai berikut:
1. Kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka
menjabarkan KI-1;
2. Kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka
menjabarkan KI-2;
3. Kelompok 3: kelompok kompetensi dasasr pengetahuan dalam rangka
menjabarkan KI-3;
4. Kelompok 4: kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.
Penjabaran lengkap mengenai kompetensi dasar per jenjang kelas dan per mata
pelajaran dapat dilihat dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
D. STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
1

Pengembangan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan


Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan atas prinsip berikut ini.
a. Sekolah adalah satu kesatuan lembaga pendidikan dan kurikulum adalah
kurikulum satuan pendidikan, bukan daftar mata pelajaran.
b. Guru di satu satuan pendidikan adalah satu satuan pendidik (community
of educators), mengembangkan kurikulum secara bersama-sama.
c. Pengembangan kurikulum di jenjang satuan pendidikan langsung dipimpin
kepala sekolah.
d. Pelaksanaan implementasi kurikulum di satuan pendidikan dievaluasi oleh
kepala sekolah.

Manajemen Implementasi
a. Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan
pemerintah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota.
b. Pemerintah bertanggung jawab dalam mempersiapkan guru dan kepala
sekolah untuk melaksanakan kurikulum.
c. Pemerintah bertanggung jawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan
kurikulum secara nasional.
d. Pemerintah provinsi bertanggung jawab dalam melakukan supervisi dan
evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.
e. Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab dalam memberikan
bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan
kurikulum di kabupaten/kota terkait.

Evaluasi Kurikulum
Evaluasi Kurikulum dilaksanakan selama masa pengembangan ide
(deliberation process), pengembangan desain dan dokumen kurikulum, dan
selama masa implementasi kurikulum. Evaluasi dalam deliberation process
menghasilkan penyempurnaan dalam Kompetensi Inti yang dijadikan
organising element dalam mengikat Kompetensi dasar mata pelajaran.
Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut.
a.
Sampai tahun pelajaran 2015-2016: untuk memperbaiki
berbagai kesulitan pelaksanaan kurikulum.

21

b.

Sampai tahun pelajaran 2016 secara menyeluruh untuk


menentukan
efektivitas,
kelayakan,
kekuatan,
dan
kelemahan
implementasi kurikulum.

Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum (implementasi kurikulum)


diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah pelaksanaan
kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah
tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan
pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin.

22

HO: 1.3

1.2 PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU, PENDEKATAN


SAINTIFIK,
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN, DAN PENILAIAN
AUTENTIK
A. PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU
Pembelajaran tematik terpadu (PTP) atau integrated thematic instruction (ITI)
dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1970-an. Belakangan PTP diyakini
sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif (highly effective teaching
model) karena mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi,
fisik, dan akademik peserta didik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. PTP
pada awalnya dikembangkan untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted
and talented), anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta
didik yang belajar cepat. PTP ini pun sudah terbukti secara empirik berhasil
memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik
(enhance learning and increase long-term memory capabilities of learners) untuk
waktu yang panjang.
Premis utama PTP adalah bahwa peserta didik memerlukan peluang-peluang
tambahan
(additional
opportunities)
untuk
menggunakan
talentanya,
menyediakan waktu bersama yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi
dan mensintesis. Pada sisi lain, PTP relevan untuk mengakomodasi perbedaanperbedaan kualitatif lingkungan belajar. PTP diharapkan mampu menginspirasi
peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar.
PTP memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively different) dengan model
pembelajaran lain. PTP sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan
berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking) atau keterampilan berpikir
dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses
inovatif bagi pengembangnan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Implemementasi PTP menuntut kemampuan guru dalam mentransformasikan
materi pembelajaran di kelas. Karena itu, guru harus memahami materi apa
yang diajarkan dan bagaimana mengaplikasikannya dalam lingkungan belajar di
kelas. Oleh karena PTP ini bersifat ramah otak, guru harus mampu
mengidentifikasi elemen-elemen lingkungan yang mungkin relevan dan dapat
dioptimasi ketika berinteraksi dengan peserta didik selama proses pembelajaran.
Ada sepuluh elemen yang terkait dengan hal ini dan perlu ditingkatkan oleh
guru.
1.
Mereduksi tingkat kealpaan atau bernilai tambah berpikir reflektif.
2.
Memberkaya sensori pengalaman di bidang sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
3.
Menyajikan isi atau substansi pembelajaran yang bermakna.
4.
Lingkungan yang memperkaya pembelajaran.
5.
Bergerak memacu pembelajaran (Movement to Enhance Learning).
6.
Membuka pilihan-pilihan.
7.
Optimasi waktu secara tepat.
8.
Kolaborasi.
23

9.
10.

Umpan balik segera.


Ketuntasan atau aplikasi.

1. Fungsi dan Tujuan


Pembelajaran tematik terpadu berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi
peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang
tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat belajar karena
materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan
bermakna bagi peserta didik.
Tujuan pembelajaran tematik terpadu adalah:
a.
mudah memusatkan perhatian pada satu
tema atau topik tertentu;
b.
mempelajari
pengetahuan
dan
mengembangkan berbagai kompetensi muatan pelajaran dalam tema
yang sama;
c.
memiliki
pemahaman
terhadap
materi
pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
d.
mengembangkan
kompetensi
berbahasa
lebih baik dengan mengkaitkan berbagai muatan pelajaran lain dengan
pengalaman pribadi peserta didik;
e.
lebih bergairah belajar karena mereka dapat
berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti bercerita, bertanya, menulis
sekaligus mempelajari pelajaran yang lain;
f.
lebih merasakan manfaat dan makna belajar
karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas;
g.
guru dapat menghemat waktu, karena mata
pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan
diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan bahkan lebih dan atau pengayaan;
dan
h.
budi pekerti dan moral peserta didik dapat
ditumbuh kembangkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti
sesuai dengan situasi dan kondisi.
2. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik Terpadu
a. Berpusat pada anak.
b. Memberikan pengalaman langsung pada anak.
c. Pemisahan antar muatan pelajaran tidak begitu jelas (menyatu dalam
satu pemahaman dalam kegiatan).
d. Menyajikan konsep dari berbagai pelajaran dalam satu proses
pembelajaran (saling terkait antar muatan pelajaran yang satu dengan
lainnya).
e. Bersifat luwes (keterpaduan berbagai muatan pelajaran).
f.

Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat


kebutuhan anak (melalui penilaian proses dan hasil belajarnya).

dan

3. Kekuatan Tema dalam Proses Pembelajaran


Anak pada usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret, mulai
menunjukkan perilaku yang mulai memandang dunia secara objektif,
bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan
memandang unsur-unsur secara serentak, mulai berpikir secara operasional,
mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan bendabenda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan,
24

prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat. Oleh


karena itu, pembelajaran yang tepat adalah dengan mengaitkan konsep
materi pelajaran dalam satu kesatuan yang berpusat pada tema adalah yang
paling sesuai.
Kegiatan pembelajaran akan bermakna jika dilakukan dalam lingkungan yang
nyaman dan memberikan rasa aman, bersifat individual dan kontekstual,
anak mengalami langsung yang dipelajarinya, hal ini akan diperoleh melalui
pembelajaran tematik. Pembelajaran yang menggunakan tema untuk
mengaitkan beberapa mata pelajaran dapat
memberikan pengalaman
bermakna kepada peserta didik.
4. Peran Tema dalam Proses Pembelajaran
Tema berperan sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran dengan
memadukan beberapa muatan pelajaran sekaligus. Adapun muatan pelajaran
yang dipadukan adalah muatan pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, IPS, IPA,
Matematika, Seni Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan Jasmani, Olah Raga
dan Kesehatan.
Dalam Kurikulum 2013, tema sudah disiapkan oleh
pemerintah dan sudah dikembangkan menjadi subtema dan satuan
pembelajaran.
Di dalam Struktur Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah
disebutkan bahwa untuk peserta didik kelas I sampai dengan kelas VI
penyajian pembelajarannya menggunakan pendekatan tematik terpadu.
Penyajian pembelajaran untuk kelas V memiliki alokasi waktu kumulatif 36 JP
per minggu.
Namun demikian penjadwalan tidak terbagi secara kaku
melainkan diatur secara luwes.
5. Tahapan Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran Tematik Terpadu melalui beberapa tahapan yaitu pertama
guru harus mengacu pada tema sebagai pemersatu berbagai muatan
pelajaran untuk satu tahun. Kedua guru melakukan analisis Standar
Kompetensi Lulusan, Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan membuat
indikator dengan tetap memperhatikan muatan materi dari Standar Isi. Ketiga
membuat hubungan pemetaan antara kompetensi dasar dan indikator
dengan tema. Keempat membuat jaringan KD, indikator. Kelima menyusun
silabus tematik dan keenam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
tematik terpadu dengan menerapkan pendekatan saintifik.
Untuk lebih jelasnya akan dibahas di bawah ini.
a. Memilih/Menetapkan Tema
Di bawah ini adalah tema-tema yang telah disiapkan untuk peserta didik
Sekolah Dasar kelas I dan IV serta kelas II dan V pada Kurikulum 2013.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tabel 1.5 Tema-Tema di Sekolah Dasar


KELAS I
KELAS IV
Diriku
1.
Indahnya
Kegemaranku
Kebersamaan
Kegiatanku
2.
Selalu
Keluargaku
Berhemat Energi
Pengalamanku
3.
Peduli
Lingkungan
terhadap Makhluk Hidup
Bersih, Sehat, dan Asri
4.
Berbagai
Benda, Hewan
Pekerjaan
dan Tanaman di Sekitar
5.
Pahlawanku
25

8.

Peristiwa alam

6.

Indahnya
Negeriku

7.
8.

Cita-citaku
Tempat
Tinggalku

9.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Makananku
Sehat dan Bergizi
KELAS II
KELAS V
Hidup Rukun
1.
Benda-benda di Lingkungan S
Bermain di Lingkunganku
2.
Peristiwa dalam Kehidupan
Tugasku Sehari-hari3.
Kerukunan dalam Bermasyarakat
Aku dan Sekolahku 4.
Sehat itu Penting
Hidup Bersih dan Sehat
5.
Bangga sebagai Bangsa Indones
Air, Bumi, dan Matahari
6.
Organ Tubuh Manusia dan He
Merawat Hewan dan7.Tumbuhan
Sejarah Peradaban Indonesia
Keselamatan di Rumah
8. dan Perjalanan
Ekosistem
9.
Akrab dengan Lingkungan

b. Melakukan Analisis SKL, KI, Kompetensi Dasar dan Membuat Indikator


Analisis Kurikulum (SKL, KI dan KD serta membuat indikator) dilakukan
dengan cara membaca semua Standar Kompetensi Lulusan, Kompetensi
Inti, serta Kompetensi Dasar dari semua muatan pelajaran. Setelah
memiliki sejumlah tema untuk satu tahun, barulah dapat dilanjutkan
dengan menganalisis Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti
serta Kompetensi Dasar (SKL, KI dan KD) yang ada dari berbagai muatan
pelajaran (PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, SBdP, dan
Penjasorkes). Masing-masing Kompetensi Dasar setiap muatan pelajaran
dibuatkan indikatornya dengan mengikuti kriteria pembuatan indikator.

c. Membuat Hubungan Pemetaan antara Kompetensi Dasar dan Indikator


dengan Tema
Kompetensi Dasar dari semua muatan pelajaran telah disediakan dalam
Kurikulum 2013. Demikian juga sejumlah tema untuk proses pembelajaran
selama satu tahun untuk Kelas I sampai dengan Kelas VI telah disediakan.
Namun demikian guru masih perlu membuat indikator dan melakukan
pemetaan Kompetensi Dasar dan indikator tersebut berdasarkan tema
yang tersedia. Hasil pemetaan dimasukkan ke dalam format pemetaan
agar lebih mudah proses penyajian pembelajaran. Indikator mana saja
yang dapat disajikan secara terpadu diberikan tanda cek ().
d. Membuat Jaringan Kompetensi Dasar
Kegiatan berikutnya adalah membuat Jaringan KD dan indikator dengan
cara menurunkan hasil cek dari pemetaan ke dalam format Jaringan KD
dan indikator.
e. Menyusun Silabus Tematik Terpadu
Setelah dibuat Jaringan KD dan Indikator, langkah selanjutnya adalah
menyusun silabus tematik untuk lebih memudahkan guru melihat seluruh
desain pembelajaran untuk setiap tema sampai tuntas tersajikan di dalam
proses pembelajaran. Silabus tematik memberikan gambaran secara
menyeluruh tema yang telah dipilih akan disajikan berapa minggu dan
kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam penyajian tema tersebut.
26

Silabus tematik terpadu memuat komponen sebagaimana panduan dari


Standar Proses yang meliputi 1) Kompetensi Dasar mana saja yang sudah
terpilih (dari Jaringan KD), 2) Indikator (dibuat oleh guru, juga diturunkan
dari Jaringan) 3) Kegiatan Pembelajaran yang memuat perencanaan
penyajian untuk berapa minggu tema tersebut akan dibelajarkan, 4)
Penilaian proses dan hasil belajar (diwajibkan memuat penilaian dari aspek
sikap, keterampilan dan pegetahuan) selama
proses pembelajaran
berlangsung 5) Alokasi waktu ditulis secara utuh kumulatif satu minggu
berapa jam pertemuan (misalnya 36 JP x 35 menit) x 4 minggu; 6) Sumber
dan Media.
f.

Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu


Langkah terakhir dari sebuah perencanaan adalah dengan menyusun
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu. Dalam RPP Tematik
Terpadu ini diharapkan dapat tergambar proses penyajian secara utuh
dengan memuat berbagai konsep mata pelajaran yang disatukan dalam
tema. Di dalam RPP Tematik Terpadu ini peserta didik diajak belajar
memahami konsep kehidupan secara utuh. Penulisan identitas tidak
mengemukakan mata pelajaran, melainkan langsung ditulis tema apa yang
akan dibelajarkan. (Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada submateri
pelatihan 4.2 Penyusunan RPP)

B. PENDEKATAN SAINTIFIK
1. Esensi Pendekatan Saintifik/ Pendekatan Ilmiah
Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah, karena itu
Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan saintifik dalam
pembelajaran. Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan
dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam
pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih
mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) dibandingkan dengan
penalaran deduktif (deductive reasoning).
Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan
yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi
spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya,
penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi ide yang
lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian
spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah
merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau
gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan
pengetahuan sebelumnya.
Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus
berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur
dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Metode ilmiah pada umumnya
memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi, eksperimen,
mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan
menguji hipotesis.
2. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah
Menurut Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 lampiran
pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu:

IV,

proses
27

a.
b.
c.
d.

mengamati;
menanya;
mengumpulkan informasi/eksperimen;
mengasosiasikan/mengolah informasi; dan

e. mengkomunikasikan.
Kelima pembelajaran pokok tersebut dapat dirinci dalam berbagai kegiatan
belajar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 1.6 Keterkaitan antara Langkah Pembelajaran dengan Kegiatan Belajar dan
Maknanya
Langkah
Pembelajaran
Mengamati
Menanya

Kegiatan Belajar
Membaca, mendengar, menyimak,
melihat (tanpa atau dengan alat)
Mengajukan pertanyaan tentang
informasi yang tidak dipahami dari
apa yang diamati atau pertanyaan
untuk mendapatkan informasi
tambahan tentang apa yang diamati
(dimulai dari pertanyaan faktual
sampai ke pertanyaan yang bersifat
hipotetik)

Mengumpulkan
informasi/
eksperimen

- melakukan eksperimen
- membaca sumber lain selain buku
teks
- mengamati objek/ kejadian/
- aktivitas
- wawancara dengan narasumber

Mengasosiasika
n/
mengolah
informasi

- mengolah informasi yang sudah


dikumpulkan baik terbatas dari
hasil kegiatan
mengumpulkan/eksperimen mau
pun hasil dari kegiatan mengamati
dan kegiatan mengumpulkan
informasi.
- Pengolahan informasi yang
dikumpulkan dari yang bersifat
menambah keluasan dan
kedalaman sampai kepada
pengolahan informasi yang
bersifat mencari solusi dari

Kompetensi yang
Dikembangkan
Melatih kesungguhan,
ketelitian, mencari
informasi
Mengembangkan
kreativitas, rasa ingin
tahu, kemampuan
merumuskan
pertanyaan untuk
membentuk pikiran
kritis yang perlu
untuk hidup cerdas dan
belajar sepanjang
hayat
Mengembangkan sikap
teliti, jujur,sopan,
menghargai pendapat
orang lain, kemampuan
berkomunikasi,
menerapkan
kemampuan
mengumpulkan
informasi melalui
berbagai cara yang
dipelajari,
mengembangkan
kebiasaan belajar dan
belajar sepanjang
hayat.
Mengembangkan sikap
jujur, teliti, disiplin, taat
aturan, kerja keras,
kemampuan
menerapkan prosedur
dan kemampuan
berpikir induktif serta
deduktif dalam
menyimpulkan .

28

Langkah
Pembelajaran

Mengkomunikasi
kan

Kegiatan Belajar
berbagai sumber yang memiliki
pendapat yang berbeda sampai
kepada yang bertentangan.
Menyampaikan hasil pengamatan,
kesimpulan berdasarkan hasil
analisis secara lisan, tertulis, atau
media lainnya

Kompetensi yang
Dikembangkan

Mengembangkan sikap
jujur, teliti, toleransi,
kemampuan berpikir
sistematis,
mengungkapkan
pendapat dengan
singkat dan jelas, dan
mengembangkan
kemampuan berbahasa
yang baik dan benar.

29

C. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
1.

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based


Learning)

a. Konsep/Definisi
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah model
pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta
didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi
untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model belajar yang menggunakan
masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara
nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada
permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan
insvestigasi dan memahaminya.
Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan
penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah
proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam
kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik
dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam
sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBLmerupakan investigasi mendalam
tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan
usaha peserta didik.
Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang
berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan
kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan
menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan
eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan
investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan
berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik berikut ini.
1) Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja.
2) Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta
didik.
3) peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas
permasalahan atau tantangan yang diajukan.
4) Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan
mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan.
5) Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu.
6) Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah
dijalankan.
7) Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif.
8) Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Peran guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai
fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang
optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari siswa.
Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran Berbasis
Proyek antara lain berikut ini.
1) Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu yang harus
disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek.
30

2) Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena


menambah biaya untuk memasuki sistem baru.
3) Banyak guru merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana guru
memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yang sulit,
terutama bagi guru yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
4) Banyaknya peralatan yang harus disediakan, sehingga kebutuhan listrik
bertambah.
Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses
pembelajaran, dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak
monoton, beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas, seperti:
traditional class (teori), discussion group (pembuatan konsep dan pembagian
tugas kelompok), lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri), circle
(presentasi). Atau buatlah suasana belajar bebas dan menyenangkan.
b. Fakta Empirik Keberhasilan
Kelebihan dan kekurangan pada penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat
dijelaskan berikut ini.
Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek
1) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar dan mendorong
kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting.
2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
3) Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan
problem-problem yang kompleks.
4) Meningkatkan kolaborasi.
5) Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan
keterampilan berkomunikasi.
6) Meningkatkan keterampilan peserta didikdalam mengelola sumber.
7) Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik
dalam mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu dan sumbersumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
8) Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara
kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
9) Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan
menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan
dengan dunia nyata.
10)
Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik
maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek
1) Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
2) Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
3) Banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas tradisional di mana guru
memegang peran utama di kelas.
4) Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
5) Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan
informasi akan mengalami kesulitan.
6) Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
7) Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda,
dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan
Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di atas seorang
pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam
menghadapi masalah, membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan
31

proyek, meminimalisir dan menyediakan peralatan yang sederhana yang


terdapat di lingkungan sekitar, memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau
sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya, menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa
nyaman dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk mengembangkan
keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. Menurut studi penelitian,
Pembelajaran Berbasis Proyek membantu siswa untuk meningkatkan
keterampilan sosial mereka, sering menyebabkan absensi berkurang dan lebih
sedikit masalah disiplin di kelas. Siswa juga menjadi lebih percaya diri berbicara
dengan kelompok orang, termasuk orang dewasa.
Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk belajar. Ketika
anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang mereka pelajari, mereka
sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam subjek dan kemudian
memperluas minat mereka untuk mata pelajaran lainnya.
c. Langkah-langkah Operasional
Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran
dijelaskan dengan diagram sebagai berikut.
1
PENENTUAN
PERTANYAAN
MENDASAR

2
MENDESAIN
PERECANAAN
PROYEK

6
MENGEVALUASI
PENGALAMAN

5
MENILAI HASIL

Berbasis

Proyek

dapat

3
MENYUSUN
JADWAL

4
MEMONITOR
PESERTA DIDIK DAN
KEMAJUAN PROYEK

Diagram 1.1 Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek


Penjelasan
berikut.

Langkah-langkah

Pembelajaran

Berbasis

Proyek

sebagai

1) Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)


Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan
yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu
aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata
dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Guru berusaha
agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
2) Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta
didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa
memiliki atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan
main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab
pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek
32

yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses
untuk membantu penyelesaian proyek.
3) Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas
dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1)
membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat
deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar
merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika
mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan
(5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang
pemilihan suatu cara.
4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students
and the Progress of the Project)
Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas
peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan
dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan
kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik.
Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang
dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
5) Menilai Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur
ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan
masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat
pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam
menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6) Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik
melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah
dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun
kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan
perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru
dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki
kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya
ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab
permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.
d. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek
Penilaian pembelajaran dengan model Pembelajaran Berbasis Proyek harus
diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis proyek.
Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menggunakan teknik penilaian
yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan yaitu penilaian proyek atau penilaian produk. Penilaian tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Penilaian Proyek
a) Pengertian
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang
harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa
suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat
33

digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan,


kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta
didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.
Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan
yaitu:
(1) Kemampuan pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan
mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
(2) Relevansi
Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap
pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
(3) Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya,
dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan
dukungan terhadap proyek peserta didik.
b) Teknik Penilaian Proyek
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan,
sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau
tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data,
analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil
penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan
penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek
ataupun skala penilaian.
Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan
sampai dengan akhir proyek. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau
tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat juga
menggunakan rating scale dan checklist.
2) Penilaian Produk
a) Pengertian
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan
kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan
peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti:
makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barangbarang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam.
Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu
diadakan penilaian yaitu:
(1) Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan
merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan
mendesain produk.
(2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan
peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan
teknik.
(3) Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang
dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
b) Teknik Penilaian Produk
Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.
(1) Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk,
biasanya dilakukan pada tahap appraisal.
34

(2) Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya


dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap
proses pengembangan.

2.

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based


Learning)

a. Konsep/Definisi
1) Pembelajaran
berbasis
masalah
merupakan
sebuah
pendekatan
pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang
peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran
berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan
masalah dunia nyata (real world).
2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang
menantang peserta didik untuk belajar bagaimana belajar, bekerja secara
berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata.
Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian
rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan
masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan
peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.
Berikut ini lima
masalah (PBL).
1) Permasalahan
2) Permasalahan
3) Permasalahan
4) Permasalahan
5) Permasalahan

strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis


sebagai
sebagai
sebagai
sebagai
sebagai

kajian.
penjajakan pemahaman.
contoh.
bagian yang tak terpisahkan dari proses.
stimulus aktivitas autentik.

Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah
dapat digambarkan berikut ini.
Tabel 1.7 Peran Guru, Peserta Didik dan Masalah dalam PBL
Peserta Didik
Masalah sebagai
Guru sebagai Pelatih
sebagai Problem
Awal Tantangan
Solver
dan Motivasi
o Asking about thinking
o Peserta yang
o Menarik untuk
(bertanya tentang
aktif.
dipecahkan.
pemikiran).
o Terlibat langsung o Menyediakan
o Memonitor pembelajaran.
dalam
kebutuhan yang
o Probbing ( menantang
pembelajaran.
ada
o Membangun
hubungannya
peserta didik untuk
dengan
berpikir ).
pembelajaran.
pelajaran yang
o Menjaga agar peserta
dipelajari.
didik terlibat.
o Mengatur dinamika
kelompok.
o Menjaga berlangsungnya
proses.
Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut ini.
1) Kurikulum: PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional karena memerlukan
suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.

35

2) Responsibility: PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta


didik ke diri dan kelompoknya.
3) Realisme: kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa
dengan situasi yang sebenarnya. Aktivitas ini mengintegrasikan tugas
autentik dan menghasilkan sikap profesional.
4) Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan
keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan sehingga
dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri.
5) Umpan Balik: diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik
menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah
pembelajaran berdasarkan pengalaman.
6) Keterampilan Umum: PBL dikembangkan tidak hanya pada keterampilan
pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada
keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok,
dan self-management.
7) Driving Questions: PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang
memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan
konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai.
8) Constructive Investigations: sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan
dengan pengetahuan para peserta didik.
9) Autonomy: proyek menjadikan aktivitas peserta didik sangat penting.
b. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil
Pembelajaran
1) Melalui PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik yang belajar
memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan
yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan.
Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik
berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan.
2) Dalam situasi PBL, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan
keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang
relevan.
3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif
peserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
c. Tahap-tahap Model PBL
Tabel 1.8 Tahapan-Tahapan Model PBL
FASE-FASE
PERILAKU GURU
Fase 1
Menjelaskan tujuan pembelajaran,
Mengorientasikan siswa
menjelaskan logistik yg dibutuhkan.
pada masalah
Memotivasi siswa untuk terlibat aktif
dalam pemecahan masalah yang
dipilih.
Fase 2
Membantu siswa mendefinisikan dan
Mengorganisasikan siswa
mengorganisasikan tugas belajar yang
untuk mendefinisikan
berhubungan dengan masalah
masalah
tersebut.
Fase 3
Mendorong siswa untuk
Membimbing penyelidikan
mengumpulkan informasi yang sesuai,
mandiri dan kelompok
melaksanakan eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah.
36

FASE-FASE
Fase 4
Mengembangkan dan
menyajikan artefak (hasil
karya) dan
memamerkannya
Fase 5
Menganalisis dan
mengevaluasi proses
pemecahan masalah.

PERILAKU GURU
Membantu siswa dalam merencanakan
dan menyiapkan karya yang sesuai
seperti laporan, model dan berbagi
tugas dengan teman.
Mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari /meminta
kelompok presentasi hasil kerja.

Fase 1: Mengorientasikan Siswa pada Masalah


Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitasaktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat
penting di mana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan
oleh siswa. serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses
pembelajaran. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini, yaitu
sebagai berikut.
1)

Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar


informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalahmasalah penting dan bagaimana menjadi siswa yang mandiri.
2)
Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban
mutlak benar, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai
banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan.
3)
Selama tahap penyelidikan, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan
dan mencari informasi.
4)

Selama tahap analisis dan penjelasan, siswa akan didorong untuk


menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan.

Fase 2: Mengorganisasikan Siswa untuk Mendefinisikan Masalah


Di samping mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran
PBL juga mendorong siswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah
sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu,
guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompokkelompok siswa di mana masing-masing kelompok akan memilih dan
memecahkan masalah yang berbeda.
Fase 3: Membimbing Penyelidikan Mandiri dan Kelompok
Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan
memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu
melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen,
berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data
dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru
harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan
eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami
dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar peserta didik
mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka
sendiri.
Fase 4: Mengembangkan dan Menyajikan Artefak (Hasil Karya) dan
Memamerkannya
37

Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artefak (hasil karya) dan


pameran. Artefak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu video
tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model
(perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program
komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artefak sangat
dipengaruhi tingkat berpikir siswa. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan
hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik
jika dalam pemeran ini melibatkan siswa lainnya, guru-guru, orang tua, dan
lainnya yang dapat menjadi penilai atau memberikan umpan balik.
Fase 5: Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah
Fase ini dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi
proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang
mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta siswa untuk merekonstruksi
pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.
d. Penilaian Pembelajaran Berbasis Masalah
Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment.
Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang
sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat
kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian
tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara
evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.
1) Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri
terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada
tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh peserta didik itu sendiri dalam
belajar.
2) Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan
penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah
dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya.
Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain berikut ini.
1) Penilaian kinerja peserta didik.
Pada penilaian kinerja ini, peserta didik diminta untuk unjuk kerja atau
mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu, seperti
menulis karangan, melakukan suatu eksperimen, menginterpretasikan
jawaban pada suatu masalah, memainkan suatu lagu, atau melukis suatu
gambar.
2) Penilaian portofolio peserta didik.
Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada
kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta
didik dalam suatu periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik
dapat berupa hasil karya terbaik peserta didik selama proses belajar,
pekerjaan hasil tes, piagam penghargaan, atau bentuk informasi lain yang
terkait kompetensi tertentu dalam suatu mata pelajaran.
3) Penilaian potensi belajar
Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta didik yaitu
mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan bantuan guru atau
teman-temannya yang lebih maju. PBL yang memberi tugas-tugas
pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan
dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.
4) Penilaian usaha kelompok
38

Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran kooperatif


dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok mengurangi kompetisi
merugikan yang sering terjadi, misalnya membandingkan peserta didik
dengan temannya. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model
pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan
oleh peserta didik sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil
pekerjaan secara bersama-sama.
Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta didik
tersebut, penilaian ini antara lain: 1) assesmen kerja, 2) assesmen autentik dan
3) portofolio. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana
peserta didik merencanakan pemecahan masalah, melihat bagaimana peserta
didik menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya.
Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat
mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam
kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan
konteks atau lingkungannya maka di samping pengembangan kurikulum juga
perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang
memungkinkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka
berpikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana
belajar (learning how to learn).
Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta didik akan
mudah beradaptasi. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran
tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan
peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan
secara pribadi pengetahuan bermakna.
Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal: 1) bagaimana peserta didik dan
evaluator menilai produk (hasil akhir) proses; 2) bagaimana mereka menerapkan
tahapan PBM untuk bekerja melalui masalah; 3) bagaimana peserta didik akan
menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan akan masalah atau sebagai
bentuk pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian
atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya
secara lisan atau verbal, laporan tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian
formal lainnya. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan masalah
oleh peserta didik maupun dengan cara melakukan proses belajar kolaborasi
(bekerja bersama pihak lain).
3.

Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery


Learning)

a. Definisi/Konsep
Model Discovery Learning adalah didefinisikan sebagai proses pembelajaran
yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya,
tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner,
bahwa: Discovery Learning can be defined as the learning that takes place
when the student is not presented with subject matter in the final form, but
rather is required to organize it him self (Lefancois dalam Emetembun,
1986:103). Ide dasar Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa
anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.
Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan,
melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan
(Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam
39

penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.


Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi,
penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan
discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and
principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry). Tidak
ada perbedaan yang prinsipil pada kedua istilah ini, pada Discovery Learning
lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya
tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery
masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa
oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga
siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk
mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.
Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa,
dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang
proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap
eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu
lingkungan di mana siswa dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan
baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah
diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar
dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.
Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada
manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa.
Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa
dalam berpikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat
perkembangannya.
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap
yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactive, iconic, dan
symbolic. Tahap enaktive, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam
upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia
sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan,
sentuhan, pegangan, dan sebagainya. Tahap iconic, seseorang memahami
objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk
perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Tahap symbolic,
seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang
sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam
memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika,
matematika, dan sebagainya.
Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Semakin matang
seseorang dalam proses berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya. Secara
sederhana teori perkembangan dalam fase enactive, iconic dan symbolic adalah
anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau
kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat
temannya bermain) ini fase enactive. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan
keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa
untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih, 85:2001).
Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai
pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan
mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman,
40

2005:145). Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang
teacher oriented menjadi student oriented.
Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir,
siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi,
membandingkan,
mengkategorikan,
menganalisis,
mengintegrasikan,
mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan.
b. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil
Pembelajaran
Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan, penerapan pendekatan Discovery
Learning dalam pembelajaran memiliki kelebihan-kelebihan dan kelemahankelemahan.
1) Kelebihan Penerapan Discovery Learning
(a) Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilanketerampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan
kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
(b) Pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan ampuh
karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
(c) Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki
dan berhasil.
(d) Model ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai
dengan kecepatannyasendiri.
(e) Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan
melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
(f) Membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh
kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
(g) Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan
gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan
sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
(h) Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena
mengarah padakebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
(i) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
(j) Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi
proses belajar yang baru.
(k) Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
(l) Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
(m)
Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.
(n) Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
(o) Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada
pembentukan manusia seutuhnya.
(p) Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
(q) Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber
belajar.
(r) Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
2) Kelemahan Penerapan Discovery Learning
(a) Menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa
yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berpikir atau
mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan,
sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
41

(b) Tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena
membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan
teori atau pemecahan masalah lainnya.
(c) Harapan-harapan yang terkandung dalam model ini dapat buyar
berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara
belajar yang lama.
(d) Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman,
sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi
secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
(e) Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur
gagasan yang dikemukakan oleh para siswa
(f) Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berpikir yang akan
ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.
c. Langkah-langkah
Pembelajaran

Operasional

Implementasi

dalam

Proses

Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan Discovery Learning di


kelas,ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar
mengajar secara umum sebagai berikut.
1) Stimulasi/Pemberian Rangsangan (Stimulation)
Pertama-tama pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan tanda tanya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi
generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu
guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran
membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan
pemecahan masalah.
2) Pernyataan/Identifikasi Masalah (Problem Statement)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agendaagenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah
satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara
atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Permasalahan yang dipilih itu
selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis,
yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang
diajukan.
Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis
permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam
membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.
3) Pengumpulan Data (Data Collection)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para
siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada
tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar
tidaknya hipotesis.
Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek,
wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk
menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang
42

dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan


masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
4) Pengolahan Data (Data Processing)
Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya,
semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu
dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan
tertentu (Djamarah, 2002:22). Data processing disebut juga dengan
pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan
pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu
mendapat pembuktian secara logis.
5) Pembuktian (Verification)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan
temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah,
2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman
melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada,
pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian
dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
6) Menarik Kesimpulan/Generalisasi (Generalization)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah
kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua
kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi
(Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsipprinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa
harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya
penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas
yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan
dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.
d. Penilaian pada Model Pembelajaran Discovery Learning
Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan
dengan menggunakan tes maupun nontes, sedangkan penilaian yang digunakan
dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa.
Jika bentuk penilaiannya berupa penilaian kognitif, maka dapat menggunakan
tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap,
atau penilaian hasil kerja siswa dapat menggunakan nontes.
D. PENILAIAN AUTENTIK
1.

Pengertian Penilaian Autentik

Penilaian autentik adalah suatu istilah/terminologi yang diciptakan untuk


menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa
dapat mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas
dan menyelesaikan masalah. Sekaligus, mengekspresikan pengetahuan dan
keterampilannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di
dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah (Hymes, 1991). Dalam hal ini
43

adalah simulasi yang dapat mengekspresikan prestasi (performance) siswa yang


ditemui di dalam praktik dunia nyata.
Dalam American Library Association, penilaian autentik didefinisikan sebagai
proses evaluasi untuk mengukur kinerja, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap
peserta didik pada aktivitas yang relevan dalam pembelajaran. Dalam Newton
Public School, penilaian autentik diartikan sebagai penilaian atas produk dan
kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik.
Wiggins (1993) mendefinisikan penilaian autentik sebagai upaya pemberian
tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang
ditemukan dalam aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti meneliti, menulis,
merevisi dan membahas artikel, memberikan analisis moral terhadap peristiwa,
berkolaborasi dengan antar sesama melalui debat, dan sebagainya.
Penilaian autentik ada kalanya disebut penilaian responsif, suatu metode yang
sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki
ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki
bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Penilaian autentik dapat juga
diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada
umumnya, dengan orientasi utamanya pada proses atau hasil pembelajaran.
Penilaian autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunakan
standar tes berbasis norma, pilihan ganda, benarsalah, menjodohkan, atau
membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan
dalam proses pembelajara, karena memang bisa digunakan dan memperoleh
legitimasi secara akademik.
Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru
bekerja sama dengan peserta didik. Dalam penilaian autentik, seringkali
pelibatan siswa sangat penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan
aktivitas belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai. Peserta
didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri
dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan
pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada
penilaian autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi
pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
Penilaian autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan
siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar.
Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan
peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa
kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas
tugas-tugas yang harus mereka lakukan.
Penilaian autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan
peserta didik karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk
belajar bagaimana belajar tentang subjek. Penilaian autentik harus mampu
menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau
belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan
pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan
perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi
materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan
remedial harus dilakukan.
2.

Penilaian Autentik dan Belajar Autentik

44

Menurut Ormiston, belajar autentik mencerminkan tugas dan pemecahan


masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar
sekolah atau kehidupan pada umumnya. Penilaian semacam ini cenderung
berfokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual bagi peserta didik, yang
memungkinkan mereka secara nyata menunjukkan kompetensi atau
keterampilan yang dimilikinya. Contoh penilaian autentik antara lain
keterampilan kerja, kemampuan mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan
pengetahuan tertentu, simulasi dan bermain peran, portofolio, memilih kegiatan
yang strategis, serta memamerkan dan menampilkan sesuatu.
Penilaian autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. Pertama, pengukuran
langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka
panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Kedua, penilaian atas
tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks.
Ketiga, analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik
atas perolehan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang ada.
Dengan demikian, penilaian autentik akan bermakna bagi guru untuk
menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir,
meski dengan satuan waktu yang berbeda. Konstruksi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah
memainkan peran aktif dan kreatif. Keterlibatan peserta didik dalam
melaksanakan tugas sangat bermakna bagi perkembangan pribadi mereka.
Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta mengumpulkan informasi
dengan pendekatan saintifik, memahami aneka fenomena atau gejala dan
hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang
dipelajari dengan dunia nyata yang luar sekolah. Di sini, guru dan peserta didik
memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang
mereka ingin pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel, dan
bertanggungjawab untuk tetap pada tugas. Penilaian autentik pun mendorong
peserta didik mengonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis,
menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian
mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
Penilaian autentik memandang penilaian dan pembelajaran adalah merupakan
dua hal yang saling berkaitan. Penilaian autentik harus mencerminkan masalah
dunia nyata. Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh
merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap). Berikut contoh-contoh
tugas autentik: pemecahan masalah matematika, melaksanakan percobaan,
bercerita, menulis laporan, berpidato, membaca puisi, dan membuat peta
perjalanan.
Sejalan dengan deskripsi di atas, pada pembelajaran autentik, guru harus
menjadi guru autentik. Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran,
melainkan juga pada penilaian. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik,
guru harus memenuhi kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini.
a. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta
desain pembelajaran.
b. Mengetahui
bagaimana
cara
membimbing
peserta
didik
untuk
mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan
pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi peserta didik untuk
melakukan akuisisi pengetahuan.
c. Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan
mengasimilasikan pemahaman peserta didik.
45

d. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat


diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah.
3.

Jenis-jenis Penilaian Autentik

Dalam rangka melaksanakan penilaian autentik yang baik, guru harus


memahami secara jelas tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu, guru harus
bertanya pada diri sendiri, khususnya berkaitan dengan: (1) sikap, pengetahuan
dan keterampilan apa yang akan dinilai; (2) fokus penilaian akan dilakukan,
misalnya, berkaitan dengan sikap, pengetahuan dan keterampilan; dan (3)
tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai, seperti penalaran, memori, atau
proses.
a. Penilaian Sikap
Contoh muatan KI-1 (sikap spiritual) antara lain: ketaatan beribadah,
berperilaku syukur, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan,
toleransi dalam beribadah. Contoh muatan KI-2 (sikap sosial) antara lain:
jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, percaya diri, bisa ditambahkan
lagi sikap-sikap yang lain sesuai kompetensi dalam pembelajaran, misal :
kerja sama, ketelitian, ketekunan, dll. Penilaian apek sikap dilakukan melalui
observasi, penilaian diri, penilaian antarteman, dan jurnal. Penilaian sikap ini
bukan merupakan penilaian yang terpisah dan berdiri sendiri, namun
merupakan penilaian yang pelaksanaannya terintegrasi dengan penilaian
pengetahuan dan keterampilan, sehingga bersifat autentik (mengacu kepada
pemahaman bahwa pengembangan dan penilaian KI 1 dan KI 2 dititipkan
melalui kegiatan yang didesain untuk mencapai KI 3 dan KI 4).
1) Observasi
Merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan
dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan menggunakan format observasi yang berisi sejumlah
indikator perilaku yang diamati, terkait dengan kegiatan pembelajaran
yang sedang berlangsung. Hal ini dilakukan saat pembelajaran di kelas
maupun di luar kelas.
2) Penilaian Diri
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk
melakukan refleksi diri/perenungan dan mengemukakan kelebihan dan
kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen
yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
3) Penilaian Antar teman
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk
saling menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik
selama kegiatan pembelajaran berlangsung (biasanya dilakukan ketika
peserta didik melakukan kegiatan kelompok, dan penilaian dilakukan antar
anggota kelompok). Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian
antarpeserta didik.
4) Jurnal Catatan Guru
Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi
informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta
didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal bisa dikatakan
sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil observasi.
b. Penilaian Pengetahuan
Aspek pengetahuan dapat dinilai dengan cara berikut ini.
1) Tes tulis
46

Meski konsepsi penilaian autentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes


tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya, penilaian tertulis
atas hasil pembelajaran tetap bisa dilakukan. Tes tertulis terdiri dari
memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Memilih jawaban dan
mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari pilihan ganda, pilihan
benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban
terdiri dari isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek, dan
uraian.
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu
mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis,
mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah
dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat
komprehentif,
sehingga
mampu
menggambarkan
ranah
sikap,
keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.
Pada tes tertulis berbentuk esai, peserta didik berkesempatan
memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan teman-temannya,
namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama.
2) Tes Lisan
Tes lisan berupa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru secara ucap
(oral) sehingga peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara ucap
juga, sehingga menimbulkan keberanian. Jawaban dapat berupa kata,
frase, kalimat maupun paragraf yang diucapkan.
3) Penugasan
Penugasan adalah penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang dapat
berupa pekerjaan rumah baik secara individu ataupun kelompok sesuai
dengan karakteristik tugasnya.
c. Penilaian Keterampilan
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut:
1) Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja adalah suatu penilaian yang meminta siswa untuk
melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang
mengaplikasikan pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan.
Misalnya tugas memainkan alat musik, menggunakan mikroskop,
menyanyi, bermain peran, menari.
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan partisipasi peserta didik,
khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru dapat
melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsurunsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria
penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat
memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam
bentuk laporan naratif maupun laporan kelas.
Ada beberapa cara berbeda untuk merekam hasil penilaian berbasis
kinerja, antara lain sebagai berikut.
- Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau
tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang
harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
- Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan
cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh
masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari laporan
tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik
memenuhi standar yang ditetapkan.

47

Skala
penilaian
(rating
scale).
Biasanya
digunakan
dengan
menggunakan skala numerik berikut predikatnya. Misalnya: 4 = baik
sekali, 3 = baik, 2 = cukup, 1 = kurang.
Memori atau ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru dengan
cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa
membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk
menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum. Cara
seperti ini tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup dianjurkan.
Rubrik: alat pengukuran yang mempunyai skala atau point yang tetap dan
jelas untuk setiap criteria penilaian. Sangat disarankan untuk
menggunakan rubrik yang mempunyai 4 poin skala (1-4) sehingga
pemberian skor nilai tengah dapat dihindarkan (misalnya skala 1-3 akan
terjadi sebuah kecenderungan untuk memberikan skor 3 pada sebagian
besar hasil)

Gambar 1.6 Komponen dalam Rubrik


Penilaian kinerja
memerlukan
pertimbangan-pertimbangan
khusus.
Pertama, langkah langkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk
menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis
kompetensi tertentu. Kedua, ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja
yang dinilai. Ketiga, kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh
peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Keempat,
fokus utama dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indikator esensial
yang akan diamati. Kelima, urutan dari kemampuan atau keerampilan
peserta didik yang akan diamati.
Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam berbagai
konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu.
Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik, dari aspek
keterampilan berbicara, misalnya, guru dapat mengobservasinya pada
konteks yang, seperti berpidato, berdiskusi, bercerita, dan wawancara.
Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara
dimaksud. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan
alat atau instrumen, seperti penilaian sikap, observasi perilaku,
pertanyaan langsung, atau pertanyaan pribadi.
2) Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assesment) merupakan kegiatan penilaian
terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut
periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi
48

yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan


data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan
demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan aspek pemahaman,
mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain. Penilaian proyek sangat
dianjurkan karena membantu mengembangkan keterampilan berpikir
tinggi (berpikir kritis, pemecahan masalah, berpikir kreatif) peserta didik.
Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik
memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan, dan
pengetahuannya. Dengan demikian, pada setiap penilaian proyek,
setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru.
-

Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan


mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna
atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
Kesesuaian
atau
relevansi
materi
pembelajaran
dengan
pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
dibutuhkan oleh peserta didik.
Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan
oleh peserta didik.
Penilaian proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan produk
proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh
guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian,
pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian
proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian,
atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster
atau tertulis.
Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan
penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan
untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan
analitik. Penilaian
produk
dimaksud
meliputi
penilaian
atas
kemampuan peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan,
pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain),
barang-barang terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik,
dan karya logam. Penilaian secara analitik merujuk pada semua
kriteria yang harus dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu.
Penilaian secara holistik merujuk pada apresiasi atau kesan secara
keseluruhan atas produk yang dihasilkan.

3) Penilaian Portofolio
Penilaian dengan memanfaatkan portofolio merupakan penilaian melalui
sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan
terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. Portofolio
digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau secara terus
menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik
dalam bidang tertentu. Dengan demikian penilaian portofolio memberikan
gambaran secara menyeluruh tentang proses dan pencapaian hasil belajar
peserta didik. Portofolio merupakan bagian terpadu dari pembelajaran
sehingga guru mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan
peserta didik dalam menguasai kompetensi pada suatu tema.
Berikut ini hal-hal yang harus dilakukan dalam menggunakan portofolio.
- masing-masing peserta didik memiliki portofolio sendiri yang di
dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau
setiap kompetensi.
- menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulkan/disimpan.
49

sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang


berisi komentar, masukan dan tindakan lebih lanjut yang harus
dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan
sikap.
peserta didik dengan kesadaran sendiri menindak lanjuti catatan guru.
catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik
perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar
peserta didik dapat terlihat.

Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak


yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia
nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik
secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan
refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang
didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan
kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi
tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang
dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai), atau informasi lain yang relevan
dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut oleh topik
atau muatan pelajaran tertentu. Fokus penilaian portofolio adalah
kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu
periode pembelajaran tertentu. Penilaian terutama dilakukan oleh guru,
meski dapat juga oleh peserta didik sendiri.
Melalui penilaian portofolio guru akan mengetahui perkembangan
atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya mereka dalam
menyusun atau membuat karangan, puisi, surat, komposisi musik,
gambar, foto, lukisan, resensi buku/literatur, laporan penelitian, sinopsis,
dan lain-lain. Atas dasar penilaian itu, guru dan/atau peserta didik dapat
melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah
seperti berikut ini.
- Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
- Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio
yang akan dibuat.
- Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah
bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
- Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada
tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
- Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
- Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama
dokumen portofolio yang dihasilkan.
- Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian
portofolio.

50

MATERI PELATIHAN 2
ANALISIS PENGGUNAAN
BUKU GURU DAN BUKU SISWA

51

HO-2.1
A.

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BUKU SISWA DAN BUKU


GURU

1. Kedudukan dan Fungsi Buku Siswa


Buku ini dipergunakan sebagai panduan aktivitas pembelajaran untuk
memudahkan siswa dalam menguasai kompetensi tertentu. Buku ini juga
digunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran
(activities based learning) di mana isinya dirancang dan dilengkapi dengan
contoh-contoh lembar kegiatan agar siswa dapat mempelajari sesuatu yang
relevan dengan kehidupan yang dialaminya.
Buku Siswa diarahkan agar siswa lebih aktif dalam mengikuti proses
pembelajaran melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar,
berdiskusi serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik antarteman
maupun dengan gurunya. Guru dapat mengembangkan atau memperkaya
materi dan kegiatan lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Di bawah ini dijelaskan peran dan fungsi Buku Siswa yang dapat
dirinci sebagai berikut.
a. Panduan bagi
Pembelajaran

Siswa

dalam

Melaksanakan

Kegiatan-Kegiatan

Setiap subtema pada masing-masing buku memiliki beberapa pembelajaran


sesuai dengan tema. Untuk berbagai kegiatan yang harus dilakukan oleh
siswa dibuat ikon-ikon yang melambangkannya, misalnya
- Ayo Amati

Kegiatan Ayo
Amati pada buku
siswa merupakan kegiatan di mana
siswa dilatih keterampilannya dalam
mengamati, dan mencari/menggali
informasi dari gambar, teks bacaan,
teks percakapan atau data apapun
yang bisa digunakan sebagai sumber
pembelajaran.

- Ayo Bacalah

- Ayo Berlatih

Kegiatan Ayo Bacalah pada buku siswa


merupakan kegiatan di mana siswa diberi
kesempatan untuk
membaca teks
informasi yang disajikan pada buku siswa.
Kegiatan membaca ini biasanya terkait
dengan kegiatan menggali informasi dari
bacaan,
di
mana
siswa
dilatih
keterampilannya dalam mencari ide-ide
Kegiatan Ayo Berlatih pada buku siswa
merupakan kegiatan di mana siswa diberi
kesempatan
untuk
menunjukan
pemahaman
pengetahuannya
dan
mengaplikasikan
keterampilannya.
Kegiatan ini bisa merupakan kegiatan
mandiri
ataupun
kegiatan
dengan
52
bimbingan guru.

- Ayo Lakukan

Kegiatan Ayo Lakukan pada buku siswa


merupakan kegiatan di mana siswa diberi
kesempatan untuk melakukan kegiatan
pembelajaran melalui aktivitas kelompok
maupun
individu
yang
biasanya
juga
merupakan kegiatan berbasis proyek.

- Ayo Bertanya
Kegiatan Ayo Bertanya dirancang untuk
menumbuhkan
dan
mengembangkan
keterampilan bertanya siswa, di mana
bertanya bukan hanya tentang apa dan siapa
tapi lebih kepada pembentukan keterampilan
bertanya yang kritis dan kreatif.
- Ayo Bekerjasama
Kegiatan Ayo Bekerjasama dirancang
untuk memfasilitasi kolaborasi siswa dengan
siswa lainnya dalam kelompok. Siswa dilatih
untuk bekerjasama, saling menghormati,
menghargai dan berbagi tugas dengan
anggota kelompok lainnya.
b. Penghubung antara Guru, Sekolah,
dan Orang Tua
Pada setiap akhir pembelajaran ada
bagian yang membutuhkan keterlibatan
orang tua untuk membimbing anak
dalam melakukan aktivitas pembelajaran
di rumah. Bagian ini bisa dilihat pada
Buku
Siswa
dengan
ikon
tulisan
Kerjasama dengan Orang Tua.
Diharapkan orang tua berperan aktif
mendukung siswa dalam meningkatkan
pembelajaran yang dilakukan di sekolah.

pemahaman

siswa

pada

c. Lembar Kerja Siswa


Buku Siswa dapat berfungsi sebagai lembar kerja siswa, misalnya pada Buku
Siswa terdapat kegiatan menulis maka siswa dapat mengerjakan langsung
pada Buku Siswa.
d. Penilaian dan Portofolio
Di dalam Buku Siswa terdapat halaman-halaman berisi format yang dapat
digunakan sebagai lembar kerja untuk dihimpun sebagai bahan portofolio
yang dapat dijadikan sumber penilaian hasil pembelajaran.
e. Media Komunikasi antara Guru dan Siswa
Melalui proses pembelajaran dengan menggunakan Buku Siswa, guru dapat
mengenal siswa lebih baik melalui pengamatan terhadap hasil kerja siswa
yang telah dirancang sedemikian rupa dalam setiap pembelajaran. Guru
53

dapat melihat perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa


sesuai dengan kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan.
f. Sebagai Kenang-kenangan Rekam Jejak Belajar Siswa
Semua hasil pekerjaan yang dilakukan siswa selama mengikuti proses
pembelajaran akan tertuang dalam Buku Siswa sehingga guru dan orang tua
dapat melihat jejak belajar dan perkembangan kompetensi selama mengikuti
proses pembelajaran pada masing-masing jenjang. Bagi siswa semua rekam
jejak belajar tersebut berguna sebagai kenang-kenangan di kemudian hari.
g. Sebagai alat/instrumen pembantu bagi siswa dalam melakukan kegiatan
refleksi diri terhadap kegiatan pembelajaran harian yang telah dilakukan.

2. Kedudukan dan Fungsi Buku Guru


Buku Guru adalah panduan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran di
kelas. Berikut ini penjelasan tentang fungsi buku guru.
a. Sebagai Petunjuk Penggunaan Buku Siswa
Guru harus mempelajari terlebih dahulu Buku Guru. Guru harus menemukan
informasi sebagai berikut.
1) Urutan acuan materi pelajaran yang dikembangkan dari Standar
Kompetensi Lulusan, Kompetensi Inti, dan Kompetensi Dasar dari masingmasing muatan pelajaran, yang kemudian dipadukan dalam satu tema
tertentu.
2) Jaringan tema dari masing-masing tema yang berisi kompetensi dasar
dan indikator dari masing-masing muatan pelajaran yang harus dicapai.
3) Pemilahan pembelajaran yang dikembangkan dari subtema dengan
tujuan agar guru secara bertahap dapat menyelenggarakan proses
pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai
siswa.
b. Sebagai Acuan Kegiatan Pembelajaran di Kelas
Buku Guru menyajikan hal-hal sebagai berikut.
1) Menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai pada setiap pilahan
pembelajaran dari masing-masing subtema.
2) Menjelaskan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam
menyelenggarakan proses pembelajaran agar guru sudah menyiapkan
media-media pembelajaran yang diperlukan.
3) Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan dalam
menyelenggarakan proses pembelajaran agar dapat membantu guru
dalam menyusun rencana pelaksanaaan pembelajaran, dengan
sistematis mengikuti langkah-langkah pembelajaran tersebut.
4) Menjelaskan tentang teknik dan instrumen penilaian yang dapat
digunakan dalam setiap pilihan pembelajaran yang mungkin memiliki
karakteristik tertentu.
54

5) Menjelaskan jenis lembar kerja yang sesuai dengan pilahan pembelajaran


yang ada dalam Buku Siswa.
c. Penjelasan tentang Metode dan Teknik Pembelajaran
yang
Digunakan dalam Proses Pembelajaran
Buku Guru memuat informasi tentang metode dan teknik pembelajaran yang
digunakan sebagai acuan penyelenggaraan proses pembelajaran.

B. STRUKTUR DAN HUBUNGAN FUNGSIONAL


BUKU SISWA DAN BUKU GURU
1. Struktur Buku Guru
Uraian berikut dimaksudkan agar guru dapat mengenal dan memahami struktur
isi Buku Guru dengan baik. Struktur Buku Guru adalah sebagai berikut.
a. Kata Pengantar
Bagian ini perlu dibaca guru agar guru memahami latar belakang
penyusunan buku dan tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan buku
tersebut.
b. Tentang Buku Guru
Memuat informasi cakupan buku guru dan cakupan aktivitas pembelajaran
yang tertuang dalam buku guru.
c. Bagaimana Menggunakan Buku Guru
Halaman ini merupakan bagian penting yang harus dibaca dan dipahami oleh
guru, karena memberikan informasi hal-hal penting yang harus diperhatikan
oleh guru dalam menggunakan Buku Guru sebagai persiapan menggunakan
Buku Siswa.
d. Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti
Halaman ini mengingatkan kepada guru mengenai standar kompetensi
lulusan baik ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan, serta kompetensi
inti setiap kelas, yang akan di dicapai selama proses pembelajaran.
e. Pemetaan Kompetensi Dasar KI 1 dan KI 2
Pemetaan Kompetensi Dasar KI 1 dan KI 2 merupakan Pemetaan Kompetensi
Dasar yang berasal dari KI 1 dan KI 2 yang terdapat dalam setiap subtema.
Artinya, Kompetensi Dasar itulah yang akan dicapai dalam proses
pembelajaran selama satu minggu.
Pemetaan kompetensi dasar yang berasal dari Kompetensi Inti 1 dan 2
bukan untuk diajarkan secara eksplisit sebagai materi pembelajaran
(pembelajaran tidak langsung) , namun memandu guru untuk melakukan
pembiasaan-pembiasaan kompetensi tersebut selama proses pembelajaran
berlangsung. Harapannya, melalui pengetahuan, keterampilan akan terasah
dan sikap spritual dan sosialnya akan tumbuh pada diri siswa.
f. Pemetaan Kompetensi Dasar KI 3 dan KI 4
Pemetaan Kompetensi Dasar KI 3 dan KI 4 merupakan Pemetaan Kompetensi
Dasar yang berasal dari KI 3 dan KI 4. Halaman ini memuat informasi
tentang kompetensi-kompetensi yang berasal dari Pemetaan Kompetensi Inti
3 dan 4 yang harus dicapai dalam satu subtema pembelajaran. Penetapan
kompetensi masih terbuka untuk penggantian atau penambahan sesuai
dengan kegiatan yang dirancang oleh guru. Sekali lagi guru harus
memahami bahwa pembelajaran tematik terpadu itu berbasis aktivitas
sehingga aktivitas yang ditawarkan di dalam buku guru bisa diganti atau
dikembangkan sesuai dengan kreativitas guru.
g. Ruang Lingkup Pembelajaran
Halaman ini memberikan gambaran ringkas tentang kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh guru dan kemampuan yang akan dikembangkan dalam
55

setiap pembelajaran. Kolom kegiatan pembelajaran menjelaskan kegiatan


yang dilakukan pada satu hari pembelajaran. Kolom kemampuan yang
dikembangkan menjelaskan tiga aspek kemampuan yang harus dicapai, yaitu
sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
h. Halaman Pembelajaran
Setiap pembelajaran terdiri atas bagian-bagian yang menuntun guru dalam
proses pembelajaran yang disesuaikan dengan buku siswa. Jika mengacu
pada Struktur Kurikulum 2013 jenjang SD, jumlah jam pelajaran di kelas V
adalah 36 jam pembelajaran/minggu. Pembagian 36 jam/minggu dalam
pembelajaran disesuaikan dengan kondisi sekolah. Pada buku siswa dan
buku guru, kegiatan pembelajaran dibagi menjadi 6 pembelajaran dalam
seminggu. Artinya, pembagian itu diasumsikan untuk 6 hari sekolah dalam
seminggu. Sekolah yang menerapkan 5 hari sekolah, kompetensi dasar pada
pembelajaran 6 dapat disebar ke 5 pembelajaran yang lain. Uraian
pembelajaran diawali dengan
judul pembelajaran
sesuai
nomor
pembelajaran, misalnya Pembelajaran 1, Pembelajaran 2, Pembelajaran 3,
dan seterusnya.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari uraian pembelajaran adalah
sebagai berikut.
1) Jaringan Pembelajaran
Jaringan pembelajaran memuat kompetensi dasar dan indikator muatan
pelajaran yang dipadukan pada kegiatan pembelajaran. Kompetensi
Dasar yang dimuat adalah Kompetensi Dasar dari KI 3 dan KI 4.
2) Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dirumuskan sesuai dengan indikator muatan
pelajaran yang akan dibahas pada pembelajaran. Guru dapat
menambahkan
tujuan
pembelajaran
atau
mengoreksi
tujuan
pembelajaran bila ada perubahan muatan pelajaran dan indikator pada
jaringan pembelajaran tersebut.
3) Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
Bagian ini memberikan informasi mengenai media dan alat pembelajaran
yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
langkah-langkah kegiatan yang direncanakan. Guru harus memastikan
bahwa media dan alat pembelajaran tersebut tersedia/disiapkan. Guru
diperkenankan untuk memperkaya media, alat, dan sumber
pembelajaran agar pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan.
Selain itu, guru dapat memanfaatkan media teknologi informasi (TI)
dalam pembelajaran.
4) Kegiatan Pembelajaran
Sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013, kegiatan pembelajaran tematik
di kelas menerapkan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik dilakukan
melalui proses kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi/eksperimen/mencoba,
mengasosiasi/mengolah
informasi/menalar, dan mengkomunikasikan. Pendekatan saintifik
diimplementasikan dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih siswa
berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Namun sangat dimungkinkan
bagi guru untuk memperkaya langkah-langkah kegiatan yang sudah
ditawarkan di buku guru.
Kegiatan pembelajaran pada buku guru menjelaskan setiap ikon kegiatan
pada buku siswa. Misalnya, ikon pada buku siswa adalah Ayo Menyanyi
dengan percaya diri, maka pada buku guru dijelaskan langkah-langkah
kegiatan yang ditempuh untuk membelajarkan kegiatan tersebut. Pada
56

buku guru juga terdapat penjelasan materi yang dapat digunakan oleh
guru sebagai tambahan referensi untuk memperkaya materi.
5) Pengayaan dan Remedial
Bagian ini menjelaskan kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk
memberikan pengayaan bagi siswa yang sudah mencapai kompetensi
dan ingin lebih ditingkatkan kemampuannya. Selain itu, juga menjelaskan
kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan remedial bagi
siswa yang belum mencapai kompentesi.
6) Penilaian
Sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013, penilaian pada pembelajaran
tematik adalah penilaian autentik. Oleh karena itu, pada buku guru
dicantumkan teknik-teknik penilaian, yang meliputi penilaian nontes dan
tes. Sebagai panduan bagi guru, pada buku guru telah disediakan
instrumen penilaian dan rubrik penilaian sesuai dengan proses
pembelajaran yang dilakukan. Guru dimungkinkan untuk memperbaiki
instrumen penilaian dan menambah instrumen penilaian sesuai dengan
indikator yang ditetapkan.

57

C. PENGGUNAAN BUKU GURU DAN BUKU SISWA


Pada uraian ini dijelaskan tentang teknis penggunaan Buku Siswa sesuai dengan
arahan Buku Guru, melalui uraian ini diharapkan guru dapat melakukan proses
pembelajaran dari masing-masing subtema yang ada pada masing-masing buku.
Cara Penggunaan Buku Guru dan Buku Siswa
Buku Guru berhubungan dengan Buku Siswa, karena Buku Guru memandu
pembelajaran yang sesuai dengan Buku Siswa. Penggunaan Buku Guru dan Buku
Siswa tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Bukalah Buku Guru tema tertentu.


Cermatilah halaman yang berjudul Tentang Buku Guru dan Bagaimana
Menggunakan Buku Guru. Ikutilah petunjuk yang ada pada halaman tersebut.
2. Rancangan pembelajaran setiap Tema dibagi dalam rancangan subtema
yang tampak pada jaringan subtema atau Pemetaan Kompetensi Dasar
pada Buku Guru. Guru diharap mencermati jaringan subtema yang memuat
Kompetensi Dasar Muatan Pelajaran yang akan dicapai pada satu minggu,
sesuai dengan judul subtema.
3. Jaringan subtema terdiri atas jaringan subtema untuk KD dari KI I dan II, serta
jaringan subtema untuk KD dari KI 3 dan KI 4.
4. Jaringan subtema KD dari KI 3 dan KI 4 dijabarkan lagi menjadi jaringan
Kompetensi Dasar dan Indikator setiap pembelajaran.
5. Cermatilah jaringan setiap pembelajaran Pemetaan Indikator pada Buku
Guru yang memuat Kompetensi Dasar yang akan dicapai berdasarkan
rumusan indikatornya.
6. Setelah mencermati indikator yang akan dicapai pada setiap pembelajaran,
cermatilah tujuan pembelajaran yang terdapat di Buku Guru.
7. Perhatikan langkah-langkah kegiatan yang terdapat pada Buku Guru.
8. Hubungkanlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada Buku Guru
dengan penjabaran kegiatan pembelajaran yang ada di Buku Siswa.
9. Guru dapat memodifikasi rancangan pembelajaran di Buku Guru untuk
disesuaikan dengan kondisi kelas. Apabila rancangan berubah, maka guru
harus membuat penyesuaian juga dalam pembelajarannya.
10.Pada Buku Guru juga terdapat media, alat, dan sumber pembelajaran yang
digunakan sesuai dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Namun,
guru juga dapat mengganti atau menambahkan media, alat, dan sumber
pembelajaran sesuai dengan kondisi kelas.
11.Cermatilah halaman Remedial dan Pengayaan yang terdapat pada Buku Guru
sebagai panduan ketika guru akan melaksanakan kegiatan tersebut.
12.Di dalam Buku Guru terdapat contoh-contoh teknik penilaian, guru dapat
Rangkaian kegiatan
pembelajaran
dirancang
untuk
memfasilitasi
tercapainya kompetensi yang menja
membuka
halaman yang
penilaian
sebagai
panduan
menilai siswa.

58

Langkah-Langkah Kegiatan merupakan penjelasan yang diberikan untuk membantu guru dalam menga

Gambar halam

Pada halaman buku guru dijelaskan hasil-hasil yang diharapkan muncul mela

59

D.PROSES ANALISIS BUKU GURU DAN BUKU


SISWA
Buku Guru dan Buku Siswa saling berhubungan sehingga proses analisis dapat
dilakukan secara simultan. Berikut akan dijelaskan mengenai proses analisis
tersebut.
1. Pemetaan
Kompetensi
Dasar
Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2

(KD)

dari

Pada buku guru, pemetaan KD dari KI 1 dan 2


disiapkan setiap subtema. Namun dalam jaringan KD
harian (tiap PB) KD dari KI 1 dan 2 tidak dimunculkan
karena ketercapaiannya diperoleh dari pembelajaran
tidak langsung (indirect learning). Harapannya guru
bisa memilih aspek spiritual (KI 1) maupun aspek
sosial (KI 2) sesuai dengan aktivitas pembelajaran
harian yang sedang dilakukan.
2. Pemetaan Kompetensi Dasar dari KI 3 dan 4
Pada buku guru pemetaan KD dari KI 3 dan 4
disediakan tiap subtema (mingguan). Pemetaan
ini masih akan dijabarkan lagi dalam pemetaan
KD harian.

3. Pemetaan Kompetensi Dasar tiap PB (harian)


a. Pada buku guru sudah disiapkan pemetaan KD
dan
indikator
pada
masing-masing
pembelajaran (PB) untuk memudahkan guru
mengajar harian. Berikut ini contoh tema 2
Peristiwa dalam Kehidupan, subtema 1 MacamMacam
Peristiwa
dalam
Kehidupan,
Pembelajaran 1:
b. Meskipun telah disediakan pemetaan di setiap
PB, guru hendaknya mengkaji apakah masih
diperlukan KD tambahan pada pembelajaran
hari itu. Untuk kepentingan penyusunan
RPP (harian), guru perlu menambahkan KD
dari KI 1 dan 2 yakni sikap spiritual dan sikap
sosial. Penambahan KD bisa melihat pada
pemetaan KD dari KI 1 dan 2 pada tiap subtema.

60

61

Contoh:
1.2 Mengakui dan mensyukuri anugerah
Tuhan yang Maha Esa atas keberadaan
lingkungan dan sumber daya alam,
alat teknologi modern dan tradisional,
perkembangan teknologi, energi, serta
permasalahan sosial.
2.4 Memiliki kepedulian terhadap
lingkungan dan sumber daya alam
melalui pemanfaatan bahasa
Indonesia.
3.2 Menguraikan isi teks penjelasan
tentang proses daur air, rangkaian
listrik, sifat magnet, anggota tubuh
(manusia, hewan, tumbuhan) dan
fungsinya, serta sistem pernapasan
dengan bantuan guru dan teman
dalam Bahasa Indonesia lisan dan tulis
dengan memilih dan memilah
kosakata baku.
4.7 Menyajikan hasil laporan tentang
permasalahan akibat terganggunya
keseimbangan alam akibat ulah

c. Guru hendaknya mencermati indikator setiap KD. Untuk pembelajaran


harian, setiap KD minimal dijabarkan dalam satu indikator karena KD
tersebut kemungkinan dibelajarkan lagi pada subtema yang lain.
Meskipun sudah ada contoh indikator pada buku guru, guru perlu
mengkaji ulang indikator tersebut. Guru diperbolehkan untuk
memperbaiki indikator yang tertera pada buku guru. Dalam merumuskan
indikator harus menggunakan kata kerja operasional yang terukur.
4. Tujuan Pembelajaran
Pada buku guru telah diberikan contoh tujuan pembelajaran sebagai panduan
bagi guru apa yang akan dicapai. Guru diperbolehkan untuk menambah atau
merubah tujuan pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik dan
lingkungan tempat belajar. Tujuan pembelajaran idealnya memuat A
(audience) yakni siswa; B
(behavior) yakni kemampuan
yang
akan
dicapai
(membedakan, menjelaskan,
dll),
C
(condition)
yakni
kondisi atau kegiatan yang
akan
dilakukan
siswa
(membaca teks, mengamati
gambar,
diskusi
dll);
D
(degree) tingkatan (dengan
benar,
sesuai
prosedur,
dengan santun, percaya diri,
dll). Misal: Dengan menggali informasi dari teks bacaan, peserta didik
mampu menjelaskan manfaat air bagi kehidupan manusia dengan teliti.

62

5. Media, Alat Bantu dan Sumber Belajar


Pada buku siswa ada media gambar yang telah disediakan,
namun masih terbatas. Dengan demikian guru diharapkan
bisa menambah media
yang lain sesuai tema yang
sedang dibahas.
Pada tema 2 subtema 2 disajikan beberapa gambar ekspos
tentang peristiwa-peristiwa penting, guru diharapkan
dapat memperkaya media yang disediakan dengan
membawa berbagai macam gambar atau foto peristiwaperistiwa penting yang berkaitan dengan tujuan
pembahasan. Guru juga dapat meminta siswa untuk
membawa gambar atau foto yang berkaitan dengan tujuan
kegiatan pembelajaran.
Demikian pula dengan sumber belajar, materi tidak
terbatas pada buku siswa saja. Guru bisa mengajak siswa
mengamati lingkungan, membaca buku referensi lain, membaca berita di
koran, atau melihat tayangan tentang hewan di TV/video.
6. Kegiatan Pembelajaran
Pada kegiatan pembelajaran perlu diperhatikan mengenai pendekatan
saintifik dan high order thinking.
Pendekatan Saintifik
Pelaksanaan pembelajaran pada Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan
saintifik yang memuat kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi/eksperimen, mengasosiasi/menalar dan mengkomunikasikan.
Langkah-langkah pembelajaran tersebut telah dituangkan dalam buku guru.
Pada tema 2 subtema 1 PB 1, aktivitas saintifik terlihat sebagai berikut:
Mengamati
Menanya

Mengumpulkan
informasi/eksperi
men

Mengasosiasi/men
alar

Siswa mencermati bacaan dan gambar yang disajikan


pada buku siswa.
Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa dengan
memberikan beberapa pertanyaan pancingan dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat
dan merumuskan pertanyaan mereka sendiri.
Kegiatan pengumpulan informasi ini bisa dilakukan
melalui berbagai macam kegiatan yang berbeda, salah
satunya adalah dengan mencari jawaban/informasi dari
nara sumber/responden. Pada kegiatan yang
dicontohkan pada buku siswa, siswa diminta untuk
melakukan sebuah kegiatan yang berjudul Reporter
Cilik
Pada tahap ini, siswa dibimbing dan dilatih untuk
mampu mencari hubungan antar pertanyaan yang
mereka ajukan dengan jawaban/informasi yang mereka
peroleh melalui kegiatan wawancara. Siswa dilatih
untuk mampu mengolah informasi-informasi yang
63

Mengkomunikasik
an

mereka dapatkan menjadi sebuah kesimpulan.


Pada tahap ini, siswa diberi kesempatan untuk
mengkomunikasikan hasil wawancara mereka didepan
kelas melalui kegiatan presentasi laporan reportasi.

Higher Order Thinking Skills


Salah satu kecakapan hidup (life skill) yang perlu dikembangkan selama
proses pendidikan adalah keterampilan berpikir. Keterampilan berpikir setiap
orang akan terus berkembang dan dapat dipelajari karena rasa ingin tahu
manusia juga terus berkembang.
Secara umum, terdapat empat tingkat berpikir berikut ini.
a. Menghafal (recall thinking), merupakan tingkat berpikir paling rendah
yang terdiri atas keterampilan hampir otomatis atau refleksif.
b. Dasar (basic thinking), merupakan keterampilan dasar yang meliputi
memahami konsep-konsep seperti penjumlahan, perkalian, dan
sebagainya termasuk aplikasinya dalam soal-soal.
c. Berpikir kritis (critical thinking), yaitu berpikir yang memeriksa,
menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek.
d. Berpikir kreatif (creative thinking), merupakan kegiatan menyatukan ide,
mencipta ide baru, dan mampu menentukan keefektifannya.
Menurut Bloom (Anderson dan Krathwohl, 2001) tingkat kemampuan berpikir
dibedakan dengan mengelompokkan berdasarkan dimensi pengetahuan dan
proses. Dimensi pengetahuan mencakup pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Proses terdiri atas kategori
mengingat, memahami, aplikasikan, analisis, evaluasi, dan menciptakan.
Pengelompokan oleh Bloom ini dikenal dengan nama taksonomi Bloom.
Dari keenam proses kognitif dalam taksonomi Bloom, tingkat analisis,
evaluasi, dan menciptakan merupakan tingkat berpikir yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tiga proses lainnya. Kemampuan berpikir tingkat tinggi
(higher order thinking skills) termasuk di dalamnya yaitu berpikir kritis, logis,
kreatif, reflektif, dan metakognitif (FJ King, Ludwika, Faranak Rohani).
Berpikir kritis, menurut Ennis, adalah berpikir secara beralasan dan reflektif
dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus
dipercayai atau dilakukan.
Menurut Paul dan Elder (2006), berpikir kritis menunjukkan beberapa karakter
berikut.
a. Skeptis (skeptycal)
b. Aktif, tidak pasif. Selalu bertanya, menganalisis, dan
mampu
mengkomunikasikan argumen.
c. Tidak egois, terbuka terhadap ide dan hal-hal baru, serta memiliki
keinginan untuk saling adu argumen.
Menurut Coleman & Hammen (1974) berpikir kreatif merupakan cara berpikir
yang menghasilkan sesuatu yang baru dalam bentuk konsep, penemuan,
atau karya seni. Salah satu cara mengembangkan dan menguatkan
kemampuan kita untuk berpikir kreatif adalah percaya bahwa sesuatu itu
dapat dilakukan. Dengan demikian akan muncul adanya suatu dorongan yang

64

dapat menggerakkan pikiran untuk mencari dan melaksanakan sesuatu yang


diinginkan.
Menurut de Bono dan Perkins, ciri-ciri orang yang berpikir kreatif antara lain
memiliki ide atau gagasan-gagasan baru, berani tampil beda atau melawan
arus, memunculkan pemikiran yang tidak atau belum popular, optimistik,
tidak takut mencoba, tidak takut gagal, dan berani menanggung resiko.
Kemampuan berpikir untuk menilai kemampuan sendiri disebut dengan
metakognisi. Metakognisi meliputi kesadaran proses berpikir seseorang, selfmonitoring, serta penerapan pengetahuan dan langkah-langkah untuk
berpikir.
Bagaimana mengembangkan HOTS? Berikut beberapa strategi pembelajaran
untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
a. Membuat peta konsep
b. Mengajukan pertanyaan
c. Menyusun buku harian/jurnal pembelajaran
d. Pembelajaran kolaboratif berbasis TI
e. Menggunakan analogi
f. Eksperimen berbasis inkuiri
g. Metode proyek
h. Latihan latihan membuat keputusan
i.

Pemecahan masalah

Contoh-contoh kegiatan pada buku siswa yang dirancang untuk


menumbuhkan dan mengembangkan HOTS.
a. Membuat Peta Konsep

Contoh kegiatan yang memberikan kesempatan


bagi siswa untuk menunjukkan cara berpikir kritis
dan kreatifnya dengan membuat peta konsep, salah
satunya dapat ditemukan di buku siswa tema 2
subtema 2 PB 1 (halaman 47). Pada kegiatan
tersebut,
siswa
diberi
kesempatan
untuk
menunjukkan pemahamannya tentang teks bacaan
yang berjudul Daur Air dalam bentuk peta pikiran.
b. Mengajukan Pertanyaan

Mengajukan pertanyaan merupakan salah satu kegiatan pembelajaran


yang
menumbuhkan
dan
mengembangkan HOTS. Siswa dilatih
untuk
mampu
merumuskan
pertanyaan yang kritis dan kreatif
yang didorong oleh rasa ingin
tahunya. Kegiatan yang menstimulus
keterampilan
mengajukan
pertanyaan ini salah satunya dapat ditemukan pada buku siswa tema 2
subtema 2 PB 3 (halaman 62). Pada kegiatan tersebut, siswa didorong rasa
ingin tahunya dengan merumuskan pertanyaan-pertanyaan tentang halhal yang ingin mereka ketahui tentang kondisi sungai yang mengering.
c. Menyusun Buku Harian/ Jurnal Pembelajaran

65

Buku harian/jurnal pembelajaran bisa dijadikan


sebagai
salah
satu
sarana
untuk
menumbuhkan HOTS. Dengan membuat buku
harian/catatan harian/jurnal siswa memiliki
kesempatan untuk merangkum semua kegiatan
pembelajaran
yang
sudah
ia
lewati,
mengaitkan pengalaman yang ia miliki
sebelumnya dengan pengalaman pembelajaran
yang baru. Kegiatan catatan harianku salah
satunya bisa ditemukan di tema 2 subtema 1 PB 5 (halaman 39).
d. Pembelajaran Kolaboratif Berbasis TI

Pada era ini Teknologi Informasi merupakan hal


yang sudah tidak asing lagi, bahkan bagi
siswa/siswi usia Pendidikan Dasar. Informasi
pembelajaran sudah tidak lagi dibatasi dengan
buku teks. Siswa diperbolehkan untuk mencari
informasi dari sumber lain diluar buku teks.
Kegiatan pembelajaran kolaboratif berbasis TI
dapat menumbuhkan HOTS. Kegiatan seperti ini
salah satunya dicontohkan di buku siswa tema 2
subtema 2 PB 1 (halaman 48). Pada kegiatan ini siswa diberi keleluasaan
untuk melengkapi pemahaman mereka dengan mencari informasi
tambahan dari sumber lainnya (salah satunya adalah sumber-sumber
yang berasal dari internet).
e. Menggunakan Analogi

Analogi
digunakan
untuk
mempermudah
penjelasan tentang sesuatu yang biasanya
bersifat abstrak. Kegiatan pembelajaran yang
menggunakan analogi untuk menjelaskan sebuah
konsep, salah satunya bisa ditemukan di buku
siswa tema 2 subtema 2 PB 1 (halaman 50).
f.

Eksperimen Berbasis Inkuiri


Eksperimen berbasis inkuiri merupakan
cara yang sangat menarik bagi siswa
dalam
menumbuhkan
dan
mengembangkan HOTS. Dalam kegiatan
ini siswa dilatih untuk berpikir kritis, yaitu
berpikir
yang
memeriksa,
menghubungkan,
dan
mengevaluasi
semua aspek. Kegiatan eksperimen
berbasis inkuiri, salah satunya dapat
ditemukan di buku siswa tema 2 subtema 2 PB 2 (halaman 54).

g. Metode Proyek

Proyek/penugasan adalah salah satu alternatif kegiatan yang bisa dipilih


untuk menumbuhkan dan mengembangkan HOTS. Melalui proyek atau
tugas, siswa dilatih untuk terampil berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan
proyek ini salah satunya ditemukan di buku siswa tema 2 subtema 2 PB 5
(halaman 81). Pada kegiatan proyek ini, siswa diminta untuk menyiapkan
66

sebuah kampanye penggunaan air


bersih, salah alat kampanye yang harus
disiapkan adalah lagu, siswa diminta
mengganti lirik lagu Bangun Tidur
dengan lirik yang mengandung pesan
penggunaan air secara bijaksana.
h. Latihan-latihan Membuat Keputusan

Membuat
keputusan
adalah
sebuh
keterampilan yang membutuhkan cara berpikir
kritis dan kreatif. Siswa perlu dilatih untuk
memiliki keterampilan tersebut, salah satu
caranya
adalah
dengan
menghadapkan
mereka pada kasus-kasus atau permasalahan
yang membutuhkan penyelesaian. Pada buku
siswa tema 2 subtema 1 PB 4 (halaman 28)
disajikan sebuah kegiatan Debat Cilik, di mana
siswa dihadapkan pada dua permasalahan
yang berbeda, siswa dilatih cara berpikir
kritisnya dalam mencari informasi pendukung
yang bisa mereka gunakan untuk mempertahankan pendapatnya dalam
berdebat.

67

7. Penilaian Pembelajaran
Penilaian autentik mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Pada
buku guru telah diberikan beberapa contoh penilaian.
Pada buku guru akan lebih banyak ditemukan contoh-contoh penilaian yang
bersifat nontes. Dengan dasar pemikiran bahwa guru dan satuan pendidikan
bisa menyusun dan mengembangkan instrumen tes secara mandiri yang
disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan.
Buku guru memberikan aternatif-alternatif nontes yang bisa diadopsi
langsung atau disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang
dilengkapi dengan instrumen rubrik penilaian. Rubrik penilaian dirancang
untuk memenuhi kebutuhan penilaian ketiga aspek, yaitu sikap, keterampilan
dan pengetahuan, oleh karena itu diusahakan pada setiap kegiatan ada
ketiga aspek yang menjadi bahan pengamatan dan penilaian bagi guru.
Pada akhir subtema, buku guru dilengkapi dengan lembar rekapitulasi yang
bisa digunakan oleh guru untuk memantau dan mencatat hasil pencapaian
kompetensi siswa baik di ranah pengetahuan, keterampilan maupun sikap.
Lembar rekapitulasi ini memiliki beberapa fungsi, yaitu :
-

Sebagai data pencapaian kompetensi siswa di ketiga aspek yang nantinya


bisa digunakan oleh guru sebagai data penunjang dalam pengisisan rapor
akademik di akhir semester.

Sebagai bahan acuan bagi guru dalam memberikan bantuan remedial


untuk siswa yang membutuhkan

Sebagai bahan bagi guru untuk memberikan umpan balik baik bagi siswa
maupun orang tua.

Berikut adalah contoh-contoh instrumen penilaian dan rekapitulasi per


subtema yang bisa ditemukan di buku guru.

68

69

70

LK 2.1
(BG)

ANALISIS SKL, KI, KD PADA TEMA, SUBTEMA DAN


PEMBELAJARAN
PETUNJUK PENGISIAN LK 2.1 (BG)
1. Bukalah halaman pada buku guru yang memuat Jaringan Subtema
(Jaringan Kompetensi Inti 1 2 dan Kompetensi Inti 3 - 4).
2. Cermatilah Jaringan tersebut, lakukan identifkasi adanya KI 1, KI 2, KI 3,
Dan KI 4 pada setiap subtema.
3. Tuliskan KD yang terdapat pada jaringan subtema atau Pemetaan
Kompetensi Dasar KI 1 dan KI 2 serta Pemetaan Kompetensi Dasar KI 3
dan KI 4 pada Kolom KD sesuai Muatan Pelajaran.
Kelas
Tema
Subtema
MUATAN
MAPEL

: ......................................................
: ......................................................
: ......................................................
KD

PEMBELAJARAN
1

PPKn

BHS INDO

MAT

IPA

IPS

71

KETERANGAN
5

LK
3.1

LK
3.1

MUATAN
MAPEL

KD

PEMBELAJARAN
1

KETERANGAN
5

SBDP

PJOK

PETUNJUK PENGISIAN LK 2.1 (BS)

LK 2.1
(BS)

Buku Siswa
1. Bukalah halaman buku siswa. Cermati kegiatan pembelajaran di setiap
subtema, identifikasikan apakah kegiatan pembelajaran tersebut
mengacu pada pencapaian kompetensi inti 1 4 (tanpa memperhatikan
muatan mapel).
2. Tuliskan pada halaman berapakah kegiatan tersebut ditemukan.
3. Apabila tidak ditemukan pada buku siswa, tuliskan saran pada kolom
saran yang disediakan.
PB 1

Tema ........
Subtema .........
PB 2
PB 3
PB 4
PB 5

PB 6

KI 1
KI 2
KI 3
KI 4
Saran :

LK 2.2a
(BG)
72

LK
3.1

LEMBAR KERJA ANALISIS INDIKATOR, TUJUAN PEMBELAJARAN,


KEGIATAN PEMBELAJARAN, DAN PENILAIAN
PETUNJUK PENGISIAN LK 2.2a ANALISIS INDIKATOR

LK
3.2

1. Bukalah halaman pada buku guru yang memuat jaringan KD Indikator


Pembelajaran.
Halaman ini terdapat pada halaman berjudul Pembelajaran 1,
Pembelajaran 2, dan seterusnya.
2. Cermatilah kompetensi dasar yang terdapat pada buku guru. Salinlah
kompetensi dasar setiap muatan pelajaran
pada lembar kerja
kompentensi dasar
3. Kompetensi dasar harus merupakan pasangan KD dari KI 3 dan KD dari KI
4. Ambillah kompetensi dasar hasil analisis dari LK 3.1 Analisis KD.
4. Cermatilah indikator pada buku guru, salinlah pada indikator tersebut
pada kolom Indikator pada Buku.
5. Periksalah apakah perumusan indikator sudah sesuai dengan kompetensi
dasar dan kaidah yang berlaku pada perumusan indikator. Penjelasan
kaidah perumusan indikator dapat dilihat pada handout.
6. Tuliskan indikator hasil analisis pada kolom Indikator Hasil Analisis.
7. Kompetensi dasar yang belum terdapat pada buku guru, harus
dirumuskan indikatornya. Tuliskan indikator tersebut pada kolom Indikator
Hasil Analisis.
KELAS
TEMA
SUBTEMA
PEMBELAJARAN

:
:
:
:

.........................................
.........................................
.........................................
.........................................

a. ANALISIS INDIKATOR
KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PADA BUKU

73

IND

LK 2.2b
(BG)

PETUNJUK PENGISIAN LK 2.2b TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Bukalah halaman pada buku guru yang memuat Tujuan Pembelajaran.


Tujuan Pembelajaran terdapat pada setiap judul Pembelajaran,
misalnya Pembelajaran 1, Pembelajaran 2, dan seterusnya.
2. Salinlah tujuan pembelajaran pada buku guru tersebut ke dalam tabel
LK kolom Tujuan Pembelajaran pada Buku.
3. Cermatilah tujuan pembelajaran pada buku tersebut. Sesuaikan
dengan kaidah perumusan tujuan pembelajaran. Kaidah perumusan
tujuan pembelajaran dapat dilihat pada handout.
4. Tuliskan hasil analisis tujuan pembelajaran tersebut pada tabel LK
kolom Tujuan pembelajaran hasil analisis.
b. TUJUAN PEMBELAJARAN
TUJUAN PEMBELAJARAN PADA BUKU

74

TUJUAN PEMBELA

LK 2.2c
(BG)
PETUNJUK PENGISIAN LK 2.2c KEGIATAN PEMBELAJARAN
1. Bukalah halaman pada buku guru yang memuat kegiatan pembelajaran.
Halaman kegiatan pembelajaran tersebut terdapat pada setiap
pembelajaran.
2. Cermatilah kegiatan pembelajaran yang terdapat pada buku guru.
3. Salinlah kegiatan pembelajaran tersebut pada tabel LK 2.2.c pada kolom
Kegiatan Pembelajaran pada Buku.
4. Lakukan identifikasi pererapan pendekatan saintifik, penerapan modelmodel pembelajaran (Project Based Learning, Problem Based Learning,
Discovery Learning), serta higher order thinking skills pada kegiatan
pembelajaran tersebut. Tuliskan ada atau tidak pada kolom yang
tersedia. Bila ada, tuliskan contohnya pada kolom yang tersedia. Bila
tidak ada, tuliskan saran pada kolom yang tersedia dengan
memerhatikan tujuan pembelajaran hasil analisis seperti tercantum
pada tabel LK 2.2b.
c. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan
Pembelajara
n pada Buku

Kegiatan
Pembelaj
aran
dengan
menerap
kan
Pendekat
an
Saintifik

Ada

Tida
k
Ada

Kegiatan
Pembelajar
an dengan
Menerapka
n ModelModel
Pembelajar
an
(Discovery
Learning,
Projek,
Problem
Based
Learning)
Ada

Tidak
Ada

Kegiatan
Pembelajar
an yang
Memunculk
an HOTS
(Higher
Order
Thinking
Skills)

Ada

75

Tidak
Ada

Keterangan dan
Saran Kegiatan
Pembelajaran

76

LK 2.2d
PETUNJUK PENGISIAN LK 2.2d PENILAIAN (BG)
1. Bukalah halaman pada buku guru yang memuat tentang penilaian.
Penilaian terdapat pada setiap judul pembelajaran, misalnya
Pembelajaran 1, Pembelajaran 2, dan seterusnya.
2. Cermatilah penilaian yang ada pada buku, sesuaikan dengan tujuan
pembelajaran hasil analisis pada LK 2.2b.
3. Tandailah dengan check list (V) pada kolom sesuai atau tidak sesuai.
4. Penilaian sikap dapat dilihat kesesuainnya dengan tujuan pembelajaran
yang telah dirumuskan. Sikap yang dikembangkan tercantum pada
degree tujuan pembelajaran, misalnya percaya diri, teliti, dan santun.
5. Penilaian keterampilan dapat dilihat kesesuaiannya dengan indikator
yang dirumuskan dari KD yang berasal dari KI 4. Misalnya, apakah akan
dinilai unjuk kerja atau unjuk produk.
6. Penilaian pengetahuan dapat dilihat kesesuaiannya dengan indikator
yang dirumuskan dari KD yang berasal dari KI 3. Misalnya, tes
pengetahuan yang terdapat pada buku siswa, yang terdiri atas tes
tertulis atau tes lisan.
7. Analisis penilaian pada buku siswa dan buku guru difokuskan pada
kesesuaian dengan indikator yang dirumuskan. Cara pembuatan
instrumen penilaian secara lengkap dapat dilihat pada Materi Pelatihan
3 tentang Penilaian.
d. Penilaian
Penilaian

Sesuai

Tidak
Sesuai

Keterangan

Sikap

Pengetahuan

Keterampilan

77

Saran

LK Analisis Kesesuaian Materi

LK 2.3a
(BS)

Petunjuk Pengisian LK 2.3a (BS):


1. Bukalah buku siswa, cermati setiap kegiatan pembelajaran harian.
2. Lakukan kegiatan analisis kesesuaian materi dilihat dari KD, Indikator,
tujuan pembelajaran dan kearifan lokal (kontekstual).
3. Tuliskan hasil analisis tersebut pada kolom yang disediakan, berikan
penjelasan dan saran.
Misalnya : kegiatan pembelajaran yang disajikan tidak sesuai dengan
target indikator, tuliskan hasil temuan tersebut pada kolom PBM yang
bersangkutan. Berikan uraian penjelasan kekurangan beserta saran
untuk perbaikan.
Tema :.................... Subtema : ...........................
PBM
Kesesuaian Materi
Keterangan
1
2
3
4
5
6

Saran

LK 2.3b
LK Analisis Kecukupan Materi (BS)
Petunjuk Pengisian LK 2.3b (BS):
1. Bukalah buku siswa, cermati setiap kegiatan pembelajaran harian.
2. Lakukan analisis kecukupan materi dilihat dari keluasan dan kedalaman
materi.
3. Tuliskan hasil analisis tersebut pada kolom yang disediakan, berikan
penjelasan dan saran.
Misalnya : Materi yang disajikan dalam kegiatan pembelajaran tersebut
cakupannya kurang, jelaskan letak kekurangannya dan berikan saran
perbaikan.
Tema :.................... Subtema : ...........................
PBM
Kecukupan Materi
Keterangan
1
2
3
4
5
6

78

Saran

LK Analisis Keakuratan Materi

LK 2.3c
(BS)

Petunjuk Pengisian LK 2.3c (BS):


1. Bukalah buku siswa, cermati setiap kegiatan pembelajaran harian.
2. Lakukan analisis keakuratan materi diliha.t dari kebenaran dan
ketepatan materi
3. Tuliskan hasil analisis tersebut pada kolom yang disediakan, berikan
penjelasan dan saran.
Misalnya : Materi yang disajikan dalam kegiatan pembelajaran tersebut
tidak akurat, jelaskan letak kesalahannya dan berikan saran perbaikan.
Tema :.................... Subtema : ...........................
PBM
Keakuratan Materi
Keterangan
1
2
3
4
5
6

Saran

Catatan untuk LK 2.2 dan LK 2.3


1. Hasil analisis yang terdapat pada LK 2.1 dan LK 2.2 merupakan kesatuan
yang berkesinambungan.
2. Hasil analisis tersebut dapat dituangkan pada format pembuatan RPP.
3. RPP dibuat dengan cara mengambil hasil analisis LK 2.1 dan LK 2.2.
4. Salinlah KD, Indikator, Tujuan Pembelajaran, dan Kegiatan Pembelajaran
pada format RPP yang akan dibuat.
5. Khusus untuk Penilaian yang akan dicantumkan pada RPP, harus dilihat
kaidah-kaidah penilaian autentik yang terdapat pada materi pelatihan 3
tentang Penilaian Autentik.

79

MATERI PELATIHAN 3

PERANCANGAN PEMBELAJARAN
DAN PENILAIAN
3.1
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK
DAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK
TERPADU
3.2
PERANCANGAN PENILAIAN AUTENTIK
DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK
TERPADU
3.3
PELAPORAN HASIL PENILAIAN

80

HO-3.1

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MODELMODEL PEMBELAJARAN DALAM PEMBELAJARAN


TEMATIK TERPADU
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam
pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah
(scientific approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi
kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba,
mengasosiasi/menalar/mengolah
informasi,
serta
menyajikan/mengkomunikasikan. Kurikulum 2013 menyarankan penerapan
model-model pembelajaran seperti Project Based Learning, Problem Based
Learning, dan Discovery Learning.
A. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Tematik
Terpadu
1. Mengamati
Kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses mengamati adalah membaca,
mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Kompetensi yang
dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi.
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran
(meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti
menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang,
dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka
pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan
matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan
mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.
Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu
peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang
tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa
ada hubungan antara objek yang dianalisis dengan materi pembelajaran
yang digunakan oleh guru.
Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh
langkah-langkah berikut ini.
a. Menentukan objek apa yang akan diobservasi.
b. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan
diobservasi.
c. Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik
primer maupun sekunder.
d. Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi.
e. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk
mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.
f. Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti
menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan
alat-alat tulis lainnya.
Praktik observasi dalam pembelajaran akan lebih optimal jika peserta didik
dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat
lain, seperti (1) tape recorder, untuk merekam pembicaraan; (2) kamera,
untuk merekam objek atau kegiatan secara visual; (3) film atau video, untuk
81

merekam kegiatan objek atau secara audio-visual; dan (4) alat-alat lain
sesuai dengan keperluan.
Secara lebih luas, alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan
observasi, dapat berupa daftar cek (checklist), skala rentang (rating scale),
catatan anekdotal (anecdotal record), catatan berkala, dan alat mekanikal
(mechanical device). Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan
nama-nama subjek, objek, atau faktor- faktor yang akan diobservasi. Skala
rentang , berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut
tingkatannya. Catatan anekdotal berupa catatan yang dibuat oleh peserta
didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan
oleh subjek atau objek yang diobservasi.
Pada tema 2, subtema 1 PB 1, aktivitas saintifik mengamati terlihat
sebagai berikut:
Siswa mencermati bacaan dan gambar yang disajikan pada buku siswa.
Kegiatan ini bertujuan untuk melatih keterampilan siswa dalam mencari dan
menggali informasi dari kegiatan mengamati gambar dan mencermati teks
bacaan. Untuk mempertajam hasil pengamatan, siswa dibimbing untuk
menggaris bawahi informasi-informasi penting yang mereka temukan dalam
bacaan dan menuliskan secara rinci hasil pengamatan gambar yang
disajikan pada buku siswa.

Gambar 3.1 Contoh Objek Bacaan dan Gambar yang Diamati Siswa
Pengamatan gambar dapat dikembangkan dan dikaitkan dengan
pengetahuan awal dari siswa sehinga proses pembelajaran dapat lebih
menyenangkan dan membangkitkan rasa antusias siswa karena dapat
mengaitkan pengalaman belajarnya dengan kehidupan nyata. Gambar82

gambar yang diamati juga harus bervariasi dan dapat membangkitkan


keingintahuan anak sehingga dapat memancing anak untuk bertanya hal
hal yang ingin diketahui dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
2. Menanya
Kegiatan belajar menanya dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan
tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau
pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang
diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang
bersifat
hipotetik).
Kompetensi
yang
dikembangkan
adalah
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan
pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat
Istilah pertanyaan tidak selalu dalam bentuk kalimat tanya, melainkan
juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan
tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat
yang efektif? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimat efektif!
Dari kegiatan pengamatan yang dilakukan
sebelumnya, siswa dilatih keterampilannya
dalam bertanya secara kritis dan kreatif.
Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa
dengan memberikan beberapa pertanyaan
pancingan dan memberikan kesempatan
kepada
siswa
untuk
membuat
dan
merumuskan pertanyaan mereka sendiri.
a. Fungsi bertanya
1) Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik
tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
2) Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta
mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
3) Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan
rancangan untuk mencari solusinya.
4) Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan
pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
5) Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara,
mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis,
sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
6) Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen,
mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
7) Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima
pendapat
atau
gagasan,
memperkaya
kosakata,
serta
mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
8) Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap
dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
9) Melatih
kesantunan
dalam
berbicara
dan
membangkitkan
kemampuan berempati satu sama lain.
b. Kriteria pertanyaan yang baik
1) Singkat dan jelas
83

2)
3)
4)
5)
6)
7)

Menginspirasi jawaban
Memiliki fokus
Bersifat probing atau divergen
Bersifat validatif atau penguatan
Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang
Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif

8) Merangsang proses interaksi


c. Tingkatan Pertanyaan
Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk
memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Guru harus memahami
kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti
apa yang akan disentuh, mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih
tinggi. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang
lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 3.1 Tingkatan Pertanyaan Kognitif


Tingkata
n

Kognitif
yang
lebih
rendah

Kata-kata kunci pertanyaan

Subtingkatan
Pengetahuan
(knowledge)

Apa...
Siapa...
Kapan...
Di mana...
Sebutkan...
Jodohkan atau pasangkan...
Persamaan kata...
Golongkan...
Berilah nama...

Pemahaman
(comprehensio
n)

Terangkahlah...
Bedakanlah...
Terjemahkanlah...
Simpulkan...
Bandingkan...
Ubahlah...
Berikanlah interpretasi...

Penerapan
(application

Gunakanlah...
Tunjukkanlah...
Buatlah...
Demonstrasikanlah...
Carilah hubungan...
Tulislah contoh...
Siapkanlah...
Klasifikasikanlah...

84

Tingkata
n

Kognitif
yang
lebih
tinggi

Kata-kata kunci pertanyaan

Subtingkatan
Analisis
(analysis)

Analisislah...
Kemukakan bukti-bukti
Mengapa
Identifikasikan
Tunjukkanlah sebabnya
Berilah alasan-alasan

Sintesis
(synthesis)

Ramalkanlah
Bentuk
Ciptakanlah
Susunlah
Rancanglah...
Tulislah
Bagaimana kita dapat memecahkan
Apa yang terjadi seaindainya
Bagaimana kita dapat memperbaiki
Kembangkan

Evaluasi
(evaluation)

Berilah pendapat
Alternatif mana yang lebih baik
Setujukah anda
Kritiklah
Berilah alasan
Nilailah
Bandingkan
Bedakanlah

3. Mengumpulkan informasi/Eksperimen (Mencoba)


Mengumpulkan informasi/eksperimen kegiatan pembelajarannya antara lain
melakukan eksperimen; membaca sumber lain selain buku teks; mengamati
objek/kejadian/aktivitas; dan wawancara dengan narasumber. Kompetensi
yang dikembangkan dalam proses mengumpulkan informasi/ eksperimen
adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat
orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan
mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari,
mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau autentik, peserta didik
harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau
substansi yang sesuai. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses
untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu
menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar (1) Guru hendaknya
merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid, (2) Guru
bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan, (3) Perlu
85

memperhitungkan tempat dan waktu, (4) Guru menyediakan kertas kerja


untuk pengarahan kegiatan murid, (5) Guru membicarakan masalah yang
akan yang akan dijadikan eksperimen, (6) Membagi kertas kerja kepada
murid, (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8)
Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap
perlu didiskusikan secara klasikal.
Pada Tema 2 Subtema 2 PB 1, dari pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan
pada kegiatan sebelumnya, siswa dibimbing untuk mengumpulkan informasi
yang bisa mereka olah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
mereka miliki sebelumnya. Kegiatan pengumpulan informasi ini bisa
dilakukan melalui berbagai macam kegiatan yang berbeda, salah satunya
adalah dengan mencari jawaban/informasi dari nara sumber/responden.
Pada kegiatan yang dicontohkan pada buku siswa, siswa diminta untuk
melakukan sebuah kegiatan yang
berjudul Reporter Cilik.

Siswa dilatih keterampilannya dalam merumuskan pertanyaan wawancara


yang berkaitan dengan tujuan pencarian informasi. Penumbuhan
keterampilan ini difasilitasi dengan memberikan kesempatan bagi siswa
untuk menuliskan dan merumuskan pertanyaan yang akan mereka ajukan
dalam kegiatan wawancara tersebut.
4. Mengasosiasi/Mengolah informasi/Menalar
Kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses mengasosiasi/mengolah
informasi adalah sebagai berikut.
a. mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil
kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan
mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
b. Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah
keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang
bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat
yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
Kompetensi yang dikembangkan dalam proses mengasosiasi/mengolah
informasi adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan,
kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.
Dalam kegiatan mengasosiasi/mengolah informasi terdapat kegiatan
menalar. Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan
pendekatan ilmiah
yang
dianut dalam Kurikulum 2013 untuk
menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif.
Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih
aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan
sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk
memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penalaran
nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini merupakan
86

padanan dari associating; bukan merupakan terjemahan dari reasoning,


meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah
aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013
dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau
pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada
kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam
peristiwa untuk kemudian memasukkannya menjadi penggalan memori.
Bagaimana
aplikasinya
dalam
proses
pembelajaran?
Aplikasi
pengembangan aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar
peserta didik dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
1) Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap
sesuai dengan tuntutan kurikulum.
2) Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah.
Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan
disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara
simulasi.
3) Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis, dimulai
dari yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks
(persyaratan tinggi).
4) Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan
diamati
5) Setiap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki
6) Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan
dapat menjadi kebiasaan atau pelaziman.
7) Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau autentik.
8) Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan
memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.
Berikut contoh kegiatan menalar pada Tema 2 Subtema 2 PB 1:
Untuk memastikan bahwa kegiatan mencari informasi
ini dapat menghasilkan informasi dan pengetahuan
baru bagi siswa, maka guru membekali siswa dengan
sebuah penugasan membuat laporan reportase, di
mana hasil laporan ini bisa dijadikan sebagai salah
satu data/bukti penilaian autentik.
Pada tahap ini, siswa dibimbing dan dilatih untuk
mampu mencari hubungan antar pertanyaan yang
mereka ajukan dengan jawaban/informasi yang
mereka peroleh melalui kegiatan wawancara. Siswa
dilatih untuk mampu mengolah informasi-informasi
yang mereka dapatkan menjadi sebuah kesimpulan.

Pada tahapan mengolah informasi ini juga peserta didik sedapat mungkin
dikondisikan belajar secara kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif
kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar,
sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran
kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah pribadi, maka ia menyentuh
tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau
berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu,
peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan
87

menerima kekurangan atau kelebihan


masing-masing. Dengan cara semacam
ini akan tumbuh rasa aman sehingga
memungkinkan
peserta
didik
menghadapi aneka perubahan dan
tuntutan belajar secara bersama-sama.
Peserta didik secara bersama-sama,
saling bekerjasama, saling membantu
mengerjakan hasil tugas terkait dengan
materi yang sedang dipelajari.
5. Mengkomunikasikan
Kegiatan belajar mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil
pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis,
atau media lainnya.
Kompetesi yang dikembangkan dalam tahapan
mengkomunikasikan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,
kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat
dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan
benar.
Kegiatan menyimpulkan merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah,
bisa dilakukan bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau bisa juga
dengan dikerjakan sendiri setelah mendengarkan hasil kegiatan mengolah
informasi. Hasil tugas yang dikerjakan bersama dalam satu kelompok
kemudian dipresentasikan atau dilaporkan kepada guru dan teman sekelas.
Kegiatan ini sekaligus merupakan kesempatan bagi guru untuk melakukan
konfirmasi terhadap apa yang telah disimpulkan oleh siswa.
Hasil tugas yang telah dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat
juga disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai
salah satu bahan untuk portofolio kelompok dan atau individu, yang
sebelumnya dikonsultasikan terlebih dulu kepada guru. Pada tahapan ini
kendatipun tugas dikerjakan secara berkelompok, tetapi sebaiknya hasil
pencatatan dilakukan oleh masing-masing individu sehingga portofolio yang
dimasukkan ke dalam file atau map peserta didik terisi dari hasil
pekerjaannya sendiri secara individu.
B. Penerapan Model Pembelajaran dalam Pembelajaran Tematik
Terpadu
Contoh Penerapan Discovery Learning di SD Kelas V
Tema 6
: Organ Tubuh Manusia dan Hewan
Subtema 2 : Organ Manusia dan Hewan
Dalam kegitan belajar mengajar dengan tema Organ Tubuh Manusia
dan Hewan subtema Organ Manusia dan Hewan, KD IPA: 3.2 Mengenal
organ tubuh manusia dan hewan serta mendeskripsikan fungsinya, dan KD
bahasa Indonesia 3.2 Menguraikan isi teks penjelasan tentang proses daur
air, rangkaian listrik, sifat magnet, anggota tubuh (manusia, hewan,
tumbuhan) dan fungsinya, serta sistem pernapasan dengan bantuan guru
dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan
memilah kosakata baku, serta KD 4.2 Menyampaikan teks proses daur air,
88

rangkaian listrik, sifat magnet, anggota tubuh (manusia, hewan, tumbuhan)


dan fungsinya, serta sistem pernapasan secara mandiri dalam bahasa
Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku. Maka
untuk memahami KD tersebut dapat diterapkan model pembelajaran
Discovery Learning dipadukan dengan pendekatan saintifik seperti berikut
ini.
Media :
1. Ikan hidup.
2. Gambar berbagai jenis ikan, misalnya: ikan mas, ikan gumari, ikan koi,
ikan mujair, ikan nila, ikan hiu, ikan paus, ikan arwana.
3. Gambar organ tubuh ikan.
4. Teks Bacaan Organ Tubuh Manusia dan Hewan.
5. Video ikan.
Langkah-langkah Pembelajaran
Amatilah langkah-langkah operasional pembelajaran berbasis penemuan
(Discovery Learning) di bawah ini!

Berdasarkan gambar di atas, di bawah ini contoh aktivitas pembelajaran


pendekatan saintifik dipadukan dengan pembelajaran berbasis penemuan
(Discovery Learning).
Fase 1: Pemberian Rangsangan
a. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan guru mengkomunikasikan kepada
siswa tentang kegiatan yang akan dilakukan.
b. Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan penuntun tentang nama-nama hewan di sekitar
kita. Misalnya: Sebutkan nama-nama hewan di sekitar kita! Adakah yang
pernah melihat iguana? Adakah hewan lain yang bentuknya menyerupai
iguana? Adakah yang pernah melihat ikan? Sebutkan nama-nama ikan!
c. Siswa dihadapkan pada suatu permasalahan sederhana tentang organ
tubuh hewan yang ada di sekitar kita, misalnya ikan (lihat buku siswa
tema 6 subtema 2). Guru mengajukan pertanyaan penuntun:
bagaimanakah bentuk tubuh ikan? Apa sajakah nama-nama organ tubuh
ikan?
d. Guru menugasi siswa mengamati dan membaca teks laporan
sederhana tentang organ tubuh ikan (lihat buku siswa tema 6 subtema
2).
e. Guru membimbing siswa untuk dapat memahami isi teks bacaan.
Fase 2: Identifikasi Masalah

89

a. Guru mengajak siswa ke luar kelas untuk mengamati langsung ikan


hidup dan mencatat hal-hal penting tentang organ tubuh ikan secara
berkelompok
b. Siswa menyentuh langsung tubuh ikan sehingga menimbulkan rasa ingin
tahu dan mendapatkan pengetahuan baru tentang tubuh ikan.
c. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang ikan
hidup yang diamati: misalnya: nama ikan, ukuran ikan, berat ikan, warna
ikan.
d. Siswa dengan bantuan guru membedah ikan hidup untuk mengamati
organ tubuh ikan, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab.
e. Berdasarkan pengamatan langsung terhadap ikan, siswa secara
berkelompok mengidentifikasi nama-nama organ tubuh ikan dan
fungsinya, dan mencoba merumuskan jawaban sementara atas
pertanyaan permasalahan tentang nama-nama organ tubuh ikan dan
fungsinya, dan ditulis dalam table di bawah ini.
N
o.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama-nama Bagian Ikan

Fungsinya

7.
8.
f.

Siswa dengan bimbingan guru membuat catatan sederhana tentang hasil


pengamatannya dan hasil diskusi sesama teman dan guru.

Fase 3: Pengumpulan Data


a. Guru kembali membawa siswa ke dalam kelas untuk berdiskusi dalam
kelompok.
b. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk mengamati gambar
bagian-bagian tubuh ikan di bawah ini.

c. Siswa dengan bimbingan guru membuat catatan sederhana tentang


pengamatannya.
d. Secara berkelompok siswa mengumpulkan data dan informasi
sebanyak-banyaknya tentang nama-nama bagian tubuh hewan,
melalui mengamati gambar bagian-bagian tubuh ikan, membaca
literatur tentang nama-nama bagian ikan, atau mengadakan
wawancara.
90

Fase 4: Pengolahan Data


a. Siswa mengolah data tentang bagian-bagian tubuh ikan dalam kerja
kelompok, melalui pengisian tabel di bawah ini.

b. Siswa secara berkelompok berdiskusi untuk mengisi tabel di atas.


Fase 5: Pembuktian
a. Siswa berdiskusi untuk menemukan suatu konsep atau teori tentang
bagian-bagian tubuh ikan dan fungsinya, dihubungkan dengan hasil
pengolahan data pada fase 4.
b. Siswa memeriksa secara cermat tabel isian pada fase 2 dan
mengkonfirmasi dengan temuan yang dilakukan pada fase 5 ini.
Fase 6: menarik Kesimpulan
a. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan nama-nama bagian ikan
dan fungsinya berdasarkan isi teks yang dibaca dan hasil
pengamatannya.
b. Siswa melaporkan hasil temuannya dalam forum kelas .

91

LK- 3.1a
PERANCANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN DENGAN
PENDEKATAN SAINTIFIK
Langkah Kegiatan

1. Rancanglah suatu kegiatan pembelajaran tematik terpadu yang


menerapkan pendekatan saintifik dan tuliskan pada kolom yang
tersedia.
Tema

Subtema
Pembelajaran ke-

:
:

Tahapan Pembelajaran
Mengamati

Kegiatan

Menanya

Mengumpulkan
informasi/eksperimen

Mengasosiasikan/mengol
ah informasi
Mengkomunikasikan

92

LK- 3.1b
PERANCANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN DENGAN
MENERAPKAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Langkah Kegiatan

Rancanglah suatu kegiatan pembelajaran tematik terpadu yang


menerapkan salah satu model pembelajaran (Discovery Learning, Problem
Based Learning, Project Based Learning) dan tuliskan pada kolom yang
tersedia.
1. Model Discovery Learning
Tema

Subtema
Pembelajaran ke-

:
:

TAHAP PEMBELAJARAN
1 Stimulasi/Pemberian
rangsangan
(Stimulation)
2 Pernyataan/Identifikasi
Masalah (Problem
Statement)
3 Pengumpulan Data
(Data collection)
4

Pengolahan Data
(Data processing)

Pembuktian
(Verification)

Menarik kesimpulan/
generalisasi
(Generalization)

KEGIATAN PEMBELAJARAN

2. Model Problem Based Learning


Tema

Subtema
Pembelajaran ke-

:
:

TAHAPAN PEMBELAJARAN
1. Mengorientasikan siswa pada
masalah

KEGIATAN PEMBELAJARAN

93

TAHAPAN PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

2. Mengorganisasikan siswa untukk


mendefinisikan masalah
3. Membimbing penyelidikan
mandiri dan kelompok
4. Mengembangkan dan menyajikan
artefak (hasil karya) dan
memamerkannya
5. Menganalisis dan mengevaluasi
proses pemecahan masalah

3. Model Project Based Learning


Tema

Subtema
Pembelajaran ke-

:
:

1.

2.

TAHAPAN PEMBELAJARAN
Penentuan
pertanyaan mendasar

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Mendesain
perencanaan proyek

3.

Menyusun
jadwal

4.

Memonitor
peserta didik dan kemajuan
proyek
5.
Menilai hasil

6.

Mengevaluasi
pengalaman

7.

94

HO-3.2

3.2 PERANCANGAN PENILAIAN AUTENTIK PADA


PEMBELAJARAN
TEMATIK TERPADU
A. Penilaian Sikap
Kurikulum 2013 membagi kompetensi sikap menjadi dua, yaitu sikap
spiritual yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan
bertakwa, dan sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta didik
yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Sikap
spiritual sebagai perwujudan dari menguatnya interaksi vertikal dengan
Tuhan Yang
Maha Esa, sedangkan sikap sosial sebagai perwujudan
eksistensi kesadaran dalam upaya mewujudkan harmoni kehidupan.
Pada jenjang SD, kompetensi sikap spiritual mengacu pada KI-1: Menghargai
dan menghayati ajaran agama yang dianutnya, sedangkan kompetensi
sikap sosial mengacu pada KI-2: Menghargai dan menghayati perilaku jujur,
disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya
diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam
dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
Berdasarkan rumusan KI-1 dan KI-2 di atas, penilaian sikap pada jenjang SD
mencakup:
Penilaian sikap
spiritual

Tabel 3.1 Cakupan Penilaian Sikap


Menghargai dan menghayati ajaran agama yang
dianut

Penilaian sikap sosial

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jujur
Disiplin
Tanggung jawab
Toleransi
Gotong royong
Santun
Percaya diri

Penilaian sikap dilakukan secara tidak langsung melalui berbagai kegiatan


pembelajaran yang dilakukan. Sikap yang akan dinilai terdapat pada KD dari
KI 1 dan KI 2. Sikap tersebut tampak dari kegiatan pembelajaran yang
dirancang dari KD yang berasal dari KI 3 dan KI 4 yang berpasangan.
Misalnya, penilaian kegiatan pembelajaran mengamati gambar. Pada
kegiatan tersebut, guru dapat melakukan penilaian sikap ketika siswa
mengamati gambar. Sikap yang dinilai misalnya teliti. Selain sikap yang
timbul dalam kegiatan pembelajaran, guru juga dapat melakukan
penilaian sikap secara langsung, yang terdiri atas sikap spiritual dan
sikap sosial.

95

Rubrik Mengamati Gambar


Kompetensi yang dinilai :
- Pemahaman peserta didik tentang obyek/gambar yang diamati dikaitkan
dengan topik peran air dalam kehidupan
- Keterampilan peserta didik dalam menuliskan hasil pengamatan secara rinci
- Sikap kecermatan dan ketelitian peserta didik dalam mengamati
Baik Sekali

Baik

Cukup

Aspek
Isi dan
pengetahu
an

Sikap

Keterampil
an
mengomun
ikasikan
hasil

4
Hasil
pengamatan
gambar
ditulis lengkap
dan berisikan
pemahaman
peserta didik
tentang
materi. Hasil
pengamatan
mudah dibaca
dan dipahami.
Peserta didik
menambahkan
gambar untuk
melengkapi
hasil
pengamatan.
Teliti dan detail
dalam
mengamati
perbedaan
yang
terdapat pada
gambar.
Mampu
menandai
gambar dan
menambahkan
informasi
Penjelasan
mudah
dipahami,
pemilihan
kata sesuai
dengan bahasa
Indonesia baku.

Perlu
Bimbingan
1
Hasil
pengamatan
ditulis sedikitl
engkap dan
berisikan
pemahaman
peserta
didik tentang
materi.
Beberapa
bagian dari
materi
mudah
dipahami.

3
Hasil
pengamatan
ditulis
lengkap dan
berisikan
pemahaman
peserta
didik tentang
materi.
Keseluruhan
materi
mudah
dipahami.

2
Hasil
pengamatan
ditulis
cukup lengkap
dan berisikan
pemahaman
peserta didik
tentang materi.
Sebagian besar
materi mudah
dipahami.

Teliti dan detail


dalam
mengamati
perbedaan
yang terdapat
pada gambar.

Teliti dan detail


dalam
mengamati
sebagian
perbedaan yang
terdapat pada
gambar.

Teliti dan detail


mengamati
sebagian
gambar.

Penjelasan
mudah
dipahami,
pemilihan
beberapa kata
sesuai
dengan bahasa
Indonesia baku.

Penjelasan
kurang
dipahami,
pemilihan
beberapa kata
sesuai/tidak
sesuai
dengan bahasa
Indonesia baku.

Penjelasan
sulit dipahami,
pemilihan kata
tidak sesuai
dengan bahasa
Indonesia baku.

96

Teknik dan Bentuk Instrumen


Penilaian sikap dapat dilakukan menggunakan teknik observasi, penilaian
diri, penilaian antarteman, dan jurnal.
a.

Teknik Observasi
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan menggunakan instrumen yang berisi
sejumlah indikator perilaku yang diamati. Observasi langsung
dilaksanakan oleh guru secara langsung tanpa perantara orang lain.
Sedangkan observasi tidak langsung dengan bantuan orang lain, seperti
guru lain, orang tua, peserta didik, dan karyawan sekolah.
Bentuk instrumen yang digunakan untuk observasi adalah pedoman
observasi yang berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang
disertai rubrik. Daftar cek digunakan untuk mengamati ada tidaknya
suatu sikap atau perilaku. Sedangkan skala penilaian menentukan posisi
sikap atau perilaku peserta didik dalam suatu rentangan sikap. Pedoman
observasi secara umum memuat pernyataan sikap atau perilaku yang
diamati dan hasil pengamatan sikap atau perilaku sesuai kenyataan.
Pernyataan memuat sikap atau perilaku yang positif atau negatif sesuai
indikator penjabaran sikap dalam kompetensi inti dan kompetensi dasar.
Rentang skala hasil pengamatan antara lain berupa :
1) Selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah
2) Sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik
Pedoman observasi dilengkapi juga dengan rubrik dan petunjuk
penskoran. Rubrik memuat petunjuk/uraian dalam penilaian skala atau
daftar cek. Sedangkan petunjuk penskoran memuat cara memberikan
skor dan mengolah skor menjadi nilai akhir. Agar observasi lebih efektif
dan terarah hendaknya :
1) Dilakukan dengan tujuan jelas dan direncanakan sebelumnya.
Perencanaan mencakup indikator atau aspek yang akan diamati dari
suatu proses.
2) Menggunakan pedoman observasi berupa daftar cek atau skala
penilaian.
3) Pencatatan dilakukan selekas mungkin.
4) Kesimpulan dibuat setelah program observasi selesai dilaksanakan.
Untuk menjaga otentivitas dari teknik penilaian ini maka, observasi
hendaknya dilakukan di sepanjang proses kegiatan (mengacu pada
pemahaman bahwa KI1 dan KI 2 dititipkan pada kegiatan yang didesain
untuk mencapai KI 3 dan KI 4), oleh karena itu proses observasi sikap ini
tidak bisa dilakukan secara terpisah namun harus terintegrasi dengan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa dalam mencapai KI 3 dan KI 4.
Contoh instrumen beserta rubrik penilaian
Pedoman Observasi Sikap Spiritual
Petunjuk :
Lembaran ini diisi oleh guru untuk menilai sikap spiritual peserta didik.
Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai sikap spiritual yang
ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut :
97

4 = selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan


3 = sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadangkadang tidak melakukan
2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak
melakukan
1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan
Observasi Sikap Spiritual
Nama Peserta Didik
: .
Kelas
: .
Tanggal Pengamatan
: ..
Subtema
: ..
N
Aspek Pengamatan
o
1
1 Berdoa sebelum dan sesudah melakukan
sesuatu
2 Mengucapkan rasa syukur atas karunia
Tuhan
3 Memberi salam sebelum dan sesudah
menyampaikan pendapat/presentasi
4 Mengungkapakan kekaguman secara lisan
maupun tulisan terhadap Tuhan saat
melihat kebesaran Tuhan
5 Merasakan keberadaan dan kebesaran
Tuhan saat mempelajari ilmu pengetahuan
Jumlah Skor
Petunjuk Penskoran :
Skor akhir menggunakan skala 1 sampai 4

Skor
2

Observasi Sikap Santun


Nama Peserta Didik
Kelas
Tanggal Pengamatan
Subtema

: .
: .
: ..
: ..

No

Aspek Pengamatan

1
2

Menghormati orang yang lebih tua


Mengucapkan terima kasih setelah menerima
bantuan orang lain
Menggunakan bahasa santun saat
menyampaikan pendapat
Menggunakan bahasa santun saat mengkritik
pendapat teman
Bersikap 3S (salam, senyum, sapa) saat
bertemu orang lain
Jumlah Skor

3
4
5

98

Skor
1

b.

Penilaian Diri
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta
didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam
konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa
lembar penilaian diri menggunakan daftar cek atau skala penilaian
(rating scale) yang disertai rubrik.
Skala penilaian dapat disusun dalam bentuk skala Likert atau skala
semantic differential. Skala Likert adalah skala yang dapat dipergunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang mengenai suatu gejala atau fenomena. Sedangkan
skala semantic differential yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi
bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam
satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak
dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak di
bagian kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic
differential adalah data interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan
untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki
seseorang.
Contoh instrumen beserta rubrik penilaian
LEMBAR PENILAIAN DIRI SIKAP PERCAYA DIRI
Petunjuk :
Lembaran ini diisi oleh peserta didik sendiri untuk menilai sikap sosial
peserta didik dalam percaya diri. Berilah tanda cek (v) pada kolom
skor sesuai sikap percaya diri yang ditampilkan oleh peserta didik,
dengan kriteria sebagai berikut :
4 = selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan
3 = sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan
kadang-kadang tidak melakukan
2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan
sering tidak melakukan
1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan
Nama Peserta Didik
Kelas
Tanggal Pengamatan
Subtema
N
o
1
2

: .
: .
: ..
: ..

Aspek Pengamatan
Saya melakukan segala sesuatu tanpa
ragu-ragu
Saya berani mengambil keputusan secara
cepat dan bisa dipertanggungjawabkan
99

Skor
1

3
4
5

c.

Saya
Saya
yang
Saya

tidak mudah putus asa


berani menunjukkan kemampuan
dimiliki di depan orang banyak
berani mencoba hal-hal yang baru
Jumlah Skor

Penilaian Antar Peserta Didik


Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara
meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian
kompetensi. Instrumen yang digunakan untuk penilaian antarpeserta
didik adalah daftar cek dan skala penilaian (rating scale) dengan teknik
sosiometri berbasis kelas. Guru dapat menggunakan salah satu dari
keduanya atau menggunakan dua-duanya.
Contoh daftar cek penilaian antar peserta didik:
LEMBAR PENILAIAN ANTAR PESERTA DIDIK
Nama Peserta Didik
Kelas
:
Subtema
:
Tanggal

:
.
.
.
:
.

PETUNJUK
1. Bacalah pernyataan yang ada di dalam kolom dengan teliti
2. Berilah tanda cek () sesuai dengan sesuai dengan kondisi dan
keadaan kalian sehari-hari
N
o
1
2
3
4
5
d.

Dilakukan/munc
ul
YA
TIDAK

Perilaku
Mau menerima pendapat teman
Memaksa
teman
untuk
menerima
pendapatnya
Memberi solusi terhadap pendapat yang
bertentangan
Mau bekerjasama dengan semua teman
......................................
Jurnal

Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi
informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta
didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.
Kelebihan yang ada pada jurnal adalah peristiwa/kejadian dicatat dengan
segera. Dengan demikian, jurnal bersifat asli dan objektif dan dapat
digunakan untuk memahami peserta didik dengan lebih tepat.
Sementara itu, kelemahan yang ada pada jurnal adalah reliabilitas yang
dimiliki rendah, menuntut waktu yang banyak, perlu kesabaran dalam
100

menanti munculnya peristiwa sehingga dapat mengganggu perhatian


dan tugas guru, apabila pencatatan tidak dilakukan dengan segera,
maka objektivitasnya berkurang.
Terkait dengan pencatatan jurnal, maka guru perlu mengenal dan
memperhatikan perilaku peserta didik baik di dalam kelas maupun di luar
kelas. Aspek-aspek pengamatan ditentukan terlebih dahulu oleh guru
sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diajar. Aspek-aspek
pengamatan yang sudah ditentukan tersebut kemudian dikomunikasikan
terlebih dahulu dengan peserta didik di awal semester.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat jurnal adalah:
1) Catatan atas pengamatan guru harus objektif
2) Pengamatan dilaksanakan secara selektif, artinya yang dicatat
hanyalah kejadian/ peristiwa yang berkaitan dengan Kompetensi Inti.
3) Pencatatan segera dilakukan (jangan ditunda-tunda)
Pedoman umum penskoran jurnal:
1) Penskoran pada jurnal dapat dilakukan dengan menggunakan skala
likert. Sebagai contoh skala 1 sampai dengan 4.
2) Guru menentukan aspek-aspek yang akan diamati.
3) Pada masing-masing aspek, guru menentukan indikator yang diamati.
4) Setiap aspek yang sesuai dengan indikator yang muncul pada diri
peserta didik diberi skor 1, sedangkan yang tidak muncul diberi skor
0.
5) Jumlahkan skor pada masing-masing aspek.
6) Skor yang diperoleh pada masing-masing aspek kemudian direratakan
7) Nilai Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K) ditentukan
dengan cara menghitung rata-rata skor dan membandingkan dengan
kriteria penilaian
1) Model Pertama
Petunjuk pengisian jurnal (diisi oleh guru):
(a) Tulislah identitas peserta didik yang diamati
(b) Tulislah tanggal pengamatan.
(c) Tulislah aspek yang diamati oleh guru.
(d) Ceritakan kejadian-kejadian yang dialami oleh Peserta didik baik
yang merupakan kekuatan Peserta didik maupun kelemahan
Peserta didik sesuai dengan pengamatan guru terkait dengan
Kompetensi Inti.
(e) Tulislah dengan segera kejadian
(f) Setiap kejadian per anak ditulis pada kartu yang berbeda.
(g) Simpanlah kartu tersebut di Jurnal
dalam folder masing-masing Peserta
didik
Nama Peserta Didik
: .
Format:
Nomor
peserta Didik
: .
Tanggal
: .
Aspek yang diamati
: .
Kejadian
: .
Guru:
.
.
101
.

2) Model Kedua
Petunjuk pengisian jurnal (diisi oleh guru):
(a) Tulislah Aspek yang diamati
(b) Tulislah identitas peserta didik yang diamati
(c) Tulislah tanggal pengamatan.
(d) Tulislah aspek yang diamati oleh guru.
(e) Ceritakan kejadian-kejadian yang dialami oleh Peserta didik baik
yang merupakan kekuatan Peserta didik maupun kelemahan
Peserta didik sesuai dengan pengamatan guru terkait dengan
Kompetensi Inti.
(f) Tulislah dengan segera kejadian yang diamati
(g) Setiap kejadian per anak ditulis pada kartu yang berbeda.
(h) Simpanlah kartu tersebut di dalam folder masing-masing Peserta
didik
Contoh Format Jurnal
Nama Peserta Didik
Aspek yang diamati
NO

HARI/TANGGAL

Jurnal
: ..
: ..

KEJADIAN

KETERANGAN/
TINDAK LANJUT

B. Penilaian Pengetahuan
Aspek Pengetahuan dapat dinilai dengan cara berikut:
a. Tes tulis
Tes tulis adalah tes yang soal dan jawabannya tertulis berupa pilihan
ganda, isian, Benar-salah, menjodohkan, dan uraian.
b. Tes Lisan
Tes lisan berupa pertanyaan- pertanyaan yang diberikan guru secara
ucap (oral) sehingga peserta didik merespon pertanyaan tersebut
secara ucap juga, sehingga menimbulkan keberanian. Jawaban dapat
berupa kata, frase, kalimat maupun faragraf yang diucapkan.
c. Penugasan
102

Penugasan adalah penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang dapat


berupa pekerjaan rumah baik secara individu ataupun kelompok sesuai
dengan karakteristik tugasnya.
Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen
Teknik penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan dengan tes tulis, tes
lisan, dan penugasan. Tiap-tiap teknik tersebut dilakukan melalui instrumen
tertentu yang relevan. Teknik dan bentuk instrumen penilaian kompetensi
pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut:
Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Tes tulis
Pilihan ganda, isian, jawaban singkat,
benar-salah, menjodohkan, dan uraian.
Tes lisan
Daftar pertanyaan.
Penugasan
Pekerjaan rumah dan/atau tugas yang
dikerjakan secara individu atau kelompok
sesuai dengan karakteristik tugas.
Instrumen tes tulis uraian yang dikembangkan haruslah disertai kunci
jawaban dan pedoman penskoran. Pelaksanaan penilaian melalui penugasan
setidaknya memenuhi beberapa syarat, yaitu mengkomunikasikan tugas
yang dikerjakan oleh peserta didik, menyampaikan indikator dan rubrik
penilaian untuk tampilan tugas yang baik. Tampilan kualitas hasil tugas
yang diharapkan disampaikan secara jelas dan penugasan mencantumkan
rentang waktu pengerjaan tugas. Berikut ini akan disajikan contoh bentuk
instrumen terkait dengan teknik penilaian tes tulis, tes lisan, maupun
penugasan.
Tabel 3.2 Contoh Instrumen Penilaian Pengetahuan dengan Tes Tertulis
No.
1

Muatan
Pembelajar
an
PPKn

Indikator
Pencapaian
Kompetensi
3.6.1.
Mengidenti
fi kasi
keperluan
hidup
anggota
keluarga di
rumah

Teknik
Penilaian
Tertulis

103

Bentuk
Instrume
n
Pilihan
Ganda

Contoh Instrumen
Berikut ini adalah sikap
kita jika ada sebagian
masyarakat belum
terpenuhi kebutuhan fisik
di lingkungannya, kecuali:
a. Siti menjadi prakarsa
untuk mencari dana
bantuan kepada
masyarakat sebagai
usaha memperbaiki
jalan yang rusak
b. Udin mengumpulkan
dana bantuan
masyarakat sekitar
untuk membangun pos
ronda yang perlu
direnovasi .
c. Beni mengusulkan
kepada desa agar

No.

Muatan
Pembelajar
an

Indikator
Pencapaian
Kompetensi

Teknik
Penilaian

Bentuk
Instrume
n

Bahasa
Indonesia

3.1.1.
Menggali
informasi
dari bacaan
tentang
perubahan
wujud
benda yang
terjadi
karena
kegiatan
manusia

Tertulis

Uraian

Matematik
a

3.2.1.
menyelesai
kan soal
latihan
pecahan
biasa,
campuran,
desimal

Tertulis

Uraian

IPA

3.4.1.
Mendeskrip
sikan sifatsifat benda
padat, cair,

Tertulis

Isian

104

Contoh Instrumen
pemperbaiki jalan
menuju gang yang
rusak parah.
d. Dayu empati atas kerja
keras teman-temannya
dalam mengumpulkan
dana pembangunan
desa.
Kunci: d.
Tuliskan dengan singkat
proses terjadinya embun!
Jawaban alternatif:
Benda-benda menyerap
panas dari matahari pada
siang hari. Sebaliknya, di
malam hari benda-benda
kehilangan panas. Ketika
benda-benda di dekat
tanah menjadi dingin, suhu
udara di sekitarnya juga
berkurang. Udara yang
lebih dingin tidak dapat
menahan uap air sebanyak
udara yang lebih hangat.
Jika suhu udara bertambah
semakin dingin, akhirnya
udara akan mencapai titik
embun.
Nanda membeli bibit
tanaman kacang sebanyak
1 kg. Bibit tersebut akan
ditanam dalam kantongkantong plastik kecil.
Setiap 1/10 kg kacang
akan dimasukkan kedalam
20 kantong plastik.Berapa
banyak kantong plastik
yang dibutuhkan?
Kunci Jawaban :
(1: 1/10)x20 = n ;
n = 1 x 10 x 20 =200
Jadi yang dibutuhkan
kantong plastik yang
dibutuhkan Nanda adalah
200 buah.
Jika kita memasukkan es
batu ke dalam gelas yang
berisi air panas maka yang
akan terjadi adalah ...
Kunci Jawaban :

No.

Muatan
Pembelajar
an

IPS

SBdP

PJOK

Indikator
Pencapaian
Kompetensi
dan gas
3.1.1.
Mengenal
aktivitas
kehidupan
manusia
dan
perubahann
ya dalam
ruang di
bidang
sosial,
ekonomi,
pendidikan,
dan budaya
dalam
lingkup
nasional
3.4.1.
Mengenal
jenis-jenis
karya
kerajinan
dari
berbagai
daerah di
nusantara
3.1.1.
Menyebutk
an cara
melakukan
berbagai
keterampila
n untuk
berenang
dengan
benar

Bentuk
Instrume
n

Teknik
Penilaian
Tertulis

Jawab
Singkat

Tertulis

Isian

Tertulis

Uraian

Contoh Instrumen
es batu akan mencair
Bagaimana jika perburuan
liar terhadap hewan dan
tumbuhan dibiarkan?
Jawaban alternatif :
Dapat menyebabkan
kepunahan hewan dan
tumbuhan langka.

Sebutkanlah berbagai
karya kerajinan yang
dihasilkan dari daerah
tempat tinggalmu yakni.
Jawaban alternatif:
(Sesuaikan dengan daerah
masing-masing) di
antaranya : wayang golek,
topeng, dan mainan gasing
Bagaimana cara
pengenalan kita terhadap
air sebelum berenang ?
Jawaban alternatif:
Membasahi tubuh kita
dengan air
Mencelupkan kaki ke
dalam air
Menciprat-cipratkan air ke
dalam tubuh kita

Tabel 3.3 Contoh Instrumen Penilaian Pengetahuan dengan Tes Lisan


No.
1

Muatan
Pembelaj
aran
PPKn

Indikator
Pencapaian
Kompetensi
3.6.1.
Mengidenti
fi kasi
keperluan
hidup
anggota
keluarga di

Teknik
Penilaia
n
Lisan

Bentuk
Instrumen
Panduan
Pertanyaa
n

105

Contoh Instrumen
Coba sebutkan bagaimana
sikapmu jika ada sebagian
masyarakat belum
terpenuhi kebutuhan
nonfisiknya?
Jawaban alternatif:
Memberi contoh

No.

Muatan
Pembelaj
aran

Indikator
Pencapaian
Kompetensi
rumah

Teknik
Penilaia
n

Bentuk
Instrumen

Bahasa
Indonesia

3.1.1.
Menggali
informasi
dari bacaan
tentang
perubahan
wujud
benda yang
terjadi
karena
kegiatan
manusia

Lisan

Panduan
Pertanyaa
n

IPA

3.4.1.
Mendeskrip
sikan sifatsifat benda
padat, cair,
dan gas

Lisan

Panduan
Pertanyaa
n

IPS

3.1.1.
Mengenal
aktivitas
kehidupan
manusia
dan
perubahan
nya dalam

Lisan

Panduan
Pertanyaa
n

106

Contoh Instrumen
bagaimana cara hidup
bersih.
Memberi contoh
bagaimana cara
beribadah yang baik.
Coba ceritakan secara
singkat proses terjadinya
embun!
Jawaban alternatif:
Benda-benda menyerap
panas dari matahari pada
siang hari. Sebaliknya, di
malam hari benda-benda
kehilangan panas. Ketika
benda-benda di dekat
tanah menjadi dingin, suhu
udara di sekitarnya juga
berkurang. Udara yang
lebih dingin tidak dapat
menahan uap air sebanyak
udara yang lebih hangat.
Jika suhu udara bertambah
semakin dingin, akhirnya
udara akan mencapai titik
embun.
Pernahkah kamu
minum?
Jika pernah, alat apa
yang digunakan untuk
minum?
Mengapa bentuknya
selalu sama dengan alat
yang digunakan?
Jawaban alternatif :
Pernah
Gelas, cangkir, sendok,
dll
Karena bentuk air
menyesuaikan
tempatnya.
Apa yang terjdi jika adanya
pembakaran hutan?
Jawaban Alternatif :
Tumbuhandan hewan
akan punah
Asap pembakaran hutan
merusak pernapasan
Rusaknya ekosistem

No.

Muatan
Pembelaj
aran

Matemati
ka

SBdP

PJOK

Indikator
Pencapaian
Kompetensi
ruang di
bidang
sosial,
ekonomi,
pendidikan,
dan budaya
dalam
lingkup
nasional
3.2.1.
menyelesai
kan soal
latihan
pecahan
biasa,
campuran,
desimal
3.4.1.
Mengenal
jenis-jenis
karya
kerajinan
dari
berbagai
daerah di
nusantara

3.1.1.
Menyebutk
an cara
melakukan
berbagai
keterampila
n untuk
mengambil
posisi cara
berenang
yang baik.

Teknik
Penilaia
n

Bentuk
Instrumen

Contoh Instrumen
hutang dan
lingkungannya

Lisan

Panduan
Pertanyaa
n

Satu potong roti jika


dipotong menjadi 8 bagian
sama besar, maka
berapakan besar setiap
potongan?
Jawaban:
1/8

Lisan

Panduan
Pertanyaa
n

Lisan

Panduan
Pertanyaa
n

Apakah di daerah
tempat tinggalmu ada
karya kerajinan?
Kerajinan apa sajakah
yang dihasilkan?
Siapa yang membuat
kerajinan tersebut?
Jawaban alternatif:
(Sesuaikan dengan daerah
masing-masing)
Ada
Diantaranya : wayang
golek, topeng, dan
mainan gangsing.
Para pengrajin adalah
masyarakat yang sudah
biasa membuat
kerajinan secara turun
temurun
Apakah kamu sudah
pernah berenang di
kolam renang?
Jika sudah bagaimana
cara pengenalan kita
terhadap air sebelum
berenang ?
Jawaban alternatif:
Sudah pernah
Membasahi tubuh kita
dengan air
Mencelupkan kaki ke
dalam air

107

No.

Muatan
Pembelaj
aran

Indikator
Pencapaian
Kompetensi

Teknik
Penilaia
n

Bentuk
Instrumen

Contoh Instrumen
Menciprat-cipratkan air
ke dalam tubuh kita

Tabel 3.4 Contoh Instrumen Penilaian Pengetahuan dengan Penugasan


No.
1

Muatan
Pembelaj
aran
Bahasa
Indonesia

Indikator
Pencapaian
Kompetensi
4.7.1
Menyajikan
laporan
tentang
pentingnya
air dalam
kehidupan

Teknik
Penilaian

Bentuk
Instrumen

Penugas
an

Pekerjaan
Rumah

Contoh Instrumen

Amatilah penggunaan air


di rumah. Air digunakan
untuk apa saja? Berapa
banyak air yang
digunakan untuk aktivitas
sehari-hari di rumah?
(Dapat menggunakan
satuan
gayung/gelas/ember).
Sudahkah anggota
keluarga berhemat air di
rumah?
Tulis hasil pangamatan di
selembar kertas.

C. Penilaian Keterampilan
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut:
a. Unjuk kerja atau Praktik
Unjuk kerja atau praktik adalah suatu penilaian yang meminta siswa
untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang
mengaplikasikan pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan.
Misalnya tugas memainkan alat musik, menggunakan mikroskop,
menyanyi, bermain peran, menari.
Contoh Penilaian Praktik
Kelas/Semester : V/1
Tema/Subtema : Peristiwa dalam Kehidupan/Macam-macam Peristiwa
dalam
Kehidupan
Pembelajaran : 1
Format Penilaian Praktik:
dalam kehidupan
Aspek yang Dinilai

Menyajikan laporan tentang pentingnya air

Baik Sekali
(4)

Estetika
Bahasa
Substansi/Isi
108

Baik
(3)

Cukup
(2)

Perlu
Bimbinga
n (1)

Rekapitulasi Nilai:

109

Deskripsi:
- Pada saat menyajikan laporan tentang pentingnya air
dalam kehidupan, Beni memiliki gaya bahasa dan
kesesuaian dengan materi sangat baik. Beni masih perlu
bimbingan dalam penampilannya saat melaporkan.
- Pada saat menyajikan laporan tentang pentingnya air
dalam
kehidupan,
Dayu
memiliki
kemampuan
menyesuaikan materi dan isi dengan sangat baik. Dayu
masih perlu bimbingan dalam estetika dan gaya
bahasanya.
- Pada saat menyajikan laporan tentang pentingnya air
dalam kehidupan, Siti sudah memperhatikan estetika,
bahasa dan substansi dengan sangat baik.
b. Projek
Penilaian Projek merupakan penilaian terhadap tugas yang mengandung
investigasi dan harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas
tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan. Projek juga
akan memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan
siswa pada pembelajaran tertentu, kemampuan siswa dalam
mengaplikasikan
pengetahuan,
dan
kemampuan
siswa
untuk
mengkomunikasikan informasi.
Penilaian projek sangat dianjurkan karena membantu mengembangkan
keterampilan berpikir tinggi
(berpikir kritis, pemecahan masalah,
berpikir kreatif) peserta didik. Contoh projek misalnya membuat laporan
pemanfaatan energi di dalam kehidupan, membuat laporan hasil
pengamatan pertumbuhan tanaman.
Contoh Format Penilaian Projek.
Kelas/Semester : V / I
Tema
: Benda-benda di Lingkungan Sekitar
Subtema
: Wujud Benda dan Cirinya
Pembelajaran ke
:I
Rubrik Penilaian Projek
Indikator :
Membuat karya kerajinan dari bahan tali temali
Nama Projek : Membuat karya kerajinan dari bahan tali
temali
Nama siswa
: Beni
Kelas
:V
No.
Aspek
1
2
3
4
1
Perencanaan
a. Desain
b. Tahapan pembuatan
2.
Proses Pembuatan
a. Persiapan alat dan bahan.
V
b. Teknik pembuatan
V
c. Kebermaknaan
dan
V
110

No.
3

Aspek
kebersihan
Hasil/produk
a. Jenis karya
b. Keunikan
c. Keindahan

Keterangan:
Penilaian dilakukan melalui pengamatan untuk menilai aspek
keterampilan.
Skor 1: kurang; 2: cukup; 3: baik ; 4. Baik sekali
Deskripsi:
Dalam membuat karya anyaman, Beni memiliki perencanaan
yang baik. Dari segi persiapan alat dan bahan, tehnik
pembuatan, kebermaknaan dan kebersihan sudah baik sekali.
Dari segi jenis, keunikan, dan keindahan masih memerlukan
usaha dan bimbingan lebih lanjut.
c. Portofolio
Penilaian dengan memanfaatkan portofolio merupakan penilaian melalui
sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan
terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. Portofolio
digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau secara terus
menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik
dalam bidang tertentu. Dengan demikian penilaian portofolio
memberikan gambaran secara menyeluruh tentang proses dan
pencapaian hasil belajar peserta didik.
Portofolio merupakan bagian terpadu dari pembelajaran sehingga guru
mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan peserta didik
dalam menguasai kompetensi pada suatu tema. Misalnya kompetensi
pada tema selalu berhemat energi. Contoh kompetensi membuat
laporan hasil percobaan. Kemampuan membuat laporan hasil percobaan
tentu tidak seketika dikuasai peserta didik, tetapi membutuhkan proses
panjang, dimulai dari penulisan draf, perbaikan draf, sampai laporan
akhir yang siap disajikan. Selama proses ini diperlukan bimbingan guru
melalui catatan-catatan tentang karya peserta didik sebagai masukan
perbaikan lebih lanjut. Kumpulan karya anak sejak draf sampai laporan
akhir berserta catatan catatan sebagai masukan guru inilah, yang
menjadi portofolio.
Di samping memuat karya-karya anak beserta catatan guru, terkait
kompetensi membuat laporan hasil percobaan tersebut di atas, portofolio
juga bisa memuat catatan hasil penilaian diri dan teman sejawat tentang
kompetensi yang sama serta sikap dan perilaku sehari hari peserta didik
yang bersangkutan.
Agar penilaian portofolio berjalan efektif guru beserta peserta didik perlu
menentuan hal-hal yang harus dilakukan dalam menggunakan portofolio
sebagai berikut:
1) masing-masing peserta didik memiliki portofolio sendiri yang di
dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau
setiap kompetensi.
111

2) menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulan/disimpan.


3) sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang
berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang harus
dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan
sikap.
4) peserta didik dengan kesadaran sendiri menindaklanjuti catatan guru.
5) catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik
perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar
peserta didik dapat terlihat.
Contoh Format Penilaian Portofolio
Nama Siswa
: Dayu
Kelas
:V
Semester
: I (satu)
Substansi/
Bahasa
Estetika
Tanggal
Isi
dokume
Nama dokumen
n
1 2 3 4
1 2
3 4 1 2 3
Laporan secara lisan
V
V
proyek yang dihasilkan
Hasil tugas pekerjaan
rumah baik pribadi
V
V
maupun kelompok
Kliping berbagai
macam karya
V
V
kerajinan yang ada di
nusantara
Kumpulan foto
kegiatan yang
dilakukan sehari-hari
V
V
dalam melaksanakan
praktik
Laporan secara tertulis
V
V
proyek yang dihasilkan
Keterangan:
1: kurang; 2: cukup; 3: baik; 4: sekali
Portofolio berfungsi sebagai bukti autentik hasil belajar siswa
yang merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan hasil
capaian kompetensi siswa yang disampaikan kepada orang tua.
Guru memberi komentar/catatan tentang dokumen portofolio
yang telah dikumpulkan siswa dalam bentuk kalimat positif yang
berisi motivasi, semangat, juga usaha-usaha yang masih perlu
ditingkatkan. Komentar/catatan tersebut ditulis dan dimasukkan
dalam file portofolio setiap siswa.

Contoh komentar/catatan guru:


Ananda Dayu telah mengumpulkan karya yang sangat bagus.
Dari segi substansi/isi telah menunjukkan pemahaman tugas-tugas
dengan sangat baik. Demikian juga, dari segi estetika sangat rapi dan
112

4
V
V

bagus. Ananda Dayu masih perlu usaha untuk lebih tekun lagi
dalam memahami ejaan dan tata kalimat.

113

LK-3.2

PERANCANGAN INSTRUMEN
PENILAIAN SIKAP, PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN

Tema

: .............................................................

Subtema

: .....................................................................

Pembelajaran ke- :
A. Kompetensi Inti (KI):
KI 1 :
KI 2 :
KI 3 :
KI 4 :
B. Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator
Muatan Pelajaran 1
KD
Indikator
Muatan Pelajaran 2, dst
KD
Indikator
C. Tujuan Pembelajaran
....
D. Penilaian proses dan hasil belajar
1.
Penilaian Sikap
2.

Penilaian Pengetahuan

3.

Penilaian Keterampilan

114

HO-3.3

PELAPORAN HASIL PENILAIAN PEMBELAJARAN


A. Contoh Pengisian buku Rapor
Sesuai dengan Juknis yang telah dibuat oleh Direktorat Dikdasmen
maka contoh Rapor atau Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi
Peserta Didik Sekolah Dasar serta cara pengisiannya dapat dibaca
berikut ini:

LAPORAN
HASIL PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK
SEKOLAH DASAR
(SD)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


REPUBLIK INDONESIA

115

PETUNJUK
1. Buku Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik, merupakan
ringkasan hasil penilaian terhadap seluruh aktivitas pembelajaran
yang dilakukan peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Laporan
perkembangan dan hasil Pencapaian Kompetensi peserta didik secara
rinci, disajikan dalam portofolio yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Buku Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta
Didik ini.
2. Buku Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik
dipergunakan selama peserta didik yang bersangkutan mengikuti
pelajaran di Sekolah Dasar;
3. Apabila pindah sekolah, buku Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi
Peserta Didik ini dibawa oleh yang bersangkutan untuk dipergunakan
di sekolah baru dengan meninggalkan arsip/copy di sekolah lama;
4. Apabila buku Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik ini
hilang, dapat diganti dengan Buku Laporan Hasil Pencapaian
Kompetensi Peserta Didik pengganti yang disahkan oleh Kepala
Sekolah asal;
5. Buku Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik ini harus
dilengkapi dengan pas foto (3 cm x 4 cm) dan pengisiannya dilakukan
oleh Guru Kelas;
6. Laporan penilaian memuat hasil Pencapaian Kompetensi yang
disajikan secara deskriptif untuk masing-masing kompetensi inti.
7. Laporan perkembangan fisik diisi dengan data kondisi peserta didik
berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan guru bekerjasama
dengan pihak lain yang relevan.
8. Laporan kondisi kesehatan diisi dengan deskripsi hasil pemeriksaan
yang dilakukan guru, bekerjasama dengan tenaga kesehatan atau
puskesmas terdekat.
9. Kolom ketidakhadiran diisi dengan data akumulasi ketidakhadiran
siswa, baik karena sakit, izin, maupun tanpa keterangan dalam satu
semester.

116

IDENTITAS PESERTA DIDIK


1. Nama Peserta
: ..
Didik
2. Nomor Induk
: ..
3. Tempat,Tanggal
: ..
Lahir
4. Jenis Kelamin
: ..
5. Agama
: ..
6. Pendidikan
: ..
sebelumnya
7. Alamat Peserta
: ..
Didik
8. Nama Orang Tua
:
a. Ayah
: ..
b. Ibu
: ..
9. Pekerjaan Orang
:
Tua
a. Ayah
: ..
b. Ibu
: ..
10. Alamat Orang Tua
:
Jalan
: ..
Kelurahan/Desa
: ..
Kecamatan
: ..
Kabupaten/Kota
: ..
Provinsi
: ..
11. Wali Peserta Didik :
a. Nama
: ......................................................................................
.
b. Pekerjaan
: ......................................................................................
.
c. Alamat
: ......................................................................................
.
.,
.
Kepala Sekolah,
Pas Foto
ukuran
3 X 4 CM

.......................................
.........
NIP. ........................................

117

A. Petunjuk Pengisian Buku Rapor


Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia No 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan
menyebutkan bahwa hasil penilaian oleh pendidik dan satuan
pendidikan dilaporkan dalam bentuk nilai dan deskripsi pencapaian
kompetensi kepada orangtua dan Pemerintah.
Pada Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa laporan hasil
penilaian oleh pendidik berbentuk: (1) nilai dan/atau deskripsi
pencapaian kompetensi, untuk hasil penilaian kompetensi pengetahuan
dan keterampilan termasuk penilaian hasil pembelajaran tematikterpadu (2) deskripsi sikap, untuk hasil penilaian kompetensi sikap
spiritual dan sikap sosial (3) Penilaian oleh masing-masing pendidik
tersebut secara keseluruhan selanjutnya dilaporkan kepada orang
tua/wali peserta didik dalam bentuk Laporan Hasil Belajar Peserta Didik.
Pengembangan Laporan Hasil Belajar Peserta Didik pada dasarnya
merupakan
wewenang
sekolah.
Untuk
membantu
sekolah
mengembangkan Laporan Hasil Belajar Peserta Didik, Direktorat
Pembinaan Sekolah Dasar menyusun Buku Raport untuk SD beserta
Panduan Pengisian Laporan Hasil Belajar Peserta Didik.
Buku Petunjuk Teknis Pengisian Laporan Hasil Belajar Peserta Didik pada
jenjang Sekolah Dasar diharapkan dapat membantu sekolah dalam
mengisi format Laporan Hasil Belajar Peserta Didik sesuai dengan
Kurikulum 2013.
Penilaian oleh pendidik pada dasarnya digunakan untuk menilai
pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar untuk memperbaiki
proses pembelajaran, dan bahan penyusunan laporan kemajuan hasil
belajar peserta didik.
Proses pembelajaran dan penilaian difokuskan pada tiga ranah yaitu:
sikap, pengetahuan dan keterampilan. Pada kurikulum 2013 tiga ranah
tersebut dijabarkan menjadi empat kompetensi inti yaitu kompetensi inti
1 (satu) sikap spiritual, kompetensi inti 2 (dua) sikap sosial, kompetensi
inti 3 (tiga) pengetahuan, dan kompetensi inti 4 (empat) keterampilan.
A. Sikap
Pada kolom deskripsi diisi oleh guru dalam kalimat positif tentang:
1. Apa yang menonjol terkait dengan kemampuan pada aspek sikap
anak dalam tiap muatan pelajaran yang ada pada komptensi inti 1
dan 2 (KI-1 dan KI-2).
2. Usaha pengembangan kemampuan pada aspek sikap anak dalam
tiap muatan pelajaran untuk mencapai kompetensi inti 1 dan 2 (KI-1
dan KI-2) pada kelas yang diikutinya.
Pada aspek sikap, deskripsi menggambarkan prestasi siswa pada
muatan mata pelajaran pada kelas dan semester tertentu dari aspek
sikap.
Berikutnya dari deskripsi yang dituangkan guru juga menggambarkan
kompetensi-kompetensi yang masih perlu ditingkatkan dan perlu
mendapat perhatian guru dan orang tua, agar seorang siswa dapat
mencapai kompetensi secara optimal.
118

Deskripsi tersebut merupakan ringkasan dan intisari dari penilaian


yang sudah dilakukan oleh guru dengan berbagai alat penilaian
termasuk penilaian autentik setelah siswa mengikuti pembelajaran
dengan model pembelajaran proyek (project based learning),
penemuan (discovery learning), dan pemecahan masalah (problem
based learning). Disamping itu juga memanfaatkan portofolio dan
hasil observasi dan wawancara.

Contoh pengisian aspek: Sikap


Aspek
Menerima, menjalankan
ajaran agama yang
dianutnya

Menunjukkan perilaku
jujur, disiplin, tanggung
jawab, santun, peduli,
percaya diri, dalam
berinteraksi dengan
keluarga dan guru

Deskripsi
diisi oleh guru dalam kalimat positif
tentang apa yang menonjol terkait
dengan kempuan anak dalam tiap
muatan mata pelajaran, dan usahausaha apa yang perlu
dikembangkan untuk mencapai
kompetensi yang ditetapkan pada
kelas yang diikutinya
diisi oleh guru dalam kalimat positif
tentang apa yang menonjol terkait
dengan kempuan anak dalam tiap
muatan mata pelajaran, dan usahausaha apa yang perlu
dikembangkan untuk mencapai
kompetensi yang ditetapkan pada
kelas yang diikutinya

B. Pengetahuan
Pada kolom deskripsi diisi oleh guru dalam kalimat positif tentang:
1. Apa yang menonjol terkait dengan kemampuan pada aspek
pengetahuan anak dalam tiap muatan pelajaran yang ada pada
komptensi inti 3 (KI 3).
2. Usaha pengembangan kemampuan pada aspek pengetahuan
anak dalam tiap muatan pelajaran untuk mencapai kompetensi
inti 3 (KI 3) pada kelas yang diikutinya.
Pada aspek pengetahuan, deskripsi menggambarkan prestasi
siswa pada muatan mata pelajaran pada kelas dan semester
tertentu dari aspek pengetahuan.
Berikutnya dari deskripsi yang dituangkan guru juga
menggambarkan kompetensi-kompetensi yang masih perlu
ditingkatkan dan perlu mendapat perhatian guru dan orang tua,
agar seorang siswa dapat mencapai kompetensi secara
optimal.
Deskripsi tersebut merupakan ringkasan dan intisari dari
penilaian yang sudah dilakukan oleh guru dengan berbagai alat
119

penilaian termasuk penilaian autentik setelah siswa mengikuti


pembelajaran dengan model pembelajaran proyek (project
based learning), penemuan (discovery learning),
dan
pemecahan masalah (problem based learning). Di samping itu
juga memanfaatkan portofolio dan hasil penilaian yang
dilakukan melalui tes (ulangan harian, ulangan tengah
semester, ulangan akhir semester).
Contoh pengisian aspek: Pengetahuan Kelas I semester 1 (satu)
Aspek
Deskripsi
Mengingat dan memahami Mahir
menyebut
huruf-huruf
pengetahuan faktual dan
hijaiyyah secara lengkap, tetapi
konseptual berdasarkan
masih
perlu
bimbingan
untuk
rasa ingin tahu tentang:
harakatnya secara benar.
dirinya,
Menguasai benar simbol-simbol sila
makhluk ciptaan Tuhan
Pancasila.
dan kegiatannya
Mahir menyebut teks deskriptif
benda-benda lain di
tentang
anggota
tubuh
dan
sekitarnya
pancaindera
dengan
kosakata
bahasa Indonesia
Pandai membandingkan dengan
memperkirakan
panjang
suatu
benda dengan menggunakan istilah
sehari-hari.
Masih perlu latihan tentang pola
irama lagu bervariasi menggunakan
alat musik ritmik

C. Keterampilan
Pada kolom deskripsi diisi oleh guru dalam kalimat positif tentang:
1. Apa yang menonjol terkait dengan kemampuan pada aspek
keterampilan anak dalam tiap muatan pelajaran yang ada pada
komptensi inti 4 (KI-4).
2. Usaha pengembangan kemampuan pada aspek keterampilan
anak dalam tiap muatan pelajaran untuk mencapai kompetensi
inti 4 (KI-4) pada kelas yang diikutinya.
Pada aspek keterampilan, deskripsi menggambarkan prestasi
siswa pada muatan mata pelajaran pada kelas dan semester
tertentu dari aspek keterampilan.
Berikutnya
dari
deskripsi
yang
dituangkan
guru
juga
menggambarkan kompetensi-kompetensi yang masih perlu
ditingkatkan dan perlu mendapat perhatian guru dan orang tua,
agar seorang siswa dapat mencapai kompetensi secara optimal.
Deskripsi tersebut merupakan ringkasan dan intisari dari penilaian
yang sudah dilakukan oleh guru dengan berbagai alat penilaian
termasuk penilaian autentik setelah siswa mengikuti pembelajaran
dengan model pembelajaran proyek (project based learning),
penemuan (discovery learning),
dan pemecahan masalah

120

(problem based learning). Disamping itu juga memanfaatkan


portofolio dan hasil penilaian praktik dan proyek.
Contoh pengisian aspek: Keterampilan
Kelas I semester 1 (satu)
Aspek
Deskripsi
Menyajikan kemampuan
diisi oleh guru dalam kalimat positif
mengamati, menanya, dan
tentang apa yang menonjol terkait
mencoba dalam :
dengan kempuan anak dalam tiap
- bahasa yang jelas,logis,
muatan mata pelajaran, dan usahadan sistematis
usaha apa yang perlu dikembangkan
- karya yang estetis
untuk mencapai kompetensi yang
- gerakan anak sehat
ditetapkan pada kelas yang diikutinya
- tindakan anak beriman
dan berakhlak mulia
D. KOKURIKULER DAN EKSTRAKURIKULER
No.
Kegiatan
Deskripsi
Ekstrakurikuler
1. Pramuka
Diisi dengan kegiatan yang pernah
diikuti dan peranannya.
2. UKS

Diisi dengan kegiatan yang pernah


diikuti dan peranannya.

121

E. Perkembangan Fisik/Kesehatan

No
1
2

No
1.
2.
3.
4.

No

1. Perkembangan Fisik/Kesehatan
Aspek
Semester
Yang
Dinilai
1
2
Tinggi
Diisi sesuai hasil
Diisi sesuai hasil
pengukuran pada
pengukuran pada
semester 1
semester 2
Berat Badan Diisi sesuai hasil
Diisi sesuai hasil
pengukuran pada
pengukuran pada
semester 1
semester 2
2. Kondisi Kesehatan
Aspek Fisik
Keterangan
Pendengaran
Diisi sesuai hasil pemeriksaan
bekerjasama dengan tenaga
kesehatan/Puskesmas
Penglihatan
idem
Gigi
idem
Lainnya
idem
(diisi jika ada
aspek/kondisi
kesehatan
lainnya)
3. Catatan Prestasi
Jenis Prestasi
Keterangan
Diisi dengan jenis
Diisi dengan prestasi yang dicapai siswa
prestasi akademik
dalam kejuaraan dan perlombaan dengan
yang relevan, baik mencantumkan tingkat, waktu, dan tempat.
di tingkat kelas,
Dapat juga dicantumkan kelebihan atau halsekolah,
hal lain yang menonjol.
kabupaten/Kota
maupun yang
lebih tinggi.

122

RAMBU-RAMBU ULANGAN, UTS DAN UAS


PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU SD
A. Ulangan
Menurut Permendikbud No. 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Bab II Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa:
Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian
kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses
pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar
peserta didik.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka guru bisa melakukan ulangan
secara periodik. Ulangan dapat dilakukan setelah selesai 1 subtema (1
minggu).
Ulangan pada Akhir Subtema
ANALISIS KD PADA TEMA, SUBTEMA DAN PEMBELAJARAN
KELAS
TEMA
SUBTEMA 1
MUATAN
MAPEL
BHS INDO

PPKn

: V/semester 1
: Benda-benda di Lingkungan Sekitar (1)
: Wujud Benda dan Cirinya

KD
3.1
4.1
3.3
3.6
4.3

1
3.1
4.1

PEMBELAJARAN
2
3
4
5
3.1
3.1
3.1
3.1
4.1
4.1
4.1
4.1
3.6

3.2
4.1

KETR
6
3.1
4.1
3.3

3.6
4.3

4.6
3.2
4.1

4.6

4.6

3.2

3.2

4.8

4.8

MAT
4.8

SBDP

IPS

3.4
4.4
4.13
3.1
3.4
4.1

3.4
4.4
3.1

3.4

3.4

4.13

4.13

3.1
3.4

4.1

4.1

4.7
IPA
PJOK*)

3.4
4.7
3.1
3.2
4.1

LK
3.1

4.7
3.4
4.7
3.1

3.4
4.7
3.2

4.1
123

Perlu
ditambahkan
KD3.3 dan 4.3
pada pemetaan
subtema
Perlu
ditambahkan KD
4.8 pada
pemetaan
subtema

Perlu
ditambahkan KD
3.4 dan 4.7 pada
pemetaan
subtema

MUATAN
MAPEL

KD

PEMBELAJARAN
3
4

4.2

KETR
5
4.2

*) Evaluasi PJOK dilakukan oleh guru PJOK


Penilaian untuk ranah sikap dilakukan selama proses pembelajaran,
sedangkan untuk ranah pengetahuan dan keterampilan dalam kegiatan
belajar sehari-hari diperoleh dari latihan maupun penugasan. Untuk Ulangan
disiapkan kisi-kisi ulangan subtema 1 seperti contoh berikut:

KD

A.
3.1

B.
3.3
3.6
C.
3.2

D.
3.4

E.
3.1
3.4
F.
3.4

Kisi-kisi Ulangan Subtema 1


INDIKATOR
JUML
NO.
AH
SOAL
SOAL
BAHASA INDONESIA
3.1.1
6
1
3.1.2
2
3.1.3
3
3.1.4
4
3.1.5
5
3.1.6
6
PPKn
3.3.1
3
7
3.6.1
8
3.6.2
9
MATEMATIKA
3.2.1
3
10
3.2.2
11
3.2.3
12
SBDP
3.4.1
3
13
3.4.2
14
3.4.3
15
IPS
3.1.1
3
16
3.1.2
17
3.4.1
18
IPA
3.4.1
3
19
3.4.2
20
3.4.3
21

BENTUK
SOAL*)
Cara
penilaian
bisa tertulis
(PG, isian,
uraian) atau
lisan

Berdasarkan contoh kisi-kisi di atas maka distribusi soal ulangan harian


subtema 1 untuk ranah pengetahuan adalah sebagai berikut:
A. Untuk KD Bahasa Indonesia dengan nomor soal 1 6
B. Untuk KD PPKn dengan Nomor 7 9
124

C. Untuk KD Matematika dengan Nomor 10 12


D. Untuk KD SBDP dengan Nomor 13 15
E. Untuk KD IPS dengan nomor 16 18
F. Untuk KD IPA dengan nomor 19 21
*)Bentuk soal menyesuaikan, bisa pilihan ganda, isian maupun uraian.
Namun perlu diperhatikan dalam pengaturan soalnya. Jika dibuat lebih dari
satu model soal, maka dikelompokkan sesuai bentuk soal sehingga
memudahkan pemberian skor.
B. Ulangan Tengah Semester (UTS)
Ulangan tengah semester bisa dilakukan setelah 2 tema berlangsung.
Contoh persiapan UTS :
KELAS V TEMA 1 : BENDA-BENDA
DI LINGKUNGAN SEKITAR
Subtema Wujud Benda dan Cirinya
1
Subtema Perubahan Wujud Benda
2
Subtema Manusia dan Lingkungan
3

KELAS V TEMA 2 : PERISTIWA


DALAM KEHIDUPAN
Subtema
Macam-macam Peristiwa
1
dalam Kehidupan
Subtema
Peristiwa-Peristiwa Penting
2
Subtema
Manusia dan Peristiwa
3
Alam

Pemetaan KD pada Tema dan Subtema


TEMA 1
ST1
ST
ST
KD
KD
2
3
BI
BI
3.1
3.1
3.1
3.4
3.4
4.1
4.1
4.1
4.4
4.4
MAT
MAT
SBD
P

SBD
P

IPS

IPS

IPA

IPA

TEMA 2
ST
ST
ST
1
2
3

Pemetaan dilakukan pada semua muatan mapel yang diajarkan pada


subtema dan tema. Berdasarkan pemetaan tersebut, dibuatkan kisi-kisi soal
sesuai KD yang dipadukan. Proses penyusunan kisi-kisi sama dengan contoh
125

kisi-kisi ulangan, hanya pada UTS memuat 2 tema dan masing-masing tema
memuat 4 subtema.

126

C. Ulangan Akhir Semester (UAS)


Ulangan akhir semester dilakukan setelah semua tema pada semester
tersebut selesai dipelajari. Di kelas V terdapat 9 tema, ulangan akhir
semester I dilakukan setelah selesai mempelajari 5 tema. Ulangan akhir
semester 2 dilakukan setelah selesai mempelajari 4 tema.
Berikut ini adalah contoh format pemetaan KD muatan mapel untuk kelas
1 semester 2.
KD MUATAN
MAPEL
BI

TEMA
1

TEMA
2

TEMA
3

TEMA
4

PPKn

MAT

SBDP

Proses pemetaan dan penyusunan kisi-kisi UAS sama dengan proses


ulangan maupun UTS, hanya jumlah tema lebih banyak. Dengan demikian
guru memiliki data tentang komptensi yang telah dikuasai oleh siswa.
Pentingnya memiliki data komptensi dasar adalah untuk membantu guru
merumuskan nilai rapor, yang dideskripsikan adalah hal-hal yang
menonjol dan yang perlu ditingkatkan oleh siswa.
Penjadwalan UAS
Tujuan penilaian adalah mengetahui ketercapaian kompetensi yang telah
ditetapkan, sedangkan dalam pelaksanaan pembelajaran, guru sudah
memadukan berbagai mapel. Maka untuk UAS pihak sekolah bisa
menggunakan jadwal ulangan tema. Penggunaan jadwal tema
dimaksudkan agar memudahkan siswa dan orang tua dalam membantu
anaknya belajar dikarenakan bukunya disusun per-tema. Meskipun
demikian dalam penyusunan soal tema tersebut tetap bisa diidentifikasi
kompetensi-kompetensi muatan mata pelajaran yang akan diujikan pada
tema tersebut.
Contoh Distribusi Soal UAS
KODE

KD

TEMA 1

TEMA
127

TEMA

TEMA

A
B
C

BI
PPKn
MAT

SBDP

1 10 (7 soal)
8 13 (6 soal)
14 20 (7
soal)
29 30 (2
soal)

2
18
9 13
14
19
29
30

3
16
7 12
13
20
29
30

JUMAT

SABTU

AGAMA
MULOK

SBDP*)
PJOK**)

4
17
8 13
14
20
29
30

Contoh jadwal tema


SENIN

SELAS RABU
A
TEMA
TEMA
TEMA
1
2
3
*) praktik
**) teori dan praktik

KAMI
S
TEMA
4

Contoh data nilai pengetahuan yang diperoleh atas nama Siti adalah
sebagai berikut:
KD

TEMA TEMA TEMA


1
2
3
BAHASA INDONESIA
3.1
92
90
3.2
70
70
70
3.3
80
3.4
65
3.5
Dst ... (muatan mapel yang lain)

TEMA
4

RATARATA

94
65
85

92
70
80
65
85

Catatan : data diatas disusun guna membantu pemahaman guru untuk


menentukan Kompetensi yang akan dideskripsikan dalam rapor. Guru
mengisi nilai sesuai dengan perolehan kompetensi dari hasil pemetaan
tiap semester pada semua tema.
Ketuntasan Belajar ditentukan sebagai berikut :
Predikat
A
AB+
B
BC+
C
CD+

Pengetahuan
4
3.66
3.33
3.00
2.66
2.33
2
1.66
1.33
128

Nilai Kompetensi
Keterampilan
4
3.66
3.33
3.00
2.66
2.33
2
1.66
1.33

Sikap
SB
B
C
K

129

Nilai dengan skala 100 dikonversi menjadi skala 1-4 dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:

x=

Nilai Perolehan Siswa dalam skala100


x4
100

Contoh:
Nilai 65 jika dikonversi skala 1-4 menjadi

x=

65
x 4=2,60
100

Jika dibandingkan dengan tabel ketuntasan belajar di atas, maka 2,60 berada
pada predikat C+ (cukup).
Berdasarkan data rekap nilai pengetahuan, nilai Siti untuk kompetensi Bahasa
Indonesia KD 3.1 Menggali informasi dari teks laporan buku tentang makanan
dan rantai makanan, kesehatan manusia, keseimbangan ekosistem, serta alam
dan pengaruh kegiatan manusia dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa
Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku
mendapatkan nilai 92 (A-/sangat baik), sedangkan KD 3.4 Menggali informasi
dari teks pantun dan syair tentang bencana alam serta kehidupan berbangsa
dan bernegara dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan
dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku nilainya 65
(C+/cukup/perlu bimbingan), maka deskripsi rapor atas nama Siti adalah
sebagai berikut:
Kompetensi yang dinilai
Mengingat dan memahami
pengetahuan faktual dan
konseptual berdasarkan rasa
ingin tahu tentang:
dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya
benda-benda lain di sekitarnya

Deskripsi

Siti sangat menguasai teks laporan


buku tentang makanan dan rantai
makanan, kesehatan manusia,
keseimbangan ekosistem, serta
alam dan pengaruh kegiatan
manusia. Siti masih perlu
bimbingan untuk memahami teks
pantun dan syair dalam Bahasa
Indonesia lisan dan tulis.

130

LEMBAR KERJA

LK 3.3

PENGISIAN BUKU RAPOR SD

Tujuan : Peserta diklat mampu membuat laporan pencapaiah hasil


belajar peserta didik (rapor)
Petunjuk:
1. Kerjakan dalam kelompok yang beranggotakan 3-5 orang.
2. Petunjuk Latihan 1 dan 2:
a. Amatilah rekap nilai sikap pada masing-masing siswa.
b. Buatlah deskripsi pada hal-hal yang menonjol atau perlu usaha
pengembangan, berdasarkan rekap nilai ke dalam rapor
3. Petunjuk Latihan 3 :
a. Pahami cara melakukan pemetaan pada tema dan subtema.
b. Isilah format sesuai dengan pemetaan di buku guru.
c. Untuk berlatih gunakan salah satu muatan mapel, mulai dari
pemetaan, memberi nilai, sampai membuat rerata nilai.
d. Buatlah deskripsi pada hal-hal yang menonjol atau perlu usaha
pengembangan, berdasarkan rekap nilai ke dalam rapor
4. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasilnya dan ditanggapi
oleh kelompok lain.

5. Refleksi kegiatan.

131

LK
5.2

LATIHAN 1
DATA REKAP NILAI SIKAP SPIRITUAL*)
ASPEK YANG DINILAI / DIAMATI
NAMA
SISWA

Berdoa sebelum
Khusuk
Khusuk dalam
Beribadah
Perilaku
memulai
dalam
berdoa
tepat waktu
Bersyukur
aktivitas
Beribadah
1
SITI
4
4
4
4
3
3
3
3
3
4
3 4 2 2
3
3
3 3 3
3
2
UDIN
2
2
3
3
3
3
3
4
3
3
3 3 3 3
4
4
3 3 3
3
3
DAYU
3
3
3
3
4
3
3
4
3
3
3 3 3 3
3
3
3 2 3
2
*) Rekap nilai sikap spiritual merupakan rekap dari 4/5 tema pada masing-masing aspek yang diakumulasi selama 1
semester. Penentuan nilai berdasarkan rubrik
NO

NILAI RAPOR SIKAP SPIRITUAL : SITI


DESKRIPSI

ASPEK YANG DINILAI

Menerima, menjalankan, dan


menghargai ajaran agama yang
dianutnya.

132

LATIHAN 2
DATA REKAP NILAI SIKAP SOSIAL**)

NO

ASPEK YANG DINILAI / DIAMATI

NAMA

Tanggung
Jujur
jawab
1
SITI
3 2 2 3 3 3 3 4
2
UDIN
2 2 3 2 3 3 3 4
3
DAYU
3 3 3 3 4 3 3 4
**) Rekap nilai sikap sosial merupakan rekap
Penentuan nilai berdasarkan rubrik
SISWA

Peduli
3
3
2
dari

3
3
2
4/5

Kerjasama

3 4 3 3
3 3 3 3
2 3 3 3
tema pada

Santun

4 4 3 3 3 3
3 3 4 3 4 4
3 3 3 3 3 3
masing-masing aspek

Percaya
diri
4 4 4 4 4
3 3 4 3 2
4 4 4 4 3
yang diakumulasi

NILAI RAPOR SIKAP SOSIAL : SITI


DESKRIPSI

ASPEK YANG DINILAI

Menunjukkan perilaku jujur,


disiplin, tanggung jawab,
santun, peduli, dan percaya diri
dalam berinteraksi dengan
keluarga, teman, guru, dan
tetangganya

LATIHAN 3
PEMETAAN KD PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PADA TEMA KELAS V

133

Disipli
n
4 4 4
2 2 3
4 3 4
selama 1 semester.

TEMA 1
KD

ST
ST
2
3
BAHASA INDONESIA

PPKn

ST 1

KD
ST
4

TEMA 2

ST
ST
ST
1
2
3
BAHASA INDONESIA

PPKn

134

K
D
ST
4

TEMA 3

KD

TEMA 4

ST
ST
ST
ST
1
2
3
4
BAHASA INDONESIA

ST
ST
ST
1
2
3
BAHASA INDONESIA

PPKn

PPKn

ST
4

NAMA SISWA : SITI KELAS V SEMESTER 1


DATA REKAP NILAI PENGETAHUAN
KD
MUATAN
MAPEL

TEM
A1

TEM
A2

TEM
A3

TEMA
4

Bahasa Indonesia

TEMA
5

DATA REKAP NILAI KETERAMPILAN


NILAI
RATARATA

KD
MUATAN
MAPEL

TEMA
1

TEMA
2

TEMA
3

TEM
A4

TEMA
5

NILAI
RATARATA

Bahasa Indonesia

PPKn

PPKn

Matematika

Matematika

Catatan: Rekap nilai pengetahuan diperoleh dari hasil rata-rata dari nilai tes (ulangan, UTS dan UAS) serta
penugasan.
Rekap nilai keterampilan diperoleh dari hasil rata-rata dari nilai praktik/unjuk kerja, proyek dan portofolio

135

NILAI RAPOR PENGETAHUAN: SITI


Kompetensi yang dinilai

Deskripsi

Mengingat dan memahami


pengetahuan faktual dan konseptual
berdasarkan rasa ingin tahu tentang:
dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya
benda-benda lain di sekitarnya

NILAI RAPOR KETERAMPILAN : SITI


Kompetensi yang dinilai

Deskripsi

Menyajikan kemampuan
mengamati,menanya, dan mencoba
dalam:
bahasa yang jelas, logis dan sistematis
karya yang estetis
gerakan anak sehat
tindakan anak beriman dan berakhlak
mulia

136

MATERI PELATIHAN 4

PRAKTIK PEMBELAJARAN
TERBIMBING
4.1 ANALISIS VIDEO PEMBELAJARAN
4.2 PENYUSUNAN RPP
4.3 PEER TEACHING

137

LK-4.1

ANALISIS VIDEO PEMBELAJARAN


Kompetensi

Mampu menganalisis
menerapkan pendekatan

pelaksanaan
saintifik.

pembelajaran

yang

Tujuan Kegiatan :
Dengan mengamati tayangan video pembelajaran,
peserta mampu menganalisis pelaksanaan pembelajaran
dengan pendekatan saintifik.
Langkah-langkah Kegiatan:
1. Amatilah secara seksama proses pelakasanaan pembelajaran yang dilakukan
oleh guru model dalam video pembelajaran!
2. Berikan tanda centang () pada kolom pilihan Ya atau Tidak sesuai dengan
kesesuaian dan ketersediaan setiap aspek!
3. Pada kolom kesimpulan hasil analisis video, berikan catatan khusus atau saran
perbaikan pelaksanaan pembelajaran!
4. Presentasikan hasil analisis tayangan video yang Anda lakukan!
5. Gunakan hasil diskusi untuk bahan pertimbangan dalam penyusunan RPP dan
Peer-Teaching!

138

FORMAT PENGAMATAN VIDEO PEMBELAJARAN


Tema
: ................................................................................
Subtema
: ................................................................................
Pembelajaran ke: ................................................................................
Aspek yang Diamati
Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi dan Motivasi
1
Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dengan
menyapa dan memberi salam
2
Mengaitkan materi pembelajaran sekarang
dengan pengalaman peserta didik atau
pembelajaran sebelumnya
3
Mengajukan pertanyaan menantang untuk
memotivasi
4
Menyampaikan manfaat materi pembelajaran
5
Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan
materi pembelajaran
Penyampaian kompetensi dan rencana kegiatan
1
Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai
peserta didik
2
Menyampaikan rencana kegiatan misalnya,
individual, kerja kelompok, dan melakukan
observasi.
Kegiatan Inti
Penguasaan materi pembelajaran
1
Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan
pembelajaran.
2
Kemampuan mengkaitkan materi dengan
pengetahuan lain yang relevan, perkembangan
Iptek , dan kehidupan nyata.
3
Menyajikan pembahasan materi pembelajaran
dengan tepat.
4
Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke
sulit, dari konkrit ke abstrak)
Penerapan strategi pembelajaran yang mendidik
1
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
kompetensi yang akan dicapai
2
Melaksanakan pembelajaran secara runtut
3
Menguasai kelas
4
Melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan
partisipasi aktif peserta didik dalam mengajukan
pertanyaan
5
Melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan
partisipasi aktif peserta didik dalam
mengemukakan pendapat
6
Melaksanakan pembelajaran yang
mengembangkan keterampilan peserta didik
sesuai dengan materi ajar
139

Ya

Tid
ak

Catatan

Aspek yang Diamati


7

Melaksanakan pembelajaran yang bersifat


kontekstual

Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan


tumbuhnya kebiasaan dan sikap positif (nurturant
effect)
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
alokasi waktu yang direncanakan

Penerapan Pendekatan Saintifik


1

Memfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi


peserta didik untuk mengamati
2
Memancing peserta didik untuk bertanyaapa,
mengapa dan bagaimana
3
menfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi
peserta didik untuk mengumpulkan informasi
4
Memfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi
peserta didik untuk mengasosiasikan data dan
informasi yang dikumpulkan
5
Menfasilitasi dan menyajikan kegiatan bagi
peserta didik untuk mengkomunikasikan
pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya
Pelaksanaan Penilaian Autentik
1
Melaksanakan penilaian sikap
2

Melaksanakan penilaian pengetahuan

Melaksanakan penilaian keterampilan

Mengacu pada penilaian proses dan hasil

Memberikan pedoman kriteria penilaian

Pelibatan peserta didik dalam pembelajaran


1
Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik
melalui interaksi guru, peserta didik, sumber
belajar
2
Merespon positif partisipasi peserta didik
3
Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons
peserta didik
4
Menunjukkan hubungan antar pribadi yang
kondusif
5
Menumbuhkan keceriaan atau antusiasme peserta
didik dalam belajar
Pemanfaatan sumber belajar/media dalam
pembelajaran
1
Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan
sumber belajar yang bervariasi
2
Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan
media pembelajaran
3

Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan


sumber belajar pembelajaran
140

Ya

Tid
ak

Catatan

Aspek yang Diamati


4
5

Ya

Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan


media pembelajaran
Menghasilkan pesan yang menarik

Penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam


pembelajaran
1
Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar
2

Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar

Kegiatan Penutup
Penutup pembelajaran
1
Menfasilitasi dan membimbing peserta didik untuk
merangkum materi pelajaran
2
3
4
5

Menfasilitasi dan membimbing peserta didik


untuk merefleksi proses dan materi pelajaran
Memberikan tes lisan atau tulisan
Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan
portofolio
Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan
arahan kegiatan berikutnya dan tugas
pengayaan
Jumlah
Kesimpulan Hasil Analisis Video

141

Tid
ak

Catatan

HO-4.2

PANDUAN PENYUSUNAN RPP JENJANG SD


A. HAKIKAT RPP
Menurut Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap
muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk
mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai
Kompetensi Dasar.
Selanjutnya menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 Lampiran IV tentang
Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran (Kemdikbud, 2013: 37)
tahapan pertama dalam pembelajaran menurut Standar Proses adalah
perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP adalah rencana pembelajaran
yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu
yang mengacu pada silabus.
Sementara itu menurut Panduan Teknis Penyusunan RPP di SD (Kemdikbud,
2013: 9) RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu
pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok
atau tema tertentu yang mengacu pada silabus untuk mengarahkan kegiatan
pembelajaran siswa dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).
Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara
lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi siswa untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis siswa. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang
dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.
Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun
pelajaran dengan maksud agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap
awal pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru
secara individu maupun berkelompok dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) di gugus
sekolah, di bawah koordinasi dan supervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan.
Kurikulum 2013 untuk SD menggunakan pendekatan pembelajaran Tematik
Terpadu dari kelas I sampai kelas VI.
Kurikulum 2013
SD
melaksanakan pembelajaran
Tematik Terpadu dan
prosesnya menerapkan pendekatan saintifik. Penerapan pembelajaran Tematik
Terpadu dengan pendekatan saintifik membawa implikasi perubahan dalam
pembelajaran di SD. Perubahan itu mengakibatkan perubahan pada perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, sistem penilaian, buku siswa, buku
guru, program remedial serta pengayaan, dan sebagainya.
Panduan penyusunan RPP ini diperlukan agar semua pemangku kepentingan
pendidikan dasar memiliki persepsi yang sama dalam pelaksanakan Kurikulum
2013 SD, khususnya perencanaan pembelajaran. Hal ini sangat mendukung
proses dan hasil pembelajaran.
B. Prinsip-prinsip Pengembangan RPP
Berbagai prinsip dalam menyusun RPP adalah sebagai berikut.
142

1. RPP disusun guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan
silabus yang telah dikembangkan pada tingkat nasional ke dalam bentuk
rancangan proses pembelajaran untuk direalisasikan dalam pembelajaran.
2. RPP dikembangkan guru dengan menyesuaikan apa yag dinyatakan dalam
silabus dengan kondisi pada satuan pendidikan baik kemampuan awal
peserta didik, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan emosi,
maupun gaya belajar.
3. RPP mendorong partisipasi aktif peserta didik.
4. RPP sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013 untuk menghasilkan peserta didik
sebagai manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar, proses pembelajaran
dalam RPP dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk
mengembangkan motivasi, minat, rasa ingin tahu, kreativitas, inisiatif,
inspirasi, kemandirian, semangat belajar, keterampilan belajar, dan
kebiasaan belajar.
5. RPP mengembangkan budaya membaca dan menulis.
6. Proses pembelajaran dalam RPP dirancang untuk mengembangkan
kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam
berbagai bentuk tulisan.
7. RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan,
pengayaan, remedi, dan umpan balik.
8. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI
dan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber
belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan
mengakomodasi pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran
untuk sikap dan keterampilan, dan keragaman budaya.
9. RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan
komunikasikan secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan
situasi dan kondisi.
C. KOMPONEN DAN SISTEMATIKA RPP
Menurut Permendikbud No 81 A Tahun 2013 Lampiran IV tentang Implementasi
Kurikulum Pedoman Pembelajaran (Kemdikbud, 2013: 38) RPP paling sedikit
memuat: (i) tujuan pembelajaran, (ii) materi pembelajaran, (iii) metode
pembelajaran, (iv) sumber belajar, dan (v) penilaian. Komponen-komponen
tersebut secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini.

143

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Satuan Pendidikan
:
Kelas/Semester :
Tema/Subtema/PB
:
Alokasi Waktu
:
A. Kompetensi Inti (KI)
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
1. -------------------------- (KD pada KI-1)
2. -------------------------- (KD pada KI-2)
3. -------------------------- (KD pada KI-3)
Indikator:-------------------------------4. -------------------------- (KD pada KI-4)
Indikator: ------------------------------KD-1 dan KD-2 dari KI1 dan KI2 tidak harus dikembangkan dalam indikator
karena keduanya dicapai melalui proses pembelajaran yang tidak langsung.
Indikator dikembangkan hanya untuk KD-3 dan KD-4 yang dicapai melalui
proses
pembelajaran
langsung.
C. Tujuan
Pembelajaran
D. Materi Pembelajaran (Rincian dari materi pembelajaran)
E. Metode Pembelajaran (Rincian dari Kegiatan Pembelajaran)
F. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
1. Media
2. Alat/ Bahan
3. Sumber Belajar
G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Kesatu:
a. Pendahuluan (.menit)
b. Inti (menit)
c. Penutup (.. menit)
2. Pertemuan Kedua:
a. Pendahuluan
b. Inti (menit)
c. Penutup (..menit)
H. Penilaian
1. Jenis/ Teknik Penilaian
2. Bentuk Instrumen dan Instrumen
3. Pedoman Penskoran

Komponen-komponen RPP
1. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan.
2. Identitas tema/subtema.
3. Kelas/semester.
4. Materi pokok.

144

5.

Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD


dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran
yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai.
6. Kompetensi Inti (KI), merupakan gambaran secara kategorial mengenai
kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus
dipelajari siswa untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan matapelajaran.
7. Kompetensi Dasar dan Indikator pencapaian kompetensi.
a. Kompetensi Dasar; merupakan kemampuan spesifik yang mencakup
sikap,
pengetahuan,
dan
keterampilan
yang
terkait
muatan
pelajaran;
b. Indikator pencapaian merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar
yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
c. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa, satuan
pendidikan, dan potensi daerah. Indikator digunakan sebagai dasar untuk
menyusun alat penilaian. Dalam merumuskan indikator perlu
memperhatikan beberapa hal di bawah ini.
1) Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang
dalam kata kerja yang digunakan dalam KI-KD.
2) Indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana
ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkrit ke abstrak (bukan
sebaliknya).
3) Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat
dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi
dan kebutuhan siswa.
4) Indikator harus menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.
8. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati
dan diukur,
yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan dapat
diorganisasikan mencakup seluruh KD atau diorganisasikan setiap pertemuan.
Tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan baik mulai dengan menyebut
Audience peserta didik untuk siapa tujuan itu dimaksudkan. Tujuan itu
kemudian mencantumkan
Behavior atau kemampuan yang harus
didemonstarsikan dan Condition seperti apa perilaku atau kemampuan yang
akan diamati. Akhirnya, tujuan itu mencantumkan Degree keterampilan baru
itu harus dicapai dan diukur, yaitu dengan standar seperti apa kemampuan itu
dapat dinilai.
9. Materi pembelajaran adalah rincian dari materi pokok yang memuat fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk
butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi.
10.Metode pembelajaran merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran,
digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan
karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai.
11.Media, Alat dan Sumber Pembelajaran
a. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran.
b. Alat pembelajaran adalah alat bantu pembelajaran yang memudahkan
memberikan pengertian kepada siswa.
c. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam
sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan.
12. Langkah langkah Kegiatan Pembelajaran, mencakup:
145

a. Pertemuan pertama, berisi pendahuluan; kegiatan Inti, dan penutup.


b. Pertemuan kedua, berisi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
13.Penilaian
a. Berisi jenis/teknik penilaian.
b. Bentuk instrumen.
c. Pedoman perskoran.

146

D. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN RPP


Menurut Panduan Teknis Penyusunan RPP di SD (Kemdikbud, 2013: 12)
pengembangan RPP
disusun
dengan mengakomodasikan
pembelajaran
tematik atau disebut dengan RPP Tematik. Penyusunan RPP Tematik idealnya
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (1) menentukan tema yang akan
dikaji bersama siswa; (2) memetakan KD-KD dan indikator yang akan dicapai
dalam tema-tema yang telah disepakati; (3) menetapkan jaringan tema; (4)
menyusun Silabus Tematik; dan (5) menyusun RPP pembelajaran tematik.
Dalam implementasi Kurikulum 2013, tema tidak dinegosiasikan dengan siswa,
tetapi sudah ditetapkan oleh pemerintah yang termuat dalam silabus tematik,
buku guru, dan buku siswa telah disediakan oleh pemerintah. Untuk keperluan
penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu di kelas, guru dapat mengembangkan
RPP Tematik dengan memperhatikan silabus tematik, buku guru, dan buku siswa
yang telah tersedia serta mengacu pada format dan sistematika RPP yang
berlaku. RPP tematik adalah rencana pembelajaran tematik terpadu yang
dikembangkan secara rinci dari suatu tema dengan tahapan sebagai berikut.
1. Mengkaji Silabus Tematik
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema
tertentu dalam pelaksanaan kurikulum SD. Komponen silabus mencakup:
kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus berfungsi
sebagai rujukan bagi guru dalam penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). Pada Kurikulum 2013, silabus tematik telah disiapkan
oleh pemerintah, guru tinggal menggunakan sebagai dasar penyusunan RPP.
Guru memilih kegiatan-kegiatan pembelajaran
yang sesuai dengan
tema/subtema yang akan dilaksanakan pada satu pertemuan atau lebih.
Kegiatan yang dipilih harus mencakup kegiatan pembelajaran sesuai dengan
standar proses (Kemdikbud, 2013:12-13).
Secara umum, untuk setiap materi pokok pada setiap silabus terdapat 4 KD
sesuai dengan aspek KI (sikap kepada Tuhan, diri sendiri dan terhadap
lingkungan, pengetahuan, dan keterampilan). Untuk mencapai 4 KD tersebut,
di dalam silabus dirumuskan kegiatan peserta didik secara umum dalam
pembelajaran berdasarkan standar proses. Kegiatan peserta didik ini
merupakan rincian dari eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, yakni:
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/ mengolah
informasi, dan mengkomunikasikan. Kegiatan inilah yang harus dirinci lebih
lanjut di dalam RPP, dalam bentuk langkah-langkah yang dilakukan guru
dalam pembelajaran yang membuat peserta didik aktif belajar. Pengkajian
terhadap silabus juga meliputi perumusan indikator KD dan penilaiannya.
2. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD
dengan mempertimbangkan: (a) potensi peserta didik; (b) relevansi denga
karakteristik daerah; (c) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional,
sosial dan spiritual peserta didik; (d) kebermanfaatan bagi peserta didik; (e)
struktur keilmuan; (f) aktualisasi, kedalaman, dan keluasaan materi
pembelajaran; (g) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan
lingkungan; dan (h) alokasi waktu. Kegiatan
mengidentifikasi materi
pembelajaran dilakukan dengan mengkaji buku guru dan buku siswa untuk
SD.
a. Mengkaji Buku Guru SD
147

Buku guru SD berisi hal-hal berikut ini.


1) Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kompetensi Inti (KI).
2) Pemetaan Kompetensi Dasar (KD) 1 dan 2 serta KD 3 dan 4.
3) Ruang lingkup pembelajaran untuk satu subtema yang terdiri dari 6
pembelajaran dalam 1 minggu (untuk kelas I).
4) Pemetaan indikator pembelajaran untuk setiap pembelajaran.
5) Setiap pembelajaran berisi tentang uraian kegiatan pembelajaran
yang mencakup:
a) Nama kegiatan;
b) Tujuan pembelajaran;
c) Media dan alat pembelajaran;
d) Langkah-langkah kegiatan; dan
e) Penilaian.
6) Setiap akhir pembelajaran, guru hendaknya melakukan kegiatan
refleksi untuk melakukan kegiatan remedial dan pengayaan.
b. Mengkaji Buku Siswa SD
Buku Seri Pembelajaran Tematik Terpadu untuk siswa disusun mengacu
pada kurikulum berbasis kompetensi. Buku siswa memuat rencana
pembelajaran berbasis aktivitas. Di dalamnya memuat urutan
pembelajaran yang dinyatakan dalam kegiatan-kegiatan yang harus
dilakukan siswa. Buku ini mengarahkan yang harus dilakukan siswa
bersama guru untuk mencapai kompetensi tertentu, bukan buku yang
materinya dibaca, diisi, atau dihapal.
Buku siswa merupakan buku panduan sekaligus buku aktivitas yang akan
memudahkan para siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Buku siswa
dilengkapi dengan penjelasan lebih rinci tentang isi dan penggunaan
sebagaimana dituangkan dalam Buku Guru. Kegiatan pembelajaran yang
ada di buku siswa lebih merupakan contoh kegiatan yang dapat dipilih
guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai kompetensi
tertentu. Guru diharapkan mampu mengembangkan ide-ide kreatif lebih
lanjut dengan memanfaatkan alternatif-alternatif kegiatan yang
ditawarkan di dalam Buku Guru, atau mengembangkan ide-ide
pembelajaran sendiri.
3. Menentukan Tujuan
Tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan baik mulai dengan menyebut
Audience peserta didik untuk siapa tujuan itu dimaksudkan. Tujuan itu
kemudian mencantumkan Behavior atau kemampuan yang harus
didemonstarsikan dan Condition seperti apa perilaku atau kemampuan
yang akan diamati. Akhirnya, tujuan itu mencantumkan Degree
keterampilan baru itu harus dicapai dan diukur, yaitu dengan standar seperti
apa kemampuan itu dapat dinilai.
4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar
yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta
didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, da sumber belajar lainnya
dalam rangka pencapaian KD. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat
terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan
berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup
yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan
pembelajaran adalah sebagai berikut.
148

a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada pada


pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses
pembelajaran secara profesional.
b. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan manajerial yang
dilakukan guru, agar peserta didik dapat melakukan kegiatan seperti
dalam silabus.
c. Kegiatan pembelajaran untuk setiap pertemuan merupakan skenario
langkah-langkah guru dalam membuat peserta didik aktif belajar.
Kegiatan ini diorganisasikan menjadi kegiatan: pendahuluan, inti, dan
penutup.

5. Penjabaran Jenis Penilaian


Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk
tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil
karya berupa tugas, proyek dan/ atau produk, penggunaan portofolio, dan
penilaian diri. Oleh karena pada setiap pembelajaran peserta didik didorong
untuk menghasilkan karya, maka penyajian portofolio merupakan cara
penilaian yang harus dilakukan untuk jenjang pendidikan dasar dan
menengah.
Di bawah ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi pada KD-KD
yang berasal dari KI-1, KI-2, KI-3 dan KI-4.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu berdasarkan apa yang bisa
dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan
bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.
Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya
dianalisis untuk menentukan KD yang telah dimiliki dan yang belum,
serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut
berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi
peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah ketuntasan, dan
program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang
ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran
menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi
harus diberikan baik pada proses misalnya teknik wawancara, maupun
produk berupa hasil melakukan observasi lapangan.
6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu
efektif
dan
alokasi
waktu
mataelajaran
per
minggu
dengan
mempertibangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan
tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus
merupakan perkiraan rerata untuk menguasasi KD yang dibutuhkan oleh
peserta didik yang beragam. Oleh karena itu, alokasi tersebut dirinci dan
disesuaikan lagi dalam RPP.
7. Menentukan Sumber Belajar

149

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/ atau bahan yang digunakan untuk
kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara
sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
E. PROSES PEMBELAJARAN
Tahap kedua dalam pembelajaran menurut standar proses yaitu pelaksanaan
pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan
penutup.
1. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
a. menyiapkan peserta didik secara psikhis dan fisik untuk mengikuti proses
pembelajaran;
b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah
dipelajari dan terkait dengan materi yang akan dipelajari;
c. mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas
yang akan dilakukan untuk mempelajari suatu materi dan menjelaskan
tujuan embelajaran atau KD yang akan dicapai;
d. menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang
kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan
permasalahan atau tugas.
2. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, yang
dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarya, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik.
Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik
peserta didik dan muatan pelajaran, yang meliputi: observasi, menanya,
mengumpulkan informasi/ eksperimen, mengasosiasi/ mengolah informasi,
dan mengkomunikasikan.
3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan peserta didik dan/atau
semdiri membuat rangkuman/ simpulan materi pembelajaran, melalukan
penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang sudah
dilaksanakan, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran, dan merencakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk program
remedial, program pengayaan, layanan konseling dan/ atau memberikan
tugas secara individual atau kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta
didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan
berikutnya.

150

Contoh RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Satuan Pendidikan : SD
Kelas/ Semester
: V/1 (Satu)
Tema/ Subtema/ PB: Benda-benda di Lingkungan Sekitar/Wujud Benda dan
Cirinya/1
Alokasi Waktu
: 1 x Pertemuan (6 x 35 Menit)
A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya serta cinta tanah air.
3. Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati,
menanya dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya,
makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dan konseptual dalam bahasa yang jelas,
sistematis, logis, dan kritis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang
mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan
perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
BAHASA INDONESIA
1.1 Meresapi makna anugrah Tuhan yang Masa Esa berupa bahasa
indonesia yang diakui sebagai sarana yang lebih unggul, daripada
bahasa lain untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
2.1 Memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap makanan dan rantai
makanan serta kesehatan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia.
3.1Menggali informasi dari teks laporan buku tentang makanan dan rantai
makanan, kesehatan manusia, keseimbangan ekosistem, serta alam dan
pengaruh kegiatan manusia dengan bantuan guru dan teman dalam
bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata
baku.
3.1.1 Menjelaskan isi informasi dari bacaan tentang alam dan pengaruh
kegiatan manusia.
4. 2
Mengamati, mengolah dan menyajikan teks laporan buku tentang
tentang
makanan
dan
rantai
makanan,
kesehatan
manusia,
keseimbangan ekosistem, serta alam dan pengaruh kegiatan manusia
dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis
dengan memilih dan memilah kosakata.
4.2.1 Membuat pertanyaan tentang perubahan alam berdasarkan teks.

151

4.2.2 Menyajikan hasil laporan dalam bentuk tabel mengenai perubahan


alam dan keseimbangan ekosistem yang diakibatkan oleh kegiatan
manusia
MATEMATIKA
1.1 Menerima, menghargai, dan menjalankan ajaran agama yang dianut.
1.2 Menunjukkan sikap berpikir logis, kritis, dan kreatif.
3.2Memahami berbagai bentuk pecahan pecahan biasa, campuran, desimal
dan persen) dan dapat mengubah bilangan pecahan menjadi bilangan
desimal serta melakukan perkalian dan pembagian.
3.2.1 Mengenal bentuk pecahan biasa
3.2.2 Mengenal bentuk pecahan campuran
3.2.3 Mengenal bentuk pecahan desimal
3.2.4 Membedakan bentuk pecahan biasa, campuran, desimal dan persen
4. 1
Mengurai
sebuah
pecahan
sebagai
hasil
penjumlahan,
pengurangan, perkalian dan pembagian dua buah pecahan yang
dinyatakan dalam desimal dan persen dengan berbagai kemungkinan
jawaban
4.1.1 Menyelesaikan soal latihan pecahan biasa
4.1.2 Menyelesaikan soal latihan pecahan campuran
4.1.3 Menyelesaikan soal latihan pecahan desimal
IPS
1.2 Menerima karunia Tuhan YME yang telah mencioptakan manusia dan
lingkungan.
2.3 Menunjukkan perilaku santun, toleran, dan peduli dalam melakukan
interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya.
3.1Memahami aktivitas dan perubahan kehidupan manusia dalam ruang,
konektivitas antar ruang dan waktu serta keberlanjutannya dalam
kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya dalam lingkup
nasional.
3.1.1 Mengidentifikasi aktivitas kehidupan manusia dalam lingkup sosial.
3.1.2 Memberi contoh perubahannya dalam lingkup sosial.
4.1Menyajikan hasil pengamatan mengenai aktivitas dan perubahan
kehidupan manusia dalam ruang, konektivitas antar ruang dan waktu
serta keberlanjutannya dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan dan
budaya dalam lingkup nasional dari sumber-sumber yang tersedia.
4.1.1 Melaporkan secara tertulis hasil pengamatan tentang aktivitas
kehidupan manusia.
C. Tujuan Pembelajaran.
1. Dengan mengamati gambar, siswa mampu menjelaskan isi informasi dari
bacaan tentang alam dan pengaruh kegiatan manusia dengan cermat.
2. Dengan mengamati gambar, siswa mampu membuat pertanyaan tentang
perubahan alam berdasarkan teks dengan teliti.
3. Dengan bimbingan guru, siswa mampu menyajikan hasil laporan dalam
bentuk tabel mengenai perubahan alam dan keseimbangan ekosistem
yang diakibatkan oleh kegiatan manusia dengan teliti.

152

4. Dengan diskusi, siswa mampu mengenal bentuk pecahan biasa dengan


cermat.
5. Setelah diskusi, siswa mampu menjawab bentuk pecahan campuran
dengan percaya diri.
6. Setelah diskusi, siswa mampu mengenal bentuk pecahan desimal dengan
cermat.
7. Dengan membaca buku, siswa mampu membedakan bentuk pecahan
biasa, campuran, desimal dan persen dengan teliti.
8. Dengan latihan, siswa mampu menyelesaikan soal latihan pecahan biasa
dengan teliti.
9. Dengan latihan, siswa mampu mengerjakan soal latihan pecahan
campuran dengan teliti.
10.Dengan diskusi, siswa mampu menyelesaikan soal latihan pecahan
desimal dengan cermat.
11.Dengan tanya jawab, siswa mampu mengidentifikasi aktivitas kehidupan
manusia dalam lingkup sosial dengan percaya diri.
12.Dengan diskusi, siswa mampu memberi contoh perubahannya dalam
lingkup sosial dengan cermat.
13.Setelah diskusi, siswa mampu melaporkan secara lisan hasil pengamatan
tentang aktivitas kehidupan manusia penuh percaya diri.
D. Materi Pembelajaran
1. Perubahan wujud benda.
2. Pecahan biasa, campuran, persen dan desimal.
3. Kosakata baku dan tidak baku.
E. Pendekatan dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : saintifik [mengamati, menanya, mencoba, menalar dan
mengkomunikasikan]
2. Metode : diskusi, tanya jawab
F. Media, Alat dan Sumber Pembelajaran
1. Media
: Gambar orang membuang sampah di sungai, lagu
tebak benda
2. Alat
: 3. Sumber belajar
:
- Maryanto, dkk. 2014. Buku Siswa Kelas V Tema I Benda-benda di
Lingkungan Sekitar. Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Maryanto, dkk. 2014. Buku Guru Kelas V Tema I Benda-benda di
Lingkungan Sekitar. Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Pendahul
uan

1. Siswa berdoa bersama dipimpin salah satu siswa.


2. Siswa menyanyikan lagu TEKA TEKI bersama-sama.
3. Guru menyampaikan tema dan subtema yang akan
dipelajari.
153

10
Men
it

Kegiatan
Inti

1. Siswa mengamati gambar yang menunjukkan perilaku


yang tidak selaras dengan lingkungan. [Mengamati]
2. Siswa berdiskusi dengan teman sebangku tentang
gambar tersebut. [mengamati, menalar]
3. Siswa menjawab pertanyaan pada buku siswa sesuai
hasil pengamatan. [Mengkomunikasikan]
4. Guru melakukan penilaian menggunakan rubrik
pengamatan gambar untuk mengetahui ketercapaian
siswa.
5. Siswa melakukan pengamatan dan mengidentifikasi
perubahan-perubahan yang terjadi di alam yang
memiliki dampak bagi kehidupan manusia. Harapannya
siswa memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap
lingkungan sekitar [mengamati, menanya]
6. Siswa menyajikan hasil pengamatan dan identifikasinya
ke dalam tabel. [menalar, mengkomunikasikan]
7. Guru mengkonfirmasi dan mengapresisi jawaban siswa.
[menalar, mengkomunikasikan]
8. Siswa membaca teks Aneh kenapa bisa begitu secara
bergantian [mencoba]
9. Selesai membaca, siswa menuliskan pada tabel contoh
kosakata baku dan tidak baku yang terdapat pada
bacaan. [mengamati, menanya, mencoba, menalar,
mengkomunikasikan]
10.Siswa menuliskan informasi-informasi yang terdapat
pada bacaan dan contoh-contoh yang berkaitan dengan
perubahan wujud benda. [mengamati, menanya,
mencoba, menalar, mengkomunikasikan]
11.Siswa membentuk kelompok beranggotakan 3-4 orang
dan berdiskusi untuk mengidentifikasi perubahan alam
di lingkungan tempat tinggalnya. [mengamati,
menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan]

12.Guru melakukanpenilaian yang berkaitan dengan halhal berikut ini.

154

190
Men
it

Penutup

13.Melalui ilustrasi pembagian roti dan jeruk, guru


menjelaskan konsep pecahan biasa dan campuran.
Siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan
memberikan tanggapan. [mengamati, menanya,
menalar, mengkomunikasikan]
14.Siswa berlatih menyelesaikan soal latihan untuk
mengubah pecahan biasa menjadi pecahan campuran,
dan sebaliknya. [mengamati, mencoba, menalar]
15.Siswa bersama teman sebangku membahas hasil
latihan. Guru melakukan konfirmasi. [mengamati,
menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan]
16.Siswa dengan bimbingan guru mengamati contoh pada
buku tentang pecahan biasa yang diubah menjadi
persen dan sebaliknya. Siswa diberi kesempatan
melakukan tanya jawab kemudian mengerjakan latihan.
[mengamati, menanya, mencoba, menalar,
mengkomunikasikan]
17.Siswa bersama teman sebangku membahas hasil
latihan. Guru melakukan konfirmasi. [mengamati,
menanya, menalar, mengkomunikasikan]
18.Siswa dengan bimbingan guru memahami bentuk
pecahan biasa yang diubah menjadi bentuk desimal.
Siswa diberi kesempatan melakukan tanya jawab
kemudian mengerjakan latihan. [mengamati, menanya,
mencoba, menalar, mengkomunikasikan]
19.Siswa bersama teman sebangku membahas hasil
latihan. Guru melakukan konfirmasi. [mengamati,
menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan].
1. Siswa bersama guru membuat kesimpulan tentang
perubahan alam, perubahan wujud benda, pecahan
biasa, campuran, desimal dan persen.
2. Siswa bersama guru melakukan refleksi kegiatan belajar
hari ini.
3. Siswa memimpin doa di akhir pembelajaran.

H. Penilaian
1. Teknik Penilaian
a. Penilaian Sikap: Rasa ingin tahu, percaya diri, peduli terhadap
lingkungan dan budaya sekitar.
b. Penilaian Pengetahuan: Tes tertulis
c. Penilaian Keterampilan: Unjuk kerja
2. Bentuk Instrumen Penilaian
155

10
Men
it

a. Penilaian Sikap

b. Penilaian Pengetahuan

156

c. Penilaian Keterampilan

157

158

159

Lagu TEKA TEKI


TEKA TEKI
Ada sebuah benda
Slalu menunjuk saja
Tidak berkaki tidak bertangan
Tetapi dapat berjalan
Kikuk...kikuk...kikuk kikuk kikuk
Tidak pernah berhenti
Kadang kala berbunyi
Setiap masa sehari-hari
Slalu mengingati hari

160

Contoh RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SD
Kelas/ Semester
: V/ 1(Satu)
Tema/ Subtema
: Peristiwa dalam Kehidupan/ Macam-Macam Peristiwa dalam
Kehidupan
Alokasi Waktu
: 1 x Pertemuan (5 x 35 Menit)
A. Kompetensi Inti (KI)
1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan
tetangganya.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya
berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan
tempat bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan
logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak
sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan
berakhlak mulia
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Bahasa Indonesia
Kompetensi Dasar:
1.1 Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia
yang diakui sebagai sarana yang lebih unggul daripada bahasa lain untuk
memperoleh ilmu pengetahuan.
2.1 Memiliki kepedulian dan tanggung jawab tentang ciri khusus makhluk
hidup dan lingkungan melalui pemanfaatan bahasa Indonesia.
3.2 Menguraikan isi teks penjelasan tentang proses daur air, rangkaian listrik,
sifat magnet, anggota tubuh (manusia, hewan, tumbuhan) dan fungsinya,
serta sistem pernapasan dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa
Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.
3.2.1 Menjelaskan isi teks tentang manfaat air dalam kehidupan manusia.
3.2.2 Mengidentifikasi dampak dari berkurangnya ketersediaan air bagi
kehidupan manusia.
3.2.3 Mencari informasi penting dalam teks Manusia dan Air dengan cara
melengkapi peta pikiran.
4.7 Menyajikan hasil laporan tentang permasalahan akibat terganggunya
keseimbangan alam akibat ulah manusia, serta memprediksi apa yang
akan terjadi jika permasalahan tersebut tidak diatasi.
4.7.1 Membuat laporan tertulis tentang pentingnya air.
4.7.2 Menyajikan laporan tentang pentingnya air dalam kehidupan.
Matematika
Kompetensi Dasar:
1.1 Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2.1 Menunjukkan sikap kritis, cermat dan teliti, jujur, tertib dan mengikuti
aturan, peduli, disiplin waktu, tidak mudah menyerah serta
bertanggungjawab dalam mengerjakan tugas.
2.2 Menunjukkan sikap berpikir logis, kritis dan kreatif.
161

3.3 Memilih prosedur pemecahan masalah dengan menganalisis hubungan


antar simbol, informasi yang relevan, dan mengamati pola.
3.3.1 Menentukan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, dan
diagram.
4.1 Mengurai sebuah pecahan sebagai hasil penjumlahan, pengurangan,
perkalian, dan pembagian dua buah perencanaan yang dinyatakan dalam
desimal dan persen dengan berbagai kemungkinan jawaban.
4.1.1 Mengerjakan bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan yang
melibatkan penambahan.
4.1.2 Mengerjakan bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan yang
melibatkan pengurangan
C. Tujuan Pembelajaran
1. Dengan menggali informasi dari teks bacaan peserta didik dapat
menjelaskan manfaat air bagi kehidupan manusia dengan teliti.
2. Dengan mengamati gambar, peserta didik dapat mengidentifikasikan
dampak dari berkurangnya ketersediaan air dengan cermat
3. Dengan melengkapi peta pikiran peserta didik dapat menyajikan informasi
penting dari bacaan dengan teliti.
4. Dengan melakukan kegiatan wawancara, peserta didik dapat mencari
informasi tentang pentingnya air dalam kehidupan dengan percaya diri.
5. Dengan mencari informasi tentang pentingnya air, peserta didik dapat
membuat laporan tertulis tentang pentingnya air dengan mandiri.
6.
Setelah membuat laporan tertulis, peserta didik dapat menyajikan
laporan tentang pentingnya air dalam kehidupan manusia dengan
menggunakan bahasa yang sistematik.
7. Dengan diskusi, peserta didik mapu menentukan pernyataan matematika
berdasarkan digram secara cermat.
8. Dengan menyelesaikan soal hitungan, peserta didik mampu mengerjakan
persamaan yang melibatkan penambahan untuk menentukan bilangan
yang tidak diketahui dengan teliti.
9. Dengan menyelesaikan soal hitungan, peserta didik mampu mengerjakan
persamaan yang melibatkan pengurangan untuk menentukan bilangan
yang tidak diketahui dengan teliti.
D. Materi Pembelajaran
Bahasa Indonesia: Membaca teks Percakapan tentang Manusia dan Air
Matematika: Persamaan Matematika
E. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran
Pendekatan
: Saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
eksperimen, mengasosiasi/mengolah infomrasi, dan
mengkomunikasikan).
Model
: Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Learning).
Metode
: Ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
F. Media, Alat, dan Sumber Belajar
1. Media dan Alat: Gambar-gambar; Lembar Tugas Peta Pikir
2. Sumber:
Susilawati, Fransiska,dkk. 2014. Buku Siswa SD Kelas 5 Tema 2: Peristiwa
dalam Kehidupan. Jakarta: Kemetrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Susilawati, Fransiska,dkk. 2014. Buku Guru SD Kelas 5 Tema 2: Peristiwa
dalam Kehidupan. Jakarta: Kemetrian Pendidikan dan Kebudayaan.
162

163

G. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan

Kegiatan
Pembuka

Kegiatan
Inti

Langkah
Langkah
dalam
Discovery
Learning

Deskripsi Kegiatan

a. Guru membuka pelajaran dengan


menyapa
peserta
didik
dan
menanyakan kabar mereka.
b. Guru meminta salah seorang
peserta didik untuk memimpin
doa
c. Guru
melakukan
apersepsi
sebagai awal komunikasi guru
sebelum
melaksanakan
pembelajaran inti.
d. Guru memberi motivasi kepada
peserta didik agar semangat
dalam mengikuti pembelajaran
yang akan dilaksanakan.
e. Peserta
didik
mendengarkan
penjelasan dari guru
kegiatan
yang akan dilakukan hari ini dan
apa tujuan yang akan dicapai dari
kegiatan tersebut dengan bahasa
yang
sederhana
dan
dapat
dipahami.
Stimulasi
a. Sebagai kegiatan pembuka,
peserta didik diajak untuk
mencermati bacaan pembuka yang
berjudul Sungaiku Bergantung
pada Hujan. Bacaan ini digunakan
sebagai kegiatan stimulasi untuk
memulai pembelajaran.
b. Guru membimbing peserta didik
untuk menggali informasi dari
bacaan dan menekankan fokus
pencarian informasi pada fungsi
dan peran air.
Identifikasi
a. Kegiatan stimulasi dilanjutkan
Masalah
dengan kegiatan identifikasi
masalah, dengan cara peserta
didik dibimbing guru untuk
berdiskusi kelompok dan mencari
tahu tentang manfaat dan peranan
air dalam kehidupan, dan dampak
yang akan ditimbulkan dari
berkurangnya ketersediaan air.
b. Peserta didik mencatat hal-hal
penting dalam diskusi tersebut.
Pengumpula a. Peserta didik diberi kesempatan
n Data
untuk mengumpulkan informasi
dari berbagai sumber, pada buku
164

Alokasi
Waktu

10
Menit

155
Menit

155
menit

b.

Pengolahan
data

a.

b.

Pembuktian

a.

b.

siswa disajikan contoh kegiatan


pengumpulan data berupa
menggali informasi dari teks
bacaan dan melakukan kegiatan
wawancara (reporter cilik). Tujuan
utama dari kegiatan wawancara
tersebut adalah mengumpulkan
informasi tentang manfaat dan
peranan air dalam kehidupan
sehari-hari.
Guru mengajak peserta didik
dianjurkan memebaca literatur lain
yang berkaitan dengan manfaat
dan peranan air dalam kehidupan
sehari-hari.
Peserta didik dengan bimbingan
guru, mengolah informasi yang
telah mereka dapatkan melalui
berbagai kegiatan sebelumnya
(menggali informasi dari teks
bacaan dan melakukan
wawancara). Informasi yang
mereka dapatkan dari teks bacaan
yang disajikan di buku siswa diolah
dan disajikan dalam bentuk peta
pikiran.
Hasil kegiatan wawancara yang
dilakukan peserta didik, kemudian
diolah menjadi sebuah laporan
reportase.
Peserta didik bersama dengan
teman sekelasnya dengan
bimbingan guru, mencoba mencari
hubungan keterkaitan antara hasil
pengolahan informasi mereka
dalam bentuk peta pikiran dan
hasil reportase dengan
pertanyaan/masalah yang
dirumuskan pada awal
pembelajaran yaitu apa manfaat
dan peranan air dalam kehidupan
dan dampak yang akan
ditimbulkan dari berkurangnya
ketersediaan air dalam kehidupan.
Pemahaman tentang dampak yang
akan ditimbukan dari berkurangnya
ketersediaan air dalam kehidupan
ini.
Guru memberikan penguatan
materi bahasa Indonesia dengan
pembahasan soal-soal cerita
matematika yang menggunakan
masalah-masalah kontekstual
seperti mahalnya harga air bersih
165

Menarik
Kesimpulan

a.

b.

Penutup

a.
b.

c.

dll.
Pada akhir proses pembelajaran,
peserta didik dan guru menarik
sebuah kesimpulan bersama dari
semua kegiatan yang telah mereka
lalui dan lakukan disepanjang hari
tersebut.
Kesimpulan tersebut bisa
dituangkan dalam berbagai bentuk
misalnya dalam bentuk catatan
harian, lembar refleksi atau peta
pikiran.
Peserta didik barsama-sama guru
membuat rangkuman/ simpulan
dari kegiatan hari itu.
Peserta
didik
melakukan
perenungan
dengan
menjawab
pertanyaan yang terdapat dalam
buku siswa (3 hal yang mereka
pelajari pada hari tersebut, bagian
yang
sudah
mereka
pahami
dengan baik, bagian yang belum
dipahami, serta hal apa yang
mereka ingin ketahui lebih lanjut).
Guru meminta salah seorang
peserta didik untuk memimpin doa.

10
Menit

H. Penilaian
1. Teknik Penilaian
a. Penilaian Sikap:
- Kecermatan dan ketelitian dalam kegiatan menggali informasi
dalam teks dan mengamati gambar.
- Kemandirian dan kecermatan dalam membuat peta pikiran dan
membuat laporan.
- Percaya diri dalam melakukan kegiatan wawancara.
b. Penilaian Pengetahuan :
- Tes Harian
- Penugasan
c. Penilaian Keterampilan :
- Penugasan
2. Bentuk Instrumen Penilaian

166

Kepala Sekolah

............., .............2014
Guru Kelas V

.................................

...................................

167

168

LK4.2

TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)


Kompetensi: Mampu mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
sesuai dengan Standar Proses.
Tujuan

Kegiatan : Melalui kegiatan telaah RPP, peserta mampu


mengembangkan RPP menggunakan pendekatan saintifik dan
sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan RPP.

Langkah-langkah Kegiatan:
1. Pelajari dan diskusikan setiap aspek RPP yang harus ditelaah dalam format
yang tersedia!
2. Isilah format sesuai dengan petunjuk pada format telaah RPP!
3. Berikan catatan khusus atau alasan Anda memberi skor pada suatu aspek
pada RPP!
4. Berikan masukan atau rekomendasi secara umum sebagai saran perbaikan
RPP pada kolom yang tersedia!

169

LK-4.2

FORMAT TELAAH RPP

1. Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor (1, 2, 3 ) sesuai dengan kriteria yang
tertera pada kolom tersebut. Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP
sesuai penilaian Anda!
2. Isilah Identitas RPP yang ditelaah.
Nama
: .....................................................
Tema/Subtema : .....................................................
Pembelajaran ke
: .....................................................
No
A

Hasil Penelaahan dan Skor


1
2
3
Tidak
Kurang
Sudah
ada
Lengka
Lengka
p
p

Komponen Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran
Identitas

1.

Terdapat : satuan
pendidikan,kelas, semester, tema
pelajaran/subtema/ Pembelajaran,
waktu.

B.

Perumusan Indikator

1.

Kesesuaian dengan Kompetensi


Dasar

2.

Kesesuaian penggunaan kata


kerja operasional dengan
kompetensi yang diukur
Kesesuaian rumusan dengan
aspek pengetahuan.
Kesesuaian rumusan dengan
aspek keterampilan

3.
4
C.

Perumusan Tujuan
Pembelajaran

1
2

Kesesuaian dengan Indikator


Kesesuaian perumusan dengan
aspek Audience, Behaviour,
Condition, dan Degree

D.

Pemilihan Materi Ajar

1.

Kesesuaian dengan tujuan


pembelajaran
Kesesuaian dengan karakteristik
peserta didik
Keruntutan uraian materi ajar

E.

Pemilihan Sumber Belajar

1.

Kesesuaian dengan tujuan


pembelajaran
Kesesuaian dengan materi

2.

2.

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

170

Catatan

No
3
4.
F.

Pemilihan Media Belajar

1.

Kesesuaian dengan tujuan


pembelajaran
Kesesuaian dengan materi
pembelajaran
Kesesuaian dengan pendekatan
saintifik
Kesesuaian dengan karakteristik
peserta didik

2.
3.
4.
G.

Metode Pembelajaran

1.

Kesesuaian dengan tujuan


pembelajaran
Kesesuaian dengan pendekatan
saintifik
Kesesuaian dengan karakteristik
peserta didik

2.
3.

Hasil Penelaahan dan Skor


1
2
3

Komponen Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran
pembelajaran
Kesesuaian dengan pendekatan
saintifik
Kesesuaian dengan karakteristik
peserta didik

H.

Skenario Pembelajaran

1.

Menampilkan kegiatan
pendahuluan, inti, dan penutup
dengan jelas
Kesesuaian kegiatan dengan
pendekatan saintifik(mengamati,
menanya, mengumpulkan
informasi, mengasosiasikan
informasi, mengkomunikasikan)
Kesesuaian dengan metode
pembelajaran
Kesesuaian kegiatan dengan
sistematika/keruntutan materi
Kesesuaian alokasi waktu
kegiatan pendahuluan, kegiatan
inti dan kegiatan penutup dengan
cakupan materi

2.

3
4.
5.

I.

Rancangan Penilaian Autentik

Kesesuaian bentuk, teknik dan


instrumen dengan indikator
pencapaian kompetensi
Kesesuaian antara bentuk, teknik

2.

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

Tidak
Sesuai

Sesuai
Sebagi
an

Sesuai
Seluruh
nya

171

Catatan

No
3.
4.

Komponen Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran
dan instrumen penilaian sikap
Kesesuaian antara bentuk, teknik
dan instrumen penilaian
pengetahuan
Kesesuaian antara bentuk, teknik
dan instrumen penilaian
keterampilan
Jumlah skor

Hasil Penelaahan dan Skor


1
2
3

Catatan

Masukan terhadap RPP secara umum:


........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
.................................................... ...................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
.......

172

RUBRIK PENILAIAN TELAAH RPP


Langkah-langkah penilaian RPP sebagai berikut:
1. Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai.
2. Berikan nilai pada stiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda
cek () pada kolom pilihan (skor = 1), (skor = 2), atau (skor = 3) sesuai
dengan penilaian Anda terhadap RPP yang ditelaah atau dinilai
3. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan perencanaan pembelajaran
4. Setelah selesai penilaian, hitung jumlah skor yang diperoleh
5. Tentukan Nilai menggunakan rumus sbb:

Nilai=

Jumlah skor
x 100
90

PERINGKAT

NILAI

Amat Baik
( AB)

90 < AB
100

Baik (B)

80 < B 90

Cukup (C)

70 < C 80

Kurang (K)

70

173

R-4.3

FORMAT PENGAMATAN PRAKTIK PEMBELAJARAN TEMATIK


TERPADU DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK (PEER TEACHING)
1. Nama Peserta
2. Asal Sekolah

:
:

3. Tema/ST/PB

.................................................

.................................................
:

.................................................

Aspek yang Diamati

Ya

Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi dan Motivasi
1
Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dengan
menyapa dan memberi salam
2
Mengaitkan materi pembelajaran sekarang
dengan pengalaman peserta didik atau
pembelajaran sebelumnya.
3
Mengajukan pertanyaan menantang.
4
Menyampaikan manfaat materi pembelajaran.
5
Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait
dengan tema.
Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan
1
Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai
peserta didik.
2
Menyampaikan rencana kegiatan misalnya,
individual, kerja kelompok, dan melakukan
observasi.
Kegiatan Inti
Penguasaan Materi Pelajaran
1
2
3
4

Kemampuan menyesuaikan materi dengan


tujuan pembelajaran.
Kemampuan mengkaitkan materi dengan
pengetahuan lain yang relevan, perkembangan
Iptek , dan kehidupan nyata.
Menyajikan pembahasan materi pembelajaran
dengan tepat.
Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke
sulit, dari konkrit ke abstrak)

Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik


1
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
kompetensi yang akan dicapai.
2
Melaksanakan pembelajaran secara runtut.
3
Menguasai kelas.
4
Melaksanakan pembelajaran yang bersifat
174

Tid
ak

Catatan

Aspek yang Diamati

Ya

kontekstual.
5
6

Melaksanakan pembelajaran yang


memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif
(nurturant effect).
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
alokasi waktu yang direncanakan.

Penerapan Pendekatan Saintifik


1

Memberikan pertanyaan mengapa dan


bagaimana.

Memancing peserta didik untuk bertanya.

Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba.

Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati.

Memfasilitasi peserta didik untuk menganalisis.

Memberikan pertanyaan peserta didik untuk


menalar (proses berpikir yang logis dan
sistematis).

Menyajikan kegiatan peserta didik untuk


berkomunikasi.

Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu


1

Menyajikan pembelajaran sesuai tema.

Menyajikan pembelajaran dengan memadukan


berbagai muatan pelajaran dalam satu PBM
meliputi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti,
PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni
Budaya dan Prakarya, serta Penjasorkes.

Menyajikan pembelajaran yang memuat


komponen karakteristik terpadu.

Menyajikan pembelajaran yang bernuansa aktif


dan menyenangkan.

Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam


Pembelajaran
1

Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan


sumber belajar pembelajaran.

Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan


media pembelajaran.

Menghasilkan pesan yang menarik.

Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan


sumber belajar pembelajaran.

Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan


media pembelajaran.

Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran

175

Tid
ak

Catatan

Aspek yang Diamati

Ya

Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik


melalui interaksi guru, peserta didik, sumber
belajar.

Merespon positif partisipasi peserta didik.

Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons


peserta didik.

Menunjukkan hubungan antar pribadi yang


kondusif.

Menumbuhkan keceriaan atau antusiasme


peserta didik dalam belajar.

Penggunaan Bahasa yang Benar dan Tepat dalam


Pembelajaran
1

Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan


lancar.

Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar.

Kegiatan Penutup
Penutup pembelajaran
Melakukan refleksi atau membuat rangkuman
1
dengan melibatkan peserta didik.
2

Memberikan tes lisan atau tulisan .

Mengumpulkan hasil kerja sebagai bahan


portofolio.
Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan
arahan kegiatan berikutnya dan tugas
pengayaan.
Jumlah

176

Tid
ak

Catatan

RUBRIK PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Rubrik Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran ini digunakan oleh pengamat untuk
menilai kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran pada saat
peerteaching.
Langkah-langkah Kegiatan:
1. Berikan tanda cek () pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan
penilaian Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan
pembelajaran
2. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran
3. Setelah selesai penilaian, hitung jumlah nilai YA dan TIDAK
4. Tentukan Nilai menggunakan rumus sbb:

Nilai=

Jumlah YA
x 100
44

PERINGKAT
Amat Baik
( AB)
Baik (B)
Cukup (C)
Kurang (K)

177

NILAI
90 < AB
100
80 < B 90
70 < C 80
70